Anda di halaman 1dari 11

NAMA : Ni Made Dwijayanti

NIM : 030415874

KEWIRAUSAHAAN

Entrepreneur, merupakan orang yang berkecimpung atau melakukan suatu kegiatan wirausaha
yang memiliki ciri-ciri pandai atau berbakat dalam mengenali suatu produk baru, menentukan
cara produksi baru, menyusun manajemen operasi dalam pengadaan produk baru, memasarkan
produk tersebut, hingga mengatur permodalan operasi yang dijalankan. Sebagai sosok yang
imajinatif, yang ditandai dengan memiliki kemampuan dalam menetapkan sasaran, hingga bisa
mencapai sasaran-sasaran tersebut. Entrepreneur juga mempunyai kesadaran yang begitu tinggi
dalam menemukan suatu peluang dan membuat keputusan semaksimal mungkin. Di sinilah letak
kecerdasan dari seorang entrepreneur. Mereka berani, mampu untuk menjadi bagian dari bisnis
mereka sendiri dengan segala pikiran kreatif dan inovatif, mampu melihat begitu terbukanya
peluang yang ada di lingkup sekitarnya atau masyarakat, hingga membuat sebuah bisnis baru
yang sebelumnya mungkin belum ada.

Berikut ini karakteristik seorang entrepreneur, dengan salah satu contoh sederhana, usaha/bisnis
pakaian. Walau demikian, tak hanya di bisnis pakaian saja, melainkan contoh di bawah ini bisa
lebih luas dan kompleks dengan pengembangan pola pikir terhadap bisnis-bisnis yang lain.

1. Percaya Diri, percaya diri menjadi salah satu paduan sikap dan keyakinan dari seseorang,
dalam menghadapi suatu tugas atau pekerjaan, yang mana memiliki sifat internal, begitu
relatif, bahkan dinamis, serta banyak ditentukan oleh kemampuan. Kemampuan apa?
Kemampuan dalam memulai, melaksanakan dan menyelesaikan suatu pekerjaan. Rasa
percaya diri yang dimiliki oleh seorang entrepreneur, tentu akan sangat mempengaruhi
suatu gagasan, karsa, inisiatif, kreativitas, keberanian, semangat bekerja, ketekunan,
hingga kegairahan dalam terus-menerus berkarya. Kunci keberhasilan dalam bisnis itu
sendiri ialah dalam memahami diri sendiri. Maka dari itu, entrepreneur yang sukses
merupakan wirausaha yang mandiri dan memiliki rasa percaya diri yang tinggi.
Contoh Percaya Diri: Pak Alfa merupakan pebisnis pakaian pria. Dirinya menjualkan
pakaian-pakaian yang sedang trendy di kalangan remaja. Dirinya terus tetap percaya diri
dalam menjalankan usaha tersebut. Kadang memang terlintas di dalam benak Pak Alfa,
karena banyak juga yang berbisnis pakaian, apalagi sasarannya remaja pria. Namun,
dirinya tetap percaya diri dalam menjalankan usaha, karena prinsipnya, percaya diri dan
rezeki tidak akan ke mana. Setelah mencari produk, riset, membuat kampanye untuk
memasarkan produk, Pak Alfa langsung saja percaya diri jika produk ini akan laku
nantinya. Tak mau berpikir panjang, cukup modal yang paling mendasari ialah percaya
diri, walau saingan tentu ada di mana-mana, bahkan di kota yang sama banyak saingan.
2. Berani untuk Mengambil Resiko, Salah satu hal terpenting dalam memulai berbuat
sesuatu yang baru ialah berani dalam mengambil resiko dalam melakukan sesuatu yang
belum pernah dilakukan sebelumnya. Inovasi atau pembaharuan tak akan pernah muncul,
apabila kita hanya terpaku saja terhadap hal-hal yang sudah dilakukan oleh orang lain dan
tak memiliki keberanian dalam melakukan hal-hal yang belum pernah kita lakukan
sebelumnya. Perlu kita ketahui lagi, entrepreneur merupakan orang yang menggemari
atau lebih suka terhadap usaha-usaha yang jauh lebih menantang dalam mencapai suatu
kesuksesan atau kegagalan, dibandingkan dengan usaha yang kurang menantang.
entrepreneur menghindari situasi resiko yang lebih rendah, karena memang tak ada
tantangan dan lebih menjauhi resiko tinggi, karena ingin berhasil, terlebih secara instan.
Untuk situasi yang terjadi semacam ini, akan ada sebanyak 2 alternatif yang bisa dipilih :
 Alternatif yang berani menanggung resiko
 Alternatif yang bersifat konservatif (kecenderungan lebih memilih untuk
bertahan)
Contoh Berani Mengambil Resiko: Pak Alfa memang sudah diketahui menjual pakaian,
yang mana sasaran dari penjualan pakaian tersebut kepada remaja muda, untuk laki-laki.
Pak Alfa berani untuk mengambil sebuah resiko yang tinggi, dengan menerapkan suatu
pengembangan pola pikir yang baru, di mana dirinya berani untuk memproduksi baju
full-print, yang belum banyak orang memproduksi dan menjualkannya. Memang benar,
baju full-print seperti ini, peminatnya menjadi lebih sedikit, karena tak semua remaja
laki-laki menyukai baju full print. Tapi, Pak Alfa mendedikasikannya untuk tetap
menciptakan baju tersebut, serta dengan anggapan dirinya mampu mengubah pola pikir
remaja, yang dahulu tak suka baju full-print, sekarang suka. Mengingat tidak semua
remaja laki-laki suka baju full-print, penjual yang menjual produk baju full-print
harganya banyak yang miring, hingga banyak remaja yang belum tahu akan keberadaan
baju tersebut, namun Pak Alfa tetap berani untuk mengambil resiko. Yang penting
dirinya berusaha.
3. Orisinalitas atau Keaslian, Keaslian ide, gagasan, pemikiran, serta keputusan, bisa
didapat dengan luasnya wawasan dan kemampuan dalam berpikir kreatif, serta melihat
peluang yang ada. Orisinalitas bisa saja muncul dari kemampuan, untuk selalu
menuangkan imajinasi dalam setiap pekerjaannya, keinginan untuk selalu tampil beda
atau selalu memanfaatkan perbedaan, mempunyai mental yang begitu positif dan
didukung dengan pola pikir kreatif. Karya yang original juga hanya bisa dihasilkan oleh
sosok-sosok entrepreneur yang mempunyai keahlian di bidangnya, serta rajin dalam
mencoba berbagai macam hal-hal baru yang begitu inovatif.
Contoh Orisinalitas atau Keaslian: Pola pikir asli memang biasanya akan muncul di
dalam diri atau benak, saat kita melihat suatu produk yang menarik dan laris di pasaran.
Dengan sengaja untuk melihat-lihat dan meriset produk apa saja yang laku dan laris di
pasaran, maka Pak Alfa mengamati sedemikian rupa dan serinci mungkin apa yang
diminati oleh konsumen di pasaran. Setelah mengamati, dirinya terlintas akan membuat
produk yang jauh lebih menarik lagi. Pola pikir tersebut yang selanjutnya ia kembangkan
menjadi sebuah produk baru yang begitu menarik, lebih dari apa yang dijual laris di
pasaran. Tidak hanya itu saja, Pak Alfa juga menggunakan teknik ATM. Apa itu teknik
ATM? Amati, Tiru, Modifikasi. Dengan mengamati, setelah itu meniru, dan yang terakhir
memodifikasi jauh lebih bagus dan lebih layak lagi untuk konsumen. Yang terpenting,
produk dari Pak Alfa tidaklah menjiplak, melainkan memodifikasi, yang menjadi salah
satu bagian terpenting dari kreativitas dan inovasi yang dimiliki oleh Pak Alfa. Yang
terpenting, asli (original).
4. Berorientasi pada Tugas dan Hasil, Seseorang yang selalu mengumatamakan tugas dan
hasil, merupakan sosok yang selalu mengutamakan nilai-nilai motif berprestasi,
berorientasi pada laba, ketekunan, serta kerja keras. Di dalam suatu kewirausahaan,
peluang hanya akan didapat atau diperoleh jika orang tersebut memiliki inisiatif. Perilaku
inisiatif yang muncul seperti inilah, yang biasanya didapatkan berdasar dari pengalaman
dan pengembangannya, yang didapat dengan cara disiplin diri, berpikir kritis, cepat
tanggap, bergairah, dan memiliki rasa semangat berprestasi.
Contoh Berorientasi pada Tugas dan Hasil: Selaku entrepreneur yang baru terjun, Pak
Alfa selalu menjalankan tugasnya dengan seksama, mulai dari A hingga Z, tidak ada
yang terlewat. Dirinya sudah memiliki strategi manajemen yang baik, seperti manajemen
waktu, manajemen operasional, dan lain sebagainya, sehingga Pak Alfa tinggal
menunggu hasil yang didapat dari segala tugas yang sudah diterapkan atau dilakukan
tersebut. Tugas-tugas yang memang menjadi kewajibannya tak akan pernah dilalaikan.
Sementara itu, kini giliran melihat hasil apa yang didapat oleh Pak Alfa. Pak Alfa
meneliti lebih dalam dan lebih jauh lagi mengenai produk baju remaja pria miliknya, apa
yang paling banyak dibeli, dipilih dan ukuran apa yang banyak peminatnya. Dari hasil
tersebut, Pak Alfa melakukan riset ulang demi kelancaran usahanya. Karena tak mungkin,
dirinya akan bertahan dengan stok itu-itu terus, sementara permintaan pasar jauh lebih
banyak dan berminat terhadap produk tertentu yang dimiliki oleh Pak Alfa.
5. Berjiwa Pemimpin, Kepemimpinan merupakan suatu sikap yang dimiliki oleh seorang
pemimpin, diantaranya seperti :
 Mempunyai visi dan misi yang jelas
 Mempunyai integritas dan kejujuran yang tinggi
 Handal berkomunikasi dengan baik
 Mampu menjadi teladan bagi orang lain atau karyawannya
 Memiliki sikap yang rendah hati
 Mau mendengar
 Mampu memberikan motivasi kepada orang lain untuk melakukan tugasnya
 Bersikap/berlaku dengan adil
Seorang entrepreneur harus bisa mempunyai sifat kepemimpinan, kepeloporan, dan
keteladanan. Dirinya harus selalu bisa menampilkan produk dan jasa-jasa yang lebih
baru, serta berbeda, sehingga dirinya bisa menjadi pelopor yang baik dalam proses
edukasi ataupun pemasaran, serta selalu memanfaatkan perbedaan, sebagai salah satu
bentuk yang mampu menambah nilai.
Contoh Berjiwa Pemimpin: Berjiwa pemimpin tak hanya dimiliki dalam diri seorang
kepala keluarga, ketua kelas, pemerintah saja, melainkan juga setiap orang berhak dan
wajib memiliki sikap kepemimpinan yang tinggi. Saat penjualan mulai lesu, maka jiwa
kepemimpinan Pak Alfa keluar. Dirinya akan banting tulang dan putar otak, melakukan
analisis terlebih dahulu mengapa produknya lesu. Tak lama kemudian, dirinya segera
menyiapkan strategi baru yang lebih baik lagi. Sementara itu, saat dirinya mengelola
karyawan atau pegawai, Pak Alfa tak hanya menyuruh saja, melainkan gemar untuk
saling membantu akan kesulitan atau keluh kesah dari karyawan. Sikap ini menjadikan
dirinya sebagai seorang pemimpin, bukan seorang bos yang tinggal leyeh-leyeh. Jiwa
kepemimpinan yang tinggi juga diperlihatkan oleh Pak Alfa, saat dirinya berani dan tegas
dalam mengambil keputusan, walaupun ini beresiko (bisa saja membuat bisnisnya gulung
tikar). Tapi, begitulah pola pikirnya dan jiwanya, resiko itu memang harus dilalui, namun
jangan sampai gulung tikar, karena manusia memang diberkahi wujud dan pola pikir
yang mumpuni. Contohnya, saat ada konsumen dari luar kota meminta return barang,
dirinya menanyakan kenapa return, ternyata konsumen tersebut dibawakan pakaian yang
berukuran terlalu kecil. Tanpa pikir panjang, Pak Alfa langsung memprosesnya lebih
lanjut.
6. Berorientasi ke Masa Depan, Masa depan memang mempunyai berbagai macam peluang
dan tantangan yang begitu berbeda dengan yang terjadi di saat ini. Seorang dengan
kewirausahaan, berani dalam melihat peluang dan tantangan, tidak hanya saat ini,
emalinkan juga yang ada di masa depan. Sementara itu, salah satu indikator atau tanda
seseorang mempunyai jiwa entrepreneurship atau jiwa kewirausahaan ialah mampu
dalam membuat usaha bisnisnya sendiri, menjadi seorang entrepreneur. entrepreneur
dalam bidang teknologi transportasi dan logistik, bisa menjadikan entrepreneur yang
mampu menghasilkan produk, entrepreneur penjual produk atau entrepreneur yang
mampu memberikan jasa perbaikan produk teknologi transportasi dan logistik.
Keberhasilan entrepreneur ialah saat usaha yang dilakukan, mampu memberikan
keuntungan atau laba, bisa mempekerjakan banyak orang, mampu memberikan manfaat
untuk lingkungan yang di sekitarnya, serta mampu memberikan kontribusi terhadap
kemajuan bangsa dan negaranya.
Contoh Berorientasi ke Masa Depan: Saat ini, Pak Alfa sedang menjualkan produknya
yaitu baju remaja laki-laki, dengan sebagian besar produk yang diproduksi dan
dipasarkan ialah baju full-print. Namun, pola pikir cemerlangnya tak pernah habis.
Dirinya selalu melakukan ekspansi ke berbagai tempat atau toko, serta melihat melalui
online, untuk menganalisis produk-produk yang kian diminati dan akan menjadi trend di
masa depan. ternyata, Pak Alfa menemukan trend yang akan berkembang, yaitu celana
pendek. Ternyata, banyak remaja laki-laki sekarang ini mengenakan celana pendek, entah
itu sekadar bepergian, liburan dan lain sebagainya. Ternyata, prospek dari celana pendek
ini mengesankan di masa depan. Maka dari itu, Pak Alfa kembali melakukan riset awal
untuk celana pendek. Hingga pada akhirnya, koleksi Pak Alfa lengkap, menjual baju dan
celana pendek remaja pria.
7. Semangat dan Tekad yang Kuat, Seorang bisa dikatakan entrepreneur apabila selain
berani mengambil resiko, dirinya juga mempunyai semangat dan kemauan bekerja lebih
keras demi hasil yang lebih optimal di masa yang akan datang. Jiwa semangat itu penting,
terlebih saat dimulai pada awal hari, misal pada pagi hari. Berjiwa semangat, haruslah
tertanam di dalam jiwa seorang entrepreneur. jika seorang entrepreneur mempunyai jiwa
semangat yang tinggi, maka niscaya dalam melakukan segala hal, dirinya akan terus tetap
bertekad untuk bekerja keras, demi dirinya, keluarganya, hingga karyawannya. Semangat
yang muncul itulah yang membuat entrepreneur jauh lebih tangguh dan jauh lebih berani
dari yang sebelumnya.
Contoh Semangat dan Tekad yang Kuat: Pak Alfa selalu memiliki jiwa semangat dan
tekad yang kuat, dengan memasarkan produknya, semangat itu terus tetap tumbuh di
dalam jiwanya. Dirinya selalu ingat akan keluarga yang ada di rumah yang selalu
bertumpu pada dirinya, serta karyawan yang sebisa mungkin harus bisa sejahtera, karena
Pak Alfa membuka lapangan kerja untuk orang lain. Suatu hal yang positif tentunya.
Dengan semangat yang tumbuh, tentu akan mengalirkan darah yang positif di dalam
tubuh, terutama memberikan asupan yang baik bagi otak, jika kita saja bersemangat,
apalagi diri kita dan jiwa kita. Pak Alfa memulai semangatnya di pagi hari, dari rumah,
setelah itu dia menyalurkan ke tempat kerja miliknya kepada karyawan yang ada di sana.
Sungguh luar biasa, karena reflek yang dihasilkan begitu menakjubkan dan tak akan
mengecewakan. Tak lagi ada kata loyo, lemas, yang ada hanyalah semangat dan terus
tetap semangat.
8. Analisis yang Tepat, Analisis bisa dikatakan sebuah kajian yang begitu mendalam
terhadap suatu hal, di mana dengan melakukan kegiatan analisis, kita bisa bereaksi
terhadap hal yang dianalisis. Analisis yang tepat juga diperlukan dalam sebuah
entrepreneur, demi menjaga keberlangsungan usaha dengan tetap baik dan lancar
sebagaimana mestinya. Tidak melulu soal riset, produksi, pemasaran dan pengemasan,
melainkan analisis juga dibutuhkan karena mengingat analisis hal yang begitu vital
peranannya dalam sebuah entrepreneur. Coba bayangkan, tanpa adanya analisis yang
tepat, usaha atau bisnis yang dijalankan pasti akan terasa begitu hambar, tak ada rasanya,
ibarat seperti diam saja di tempat. Analisis juga dibutuhkan untuk memahami, apa yang
disukai konsumen. Misal, ternyata konsumen suka dengan pola seperti ini, jangan sampai
salah kaprah analisisnya, karena bisa berakibat suatu kerugian.
Contoh Analisis yang Tepat: Setelah Pak Alfa memperluas cakupan jualannya, dari yang
hanya baju saja, kini giliran merambah ke celana pendek remaja pria. Mengingat,
bisnisnya yang baju itu masih terus tetap berkembang, maka Pak Alfa tak diam saja untuk
mencoba mengembangkan celana pendek remaja pria yang baru saja dirintis dengan
usaha miliknya sebelumnya. Pak Alfa melakukan analisis, ternyata berdasar hasil yang
didapat, kebanyakan remaja pria lebih menyukai celana yang memiliki bahan kain,
ketimbang jeans. Setelah diteliti dan dianalisis lebih dalam lagi, ternyata celana berbahan
dasar kain lebih nyaman digunakan dan enak untuk dipandang, dibandingkan berbahan
jeans, yang agak panas saat digunakan dan tak nyaman jika digunakan terlalu lama. Dari
analisis itulah, Pak Alfa memproduksi lebih banyak celana kain pendek dengan rasio
70:30, celana kain pendek 70% dan celana jeans pendek 30%. Ternyata, pasar begitu
meminatinya, sungguh berhasil analisisnya.
9. Tidak Konsumtif, Ya, salah satu penyakit masyarakat yang satu ini memang susah untuk
dihilangkan. Tak hanya wirausahawan saja, melainkan orang-orang biasa juga sekarang
suka dengan perilaku konsumtif. Misal, jika dagangannya laku untuk pertama kalinya,
langsung makan-makan. Jika produknya diborong langsung hingga jutaan rupiah, setelah
itu dibelikan untuk membuat fashion yang sedang trendy. Bagaimana lagi, perilaku
konsumtif ini sudah menderu masyarakat, khususnya entrepreneur. Maka dari itu,
seorang entrepreneur yang handal, sebisa mungkin untuk memperkecil rasio konsumtif
(pengeluaran) dan memperbesar rasio bisnisnya agar lebih maju. Sekali dua kali memang
tak mengapa, namun jika sudah berlebihan, itu sama saja memangkas keuntungan, yang
mana untuk balik modalnya tambah lama lagi.
Contoh Tidak Konsumtif: Pak Alfa memang sosok pribadi yang menggemari analisis
terhadap pasar, entah itu berkunjung langsung ke tempatnya atau melihat dari online. Saat
berkunjung langsung ke toko, dirinya tak konsumtif, hanya memiliki 1 atau 2 macam
barang saja, untuk dijadikan sebagai contoh produk yang sedang laris. Setelah itu,
diterapkan dalam usaha atau bisnisnya. Sementara itu, saat menganalisis secara online,
Pak Alfa juga memberi 2 barang dari 2 tempat jualan online yang berbeda (tidak sama).
Dirinya akan mengamati dari kedua produk berbeda tersebut, apa yang menjadi ciri khas,
serta, bagaimana pengemasannya. Untuk keluarga dan karyawannya sendiri juga tak
konsumtif, hemat dalam artian tak pelit. Sementara itu, untuk karyawan yang
mendedikasikan tinggi untuk Pak Alfa, semisal memiliki target yang terpenuhi, akan
diberikan imbalan yang sesuai, demi meningkatkan kinerja sang karyawan.
10. Mandiri atau Tak Ketergantungan, Sifat atau karakteristik entrepreneur yang selanjutnya
ialah kemampuan dalam menciptakan sesuatu yang lebih baru dan lebih berbeda, melalui
pola pikir kreatif dan inovatif. Untuk apa berpikir kreatif dan bertindak inovatif?
Tentunya demi menciptakan sebuah peluang dan menghadapi berbagai macam tantangan
yang menghadang. Seorang entrepreneur harus kreatif dalam mengembangkan segala ide
dan pikirannya, terutama dalam menciptakan suatu peluang usaha. Dirinya bisa mandiri
dalam menjalankan usaha yang digeluti, tanpa harus bergantung terhadap orang lain.
Contoh Mandiri atau Tak Ketergantungan: Mandiri di sini memiliki maksud jika sang
wirausahawan juga bisa melaksanakan tugas yang dibebankan oleh karyawannya,
sehingga nanti karyawannya sedang halangan, sang wirausahawan mampu
meminimalisirnya. Pak Alfa tak akan lagi kebingungan karena memang dirinya bisa
dikatakan sebagai sosok yang ahli dalam bisnis. Terbukti, saat salah satu staf
pemasarannya berhalangan hadir, dirinya tak mau ambil resiko. Apa yang dilakukan oleh
Pak Alfa? Dia double kerjanya! Selain mengurus bisnis, dirinya juga ikut serta bersama
dengan karyawan lain, untuk membantu pemasaran. Dia melakukan hal tersebut karena
memang mempunyai skill atau keterampilan tinggi soal bisnis. Jadi, Pak Alfa sama sekali
tak gagap saat ada karyawan yang berhalangan hadir. Tak membebankan karyawan lain,
melainkan dirinya akan ikut turun tangan bersama.
11. Mempunyai Kemampuan Manajerial, Seorang entrepreneur harus bisa memiliki
kemampuan dalam merencanakan, mengorganisasikan, memvisualisasikan, mengelola
sumber daya, mengontrol usaha, hingga mengintegrasikan operasi perusahaannya. Semua
itu menjadi salah satu bentuk dari kemampua manajerial yang memang wajib dimiliki
oleh seorang entrepreneur. Tanpa adanya kemampuan manajerial, bukan suatu
keberhasilan yang akan didapat, melainkan kegagalan usaha, yang nantinya akan
menggerogoti secara perlahan menuju kebangkrutan.
Contoh Mempunyai Kemampuan Manajerial: Seperti yang sudah dijelaskan di atas,
wirausahawan yang cerdik, tak akan ambil pusing terhadap permasalahan yang dihadapi.
Saat karyawan bagian pemasaran online, Pak Alfa bisa mengantisipasi. Saat karyawan
bagian pengemasan berhalangan hadir, Pak Alfa juga mengantisipasi. Istilahnya, sosok
atau peran dari Pak Alfa itu sosok yang mau mengikuti arus perkembangan zaman yang
positif, bukan yang negatif. Kemampuan manajerial keuangan yang dimilikinya, ia
tularkan kepada karyawannya. Jika karyawan bagian keuangan sedang berhalangan hadir,
bisa diantisipasi, begitu seterusnya, tanpa harus pusing.
12. Target yang Realistis, Realistis memiliki arti cara berpikir yang penuh dengan segala
bentuk perhitungan dan disesuaikan dengan kemampuan yang ada atau kemampuan yang
dimiliki oleh entrepreneur atau pegawainya. Dengan pemikiran realistis, maka ide atau
gagasan yang diajukan bukan hanya menjadi angan-angan atau mimpi belaka. Dengan
target realistis juga tak terlalu membebankan dan memberatkan diri. Misal saja ingin
omzet Rp 500 juta di bulan ini. Memang benar, penjualannya laris. Tapi, dengan target
yang tak realistis semacam itu, walau laris sekalipun, justru malah membebankan diri
sendiri dan menyakiti diri sendiri.
Contoh Target yang Realistis: Pak Alfa memang saat ini, bisnis baju remaja pria dan
celana pendek pria sudah memiliki omzet, kurang lebih Rp 50 juta per bulannya.
Sementara itu, dirinya tak ingin realistis untuk mematok target omzet hingga Rp 100 juta
di bulan depan. Pak Alfa cukup mematok target Rp 60 juta di bulan depan. Ternyata
benar, target di bulan depan terealisasi, mencapai hingga Rp 75 juta. Dirinya tak muluk-
muluk dan tak serakah, sehingga tak membebankan dirinya sendiri, apalagi karyawannya.
Pak Alfa sadar untuk mencapai target hingga Rp 100 juta itu tak mudah dan butuh waktu
berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun lamanya. Dirinya mengingat jika yang
namanya sebuah bisnis, tentu bisa naik dan bisa juga turun. Maka dari itu, Pak Alfa lebih
memilih untuk realistis.
13. Mampu Mengendalikan Emosi, Seorang entrepreneur sejati harus mampu untuk
mengendalikan dirinya sendiri dari berbagai macam amarah atau emosi yang timbul,
entah itu karena faktor internal ataupun faktor eksternal. Tetap tenang dalam menghadapi
sebagai macam masalah yang datang, bahkan saat masalah datang silih berganti dan
bertubi-tubi, sehingga bisa membuat diri menjadi lebih terasah dan bisa menjadi sosok
pemimpin yang jauh lebih baik lagi ke depannya. Tentu, dalam sebuah bisnis, pasti ada
saja masalah yang dihadapi. Sebagai seorang entrepreneur, harus tahu bagaimana cara
menyikapi, sehingga bisa membuat diri kita betah untuk tetap menjalankan usaha dan
karyawan yang tetap betah.
Contoh Mampu Mengendalikan Emosi: Saat itu, produksi celana pendek remaja pria
milik Pak Alfa sedang bermasalah. Ternyata, kain yang dibeli dari pabrik, agak sedikit
berbeda dari yang sebelumnya. Jika kain yang sebelumnya itu tidak tipis dan tidak tebal,
sehingga mudah untuk dibentuk, sementara untuk sekarang ini, kain yang diterima lebih
tipis, sehingga lebih mudah jebol dan mudah kusut. Di sinilah peran penting sang
wirausahawan dengan melakukan cross check secara lebih lanjut kepada pabrik yang
memproduksi kain. Jika memang tak ada tanggapan, bukan dengan emosi, melainkan
berusaha dan menunggu beberapa saat. Apabila ternyata si produksi kain tersebut
mengelak, inilah tanggung jawab Pak Alfa lebih besar lagi, harus bisa mencari produksi
kain yang sepadan seperti sebelumnya untuk kembali melanjutkan produksi celana,
karena pabrik yang sebelumnya, terbukti curang untuk menghemat biaya produksi kain.

http://www.habibullahurl.com/2018/07/sifat-atau-karakteristik-wirausahawan.html