Tarbiyah, Jalan Kita ....
Dahulu, Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam tidak memiliki konsep pembinaan apapun kecuali
hanya Al-Qur`anul Karim. Dahulu, Rasul shallallaahu alaihi wa sallam dengan para sahabat
radhiallahu anhum juga tak merasakan pendidikan melalui kampus universitas, ma’had, madrasah
atau sekolah apapun, kecuali hanya melalui masjid. Dahulu, di antara murid-murid Rasul
shallallaahu alaihi wa sallam adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali radhiallahu anhum dan sahabat
lainnya. Mereka semua tertarbiyah di sebuah Madrasah yang bernama, masjid.
Dari Madrasah yang penuh berkah itulah lahir sebuah peradaban Islam yang mengubah dunia.
Adakah sekolah yang lebih hebat dan lebih canggih dari Madrasah itu?
Dari mereka yang duduk dan berhimpun di atas pasir. Dari Madrasah yang beratapkan pelepah
kurma. Dari masjid yang berupa bangunan sangat sederhana. Dari suasana bersahaja, hubungan
hati para murid di Madrasah itu semakin kuat dan teduh. Mereka sangat menanti-nanti arahan yang
akan disampaikan Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam dari petunjuk langit. Waktu bergulir, hari
demi hari, bulan berganti bulan. Keimanan mereka semakin mengakar dan mendarah daging dalam
hati. Mereka yakin begitu dalam terhadap apa yang dibawa Rasul Muhammad shallallahu alaihi wa
sallam.
Terhimpunlah hati mereka untuk tunduk penuh pada Rabb manusia. Ditanamkanlah dalam hati
mereka sebuah perasaan baru hingga melalui pembinaan di Madrasah itu, terciptalah “khaira
ummatin ukhrijat lin naas” , ummat terbaik yang ditampilkan untuk manusia. Lalu mereka merasa
begitu termuliakan, karena iman dan Islam.
ُ َوهَّلِل ِ ا ْلع َِّزةُ َول َِر
َسولِ ِه َولِ ْل ُم ْؤ ِمنِين
“Dan bagi Allah kemuliaan, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang beriman.” (QS. Al
Munafiquun : 8)
Penampilan mereka boleh jadi tidak perlente, sebab di antara mereka pun ada yang tak beralas kaki
meski tak berarti mereka semua kaum papa. Tapi yang begitu istimewa dari mereka adalah,
keimanan yang mereka kuat menghujam dalam kalbu, keimanan yang tak tergoyahkan. Penanaman
iman tauhid itu digambarkan dalam hadits marfu’ dari Jundub bin Abdillah radhiallahu anhu
memang menjadi langkah pertama dan utama di Madrasah ini: “Dahulu ketika kami masih pemuda,
kami pelajari keimanan sebelum mempelajari Al-Qur`an. Kemudian kami mempelajari Al-Qur`an dan
bertambahlah keimanan kami karenanya.”
Di Madrasah itu, mereka dibacakan ayat-ayat Allah, disinari cahaya Rabb semesta, hingga mereka
yang lulus dari Madrasah itu juga menjadi cahaya bagi dunia dan seisinya. Madrasah itu melahirkan
orang-orang yang lalu menjadi guru bagi dunia. Guru kemanusiaan, guru ilmu pengetahuan, guru
kemuliaan bagi kekuasaan, hingga guru peradaban terbaik yang pernah ada.
Kita mungkin bertanya, apa yang menjadi orientasi kelompok yang dibina Rasulullah shallallaahu
alaihi wa sallam itu? Seperti apaa cita-cita tertinggi mereka? Terkadang mereka berbisik karena
harus merahasiakan pembicaraan. Tapi terkadang mereka tampil menyuarakan lantang kebenaran
yang mereka yakini dan mereka bela. Sebenarnya apa yang mereka inginkan?
Mereka ingin meletakkan cara berpikir baru dalam pikiran semua orang. Mereka ingin menegakkan
keyakinan terhadap aqidah tauhid di atas permukaan bumi ini. Mereka ingin membangun sebuah
bangunan baru bagi manusia di dunia. Mereka ingin menghubungkan manusia di bumi dengan
Tuhan di langit. Merekalah lalu berseru, “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iiin” , hanya kepada
Engkaulah kami menyembah. Dan hanya kepada Engkau lah kami bermohon pertolongan.
Jumlah mereka tidak banyak. Bahkan bisa dikatakan sedikit. Perlengkapan dan fasilitas yang mereka
miliki juga jauh dari memadai. Tapi mereka memiliki cita-cita besar. Mereka mempunyai pandangan
perjuangan yang tinggi dan mulia. Mereka ingin membawa petunjuk Allah melalui agama Islam
untuk seluruh manusia dengan meletakkan sebuah sistem kehidupan yang baru, dan model manusia
yang baru.
Ada tiga pilar yang menjadi tonggak penting, sehingga mereka bisa mewujudkan penghambaan yang
utuh kepada Allah:
Pertama, Keimanan yang Sempurna (Al-Iimaan Al-Kaamil)
Keimanan ini yang melucuti semua tujuan lain kecuali tujuan mencari keridhaan Allah. Mereka
mendengar seruan firman Allah, mereka bergegas menuju Allah SWT melebihi dari yang lain, lalu
menjadikan “Laa ilaaha illa Llaah” sebagai syiar hidup dan perjuangan mereka dalam dakwah.
Mereka singkirkan dan tinggalkan semua hal yang tidak sejalan dengan syiar tauhid.
Mereka bukan tak mendengar gemerlap kehidupan Persia dan Romawi ketika itu. Mereka juga
bukan buta dengan sejumlah kemajuan yang ada di peradaban dunia saat itu. Tapi mereka tidak
tertarik oleh materi yang menjadi gaya hidup peradaban tersebut. Mereka tak menjadi silau dengan
kemajuan ilmu pengetahuan yang terjadi di kerajaan dan negara-negara ketika itu. Persia, meski
mengalami kemajuan dalam hal materi dan pengetahuan, tapi lulusan Madrasah bersama Rasulullah
shallallaahu alaihi wa sallam itu, memandang negeri Persia dalam kesesatan lantaran mereka
menyembah syahwat dan nafsu. Sedangkan Romawi yang didiami tokoh Ahli Kitab ketika itu juga
mengalami kesesatan karena menjadikan rahib dan pemuka agama sebagai tuhan selain Allah.
Semua yang terjadi di muka bumi ketika itu, ada dalam rotasi kesesatan karena tidak mengambil
hidayah Allah dan tidak tersinari cahaya Allah. Begitulah cara pandang terhadap peradaban yang ada
di sekeliling mereka. Begitulah inti pengajaran yang disampaikan Rasulullah shallallaahu alaihi wa
sallam melalui Madrasah tarbiyah.
Mereka diajarkan dan ditanamkan keyakinan bahwa mereka ada di atas kebenaran. Sebab mereka
telah berlepas dari paganisme, menolak penyembahan nafsu dan syahwat. Mereka arahkan
semuanya hanya kepada Allah saja. Mereka tidak tunduk tidak menyembah kecuali Allah. Mereka
tidak bersandar dan mengandalkan apapun kecuali Allah. Mereka tidak meminta kepada siapapun
kecuali kepada Allah. Mereka tidak merasakan nikmat untuk berdekatan kecuali kedekatan dengan
Allah. Ketika merasakan sakit, mereka tidak begitu merasakannya kecuali mereka merasa kondisi itu
karena dosa yang menjauhkan mereka dari Allah. Inilah di antara perasaan yang kemudian
menghimpun hati para sahabat ketika itu. Setelah mereka tahu bahwa bumi itu diwariskan oleh
Allah kepada siapapun hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, dan bahwa semua urusan akan diberikan
kepada orang-orang yang bertakwa, terhapuslah sudah semua perbedaan yang bisa memecah
kesatuan mereka. Hilang sudah hati yang saling menjauhi karena mereka sudah tercelup dalam
sebuah celupan baru, shibghah jadidah.
صِ ْب َغ َة هَّللا ِ ۖ َو َمنْ أَحْ َسنُ م َِن هَّللا ِ صِ ْب َغ ًة
“Shibghah Allah, dan siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada shibghah Allah.” (QS. Al
Baqarah 138)
Kedua : Al-Hubb al Watsiiq waj Timaa’il Quluub, wa `Tilaafil Arwaah (Cinta yang Kuat,
Perhimpunan Hati dan Perpaduan Jiwa)
Apa lagi yang membuat mereka berselisih? Harta fana dari kekayaan dunia? Perbedaan level sosial,
perselisihan pendapatan, pekerjaan, status? Mereka hanya memahami “Inna akramakum inda llaah
atqaakum” Sesungguhnya yang paling mulia dari kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.
(QS. Al-Hujuraat : 13)
Hampir tidak ada sesuatu yang bisa menjadikan mereka terpisah. Hampir tak ada yang bisa
membuat barisan mereka terpecah. Merekalah yang layak mengemban nama para rijaal, manusia-
manusia besar yang mengukir sejarah dengan tinta emas bagi kemanusiaan. Merekalah yang
kemudian membangun peradaban yang disebut peradaban Rabbani (hadhaarah Rabbaniyah)
Mereka menjadi saudara karena Allah. Hidup subur cinta antara mereka, hingga mereka mendahului
saudaranya dari dirinya. Mereka membaca firman Allah :
َّ ض ْو َن َهٓا أَ َح
ب إِلَ ْي ُكم َ ٰ سا َدهَا َو َم
َ سكِنُ َت ْر َ ش ْونَ َك َ ير ُت ُك ْم َوأَ ْم ٰ َول ٌ ٱ ْق َت َر ْف ُت ُموهَا َوت ٰ َِج َرةٌ َت ْخ
َ ُِقلْ إِن َكانَ َءا َبٓاؤُ ُك ْم َوأَ ْب َنٓاؤُ ُك ْم َوإِ ْخ ٰ َو ُن ُك ْم َوأَ ْز ٰ َو ُج ُك ْم َو َعش
ٰ
َوا َح َّت ٰى َيأْت َِى ٱهَّلل ُ ِبأ َ ْم ِرهِۦ َوٱهَّلل ُ اَل َي ْهدِى ٱ ْل َق ْو َم ٱ ْل َفسِ قِين۟ صُ س ِبيلِهِۦ َف َت َر َّب َ سولِهِۦ َو ِج َها ٍد فِى ُ مِّنَ ٱهَّلل ِ َو َر
Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta
kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah
tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari)
berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak
memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (QS. At Taubah : 24)
Cinta mereka adalah karena Allah. Benci mereka juga karena Allah. Apa yang mereka persembahkan,
karena Allah. Kehidupan mereka tenggelam dengan cinta agung ini, dan dengan cinta itulah mereka
akan “perangi” manusia.
Ketiga : At-Tarbiyah Ala Tadhiyah (Pembinaan atas Pengorbanan)
Mereka terbina atas pengorbanan. Hasil pembinaan itu, menjadikan mereka memberi semua yang
mereka punya, hingga jiwa. Jiwa mereka adalah milik Rabb semesta. Sampai-sampai salah seorang
dari mereka menolak menerima ghanimah (harta rampasan perang) yang sebenarnya sudah halal
dan menjadi haknya, lalu turun lah firman Allah SWT :
َف ُكلُوا ِم َّما َغن ِْم ُت ْم َحاَل اًل َط ِّي ًبا ۚ َوا َّتقُوا هَّللا َ ۚ إِنَّ هَّللا َ َغفُو ٌر َرحِي ٌم
“Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang
halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.” (QS. Al Anfaal : 69)
Begitulah, mereka sangat memelihara diri bahkan terhadap sesuatu yang halal. Mereka berusaha
untuk wara’ terhadap yang halal sekalipun. Mereka lebih suka meninggalkannya dan menyerahkan
masalah itu kepada Allah SWT. Mereka cenderung untuk menghindar dari itu semua, demi tidak
adanya niatan yang terpesong dalam kerja-kerja dakwah dan jihad yang mereka lakukan. Mereka
lebih memilih tak mengambil haknya, karena berhati-hati dari munculnya ketamakan dan cinta pada
dunia di dalam hati. Ternyata, itulah di antara yang menyebabkan mereka tampil dari keadaan yang
rendah menjadi penuh kemuliaan. Dari keterasingan yang tampil dalam kekuatan dan kesatuan. Dari
ketidakmengertian kepada pemahaman atas ilmu pengetahuan yang melebihi manusia di zamannya.
Mereka adalah batu bata bangunan peradaban yang berdiri dengan al-haq. Mereka menjadi
petunjuk bagi kemanusiaan seluruh alam. Mereka menjadi penuntun ummat ke jalan surga.
Semua itu mereka peroleh dari Madrasah Tarbiyah. Di atas jalan Tarbiyah lah mereka berjalan….