0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
256 tayangan83 halaman

Pestisida Nabati

Dokumen tersebut merupakan materi presentasi tentang pembuatan pestisida nabati yang disampaikan oleh M. Rawi pada acara Bimtek penguatan kelembagaan pengembangan budidaya padi organik di Kalimantan Barat. Materi presentasi mencakup latar belakang, peluang, kendala, pengertian, cara kerja, syarat tanaman pestisida nabati, kelebihan dan kekurangannya, kelompok tanaman penghasil pestisida nabati, dan cara pembuatan ek

Diunggah oleh

arka dul
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
256 tayangan83 halaman

Pestisida Nabati

Dokumen tersebut merupakan materi presentasi tentang pembuatan pestisida nabati yang disampaikan oleh M. Rawi pada acara Bimtek penguatan kelembagaan pengembangan budidaya padi organik di Kalimantan Barat. Materi presentasi mencakup latar belakang, peluang, kendala, pengertian, cara kerja, syarat tanaman pestisida nabati, kelebihan dan kekurangannya, kelompok tanaman penghasil pestisida nabati, dan cara pembuatan ek

Diunggah oleh

arka dul
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PEMBUATAN PESTISIDA NABATI

Oleh: M . Rawi

Disampaikan pada Bimtek kegiatan Penguatan kelembagaan


pengembangan budidaya padi organik Provinsi Kalimantan Barat
Putussibau,17-19 Juli 2019

UPT PERLINDUNGAN TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA


DINAS PERTANIAN TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA
PROVINSI KALIMANTAN BARAT
Nama : M .Rawi
Tmpt/Tgl Lahir : Pontianak, 15 Januari 1965
Alamat Kantor : UPT.Perlindungan Tanaman Pangan dan
Hortikultura Kalimanatan Barat
Jl. Alianyang Gg.Kurnia No.127 C.Ponianak
Alamat Rumah : Jl.Kesehatan Gg.Sumber Agung 1 Kotabaru
Pontianak
HP : 085845574162
PEMBUATAN PESTISIDA
NABATI
LATAR BELAKANG

• Indonesia merupakan negara yang memiliki


keanekaragaman hayati terbanyak kedua di dunia
setelah Brazil (mega-biodiversity).
• Tumbuhan merupakan gudang bahan kimia yang
salah satunya yaitu bahan aktif yang disebut “produk
metabolit sekunder” (secondary metabolic products).
PELUANG

1. Dampak negatif dari pestisida kimia/sintetik


2. Tuntutan Ketersediaan pangan yang berkualitas,
sehat dan aman dikonsumsi, terhindar dari
pencemaran bahan kimia beracun seperti pestisida.
3. Hama rumah tangga, rumah sakit, gedung
perkantoran dan lainnya
KENDALA
 Pestisida nabati tidak bereaksi cepat (knockdown)
atau relatif lambat membunuh hama/OPT,
 Membanjirnya produk pestisida ke Indonesia,
 Bahan baku pestisida nabati relatif masih terbatas
 Kurangnya dukungan pemerintah (Political Will) dan
kesadaran petani terhadap penggunaan pestisida
nabati masih rendah,
 peraturan perizinan pestisida nabati yang disamakan
dengan pestisida kimia sintetik membuat pestisida
nabati sulit mendapatkan izin edar dan
diperjualbelikan.
PENGERTIAN
 Pestisida alami adalah suatu pestisida yang bahan
dasarnya berasal dari alam, misalnya tumbuhan. Jenis
pestisida ini mudah terurai (biodegradable) di alam,
sehingga tidak mencemarkan lingkungan dan relatif
aman bagi manusia dan ternak, karena residunya akan
terurai dan mudah hilang.

 Pestisida nabati adalah pestisida yang bahan aktifnya


berasal dari tumbuhan atau bagian tumbuhan seperti akar,
daun, batang atau buah.
▪ Pestisida nabati adalah bahan aktif tunggal atau
majemuk yang berasal dari tumbuhan yang dapat
digunakan untuk mengendalikan organisme
pengganggu tumbuhan (OPT).
▪ Pestisida nabati ini dapat berfungsi sebagai penolak,
penarik, antifertilitas (pemandul), pembunuh dan
bentuk lainnya.
CARA KERJA PESTISIDA NABATI
 merusak perkembangan telur, larva dan pupa.
 menghambat pergantian kulit.
 mengganggu komunikasi serangga.
 menghambat reproduksi serangga betina.
 Refelen, yaitu menolak kehadiran serangga terutama
disebabkan bau dan rasa
 Antifidan, menyebabkan serangga tidak menyukai
tanaman
 Antiovipositor dan menghentikan proses penetasan
telur
 Racun syaraf
 Mengacaukan sistem hormon di dalam tubuh serangga
 Attraktan, sebagai pemikat kehadiran serangga yang
dapat digunakan sebagai perangkap
 Menghambat perkembangan patogen penyakit.
SYARAT-SYARAT TANAMAN PESTISIDA
NABATI

 Mudah didapat dan selalu tersedia dilapang.


 Pembuatan ekstrak mudah, sederhana dan dalam waktu singkat.
 Selektif.
 Bahan dapat digunakan baik dalam keadaan segar maupun
kering.
 Efek residunya singkat (mudah terurai), tetapi cukup lama
efikasinya.
 Sedapat mungkin solvennya adalah air.
 Budidayanya mudah, tahan terhadap kondisi suboptimal.
 Tidak menjadi gulma atau inang hama dan penyakit.
 Bersifat multiguna.
KELEBIHAN PESTISIDA NABATI
 Tidak persisten, bahaya residu kecil
 Dapat diaplikasikan menjelang panen
 Relatif aman bagi tanaman dan organisme bukan
sasaran
 Mengurangi resiko resistensi, resurjensi, dan ledakan
hama sekunder
 Kompatibel dengan teknik pengendalian lain
 Semua bagian tanaman bermanfaat
 Ramah lingkungan
 Dapat disediakan oleh petani sendiri
KEKURANGAN PESTISIDA NABATI

 Cara kerja lambat, kecuali yang bersifat knockdown


 Tidak membunuh jasad sasaran secara langsung
 Perlu aplikasi berulang-ulang
 Ketersediaan bahan tumbuhan terbatas
 Tidak tahan dalam penyimpanan, mudah terdegradasi
 Kandungan bahan aktif sedikit
 Sulit menentukan dosis yang tepat
 Kurang praktis
KELOMPOK TUMBUHAN PENGHASIL
PESTISIDA NABATI
 Kelompok Tumbuhan Insektisida Nabati
tumbuhan yang menghasilkan pestisida pengendali hama insekta.
 Kelompok Tumbuhan Atraktan/ Pemikat.
tumbuhan yang menghasilkan suatu bahan kimia yang menyerupai sex
feromon pada serangga betina.
 Kelompok Tumbuhan Rodentisida Nabati.
tumbuhan yang menghasilkan pestisida pengendali hama rodentia.

 Kelompok Tumbuhan Moluskisida Nabati.


tumbuhan yang menghasilkan pestisida pengendali hama moluska.
 Kelompok Tumbuhan Pestisida Serba Guna.
tumbuhan yang mempunyai dua fungsi atau lebih dalam mengendalikan
OPT.
Kelompok Tumbuhan Insektisida Nabati
Bagian Kandungan Serangga
Nama Tumbuhan yang Aktif Sasaran
Tumbuhan Digunakan
1.Piretrum Bunga Piretrin Hama gudang
2.Aglaia Daun Minyak asiri, Hama gudang
alkaloid, dan serangga
saponin, flava- Crosidolomia
noid dan tanin binotalis
3. Babadotan Daun Flavanoid dan Menghambat
polifenol larva serangga
menjadi pupa
4.Bengkuang Biji Pachyrrhizid Hama gudang
5.Bitung Biji Saponin dan Ikan, serangga
triterpenoids
6.Jeringau Rimpang Asarone, Hama gudang
kolamenol,
kolamen, metil
eugenol, eugenol
7.Saga Biji Toksalbumin Hama gudang
8.Serai Daun dan Sitral, sitronel, Hama gudang
Batang geraniol, metil
hiptenol,
farnesol
9.Sirsak Daun dan Biji Annonain Belalang
Kelompok Tumbuhan Atraktan dan Pemikat

Bagian Kandungan Serangga


Nama Tumbuhan Tumbuhan Aktif Sasaran
yang
Digunakan
1.Daun wangi Daun Minyak asiri Lalat
(Melaleuca yang buah
bracteata) mengandung
metil eugenol
2.Selasih Daun Minyak asiri, Lalat
(Ocimum sanctum) saponin, tanin buah
Kelompok Tumbuhan Rodentisida Nabati

Bagian Kandungan Serangga


Nama Tumbuhan Tumbuhan Aktif Sasaran
yang
Digunakan
1.Gadung KB Umbi - Tikus
(penekan kelahiran
2.Gadung Racun Umbi - Tikus
(penekan populasi)
Kelompok Tumbuhan Moluskitisida Nabati

Bagian Kandungan Serangga


Nama Tumbuhan Aktif Sasaran
Tumbuhan yang
Digunakan
1.Tefrosia Daun Tephrosin Keong mas
dan deguelin
2.Tuba Akar Rotenon Serang,
keong dan
ikan
3.Sembung Daun Borneol, Keong mas
sineol,
limonen
PENGGOLONGAN PESTISIDA NABATI BERDASARKAN
SIFAT RACUN :

RACUN KONTAK :
➢ Daun tembakau
➢ Akar tuba
➢ Biji srikaya
➢ Biji lada
➢ Biji bengkuang
➢ Bunga piretrum

RACUN PERUT :
➢Biji mimba
➢Kemangi
➢Babadotan
PENGHAMBAT MAKAN :
❖Berbagai jenis Meliaceae, Rutaceae

PENOLAK :
❖Kenikir/ tembelekan

PEMIKAT :
❖Daun wangi (Melaleuca bracteata)
❖Selasih (Ocimum sanctum)
EKSTRAK BAHAN NABATI
DITAMBAH PELARUT
 Bahan ditimbang 25 - 100 grm
 Kemudian diblender sambil ditambah air
sedikit demi sedikit
 hingga terbentuk larutan ekstrak dengan
campuran air 1 (satu) liter.
 Tambahkan 10 ml alkohol 70 % sebagai pelarut

 Biarkan ekstrak selama 30 menit, kemudian


lakukan penyaringan.
EKSTRAK BAHAN NABATI
DITAMBAH PENGEMULSI
 Bahan ditimbang 25 - 100 grm
 Kemudian diblender sambil ditambah air
sedikit demi sedikit
 Hingga terbentuk larutan ekstrak dengan
campuran air 1 (satu) liter.
 Tambahkan 1 grm detergen sebagai pengemulsi
 Biarkan ekstrak selama 30 menit, kemudian
lakukan penyaringan
EKSTRAK BAHAN NABATI DITAMBAH
PELARUT DAN PENGEMULSI
 Bahan ditimbang 25 - 100 grm
 Kemudian diblender sambil ditambah air sedikit
demi sedikit hingga terbentuk larutan ekstrak
dengan campuran air 1 (satu) liter.
 Tambahkan 10 ml alkohol 70 % sebagai pelarut
dan 1 grm detergen sebagai pengemulsi
 Biarkan ekstrak selama 30 menit, kemudian
lakukan penyaringan
PEREBUSAN EKSTRAK BAHAN
NABATI
 Bahan ditimbang 25 - 100 grm
 Kemudian diblender sambil ditambah air sedikit
demi sedikit hingga terbentuk larutan ekstrak
dengan campuran air 1 (satu) liter.
 Tambahkan 1 grm detergen sebagai pengemulsi
dan diaduk
 Rebuslah larutan ekstrak sampai mendidih
 Biarkan rebusan ekstrak sampai menjadi dingin,
kemudian lakukan penyaringan
BEBERAPA CONTOH TUMBUHAN
PESTISIDA NABATI
 Bengkuang (Pachyrryzus erosus
Urban)
 Famili : Leguminose
 Nama daerah : Bengkowang, huwi
hiris (Sunda); Bengkuang, besusu
(Jawa); Bungkuang (Aceh);
Bakuang, bangkuang (Batak).
 Bagian Tanaman yang digunakan
adalah biji.
 Kandungan Zat : Pachyrrizid
(Rotenoid)
 Status : Racun penghambat
oprasional sel.
 OPT Sasaran : Crocidolomia
binotalis, Plutella Xylostella dan
Spodoptera litura.
 Sirsak (Annona muricata L)
 Famili : Annonaceae
 Nama daerah : Dereujan (Aceh);
Tarutung olanda (Batak);
Durian batawi (Ninang); Jambu
landa (Lampung); Nangka
walanda (Sunda); Nagka landa,
nagka sabrang, mulwa landa
(Jawa); Srikaya jawa (Bali)
 Bagian Tanaman yang
digunakan adalah daun dan biji.
 Kandungan Zat : Annonain.
 Status Insektisida penolak,
penghambat makan, racun
kontak dan racun perut.
 OPT Sasaran : Belalang dan
Hama lainnya.
 Srikaya (Annona
squamosa L.)
 Famili : Annonaceae
 Bagian Tanaman yang
digunakan adalah biji.
 Kandungan Zat :
Annonain dan Resin.
 Status sebagai racun
kontak dan penghambat
makan.
 OPT Sasaran : Hama
gudang Callosobruchus
analis.
 Saga (Abrus precatorius
L.)
 Famili : Leguminosae
 Bagian Tanaman yang
digunakan biji
 Kandungan Zat : Tanin
dan Toksalbumin
 Status sebagai racun
perut.
 OPT Sasaran : Hama
gudang Sitophilus sp.
BIJI SAGA
 Serai (Andropogon nardus L.)
 Famili : Graminae
 Bagian Tanaman yang
digunakan adalah
 daun dan batang.
 Kandungan Zat : minyak asiri
 Status sebagai penghambat
peletakan telur,
 penyebab desikasi pada tubuh
serangga.
 OPT Sasaran : Hama gudang
 Babadotan (Ageratum
conyzoides L.)
 Famili : Asteraceae
 Bagian Tanaman yang
digunakan adalah daun,
bunga, batang dan akar.
 Kandungan Zat : Saponin,
Flavonoid, Polifenol dan
Minyak Asiri.
 OPT Sasaran : Serangga
dan Larva.
 Jeringau (Acorus calamus
L.)
 Famili : Araceae
 Bagian Tanaman yang
digunakan adalah
 Rimpang
 Kandungan Zat : Asarone
(82 %), Kolamenol (5 %),
 Kolamen (4 %) dan
Eugenol (10.3 %).
 OPT Sasaran :
Walangsangit, Rayap
 Selasih Ungu (Ocimum
sanctum)
 Famili : Labiatae
 Bagian Tanaman yang
digunakan adalah
 daun.
 Kandungan Zat : Metil
eugenol dan
 Eugenol.
 Status sebagai pemikat.
 OPT Sasaran : Lalat buah
 Selasih Hijau (Ocimum
minimum)
 Famili : Labiatae
 Bagian Tanaman yang
digunakan adalah daun.
 Kandungan Zat : Metil
eugenol dan Eugenol
 Status sebagai pemikat.
 OPT Sasaran : Lalat buah
 Daun wangi (Melaleuca
bracteata L.)
 Famili : Myrtaceae
 Bagian Tanaman yang
digunakan
 Adalah daun.
 Kandungan Zat : Metil
eugenol
 Status sebagai pemikat.
 OPT Sasaran : Lalat buah
 Kemangi (Ocimum
canum)
 Famili : Myrtaceae
 Bagian Tanaman yang
digunakan adalah daun.
 Kandungan Zat : Metil
eugenol.
 Status sebagai pemikat.
 OPT Sasaran : Lalat buah
 Kelompok Tumbuhan
Rodentisida Nabati :
 3.1. Gadung Racun
(Dioscorea hispida denst)
 Famili : Dioscoreaceae
 Bagian Tanaman yang
digunakan
 adalah umbi.
 Kandungan Zat : Saponin,
Alkoloid dan
 Diaskorin.
 Status sebagai Rodentisida
 OPT Sasaran : Tikus,
Walangsangit
 Kelompok Tumbuhan
Moluskisida Nabati :
 4.1. Tefrosia (Tephrosia vogelii
Hook.)
 Famili : Leguminosae
 Bagian Tanaman yang
digunakan daun.
 Kandungan Zat : Tephrosin,
Deguelin.
 Status sebagai Insektisida,
Moluskisida dan Rodentisida
 OPT Sasaran adalah keong
mas, Maruca testulalis.
 Tuba (Derris eliptica
(Roxb.) Benth.)
 Famili : Papilionaceae
 Bagian Tanaman yang
digunakan
 Adalah akar
 Kandungan Zat : Borneol,
Limonen.
 Status sebagai
Moluskisida.
 OPT Sasaran adalah
keong mas
 Sembung (Blumea
balsamifera L.)
 Famili : Compositae
 Bagian Tanaman yang
digunakan daun.
 Kandungan Zat :
Borneol, Sineol dan
Limonen.
 OPT Sasaran : keong
mas
 Mimba (Azadirachta indica A Juss)
 Famili : Meliaceae
 Nama daerah : Nimba, imba (Jawa);
 Intaran, nimba (Bali); Membha
(Madura).
 Bagian Tanaman yang digunakan
adalahdaun dan biji.
 Kandungan Zat : Azadirachtin,
Meliantriol, Salanin dan Nimbin.
 Status sebagai Insektisida,
Bakterisida, Fungisida, Nema
tisiDa, Moluskisida , penghambat
pertumbuhan
 OPT Sasaran : WBC dan Hama
gudang
 Mindi (Melia azederach L.)
 Famili : Meliaceae
 Nama daerah : Grinnging, mindi
(Jawa);
 Renceh (Batak).
 Bagian Tanaman yang diguna
kan adalah Daun dan biji.
 Kandungan Zat : Azadirachtin,
Meliantriol, Salanin dan
Nimbin.
 Status sebagai Insektisida.
 OPT Sasaran : WBC, Hama
gudang
 Cengkeh (Syzygium
aromaticum L.)
 Famili : Myrtaceae
 Bagian Tanaman yang
digunakan adalah bunga,
tangkai bunga dan daun.
 Kandungan Zat adalah Minyak
atsiri dan Metil eugenol.
 Status sebagai Bakterisida dan
Fungisida.
 OPT Sasaran : Pseudomonas,
Hama lalat buah Dacus
dorsalis, D. umbosus.
 Tembakau (Nicotiana tabacum
L.)
 Famili : Solanaceae
 Nama daerah Bakong (Aceh);
 Bako (Gayo, Sunda, Jawa);
 Mbako, yimbako (Batak);
 Bago, fanisa (Nias).
 Bagian Tanaman yang
digunakan daun,
 batang.
 Kandungan zat adalah Nikotin.
 Status sebagai penolak, racun
kontak dan
 racun perut.
 OPT Sasaran : Hama gudang
 Jarak (Ricinus communis)
 Famili : Euphorbiaceae
 Bagian Tanaman yang
digunakan adalah daun dan
biji.
 Status sebagai Insektisida
dan Fungisida
 OPT Sasaran : Belalang,
Nyamuk
 Biduri (Tithonia tagetiflora)
 Famili : Asteraceae
 Bagian Tanaman yang
digunakan Adalah daun
 Status sebagai Insektisida dan
Bakterisida
 OPT Sasaran : Serangga,
Bakteri
 Kunyit (Curcuma
domistica)
 Famili : Zingiberaceae
 Bagian Tanaman yang
digunakan Rimpang
 Status Penolak
 Laos (Lengkuas) (Alpinia
galanga)
 Famili : Zingiberaceae
 Bagian Tanaman yang
digunakan
 Rimpang
 Status
 Fungisida
 Bakterisida
 Kenikir (Cosmos
caudatus)
 Famili : Asteraceae
 Bagian Tanaman yang
digunakan Daun
 Status : Penolak
 OPT Sasaran :
Crocidolomia binotalis
PENGEMBANGAN AGENS HAYATI
AGENS HAYATI
adalah setiap organisme, (spesies, subspecies,
varietas, semua jenis serangga, nematode,
protozoa, cendawan, bakteri, virus, mikoplasma,
serta organisme lainnya) semua tahap
perkembangannya dapat digunakan untuk
pengendalian OPT (Peraturan Menteri Pertanian RI,
No. 411, Th.1995 ).
TUJUAN PENGGUNAAN AGENS HAYATI

1. Memanfaatkan organisme musuh alami terhadap


pengendalian organisme sasaran, sehingga
mengatur pertumbuhan populasi organisme
pengganggu.

2. Mengembangkan Agens Hayati yang diketahui


efektif untuk mengendalian OPT dan mudah
dilaksanakan oleh petani.
PRINSIP – PRINSIP PENGENDALIAN HAYATI

1. Introduksi : memasukkan agens hayati dari suatu daerah


ke daerah lain.

2. Augmentasi : Peningkatan populasi agens hayati,


dengan cara perbanyakan massal.

3. Inundasi : Aplikasi agens hayati dalam skala luas.

4. Konservasi : melindungi agens hayati yang sudah ada.


PENGENDALIAN HAYATI

Keuntungan :
1) Selektivitas tinggi dan tidak
menimbulkan hama baru,

2) Organisme yang digunakan sudah


tersedia di alam,

3) Organisme yang digunakan aktif


mencari dan menemukan inangnya,
PENGENDALIAN HAYATI

Keuntungan :
4) Musuh alami dapat berkembang biak
dan menyebar,

5) Hama tidak menjadi resisten atau


kalau terjadi sangat lambat,

6) Pengendalian berjalan dengan


sendirinya.
PENGENDALIAN HAYATI

Kekurangan/kelemahan :
1. Pengendalian terhadap OPT berjalan
lambat.
2. Hasilnya tidak dapat diramalkan.

3. Dalam pelaksanaannya pengendalian


hayati memerlukan pengawasan pakar
dalam bidangnya.

4. Dalam mengembangkan pengendalian


hayati harus selalu dikawal/dimonitor.
PARASITOID
PREDATOR
HAMA
PATOGEN SERANGGA

MA
OPT PENYAKIT PEMAKAN SPORA
AGENS ANTAGONIS

GULMA
PEMAKAN GULMA
PATOGEN
PARASITOID
Parasitoid adalah serangga yang hidup di dalam atau pada
tubuh serangga lain, dan membunuhnya secara pelan-
pelan.
> Meletakan telur pada tubuh hewan sasaran, kemudian setelah menetas
larvanya menghisap cairan/memakan tubuh hewan sasaran tersebut hingga mati

6 ordo serangga (86 families) berpotensi sebagai parasitoid :


- Coleoptera (Ripiphoridae dan Rhipiceridae)
- Diptera (Tachinidae)
- Hymenoptera (Ichneumonidae, Braconidae, Chalcidoidae, Trichogrammatidae)
- Lepidoptera
- Neuropteran
- Strepsiptera
PREDATOR
Predator : Binatang atau organisme yang
memakan binatang/ organisme lainnya untuk
mempertahankan hidupnya dan dilakukan secara
berulang-ulang.
➢ Predator mempunyai banyak mangsa
• Ordo Coleoptera (Coccinelidae)
• Ordo Orhoptera (Belalang)
• Ordo Hemiptera (Kepik)
• Ordo Diptera (Asilidae)
• Ordo Odonata (Capung)
• Ordo Hymenoptera (semut)
• Ordo Mantodea (Mantidae/ Belalang sembah)
• Ordo Dermapter (Cocopet)
• Ordo Araneae (laba-laba)
• Aves
• Reptilia
• Mamalia
PATOGEN SERANGGA

Patogen Serangga :
Agens hayati yang digunakan untuk mengendalikan
serangga hama.
Serangga hama yang terinfeksi patogen serangga
dapat mengakibatkan sakit atau kematian.

Jenis Patogen Serangga :


a. Cendawan/ Jamur (Beauveria sp, Metarrhizium
sp, Verticillium sp, Hirsutella sp)
b. Bakteri (Bakteri merah, Bakteri putih)
c. Virus (NPV)
d. Nematoda (Steinernema sp, Heterorhabditis)
CIRI-CIRI HAMA TERINFEKSI JAMUR PATOGEN SERANGGA:

 Sebagian atau seluruh tubuh serangga hama menjadi keras.

 Tubuh serangga hama bagian luar ditumbuhi benang-benang


halus.

 Tubuh serangga hama yang terinfeksi patogen serangga tidak


mudah hancur.
•Infeksi dermal
•Mumifikasi
Beauveria sp
•Miselia putih
• Ulat, wereng

• Spora
• Dosis : 106 spora
• Tidak tahan UV Konidiospora
• Perbanyakan
• Efektifitas

Metharizium sp
• Miselia hijau
Dosis : 106 spora
Tidak tahan UV
Perbanyakan
Efektifitas
CIRI-CIRI HAMA TERINFEKSI BAKTERI PATOGEN
SERANGGA
 Tubuh serangga hama membengkak dan lembek.
 Jika bagian abdomen (perut) yang bengkak ditekan
akan keluar cairan atau lendir dengan warna khas.
 Ekskresi serangga hama sakit menjadi lembek atau
cair.
 Tubuh serangga hama yang terinfeksi bakteri patogen
serangga cepat hancur.
Baccilus Thuringiensis
• Gejala kematian serangga
• spora bakteri
• Aplikasi di lapang

BAKTERI MERAH
• Hasileksplorasi BBOPT
• Wereng coklat, ulat bawang , kutu
• Perbanyakan massal
• Aplikasi di lapang
C. VIRUS PATOGEN SERANGGA (SeNPV dan SlNPV)
(Spodoptera exigua Nuclear-Polyhedrosis Virus

Ciri-ciri Ulat terinfeksi SeNPV :


1. Tampak berminyak.
2. Tubuh membengkak dan warnanya menjadi pucat
kemerahan, terutama bagian perut.
3. Ulat cenderung merayap ke pucuk tanaman, kemudian mati
dalam keadaan menggantung dengan kaki semunya pada
tanaman.
4. Jika tubuh dirobek keluar cairan hemolimfa yang
mengandung banyak pelihedra.
5. Ulat muda mati dalam 2 hari sedangkan ulat tua mati dalam
4-9 hari setelah infeksi.
VIRUS PATOGEN SERANGGA (SeNPV dan SlNPV

Keuntungan SeNPV dan SlNPV :


1. Tidak membahayakan lingkungan.
2. Dapat mengatasi masalah kerisistenan
hama terhadap insektisida.
3. Kompatibel dengan insektisida.
PATOGEN SERANGGA
NEMATODA ENTOMOPATOGEN BAKTERI
KOMPLEKS

Bakteri

Nematoda

Didik Photo Collection


Agens Antagonis :
Agens hayati yang digunakan untuk menekan
perkembangan penyakit.
Penyakit Sasaran :
a. Cendawan/ jamur
b. Bakteri

Jenis Agens Antagonis :


a. Cendawan/ Jamur (Trichoderma sp,
Gliocladium sp)
b. Bakteri (Corynebacterium, Pseudomonas
fluorescens)
Perbanyakan pada media
Warna miselia hijau
Untuk penyakit tular tanah
Perbanyakan secara sederhana
Dosis
Aplikasi di lapang

Spora/ konidiospora
Ciri khas Trichoderma sp

Mekanisme
Hiper parasit
Disamping memberikan efek penekanan secara langsung
terhadap patogen terutama patogen tular tanah, maka
mikroorganisme antagonis juga umumnya dapat
meningkatkan pertumbuhan dan kesehatan tanaman
sehingga meningkatkan ketahanan tanaman tersebut
terhadap patogen (efek tidak langsung). Pemberian
Trichoderma viridae yang telah dikomersialkan dengan
nama dagang Ecofit di India dapat menekan penyakit busuk
akar, busuk benih, Damping off dan layu Fusarium pada
tanaman kapas, buncis, kacang tanah, bunga matahari dan
tanaman sayur-sayuran (Whipps & Lumsden, 2000). Hal ini
diduga disebabkan Trichoderma tersebut disamping
sebagai agen hayati juga menghasilkan growth regulating
faktor. Demikian pula halnya pemberian Pseudomonas
fluorescens (isolat B29) pada awal pertanaman kedelai
mampu menekan perkembangan penyakit bisul bakteri dan
meningkatkan hasil pada kedelai di lapangan (Khaeruni,
1998).
Perbanyakan Massal Jamur Patogen Serangga
Dan Jamur Agens Antagonis

Perendaman beras Pencucian beras Beras dikeringanginkan

Beras disterilkan dalam Media padat beras


Beras dikemas dalam Dandang/ autoclave Siap untuk diinokulasi
Plastik tahan panas
± 100 gr
PROSES PERBANYAKAN MASSAL
JAMUR PATOGEN SERANGGA
DAN JAMUR AGENS ANTAGONIS

Beauveria sp Trichoderma sp
Inokulasi di incase
± 7 hari setelah inokulasi
Jamur Beauveria sp tumbuh
Merata pada media

Media beras ditutup rapat


setelah diinokulasi
PERBANYAKAN MASSAL BAKTERI PATOGEN SERANGGA
DAN AGENS ANTAGONIS
Perbanyakan SeNPV / SlNPV

1. Pembiakan massal ulat grayak.


2. Perbanyakan SeNPV/SlNPV di laboratorium
dalam tubuh serngga inang (ulat grayak).
3. Digerus, diencerkan dan dimurnikan dengan
sentrifus.
4. Pemformulasian dengan bahan tepung dan
dikemas.
PATOGEN SERANGGA

JAMUR PATOGEN SERANGGA (Media Padat)


a. Dosis : 100 gr / tangki semprot

b. Waktu : sore hari ± pukul 15.00 atau hindari terik sinar


matahari. Jika musim hujan, saat aplikasi dapat
ditambahkan perekat pada larutan semprot.

c. Penyemprotan diarahkan langsung pada hama sasaran.


APLIKASI BAKTERI PATOGEN SERANGGA (Media
Cair)

a. Dosis : 5 cc/ liter

b. Waktu : sore hari ± pukul 15.00 atau hindari


terik sinar matahari. Jika musim hujan, saat
aplikasi dapat ditambahkan perekat pada
larutan semprot.

c. Penyemprotan diarahkan langsung pada


hama sasaran.
APLIKASI SeNPV/ SlNPV

➢ Diaplikasikan dengan alat semprot.

➢ Penyemprotan diusahakan mengenai hama sasaran atau


pada tanaman secara menyeluruh. Sebaiknya ulat rata-rata
pada instar 1 – 3.

➢ Penyemprotan dilakukan sore hari, untuk menghindari


pengaruh sinar matahari yang dapat menginaktifkan
SeNPV/ SlNPV.
JAMUR ANTAGONIS ( Media Padat)

a. Pembuatan kompos : 100 gr (1 bungkus)


Trichoderma sp + 5 Kg pupuk kandang

b. Tanaman buah (pisang) : 100 gr Trichoderma sp


tiap lubang tanam atau 5 Kg kompos plus
(Trichoderma sp + pupuk kandang) tiap lubang
tanam.
APLIKASI JAMUR ANTAGONIS ( Media Padat)

c. Tanaman sayuran (tomat, cabe, Timun, dll) :


100 gr Trichoderma sp tiap lubang tanam atau
0,25 Kg kompos plus (Trichoderma sp + pupuk
kandang) tiap lubang tanam.

d. Jika disemprotkan pada tanaman : Waktu


aplikasi sore hari ± pukul 15.00 atau
hindari terik sinar matahari. Jika musim
hujan, saat aplikasi dapat ditambahkan
perekat pada larutan semprot.
APLIKASI BAKTERI ANTAGONIS (Media Cair)

a. Dosis : 5 cc/ liter

b. Waktu : sore hari ± pukul 15.00 atau


hindari terik sinar matahari. Jika musim
hujan, saat aplikasi dapat ditambahkan
perekat pada larutan semprot.

c. Aplikasi dilakukan secara terjadwal :


- Perendaman benih (selama ± 15 menit)
- Dipertanaman : untuk pengendalian HDB
dan Blas pada padi umur 2, 4 dan 6
minggu setelah tanam.
“DENGAN KEULETAN, KETELATENAN,
KESABARAN DAN KEBERANIAN,

YAKIN AKAN MEMBUAHKAN KEBERHASILAN”

Anda mungkin juga menyukai