0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
193 tayangan17 halaman

Etika Kebidanan: Pentingnya Moralitas

Dokumen tersebut membahas tentang pentingnya etika dan moralitas dalam pelayanan kebidanan. Ia menjelaskan definisi etika dan teori-teori moral serta sistematika etika yang terdiri atas etika deskriptif, normatif, umum, khusus, sosial, individu dan terapan. Dokumen ini juga menyentuh fungsi etika dalam memberikan pelayanan kesehatan yang profesional dan bertanggung jawab.

Diunggah oleh

ires
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
193 tayangan17 halaman

Etika Kebidanan: Pentingnya Moralitas

Dokumen tersebut membahas tentang pentingnya etika dan moralitas dalam pelayanan kebidanan. Ia menjelaskan definisi etika dan teori-teori moral serta sistematika etika yang terdiri atas etika deskriptif, normatif, umum, khusus, sosial, individu dan terapan. Dokumen ini juga menyentuh fungsi etika dalam memberikan pelayanan kesehatan yang profesional dan bertanggung jawab.

Diunggah oleh

ires
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bidan merupakan bentuk profesi yang erat kaitannya dengan etika karena lingkup kegiatan
bidan sangat berhubungan erat dengan masyarakat. Oleh karena itu, selain mempunyai
pengetahuan dan keterampilan, agar dapat diterima di masyarakat  bidan juga harus memiliki
etika yang baik sebagai pedoman bersikap atau bertindak dalam memberikan suatu pelayanan
khususnya pelayanan kebidanan.  Agar mempunyai etika yang baik dalam pendidikannya bidan
dididik etika mata kuliah Etika dalam praktik kebidanan namun semuanya mata kuliah tidak ada
artinya jika peserta didik tidak mempraktekannya dalam kehidupannya di masyarakat.

Pada masyarakat daerah, bidan yang dipercaya adalah bidan yang beretika. Hal ini tentu akan
sangat menguntungkan baik bidan yang mempunyai etika yang baik karena akan mudah
mendapatkan relasi dengan masyarakat sehingga masyarakat juga akan percaya pada bidan.

Etika dalam pelayanan kebidanan merupakan isu utama diberbagai tempat, dimana sering
terjadi karena kurang pemahaman para praktisi pelayanan kebidanan terhadap etika. Pelayanan
kebidanan adalah proses yang menyeluruh sehingga membutuhkan bidan yang mampu menyatu
dengan ibu dan keluarganya. Bidan harus berpartisipasi dalam memberikan pelayanan kepada
ibu sejak konseling pra konsepsi, skrening antenatal, pelayanan intrapartum, perawatan intensif
pada neonatal, dan postpartum serta mempersiapkan ibu untuk pilihannya meliputi persalinan di
rumah, kelahiran seksio sesaria, dan sebagainya.

Bidan sebagai pemberi pelayanan harus menjamin pelayanan yang profesional dan
akuntibilitas serta aspek legal dalam pelayanan kebidanan. Bidan sebagai praktisi pelayanan
harus menjaga perkembangan praktik berdasarkan evidence based ( Fakta yang ada) sehingga
berbagai dimensi etik dan bagaimna kedekatan tentang etika merupakan hal yang penting untuk
digali dan dipahami.

1
Dari uraian diatas, makalah ini akan membahas tentang Konsep Etika Moral dalam
Memberikan Pelayanan Kebidanan pada masyarakat agar pembacanya dapat termotivasi dan
terpacu untuk menjadi bidan yang beretika, profesional dan berdedikasi tinggi di kalangan
masyarakat yang dapat dipelajari dalam kode etik bidan dan etik profesi.

1.2 Rumusan Masalah

1. Fungsi etika dan moralitas dalam pelayanan kebidanan

2. Sumber etika

3. Hak, kewajiban, dan tanggungjawab

1.3 Tujuan

Tujuan Umum :

Agar pembaca bisa mengerti dan memahami :

1. Fungsi etika dan moralitas dalam pelayanan kebidanan

2. Sumber etika

3. Hak, kewajiban, dan tanggungjawab

Tujuan Khusus :

Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas Mata Kuliah “ Etikolegal dalam Praktik Kebidanan”
sebagai salah satu bagian dalam pengambilan nilai Mata Kuliah.

2
BAB II
PEMBAHASAN

Materi ini sangat penting bagi mahasiswa bidan untuk mengetahui tentang apa itu etika,
apa itu moral dan bagaimana menerapkannya dalam parktik kebidanan sehingga seorang bidan
akan terlindung dari kegiatan pelanggaran etik ataupun pelanggaran moral yang sedang
berkembang di hadapan publik dan erat kaitannya dengan pelayanan kebidanan sehingga seorang
bidan sebagai provider kesehatan harus kompeten dalam menyikapi dan mengambil keputusan
yang tepat untuk bahan tindakan selanjutnya sesuai standar asuhan dan kewenangan bidan.

Pengkajian dan pembahasan tentang etika tidak selalu -hubungannya dengan moral dan
norma. Kadang etika diidentikan dengan moral, walaupun sebenamya terdapat perbedaan dalam
aplikasinya. Moral lebih menunjuk pads perbuatan yang sedang dinilai, sedangkan Etika dipakai
sebagai kajian terhadap sistem nilai yang berlaku.

Etika jugs sering dinamakan filsafat moral yaitu cabang filsafat sistematis yang
membahas dan mengkaji nilai baik buruknya tindakan manusia yang dilaksanakan dengan sadar
serta menyoroti kewajiban-kewajiban yang seharusnya dilakukan oleh manusia. Perbuatan yang
dilakukan sesuai dengan norma moral maka akan memperoleh pujian sebagai rewardnya, namun
perbuatan yang melanggar norma moral, maka si pelaku akan memperoleh celaan sebagai
punishmentnya.

Istilah etik yang kita gunakan sehari-hari pada hakikatnya berkaitan dengan falsafah
moral yaitu mengenai apa yang dianggap baik atau buruk di masyarakat dalam kurun waktu
tertentu, sesuai dengan perubahan/perkembangan norma/nilai. Dikatakan kurun waktu tertentu
karena etik dan moral bisa berubah dengan lewatnya waktu.

Pada zaman sekarang ini etik perlu dipertahankan karena tanpa etik dan tanpa diperkuat
oleh hukum, manusia yang satu dapat dianggap sebagai saingan oleh sesama yang lain. Saingan
yang dalam arti lain harus dihilangkan sebagai akibat timbulnya nafsu keserakahan manusia.
Kalau tidak ada etik yang mengekang maka pihak yang satu bisa tidak segansegan untuk

3
melawannya dengan segala cara. Segala cara akan ditempuh untuk menjatuhkan dan
mengalahkan lawannya sekadar dapat tercapai tujuan.

2.1 PENGERTIAN ETIKA

Etika diartikan "sebagai ilmu yang mempelajari kebaikan dan keburukan dalam hidup manusia
khususnya perbuatan manusia yang didorong oleh kehandak dengan didasari pikiran yang jernih
dengan pertimbangan perasaan".

Etik ialah suatu cabang ilmu filsafat. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa etik adalah
disiplin yang mempelajari tentang baik atau buruk sikap tindakan manusia.

Etika merupakan bagian filosofis yang berhubungan erat dengan nilai manusia dalam
menghargai suatu tindakan, apakah benar atau salah, dan penyelesaiannya baik atau tidak (Jones,
1994)

Menurut bahasa, Etik diartikan sebagai:

YUNANI à Ethos, kebiasaan atau tingkah laku

INGGRIS à Ethis, tingkah laku/prilaku manusia yg baik –> tindakan yg harus dilaksanakan
manusia sesuai dengan moral pada umumnya.

Sedangkan dalam konteks lain secara luas dinyatakan bahwa:

ETIK adalah aplikasi dari proses & teori filsafat moral terhadap kenyataan yg sebenarnya. Hal
ini berhubungan dengan prinsip-prinsip dasar & konsep yg membimbing makhluk hidup dalam
berpikir & bertindak serta menekankan nilai-nilai mereka.

(Shirley R Jones- Ethics in Midwifery)

2.2 TEORI MORAL

Teori moral mencoba memformulasikan suatu prosedur dan mekanisme untuk pemecahan
masalah-masalah etik.

4
Terdapat beberapa pendapat apa yang dimaksud dengan moral.

1. Menurut kamus lenqkap Bahasa Indonesia (Tim Prima Pena).

· Ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai akhlak.

· Akhlak dan budi pekerti

· Kondisi mental yang mempengaruhi seseorang menjadi tetap bersemangat, berani, disiplin, dll.

2. Ensiklopedia Pendidikan (Prof. Dr. Soeganda Poerbacaraka).

· Suatu istilah untuk menentukan batas-batas dari sifat-sifat, corak-corak, maksud-maksud,


pertimbangan-pertimbangan, atau perbuatan-perbuatan yang layak dapat dinyatakan baik/buruk,
benar/salah.

· Lawannya amoral

· Suatu istilah untuk menyatakan bahwa baik/benar itu lebih daripada yang buruk/salah.

Bila dilihat dari sumber dan sifatnya, ada moral keagamaan dan moral sekuler. Moral keagamaan
kiranya telah jelas bagi semua orang, sebab untuk hal ini orang tinggal mempelajari ajaran-ajaran
agama yang dikehendaki di bidang moral.

Moral sekuler merupakan moral yang tidak berdasarkan pads ajaran agama dan hanya bersifat
duniawi semata-mata.

Bagi kits umat beragama, tentu moral keagamaan yang harus dianut dan bukannya moral sekuler.

Karma etik berkaitan dengan filsafat moral maka sebagai filsafat moral, etik mencari
jawaban untuk menentukan serta mempertahankan secara rasional teori yang berlaku tentang apa
yang benar atau salah, baik atau buruk, yang secara umum dapat dipakai sebagai suatu perangkat
prinsip moral yang menjadi pedoman bagi tindakan manusia. Dan moral diartikan mengenai apa
yang dinialinya seharusnya oleh masyarakat dan etik dapat diartikan pula sebagai moral yang
ditujukan kepada profesi. Oleh karma itu etik profesi sebaiknya jugs berbentuk normatif.

"Pada hakikatnya moral menunjuk pada ukuran–ukuran yang telah diterima oleh suatu
komunitas dan moral jugs bersumber pada kesadaran hidup yang berpusat pada slam pikiran"

5
(Maman Rachman, 2004). Moral tidak hanya berhubungan dengan larangan seksual, melainkan
lebih terkait dengan benar dan salah dalam kehidupan sehari-hari.

2.3 SISTEMATIKA ETIKA

Sebagai suatu ilmu maka Etika terdiri atas berbagai macam jenis dan ragamnya antara lain:

1. Etika deskriptif, yang memberikan gambaran dan ilustrasi tentang tingakh laku manusia
ditinjau dari nilai baik dan buruk serta hal-hai,mana yang boleh dilakukan sesuai dengan norma
etis yang dianut oleh masyarakat.

2. Etika Normatif, membahas dan mengkaji ukuran baik buruk tindakan manusia, yang biasanya
dikelompokkan menjadi-.

a. Etika umum; yang membahas berbagai hal yang berhubungan dengan kondisi manusia untuk
bertindak etis dalam mengambil kebijakan berdasarkan teori-teori dan prinsip-prinsip moral.

b. Etika khusus; terdiri dari Etika sosial, Etika individu dan Etika Terapan.

· Etika sosial menekankan tanggungjawab sosial dan hubungan antarsesama manusia dalam
aktivitasnya,

· Etika individu lebih menekankan pada kewajiban-kewajiban manusia sebagai pribadi,

· Etika terapan adalah etika yang diterapkan pada profesi

Pada tahun 2001 ditetapkan oleh MPR-RI dengan ketetapan MPR-RI No.VI/MPR/2001
tentang Etika Kehidupan Bangsa. Etika kehidupan bangsa bersumber pada agama yang universal
dan nilai-nilai luhur budaya bangsa yaitu Pancasila. Etika kehidupan berbangsa antara lain
meliputi: Etika Sosial Budaya, Etika Politik dan Pemerintahan, Etika Ekonomi dan Bisnis, Etika
Penegakkan Hukum yang Berkeadilan, Etika Keilmuan, Etika Lingkungan, Etika Kedokteran
dan Etika Kebidanan.

6
Kode etik profesi bidan merupakan suatu ciri profesi bidan yang bersumber dari nilai-
nilai internal dan eksternal suatu disiplin ilmu dan merupakan pernyataan komprehensif pofesi
bidan yang memberikan tuntunan bagi anggota dalam melaksanakan pengabdian profesi.
Kode etik profesi bidan hanya ditetapka oleh organisasi profesi, Ikatan Bidan Indonesia (IBI).
Penetapan harus dalam Konggres IBU. Kode etik profesi bidan akan mempunyai garuh dalam
menegakkan disiplin di kalangan profesi bidan.
Kode etik bidan Indonesia tahun 1986 dan disahkan dalam Kongres Nasional Ikatan
Bidan Indonesia (IBI) X tahun 1988, dan petunjuk pelaksanaan disyahkan dalam Rapat Kerja
Nasional (Rakernas) IBI tahun 1991. Kode etik bidan Indonesia terdiri atas 7 bab, yang
dibedakan atas tujuh bagian :
1.    Kewajiban bidan terhadap klien dan masyarakat (6 butir).
2.    Kewajiban bidan terhadap tugasnya (3 butir).
3.    Kewajiban bidan terhadap sejawat dan tenaga kesehatan lainnya (2 butir).
4.    Kewajiban bidan terhadap profesinya (3 butir).
5.    Kewajiban bidan terhadap diri sendiri (2 butir).
6.    Kewajiban bidan terhadap pemerintah, nusa bangsa dan tanah air (2 butir).
7.    Penutup (1 butir).
Menurut Standar Profesi Bidan 2007, terdapat beberapa pada bagian 5, yaitu kewajiban bidan
terhadap diri sendiri (dari 2 butir menjadi 3 butir).

Kode Etik Bidan Indonesia


Sesuai keputusan Menteri Kesehatan Rupublik Indonesia Nomor 369/Menkes/SK/III/2007
Tentang Standar profesi bidan, didalamnya terdapat Kode Etik Bidan Indonesia adalah
merupakan suatu ciri profesi yang bersumber dari nilai-nilai internal dan ekternal suatu disiplin
ilmu dan merupakan pernyataan komprehensif suatu profesi.

Fungsi Etika Dan Moralitas Dalam Pelayanan Kebidanan

1. Menjaga otonomi dari setiap individu khususnya Bidan dan Klien.


2. Menjaga kita untuk melakukan tindakan kebaikan dan mencegah tindakan yang
merugikan/membahayakan orang lain.

7
3. Menjaga privacy setiap individu.
4. Mengatur manusia untuk berbuat adil dan bijaksana sesuai dengan porsinya.
5. Dengan etik kita mengatahui apakah suatu tindakan itu dapat diterima dan apa alasannya.
6. Mengarahkan pola pikir seseorang dalam bertindak atau dalam menganalisis suatu
masalah.
7. Menghasilkan tindakan yg benar.
8. Mendapatkan informasi tenfang hal yg sebenarnya.
9. Memberikan petunjuk terhadap tingkah laku/perilaku manusia antara baik, buruk, benar
atau salah sesuai dengan moral yg berlaku pada umumnya.
10. Berhubungan dengans pengaturan hal-hal yg bersifat abstrak.
11. Memfasilitasi proses pemecahan masalah etik.
12. Mengatur hal-hal yang bersifat praktik.
13. Mengatur tata cara pergaulan baik di dalam tata tertib masyarakat maupun tata cara di
dalam organisasi profesi.
14. Mengatur sikap, tindak tanduk orang dalam menjalankan tugas profesinya yg biasa
disebut kode etik profesi.

Sumber Etika

Pancasila adalah sumber sumber nilai, maka nilai dasar Pancasila dapat dijadikan sebagai
sumber pembentukan norma etik (norma moral) dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara. Nilai-nilai pancasila adalah nilai moral. Oleh karena itu, nilai pancasila juga dapat
diwujudkan kedalam norma-norma moral (etik). Norma-norma etik tersebut selanjutnya dapat
digunakan sebagai pedoman atau acuan dalam bersikap dan bertingkah laku dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara.

Pancasila memegang peranan dalam perwujudan sebuah sistem etika yang baik di negara ini.
Disetiap saat dan dimana saja kita berada kita diwajibkan untuk beretika disetiap tingkah laku
kita. Seperti tercantum di sila ke dua “ kemanusian yang adil dan beadab” tidak dapat dipungkiri
bahwa kehadiran pancasila dalam membangun etika bangsa ini sangat berandil besar.

8
Hak Kewajiban Dan Tanggung Jawab

Hak merupakan pengakuan yang dibuat oleh orang atau sekelompok orang terhadap orang
atau sekelompok orang lain. Ada beberapa macam hak, antara lain hak legal dan moral. Hak
legal merupakan hak yang didasarkan atas hukum. Hak moral adalah didasarkan pada prinsip
atau etis.

Setiap kewajiban seseorang berkaitan dengan hak orang lain dan setiap hak seseorang
berkaitan dengan kewajiban orang lain untuk memenuhi hak tersebut. Menurut John Stuart Mill
bahwa kewajiban meliputi kewajiban sempurna dan kewajiban tidak sempurna. Kewajiban
sempurna artinya kewajiban didasarkan atas keadilan, selalu terkait dengan hak orang lain.
Sedangkan kewajiban tidak sempurna, tidak terkait dengan hak orang lain tetapi bisa didasarkan
atas kemurahan hati atau niat berbuat baik (Wahyuningsi, 2008).

Hak dan kewajiban adalah hubungan timbal balik dalam kehidupan sosial sehari-hari. Pasien
memiliki hak terhadap bidan atas pelayanan yang diterimanya. Hak pasti berhubungan dengan
individu, yaitu pasien. Sedangkan bidan mempunyai kewajiban/keharusan untuk pasien, jadi hak
adalah sesuatu yang diterima oleh pasien. Sedang kewajiban adalah suatu yang diberikan oleh
bidan. Seharusnya juga ada hak yang harus diterima oleh bidan dan kewajiban yang harus
diberikan oleh pasien.

Menempatkan kebutuhan pasen di atas kepentingan sendiri. Melindungi hak pasen untuk
memperoleh keamanan dan pelayanan yang berkualitas dari perawat. Selalu meningkatkan
pengetahuan, keahlian serta menjaga perilaku dalam melaksanakan tugasnya.

Tanggung jawab menunjukkan kewajiban. Ini mengarah kepada kewajiban yang harus
dilakukan untuk menyelesaikan pekerjaan secara professional. Manajer dan para staf harus
memahami dengan jelas tentang fungsi tugas yang menjadi tanggung jawab masing-masing
perawat dan bidan serta hasil yang ingin dicapai dan bagaimana mengukur kualitas kinerja
stafnya. Perawat yang professional akan bertanggung jawab atas semua bentuk tindakan klinis
keperawatan atau kebidanan yang dilakukan dalam lingkup tugasnya.

Tanggung jawab diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dan kinerja yang ditampilkan guna
memperoleh hasil pelayanan keperawatan atau kebidanan yang berkualitas tinggi. Yang perlu

9
diperhatikan dari pelaksanaan tanggung jawab adalah memahami secara jelas tentang “uraian
tugas dan spesifikasinya” serta dapat dicapai berdasarkan standar yang berlaku atau yang
disepakati. Hal ini berarti perawat mempunyai tanggung jawab yang dilandasi oleh komitmen,
dimana mereka harus bekerja sesuai fungsi tugas yang dibebankan kepadanya.

Untuk mempertahankannya, perawat dan bidan hendaknya mampu dan selalu melakukan
introspeksi serta arahan pada dirinya sendiri (self-directed), merencanakan pengembangan diri
secara kreatif dan senantiasa berusaha meningkatkan kualitas kinerjanya. Hal ini diperlukan agar
mereka dapat mengidentifikasi elemen-elemen kritis untuk meningkatkan dan mengembangkan
kinerja klinis mereka, guna memenuhi kepuasan pasen dan dirinya sendiri dalam pekerjaannya.
Mencatat respon dan perkembangan pasen dengan lengkap dan benar merupakan salah satu
tanggung jawab perawat dalam melaksanakan tugasnya.

2.4 HAK PASIEN

Hak pasien adalah hak-hak pribadi yang dimiliki manusia sebagai pasien/klien:

1. Pasien berhak memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di
rumah sakit atau instusi pelayanan kesehatan.
2. Pasien berhak atas pelayanan yang manusiawi, adil dan jujur.
3. Pasien berhak memperoleh pelayanan kebidanan sesuai dengan profesi bidan tanpa
diskriminasi.
4. Pasien berhak memilih bidan yang akan menolongnya sesuai dengan keinginannya.
5. Pasien berhak mendapatkan ;nformasi yang meliputi kehamilan, persalinan, nifas dan
bayinya yang baru dilahirkan.
6. Pasien berhak mendapat pendampingan suami atau keluarga selama proses persalinan
berlangsung.
7. Pasien berhak memilih dokter dan kelas perawatan seuai dengan keinginannya dan sesuai
dengan peraturan yang berlaku di rumah sakit.
8. Pasien berhak dirawat oleh dokter yang secara bebas menentukan pendapat kritis dan
pendapat etisnya tanpa campur tangan dad pihak luar.

10
9. Pasien berhak meminta konsultasi kepada dokter lain yang terdaftar di rumah sakit
tersebut (second opinion) terhadap penyakit yang dideritanya, sepengatahuan dokter yang
merawat.
10. Pasien berhak meminta atas privasi dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk
data-data medisnya.
11. Pasien berhak mendapat informasi yang meliputi : Penyakit yang diderita, tindakan
kebidanan yang akan dilakukan, alternatif terapi lainnya, prognosisnya, dan perkiraan
biaya pengobatan
12. Pasien berhak men yetujui/mem berikan izin atas tindakan yang akan dilakukan oleh
dokter sehubungan dengan penyakit yang dideritanya.
13. Pasien berhak menolak tindakan yang hendak dilakukan terhadap dirinya dan mengakhiri
pengobatan serta perawatan atas tanggungjawab sendiri sesuadah memperoleh informasi
yang jelas tentang penyakitnya.
14. Pasien berhak didampingi keluarganya dalam keadaan kritis.
15. Pasien berhak menjalankan ibadah sesuai agama/kepercayaan yang dianutnya selama hal
itu tidak mengganggu pasien lainnya.
16. Pasien berhak atas keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan di rumah
sakit.
17. Pasien berhak menerima atau menolak bimbingan moril maupun spiritual.
18. Pasien berhak mendapatkan perlindungan hukum atas terjadinya kasus mal-praktek.

2.5 KEWAIIBAN PASIEN

1. Pasien dan keluarganya berkewajiban untuk mentaati segala peraturan dan tat tertib
rumah sakit atau institusi pelayanan kesehatan.
2. Pasien berkewajiban untuk mematuhi segala instruksi dokter, bidan, perawat yang
merawatnya.
3. Pasien dan atau penangungnya berkewajiban untuk melunasi semua imbalan atas jasa
pelayanan rumah sakit atau institusi pelayanan kesehatan, dokter, bidan dan perawat.
4. Pasien dan atau penangggungnya berkewajiban memenuhi hal-hal yang selalu
disepakati/perjanjian yang telah dibuatnya.

11
2.6 HAK BIDAN

1. Bidan berhak mendapat perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas sesuai dengan
profesinya.
2. Bidan berhak untuk bekerja sesuai dengan standar profesi pada setiap tingkat jenjang
pelayanan kesehatan.
3. Bidan berhak menolak keinginan pasien/klien dan keluarga yang bertentangan dengan
peraturan perundangan dan kode etik profesi.
4. Bidan berhak atas privasi dan menuntut apabila nama baiknya dicemarkan baik oleh
pasien, keluarga maupun profesi lain.
5. Bidan berhak atas kesempatan untuk meningkatkan diri baik melalui pendidikan maupun
pelatihan.
6. Bidan berhak memperoleh kesempatan untuk mmingkatkan jenjang karir dan jabatan
yang sesuai.

2.7 KEWAJIBAN BIDAN TERHADAP PASIEN

Bidan wajib mematuhi peraturan rumah sakit sesuai dengan hubungan hukum antara bidan
tersebut dengan rumah sakit bersalin dan sarana pelayanan dimana ia bekerja.

Bidan wajib memberikan pelayanan asuhan kebidanan sesuai dengan standar profesi dengan
menghormati hak-hak pasien.

Bidan wajib merujuk pasien dengan penyulit kepada dokter yang mempunyai kemampuan dan
keahlian sesuai dengan kebutuhan pasien.

Bidan wajib memberi kesempatan kepada pasien untuk didampingi suami atau keluarga.

Bidan wajib memberikan kesempatan kepada pasien untuk menjalankan ibadah sesuai dengan
keyakinannya.

Bidan wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang seorang pasien.

12
Bidan wajib memberikan informasi yang akurat tentang tindakan yang akan dilakukan serta
risiko yang mungkiri dapat timbul.

Bidan wajib meminta persetujuan tertulis (informed consent) atas tindakan yang akan dilakukan.

Bidan wajib mendokumentasikan asuhan kebidanan yang diberikan.

Bidan wajib mengikuti perkembangan IPTEK dan menambah ilmu pengetahuannya melalui
pendidikan formal atau non formal.

Bidan wajib bekerja sama dengan profesi lain dan pihak yang terkait secra timbal balik dalam
memberikan asuhan kebidanan

KEWAJIBAN BIDAN TERHADAP SEJAWAT DAN TENAGA KESEHATAN LAINNYA

1.      Setiap bidan harus menjalin hubungan yang baik dengan teman sejawatnya untuk
menciptakan suasana kerja yang serasi.

2.      Setiap bidan dalam melaksanakan tugasnya harus saling menghormati baik terhadap
sejawatnya maupun tenaga kesehatan lainnya.

KEWAJIBAN BIDAN TERHADAP PROFESINYA

1.      Setiap bidan wajib menjaga nama baik dan menjunjung tinggi citra profesinya dengan
menampilkan kepribadian yang tinggi dan memberikan pelayanan yang bermutu kepada
masyarakat.

2.      Setiap bidan wajib senantiasa mengembangkan diri dan meningkatkan kemampuan
profesinya sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

3.      Setiap bidan senantiasa berperan serta dalam kegiatan penelitian dan kegiatan sejenisnya
yang dapat meningkatkan mutu dan citra profesinya.

13
KEWAJIBAN BIDAN TERHADAP DIRI SENDIRI

1. Setiap bidan wajib memelihara kesehatannva agar dapat melaksanakan tugas profesinya
dengan baik.

2. Setiap bidan wajib meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan sesuai dengan perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi.

3. Setiap bidan wajib memelihara kepribadian dan penampilan diri.

KEWAJIBAN BIDAN TERHADAP PEMERINTAH NUSA, BANGSA DAN TANAH AIR

1. Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya, senantiasa melaksanakan ketentuan-ketentuan


pemerintah dalam bidan kesehatan khususnya dalam pelayanan KIA/ KB dan kesehatan
keluarga.

2. Setiap bidan melalui profesinya berpartisipasi dan menyumbangkan pemikirannya kepada


pemerintah untuk meningkatkan mutu jangkauan pelayanan kesehatan terutama pelayanan
KIA/KB dan kesehatan keluarga.

14
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Bidan merupakan bentuk profesi yang erat kaitannya dengan etika karena lingkup
kegiatan bidan sangat berhubungan erat dengan masyarakat. Oleh karena itu, selain mempunyai
pengetahuan dan keterampilan, agar dapat diterima di masyarakat  bidan juga harus memiliki
etika yang baik sebagai pedoman bersikap atau bertindak dalam memberikan suatu pelayanan
khususnya pelayanan kebidanan.  Agar mempunyai etika yang baik dalam pendidikannya bidan
dididik etika pada mata kuliah Etikolegal dalam Praktik Kebidanan namun semuanya mata
kuliah tidak ada artinya jika peserta didik tidak mempraktekannya dalam kehidupannya di
masyarakat.

Derasnya arus globalisasi yang semakin mempengaruhi kehidupan sosial yang semakin
mempengaruhi munculnya masalah atau penyimpangan etik sebagai akibat kemajuan teknologi
atau ilmu pengetahuan yang menimbulkan konflik terhadap nilai. Penerapan kode etik dan etika
profesi sangat dibutuhkan oleh bidan dalam pelayanan kebidanan yang dilakukannya agar bidan
tidak terjerat masalah hukum berkaitan dengan etik yang akan merugikan bidan itu sendiri.

Sikap profesional dalam pelayanan sangat penting untuk menjaminnya keamanan dan
kenyamanan klien. Jabatan profesional bidan berbeda pekerjaan yang menuntut dan dapat
dipenuhi melalui pembiasaan melakukan keterampilan tertentu. Menguasai visi yang mendasari
keterampilannya yang menyangkut wawasan, dan memiliki sikap yang positif dalam
melaksanakan serta mengembangkan mutu kerja.

Saran

· Bidan berhak mematuhi peraturan rumah sakit sesuai dengan hubungan hukum antara bidan
tersebut dengan rumah sakit bersalin dan sarana pelayanan dimana ia bekerja.

15
· Bidan wajib memberikan pelayanan asuhan kebidanan sesuai dengan standar profesi dengan
menghormati hak-hak pasien.

16
DAFTAR PUSTAKA

Marimbi, Hanum. 2008. Etika dan Kode Etik Profesi Kebidanan. Yogyakarta : Mitra Cendikia.

Wahyuningsih, Heni Puji. 2008. Etika Profesi Kebidanan. Yogyakarta : Fitramaya.

17

Anda mungkin juga menyukai