Anda di halaman 1dari 4

Unsur-unsur Trafficking

1) Perbuatan : Merekrut, mengangkut, memindahkan, menyembunyikan atau menerima


2) Sarana (Cara) untuk mengendalikan korban : Ancaman, paksaan, berbagai bentuk
kekerasan, penculikan, penipuan, kecurangan, penyalahgunan kekuasaan, atau posisi
rentan, pemberian atau penerimaan pembayaran atau keuntungan untuk memperoleh
persetujuan dari orang yang memegang kendali atas korban.
3) Tujuan : Eksploitasi untuk prostitusi atau bentuk eksploitasi seksual lainnya, kerja
paksa, perbudakan, pengambilan organ tubuh.

Jenis-jenis Trafficking

1. Perkawinan Transinternasional
Perkawinan yang diatur antara perempuan indonesia dengan laki-laki dari negara lain,
perempuan yang dikawinkan sering kali menjadi objek eksploitasi dan kekerasan
suami ataupun para keluarganya, ekonomi yang sulit merupakan penyebab utama
mudahnya para perempuan dibujuk oleh para pelaku. Dari perkawinan yang
dikomersilkan keluarga memperoleh keuntungan dalam bentuk mas kawin
2. Eksploitasi seks phedophilia
Kegiatan pedagangan bentuk ini sering kali melibatkan orang-orang asing dan
jaringan international. Anak yang menjadi korban pada umumnya antara usia 12-20
tahun. Pada umunya mereka tergiur janji dan harapan indah diluar negeri dan bekerja
disana.
3. Pembantu rumah tangga dalam kondisi buruk
Secara umum keberadaan pembantu rumah tangga kurang mendapat penghargaan
sehingga tidak mendapat perlindungan baik secara hukum maupu sosial secara layak,
akibatnya mereka rentan menghadapi berbagai bentuk kekerasan fisik, psikis, seksual
dan ekonomi.
4. Penari erotis
Salah satu pengguna dari kegiatan perdagangan perempuan adalah pengusaha hiburan
yang memerlukan gadis-gadis penghibur untuk menyemarakkan bisnisnya, dimana
mereka harus menari dengan gerakan yang dapat menimbulkan rangsangan seksual.

Dampak/ Pengaruh Trafficking Human

Berdasarkan perspektif historis, startegi dan tahapan, serta faktor penyebab human
trafficking, maka hal tersebut menempatkan perempuan korban trafficking dalam situasi yang
beresiko tinggi yang berdampak terhadap fisik, psikis maupu kehidupan sosial perempuan
korban trafficking sebagaimana yang digambarkan Course Instruction (2011: 13, 14) sebagai
berikut.

1. Dampak Psikologi dan Kesehatan Mental


Pengalaman traumatis dan ketakutan dialami perempuan korban trafficking
sejak awal mereka ditangkap secara paksa, mengalami penyekapan di daerah transit
sebelum dikirim ke tempat tujuan untuk dijual dan di eksploitasi (American
Association, 2005: 467).
Setelah datang ke tempat tujuan, perempuan korban trafficking terisolasi secara sosial,
dikurung, dan kekurangan makanan. Semua milik pribadi dilucuti dari mereka, surat
identitas, paspor, visa, dan dokumen lainnya (Course Instruction, 2011:1).
Rasa takut yang terus-menerus untuk keamanan pribadi mereka dan keselamatan
keluarga mereka, ancaman deportasi akhirnya berkembang menjadi rasa kehilangan
dan tidak berdaya.
Gangguan kesehatan mental yang umumnya terjadi adalah gangguan PTSD (Post-
Traumatic Stress Disorder). Gejala PTSD biasanya muncul 3 bulan pertama setelah
peristiwa traumatis (NANDA, 2011). Selain PTSD, korban trafficking banyak
ditemukan menderita kecemasan dan gangguan mood termasuk serangan panik,
gangguan obsesif kompulsif, gangguan depresi berat. Satu studi melaporkan bahwa
orang yang selamat dari trafficker mengalami kecemasan dengan gejala kegugupan
(95%), panik (61%), merasa tertekan (95%) dan keputusasaan tentang masa depan
(76%) (Bradley, 2005).
2. Dampak Sosial
Secara sosial para perempuan korban trafficking terasingkan, karena sejak
awal diangkut atau ditangkap oleh jaringan trafficker mereka sudah disekap.
Konsekuensi sosial tersebut sebagai salah satu dampak yang banyak dialami oleh
perempuan korban trafficking. Korban mengalami isolasi sosial, yang berfungsi
sebagai strategi untuk perbudakan dan eksploitasi seksual. Sementara diperbudak,
para korban terutama anak-anak biasanya kehilangan kesempatan pendidikan dan
sosialisasi dengan teman sebayanya (Stotts & Ramey, 2009: 10).
Menurut Chatterjee et al. (Wickham, 2009: 12, 13), persoalan sosial yang sangat
tragis dan semakin meningkatkan stress dan depresi para korban adalah ketika
keluarga dan masyarakat menolak untuk menerima mereka kembali. Selain itu, para
pria sering melihat perempuan korban trafficking sebagai orang yang kotor, telah
ternodai dan karena itu menolak untuk menikahi mereka. Jadi dampak sosial yang
dimaksud adalah isolasi sosial, penolakan dari keluarga & masyarakat mengakibatkan
perempuan korban trafficking kehilangan makna dan tujuan hidup serta penghargaan
atas dirinya.
3. Dampak Kesehatan Fisik
Secara fisik, cedra aktual para perempuan korban trafficking terjadi, karena
mereka mengalami kekerasan fisik dan seksual. Mereka seringkali terpaksa harus
tinggal di lingkungan yang tidak manusiawi dan bekerja dalam kondisi berbahaya.
Mereka tidak memiliki gizi yang cukup dan dikenakan penyiksaan secara brutal pada
fisik dan psikis, apabila mereka tidak memberikan pelayanan seksual yang diinginkan
pelanggan atau karena penolakan para korban terhadap eksploitasi seksual.
Perawatan kesehatan dan pencegahan penyakit seksual menular terhadap para korban
hampir tidak ada, dan kesehatan biasanya diabaikan sampai mereka semakin terpuruk
menderita penyakit HIV / AIDS, sipilis, gonorea dan penyakit seksual menular
lainnya. Penyalahgunaan zat (obat-obatan terlarang) sebagai sarana untuk mengatasi
situasi depresi korban sekaligus sebagai strategi traffickers menundukkan korban
untuk melakukan eksploitasi seksual. Jadi dampak kesehatan fisik yang dimaksud
adalah cedera aktual & ancaman terhadap integritas diri para korban yang mengalami
kekerasan fisik dan seksual. Penderitaan secara fisik yang dialami para perempuan
korban trafficking, menciptakan citra diri negatif, konsep diri para korban semakin
terpuruk, kehilangan makna hidup, harkat dan martabat para korban menjadi hancur.

Trafficking dalam Perspektif Kesehatan Jiwa


Organisasi kesehatan dunia (WHO) mendefinisikan kesehatan jiwa sebagai keadaan
sejahtera dimana seorang individu menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan
normal dalam kehidupan, dapat bekerja secara produktif dan mampu memberikan kontribusi
kepada dirinya sendiri atau komunitasnya. Dalam arti positif. Kesehatan mental adalah dasar
bagi kesejahteraan individu dan fungsi efektif dari suatu komunitas.
Individu yang sehat jiwa akan menampakkan kondisi-kondisi sebagai berikut, yaitu: dapat
melihat ke dalam dirinya untuk menemukan nilai dan tujuan hidup, memaksimalkan potensi
diri, mentoleransi ketidakpastian hidup, memiliki kesadaran yang realistis akan kemampuan
dan keterbatasannya, dapat beradaptasi dengan lingkungannya, dapat membedakan dunia
nyata dan dunia impian, serta dapat mentoleransi stres kehidupan, rasa cemas atau berduka
sesuai keadaan, dan mengalami kegagalan tanpa rasa hancur. Ia menggunakan dukungan dari
keluarga dan teman untuk mengatasi krisis karena mengetahui bahwa stres tidak akan
berlangsung selamnya (Videbeck, 2008).
Dampak trafficking diantaranya mengancam stabilitas kesehatan jiwa korban
karena mengalami perlakuan yang tidak hanya sekedar kekerasan tapi berupa abuse
(penganiayaan). Masalah kesehatan jiwa akan menjadi global burden disease. Dengan adanya
indikator baru yaitu DALY (Disability Adjusted Life Year), diketahuilah bahwa gangguan
jiwa merupakan masalah kesehatan utama secara internasional. Perubahan sosial ekonomi
yang amat cepat dan situasi sosial politik yang tidak menentu menyebabkan semakin
tingginya angka kemiskinan, situasi ini dapat meningkatkan angka kejadian krisi
dan gangguan jiwa dalam kehidupan manusia (Antai Otong, 1994)
Tidak sedikit korban trafficking yang mengalami trauma. Ego korban yang
mengalami trauma berat sering dirasakan sebagai ancaman terhadap integritas fisik atau
konsep diri. Hal ini menyebabkan ansietas berat yang tidak dapat dikendalikan oleh ego dan
dimanifestasikan dalam bentuk perilaku simtomatik. Karena ego menjadi rentan, superego
dapat menghukum dan menyebabkan individu merasa bersalah terhadap kejadian traumatik
tersebut. Id dapat menjadi dominan, menyebabkan perilaku impulsif tidak terkendali (Kaplan,
2004).

Diagnosa keperawatan

PTSD (Sindrom Pasca Trauma)

Intervensi

No. Diagnosa Kriteria Hasil Intervensi


1. Sindrom Pasca Setelah dilakukan tindakan - Kaji respon
Trauma keperawatan masalah Sindrom Pasca psikologis terhadap
Trauma dapat teratasi dengan pasien trauma
menunjukkan: - Kaji keadekuatan
dan ketersediaan
- Status pemulihan dari sistem pendukung
penganiayaan : Tingkat dan sumber-sumber
penyembuhan setelah dikomunitas
mengalami penganiayaan - Kaji situasi
- Tingkat ansietas berkurang keluarga
- Status kenyamanan: - Penyuluhan kapeda
Kenyamanan psikospiritual keluarga dan
yang berkaitan dengan konsep pasien: Jelaskan
diri , kesejahteraan emosi, kepada orang
sumber inspirasidan makna terdekat pasien
tujuan hidup tentang bagaimana
- Persepsi terhadap ancaman: mereka dapat
Keyakinan personal bahwa memberikan
masalah kesehatan yang dukungan
mengancam serius dan - Berikan informasi
berpotensi memiliki atau rujukan ke
konsekuensi negatif terhadap sumber-sumber
gaya hidup dikomunitas
- Harga diri: Penilaian seseorang - Berikan kesempatan
tentang dirinya sendiri untuk mendapat
- Dukungan sosial: Persepsi dukungan sosial dan
keberadaan dan bantuan yang penyelesaian
realibel dari orang lain masalah
- Tingkat stress berkurang - Ajurkan pasien
untuk menjelaskan
kejadian secara
detail