0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
630 tayangan20 halaman

Keperawatan HIV/AIDS: Panduan Lengkap

Makalah ini membahas tentang HIV/AIDS dengan merangkum sejarah, pengertian, etiologi, gejala, perjalanan penyakit, penyebaran di Indonesia, cara penularan dan pencegahan, serta pengobatan HIV/AIDS.

Diunggah oleh

Yulia Manullang
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
630 tayangan20 halaman

Keperawatan HIV/AIDS: Panduan Lengkap

Makalah ini membahas tentang HIV/AIDS dengan merangkum sejarah, pengertian, etiologi, gejala, perjalanan penyakit, penyebaran di Indonesia, cara penularan dan pencegahan, serta pengobatan HIV/AIDS.

Diunggah oleh

Yulia Manullang
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

KEPERAWATAN HIV/AIDS

“HIV/AIDS”

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 1
1. Chindy Isnaini Durand P07220219082
2. Pitra Shasa Anggita P07220219108

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KALIMANTAN TIMUR
PROGRAM STUDI NERS
TAHUN AJARAN 2021
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb
Puji syukur kami panjatkan kehadiran Allah SWT karena berkat rahmat dan
karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah KEPERAWATAN HIV/AIDS
mengenai HIV/AIDS ini tepat pada waktunya.
Sebagai manusia biasa yang tidak pernah luput dari kesalahan, begitu juga
halnya dengan kami. Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam
penyusunan makalah ini, baik dari segi penulisan maupun isi. Kamipun menerima
dengan lapang dada kritikan maupun saran yang sifatnya membangun dari pembaca
agar kami dapat memperbaiki diri.
Walaupun dengan demikian, kami berharap dengan disusunya makalah ini dapat
memberikan sedikit gambaran mengenai HIV/AIDS
Terimakasih.
Wassalamu'alaikum Wr.Wb

Samarinda, 05 Agustus 2021

Kelompok 1

ii
DAFTAR ISI

COVER ...................................................................................................................i
KATA PENGANTAR ..........................................................................................ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................1
A. Latar Belakang....................................................................................................1
B. Rumusan Masalah...............................................................................................1
C. Tujuan..................................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN .......................................................................................3
A. Sejarah HIV/AIDS..............................................................................................3
B. Pengertian HIV/AIDS ........................................................................................4
C. Etiologi HIV/AIDS.............................................................................................5
D. Tanda Dan Gejala HIV/AIDS.............................................................................6
E. Perjalanan Penyakit HIV/AIDS.........................................................................7
F. Penyebaran di Indonesia HIV/AIDS...................................................................8
G. Cara Penularan HIV/AIDS................................................................................10
H. Pencegahan HIV/AIDS....................................................................................12
I. Pengobatan HIV/AIDS......................................................................................14
BAB III PENUTUP .............................................................................................15
A. Kesimpulan............................................................................................15
B. Saran......................................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
HIV/AIDS merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus
HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang menyerang sistem kekebalan tubuh.
Infeksi tersebut menyebabkan penderita mengalami penurunan ketahanan tubuh
sehingga sangat mudah untuk terinfeksi berbagai macam penyakit lain yang disebut
dengan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) (Kementerian Kesehatan RI,
2017).
AIDS adalah sekumpulan gejala penyakit yang timbul karena rusaknya sistem
kekebalan tubuh manusia akibat infeksi dari virus HIV (Diatmi and Diah, 2014).
Orang yang telah di diagnosa terinfeksi positif oleh virus HIV dan AIDS maka orang
tersebut disebut dengan ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) (Diatmi dan Diah, 2014).
Perkembangan HIV/AIDS pertama kali dikenal pada tahun 1981, namun kasus
HIV/AIDS secara retrospektif telah muncul selama tahun 1970-an di Amerika Serikat
dan di beberapa bagian di dunia seperti Haiti, afrika, dan eropa. (Dinas Kesehatan,
2014).
Penyakit HIV/AIDS menimbulkan masalah yang cukup luas pada individu
yang terinfeksi HIV/AIDS yaitu meliputi masalah fisik, sosial dan masalah emosional.
Salah satu masalah emosional terbesar yang dihadapi ODHA adalah depresi. Depresi
adalah penyakit suasana hati, depresi lebih dari sekadar kesedihan atau duka cita.
Depresi adalah kesedihan atau duka cita yang lebih hebat dan bertahan terlalu lama
(Yayasan Spiritia, 2014). Depresi digambarkan suatu kondisi yang lebih dari suatu
perasaan sedih dan kehilangan gairah serta semangat hidup (Nugroho, 2016).

B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan penyakit HIV / AIDS?
2. Bagaimana Etiologi HIV/AIDS?
3. Bagaimana HIV/AIDS dapat ditularkan?
4. Apakah tanda dan gejala HIV/AIDS itu?
5. Bagaimana Perjalanan Penyakit HIV/AIDS?
6. Bagaimana Penyebaran di Indonesia HIV/AIDS?
7. Bagaimanakah pencegahan HIV/AIDS?

1
8. Bagaimana pengobatan dari penyakit HIV / AIDS?

C. Tujuan
1. Menjelaskan pengertian HIV/AIDS itu.
2. Menjelaskan Etiologi HIV/AIDS.
3. Menjelaskan penularan HIV/AIDS.
4. Menjelaskan Perjalanan Penyakit HIV/AIDS
5. Menjelaskan Penyebaran di Indonesia HIV/AIDS
6. Menjelaskan tanda dan gejala HIV/AIDS.
7. Menjelaskan Cara pencegahan HIV/AIDS.
8. Menjelaskan Cara pengobatan dari penyakit HIV / AIDS

2
BAB II
PENDAHULUAN

A. Sejarah HIV/AIDS
Virus HIV diyakini pertama kali ditemukan di Kinshasa, Republik
Demokratik Kongo pada tahun 1920, ketika dilaporkan adanya penyebaran
infeksi virus simian immunodeficiency viruses (SIV)dari simpanse dan gorila
kepada manusia. Semenjak itu kasus kematian mendadak dengan gejala-gejala
khas hilang dan dianggap tidak menjadi ancaman. Keresahan kembali terjadi
pada awal tahun 80-an, dimana pada tahun 1981 ditemukan infeksi paru yang
amat jarang yang disebut pneumocystis carinii pneumonia (PCP) pada lima
orang pemuda homoseksual yang sebelumnya tidak memiliki masalah
kesehatan di Los Angeles. Pada saat yang bersamaan, New York dan
California turut melaporkan adanya jangkitan kanker ganas yang disebut
dengan sarcoma kaposi, penyakit ini juga menyerang sekelompok pria
homoseksual. Penyakit-penyakit yang dilaporkan tersebut ternyata memiliki
hubungan dengan adanya kerusakan berat pada sistem kekebalan tubuh. Pada
akhir tahun 1981, infeksi semakin meluas, dilaporkan 270 kasus pasien dengan
kerusakan kekebalan tubuh yang parah pada pria homoseksual dan 121 orang
diantaranya meningal dunia. Pada akhir tahun ini pula pertama kali didapati
kasus PCP pada orang yang menggunakan narkoba suntik.
Terkait cara penularan yang diketahui selama ini, pada awal tahun
1982 pakar menyebut penyakit ini dengan  gay-related immune deficiency
(GRID). Namun pada bulan september CDC menamakan penyakit tersebut
dengan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) karena diperkirakan
penyebaran penyakit ini tidak semata-mata dapat ditularkan oleh perilaku
seksual sesama jenis semata. Benar saja, pada awal tahun 1983 ditemukan
adanya penularan virus ini melalui hubungan heteroseksual dari laki-laki
kepada perempuan. Pada tahun ini pula diketahui pertama kali bahwa penyakit
ini dapat ditularkan melalui ibu yang menderita HIV/AIDS pada bayi yang
dikandungnya.
Tahun 1984 dikampanyekan bahwa penyakit ini sangat menular
melalui penggunaan jarum suntik bersama. Hal tersebut menjadi pukulan telak

3
bagi dunia kesehatan yang pada saat itu masih sering menggunakan satu jarum
suntik untuk beberapa pasien. 
Berbagai cara dilakukan untuk menghentikan penyebaran penyakit
mematikan ini. Namun setiap tahun jumlah penderita semakin meningkat.
Untuk itu pada tanggal 1 Desember 1988, WHO mencanangkan
tanggal tersebut sebagai hari AIDS sedunia dan peringatan ini diperingati
setiap tahunnya agar masyarakat dunia senantiasa waspada akan penyakit
tersebut.
Saat ini, lebih dari 36,7 juta orang hidup dengan HIV/AIDS, penting
bagi kita untuk menjaga diri dan keluarga dari infeksi penyakit tersebut. Selain
itu penting bagi kita untuk senantiasa merangkul mereka yang hidup dengan
HIV/AIDS agar memiliki semangat hidup yang tinggi untuk melawan
penyakit yang mereka derita.
https://www.kpaaidssurakarta.com/artikel/sejarah-hiv-aids/

B. Pengertian HIV/AIDS
HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan virus yang
menyebabkan AIDS (Aquired Immunodeficiency Syndrome) dan AIDS ialah
suatu kondisi ketika limfosit dan sel-sel darah putih mengalami kerusakan
sehingga melemahkan sistem pertahanan alami tubuh. HIV dapat menyerang
siapa saja, orang yang terinfeksi virus HIV akan menjadi pembawa dan
penular virus HIV selama hidupnya, selain hal yang diuraikan tersebut, orang
dengan HIV/AIDS masih mendapat stigma dan perlakuan diskriminasi oleh
masyarakat. Mengidap HIV/AIDS di Indonesia dianggap aib, sehingga dapat
menyebabkan tekanan psikologis terutama pada penderitanya maupun pada
keluarga dan lingkungan disekeliling penderita (Sitepu, M. 2012)
Orang yang hidup dengan HIV/AIDS disebut ODHA, sebagai
pengganti istilah penderita yang sudah positif terinfeksi HIV/AIDS. Orang
dengan HIV/AIDS rentan dengan beberapa penyakit yang disebut dengan
indikator penyakit oportunistik. Penyakit AIDS yang diderita ODHA jika tidak
mengonsumsi obat secara rutin akan mengakibatkan penderita mengalami

4
wastin syndrom yaitu mengalami keadaan mendekati sekarat. (Wisnu Ma’arif,
2017)
HIV merupakan singkatan dari Human immonodeficiensy virus.
Disebut human karena virus ini hanya dapat menginfeksi manusia, immune-
deficiency karena efek virus ini adalah menurunkan kemampuan sistem
kekebalan tubuh, dan termasuk golongan virus karena salah satu
karakteristiknya adalah tidak mampu mereproduksi diri sendiri, melainkan
memanfaatkan sel-sel tubuh . Virus ini merupakan penyebab penyakit AIDS
(Desmawati, 2013).
Menurut Abrori and Qurbaniah (2017) HIV dapat merusak sistem
kekebalan tubuh manusia yang ditemukan pada cairan-cairan tubuh terutama
semen, cairan vagina dan darah. Berdasarkan beberapa definisi tersebut dapat
disimpulkan bahwa pengertian HIV adalah jazad renik kecil yang mempunyai
kemampuan untuk menurunkan sistem kekebalan tubuh dengan menyerang sel
darah putih yang ditemukan pada cairan-cairan tubuh terutama semen, cairan
vagina dan darah yang merupakan penyebab dari penyakit AIDS.
Acquired Immuno Deficiency Syndrom (AIDS) disebabkan virus HIV
yang merusak sistem kekebalan tubuh. Itu sebabnya, tubuh menjadi mudah
terserang penyakit-penyakit lain yang dapat berakibat fatal. Misalnya infeksi
akibat virus, cacing, jamur, protozoa dan basi (Wandoyo, 2007).
Menurut Ardhiyanti (2012) AIDS yaitu kumpulan gejala penyakit
(sindrom) yang didapat akibat turunnya kekebalan tubuh yang disebabkan oleh
HIV. Berdasarkan beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan pengertian
AIDS adalah sekumpulan gejala yang disebabkan oleh menurunnya sistem
kekebalan tubuh, yang disebabkan oleh virus HIV.

C. Etiologi
HIV disebabkan oleh virus yang dapat membentuk DNA dari RNA
virus, sebab mempunyai enzim transkiptase reverse. Enzim tersebut yang akan
menggunakan RNA virus untuk tempat membentuk DNA sehingga beriteraksi
di dalam kromosom inang kemudian menjadi dasar untuk replikasi HIV atau
dapat juga dikatakan mempunyai kemampuan untuk mengikuti atau
menyerupai denetik diri dalam genetic sel-sel yang ditumpanginya sehingga
melalu proses ini HIV dapat mematikan sel-sel T4. HIV dikenal sebagai

5
kelompok retrovirus. Retrovirus ditularkan oleh darah melalui kontak intim
seksual dan mempunyai afinitas yang kuat terhadap limfosit T (Desmawati,
2013).
Virus AIDS secara selektif menginvasi sel T penolong,
menghancurkan atau melumpuhkan sel yang biasanya mengatur sebagian
besar respon imun. Virus juga menyerang makrofa, yang semakin
melumpuhkan sistem imun, dan kadang juga masuk ke sel otak, sehingga
timbul demensia (kapasitas intelektual yang parah) yang dijumpai pada
sebagian pasien AIDS (Marsiadi, 2014).

D. Tanda Dan Gejala HIV/AIDS


Pada awal infeksi, HIV tidak segera menyebabkan kematian dari sel yang
di infeksinya tetapi terlebih dahulu mengalami replikasi (penggandaan), sehingga
ada kesempatan untuk berkembang dalam tubuh penderita tersebut, yang lambat
laun akan menghabiskan atau merusak sampai jumlah tertentu dari sel
lymfosit T4. setelah beberapa bulan sampai beberapa tahun kemudian, barulah
pada penderita akan terlihat gejala klinis sebagai dampak dari infeksi HIV
tersebut. Masa antara terinfeksinya HIV dengan timbulnya gejala-gejala penyakit
(masa inkubasi) adalah 6 bulan sampai lebih dari 10 tahun, rata-rata 21 bulan
pada anak-anak dan 60 bulan pada orang dewasa.
Infeksi oleh virus HIV menyebabkan fungsi kekebalan tubuh rusak yang
mengakibatkan daya tahan tubuh berkurang atau hilang, akibatnya mudah terkena
penyakit-penyakit lain seperti penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri,
protozoa, dan jamur dan juga mudah terkena penyakit kanker seperti sarkoma
kaposi. HIV mungkin juga secara langsung menginfeksi sel-sel syaraf,
menyebabkan kerusakan neurologis.
Tanda-tanda gejala-gejala secara klinis pada seseorang penderita AIDS
adalah diidentifikasi sulit karena symptomasi yang ditujukan pada umumnya
adalah bermula dari gejala-gejala umum yang lazim didapati pada
berbagai penderita penyakit lain, namun secara umum dapat kiranya
dikemukakan sebagai berikut :
1. Rasa lelah dan lesu
2. Berat badan menurun secara drastis
3. Demam yang sering dan berkeringat diwaktu malam

6
4. Mencret dan kurang nafsu makan
5. Bercak-bercak putih di lidah dan di dalam mulut
6. Pembengkakan leher dan lipatan paha
7. Radang paru-paru
8. Kanker kulit
Halosehat. Gejala HIV AIDS Tahap Awal, Lanjut dan Akhir. 2015:
http://halosehat.com/penyakit/aids/gejala-hiv-aids.

E. Perjalanan penyakit HIV/AIDS


Perjalanan klinis pasien dari tahap terinfeksi HIV sampai tahap AIDS,
sejalan dengan penurunan derajat imunitas pasien. Penurunan imunitas
tersebut biasanya diikuti dengan adanya peningkatan risiko dan derajat
keparahan infeksi oportunistik serta penyakit keganasan. Dari semua orang
yang terinfeksi HIV, sebagian berkembang menjadi AIDS pada tiga tahun
pertama, 50% menjadi AIDS sesudah sepuluh tahun, dan hampir 100% pasien
menunjukkan gejala AIDS setelah 13 tahun.
Menurut Desmawati (2013) adapun tahapan infeksi HIV/AIDS terbagi
menjadi 4 stadium klinis :
1. Stadium pertama
HIV Infeksi dimulai dengan masuknya serologis dan diikuti perubahan
seologis antibodi terhadap virus tersebut berubah dari negative menjadi positif.
Waktu sejak HIV masuk ke dalam tubuh sampai tes antibodi terhadap HIV
menjadi positif disebut window period dengan rentang waktu antara satu
sampai tiga bulan, bahkan dapat berlangsung sampai enam bulan.
2. Stadium kedua : Asimptomatik (tanpa gejala)
Asimptomatik berarti bahwa di dalam organ tubuh terdapat HIV tetapi
tubuh tidak menunjukkan gejala-gejala. Keadaan ini dapat berlangsung sekitar
5-10 tahun. Cairan tubuh pasien HIV/AIDS yang tampak sehat ini sudah dapat
menularkan HIV kepada orang lain
3. Stadium ketiga
Pembesaran kelenjar limfe secara menetap dan merata (Persistent
Generalized Lymphadenopathy), tidak hanya muncul pada satu tempat saja,
dan berlangsung lebih dari satu bulan

7
4. Stadium keempat :
AIDS Keadaan ini disertai adanya bermacam-macam penyakit, antara
lain penyakit konstitusional, penyakit syaraf, dan penyakit infeksi sekunder

F. Penyebaran HIV/AIDS di Indonesia


1. Periode Awal (1987 – 1996)
Berawal dari penemuan kasus AIDS pertama kali di Indonesia tahun
1987. Dalam kurun waktu 10 tahun sejak AIDS pertama kali ditemukan, pada
akhir 1996 jumlah kasus HIV positif mencapai 381 dan 154 kasus AIDS.
Kasus AIDS mendapat respon dari pemerintah setelah seorang pasien
berkebangsaan Belanda meninggal di Rumah Sakit Sanglah Bali. Kasus ini
dilanjutkan dengan pelaporan kasus ke WHO sehinga Indonesia adalah negara
ke 13 di Asia yang melaporkan kasus AIDS ditahun 1987. Sebenarnya pada
tahun 1985, sudah ada pasien Rumah Sakit Islam Jakarta yang diduga
menderita AIDS. Oleh karena kasus pertama kali ditemukan pada seorang
homoseksual, ada dugaan bahwa pola penyebaran AIDS di Indonesia serupa
dengan di negara-negara lain. Dalam perkembangan berikutnya, gejala AIDS
ini ditemukan pada pasien-pasien yang memiliki latar belakang sebagai
sebagai Pekerja Seks Perempuan (WPS) serta pelanggannya.
Penyebaran HIV di Indonesia memiliki dua pola setelah masuk pada
tahun 1987 sampai dengan 1996. Pada awalnya hanya muncul pada kelompok
homoseksual. Pada tahun 1990, model penyebarannya melalui hubungan seks
heteroseksual. Prosentase terbesar pengidap HIV AIDS ditemukan pada
kelompok usia produktif (15-49 tahun): 82,9%, sedangkan kecenderungan cara
penularan yang paling banyak adalah melalui hubungan seksual berisiko
(95.7%), yang terbagi dari heteroseksual 62,6% dan pria
homoseksual/biseksual 33,1%. (Stranas 1994).
2. Periode 1997-2006
Hingga 31 Desember 2006, jumlah kumulatif ODHA yang dilaporkan
mencapai 13.424 kasus. Jumlah tersebut terdiri dari 5.230 kasus HIV dan
8.194 kasus AIDS. Selama 10 tahun, yaitu sejak tahun 1997-2006, jumlah
kematian karena AIDS mencapai 1.871 orang. Jumlah kasus AIDS yang ada
yaitu 8.194 kasus, dapat dibedakan menurut jenis kelamin. Laki-laki dengan
AIDS berjumlah 6.604 (82%), perempuan dengan AIDS berjumlah 1.529

8
(16%), dan 61 (2%) kasus tidak diketahui jenis kelaminnya.i rasio kasus AIDS
antara laki-laki dengan perempuan aalah 4,3 : 1. Meskipun jumlah perempuan
penderita HIV/AIDS lebih sedikit, dampak pada perempuan akan selalu lebih
besar, baik dalam masalah kesehatan maupun sosial ekonomi. Perempuan
lebih rentan tertular dan lebih menderita akibat infeksi ini. Beberapa studi
menunjukkan bahwa penularan HIV dari laki-laki ke perempuan melalui
hubungan seks adalah dua kali lipat dibandingkan dari perempuan ke laki-laki.
Penularan pada perempuan akan berlanjut dengan penularan pada bayi
pada masa kehamilan. Risiko penularannya berkisar 15-40%. Selain itu bayi
yang lahir dari seorang ibu dengan HIV mungkin akan terinfeksi HIV
sebelum, selama, atau sesudah proses kelahirannya. Penularan juga dapat
terjadi melalui Air Susu Ibu (ASI). Pelaporan kasus AIDS HIV/AIDS pada
tahun 1997 baru dilakukan oleh 22 propinsi, sedangkan pada tahun 2006
pelaporan kasus HIV/AIDS sudah mencapai 33 propinsi. Yang menarik adalah
distribusi prevalensi kasus AIDS per 100.000 penduduk berdasarkan propinsi
dimana Propinsi Papua menempati urutan pertama (51,45) diikuti dengan DKI
Jakarta (28.15). Hal ini terjadi karena kepadatan penduduk Propinsi Papua
lebih kecil dibanding dengan kepadatan penduduk DKI Jakarta. Tampak
bahwa peningkatan kasus AIDS di Propinsi Papua sangat tinggi sampai tahun
2006. Selanjutnya, proporsi kasus AIDS terbanyak dilaporkan pada kelompok
umur 20-29 tahun yaitu sebanyak 54,76%. Disusul kelompok umur 30-39
tahun sebanyak 27,17% dan kelompok umur 40-49 tahun sebanyak 7,90%.
Dengan demikian, sebagian besar kasus AIDS terjadi pada kelompok usia
produktif yaitu 20-49 tahun. Jumlahnya mencapai 7.369 kasus atau 89,93%.
Mencermati kasus pada periode ini adalah munculnya kasus AIDS
pada bayi atau anak kurang dari 15 tahun. Anak-anak dengan HIV/AIDS
kemungkinan tertular melalui ibunya saat kehamilan, persalinan ataupun saat
pemberian ASI, transfusi darah/komponen darah (misalnya pada penderita
hemofilia) atau akibat pemaksaan seksual oleh orang-orang yang tidak
bertanggungjawab.
3. Periode 2007-2013
Pada akhir tahun 2007 diperkirakan 4,9 juta orang telah terinfeksi HIV
di Asia. Dari jumlah ini, 440.000 adalah orang-orang dengan infeksi HIV
baru, dimana 300.000 sudah meninggal. Meskipun cara penularan HIV

9
bervariasi di Asia, epidemi umumnya didorong oleh hubungan seksual dengan
pasangan yang terinfeksi HIV dan tanpa menggunakan kondom, dan melalui
jarum suntik. Lebih dari dua dekade sejak kasus pertama HIV di Indonesia
hingga saat ini telah terdapat 3.492 orang meninggal akibat penyakit ini. Dari
11.856 kasus yang dilaporkan pada tahun 2009, 6962 diantaranya berusia
produktif (< 30 tahun), termasuk 55 orang bayi di bawah 1 tahun. Kasus yang
tinggi terkonsentrasi pada kelompok berisiko termasuk penasun, pekerja seks
dan kliennya, pria homoseksual, dan bayi yang tertular melalui ibunya. Pada
tahun  2009 diperkirakan jumlah ODHA meningkat menjadi 333.200 orang,
yang 25% diantaranya adalah perempuan. Angka ini menunjukkan feminisasi
epidemi AIDS di Indonesia.
https://www.kpaaidssurakarta.com/artikel/sejarah-hiv-aids/

G. Cara Penularan HIV/AIDS


Secara umum ada 5 faktor yang perlu diperhatikan pada penularan suatu
penyakit yaitu sumber infeksi, vehikulum yang membawa agent, host yang
rentan, tempat keluar kuman dan tempat masuk kuman (port’d entrée).
Virus HIV sampai saat ini terbukti hanya menyerang sel Lymfosit T
dan sel otak sebagai organ sasarannya. Virus HIV sangat lemah dan mudah
mati diluar tubuh. Sebagai vehikulum yang dapat membawa virus HIV
keluar tubuh dan menularkan kepada orang lain adalah berbagai cairan
tubuh. Cairan tubuh yang terbukti menularkan diantaranya semen, cairan
vagina atau servik dan darah penderita.
Banyak cara yang diduga menjadi cara penularan virus HIV, namun
hingga kini cara penularan HIV yang diketahui adalah melalui :
1. Transmisi Seksual
Penularan melalui hubungan seksual baik Homoseksual maupun
Heteroseksual merupakan penularan infeksi HIV yang paling sering terjadi.
Penularan ini berhubungan dengan semen dan cairan vagina atau serik.
Infeksi dapat ditularkan dari setiap pengidap infeksi HIV kepada
pasangan seksnya. Resiko penularan HIV tergantung pada pemilihan
pasangan seks, jumlah pasangan seks dan jenis hubungan seks. Pada penelitian
Darrow (1985) ditemukan resiko seropositive untuk zat anti terhadap HIV

10
cenderung naik pada hubungan seksual yang dilakukan pada pasangan tidak
tetap. Orang yang sering berhubungan seksual dengan berganti pasangan
merupakan kelompok manusia yang berisiko tinggi terinfeksi virus HIV.
a. Homoseksual
Didunia barat, Amerika Serikat dan Eropa tingkat promiskuitas
homoseksual menderita AIDS, berumur antara 20-40 tahun dari semua
golongan rusial. Cara hubungan seksual anogenetal merupakan perilaku
seksual dengan resiko tinggi bagi penularan HIV, khususnya bagi mitra
seksual yang pasif menerima ejakulasi semen dari seseorang pengidap HIV.
Hal ini sehubungan dengan mukosa rektum yang sangat tipis dan mudah
sekali mengalami pertukaran pada saat berhubungan secara anogenital.
b. Heteroseksual
Di Afrika dan Asia Tenggara cara penularan utama melalui hubungan
heteroseksual pada promiskuitas dan penderita terbanyak adalah kelompok
umur seksual aktif baik pria maupun wanita yang mempunyai banyak
pasangan dan berganti-ganti.

2. Transmisi Non Seksual


a. Transmisi Parenral
Yaitu akibat penggunaan jarum suntik dan alat tusuk lainnya (alat
tindik) yang telah terkontaminasi, misalnya pada penyalah gunaan narkotik
suntik yang menggunakan jarum suntik yang tercemar secara bersama-sama.
Disamping dapat juga terjadi melaui jarum suntik yang dipakai oleh petugas
kesehatan tanpa disterilkan terlebih dahulu. Resiko tertular cara transmisi
parental ini kurang dari 1%.
b. Darah/Produk Darah
Transmisi melalui transfusi atau produk darah terjadi di negara-
negara barat sebelum tahun 1985. Sesudah tahun 1985 transmisi melalui
jalur ini di negara barat sangat jarang, karena darah donor telah diperiksa
sebelum ditransfusikan. Resiko tertular infeksi/HIV lewat trasfusi darah
adalah lebih dari 90%.

3. Transmisi Transplasental

11
Penularan dari ibu yang mengandung HIV positif ke anak mempunyai
resiko sebesar 50%. Penularan dapat terjadi sewaktu hamil, melahirkan
dan sewaktu menyusui. Penularan melalui air susu ibu termasuk
penularan dengan resiko rendah.

H. Pencegahan AIDS
Mengingat sampai saat ini obat untuk mengobati dan vaksin untuk mencegah
AIDS belum ditemukan, maka alternatif untuk menanggulangi masalah AIDS
yang terus meningkat ini adalah dengan upaya pencegahan oleh semua pihak
untuk tidak terlibat dalam lingkaran transmisi yang memungkinkan dapat
terserang HIV.
Pada dasarnya upaya pencegahan AIDS dapat dilakukan oleh semua
pihak asal mengetahui cara-cara penyebaran AIDS. Ada 2 cara pencegahan
AIDS yaitu jangka pendek dan jangka panjang :
1. Upaya Pencegahan AIDS Jangka Pendek
Upaya pencegahan AIDS jangka pendek adalah dengan KIE,
memberikan informasi kepada kelompok resiko tinggi bagaimana pola
penyebaran virus AIDS (HIV), sehingga dapat diketahui langkah-langkah
pencegahannya.
Ada 3 macam pencegahan berdasarkan penyebaran virus HIV :
a. Melalui hubungan seksual
HIV terdapat pada semua cairan tubuh penderita tetapi yang terbukti
berperan dalam penularan AIDS adalah mani, cairan vagina dan darah. HIV
dapat menyebar melalui hubungan seksual pria ke wanita, dari wanita ke pria
dan dari pria ke pria.
Setelah mengetahui cara penyebaran HIV melaui hubungan seksual
maka upaya pencegahan adalah dengan cara :
1) Tidak melakukan hubungan seksual. Walaupun cara ini sangat efektif,
namun tidak mungkin dilaksanakan sebab seks merupakan kebutuhan
biologis.
2) Melakukan hubungan seksual hanya dengan seorang mitra seksual yang
setia dan tidak terinfeksi HIV (homogami)

12
3) Mengurangi jumlah mitra seksual sesedikit mungkin
4) Hindari hubungan seksual dengan kelompok rediko tinggi tertular AIDS.
5) Tidak melakukan hubungan anogenital.
6) Gunakan kondom mulai dari awal sampai akhir hubungan seksual
dengan kelompok resiko tinggi tertular AIDS dan pengidap HIV.

b. Melaui darah
Darah merupakan media yang cocok untuk hidup virus AIDS.
Penularan AIDS melalui darah terjadi dengan :
1) Trnsfusi darah yang mengandung HIV.
2) Jarum suntik atau alat tusuk lainnya (akupuntur, tato, tindik) bekas pakai
orang yang mengidap HIV tanpa disterilkan dengan baik.
3) Pisau cukur, gunting kuku atau sikat gigi bekas pakai orang yang
mengidap virus HIV.

c. Melalui ibu yang terinfeksi HIV kepada bayinya


Ibu hamil yang mengidap HIV dapat memindahkan virus tersebut
kepada janinnya. Penularan dapat terjadi pada waktu bayi di dalam
kandungan, pada waktu persalinan dan sesudah bayi di lahirkan. Upaya untuk
mencegah agar tidak terjadi penularan hanya dengan himbauan agar ibu yang
terinfeksi HIV tidak hamil.

2. Upaya Pencegahan AIDS Jangka Panjang


Penyebaran AIDS di Indonesia (Asia Pasifik) sebagian besar adalah
karena hubungan seksual, terutama dengan orang asing. Kasus AIDS yang
menimpa orang Indonesia adalah mereka yang pernah ke luar negeri dan
mengadakan hubungan seksual dengan orang asing.
Upaya jangka panjang yang harus kita lakukan untuk mencegah merajalelanya
AIDS adalah mengubah sikap dan perilaku masyarakat dengan kegiatan yang
meningkatkan norma-norma agama maupun sosial sehingga masyarakat dapat
berperilaku seksual yang bertanggung jawab.
Yang dimaksud dengan perilaku seksual yang bertanggung jawab
adalah :

13
a. Tidak melakukan hubungan seksual sama sekali.
b. Hanya melakukan hubungan seksual dengan mitra seksual yang setia dan
tidak terinfeksi HIV (monogamy).
c. Menghindari hubungan seksual dengan wanita-wanita tuna susila.
d. Menghindari hubungan seksual dengan orang yang mempunyai lebih dari
satu mitra seksual.
e. Mengurangi jumlah mitra seksual sesedikit mungkin.
f. Mengurangi jumlah mitra seksual sesedikit mungkin
g. Hindari hubungan seksual dengan kelompok resiko tinggi tertular AIDS.
h. Tidak melakukan hubungan anogenital.
i. Gunakan kondom mulai dari awal sampai akhir hubungan seksual.

Permenkes Nomor 21 Tahun 2013 Tentang Penanggulangan Pencegahan


HIV dan AIDS.
http://pppl.depkes.go.id/_asset/_regulasi/100_Permenkes%20No%2021%20
Tahun%202013%20Penanggulangan%20HIVAIDS.pdf
http://spiritia.or.id/art/bacaart.php?artno=1060

I. Pengobatan HIV/AIDS
Pengobatan HIV bertujuan untuk mengurangi risiko penularan HIV,
menghambat perburukan infeksi oportunistik dan meningkatkan kualitas hidup
pengidap HIV. Pengobatan HIV harus dilakukan bersamaan dengan penapisan
dan terapi infeksi oportunistik, pemberian kondom dan konseling.
Pengobatan AIDS bertujuan untuk menurunkan sampai tidak terdeteksi
jumlah virus (viral load) HIV dalam darah dengan menggunakan kombinasi
obat ARV. Pengobatan HIV dan AIDS dilakukan dengan cara pengobatan:
1. Terapeutik
Pengobatan terapeutik meliputi pengobatan ARV (Antiretroviral),
pengobatan IMS, dan pengobatan infeksi oportunitis.
Pengobatan ARV yang berfungsi menghambat virus dalam merusak
sistem kekebalan tubuh. Obat-obatan diberikan dalam bentuk tablet yang
dikonsumsi tiap hari. Pengobatan ARV diberikan setelah mendapatkan
konseling, mempunyai pengingat minum obat (PMO) dan pasien setuju patuh
terhadap pengobatan seumur hidup. Pengobatan ARV dimulai di rumah sakit

14
dan dapat dilanjutkan di puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.
Rumah sakit sekurang-kurangnya merupakan rumah sakit kelas C.
2. Profilaksis
Pengobatan profilaksis meliputi pemberian ARV pasca pajanan dan
kotrimoksasol untuk terapi dan profilaksis. Setiap bayi baru lahir dari ibu HIV
dan AIDS harus segera mendapatkan profilaksis ARV dan kotrimoksazol.
Dalam hal status HIV belum diketahui, pemberian nutrisi sebagai pengobatan
penunjang bagi bayi baru lahir.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
HIV merupakan singkatan dari human immunodeficiency virus, HIV
merupakan virus yang dapat mengakibatkatkan penyakit acquired
immunodeficiency syndrome, atau AIDS. Penyakit AIDS disebabkan oleh
Virus HIV. Masa inkubasi AIDS diperkirakan antara 10 minggu sampai 10
tahun.
Orang yang hidup dengan HIV/AIDS disebut ODHA, sebagai
pengganti istilah penderita yang sudah positif terinfeksi HIV/AIDS. Orang
dengan HIV/AIDS rentan dengan beberapa penyakit yang disebut dengan
indikator penyakit oportunistik. Penyakit AIDS yang diderita ODHA jika tidak
mengonsumsi obat secara rutin akan mengakibatkan penderita mengalami
wastin syndrom yaitu mengalami keadaan mendekati sekarat. (Wisnu Ma’arif,
2017)

B. Saran
Perempuan dengan HIV/AIDS harus mendapat perhatian lebih dari
pemerintah dan masyarakat karena mereka membutuhkan dukungan moril
yang lebih terutama karena statusnya sebagai korban dari pasangannya.
Pemerintah perlu memberi informasi mengenai gambaran postif dari ODHA

15
agar stigma yang ada berkurangsehingga masyarakat menjadi tidak takut
untuk melakukan tes HIV dengan begitu pencegahan penularan juga akan
terlaksana lebih baik. Perlu adanya peningkatan promosi program pencegahan
penularan dari ibu ke anak.

16
DAFTAR PUSTAKA

Soemarsono “Patogenesis, Gejala klinis dan Pengobatan Infeksi HIV” AIDS;


Petunjuk Untuk Petugas Kesehatan Departemen Kesehatan RI Jakarta 1989.

Hanim, Diffah, dkk, 2013, Penyuluhan Kesehatan: Penyakit Menular Seksual,


Fakultas Kedokteran UNS, Solo

Permenkes Nomor 21 Tahun 2013 Tentang Penanggulangan Pencegahan HIV dan


AIDS. http://pppl.depkes.go.id/_asset/_regulasi/100_Permenkes%20No%2021%20
Tahun%202013%20Penanggulangan%20HIVAIDS.pdf
http://spiritia.or.id/art/bacaart.php?artno=1060

Sejarah hiv aids


https://www.kpaaidssurakarta.com/artikel/sejarah-hiv-aids/

Hasanudin. (2013). Upaya Pencegahan HIV/AIDS

Halosehat. Gejala HIV AIDS Tahap Awal, Lanjut dan Akhir. 2015 :
http://halosehat.com/penyakit/aids/gejala-hiv-aids.

17

Anda mungkin juga menyukai