Anda di halaman 1dari 2

Pemeriksaan Penunjang

Menurut Hidayat (2008) diagnosis HIV dapat ditegakkan dengan menguji HIV. Tes ini
meliputi tes Elisa, latex agglutination dan western bolt. Penilaian Elisa dan latex
agglutination dilakukan untuk mengidentifikasi adanya infeksi HIV atau tidak, bila dikatakan
positif HIV harus dipastikan dengan tes western bolt.

1. Tes untuk diagnosa HIV:


 ELISA dilakukan untuk mengidentifikasi adanya infeksi HIV atau tidak
(positif; hasil tes yang positif dipastikan dengan western bolt)
 Western bolt dilakukan untuk mengidentifikasi adanya infeksi HIV dan untuk
mengidentifikasi hasil tes yang positif
 P24 antigen test (positif untuk protein virus yang bebas)
 Kultur HIV (positif, kalau dua kali uji kadar secara berturut-turut mendeteksi
enzim reverse transcriptase atau antigen P24 dengan kadar yang meningkat)
2. Tes untuk deteksi gangguan system imun
 LED (normal namun perlahan-lahan akan mengalami penurunan)
 CD4 Limfosit (menurun, mengalami penurunan kemampuan untuk bereaksi
terhadap antigen)
 Rasio CD4/CD8 limfosit (menurun)
 Serum mikroglobulim B2 (meningkat bersamaan dengan berlanjutnya
penyakit)
 Kadar immunoglobulin (meningkat)

Tes lain adalah dengan cara menguji antigen HIV, yaitu tes antigen P24 (polymerase chain
reaction) atau PCR. Bila pemeriksaan pada kulit, maka dideteksi dengan tes antibodi
(biasanya digunakan pada bayi lahir dengan ibu HIV.

Dengan mempergunakan metoda virus diagnostic assay (RNA polymerase chain reaction
(PCR)DNA PCR, atau kultur virus) diagnosis infeksi HIV dapat ditegakkan pada usia 1
bulan, umumnya dianosis telah dapat ditegakkan pada semua bayi pada 8 bulan. Antibodi ibu
dapat terdeteksi hingga 12 samapai 15 bulan, tes serologi yang positif pada bayi tidak bernilai
diagnostik hingga usia 18 bulan.

PCR DNA HIV adalah metode virologi yang dianjurkan untuk mendiagnosa infeksi HIVpada
bayi dan dapat mengidentifikasi 38% bayi yang terinfeksi pada 48 jam dan 96% pada 28 hari.
Pemeriksaan diagnostik virus harus dilakukan pada usia 48 jam, umur 1 sampai 2 bulan, dan
pada usia 3 sampai 6 bulan. Pemeriksaan tambahan pada usia 14 hari sering dilakukan karena
sensitivitas meningkat secara cepat pada usia 2 minggu. PCR RNA HIV memiliki sensitivitas
selama minggu pertama kehidupan 25% sampai 40%, meningkat menjadi 90% sampai 100%
pada usia 2 sampai 3 bulan. Namun, PCR RNA HIV yang negatif tidak dapat digunakan
untuk menyingkirkan adanya infeksi, dengan demikian, tidak direkomendasikan sebagai
pemeriksaan lini pertama. Kultur HIV rumit dan tidak rutin dilakukan.
Infeksi HIV pada bayi yang terpajan ditegakkan bila uji virologi positif pada dua kesempatan
yang terpisah. Infeksi HIV dapat disingkirkan pada bayi yang tidak diberi ASI dengan
setidaknya dua uji virologi dilakukan pada usia lebih dari 1 bulan, dengan satu tes yang
dilakukan setelah 4 bulan; atau setidaknya dua tes antibodi negatif yang dilakukan setelah
usia 6 bulan dengan interval minimal 1 bulan. Hilangnya antibodi HIV ditambah dengan PCR
DNA HIV yang negatif memperkuat diagnosis bukan infeksi HIV. Hasil uji antibodi HIV
yang positif terus-menerus setelah usia 18 bulan menunjukkan adanya infeksi HIV.