Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH

DINAMIKA PERAN INDONESIA DALAM PERDAMAIAN DUNIA

Disusun Oleh :
Alya Nuka Saputri
Azka Risana Az zahrah
Basilah
Chamila Sadin
Dhafa Nata
Gunawan Panggih
Hanum Marzanda
Indira Tri Maulidina
Karina Nurul Ramadani
Muhammad Fadli
Muhammad Aditya Fimansyah
Tija Faliza Dilmi
XI-OTKP 1

SMK NEGERI 16 JAKARTA


Jl. Taman Amir Hamzah RT. 2/RW. 4, Pegangsaan, Kec. Matraman,
Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10320.
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur Alhamdulillah kita panjatkan kehadirat Tuhan YME yang telah
melimpahkan nikmat,taufik serta hidayah-Nya yang sangat besar sehingga kami pada
akhirnya bisa menyelesaikan laporan ini pada waktunya. Rasa terimakasih kami ucapkan
pada bimbingan dan bantuan dari semua pihak yang mempermudah penyusunan laporan
ini.khususnya para rekan-rekan yang menyertai pembuatan laporan.

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan kita mengenai DINAMIKA PERAN INDONESIA DALAM
PERDAMAIAN DUNIA. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa didalam makalah ini
terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap ada nya
kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat dimasa yang akan
datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Semoga makalah sederhana ini dapat di pahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya
laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang
membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang
kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun dari anda.

Jakarta, 4 Januari 2021

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................................................ i


DAFTAR ISI ...................................................................................................................................... ii
BAB I .................................................................................................................................................. 1
PENDAHULUAN .............................................................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang .............................................................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................................................... 2
1.3 Tujuan ........................................................................................................................................... 2
BAB II ................................................................................................................................................ 3
PEMBAHASAN ................................................................................................................................ 3
2.1 Perdamaian Dunia ......................................................................................................................... 3
2.2 Peran Indonesia dalam Menciptakan Perdamaian Dunia Melalui Hubungan Internasional ......... 3
2.2.1 Pengertian Hubungan Internasional ........................................................................................ 3
2.2.2 Asas-Asas Hubungan Internasional ........................................................................................ 6
2.2.3 Makna Hubungan Internasional .............................................................................................. 6
2.2.4 Sarana-Sarana Hubungan Internasional bagi Indonesia .......................................................... 6
2.3 Peran Indonesia dalam Menciptakan Perdamaian Dunia Melalui Organisasi Internasional ......... 9
2.3.1 Peran Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ......................................................... 9
2.3.2 Peran Indonesia dalam ASEAN (Association of South East Asian Nation) ......................... 13
2.3.3 Peran Serta Indonesia dalam Gerakan Non-Blok .................................................................. 15
2.4 Upaya Yang Dilakukan dalam Mewujudkan Perdamaian Dunia ................................................ 18
BAB III ............................................................................................................................................. 20
PENUTUP ........................................................................................................................................ 20
3.1 Kesimpulan ................................................................................................................................. 20
3.2 Saran............................................................................................................................................ 20
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................................... 21

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam suatu negara tidak dapat berdiri sendiri. Seperti halnya individu sebagai makhluk
sosial. Negara tentunya akan memerlukan negara atau komponen yang lain. Bahkan ada pula
negara yang memiliki keterkaitan serta ketergantungan dalam aspek ekonomi, sosial, dan
politik. Jika adanya keterkaitan antar negara dengan negara lain tersebut tentunya ada sebuah
hubungan yang baik. Salah satunya merupakan negara kita sendiri yaitu negara indonesia
dengan negara-negara lain. Dinamakan masyarakat global, ditandai adanya saling
ketergantungan antar bangsa, adanya persaingan yang ketat dalam suatu kompetisi dan dunia
cenderung berkembang kearah perebutan pengaruh antar bangsa, baik lingkup regional,
ataupun lingkup global.
Namun pada kenyataanya masih banyak hubungan yang bertentangan antara negara satu
dengan yang lain. Yang mengakibatkan terjadinya konflik dan terusiknya perdamaian dunia.
Konflik biasanya dipicu dengan adanya masalah dalam hal sosial, ekonomi, politik, agama
maupun kebudayaan. Terjadinya konflik akibat adanya keserakahan, kurang saling
menghargai dan mengerti antara satu dengan yang lain.
Salah satu tujuan nasional Indonesia sebagaimana tercantum dalam alinea ke-4
Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 adalah ikut
melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan
keadilan sosial. Salah satu konsekuensi dari tujuan tersebut adalah bangsa Indonesia harus
senantiasa berperan serta dalam menciptakan perdamaian dunia. Hal tersebut dikarenakan
bangsa Indonesia merupakan bagian dari seluruh umat manusia di dunia sehingga sudah
seharusnya bangsa Indonesia berada pada barisan terdepan dalam upaya menciptakan
perdamaian dunia.
Ruang lingkup hubungan internasional terletak dalam dua bidang. Bidang publik, yang
meliputi politik internasional, politik luar negeri, pertahanan dan keamanan, hukum
internasional, diplomasi, organisasi internasional, dan kejahatan internasional. Bidang privat,
meliputi ekonomi dan moneter internasional, ilmu pengetahuan, dan turisme
(kepariwisataan). Bangsa Indonesia menjalin kerja sama dengan bangsa lain dalam wadah
negara-negara Asia Tenggara (ASEAN). Kerja sama tersebut merupakan wujud dari peran
Indonesia dalam menciptakan perdamaian dunia.
Dari sebagian masyarakat dunia, bangsa Indonesia selalu melakukan hubungan dengan
bangsa lainnya. Dalam menjalin hubungan dengan bangsa lain, kita menetapkan politik luar
negeri yang "bebas" dan "aktif". Politik luar negeri bebas aktif ini mulai dicanangkan sejak
awal merdeka. Sebagai salah satu perwujudan politik luar negeri yang bebas aktif, bangsa

1
Indonesia pernah menyelenggarakan Konferensi Asia Afrika di Bandung pada tahun 1955
dan juga membentuk Gerakan Non Blok bersama beberapa negara Asia Afrika lainnya.

Pada umumnya, negara yang telah merdeka dan bedaulat penuh akan mengadakan
hubungan dengan negara lain. Setiap negara memiliki perbedaan masyarakat, struktur
pemerintah, kepentingan nasional dan perbedaan-perbedaan lainnya. Namun, perbedaan
tersebut biasanya menimbulkan suatu kebutuhan yang menyebabkan adanya hubungan
internasional. Bahkan tidak bisa dipungkiri bahwa suatu negara yang tidak dapat menjalin
hubungan internasional dengan negara lain akan sulit untuk mempertahankan kedaulatannya.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa hubungan internasional diperlukan karena suatu
negara memiliki ketergantungan dengan negara lain dalam hal memenuhi semua kebutuhan
dan menjaga kedaulatan negaranya.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah pengertian dari Perdamaian Dunia ?
2. Bagaimana peran Indonesia dalam menciptakan perdamaian dunia melalui hubungan
internasional?
3. Bagaimana peran Indonesia dalam menciptakan perdamaian dunia melalui organisasi
internasional?
4. Apa saja upaya Indonesia untuk mewujudkan Perdamaian Dunia ?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui yang apa yang dimaksud perdamaian dunia.
2. Untuk mengetahui peran Indonesia dalam perdamaian dunia melalui hubungan
internasional.
3. Untuk mengetahui peran Indonesia dalam perdamaian dunia melalui organisasi
Internasional.
4. Untuk mengetahui upaya yang di lakukan Indonesia dalam perdamaian Indonesia.

2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Perdamaian Dunia
Perdamaian dunia adalah sebuah gagasan kebebasan, perdamaian, dan kebahagiaan bagi
seluruh negara dan/atau bangsa. Perdamaian dunia melintasi perbatasan melalui hak asasi
manusia, teknologi, pendidikan, teknik, pengobatan, diplomat dan/atau pengakhiran seluruh
bentuk pertikaian.
Dalam studi perdamaian, perdamaian dipahami dalam dua pengertian. Pertama,
perdamaian adalah kondisi tidak adanya atau berkurangnya segala jenis kekerasan.
Kedua, perdamaian adalah transformasi konflik kreatif non kekerasan. Dari dua definisi di
atas dapat disimpulkan bahwa perdamaian adalah apa yang kita miliki ketika transformasi
konflik yang kreatif berlangsung secara tanpa kekerasan. Perdamaian selain merupakan
sebuah keadaan, juga merupakan suatu proses kreatif tanpa kekerasan yang dialami
dalam transformasi (fase perkembangan) suatu konflik.
Perdamaian bukan sekedar soal ketiadaan kekerasan atau pun situasi yang anti
kekerasan. Lebih jauh dari itu perdamaian seharusnya mengandung pengertian keadilan
dan kemajuan. Perdamaian dunia tidak akan dicapai bila tingkat penyebaran penyakit,
ketidakadilan, kemiskinan dan keadaan putus harapan tidak diminimalisir. Perdamaian
bukan soal penggunaan metode kreatif non kekerasan terhadap setiap bentuk kekerasan,
tapi semestinya dapat menciptakan sebuah situasi yang seimbang dan harmoni, yang tidak
berat sebelah bagi pihak yang kuat tetapi sama sama sederajat dan seimbang bagi semua
pihak.
2.2 Peran Indonesia dalam Menciptakan Perdamaian Dunia Melalui Hubungan Internasional
2.2.1 Pengertian Hubungan Internasional
Hubungan internasional merupakan salah satu jawaban bagi persoalan yang dialami oleh
suatu negara. Ketika suatu negara mengalami kekurangan dalam suatu bidang, misalnya
kekurangan tenaga ahli untuk membangun negerinya maka melalui hubungan internasional
negara tersebut mampu mengatasi persoalan tersebut dengan meminta bantuan dari negara
lain. Oleh karena itu Peran Indonesia dalam Hubungan Internasional mempunyai
kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan suatu negara yang beradab.
Secara umum hubungan internasional diartikan sebagai hubungan yang bersifat global
yang meliputi semua hubungan yang terjadi dengan melampaui batas-batas ketatanegaraan.
Konsepsi hubungan internasional oleh para ahli sering dianggap sama atau dipersamakan
dengan konsepsi politik luar negeri, hubungan luar negeri, dan politik internasional. Ketiga
konsep tersebut sebenarnya memiliki makna yang berbeda satu sama lain, akan tetapi

3
mempunyai persamaan yang cukup mendasar dalam hal ruang lingkupnya yang melampaui
batas-batas negara (lingkup internasional).
Hubungan internasional adalah sutu cabang ilmu pengetahuan yang mempunyai satu
bidang spesialisasi yang meliputi aspek-aspek internasional dan beberapa cabang ilmu
pengetahuan lainnya.
Pengertian hubungan internasional menurut para ahli adalah sebagai berikut.
1. Charles A. Mc. Clalled menyatakan hubungan internasional adalah studi tentang
keadaan-keadaan relevan yang mengelilingi interaksi.
2. Warsito Sunaryo menyatakan hubungan internasional merupakan studi tentang
interaksi antara jenis kesatuan-kesatuan sosial tertentu,termasuk studi tentang
keadaan relevan yang mengelilingi interaksi.
3. Tygve Nathiessen menyatakan hubungan internasional merupakan bagian dari ilmu
politik dan karena itu, komponen-komponen hubungan internasional meliputi politik
internasional,organisasi dan administrasi internasional dan hukum intenasional.
4. Rencana Strategi (Renstra) pelaksanaan politik luar negeri RI menyatakan hubungan
internasional adalah hubungan antarabangsa dalam segala aspeknya yang dilakukan
oleh suatu Negara untuk mencapai kepentingan nasional Negara tersebut.
5. Trygve Mathiesdan Greyson Kirk menarik kesimpulan tentang hubungan
internasional adalah sebagai berikut.
Suatu bangsa yang merdeka tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan dari negara lain.
Untuk menjaga kelangsungan hidup dan mempertahankan kemerdekaannya, negara
tersebut membutuhkan dukungan dari negara lain. Untuk mendapatkan dukungan tersebut,
suatu negara harus mengadakan hubungan yang baik dengan negara lain. Misalnya, ketika
awal kemerdekaan, bangsa Indonesia membutuhkan pengakuan dan dukungan dari negara
lain. Oleh karena itu, para pendiri negara menjalin hubungan dengan India, Australia,
Amerika Serikat, Belgia, Mesir, dan sebagainya. Alhasil, kemerdekaan Negara Indonesia
mendapatkan dukungan dari negara-negara lain di dunia.
Suatu negara dapat menjalin hubungan dengan negara lain manakala kemerdekaan dan
kedaulatannya telah diakui secara de facto dan de jure oleh negara lain. Perlunya kerja
sama dalam bentuk hubungan internasional antara lain karena faktor-faktor berikut.
• Faktor internal, yaitu adanya kekhawatiran terancamnya kelangsungan hidup ke
sananya, baik melalui kudeta maupun intervensi dari negara lain.
• Faktor eksternal, yaitu ketentuan hukum alam yang tidak dapat dipungkiri bahwa
suatu negara tidak dapat berdiri sendiri tanpa bantuan dan kerja sama dengan negara
lain. Ketergantungan tersebut terutama dalam upaya memecahkan masalah-masalah
ekonomi, politik, hukum, sosial budaya, pertahanan, dan keamanan.

4
Pola hubungan internasional yang dibangun oleh bangsa Indonesia dapat dilihat dari
kebijakan politik luar negeri Indonesia. Bangsa Indonesia dalam membina hubungan
dengan negara lain menerapkan prinsip politik luar negeri Indonesia bebas aktif dan
diabdikan bagi kepentingan nasional, terutama kepentingan pembangunan di segala bidang
serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian
abadi, dan keadilan sosial.
Pembangunan hubungan internasional bangsa Indonesia ditujukan untuk peningkatan
persahabatan dan kerja sama bilateral, regional, dan multilateral melalui berbagai macam
forum sesuai dengan kepentingan dan kemampuan nasional. Selain itu, bagi bangsa
Indonesia, hubungan internasional diarahkan untuk hal-hal berikut.
• Pembentukan satu negara Republik Indonesia yang berbentuk negara kesatuan dan
negara kebangsaan yang demokratis.
• Pembentukan satu masyarakat yang adil dan makmur secara material ataupun
spiritual dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
• Pembentukan satu persahabatan yang baik antara Republik Indonesia dan semua
negara di dunia, dasar kerja sama adalah membentuk satu dunia baru yang bersih
dari kolonialisme dan imperialisme menuju perdamaian dunia yang sempurna.
• Mempertahankan kemerdekaan bangsa dan menjaga keselamatan negara.
• Memperoleh barang-barang yang diperlukan dari luar untuk memperbesar
kemakmuran rakyat, apabila barang-barang itu tidak atau belum dihasilkan sendiri.
• Meningkatkan perdamaian internasional, karena hanya dalam keadaan damai
Indonesia dapat membangun dan memperoleh syarat-syarat yang diperlukan untuk
memperbesar kemakmuran rakyat.
• Meningkatkan persaudaraan segala bangsa sebagai pelaksanaan cita-cita yang
tersimpul di dalam Pancasila, dasar dan falsafah negara kita.
Untuk memperluas pemahaman, berikut dipaparkan makna dari ketiga konsep tersebut
• Politik luar negeri adalah seperangkat cara/kebijakan yang dilakukan oleh suatu
negara untuk mengadakan hubungan dengan negara lain dengan tujuan untuk
tercapainya tujuan negara serta kepentingan nasional negara yang bersangkutan.
• Hubungan luar negeri adalah keseluruhan hubungan yang dijalankan oleh suatu
negara dengan semua pihak yang tidak tunduk pada kedaulatannya.
• Politik internasional adalah politik antarnegara yang mencakup kepentingan dan
tindakan beberapa atau semua negara serta proses interaksi antarnegara maupun
antarnegara dengan organisasi internasional

5
2.2.2 Asas-Asas Hubungan Internasional
Dalam hubungan internasional,dikenal beberapa asas yang didasarkan pada daerah dan
ruang lingkup berlakunya hukum bagi daerah dan warga Negara nya masing-masing. Ada
tiga asas dalam hubungan internasioanal yang saling memengaruhi, yaitu:
1. Asas teritorial,yaitu asas yang didasarkan pada asas kebangsaan Negara atas
daerahnya.
2. Asas kebangsaan, yaitu asas yang didasarkan pada kekuasaasan Negara untuk warga
negaranya.
3. Asas kepentingan umum, yaitu asas yang didasarkan pada wewenang Negara untuk
melindungi dan mengatur kepentingan kepentingan dalam kehidupan bermasyarakat.
2.2.3 Makna Hubungan Internasional
Secara umum hubungan internasional diartikan sebagai hubungan yang bersifat global
yang meliputi semua hubungan yang terjadi dengan melampaui batas-batas ketatanegaraan.
Konsepsi hubungan internasional oleh para ahli sering dianggap sama atau dipersamakan
dengan konsepsi politik luar negeri, hubungan luar negeri, dan politik internasional. Ketiga
konsep tersebut sebenarnya memiliki makna yang berbeda satu sama lain, akan tetapi
mempunyai persamaan yang cukup mendasar dalam hal ruang lingkupnya yang melampaui
batas-batas negara (lingkup internasional). Untuk memperluas pemahaman kalian, berikut
dipaparkan makna dari ketiga konsep tersebut.
1. Politik luar negeri adalah seperangkat cara/kebijakan yang dilakukan oleh suatu
negara untuk mengadakan hubungan dengan negara lain dengan tujuan untuk
tercapainya tujuan negara serta kepentingan nasional negara yang bersangkutan.
2. Hubungan luar negeri adalah keseluruhan hubungan yang dijalankan oleh suatu
negara dengan semua pihak yang tidak tunduk pada kedaulatannya.
3. Politik internasional adalah politik antarnegara yang mencakup kepentingan
dan tindakan beberapa atau semua negara serta proses interaksi antarnegara maupun
antarnegara dengan organisasi.
2.2.4 Sarana-Sarana Hubungan Internasional bagi Indonesia
Sarana atau perlengkapan Negara yang diberi wewenang untuk melakukan hubungan
internasional dibagi menjadi dua,yaitu:
1. Alat kelengkapan Negara di dalam negeri, mempunyai tugas melakukan hubungan
internasional, contohnya dalam ketentuan UUD 1945 menetapkan wewenang
presiden dalam hubungan internasioanl. Misalnya ,menyatakan perang, dan alat
perlengkapan dalam negeri diatur oleh hukum yang berlaku di masing-masing Negara
yang bersangkuta.

6
2. Alat perlengkapan Negara di luar negeri, terdiri dari berbagai utusan yang mempunyai
tugas melakukan hubungan internasional antara satu Negara dengan Negara lain.
Utusan-utusan alat perlengkapan Negara di luar Negara adalah sebagai berikut:
1) Perutusan diplomatik
Perutusan diplomatik adalah petugas Negara yang berada dinegara lain untuk menjalin
hubungan resmi antarnegara. Petugas diplomatik merupakan salah satu sarana utama dalam
menjalin hubungan internasional.
2) Konsul
Konsul merupakan salah satu sarana hubungan internasional yang tidak mempunyai
hak melaksanakan tugas diplomatik di mana ia ditempatkan. Akan tetapi, konsul dapat
menjalankan tugas jika negaranya tidak mempunyai utusan diplomatik. Sebelum
melaksanakan tugasanya, konsul harus mempunyai persetujuan dari Negara yang
ditempatinya terlebih dahulu.
Adapun tugas konsul adalah melindungi kepentingan komersial Negara yang
menugaskan dan melayani kepentingan untuk warga Negara dari Negara yang
menugaskannya di Negara tersebut.
1. Putusan khusus di Negara yang ditempatkan akan diberi hak istimewa yaitu,
kekebalan untuk berpergian, bergerak sejauh yang diperlukan untuk menjalankan
tugas, dan kekebalan yuridis.
2. Perwakilan lain.
2.2.5 Politik Luar Negeri Indonesia dalam Menjalin Hubungan Internasional
Hubungan yang dijalin oleh suatu negara dengan negara lain, tentu saja tidak dapat
dilepaskan dari tata pergaulan antarnegara. Jika dalam pergaulan manusia dalam
lingkungan tetangga ada yang dinamakan tata krama pergaulan, maka dalam pergaulan
antarnegara pun terdapat hal yang sama. Setiap negara mempunyai kebijakan politiknya
masing-masing. Kebijakan politik masing-masing negara dalam pergaulan internasional
dinamakan politik luar negeri.
Berkaitan dengan hal tersebut, bentuk kerja sama dan perjanjian internasional yang
dilakukan oleh bangsa Indonesia merupakan perwujudan dari politik luar negeri Indonesia.
Selain itu, politik luar negeri juga memberikan corak atau warna tersendiri bagi kerja sama
dan perjanjian internasional yang dilakukan oleh suatu negara.
Pada awal pendirian negara Republik Indonesia, kita dihadapkan pada satu situasi dunia
yang dikuasai oleh dua kekuatan negara adidaya sebagai akibat dari Perang Dunia II. Dua
kekuatan tersebut adalah Blok Barat di bawah kendali Amerika Serikat dengan mengusung
ideologi liberal. Kekuatan lainnya dikuasai oleh Blok Timur yang dipimpin oleh Uni Soviet
dengan mengusung ideologi komunis. Kenyataan ini sangat berpengaruh kepada negara

7
Indonesia yang baru saja merdeka dan tengah berupaya keras mempertahankan
kemerdekaannya dari rong-rongan Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia.
Kondisi demikian mau tidak mau memaksa bangsa Indonesia untuk menentukan sikap,
walaupun usianya masih sangat muda. Sikap bangsa Indonesia tersebut tertuang dalam
rumusan politik luar negeri Indonesia.
Pemerintah Indonesia yang pada waktu itu dipimpin oleh Ir. Soekarno
sebagai Presiden dan Drs. Muhammad Hatta sebagai Wakil Presiden pada tanggal 2
September 1948 di hadapan Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat
mengumumkan pendirian politik luar negeri Indonesia yang antara lain berbunyi ”...tetapi
mestikah kita, bangsa Indonesia yang memperjuangkan kemerdekaan bangsa dan negara
kita hanya harus memilih antara pro-Rusia atau pro-Amerika? Apakah tak ada pendirian
lain yang harus kita ambil dalam mengejar cita-cita kita?”.
Pemerintah Indonesia pada waktu itu berpendapat bahwa pendirian yang harus diambil
tidak menjadikan negara kita terjebak dalam kepentingan dua blok tersebut. Negara kita
tidak mau menjadi objek dalam pertarungan politik antara dua blok tersebut. Negara kita
harus menjadi subjek yang berhak menentukan sikap sendiri dan memperjuangkan tujuan
sendiri, yaitu merdeka seutuhnya tanpa ada rong-rongan dari negara lain. Dalam
kesempatan itu Drs. Muhammad Hatta menyampaikan pidatonya dengan judul yang sangat
menarik, yaitu Mendayung antara Dua Karang. Pidato tersebut kemudian dirumuskan lagi
secara eksplisit sebagai prinsip bebas aktif, yang kemudian menjadi corak politik luar
negeri Indonesia sampai sekarang. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa politik luar
negeri Indonesia bersifat bebas aktif.
Sifat politik luar negeri inilah yang mewarnai pola kerja sama bangsa Indonesia dengan
negara lain. Dengan kata lain, Indonesia selalu menitikberatkan pada peran atau kontribusi
yang dapat diberikan oleh bangsa Indonesia bagi kemajuan peradaban dan perdamaian
dunia. Hal ini dapat dilihat dari peristiwa-peristiwa di bawah ini yang dengan jelas
menggambarkan bentuk kerja sama yang dikembangkan bangsa Indonesia.
• Indonesia menjadi anggota Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang ke-60 pada
tanggal 28 September 1950. Meskipun pernah keluar dari keanggotaan PBB pada
tanggal 7 Januari 1965 sebagai bentuk protes atas diterimanya Malaysia menjadi
anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB, akan tetapi pada tanggal 28 September
1966 Indonesia masuk kembali menjadi anggota PBB dan tetap sebagai anggota yang
ke-60.
• Memprakarsai penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika (KAA) pada tahun 1955
yang melahirkan semangat dan solidaritas negara-negara Asia-Afrika yang kemudian
melahirkan Dasasila Bandung.

8
• Keaktifan Indonesia sebagai salah satu pendiri Gerakan Non-Blok (GNB) pada tahun
1961, bahkan pada tahun 1992 dalam Konferensi Negara-negara Non-Blok yang
berlangsung di Jakarta, Indonesia ditunjuk menjadi Ketua GNB. Melalui GNB ini
secara langsung Indonesia telah turut serta meredakan ketegangan perang dingin
antara Blok Barat dan Blok Timur.
• Terlibat langsung dalam misi perdamaian Dewan Keamanan PBB dengan
mengirimkan Pasukan Garuda ke negara-negara yang dilanda konflik seperti Kongo,
Vietnam, Kamboja, Bosnia, dan sebagainya. Bahkan pada tahun 2007, Indonesia
ditetapkan menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB.
• Indonesia menjadi salah satu pendiri ASEAN (Assosiaciation of South-East Asian
Nation) yaitu organisasi negara-negara di kawasan Asia Tenggara, bahkan Sekretariat
Jenderal ASEAN berada di Jakarta.
• Ikut serta dalam setiap pesta olahraga internasional mulai dari SEA Games, Asian
Games, Olimpiade, dan sebagainya.
• Indonesia aktif juga dalam beberapa organisasi internasional lainnya, misalnya
Organisasi Konferensi Islam (OKI), Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak
(OPEC), dan Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC).
• Menyelenggarakan hubungan diplomatik dengan berbagai negara yang ditandai
dengan pertukaran perwakilan diplomatik dengan negara yang bersangkutan. Sampai
saat ini, Indonesia sudah menjalin kerja sama bilateral dengan 162 negara. Sebagai
wujud dari hal tersebut, di negara kita terdapat kantor kedutaan besar dan konsulat
jenderal negara lain. Begitu juga dengan kantor Kedutaan Besar dan Konsulat Jenderal
negara kita yang terdapat di negara lain.
2.3 Peran Indonesia dalam Menciptakan Perdamaian Dunia Melalui Organisasi Internasional
Secara umum organisasi internasional dapat diartikan sebagai organisasi yang
berkedudukan sebagai subjek hukum internasional dan mempunyai kapasitas untuk membuat
perjanjian internasional. Karena merupakan subjek hukum internasional, organisasi
internasional mempunyai hak dan kewajiban yang ditetapkan dalam konvensi-konvensi
internasional. Organisasi internasional pada umumnya beranggotakan negara-negara. Akan
tetapi, meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan organisasi internasional terdiri dari
berbagai badan hukum atau badan usaha, bergantung dari sifat organisasi tersebut.
Indonesia terlibat dalam berbagai organisasi internasional. Hal tersebut sebagai
perwujudan dari komitmen bangsa Indonesia dalam menciptakan perdamaian dunia.
Berikut ini adalah peran Indonesia dalam beberapa organisasi Internasional.
2.3.1 Peran Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)
Secara resmi PBB berdiri pada 24 Oktober 1945. Semua negara yang menjadi anggota
PBB mempunyai kedudukan yang sama. Negara besar maupun kecil, kaya atau miskin

9
semuanya memiliki hak dan kewajiban yang sama bagi terciptanya perdamaian dunia.
Indonesia resmi menjadi anggota PBB ke-60 pada tanggal 28 September 1950 dengan suara
bulat dari para negara anggota. Hal tersebut terjadi kurang dari setahun setelah pengakuan
kedaulatan oleh Belanda melalui Konferensi Meja Bundar. Indonesia dan PBB memiliki
keterikatan sejarah yang kuat mengingat kemerdekaan Indonesia diproklamasikan pada
tahun 1945, tahun yang sama ketika PBB didirikan.
Sejak tahun itu pula PBB secara konsisten mendukung Indonesia untuk menjadi negara
yang merdeka, berdaulat, dan mandiri. Peran PBB terhadap Indonesia pada masa revolusi
fisik cukup besar seperti ketika terjadi Agresi Militer Belanda I, Indonesia dan Australia
mengusulkan agar persoalan Indonesia dibahas dalam sidang umum PBB. Selanjutnya,
PBB membentuk Komisi Tiga Negara yang membawa Indonesia-Belanda ke meja
Perundingan Renville. Ketika terjadi Agresi militer Belanda II, PBB membentuk UNCI
yang mempertemukan Indonesia-Belanda dalam Perundingan Roem Royen.
Banyak manfaat yang diperoleh bangsa Indonesia semenjak menjadi anggota PBB.
Berbagai bantuan dan jasa baik PBB telah dinikmati bangsa Indonesia yaitu sebagai
berikut:
• PBB turut berperan menyelesaikan perikaian Indonesia-Belanda dalam perang
kemerdekaan (1945-1950) dengan mengirimkan KTN dan UNCI.
• PBB berjasa menyelesaikan pengembalian Irian Barat ke pangkuan NKRI dengan
mengirim misi UNTEA.
• PBB banyak memberikan bantuan dalam bidang ekonomi, sosial dan budaya melalui
IMF, IBRD, UNESCO, WHO dan sebagainya.
Ketika konfrontasi Indonesia dan Malaysia berlangsung, Malaysia dicalonkan sebagai
anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB. Indonesia jelas menolak pencalonan tersebut.
Selanjutnya, Malaysia terpilih sebagai anggota tidak tetep Dewan Keamanan PBB.
Akhirnya, sebagai protes sejak Pada tanggal 7 Januari 1965 presiden Soekarno menyatakan
Indonesia keluar dari PBB. Peristiwa keluarnya Indonesia dari PBB merupakan puncak
keterkucilan Indonesia dari pergaulan Internasional.
Sejak keluar dari keanggotaan PBB, Indonesia praktis terkucil dari pergaulan
Internasional. Menyadari adanya kerugian itu, maka Indonesia memutuskan bergabung
kembali menjadi keanggotaan PBB. Pada tanggal 28 September 1966 kembali masuk
menjadi anggota PBB juga sebagai anggota yang ke-60. Tindakan Indonesia mendapat
dukungan dari Aljazair, Filipina, Jepang, Mesir, Pakistan dan Thailand.
Tujuan dari PBB yang tercantun dalam Pasal 1 Piagam PBB adalah sebagai berikut.
• Memelihara perdamaian dan keamanan Internasional
• Mengembangkan hubungan persahabatan antarbangsa berdasarkan asas-asas
persamaan derajat, hak menentukan nasib sendiri, dan tidak mencampuri urusan
dalam negeri negara lain.

10
• Mengembangkan kerjasama internasional dalam memecahkan masalah-masalah
ekonomi, sosial, budaya, dan kemanusiaan.
• Menyelesaikan perselisihan dengan cara damai dan mencegah timbulnya peperangan.
• Memajukan dan menghargai hak asasi manusia serta kebebasan atau kemerdekaan
fundamental tanpa membedakan warna, kulit, jenis kelamin, bahasa, dan agama.
• Menjadikan pusat kegiatan bangsa-bangsa dalam mencapai kerja sama yang harmonis
untuk mencapai tujuan PBB.
Guna mencapai tujuan yang tercantum dalam pasal 1, PBB menganut tujuh asas seperti
tertung dalam pasal 2 piagam perdamaian berikut:
• PBB didirikan atas dasar persamaan kedaulatan dari semua anggota.
• Semua anggota dengan semua itikad baik harus melaksanakan kewajiban-kewajiban
yang telah disetujui sesuai dengan ketentuan piagam.
• Sengketa-sengketa internasional akan diselesaikan dengan cara damai, sehingga tidak
membahayakan, perdamaian, keamanan dan keadilan nasional.
• Dalam melaksanakan hubungan internasional, semua anggota harus mencegah
tindakan-tindakan yang berupa ancaman atau kekerasan terhadap kedaulatan atau
kemerdekaan politik negara lain.
• Semua anggota harus membantu PBB dalam tindakan-tindakan yang diambil
berdasarkan ketentuan piagam PBB.
• PBB akan menjaga agar negara-negara bukan anggota bertindak sesuai dengan asas-
asas yang ditetapkan oleh PBB.
• PBB tidak akan mengadakan campur tangan dalam masalah-masalah dalam negeri
dari setiap anggota atau mengharuskan penyelesain masalah itu menurut ketentuan
piagam.
Organisasi khusus PBB adalah organ seperti yang dimaksudakan oleh ketentuan-
ketentuan lembaga-lembaga kerjasama internasional dalam PBB.
1. United Nations Funds for Population Activities (UNFPA), dana PBB untuk kegiatan
kependudukan.
2. Food and Agriculture Organization (FAO), orgnisasi yang menangani masalah
pangan, pertanian, perikanan, peternakan dan pekerjaan.
3. World Health Organization (WHO), menangani masalah kemiskinan, kelaparan dan
kesehatan.
4. United Nations Environment Programmed (UNEP), menangani dampak negatif
perkembangan industri dan eksploitasi sumber daya alam.
5. United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO),
menangani masalah pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
6. International Monetary Fund (IMF), menangani dana keuangan internasioanl yang
menyediakan kredit bagi negara-negara miskin.

11
7. International Bank for Reconstruction and Development (IBRD) atau Word Bank,
menyediakan kredit bagi negara-negara miskin.
8. Asia Development Bank (ADB), bank pembangunan Asia.
9. United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD), konferensi PBB
tentang perdagangan dan pembangunan.
10. General Agreement on Tariff Trade (GATT), persetujuan umum mengenai tarif dan
perdagangan. GATT berubah nama menjadi World Trade Organization (WTO),
organisasi perdagangan dunia.
11. European Economic Community (EEC), masyarakat ekonomi Eropa.
12. Asia Pasific Economic Cooperation (APEC), kerja sama ekonomi Asia Pasifik.
13. European Free Trade Association (EPTA), kerja sama perdagangan bebas Eropa.
14. ASEAN Free Trade Areas (AFTA), kawasan perdagangan bebas ASEAN.
15. Noth American Free Trade Association (NAFTA), kerja sama perdagangan bebas
Amerika Utara (AS, Kanada dan Mexico).
16. Latin American Free Trade Association (LAFTA), kerja sama perdagangan bebas
Amerika Latin.
❖ Peran Indonesia dalam PBB
Hubungan antara Indonesia mengalami pasang surut dari masa ke masa. Bahkan pada
masa Orde Lama, Presiden Soekarno memutuskan untuk keluar dari keanggotaan PBB.
Akan tetapi, Pemerintah Indonesia melalui Presidan Soekarno memutuskan untuk kembali
menjadi salah satu anggota PBB. Berikut peran Indonesia sebagai salah satu anggota aktif
PBB.
1. Pengiriman Pasukan Garuda, untuk pertama kali ke Timur Tengah, yaitu Pasukan
Garuda I pada bulan Januari 1957 dalam rangka membantu menyelesaikan konflik di
wilayah tersebut.
2. Pengiriman pasukan Garuda II dan III ke negara Kongo pada tanggal 10 September
1960 untuk mengatasi konflik negara tersebut.
3. Pengiriman pasukan Garuda IV, V, VI, VII dan VIII ke negara Vietnam pada bulan
Januari 1973.
4. Ikut aktif dalam menyelesaikan konflik di Bosnia dengan mengirimkan pasukan
perdamaian ke negara tersebut.
5. Berperan penting dalam pembentukan badan kekuasaan sementara PBB di Kamboja.
Pembentukan dewan tersebut untuk mengawasi transisi pemerintahan yang terjadi di
negara Kamboja.
6. Prestasi gemilang menteri Luar Negeri Adam Malik yang berhasil menjabat sebagai
ketua sidang Majelis Umum PBB untuk masa tahun 1974.

12
2.3.2 Peran Indonesia dalam ASEAN (Association of South East Asian Nation)
ASEAN merupakan perhimpunan bangsa-bangsa di Asia Tenggara. Dengan
terbentuknya ASEAN akan memperkukuh ikatan solidaritas, terciptanya perdamaian, dan
kerja sama yang saling menguntungkan di antara negara-negara di Asia Tenggara. ASEAN
dibentuk oleh negara-negara di Asia Tenggara atsa dasar ksesaman wilayah geografis dan
tidak membeda-bedakan sistem politik dan ideologi di negara-negara tersebut. ASEAN
merupakan sebuah organisasi yang mengembangkan kerja sama terutama dalam bidang
ekonomi, sosial, budaya.
ASEAN adalah kepanjangan dari Association of South East Asia Nations. ASEAN juga
disebut sebagai Perbara yang merupakan singkatan dari Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia
Tenggara. Gedung sekretarian ASEAN berada di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan,
Indonesia. ASEAN didirikan tanggal 8 Agustus 1967 di Bangkok, Thailand. ASEAN
diprakarsai oleh 5 menteri luar negeri di wilayah Asia Tenggara, yaitu Indonesia,
Malaysia, Thailand, Filipina dan Singapura.
• Perwakilan Indonesia : Adam Malik.
• Perwakilan Malaysia : Tun Abdul Razak.
• Perwakilan Thailand : Thanat Khoman.
• Perwakilan Filipina : Narcisco Ramos.
• Perwakilan Singapura : S. Rajaratman.

❖ Tujuan Berdirinya ASEAN


Maksud dan tujuan berdirinya ASEAN seperti yang tercantum dalam Deklarasi Bangkok
8 Agustus 1967 adalah sebagai berikut.
• Mempercepat pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial, serta pengembangan
kebudayaan di kawasan Asia Tenggara.
• Meningkatkan perdamaian dan stabilitas regional.
• Meningkatkan kerja sama yang aktif serta saling membantu satu sama lain dalam
masalah ekonomi, sosial, budaya, teknik, ilmu pengetahuan dan administrasi.
• Saling memberikan bantuan dalam bentuk sarana-sarana latihan dan penelitian dalam
bidang pendidikan, profesional, teknik dan administrasi.
• Bekerja sama dengan lebih efektif dalam meningkatkan penggunaan pertanian serta
industri, perluasan perdagangan komoditas internasional, perbaikan sarana-sarana
pengangkutan dan komunikasi serta peningkatan taraf hidup rakyat.
• Meningkatkan studi-studi tentang Asia Tenggara.
• Memelihara kerja sama yang erat dan berguna bagi organisasi-organisasi
internasional dan regional yang ada dan bertujuan serupa.

13
❖ Anggota ASEAN
Anggota ASEAN yang dulunya hanya lima negara di Asia Tenggara, sekarang telah
menjadi 11 negara, yaitu sebagai berikut.
• Filipina sebagai negara pendiri.
• Indonesia sebagai negara pendiri.
• Malaysia sebagai negara pendiri.
• Singapura sebagai negara pendiri.
• Thailand sebagai negara pendiri.
• Brunei Darusalam bergabung pada 7 Januari 1984.
• Vietnam bergabung pada 28 Juli 1995.
• Laos bergabung pada 23 Juli 1997.
• Myanmar bergabung pada 23 Juli 1997.
• Kamboja bergabung pada 16 Desember 1998.

❖ Peran Indonesia di ASEAN


Indonesia adalah salah satu negara yang masuk keanggotaan ASEAN maka Indonesia
memiliki peran penting didalam ASEAN. Berikut adalah peran Indonesia dalam ASEAN.
• Indonesia menjadi salah satu negara yang menggagas lahirnya ASEAN
• Meluncurkan gagasan untuk menghargai dan melindungi HAM
• Meluncurkan gagasan pembentukan komunitas keamanan ASEAN
• Meganjurkan kerja sama penukaran barang dan jasa
• Menganjurkan adanya pementasan kesenian atau budaya negara-negara ASEAN

Peran Indonesia dalam ASEAN hingga saat ini tidak pernah surut. Bahkan, ASEAN
menjadi prioritas utama dalam politik luar negeri Indonesia. Indonesia selalu aktif
berpartisipasi dalam setiap penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) atau
pertemuan-pertemuan ASEAN. Indonesia sering menjadi tuan rumah dalam acara-acara
penting ASEAN.
Di antaranya adalah sebagai berikut.
a) KTT ASEAN Pertama
KTT ini diselenggarakan di Bali pada tanggal 24 Februari 1976. Dalam KTT ini
dihasilkan dua dokumen penting ASEAN.
- Deklarasi ASEAN Bali Concord I, berisi berbagai program yang akan menjadi
kerangka kerja sama ASEAN selanjutnya. Kerja sama ini meliputi bidang politik,
ekonomi , sosial , budaya,dan keamanan.
- Perjanjian persahabatan dan kerja sama. Dalam perjanjian ini disepakati prinsip-
prinsip dasar dalam hubungan satu sama lain. Prinsip ini antara lain tidak campur

14
tangan urusan dalam negeri satu sama lain, menyelesaikan perselisihan dengan cara
damai, dan menolak penggunaan ancaman/kekerasan.
b) Pertemuan Informal Pemimpin Negara ASEAN Pertama
Pertemuan diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 30 November 1996. Pertemuan
ini merupakan tindak lanjut dari keputusan yang dihasilkan dalam KTT ke-5 ASEAN di
Bangkok pada bulan Desember 1995.
c) KTT ASEAN Kesembilan
KTT kesembilan diselenggarakan di Bali tanggal 7 Oktober 2003. Dalam KTT ini
dihasilkan Deklarasi ASEAN Bali Concord II, sebagai kelanjutan dari Bali Concord I
1976. Bali Concord II berfungsi memperkuat Visi ASEAN 2020. Dalam Bali Concord II
ditetapkan Komunitas ASEAN yang didasarkan atas tiga pilar yaitu Komunitas
Keamanan ASEAN (ASC), Komunitas Ekonomi ASEAN (AEC), dan Komunitas Sosial
Budaya ASEAN (ASCC).
Indonesia sebagai bagian dari Asia Tenggara khususnya dan dunia umumnya, menyadari
pentingnya hubungan kerja sama dengan negara-negara lain di berbagai belahan bumi. Hal
ini sesuai dengan yang tertuang dalam tujuan negara sebagaimana yang tercantum dalam
Pembukaan UUD 1945, yaitu ikut melaksanakan ketertiban dunia, perdamaian abadi, dan
keadilan sosial.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut, Indonesia banyak berperan aktif dalam berbagai
organisasi internasional, terutama di kawasan Asia Tenggara. Selain itu, Indonesia juga
menjalin kerja sama bilateral dengan beberapa negara secara khusus. Dalam menjalin
hubungan internasional, Indonesia menggunakan politik luar negeri yang bebas aktif.
Bebas, artinya bangsa Indonesia bebas menentukan sikap yang berkaitan dengan dunia
internasional. Aktif, artinya Indonesia berperan serta secara aktif dalam memperjuangkan
terciptanya perdamaian dunia dan berpartisipasi dalam mengatasi ketegangan
internasional.
2.3.3 Peran Serta Indonesia dalam Gerakan Non-Blok
Di era tahun 50-an, Negara-negara di dunia terpolarisasi ke dalam dua kubu. Ketika
itu terjadi pertarungan yang kuat antar blok timur dan blok barat terutama sekali pada era
perang dingin ( cold war ) antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Lalu di dibentuklah
GNB atau gerakan non blok merupakan salah satu gerakan yang tidak memihak salah
satu blok, baik barat ( liberalisme ) ataupun timur (komunisme ).
Organisasi gerakan non blok muncul di tengah persaingan dua kekuatan besar dunia,
yaitu blok barat dan blok timur. Persaingan kedua blok terjadi pada masa perang dingin.
Negara-negara blok timur di pimpin uni soviet sementara Negara-negara blok barat di
pimpin oleh Amerika Serikat. Tiap-tiap blok berusaha menarik dukungan-dukungan dari

15
Negara-negara lain. Supaya Negara-negara berkembang tidak terkena pengaruh blok
barat maupun blok timur, maka didirikanlah Organisasi Gerakan Non Blok.
Gerakan Non Blok sendiri berawal dari sebuah konverensi tingkat tinggi Asia Afrika /
konferensi asia afrika yaitu sebuah konferensi yang di adakan di bandung. Pada tahun 1955,
di sana Negara-negara yang tidak berpihak pada blok manapun mendeklarasikan keinginan
mereka untuk tidak terlibat dalam konfrontasi ideology blok barat dan blok timur. Pendiri
/ tokoh Gerakan Non Blok ini ada 5 pemimpin dunia, yaitu sebagai berikut :
1. Josip Broz Tito Presiden Yugoslavia
2. Soekarno presiden Indonesia
3. Pandit Jawaharhal Nehru Perdana Mentri India
4. Gamal Abdul Naser Presiden Mesir
5. Kwame Nkrumah dari Ghana
❖ Tujuan Gerakan Non Blok
Tujuan GNB yaitu seperti yang tercantum dalam gerakan Havana tahun 1979, adalah
untuk menjamin “kemerdekaan”, kedaulata, integritas, territorial nasional, dan keamanan
dari Negara-negara non blok, dalam perjuangan mereka menentang imperlalisme,
koloniaalisme, neo-kolonialisme, apartheid, rasisme dan segala bentuk agresi militer,
pendudukan, dominasi asing tidak mencampuri urusan dalam negri Negara lain,
menentang segala bentuk blok politik, serta kerjasama internasional berdasarkan
peramaan hak.
Adapun tujuan dari Gerakan Non Blok dapat di jabarkan dalam poin utama, yaitu
sebagai berikut :
1. Turut serta meredakan ketegangan dunia akibat perebutan pengaruh Amerika serikat
(blok barat) dan uni soviet (blok timur) dalam perang dingin.
2. Membendung pengaruh dampak negatif baik dari blok barat maupun blok timur ke
Negara-negara anggota Gerakan Non Blok.
3. Mengembangkan rasa solidaritas di antara anggota Negara, caranya dengan mebantu
perjuangan Negara-negara berkembang dalam mencapai persamaan, kemerdekaan,
dan kemakmuran.
Sejak pertemuan bladgre tahun 1961, serangkaian tingkat tinggi gerakan non blok telah
di selenggarakan yaitu di kairo, mesir ( 1964 ) diikuti oleh 46 negara dengan anggota yang
hadir kebanyakan dari Negara-negara afrika yang baru meraih kemerdekaan, kemudian di
Lusaka Zambia (1970) , Algiers, Aljazair, (1973), kolombo srilanka ( 1976 ), havania, cuba
( 1979 ), new delhi, india ( 1983) Harare Zimbabwe (1986), Jakarta Indonesia ( 1992),
Cartagena theindias kolombia (1995), Durban afrika selatan (1998), kuala lumpur malesia
( 2003) Havena Kuba ( 2006 ), sharem elshikh mesir ( 2009 ) , Teheran, iran ( 2012 ) dan
terakhir karakas, Vanazuela pada tahun 2015.

16
Gerakan ini sempat kehilangan kreadibilitasnya pada tahun 1960-an ketika anggota-
anggotanya mulai terpecah dan bergabung pada salah satu blok, terutama blok timur,
dengan demikian muncul pertanyaan bagaimana sebuah Negara yang bersekutu dengan
uni soviet seperti bisa mengklime dirinya sebagai Negara non blok, Negara adapun kasus
dimana india yang bersekutu dengan uni sioviet melawan tiongkok selama beberapa
tahun, lebih buruk lagi, beberapa anggota non blok terlibat dengan anggota lainnya,
seperti misalnya konflik antara iran dengan irak dan Pakistan dengan india.
Gerakan ini kemudian terpecah pada tahun 1959 ketika terjadi invasi uni soviet
terhadap Afghanistan, saat itu seluruh uni soviet mendukung invasi sementara anggota
GNB, trutama Negara dengan mayoritas muslim, tidak mungkin melakukan hal yang
sama untuk Afghanistan akibat adanya perjanjian nonintervensi.
Bagi Indonesia, Gerakan Non-Blok (GNB) merupakan wadah yang tepat bagi negara-
negara berkembang untuk memperjuangkan cita-citanya dan untuk itu Indonesia senantiasa
berusaha secara konsisten dan aktif membantu berbagai upaya ke arah pencapaian tujuan
dan prinsip-prinsip Gerakan Non-Blok.
GNB mempunyai arti yang khusus bagi bangsa Indonesia yang dapat dikatakan lahir
sebagai negara netral, yang tidak memihak. Hal tersebut tercermin dalam Pembukaan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menyatakan bahwa
kemerdekaan adalah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia
harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Selain itu,
diamanatkan pula bahwa Indonesia ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Kedua mandat tersebut juga
merupakan falsafah dasar GNB.
Sesuai dengan politik luar negeri yang bebas dan aktif, Indonesia memilih untuk
menentukan jalannya sendiri dalam upaya membantu tercapainya perdamaian dunia
dengan mengadakan persahabatan dengan segala bangsa. Sebagai perwujudan dari politik
luar negeri yang bebas dan aktif, selain sebagai salah satu negara pendiri GNB, Indonesia
juga senantiasa setia dan memegang teguh prinsip-prinsip dan aspirasi GNB. Sikap ini
secara konsisten ditunjukkan Indonesia dalam kiprahnya pada masa kepemimpinan
Indonesia pada tahun 1992–1995.
Selama tiga tahun dipimpin Indonesia, banyak kalangan menyebut GNB berhasil
memainkan peran penting dalam percaturan politik global. Lewat Jakarta Message,
Indonesia memberi warna baru pada gerakan ini dengan meletakkan titik berat kerja sama
pada pembangunan ekonomi. Akan tetapi, meskipun demikian, politik dan keamanan
negara-negara sekitar tetap menjadi perhatian. Dengan kontribusi positifnya selama ini,
Indonesia dipercaya untuk turut menyelesaikan berbagai konflik regional, antara lain

17
konflik berdarah di Kamboja, gerakan separatis Moro di Filipina, dan sengketa di Laut Cina
Selatan.
Meskipun sekarang Indonesia tidak lagi menjabat sebagai pimpinan GNB, namun tidak
berarti bahwa penanganan oleh Indonesia terhadap berbagai permasalahan penting GNB
akan berhenti atau mengendur. Sebagai anggota GNB, Indonesia akan tetap berupaya
menyumbangkan peranannya untuk kemajuan GNB dimasa yang akan datang dengan
mengoptimalkan pengalaman yang telah didapat selama menjadi Ketua GNB.
❖ Peran Indonesia dalam Gerakan Non Blok
Gerakan Non Blok ( GNB ) menempati posisi khusus dalam politik luar negri Indonesia
karena Indonesia sejak awal memiliki peran sentral dalam pendirian GNB. Secara khusus,
presiden soekarno di akui sebagai tokoh penggegas dan pendiri GNB, Indonesia menilai
penting GNB tidak sekedar dari peran yang selama ini di kontribusikan, tetapi juga
mengingat prinsip dan tujuan GNB merupakan refleksi dari perjuangan dan tujuan
kebangsaan Indonesia sebagaimana tertuang dalam UUD 1945.
Selain peran yang serta di jelaskan tersebut, berbagai peran serta Indonesia di dalam
gerakan non blok dapat di jelaskan beberapa poin berikut ini.
1. Sebagai salah satu Negara premarkarsa, hal tersebut karena Gerakan Non Blok sendiri
bermula dari sebuah konferensi asia afrika yang di gelar di bandung, pada tahun 1955.
2. Sebagai salah satu Negara pengundang dalam konferensi Tingkat Tinggi GNB yang
pertama, hal ini karena Indonesia merupakan salah satu pendiri GNB dan berperan
besar mengundang / mengajak Negara lain untuk bergabung ke dalam GNB.
3. Peran menjadi ketua GNB pada tahun 1992-1995 pada saat itu (1-6 september 1992)
Indonesia menjadi tuan rumah KTT X GNB berjumlah 106 negara.
4. Indonesia juga turut memecahkan masalah-masalah dunia berdasarkan perdamaian
dunia memperjuangkan HAM, dan tata ekonomi dunia yang berdasarkan pada asas
keadilan Indonesia memandang GNB sebagai wadah yang tepat bagi Negara-negara
berkembang untuk memperjuangkan cita-citanya sikap ini secara konskwen di
aktualisasikan Indonesia dalam kiprahnya di GNB.
2.4 Upaya Yang Dilakukan dalam Mewujudkan Perdamaian Dunia
Ada beberapa solusi atau upaya menurut Cipto Wardoyo yang harus dilakukan
demi mewujudkan perdamaian dunia, antara lain:
1. Melalui Pendekatan Cultural (Budaya)
Untuk mewujudkan perdamaian kita harus mengetahui budaya tiap-tiap masyarakat
ataupun sebuah Negara. Dengan mengetahui budaya tiap-tiap masyarakat atau sebuah
Negara maka kita bisa memahami karakteristik dari masyarakat atau Negara tersebut.

18
Pendekatan budaya ini merupakan cara yang paling efektif dalam mewujudkan
perdamaian di masyarakat Indonesia serta dunia.
2. Melalui Pendekatan Sosial dan Ekonomi
Dalam hal ini pendekatan sosial dan ekonomi yang dimaksudkan terkait masalah
kesejahteraan dan faktor-faktor sosial di masyarakat yang turut berpengaruh terhadap
upaya perwujudan perdamaian dunia. Ketika masyarakatnya kurang sejahtera tentu saja
lebih rawan konflik dan kekerasan di dalamnya. Masyarakat atau Negara yang kurang
sejahtera biasanya akan “tidak perduli”atas isu dan seruan perdamaian. Maka untuk
mendukung upaya perwujudan perdamaian dunia yang harus dilakukan terlebih dahulu
adalah meningkatkan pemerataan kesejahteraan seluruh masyarakat dan Negara di dunia
ini.
3. Melalui Pendekatan Politik
Melalui pendekatan budaya dan sosial ekonomi saja belum cukup efektif untuk
mewujudkan perdamaian dunia. Perlu adanya campur tangan politik, dalam artian ada
agenda politik yang menekankan dan menyerukan terwujudnya perdamaian dunia. Terlebih
lagi bagi Negara-negara maju dan adidaya yang memiliki power atau pengaruh dimata
dunia. Negara-negara maju pada saat-saat tertentu harus berani menggunakan power-nya
untuk “melakukan sedikit penekanan” pada Negara negara yang saling berkonflik agar
bersedia berdamai kembali. Bukan justru membuat situasi semakin panas, dengan niatan
agar persenjataan mereka terus dibeli.
4. Melalui Pendekatan Religius (Agama)
Pada hakikatnya seluruh umat beragama di dunia ini pasti menginginkan adanya
perdamaian. Semua Negara mengajarkan kebaikan, yang diantaranaya kepedulian
dan perdamaian. Maka dari itu setiap kita yang mengaku beragama dan ber-Tuhan
tentu harus memiliki kepedulian dalam turut serta mewujudkan perdamaian di
masyarakat maupun di kancah dunia. Para tokoh agama yang dianggap memiliki
karisma dan pengaruh besar di masyarakat harus ikut serta aktif menyerukan perdamaian.
Di lingkungan masyarakat sekarang ini banyak kita temukan masalah-masalah yang
terjadi dan sering menimbulkan masalah di tengah tengah masyarakat yang kurang
memahami satu dengan yang lainnya. Sebaiknya agar terjadi perdamaian dunia adalah
kesadaran dari diri sendiri dan pemikiran, perbuatan yang tidak semena-mena agar tidak
terjadi kesalahpahaman dan konflik atau keributan di tengah masyarakat. Kita harus
memiliki suatu tujuan yang sama dengan orang lain untuk bersatu dan berjuang demi
mewujudkan perdamaian dunia.

19
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Keterlibatan Indonesia dalam mewujudkan perdamaian dunia dilakukan melalui
hubungan internasional dan keterlibatannya dalam berbagai organisasi internasional. Secara
umum hubungan internasional diidentifikasi sebagai hubungan yang bersifat global yang
meliputi semua hubungan yang terjadi dengan melampaui batas-batas ketatanegaraan.
Perlunya kerja sama dalam bentuk hubungan internasional antara lain karena faktor-
faktor berikut. Faktor internal, yaitu adanya kekhawatiran terancamnya kelangsungan hidup
negara, baik melalui kudeta maupun intervensi dari negara lain. Faktor eksternal, yaitu
ketentuan hukum alam yang tidak dapat dipungkiri bahwa suatu negara tidak dapat berdiri
sendiri tanpa bantuan dan kerja sama dengan negara lain. Ketergantungan tersebut terutama
dalam upaya memecahkan masalah-masalah ekonomi, politik. hukum, sosial budaya,
pertahanan, dan keamanan.
Secara umum, organisasi internasional dapat diartikan sebagai organisasi bukan negara
yang berkedudukan sebagai subjek hukum internasional dan mempunyai kapasitas untuk
membuat perjanjian internasional. Indonesia terlibat dalam berbagai organisasi internasional.
Hal tersebut sebagai perwujudan dari komitmen bangsa Indonesia dalam menciptakan
perdamaian dunia.
3.2 Saran
Peran Indonesia dalam perdamaian dunia, bahwa kedudukan bangsa Indonesia sangat
penting dalam pergaulan internasional demi menegakkan perdamaian dunia. Upaya
Indonesia untuk ikut berperan serta dalam perwujudan perdamaian dunia tentunya akan
efektif jika didukung oleh warga negaranya.

20
DAFTAR PUSTAKA

• https://farizbadruzaman.wordpress.com/2018/08/10/dinamika-peran-indonesia-
dalam perdamaian-dunia/
• https://doc.lalacomputer.com/makalah-peran-indonesia-dalam-perdamaian
dunia/#A-Peran-Indonesia-dalam-Menciptakan-Perdamaian-Dunia-melalui-
Hubungan-Internasional
• https://docplayer.info/72746177-Makalah-dinamika-peran-indonesia-dalam
perdamaian-dunia-sesuai-dengan-uud-1945.html
• https://id.wikipedia.org/wiki/Perdamaian_dunia

21