Anda di halaman 1dari 1

TATA CARA PEMBENTUKAN SERIKAT PEKERJA

1. Dibentuk oleh sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) orang pekerja/buruh (Pasal 5 ayat (2)


UU Serikat Pekerja/Serikat Buruh).

2. Daftar hadir pembentukan serikat pekerja/serikat buruh, yang memuat hari, tanggal, bulan
dan tahun, serta tempat pada saat pembentukan. Lalu dilaksanakan musyawarah yang
dihadiri oleh sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) orang pekerja/buruh, untuk menyatakan
pembentukan, dan menentukan nama, serta komposisi kepengurusan serikat
pekerja/serikat buruh, yang dituangkan dalam Berita Acara Pembentukan.
3. Harus memiliki anggaran dasar dan anggaran rumah tangga. (Pasal 11 Serikat
Kerja/Serikat Buruh)
4. Anggaran dasar sebagaimana dimaksud sekurang-kurangnya harus memuat:
a. nama dan lambang;
b. dasar negara, asas, dan tujuan;
c. tanggal pendirian;
d. tempat kedudukan;
e. keanggotaan dan kepengurusan;
f. sumber dan pertanggungjawaban keuangan; dan
g. ketentuan perubahan anggaran dasar dan/atau anggaran rumah tangga.

5. memberitahukan secara tertulis kepada instansi pemerintah yang bertanggung jawab di


bidang ketenagakerjaan (Dinas Tenaga Kerja dari pemerintah Kabupaten atau
walikotamadya di mana perusahaan berdomisili).
6. Pemberitahuan sebagaimana dimaksud dengan dilampiri:
a. daftar nama anggota pembentuk;
b. anggaran dasar dan anggaran rumah tangga;
c. susunan dan nama pengurus.

7. Nama dan Lambang serikat pekerja/serikat buruh tidak boleh sama dengan nama dan
lambang serikat pekerja/serikat buruh yang telah tercatat terlebih dahulu (Pasal 19 UU
Serikat Pekerja/Serikat Buruh).
8. Setelah seluruh proses pembentukan SP ini selesai, pengurus serikat pekerja/serikat
buruh yang telah mempunyai nomor bukti pencatatan harus memberitahukan secara
tertulis keberadaannya kepada pihak perusahaan (manajemen perusahaan). (Pasal 23
UU Serikat Pekerja/Serikat Buruh).
9. Dalam UU Serikat Pekerja tidak diatur bahwa adanya kewajiban bagi pekerja untuk
meminta ijin terlebih dahulu kepada perusahaan sebelum mendirikan serikat
pekerja. Yang diatur dlm UU Serikat Pekerja adalah pemberitahuan setelah serikat
pekerja itu mencatatkan diri ke dinas Tenaga Kerja Setempat (pasal 18 ayat [1] UU Serikat
Pekerja).
10. Jika HRD perusahaan tetap memberikan ancaman PHK jika serikat pekerja terbentuk,
maka hal tersebut dapat dilaporkan ke bagian Pengawasan Dinas Tenaga Kerja setempat
atau kepolisian.
11. Anda bisa juga membuat Kartu Anggota SP/SB sebaga bukti anggota SP/SB.

Dasar Hukum:
1. Undang-Undang No. 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh;
2. Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.