0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
297 tayangan41 halaman

Kti Jiwa Fix

Karya tulis ini membahas penerapan terapi okupasi untuk meningkatkan harga diri pada pasien harga diri rendah di Puskesmas Sempor 1. Harga diri rendah merupakan masalah gangguan jiwa yang perlu ditangani untuk mencegah akibat negatifnya bagi pasien.

Diunggah oleh

Emi Emi
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
297 tayangan41 halaman

Kti Jiwa Fix

Karya tulis ini membahas penerapan terapi okupasi untuk meningkatkan harga diri pada pasien harga diri rendah di Puskesmas Sempor 1. Harga diri rendah merupakan masalah gangguan jiwa yang perlu ditangani untuk mencegah akibat negatifnya bagi pasien.

Diunggah oleh

Emi Emi
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENERAPAN TERAPI OKUPASI UNTUK MENINGKATKAN HARGA

DIRI PADA PASIEN HARGA DIRI RENDAH DI WILAYAH KERJA


PUSKESMAS SEMPOR 1

ASTRIYANA KRISSANTI
NIM : A01602178

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH


GOMBONG
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN
2019
PENERAPAN TERAPI OKUPASI UNTUK MENINGKATKAN HARGA
DIRI PADA PASIEN HARGA DIRI RENDAH DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS SEMPOR 1

Karya Tulis Ilmiah ini disusun sebagai salah satu persyaratan menyelesaikan
Program Pendidikan Diploma III Keperawatan

ASTRIYANA KRISSANTI
NIM : A01602178

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH


GOMBONG
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN
2019
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :


Nama : Astriyana Krissanti
NIM : A01602178
Program Studi : DIII Keperawatan
Institusi : STIKES Muhammadiyah Gombong
Menyatakan dengan sebenarnya bahwa Karya Tulis Ilmiah yang saya tulis ini
adalah benar-benar merupakan hasil karya sendiri dan bukan merupakan
pengambil alihan tulisan atau pikiran orang lain yang saya aku sebagai tulisan
atau pikiran saya sendiri.
Apabila dikemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan karya tulis ilmiah ini hasil
jiplakan, maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.

Gombong, 2018

Pembuat Pernyataan

Astriyana Krissanti
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai Civitas Akademika STIKES Muhammadiyah Gombong, saya yang


bertanda tangan di bawah ini :
Nama : Astriyana Krissanti
NIM : A01602178
Program Studi : DIII Keperawatan
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada
STIKES Muhammadiyah Gombong Hak Bebas Royalti Nonekslusif atas karya
ilmiah saya yang berjudul :
“Penerapan Terapi Okupasi Untuk Meningkatkan Harga Diri Pada Pasien Harga
Diri Rendah di Wilayah Kerja Puskesmas Sempor 1”
Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan), dengan Hak Bebas Royalti
Nonekslusif ini. STIKES Muhammadiyah Gombong berhak menyimpan,
mengalih media/formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database),
merawat dan mempublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan
nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik hak cipta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di :
Pada tanggal :
Yang menyatakan

Astriyana Krissanti
LEMBAR PERSETUJUAN

Karya Tulis Ilmiah oleh Astriyana Krissanti NIM A01602178 dengan


judul “Penerapan Terapi Okupasi Untuk Meningkatkan Harga Diri Pada Pasien
Harga Diri Rendah di Wilayah Kerja Puskesmas Sempor 1” telah diperiksa dan
disetujui untuk diujikan.

Gombong, 2018
Pembimbing

Arnika Dwi Asti, M.Kep

Mengetahui
Ketua Program Studi DIII Keperawatan

Nurlaila,S.Kep.Ns.M.Kep
LEMBAR PENGESAHAN

Karya Tulis Ilmiah oleh Astriyana Krissanti dengan judul “Penerapan Terapi
Okupasi Untuk Meningkatkan Harga Diri Pada Pasien Harga Diri Rendah di
Wilayah Kerja Puskesmas Sempor 1” telah dipertahankan di depan dewan penguji
pada tanggal

Dewan Penguji

Penguji Ketua
……………………………. (……………………)

Penguji Anggota
……………………………. (…………………….)

Mengetahui
Ketua Program Studi DIII Keperawatan

Nurlaila.S.Kep.Ns.M.Kep
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .......................................................................................
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN .......................................................
PERNYATAAN PESETUJUAN PUBLIKASI...............................................
LEMBAR PERSETUJUAN ............................................................................
LEMBAR PENGESAHAN .............................................................................
DAFTAR ISI ...................................................................................................
KATA PENGANTAR .....................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
D. Manfaat
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Gangguan Jiwa
1. Pengertian Gangguan Jiwa
2. Faktor yang menyebabkan gangguan jiwa
3. Tanda dan gejala gangguan jiwa
4. Ciri-ciri gangguan jiwa
5. Macam-macam gangguan jiwa
B. Konsep Harga Diri Rendah Kronik
1. Pengertian
2. Tanda dan Gejala
3. Penyebab
4. Proses terjadinya harga diri rendah kronik
5. Akibat harga diri rendah kronik
6. Penatalaksanaan pada pasien harga diri rendah kronik
C. Konsep Terapi Okupasi
1. Pengertian
2. Tujuan Terapi Okupasi
3. Aktivitas Terapi Okupasi
4. Indikasi Terapi Okupasi
D. Instrumen Pengukuran yang digunakan dalam terapi
BAB III METODE STUDI KASUS
A. Jenis/Desain/Rancangan Studi Kasus ..................................................
B. Subyek Studi Kasus .............................................................................
C. Fokus Studi Kasus ...............................................................................
D. Definisi Operasional ............................................................................
E. Instrumen Studi Kasus .........................................................................
F. Metode Pengumpulan Data ..................................................................
G. Lokasi dan waktu studi kasus ..............................................................
H. Analisis data dan penyajian data ..........................................................
I. Etika Studi Kasus .................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbil’alamin Puji syukur alhamdulillah kehadirat Allah


SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya serta memberikan
kekuatan dan pengetahuan selama penerapan dan penulisan Karya Tulis Ilmiah
ini, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan ujian komprehensif ini dengan
judul “Penerapan Terapi Okupasi untuk Meningkatkan Harga Diri Pada Pasien
Harga Diri Rendah di Wilayah Kerja Puskesmas Sempor 1”. Terwujudnya laporan
ini tidak lepas dari bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu dalam
kesempatan ini penulis menyampaikan terimaksi yang setulusnya kepada :
1. Ibu Herniyatun, M. Kep. Sp. Kep selaku ketua STIKEs Muhammadiyah
Gombong yang telah memeberikan kesempatan kepada penulis untu
mengikuti pendidikan keperawatan.
2. Ibu Nurlaila, S.Kep. Ns. M.Kep selaku Ketua Program Studi DIII
Keperawatan STIKes Muhammadiyah Gombong yang telah memberikan
dukungan moril untuk membuat Karya Tulis Ilmiah.
3. Ibu Arnika Dwi Asti, S.Kep. selaku Pembimbing Karya Tulis Ilmiah yang
telah bersedia membagi pengetahuan dan mengarahkan penulis dari awal
sampai akhir dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah.
4. Bapak Sariyun, S.H dan Ibu Haryati, S.Pd selaku orang tua saya yang
selalu memberikan do’a, dukungan, dan pengorbanan baik secara moral
maupun material sehingga penulis dapat menyelesaikan studi ini dengan
baik.
5. Sahabat saya Dwi Kartikasari, Nugraheni Tri Susanti, Sri Wahyuni yang
selalu memberikan dukungan dan semangat kepada penulis untuk
menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.
6. Teman - teman seperjuangan penulis dalam menempuh KTI jenjang DIII
Keperawatan yang ikut serta dalam memberikan bantuan, semangat, serta
do’a untuk kelancaran tugas akhir ini.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan
karya tulis ini, oleh sebab itu saran dan kritik yang membangun sangat berarti
bagi penulis untuk menjadi lebih baik di masa mendatang. Semoga laporan ini
dapat membawa manfaat bagi pengembangan dan peningkatan ilmu
keperawatan. Terimakasih.

Gombong,
Penulis

Astriyana Krissanti
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesehatan jiwa menurut WHO ( World Health Organization )
adalah ketika seseorang tersebut merasa sehat dan bahagia, mampu
menghadapi tantangan hidup serta dapat menerima orang lain sebagaimana
seharusnya serta mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan orang
lain. Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana seorang individu dapat
berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga individu
tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat
bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi untuk
kmunitasnya. Kondisi perkembangan yang tidak sesuai pada individu
disebut gangguan jiwa (UU No. 18 tahun 2014). Gangguan jiwa
merupakan permasalahan kesehatan yang disebabkan oleh gangguan
biologis, sosial, psikologis, genetik, fisik atau kimiawi dengan jumlah
penderita yang terus meningkat dari tahun ketahun (WHO, 2015).
Prevalensi gangguan jiwa didunia pada tahun 2014 diperkirakan
gangguan jiwa mencapai 516 juta jiwa (WHO,2015). Sedangkan
prevalensi gangguan jiwa di Indonesia berdasarkan data Riset Kesehatan
Dasar (Riskesdas) tahun 2013 sebesar 1,7 per mil. Departemen Kesehatan
Republik Indonesia tahun 2010, menyatakan jumlah penderita gangguan
jiwa di Indonesia mencapai 2,5 juta. Dari 150 juta populasi orang dewasa
indonesia, berdasarkan data Departemen Kesehatan (Depkes), ada 1,74
juta orang mengalami gangguan mental emosional. Sedangkan 4 % dari
jumlah tersebut terlambat berobat dan tidak tertangani akibat kurangnya
layanan untuk penyakit kejiwaan ini. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas Tahun 2013) pravelensi gangguan mental di Indonesia 6,0%.
Provinsi dengan gangguan mental emosional tertinggi adalah Sulawesi
Tengah, Sulawesi Selatan, Jawa Barat, DI Yogyakarta, dan Nusa Tenggara
Timur. Jumlah penderita gangguan jiwa di Jawa Tengah dari tahun ke
tahun terus meningkat. Menurut data Dinas Kesehatan Jawa Tengah
menyebutkan jumlah gangguan jiwa pada tahun 2013 adalah 121.962
penderita. Sedangkan pada tahun 2014 jumlahnya meningkat menjadi
260.247 orang dan pada tahun 2015 bertambah menjadi 317.504 (Wibowo,
2016). Pelayanan gangguan jiwa merupakan pelayanan pada pasien yang
mengalami gangguan kejiwaan yang meliputi gangguan pada perasaan,
proses pikir dan prilaku yang menimbulkan penderitaan pada individu dan
atau hambatan dalam melaksanakan peran sosialnya. Cakupan pelayanan
kesehatan jiwa Kabupaten Kebumen di puskesmas Tahun 2015 tercatat
6.293 jiwa (Laki – laki 3.559 jiwa dan perempuan 2.734 jiwa. Kabupaten
Kebumen menduduki peringkat ke dua sebagai wilayah dengan penderita
gagguan jiwa terbanyak setelah Kabupaten Semarang.
Harga diri rendah merupakan perasaan yang tidak berarti akibat
evaluasi yang berkepanjanyan di sertai kurangnya perawatan diri sendiri,
berpakaian tidak rapi, selera makan menurun, tidak berani menatap lawan
bicara lebih banyak menunduk, berbicara lambat dan nada suara lemah
(Keliat, 2010). Dampak harga diri kronik yaitu perasaan negatif terhadap
diri telah berlangsung lama, yaitu sebelum sakit/dirawat. Klien ini
mempunyai cara berfikir yang negatif. Kejadian saat sakit dan dirawat
akan menambah persepsi negatif terhadap dirinya. Kondisi ini
mengakibatkan respons yang maladaptif (Fitria, 2009).
Terapi okupasi adalah suatu ilmu dan seni pengarahan partisipasi
seseorang untuk melaksanakan tugas tertenu. Terapi okupasi berfokus
pada pengenalan kemampuan yang masih dapat di gunakan pada
seseorang, pemeliharaan atau peningkatan bertujuan untuk membentuk
seseorang agar mandiri, dan tidang tergantung pada pertolongan orang lain
(Riyadi dan Purwanto, 2009). Tindakan keperawatan spesialis yang
dibutuhkan pada klien dengan harga diri rendah adalah terapi kognitif,
terapi interpersonal, terapi tingkah laku, dan terapi keluarga (Kaplan &
Saddock, 2010). Pemberian terapi okupasi dapat membantu klien
mengembangkan mekanisme koping dalam memecahkan masalah terkait
masa lalu yang tidak menyenangkan. Klien dilatih untuk mengidentifikasi
kemamampan yang masih dapat digunakan yang dapat meningkatkan
harga dirinya sehingga tidak akan mengalami hambatan dalam
berhubungan sosial. Hal ini di dukung penelitian yang di lakukan oleh
(Mamnu’ah, 2014) di desa karangan,setelah di lakukan terapi okupasi
klien dengan harga diri rendah dapat lebih termotivasi dan lebih percaya
diri setelah di ajari berbagai macam ketrampilan. Rata rata respon sebelum
di berikan terapi okupasi 86,7 dan sesudah di berikan terapi okupasi 83,3.
Berdasarkan hal tersebut di atas penulis tertarik untuk meneliti tentang “
Penerapan terapi Ketrampilan Kerja pada klien skizofrenia dengan
gangguan konsep diri : harga diri rendah di wilayah kerja puskesmas
sempor 1”.

B. Rumusan Masalah
Bagaimanakah pengaruh terapi okupasi dapat meningkatkan harga diri
pada pasien harga diri rendah di wilayah kerja Puskesmas Sempor 1 ?

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Meningkatkan harga diri pada pasien harga diri rendah kronik dengan
terapi okupasi di wilayah kerja Puskesmas Sempor 1
2. Tujuan Khusus
a. Mengenal tanda dan gejala harga diri rendah sebelum dilakukan
terapi okupasi
b. Mengenal tanda dan gejala harga diri rendah setelah dilakukan
terapi okupasi
c. Mengenal kemampuan positif yang dimiliki klien sebelum
dilakukan terapi okupasi
d. Mengenal kemampuan positif yang dimiliki klien setelah dilakukan
terapi okupasi
D. Manfaat
1. Perawat
Perawat diharapkan dapat memberikan asuhan dengan memberikan
penerapan inovasi kepada klien skizofrenia dengan harga diri rendah
untuk meningkatkan konsep dirinya.
2. Bagi Masyarakat
Menambah pengetahuan masyarakat dalam peningkatan kemandirian
pasien gangguan jiwa dengan harga diri rendah.
3. Bagi Pengembangan Ilmu Dan Teknologi
Menambah ilmu dan teknologi terapan bidang keperawatan dalam
meningkatkan kemandirian pasien gangguan jiwa harga diri rendah.
4. Bagi Penulis
Memperoleh pengalaman dalam menerapkan terapi kerja terhadap
kegiatan positif yang dapat di lakukan pada pasien gangguan jiwa
harga diri rendah.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Gangguan Jiwa
1. Pengertian Gangguan Jiwa
Gangguan jiwa menurut Depkes RI (2013) adalah suatu
perubahan pada fungsi jiwa yang menyebabkan adanya gangguan pada
fungsi jiwa yang menimbulkan penderitaan pada individu dan
hambatan dalam melaksanakan peran sosial. Menurut Maramis (2010),
gangguan jiwa adalah gangguan alam : cara berpikir (cognitive),
kemauan (volition), emosi (affective), tindakan (psycomotor).
Sedangkan menurut Budiman (2008), gangguan jiwa atau
mental illenes adalah kesulitan yang harus dihadapi oleh seseorang
karena hubungannya dengan orang lain, kesulitan karena persepsinya
tentang kehisupan dan sikapnya terhadap dirinya sendiri-sendiri.
2. Faktor yang menyebabkan gangguan jiwa
Gejala utama atau gejala yang paling menonjol pada gangguan
jiwa terdapat pada unsur kejiwaan, tetapi penyebab utamanya dibadan
(somatogenik), di lingkungan sosial (sosiogenik), ataupun psikis
(psikogenik), (Maramis, 2010). Biasanya tidak terdapat penyebab
tinggal, akan tetapi beberapa penyebab sekaligus dari berbagai unsur
itu yang saling mempengaruhi atau kebetulan terjadi bersamaan, lalu
timbullah gangguan badan ataupun gangguan jiwa.
Menurut Stuart & Sundeen (2008) penyebab gangguan jiwa
dapat dibedakan atas :
a) Faktor biologis
1) Keturunan
Peran yang pasti sebagai penyebab belum jelas, mungkin
terbatas dalam mengakibatkan kepekaan untuk mengalami
gangguan jiwa tapi hal tersebut sangat ditunjang dengan faktor
lingkungan kejiwaan yang tidak sehat.
2) Jasmaniah
Beberapa peneliti berpendapat bentuk tubuh seseorang
berhubungan dengan gangguan jiwa tertentu. Misalnya yang
bertubuh gemuk/endoform cenderung menderita psikosa manik
depresif, sedang yang kurus/ectoform cenderung menjadi
skizofrenia.
3) Temperamen
Orang yang terlalu peka/sensitif biasanya mempunyai masalah
kejiwaan dan ketegangan yang memiliki kecenderungan
mengalami gangguan jiwa.
4) Penyakit dan cedera tubuh
Penyakit-penyakit tertentu misalnya penyakit jantung, kanker,
dan sebagainya mungkin dapat menyebabkan merasa murung
dan sedih. Demikian pula cedera/cacat tubuh tertentu dapat
menyebabkan rasa rendah diri.
b) Ansietas dan ketakutan
Kekhawatiran pada sesuatu hal yang tidak jelas dan perasaan yang
tidak menentu akan sesuatu hal menyebabkan individu merasa
terancam, ketakutan hingga terkadang mempersepsikan dirinya
terancam.
c) Faktor psikologis
Bermacam pengalaman frustasi, kegagalan dan keberhasilan yang
dialami akan mewarnai sikap, kebiasaan dan sifatnya. Pemberian
kasih sayang orang tua yang dingin, acuh tak acuh, kaku dan keras
akan menimbulkan rasa cemas dan tekanan serta memiliki
kepribadian yang bersifat menolak dan menentang terhadap
lingkungan.
d) Faktor sosio-kultural
Beberapa penyebab gangguan jiwa menurut Wahyu (2012) yaitu :
1) Penyebab primer (primary cause)
Kondisi yang secara langsung menyebabkan terjadinya
gangguan jiwa, atau kondisi yang tanpa kehadirannya suatu
gangguan jiwa tidak akan muncul.
2) Penyebab yang menyiapkan (predisposing cause)
Menyebabkan seseorang rentan terhadap salah satu bentuk
gangguan jiwa.
3) Penyebab yang pencetus (precipatating cause)
Ketegangan-ketegangan atau kejadian-kejadian traumatik yang
langsung dapat menyebabkan gangguan jiwa atau mencetuskan
gangguan jiwa.
4) Penyebab menguatkan (reinforcing cause)
Kondisi yang cenderung mempertahankan atau mempengaruhi
tingkah laku maladaptif yang terjadi.
5) Multiple cause
Serangkaian faktor penyebab yang kompleks serta saling
mempengaruhi. Dalam kenyataannya, suatu gangguan jiwa
jarang disebabkan oleh satu penyebab tunggal, bukan sebagai
hubungan sebab akibat, melainkan saling mempengaruhi
antara satu faktor penyebab dengan penyebab lainnya.
e) Faktor presipitasi
Faktor stressor presipitasi mempengaruhi dalam kejiwaan
seseorang. Sebagai faktor stimulus dimana setiap individu
mempersepsikan dirinya melawan tantangan, ancaman, atau
tuntutan untuk koping. Masalah khusus tentang konsep diri
disebabkan oleh setiap situasi dimana individu tidak mampu
menyesuaikan. Lingkungan dapat mempengaruhi konsep diri dan
komponennya. Lingkungan dan stressor yang dapat mempengaruhi
gambaran diri dan hilangnya bagian badan, tindakan operasi,
proses patologi penyakit, perubahan struktur dan fungsi tubuh,
proses tumbuh kembang, dan prosedur tindakan serta pengobatan
(Stuart&Sundeen, 2008).
3. Tanda dan Gejala Gangguan Jiwa
Tanda dan gejala gangguan jiwa secara umum menurut Yosep (2009)
adalah sebagai berikut :
a) Ketegangan (tension), Rasa putus asa dan murung, gelisah, cemas,
perbuatan-perbuatan yang terpaksa (convulsive), hysteria, rasa
lemah, tidak mampu mencapai tujuan, takut, pikiran-pikiran buruk.
b) Gangguan kognisi pada persepsi merasa mendengar
(mempersepsikan) sesuatu bisikan yang menyuruh membunuh,
melempar, naik genting, membakar rumah, padahal orang
disekitarnya tidak mendengarnya dan suara tersebut sebenarnya
tidak ada hanya muncul dari dalam individu sebagai bentuk
kecemasan yang sangat berat dia rasakan. Hal ini sering disebut
halusinasi, klien bisa mendengar sesuatu, melihat sesuatu atau
merasakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada menurut orang lain.
c) Gangguan kemauan klien memiliki kemauan yang lemah (abulia)
susah membuat keputusan atau memulai tingkah laku, susah sekali
bangun pagi, mandi, merawat diri sendiri sehingga terlihat kotor,
bau, dan acak-acakan.
d) Ganggaun emosi klien merasa senang, gembira yang berlebihan
(Waham kebesaran). Klien merasa sebagai orang penting, sebagai
raja, pengusaha, orang kaya, titisan Bung Karno tetapi dilain waktu
ia bisa merasa sangat sedih, menangis, tak berdaya (depresi)
samapai ada ide ingin mengakhiri hidupnya.
e) Gangguan psikomotor Hiperaktivitas, klien melakukan pergerakan
yang berlebihan naik keatas genting berlari, berjalan maju mundur,
meloncat-loncat, melakukan apa-apa yang tidak disuruh atau
menentang apa yang disuruh, diam lama tidak bergerak atau
melakukan gerakan aneh.
4. Ciri-ciri gangguan jiwa
Ciri-ciri gangguan jiwa menurut Keliat (2013) adalah :
a) Sedih berkepanjangan
b) Tidak semangat dan cenderung malas
c) Marah tanpa sebab
d) Menurung diri
e) Tidak mengenali orang
f) Bicara kacau
g) Bicara sendiri
h) Tidak mampu merawat diri
5. Macam-macam gangguan jiwa
Menurut Videback (2008) macam-macam gangguan jiwa sebagai
berikut :
a) Skizofrenia
Skizofrenia adalah suatu penyakit yang mempengaruhi otak dan
menyebabkan timbulnya pikiran, persepsi, emosi, gerakan, perilaku
yang aneh. Penyakit ini sering diartikan oleh masyarakat adalah
penyakit yang berbahaya dan tidak dapat dikonrol dan
digambarkan sebagai individu yang mengalami masalah emosional
dan meperlihatkan perilaku yang aneh.
b) Depresi
Depresi merupakan gangguan alam perasaan ditandai dengan
gejala sedih, termasuk perubahan pola tidur dan nafsu makan,
psikomotor, konsentrasi, kelelahan, rasa putus asa dan tak berdaya
dan adanya keinginan bunuh diri.
c) Kecemasan
Kecemasan sebagai pengalaman psikis yang biasa dan wajar, yang
pernah dialami oleh semua orang dalam rangka memacu individu
untuk mengatasi masalah yang dihadapi.
d) Gangguan kepribadian
Gangguan kepribadian didiagnosis ketika kepribadian seseorang
menjadi kaku dan maladaptif, dan secara signifikan mengganggu
melakukan fungsi dalam masyarakat atau bisa jadi menyebabkan
distress emosional individu.
e) Gangguan mental organik
Merupakan gangguan jiwa yang disebabkan oleh gangguan fungsi
jaringan otak. Gangguan fungsi otak ini dapat disebabkan oleh
penyakit badaniah yang mengenai otak bagian luar.
f) Gangguan prikosomatik
Gangguan psikosomatim merupakan komponen psikologi yang
diikuti gangguan fungsi badaniah.
g) Retardasi mental
Retardasi mental merupakan keadaan dimana terhentinya atau tidak
lengkapnya perkembangan jiwa, yang ditandai oleh terjadinya
keterampilan selama masa perkembangan, sehingga berpengaruh
pada tingkat kecerdasan secara menyeluruh, misalnya kemampuan
kognitif, bahasa dan sosial.
h) Gangguan perilaku masa anak remaja
Anak dengan gangguan perilaku menunjukan perilaku yang tidak
sesuai dengan permintaan, kebiasaan, atau norma-norma
masyarakat. Jika pada masa anak-anak terjadi gangguan jiwa maka
kemungkinan masa remaja juga dapat terkena gangguan jiwa.

B. Konsep Harga Diri Rendah Kronik


1. Pengertian
Harga diri rendah kronik adalah perasaan tidak berharga, tidak
berarti dan rendah diri yang berkepnjangan akibat evaluasi yang
negatif terhadap diri sendiri atau kemampuan diri. Adanya perasaan
hilang kepercayaan diri, merasa gagal karena tidak mampu mencapai
keinginan sesuai ideal diri (Yosep, 2010).
Menurut Keliat (2010), Harga diri rendah adalah kondisi
seseorang yang menilai keberadaan dirinya lebih rendah dibandingkan
orang lain yang berpikir adalah hal negatif diri sendiri sebagai individu
yang gagal, tidak mampu, dan tidak berprestasi.
Harga diri rendah adalah perasaan seseorang bahwa dirinya
tidak diterima dilingkungan dan gambaran-gambaran negatif tentang
dirinya (Barry, dalam Fitria 2009).
Berdasarkan tiga pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa
gangguan harga diri rendah adalah gangguan konsep diri dimana harga
diri merasa gagal mencapai keinginan, perasaan tentang diri yang
negatif dan merasa dirinya lebih rendah dibandingkan orang lain.
2. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala menurut (NANDA, 2012-2014) yaitu :
a. Data Subjektif
1) Merasa malu
2) Merasa tidak berarti dan merasa tidak berguna
3) Merasa tidak mempunyai kemampuan positif
4) Merasa menilai diri negatif
5) Kurang konsentrasi dan merasa tidak mampu melakukan
apapum
6) Sulit tidur
b. Data Objektif
1) Kontak mata berkurang dan murung
2) Berjalan menunduk dan postur tubuh menunduk
3) Menghindari orang lain
4) Bicara pelan dan lebih banyak diam
5) Lebih senang menyendiri dan aktifitas menurun
6) Mengkritik orang lain
3. Penyebab
Menurut Stuart Gail (2009) ada dua penyebab harga diri rendah yaitu :
a. Faktor Predisposisi
1) Faktor yang mempengaruhi harga diri
Meliputi penolakan orang tua, harapan orang tua yag tidak
realistis, kegagalan yang berulang, kurang mempunyai
tanggung jawab personal, ketergantungan pada orang laiin, dan
ideal diri yang tidak realistis.
2) Faktor yang mempengaruhi peran
Di masyarkat umumnya peran seseorang disesuaikan
berdasarkan jenis kelaminnya. Misalnya seorang wanita
dianggap kurang mampu, kurang mandiri, kurang objektif dan
rasional, sedangkan pria dianggap kurang sensitif, kurang
hangat, kurang ekspresif dibanding wanita. Sesuai dengan
standar tersebut, jika wanita atau pria berperan tidak sesuai
lazimnya maka dapat menimbulkan konflik diri maupun
hubungan sosial. Konflik peran dan peran tidak sesuai muncul
dari faktor biologis dan harapan masyarakat terhadap wanita
atau pria. Peran yang berlebihan muncul pada wanita yang
mempunyai sejumlah peran.
3) Faktor yang mempengaruhi identitas diri
Meliputi ketidakpercayaan, tekanan diri teman sebaya dan
perubahan struktur sosial. Orang tua yang selalu curiga pada
anak akan menyebabkan anak menjadi kurang percaya diri,
ragu dalam mengambil keputusan dan dihantui rasa bersalah
ketika akan melakukan sesuatu. Kontrol orang tua yang berat
pada anak remaja akn menimbulkan perasaan benci pada orang
tua. Teman sebaya merupkan faktor lain yang berpengaruh
pada identitas. Remaja ingin diterima, dibutuhkan, dan diakui
oleh kelompoknya.
4) Faktor Biologis
Adanya kondisi sakit fisik yang dapat mempengaruhi kerja
hormon secara umum, yang dapat pula berdampak pada
keseimbangan neurotransmiter di otak, contoh kadar serotonin
yang menurun dapat mengakibatkan klien mengalami depresi
dan pada pasien depresi kecenderungan harga diri rendah
kronik semakin besar karena klien lebih dikuasai oleh pikiran-
pikiran negatif dan tidak berdaya.
b. Faktor Presipitasi
Masalah khusus tentang konsep diri disebabkan oleh setiap
situasi yang dihadapi individu dan ia tidak mampu menyesuaikan.
Situasi atas stresor yang dapat mempengaruhi komponen gambaran
diri adalah hilangnya bagian tubuh, tindakan operasi, proses
patologi penyakit, perubhana struktur dan fungsi tubuh, proses
tumbuh kembang, prosedur tindakan dan pengobatan. Sedangkan
stresor yang dapat mempengaruhi harga diri dan ideal diri adalah
penolakan dan kurang penghargaan diri dari orang tua dan orang
yang berarti, pola asuh yang tidak tepat misalnya selalu dituntut,
dituruti, persaingan dengan saudara, kesalahan dan kegagalan
berulang, cita-cita tidak terpenuhi dan kegagalan bertanggung
jawab sendiri.
Stresor pencetus dapat berasal dari sumber internal atau eksternal :
1) Trauma seperti penganiayaan seksual dan psikologis atau
menyaksikan peristiwa yang mengancam kehidupan.
2) Ketegangan peran berhubungan dengan peran atau posisi yang
diharapkan dan individu mengalaminya sebagai frustasi

Ada tiga jenis transisi peran yaitu :


1) Transisi peran perkembangan adalah perubahan normatif yang
berkaitan dengan pertumbuhan. Perubahan ini termasuk tahap
perkembangan dalam kehidupan individu atau keluarga dan
norma-norma budaya, nilai-nilai, serta tekanan untuk
menyesuaikan diri.
2) Transisi peran situasi terjadi dengan bertambah atau
berkurangnya anggota keluarga melalui kelahiran atau
kematian,
3) Transisi peran sehat sakit terjadi akibat pergeseran dari keadaan
sehat ke keadaan sakit. Transisi ini dapat dicetuskan oleh
kehilangan bagian tubuh, perubahan ukuran, bentuk,
penampilan, atau fungsi tubuh, perubahan fisik yang
berhubungan dengan tumbuh kembang normal. Perubahan
tubuh dapat mempengaruhi semua komponen konsep diri yaitu
gambaran diri, identitas diri, peran dan harga diri.
4. Proses Terjadinya Harga Diri Rendah Kronik
Harga diri rendah terjadi karena individu tidak pernah mendapat
feed back dari lingkungan tentang perilaku klien sebelumnya bahkan
mungkin kecenderungan lingkungan yang selalu memberi respon
negative mendorong individu menjadi harga diri rendah. Harga dari
rendah terjadi disebabkan banyak factor. Awalnya individu berada
pada suatu yang penuh dengan stressor (krisis), individu berusaha
menyelesaikan krisis tetapi tidak tuntas sehingga timbul pikiran bahwa
diri sendiri karena kegagalan menjalankan fungsi dan peran adalah
kondisi harga diri rendah situasional, jika lingkungan tidak memberi
dukungn positif atau justru menyalahkan individu dan terjadi secara
terus menerus akan mengakibatkan individu mengalami harga diri
rendah (Direja Ade Herman Surya, 2011).
5. Akibat Harga Diri Rendah Kronik
Harga diri rendah dapat diakibatkan oleh rendahnya cita-cita
seseorang. Hal ini mngakibatkan berkurangnya tantangan dalam
mencapai tujuan. Tantangan yang rendah menyebabkan upaya yang
rendah. Selanjutnya hal ini menyebutkan penampilan seseorang yang
tidak optimal. Harga diri rendah muncul saat lingkungan cenderung
mengucilkan dan menuntut lebih dari kemampuannya. Ketika
seseorang mengalami harga diri rendah , maka akan berdampak pada
orang tersebut mengisolasi diri dari kelompoknya dan akan cenderung
menyendiri dan menarik diri. (Yosep, 2010).
6. Penatalaksanaan Pada Pasien Harga Diri Rendah Kronik
Menurut Iskandar (2012) penatalaksanaan pada pasien harga diri
rendah adalah sebagai berikut:
a. Psikofarmaka
Berbagai jenis obat psikofarmaka yang beredar dipasaran yang
hanya diperoleh dengan resep dokter, dapat dibagi menjadi 2
golongan yaitu golongan generasi pertama (typical) dan golongan
kedua (atypical)
b. Psikoterapi
Terapi kerja baik sekali untuk mendorong penderita bergaul
lagi dengan orang lain, penderita lain, perawat dan dokter,
maksdunya supaya ia tidak mengasingkan diri lagi karena bila
membentukk kebiasaan yang kurang baik.

C. Konsep Terapi Okupasi


1. Pengertian
Terapi okupasi yaitu ilmu dan seni untuk mengarahkan
partisipasi seseorang dalam melaksanakan suatu tugas terpilih yang
telah ditentukan dengan maksud mempermudah belajar fungsi dan
keahlian yang dibutuhkan dalam proses penyesuaian diri dengan
lingkungan (Kusumawati & Hartono, 2010).
Menurut Riyadi dan Purwanto (2009), Terapi kerja atau terapi
okupasi adalah suatu ilmu dan seni pengarahan partisipasi seseorang
untuk melaksanakan tugas tertentu yang telah ditetapkan. Terapi ini
berfokus pada pengenalan kemampuan yang masih ada pada
seseorang, pemeliharaan dan peningkatan bertujuan untuk membentuk
seseorang agar mandiri, tidak tergantung pada pertolongan orang lain.
2. Tujuan Terapi Okupasi
Fungsi dan tujuan terapi okupasi menurut Budiman (2008) yaitu
sebagai berikut :
a) Menciptakan suatu kondisi tertentu sehingga pasien dapat
mengembangan kemampuannya untuk dapat berhubungan dengan
orang lain dan masyarakat sekitarnya.
b) Membantu dalam melampiaskan gerakan-gerakan emosi secara
wajar dan produktif.
c) Membantu menemukan kemampuan kerja yang sesuai dengan
bakat dan keadaannya.
d) Membantu dalam pengumpulan data guna penegakan diagnosis
dan penetapan terapi lainnya.
e) Meningkatkan toleransi kerja, memelihara, dan meningkatkan
kemampuan yang masih ada.
f) Membantu penderita untuk menerima kenyataan dan
menggunakan waktu selama masa rawat dengan berguna.
g) Mengarahkan minat dan hobi agar dapat digunakan setelah
kembali ke keluarga.
3. Aktivitas Terapi Okupasi
Muhaj (2009), mengungkapkan aktivitas yang digunakan dalam
terapi okupasi, sangat dipengaruhi oleh konteks terapi secara
keseluruhan, lingkungan, sumber yang tersedia, dan juga oleh
kemampuan si terapi sendiri (pengetahuan, keterampilan, minat dan
kreativitasnya).
a) Jenis
Jenis kegiatan yang dapat dilakukan meliputi : latihan gerak
badan, olahraga, permainan tangan, kesehatan, kebersihan, dan
kerapian pribadi, pekerjaan sehari-hari (aktivitas kehidupan
sehari-hari, seperti dengan mengajarkan merapikan tempat tidur,
menyapu dan mengepel), praktik pre-vokasional, seni (tari,
musik, lukis, drama, dan lain-lain), rekreasi (tamasya, nonton
bioskop atau drama), diskusi dengan topik tertentu (berita surat
kabar, majalah, televisi, radio atau keadaan lingkungan).
b)  Aktivitas
Aktivitas adalah segala macam aktivitas yang dapat
menyibukan seseorang secara produktif yaitu sebagai suatu media
untuk belajar dan berkembang, sekaligus sebagai sumber
kepuasan emosional maupun fisik. Oleh karena itu setiap aktivitas
yang digunakan harus mempunyai karakteristik sebagai berikut :
1) Setiap gerakan harus mempunyai alasan dan tujuan terapi
yang jelas. Jadi, bukan hanya sekedar menyibukkan klien.
2) Mempunyai arti tertentu bagi klien, artinya dikenal oleh atau
ada hubungannya dengan klien.
3) Klien harus mengerti tujuan mengerjakan kegiatan tersebut,
dan apa kegunaanya terhadap upaya penyembuhan
penyakitnya.
4) Harus dapat melibatkan klien secara aktif walaupun minimal.
5) Dapat mencegah lebih beratnya kecacatan atau kondisi klien,
bahkan harus dapat meningkatkan atau setidaknya
memelihara kondisinya.
6) Harus dapat memberi dorongan agar klien mau berlatih lebih
giat sehingga dapat mandiri.
7) Harus sesuai dengan minat, atau setidaknya tidak dibenci
olehnya.
8) Harus dapat dimodifikasi untuk tujuan peningkatan atau
penyesuaian dengan kemampuan klien.
4. Indikasi Terapi Okupasi
Riyadi dan Purwanto (2009), menyatakan bahwa indikasi dari
terapi okupasi sebagai berikut :
a) Klien dengan kelainan tingkah laku, seperti klien harga diri
rendah yang disertai dengan kesulitan berkomunikasi.
b) Ketidakmampuan menginterpretasikan rangsangan sehingga
reaksi terhadap rangsang tidak wajar.
c) Klien yang mengalami kemunduran.
d) Klien dengan cacat tubuh disertai gangguan kepribadian.
e) Orang yang mudah mengekspresikan perasaan melalui aktivitas.
f) Orang yang mudah belajar sesuatu dengan praktik langsung
daripada membayangkan.

D. Instrumen Pengukuran yang digunakan dalam terapi ini :


1. Instrumen tanda dan gejala pasien harga diri rendah kronik. Sumber
(Yosep, 2009), adapun istrumen terlampir
2. Instrumen melatih kemampuan dalam melakukan terapi okupasi
mengacu pada asuhan keperawatan jiwa khusus harga diri rendah
dengan tindakan strategi pelaksanaan.
BAB III
METODE STUDI KASUS

A. Jenis / Desain / Rancangan Studi Kasus


Dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini penulis menggunakan
metode deskriptif analitik dan pendekatan studi ksus yaitu metode yang
menggambarkan situasi tertentu yang ada pada saat ini berdasarkan
masalah yang ada sehingga menghasilkan gambaran yang terorganisasi
dengan baik dan lengkap. Kriteria yang diambil adalah pasien dengan
gangguan konsep diri : Harga Diri Rendah dengan jumlah subyek dua
pasien yang masih dalam perawatan. Studi kasus ini dilakukan dengan
cara membandingkan dua pasien yang memiliki masalah sakit yang sama,
apakah terdapat perbedaan antara kedua pasien setelah diberikan terapi
okupasi untuk meningkatkan harga diri.
B. Subyek Studi Kasus
Subyek yang digunakan dalam studi kasus ini adalah 2 pasien dengan
gangguan konsep diri : Harga Diri Rendah.
Kriteria inklusi subjek studi kasus :
1. Pasien yang mengalami gangguan jiwa dengan harga diri rendah
kronik
2. Pasien yang pernah menjalani pengobatan baik di Puskesmas maupun
di Rumah sakit.
3. Pasien bersedia menjadi subjek studi kasus.
Kriteria ekslusi subjek studi kasus :
1. Pasien yang sedang sakit fisik dan menjalani pengobatan.
2. Keluarga tidak mengijinkan.
C. Fokus Studi Kasus
Studi kasus ini berfokus pada masalah Gangguan Konsep Diri : Harga Diri
Rendah.
D. Definisi Operasional
Terapi okupasi pada klien harga diri rendh adalah suatu kegiatan
terpilih yang telah ditentukan dengan maksud mempermudah belajar
fungsi dan keahlian untuk menurunkan harga diri pada klien harga diri
rendah yang dikelola dengan tahap pengkajian, perencanaan, melatih
ketrampilan yang dimiliki klien sampai evaluasi perkembangan dan
dilakukan selama minimal 5 kali pertemuan.
E. Instrumen Studi Kasus
Instrumen yang digunakan dalam studi kasus ini adalah
menggunakan format pengkajian tanda dan gejala harga diri rendah kronik
yang terdiri dari 6 item data subjektif dan 7 item data objektif klien.
Instrumen lainnya SOP tindakan dan jadwal kegiatan. Format pengkajian
dalah pemikiran dasar dari proses keperawatan yang bertujuan untuk
mengumpulkan informasi atau data klien, agar dapat mengidentifikasi,
mengenal masalah-masalah, kebutuhan kesehatan dan keperawatan klien,
baik fisik, mental sosial dan lingkungan.
F. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan adalah sebagai berikut :
a. Studi kepustakaan yaitu mempelajari buku-buku dan sumber lainnya
untuk mendapatkan dasar-dasar ilmiah yang berhubungan dengan
permasalahan dalam studi kasus.
b. Melakukan kunjungan ke puskesmas dan melihat data pasien dengan
gangguan jiwa yang ada di wilayah Puskesmas Sempor 1.
c. Mengumpulan data berupa data subjektif maupun objektif
menggunakan formt pengkajian dengan wawancara ke pasien dan
keluarga. Data subjektif terdiri dari data yang diungkapkan oleh pasien
terkait keluhan-keluhan yang dirasakan, apabila pasien tidak mampu
mengungkapkan maka data bisa diambil melalui orang terdekat atau
penanggung jawab pasien dengan teknik wawancara. Data objektif
yaitu terdiri dari data yang dapat diukur, didapatkan dari hasil
observasi, pemeriksaan fisik, pemeriksaan diagnostik.
d. Mempelajari sumber yang diperoleh dari catatan medis dan catatan
keperawatan.
e. Memberikan terapi okupasi kepada pasien dan melakukan koordinasi
dengan perawat Puskesmas Sempor 1
f. Langkah-langkah penelitian meliputi melakukan kunjungan ke
Puskesmas Sempor 1, melihat data-data yang ada di rekam medis
dengan gangguan jiwa terutama pasien Harga Diri Rendah Kronik di
Puskesmas Sempor 1, apabila sudah menemukan data yang diinginkan
lalu melakukan kunjungan kerumah pasien untuk menyeleksi sesuai
instrumen bahwa pasien mengalami Harga Diri Rendah Kronik,
melakukan informed consent kepada pasien dan keluarga pasien,
melakukan pengkajian kepada pasien dan keluarga pasien, kemudian
menentukan masalah keperawatan dan membuat perencanaan, setelah
itu melakukan implementasi minimal 4 kali kunjungan kerumah pasien
(pertemuan pertama mengidentifikasi harga diri rendah kronik dan
aspek positif yang dimiliki pasien dan menetapkan kemampuan yang
akan dilatih, pertemuan kedua hingga ke empat melatih pasien
melakukan kegiatan yang telah dipilih), dan melakukan evaluasi
apakah terapi okupasi mampu mengurangi harga diri pada pasien
haraga diri rendah kronik, melakukan dokumentasi keperawatan.
G. Lokasi & Waktu Studi Kasus
Studi kasus ini dilaksanakan di wilayah Puskesmas Sempor 1 pada
Bulan November-Desember. Pemilihan lokasi puskesmas tersebut
berdasarkan frekuensi jumlah pasien paling banyak dengan masalah
keperawatan bermacam-macam, selain itu mudah dijangkau oleh penulis
dengan lancar.
H. Analisis Data dan Penyajian Data
Analisis data dan penyajian data dalam studi kasus ini adalah
menggunkan teknik naratif yaitu dengan cara menganalisis data yang
diperoleh dari klien dan keluarga. Data yang diperoleh dari hasil penelitian
kemudian dianalisis dengan menggunakan komputer manual. Analisa ini
dilakukan dengan terapi ini untuk mengetahui kemampuan klien dalam
mengurangi harga diri rendah kronik, sehingga dilakukan terapi okupasi.
I. Etika Studi Kasus
Dalam melakukan studi kasus ini masalah etika dalam studi kasus
merupakan masalah yang sangat penting mengingat keperawatan akan
berhubungan langsung dengan manusia, maka peneliti akan menjaminhak
asasi subyek studi kasus ini. Etika dalam studi kasus ini meliputin :
1) Justice
a. Righ in fair treatment (hak untuk mendapatkan pengobatan yang
adil). Subyek harus diperlakukan secara adil baik sebelum dan
sesudah keikutsertaan dalam studi kasusu tanpa adanya
deskriminasi apabila ternyata mereka tidak bersedia atau
dikeluarkan dari studi kasus.
Penulis memberikan keadilan yang sama kepada kedua klien
(klien 1 dan klien 2) dengan cara memberikan waktu yang sama
yaitu 4 kali pertemuan, tidak membeda-bedakan klien 1 dengan
klien 2, bersikap menerima kepada klien dan anggota keluarga
klien, dan memberikan tindakan yang sama sesuai dengan
kemampuan masing-masing klien.
b. Hak dijaga kerahasiaannya (righ to privacy)
Subyek mempunyai hak untuk memina bahwa data yang
diberikan harus dirahasiakan untuk itu perlu adanya nama
(anonymity dan rahasia (confidentiality).
Penulis mampu menjaga kerahasian data yang didapat dari
klien dan anggota keluarga klien, seperti: menuliskan nama klien
menggunakan inisial (klien 1 dan klien 2).
2) Beneficience
a. Bebas dari penderitaan
Studi kasus harus dilakukan tanpa mengakibatkan penderitaan
kepada subyek studi kasus khususnya jika menggunakan tindakan
khusus.
Penulis melakukan tindakan strategi pelaksanaan sesuai
dengan standar operasional prosedur tanpa melukai dan mencederai
klien 1 dan klien 2, dan klien mendapat kesempatan untuk memilih
kegiatan yang klien mau atau klien sukai tanpa paksaan.
b. Bebas dari eksploitasi
Partisipasi subyek studi kasus harus dihindakn dari keadaan
yang tidak menguntungkan. Subyek harus diyakinkan bahwa
partisipasinya dalam studi kasus tidak akan digunakan dalam hal-
hal yang dapat merugikan subyek dalam bentuk apapun.
Penulis meyakinkan klien bahwa kehadirannya selama 4 kali
pertemuan itu murni untuk menjadikan klien subjek studi kasus,
membantu klien agar klien sembuh dari sakit yang dialaminya
terutama membantu klien untuk mengurangi harga diri rendah yang
dialami klien, dan penulis bekerjasama dengan pelayanan
kesehatan yaitu Puskesmas Sempor 1.
c. Risiko (benefits ratio).
Peneliti harus hati-hati mempertimbangkan risiko dan
keuntungan yang akan berakibat kepada subyek pada setisp
tindakan.
Penulis setiap kali akan melakukan tindakan kepada klien
melakukan rencana tindak lanjut terlebih dahulu dengan berdiskusi
kepada klien tindakan apa yang akan di lakukan dan disetujui oleh
klien, sesekali penulis hanya bersifat memfasilitasi, mengarahkan,
membantu dan memantau.
3) Right for human dignity
a. Righ to self determination (hak untuk ikut atau tidak menjadi
subyek studi kasus.
Subyek harus diperlakukan secara manusiawi. Subyek
mempunyai hak untuk memutuskan apakah nereka bersedia
menjadi subyek ataupun tidak.
Penulis memperlakukan kliennya secara manusiawi tidak ada
pemukulan, mencederai klien dan melakukan deskriminasi
terhadap klien.
b. Right to full disclosure (hak untuk mendapatkan jaminan dari
perlakuan yang diberikan).
Seorang peneliti harus memberikan penjelasan secara rinci
sreta bertanggung jawab jika ada sesuatu yang terjadi kepada
subyek.
Sebelum melakukan tindakan penulis melakukan perijinan
terlebih dahulu kepada bagian dari Puskesmas Sempor 1 dan
keluarga yang bertanggung jawab atas klien dan memberikan
penjelasan yang terbaik terhadap mereka.
c. Informed consent
Subyek harus mendapatkan informasi secara lengkap tentang
tujuan studi kasus akan dilakukan, mempunyai hak untuk bebas
berpartisipasi atau menolak menjadi subyek studi kasus. Pada
informed consent juga perlu dicantumkan bahwa data yang
diperoleh hanya akan dipergunakan untuk pengembangan ilmu.
Klien dan anggota klien mendapatkan informasi secara jelas
dari penulis bahwa klien hanya akan menjadi subjek studi kasus
untuk pengembangan ilmu dan mendapat penjelasan dari penulis
mengenai tindakan, cara dan harapan di lakukannya tindakan
strategi pelaksaan dari penulis.
DAFTAR PUSTAKA

Budiman A & Siahaan HB. (2008). Okupasiterapi, dalam makalah pelatihan terapi
keluarga dan terapi relaksasi. Jakarta.
Dermawan, D., R. (2013). Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta
Salemba Medika.
Depkes, (2013). Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Nasional
2013, Badan Peneliti & Pengembangan Depkes RI. Jakarta.
Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen. (2015). Profil Kesehatan Kabupaten
Kebumen: Dinkes Kabupaten Kebumen.
Direja, Ade Hermawan Surya. (2011). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Jiwa.
Yogyakarta : Nuha Medika.
Fitria, N. (2009). Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan
Dan Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (LP dan SP). Jakarta:
Salemba Medika.
Iskandar, M. D, (2012). Asuhan Keperawatan Jiwa. Bandung: PT Refika
Aditama.
Kaplan, H.I., Saddock, B.J., & Grebb, J.A. (2010). Sinopsis Psikiatri Ilmu
Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis. Jilid 1. (7th ed). Jakarta : Bina
Rupa Aksara. Jakarta.
Keliat, B.A. (2013). Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: EGC.
Keliat. (2010). Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas, Jakarta :EGC.
Mamnu’ah. (2014). Terapi Okupasi Terhadap Harga Diri Klien Gangguan Jiwa,
Jurnal INJEC Vol. 1 No. 2 : 193-196.
Maramis, W.F. (2010). Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa, Airlangga University
Press, Surabaya.
Muhaj, K. 2009. Terapi Okupasi dan Rehablitasi.
Available: http://khaidirmuhaj.blogspot.com/2009/01/terapi-okupasi-dan-
rehabilitasi.html.
Stuart, Gail W. (2009). Buku Saku Keperawatan Jiwa.Yogyakarta : EGC.
Stuart and Sundeen. (2008). Buku Saku Keperawatan Jiwa edisi 3. Jakarta: ECG
Riyadi & Purwanto. (2009). Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Videbeck, S. L. (2008). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC
WHO, (2015). Improving health systems and services for mental health (Mental
health policy and service guidance package). Gebeva 27, Switzerland:
WHO Press.
Yosep, I. (2010). Buku Ajar Keperawatn Jiwa. Bandung : Refika Aditama.
LAMPIRAN
INSTRUMEN PENGKAJIAN
Ada 6 item hasil wawancara atau data subjektif klien dan 6 item tanda dari hasil
observasi atau data objektif klien dikomunitas.
Tanda dan Gejala Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah Kronik

No Data subjektif Ya Tidak


1. Klien mengatakan merasa malu
2. Klien mengatakan merasa tidak berarti dan
merasa tidak berguna
3. Klien mengatakan merasa tidak mempunyai
kemampuan positif
4. Klien mengatakan merasa menilai diri negatif
5. Klien mengatakan kurang konsentrasi dan
merasa tidak mampu melakukan apapun
6. Klien mengatakan sulit tidur
No Data objektif Ya Tidak
1. Klien terlihat banyak diam
2. Klien terlihat tidak mau bicara
3. Klien terlihat menyendiri
4. Klien terlihat tidak mau berinteraksi
5. Klien terlihat tampak sedih
6. Klien terlihat ekspresi datar dan diangkat
7. Klien terlihat kontak mata kurang

Keterangan :
Beri tanda centang (√) pada kolom YA apabila muncul tanda dan gejala dan pada
kolom TIDAK apabila tidak muncul tanda dan gejala.

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) TERAPI OKUPASI PADA


GANGGUAN JIWA HARGA DIRI RENDAH KRONIK

Poin Langkah
Tindakan Meningkakan kemandirian pada pasien gangguan jiwa
harga diri rendah kronik
Tujuan 1. Agar pasien mengetahui kemampuan positif yang
dimiliki
2. Menerapkan dan mengembangkan kemampuan
positif tersebut agar meningkatkan harga diri
Kebijakan Pasien dengan harga diri rendah kronik
Petugas Perawat
Prosedur A. Tahap Pra interaksi
1. Melihat data pasien
2. Mengkaji riwayat pasien
B. Tahap Orientasi
1. Memberikan salam dan menyapa nama pasien
2. Menanyakan keadaan hari ini
3. Menanyakan penyebab pasien mengalami
harga diri rendah
4. Menjelaskan faktor dan proses terjadinya
harga diri rendah
5. Menyebutkan aspek positif yang dimiliki
pasien
6. Membantu pasien menilai kemampuan yang
masih dapat digunakan
7. Menjelaskan tujuan dan prosedur
8. Menanyakan persetujuan dan kesiapan pasien
9. Memberikan terapi okupasi untuk
meningkatkan harga diri
C. Tahap Kerja
1. Memberikan arahan yang akan dibuat
2. Membeli alat dan bahan
3. Mengobservasi alat dan bahan yang sudah
disiapkan apakah sudah lengkap atau belum
4. Mendampingi mulainya ketrampilan kerja dan
ajak bicara klien dengan memberikan arahan
5. Menilai hasil yang sudah dibuat apakah benar
atau belum
D. Tahap Terminasi
1. Melakukan evaluasi tindakan apa yang sudah
dibuat
2. Mengobservasi perasaan klien setelah
melakukan ketrampilan kerja
3. Menanyakan kembali penyebab dan tanda
gejala harga diri rendah
4. Melanjutkan kegiatan tersebut untuk
meningkatkan harga diri

PENJELASAN UNTUK MENGIKUTI PENELITIAN


(PSP)
1. Kami adalah Peneliti berasal dari institusi/jurusan program studi STIKES
Muhammadiyah Gombong/program studi DIII Keperawatan dengan ini
meminta anda untuk berpartisipasi dengan sukarela dalam penelitian yang
berjudul “Penerapan Terapi Okupasi Untuk Meningkatkan Harga Diri Pada
Pasien Harga Diri Rendah di Wilayah Kerja Puskesmas Sempor 1”.
2. Tujuan dari penelitian studi kasus ini adalah menggambarkan asuhan
keperawatan dengan penerapan terapi okupasi untuk meningkatkan harga diri
pada pasien harga diri rendah yang dapat memberikan manfaat berupa
meningkatkan kemampuan yang dimiliki pasien dengan harga diri rendah.
3. Prosedur pengambilan data dengan cara wawancara terpimpin dengan
menggunakan pedoman wawancara yang akan berlangsung lebih kurang 15-
30 menit. Cara ini mungkin menyebabkan ketidaknyamanan tetapi anda tidak
perlu khawatir karena penelitian ini untuk kepentingan asuhan atau pelayanan
keperawatan.
4. Keuntungan yang anda peroleh dalam keikutsertaan anda pada penelitian ini
adalah anda turut terlibat aktif mengikuti perkembangan asuhan atau tindakan
yang diberikan.
5. Nama dan jati diri anda beserta seluruh informasi yang saudara sampaikan
akan tetap dirahasiakan.
6. Jika saudara membutuhkan informasi sehubungan dengan penelitian ini,
silahkan menghubungi peneliti pada nomor Hp : 089657291234

Peneliti

Astriyana Krissanti

INFORMED CONSENT
(Persetujuan Menjadi Partisipan)
Saya yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa saya telah
mendapat penjelasan secara rinci dan telah mengerti mengenai penelitian yang
akan dilakukan oleh Astriyana Krissanti dengan judul “Penerapan Terapi Okupasi
Untuk Meningkatkan Harga Diri Pada Pasien Harga Diri Rendah di Wilayah
Kerja Puskesmas Sempor 1”.
Saya memutuskan setuju untuk ikut berpartisipasi pada penelitian ini secara
sukarela tanpa paksaan. Bila selama penelitian ini saya menginginkan
mengundurkan diri, maka saya dapat mengundurkan sewaktu-waktu tanpa sanksi
apapun.

……..,……………2018
Yang memberikan persetujuan
Saksi

………………….. ………………………
……………..,………..2018
Peneliti

Astriyana Krissanti

Anda mungkin juga menyukai