Latar Belakang
Latar Belakang
RUMUSAN MASALAH
4. Kewajiban hukum apa saja yang berkaitan dengan kewajiban hukum bagi auditor?
2. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan kode etik Ikatan Akuntan Indonesia.
3. Untuk mengetahui apa saja kerangka kode etik Ikatan Akuntan Indonesia.
4. Untuk mengetahui kewajiban hukum apa saja yang berkaitan dengan kewajiban hukum
bagi auditor.
BAB II
PEMBAHASAN
2
2.1. ETIKA PROFESI AUDITOR
Etika profesi berasal dari dua kata yaitu etika (adat istiadat atau kebiasaan baik) dan
profesi (bidang kerja). Etika dapat didefinisikan secara luas sebagai seperangkat prinsip-prinsip
moral atau nilai-nilai. Setiap profesi memiliki seperangkat nilai, meskipun belum menyakininya
secara nyata. Jadi, etika profesi adalah sikap etis sebagai bagian integral dari sikap hidup
dalam menjalankan kehidupan sebagai pengemban profesi. Etika profesi dikeluarkan oleh
organisasi profesi untuk mengatur perilaku anggotanya dalam menjalankan praktik profesinya
bagi masyarakat. Etika profesi adalah cabang filsafat yang mempelajari penerapan prinsipprinsip moral
dasar atau norma-norma etis umum pada bidang-bidang khusus (profesi)
kehidupan manusia.
Etika profesi sangat diperlukan dalam profesi seorang auditor, hal ini dikarenakan
peranan etika profesi yang sangat penting bagi seorang auditor. Adapun peranan etika dalam
1. Audit membutuhkan pengabdian yang besar pada masyarakat dan komitmen moral
yang tinggi.
2. Masyarakat menuntut untuk memperoleh jasa para auditor publik dengan standar
kualitas yang tinggi, dan menuntut mereka untuk bersedia mengorbankan diri. Itulah
sebabnya profesi auditor menetapkan standar teknis dan standar etika yang harus
3. Standar etika diperlukan bagi profesi audit karena auditor memiliki posisi sebagai orang
profesional dalam mempertahankan diri dari godaan dan dalam mengambil keputusankeputusan sulit.
Etika sudah menjadi kebutuhan setiap orang dalam menjalankan aktivitas mereka. Etika
merupakan serangkaian prinsip atau nilai moral yang dimiliki oleh setiap orang. Kegiatan
material dan immaterial pasti mempunyai etika tersendiri, termasuk etika dalam menjalankan
profesi. Salah satu profesi yang mempunyai etika adalah akuntan publik.
Prinsip etika akuntan atau kode etik akuntan itu sendiri meliputi delapan butir
pernyataan (IAI, 1998, dalam Ludigdo, 2007). Kedelapan butir pernyataan tersebut merupakan
hal-hal yang seharusnya dimiliki oleh seorang akuntan. Delapan butir tersebut sebagai berikut:
3
Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai profesional, setiap anggota harus
senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan profesional dalam semua kegiatan yang
dilakukannya. Anggota juga harus selalu bertanggungjawab untuk bekerja sama dengan
masyarakat dan menjalankan tanggung jawab profesi dalam mengatur dirinya sendiri. Usaha
kolektif semua anggota diperlukan untuk memelihara dan meningkatkan tradisi profesi.
2. Kepentingan Publik
Anggota harus menerima kewajiban mereka untuk bertindak sedemikian rupa demi
atas profesionalisme.
3. Integritas
patokan (benchmark) bagi anggota dalam menguji keputusan yang diambilnya. Untuk
memelihara dan memperluas keyakinan publik, anggota harus melaksanakan semua tanggung
4. Objektivitas
Prinsip obyektivitas mengharuskan anggota bersikap adil, tidak memihak, jujur secara
intelektual, tidak berprasangka , serta bebas dari benturan kepentingan atau dibawah pengaruh
pihak lain. Seorang anggota harus memelihara objektivitas dan bebas dari konflik kepentingan
dalam menunaikan tanggung jawab profesional. Seorang anggota dalam praktik publik
seharusnya menjaga independensi dalam fakta dan penampilan saat memberikan jasa auditing
Seorang anggota profesi harus selalu mengikuti standar-standar etika dan teknis profesi
terdorong untuk secara terus menerus mengembangkan kompetensi dan kualitas jasa, dan
menunaikan tanggung jawab profesional sampai tingkat tertinggi kemampuan anggota yang
bersangkutan.
6. Kerahasiaan
Seorang
akuntan
profesional
harus
menghormati
kerhasiaanin
formasi
yang
diperolehnya sebagai hasil dari hubungan profesional dan bisnis serta tidak boleh
mengungapkan informasi apa pun kepada pihak ketiga tanpa izin yang benar dan spesifik,
kecuali terdapat kewajiban hukum atau terdapat hak profesional untuk mengungkapkannya.
Kewajiban kerahasiaan berlanjut bahkan setelah hubungan antara anggota dan klien atau
7. Perilaku Profesional
Seorang akuntan profesional harus patuh pada hukum dan perundang-undangan yang
8. Standar Teknis
4
Sebagai profesional setiap anggota dalam melaksanakan tugasnya harus sesuai
dengan standar teknis dan standar profesional yang relevan. Sesuai dengan keahliannya dan
penerima jasa selama penugasan tersebut sejalan dengan prinsip integritas dan obyektivitas.
Aturan etika merupakan penjabaran lebih lanjut dari prinsip-prinsip etika dan ditetapkan
untuk masing-masing kompartemen. Untuk akuntan sektor publik, aturan etika ditetapkan oleh
IAI Kompartemen Akuntan Sektor Publik (IAI-KASP). Sampai saat ini, aturan etika ini masih
dalam bentuk exposure draft, yang penyusunannya mengacu pada Standard of Professional
Practice on Ethics yang diterbitkan oleh the International Federation of Accountants (IFAC).
Berdasarkan aturan etika ini, seorang profesional akuntan sektor publik harus memiliki
b) Kesediaan melakukan tugas untuk masyarakat secara luas di tempat instansi kerja
c) Berpandangan obyektif.
d) Penyediaan layanan dengan standar pelaksanaan tugas dan kinerja yang tinggi.
Penerapan aturan etika ini dilakukan untuk mendukung tercapainya tujuan profesi
Oleh karena itu, menurut aturan etika IAI-KASP, ada 3 kebutuhan mendasar yang harus
dipenuhi, yaitu sebagai berikut.
c) Keyakinan pengguna layanan bahwa adanya kerangka etika profesional dan standar
teknis
yang
mengatur
persyaratan-persyaratan
layanan
yang
tidak
dapat
dikompromikan.
agama dan kode etik bisnis untuk kelompok-kelompok profesional, seperti akuntan publik dan
kode etik dalam organisasi. Perangkat-perangkat inilah yang akan dapat membedakan perilaku
beretika dan tidak beretika dalam konteks pribadi maupun profesi. Kualitas etika masyarakat
5
merupakan hal yang umum bila setiap orang memiliki perbedaan dalam prinsip moral dan nilai
serta kepentingan relatif yang terkait dengan prinsip prinsipnya, perbedaan ini merupakan
pengalaman hidup, kesuksesan dan kegagalan serta pengaruh dari orang tua dan teman
teman.
Sebelum Tahun 1986, Etika Profesional yang dikeluarkan oleh IAI diberi nama Kode
Etik Ikatan Akuntan Indonesia dan di tahun 1986 nama diubah menjadi Kode Etik Akuntan
Indonesia. Kode Etik Akuntan Indonesia dibagi Menjadi 9 (sembilan) bagian yaitu sebagai
berikut.
1. Pembukaan
2. Kepribadian
3. Kecakapan Profesional
4. Tanggung Jawab
5. Ketentuan Khusus
8. Penutup
9. Pengesahan
Mulai tahun 1998 sampai sekarang nama tersebut diubah kembali ke Kode Etik Ikatan
Akuntan Indonesia (Kode Etik IAI). Tidak hanya perubahan nama yang terjadi, namun juga
terjadi perubahan Struktur Etika Profesional yang dipakai oleh IAI. Organisani IAI menetapkan
8 (delapan) prinsip etika yang berlaku bagi seluruh anggota IAI yaitu sebagai berikut.
2. Kepentingan Publik
3. Integritas
4. Objektivitas
6. Kerahasiaan
7. Perilaku Profesional
8. Standar Teknis
1. Prinsip Etika
Memberikan rerangka dasar bagi aturan etika yang mengatur pelaksanaan pemberian
2. Aturan Etika
6
Disahkan oleh rapat anggota kompartemen dan hanya mengikat anggota kompartemen
yang bersangkutan.
3. Interpretasi Etika
panduan penetapan aturan etika, tanpa dimaksudkan untuk membatasi lingkup dan
penerapannya.
Dasar pemikiran yang melandasi penyusuanan etika profesional setiap profesi adalah
kebutuhan proses tersebut tentang kepercayaan masyarakat terhadap mutu jasa yang
diserahkan oleh profesi. Terlepas dari anggota profesi yang menyerahkan jasa tersebut. Setiap
masyarakat sangat awam mengenai pekerjaan yang dilakukan oleh suatu profesi karena
kompleknya pekerjaan yang dilaksanakan oleh profesi. Masyarakat akan sangat menghargai
profesi yang menerapkan standar mutu tinggi terhadap pelaksanaan pekerjaan anggota
profesinya, karena dengan demikian masyarakat akan terjamin untuk memperoleh jasa yang
dapat diandalkan dari profesi yang bersangkutan. Jika masyarakat pemakai jasa tidak memiliki
kepercayaan terhadap profesi akuntan publik, dokter atau pengacara maka layanan profesi
tersebut kepada klien dan masyarakat umumnya menjadi tidak efektif. Kepercayaan
masyarakat terhadap mutu audit akan menjadi lebih tinggi jika profesi akuntan publik
mererapkan standar mutu yang tinggi terhadap pelaksanaan perkerjaan audit yang dilakukan
dengan tertib. Hal ini sangat beralasan karena etika merupakan perekat untuk menyatukan
masyarakat. Bayangkan, apa yang akan terjadi bila kita tidak dapat mempercayai orang lain
Berbicara mengenai pentingnya etika profesi, dalam bidang akuntansi etika profesi
a) Karena etika profesi berisi ketentuan mengenai apa yang baik dan yang tidak baik serta
apakah suatu kegiatan yang dilakukan oleh profesi itu dapat dikatakan bertanggung
b) Profesi
akuntan
publik
memerlukan etika
karena
akuntan
publik
merupakan
suatu pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk menghasilkan nafkah
hidup dan yang mengandalkan suatu keahlian. Dimana keahlian yang dikerjakan dan
7
2.5. KEWAJIBAN HUKUM AUDITOR
Dalam hal terjadinya pelangaran yang dilakukan oleh seorang Akuntan Publik dalam
memberikan jasanya, baik atas temuan-temuan bukti pelanggaran apapun yang bersifat
pelanggaran ringan hingga yang bersifat pelanggaran berat, berdasarkan PMK No.
Penghukuman dalam pemberian sanksi hingga pencabutan izin baru dilakukan jika
seorang Akuntan Publik tersebut telah melanggar ketentuan-ketentuan yang diatur dalam
SPAP dan termasuk juga pelanggaran kode etik yang ditetapkan oleh IAPI, serta melakukan
jasa yang diberikan, atau juga diakibatkan dari pelanggaran yang terus dilakukan walaupun
menentang
langkah
pemeriksaan
sehubungan
dengan
adanya
dugaan
pelanggaran
Akan tetapi, hukuman yang bersifat administratif tersebut walaupun diakui merupakan
suatu hukuman yang cukup berat bagi eksistensi dan masa depan dari seorang Akuntan
Publik, ternyata masih belum menjawab penyelesaian permasalahan ataupun resiko kerugian
yang telah diderita oleh anggota masyarakat, sebagai akibat dari penggunaan hasil audit dari
Selama melakukan audit, auditor juga bertanggungjawab atas hal-hal sebagai berikut
(Boynton, 2003:68).
a) Mendeteksi kecurangan
mendapatkan keyakinan yang memadai tentang apakah laporan keuangan bebas dari
Tanggung jawab untuk melaporkan kecurangan jika terdapat bukti adanya kecurangan.
Laporan ini dilaporkan oleh auditor kepada pihak manajemen, komite audit, dewan
direksi.
Tanggung jawab untuk mendeteksi pelanggaran hukum yang dilakukan oleh klien.
Auditor bertanggung jawab atas salah saji yang berasal dari tindakan melanggar hukum
yang memiliki pengaruh langsung dan material pada penentuan jumlah laporan
keuangan. Untuk itu auditor harus merencanakan suatu audit untuk mendeteksi adanya
tindakan melanggar hukum serta mengimplementasikan rencana tersebut dengan
8
Tanggung jawab untuk melaporkan tindakan melanggar hukum. Apabila suatu tindakan
mendesak manajemen untuk melakukan revisi atas laporan keuangan tersebut. Apabila
revisi atas laporan keuangan tersebut kurang tepat, auditor bertanggung jawab untuk
pendapat wajar dengan pengecualian atau pendapat tidak wajar bahwa laporan
Lebih jauh lagi Soedarjono (2003) mengungkapkan bahwa auditor memiliki beberapa
Tanggung jawab ini hanya sebatas opini yang diberikan, sedangkan laporan keuangan
merupakan tanggung jawab manajemen. Hal ini disebabkan pengetahuan auditor terbatas
pada apa yang diperolehnya melalui audit. Oleh karena itu penyajian yang wajar posisi
keuangan, hasil usaha dan arus kas sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku umum,
Tanggung jawab ini mengenai mematuhi standar/ketentuan yang telah disepakati IAI, termasuk
mematuhi prinsip akuntansi yang berlaku, standar auditing dan kode etik akuntan Indonesia.
profesionalnya, jika tidak dia akan dianggap lalai dan bisa dikenakan sanksi.
Bila ada kecurangan yang begitu besar tidak ditemukan, sehingga menyesatkan, akuntan
jawab ini adalah tanggung jawab atas kelalaiannya yang bisa menimbulkan kerugian yang
cukup besar, seperti pendapat yang tidak didasari dengan dasar yang cukup.
f)
Tanggung jawab terhadap pihak ketiga atas kecurangan yang tidak ditemukan.
Dengan melihat lebih jauh penyebabnya, jika kecurangan karena prosedur auditnya tidak
Banyak profesional akuntansi dan hukum percaya bahwa penyebab utama tuntutan
hukum terhadap kantor akuntan publik adalah kurangnya pemahaman pemakai laporan
9
keuangan tentang perbedaan antara kegagalan bisnis dan kegagalan audit, dan antara
kegagalan audit serta risiko audit. Berikut ini defenisi mengenai kegagalan bisnis, kegagalan
1) Kegagalan bisnis
Adalah kegagalan yang terjadi jika perusahaan tidak mampu membayar kembali utangnya atau
tidak mampu memenuhi harapan para investornya, karena kondisi ekonomi atau bisnis, seperti
resesi, keputusan manajemen yang buruk, atau persaingan yang tak terduga dalam industri itu.
2) Kegagalan audit
Adalah kegagalan yang terjadi jika auditor mengeluarkan pendapat audit yang salah karena
3) Risiko Audit
Adalah risiko dimana auditor menyimpulkan bahwa laporan keuangan disajikan dengan wajar
tanpa pengecualian, sedangkan dalam kenyataannya laporan tersebut disajikan salah secara
material.
Bila di dalam melaksanakan audit, akuntan publik telah gagal mematuhi standar
profesinya, maka besar kemungkinannya bahwa business failure juga dibarengi oleh audit
failure. Dalam hal yang terakhir ini, akuntan publik harus bertanggung jawab. Sementara,
dalam menjalankan tugasnya, akuntan publik tidak luput dari kesalahan. Kegagalan audit yang
dilakukan
dapat
dikelompokkan
menjadi ordinary
negligence,
gross
negligence
dan
menjalankan tugas audit, dia tidak mengikuti pikiran sehat (reasonable care). Dengan kata lain
setelah mematuhi standar yang berlaku ada kalanya auditor menghadapi situasi yang belum
diatur standar. Dalam hal ini auditor harus menggunakan “common sense” dan mengambil
profesional dan standar etika. Standar ini minimal yang harus dipenuhi. Bila akuntan publik
gagal mematuhi standar minimal (gross negligence) dan pikiran sehat dalam situasi tertentu
(ordinary negligence), yang dilakukan dengan sengaja demi motif tertentu maka akuntan publik
dianggap telah melakukan fraud (adanya kelalaian yang ekstrim atau luar biasa meskipun tidak
ada maksud untuk menipu atau merugikan) yang mengakibatkan akuntan publik dapat dituntut
Sebagian
besar
profesional
akuntan
setuju
bahwa
bila
suatu
audit
gagal
mengungkapkan kesalahan yang material dan oleh karenanya dikeluarkan jenis pendapat yang
salah, maka kantor akuntan publik yang bersangkutan harus diminta mempertahankan kualitas
auditnya. Jika auditor gagal menggunakan keahliannya dalam pelaksanaan auditnya, berarti
terjadi kegagalan audit, dan kantor akuntan publik tersebut atau perusahaan asuransinya harus
membayar kepada mereka yang menderita kerugian akibat kelalaian auditor tersebut.
10
Kesulitan timbul bila terjadi kegagalan bisnis, tetapi bukan kegagalan audit. Sebagai
contoh, jika sebuah perusahaan bangkrut, atau tidak dapat membayar hutangnya, maka
umumnya pemakai laporan keuangan akan mengklaim bahwa telah terjadi kegagalan audit,
khususnya bila laporan audit paling akhir menunjukkan bahwa laporan itu dinyatakan secara
wajar. Lebih buruk jika terdapat kegagalan bisnis dan laporan keuangan yang kemudian
diterbitkan salah saji, para pemakai akan mengklaim auditor telah lalai sekalipun telah
Akuntan publik bertanggung jawab atas setiap aspek tugasnya, termasuk audit, pajak,
konsultasi manajemen, dan pelayanan akuntansi, sehingga jika benar-benar terjadi kesalahan
yang diakibatkan oleh pihak akuntan publik dapat diminta pertanggungjawabannya secara
hukum. Beberapa faktor utama yang menimbulkan kewajiban hukum bagi profesi audit
publik.
Kantor Akuntan Publik biasanya menggunakan satu atau kombinasi dari empat
Tidak ada kewajiban untuk melakukan jasa berarti kantor akuntan publik mengklaim
bahwa tidak ada kontrak yang tersirat atau yang dinyatakan. Misalnya KAP mengklaim bahwa
kekeliruan itu tidak dapat diungkapkan karena kantornya hanya melakukan jasa penelaahan,
bukan audit yaitu dengan penggunaan surat penugasan yang menunjukkan tidak adanya
Untuk pelaksanaan kerja yang tidak mengandung kelalaian di dalam suatu audit, KAP
mengklaim bahwa auditnya itu dilaksanakan sesuai dengan standar auditing yang berlaku
umum. Seandainya terdapat kesalahan, salah saji yang disengaja atau salah pernyataan yang
tidak ditemukan, auditor tidak bertanggung jawab jika auditnya dilakukan secara benar.
11
3) Kelalaian kontribusi (Contributory negligence)
Pembelaan terhadap kelalaian kontribusi yang dilakukan oleh klien mengandung arti
bahwa KAP menjamin jika klien telah melaksanakan kewajiban tertentu , tidak akan terjadi
kerugian
Agar sukses dalam tuntutan terhadap auditor, klien harus mampu menunjukkan
terdapat hubungan timbal balik yang dekat antara pelanggaran auditor terhadap standar
menuntut suatu kesadaran dari perilaku-perilaku yang terlibat di dalamnya dan juga adanya
kemungkinan interpretasi yang berbeda-beda terhadap keberadaan suatu hukum. Hal ini juga
yang terjadi pada profesi akuntan publik di mana perilaku-perilaku yang terlibat terkadang
kurang memahami secara benar apa yang telah menjadi kewajiban yang nantinya akan
mempunyai konsekuensi terhadap hukum. Suatu pemahaman yang baik terhadap hukum akan
membawa profesi akuntan publik minimal ke dalam praktek-praktek yang sehat, yang dapat
Sebaliknya apabila akuntan publik kurang memahaminya pada iklim keterbukaan di era
reformasi seperti sekarang ini maka akan dapat membawa perkembangan fenomena ke dalam
konteks yang lebih luas pada publik yang sudah mulai berani melakukan tuntutan hukum
Auditor secara umum sama dengan profesi lainnya merupakan subjek hukum dan
peraturan lainnya. Auditor akan terkena sanksi atas kelalaiannya, seperti kegagalan untuk
mematuhi standar profesional di dalam kinerjanya. Profesi ini sangat rentan terhadap
penuntutan perkara (lawsuits) atas kelalaiannya yang digambarkan sebagai sebuah krisis
(Huakanala dan Shinneke, 2003:69). Lebih lanjut Palmrose dalam Huanakala dan Shinneka
menjelaskan bahwa litigasi terhadap kantor akuntan publik dapat merusak citra atau reputasi
bagi kualitas dari jasa-jasa yang disediakan kantor akuntan publik tersebut.
Menurut Rachmad Saleh AS dan Saiful Anuar Syahdan (Media akuntansi, 2003)
tanggung jawab profesi akuntan publik di Indonesia terhadap kepercayaan yang diberikan
publik
seharusnya
akuntan
publik
dapat
memberikan
kualitas
jasa
yang
dapat
dipertanggungjawabkan dengan mengedepankan kepentingan publik yaitu selalu bersifat
obyektif dan independen dalam setiap melakukan analisa serta berkompeten dalam teknis
pekerjaannya.
12
Terlebih-lebih tanggung jawab yang dimaksud mengandung kewajiban hukum terhadap
kliennya. Sumber kewajiban hukum auditor dalam pelaksanaan audit apabila adanya tuntutan
ke pengadilan yang menyangkut laporan keuangan menurut Loebbecke dan Arens serta
Boynton dan Kell yang telah diolah oleh Azizul Kholis, I Nengah Rata, Sri Sulistiyowati dan
Kewajiban akuntan publik terhadap klien karena kegagalan untuk melaksanakan tugas
audit sesuai waktu yang disepakati, pelaksanaan audit yang tidak memadai, gagal
menemui kesalahan, dan pelanggaran kerahasiaan oleh akuntan publik. Contoh: Klien
2) Kewajiban kepada pihak ketiga menurut Common Law (Liabilities to Third party)
Kewajiban akuntan publik kepada pihak ketiga jika terjadi kerugian pada pihak
menuntut auditor karena tidak menemukan salah saji yang material dalam laporan
keuangan.
3) Kewajiban Perdata menurut hukum sekuritas federal (Liabilities under securities laws)
Kewajiban hukum yang diatur menurut sekuritas federal dengan standar yang ketat.
Contoh: Pada pemegang saham menuntut auditor kerana tidak menemukan salah saji
Kewajiban hukum yang timbul sebagai akibat kemungkinan akuntan publik disalahkan
menuntut auditor kerena secara sadar menerbitkan laporan audit yang tidak benar.
eksplisit memang belum ada, akan tetapi secara implisit hal tersebut sudah ada seperti
tertuang dalam Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP), Standar Akuntansi Keuangan
(SAK), Peraturan-Peraturan mengenai Pasar Modal atau Bapepam, UU Perpajakan dan lain
sebagainya yang berkenaan dengan kewajiban hukum akuntan (Rachmad Saleh dan Saiful
dibutuhkan oleh masyarakat termasuk kalangan profesi untuk melengkapi aturan main yang
sudah ada. Hal ini dibutuhkan agar disatu sisi kalangan profesi dapat menjalankan tanggung
jawab profesionalnya dengan tingkat kepatuhan yang tinggi, dan disisi lain masyarakat akan
mempunyai landasan yang kuat bila sewaktu-waktu akan melakukan penuntutan tanggung
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa kewajiban hukum bagi seorang akuntan
publik adalah bertanggung jawab atas setiap aspek tugasnya sehingga jika memang terjadi
kesalahan yang diakibatkan oleh kelalaian pihak auditor, maka akuntan publik dapat dimintai
13
Selain itu, terdapat pula faktor-faktor yang mendorong makin meningkatnya jumlah
publik.
kepentingan investor.
terhadap siapa saja yang dapat memberikan ganti rugi tanpa memandang siapa yang
5) Kesediaan banyak kantor akuntan publik untuk menyelesaikan masalah hukum di luar
pengadilan.
Akuntan publik bertanggung jawab atas setiap aspek dari tugasnya, termasuk audit,
pajak, konsultansi manajemen, dan pelayanan akuntansi serta pembukuan. beberapa konsep
hukum dapat diterapkan pada segala macam gugatan terhadap akuntan publik. Konsepkonsep ini adalah
konsep kehati-hatian, kewajiban atas tindakan orang lain, dan terbatasnya
Ada perjanjian antara profesi akuntan dan pengadilan bahwa auditor bukan penjamin atau
penanggung jawab laporan keuangan. Auditor hanya berkewajiaban untuk melakuakan audit
secara teliti. Meskipun demikian, auditor bukan tanpa cela. Standar ketelitian yang dapat
Para partner atau pemegang saham dalam perseroan professional secara bersama-sama
bertanggungjawab atas tindakan perdata yang ditujukan terhadap salah seorang anggotanya.
3) Kurangnya Hak Komunikasi Istimewa
Menurut common law, akuntan publik tidak berhak untuk menahan informasi jika diminta oleh
pengadilan dengan alas an bahwa informasi itu dirahasiakan. Seperti informasi dalam kertas
kerja seorang auditor dapat diminta dan diwajibkan oleh pengadilan jika diperlukan.
Pembicaraan rahasia klien dan auditor tidak dapat ditutupi dalam pengadilan.
14
AICPA dan profesi mengurangi resiko terkena sanksi hukum dengan langkah-langkah
berikut.
7) Memberi sanksi kepada anggota karena hasil kerja yang tak pantas.
2) Mempekerjakan staf yang kompeten dan melatih serta mengawasi dengan pantas.
4) Mempertahankan independensi.
BAB III
PENUTUP
3.1. KESIMPULAN
Mengingat profesi akuntan publik sangat penting perannya dalam dunia bisnis di
Indonesia, maka Akuntan Publik harus selalu menjaga integritas (integrity) dan profesionalisme
melalui pelaksanaan standar dan kode etik profesi secara konsekuen dan konsisten. Dalam
15
setiap penugasan yang diberikan, Akuntan Publik harus selalu bersikap independen dan
Akuntan Publik dan KAP agar menghindarkan diri dari tindakan tercela, seperti kolusi
(collusion) dengan klien atau menutupi terjadinya tindak kecurangan (fraud) yang sangat
yang telah disusun cukup lama tersebut, segera dapat ditetapkan oleh Pemerintah beserta
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menjadi UU-AP, sehingga akuntan publik memiliki landasan
operasional (aspek legal) yang kuat dan masyarakat (publik) mendapatkan perlindungan
3.2. SARAN
DAFTAR PUSTAKA
Harahap,
Sofyan
S.
2002.
Corporate
Accountability,
Media
Akuntansi,
Toruan, L Henry. 2001. Tanggung Jawab Akuntan Publik, Media Akuntansi, No.18/Juni/
16
Mulyadi. Auditing. 2014. Jakarta: Penerbit Salemba Empat.
http://ismail125cc.blogspot.co.id/2014/03/etika-profesi-dan-kewajiban-hukum.html
http://stdln.blogspot.co.id/2011/02/kewajiban-hukum_18.html
http://elawatiekonomiislam.blogspot.co.id/2016/04/makalah-audit-kewajiban-hukum-audit.html
http://www.jejakakuntansi.net/2017/02/pertimbangan-kewajiban-hukum-auditor.html
17
Keanekaragaman Makrofauna Tanah Daerah Pertanian Apel Semi Organik dan Pertanian Apel Non
Organik Kecamatan Bumiaji Kota Batu sebagai Bahan Ajar Biologi SMA
26 317 36
FREKUENSI KEMUNCULAN TOKOH KARAKTER ANTAGONIS DAN PROTAGONIS PADA SINETRON (Analisis
Isi Pada Sinetron Munajah Cinta di RCTI dan Sinetron Cinta Fitri di SCTV)
27 310 2
Analisis Sistem Pengendalian Mutu dan Perencanaan Penugasan Audit pada Kantor Akuntan Publik.
(Suatu Studi Kasus pada Kantor Akuntan Publik Jamaludin, Aria, Sukimto dan Rekan)
136 695 18
DOMESTIFIKASI PEREMPUAN DALAM IKLAN Studi Semiotika pada Iklan "Mama Suka", "Mama Lemon",
dan "BuKrim"
133 700 21
KONSTRUKSI MEDIA TENTANG KETERLIBATAN POLITISI PARTAI DEMOKRAT ANAS URBANINGRUM PADA
KASUS KORUPSI PROYEK PEMBANGUNAN KOMPLEK OLAHRAGA DI BUKIT HAMBALANG (Analisis Wacana
Koran Harian Pagi Surya edisi 9-12, 16, 18 dan 23 Februari 2013 )
64 565 20
PENERAPAN MEDIA LITERASI DI KALANGAN JURNALIS KAMPUS (Studi pada Jurnalis Unit Aktivitas Pers
Kampus Mahasiswa (UKPM) Kavling 10, Koran Bestari, dan Unit Kegitan Pers Mahasiswa (UKPM) Civitas)
105 442 24
0 64 2
KEABSAHAN STATUS PERNIKAHAN SUAMI ATAU ISTRI YANG MURTAD (Studi Komparatif Ulama Klasik
dan Kontemporer)
5 102 24
4 75 2
2 94 12
Dokumen global
DUKUNGAN
info@id.123dok.com
Syarat penggunaan
LINKS
Titles
Topics
Dokumen global
Kategori
Semua
Bisnis
Karier
Desain
Lingkungan
Pendidikan
Teknik
Makanan
Pelayanan kesehatan
Internet
Hubungan investasi
Hukum
Gaya hidup
Marketing
Mobile
Perumahan
Perekrutan & HR
Ritel
Penjualan
Ilmu pengetahuan
Layanan
Profesi akuntan publik merupakan suatu hal yang sangat penting, khususnya bagi
aktivitas berbisnis secara sehat di Indonesia. Analisa serta pendapat dari akuntan publik
terhadap suatu laporan keuangan sebuah perusahaan akan sangat menentukan dasar
pertimbangan dan pengambilan keputusan bagi seluruh pihak ataupun publik yang
arahan pada para investor terhadap keadaan dan prospek dari perusahaan tersebut, serta para
Para professional diharuskan memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam suatu
profesi, dan selain menjalankan suatu profesi sangat penting adanya etika profesi. Etika profesi
meliputi suatu standar dari sikap para anggota profesi yang dirancang agar terlihat praktis dan
realistis namun tetap idealistis. Setiap akuntan harus mematuhi etika profesi mereka agar tidak
Mukadimah Kode Etik Akuntan Indonesia tahun 1998 ditekankan pentingnya prinsip etika bagi
akuntan. Dengan menjadi anggota, seorang akuntan mempunyai kewajiban untuk menjaga
disiplin dan memenuhi segala hukum dan peraturan yang telah disyaratkan.
Selama beberapa tahun terakhir ini, kasus pelanggaran auditing terjadi di Indonesia.
Contohnya saja kasus Kantor Akuntan Publik (KAP) Drs. Dadi Muchidin melalui KMK Nomor:
1103/KM. 1/2009 tanggal 4 September 2009, dengan sanksi pembekuan selama tiga bulan
karena KAP tersebut telah dikenakan sanksi peringatan sebanyak 3 (tiga) kali dalam jangka
waktu 48 (empat puluh delapan) bulan terakhir. Bahkan sampai saat ini, KAP Drs. Dadi
Untuk mencegah pelanggaran tersebut terulang kembali, maka seorang calon akuntan
publik dan seorang akuntan publik harus mengetahui etika profesi dan kewajiban hukum
Kita hidup di masyarakat hukum. Saat ini auditor patut berhati-hati karena setiap
tindakan tidak terlepas apakah hal itu benar atau salah dapat dipersoalkan secara hukum dan
mungkin menimbulkan kerugian yang substansial. Akuntan publik bertanggung jawab atas
setiap aspek tugasnya, termasuk audit, pajak, konsultasi manajemen, dan pelayanan
akuntansi, sehingga jika benar-benar terjadi kesalahan yang diakibatkan oleh pihak akuntan
pemakai laporan keuangan akan tanggung jawab akuntan publik dapat manearik perhatian