Kti Jiwa Fix
Kti Jiwa Fix
ASTRIYANA KRISSANTI
NIM : A01602178
Karya Tulis Ilmiah ini disusun sebagai salah satu persyaratan menyelesaikan
Program Pendidikan Diploma III Keperawatan
ASTRIYANA KRISSANTI
NIM : A01602178
Gombong, 2018
Pembuat Pernyataan
Astriyana Krissanti
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Dibuat di :
Pada tanggal :
Yang menyatakan
Astriyana Krissanti
LEMBAR PERSETUJUAN
Gombong, 2018
Pembimbing
Mengetahui
Ketua Program Studi DIII Keperawatan
Nurlaila,S.Kep.Ns.M.Kep
LEMBAR PENGESAHAN
Karya Tulis Ilmiah oleh Astriyana Krissanti dengan judul “Penerapan Terapi
Okupasi Untuk Meningkatkan Harga Diri Pada Pasien Harga Diri Rendah di
Wilayah Kerja Puskesmas Sempor 1” telah dipertahankan di depan dewan penguji
pada tanggal
Dewan Penguji
Penguji Ketua
……………………………. (……………………)
Penguji Anggota
……………………………. (…………………….)
Mengetahui
Ketua Program Studi DIII Keperawatan
Nurlaila.S.Kep.Ns.M.Kep
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .......................................................................................
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN .......................................................
PERNYATAAN PESETUJUAN PUBLIKASI...............................................
LEMBAR PERSETUJUAN ............................................................................
LEMBAR PENGESAHAN .............................................................................
DAFTAR ISI ...................................................................................................
KATA PENGANTAR .....................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
D. Manfaat
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Gangguan Jiwa
1. Pengertian Gangguan Jiwa
2. Faktor yang menyebabkan gangguan jiwa
3. Tanda dan gejala gangguan jiwa
4. Ciri-ciri gangguan jiwa
5. Macam-macam gangguan jiwa
B. Konsep Harga Diri Rendah Kronik
1. Pengertian
2. Tanda dan Gejala
3. Penyebab
4. Proses terjadinya harga diri rendah kronik
5. Akibat harga diri rendah kronik
6. Penatalaksanaan pada pasien harga diri rendah kronik
C. Konsep Terapi Okupasi
1. Pengertian
2. Tujuan Terapi Okupasi
3. Aktivitas Terapi Okupasi
4. Indikasi Terapi Okupasi
D. Instrumen Pengukuran yang digunakan dalam terapi
BAB III METODE STUDI KASUS
A. Jenis/Desain/Rancangan Studi Kasus ..................................................
B. Subyek Studi Kasus .............................................................................
C. Fokus Studi Kasus ...............................................................................
D. Definisi Operasional ............................................................................
E. Instrumen Studi Kasus .........................................................................
F. Metode Pengumpulan Data ..................................................................
G. Lokasi dan waktu studi kasus ..............................................................
H. Analisis data dan penyajian data ..........................................................
I. Etika Studi Kasus .................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
KATA PENGANTAR
Gombong,
Penulis
Astriyana Krissanti
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kesehatan jiwa menurut WHO ( World Health Organization )
adalah ketika seseorang tersebut merasa sehat dan bahagia, mampu
menghadapi tantangan hidup serta dapat menerima orang lain sebagaimana
seharusnya serta mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan orang
lain. Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana seorang individu dapat
berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga individu
tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat
bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi untuk
kmunitasnya. Kondisi perkembangan yang tidak sesuai pada individu
disebut gangguan jiwa (UU No. 18 tahun 2014). Gangguan jiwa
merupakan permasalahan kesehatan yang disebabkan oleh gangguan
biologis, sosial, psikologis, genetik, fisik atau kimiawi dengan jumlah
penderita yang terus meningkat dari tahun ketahun (WHO, 2015).
Prevalensi gangguan jiwa didunia pada tahun 2014 diperkirakan
gangguan jiwa mencapai 516 juta jiwa (WHO,2015). Sedangkan
prevalensi gangguan jiwa di Indonesia berdasarkan data Riset Kesehatan
Dasar (Riskesdas) tahun 2013 sebesar 1,7 per mil. Departemen Kesehatan
Republik Indonesia tahun 2010, menyatakan jumlah penderita gangguan
jiwa di Indonesia mencapai 2,5 juta. Dari 150 juta populasi orang dewasa
indonesia, berdasarkan data Departemen Kesehatan (Depkes), ada 1,74
juta orang mengalami gangguan mental emosional. Sedangkan 4 % dari
jumlah tersebut terlambat berobat dan tidak tertangani akibat kurangnya
layanan untuk penyakit kejiwaan ini. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas Tahun 2013) pravelensi gangguan mental di Indonesia 6,0%.
Provinsi dengan gangguan mental emosional tertinggi adalah Sulawesi
Tengah, Sulawesi Selatan, Jawa Barat, DI Yogyakarta, dan Nusa Tenggara
Timur. Jumlah penderita gangguan jiwa di Jawa Tengah dari tahun ke
tahun terus meningkat. Menurut data Dinas Kesehatan Jawa Tengah
menyebutkan jumlah gangguan jiwa pada tahun 2013 adalah 121.962
penderita. Sedangkan pada tahun 2014 jumlahnya meningkat menjadi
260.247 orang dan pada tahun 2015 bertambah menjadi 317.504 (Wibowo,
2016). Pelayanan gangguan jiwa merupakan pelayanan pada pasien yang
mengalami gangguan kejiwaan yang meliputi gangguan pada perasaan,
proses pikir dan prilaku yang menimbulkan penderitaan pada individu dan
atau hambatan dalam melaksanakan peran sosialnya. Cakupan pelayanan
kesehatan jiwa Kabupaten Kebumen di puskesmas Tahun 2015 tercatat
6.293 jiwa (Laki – laki 3.559 jiwa dan perempuan 2.734 jiwa. Kabupaten
Kebumen menduduki peringkat ke dua sebagai wilayah dengan penderita
gagguan jiwa terbanyak setelah Kabupaten Semarang.
Harga diri rendah merupakan perasaan yang tidak berarti akibat
evaluasi yang berkepanjanyan di sertai kurangnya perawatan diri sendiri,
berpakaian tidak rapi, selera makan menurun, tidak berani menatap lawan
bicara lebih banyak menunduk, berbicara lambat dan nada suara lemah
(Keliat, 2010). Dampak harga diri kronik yaitu perasaan negatif terhadap
diri telah berlangsung lama, yaitu sebelum sakit/dirawat. Klien ini
mempunyai cara berfikir yang negatif. Kejadian saat sakit dan dirawat
akan menambah persepsi negatif terhadap dirinya. Kondisi ini
mengakibatkan respons yang maladaptif (Fitria, 2009).
Terapi okupasi adalah suatu ilmu dan seni pengarahan partisipasi
seseorang untuk melaksanakan tugas tertenu. Terapi okupasi berfokus
pada pengenalan kemampuan yang masih dapat di gunakan pada
seseorang, pemeliharaan atau peningkatan bertujuan untuk membentuk
seseorang agar mandiri, dan tidang tergantung pada pertolongan orang lain
(Riyadi dan Purwanto, 2009). Tindakan keperawatan spesialis yang
dibutuhkan pada klien dengan harga diri rendah adalah terapi kognitif,
terapi interpersonal, terapi tingkah laku, dan terapi keluarga (Kaplan &
Saddock, 2010). Pemberian terapi okupasi dapat membantu klien
mengembangkan mekanisme koping dalam memecahkan masalah terkait
masa lalu yang tidak menyenangkan. Klien dilatih untuk mengidentifikasi
kemamampan yang masih dapat digunakan yang dapat meningkatkan
harga dirinya sehingga tidak akan mengalami hambatan dalam
berhubungan sosial. Hal ini di dukung penelitian yang di lakukan oleh
(Mamnu’ah, 2014) di desa karangan,setelah di lakukan terapi okupasi
klien dengan harga diri rendah dapat lebih termotivasi dan lebih percaya
diri setelah di ajari berbagai macam ketrampilan. Rata rata respon sebelum
di berikan terapi okupasi 86,7 dan sesudah di berikan terapi okupasi 83,3.
Berdasarkan hal tersebut di atas penulis tertarik untuk meneliti tentang “
Penerapan terapi Ketrampilan Kerja pada klien skizofrenia dengan
gangguan konsep diri : harga diri rendah di wilayah kerja puskesmas
sempor 1”.
B. Rumusan Masalah
Bagaimanakah pengaruh terapi okupasi dapat meningkatkan harga diri
pada pasien harga diri rendah di wilayah kerja Puskesmas Sempor 1 ?
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Meningkatkan harga diri pada pasien harga diri rendah kronik dengan
terapi okupasi di wilayah kerja Puskesmas Sempor 1
2. Tujuan Khusus
a. Mengenal tanda dan gejala harga diri rendah sebelum dilakukan
terapi okupasi
b. Mengenal tanda dan gejala harga diri rendah setelah dilakukan
terapi okupasi
c. Mengenal kemampuan positif yang dimiliki klien sebelum
dilakukan terapi okupasi
d. Mengenal kemampuan positif yang dimiliki klien setelah dilakukan
terapi okupasi
D. Manfaat
1. Perawat
Perawat diharapkan dapat memberikan asuhan dengan memberikan
penerapan inovasi kepada klien skizofrenia dengan harga diri rendah
untuk meningkatkan konsep dirinya.
2. Bagi Masyarakat
Menambah pengetahuan masyarakat dalam peningkatan kemandirian
pasien gangguan jiwa dengan harga diri rendah.
3. Bagi Pengembangan Ilmu Dan Teknologi
Menambah ilmu dan teknologi terapan bidang keperawatan dalam
meningkatkan kemandirian pasien gangguan jiwa harga diri rendah.
4. Bagi Penulis
Memperoleh pengalaman dalam menerapkan terapi kerja terhadap
kegiatan positif yang dapat di lakukan pada pasien gangguan jiwa
harga diri rendah.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Gangguan Jiwa
1. Pengertian Gangguan Jiwa
Gangguan jiwa menurut Depkes RI (2013) adalah suatu
perubahan pada fungsi jiwa yang menyebabkan adanya gangguan pada
fungsi jiwa yang menimbulkan penderitaan pada individu dan
hambatan dalam melaksanakan peran sosial. Menurut Maramis (2010),
gangguan jiwa adalah gangguan alam : cara berpikir (cognitive),
kemauan (volition), emosi (affective), tindakan (psycomotor).
Sedangkan menurut Budiman (2008), gangguan jiwa atau
mental illenes adalah kesulitan yang harus dihadapi oleh seseorang
karena hubungannya dengan orang lain, kesulitan karena persepsinya
tentang kehisupan dan sikapnya terhadap dirinya sendiri-sendiri.
2. Faktor yang menyebabkan gangguan jiwa
Gejala utama atau gejala yang paling menonjol pada gangguan
jiwa terdapat pada unsur kejiwaan, tetapi penyebab utamanya dibadan
(somatogenik), di lingkungan sosial (sosiogenik), ataupun psikis
(psikogenik), (Maramis, 2010). Biasanya tidak terdapat penyebab
tinggal, akan tetapi beberapa penyebab sekaligus dari berbagai unsur
itu yang saling mempengaruhi atau kebetulan terjadi bersamaan, lalu
timbullah gangguan badan ataupun gangguan jiwa.
Menurut Stuart & Sundeen (2008) penyebab gangguan jiwa
dapat dibedakan atas :
a) Faktor biologis
1) Keturunan
Peran yang pasti sebagai penyebab belum jelas, mungkin
terbatas dalam mengakibatkan kepekaan untuk mengalami
gangguan jiwa tapi hal tersebut sangat ditunjang dengan faktor
lingkungan kejiwaan yang tidak sehat.
2) Jasmaniah
Beberapa peneliti berpendapat bentuk tubuh seseorang
berhubungan dengan gangguan jiwa tertentu. Misalnya yang
bertubuh gemuk/endoform cenderung menderita psikosa manik
depresif, sedang yang kurus/ectoform cenderung menjadi
skizofrenia.
3) Temperamen
Orang yang terlalu peka/sensitif biasanya mempunyai masalah
kejiwaan dan ketegangan yang memiliki kecenderungan
mengalami gangguan jiwa.
4) Penyakit dan cedera tubuh
Penyakit-penyakit tertentu misalnya penyakit jantung, kanker,
dan sebagainya mungkin dapat menyebabkan merasa murung
dan sedih. Demikian pula cedera/cacat tubuh tertentu dapat
menyebabkan rasa rendah diri.
b) Ansietas dan ketakutan
Kekhawatiran pada sesuatu hal yang tidak jelas dan perasaan yang
tidak menentu akan sesuatu hal menyebabkan individu merasa
terancam, ketakutan hingga terkadang mempersepsikan dirinya
terancam.
c) Faktor psikologis
Bermacam pengalaman frustasi, kegagalan dan keberhasilan yang
dialami akan mewarnai sikap, kebiasaan dan sifatnya. Pemberian
kasih sayang orang tua yang dingin, acuh tak acuh, kaku dan keras
akan menimbulkan rasa cemas dan tekanan serta memiliki
kepribadian yang bersifat menolak dan menentang terhadap
lingkungan.
d) Faktor sosio-kultural
Beberapa penyebab gangguan jiwa menurut Wahyu (2012) yaitu :
1) Penyebab primer (primary cause)
Kondisi yang secara langsung menyebabkan terjadinya
gangguan jiwa, atau kondisi yang tanpa kehadirannya suatu
gangguan jiwa tidak akan muncul.
2) Penyebab yang menyiapkan (predisposing cause)
Menyebabkan seseorang rentan terhadap salah satu bentuk
gangguan jiwa.
3) Penyebab yang pencetus (precipatating cause)
Ketegangan-ketegangan atau kejadian-kejadian traumatik yang
langsung dapat menyebabkan gangguan jiwa atau mencetuskan
gangguan jiwa.
4) Penyebab menguatkan (reinforcing cause)
Kondisi yang cenderung mempertahankan atau mempengaruhi
tingkah laku maladaptif yang terjadi.
5) Multiple cause
Serangkaian faktor penyebab yang kompleks serta saling
mempengaruhi. Dalam kenyataannya, suatu gangguan jiwa
jarang disebabkan oleh satu penyebab tunggal, bukan sebagai
hubungan sebab akibat, melainkan saling mempengaruhi
antara satu faktor penyebab dengan penyebab lainnya.
e) Faktor presipitasi
Faktor stressor presipitasi mempengaruhi dalam kejiwaan
seseorang. Sebagai faktor stimulus dimana setiap individu
mempersepsikan dirinya melawan tantangan, ancaman, atau
tuntutan untuk koping. Masalah khusus tentang konsep diri
disebabkan oleh setiap situasi dimana individu tidak mampu
menyesuaikan. Lingkungan dapat mempengaruhi konsep diri dan
komponennya. Lingkungan dan stressor yang dapat mempengaruhi
gambaran diri dan hilangnya bagian badan, tindakan operasi,
proses patologi penyakit, perubahan struktur dan fungsi tubuh,
proses tumbuh kembang, dan prosedur tindakan serta pengobatan
(Stuart&Sundeen, 2008).
3. Tanda dan Gejala Gangguan Jiwa
Tanda dan gejala gangguan jiwa secara umum menurut Yosep (2009)
adalah sebagai berikut :
a) Ketegangan (tension), Rasa putus asa dan murung, gelisah, cemas,
perbuatan-perbuatan yang terpaksa (convulsive), hysteria, rasa
lemah, tidak mampu mencapai tujuan, takut, pikiran-pikiran buruk.
b) Gangguan kognisi pada persepsi merasa mendengar
(mempersepsikan) sesuatu bisikan yang menyuruh membunuh,
melempar, naik genting, membakar rumah, padahal orang
disekitarnya tidak mendengarnya dan suara tersebut sebenarnya
tidak ada hanya muncul dari dalam individu sebagai bentuk
kecemasan yang sangat berat dia rasakan. Hal ini sering disebut
halusinasi, klien bisa mendengar sesuatu, melihat sesuatu atau
merasakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada menurut orang lain.
c) Gangguan kemauan klien memiliki kemauan yang lemah (abulia)
susah membuat keputusan atau memulai tingkah laku, susah sekali
bangun pagi, mandi, merawat diri sendiri sehingga terlihat kotor,
bau, dan acak-acakan.
d) Ganggaun emosi klien merasa senang, gembira yang berlebihan
(Waham kebesaran). Klien merasa sebagai orang penting, sebagai
raja, pengusaha, orang kaya, titisan Bung Karno tetapi dilain waktu
ia bisa merasa sangat sedih, menangis, tak berdaya (depresi)
samapai ada ide ingin mengakhiri hidupnya.
e) Gangguan psikomotor Hiperaktivitas, klien melakukan pergerakan
yang berlebihan naik keatas genting berlari, berjalan maju mundur,
meloncat-loncat, melakukan apa-apa yang tidak disuruh atau
menentang apa yang disuruh, diam lama tidak bergerak atau
melakukan gerakan aneh.
4. Ciri-ciri gangguan jiwa
Ciri-ciri gangguan jiwa menurut Keliat (2013) adalah :
a) Sedih berkepanjangan
b) Tidak semangat dan cenderung malas
c) Marah tanpa sebab
d) Menurung diri
e) Tidak mengenali orang
f) Bicara kacau
g) Bicara sendiri
h) Tidak mampu merawat diri
5. Macam-macam gangguan jiwa
Menurut Videback (2008) macam-macam gangguan jiwa sebagai
berikut :
a) Skizofrenia
Skizofrenia adalah suatu penyakit yang mempengaruhi otak dan
menyebabkan timbulnya pikiran, persepsi, emosi, gerakan, perilaku
yang aneh. Penyakit ini sering diartikan oleh masyarakat adalah
penyakit yang berbahaya dan tidak dapat dikonrol dan
digambarkan sebagai individu yang mengalami masalah emosional
dan meperlihatkan perilaku yang aneh.
b) Depresi
Depresi merupakan gangguan alam perasaan ditandai dengan
gejala sedih, termasuk perubahan pola tidur dan nafsu makan,
psikomotor, konsentrasi, kelelahan, rasa putus asa dan tak berdaya
dan adanya keinginan bunuh diri.
c) Kecemasan
Kecemasan sebagai pengalaman psikis yang biasa dan wajar, yang
pernah dialami oleh semua orang dalam rangka memacu individu
untuk mengatasi masalah yang dihadapi.
d) Gangguan kepribadian
Gangguan kepribadian didiagnosis ketika kepribadian seseorang
menjadi kaku dan maladaptif, dan secara signifikan mengganggu
melakukan fungsi dalam masyarakat atau bisa jadi menyebabkan
distress emosional individu.
e) Gangguan mental organik
Merupakan gangguan jiwa yang disebabkan oleh gangguan fungsi
jaringan otak. Gangguan fungsi otak ini dapat disebabkan oleh
penyakit badaniah yang mengenai otak bagian luar.
f) Gangguan prikosomatik
Gangguan psikosomatim merupakan komponen psikologi yang
diikuti gangguan fungsi badaniah.
g) Retardasi mental
Retardasi mental merupakan keadaan dimana terhentinya atau tidak
lengkapnya perkembangan jiwa, yang ditandai oleh terjadinya
keterampilan selama masa perkembangan, sehingga berpengaruh
pada tingkat kecerdasan secara menyeluruh, misalnya kemampuan
kognitif, bahasa dan sosial.
h) Gangguan perilaku masa anak remaja
Anak dengan gangguan perilaku menunjukan perilaku yang tidak
sesuai dengan permintaan, kebiasaan, atau norma-norma
masyarakat. Jika pada masa anak-anak terjadi gangguan jiwa maka
kemungkinan masa remaja juga dapat terkena gangguan jiwa.
Budiman A & Siahaan HB. (2008). Okupasiterapi, dalam makalah pelatihan terapi
keluarga dan terapi relaksasi. Jakarta.
Dermawan, D., R. (2013). Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta
Salemba Medika.
Depkes, (2013). Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Nasional
2013, Badan Peneliti & Pengembangan Depkes RI. Jakarta.
Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen. (2015). Profil Kesehatan Kabupaten
Kebumen: Dinkes Kabupaten Kebumen.
Direja, Ade Hermawan Surya. (2011). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Jiwa.
Yogyakarta : Nuha Medika.
Fitria, N. (2009). Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan
Dan Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (LP dan SP). Jakarta:
Salemba Medika.
Iskandar, M. D, (2012). Asuhan Keperawatan Jiwa. Bandung: PT Refika
Aditama.
Kaplan, H.I., Saddock, B.J., & Grebb, J.A. (2010). Sinopsis Psikiatri Ilmu
Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis. Jilid 1. (7th ed). Jakarta : Bina
Rupa Aksara. Jakarta.
Keliat, B.A. (2013). Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: EGC.
Keliat. (2010). Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas, Jakarta :EGC.
Mamnu’ah. (2014). Terapi Okupasi Terhadap Harga Diri Klien Gangguan Jiwa,
Jurnal INJEC Vol. 1 No. 2 : 193-196.
Maramis, W.F. (2010). Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa, Airlangga University
Press, Surabaya.
Muhaj, K. 2009. Terapi Okupasi dan Rehablitasi.
Available: http://khaidirmuhaj.blogspot.com/2009/01/terapi-okupasi-dan-
rehabilitasi.html.
Stuart, Gail W. (2009). Buku Saku Keperawatan Jiwa.Yogyakarta : EGC.
Stuart and Sundeen. (2008). Buku Saku Keperawatan Jiwa edisi 3. Jakarta: ECG
Riyadi & Purwanto. (2009). Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Videbeck, S. L. (2008). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC
WHO, (2015). Improving health systems and services for mental health (Mental
health policy and service guidance package). Gebeva 27, Switzerland:
WHO Press.
Yosep, I. (2010). Buku Ajar Keperawatn Jiwa. Bandung : Refika Aditama.
LAMPIRAN
INSTRUMEN PENGKAJIAN
Ada 6 item hasil wawancara atau data subjektif klien dan 6 item tanda dari hasil
observasi atau data objektif klien dikomunitas.
Tanda dan Gejala Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah Kronik
Keterangan :
Beri tanda centang (√) pada kolom YA apabila muncul tanda dan gejala dan pada
kolom TIDAK apabila tidak muncul tanda dan gejala.
Poin Langkah
Tindakan Meningkakan kemandirian pada pasien gangguan jiwa
harga diri rendah kronik
Tujuan 1. Agar pasien mengetahui kemampuan positif yang
dimiliki
2. Menerapkan dan mengembangkan kemampuan
positif tersebut agar meningkatkan harga diri
Kebijakan Pasien dengan harga diri rendah kronik
Petugas Perawat
Prosedur A. Tahap Pra interaksi
1. Melihat data pasien
2. Mengkaji riwayat pasien
B. Tahap Orientasi
1. Memberikan salam dan menyapa nama pasien
2. Menanyakan keadaan hari ini
3. Menanyakan penyebab pasien mengalami
harga diri rendah
4. Menjelaskan faktor dan proses terjadinya
harga diri rendah
5. Menyebutkan aspek positif yang dimiliki
pasien
6. Membantu pasien menilai kemampuan yang
masih dapat digunakan
7. Menjelaskan tujuan dan prosedur
8. Menanyakan persetujuan dan kesiapan pasien
9. Memberikan terapi okupasi untuk
meningkatkan harga diri
C. Tahap Kerja
1. Memberikan arahan yang akan dibuat
2. Membeli alat dan bahan
3. Mengobservasi alat dan bahan yang sudah
disiapkan apakah sudah lengkap atau belum
4. Mendampingi mulainya ketrampilan kerja dan
ajak bicara klien dengan memberikan arahan
5. Menilai hasil yang sudah dibuat apakah benar
atau belum
D. Tahap Terminasi
1. Melakukan evaluasi tindakan apa yang sudah
dibuat
2. Mengobservasi perasaan klien setelah
melakukan ketrampilan kerja
3. Menanyakan kembali penyebab dan tanda
gejala harga diri rendah
4. Melanjutkan kegiatan tersebut untuk
meningkatkan harga diri
Peneliti
Astriyana Krissanti
INFORMED CONSENT
(Persetujuan Menjadi Partisipan)
Saya yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa saya telah
mendapat penjelasan secara rinci dan telah mengerti mengenai penelitian yang
akan dilakukan oleh Astriyana Krissanti dengan judul “Penerapan Terapi Okupasi
Untuk Meningkatkan Harga Diri Pada Pasien Harga Diri Rendah di Wilayah
Kerja Puskesmas Sempor 1”.
Saya memutuskan setuju untuk ikut berpartisipasi pada penelitian ini secara
sukarela tanpa paksaan. Bila selama penelitian ini saya menginginkan
mengundurkan diri, maka saya dapat mengundurkan sewaktu-waktu tanpa sanksi
apapun.
……..,……………2018
Yang memberikan persetujuan
Saksi
………………….. ………………………
……………..,………..2018
Peneliti
Astriyana Krissanti