0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan18 halaman

Jenis Permukiman dalam Kesehatan Perkotaan

Dokumen tersebut membahas tentang jenis-jenis permukiman dan daerah yang tidak memenuhi syarat kesehatan. Permukiman didefinisikan sebagai lingkungan hunian yang terdiri atas lebih dari satu satuan perumahan beserta prasarana dan sarana yang mendukung. Ada beberapa jenis permukiman seperti perkampungan tradisional, permukiman permanen, dan kumuh. Daerah yang tidak memenuhi syarat kesehatan antara lain karena keti

Diunggah oleh

novra
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan18 halaman

Jenis Permukiman dalam Kesehatan Perkotaan

Dokumen tersebut membahas tentang jenis-jenis permukiman dan daerah yang tidak memenuhi syarat kesehatan. Permukiman didefinisikan sebagai lingkungan hunian yang terdiri atas lebih dari satu satuan perumahan beserta prasarana dan sarana yang mendukung. Ada beberapa jenis permukiman seperti perkampungan tradisional, permukiman permanen, dan kumuh. Daerah yang tidak memenuhi syarat kesehatan antara lain karena keti

Diunggah oleh

novra
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

KESEHATAN PERKOTAAN

JENIS PERMUKIMAN
Oleh
Reni Mardiah 1680100024
Erni Riany 1680100044

PROGRAM STUDI KESEHATA MASYARAKAT


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BENGKULU
2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur atas kehadirat Allah swt yang mana telah melimpahkan rahmat serta
hidayah-Nya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan tugas matakuliah Kesehatan
Perkotan yang berhubungan tentang Jenis Permukiman

Akhir kata semoga makalah ini dapat berguna bagi kami khususnya dan para pembaca
pada umumnya. Namun walaupun makalah ini selesai tentulah masih banyak kekurangan
hal ini disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan yang kami miliki, oleh karena itu kritik
dan saran yang mengarah kepada perbaikan isi makalah ini sangat kami harapkan. Kami
ucapkan terimakasih.

Hormat Saya,

Penulis

i
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL
KATA PENGANTAR............................................................................................................i
DAFTAR ISI.........................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN......................................................................................................1
A. Latar Belakang.....................................................................................................................1
B. Rumusan Masalah................................................................................................................2
C. Tujuan...................................................................................................................................2
D. Manfaat.................................................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN.......................................................................................................3
A. Permukiman.........................................................................................................................3
B. Jenis Permukiman................................................................................................................4
C. Daerah Yang Tidak Memenuhi Syarat Kesehatan............................................................7
BAB III PENUTUP.............................................................................................................12
A. Kesimpulan.........................................................................................................................12
B. Saran...................................................................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perumahan dan pemukiman adalah dua hal yang tidak dapat kita pisahkan
dan berkaitan erat dengan aktivitas ekonomi, industrialisasi dan pembangunan.
Pemukiman dapat terhindar dari kondisi kumuh dan tidak layak huni jika
pembangunan perumahan sesuai denganstandar yang berlaku, salah satunya dengan
menerapkan persyaratan rumah sehat. Dalam pengertian yang luas, rumah tinggal
bukan hanya sebuah bangunan (struktural), melainkan juga tempat kediaman yang
memenuhi syarat-syarat kehidupan yang layak, dipandang dari berbagai segi
kehidupan.
Undang-undang No. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman,
merumuskan bahwa: Perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai
lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan
prasarana dan sarana lingkungan. Sedangkan Permukiman adalah bagian dari
lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik yang berupa kawasan perkotaan,
maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau
lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan
penghidupan.
Hunian merupakan kebutuhan dasar manusia dan sebagai hak bagi semua
orang untuk menempati hunian yang layak dan terjangkau (Shellter for All)
sebagaimana dinyatakan dalam Agenda Habitat (Deklarasi Istambul) yang telah
juga disepakati Indonesia. Dalam kerangka hubungan ekologis antara manusia dan
lingkungan pemukimannya terlihat jelas bahwa kualitas sumberdaya manusia di
masa yang akan datang sangat dipengaruhi oleh kualitas perumahan dan

1
permukiman di mana masyarakat tinggal menempatinya (Djoko Kirmanto, 25 Maret
2002).
Berdasarkan permasalahan perumahan dan permukiman tersebut dan acuan
tema yang telah di tentukan, kelompok kami akan membahas hal yang berkaitan
dengan Jenis - Jenis Permukiman.

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan permukiman ?


2. Apa saja jenis permukiman menurut sifatnya?
3. Apa yang dimaksud daerah yang tidak memenuhi syarat?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui apa yang di maksud dengan permukiman.


2. Untuk mengetahui apa saja jenis permukiman
3. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan daerah yang tidak memenuhi
syarat.

D. Manfaat

Manfaat makalah Jenis Permukiman bagi mahasiswa kesehatan masyarakat


agar dapat kmemberikan pengetahuan untuk dapat membedakan dari berbagai jenis
permukiman sehingga dapat menjadi acuan dan pembelajaran pada saat terjun
kemasyarakat.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Permukiman

1) Defenisi Permukiman
Dalam Undang-Undang No.1 tahun 2011 Permukiman adalah bagian dari
lingkungan hunian yang terdiri atas lebih dari satu satuan perumahan yang
mempunyai prasarana, sarana, utilitas umum, serta mempunyai penunjang
kegiatan fungsi lain di kawasan perkotaan atau kawasan perdesaan.
Menurut WHO Permukiman adalah Suatu struktur fisik dimana orang
menggunakannya untuk tempat berlindung, dimana lingkungan dari struktur
tersebut termasuk juga semua fasilitas dan pelayanan yang diperluhkan,

3
perlengkapan yang berguna untuk kesehatan jasmani dan rohani dan keadaan
sosialnya yang baik untuk kelompok dan individu.
Parwata (2004) menyatakan bahwa permukiman adalah suatu tempat
bermukim manusia yang telah disiapkan secara matang dan menunjukkan suatu
tujuan yang jelas, sehingga memberikan kenyamanan kepada penghuninya.
Permukiman (Settlement) merupakan suatu proses seseorang mencapai dan
menetap pada suatu daerah .
Kegunaan dari sebuah permukiman adalah tidak hanya untuk menyediakan
tempat tinggal dan melindungi tempat bekerja tetapi juga menyediakan fasilitas
untuk pelayanan, komunikasi, pendidikan dan rekreasi.  Menurut Parwata (2004)
permukiman terdiri dari:
a) Isi, yaitu manusia sendiri maupun masyarakat; dan
b) Wadah, yaitu fisik hunian yang terdiri  dari alam

Dan elemen-elemen buatan manusia. Dua elemen permukiman tersebut,


selanjutnya dapat dibagi ke dalam lima elemen yaitu:

a) Alam yang meliputi: topografi, geologi, tanah, air, tumbuh-tumbuhan, hewan,


dan iklim;
b) Manusia yang meliputi: kebutuhan biologi (ruang,udara, temperatur, dsb),
perasaan dan persepsi, kebutuhan emosional, dan nilai moral;
c) Masyarakat yang meliputi: kepadatan dan komposisi penduduk, kelompok
sosial, kebudayaan, pengembangan ekonomi, pendidikan, hukum dan
administrasi;
d) Fisik bangunan yang meliputi: rumah, pelayanan  masyarakat (sekolah, rumah
sakit, dsb), fasilitas rekreasi, pusat perbelanjaan dan pemerintahan, industri,
kesehatan, hukum dan administrasi; dan
e) Jaringan ( net work ) yang meliputi: sistem jaringan air bersih, sistem jaringan
listrik, sistem transportasi, sistem komunikasi, sistem manajemen kepemilikan,
drainase dan air kotor, dan tata letak fisik.

4
Jadi, dapat disimpulkan bahwa permukiman merupakan lingkungan yang
terdiri atas bangunan perumahan yang dibuat untuk tempat berlindung bagi
penghuni dan didalamnya terdapat dan tersedia sarana dan prasarana untuk
memenuhi kebutuhan penghuni.

2) Unsur-Unsur Permukiman
Unsur-unsur permukiman dibagi menjadi tiga yaitu :
a) Penduduk / Warga / Perkumpulan Orang-orang atau manusia
Orang-orang yang berada di dalamnya terikat oleh aturan-aturan yang berlaku
dan saling berinteraksi satu sama lain secara terus menerus / kontinyu. Suatu
daerah tempat tinggal biasanya dipimpin oleh seseorang.
b) Rumah
Rumah adalah tempat berlindung dari segala macam gangguan yang dapat
diisi oleh keluarga yang merupakan unsur terkecil dari masyarakat.
c) Sarana fisik
Sarana tersebut digunakan untuk mendukung aktivitas serta kepentingan
penduduk agar dapat terus berjalan dan hidup.

B. Jenis Permukiman

Berdasarkan sifatnya pemukiman dapat dibedakan beberapa jenis antara  lain:


a) Pemukiman Perkampungan  Tradisional
Perkampungan seperti ini biasa nya penduduk atau masyarakatnya masih
memegang teguh tradisi lama. Kepercayaan, kabudayaan dan kebiasaan nenek
moyangnya secara turun temurun dianutnya secara kuat. Tidak mau menerima
perubahan perubahan dari luar walaupun dalam keadaan zaman telah berkembang
dengan pesat.
Kebiasaan-kebiasaan hidup secara tradisional yang sulit untuk diubah inilah
yang akan membawa dampak terhadap kesehatn seperti kebiasaan minum air tanpa
dimasak terlebih dahulu, buang sampah dan air limbah di sembarang tempat

5
sehingga terdapat genangan kotor yang mengakibatkan mudah berjangkitnya
penyakit menular.
b) Perkampungan Darurat
Jenis perkampungan ini biasanya bersifat sementara (darurat) dan timbulnya
perkampungan ini karena adanya bencana alam. Untuk menyelamatkan penduduk
dari bahaya banjir maka dibuatkan perkampungan darurat pada daerahh/lokasi yang
bebas dari banjir. Mereka yang rumahnya terkena banjir untuk sementara
ditempatkan diperkampungan ini untuk mendapatkan pertolongan bantuan dan
makanan pakaian dan obat-obatan. Begitu pula ada bencana lainnya seperti adanya
gunung berapi yang meletus, banjir, longsor dan lain sebagainya.
Daerah pemukiman ini bersifat darurat tidak terencana dan biasanya kurang
fasilitas sanitasi lingkungan, seperti pembuangan air limbah dan samapah yang
tidak pada tempatnya sehingga kemungkinan penjalaran penyakit yang menginfeksi
masyarakat yang bermukim akan mudah  terjadi.
c) Perkampungan Kumuh (Slum Area)
Jenis pemukiman ini biasanya timbul akibat adanya urbanisasi yaitu
perpindahan penduduk dari kampung (pedesaan) ke kota. Yang pada
umumnya berniat ingin mencari kehidupan yang lebih baik, penghasilan lebih baik
dan lain sebagainya. Mereka bekerja di toko-toko, di restoran-restoran, sebagai
pelayan, cleaning servis, dan lain sebagainya.
Sulitnya mencari kerja di kota akibat sangat banyak pencari kerja, sedang
tempat bekerja terbatas, maka banyak diantara mereka manjadi orang
gelandangan sehingga dikota yang pada umumnya sulit mendapatkan tempat tinggal
yang layak dan pantas hal ini karena tidak terjangkau oleh penghasilan (upah kerja)
yang mereka dapatkan setiap hari, akhirnya meraka membuat gubuk-gubuk
sementara (gubuk liar), yang tidak sesuai dengan standar kesehatan yang ditentukan,
biasanya perkampungan atau permukiman ini terletak ditepian sungai.
Perkampungan kumuh sangat mencolok karena tempatnya yang kotor,
bangunan yang tidak teratur, seta masyarakatnya yang terlihat tidak perduli
lingkungan.

6
d) Pemukiman Transmigrasi
Jenis pemukiman semacam ini di rencanakan oleh pemerintah yaitu suatu daerah
pemukiman yang digunakan  untuk tempat penampungan penduduk yang
dipindahkan (ditransmigrasikan) dari suatu daerah yang padat penduduknya ke
daerah yang jarang atau kurang penduduknya tapi luas daerahnya (untuk tanah
garapan bertani bercocok tanam dan lain lain).
Disamping itu jenis pemukiman ini merupakan tempat pemukiman bagi orang-orang
(penduduk) yang di transmigrasikan akibat di tempat aslinya sering dilanda banjir
atau seirng mendapat gangguan dari kegiatan gunung berapi. Ditempat ini meraka
telah disediakan rumah, dan tanah garapan untuk bertani (bercocok tanam) oleh
pemerintah dan diharapkan mereka nasibnya atau penghidupannya akan lebih baik
jika dibandingkan dengan kehidupan di daerah aslinya.
e) Perkampungan Untuk Kelompok-Kelompok Khusus
Perkampungan seperti ini dibasanya dibangun oleh pemerintah
dan masyarakat diperuntukkan bagi orang-orang atau kelompok-kelompok orang
yang sedang menjalankan tugas tertentu yang telah dirancanakan . Penghuninya
atau orang orang yang menempatinya biasanya bertempat tinggal untuk sementara,
selama yang bersangkutan masih bisa menjalan kan tugas. setelah cukup selesai
maka mereka akan kembali  ke tempat/daerah asal masing masing.
Contohnya adalah perkampungan atlit (peserta olah raga pekan olahraga
nasional ) Perkampungan orang -orang yang naik haji, perkampungan pekerja
(pekerja proyek besar, proyek pembangunan bendungan, perkampungan
perkemahan pramuka dan lain lain.
f) Perkampungan Baru (real estate)
Pemukiman semacam ini drencanakan pemerintah dan bekerja sama dengan
pihak swasta. Pembangunan tempat pemukiman ini biasanya dilokasi yang sesuai
untuk suatu pemukiman (kawasan pemukiman). ditempat ini biasanya keadaan
kesehatan lingkunan cukup baik, ada listrik, tersedianya sumber air bersih , baik
berupa sumur pompa tangan (sumur bor) atau pun air PAM/PDAM, sisetem

7
pembuangan kotoran dan iari kotornya direncanakan secara baik, begitu pula cara
pembuangan samphnya di koordinir dan diatur secara baik.
Selain itu ditempat ini biasanya dilengakapi dengan gedung-gedung sekolah
(SD, SMP, dll) yang dibangun dekat dengan tempat tempat pelayanan masyarakat
seperti poskesdes/puskesmas, pos keamanan kantor pos, pasar dan lain lain. Jenis
pemukiman seperti ini biasanya dibangung dan diperuntukkan bagi penduduk
masyarakat yang berpenghasilan menengah ketas. rumah rumah tersebut dapat
dibeli dengan cara di cicil bulanan atau bahkan ada pula yang dibangun khusus
untuk disewakan. contoh pemukiman speriti ini adalah perumahan IKPR-BTN yang
pada saat sekarang sudah banyak dibangun sampai ke daerah-daerah.
Untuk di daerah – daerah (kota kota ) yang sulit untuk mendapatkan tanah
yang luas untuk perumahan, tetapi kebutuhan akan perumahan cukup banyak, maka
pemerintah bekerja sama dengan pihak swasta membangun rumah tipe susun atau
rumah susun (rumah bertingkat) seperti terdapat di kota metropolitan DKI Jakarta.
Rumah rumah seperti ini ada yang dapat dibeli secara cicilan atau disewa secara
bulanan.

C. Daerah Yang Tidak Memenuhi Syarat Kesehatan

1) Syarat Sehat Perumahan dan Lingkungan Pemukiman


Perumahan dan permukiman sehat merupakan konsep dari perumahan
sebagai faktor yang dapat meningkatkan standar kesehatan penghuninya. Konsep
tersebut melibatkan pendekatan sosiologis dan teknis pengelolaan faktor risiko dan
berorientasi pada lokasi, bagunan, kualifikasi, adaptasi, manajemen, penggunaan
dan pemeliharaan rumah dan lingkungan di sekitarnya, serta mencakup unsur
apakah rumah tersebut memiliki penyediaan air minum dan sarana yang memadai
untuk memasak, mencuci, menyimpan makanan, serta pembuangan kotoran
manusia maupun limbah lainnya.
Kesehatan perumahan dan lingkungan pemukiman adalah kondisi fisik,
kimia, dan biologik di dalam rumah, di lingkungan rumah dan perumahan, sehingga

8
memungkinkan penghuni mendapatkan derajat kesehatan yang optimal. Persyaratan
kesehatan perumahan dan lingkungan pemukinan adalah ketentuan teknis kesehatan
yang wajib dipenuhi dalam rangka melindungi penghuni dan masyarakat yang
bermukim di perumahan dan/atau masyarakat sekitar dari bahaya atau gangguan
kesehatan.
Persyaratan kesehatan perumahan yang meliputi persyaratan lingkungan
perumahan dan pemukiman serta persyaratan rumah itu sendiri, sangat diperlukan
karena pembangunan perumahan berpengaruh sangat besar terhadap peningkatan
derajat kesehatan individu, keluarga dan masyarakat (Sanropie, 1992). Persyaratan
kesehatan perumahan dan lingkungan pemukiman meliputi parameter sebagai
berikut: 
a) Lokasi
Lokasi atau daerah yang ditentukan oleh syarat sehat perumahan dan
permukiman terbagi atas beberapa bagian, yaitu :
1. Tidak terletak pada daerah rawan bencana alam seperti bantaran sungai,
aliran lahar, tanah longsor, gelombang tsunami, daerah gempa, dan
sebagainya;
2. Tidak terletak pada daerah bekas tempat pembuangan akhir (TPA) sampah
atau bekas tambang;
3. Tidak terletak pada daerah rawan kecelakaan dan daerah kebakaran seperti
alur pendaratan penerbangan.
b) Kualitas udara
Kualitas udara ambien di lingkungan perumahan harus bebas dari gangguan gas
beracun dan memenuhi syarat baku mutu lingkungan sebagai berikut :
1. Gas H2S dan NH3 secara biologis tidak terdeteksi;
2. g/m3 ;mg maksimum 150 mDebu dengan diameter kurang dari 10
3. Gas SO2 maksimum 0,10 ppm;
4. Debu maksimum 350 mm3 /m2 per hari.
5. Kebisingan dan getaran
6. Kebisingan dianjurkan 45 dB.A, maksimum 55 dB.A;

9
7. Tingkat getaran maksimum 10 mm/detik .
c) Kualitas tanah di daerah perumahan dan pemukiman
Kualitas tanah didaerah perumahan dan permukiman yang ditentukan terbagi
atas 4, yaitu :
1. Kandungan Timah hitam (Pb) maksimum 300 mg/kg
2. Kandungan Arsenik (As) total maksimum 100 mg/kg
3. Kandungan Cadmium (Cd) maksimum 20 mg/kg
4. Kandungan Benzopyrene maksimum 1 mg/kg
d) Prasarana dan sarana lingkungan
1. Memiliki taman bermain untuk anak, sarana rekreasi keluarga dengan
konstruksi yang aman dari kecelakaan;
2. Memiliki sarana drainase yang tidak menjadi tempat perindukan vektor
penyakit;
3. Memiliki sarana jalan lingkungan dengan ketentuan konstruksi jalan tidak
mengganggu kesehatan, konstruksi trotoar tidak membahayakan pejalan
kaki dan penyandang cacat, jembatan harus memiliki pagar pengaman,
lampu penerangan, jalan tidak menyilaukan mata;
4. Tersedia cukup air bersih sepanjang waktu dengan kualitas air yang
memenuhi persyaratan kesehatan;
5. Pengelolaan pembuangan tinja dan limbah rumah tangga harus memenuhi
persyaratan kesehatan;
6. Pengelolaan pembuangan sampah rumah tangga harus memenuhi syarat
kesehatan;
7. Memiliki akses terhadap sarana pelayanan kesehatan, komunikasi, tempat
kerja, tempat hiburan, tempat pendidikan, kesenian, dan lain sebagainya;
8. Pengaturan instalasi listrik harus menjamin keamanan penghuninya;
9. Tempat pengelolaan makanan (TPM) harus menjamin tidak
terjadi kontaminasi makanan yang dapat menimbulkan keracunan.
e) Vektor penyakit
1. Indeks lalat harus memenuhi syarat;

10
2. Indeks jentik nyamuk dibawah 5%.

2) Daerah Yang Tidak Memenuhi Syarat Kesehatan


Daerah yang tidak memenuhi syarat kesehatan yang dimaksud adalah daerah
yang tidak memenuhi semua Syarat Sehat Perumahan dan Lingkungan Pemukiman
yang telah dijabarkan dipoint Syarat Sehat Perumahan dan Lingkungan
Permukiman. Daerah yang tidak memenuhi syarat kesehatan salah satunya adalah
Permukiman kumuh. Permukiman kumuh adalah permukiman yang tidak layak
huni karena ketidakteraturan bangunan, tingkat kepadatan bangunan yang tinggi,
dan kualitas bangunan serta sarana dan prasarana yang tidak memenuhi syarat.
Selain permukiman kumuh, daerah yang tidak memenuhi syarat kesehatan
untuk  permukiman yaitu :
a. Daerah yang terletak pada daerah rawan bencana alam seperti bantaran sungai,
aliran lahar, tanah longsor, gelombang tsunami, daerah gempa, dan sebagainya.
Karena daerah-daerah yng disebutkan tersebut sangat memungkinkan berdampak
buruk bagi masyarakt yang membuat permukiman disekitarnya. Misalnya, pada
daerah bantaran sungai permukiman disekitar akan sangat mudah terkena banjir,
dan apabila sudah terkena banjir akan banyak masalah kesehatan yang muncul
seperti sampah yang beserakan kemana-mana mengakibatkan timbul bermacam-
macam penyakit  dari Diare, campak, ispa, penyakit kulit dan lain sebagainya.
b. Daerah yang terletak pada daerah bekas tempat pembuangan akhir (TPA) sampah
atau bekas tambang. Pada daerah TPA sampah dan tambang merupakan tempat
yang butuh waktu yang sangat lama untuk dapat dijadikan tempat permukiman,
daerah tersebut sudah banyak mengandung vektor penyebab penyakit, secara
internal seperti bakteri, virus, kuman, jamur dan lain sebagainya.
c. Daerah terletak pada daerah rawan kecelakaan dan daerah kebakaran seperti alur
pendaratan penerbangan. Jika permukiman terletak didaerah rawan kecelakaan
seperti alur pendaratan penerbangan, daerah dekat dengan rel kereta api, daerah
yang dekat jalan raya, daerah yang terletak dekat aliran listrik atau tiang listrik,

11
dan lain sebagainya akan berdampak buruk bagi  masyarakat yang tinggal
disekitarnya.

12
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa permukiman merupakan bagian


dari lingkungan hunian yang terdiri atas lebih dari satu satuan perumahan yang
mempunyai prasarana, sarana, utilitas umum, serta mempunyai penunjang kegiatan
fungsi lain di kawasan perkotaan atau kawasan perdesaan. Menurut WHO Permukiman
adalah Suatu struktur fisik dimana orang menggunakannya untuk tempat berlindung,
dimana lingkungan dari struktur tersebut termasuk juga semua fasilitas dan pelayanan
yang diperluhkan, perlengkapan yang berguna untuk kesehatan jasmani dan rohani dan
keadaan sosialnya yang baik untuk kelompok dan individu.
Kegunaan dari sebuah permukiman adalah tidak hanya untuk menyediakan tempat
tinggal dan melindungi tempat bekerja tetapi juga menyediakan fasilitas untuk
pelayanan, komunikasi, pendidikan dan rekreasi.  
Berdasarkan sifatnya pemukiman dapat dibedakan beberapa jenis
antara lain, Permukiman perkampungan, permukiman tradisional, permukiman darurat,
perkampungan kumuh, permukiman transmigrasi , perkampungan Untuk Kelompok-
Kelompok Khusus sdan Perkampungan Baru (real estate).
Sedangkan daerah yang tidak memenuhi syarat yaitu daerah-daerah yang tidak
memenuhi syarat kesehatan seperti daerah kumuh, daerah rawan bencana alam, daerah
bekas tempat pembuangan akhir (TPA) sampah atau tambang, dan daerah rawan
kecelakaan dan kebakaran.

B. Saran

Sebagai mahasiswa kesehatan masyarakat dan calon tenaga kesehatan masyarakat


sudah sewajarnya kita mengetahui dan memahami bahkan mendalami hal-hal yang

13
terkait dengan kesehatan lingkungan perumahan dan permukiman serta ruang lingkup
pembahasannya. Karena dapat menjadi acuan dan pegangan pada saat terjun
kemasyarakat yang memiliki berbagai macam masalah kesehatan lingkungan.

14
DAFTAR PUSTAKA

Budiharjo, 2009. “Perumahan dan Permukiman di Indonesia”. Bandung ; PT Alumni

Ridlo, Mohammad Agung, 2011, Perumahan dan Pemukiman Perkotaan. Semarang ;


Unissula Press.

Parwata. 2004. Elemen Permukiman. University Press

Undang-Undang  Nomor 1 Tahun 2011    Tentang “Perumahan Dan Kawasan


Permukiman”.

15

Anda mungkin juga menyukai