0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
69 tayangan42 halaman

Latar Belakang

Bahan

Diunggah oleh

Kristina Sihombing
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
69 tayangan42 halaman

Latar Belakang

Bahan

Diunggah oleh

Kristina Sihombing
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1.2.

RUMUSAN MASALAH

1. Apa yang dimaksud dengan etika profesi auditor?

2. Apa yang dimaksud dengan kode etik Ikatan Akuntan Indonesia?

3. Apa saja kerangka kode etik Ikatan Akuntan Indonesia?

4. Kewajiban hukum apa saja yang berkaitan dengan kewajiban hukum bagi auditor?

1.3. TUJUAN PENULISAN

1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan etika profesi.

2. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan kode etik Ikatan Akuntan Indonesia.

3. Untuk mengetahui apa saja kerangka kode etik Ikatan Akuntan Indonesia.

4. Untuk mengetahui kewajiban hukum apa saja yang berkaitan dengan kewajiban hukum

bagi auditor.

BAB II

PEMBAHASAN

Etika Profesi dan Kewajiban Hukum Auditor

2
2.1. ETIKA PROFESI AUDITOR

A. Definisi Etika Profesi

Etika profesi berasal dari dua kata yaitu etika (adat istiadat atau kebiasaan baik) dan

profesi (bidang kerja). Etika dapat didefinisikan secara luas sebagai seperangkat prinsip-prinsip

moral atau nilai-nilai. Setiap profesi memiliki seperangkat nilai, meskipun belum menyakininya

secara nyata. Jadi, etika profesi adalah sikap etis sebagai bagian integral dari sikap hidup

dalam menjalankan kehidupan sebagai pengemban profesi. Etika profesi dikeluarkan oleh

organisasi profesi untuk mengatur perilaku anggotanya dalam menjalankan praktik profesinya

bagi masyarakat. Etika profesi adalah cabang filsafat yang mempelajari penerapan prinsipprinsip moral
dasar atau norma-norma etis umum pada bidang-bidang khusus (profesi)

kehidupan manusia.

B. Peranan Etika dalam Profesi Auditor

Etika profesi sangat diperlukan dalam profesi seorang auditor, hal ini dikarenakan

peranan etika profesi yang sangat penting bagi seorang auditor. Adapun peranan etika dalam

profesi auditor adalah sebagai berikut:

1. Audit membutuhkan pengabdian yang besar pada masyarakat dan komitmen moral

yang tinggi.

2. Masyarakat menuntut untuk memperoleh jasa para auditor publik dengan standar

kualitas yang tinggi, dan menuntut mereka untuk bersedia mengorbankan diri. Itulah

sebabnya profesi auditor menetapkan standar teknis dan standar etika yang harus

dijadikan panduan oleh para auditor dalam melaksanakan audit.

3. Standar etika diperlukan bagi profesi audit karena auditor memiliki posisi sebagai orang

kepercayaan dan menghadapi kemungkinan benturan-benturan kepentingan.


4. Kode etik atau aturan etika profesi audit menyediakan panduan bagi para auditor

profesional dalam mempertahankan diri dari godaan dan dalam mengambil keputusankeputusan sulit.

C. Prinsip Etika Akuntan

Etika sudah menjadi kebutuhan setiap orang dalam menjalankan aktivitas mereka. Etika

merupakan serangkaian prinsip atau nilai moral yang dimiliki oleh setiap orang. Kegiatan

material dan immaterial pasti mempunyai etika tersendiri, termasuk etika dalam menjalankan

profesi. Salah satu profesi yang mempunyai etika adalah akuntan publik.

Prinsip etika akuntan atau kode etik akuntan itu sendiri meliputi delapan butir

pernyataan (IAI, 1998, dalam Ludigdo, 2007). Kedelapan butir pernyataan tersebut merupakan

hal-hal yang seharusnya dimiliki oleh seorang akuntan. Delapan butir tersebut sebagai berikut:

1. Tanggung Jawab Profesi

Etika Profesi dan Kewajiban Hukum Auditor

3
Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai profesional, setiap anggota harus

senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan profesional dalam semua kegiatan yang

dilakukannya. Anggota juga harus selalu bertanggungjawab untuk bekerja sama dengan

sesama anggota untuk mengembangkan profesi akuntansi, memelihara kepercayaan

masyarakat dan menjalankan tanggung jawab profesi dalam mengatur dirinya sendiri. Usaha

kolektif semua anggota diperlukan untuk memelihara dan meningkatkan tradisi profesi.

2. Kepentingan Publik

Anggota harus menerima kewajiban mereka untuk bertindak sedemikian rupa demi

melayani kepentingan publik, menghormati kepercayaan publik, dan menunjukan komitmen

atas profesionalisme.

3. Integritas

Integritas merupakan kualitas yang melandasi kepercayaan publik dan merupakan

patokan (benchmark) bagi anggota dalam menguji keputusan yang diambilnya. Untuk

memelihara dan memperluas keyakinan publik, anggota harus melaksanakan semua tanggung

jawab profesinal dengan integritas tertinggi.

4. Objektivitas

Prinsip obyektivitas mengharuskan anggota bersikap adil, tidak memihak, jujur secara

intelektual, tidak berprasangka , serta bebas dari benturan kepentingan atau dibawah pengaruh

pihak lain. Seorang anggota harus memelihara objektivitas dan bebas dari konflik kepentingan

dalam menunaikan tanggung jawab profesional. Seorang anggota dalam praktik publik

seharusnya menjaga independensi dalam fakta dan penampilan saat memberikan jasa auditing

dan atestasi lainnya


5. Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional

Seorang anggota profesi harus selalu mengikuti standar-standar etika dan teknis profesi

terdorong untuk secara terus menerus mengembangkan kompetensi dan kualitas jasa, dan

menunaikan tanggung jawab profesional sampai tingkat tertinggi kemampuan anggota yang

bersangkutan.

6. Kerahasiaan

Seorang

akuntan

profesional

harus

menghormati

kerhasiaanin

formasi

yang

diperolehnya sebagai hasil dari hubungan profesional dan bisnis serta tidak boleh
mengungapkan informasi apa pun kepada pihak ketiga tanpa izin yang benar dan spesifik,

kecuali terdapat kewajiban hukum atau terdapat hak profesional untuk mengungkapkannya.

Kewajiban kerahasiaan berlanjut bahkan setelah hubungan antara anggota dan klien atau

pemberi jasa berakhir.

7. Perilaku Profesional

Seorang akuntan profesional harus patuh pada hukum dan perundang-undangan yang

relevan dan harus menghindari tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi.

8. Standar Teknis

Etika Profesi dan Kewajiban Hukum Auditor

4
Sebagai profesional setiap anggota dalam melaksanakan tugasnya harus sesuai

dengan standar teknis dan standar profesional yang relevan. Sesuai dengan keahliannya dan

dengan berhati-hati, anggota mempunyai kewajiban untuk melaksanakan penugasan dari

penerima jasa selama penugasan tersebut sejalan dengan prinsip integritas dan obyektivitas.

D. Aturan Etika Kompartemen Akuntan Sektor Publik

Aturan etika merupakan penjabaran lebih lanjut dari prinsip-prinsip etika dan ditetapkan

untuk masing-masing kompartemen. Untuk akuntan sektor publik, aturan etika ditetapkan oleh

IAI Kompartemen Akuntan Sektor Publik (IAI-KASP). Sampai saat ini, aturan etika ini masih

dalam bentuk exposure draft, yang penyusunannya mengacu pada Standard of Professional

Practice on Ethics yang diterbitkan oleh the International Federation of Accountants (IFAC).

Berdasarkan aturan etika ini, seorang profesional akuntan sektor publik harus memiliki

karakteristik dengan cakupan sebagai berikut.

a) Penguasaan keahlian intelektual yang diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan.

b) Kesediaan melakukan tugas untuk masyarakat secara luas di tempat instansi kerja

maupun untuk audit.

c) Berpandangan obyektif.

d) Penyediaan layanan dengan standar pelaksanaan tugas dan kinerja yang tinggi.

Penerapan aturan etika ini dilakukan untuk mendukung tercapainya tujuan profesi

akuntan yaitu sebagai berikut.

a) Bekerja dengan standar profesi yang tinggi.

b) Mencapai tingkat kinerja yang diharapkan.

c) Mencapai tingkat kinerja yang memenuhi persyaratan kepentingan masyarakat.

Oleh karena itu, menurut aturan etika IAI-KASP, ada 3 kebutuhan mendasar yang harus
dipenuhi, yaitu sebagai berikut.

a) Kredibilitas akan informasi dan sistem informasi.

b) Kualitas layanan yang didasarkan pada standar kinerja yang tinggi.

c) Keyakinan pengguna layanan bahwa adanya kerangka etika profesional dan standar

teknis

yang

mengatur

persyaratan-persyaratan

layanan

yang

tidak

dapat

dikompromikan.

E. Contoh Etika Profesi


Seperangkat prinsip moral atau nilai yang termasuk hukum dan peraturan, doktrin,

agama dan kode etik bisnis untuk kelompok-kelompok profesional, seperti akuntan publik dan

kode etik dalam organisasi. Perangkat-perangkat inilah yang akan dapat membedakan perilaku

beretika dan tidak beretika dalam konteks pribadi maupun profesi. Kualitas etika masyarakat

Etika Profesi dan Kewajiban Hukum Auditor

5
merupakan hal yang umum bila setiap orang memiliki perbedaan dalam prinsip moral dan nilai

serta kepentingan relatif yang terkait dengan prinsip prinsipnya, perbedaan ini merupakan

pengalaman hidup, kesuksesan dan kegagalan serta pengaruh dari orang tua dan teman

teman.

2.2. KODE ETIK IKATAN AKUNTAN INDONESIA

Sebelum Tahun 1986, Etika Profesional yang dikeluarkan oleh IAI diberi nama Kode

Etik Ikatan Akuntan Indonesia dan di tahun 1986 nama diubah menjadi Kode Etik Akuntan

Indonesia. Kode Etik Akuntan Indonesia dibagi Menjadi 9 (sembilan) bagian yaitu sebagai

berikut.

1. Pembukaan

2. Kepribadian

3. Kecakapan Profesional

4. Tanggung Jawab

5. Ketentuan Khusus

6. Pelaksanaan Kode Etik

7. Suplemen dan Penyempurnaan

8. Penutup

9. Pengesahan

Mulai tahun 1998 sampai sekarang nama tersebut diubah kembali ke Kode Etik Ikatan

Akuntan Indonesia (Kode Etik IAI). Tidak hanya perubahan nama yang terjadi, namun juga

terjadi perubahan Struktur Etika Profesional yang dipakai oleh IAI. Organisani IAI menetapkan

8 (delapan) prinsip etika yang berlaku bagi seluruh anggota IAI yaitu sebagai berikut.

1. Tanggung Jawab Profesi

2. Kepentingan Publik

3. Integritas
4. Objektivitas

5. Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional

6. Kerahasiaan

7. Perilaku Profesional

8. Standar Teknis

2.3. KERANGKA KODE ETIK AKUNTAN INDONESIA

Kode etik dibagi menjadi 4 bagian, yaitu sebagai berikut.

1. Prinsip Etika

Memberikan rerangka dasar bagi aturan etika yang mengatur pelaksanaan pemberian

jasa professional oleh anggota.

2. Aturan Etika

Etika Profesi dan Kewajiban Hukum Auditor

6
Disahkan oleh rapat anggota kompartemen dan hanya mengikat anggota kompartemen

yang bersangkutan.

3. Interpretasi Etika

Interpretasi yang dikeluarkan oleh pengurus kompartemen setelah memperhatikan

tanggapan dari anggota dan pihak-pihak yang berkepentingan lainnya, sebagai

panduan penetapan aturan etika, tanpa dimaksudkan untuk membatasi lingkup dan

penerapannya.

4. Tanya dan Jawab

Memberikan penjelasan atas setiap pertanyaan dari anggota kompartemen tentang

aturan etika beserta interpretasinya.

2.4. PERLUNYA ETIKA PROFESI

Dasar pemikiran yang melandasi penyusuanan etika profesional setiap profesi adalah

kebutuhan proses tersebut tentang kepercayaan masyarakat terhadap mutu jasa yang

diserahkan oleh profesi. Terlepas dari anggota profesi yang menyerahkan jasa tersebut. Setiap

profesi yang menyediakan jasanya kepada masyarakat yang di layaninya. Umumnya

masyarakat sangat awam mengenai pekerjaan yang dilakukan oleh suatu profesi karena

kompleknya pekerjaan yang dilaksanakan oleh profesi. Masyarakat akan sangat menghargai

profesi yang menerapkan standar mutu tinggi terhadap pelaksanaan pekerjaan anggota

profesinya, karena dengan demikian masyarakat akan terjamin untuk memperoleh jasa yang

dapat diandalkan dari profesi yang bersangkutan. Jika masyarakat pemakai jasa tidak memiliki

kepercayaan terhadap profesi akuntan publik, dokter atau pengacara maka layanan profesi

tersebut kepada klien dan masyarakat umumnya menjadi tidak efektif. Kepercayaan

masyarakat terhadap mutu audit akan menjadi lebih tinggi jika profesi akuntan publik

mererapkan standar mutu yang tinggi terhadap pelaksanaan perkerjaan audit yang dilakukan

oleh anggota profesi tersebut.


Perilaku beretika merupakan hal yang penting bagi masyarakat agar kehidupan berjalan

dengan tertib. Hal ini sangat beralasan karena etika merupakan perekat untuk menyatukan

masyarakat. Bayangkan, apa yang akan terjadi bila kita tidak dapat mempercayai orang lain

yang berhubungan dengan kita untuk berlaku jujur.

Berbicara mengenai pentingnya etika profesi, dalam bidang akuntansi etika profesi

sangatlah penting. Mengapa? Alasannya adalah sebagai berikut.

a) Karena etika profesi berisi ketentuan mengenai apa yang baik dan yang tidak baik serta

apakah suatu kegiatan yang dilakukan oleh profesi itu dapat dikatakan bertanggung

jawab atau tidak.

b) Profesi

akuntan

publik

memerlukan etika

karena

akuntan

publik

merupakan
suatu pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk menghasilkan nafkah

hidup dan yang mengandalkan suatu keahlian. Dimana keahlian yang dikerjakan dan

dihasilkan itu harus berpedoman dengan sebuah etika.

Etika Profesi dan Kewajiban Hukum Auditor

7
2.5. KEWAJIBAN HUKUM AUDITOR

A. Tanggung Jawab Auditor

Dalam hal terjadinya pelangaran yang dilakukan oleh seorang Akuntan Publik dalam

memberikan jasanya, baik atas temuan-temuan bukti pelanggaran apapun yang bersifat

pelanggaran ringan hingga yang bersifat pelanggaran berat, berdasarkan PMK No.

17/PMK.01/2008 hanya dikenakan sanksi administratif, berupa sanksi peringatan, sanksi

pembekuan izin dan sanksi pencabutan izin.

Penghukuman dalam pemberian sanksi hingga pencabutan izin baru dilakukan jika

seorang Akuntan Publik tersebut telah melanggar ketentuan-ketentuan yang diatur dalam

SPAP dan termasuk juga pelanggaran kode etik yang ditetapkan oleh IAPI, serta melakukan

pelanggaran peraturan perundang-undangan yang berlaku yang berhubungan dengan bidang

jasa yang diberikan, atau juga diakibatkan dari pelanggaran yang terus dilakukan walaupun

telah mendapatkan sanksi pembekuan izin sebelumya, ataupun tindakan-tindakan yang

menentang

langkah

pemeriksaan

sehubungan

dengan

adanya
dugaan

pelanggaran

profesionalisme akuntan publik.

Akan tetapi, hukuman yang bersifat administratif tersebut walaupun diakui merupakan

suatu hukuman yang cukup berat bagi eksistensi dan masa depan dari seorang Akuntan

Publik, ternyata masih belum menjawab penyelesaian permasalahan ataupun resiko kerugian

yang telah diderita oleh anggota masyarakat, sebagai akibat dari penggunaan hasil audit dari

Akuntan Publik tersebut.

Selama melakukan audit, auditor juga bertanggungjawab atas hal-hal sebagai berikut

(Boynton, 2003:68).

a) Mendeteksi kecurangan

 Tanggung jawab untuk mendeteksi kecurangan ataupun kesalahan-kesalahan yang

tidak disengaja, diwujudkan dalam perencanaan dan pelaksanaan audit untuk

mendapatkan keyakinan yang memadai tentang apakah laporan keuangan bebas dari

salah saji material yang disebabkan oleh kesalahan ataupun kecurangan.

 Tanggung jawab untuk melaporkan kecurangan jika terdapat bukti adanya kecurangan.

Laporan ini dilaporkan oleh auditor kepada pihak manajemen, komite audit, dewan

direksi.

b) Tindakan pelanggaran hukum oleh klien

 Tanggung jawab untuk mendeteksi pelanggaran hukum yang dilakukan oleh klien.

Auditor bertanggung jawab atas salah saji yang berasal dari tindakan melanggar hukum

yang memiliki pengaruh langsung dan material pada penentuan jumlah laporan

keuangan. Untuk itu auditor harus merencanakan suatu audit untuk mendeteksi adanya
tindakan melanggar hukum serta mengimplementasikan rencana tersebut dengan

kemahiran yang cermat dan seksama.

Etika Profesi dan Kewajiban Hukum Auditor

8
 Tanggung jawab untuk melaporkan tindakan melanggar hukum. Apabila suatu tindakan

melanggar hukum berpengaruh material terhadap laporan keuangan, auditor harus

mendesak manajemen untuk melakukan revisi atas laporan keuangan tersebut. Apabila

revisi atas laporan keuangan tersebut kurang tepat, auditor bertanggung jawab untuk

menginformasikannya kepada para pengguna laporan keuangan melalui suatu

pendapat wajar dengan pengecualian atau pendapat tidak wajar bahwa laporan

keuangan disajikan tidak sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum.

Lebih jauh lagi Soedarjono (2003) mengungkapkan bahwa auditor memiliki beberapa

tanggung jawab yaitu sebagai berikut.

a) Tanggung jawab terhadap opini yang diberikan.

Tanggung jawab ini hanya sebatas opini yang diberikan, sedangkan laporan keuangan

merupakan tanggung jawab manajemen. Hal ini disebabkan pengetahuan auditor terbatas

pada apa yang diperolehnya melalui audit. Oleh karena itu penyajian yang wajar posisi

keuangan, hasil usaha dan arus kas sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku umum,

menyiratkan bagian terpadu tanggung jawab manajemen.

b) Tanggung jawab terhadap profesi.

Tanggung jawab ini mengenai mematuhi standar/ketentuan yang telah disepakati IAI, termasuk

mematuhi prinsip akuntansi yang berlaku, standar auditing dan kode etik akuntan Indonesia.

c) Tanggung jawab terhadap klien.

Auditor berkewajiban melaksanakan pekerjaan dengan seksama dan menggunakan kemahiran

profesionalnya, jika tidak dia akan dianggap lalai dan bisa dikenakan sanksi.

d) Tanggung jawab untuk mengungkapkan kecurangan.

Bila ada kecurangan yang begitu besar tidak ditemukan, sehingga menyesatkan, akuntan

publik harus bertanggung jawab.

e) Tanggung jawab terhadap pihak ketiga


Tanggung jawab ini seperti investor, pemberi kredit dan sebagainya. Contoh dari tanggung

jawab ini adalah tanggung jawab atas kelalaiannya yang bisa menimbulkan kerugian yang

cukup besar, seperti pendapat yang tidak didasari dengan dasar yang cukup.

f)

Tanggung jawab terhadap pihak ketiga atas kecurangan yang tidak ditemukan.

Dengan melihat lebih jauh penyebabnya, jika kecurangan karena prosedur auditnya tidak

cukup, maka auditor harus bertanggung jawab.

B. Pemahaman Hukum dan Kewajiban Auditor

Banyak profesional akuntansi dan hukum percaya bahwa penyebab utama tuntutan

hukum terhadap kantor akuntan publik adalah kurangnya pemahaman pemakai laporan

Etika Profesi dan Kewajiban Hukum Auditor

9
keuangan tentang perbedaan antara kegagalan bisnis dan kegagalan audit, dan antara

kegagalan audit serta risiko audit. Berikut ini defenisi mengenai kegagalan bisnis, kegagalan

audit dan risiko audit menurut Loebbecke dan Arens (1999:787).

1) Kegagalan bisnis

Adalah kegagalan yang terjadi jika perusahaan tidak mampu membayar kembali utangnya atau

tidak mampu memenuhi harapan para investornya, karena kondisi ekonomi atau bisnis, seperti

resesi, keputusan manajemen yang buruk, atau persaingan yang tak terduga dalam industri itu.

2) Kegagalan audit

Adalah kegagalan yang terjadi jika auditor mengeluarkan pendapat audit yang salah karena

gagal dalam memenuhi persyaratan-persyaratan standar auditing yang berlaku umum.

3) Risiko Audit

Adalah risiko dimana auditor menyimpulkan bahwa laporan keuangan disajikan dengan wajar

tanpa pengecualian, sedangkan dalam kenyataannya laporan tersebut disajikan salah secara

material.

Bila di dalam melaksanakan audit, akuntan publik telah gagal mematuhi standar

profesinya, maka besar kemungkinannya bahwa business failure juga dibarengi oleh audit

failure. Dalam hal yang terakhir ini, akuntan publik harus bertanggung jawab. Sementara,

dalam menjalankan tugasnya, akuntan publik tidak luput dari kesalahan. Kegagalan audit yang

dilakukan

dapat

dikelompokkan

menjadi ordinary
negligence,

gross

negligence

dan

fraud (Toruan, 2001:28).

Ordinary negligence merupakan kesalahan yang dilakukan akuntan publik, ketika

menjalankan tugas audit, dia tidak mengikuti pikiran sehat (reasonable care). Dengan kata lain

setelah mematuhi standar yang berlaku ada kalanya auditor menghadapi situasi yang belum

diatur standar. Dalam hal ini auditor harus menggunakan “common sense” dan mengambil

keputusan yang sama seperti seorang (typical) akuntan publik bertindak.

Sedangkan gross negligence merupakan kegagalan akuntan publik mematuhi standar

profesional dan standar etika. Standar ini minimal yang harus dipenuhi. Bila akuntan publik

gagal mematuhi standar minimal (gross negligence) dan pikiran sehat dalam situasi tertentu

(ordinary negligence), yang dilakukan dengan sengaja demi motif tertentu maka akuntan publik

dianggap telah melakukan fraud (adanya kelalaian yang ekstrim atau luar biasa meskipun tidak

ada maksud untuk menipu atau merugikan) yang mengakibatkan akuntan publik dapat dituntut

baik secara perdata maupun pidana.

Sebagian

besar
profesional

akuntan

setuju

bahwa

bila

suatu

audit

gagal

mengungkapkan kesalahan yang material dan oleh karenanya dikeluarkan jenis pendapat yang

salah, maka kantor akuntan publik yang bersangkutan harus diminta mempertahankan kualitas

auditnya. Jika auditor gagal menggunakan keahliannya dalam pelaksanaan auditnya, berarti

terjadi kegagalan audit, dan kantor akuntan publik tersebut atau perusahaan asuransinya harus

membayar kepada mereka yang menderita kerugian akibat kelalaian auditor tersebut.

Etika Profesi dan Kewajiban Hukum Auditor

10
Kesulitan timbul bila terjadi kegagalan bisnis, tetapi bukan kegagalan audit. Sebagai

contoh, jika sebuah perusahaan bangkrut, atau tidak dapat membayar hutangnya, maka

umumnya pemakai laporan keuangan akan mengklaim bahwa telah terjadi kegagalan audit,

khususnya bila laporan audit paling akhir menunjukkan bahwa laporan itu dinyatakan secara

wajar. Lebih buruk jika terdapat kegagalan bisnis dan laporan keuangan yang kemudian

diterbitkan salah saji, para pemakai akan mengklaim auditor telah lalai sekalipun telah

melaksanakannya sesuai dengan standar auditing yang berlaku umum.

Akuntan publik bertanggung jawab atas setiap aspek tugasnya, termasuk audit, pajak,

konsultasi manajemen, dan pelayanan akuntansi, sehingga jika benar-benar terjadi kesalahan

yang diakibatkan oleh pihak akuntan publik dapat diminta pertanggungjawabannya secara

hukum. Beberapa faktor utama yang menimbulkan kewajiban hukum bagi profesi audit

diantaranya adalah sebagai berikut (Loebbecke dan Arens, 1999:786).

1) Meningkatnya kesadaran pemakai laporan keuangan akan tanggung jawab akuntan

publik.

2) Meningkatnya perhatian pihak-pihak yang terkait dengan pasar modal sehubungan

dengan tanggung jawab untuk melindungi kepentingan investor.

3) Bertambahnya kompleksitas audit yang disebabkan adanya perubahan lingkungan yang

begitu pesat diberbagai sektor bisnis, sistem informasi, dsb.

4) Kesediaan kantor akuntan publik untuk menyelesaikan masalah hukum diluar

pengadilan, untuk menghindari biaya yang tinggi.

Kantor Akuntan Publik biasanya menggunakan satu atau kombinasi dari empat

pembelaan berikut bila terdapat tuntutan hukum oleh klien yaitu:

1) Tidak ada kewajiban (Lack of duty)

Tidak ada kewajiban untuk melakukan jasa berarti kantor akuntan publik mengklaim
bahwa tidak ada kontrak yang tersirat atau yang dinyatakan. Misalnya KAP mengklaim bahwa

kekeliruan itu tidak dapat diungkapkan karena kantornya hanya melakukan jasa penelaahan,

bukan audit yaitu dengan penggunaan surat penugasan yang menunjukkan tidak adanya

kewajiban untuk melaksanakan tugas.

2) Tidak ada kelalaian dalam pelaksanaan pekerjaan (Nonnegligent performance)

Untuk pelaksanaan kerja yang tidak mengandung kelalaian di dalam suatu audit, KAP

mengklaim bahwa auditnya itu dilaksanakan sesuai dengan standar auditing yang berlaku

umum. Seandainya terdapat kesalahan, salah saji yang disengaja atau salah pernyataan yang

tidak ditemukan, auditor tidak bertanggung jawab jika auditnya dilakukan secara benar.

Etika Profesi dan Kewajiban Hukum Auditor

11
3) Kelalaian kontribusi (Contributory negligence)

Pembelaan terhadap kelalaian kontribusi yang dilakukan oleh klien mengandung arti

bahwa KAP menjamin jika klien telah melaksanakan kewajiban tertentu , tidak akan terjadi

kerugian

4) Ketiadaan hubungan timbal balik (Absence of causal connection)

Agar sukses dalam tuntutan terhadap auditor, klien harus mampu menunjukkan

terdapat hubungan timbal balik yang dekat antara pelanggaran auditor terhadap standar

kesungguhan dengan kerugian yang dialami klien.

Pemahaman terhadap hukum tidaklah mudah mengingat pemahaman tersebut

menuntut suatu kesadaran dari perilaku-perilaku yang terlibat di dalamnya dan juga adanya

kemungkinan interpretasi yang berbeda-beda terhadap keberadaan suatu hukum. Hal ini juga

yang terjadi pada profesi akuntan publik di mana perilaku-perilaku yang terlibat terkadang

kurang memahami secara benar apa yang telah menjadi kewajiban yang nantinya akan

mempunyai konsekuensi terhadap hukum. Suatu pemahaman yang baik terhadap hukum akan

membawa profesi akuntan publik minimal ke dalam praktek-praktek yang sehat, yang dapat

meningkatkan performance dan kredibilitas publik yang lebih baik.

Sebaliknya apabila akuntan publik kurang memahaminya pada iklim keterbukaan di era

reformasi seperti sekarang ini maka akan dapat membawa perkembangan fenomena ke dalam

konteks yang lebih luas pada publik yang sudah mulai berani melakukan tuntutan hukum

terhadap berbagai profesi termasuk profesi akuntan publik.

C. Kewajiban Hukum Bagi Auditor

Auditor secara umum sama dengan profesi lainnya merupakan subjek hukum dan

peraturan lainnya. Auditor akan terkena sanksi atas kelalaiannya, seperti kegagalan untuk

mematuhi standar profesional di dalam kinerjanya. Profesi ini sangat rentan terhadap

penuntutan perkara (lawsuits) atas kelalaiannya yang digambarkan sebagai sebuah krisis
(Huakanala dan Shinneke, 2003:69). Lebih lanjut Palmrose dalam Huanakala dan Shinneka

menjelaskan bahwa litigasi terhadap kantor akuntan publik dapat merusak citra atau reputasi

bagi kualitas dari jasa-jasa yang disediakan kantor akuntan publik tersebut.

Menurut Rachmad Saleh AS dan Saiful Anuar Syahdan (Media akuntansi, 2003)

tanggung jawab profesi akuntan publik di Indonesia terhadap kepercayaan yang diberikan

publik

seharusnya

akuntan

publik

dapat

memberikan

kualitas

jasa

yang

dapat
dipertanggungjawabkan dengan mengedepankan kepentingan publik yaitu selalu bersifat

obyektif dan independen dalam setiap melakukan analisa serta berkompeten dalam teknis

pekerjaannya.

Etika Profesi dan Kewajiban Hukum Auditor

12
Terlebih-lebih tanggung jawab yang dimaksud mengandung kewajiban hukum terhadap

kliennya. Sumber kewajiban hukum auditor dalam pelaksanaan audit apabila adanya tuntutan

ke pengadilan yang menyangkut laporan keuangan menurut Loebbecke dan Arens serta

Boynton dan Kell yang telah diolah oleh Azizul Kholis, I Nengah Rata, Sri Sulistiyowati dan

Endah Prepti Lestari (2001) adalah sebagai berikut.

1) Kewajiban kepada klien (Liabilities to Client)

Kewajiban akuntan publik terhadap klien karena kegagalan untuk melaksanakan tugas

audit sesuai waktu yang disepakati, pelaksanaan audit yang tidak memadai, gagal

menemui kesalahan, dan pelanggaran kerahasiaan oleh akuntan publik. Contoh: Klien

menuntut auditor karena tidak menemukan penggelapan selama audit.

2) Kewajiban kepada pihak ketiga menurut Common Law (Liabilities to Third party)

Kewajiban akuntan publik kepada pihak ketiga jika terjadi kerugian pada pihak

penggugat karena mengandalkan laporan keuangan yang menyesatkan. Contoh: Bank

menuntut auditor karena tidak menemukan salah saji yang material dalam laporan

keuangan.

3) Kewajiban Perdata menurut hukum sekuritas federal (Liabilities under securities laws)

Kewajiban hukum yang diatur menurut sekuritas federal dengan standar yang ketat.

Contoh: Pada pemegang saham menuntut auditor kerana tidak menemukan salah saji

yang material dalam laporan keuangan.

4) Kewajiban kriminal (Crime Liabilities)

Kewajiban hukum yang timbul sebagai akibat kemungkinan akuntan publik disalahkan

karena tindakan kriminal menurut undang-undang. Contoh: Pemerintah federal

menuntut auditor kerena secara sadar menerbitkan laporan audit yang tidak benar.

Sedangkan kewajiban hukum yang mengatur akuntan publik di Indonesia secara

eksplisit memang belum ada, akan tetapi secara implisit hal tersebut sudah ada seperti
tertuang dalam Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP), Standar Akuntansi Keuangan

(SAK), Peraturan-Peraturan mengenai Pasar Modal atau Bapepam, UU Perpajakan dan lain

sebagainya yang berkenaan dengan kewajiban hukum akuntan (Rachmad Saleh dan Saiful

Anuar Syahdan, 2003).

Keberadaan perangkat hukum yang mengatur akuntan publik di Indonesia sangat

dibutuhkan oleh masyarakat termasuk kalangan profesi untuk melengkapi aturan main yang

sudah ada. Hal ini dibutuhkan agar disatu sisi kalangan profesi dapat menjalankan tanggung

jawab profesionalnya dengan tingkat kepatuhan yang tinggi, dan disisi lain masyarakat akan

mempunyai landasan yang kuat bila sewaktu-waktu akan melakukan penuntutan tanggung

jawab profesional terhadap akuntan publik.

Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa kewajiban hukum bagi seorang akuntan

publik adalah bertanggung jawab atas setiap aspek tugasnya sehingga jika memang terjadi

kesalahan yang diakibatkan oleh kelalaian pihak auditor, maka akuntan publik dapat dimintai

pertanggung jawaban secara hukum sebagai bentuk kewajiban hukum auditor.

Etika Profesi dan Kewajiban Hukum Auditor

13
Selain itu, terdapat pula faktor-faktor yang mendorong makin meningkatnya jumlah

tuntutan hukum maupun besarnya tuntutan yakni sebagai berikut.

1) Meningkatnya kesadaran pemakai laporan keuangan akan tanggung jawab akuntan

publik.

2) Meningkatnya perhatian Bapepam sehubungan dengan tanggung jawab melindungi

kepentingan investor.

3) Bertambahnya kompleksitas masalah auditing dan akuntansi.

4) Meningkatnya penerimaan masyarakat atas gugatan-gugatan oleh pihak yang dirugikan

terhadap siapa saja yang dapat memberikan ganti rugi tanpa memandang siapa yang

bersalah (konsep kewajiban "deep pocket").

5) Kesediaan banyak kantor akuntan publik untuk menyelesaikan masalah hukum di luar

pengadilan.

6) Banyaknya alternatif prinsip akuntansi yang dapat dipilih oleh klien.

Akuntan publik bertanggung jawab atas setiap aspek dari tugasnya, termasuk audit,

pajak, konsultansi manajemen, dan pelayanan akuntansi serta pembukuan. beberapa konsep

hukum dapat diterapkan pada segala macam gugatan terhadap akuntan publik. Konsepkonsep ini adalah
konsep kehati-hatian, kewajiban atas tindakan orang lain, dan terbatasnya

hak komunukasi istimewa.

1) Konsep Kehati-Hatian (Prudent Person)

Ada perjanjian antara profesi akuntan dan pengadilan bahwa auditor bukan penjamin atau

penanggung jawab laporan keuangan. Auditor hanya berkewajiaban untuk melakuakan audit

secara teliti. Meskipun demikian, auditor bukan tanpa cela. Standar ketelitian yang dapat

diharapkan dari auditor sering disebut sebagai konsep prudent person.

2) Konsep Kewajiban Atas Tindakan Orang Lain

Para partner atau pemegang saham dalam perseroan professional secara bersama-sama

bertanggungjawab atas tindakan perdata yang ditujukan terhadap salah seorang anggotanya.
3) Kurangnya Hak Komunikasi Istimewa

Menurut common law, akuntan publik tidak berhak untuk menahan informasi jika diminta oleh

pengadilan dengan alas an bahwa informasi itu dirahasiakan. Seperti informasi dalam kertas

kerja seorang auditor dapat diminta dan diwajibkan oleh pengadilan jika diperlukan.

Pembicaraan rahasia klien dan auditor tidak dapat ditutupi dalam pengadilan.

2.6. TANGGAPAN PROFESI TERHADAP KEWAJIBAN HUKUM

Etika Profesi dan Kewajiban Hukum Auditor

14
AICPA dan profesi mengurangi resiko terkena sanksi hukum dengan langkah-langkah

berikut.

1) Riset dalam auditing.

2) Penetapan standar dan aturan.

3) Menetapkan persyaratan untuk melindungi auditor.

4) Menetapkan persyaratan penelaahan sejawat.

5) Melawan tuntutan hukum.

6) Pendidikan bagi pemakai laporan.

7) Memberi sanksi kepada anggota karena hasil kerja yang tak pantas.

8) Perundingan untuk perubahan hukum.

2.7. TANGGAPAN AKUNTAN PUBLIK TERHADAP KEWAJIBAN HUKUM

Dalam meringankan kewajibannya auditor dapat melakukan langkah-langkah berikut.

1) Hanya berurusan dengan klien yang memiliki integritas.

2) Mempekerjakan staf yang kompeten dan melatih serta mengawasi dengan pantas.

3) Mengikuti standar profesi.

4) Mempertahankan independensi.

5) Memahami usaha klien.

6) Melaksanakan audit yang bermutu.

7) Mendokumentasika pekerjaan secara memadai.

8) Mendapatkan surat penugasan dan surat pernyataan.

9) Mempertahankan hubungan yang bersifat rahasia.

10) Perlunya asuransi yang memadai.

11) Mencari bantuan hukum.

BAB III
PENUTUP

3.1. KESIMPULAN

Mengingat profesi akuntan publik sangat penting perannya dalam dunia bisnis di

Indonesia, maka Akuntan Publik harus selalu menjaga integritas (integrity) dan profesionalisme

melalui pelaksanaan standar dan kode etik profesi secara konsekuen dan konsisten. Dalam

Etika Profesi dan Kewajiban Hukum Auditor

15
setiap penugasan yang diberikan, Akuntan Publik harus selalu bersikap independen dan

menggunakan kemahiran jabatannya secara profesional (due professional care).

Akuntan Publik dan KAP agar menghindarkan diri dari tindakan tercela, seperti kolusi

(collusion) dengan klien atau menutupi terjadinya tindak kecurangan (fraud) yang sangat

merugikan berbagai pihak. Semoga Rancangan Undang-Undang Akuntan Publik (RUU-AP)

yang telah disusun cukup lama tersebut, segera dapat ditetapkan oleh Pemerintah beserta

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menjadi UU-AP, sehingga akuntan publik memiliki landasan

operasional (aspek legal) yang kuat dan masyarakat (publik) mendapatkan perlindungan

hukum dari tindakan malpraktik yang melanggar kode etik profesi.

3.2. SARAN

DAFTAR PUSTAKA

 Harahap,

Sofyan

S.

2002.

Corporate

Accountability,

Media
Akuntansi,

No.29/November-Desember/2002. Jakarta: Penerbit Intama Artha Indonusa.

 Toruan, L Henry. 2001. Tanggung Jawab Akuntan Publik, Media Akuntansi, No.18/Juni/

2001. Jakarta: Penerbit Intama Artha Indonusa.

 Agoes, Sukrisno. 2016. Auditing. Jakarta: Penerbit Salemba Empat.

Etika Profesi dan Kewajiban Hukum Auditor

16
 Mulyadi. Auditing. 2014. Jakarta: Penerbit Salemba Empat.

http://ismail125cc.blogspot.co.id/2014/03/etika-profesi-dan-kewajiban-hukum.html

http://stdln.blogspot.co.id/2011/02/kewajiban-hukum_18.html

http://elawatiekonomiislam.blogspot.co.id/2016/04/makalah-audit-kewajiban-hukum-audit.html

http://www.jejakakuntansi.net/2017/02/pertimbangan-kewajiban-hukum-auditor.html

Etika Profesi dan Kewajiban Hukum Auditor

17

Lihat dokumen lengkap (17 Halaman - 47.44KB)

DOKUMEN YANG TERKAIT

Keanekaragaman Makrofauna Tanah Daerah Pertanian Apel Semi Organik dan Pertanian Apel Non
Organik Kecamatan Bumiaji Kota Batu sebagai Bahan Ajar Biologi SMA

26 317 36

FREKUENSI KEMUNCULAN TOKOH KARAKTER ANTAGONIS DAN PROTAGONIS PADA SINETRON (Analisis
Isi Pada Sinetron Munajah Cinta di RCTI dan Sinetron Cinta Fitri di SCTV)

27 310 2

Analisis Sistem Pengendalian Mutu dan Perencanaan Penugasan Audit pada Kantor Akuntan Publik.
(Suatu Studi Kasus pada Kantor Akuntan Publik Jamaludin, Aria, Sukimto dan Rekan)

136 695 18

DOMESTIFIKASI PEREMPUAN DALAM IKLAN Studi Semiotika pada Iklan "Mama Suka", "Mama Lemon",
dan "BuKrim"

133 700 21
KONSTRUKSI MEDIA TENTANG KETERLIBATAN POLITISI PARTAI DEMOKRAT ANAS URBANINGRUM PADA
KASUS KORUPSI PROYEK PEMBANGUNAN KOMPLEK OLAHRAGA DI BUKIT HAMBALANG (Analisis Wacana
Koran Harian Pagi Surya edisi 9-12, 16, 18 dan 23 Februari 2013 )

64 565 20

PENERAPAN MEDIA LITERASI DI KALANGAN JURNALIS KAMPUS (Studi pada Jurnalis Unit Aktivitas Pers
Kampus Mahasiswa (UKPM) Kavling 10, Koran Bestari, dan Unit Kegitan Pers Mahasiswa (UKPM) Civitas)

105 442 24

Pencerahan dan Pemberdayaan (Enlightening & Empowering)

0 64 2

KEABSAHAN STATUS PERNIKAHAN SUAMI ATAU ISTRI YANG MURTAD (Studi Komparatif Ulama Klasik
dan Kontemporer)

5 102 24

GANGGUAN PICA(Studi Tentang Etiologi dan Kondisi Psikologis)

4 75 2

Efek Hipokolesterolemik dan Hipoglikemik Patigarut Butirat

2 94 12

Dokumen global

DUKUNGAN

info@id.123dok.com

Syarat penggunaan

Kebijakan tentang cara menjual dokumen

LINKS

Titles

Topics

Copyright 123dok © 2017.


Dokumen global

Kategori

Semua

Bisnis

Karier

Data & Analitik

Desain

Perangkat & Hardware

Ekonomi & Keuangan

Lingkungan

Pendidikan

Teknik

Hiburan & Seni

Makanan

Pemerintah & Organisasi Nirlaba

Kesehatan & Pengobatan

Pelayanan kesehatan

Internet

Hubungan investasi

Hukum

Kepemimpinan & Manajemen

Gaya hidup

Marketing
Mobile

Berita & Politik

Presentasi & Public Speaking

Perumahan

Perekrutan & HR

Ritel

Penjualan

Ilmu pengetahuan

Perbaikan diri sendiri

Layanan

LATAR BELAKANG MASALAH

Profesi akuntan publik merupakan suatu hal yang sangat penting, khususnya bagi

aktivitas berbisnis secara sehat di Indonesia. Analisa serta pendapat dari akuntan publik

terhadap suatu laporan keuangan sebuah perusahaan akan sangat menentukan dasar

pertimbangan dan pengambilan keputusan bagi seluruh pihak ataupun publik yang

menggunakannya. Misalnya para investor dalam mempertimbangkan bahkan memutuskan

kebijakan investasinya, para penasehat keuangan ataupun investasi dalam memberikan

arahan pada para investor terhadap keadaan dan prospek dari perusahaan tersebut, serta para

pemberi pinjaman dalam mempertimbangkan serta memutuskan langkah pemberian ataupun

penghentian pinjaman bagi perusahaan tersebut.

Para professional diharuskan memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam suatu

profesi, dan selain menjalankan suatu profesi sangat penting adanya etika profesi. Etika profesi

meliputi suatu standar dari sikap para anggota profesi yang dirancang agar terlihat praktis dan

realistis namun tetap idealistis. Setiap akuntan harus mematuhi etika profesi mereka agar tidak

menyimpangi aturan dalam menyelesaikan laporan keuangan kliennya dan diharapkan


berperilaku secara benar dan tidak melakukan perbuatan yang melanggar aturan. Dalam

Mukadimah Kode Etik Akuntan Indonesia tahun 1998 ditekankan pentingnya prinsip etika bagi

akuntan. Dengan menjadi anggota, seorang akuntan mempunyai kewajiban untuk menjaga

disiplin dan memenuhi segala hukum dan peraturan yang telah disyaratkan.

Selama beberapa tahun terakhir ini, kasus pelanggaran auditing terjadi di Indonesia.

Contohnya saja kasus Kantor Akuntan Publik (KAP) Drs. Dadi Muchidin melalui KMK Nomor:

1103/KM. 1/2009 tanggal 4 September 2009, dengan sanksi pembekuan selama tiga bulan

karena KAP tersebut telah dikenakan sanksi peringatan sebanyak 3 (tiga) kali dalam jangka

waktu 48 (empat puluh delapan) bulan terakhir. Bahkan sampai saat ini, KAP Drs. Dadi

Muchidin masih melakukan pelanggaran berikutnya, yaitu tidak menyampaikan laporan

tahunan KAP tahun takwin 2008.

Untuk mencegah pelanggaran tersebut terulang kembali, maka seorang calon akuntan

publik dan seorang akuntan publik harus mengetahui etika profesi dan kewajiban hukum

auditor, serta standar profesional akuntan publik.

Kita hidup di masyarakat hukum. Saat ini auditor patut berhati-hati karena setiap

tindakan tidak terlepas apakah hal itu benar atau salah dapat dipersoalkan secara hukum dan

mungkin menimbulkan kerugian yang substansial. Akuntan publik bertanggung jawab atas

setiap aspek tugasnya, termasuk audit, pajak, konsultasi manajemen, dan pelayanan

akuntansi, sehingga jika benar-benar terjadi kesalahan yang diakibatkan oleh pihak akuntan

publik dapat diminta pertanggungjawabannya secara hukum. Meningkatnya kesadaran

pemakai laporan keuangan akan tanggung jawab akuntan publik dapat manearik perhatian

Etika Profesi dan Kewajiban Hukum Auditor


1

Anda mungkin juga menyukai