Anda di halaman 1dari 6

PROVINSI JAWA TENGAH

1. Letak Astronomi Jawa Tengah


Letak astronomis : 6° LS - 8 ° LS dan 108°BT - 111⁰ BT

2. Letak Geografis Jawa Tengah


Jawa Tengah terletak di tengah-tengah pulau Jawa, propinsi Jawa Tengah berbatasan dengan
Jawa Barat dan Jawa Timur. Sebagian kecil wilayah selatan adalah Daerah Yogyakarta
provinsi khusus, sepenuhnya tertutup di sisi darat oleh provinsi Jawa Tengah. Yogyakarta
secara historis dan budaya bagian dari wilayah Jawa Tengah, meskipun saat ini sebuah entitas
politik yang terpisah. Di sebelah utara dan selatan, provinsi Jawa Tengah wajah Laut Jawa
dan Samudera Hindia. Jawa Tengah juga meliputi pulau-pulau lepas pantai seperti Kepulauan
Karimun Jawa di utara, dan Nusakambangan di barat daya.

3. Ibu Kota
Ibu Kota propinsi Jawa Tengah terletak di Kota Semarang

4. Luas
Luas wilayah Jawa Tengah 32.548 km², atau sekitar 28,94% dari luas pulau Jawa

5. Makanan Khas Jawa Tengah

Lumpia mempunyai isi yang beragam, ada yang pakai ayam, telur, sayuran dan udang
pun ada. Kalau kamu berkunjung ke Semarang. Jangan lupa cobain makan yang satu ini
ya.
6. Pakaian Adat Jawa Tengah

- Jawi Jangkep.
- Kebaya.
- Kanigaran.
- Batik.
- Pangsi.
- Surjan dan Beskap.
- Basahan.
Kebudayaan Jawa Tengah untuk pakaian adat laki-laki disebut dengan beskap. Sebagai
pelengkap di bagian kepala baisnaya terdapat blangkon atau kuluk. Sementara untuk
bagian bawahnya menggunakan jarik yang diikat dengan menggunakan stagen. Di bagian
belakang juga akan diselipkan senjata tradisional yang bernama keris.
Untuk perempuannya menggunakan kebaya. Bagian bawah menggunakan jarik yang juga
diikat dengan memakai stagen. Umumnya, rambut juga akan ditata dengan cara disanggul
dan dihiasi dengan aksesoris. Beberapa peninggalan kebudayaan Jawa Tengah yang masih
ada hingga kini.

7. Lagu Daerah Jawa Tengah


A. Gambang Suling
B. Gek Kepriye
C. Gundul Pacul
D. Lir-Ilir
E. Jamuran
F. Jangkrik Genggong
G.Jaranan
H. Jenang Gula
8. Tarian Tradisional Jawa Tengah
- Tari Srimpi:
Tari Srimpi yang ada sejak Prabu Amiluhur ketika masuk ke Kraton mendapat
perhatian pula. Tarian yang ditarikan 4 putri itu masing-masing mendapat sebutan : air,
api, angin dan bumi/tanah, yang selain melambangkan terjadinya manusia juga
melambangkan empat penjuru mata angin. Sedang nama peranannya Batak, Gulu,
Dhada dan Buncit. Komposisinya segi empat yang melambangkan tiang Pendopo.
Seperti Bedhaya, tari Srimpipun ada yang suci atau sakral yaitu Srimpi Anglir
Mendhung. Juga karena lamanya penyajian (60 menit) maka untuk konsumsi masa kini
diadakan inovasi. Contoh Srimpi hasil garapan baru:
- Srimpi Anglirmendhung menjadi 11 menit
- Srimpi Gondokusumo menjadi 15 menit

-. Tari Golek:
Tari ini berasal dari Yogyakarta. Pertama dipentaskan di Surakarta pada upacara
perkawinan KGPH. Kusumoyudho dengan Gusti Ratu Angger tahun 1910. Selanjutnya
mengalami persesuaian dengan gaya Surakarta. Tari ini menggambarkan cara-cara
berhias diri seorang gadis yang baru menginjak masa akhil baliq, agar lebih cantik dan
menarik. Macam-macamnya:
- Golek Clunthang iringan Gendhing Clunthang
- Golek Montro iringan Gendhing Montro
- Golek Surungdayung iringan Gendhing Ladrang Surungdayung, dll.

. Tari Bondan :
Tari ini dibagi menjadi:
- Bondan Cindogo
- Bondan Mardisiwi
- Bondan Pegunungan/Tani.
Tari Bondan Cindogo dan Mardisiwi merupakan tari gembira, mengungkapkan rasa kasih
sayang kepada putranya yang baru lahir. Tapi Bondan Cindogo satu-satunya anak yang
ditimang-timang akhirnya meninggal dunia. Sedang pada Bondan Mardisiwi tidak, serta
perlengakapan tarinya sering tanpa menggunakan kendhi seperti pada Bondan Cindogo.
Ciri pakaiannya:
- Memakai kain Wiron
- Memakai Jamang
- Memakai baju kotang
- Menggendong boneka, memanggul payung
- Membawa kendhi (dahulu), sekarang jarang.

9. Suku-suku Daerah di Jawa Tengah


Mayoritas penduduk Jawa Tengah adalah Suku Jawa. Jawa Tengah dikenal sebagai pusat
budaya Jawa, di mana di kota Surakarta dan Yogyakarta terdapat pusat istana kerajaan
Jawa yang masih berdiri hingga kini. Suku minoritas yang cukup signifikan adalah
Tionghoa, terutama di kawasan perkotaan meskipun di daerah pedesaan juga ditemukan.
Pada umumnya mereka bergerak di bidang perdagangan dan jasa. Komunitas Tionghoa
sudah berbaur dengan Suku Jawa, dan banyak di antara mereka yang menggunakan Bahasa
Jawa dengan logat yang kental sehari-harinya. Selain itu di beberapa kota-kota besar di
Jawa Tengah ditemukan pula komunitas Arab-Indonesia. Mirip dengan komunitas
Tionghoa, mereka biasanya bergerak di bidang perdagangan dan jasa. Di daerah
perbatasan dengan Jawa Barat terdapat pula orang Sunda yang sarat akan budaya Sunda,
terutama di wilayah Cilacap, Brebes, dan Banyumas. Di pedalaman Blora (perbatasan
dengan provinsi Jawa Timur) terdapat komunitas Samin yang terisolir, yang kasusnya
hampir sama dengan orang Kanekes di Banten.

10. Budaya-budaya di Jawa Tengah


a. Kirab Seribu Apem
Kirab apem sewu adalah acara ritual syukuran masyarakat Kampung Sewu, Solo,
Jawa Tengah yang digelar setiap bulan haji (bulan Zulhijah-kalender penanggalan
Islam).
Ritual syukuran itu diadakan untuk mengenalkan Kampung Sewu sebagai sentra
produksi apem kepada seluruh masyarakat sekaligus menghargai para pembuat apem
yang ada di sana. Selain itu, upacara ritual syukuran ini pun dibuat sebagai ungkapan
rasa syukur kepada Tuhan karena desa dan tempat tinggal mereka terhindar dari
bencana. Mengapa begitu? Menurut Ketua Pelaksana Kirab Apem Sewu, Pak Hadi
Sutrisno, letak Kampung Sewu Solo ini adanya di pinggir Sungai Bengawan Solo,
termasuk daerah rawan banjir. Makanya, masyarakat mensyukurinya. Tradisi apam
sewu berawal dari amanah yang disampaikan Ki Ageng Gribig kepada seluruh warga
untuk membuat 1.000 kue apam dan membagikannya kepada masyarakat sebagai
wujud rasa syukur. Sejalan dengan berkembangnya zaman, maka ritual kirab apem
sewu ini diawali dengan kirab budaya warga Solo yang memakai pakaian adat Solo,
seperti kebaya, tokoh punakawan, dan kostum pasukan keraton. Anak-anak sekolah
juga menjadi peserta kirab dengan menampilkan marching band SD, atraksi Liong
(naga), serta aneka pertunjukan tarian tradisional dan teater. 1.000 kue apem yang
sudah disusun menjadi gunungan itu diarak dari lapangan Kampung Sewu menuju
area sekitar kampung sepanjang dua kilometer. Acara kirab berlangsung selama satu
hari, yang dimulai dengan prosesi penyerahan bahan makanan (uba rampe) pembuat
kue apam dari tokoh masyarakat Solo kepada sesepuh Kampung Sewu di Lapangan
Kampung Sewu, Solo.

b. Tedhak Siten
Tedhak Siten merupakan bagian dari adat dan tradisi masyarakat Jawa Tengah.
Upacara ini dilakukan untuk adik kita yang baru pertama kali belajar berjalan.
Upacara Tedhak Siten selalu ditunggu-tunggu oleh orangtua dan kerabat keluarga
Jawa karena dari upacara ini mereka dapat memperkirakan minat dan bakat adik kita
yang baru bisa berjalan. Tedak Siten berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa, yaitu
“tedhak” berarti ‘menapakkan kaki’ dan “siten” (berasal dari kata ‘siti’) yang berarti
‘bumi’.
Upacara ini dilakukan ketika seorang bayi berusia tujuh bulan dan mulai belajar duduk
dan berjalan di tanah. Secara keseluruhan, upacara ini dimaksudkan agar ia menjadi
mandiri di masa depan. Dalam pelaksanaannya, upacara ini dihadiri oleh keluarga inti
(ayah, ibu, kakek, dan nenek), serta kerabat keluarga lainnya. Mereka hadir untuk
turut mendoakan agar adik kita terlindung dari gangguan setan.
Tak hanya ritualnya saja yang penting, persyaratannya pun penting dan harus
disiapkan oleh orangtua yang menyelenggarakan Tedhak Siten ini, seperti kurungan
ayam, uang, buku, mainan, alat musik, dll.
Selain itu ada pula ada tangga yang terbuat dari tebu, makanan-makanan (sajen), yang
terdiri dari bubur merah, putih, jadah 7 warna, (makanan yang terbuat dari beras
ketan), bubur boro-boro (bubur yg terbuat dari bekatul-serbuk halus atau tepung yang
diperoleh setelah padi dipisahkan dari bulirnya), dan jajan pasar.
11. Rumah Adat Jawa Tengah

Rumah Adat Provinsi Jawa Tengah bernama rumah Joglo. Rumah Joglo sebetulnya tidak
hanya dikenal oleh masyarakat Jawa Tengah, melainkan juga dikenal oleh masyarakat suku
Jawa secara umum. Rumah Joglo sendiri terbagi atas beberapa ruangan, di antaranya
pendapa, pringgitan, dalem, sentong, gandok tengen, dan gandok kiwo.