0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
542 tayangan18 halaman

Farmakokinetik dan Farmakodinamik Obat

Farmakokinetik dan farmakodinamik merupakan aspek penting dalam ilmu farmakologi. Farmakokinetik mempelajari proses absorpsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi obat dalam tubuh, sedangkan farmakodinamik mempelajari interaksi obat dengan target tubuh dan efek farmakologisnya.

Diunggah oleh

Anjeliana
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
542 tayangan18 halaman

Farmakokinetik dan Farmakodinamik Obat

Farmakokinetik dan farmakodinamik merupakan aspek penting dalam ilmu farmakologi. Farmakokinetik mempelajari proses absorpsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi obat dalam tubuh, sedangkan farmakodinamik mempelajari interaksi obat dengan target tubuh dan efek farmakologisnya.

Diunggah oleh

Anjeliana
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH FARMAKOLOGI OBAT

FARMAKOKINETIK DAN FARMAKODINAMIK

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah: Farmakologi

DOSEN PENGAMPU :

dr. RAGIL SEKAR KINANTI HUTABARAT, M.Kes

DISUSUN OLEH :

ANJELIANA (19.052)

PROGRAM STUDI D-III KEPERAWATAN


STIKES BINALITA SUDAMA MEDAN
TAHUN 2020

i
KATA PENGANTAR

ُ‫ال َّسالَ ُم َعلَ ْي ُك ْم َو َرحْ َمةُ هللاِ َوبَ َر َكاتُه‬


‫م َعلَى خَ ي ِْر ْاألَن َِام َسيِّ ِدنَا ُم َح َّم ٍد‬Gُ ِّ‫صلِّ ْي َونُ َسل‬ َ ُ‫ َون‬G.‫ْال َح ْم ُد ِهللِ الَّ ِذيْ أَ ْن َع َمنَا بِنِ ْع َم ِة ْا ِإل ْي َما ِن َو ْا ِإل ْسالَ ِم‬
‫صحْ بِ ِه أَجْ َم ِع ْينَ أَ َّما بَ ْع ُد‬
َ ‫َو َعلَى اَلِ ِه َو‬

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberi sebaik-baik nikmat
berupa nikmat iman dan islam.Salawat dan doa keselamatan terlimpahkan selalu
kepada Nabi Agung Muhammad SAW berserta keluarga dan para sahabat-sahabat
Nabi semuanya.Alhamdulillah karena berkat rahmat dan karunia-Nya penulis
dapat menyelesaikan Tugas Makalah Mata Kuliah Farmakologi.

Penulis menyadari bahwa didalam penyajian tugas makalah ini masih


banyak kekurangan sehingga penulis mengharapkan kritik dan saran dari Dosen
Pengampu tentunya demi menyempurnakan tugas makalah ini agar lebih
baik.Akhir kata penulis mengucapkan terimakasih kepada Dosen Pengampu dr.
Ragil Sekar Kinanti Hutabarat, M.Kes yang telah memberikan tugas makalah ini
guna meningkatkan pengetahuan para mahasiswa di bidang Kesehatan
Keperawatan.

Medan, 13 Maret 2020

Penulis

i
ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................................................i

DAFTAR ISI...............................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah......................................................................................1
1.2. Rumusan Masalah................................................................................................2
1.3. Tujuan Penulisan Masalah...................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Farmakokinetik..................................................................................3
2.2. Proses yang Terjadi dalam Farmakokinetik........................................................3
2.3. Fungsi atau Kegunaan Farmakokinetik...............................................................5
2.4. Pengertian Farmakodinamik................................................................................6
2.4. Proses yang terjadi dalam Farmakodinamik........................................................6

BAB III PENUTUP


3.1. Kesimpulan........................................................................................................14
3.2. Saran..................................................................................................................14

DAFTAR PUSTAKA

iii
ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah


Dalam arti luas, obat ialah setiap zat kimia yang dapat mempengaruhi proses
hidup, maka farmakologi merupakan ilmu yang sangat luas cakupannya. Namun
untuk tenaga medis, ilmu ini dibatasi tujuannya yaitu agar dapat menggunakan
obat untuk maksud pencegahan, diagnosis, dan pengobatan penyakit. Selain itu
agar mengerti bahwa penggunaan obat dapat mengakibatkan berbagai gejala
penyakit. Farmakologi mencakup pengetahuan tentang sejarah, sumber, sifat
kimia dan fisik, komposisi, efek fisiologi dan biokimia, mekanisme kerja,
absorpsi, distribusi, biotransformasi, ekskresi dan penggunaan obat. Seiring
berkembangnya pengetahuan, beberapa bidang ilmu tersebut telah berkembang
menjadi ilmu tersendiri (Setiawati dkk,1995)

Cabang farmakologi diantaranya farmakognosi ialah cabang ilmu farmakologi


yang memepelajari sifat-sifat tumbuhan dan bahan lain yang merupakan sumber
obat, farmasi ialah ilmu yang mempelajari cara membuat, memformulasikan,
menyimpan, dan menyediakan obat. farmakologi klinik ialah cabang farmakologi
yang mempelajari efek obat pada manusia. farmakoterapi cabang ilmu yang
berhubungan dengan penggunaan obat dalam pencegahan dan pengobatan
penyakit, toksikologi ialah ilmu yang mempelajari keracunan zat kimia, termasuk
obat, zat yang digunakan dalam rumah tangga, pestisida dan lain-lain serta
farmakokinetik ialah aspek farmakologi yang mencakup nasib obat dalam tubuh
yaitu absorpsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresinya dan farmakodinamik
yang mempelajari efek obat terhadap fisiologi dan biokimia berbagai oran tubuh
serta mekanisme kerjanya. Pada penulisan makalah ini akan di bahas tentang
aspek farmakologi yaitu farmakokinetik dan farmakodinamik.

1
1.2.  Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang didapat yaitu:
A. Apakah yang dimaksud dengan farmakokinetik?
B. Apa saja proses yang terjadi dalam farmakokinetik?
C. Apa saja fungsi dari farmakokinetik?
D. Apakah yang dimaksud dengan farmakodinamik?
E. Apa saja proses yang terjadi dalam farmakodinamik?

1.3.  Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu:
A. Untuk mengetahui apa itu farmakokinetik.
B. Mengetahui proses yang terjadi dalam farmakokinetik.
C. Mengetahui fungsi dari farmakokinetik.
D. Untuk mengetahui apa itu farmakodinamik.
E. Untuk mengetahui proses-proses yang tejadi dalam farmakodinamik.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Farmakokinetik


Farmakokinetik adalah studi tentang apa yang dilakukan tubuh terhadap
obat.Farmakokinetika adalah hitungan matematis waktu dari absorsi, distribusi,
metabolisme, dan eksresi (ADME) suatu obat di dalam tubuh. Faktor-faktor
biologis, fisiologis dam psikokimia yang mempengaruhi proses transfer obat
didalam tubuh, juga mempengaruhi laju dan derajat ADME dari obat tersebut di
dalam tubuh. Dalam beberapa kasus, aksi farmakologi, seperti halnya aksi
toksikologi, berhubungan dengan konsentrasi obat dalam plasma. Oleh sebab itu,
dengan studi farmakokinetik, ahli farmasi (farmasis) dapat melakukan terapi
individual terhadap pasien.
Farmakokinetik atau kinetika obat adalah nasib obat dalam tubuh atau efek
tubuh terhadap obat. Farmakokinetik mencakup 4 obat, yaitu proses absorbsi
(A), distribusi (D), metabolisme (M), dan ekskresi (E). Metabolisme dan
ekskresi bentuk utuh atau bentuk aktif merupakan proses eliminasi obat
(Gunawan, 2009).

2.2. Proses yang Terjadi dalam Farmakokinetik


2.2.1. Absorpsi

Absorpsi merupakan proses masuknya obat dari tempat pemberian


kedalam darah.Misalnya,dengan cara oral, dengan cara ini tempat absorpsi
utama adalah usus halus karena memiliki permukaan absorpsi yang sangat
luas, yakni 200 meter persegi (panjang 280 cm, diameter 4 cm, disertai
dengan vili dan mikrovili) (Gunawan, 2009).

2.2.2. Distribusi
Distribusi obat adalah proses obat dihantarkan dari sirkualasi
sistemik ke jaringan dan cairan tubuh.
a. Aliran darah

3
Setelah obat sampai ke aliran darah, segera terdistribusi ke
organ berdasarkan jumlah aliran darahnya. Organ dengan aliran
darah terbesar adalah Jantung, Hepar, Ginjal. Sedangkan distribusi
ke organ lain sepertikulit, lemak dan otot lebih lambat.
b. Permeabilitas kapiler
Tergantung pada struktur kapiler dan struktur obat.
c. Ikatan protein
Obat yang beredar di seluruh tubuh dan berkontak dengan
protein dapat terikat atau bebas. Obat yang terikat protein tidak aktif
dan tidak dapat bekerja. Hanya obat bebas yang dapat memberikan
efek. Obat dikatakan berikatan protein tinggi bila >80% obat terikat
protein.
2.2.3. Metabolisme
Metabolisme / biotransformasi obat adalah proses tubuh merubah
komposisi obat sehingga menjadi lebih larut air untuk dapat dibuang
keluar tubuh.
Obat dapat dimetabolisme melalui beberapa cara:
a. Menjadi metabolit inaktif kemudian diekskresikan;
b. Menjadi metabolitaktif, memiliki kerja farmakologi tersendiri
dan bisa dimetabolisme lanjutan.
Metabolisme obat terutama terjadi di hati, yakni di membran
endoplasmic reticulum (mikrosom) dan di cytosol. Tempat metabolisme
yang lain (ekstrahepatik) adalah : dinding usus, ginjal, paru, darah, otak,
dan  kulit, juga di lumen kolon (oleh flora usus).
Tujuan metabolisme obat adalah mengubah obat yang nonpolar
(larut lemak) menjadi polar (larut air) agar dapat diekskresi melalui
ginjal atau empedu.
2.2.4. Ekskresi
Ekskresi obat artinya eliminasi / pembuangan obat dari tubuh.
Sebagian besar obat dibuang dari tubuh oleh ginjal dan melalui urin.
Obat juga dapat dibuang melalui paru-paru, eksokrin (keringat, ludah,
payudara), kulit dan taraktus intestinal.

4
Organ terpenting untuk ekskresi obat adalah ginjal. Obat
diekskresi melalui ginjal dalam bentuk utuh maupun bentuk
metabolitnya. Ekskresi dalam bentuk utuh atau bentuk aktif merupakan
cara eliminasi obat melui ginjal. Ekskresi melalui ginjal melibatkan 3
proses, yakni filtrasi glomerulus, sekresi aktif di tubulus. Fungsi ginjal
mengalami kematangan pada usia 6-12 bulan, dan setelah dewasa
menurun 1% per tahun. Ekskresi obat yang kedua penting adalah
melalui empedu ke dalam usus dan keluar bersama feses. Ekskresi
melalui paru terutama untuk eliminasi gas anastetik umum (Gunawan,
2009).

Hal-hal lain terkait Farmakokinetik,sehingga dapat dikatakan sebagai hitungan


sistematis dari proses absorpsi,distribusi,metabolism dan ekskrsi,yakni:
a. Waktu Paruh
Waktuparuh adalah waktu yang dibutuhkan sehingga setengah dari obat
dibuang dari tubuh. Faktor yang mempengaruhi waktu paruh adalah absorpsi,
metabolism dan ekskresi.
Waktu paruh penting diketahui untuk menetapkan berapa sering obat
harus diberikan.
b. Onset, puncak, and durasi
Onset adalah waktu dari saat obat diberikan hingga obat terasa
kerjanya. Sangat tergantung rute pemberian dan farmakokinetik obat.
Puncak, setelah tubuh menyerap semakin banyak obat maka
konsentrasinya di dalam tubuh semakin meningkat.
Durasi, durasi kerja adalah lama obat menghasilkan suatu efek terapi.

2.3. Fungsi atau Kegunaan Farmakokinetik

Adapun fungsi dari farmakokinetik ialah sebagai beikut :


1. Memprakirakan kadar obat dalam plasma , jaringan, dan urin pada berbagai
pengaturan dosis.
2. Menghitung pengaturan dosis optimum untuk tiap penderita secara
individual.

5
3. Memperkirakan kemungkinan akumulasi obat dan/atau metabolit-metabolit.
4. Menghubungkan konsentrasi obat dengan aktivitas farmakologik atau
toksikologi.
5. Menilai perubahan laju atau tingkat availabilitas antar formulasi
(bioekivalensi)
6. Menggambarkan perubahan faal atau penyakit yang mempengaruhi
absorpsi, distribusi atau eliminasi obat.
7. Menjelaskan interaksi obat.

2.4. Pengertian Farmakodinamik


Farmakodinamik ialah cabang ilmu yang mempelajari efek biokimia dan
fisiologi obat serta mekanisme kerjanya (setiawati dkk,1995).
Tujuan mempelajari mekanisme kerja obat ialah untuk meneliti efek utama
obat, mengetahui interaksi obat dengan sel, dan mengetahui urutan peristiwa serta
spectrum efek dan respon yang terjadi. Pengetahuan yang baik mengenai hal ini
merupakan dasar terapi nasional dan berguna dalam sintesis obat baru.

2.5. Proses yang Tejadi dalam Farmakodinamik


2.5.1. Mekanisme Kerja Obat
Efek obat umumnya timbul karena interaksi obat dengan resptor
pada sel suatu organisme. Interaksi obat dengan reseptornya ini
mencetuskan perubahan biokimiawi dan fisiologi yang merupakan respon
khas untuk obat tersebut. Reseptor obat mencakup 2 konsep penting.
Pertama, bahwa obat dapat mengubah kecepatan kegiatan faal tubuh fungsi
baru, tetapi hanya memodulasi fungsi yang sudah ada. Walaupun tidak
berlaku bagi terapi gen secara umum konsep ini masih berlaku sampai
sekarang setiap komponen makromolekul fungsional dapat berperan
sebagai reseptor obat, tetapi sekelompok reseptor obat tertentu juga
berperan sebagai reseptor untuk ligand endrogen (hormon,
neurotransmitor). Substansi yang efeknya menyerupai senyawa endrogen
disebut agonis. Sebaiknya, senyawa yang tidak mempunyai aktivitas

6
intrinsik tetapi menghambat secara kompetitif efek suatu agonis ditempat
ikatan agonis (agonist bind-ing site) disebut antagonis.

2.5.2. Reseptor Obat


1. Sifat Kimia
Komponen yang paling penting dalam reseptor obat ialah
protein ( mis.asetilkoli nesterase, na+ K+ -A Tpase, Tubulin, dsb.).
asam nukleat juga dapat merupakan reseptor obat yang penting
misalnya untuk sitostatika.iaktan obat reseptor dapat berupa ikatan
ion, hidrogen, hidrofobik,van der walls, atau kovalen, tetapi umumnya
merupakan campuran berbagai ikatan diatas. Perlu diperhatikan bahwa
ikatan kovalen merupakan ikatan yang kuat sehingga lam kerja obat
sering kali, tetapi tidak selalu panjang. Walaupun demikina ikatan non
kovalen yang aafinitasnya tinggi juga dapat bersifat permanen.
2. Hubungan Struktur-Aktivitas
Struktur kimia suatu obat berhubungan erat dengan afinitasnya
terhadap reseptor dan aktifitas intrinsiknya, sehingga perubahan kecil
dalam molekul obat, misalnya perubahan stereoisomer, dapat
menimbulkan perubahan besar dalam sifat farmakologinya.
Pengetahuan mengenai hubungan struktur aktivitas bermanfaat dalam
strategi pengembangan obat baru, sintesis obat yang rasio terapinya
lebih baik, atau sintesis obat yang selektif terhadap jaringan tertentu.
3. Reseptor Fisiologis
Istilah reseptor sebagai makro molekul seluler tempat terikatnya
obat untuk menimbulkan respons telah diuraikan diatas. Tetapi
terdapat juga protein seluler yang berfungsi sebagai reseptor
fisiologik, bagi ligand endogen seperti hormon, neurotransmitor, dan
autakoid. Fungsi reseptor ini meliputi lipatan ligand yang sesuai (oleh
ligand binding domain ) dan penghantar sinyal ( oleh effektor domain
) yang dapat secara langsung menimbulkan efek intra sel atau secar

7
tidak langsung memulai sintesis maupun penglepasan molekul intrasel
lain yang dikenal sebagai second messenger.

Dalam keadaan tertentu, molekul reseptor berinteraksi


secaraerat dengan protein seluler lain membentuk sistem resptor-
efektor seluler lain menimbulkan respons. Contohnya, sistem adenilat
siklase : reseptor mengatur aktivitas adenilat siklase sedang kan
efektornya mensitesis cAMP sebagai second messenger. Dalam sistem
ini protein G lahyang berfungsi sebagai perantara reseptor dengan
enzim tersebut. Terdapat dua macam protein G yang satu berfungsi
sebagai penghantaran yang lain berfungsi sebagai penghamabatan
sinyal. Berikut ini akan dibahas berbagai reseptor fisiologik tersebut.

2.5.3. Transmisi Sinyal Biologis


Penghantaran sinyal biologis ialah proses yang menyebabkan
suatu substansi extra seluler ( extracellular chemikal )
menimbulkan suatu respons seluler fisiologis yang spesifik. Sistem
penghantaran ini di mulai dengan pendudukan reseptor yang
terdapat di membran sel atau di dalam sitoplasma oleh transmitor.
Kebanyakan messengger ini bersifat polar. Contoh transmitor
untuk reseptor yang terdapat di membran sel ialah katekolamin,
TRH,LH; sedangkan untuk reseptor yang terdapat di dalam
sitoplasma ialah steroid (adrenal dan gonadal ), tiroksin, vitamin D.
Reseptor yang terdapat dalam sitoplasma, merupakan protein
terlarut pengikat DNA (solubble DNA-binding protein ) yang
mengatur transkripsi gen-gen tertentu. Pendudukan reseptor oleh
hormon yang sesuai akan meningkatkan sintesis protein tertentu.
Reseptor hormon peptida yang mengatur pertumbuhan, diferensiasi
dan perkembangan (dan dalam keadaan akut juga aktivitas
metabolik ) umumnya ialah suatu protein kinase yang
mengkatalisis fosforilasi protein target pada residu tirosin.
Kelompok reseptor ini meliputi reseptor cairan insulin, epidermal

8
growth factor, p[latelet-deri-ved growht dan limfokin tertentu.
Reseptor hormon peptida yang terdapat di membran plasma
berhubungan dengan bagian katalitiknya yang berupa protein
kinase intrasel, melalui rantai pendek asam amino hidrovobik yang
menembus membran plasma.

2.5.4. Interaksi Obat – Reseptor


Ikatan antara obat dan reseptor misalnya ikatan substrat
dengan enzim, biasanya merupakan ikatan lemah (ikatan ion,
hidrogen, van der waals) dan jarang berupa ikatan kovalen
1. Hubungan Dosis Dengan Intensitas Efek
Menurut teori pendudukan reseptor (reseptor occupancy),
intensitas efek obat berbanding lurus dengan fraksi reseptor yang
diduduki atau diikat nya, dan intensitasnya efek mencapai
maksimal bila seluruh reseptor diduduki oleh obat. Oleh karena
interaksi obat-reseptor ini analog dengan interaksi substrat-enzim,
maka di sini berlaku persamaan michaelis-menten.
Hubungan antara kadar atau dosis obat yaitu [D], dan
besarnya efek E terlihat sebagai kurva dosis-intensistas efek
(graded dose-effect curve = DEC) yang berbentuk hiperbola.
Tetapi kurva log dosis-intesitas efek ( Log DEC) akan berbentuk
sigmoid.. Bila efek yang diamati merupakan gabungan beberapa
efek, maka log DEC dapat bermacam-macam , tetapi masing-
masing berbentuk sigmoid.
Log DEC lebih sering digunakan karena mencakup rentang
dosis yang luas dan mempunyai bagian yang linear, yakni pada
besar efek = 16-8 % (= 50%± 1 SD ), sehingga lebih mudah untuk
memperbandingkan beberapa DEC.
1/KD menunjukan afinitas obat terhadap reseptor, artinya
kemampuan obat untuk berikatan dengan reseptor, artintnya
kemampuan obat untuk berikatan dengan reseptornya (kemampuan
obat untuk membentuk kompleks obat-reseptor). Jadi makin besar

9
KD (= dosis yang menimbulkan ½ efek maksimal), makin kecil
afinitas obat terhadap reseptornya Emax menunjukan aktivitas
intrinsik atau efektivitas obat, yakni kemampuan intrinsik
kompleks obat-reseptor untuk menimbulkan aktivitas dan/atau
efek farmakologik.

2. Variabel Hubungan Dosis-intensitas efek obat


Hubungan dosis dan intesitas efek dalam keadaan
sesungguhnya tidaklah sederhana karena banyak obat bekerja
secara kompleks dalam menghasilkan efek. Efek antihipertensi,
misalnya merupakan kombinasi efek terhadap jantung,
vaskular,dan sistem saraf. Walaupun demikian, suatu kurva efek
kompleks dapat diuraikan kedalam kurva-kurva sederhana untuk
masing- masing komponennya. Kurva sedrhana ini, bagaimana pun
bentuknya, selalu mempunyai 4 variabel yaitu potensi kecuramjan
(slope), efek maksimal, dan variasi biologik.
Potensi menunjukan rentang dosis obat yang menimbulkan
efek. Besarnya ditentukan oleh kadar obat yang mencapai reseptor,
yang tergantung dari sifat farmakokinetik obat, dan afinitas obat
terhadap reseptornya. Variabel ini relatif tidak penting karena
dalam klinik digunakan dosis yang sesuai dengan potensinya.
Hanya, potensi yang terlalu rendah akan merugikan karena dosis
yang diperlukan terlalu besar. Potensi yang terlalu tinggi justru
merugikan atau membayangkan bila obatnya mudah menguap atau
di serap melalui kulit.
Efek maksimal ialah respons yang maksimal yang
ditimbulkan obat bila diberikan pada dosis yang tinggi. Ini di
tentukan oleh akyivitas intrinsik obat dan di tunjukan oleh dataran
(lpateau) pada DEC. Tetapi dalam klinik, dosisi obat di batasi oleh
timbulnya efek samping; dalam hal ini efek maksimal yand di
capai dalam klinik mungkin kurang dari efek maksimal yand
sesunguhnya. Ini merupakan variabel yang penting. Misalnya

10
morfin dan aspirin berbeda dalam efektivitasnya sebagai analgesik;
morfin dapat menghilangkan rasa nyeri yang hebat, sedangkan
aspirin tidak. Efek maksimal obat tidak selalu berhubungan dengan
potensinya.
Slopeatau lereng log DEC merupakan variabel yang
penting karena menunjukan batas keamanan obat. Lereng yang
curam, misalnnya untuk fenobarbital, menunjukan bahwa dosis
yang menimbulkan koma hanya sedikit lebih tinggi dibandingkan
dengan dosis yang menimbulkan sedasi/tidur.
Variasi biologik adalah variasi antar individu dalam
besarnya respons terhadap dosis yang sama dari suatu obat. Suatu
graded DEEC hanya berlaku untuk satu orang pada satu waktu,
tetapi dapat juga merupakan nilai rata-rata dari populasi. Dalam hal
yang berakhir ini, variasi biologik dapat di perhatikan sebagai garis
horijontal atau vertikal. Garis horijontal menunjukkan bahwa untuk
menunjukan efek obat dengan intensitas tertentu pada suatu
populasi di perlukan suatu rentang dosis. Garis vertikal
menunjukkan bahwa pemberian obat dengan dosis tertentu pada
populasi akan menimbulkan suatu intensitas efek
.
2.5.5. Kerja Obat yang Tidak Diperantai Reseptor
Dalam menimbulkan efek, obat tertentu tidak berikatan dengan
reseptor. Obat-obat ini mungkin mengubah sifat cairan tubuh,
berinteraksi dengan ion molekul kecil, atau masuk komponen sel.
1. Efek Nonspesifik dan Gangguan pada Membran
Perubahan sifat osmotik. Diueretik osmotik (urea manitol ),
misalnya, meningkatkan osmolaritas filtrat glomelurus sehingga
mengurangi reabsorbsi air di tubuli ginjal dengan akibat terjadi
efek diuretik. Dengan demikian juga katartik osmotik (MgSO4),
gliserol yang mengurangi udem selebral, dan pegganti plasma
(polivinil pirolidon = PVP) untuk menambah volume intravaskuler

11
Perubahan sifat asam/asam. Kerja ini diperlihatkan oleh
antasid dalam menetralkan asam lambung, NH4CL dalam
mengasam kan urine, dan asam-asam organik sebagai antiseptik
saluran kemih atau sebagai antiseptik saluran kemih atau sebagai
spermisid topikal dalam saluran vagina. Kerusakan Nonspesifik.
Zat perusak nonspesofik digunakan sebagai antiseptik dan
disenfektan, dan kontrasepsi, contohnya, (1) detergen merusak
integritas membran lipoprotein;(2) halogen, peroksida, dan
oksidator lain merusak zat organik (3) denaturan merusak integritas
dan kapasitas sibseluler dan protein.
Gangguan fungsi membran. Anestetik umum yang mudah
menguap misalnya eter, halotan, enfluran, dan metoksifluran
bekerja dengan melarut dalam lemak membran sel di SSP sehingga
ektabilitasnya menurun
2. Interkasi dengan Molekul Kecil atau Ion
Kerja ini diperhatikan oleh kelator ( Chelating agents)
misalnya CaNa2 EDTA yang mengikat Pb2+ bebas menjadi kelat
yang inaktif pada kercunan Pb. Demikian juga kerja penisilamin
yang mengikat Cu2+ bebas pada penyakit wilson dan dimerkaprol (
BAL= British antilewisite) pada keracuanan logam berat (As, Sb,
Hg, Au, Bi). Kelat yangf terbentuk larut dalam air sehingga mudah
dikelurkan melalui ginjal.
3. Masuk ke dalam Komponen Sel
Obat yang merupakan analog purin atau pirimidin dapat
berinkoporasi ke dalam asam nukleat sehingga mengganggu
fungsinya. Obat yang bekerja seperti ini disebut antimetabolit
misalnya 6-merkaptopurinb, 5-fluorourasil, flusitosin dan anti
kanker atau anti mokroba lain.

2.5.6. Terminologi
1. Spesifisitas dan Selektivitas

12
Suatu obat dikatak spesifik bila kerjanya terbatas pada suatu
jenis reseptor, dan dikatak selektif bila menghasilkan satu efek
pada dosis rendah dan efek lain baru timbul pada dosis yang lebih
besar. Obat yang spesifik belum tentu selektif, tetapi obat yang
tidak spesifik dengan sendirinya tidak selektif. Klorpromazin bukan
obat yang spesifik karena ia bekerja pada berbagai jenis reseptor;
kolinergik, adrenergik dan histaminergik, selain pada reseptor
dopaminergik di SSP. Atropin adalah bloker spesifik untuk reseptor
muskarinik, tetapi tidak selektif karena reseptor ini terdapat di
berbagai organ.salbutamol ialah agonis bheta-adrenergik yang
spesifik dan relatif selektif, obat ini memblok reseptor bheta2 dan
pada dosis terapi hanya berefek di bronkus.
Selain tergantung dari dosis, selektivitas obat juga tergantung
dari cara pemberian. Pemberian obat langsung di tempat kerjanya
akan meningkatkan selektivitas obat. Misalnya salbutamol,
selektivitas obat ini pada reseptor bheta2 di bronkus di tingkatkan
bila di berikan sebagai obat semprot langsung ke saluran napas.
2. Istilah Lain
Dosis rendah sekali cukup untuk penderita hipereaktif,
sedangkan dosis tinggi sekali di butuhkan oleh penderita yang
hiporeaktif. Istilah hipersensitif digunakan untuk efek yang
berhubungan dengan alergi obat. Istilah supersensitif di gunakan
untuk keadaan hiperaktif akibat denervasi atau akibat pemberian
kronik suatu bliker reseptor yang merupakan denervasi
farmakologik. Istilah toleransi digunakan untuk keadaan
hiporeaktif akibat pajanan obat bersangkutan sebelumnya.
Toleransi yang terjadi dengan cepat setelah pemberian hanya
beberapa dosis obat di sebut toleransi akut atau takifilaksis. Bila
toleransi timbul akibat pembentukan antibodi terhadap obat,
digunakan istilah resisten misalnya terhadap insulin. Istilah
idiosinkrasi di gunakan untuk efek obat yang aneh (bizzare), ringan
maupun berat, tidak tergantung dari besarnya dosis dan sangat

13
jarang terjadi. Istilah ini sering kali digunakan secara simpang siur
maka sebaiknya istilah ini tidak di gunakan lagi.

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Farmakokinetik adalah studi tentang apa yang dilakukan tubuh terhadap
obat.Farmakokinetika adalah hitungan matematis waktu dari absorsi,
distribusi, metabolisme, dan eksresi (ADME) suatu obat di dalam tubuh.
Faktor-faktor biologis, fisiologis dam psikokimia yang mempengaruhi proses
transfer obat didalam tubuh, juga mempengaruhi laju dan derajat ADME dari
obat tersebut di dalam tubuh. Dalam beberapa kasus, aksi farmakologi, seperti
halnya aksi toksikologi, berhubungan dengan konsentrasi obat dalam plasma.
Oleh sebab itu, dengan studi farmakokinetik, ahli farmasi (farmasis) dapat
melakukan terapi individual terhadap pasien.
Farmakodinamik ialah cabang ilmu yang mempelajari efek biokimia dan
fisiologi obat serta mekanisme kerjanya. Tujuan mempelajari mekanisme
kerja obat ialah untuk meneliti efek utama obat, mengetahui interaksi obat
dengan sel, dan mengetahui urutan peristiwa serta spectrum efek dan respon
yang terjadi.

3.2. Saran
Pemahaman mahasiswa keperawat terhadap bidang ilmu farmakologi
dalam hal ini aspek farmakokinetik dan farmakodinamik harus terus di
tingkatkan dengan proses pembelajaran yang kontinyu selain untuk
meningkatkan pemahaman yakni sebagai upaya meningkatkan displin ilmu
yang lebih kompeten, berjiwa pengetahuan dan selalu berfikir kritis terhadap
ilmu tersebut.

14
DAFTAR PUSTAKA

Setiawati dkk., 1995. Pengantar Farmakologi dalam farmakologi dan terapi edisi
4. Jakarta : Gaya Baru
Gunawan, Gan Sulistia. 2009. Farmakologi dan Terapi edisi 5. Jakarta:
Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia.
Katzung, G Betram. 2002. Farmokologi dasar dan klinik edisi 2. Jakarta :
Salemba
Medika.

15

Anda mungkin juga menyukai