Anda di halaman 1dari 42

Æ Æ

   


‘ Æ  

Daerah pegunungan Selatan pulau Jawa adalah suatu fenomena geologi


yang sangat menarik untuk diteliti. Di lokasi perbukitan Jiwo, pegunungan Selatan
bagian Barat banyak tersingkap batuan-batuan dari formasi yang terbentuk di
masa lampau, termasuk batuan metamorf yang merupakan batuan tertua di pulau
Jawa sebagai batuan dasar (basement rock) dari pulau Jawa. Oleh karena itu para
peneliti geologi termasuk praktikan Geologi Struktur dari program studi Geofisika
UGM yang dipandu oleh asisten dan dosen dari program studi Tenik Geologi
UGM melakukan penelitian guna memperkenalkan lithologi, struktur geologi di
lapangan serta sejarah terbentuknya.


‘ u    

ºield Trip Geologi Struktur di Pegunungan Bayat dimaksudkan untuk


memperkenalkan kepada praktikan mengenai berbagai fenomena struktur geologi
seperti lipatan, sesar, kekar, gores-garis dan struktur-struktur lainnya.
Tujuan dari kegiatan fieldtrip geologi struktur ini adalah praktikan mampu
mengukur arah dan besar sudut pada suatu kekar baik kekar berapasangan maupun
tidak dan sesar serta menentukan jenisnya, mampu mengukur arah dan besar sudut
suatu lipatan serta menentukan jenisnya, mampu mendeskripsikan batuan
sehingga dapat menentukan urutan umur lapisan batuan, mampu menentukan arah
pergerakan sesar sehingga dapat ditentukan jenisnya, mampu merekonstruksi dan
menganalisa suatu kekar, sesar, dan lipatan sehingga dapat ditentukan arah gaya,
jenis, dan proses terbentuknya.


‘ è    u 

ñegiatan ºieldtrip ini dilaksanakan pada hari sabtu tanggal 11 desember


2010 yang bertempat di 3 lokasi pengamatan di kecamatan Bayat, kabupaten
ñlaten, propinsi Jawa Tengah. Lokasi Stasiun pengamatan 1 berada di desa
Semen dekat dengan perbatasan antara kecamatan Bayat, ñlaten dengan

cPa ge
kabupaten Gunungkidul DIY. Lokasi Stasiun pengamatan 2 di situs Jokotuo, desa
Gununggajah dan lokasi tasiun pengamatan 3 berada di gunung ñampak, desa
Modjopereng.


‘    

Dalam kegiatan J   ini digunakan peralatan-peralatan tertentu untuk


menunjang aktivitas di lapangan. Peralatan-peralatan yang digunakan antara lain :

1.‘ Peta topografi, digunakan untuk menentukan lokasi dan untuk mengetahui
keadaan topografi lapangan.
2.‘ ñompas geologi, digunakan untuk menentukan arah mata angin, mengetahui
posisi pada peta, menentukan arah jurus lapisan batuan (strike), dan derajat
kemiringan (dip).
3.‘ Palu geologi, terdiri dari dua mata palu, yaitu :
a.‘ Bagian runcing yang berfungsi untuk pengambilan sampel dengan cara
mencongkel.
b.‘ Bagian tumpul yang berfungsi untuk pengambilan sampel dengan cara
memecahnya
4.‘ Lup, digunakan untuk melihat objek yang secara makroskopis sukar dilihat
atau dideskripsi, terutama yang menyangkut mineral penyusun batuan.
5.‘ Larutan HCl, digunakan untuk mengetahui kandungan mineral karbonat
(CaCO3) pada batuan yang diamati dengan cara meneteskannya pada batuan
tersebut.
6.‘ ñantong plastik sampel, digunakan untuk menyimpan sampel batuan.
7.‘ ñamera digital, digunakan untuk mendokumentasikan batuan dan keadaan
geologi di lapangan.
8.‘ ñertas HVS dan 0  
 untuk mencatat (mengambil data) hasil
pengamatan di lapangan.
9.‘ Ýlat tulis lengkap (pensil, bollpoint, busur derajat, karet penghapus,
penggaris segitiga, dan pensil warna) merupakan kelengkapan alat untuk
memperoleh data.
10.‘ Pakaian, tas, sepatu, dan topi lapangan.
11.‘ Mantel.

£Pa ge
Æ Æ

   


‘ u    

Perbukitan Jiwo merupakan   dari batuan  


 dan 
 di
sekitar endapan 

, terutama terdiri dari endapan J  0
0 yang
berasal dari G. Merapi. Elevasi tertinggi dari puncak-puncak yang ada tidak lebih
dari 400 m di atas muka air laut, sehingga perbukitan tersebut merupakan suatu
perbukitan rendah.

Perbukitan Jiwo dibagi menjadi dua wilayah yaitu Jiwo Barat dan Jiwo
Timur yang keduanya dipisahkan oleh Sungai Dengkeng secara
0 .
Sungai Dengkeng sendiri mengalir mengitari komplek Jiwo Barat, semula
mengalir ke arah    , berbelok ke arah 
 kemudian ke  
memotong perbukitan dan selanjutnya mengalir ke arah  
. Sungai
Dengkeng ini merupakan pengering utama dari dataran rendah di sekitar
Perbukitan Jiwo.Gambar 4.2. Pembagian fisiografi daerah Bayat di mana
Perbukitan Jiwo Barat dan Timur dipisahkan oleh Sungai Dengkeng

Dataran rendah ini semula merupakan rawa-rawa yang luas akibat air yang
mengalir dari lembah G. Merapi tertahan oleh Pegunungan Selatan. Genangan air
ini, di utara Perbukitan Jiwo mengendapkan pasir yang berasal dari lahar.
Sedangkan di selatan atau pada bagian lekukan antarbukit di Perbukitan Jiwo
merupakan endapan air tenang yang berupa lempung hitam, suatu sedimen Merapi
yang subur ini dikeringkan (direklamasi) oleh pemerintah ñolonial Belanda untuk
dijadikan daerah perkebunan. Reklamasi ini dilakukan degan cara membuat
saluran-saluran yang ditanggul cukup tinggi sehingga air yang datang dari arah G.
Merapi akan tertampung di sungai sedangkan daerah dataran rendahnya yang
semula berupa rawa-rawa berubah menjadi tanah kering yang digunakan untuk
perkebunan. Sebagian dari rawayang semula luas itu disisakan di daerah yang
dikelilingi Puncak Sari, Tugu, dan ñampak di Jiwo Barat, dikenal sebagai Rawa

ÑPa ge
Jombor. Rawa yang disisakan itu berfungsi sebagai tendon untuk keperluan irigasi
darah perkebunan di dataran sebelah utara Perbukitan Jiwo Timur.

Untuk mengalirakan air dari rawa-rawa tersebut, dibuat saluran buatan dari
sudut   rawa-rawa menembus perbukitan batuan metamorfik di G. Pegat
mengalir ke timur melewati Desa Sedan dan memotong Sungai Dengkeng lewat
aqueduct di sebelah seatan Jotangan menerus ke arah timur.

Daerah perbukitan yang tersusun oleh batugamping menunjukkan


perbukitan memanjang dengan punggung yang tumpul sehingga kenampakan
punca-puncak tidak begitu nyata. Tebing-tebing perbukitannya tidak terlalu
terbiku sehingga alur-alurnya tidak banyak dijumpai (Perbukitan Bawak-Temas di
Jiwo Timur dan Tugu-ñampak di Jiwo Barat). Untuk daerah yang tersusun oleh
batuan metamorfik perbukitannya menunjukkan relief yang lebih nyata dengan
tebing-tebing yang terbiku kuat. ñuatnya hasil penorehan tersebut menghasilkan
akumulasi endapan hasil erosi di kaki perbukitan ini yang dikenal sebagai
0 
. Puncak-puncak perbukitan yang tersusun dari batuan metamorfik
terlihat menonjol dan beberapa diantaranya cenderung berbentuk kerucut seperti
puncak Jabalkat dan puncak Semanggu. Daerah degan relief kuat ini dijumpai
daerah Jiwo Timur mulai dari puncak ñonang kea rah timur hingga puncak
Semanggu dan Jokotuo. Daerah di sekitar puncak Pendul merupakan satu-satunya
tubuh bukit yang seluruhnya tersusun oleh batuan beku. ñondisi morfologinya
cukup kasar mirip perbukitan metamorfik namun relief yang ditunjukkan
puncaknya tidak sekuat perbukitan metamorfik.

Æ

Jiwo Barat terdiri dari deretan perbukitan G. ñampak, G. Tugu, G. Sari, G.


ñebo, G. Merak, G. Cakaran, dan G. Jabalkat. G. ñampak dan G. Tugu memiliki
litologi batugamping berlapis, putih kekuningan, kompak, tebal lapisan 20 ± 40
cm. Di daerah G. ñampak batugamping tersebut sebagian besar merupakan suatu
tubuh yang massif, menunjukkan adanya asosiasi dengan kompleks terumbu
(J). Di antara G. Tugu dan G. Sari batugamping tersebut mengalami kontak
langsung dengan batuan metamorfik ( 0
0 ).

-Pa ge
Daerah Jiwo Barat memiliki puncak-puncak bukit berarah utara-selatan
yang diwakili oleh puncak Jabalkat, ñebo, Merak, Cakaran, Budo, Sari, dan Tugu
dengan di bagian paling utara membelok ke arah barat yaitu G. ñampak.

Batuan metamorf di daerah ini mencakup daerah di sekitar G. Sari, G.


ñebo, G. Merak, G. Cakaran, dan G. Jabalkat yang secara umum berupa sekis
mika, filit, dan banyak mengandung mineral kuarsa. Di sekitar daerah G. Sari, G.
ñebo, dan G. Merak pada sekis mika tersebut dijumpai bongkah-bongkah andesit
dan mikrodiorit. Zona-zona lapukannya berupa spheroidal weathering yang
banyak dijumpai di tepi jalan desa. Batuan beku tersebut merupakan batuan
terobosan yang mengenai tubuh sekis mika . singkapan yang baik dijumpai di
dasar sungai-sungai kecil yang menunjukkan kekar kolom (0 
 ).

Batuan metamorfik yang dijumpai juga berupa filit sekis klorit, sekis talk,
terdapat mieral garnet, kuarsit serta marmer di sekitar G. Cakaran, dan G.
Jabalkat. Sedangkan pada bagian puncak dari kedua bukit itumasih ditemukan
bongkah-bongkah konglomerat kuarsa. Sedangkan di sebelah barat G. Cakaran
pada area pedesaan di tepian Rawa Jombor masih dapat ditemukan sisa-sisa
konglomerat kuarsa serta batupasir. Sampai saat ini batuan metamorfik tersebut
ditafsirkan sebagai batuan berumur  
, sedagkan batupasir dan
konglomerat dimasukkan ke dalam ºormasi Wungkal.

Di daerah ini dijumpai dua   (  


  ) masing-masing di bukit
Wungkal dan bukit Salam. Bukit Wungkal semakin lama semakin rendah akibat
penggalian penduduk untuk mengambil batu asah (batu wungkal) yang terdapat di
bukit tersebut.

  !

Daerah ini mencakup sebelah timur Sungai Dengkeng yang merupakan


deretan perbukitan yang terdiri dari Gunung ñonang, Gunung Pendul, Gunung
Semangu, Di lereng selatan Gunung Pendul hingga mencapai bagian puncak,
terutama mulai dari sebelah utara Desa Dowo dijumpai batu pasir berlapis, kadang
kala terdapat £ragmen sekis mika ada di dalamnya. Sedangkan di bagian timur

 Pa ge
Gunung Pendul tersingkap batu lempung abu-abu berlapis, keras, mengalami
deformasi lokal secara kuat hingga terhancurkan.

Hubungan antar satuan batuan tersebut masih memberikan berbagai


kemungkinan karena kontak antar satuan terkadang tertutup oleh koluvial di
daerah dataran. ñepastian stratigrafis antar satuan batuan tersebut barn dapat
diyakini jika telah ada pengukuran umur absolut. Walaupun demikian berbagai
pendekatan penyelidikan serta rekontruksi stratigrafis telah banyak dilakukan oleh
para ahli.

Daerah perbukitan Jiwo Timur mempunyai puncak-puncak bukit berarah


barat-timur yang diwakili oleh puncak-puncak ñonang, Pendul dan Temas,
Gunung J okotuo dan Gunung T emas.

Gunung ñonang dan Gunung Semangu merupakan tubuh batuan sekis-


mika, berfoliasi cukup baik, sedangkan Gunung Pendul merupakan tubuh intrusi
mikrodiorit. Gunung Jokotuo merupakan batuan metasedimen (marmer) dimana
pada tempat tersebut dijumpai tanda-tanda struktur pense saran. Sedangkan
Gunung Temas merupakan tubuh batu gamping berlapis.

Di sebelah utara Gunung Pendul dijumpai singkapan batu gampmg


nummulites, berwarna abu-abu dan sangat kompak, disekitar batu gamping
nummulites tersebut terdapat batu pasir berlapis. Penyebaran batugamping
nummulites dijumpai secara setempat-setempat terutam di sekitar desa Padasan,
dengan percabangan ke arah utara yang diwakili oleh puncak Jopkotuo dan
Bawak.

Di bagian utara dan tenggara Perbukitan Jiwo timur terdapat bukit terisolir
yang menonjol dan dataran aluvial yang ada di sekitamya. Inlier (isolited hill) ini
adalah bukit Jeto di utara dan bukit Lanang di tenggara. Bukit Jeto secara umum
tersusun oleh batu gamping Neogen yang bertumpu secara tidak selaras di atas
batuan metamorf, sedangkan bukit Lanang secara keseluruhan tersusun oleh batu
gamping Neogen.

ÎPa ge

‘     

Penamaan satuan litostratigrafi Pegunungan Selatan termasuk perbukitan


Jiwo didalamnya telah banyak dikemukakan oleh beberapa peneliti. Urutan
stratigrafi Pegunungan Selatan bagian barat telah diteliti antara lain oleh Bothe
(1929), van Bemmelen (1949), Sumarso dan Ismoyowati (1975), Sartono (1964),
Nahrowi, dkk (1978) dan Suyoto (1992) serta Wartono dan Surono dengan
perubahan (1994).

"# 

. Tatanan Stratigrafi Pegunungan Selatan dari beberapa
penulis.

Secara stratigrafi, urutan satuan batuan dari tua ke muda menurut


penamaan litostratifrafi menurut Wartono dan Surono dengan perubahan
(1994) adalah :

åPa ge
1.‘ ºormasi Wungkal-Gamping

Lokasi tipe formasi ini terletak di G. Wungkal dan G. Gamping,


keduanya di Perbukitan Jiwo. Satuan batuan Tersier tertua di daerah
Pegunungan Selatan ini di bagian bawah terdiri dari perselingan antara
batupasir dan batulanau serta lensa batugamping. Pada bagian atas,
satuan batuan ini berupa napal pasiran dan lensa batugamping. ºormasi
ini tersebar di Perbukitan Jiwo, antara lain di G. Wungkal, Desa
Sekarbolo, Jiwo Barat, menpunyai ketebalan sekitar 120 meter.
Sebagian dari satuan batuan ini semula merupakan endapan laut
dangkal yang kaya akan fosil. ñarena pengaruh gaya berat di lereng
bawah laut, formasi ini kemudian meluncur ke bawah dan diendapkan
kembali di laut dalam sehingga merupakan   0 J




(Rahardjo, 1980). ºormasi ini tersebar luas di Perbukitan Jiwo dan ñ.
Oyo di utara G. Gede, menindih secara tidak selaras batuan metamorf
serta diterobos oleh Diorit Pendul dan di atasnya, secara tidak selaras,
ditutupi oleh batuan sedimen klastika gunungapi ( 0
0
 0
  ) yang dikelompokkan ke dalam ºormasi ñebo-Butak,
ºormasi Semilir, ºormasi Nglanggran dan ºormasi Sambipitu.

2.‘ ºormasi ñebo-Butak

Lokasi tipe formasi ini terletak di G. ñebo dan G. Butak yang


terletak di lereng dan kaki utara gawir Baturagung. Litologi penyusun
formasi ini di bagian bawah berupa batupasir berlapis baik, batulanau,
batulempung, serpih, tuf dan aglomerat. Bagian atasnya berupa
perselingan batupasir dan batulempung dengan sisipan tipis tuf asam.
Setempat di bagian tengahnya dijumpai retas lempeng andesit-basal
dan di bagian atasnya dijumpai breksi andesit.

Lingkungan pengendapannya adalah laut terbuka yang dipengaruhi


oleh arus turbid. ºormasi ini tersebar di kaki utara Pegunungan
Baturagung, sebelah selatan ñlaten dan diduga menindih secara tidak

üPa ge
selaras ºormasi Wungkal-Gamping serta tertindih selaras oleh ºormasi
Semilir. ñetebalan dari formasi ini lebih dari 650 meter.

3.‘ ºormasi Semilir

ºormasi ini berlokasi tipe di G. Semilir, sebelah selatan ñlaten.


Litologi penyusunnya terdiri dari tuf, tuf lapili, lapili batuapung, breksi
batuapung dan serpih. ñomposisi tuf dan batuapung tersebut bervariasi
dari andesit hingga dasit. Di bagian bawah satuan batuan ini, yaitu di
ñ. Opak, Dusun Watuadeg, Desa Jogotirto, ñec. Berbah, ñab. Sleman,
terdapat andesit basal sebagai aliran lava bantal. Penyebaran lateral
ºormasi Semilir ini memanjang dari ujung barat Pegunungan Selatan,
yaitu di daerah Pleret-Imogiri, di sebelah barat G. Sudimoro,
Piyungan-Prambanan, di bagian tengah pada G. Baturagung dan
sekitarnya, hingga ujung timur pada tinggian G. Gajahmungkur,
Wonogiri. ñetebalan formasi ini diperkirakan lebih dari 460 meter.

ºormasi Semilir ini menindih secara selaras ºormasi ñebo-Butak,


namun secara setempat tidak selaras (van Bemmelen, 1949). ºormasi
ini menjemari dengan ºormasi Nglanggran dan ºormasi Sambipitu,
namun tertindih secara tidak selaras oleh ºormasi Oyo (Surono, dkk.,
1992). Dengan melimpahnya tuf dan batuapung dalam volume yang
sangat besar, maka secara vulkanologi ºormasi Semilir ini dihasilkan
oleh letusan gunungapi yang sangat besar dan merusak, biasanya
berasosiasi dengan pembentukan kaldera letusan.

4.‘ ºormasi Nglanggran

Lokasi tipe formasi ini adalah di Desa Nglanggran di sebelah


selatan Desa Semilir. Batuan penyusunnya terdiri dari breksi
gunungapi, aglomerat, tuf dan aliran lava andesit-basal dan lava
andesit. Breksi gunungapi dan aglomerat yang mendominasi formasi
ini umumnya tidak berlapis. ñepingannya terdiri dari andesit dan
sedikit basal, berukuran 2 ± 50 cm. Di bagian tengah formasi ini, yaitu

*Pa ge
pada breksi gunungapi, ditemukan batugamping terumbu yang
membentuk lensa atau berupa kepingan. Secara setempat, formasi ini
disisipi oleh batupasir gunungapi epiklastika dan tuf yang berlapis
baik.

ºormasi ini juga tersebar luas dan memanjang dari Parangtritis di


sebelah barat hingga tinggian G. Panggung di sebelah timur. ñetebalan
formasi ini di dekat Nglipar sekitar 530 meter. ºormasi ini menjemari
dengan ºormasi Semilir dan ºormasi Sambipitu dan secara tidak
selaras ditindih oleh ºormasi Oyo dan ºormasi Wonosari. Dengan
banyaknya fragmen andesit dan batuan beku luar berlubang serta
mengalami oksidasi kuat berwarna merah bata maka diperkirakan
lingkungan asal batuan gunungapi ini adalah darat hingga laut dangkal.
Sementara itu, dengan ditemukannya fragmen batugamping terumbu,
maka lingkungan pengendapan ºormasi Nglanggran ini diperkirakan di
dalam laut.

5.‘ ºormasi Sambipitu

Lokasi tipe formasi ini terletak di Desa Sambipitu pada jalan raya
Yogyakarta-Patuk-Wonosari kilometer 27,8. Secara lateral, penyebaran
formasi ini sejajar di sebelah selatan ºormasi Nglanggran, di kaki
selatan Subzona Baturagung, namun menyempit dan kemudian
menghilang di sebelah timur. ñetebalan ºormasi Sambipitu ini
mencapai 230 meter.

Batuan penyusun formasi ini di bagian bawah terdiri dari batupasir


kasar, kemudian ke atas berangsur menjadi batupasir halus yang
berselang-seling dengan serpih, batulanau dan batulempung. Pada
bagian bawah kelompok batuan ini tidak mengandung bahan karbonat.
Namun di bagian atasnya, terutama batupasir, mengandung bahan
karbonat. ºormasi Sambipitu mempunyai kedudukan menjemari dan
selaras di atas ºormasi Nglanggran.

c  P a g e
6.‘ ºormasi Oyo

Lokasi tipe formasi ini berada di ñ. Oyo. Batuan penyusunnya


pada bagian bawah terdiri dari tuf dan napal tufan. Sedangkan ke atas
secara berangsur dikuasai oleh batugamping berlapis dengan sisipan
batulempung karbonatan. Batugamping berlapis tersebut umumnya
kalkarenit, namun kadang-kadang dijumpai kalsirudit yang
mengandung fragmen andesit membulat. ºormasi Oyo tersebar luas di
sepanjang ñ. Oyo. ñetebalan formasi ini lebih dari 140 meter dan
kedudukannya menindih secara tidak selaras di atas ºormasi Semilir,
ºormasi Nglanggran dan ºormasi Sambipitu serta menjemari dengan
ºormasi Oyo. Lingkungan pengendapannya pada laut dangkal (zona
neritik) yang dipengaruhi kegiatan gunungapi.

7.‘ ºormasi Wonosari

ºormasi ini tersingkap baik di daerah Wonosari dan sekitarnya,


membentuk bentang alam Subzona Wonosari dan topografi karts
Subzona Gunung Sewu. ñetebalan formasi ini diduga lebih dari 800
meter. ñedudukan stratigrafinya di bagian bawah menjemari dengan
ºormasi Oyo, sedangkan di bagian atas menjemari dengan ºormasi
ñepek. ºormasi ini didominasi oleh batuan karbonat yang terdiri dari
batugamping berlapis dan batugamping terumbu. Sedangkan sebagai
sisipan adalah napal. Sisipan tuf hanya terdapat di bagian timur.

Berdasarkan kandungan fosil foraminifera besar dan kecil yang


melimpah, diantaranya ~  00
  dan  
 ,
ditentukan umur formasi ini adalah Miosen Tengah hingga Pliosen.
Lingkungan pengendapannya adalah laut dangkal (zona neritik) yang
mendangkal ke arah selatan.

cc  P a g e
8.‘ ºormasi ñepek

Lokasi tipe dari formasi ini terletak di Desa ñepek, sekitar 11


kilometer di sebelah barat Wonosari. ºormasi ñepek tersebar di hulu
ñ. Rambatan sebelah barat Wonosari yang membentuk sinklin. Batuan
penyusunnya adalah napal dan batugamping berlapis. Tebal satuan ini
lebih kurang 200 meter.

ºormasi ñepek umumnya berlapis baik dengan kemiringan kurang


dari 10o dan kaya akan fosil foraminifera kecilBerdasarkan kandungan
fosil tersebut, maka umur ºormasi ñepek adalah Miosen Ýkhir hingga
Pliosen. ºormasi ñepek menjemari dengan bagian atas dari ºormasi
Wonosari-Punung. Lingkungan pengendapannya adalah laut dangkal
(zona neritik).

9.‘ Endapan Permukaan

Endapan permukaan ini sebagai hasil dari rombakan batuan yang


lebih tua yang terbentuk pada ñala Plistosen hingga masa kini. Terdiri
dari bahan lepas sampai padu lemah, berbutir lempung hingga kerakal.
Surono dkk. (1992) membagi endapan ini menjadi ºormasi Baturetno
(Qb), Ýluvium Tua (Qt) dan Ýluvium (Qa). Sumber bahan rombakan
berasal dari batuan Pra-Tersier Perbukitan Jiwo, batuan Tersier
Pegunungan Selatan dan batuan G. Merapi. Endapan aluvium ini
membentuk Dataran Yogyakarta-Surakarta dan dataran di sekeliling
Bayat. Satuan Lempung Hitam, secara tidak selaras menutupi satuan di
bawahnya. Tersusun oleh litologi lempung hitam, konglomerat, dan
pasir, dengan ketebalan satuan 10 m. Penyebarannya dari Ngawen,
Semin, sampai Selatan Wonogiri. Di Baturetno, satuan ini menunjukan
ciri endapan danau, pada ñala Pleistosen. Ciri lain yaitu: terdapat
secara setempat laterit (warna merah kecoklatan) merupakan endapan
terarosa, yang umumnya menempati uvala pada morfologi karst.

c£  P a g e
Gambar £cr et eolo   t. . eou.com/.../GUIDEBOOK_FT_-
‘
KARSAM_IAGEOU .‘
‘

j ‘ li‘ ‘‘ lt‘ 


‘ i  ‘ i li‘  ‘ l‘
‘ ‘ i‘ ‘ ‘ i ‘ ‘ Mll‘ t  ‘  i‘
lië i‘i‘
‘t i i‘  i‘ li‘t ‘ti ‘ ‘
tl‘ i‘  i‘ t‘ t‘ ii‘ l‘  ‘  ‘ lt‘
l‘ ‘ ‘‘ il‘  ‘  ‘ ‘  t‘ i‘ l ‘ 
‘lt ‘
 i‘ii‘ i‘ l ‘‘
‘ ‘ i ‘li‘ i‘lt‘ l ‘
 ‘ i‘ii‘t t‘t ‘it‘it i‘ i it‘ l‘

 i‘ t j i‘ t‘ ‘ ‘  i‘  ‘ i ‘


 ‘ li‘
l‘ ‘ ‘  i‘ t j i‘  iti‘  ‘  ‘
li‘ i ‘ ‘ Mi‘
l ‘ it‘  i‘ Bt‘ itli‘ ‘
 i‘ ii‘ i‘ i‘ 
‘  ‘ ti ‘  li‘ i‘ tl‘
tl‘  i‘ t‘ ‘ l t‘ Bi‘ t‘  ‘  li‘
ti ‘ ‘ tl‘ ‘ ii‘ tii‘ t‘ ‘ tt‘ i‘ i‘
t‘ iji‘ t‘ l‘  itl‘ ‘ i‘ i‘ t‘ iji‘
 i‘ it‘i‘ ‘ l‘lt‘t ‘‘ i i‘

cÑ  e
oleh arus turbid, pada akhir pembantukan formasi ini dipengaruhi oleh adanya
aktivitas gunungapi.

Pada ñala Miosen Ýwal (N6 ± N7) terjadi peningkatan aktivitas gunungapi
yang ditandai dengan adanya piroklastik yang cukup luas. Endapan piroklastik
menyusun satuan tuf Semilir. Satuan ini terendapakan dengan mekanisme endapan
jatuhan piroklastik. Endapan hasil erupsi gunungapi tersebut terendapkan pada
lingkungan laut dangkal. Ýktivitas gunungapi memuncak pada ñala Miosen Ýwal
(N7). Pada kala ini terjadi letusan besar yang bersifat destruktif, membentuk
sistem kaldera. Letusan tersebut bersifat eksplosif dan menghasilkan material
gunungapi berupa pumis yang membentuk satuan breksi pumis Semilir. Satuan
breksi pumis Semilir ini terendapkan dengan mekanisme jatuhan piroklastik. Pada
fase ini pula terbentuk kaldera pada bagian puncak gunungapi dan merusak
sebagian besar dari tubuh gunungapi. ñemudian diikuti oleh fase konstruktif
dengan adanya aliran lava yang menyusun bagian bawah dari satuan breksi
andesit Nglanggran.

Selain menghasilkan material gunungapi melalui mekanisme jatuhan


piroklastik, gunungapi tersebut juga menghasilkan material melalui mekanisme
aliran lava dan aliran piroklastik yang menempati lembah-lembah berupa endapan
0
. Pada ñala Miosen Ýwal bagian atas hingga Miosen Tengah bagian
bawah (N7 ± N9 ) tersebut juga terendapkan breksi andesit epiklastik yang
menyusun satuan breksi andesit Nglanggran. Bagian bawahnya tersusun oleh
breksi basal piroklastik. Satuan ini terendapkan pada lingkungan darat dengan
mekanisme      J . Pada fase ini, kegiatan gunungapi sudah mulai
menurun.

ñemudian pada ñala Miosen Tengah, terendapkan satuan batupasir


karbonatan Sambipitu yang didominasi oleh batupasir karbonatan yang bergradasi
secara normal menjadi batulempung karbonatan. Material ini terendapkan pada
lingkungan laut dangkal dengan mekanisme pengendapan arus turbid.

Pada kala Miosen Tengah (N9-N10) cekungan mengalami pengangkatan


kepermukaan, sehingga mengalami erosi dan terendapkan secara tidak selaras

c-  P a g e
satuan batugamping klastik. Dijumpainya batugamping yang korelasi hasil
analisis foraminifera kecil, batugamping ini masuk dalam satuan batugamping
Oyo. Hal ini menandai bahwa cekungan sedimen pada waktu itu semakin tenang
yang menendakan aktifitas vulkanisme menurun. Dalam hal ini tentunya akan
berkembang dengan baik secara normal yang berkarakteristik klastik

Pada saat pengendapan terus berlangsung dan vulkanisme menurun, tetapi


secara setempat dijumpainya tuf yang mempunyai hubungan melensa dengan
satuan batugamping Oyo. ñedapatan tuf pada satuan batugamping Oyo bisa
terjadi karena pada saat kegiatan vulkanisme menurun berarti kegiatan vulkanisme
masih berjalan. Secara genesa tuf sangat dipengaruhi oleh arah angin dan gravitasi
dan itu membentuk satuan tuf Oyo.

Pada ñala Resen, sebagian material pada tinggian Zona Baturagung


mengalami pelapukan, erosi dan penggerusan oleh aktivitas fluvial. Material hasil
rombakan ini kemudian terendapkan di sebelah utara tinggian tersebut dan
membentuk satuan endapan lempung-bongkal.

ºormasi wonosari tebentuk berikutnya dengan umur Miosen Tengah


hingga Pliosen. Lingkungan pengendapannya adalah laut dangkal (zona neritik)
yang mendangkal ke arah selatan dengan litologi didominasi oleh batuan karbonat
yang terdiri dari batugamping berlapis dan batugamping terumbu. Pada bagian
bawah adanya hubungan menjari dengan formasi Oyo yang berarti
pembentukannya seumur dengan formasi oyo bagian atas.

Ýkhir pembentukan formasi Wonosari bersamaan dengan terbentuknya


formasi ñepek, batuan penyusunnya adalah napal dan batugamping berlapis. umur
ºormasi ñepek adalah Miosen Ýkhir hingga Pliosen.Lingkungan pengendapannya
adalah laut dangkal (zona neritik).

Endapan permukaan ini sebagai hasil dari rombakan batuan yang lebih tua
yang terbentuk pada ñala Plistosen hingga masa kini. Terdiri dari bahan lepas
sampai padu lemah, berbutir lempung hingga kerakal.

c   P a g e

‘       

Struktur geologi regional di daerah Pegunungan Selatan bagian barat


berupa perlapisan homoklin, sesar, kekar dan lipatan. Perlapisan homoklin
terdapat pada bentang alam Subzona Baturagung mulai dari ºormasi ñebo-Butak
di sebelah utara hingga ºormasi Sambipitu dan ºormasi Oyo di sebelah selatan.
Perlapisan tersebut mempunyai jurus lebih kurang berarah barat-timur dan miring
ke selatan. ñemiringan perlapisan menurun secara berangsur dari sebelah utara
(200 ± 350) ke sebelah selatan (50 ± 150). Bahkan pada Subzona Wonosari,
perlapisan batuan yang termasuk ºormasi Oyo dan ºormasi Wonosari mempunyai
kemiringan sangat kecil (kurang dari 50) atau bahkan datar sama sekali. Pada
ºormasi Semilir di sebelah barat, antara Prambanan-Patuk, perlapisan batuan
secara umum miring ke arah baratdaya. Sementara itu, di sebelah timur, pada
tanjakan Sambeng dan Dusun Jentir, perlapisan batuan miring ke arah timur.
Perbedaan jurus dan kemiringan batuan ini mungkin disebabkan oleh sesar blok
(anthithetic fault blocks; Bemmelen, 1949) atau sebab lain, misalnya pengkubahan
(updoming) yang berpusat di Perbukitan Jiwo atau merupakan kemiringan asli
(original dip) dari bentang alam kerucut gunungapi dan lingkungan sedimentasi
Zaman Tersier (Bronto dan Hartono, 2001).

Struktur sesar pada umumnya berupa sesar turun dengan pola anthithetic
fault blocks (van Bemmelen,1949). Sesar utama berarah baratlaut-tenggara dan
setempat berarah timurlaut-baratdaya. Di kaki selatan dan kaki timur Pegunungan
Baturagung dijumpai sesar geser mengkiri. Sesar ini berarah hampir utara-selatan
dan memotong lipatan yang berarah timurlaut-baratdaya. Bronto dkk. (1998,
dalam Bronto dan Hartono, 2001) menginterpretasikan tanda-tanda sesar di
sebelah selatan (ñ. Ngalang dan ñ. Putat) serta di sebelah timur (Dusun Jentir,
tanjakan Sambeng) sebagai bagian dari longsoran besar (megaslumping) batuan
gunungapi tipe Mt. St. Helens.Di sebelah barat ñ. Opak diduga dikontrol oleh
sesar bawah permukaan yang berarah timurlaut-baratdaya dengan blok barat
relatif turun terhadap blok barat.

Struktur lipatan banyak terdapat di sebelah utara G. Panggung berupa


sinklin dan antiklin. Tinggian batuan gunung berapi ini dengan tinggian G.

cÎ  P a g e
Gajahmungkur di sebelah timurlautnya diantarai oleh sinklin yang berarah
tenggara-baratlaut. Struktur sinklin juga dijumpai di sebelah selatan, yaitu pada
ºormasi ñepek, dengan arah timurlaut-baratdaya

cå  P a g e
Æ Æ 

$Æ   

‘    $  

‘     $ 

i‘ ti‘ t‘ ii‘ tlt‘ i‘ ‘ ‘ t‘ Bt‘


t‘ lt‘  ii‘ 
‘ ‘ i‘ ii‘ tt‘   ‘ i‘
 t‘ t ‘ t‘ Bt‘ lt‘ 
‘ !‘ ‘ t‘
i l‘ "#$!‘

~ asi  c

‘ ‘
Gambar ccr ctr  telt St u r m t 

cü  e
Æ‘  $ 
   $ 

i‘ ti‘t‘ii‘ ‘  ‘ t ‘tii‘ t ‘


‘ ‘l ‘ ‘  i‘%&&‘‘  ‘ i‘l ‘l‘t ‘
 i‘ i l‘ ‘   ‘ il‘ lt‘  i‘  it‘ i
‘ i‘ ii‘
t lt‘ i‘ i‘ il‘ t‘ i‘
 ‘ tt‘ i ‘ i‘ ‘  ‘
ji‘i‘j‘i‘ii‘ it‘i‘it it‘

·‘  
   $ 

Bt‘ ‘ iji‘ i‘ li‘ t‘ ii‘ t‘  i‘ lti‘


 ‘ t‘ ‘ lit‘ il‘ lt‘ i‘  ‘ i‘ li‘ lt‘
l‘ Mi l‘ lit‘ ilii‘
 ‘ ‘ ij‘ ‘  it‘ ‘iil‘
‘j i‘ti‘t t‘ i‘li‘lt‘ l‘

Bt‘ ii‘  l‘ ji‘ t‘  i‘ lti‘ ‘


 ‘ ‘
ij‘ tt ‘lti‘ ‘ ‘ti ‘i ‘t‘l‘i‘l‘

%'()‘ ‘ %'%(‘ !‘    ‘ ‘ t tt‘  t t ‘ i‘ ii‘
t il‘ l‘ ‘  ‘ t‘ ‘ lit‘ t‘ ii‘ ‘ tl‘
t‘liti‘

‘
Gambar cÑr  tul  u tu  eolt
‘

c*  e
Batu ini merupakan bagian dari formasi ñebobutak yang terbentuk pada
masa akhir Oligose hingga awal Miosen dengan mekanisme letusan gunungapi
bawah laut yang sangat eksplosif dan merusak. Jika dilihat dari ukuran butirnya,
batu ini terbentuk dari material muntahan gunungapi dengan mekanisme
piroklastik jatuhan ( 0
 0J
) yang terdeposisi dan terlitifikasi. Pada proses
transportasi dan deposisi ini sangat dipengaruhi oleh arus turbulen dasar laut
sehingga material ini mudah sekali bercampur dengan material lain bawah laut
seperti mineral zeolit.


‘        u 

Struktur geologi yang dijumpai di Stasiun pengamatan ini adalah kekar


dan sesar. ñekar adalah rekahan pada batuan yang belum mengalami pergeseran,
sedangkan sesar adalah rekahan pada batuan yang telah mengalami pergeseran
pada bidang rekahannya.

ñekar yang dijumpai disini adalah kekar gerus, kekar ekstensi, dan kekar
rilis. ñekar gerus adalah kekar yang selalu berpasangan dan membentuk sudut
lancip arah gaya terbentuk oleh gaya kompresi. ñekar ekstensi adalah kekar yang
sejajar arah gaya, sedangkan kekar rilis tegaklurus arah gaya. Di STÝ ini dijumpai
kekar gerus dan kekar rilis yang sistematis, sedangkan kekar ekstensi jarang
ditemukan.

£  P a g e
"#


: data kekar gerus dari hasil pengukuran di lapangan.

"   

 "   


   "   x "  
 "   x "    "   x "  
 "   x "    "   x "  
 "  x "    "  x "
 "   x "    "
 x "  
 "   x "   
 "   x "    "  x " 
 "  x "
  " x " 
 " 
 x "    " x "

 "
 x "

  "
 x " 
 "   x "

 " x "  
   "   x " 
 "  x "
  "  x "
 " x "
   "
 x " 
 " 
 x "

  "   x "  
 "  x " 
  "   x "  
 "
  x "   
 "  x " 
  " 
 x "   
 "   x "    "   x "

 "
  x "
   "  x " 
 "  x "    " x "

 "  x "  "   x "
   "
 x " 
 "
  x "
  " x "  
 "  x "   " x "

 " 
 x "    "  x " 
 "
  x "   "
 x " 
 "   x "  
 "   x "    " 
 x "
 "   x "   "
 x " 

 "  x "  " 
 x "


 "   x "  "

 x "


 "   x " 
  "

 x "

 
 "  x " 

 "   x "
 " 
 x "
 "   x "

£c  P a g e
%& è !!' ( ) %& !!' ( )
&*+ 2 1,6 &*+ 3 2,3
+* & 3 2,3 +* & 2 1,6
&* + 4 3,1 &* + 3 2,3
+*& 9 7 +*& 4 3,1
&*+ 9 7 &*+ 2 1,6
+*& 12 9,4 +*& 2 1,6
&*+ 5 3,9 &*+ 1 0,8
+*& 2 1,6 +*& 1 0,8
&*+ 1 0,8 &*+ 1 0,8
+*+& 4 3,1 +*+& 4 3,1
+&*++ - - +&*++ - -
++*,& - - ++*,& - -
,&*,+ - - ,&*,+ 1 0,8
,+*-& - - ,+*-& 2 1,6
-&*-+ - - -&*-+ 2 1,6
-+*.& 3 2,3 -+*.& 5 3,9
.&*.+ 5 3,9 .&*.+ 13 10,6
.+*/& 10 7,8 .+*/& 13 10,6

Data-data kekar tersebut di analisis menggunakan metode grafis, yaitu


mengkelaskan data jurus kekar dengan lebar kelas yaitu 5 dan di bagi menjadi 18
kelas untuk N«0 W dan 18 kelas N«0 E. dengan metode tersebut di tentukan
maxima 1 dengan arah N 27,50 W dan maxima 2 dengan arah N 850 E, sehingga
dapat ditentukan arah gaya utama pembentuk kekar tersebut adalah N 320 E (lihat
kurva histogram analisis kekar grafis), jadi arah gaya kompresi dengan arah relatif
yaitu timurlaut-baratdaya.

££  P a g e
£Ñ  P a g e
‘ ‘

‘ ‘
Gambar ccr e m   e r eru  l   
‘

" i‘ t t‘  ‘  ‘ ‘  ‘ t t‘ t‘ i‘ lii‘
‘  i‘ t  i‘ i‘ t‘ i i‘ *i‘ ‘ ‘
t‘ ‘it‘+%‘+,‘ ‘+-‘

# 
 :‘ t‘ ‘ ili‘  i‘il‘ ‘ i‘l‘

 0 1 23
4 1 23
0 0  0 0 
 .‘,&/&‘‘ 0&&‘
 .‘,&0&‘‘ (/&‘
 .‘,&(&‘‘ 0)&‘

£-  e
Gambar c£r e m   e r rl  l   

# 
:‘ t‘i ‘ li‘t‘il‘ ‘ i‘l‘

 0 1 23
4 1 23
4 # 4 2 4 # 4 2
 .‘11&‘‘ %%&‘
 .‘(2&‘‘ %&&‘
 .‘()&‘‘ %%&‘
 .‘1,&‘‘ ,%&‘
 .‘)1&‘‘ %%&‘

" i‘ t‘t t‘  ‘j ‘i ‘ li‘ ‘ lti ‘


‘ ti lt t ‘ ‘ i i‘ i ‘  ‘ lti ‘ ‘
t ‘   ‘ t t‘ i ‘ i‘ ‘   ‘  li‘ t
t‘ i‘ ‘i i‘i ‘ ‘‘lt‘

"i‘ ti‘t‘ii‘j‘ i‘ji‘t‘ ‘ ‘‘


i ‘  ‘ ‘ ti ‘ jl‘  ‘ i ‘  ‘ ii‘  ‘  i i‘  ‘
‘ ili i‘l‘i‘‘ ‘jj ‘ ‘j ‘i ‘ ‘it‘.‘,&&‘
'(/&‘ ‘ i ‘  ‘ ii‘ j‘ itj‘ l‘  ‘  i‘  ‘
‘  ‘ lt‘ ‘ lit‘ ij‘ ‘ ‘  i‘  ‘ii‘
ti ‘t ti‘ ‘i‘

£   e
 ‘    $ 

‘     $ 

i‘ ti‘ t‘ ,‘ ii‘ t lt‘ i‘ ‘ t‘ "‘


t‘ "‘ ‘ j‘ t‘ Bt‘ t‘ lt‘  ii‘

‘ ‘liti‘ il‘  ‘ l‘%&&&‘‘ %%-&‘ #B‘t‘ ‘
 ‘ 
‘

‘
~ asi  £
‘

‘
U
‘ Gambar Ñcr ctr  telt St u e m t  

£Î  e
Æ‘  $  
  $ 

‘ t‘ ii‘ t lt‘ i‘  it‘ i


‘ i‘ i ‘ l ‘
l‘t ‘i‘ii‘  ‘it‘il‘ i‘l‘t ‘it‘t ‘
‘ l ‘ 3 !‘ t t‘ %%&‘ ‘ %1&‘ ‘ it‘ t‘ ii‘ t i‘
 ‘ t‘t‘M  ‘l‘
 ‘it ‘‘ t‘
ii‘ iti‘  ‘ lit‘ M  ‘ ‘  ‘ i‘ ii‘
 t‘ ii‘ t‘ t‘ ti‘ ‘ i i‘ i ‘ 3 til‘
it‘(0&‘‘0,&‘‘

ñ miringan  bing

‘
Gambar ѣr te t u e m t 
e m t  
‘

·‘  
  $ 

 ‘ li‘ ti‘ t‘ ii‘ iji‘ i‘ M  ‘ ‘


i ilit‘  ‘ ti‘ Bt‘ ii‘  ‘ t‘ t t‘ il‘ j

i‘ t‘  ‘ Ô 3!‘ ‘ t t‘  ‘ ‘  t i ‘ Bt‘
ii‘t i‘ ‘ ‘tti‘

£å  e
‘

‘
Se-Flt
‘ M rmer

‘
Gambar ÑÑr    M rmer   Se-Flt

 ‘ i‘ ‘ ilit‘ ‘i‘ii‘ti ‘ t‘l‘ii‘ i‘


 ‘‘t‘‘ it i‘ti ‘  t‘ iti‘i‘C ‘  ‘
t ‘ t‘ i‘ ‘ ilit‘ il‘ i ‘ lii‘ i‘ li‘ jl‘  i ‘ ilit‘
 ‘  i ‘  l‘ i‘ il‘  i‘ t i‘ l‘ ‘ i‘ li‘
 ‘ il‘  ‘ i ‘ lii‘
l‘  ‘ l ‘ i‘ li‘
 ‘ ji‘ it‘  i ‘ ilit‘ l‘ ii‘ i ‘  jt‘ t i‘
i‘li‘tii‘ i i‘ ilit‘

B tu Flt
º iasi  riha  as

B tu Se
º iasi a  as

‘ ‘
Gambar Ñ-r er   Se   Flt

‘
Gambar Ñ r  mel  tu M rmer

£ü  e
Batu Sekis-ºilit yang dijumpai berwarna abu-abu kecoklatan, batuan asal
shale, memiliki struktur foliasi, bertekstur Lepidoblastik. Sedangkan batu Marmer
yang dijumpai berwarna putih, struktur masif, bertekstur granoblastik, asal
batugamping dengan komposisi material karbonat.

"#


: identifikasi batuan

è   '! ! !  '' '#"!   


"! 
Ýbu-abu Lepidoblastik ºoliasi Material Shale Sekis-
kecoklatan shale, mika ºilit
Putih Granoblastik Nonfoliasi Material Batugamping Marble
kecoklatan karbonat

Dari data hasil penelitian, diduga batu Marmer berada didalam batu Sekis-
ºilit sebagai lensa dengan bukti batuan yang mendominasi adalah batu Sekis-ºilit
dan batu Marmer ditemukan sebagai bongkah besar didalamnya. Batuan Sekis-
ºilit ini memiliki foliasi horisontal, hal ini menunjukkan bahwa gaya tekan yang
bekerja pada proses metamorfisme adalah gaya tekan kebawah atau pembebanan
(  
 0).

Jika dilihat bahwa batu Marmer adalah lensa didalam batu Sekis-ºilit
maka secara logika batu Marmer lebih tua yang berarti batu Marmer telah
terbentuk lebih dahulu. Namun dari hasil penelitian dan literatur, kedua batu ini
memiliki umur yang sama dalam arti mengalami proses metamorfisme dalam
waktu yang sama walaupun tidak diketahui umur batuan asalnya. Dari pernyataan
tersebut, berarti terdapat mekanisme perlapisan batugamping yang diapit oleh
batulempung (
) yang kemudian terkena tekanan.

Dalam proses pembebanan ini, batugamping yang termetamorfisme


menjadi Marmer, sedangkan shale termetamorfisme menjadi Sekis-ºilit. Setelah
batuan tersebut termetamorfisme, batuan ini juga terpecahkan karena adanya gaya
yang arahnya dari samping (JJ 
) akibat pergerakan lempeng di zona

£*  P a g e
 i‘  i‘ !‘B ‘ti‘ ‘‘t t‘ l‘t t‘
t t ‘ ‘ ‘ ‘ ‘t‘

‘‘


‘     
  $ 

t t ‘ li‘ ‘ iji‘ i‘ ti‘ t‘ ii‘  l‘t t ‘


 ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ iii‘t lit‘ ‘i‘t‘M  ‘
‘  ‘ ii‘ t lit‘ ti ‘ itti‘ ‘ t lit‘ ‘ "i ‘  ‘ ii‘
tl‘t ‘  i‘  i‘ ‘t t ‘ ‘i‘‘ ‘ii‘
j i‘ti ‘ t ‘

t t ‘  ‘ j‘ iji‘ i‘ li‘ t‘ ii‘   ‘ t t ‘
 ‘ ii‘ it i‘ l‘  ‘ i ‘  ‘ ‘ t lit‘ jl‘  i‘  ‘
iit ‘ i ‘  ‘3    3‘ ‘   i‘  ‘ i ‘  ‘3 
 3‘   i‘ ‘ i ‘  ‘ ii‘ ‘ i‘J ‘  ‘ it‘ l‘  ‘
‘  ‘ i
‘i ‘ ‘

 nsi n gash
G 

‘
Gambar £cr e m     e r   teo    l   
‘

Bi ‘  ‘ t t‘ ilii‘   ‘ .‘ --1&‘ '21&‘   ti‘


  ‘ t i‘  ‘  tlt‘ ‘ i‘  ‘  t ‘ t‘ l ‘

Ñ  e
terhadap strike. Di bidang sesar terdapat tension gash dengan bidang vertical
menghadap ketimur, membentuk sudut tumpul tehadap bidang sesar kearah
baratlaut, sehingga dari analisis tersebut disimpulkan footwall sesar bergerak
kearah baratlaut dan hangingwall sesar bergerak kearah tenggara, berarti sesar
tersebut berjenis sesar geser sinistral. Pada bidang footwall sesar juga terdapat
gores-garis yang mengarah ke tenggara terbentuk akibat goresan dari pergerakan
hangingwall, gores-garis tersebut memiliki pitch 100 terhadap strike yang diukur
mengarah baratlaut. Itu berarti pergerakan hangingwall sesar yang bergerak
kearah tenggara juga bergerak 100 terhadap horizontal.

Dengan menggunakan analisa stereografis, dapat ditentukan zona gaya


pembentuk sesar, plunge dan trend dari striasi (gores-garis). Plunge'trend dari
striasi adalah 90'N 1530 E. Zona gaya pembentuk sesar pembentuk sesar dibagi
menjadi tiga, yaitu ı1 sebagai gaya utama pembentuk sesar, ı2 adalah gaya yang
sejajar dengan perpotongan kedua bidang, dan ı3 merupakan gaya lemah. Gaya
utama pembentuk sesar bukan merupakan satu acuan arah melainkan suatu zona
(kuadran) dan selalu berpasangan.

Ñc  P a g e
Ñ£  P a g e
‘    $  

‘     $ 

i‘ ti‘ t‘ ii‘ t lt‘ i‘ ‘ ti‘


t‘ il‘  t‘ ‘ ‘ ‘ l‘ ‘ M j ‘
t‘ Bt‘ t‘ lt‘  ii‘ 
‘ ‘ i‘ii‘  j ‘
‘ j‘  i‘ li‘ ti‘ t‘ %‘ ‘ ti‘ t‘ ,‘  ‘
li‘ii‘  ‘ i‘ it‘ i
‘i‘ t‘

~ asi  Ñ

‘ ‘
Gambar Ñc ctr  telt St u e m t 
‘

Æ‘  $  
  $ 

i‘ ‘ ‘ ii‘   ‘ ‘ t i‘  i‘  t‘  it‘


i
‘ i‘  t‘ t‘ ‘ t‘ Bt‘ ‘ ‘ ii‘  ‘ t‘
it‘‘t t‘l‘ti‘ i‘ i‘ ‘l ‘
t t‘%,&‘‘%)&‘i‘t‘ii‘ i i‘  ‘ i‘l‘ t‘‘

ÑÑ  e
ñ‘ ‘ t ‘ ‘ ‘ l ‘  ‘  i‘ %&&‘ t‘ ‘
i‘
 ‘.‘li‘ii‘t t‘it‘il‘‘jl‘ ‘
l ‘ i ‘ t‘  ‘ il‘ ‘ ti‘ l‘
 ‘
tt‘

Sloe mr te 

‘
Gambar Ñcr e m   morolo St u e m t 
‘

·‘  
  $ 

itli‘ ti‘ t‘ ii‘ t ‘ ‘ l‘ ti‘


 i‘ i‘ i‘ñ‘ti‘ii‘ ‘a  a‘ l‘
ti‘  li‘ l‘t t‘ j‘ ti‘t t‘  ‘
t‘ il‘ ‘  i‘ t‘ ‘  ‘  ‘ ‘ t ilt il‘
 t‘ ‘  ‘ Bti‘ t t‘  ji‘ ñl it‘  ‘ t il‘
‘  ‘ti ‘i ‘

# ·:‘i tiii‘t‘

2 0  0 4  2


ti‘ ¦‘lti‘  li‘ t il‘ ti‘
i‘ ¦‘ ‘ti ‘i ‘  i‘ l it‘
'
‘ ‘ ‘‘,‘   ‘
' i ‘ it‘
‘  t‘
¦‘t‘ti ‘ i‘

Ñ-  e
l  i l‘
   ‘  i ‘
¦‘ ti‘i‘
¦‘‘t tt‘
‘

‘
Gambar Ñcr e m    tu m erl  ec r outcro
‘

Bti‘ ii‘  i‘ t‘ ‘ l t‘ 4Cl‘  ‘  ‘


ti‘ ii‘ ‘ t t‘  t‘ lit‘ 5 t‘ lit‘ ii‘ t t‘  ‘
 ‘  ‘ ti‘ it‘ t t ‘ ‘ ii‘ ‘ il
ti‘
li ‘
‘t il‘ t‘t l t‘  i‘ti‘it‘ i i‘

‘ ‘
Gambar ѣr e m   ur t  lt   Krt l  lt
‘

Ñ   e
Bti‘ i i‘t t‘it‘‘t il‘ t‘‘
t litiii‘  i‘ it‘ t ‘ i‘ lt‘ l‘ ‘   ‘ "ilit‘  i‘
t il‘‘ i‘ ti ‘t t i‘l‘t il‘li!‘ii‘t t‘ i‘l ‘
‘ ‘  ‘ lt‘l‘  i‘it‘t ‘‘ t il‘ ii‘
t li i‘i‘ j i‘ ‘  t‘ ‘  i‘t  i‘ l‘ ‘ lt‘
j i‘ ti ti ‘ i ‘ Bti ‘ i ‘ ii‘ t ii‘ i‘ ‘ lt‘
l‘ t li i‘ t‘ t‘ ‘ t i‘ ‘  ‘ it‘
t‘ il‘‘ lt‘


‘     
  $ 

t t ‘ li‘ ‘ iji‘ i‘ ti‘ t‘ ii‘  l‘t t ‘


 ‘ ñ‘ t t ‘  ‘ ii‘ it i‘ l‘  ‘ i ‘  ‘ ‘
 i‘ ‘ ‘i ‘ ‘‘‘t‘jl‘li‘it‘j‘ iji‘
t ii‘   i!‘ it‘  t‘  i‘   ‘ l‘  ‘ ‘  i‘  ‘
‘ ‘t‘‘ ‘it‘ ‘  i‘  ‘l‘ ‘

PAGIGWALL
FOOTWALL

G 


 

‘
Gambar Ñcr e m   lo e r

ÑÎ  e
‘

" i‘ ‘‘ it‘ t‘ iti‘


‘i ‘ ‘t lit‘
jl‘  ‘ t
ll‘  ‘ l‘ i
ll‘ i‘ il‘ it‘
 t‘ti‘l‘
 ‘

G 

 cÑ  - 


‘
Gambar ѣr e m     e r
‘

Ñå  e
Ñü  P a g e
Dari data pengukuran dilapangan didapat data sesar sebagai berikut :

Strike'dip bidang sesar = N 1030 E'450

Striasi dengan plunge'trend = 38 0'N 1660 E dan pitch 660.

Dari data strike'dip bidang sesar dan trend dari striasi, dapat dianalisa
dengan proyeksi stereogrfis menggunakan wulff net. Setelah di plot data bidang
sesar dan trend dari striasi didapat data pitch 700 dan plunge 42 0. Dat pitch dan
plunge hasil proyeksi stereografis dengan data pengukuran dilapangan terdapat
selisih sedikit, hal tersebut dikarenakan keterbatasan saat pengukuran dilapangan.
ñemudian dengan membuat bidang yang tegak lurus striasi, didapat zona kuadran
gaya pembentuk sesar yaitu zona gaya ı1, ı3 dan garis ı2 yang sejajar dengan
perpotongan bidang sesar dengan bidang yang tegak lurus striasi.

Ñ*  P a g e
Æ Æ5

u 

Perbukitan Jiwo adalah tempat yang sangat representatif sebagai tempat


penelitian untuk mengungkap fenomena-fenomena geologi sebagai bahan ajaran
untuk peneliti-peneliti muda yaitu praktikan yang mendalami ilmu geologi. Di
perbukitan Jiwo ini tersingkap batuan-batuan dari formasi-formasi pembentuk
pegunungan Selatan pulau Jawa dan batuan metamorf sebagai batuan dasarnya. Di
mlokasi ini juga terdapat stuktur geologi seperti sesar, kekar dan lipatan sebagai
hasil dari deformasi akibat pergerakan lempeng aktif pada zona subduksi purba.

Pada Stasiun pengamatan 1 desa semen, terdapat lithologi batulanau tuffan


zeolitic yang terbentuk di lingkungan laut dalam pembentuk formasi ñebobutak.
Pada batuan ini juga terdapat kekar-kekar yang sistematis yaitu kekar gerus, kekar
ekstensi, dan kekar rilis. Dari data kekar gerus berpasangan yang diukur
dilapangan dapat dianalisis menggunakan metode grafis, ditemukan arah gaya
utama pembentuk kekar tersebut adalah N 320 E yaitu arah timurlaut-baratdaya.

Pada stasiun pengamatan 2 situs Jokotuo desa Gununggajah, terdapat


lithologi singkapan batuan metamorf yaitu Sekis-ºilit dengan lensa Marmer
didalamnya. Batuan tersebut adalah batuan tertua dan menjadi batuan dasar pulau
Jawa. Pada batuan Marmer terdapat bidang sesar yang jelas dengan bukti
kenampakan striasi dan    
blok J 
 sesar. Dengan analisa tension
gash yang membentuk sudut tumpul terhadap arah pergerakan sebenarnya blok
sesar. Dengan data tension gash dan pitch dari striasi ditentukan blok footwall
sesar bergerak relatif ke arah tenggara (kiri dari sudut pandang penulis) dengan
komponen turun 100. Sedangkan blok hangingwall sesar bergerak ke arah timur
laut dengan komponen naik 100. Maka sesar tersebut dinamakan sesar geser
sinistral (pitch < = 100 termasuk sesar geser). Dari data strike'dip bidang sesar dan
pitch striasi, dapat ditentukan zona gaya pembentuk sesar dengan proyeksi
stereografis yaitu zona gaya utama pembentu sesar ı1 merupakan gaya kompresi
pada sesar geser dan sesar naik.

-  P a g e
Pada Stasiun pengamatan 3 gunung ñampak desa Modjopereng, terdapat
lithologi batugamping berlapis pembentuk formasi Wonosari. Batugamping
tersebut secara outcrop bersturktur berlapis dengan ukuran butir pasir sehingga
disebut batugamping kalarenit. Disini juga terdapat struktur geologi yang berupa
struktur kekar yang keberadaanya tidak hanya 1 bidang sesar, namun bidang sesar
yang terlihat jelas dan dapat diamati oleh penulis hanyalah 1 sesar. ñenampakan
bidang sesar tersebut sangat jelas dilihat oleh mata dengan disertai kenampakan
cermin sesar dan striasi. Dari data pengamatan tersebut ditentukan sesar tersebut
adalah sesar turun sinistral dengan pitch 660 hasil pengukuran dilapangan. Dengan
metode proyeksi stereografis, dapat ditentukan zona gaya pembentu sesar yaitu
gaya utama ı1 merupaka gaya ekstensi pada sesar turun, gaya ı2 yang sejajar
dengan perpotongan bidang, dan gaya lemah ı3.

Dari data gaya utama pembentuk kekar di STÝ 1 dan gaya utama
pembentu sesar di STÝ 2 dan STÝ 3, dapt diamati bahwa arah gaya-gaya ini
adalan relatif ke arah tenggara sampai baratdaya atau secara satu arah dianggap
selatan. Ýrah gaya tersebut diakibatkan oleh adanya zona pergerakan lempeng
aktif yaitu subduksi antara lempeng Indo-Ýustralia dengan lempeng Eurasia di
sebelah selatan pulau Jawa.

Dengan pengalaman melakukan pengamatan langsung dilapangan dan


analisis dari literatur yang ada, diharapkan para peneliti geologi muda khususnya
penulis dapat memperoleh pengalaman dalam medan geologi dilapangan sebagai
bekal untuk studi lebih lanjut dan pengalaman sebelum merambah dunia kerja.

-c  P a g e
    

Endarto, Danang. 2005. Pengantar Geologi Dasar. Solo : UPT Penerbitan dan

Percetakan UNS

Soetono. 1995. Geologi. Yogyakarta : Jurusan Teknik Geologi, ºakultas Teknik,

Universitas Gadjah Mada.

Staf Ýsisten Geologi Struktur. 2010. Panduan Praktikun Geologi Struktur.

Yogyakarta : Laboraturium Geologi Dinamik, Jurusan Teknik Geologi,


ºakultas Teknik, Universitas Gadjahh Mada.

http:''caryos.blogspot.com'2008'02'geologi-daerah-perbukitan-jiwo.html

http:''ibnudwibandono.wordpress.com'2010'07'12'geologi -regional-bayat-klaten'

http:''budhygeologist.blogspot.com'2010'08'geologi -dan-stratigrafi-daerah-
bayat.html

http:''ariskriswanto.blogspot.com'2009_12_01_archive.html

    
 age
pn c
 
B _F _  -  S _
 P" pdf

-£  P a g e