0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
162 tayangan12 halaman

Kosakata Baku Siswa SMP Wera

Dokumen tersebut membahas identifikasi penggunaan kosakata baku dalam wacana bahasa Indonesia pada siswa SMP di Bima tahun 2013/2014, dengan tujuan mengidentifikasi penggunaan kosakata baku siswa melalui observasi, wawancara dan dokumentasi."

Diunggah oleh

Dewi sartika
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
162 tayangan12 halaman

Kosakata Baku Siswa SMP Wera

Dokumen tersebut membahas identifikasi penggunaan kosakata baku dalam wacana bahasa Indonesia pada siswa SMP di Bima tahun 2013/2014, dengan tujuan mengidentifikasi penggunaan kosakata baku siswa melalui observasi, wawancara dan dokumentasi."

Diunggah oleh

Dewi sartika
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

JIME, Vol. 2 No.

2 ISSN 2442 - 9511 Oktober 2016


IDENTIFIKASI PENGGUNAAN KOSAKATA BAKU DALAM
WACANA BAHASA INDONESIA PADA SISWA KELAS VII
DI SMP NEGERI 1 WERA KABUPATEN BIMA
TAHUN PELAJARAN 2013/2014

Supriadin
Dosen IKIP Mataram
Supriadin.rangga85@gmail.com

Abstrak: Bahasa Indonesia ialah bahasa yang terpenting di kawasa republik kita, terutama
pada dunia pendidikan. Pentingnya peranan bahasa itu antara lain bersumber pada ikrar ketiga
Sumpah Pemuda 1928 yang berbunyi: “Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa
persatuan, bahasa Indonesia” dan pada Undang-Undang dasar 1945 tercantum pasal khusus yang
menyatakan bahwa “bahasa Negara ialah bahasa Indonesia”. Masalah yang diangkat dalam
penelitian ini yaitu bagaimanakah identifikasi penggunaan kosaka baku dalam wacana bahasa
Indonesia pada siswa kelas VII di SMP Negeri 1 Wera Kabupaten Bima tahun pelajaran 2013/2014,
tujuan penulisan skripsi ialah bertujuan untuk mengidentifikasi penggunaan kosakata baku dalam
wacana bahasa indonesia pada siswa kelas VII di SMP Negeri 1 Wera Kabupaten Bima Tahun
Pelajaran 2013/2014. Metode penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode
penelitian deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh subjek atau objek yang
berkualitas dengan sadar memberikan informasi secara jelas sesuai dengan apa yang dibutuhkan
oleh peneliti di SMP Negeri 1 Wera Kabupaten Bima yang menjadi subjek penelitian ini adalah
siswa kelas VII A SMP Negeri 1 Wera Kabupaten Bima berjumlah 27 orang siswa. Metode
pengumpulan data yang akan dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi,
wawancara dan dokumentasi. Untuk menganalisis data dalam penelitian digunakan metode analisis
deskriptif kualitatif, yakni berupa mengidentifikasi bahasa tidak baku. Berdasarkan hasil analisis
data bahwa yang menyebabkan bahasa Indonesia tidak maku ialah karena adanya tukar-menukar
huruf dalam kata, pelesapan huruf dalam kata, dan penambahan huruf pada kata. Kosakata baku
adalah kosakata yang dalam penggunaannya sesuai dengan ejaan yang disempurkahkankan (EYD),
Untuk itu sebagai anak bangsa yang tau akan pentingnya menggunakan bahasa atau kosakata yang
baik dan benar siswa harus tekun dalam mencari tahu tentang kosakata baku agar dalam
penggunaannya sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnahkan (EYD).

Kata Kunci: Kosakata Baku, Wacana Bahasa Indinesia


bahasa kita dapat berhubungan dengan
PENDAHULUAN masyarakat lain yang akhirnya melahirkan
Bahasa Indonesia ialah bahasa yang komunikasi dalam masyarakat.
terpenting di kawasan republik kita, terutama Dalam bidang ilmu linguistik antara lain
pada dunia pendidikan. Pentingnya peranan Finiciaro (Nikelas, 1988: 3) menyatakan:
bahasa itu antara lain bersumber pada ikrar “bahasa adalah sesuatu sistem dari simbol
ketiga Sumpah Pemuda 1928 yang berbunyi: vokal arbitrer memungkinkan semua orang
“Kami putra dan putri Indonesia menjunjung dari satu kelompok sosial tertentu, atau orang
bahasa persatuan, bahasa Indonesia” dan pada lain yang sudah mempelajari kebudayaan
Undang-Undang dasar 1945 tercantum pasal tersebut berkomunikasi atau berinteraksi”.
khusus yang menyatakan bahwa “bahasa Pandangan ini menitik beratkan bahwa bahasa
Negara ialah bahasa Indonesia”. merupakan suatu sistem bunyi yang arbitrer
Bahasa merupakan salah satu alat untuk yang disepakati oleh masyarakat tertentu,
mengadakan interaksi terhadap manusia yang dipergunakan untuk berkomunikasi. Saat kita
lain. Jadi bahasa tersebut tidak dapat mempergunakan bahasa Indonesia perlu
dipisahkan dengan manusia. Dengan adanya diperhatikan dan kesempatan. Misalnya kapan
kita mempunyai ragam bahasa baku dipakai
Jurnal Ilmiah Mandala Education 150
JIME, Vol. 2 No. 2 ISSN 2442 - 9511 Oktober 2016
apabila pada situasi resmi, ilmiah. Tetapi dalam suatu bidang ilmu pengetahuan; dan (4)
ragam bahasa nonbaku dipakai pada situasi daftar kata yang disusun seperti kamus
santai dengan keluarga, teman dan di pasar, disertai penjelasan secara singkat dan praktis.
tulisan pribadi, buku harian. Jadi kosakata dapat disimpulkan bahwa
Kodrat manusia sebagai makhluk sosial kosakata atau kumpulan kata adalah daftar
tidak lepas dari adanya interaksi dan kata-kata yang dimiliki oleh seseorang dan
komunikasi antar sesamanya. Bahasa sebagai dipakai dalam bidang ilmu pengetahuan.
sarana komunikasi mempunyai fungsi utama Kata dalam bahasa Indonesia terdiri atas
bahasa adalah bahwa komunikasi ialah satu suku kata atau lebih. Kata merupakan
penyampaian pesan atau makna oleh unsur atau bagian yang sangat penting dalam
seseorang kepada orang lain. kehidupan berbahasa. Bidang atau kajian
Bahasa Indonesia mempunyai sebuah mengenai kata telah banyak diselidiki oleh
aturan yang baku dalam penggunaanya, ahli bahasa. Penyelidikan tersebut
namun dalam prakteknya sering terjadi menghasilkan berbagai teori-teori antara yang
penyimpangan dari aturan yang baku tersebut. satu dengan yang ain berbeda-beda.
Kata-kata yang menyimpang disebut kata Perbedaan ini terjadi karena adanya
nonbaku. Hal ini terjadi salah satu perbedaan sudut pandaang antara ahli bahasa
penyebabnya adalah faktor lingkungan. yang satu dengan yang lainnya.
Faktor ini mengakibatkan daerah yang satu Untuk mengurangi kebingungan
berdialek berbeda dengan di daerah yang lain, tersebut, dikelompokanlah jenis kata menurut
walaupun bahasa yang digunakannya tata bahasa baku. Dengan pengelompokan ini
terhadap bahasa Indonesia. Serta mengingat diharapkan mampu mengurangi kebingungan
akan arti pentingnya bahasa untuk dalam pembelajaran bahasa. Sebagaimana
mengarungi kehidupan masa globalisasi, yang yang kita ketahui, istilah baku berarti suatu
menuntut akan kecerdasan berbahasa, bentuk yang sudah menjadi standar bersama.
berbicara, keterampilan menggunakan bahasa Karena kaidah-kaidah ini banyak digunakan
yang baik dan benar memegang teguh oleh orang. Adapun jenis kata menurut tata
kaidah-kaidah bahasa Indonesia, demi bahasa baku, yaitu (1) verba; (2) adjektiva;
memajukan bangsa ini, supaya bangasa kita (3) nomina; (4) pronominal; (5) numerelia;
tidak dipandang sebelah mata oleh bangsa (6) adverbial; (7) kata tugas.
lain. Maka dari itu penulis mencoba 2. Wacana
menguraikan tentang “identifikasi Wacana merupakan satuan bahasa di
penggunaan kosakata baku dalam wacana atas tataran kalimat yang digunakan untuk
bahasa Indonesia pada siswa kelas di SMP berkomunikasi dalam konteks sosial. Satuan
Negeri 1 Wera Kabupaten Bima Tahun bahasa itu dapat berupa rangkaian kalimat
Pelajaran 2013/2014”. atau ujaran. Wacana dapat berbentuk lisan
atau tulis dan dapat bersifat transaksional atau
LANDASAN TEORI interaksional.
1. Pengertian Kosakata Dalam peristiwa komunikasi secara
Menurut KBBI (1998:527), kosakata lisan, dapat dilihat bahwa wacana sebagai
adalah kumpulan beberapa kata. Sementara proses komunikasi antarpenyapa dan pesapa,
itu, Keraf (1990:68) mengemukakan bahwa sedangkan dalam komunikasi secara tulis,
kosakata atau kumpulan kata adalah daftar wacana terlihat sebagai hasil dari
kata-kata yang segera kita ketahui artinya bila pengungkapan ide/gagasan penyapa. Disiplin
mendengarnya kembali, walaupun jarak atau ilmu yang mempelajari wacana disebut
tidak pernah digunakan lagi dalam dengan analisis wacana. Analisis wacana
percakapan atau tulisan kita sendiri. merupakan suatu kajian yang meneliti atau
Sedangkan menurut Soejito (1992:1), menganalisis bahasa yang digunakan secara
kosakata dapat diartikan adalah yaitu: (1) alamiah, baik dalam bentuk tulis maupun
semua kata yang terdapat dalam satu bahasa; lisan.
(2) kekayaan kata yang dimiliki oleh seorang a. Pengertian Wacana
pembicara atau penulis; (3) kata yang dipakai
Jurnal Ilmiah Mandala Education 151
JIME, Vol. 2 No. 2 ISSN 2442 - 9511 Oktober 2016
Istilah wacana berasal dari kata dapat juga berupa tulisan, tetapi
sansekerta yang bermakna ucapan atau persyaratanya harus dalam satu rangkaian
tuturan. Menurut Alwi, dkk (2003:42), dan dibentuk oleh lebih dari sebuah
wacana adalah rentetan kalimat yang kalimat.
berkaitan sehingga membentuk makna b. Jenis Wacana
yang serasi di antara kalimat-kalimat itu. Merujuk pendapat Leech (1974,
Menurut Tarigan (dalam Djajasudarma, dalam Kushartanti dan Lauder, 2008:91)
1994:5), wacana adalah satuan bahasa tentang fungsi bahasa, wacana dapat
terlengkap dan tertinggi atau terbesar di diklasifikasi sebagai berikut :
atas kalimat atau klausa dengan koherensi 1. Wacana ekspresif, apabila wacana itu
dan kohesi tinggi yang berkesinambungan, bersumber pada gagasan penutur atau
yang mampu mempunyai awal dan akhir penulis sebagai sarana ekspresif, seperti
yang nyata. Lebih lanjut, Syamsuddin wacana pidato.
(1992:5) menjelaskan pengertian wacana 2. Wacana fatis, apabila wacana itu
sebagai rangkaian ujar atau rangkaian bersumber pada saluran untuk
tindak tutur yang mengungkapkan suatu memperlancar komunikasi, seperti
hal (subjek) yang disajikan secara teratur, wacana perkenalan dalam pesta.
sistematis, dalam satu kesatuan yang 3. Wacana informasional, apabila wacana
koheren, dibentuk dari unsur segmental itu bersumber pada pesan atau
maupun nonsegmental bahasa. informasi, seperti wacana berita dalam
Menurut Anton M. Moelino media massa.
(1998:334) mengatakan bahwa wacana 4. Wacana estetik, apabila wacana itu
adalah rentetan kalimat yang berkaitan, bersumber pada pesan dengan tekanan
yang menghubungkan proposisi yang satu keindahan pesan, seperti wacana puisi
dengan yang lainnya dalam kesatuan dan lagu.
makna. Sedangkan menurut Harimurti 5. Wacana direktif, apabila wacana itu
Kridalaksana mengatakan bahwa wacana diarahkan pada tindakan atau reaksi dari
berarti satuan bahasa terlengkap, yang mitra tutur atau pembaca, seperti
dalam hirarki kebahasaan merupakan wacana khotbah.
satuan gramatikal tertinggi, dan terbesar. 3. Bahasa Indonesia Baku
Wacana juga dapat direalisasikan dalam Pembakuan bahasa Indonesia
bentuk kata, kalimat, paragraph, atau merupakan wujud nyata pengembangan
karangan utuh (buku yang membawa bahasa Indonesia. Pengembangan bahasa
amanat lengkap. Indonesia bukan saja merupakan
Dari beberapa pendapat ahli di atas tanggungjawab pemerintah, tetapi juga
dapat disimpulkan bahwa wacana adalah merupakan tanggungjawab pendidikan dan
satuan bahasa yang lengkap yang disajikan pemakai dan bahasa. Pemerintah utamanya
secara teratur dan membentuk suatu Departemen Pendidikan kebudayaan
makna. Wacana juga adalah rangkaian bertanggungjawab secara langsung melalui
ujaran lisan maupun tulisan yang pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
mengungkapkan suatu hal, disajikan secara Pusat bahasa inilah yang telah berupaya
teratur (memiliki kohesi dan koherensi), membakukan bahasa Indonesia.
dibentuk oleh unsur segmental dan a. Pengertian Bahasa Indonesia Baku
nonsegmental bahasa. Bahasa baku atau bahasa standar
Secara garis besar, pengertian adalah bahasa yang mempunyai nilai
wacana adalah satuan bahasa terlengkap komunikatif yang tinggi, yang digunakan
daripada fonem, morfem, kata, klausa, dalam kepentingan nasional, dalam situasi
kalimat dengan koherensi dan kohesi yang resmi atau dalam lingkungan resmi dan
tinggi yang berkesinambungan, yang pergaulan sopan yang terikat oleh tulisan,
mampu mempunyai awal dan akhir yang ejaan baku, istilah/kosa kata baku tata
nyata, disampaikan secara lisan atau bahasa baku, serta lafal baku. (Husain dan
tertulis ini dapat berupa ucapan lisan dan Aripin, 1996 : 62).
Jurnal Ilmiah Mandala Education 152
JIME, Vol. 2 No. 2 ISSN 2442 - 9511 Oktober 2016
Bahasa Indonesia baku adalah salah atau bangsa dan biasa didasarkan penutur
satu ragam bahasa Indonesia yang bentuk asli yang berpendidikan di dalam berbicara
bahasanya telah dikodifikasi, diterima, dan dan menulis.
difungsikan atau dipakai sebagai model Berdasarkan beberapa pengertian di
oleh masyarakat Indonesia secara luas, atas, jelas bahwa bahasa baku itu adalah
terutama dalam dunia pendidikan. bentuk bahasa yang telah dikodifikasi atau
Di dalam pengantar dikemukakan ditetapkan, diterima dan difungsikan
bahwa masih banyak orang yang sebagai model oleh masyarakat secara luas.
menyamakan pengertian bahasa baku Di dalam pengertian bahasa baku itu
dengan bahasa yang baik dan benar. terdapat 3 aspek yang saling menyatu,
Bahasa yang dipergunakan di dalam situasi yaitu kodifikasi, keberterimaan,
tidak resmipun dianggap sebagai bahasa difungsikan sebagai model.
baku. Makna baku tampaknya tidak Istilah kodifikasi adalah terjemahan
dipahami secara benar, apalagi makna dari bahasa Inggris. Kodifikasi diartikan
bahasa baku. Hal ini disebabkan oleh sebagai hal memberlakukan suatu kode
keengganan orang mencari makna istilah atau aturan kebahasaan untuk dijadikan
baku dan bahasa baku itu di dalam kamus norma di dalam berbahasa (Alwasilah,
Umum atau Kamus Istilah Linguistik, baik 1985 : 121).
dari bahasa Indonesia maupun dari bahasa Masalah kodifikasi berkait dengan
Asing, terutama dalam bahasa Inggris. masalah ketentuan atau ketetapan norma
Istilah bahasa baku dalam bahasa kebahasaan. Norma-norma kebahasaan itu
Indonesia atau standard language dalam berupa pedoman tata bahasa, ejaan, kamus,
bahasa Inggris dalam dunia ilmu bahasa lafal, dan istilah. Kode kebahasaan sebagai
atau linguistik pertama sekali norma itu dikaitkan juga dengan
diperkenalkan oleh Vilem Mathesius pada praanggapan bahwa bahasa baku itu
1926. Ia termasuk pencetus Aliran Praha berkeseragaman. Keseragaman kode
atau The Prague School. Pada 1930, B. kebahasaan diperlukan bahasa baku agar
Havranek dan Vilem Mathesius efisien, karena kaidah atau norma jangan
merumuskan pengertian bahasa baku itu. berubah setiap saat. Kodifikasi yang
Mereka berpengertian bahwa bahasa baku demikian diistilahkan oleh Moeliono
sebagai bentuk bahasa yang telah (1975: 2) adalah sebagai kodifikasi bahasa
dikodifikasi, diterima dan difungsikan menurut struktur bahasa sebagai sebuah
sebagai model atau acuan oleh masyarakat sistem komunikasi.
secara luas (Garvin, 1967 dalam Purba, Kodifikasi kebahasaan juga
1996 : 52). dikaitkan dengan masalah bahasa menurut
Pengertian bahasa baku di atas situasi pemakai dan pemakaian bahasa.
diikuti dan diacu oleh pakar bahasa dan Kodifikasi ini akan menghasilkan ragam
pengpelajaran bahasa baik di barat maupun bahasa. Perbedaan ragam bahasa itu akan
di Indonesia. Di dalam Dictionary tampak dalam pemakaian bahasa lisan dan
Language and Linguistics, Hartman dan tulis. Dengan demikian kodifikasi
Strok (1972 : 218) berpengertian bahasa kebahasaan bahasa baku akan tampak
baku adalah ragam bahasa yang secara dalam pemakaian bahasa baku.
sosial lebih digandrungi dan yang sering Bahasa baku atau bahasa standar itu
didasarkan bahasa orang-orang yang harus diterima atau berterima bagi
berpendidikan di dalam atau di sekitar masyarakat bahasa. Penerimaan ini sebagai
pusat kebudayaan atau suatu masyarakat kelanjutan kodifikasi bahasa baku. Dengan
bahasa. penerimaan ini bahasa baku mempunyai
Di dalam Logman Dictionary of kekuatan untuk mempersatukan dan
Applied Linguistics, Richard, Jhon dan menyimbolkan masyarakat bahasa baku.
Heidi (1985 : 271) berpengertian bahwa Bahasa baku itu difungsikan atau
bahasa baku adalah ragam bahasa yang dipakai sebagai model atau acuan oleh
berstatus tinggi di dalam suatu masyarakat masyarakat secara luas. Acuan itu
Jurnal Ilmiah Mandala Education 153
JIME, Vol. 2 No. 2 ISSN 2442 - 9511 Oktober 2016
dijadikan ukuran yang disepakati secara masyarakat bahasa yang bersangkutan. Hal
umum tentang kode bahasa dan kode itu terlihat pada penutur bahasa Indonesia.
pemakaian bahasa di dalam situasi tertentu Pemilikan bahasa baku membawa
atau pemakaian bahasa tertentu. serta wibawa atau prestise. Fungsi
Ketiga aspek yang terdapat dalam pembawa wibawa bersangkutan dengan
konsep bahasa baku itu kodifikasi, usaha orang mencapai kesederajatan
keberterimaan, difungsikan atau dipakai dengan peradaban lain yang dikagumi
sebagai model, berkesatuan utuh dan saling lewat pemerolehan bahasa baku sendiri.
berkait, baik dalam menentukan kode Ahli bahasa dan beberapa kalangan di
bahasa maupun kode pemakaian bahasa Indonesia pada umumnya berpendapan
baku. Hal ini akan dirinci pada bahwa perkembangan bahasa Indonesia
pembahasan ciri-ciri dan fungsi bahasa dapat dijadikan teladan bagi bangsa lain di
baku dan pemakaian bahasa baku. Asia Tenggara (dan mungkin juga di
b. Fungsi Bahasa Baku Afrika) yang juga memerlukan bahasa
Pembakuan bahasa Indonesia yang modern. Dapat juga dikatakan bahwa
dimaksudkan untuk : (1) fungsi bahasa fungsi pembawa wibawa itu beralih dari
nasional, bahasa Negara, dan bahasa resmi; pemilikan bahasa baku yang nyata ke
(2) fungsi penanda kepribadian; (3) fungsi pemilikan bahasa yang berpotensi menjadi
penambah wibawa; dan (4) fungsi sebagai bahasa baku. Walapun begitu, menurut
kerangka acuan, Husain dan Aripin (1996 : pengalaman, sudah dapat disaksikan di
62). Sedangkan menurut Hasan Alwi dkk beberapa tempat bahwa penutur yang
2003 : 14) bahasa baku mendukung empat mahir berbahasa Indonesia “dengan baik
fungsi, tiga diantaranya bersifat pelambang dan benar” memperoleh wibawa di mata
atau simbolik, sedangkan yang satu lagi orang lain.
bersifat objektif: (1) fungsi sebagai Bahasa baku dalam fungsi sebagai
pemersatu; (2) fungsi sebagai pemberi kerangka acuan, menjadi tolak ukur suatu
kekhasan; (3) fungsi sebagai pembawa norma atau kaidah untuk dinyatakan benar
kewibaawaan; dan (4) fungsi sebagai atau salah. Bahasa baku juga menjadi
kerangka acuan. kerangka acuan etika. Bahasa baku
Bahasa baku memperhubungkan digunakan untuk menilai pemakaian
semua penutur berbagai dialek bahasa itu. bahasa yang sopan terutama dalam
Dengan demikian, bahasa baku pergaulan, baik dalam bentuk bahasa lisan
mempersatukan masyarakat Indonesia maupun dalam bentuk bahasa tulis.
menjadi satu masyarakat bahasa dan c. Ciri-ciri Bahasa Indonesia Baku
meningkatkan proses identifikasi penutur Di samping kesepakatan tentang
orang seorang dengan seluruh masyarakat. fungsi-fungsi dan konteks pemakaian
Bahasa Indonesia ragam tulisan yang bahasa Indonesia baku ternyata ada
diterbitkan di Jakarta selaku pusat konsekuensi yang cukup luas diantara
pembangunan agaknya dapat diberi pemakaian bahasa Indonesia baku tentang
predikat pendukung fungsi pemersatu. ciri-ciri bahasa Indonesia baku yang
Bahkan banyak orang bukan saja tidak mencakup kegramatikal dan
sadar akan adanya dialek (geografis) keleksikalannya.
bahasa Indonesia, melainkan Ciri-ciri bahasa Indonesia baku
menginginkan juga keadaan utopia yang secara umum sama antara lisan dan tulis.
hanya mengenal satu ragam bahasa Badudu (1992 : 42) dengan jelas
Indonesia untuk seluruh penutur dari mengemukakan bahwa “berbahasa lisan
Sabang sampai ke Merauke. baku dalam kegiatan resmi seperti bentuk
Fungsi pemberian kekhasan yang dan susunan bahasa tulis”.
diemban oleh bahasa baku Dari beberapa pendapat di atas
memperbedakan bahasa itu dari bahasa tentang cirri-ciri bahasa baku, penulis
yang lain. Karena fungsi itu, bahasa baku dapat menyimpulkan bahwa ciri bahasa
memperkuat perasaan keprbadian nasional baku bahasa indonesia adalah bahasa yang
Jurnal Ilmiah Mandala Education 154
JIME, Vol. 2 No. 2 ISSN 2442 - 9511 Oktober 2016
dipakai oleh penutur baik bahasa lisan informasi-informasi yang dapat diambil
maupun bahasa tulis harus sesuai dengan menjadi data yang nantinya akan dianalisa
ejaan yang disempurnahkan atau sesuai untuk menjawab permasalahan dalam
dengan pedoman yang telah ditetapkan penelitian.
oleh Pemerintah melalui Pusat Pembinaan 1) Populasi Penelitian
dan Pengembangan Bahasa. Populasi adalah wilayah generalisasi
d. Istilah Baku yang terdiri atas objek/subjek yang
Istilah baku yang dimaksudkan mempunyai kualitas dan karakteristik
ialah kata atau gabungan kata yang tertentu yang diterapkan oleh peneliti
dengancermat mengungkapkan suatu untuk dipelajari dan kemudian ditarik
makna konsep, proses, keadaan, atau sifata kesimpulannya (Sugiyono, 1996: 57).
yang khas dalam bidang tertentu. Sedangkan menurut Arikunto (1989: 68)
Pembakuan istilah sama halnya dengan mengatakan bahwa populasi adalah seluruh
pembakuan ejaan. Pembakuan istilah subjek atau objek yang dikenangkan dalam
secara resmi diberlakukan berdasarkan penelitian.
surat Keputusan Mendikbud No. 0196/U Tabel 02. Data Populasi Siswa kelas VII
tanggal 27 Agustus 1975, yang dikenal SMP Negeri 1 Wera Kabupaten 27
dengan Pedoman Umum Pembentukan Bima tahun pelajaran 2013-2014
Istilah (PUPI). No Kelas Jumlah
Konsep pedoman umum 1 Kelas VII A 27 orang
pembentukan istilah disusun oleh Prof. H. 2 Kelas VII B 26 orang
ohanes dan Anton M. Moeliono. Konsep 3 Kelas VII C 28 orang
itu mengalami pengolahan-pengolahan 4 Kelas VII D 26 orang
yang lebih mantap terutama pada Sanggar Sumber data: SMP Negeri 1 Wera
Kerja Peristilahan yang sebelumnya telah Kabupaten Bima
direvisi dan diolah lagi oleh Komisi Tata Berdasarkan tabel di atas maka
Istilah dalam Panitia Pengembangan populasi dalam penelitian ini adalah
bahasa Indonesia dan Majelis Bahasa keseluruhan siswa kelas VII SMP Negeri
Indonesia dan Malaysia (Depdikbud, 1975 1 Wera Kabupaten Bima tahun pelajaran
: 7). 2013/2014.
2) Sampel Penelitian
METODE PENELITIAN Di dalam penelitian, menurut
1. Metode yang Digunakan Sugiyono (1996 : 56) sampel adalah
Untuk mengawali penggunaan metode sebagaian dari jumlah dan karakteristik
dalam penelitian ini adalah menentukan yang dimiliki oleh populasi. Apa yang
metode penelitian yang akan diterapkan untuk dipelajari dalam sampel, kesimpulannya
menyelesaikan masalah ini. Adapun metode akan diberlakukan untuk populasi. Oleh
yang diterapkan dalam penelitian ini adalah karena itu, sampel yang diambil dari
metode penelitian deskriptif. Penelitian populasi harus betul-betul representative
deskriptif adalah penelitian yang tertuju pada (mewakili).
pemecahan masalah pada masa sekarang Menurut Arikunto (1996 : 106) sampel
(Winarno Surakhmad 1998: 139). adalah sebagian atau wakil populasi yang
Penggunaan metode deskriptif diteliti. Sebagian dari jumlah dan
kualitatif dimaksud untuk menjelaskan karekteristik yang dimiliki oleh populasi
tentang penggunaan kosakata, kalimat, dan tersebut dalam penelitian ini adalah
wacana bahasa tidak baku dalam dunia penggunaan kosakata baku dalam wacana
pendidikan formal di SMP Negeri 1 Wera bahasa Indonesia pada siswa kelas VII di
Kabupaten Bima. SMP Negeri 1 Wera Kabupaten Bima.
2. Metode Penentuan Subjek Penelitian Oleh karena itu yang menjadi
Subjek penelitian adalah sumber- informan dalam penelitian ini adalah siswa
sumber yang diharapkan dapat memberikan kelas VII A di SMP Negeri 1 Wera
Jurnal Ilmiah Mandala Education 155
JIME, Vol. 2 No. 2 ISSN 2442 - 9511 Oktober 2016
Kabupaten Bima yang berjumlah 27 kalimat, dan wacana bahasa baku dan tidak
orang, dari 27 narasumber atau informan baku yang terkandung di dalam
tersebut mewakili kelas VII SMP Negeri 1 dokumentasi atau hasil wawancara peneliti
Wera yang ada di lokasi penelitian. dengan informan, kemudian
3. Metode Pengumpulan Data mendeskripsikannya sesuai aspek yang
Dalam suatu penelitian selalu terjadi menjadi sudut pandang penelitian ini.
proses pengumpulan data. Proses 4. Metode Analisis Data
pengumpulan data tersebut dapat dilakukan Data penelitian yang diperoleh
dengan teknik-teknik tertentu. Teknik yang selanjutnya diidentifikasi sesuai dengan
dipilih dan digunakan dalam proses kelas katanya dan dianalisis dengan
pengumpulan data tergantung pada sifat dan penggunaan bahasa tidak baku yang
karakteristik peneliti yang dilakukan. Untuk digunakan oleh warga sekolah yaitu SMP
memperoleh data dalam penelitian ini Negeri 1 Wera Kabupaten Bima. Proses ini
digunakan metode, observasi, wawancara, dan disebut deskriptif analisis. Jadi teknik yang
dokumenter. digunakan dalam analisis data adalah
1) Metode Observasi deskriptif analisis.
Metode observasi adalah mengamati Langkah-langkah dalam analisis data
sesuatu dengan mata. Jadi mengobservasi adalah: (a) penerapan hasil bahasa tidak
dapat dilakukan melalui penglihatan, baku; (b) pembagian data dengan bahasa
penciuman, pendengaran, peraba dan tidak baku; (c) pembagian data dengan
pengecap. Apa yang dikatakan ini makna bahasa tidak baku; (d) pembahasan
sebenarnya adalah pengamatan langsung dan penarikan kesimpulan.
(Suharsim A, 1997). Jadi, metode PEMBAHASAN
observasi ini digunakan untuk 1. Penyajian Data
menggerakkan data atau mengetahui Langkah pertama yang perlu
keberadaan informan sebagai sumber dilakukan dalam penelitian ini adalah
bahasa tidak baku yaitu kosakta, kalimat, mendeskripsikan data yang telah diperoleh
dan wacana pada SMP 1 Wera Kabupaten dari hasil pelaksanaan penelitian di lapangan.
Bima. Sebagaimana telah dibahas pada bab
2) Metode Wawancara sebelumnya bahwa metode pengumpulan data
Wawancara adalah cara menghimpun yang dipergunakan dalam penelitian ini
bahan-bahan atau keterangan yang adalah metode observasi. Sehubungan
dilaksanakan dengan Tanya jawab secara dengan hal tersebut, maka dalam bab ini akan
lisan, sepihak berhadapan muka dan dideskripsikan hasil observasi yang diperoleh
dengan arah tujuan yang telah ditentukan dalam penelitian ini bagaimana siswa
untuk memperoleh hasil yang diinginkan. menggunakan kosaata baku dalam wacana
Jadi, metode wawancara digunakan untuk bahasa Indonesia.
mendapatkan data asli tentang Sebagaimana yang telah diuraikan
menggunakan bahasa tidak baku kosakta, dalam subbab sebelumnya bahwa subjek
kalimat, dan wacana pada SMP 1 Wera penelitian ini adalah siswa kelas VII A SMP
Kabupaten Bima. Negeri 1 Wera Kabupaten Bima tahun
3) Metode Dokumenter pelajaran 2013/2014 yang berjumlah 27
Metode ini digunakan untuk siswa.
mengumpulkan bukti-bukti dan Adapun hasil penelatian terhadap
keterangan-keterangan yang dimaksudkan subjek penelitian dapat dilihat dalam tabel
untuk menjaring data yang di tulis. Metode data penggunaan kosakata baku dalam
dokumentasi yakni metode yang wacana bahasa Indonesia pada siswa kelas
dipergunakan dalam sebuah penelitian VII A SMP Negeri 1 Wera Kabupaten Bima
untuk mengambil data yang tidak tahun pelajaran 2013/2014 berikut ini :
terdokumentasi. Metode ini dipergunakan
sesuai dengan judul penelitian bahwa
peneliti akan mengidentifikasi kosakata,
Jurnal Ilmiah Mandala Education 156
JIME, Vol. 2 No. 2 ISSN 2442 - 9511 Oktober 2016
Tabel 3. Data Penggunaan Kosakata Baku dan Kata-kata yang ada dalam tabel 3 di atas
kosakata tidak baku dalam Wacana merupakan kata baku dan kata tidak baku,
Bahasa Indonesia. akan kelihatan mana kata yang baku dan kata
Jenis Kosakata yang tidak baku. Jadi munculnya kosakata
No. Nama Siswa Kosakata Kosakata
Baku Tidak Baku
tidak baku yang digunakan oleh siswa kelas
1. Abdul Dahlan Subjektif Subyektif VII A di SMP Negeri 1 Wera Kabupaten
2. Ainun Jakiah Saksama Seksama Bima karena dipengaruhi oleh adanya tukar-
3. Al Ma’riz Terampil Trampil menukarnya huruf, pelesapan huruf, dan
4. Amrurizal Peduli Perduli penambahan huruf.
5. Andi Irawan Nasihat Nasehat b. Kelompok kata-kata yang saling tukar-
6. Anita Sri Sundari Pasca Paska menukar huruf
7. Ardiansyah Relaks Rileks Kelompok kata yang saling tukar-
8. Ayu Irmawati Setir Stir menukar huruf dalam pembentukkan kata
9. Destiana Ramadanti Karena Karna baku misalnya terjadi pada kata subyektif
10. Ferawati Sekadar Sekedar merupakan kata tidak baku dan sedangkan
11. Firman Silakan Silahkan kata subjektif merupakan kata baku. Huruf
12. Hardianti System Sistem
yang saling tukar-menukar pada kedua kata
13. Haryono Praktik Praktek
tersebut adalah huruf y dan j dalam bahasa
14. Ida Astuti Risiko Resiko
Indonesia yang baik dan benar seharusnya
15. Iryuliani Ubah Rubah
menggunakan huruf j bukan menggunakan
16. Khairul Rahman Teknik Tehnik
Kusnandi Putra Putera
huruf y jadi kata baku yaitu kata subjektif,
17.
M. Jainul Ahyar Putri Puteri
sedangkan kata seksama dan kata saksama
18.
Muhammad Ali Negeri Negri huruf yang saling tukar-menukar adalah e dan
19.
20. Mutmainah Aktivitas Aktifitas a jadi untuk mencapai kata baku harus
21. Neli Astuti Antre Antri menggunakan huruf a, dalam kata nasehat
22. Nurhayati Asas Azas dan kata nasihat, yaitu terjadi tukar-menukar
23. Nurilmih Putri Febriyanti Hakikat Hakekat antaran huruf e dan huruf i jadi kata yang
24. Rafni Telanjur Terlanjur sesuai dengan kata baku adalah kata nasihat,
25. Raodah Teladan Tauladan kata paska dan kata pasca merupakan
26. Rosfita Piker Fikir. penukaran antara huruf k dan huruf c menurut
27. Fahrudin Motivasi Motifasi kata baku harus menggunakan huruf c dari
kedua kata tersebut yang merupakan kata
2. Analisis Data baku, yaitu kata pasca, kata rileks dan kata
a. Data Penggunaan Kosakata Baku dalam relaks yaitu dua kata yang mengalami tukar-
Wacana Bahasa Indonesia. menukar huruf terdapat antara huruf i dan
Kata merupakan bentuk yang sangat huruf e, antara huruf e dan huruf a dari kedua
komplek yang tersusun atas beberapa unsur. kata tersebut yang termasuk kata baku yaitu
Kata dalam bahasa Indonesia terdiri atas satu kata relaks, kata sekedar dengan kata
suku kata atau lebih. Kata merupakan unsur sekadar, huruf yang ditukar pada kata tersebut
atau bagian yang sangat penting dalam ialah huruf a dengan huruf e, huruf yang
kehidupan berbahasa. Bidang atau kajian benar ialah a. Sedangkan kata sistem dengan
mengenai kata telah banyak diselidiki oleh kata system huruf yang ditukar pada kedua
ahli bahasa. Penyelidikan tersebut kata tersebut ialah huruf y dengan huruf e
menghasilkan berbagai teori-teori antara yang menurut bahasa yang baik huruf e diganti
satu dengan yang ain berbeda-beda. dengan huruf y, kata praktek merupakan kata
Perbedaan ini terjadi karena adanya tidak baku karena menggunakan huruf e pada
perbedaan sudut pandaang antara ahli bahasa kata tersebut, huruf yang seharusnya
yang satu dengan yang lainnya. Adanya digunakan dalam kata tersebut adalah huruf i
perbedaan konsep antara ahli yang satu seperti kata praktik, kata resiko dengan kata
dengan yang lainnya tentu akan risiko yang menyebabkan kata tersebut tidak
membingungkan dalam kegiatan pembelaja- baku ialah tertukarnya antara huruf e dengan
ran. huruf i, sedangkan kata tehnik dengan kata
Jurnal Ilmiah Mandala Education 157
JIME, Vol. 2 No. 2 ISSN 2442 - 9511 Oktober 2016
teknik yang menyebabkan kata tidak baku baku telanjur jadi penambahan huruf pada
pada kata di atas ialah tertukarnya antara kata tersebut yaitu huruf r, sedangkan pada
huruf h dengan huruf k, kata aktifitas dengan kata yang kedua juga terdapat penambahan
kata aktivitas yang menjadi penukaran huruf huruf u pada kata tidak baku.
pada kedua kata tersebut adalah antara huruf f Dari beberapa kata tersebut, yang
dengan huruf v, terlihat juga pada kata antri menyebabkan terjadinya kata tidak baku
dengan kata antre dari kedua kata tersebut karena dipengaruhi oleh adanya bahasa
terlihat jelas bahwa huruf e ditukar dengan daerah dan penukaran antara huruf satu
huruf i, pada kata azas dengan kata asas juga dengan huruf yang lainnya, pelesapan huruf
mengalami penukaran huruf, dengan kata pada kata, dan penambahan huruf pada kata,
hakekat dengan kata hakikat kedua kata yang pada akhirnya siswa kelas VII A banyak
tersebut mengalami penukaran huruf yaitu menggunakan kosakata tidak baku dalan
antara huruf i dan huruf e, sedangkan kata berinteraksi.
fikir dengan kata piker mengalami penukaran Bahasa terdiri atas beberapa tataran
huruf i dengan huruf e, huruf f dengan huruf gramatikal antara lain kata, frase, klausa, dan
p. kalimat. Kata merupakan tataran terendah dan
c. Kelompok kata-kata yang pelesapan huruf kalimat merupakan tataran tertinggi. Ketika
Kelompok kata yang menyebabkan kita menulis, kata merupakan kunci utama
terjadinya pelepasan huruf pada kata dalam upaya membentuk tulisan. Oleh karena
merupakan akan menghasilkan bahasa tidak itu, sejumlah kata dalam Bahasa Indonesia
baku seperti pada pada kata trampil dan kata harus dipahami dengan baik, agar ide dan
terampil kata tersebut merupakan pelesapan pesan seseorang dapat mudah dimengerti.
huruf e, kata stir dan kata setir kedua kata Dengan demikian, kata-kata yang digunakan
tersebut ialah pelesapan huruf e jadi kata yang untuk berkomunikasi harus dipahami dalam
sesuai dengan EYD ialah kata setir, kata konteks alinea dan wacana. Kata sebagai
karna dengan kata karena huruf yang unsur bahasa, tidak dapat dipergunakan
dilesapan pada kata tersebut ialah huruf e, dengan sewenang-wenang. Akan tetapi, kata-
terjadi juga pada kata negri huruf yang kata tersebut harus digunakan dengan
dilesapkan dalam kata tersebut ialah huruf e mengikuti kaidah-kaidah yang benar.
menurut bahasa yang baik seharusnya huruf e 3. Penggunaan Wacana Bahasa Tidak
tidak dilesapkan kata yang benar ialah negeri. Baku
d. Kelompok kata-kata yang penambahan Dalam kamus besar Bahasa Indonesia
huruf wacana adalah: 1) Komunikasi verbal,
Kata perduli dan peduli terdapat percakapan; 2) Keseluruhan tutur yang
penambahan huruf r kata yang sesuai dengan merupakan suatu kesatuan; 3) Satuan bahasa
bahasa Indonesia baku adalah kata peduli atau terlengkap yang direalisasikan dalam bentuk
hilangkan huruf r, kata silahkan merupakan karangan atau laporan utuh, seperti novel,
kata tidak baku karena ada penambahan huruf buku, artikel, pidato atau khotbah; 4)
pada kata tersebut yaitu huruf h dalam bahasa Kemampuan atau prosedur berpikir secara
yang baik dan benar seharusnya huruf h pada sistematis, kemampuan atau proses
kata tersebut tidak di tulis atau tidak disebut. memberikan pertimbangan berdasarkan akal
Kata rubah ialah kata tidak baku karena sehat; 5) Pertukaran ide secara verbal.
penambahan huruf r para kata tersebut, Wacana merupakan suatu pernyataan
seharusnya huruf r ditiadakan kata yang benar atau rangkaian pernyataan yang dinyatakan
ialah ubah. Kata putera ialah kata tidak baku secara lisan ataupun tulisan dan memiliki
karena ada penambahan huruf e pada kata hubungan makna antarsatauan bahasanya
tersebut sebaiknya huruf e ditiadakan karena serta terikat konteks. Dengan demikian
kata yang benar ialah kata putra. Kata puteri apapun bentuk pernyataan yang
ialah kata tidak baku karena kata puteri dipublikasikan melalui beragam media yang
terdapat penambahan huruf e yang sebenarnya memiliki makna dan terdapat konteks di
ialah huruf e dihilangkan seperti pada kata dalamnya dapat dikatakan sebagai sebuah
putrid, kata tidak baku terlanjur dengan kata wacana.
Jurnal Ilmiah Mandala Education 158
JIME, Vol. 2 No. 2 ISSN 2442 - 9511 Oktober 2016
Berdasarkan saluran komunikasinya penggunaannya yaitu kata tampa. Kata
wacana dapat dibedakan atas, wacana lisan tersebut seharusnya ditulis tanpa karena kata
dan wacana tulis. Wacana lisan memiliki ciri tersebut terdapat tukar-menukar huruf m
adanya penuturan dan mitra tutur, bahasa dengan huruf n menurut kaidah yang benar
yang dituturkan, dan alih tutur yang menandai sebaiknya menggunakan huruf n. Sedangkan
giliran bicara. Sedangkan wacana tulis wacana yang kedua ada satu kata yang
ditandai oleh adanya penulis dan pembaca, terlupakan yaitu kata apa di antara kata hal
bahasa yang dituliskan dan penerapan sistim dengan kata yang, karena kata apa merupakan
ejaan. kata yang menanyakan kerjadi.
Wacana merupakan satuan bahasa di Kedua model wacana di atas adalah
atas tataran kalimat yang digunakan untuk wacana tidak baku atau cara penulisannya
berkomunikasi dalam konteks sosial. Satuan tidak sesuai dengan tata bahasa baku bahasa
bahasa itu dapat berupa rangkaian kalimat Indonesia atau kaidah bahasa Indonesia yang
atau ujaran. Wacana dapat berbentuk lisan baik dan benar. Wacana tersebut adalah
atau tulis. bentuk kalimat yang mengandung tema, tema
Penggunaan wacana bahasa tidak baku ini biasanya terdiri atas alinea-alinea, atau
ini dapat dicapai antara lain dengan susunan karangan-karangan tidak utuh.
kosakata atau kalimat menurut aturan tata SIMPULAN DAN SARAN
bahasan yang baik dan benar, sebaliknya tidak 1. Simpulan
tersusunnya kosakata atau kalimat dengan Dari pembahasan di atas dapat
baik maka dalam penggunaan bahasa dalam disimpulkan bahwa masih banyak siswa SMP
menghasilkan bahasa tidak baku atau tidak Negeri 1 Wera Kabupaten Bima yang
sesuai dengan kaedah yang baik dan benar. menggunakan kosakata tidak baku dalam
Dalam penelitian ini ada beberapa wacana wacana bahasa Indonesia. Yang menjadi
bahasa tidak baku yang peneliti temukan di penyebab terjadinya penggunaan kosakata
lokasi penelitian menggunakan kosakata atau tidak baku yaitu adanya tukar-menukar huruf
kalimat tidak baku dalam menyusun sebuah dalam kata, pelesapan huruf, dan penambahan
wacana. huruf pada kata.
Untuk lebih jelasnya, berikut penulis Bahasa Indonesia merupakan bahasa
menyajikan wacana bahasa tidak baku yang standar dan sebagai acuan untuk digunakan
digunakan oleh siswa kelas VII A di SMP sehari-hari dalam masyarakat. Dan digunakan
Negeri 1 Wera Kabupaten Bima. dalam percakapan resmi. Sedangka bahasa
1) Kebersihan adalah hal terpenting dalam yang tidak baku, yaitu bahasa yang digunakan
kehidupan. Tampa kebersihan, mungkin dalam percakapan sehari-hari.
dunia kita akan dipenuhi dengan sampah. Bahasa terdiri atas beberapa tataran
Dimana-mana terjangkit beragam jenis gramatikal antara lain kata, frase, klausa, dan
penyakit yang akan menghantui manusia. kalimat. Oleh karena itu, sejumlah kata dalam
Beragam bencana pun akan timbul. Oleh Bahasa Indonesia harus dipahami dengan
karena itu, marilah kita ciptakan baik, agar ide dan pesan seseorang mudah
kebersihan dimanapun kita berada. dimengerti. Dengan demikian, kata-kata yang
2) Banyak orang yang meremehkan sampah. digunakan untuk berkomunikasi harus
Bahkan, tidak terpikirkan hal yang akan dipahami dalam konteks alinea dan wacana.
ditimbulkannya. Walaupun tempat sampah Kata sebagai unsur bahasa, tidak dapat
banyak disediakan, tetapi kepedualian dipergunakan dengan sewenang-wenang.
seseorang terhadap sampah sangat kurang. Akan tetapi, kata-kata tersebut harus
Sebagai siswa, kamu sebaiknya menyadari digunakan dengan mengikuti kaidah-kaidah
dan memiliki sikap peduli terhadap yang benar.
sampah. Oleh karena itu, buanglah sampah Sudah selayaknyalah kalau semua
pada tempat sampah. orang/warga negara Indonesia mempunyai
Wacana yang pertama di atas ada sikap positif terhadap bahasa yang mereka
kosakata yang tidak baku dalam gunakan. Dalam berkomunikasi
menggunakan bahasa Indonesia baik tulisan
Jurnal Ilmiah Mandala Education 159
JIME, Vol. 2 No. 2 ISSN 2442 - 9511 Oktober 2016
maupun lisan. Haruslah mempertimbangkan Badudu, J.S, 1992. Cakrawala Bahasa
tepat tidaknya dalam penggunaan kosakata. Indonesia II, Gramedia, Jakarta.
Kita sebagai warga negara Indonesia harus Crystal, D, 1985. A Dictionary of Linguistics
mempunyai sikap seperti itu karena siapa lagi and Phonology, Basil Blakwell, New
yang harus menghargai bahasa Indonesia York.
selain warga negaranya. Kita, sebagai bangsa
Indonesia harus bersyukur, bangga, dan Djajasudarma, Fatimah. 1994. Wacana:
beruntung karena memiliki bahasa Indonesia Pemahaman dan Hubungan
sebagai bahasa nasional dan bahasa Negara. Antarunsur. Bandung: Eresko.
Menggunakan bahasa baku terutama di dunia Hartmann and Stork, 1972. Dictionary of
pendidikan memang sudah seharusnya Language and Linguistics, Applied
diterapkan, karena hal itu akan menunjukan Science, London.
bahwa siswa atau generasi selajutnya tidak
lupa dengan bahasanya sendiri. Junus H. dan Banasuru A, 1996. Bahasa
2. Saran Indonesia Tinjauan Sejarahnya dan
Penggunan kosakata baku memang Pemakaian Kalimat yang Baik dan
seharusnya kita terapkan, mengingat bahasa Benar. Surabaya. Usaha Nasional.
baku adalah bahasa Indonesia yang benar, Keraf Gory, 1987. Tata Bahasa Indonesia.
dalam penggunaan kosakata dengan baik Ende Flores. Nusa Indah
maka akan menunjukkan jati diri bangsa
Kushartanti, Multamia dan Lauder, Untung
Indonesia.
Yuwono. 2008. Pesona Bahasa:
Untuk dapat mmenggunakan kosakata
Langkah Awal Memahami Linguistik.
siswa di SMP Negeri 1 Wera hendaknya
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
memperbanyak menggunakan kosakata baku
dalam percakapan atau berinteraksi. Sehingga Moeliono, A, M, 1975, Sosiolinguistik,
kosakata yang dipergunakan akan terbiasa Angkasa, Bandung.
diucapkan dengan baik dan sempurnah. Nikelas, Sahwai, 1988. Pengantar Linguistik
Untuk Guru Bahasa. Jakarta
DAFTAR PUSTAKA Depdikbud.
Alwasiah, A, Ch, 1985. Beberapa Madhjab Poerwadarminta, W.J.S, 1976. Kamus Umum
dan Dikotomi Teori Linguistik, Bahasa Indonesia, Balai Pustaka,
Angkasa, Bandung. Jakarta.
Alwi, Hasan. dkk. 1999. Tata Bahasa Baku Samarin W, 1988, Ilmu Penelitian Lapangan,
Basa Indonesia. Jakarta: Balai Kanisius, Jakarta
Pustaka.
Sugioyono, 2006. ”Metode Penelitian
Alwi Hasan. Dkk, 2003. Tata Bahasa Baku Pendidikan”. Bandung: Alfabeta
Bahasa Indonesia Edisi Ketiga.
Jakarta. Balai Pustaka. Suherianto, 1981. Kompas Bahasa,
Pengantar Berbahasa Indonesia yang
Arifin, E, Zaenal dan S. Amran Tasai, 1986. Baik dan Benar, Widya Duta,
Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta. Surakarta.
Medyatama Sarana Perkasa.
Syamsuddin A.R. 1992. Studi Wacana: Teori-
Arikunto, Suharsimi. 2000. Metodelogi Analisis Pengajaran. Bandung: FPBS
Penelitian. Surabaya: Usaha Nasional. IKIP Bandung.
,1996. Metodelogi Penelitian. Tarigan, H.G. 1994. Menulis sebagai Suatu
Surabaya: Usaha Nasional. Keterampilan Berbahasa. Bandung:
, 1989. Prosedur Penelitian Suatu Angkasa
Pendekatan Praktis. Jakarta : Rhineka Wirjosoedarmo, Soekona, 1985. Tata Bahasa
Cipta. Indonesia. Surabaya. Sinar Wijaya.
Jurnal Ilmiah Mandala Education 160
JIME, Vol. 2 No. 2 ISSN 2442 - 9511 Oktober 2016
Winamo Surakhmad, 1998, Pengantar
Penelitian Ilmiah, Tarsito, Bandung.

Jurnal Ilmiah Mandala Education 161

Anda mungkin juga menyukai