Sosiologi Politik
Sosiologi Politik
Dalam upaya mempelajari atau memahami sosiologi politik, kita bisa berangkat terlebih
dahulu dari langkah memahami tentang definisi sosiologi politik. Ini artinya, sebelum memahami
lebih jauh perihal sosiolohi politik, langkah pertama yang harus ditempuh adalah mengetahui
pengertian ataua definisi sosiolosgi politik.
Dalam kaitan ini, diharapkan pada paradigma ilmu yang berbeda sebagaimana dijelaskan di atas
yakni sosiologi dan politik. Oleh karena itu, kita terlebih dahulu perlu mengetahui pengertian
masing-masing paradigma tersebut.
Berikut ini akan diuraikan tentang pengertian sosiologi politik, politik dan sosiologi politik.
1. Berdasarkan etimologi, sosiologi berasal dari kata sofie, yang berarti bercocok tanam,
kemudian berkembang menjadi socius, dalam bahasa latin berate teman, kawan. Berkembang
lagi menjadi kata sosial artinya berteman, bersama, berserikat (Bungin: 2006:27)
2. Pitrim Sorokin (dalam Soekanto, 2003: 19), menjelaskan bahwa sosiologi adalah suatu ilmu
yang mempelajari:
a. Hubungan dan tiombal balik antara berbagai macam gejala sosial (misalnya gejala
ekonomi dan agama, keluarga dan moral, hokum dan ekonomi, gerak masyarakat dan
politik, dan sebagainya)
b. Hubungan dengan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dan gejala non sosial
(misalnya gejala geografis, biologis, ekologis dan sebagainya)
c. Ciri-ciri umum semua jenis gejala sosial
3. Sebagaimana diketahui bahwa sosiologi merupakan ilmu yang tergolong baru atau muda.
Augus Comte, sosiologi Perancis, dalam bukunya positive philosophy yang diterbitkan tahun
1838 memperkenalkan kata sosiologi. Ia mendeskripsikan bahwa ilmu sosiologi adalah ilmu
yang didasarkan pada observasi dan klasifikasi yang bersifat sistematis dan empirik.
Sosiologi bukan didasarkan atas logika kekuasaan dan bentuk-bentuk spekulasi yang
berkembang saat itu. Pernytaan Comte dianggap luar biasa dan baru. Hal ini karena masyarakat
Eropa baru saja keluar dari dominasi kekuasaan negara yang bekerja sama dengan gereja untuk
melakukan penindasan dan pengekangan terhadap masyarakat.
Dalam mengkaji masyarakat, Comte membagi sosiologi dalam dua kategori, yaitu:
a. Static social (sosial statis: terkait dengan statika sosial atau struktur sosial),, mencakup
struktur sosial masyarakat berupa kelompok, lembaga-lembaga sosial, lapisan dan
kekuasaan.
b. Dynamic social (sosial dinamis, terkait dengan dinamika sosial atau perubahan sosial).
Sosial dinamis adalah fungsi-fungsi masyarakat yang terlibat dalam proses sosial,
perubahan sosial, atau interaksi dan konflik yang terjadi antar individu atau antar
kelompok.
Selanjutnya Comte berpandangan bahwa setiap manusia memiliki dua sistem kehidupan yang
berbeda sebagaimana yang dipelajari dalam sosiologi. Meskipun memilki sistem yang berbeda,
keduanya memiliki sistem yang tak terpisahkan dari sebuah masyarakat secara umum. Hal ini
karena manusia tidak dibatasi dalam satu peranan saja tetapi mungkin lebih dua peranan.
4. Herbert Spencer, seorang sosiolog dalam bukunya principle of sociology (1876) mengadopsi
teori evolusi organic untuk diaplikasikan pada masyarakat. Ia membentuk sebuah teori evolusi
sosial, yang banyak dijadikan rujukan dan landasan secara luas pada masa sesudahnya.
Bahkan hingga sekaran, Spencer memiliki penganut yang cukup banyak meskipun ada
sebagian orang yang menolaknya sebagai sebuah teori.
5. Lester F. Ward, sosiolog Amerika. Dalam bukunya Dynamic Sociology (1883) memaparkan
posisi penting bagi para sosiolog untuk mengarahkan tindakan-tindakan sosial dalam
melakukan perubahan sosial. Ia mengemukakan bahwa pada prinsipnya sosiolog adalah
seorang social philosop (filosof sosial). Ia memiliki tugas untuk mengumpulkan,
menglasifikasikan sekaligus menyususn data-data sosial yang berguna untuk merumuskan
teori sosial yang benar.
6. Emil Durkheim, sosiolog Prancis, dalam bukunya Rule of Sociological Method (1895)
memperkenalkan metode ilmiah yang berguna untuk melihat realitas sosial. Keberadaan ilmu-
ilmu sosial awalnya sangat dipengaruhi oleh kemajuan ilmu alam dan teknologi pada kurun
waktu abad ke-18 dan ke-19.
Berdasarkan pengaruh kemajuan ilmu alam dan teknologi ini, lahir para pemikir seperti
Comte, Durkheim, Weber, Karl Maxdan lainnya yang memberikan landasan bagi perkrmbangan
ilmu sosial terutama sosiologi.
Setelah mengeathui secara garis besar definisi sosiologi, kita melangkah untuk mengetahui
ilmu politik. Definisi ilmu politik dapat ditelusuri dari konsep-konsep ilmu politik yang pernah
ada dan sedang berkembang saat ini. Setidaknya ada lima konsep politik yang tersu berkembang,
yakni negara, kekuasaan, keputusan atau kebijakan, pengalokasian sumber-sumber (distribusi)
dan konflik.
Dari kelima konsep ini, lahir definisi atau pengertian tentang poliotik yang beragam. Politik
misalnya dedefinisikan sebagai:
1. Segala kehidupan atau kegiatan bernegara atau kegiatan-kegiatan yang behubungan
dengan negara
2. Segala kegiatan mempertahankan dan atau merebut kekuasaan
3. Kegiatan yang berkaiatan dengan perumusan atau dan atau melaksanakan keputusan
politik atau kebijakan publik
4. Kegiatan yang berhubungan dengan pengalokasian dan penerimaan sumber-sumber dan
5. Segala kegiatan berbentuk perselisihan politik atau konflik politik
Dari uraian konsep konsep dan definisi politik di atas, jelas bahwa definisi ilmu politik tidak
terlepas dari konsep dan definisi politik itu sendiri . oleh karena itu, wajar bila pengertian ilmu
politik pun beragam pula. Misalnya ilmu politik banyak didefinisikan sebagai sebuah ilmu yang
mempelajari negara. Pengertian ini misalnya diungkapkan oleh Roger F. Soltau dalam
Introduction to Politic dan J. Barent dalam ilmu politika.
Sementara itu, ada pula yang mendefinisikan ilmu politik sebagai ilmu yang mempelajari
kekuasaan. Diantara mereka ada Harol D. Laswell dan A. Kaplan dalam power and society, W.A
Robson dalam the university teaching of social science dan Ossip K. Flechtein dalam
Fundamental of political science.
Keberagaman pengertian politik dan definisi ilmu politik di atas, selain dikarenakan perbedaan
konsep atau sudut pandang yang digunakan juga terpengaruh kuat oleh pola perkembangan
pendekatan dalam meneliti atau mengkaji permaslahan-permasalahan politik yaitu:
1. Pendekatan institusionalis (kelembagaan). Titik tolak pendekatan ini adalah negara
sebagai kelembagaan, konstitusional dan legalistik. Fokus perhatiannya adalah negara itu
sendiri (seperti asal mula negara, unsur-unsur negara, tumbuh kembangnya negara dan
lenyapnya negara), partai politik, UUD 1945 dan ideologi.
2. Pendekatan behavioralis (tingkah laku). Titik tolak pendekatan ini adalah kekuasaan dan
perilaku atau tingkah laku politik. Pendekatan ini yang menekankan proses, memiliki
fokus kajian seperti sosialisasi politik, partisipasi politik, rekrutmen politik, komunikasi
politik dan konflik.
3. Pendekatan post behavioralis. Titik tolak pendekatan ini adalah sinergi antara
kelembagaan dan tingkah laku. Fokus kajiannya adalah budaya politik dan masyarakat
sipil (civil society) atau masyarakat madani.
Dengan demikian, jelas bahwa sosiologi politik tidak dapat dilepaskan dari konsep masyarakat
sebagai pokok perhatian sosiologi dan negara serta kekuasaan sebagai pokok perhatian politik.
Maurce Duverger (1996), misalnya mendefinisikan sosiologi politik sebagai ilmu tentang
kekuasaan, pemerintahan, otoritas, komando dalam semua masyarakat semua manusia yang
bukan saja masyarakat nasional tetapi juga masyarakat dalam masyarakat lokal dan masyarakat
internasional. Sherman dan Kolker (1987), mendefinisikan sosiologi politik sebagai studi yang
mempelajari partisipasi dalam pembuatan keputusan tentang kehidupan yang luas dan sempit.
Kehidupan di sini merupakan kehidupan masyarakat daerah, nasional dan internasional.
Sementara itu, Faulks (1999) mendefinisikan sosiologi politik sebagai studi yang mempelajari
hubungan kekuasaan yang saling bergantung antara negara dan masyarakat sipil. Diatara negara
dan masyarakat sipil terdapat batas kekuasaan yang saling berhubungan dalam proses perubahan
sosial.
Dari definisi di atas, dapat ditegaskan bahwa sosiologi politik adalah disiplin ilmu yang
mempelajari hubungan antara masyarakat dan politik: hubungan masyarakat dengan lembaga-
lembaga politik di satu sisi dan masyarakat dengan proses politik (sosialisasi, partisipasi,
rekrutment, komunikasi dan konflik)
Harus diakui merimcikan objek atau lingkup pembahasan sosiologi politik model di atas lebih
ditujukan untuk pemudahan pembelajaran sosiologi politik saat ini. Hal ini karena para ahli
sosiologi politik belum memiliki kesamaan dalam menyusun dan menyajikan lingkup
pembahasan sosiologi politik. Misalnya ilmu-ilmu yang ditulis oleh para ilmuan seperti Duverger
(1989), Rush dan Althoff (1997), Bottomore (1992), lingkup pembahasannya tidak memiliki
ruang kesepakatan yang sama. Mereka hanya memiliki kesamaan dalam pembahasan perihal
beragam persoalan yang berkaitan dengan kekuasaan dan struktur masyarakat.
Rush dan Althoff lebih melihat sosiologi politik dari sisi politik sebagai proses terutama proses
hubungan antara masyarakat dan politik, hubungan infrastruktur politik dan hubungan antara
tingkah laku sosial dan tingkah laku laku politik. Oleh Karena itu, dalam lingkup
pembahasannya, Rush dan Althoff menyodorkan kajian tentang sosialisasi politik, partisipasi
politik, rekrutmen politik dan komunikasi politik. Sementara itu, Bottomore menetapkan bahwa
sosiologi politik secara umum memfokuskan perhatiannya pada aspek demokrasi, kelas sosial,
gerakan sosial, partai politik, aksi politik, sistem politik, perubahan politik dan konflik, negara,
nasionalisme pembangunan dan politik global.
Konsep-konsep soiologi politik setidaknya dapat diketahui dan dijelajahi dari definisi ataupun
objek kajian itu sendiri. Sebagaimana diuraikan di bagian awal bahwa kajian sosiologi politik
mempelajari mata rantai antara masyarakat dan politik, baik kelembagaan seperti antara struktur
sosial dan struktur politik maupun proses-proses seperti antara tingkah laku sosial dan tingkah
laku politik. Di titik ini, kita bisa melihat bahwa sosioligi politik dapat dikatakan sebagai satu
jembatan teoretis sekaligus jembatan metodologis antara sosiologi dan ilmu politik. Adapun
konsep-konsep sosiologi politik adalah sebagai berikut:
1. Masyarakat
Adalah sekelompok manusia atau kelompok sosial yang hidup bersama dalam satu
wilayah dan sistem hubungan-hubungan yang ditertibkan untuk mencapai keinginan-
keinginan bersama
2. Negara
Adalah organisasi tertinggi dari bangunan masyarakat yang memiliki teritorial dan
kekuasaan untuk mengatur dan memelihara rakyatnya (masyarakat) dibawah peraturan-
peraturan (hukum)
3. Kekuasaan
Adalah kemampuan seseorang atau kelompok manusia untuk mempengaruhi tingkah laku
seseorang atau kelompok lain sedemikian rupa sehingga tingkah laku itu sesuai dengan
keinginan dan tujuan orang yang mempunyai kekuasaan itu.
4. Stratifikasi sosial
Adalah struktur sosial yang memiliki lapisan-lapisan dalam suatu masyarakat. Lapisan di
sini adalah adanya strata, mulai yang paling bawah hingga yang paling atas. Stratifikasi
sosial mengacu pada pembagian para anggota mayarakat dalam tingkatan atau strata yang
berkaitan dengan sikap dan karakteristik tiap-tiap anggota atau kelompok. Kedudukan
stratifikasi dalam masyarakat bukan sebagai subsistem melainkan sebagai suatu aspek
umum dari struktur dalam sistem sosial yang kompleks. Hal ini berbeda dengan ekonomi
yang merupakan subsistem dalam masyarakat sebagaimana dalam subsistem lainnya
seperti pendidikan, budaya, agama, dan sosial. Dengan demikian struktur stratifikasi
sosial dapat dipahami sebagai structured inequalities between different grouping of
people. Masyarakat, dalam konsep ini terbangun atas strata yang hierarkis.
5. Perubahan sosial
Adalah proses sosial yang dialami oleh anggota masyarakat serta unsur-unsur budaya dan
sistem-sistem sosial yaitu suatu tingkat kehidupan masyarakat dengan meninggalkan pola
kehidupan lama dan berubah pada pola kehidupan baru. Pola kehidupan bisa meliputi
budaya dan sistem sosial. Perubahan sosial ini menguatkan pandangan bahwa di dunia ini
tidak ada yang bersifat abadi. Semua objek dan perihal kehidupan mengalami perubahan,
kecuali perubahan itu sendiri. Perubahan ini ada yang bersifat progresif yaitu menuju ke
situasi yang lebih baik dari sebelumnya dan ada juga yang bersifat regresif yaitu situasi
yang lebih buruk dari sebelumnya.
6. Sosialisai politik
Adalah suatu proses pengenalan sistem politik pada seseorang, kelompok, atau
masyarakat serta respon yang mereka berikan terhadap gejala-gejala politik yang ada dan
mereka hadapi. Sosialisasi politik sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sosial,
ekonomi, budaya bahkan politik
7. Partisipalsi politik
Adalah kegiatan seseorang, kelompok atau masyarakat untuk ikut serta secara aktif dalam
kehidupan politik, yaitu dengan cara memilih pimpinan negara, baik secara langsung
maupun tidak langsung, memengaruhi kebijakan pemerintah (public policy). Tindakan
partisipasi ini bisa berupa pemberian suara dalam pemilihan umum, menghadiri rapat
umum atau politik, menjadi anggota suatu partai atau kelompok kepentingan, melakukan
interaksi dengan pejabat pemerintah atau anggota parlemen dan sebagainya. Konsep
partisipasi politik menjadi penting pada masa demokrasi yang dapat mempengaruhi
sekaligus mengontrol pengelolaan negara yang dilakukan pemerintah.
8. Rekrutmen politik
Adalah suatu kegiatan penyeleksian, pemilihan dan pengangkatan seseorang atau
kelompok orang untuk melaksanakan sejumlah peranan atau tugas dalam sistem politik,
baik yang duduk di pemerintahan maupun lembaga-lembaga lainnya, terutama yang
terkait dengan politik. Rekrutmen politik sangat penting bagi kelangsungan sistem politik
sebab tanpa rekrutmen kelangsungan hidup sistem politik akan terancam.
9. Komunikasi politik
Adalah kegiatan komunikasi yang didalamnya mengandung makna, kepentingan serta
konsekuensi yang bersifat politik yang berupa mengatur perbuatan manusia dalam
kondisi perebutan kekuasaan dan konflik. Ada beberapa cara mudah untuk melukiskan
suatu tindakan komunikasi politik yakni dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan
berikut: siapa? Mengatakan apa? Dengan saluran apa? Kepada siapa? Dengan akibat apa?
Atau bisa disimpulkan who say, what with, what channel, to whom, with what effect.
Dengan demikian, komunikasi politik merupakan unsur dinamika dari sistem sosial dan
sistem politik. Komunikasi politik juga dapat dianggap sebagai bentuk transmisi
informasi yang relevan secara politis dari suatu bagian sistem politik pada sistem politik
yang lain dan diantara sistem sosial dan sistem politik.
10. Konflik politik
Adalah perbedaan pendapat, persaingan dan pertentangan antara sejumlah individu,
kelompok ataupun organisasi dalam upaya mendapatkan dan atau mempertahankan
sumber-sumber dari keputusan yang dibuat dan dilaksanakan penyelenggara negara
(pemerintah eksekutif, legislatif dan yudikatif). Secara lebih khusus lagi, konflik politik
dapat didefinisikan sebagai kegiatan kolektif warga masyarakat yang diarahkan untuk
menentang kebijakan umum dan pelaksanaanya, perilaku penguasa beserta segenap
aturan, struktur dan prosedur yang mengatur hubungan-hubungan diatara kegiatan politik
11. Civil society
Adalah wilayah-wilayah dalam kehidupan sosial yang terorganisasi, dengan ciri-ciri:
adanya kesukarelaan, (voluntary), keswasembadaan (self-generating), keswadaan (self-
supporting), dan keterikatan tinggi dengan norma atau nilai hukum yang dianutnya. Civil
society memiliki seluruh tentang asumsi, nilai, institusi politik, sosial, hak sipil, rule of
law, institusi representative, wilayah publk dan keragaman asosiasi. Berbeda dengan
konsep civil society yang vertikal yang memperlihatkan bahwa warga yang aktif dalam
organisasi lokal, walaupun tidak bersifat politik, cenderung memperoleh keuntungan
yang lebih besar dalam hal-hal yang bersifat umum.
12. Demokrasi
Adalah sautu perkembangan sekaligus pilihan dari sistem politik yang digunakan dalam
suatu negara. Demokrasi juga merupakan suatu fase dari sistem politik sebelumnya yang
dicapai melalui proses interaksi dan perubahan yang bukan muncul secara taken for
granted dalam suatu masyarakat. Pada masyarakat modern, demokrsi menjadi tipe ideal
ideal type) dan sekaligus pilihan rasional (rational choice) bagi setiap negara dalam
menjalankan roda pemerintahannya. Tiap-tiap negara memiliki karakteristik yang
berbeda dalam menerapkan demokrasi yang ideal. Ada yang menganut demokrasi liberal,
monarki konstitusioanl, demokrasi pancasila dan sosial demokrasi. Dalam pelaksanaanya,
demokrasi sangat membutuhkan lembaga sosial dan politik yang dapat menopang
keberlangsungan suatu sistem demokrasi yang baik
13. Budaya politik
Adalah seperangkat susunan kepercayaan, orientai atau pandangan, sikap dan nilai-nilai
masyarakat yang berhubungan dengan sistem politik dan bagian-bagianya yang lain.
Seperangkat susunan tersebut memunculkan sikap terhadap peranan kita sendiri dalam
sistem tersebut
14. Partai politi
Adalah suatu anggota politik yang terorganisir yang anggota-anggotanya memiliki
orientai, nilai-nilai, dan cita-cita politik yang sama. Tujuan kelompok ini adalah
memperoleh atau mempertahankan kekuasaan untuk melaksanakan program-program
mereka
Pertanyaan
1. Masyarakat adalah sekelompok manusia atau kelompok sosial yang hidup bersama dalam
satu wilayah dan sistem hubungan-hubungan yang ditertibkan untuk mencapai keinginan-
keinginan bersama, berikan contohnya dan jelaskan
2. Gambarkan dan berikan contoh stratifikasi sosial yang terjadi di masyarakat
3. Didunia ini tidak ada yang bersifat abadi dan selalu mengalami perubahan kecuali
perubahan itu sendiri. Perubahan itu ada yang bersifat progresif dan regresif. Berikan
contoh perubahan sosial yang bersifat progresif dan yang bersifat regresif
4. Jelaskan tentang demokrasi liberal, monarki konstitusional, demokrasi pancasila dan
sosial demokrasi
5. Bagaimana peran anda terlibat dalam kegiatan partisipasi politik
Menarik akar sejarah kelahiran sosiologi politik sangat sulit dilakukan. Namun demikian,
bila melihat perkembangan sosiologi politik, bisa diketahui bahwa konsep sosiologi politik
berkembang pasca abad 19, terutama setelah konsep sosiologi yang diperkenalkan August
Compte tahun 1839 mulai mendapat posisi di beberapa perguruan tinggi di kalangan ilmuan
sosial. Dalam perkembangannya, konsep sosiologi politik mengalami perdebatan serius di
kalangan ilmuan sosial. Setidaknya, ada dua mainstream pemikiran yang bisa
diklasifikasikan secara ekstrem dalam melihat sosiologi politik. Pertama, sosiologi politik
dianggap sebagai ilmu tentang negara. Kedua, sosiologi politik dianggap sebagai ilmu
tentang kekuasaan. Duverger (1985) menegaskan bahwa kategori kedua lebih berkembang
luas daripada yang pertama. Menurut Duverger, konsep sosiologi politik sebagai ilmu negara
mempertalikan antara kata “politik” dan kata “negara”. Di sini, sosiologi politik
diklasifikasikan dalam ilmu-ilmu sosial yang didasarkan pada hakikat dari masyarakat-
masyarakat yang dipelajari yang turunannya membahas negara bangsa (nation-state)
Implikasi akibat perbedaan dua pandangan di atas adalah adanya dua kajian studi yang
berbeda. Pertama, perspektif yang menjadikan sosiologi politik sebagai ilmu tentang negara
yang beranggapan bahwa negara sebagai suatu jenis masyarakat yang sempurna, bebas dari
setiap kelompok yang lain, namun menguasai segala-galanya. Dengan demikian, negara
dianggap sebagai “berdaulat”. Oleh karena itu, pemerintah negara memiliki sifat khusus yang
tidak dapat dimiliki oleh pemimpin jenis-jenis kelompok lain dengan apa yang disebut
kedaulatan, baik dalam bentuk kedaulatan negara atau kedaulatan dalam negara (Duverger,
1985)
Kedua, perspektif yang menjadikan sosiologi politik sebagai ilmu tentang kekuasaan, yang
berpandangan kuat bahwa kekuasaan sebagai yang dilaksanakan oleh negara adalah berbeda
dari yang dilakuakn oleh kelompok lain. Dengan demikian, pembahasan kekuasaan dalam
pespektif yang kedua bukan hanya berkaitan dengan negara, tetapi juga kekuasaan yang
melekat dalam kelompok-kelompok lainnya, mulai dari bagaimana kekuasaan itu diperoleh
atau direbut, dipegang, dan dipertahankan. Perspektif ini lebih cenderung melihat suatu
proses pencapaian kekuasaan sehingga pembahasannya diarahkan pada bentuk-bentuk
sosialisasi, partisipasi, rekrutmen, komunikasi, dan sebagainya yang terkaid dengan
kekuasaan dalam politik.
Pemikiran Karl Marx dianggap sangat besar pengaruhnya yang tidak hanya berkaitan
dengan sosiologi politik saja. Sumbangan pemikirannya bisa digolongkan dalam 3 bidang
yaitu teori umum, teori khusus dan metodologi. Marx mengembangkan satu teori tentang
sesuatu yang tidak dapat dielekkan secara sejarah atas landasan logika dialektik: tesis,
antitesis dan sisntesis. Logika dialektik semacam ini diterapkan pada konflik material dari
kekuatan-kekuatan ekonomi yang saling bertentangan yang pada akhirnya menghancurkan
sistem kapitalisme dan penciptaan satu masyarakat kelas. Konflik yang dikembangkan oleh
Karl Marx didasarkan pada dua asumsi yaitu: (1) kegiatan ekonomi sebagai faktor penentu
utama semua kegiatan masyarakat, dan (2) melihat masyarakat manusia dari sudut konflik di
sepanjang sejarah. Marx dalam Materialisme Historisn-nya memasukkan determinisme
ekonomi sebagai basis struktur yang dalam proses relasi sosial dalam tubuh masyarakat akan
menimbulkan konflik antara kelas atas dan kelas bawah.
Secara historis, konsep kelas merupakan bagian penting dalam teori Karl Marx tentang
masyarakat. Konsep ini menekankan perlunya perjuangan kelas, yaitu perjuangan kaum
pleretariat melawan kaum borjuis dalam usaha mengawasi sumber-sumber produksi. Dengan
adanya ploretariat/pekerja/buruh (kelompok miskin) dan borjuis/kapitalis (kelompok kaya)
menunjukkan adanya stratifikasi dalam masyarakat Eropa yang secara kelas dan status
keduanya adalah berbeda.
Sementara itu, Marx Weber lebih menunjukkan perhatianya terhadap tipe lain dari
stratifikasi yang berasal dari pengakuan terhadap suatu status yang mungkin akan
mematahkan struktur kelas. Namun ada juga yang menyatakan bahwa dalam masyarakat
terdapat stratifikasi sosial lain yaitu pembagian kelas sosial didasarkan atas kelompok
penguasa (power group) dan kelompok yang dikuasai (non-power group). Istilah power di
sini tidak selalu diartikan sebagai kekuatan ekonomi atau suatu kekayaan. Power group
diartikan sebagai suatu kelompok elit dalam masyarakat yang mempunyai kekuatan. Gagasan
awal Karl Marx tidak lepas dari pemikiran tokoh-tokoh lainnya seperti saja Hegel. Bagi
Marx, Hegel memiliki pengaruh yang luar biasa membentuk sikap kritis Marx sehingga
menjadi seorang idealisme kala mudanya meskipun pada masa tuannya Marx menjadi
materialisme. Namun dengan radikalisme Hegel inilah analisis Karl Marx mengenai
kehidupan sosial ekonomi dan politik mulai terbentuk. Menurut Ritzer (2004) pemikiran
Hegel yang dominan dalam melahirkan pemikiran-pemikiran tradisional konflik dan kritis
adalah ajarannya tentang dialektika dan idealisme.
Dialektik adalah cara berfikir yang mencakup logika sistemik, beruapa tesis, antitesis dan
sisntesis, sementara idealisme lebih cenderung berfikir secara kritis terhadap realitas
sosisalnya. Sebagai cara berfikir, dialektika menekankan arti penting proses, hubungan,
dinamika, konflik dan kontradiksi yaitu cara-cara berfikir yang lebih dinamis. Di sisi lain,
dialektika adalah pandangan tentang dunia, bukan tersusun dari struktur-struktur yang statis.
Pemahaman tentang dunia semacam inilah yang di kemudian hari melahirkan gagasan-
gagasan holistiknya.
Hegel juga dikaitkan dengan filsafat idealisme yang cenderung mementingkan pikiran dan
produk mental daripada kehidupan material. Dalam bentuknya yang ekstrem, idealisme
menegaskan bahwa hanya konstruksi pikiran dan psikologilah yang ada. Idealisme adalah
sebuah proses yang kekal dalam kehidupan manusia, bahkan ada yang berkeyakian bahwa
proses mental tetap ada walaupun hubungan sosial dan fisik sudah tidak ada.
Pendiri sosiologi politik yang kedua adalah Durkheim. Ia dipandang cukup memberikan
peranan dalam memberikan fondasi konsep fakta sosial dan integrasi sosial. Durkheim
menyatakan bahwa fakta sosial itu dianggap sebagai barang sesuatu (thing) yang bebeda
dengan ide. Ia berangkat dari realitas (segala sesuatu) yang menjadi objek penelitian dan
penyelidikan dalam studi sosiologi. Titik berangkat dan sifat analisisnya tidak
menggunakan pemikiran spekulatif (yang menjadi khas filsafat). Akan tetapi untuk
memahami realitas diperlukan penyusunan data real di luar pemikiran manusia.
Penelitian yang dihasilkan pun bersifat deskriptif dan hanya berupa pemaparan atas data
dan realitas yang terjadi. Fakta sosial terdiri atas dua tipe yaitu struktur sosial dan pranata
sosial.
Menurut Ritser (1985), teori-teori mendukung paradigma fakta sosial ini adalah:
1. Teori fungsionalisme struktural, dicetuskan oleh Robert K. Merton. Objek analisis
sosiologisnya adalah peranan sosial, pola-pola institusional, proses sosial, organisasi
kelompok, pengendalian sosial dan sebagainya. Penganut teori ini cenderung melihat
pada sumbangan satu sistem atau peristiwa terhadap sistem lain san secara ekstrem
beranggapan bahwa semua peristiwa atau struktur adalah fungsional bagi masyarakat
2. Teori konflik, tokoh utamanya adalah Ralp Dahrendorf. Teori ini merupakan
kebalikan dari teori pertama, menitikberatkan pada konsep tentang kekuasaan dan
wewenang yang tidak merata pada sistem sosial sehingga bisa menimbulkan konflik.
Tugas utama dalam menganalisis konflik adalah dengan mengidentifikasi berbagai
peranan kekuasaan dalam masyarakat
3. Teori
4. Teori sosiologi makro
Pendiri sosiologi politik yang ketiga adalah Max Weber, salah seorang teori-teori Marx.
Sumbangan pemikirannya tidak hanya terkait dengan kritik-kritik yang dilontarkannya
terhadap teori Marx tetapi juga sejumlah studi khusus dan konsep yang besar artinya
dalam perkembangan sosiologi politik. Dalam karyanya yang sangat terkenal, di seluruh
dunia, The Protestant Ethnic and the Spirit of Capitalism, 1959 (1904-1905), dan studi-
studinya mengenai India, Cina dan bangsa Yahudi, Weber berusaha menonjolkan faktor-
faktor non ekonomis terutama ide-ide yang menjadi faktor sosiologi. The Protestant
Ethnic and the Spirit of Capitalism dipandang sebagai satu imbauan untuk menolak
interpretasi kaum materialistik tentang sejarah manusia. Dalam buku tersebut, weber
berusaha membalikkan tesis Marx yang menyatakan bahwa superstruktur ditentukan oleh
infrastruktur (ekonomi). Weber menyatakan bahwa salah satu faktor penting dari
perkembangan kapitalis justru terletak pada aspek superstruktur.
Weber juga dianggap sebagai penggagas konsep definisi sosial, yang digunakan untuk
menganalisis tindakan sosial (social action). Bagi Weber, pokok persoalna sosiologi
adalah bagaimana memahami tindakan sosial antar hubungan sosial, dimana tindakan
yang penuh arti itu ditafsirkan untuk sampai pada tindakan kausal. Untuk mempelajari
tindakan sosial, weber menganjurkan metode analitiknya melalui penapsiran dan
pemahaman (interpretative understanding) atau menurut terminologinya disebut dengan
versteben, yaitu melakukan penapsiran bermakna bahwa untuk memahami makna
subjektif suatu tindakan sosial, seseorang harus dapat membayangkan dirinya berada di
tempat pelaku untuk ikut menghayati pengalamannya. Akan tetapi yang diminta adalah
empati yaitu kemampuan untuk menempatkan diri dalam kerangka berfikir orang lain
yang perilakunya hendak dijelaskan dan situasi serta tujuan-tujuannya hendak dilihat
menurut perspektif lain.
1. Setidaknya, ada dua mainstream pemikiran yang bisa diklasifikasikan secara ekstrem
dalam melihat sosiologi politik. Pertama, sosiologi politik dianggap sebagai ilmu tentang
negara. Kedua, sosiologi politik dianggap sebagai ilmu tentang kekuasaan
2. Jelaskan konsep dialektika dari Karl Max tentang tesis, antitesis dan sintesi
3. Menurut Max Weber dalam masyarakat terdapat stratifikasi sosial lain yaitu pembagian
kelas sosial didasarkan atas kelompok penguasa (power group) dan kelompok yang
dikuasai (non-power group).
4. Jelaskan tentang pokok persoalan sosiologi menurut Weber