Anda di halaman 1dari 19

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN

CHAPTER 3 ANALYSIS OBJECTIVES

“ANALYZING FINANCING ACTIVITIES”

Dosen Mata Kuliah :Dr. Sansaloni Butar Butar, M.si, Akt.

DISUSUN OLEH :

Kelompok 5

1. Andrew Leonardo NIM = 17.G1.0046


2. Monica Sianita NIM = 17.G1.0155
3. Given Aurlia Hanrijanto NIM = 17.G1.0164
4. Florentina Irene Maya NIM = 17.G1.0169
5. Rudy Hartono NIM = 17.G1.0182
6. Fairy Khaenifasari NIM = 17.G1.0193

Kelas 01

SEMESTER GANJIL 2020/2021


 Memahami pembiayaan utang dan mengevaluasi implikasinya untuk analisis
- Utang atau kewajiban keuangan, mengarah pada dana yang dipinjam oleh
perusahaan secara eksplisit dari berbagai penyedia modal. Dengan menerbitkan
sekuritas berupa obligasi maka perusahaan dapat meminjam langsung dari
investor, namun perusahaan juga bisa meminjam dari lembaga keuangan.
Berdasarkan jangka waktunya hutang dibagi menjadi dua jenis, yakni :
a. Hutang Jangka Pendek
Hutang yang memiliki jangka waktu kurang dari satu tahun dan tingkat bunga
yang dimiliki cenderung lebih rendah. Tujuannya untuk membiayai modal
kerja dan kebutuhan likuiditas lainnya dan diklasifikasikan sebagai kewajiban
lancar. Contoh : deviden dan utang dagang.
b. Hutang Jangka Panjang
Hutang yang memiliki jangka waktu lebih dari satu tahun. Tujuannya untuk
keberlangsungan perusahaan atau modal dan diklasifikasikan sebagai
kewajiban tidak lancar.
Contoh : obligasi dan hutang yang diterbitkan kepada public

- Akuntansi Pembiayaan Hutang


Sebuah perusahaan memiliki obligasi senilai $100.000 dan tingkat kupon 6%
dengan jangka waktu tiga tahun dan dibayarkan setiap tahun. Artinya perusahaan
melakukan pembayaran kupon $6.000/tahun. Berikut ada tiga skenario dengan
suku bunga efektif yang berbeda-beda: 6%, 3%, dan 10%
a. Suku Bunga 6%
Dalam scenario ini, Present value $100.000 dan pembayaran kupon sebesar
$6.000/year (6% x $100.000).
b. Suku Bunga 3%
Dalam kasus bunga efektif 3%, Present value sebesar $108.486. Karena pasar
menilai obligasi pada present value. Perusahaan menerbitkan obligasi di atas
$100.000 dengan premi sebesar $8.486, maka beban bunga yang sekarang
jauh lebih rendah dari pada pembayaran kupon. Contoh tahun pertama adalah
pengembalian pokok sebesar $3.255 (3% x $108.486). Ketika perusahaan
membayar kupon $6.000 kepada investor maka seolah-oleh perusahaan
mengembalikan pinjaman pokok sebesar $2.745 yang mengurangi present
value obligasi.
c. Suku Bunga 10%
Skenario ini termasuk premium karena suku bunga lebih tinggi dari tingkat
kupon. Present value $90.053, oleh karena itu perusahaan menerbitkan
obligasi dibawah nilai nominal $9.947. Setiap tahun, beban bunga lebih tinggi
dari pembayaran kupon dan seolah-olah perusahaan meminjam lebih banyak
setiap tahun dan menaikkan present value obligasi. Di tahun 1 amortisasi
diskon obligasinya adalah $ 3,005 ($ 9,005 - $ 6,000).
- Pengungkapan Terkait Hutang
Hutang jangka panjang dan jangka pendek dalam pencatatan laporan keungan
harus dilaporkan oleh perusahaan. Didalam laporan tersebut memberikan
informasi mengenai antisipasi jatuh tempo hutang dimasa depan, rincian
ketentuan kontrak seperti agunan dan perjanjian, saldo yang tidak terpakai
dalam jalur kredit dan lain sebagainya.

- Menganalisis Pembiayaan Utang


a. Biaya Diamortisasi vs Nilai Nominal

Berdasarkan teori akuntansi nilai sekarang adalah langkah yang tepat


untuk mengukur kas dikemudian hari. Pada saat pelaporan utang, utang
yang dilaporkan sebesar biaya perolehan diamortisasi sehingga pada saat
jatuh tempo jumlah dari kewajiban bisa berbeda-beda. Sedangkan nilai
nominal digunakan saat mengukur utang komitmen perusahaan. Selama
nilai nominal tidak meyimpang jauh dari biaya diamortisasi maka tingkat
kupon dan suku bunga efektif akan sama. Sedangkan jika tingkat suku
bunganya rendah, perusahaan akan menerbitkan utang dengan tingkat
kupon yang mendekati dengan suku bunga. Namun dibeberapa kasus
tertentu jika tingkat suku bunganya tinggi, perusahaan akan mengeluarkan
utang dengan pembayaran kupon secara substansial.

b. Nilai Wajar
Nilai wajar mencerminkan nilai utang saat ini. Tingkat suku bunga kini
dicerminkan oleh nilai wajar yang menyimpang dari biaya perolehan,
namun berbeda dengan biaya diamortisasi lebih mencerminkan tingkat
suku bunga saat penerbitan. Jika dalam kondisi nomal, nilai wajar berguna
untuk mengukur nilai likuidasi hutang hingga jatuh tempo.
c. Feture Debt Retrement
Seorang analis secara rutin harus memeriksa jadwal pembayaran hutang
yang dimiliki. Awalnya hal ini dapat membantu peramalan arus kas.
Namun pada tingkat yang lebih tinggi, seorang analis dituntut untuk
mengevaluasi kemampuan perusahaan dalam melunasi hutangnya ketika
jatuh tempo. Biasanya perusahaan membayar utang jatuh tempo dengan
pinjaman segar dari pihak lain. Sebagai seorang analis tidak hanya
berhenti berfikir sampai disitu bahwa utang tersebut akan di biayai
kembali, terutama bagi perusahaan yang memiliki keuangan yang tidak
sehat. Perusahaan yang mengalami tunggakan sering melakukan negosiasi
untuk memperpanjang jatuh tempo, renegosisasi inilah yang memakan
biaya lebih besar dalam bentuk suku bunga yang lebih tinggi.

 Menganalisis dan mengintepretasikan pengungkapan sewa dan menjelaskan


implikasi serta penyesuaiannya terhadap laporan keuangan
- Sewa
Sewa merupakan kesepakatan antara pemilik dan pengguna, dimana pemilik
memberikan hak kepada pengguna dalam menggunakan assetnya. Sebagai ganti
dari hak penyewaan itu user yang disebut pembayaran sewa minimum (MLP).
Didalam kesepakatan pengguna diwajibkan untuk membayar selama periode yang
telah ditetapkan. Terdapat dua metode akuntansi sewa yang menggambarkan
perbedaan dalam kontrak sewa, yakni :
I. Sewa pendanaan, dimana sewa ini mengalihkan manfaat dan resiko
kepemilikan secara substansial dicatat sebagai perolehan asset dan
menimbulkan kewajiban bagi pengguna.
II. Sewa operasi, dimana pemilik mencatat pembayaran sebagai beban sewa
dan tidak ada asset atau kewajiban yang diakui dalam neraca.

- Akuntansi dan Pelaporan Sewa


a. Klasifikasi dan Pelaporan Sewa
Terdapat empat ketentuan jika penyewa ingin mencatat sewa sebagai
capital lease, satu dari empat kriteria harus terpenuhi, yakni :
 Adanya perpindahan kepemilikan asset kepada penyewa pada akhir
masa sewa
 Adanya opsi dengan harga murah dalam membeli asset
 Masa sewa 75% atau lebih dari estimasi umur ekonomis asset
 Pada awal masa sewa, nilai sekarang pembayaran sewa minumun
sebesar 90% atau lebih dari nilai wajar property sewa

Jika sewa diklasifikasikan sebagai capital lease, penyewa mencatatnya


sejumlah nilai pembayaran sewa minimum selama periode sewa.
Penyusutan asset harus disusutkan secara konsisten. Dalam akuntansi
capital lease, beban dicatat saat terjadi oleh penyewa dan tidak mengakui
adanya asset atau kewajiban didalam neraca.

- Pengungkapan Sewa
Dalam aturan akuntansi perusahaan dengan capital lease mewajibkan untuk
melaporkan asset dan kewajiban sewa dalam neraca. Disisi lain perusahaan harus
terbuka untuk komitmen sewa dimasa mendatang untuk capital lease dan
operating lease yang tidak dapat dibatalkan. Tujuan dari pengungkapan ini untuk
tujuan analisis.
- Dampak Operating Lease
Standar akuntansi mengizinkan untuk menggunakan metode alternative untuk
mencerminkan perbedaan ekonomi yang berkaitan dengan transaksi sewa, namun
kebijakan tersebut sering disalahgunakan oleh penyewa yang menyusun kotrak
sewa sehingga mereka dapat menggunakan metode operating lease. Dampak
lainnya adalah mengurangi kegunaan dari laporan keuangan karena proporsi
capital lease dan operating lease akan berbeda-beda disetiap perusahaan, Berikut
merupakan dampak dari operating lease terhadap neraca dan laba rugi :
1) Kewajiban yang disajikan lebih rendah dari yang seharusnya, karena tidak
menyajikan pendanaan sewa.
2) Aset yang disajikan lebih rendah dari yang seharusnya, hal ini dapat
meningkatkan rasio tingkat pengembalian investasi dan perputaran aset.
3) Operating lease menunda pengakuan dibandingkan dengan capital lease,
artinya dimasa awal sewa pendapatannya melonjak tinggi namun pada
akhir sewa pendapatannya menurun.
4) Operating lease menyajikan kewajiban lancar lebih rendah dari seharusnya
dengan tidak menyajikan porsi pembayaran pokok yang jatuh tempo dalam
waktu satu tahun dalam neraca. Hal ini mengakibatkan rasio lancar dan
pengukuran likuiditas lainnya.
5) Operating lease memasukan bunga dalam beban sewa. Dengan demikian
operating lease menyajikan lebih rendah dari yang seharusnya laba oprasi
dan beban bunga. Ini menyebabkan naiknya coverage ratio seperti time
interest earned.

Kemampuan operating lease untuk meningkatkan rasio utama dalam anlisis kredit
dan analisis profitabilitas memberikan dorongan kepada penyewa untuk
melakukan pendanaan diluar neraca. Penyewa juga percaya dengan
mengklasifikasikan sewa sebagai operating lease akan membantu mereka dalam
pemenuhan perjanjian hutang dan meningkatkan prospek mereka untuk
mendapatkan dana tambahan.

- Konversi Operating Lease menjadi Capital Lease


Terdapat beberapa langkah, yakni :
1. Menentukan apakah klafisikasi operating lease diterima atau ditolak.
Untuk mengetahui hal tersebut setidaknya kita harus memperkirakan lima
tahun kedepan yang diungkapkan dalam laporan keuangan.
2. Memastikan kembali klasifikasi operating lease menjadi capital lease
dengam memperkirakan dua belas tahun untuk sisa masa sewa.
3. Dalam mengkonversi operating lease menjadi capital lease, diperlukan
estimasi present value dari kewajiban operating lease perusahaan.
Awalnya dimulai dengan mengestimasi tingkat bunga yang akan
digunakan untuk mendiskotokan proyeksi pembayaran sewa. Dengan
menentukan tingkat bunga operating lease maka kita dapat mengestimasi
tingkat bunga implisit atas capital lease dan mengasumsikan tingkat bunga
yang sama dengan operating lease. Tingkat bunga implisit untuk capital
lease dapat dicari dengan mencoba dan merupakan tingkat bunga yang
menghasilkan angka proyeksi pembayaran capital lease sama dengan nilai
sekarang capital lease, dimana keduanya di ungkapkan dalam catatan kaki
sewa.

 Menganalisis pengungkapan kewajiban kontinjen dan menjelaskan resikonya


- Kontinjensi
Merupakan keuntungan dan kerugian potensial yang nilainya berdasarkan pada
satu atau beberapa kejadian di masa depan. Klaim potensial atas sumber daya
perusahaan disebut dengan rugi kontinjensi. Terdapat beberapa factor yang
menimbulkan kewajiban kontinjensi berupa litigasi, ancaman pengambilahlihan,
kolektibilitas piutang, klaim produk cacat, jaminan kerja, penilaian pajak, risiko
yang diasuransikan sendiri dan kerugian besar terhadap harta benda.
Sebelum perusahaan mencatat kerugian kontinjensi sebagai kerugian, perusahaan
harus memenuhi dua kondisi ini : (1) Harus ada kemungkinan besar bahwa aset
terjadi penurunan nilai atau liabilitas terjadi. (2) Jumlah kerugian dapat diestimasi
secara wajar.
- Menganalisis Kewajiban Kontinjensi
Catatan pengungkapan kontinjensi :
- Penjelasan tentang kewajiban kontinjensi dan tingkat risiko
- Jumlah potensi kontijensi dan bagaimana peran orang lain diperlakukan
dalam menentukan eksposur risiko
- Tuduhan, jika ada terhadap pendapatan untuk perkiraan kerugian
kontinjensi

Kontijensi lain yang perlu diawasi juga adalah cadangan untuk kerugian dimasa
depan. Didalam konservatisme akuntansi mewajibkan perusahaan mengakui
kerugian yang terjadi atau diramalkan. Namun perusahaan cenderung
mengestimasi lebih untuk kerugian kontijensi, hal ini disebut dengan mandi besar
dimana pencatatan kerugian atas pelepasan aset, relokasi dan penutupan pabrik.
Dengan mengestimasi lebih untuk kerugian akan menarik biaya masa depan ke
periode sekarang dan manajer dapat menggunakannya sebagai alat untuk
mengatur laba.

Terdapat dua sumber utama informasi yang berguna, pertama pengungkapan


catatan laporan keuangan dan informasi dibagian analisis dan pembahasan
manajemen. Sumber lainnya adalah berupa analisis pajak tangguhan, diaman
analisis ini dapat mengungkap penyisihan kerugian dimasa depan yang tidak
diungkapkan.

- Komitmen
Komitmen adalah potensi klaim atas sumber daya perusahaan atas kinerjanya
dimasa depan berdasarkan kontrak. Komitmen tidak diakui dalam laporan
keuangan karena komitmen diangkap sebagai kesepakatan yang bukan merupakan
transaksi tetap.

 Mengidentifikasi pendanaan di luar neraca (off balance sheet financing) dan


konsekuensinya terhadap analisis risiko
- Pendanaan di Luar Neraca
Suatu kewajiban pendanaan namun tidak dicatat. Salah satu contohnya adalah
pendanaan property, pabrik dan peralatan dengan meminta bantuan pihak luar
untuk memperolehnya dan mempersiapkan dana yang cukup untuk membayar
hutang. Contoh diatas merupakan perjanjian jual beli dimana perusahaan setuju
untuk mengikuti prosedur pemrosesan fasilitas dan pengaturan ambil atau bayar
dimana perusahaan menjadi membayar dalam jumlah yang disepakati.
- Special Purpose Entities
Konsep Special Purpose Entities :
1. SPE dibentuk oleh perusahaan sponsor dan dikapitalisasi dengan investasi
ekuitas, beberapa diantaranya harus berasal dari pihak ketiga yang
independen
2. SPE akan meningkatkan investasi ekuitas dengan cara meminjam dari
pasar kredit dan pembelian aktiva produktif dari pihak ketiga yang
independen
3. Arus kas dari aset digunakan untuk membayar hutang serta menyediakan
pengembalian untuk investor ekuitas
Ilustrasi :

Dua alasan SPE begitu banyak yang menggunakan :

1. SPE menyediakan dana alternative dengan biaya rendah dari pada


meminjam langsung dari investor atau pasar kredit
2. SPE dianggap sebagai entitas terpisah tidak dikonsolidasikan dengan pihak
sponsor. Artinya perusahaan bisa menggunakan SPE untuk melakukan
transaksi diluar nereca dalam memindahkan aset atau kewajiban dari
neraca.
 Menjelaskan modal saham dan menganalisis serta mengintepretasikan fitur-
fitur yang membedakannya

Modal saham merupakan saham yang diterbitkan untuk pemegang ekuitas


sebagai imbalan atas aset dan jasa yang telah diberikan. Pelaporan modal saham
menjelaskan tentang perubahan jumlah lembar saham. Informasi ini diungkapkan
dalam laporan keuangan atau catatan terkait. Modal saham beredar dapat mengalami
peningkatan maupun penurunan

Sumber peningkatan modal beredar :

1. Penerbitan saham.
2. Konversi obligasi dan saham preferen.
3. Masalah berdasarkan dividen dan pembagian saham.
4. Masalah stok dalam akuisisi dan merger.
5. Masalah berdasarkan opsi saham dan waran yang dilaksanakan.

Sumber penurunan modal saham yang beredar:

1. Pembelian dan pensiun dari stock.


2. Pembelian kembali saham.
3. Membalikkan stock split.

Aspek penting lain dari analisis modal adalah adanya opsi lain yang menyebabkan
jumlah saham yang beredar meningkat dan dapat melemahkan kepemilikan. Opsi ini
termasuk:

1. Hak konversi utang dan saham preferen menjadi saham biasa


2. Waran yang dapat ditukarkan dengan saham dalam kondisi tertentu
3. Opsi saham untuk kompensasi dan bonus memerlukan penerbitan modal
saham selama periode tertentu pada harga tetap
4. Komitmen untuk menerbitkan modal saham

Terdapat dua jenis modal saham yaitu:

a. Saham preferen merupakan salah satu bentuk saham yang memiliki fitur yang
tidak dimiliki oleh saham biasa. Saham preferen memiliki karakteristik sebagai
berikut:
 Prioritas atas pembagian dividen daripada pemegang saham biasa, termasuk hak
partisipasi dan dividen kumulatif. Hak partisipasi merupakan hak untuk
mendapatkan tambahan dividen apabila masih terdapat kelebihan dividen setelah
dibagi kepada pemegang saham preferen dan bias. Hak kumulatif merupakan hak
untuk mendapatkan dividen setiap tahun dengan mengabaikan kondisi perusahaan
apakah dalam kondisi laba atau rugi (memiliki jumlah deviden tetap), dan jika
perusahaan memiliki hutang dividen kepada pemegang saham preferen, maka
perusahaan wajib membayarkan dividen terutang tersebut sebelum membagikan
dividen kepada pemegang saham preferen dan pemegang saham biasa.
 Prioritas atas likuidasi, karena sering kali selisih antara nilai nominal dan nilai
likuidasi saham preferen bisa besar.
 Dapat dikonversi menjadi saham biasa
 Tidak memiliki hak suara dalam RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham)
 Adanya harga pembelian kembali

Saham preferen juga disebut dengan surat berharga hybrid, karena saham preferen
memiliki karakteristik gabungan yakni saham biasa dan obligasi. Saham preferen
dan saham biasa sama-sama tidak memiliki tanggal jatuh tempo pembayaran, namun
saham preferen memiliki jumlah dividen yang tetap (tidak dipengaruhi kondisi
perusahaan yang sedang dalam kondisi untung atau rugi), sama dengan obligasi yang
memiliki biaya bunga yang tetap dan harus dibayarkan.

b. Saham Biasa merupakan salah satu bentuk saham yang mencerminkan hak kepemilikan
serta memiliki risiko tinggi dan pengembalian tinggi atas kinerja perusahaan. Saham
biasa memiliki karakteristik sebagai berikut:
 Tidak diprioritaskan dalam pembagian dividen, sehingga saham biasa sering
disebut dengan bunga sisa
 Memiliki suara dalam RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham)
 Dapat memiliki nilai nominal (nilai nominal yang ditentukan dalam anggaran
dasar perusahaan dan tidak mempunyai hubungan atau kaitan khusus dengan
kondisi keuangan perusahaan yang bersangkutan setelah pengeluaran saham
tersebut), jika tidak memiliki nilai nominal biasanya memiliki nilai yang
ditetapkan.
Modal saham yang ada pada laporan keuangan perlu dilakukan analisis. Namun, dalam
melakukan analisis terhadap modal saham, dibutuhkan informasi relevan. Informasi
tersebut harus berkaitan dengan komposisi ekuitas dan pembatas-pembatas yang berlaku.
Komposisi ekuitas menjadi bagian yang penting dalam analisis modal saham, sebab
komposisi ekuitas ini dapat mempengaruhi hak sisa atas saham biasa, serta hak, risiko,
dan pengembalian bagi investor ekuitas. Hak tersebut meliputi hak partisipasi dividen dan
hak konversi.

 Menjelaskan laba ditahan dan distribusinya melalui dividen

Laba ditahan adalah modal yang diterima perusahaan yang mencerminkan


akumulasi laba yang tidak didistribusikan sejak awal oleh perusahaan. Laba ditahan
menjadi sumber utama pembagian dividen kepada para pemegang saham. Ada 2 jenis
dividen yang didistribusikan perusahaan :

1. Dividen Tunai adalah pembagian laba perusahaan yang dibayarkan kepada


pemegang saham dalam bentuk uang tunai. Dividen ini merupakan dividen yang
paling umum digunakan oleh perusahaan.
2. Dividen Saham
Perusahaan mendistribusikan dividen dalam bentuk saham perushaannya secara
prorata kepada pemegang saham.

Penilaian harga dividen saham :

a. Untuk saham yang dibagi≥20% - 25% dari jumlahsaham beredar biasa disebut
dengan dividen saham kecil mencerminkan bahwa dividen saham dinilai sebesar
nilai pasar saat deklarasi
b. Untuk saham yang dibagi<25% dari jumlah saham beredar disebut dengan
dividen saham besar yang mencerminkan bahwa dividen saham dinilai pada
nilai nominalnya

Ada dua bentuk pembagian saham anak perusahaan kepada pemegang saham:
a. Spin-off
Pembagian saham anak perusahaan kepada pemegang saham perusahaan
induk. Perusahaan induk mendistribusikan kepemilikan saham anak
perusahaan kepada pemegang saham melalui dividen saham
b. Split-off
Pemegang saham yang ada membentuk perusahaan baru untuk mengambil alih
anak perusahaan dari perusahaan induk yang ada. Pemegang saham dari
perusahaan induk akan menerima saham dari anak perusahaan dengan
melakukan penukaran dari saham yang dimiliki pada perusahaan induk

 Menganalisis dan mengintepretsikan kewajiban dari sudut pandang ekuitas


o Obligasi konvertibel merupakan jenis hutang yang dapat dikonversi menjadi
ekuitas saham pada saat jatuh tempo pada harga yang sudah ditentukan
sebelumnya. Konversi hanya akan terjadi apabila harga saham lebih tinggi dari
harga konversi pada saat jatuh tempo.
Dalam pencatatannya, perusahaan perlu memisahkan akun liabilitas (hutang)
dan ekuitas (opsi konversi). Nilai yang tercatat pada liabilitas diestimasi
dengan menentukan nilai wajar sekuritas hutang lainya yang serupa. Nilai
yang dialokasikan pada ekuitas adalah nilai residunya.Terkadang perusahaan
mengeluarkan surat berharga dengan warrants. Warrants memungkinkan
pemegangnya untuk membeli saham penerbit pada harga yang sudah
ditentukan hingga tanggal jatuh tempo.
o Saham preferen yang dapat ditarik kembali
Perusahaan yang menerbitkan saham preferen memiliki keharusan untuk
membayar sejumlah dana pada waktu yang sudah ditentukan sebelumnya.
Meskipun saham preferen merupakan ekuitas perusahaan, dia juga dapat
dikatakan ‘hutang’ perusahaan. Pengungkapan yang harus dilakukan adalah
ketentuan pelepasan dan data jatuh tempo dalam lima tahun. Tetapi
perusahaan yang belum bersifat public dapat tetap melaporkan saham preferen
sebagai ekuitas.
o Kepentingan minoritas adalah pemegang saham minoritas di anak perusahaan
yang terkonsolidasi laporan keuangannya.
Perusahaan yang memiliki controlling share di perusahaan lain disebut
sebagai perusahaan induk. NCI merujuk ke bagian ekuitas sebuah perusahaan
yang dimiliki oleh pemegang saham dari luar perusahaan. Perusahaan induk
diwajibkan untuk membuat laporan keuangan konsolidasi dengan melaporkan
porsi NCI dengan baris yang terpisah pada laporan posisi keuangan dan
laporan laba/rugi.

 Menganalisis pengungkapan pensiun dan menilai konsekuensinya terhadap


penilaian dan risiko perusahaan
 Pengungkapan pensiun

Kerangka dasar akuntansi pensiun pertama kali oleh GAAP dan SFAS 87.
Yang menjadi fokus dari SFAS 87 adalah tercapainya ukuran biaya pensiun
yang stabil dan permanen, oleh karena itu beban pensiun yang termasuk dalam
laba bersih disebut dengan biaya pensiun periode bersih, Akuntansi pensiun
terkini SFAS 158 mengakui status pendanaan bagi program pensiun pada
neraca. Status pendanaan adalah perbedaan antara nilai pasar terkini aste
program pensiun dan kewajiban pensiun. SFAS 87 dan SFAS 158 mengakui
perataan biaya periodek pensiun bersih dalam laba, namun SFAS 87 tidak
mengakui status pendanaan dalam neraca, bahkan SFAS 87 hanya mengakui
akumulasi biaya periodik pensiun bersih dalam neraca sebagai akrual atau
biaya pensiun dibayar dimuka.
Perusahaan tidak melaporkan status pendanaan pada neraca ataupun
laporan laba/rugi. Tetapi manfaat pensiun harus diungkapkan secara
menyeluruh di catatan kaki. Catatan ini terdiri dari 5 bagian utama yaitu :
1. Penjelasan tentang posisi yang dilaporkan pada neraca
2. Detail biaya manfaat bersih periodic
3. Informasi terkait aktuaris dan asumsi lainnya
4. Informasi terkait alokasi aset dan kebijakan pendanaan
5. Kontribusi yang diharapkan di masa depan dan pembayaran manfaat

Informasi terkait jumlah yang dilaporkan di neraca terdiri dari dua bagian
yaitu :
1. Pergerakan aset dan obligasi manfaat pensiun serta penentuan status
pendanaan.
2. Bagaimana manfaat dilaporkan dalam neraca, termasuk dalam laba
komprehensif lain.
Jumlah kumulatif yang ditangguhkan (net gain/loss) yang merupakan
keseluruhan dari laba/rugi aktuaris dan perbedaan antara pengembalian yang
diharapkan dengan pengembalian yang sebenarnya terhadap aset perusahaan
ditambahkan bersama. Jumlah tangguhan kolektif dan biaya jasa sebelumnya
dimasukan ke dalam ekuitas pemegang saham sebagai bagian dari akumulasi
laba komprehensif lainya.

 Konsekuensi terhadap penilaian dan resiko perusahaan


Meskipun nilai dari aset didasarkan pada angka yang dapat diverifikasi
(sesuai nilai pasar), manfaat obligasi diestimasi menggunakan asumsi aktuaris.
Biaya yang dilaporkan (biaya manfaat periodic bersih) juga sangat
dipengarugi oleh asumsi aktuaris seperti tingkat pengembalian yang
diharapkan. Karena sensitivitas ini, manajer bisa saja memanipulasi asumsi
yang digunakan untuk ‘mempercantik’ laporan keuangan. Oleh sebab itu
sangat penting untuk melakukan analisis untuk mengevaluasi kewajaran dari
asumsi aktuaris.
Tingkat diskon adalah asumsi yang sangat penting. Perubahan tingkat
diskon akan mempengaruhi obligasi pensiun dan biaya manfaat. Tingkat
diskon yang rendah meningkatkan manfaat obligasi sehingga akan mengurangi
status pendanaan di neraca, dan meningkatkan biaya manfaat.
Tingkat pengembalian yang diharapkan mempengaruhi biaya manfaat yang
dilaporkan merupakan alat yang favorit dalam manajemen laba. Tingkat
pengembalian yang tinggi mengindikasikan praktik akuntansi yang lebih
agresif karena mereka mengurangi biaya manfaat yang dilaporkan dan
meningkatkan laba bersih.
Tingkat pertumbuhan merupakan asumsi yang tidak terlalu
mengkhawatirkan bila dibandingkan dengan kedua hal sebelumnya. Hal ini
disebabkan karena tingkat pertumbuhan cenderung lebih stabil dan dapat
diprediksi. Meskipun demikian hal ini tetap penting dan mempengaruhi nilai
perusahaan.
Sedangkan, resiko pensiun merupakan kemungkinan bahwa perusahaan
tidak dapat memenuhi obligasi pensiun masa kini. Semakin kecil rencana
pendanaan, semakin tinggi pula resiko pensiun.
Nilai dari obligasi pensiun sensitif terhadap perubahan tingkat diskon.
Perubahan nilai obligasi pensiun berkorelasi dengan harga surat berharga.
Perusahaan yang menginvestasi dana pensiun dalam bentuk sekuritas obligasi
lebih terlindungi dari resiko, karena nilai aset lebih berfluktuasi. Tingkat
pengembalian hutang lebih rendah dari tingkat pengembalian ekuitas, oleh
sebab itu banyak perusahaan yang memilih mengalokasikan proporsi
signifikan aset ke ekuitas. Persentase aset yang dialokasikan ke sekuritas non
hutang dapat menyediakan estimasi yang baik terhadap resiko yang muncul
akibat ketidaksesuaian profil resiko.
Faktor penting dalam menentukan resiko pensiun :
1. Intensitas pensiun (ukuran obligasi pensiun/aset dengan aset perusahaan
lain)
2. Tingkat di mana profil resiko dari aset pensiun tidak sesuai dengan
obligasi pensiun
Perusahaan dengan aset pensiun (atau obligasi) yang besar terhadap total
asetnya memiliki ancaman resiko pensiun yang lebih besar. Hal ini
dikarenakan perubahan persentase sekecil apapun dalam nilainya akan
berpengaruh signifikan terhadap tingkat solvabilitas perusahaan.
Mengenai OPEB (Other post-retirement employee benefits), tidak ada
kewajiban untuk mendanai OPEB. OPEB jarang ada dalam perusahaan, tetapi
jika ada maka OPEB harus ikut diperhitungkan bersama rencana manfaat
pensiun dalam penentuan resiko pensiun.
Sumber :

- Analyzing Financing ActivitiesEdisi 11 Chapter 3 (K.R. Subramanya)