LP Defisit Perawatan Diri
LP Defisit Perawatan Diri
2) Biologis
Penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu melakukan
perawatan diri.
3) Kemampuan Realitas Turun
Klien dengan gangguan jiwa dengan kemampuan realitas yang
kurang menyebabkan ketidakpedulian dirinya dan lingkungan termasuk
perawatan diri.
4) Sosial
Kurang dukungan dan latihan kemampuan perawatan diri
lingkungannya. Situasi lingkungan mempengaruhi latihan kemampuan
dalam perawatan diri.
b. Faktor Presivitasi
Faktor presivitasi defisit perawatan diri adalah kurang penurunan
motivasi, kerusakan kognisi atau perceptual, cemas, lelah/lemah yang
dialami individu sehingga menyebabkan individu kurang mampu
melakukan perawatan diri. Menurut Depkes RI (2010) faktor-faktor yang
mempengaruhi personal hygiene adalah:
4) Pengetahuan
Pengetahuan personal hygiene sangat penting karena pengetahuan
yang baik dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya pada pasien
penderita diabetes mellitus ia harus menjaga kebersihan kakinya.
5) Budaya
Di sebagian masyarakat jika individu sakit tertentu tidak boleh
dimandikan.
6) Kebiasaan Seseorang
Ada kebiasaan orang yang menggunakan produk tertentu dalam
perawatan diri seperti penggunaan sabun, sampo dan lain-lain.
7) Kondisi fisik atau psikis
Pada keadaan tertentu/sakit kemampuan untuk merawat diri
berkurang dan perlu bantuan untuk melakukannya.
3. Tanda dan Gejala
a. Mandi/hygiene
Klien mengalami ketidakmampuan dalam membersihkan badan,
memperoleh atau mendapatkan sumber air, mengatur suhu, atau aliran air
(Direja, 2011).
Sedangkan menurut Depkes RI (2010) tanda dan gejala klien dengan
defisit perawatan diri adalah:
a. Fisik
1) Badan bau, pakaian kotor.
2) Rambut dan kulit kotor.
3) Kuku panjang dan kotor.
4) Gigi kotor disertai mulut bau.
5) Penampilan tidak rapi.
b. Psikologis
1) Malas, tidak ada inisiatif.
2) Menarik diri, isolasi diri.
3) Merasa tak berdaya, rendah diri dan merasa hina.
c. Sosial
1) Interaksi kurang.
2) Kegiatan kurang.
3) Tidak mampu berperilaku sesuai norma.
4) Cara makan tidak teratur.
5) BAK dan BAB di sembarang tempat, gosok gigi dan mandi tidak
mampu mandiri.
4. Rentang Respon
Adaptif Maladaptif
Tidak melakukan
Pola perawatan diri Kadang perawatan diri,
perawatan diri pada
seimbang kadang tidak
saat stres
a. Pola perawatan diri seimbang: saat pasien mendapatkan stressor dan mampu
untuk berperilaku adaptif maka pola perawatan yang dilakukan klien
seimbang, klien masih melakukan perawatan diri.
b. Kadang melakukan perawatan diri kadang tidak: saat pasien mendapatan
stressor kadang-kadang pasien tidak menperhatikan perawatan dirinya.
c. Tidak melakukan perawatan diri: klien mengatakan dia tidak pegduli dan
tidak bisa melakukan perawatan saat stress (Direja, 2011).
5. Mekanisme Koping
Mekanisme koping berdasarkan penggolongan dibagi menjadi 2
menurut Damaiyanti (2012) yaitu:
lingkungannya. Situasi
lingkungan
mempengaruhi latihan
kemampuan dalam
perawatan diri.
Faktor Presipitasi Body Image Gambaran individu
terhadap dirinya sangat
mempengaruhi
kebersihan diri,
misalnya: dengan
adanya perubahan fisik
sehingga individu tidak
peduli dengan
kebersihan dirinya.
Praktik Sosial Pada anak-anak selalu
dimanja dalam
kebersihan diri, maka
kemungkinan akan
terjadi perubahan pola
personal hygiene.
Status Sosial Ekonomi Personal hygiene
memerlukan alat dan
bahan seperti sabun,
pasta gigi, sikat gigi,
shampoo, alat mandi
yang semuanya
memerlukan uang
untuk
menyediakannya.
meningkatkan
kesehatan. Misalnya
pada pasien penderita
diabetes militus dia
harus menjaga
kebersihan kakinya.
Budaya Disebagian masyarakat
jika individu sakit
tertentu tidak boleh
dimandikan.
Kebiasaan Seseorang Ada kebiasaan orang
yang menggunakan
produk tertentu dalam
perawatan diri seperti
penggunaan sabun,
shampoo, pasta gigi.
Kondisi fisik atau Pada keadaan tertentu
psikis atau sakit kemampuan
untuk merawat diri
berkurang dan perlu
bantuan untuk
melakukannya.
f. Gigi: Lihat adakah karang gigi, adakah karies, kelengkapan gigi
g. Telinga: Lihat adakah kotoran, adakah lesi, adakah infeksi
h. Kulit: Lihat kebersihan, adakah lesi, warna kulit, teksturnya,
pertumbuhan bulu.
i. Genetalia: Lihat kebersihan, keadaan kulit, keadaan lubang uretra,
keadaan skrotum, testis pada pria, cairan yang dikeluarkan
5) Psikososial
1) Genogram
2) Konsep diri
3) Hubungan sosial
4) Spiritual
6) Status mental
a. Penampilan
b. Pembicaraan
c. Aktivitas motorik
d. Alam perasaan
e. Afek
d. Berpakaian
e. Istirahat dan tidur
f. Penggunaan obat
g. Pemeliharaan kesehatan
h. Kegiatan didalam rumah
i. Kegiatan di luar rumah
8) Mekanisme koping
Data dapat melalui wawancara pada klien atau keluarganya.
9) Masalah psikososial dan lingkungan
Data dapat melalui wawancara pada klien atau keluarganya. Pada tiap
masalah yang dimilki klien, beri uraian spesifik, singkat dan jelas.
10) Pengetahuan
Data dapat melalui wawancara pada klien atau keluarganya. Pada tiap item
yang dimiliki oleh klien simpulkan dalam masalah.
11) Aspek medik
Tuliskan diagnosa medik klien yang telah dirumuskan oleh dokter yang
merawat. Tuliskan obat-obatan klien saat ini, baik
ba ik obat fisik, psikofarmako,
tubuh klien.
2. Pakaian terlihat kotor.
3. Rambut dan kulit kotor.
4. Kuku panjang dan kototr.
5. Gigi kotor dan aroma mulut tidak
sedap.
6. Penampilan tidak rapi.
7. Tidak bisa menggunakan alat
mandi.
Data Subjektif: Harga Diri Rendah
1. Menilai diri negatif (misal. Tidak
berguna, tidak tertolong).
2. Merasa malu atau bersalah.
3. Merasa tidak mampu melakukan
apapun.
4. Meremehkan kemampuan
mengatasi masalah.
situasi sosial.
2. Merasa sulit menerima atau
mengkomunikasikan perasaan.
Data Objektif:
1. Kurang responsif atau tertarik
pada orang lain.
2. Tidak berminat melakukan kontak
emosi dan fisik.
(SDKI, 2016).
2) Pohon Masalah
kuku.
Hari, Defisit TUK III: Setelah 1. Evaluasi 1. Untuk mengetahui
Tgl/ Perawat Klien mampu diberikan kemampuan kemampuan klien
Bln/ an Diri melakukan tindakan klien berdandan dalam berdandan
Thn makan dengan keperawatan dan beri pujian. sebagai respon
baik. selama 1x15 2. Jelaskan cara positif tindakan
menit, mempersiapkan sebelumnya.
diharapkan makan.
DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI. 2010. Pengertian Gangguan Jiwa. Tersedia di: www.depkes.co.id (Diakses
pada: 10 November 2018).
Direja, Ade H.S. 2011. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Nuha
Medika.
Keliat, Anna dkk. 2014. Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas . Jakarta: Buku
Kedokteran EGC.
SDKI. 2016. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta: Tim Pokja SDKI
DPP PPNI.
Tarwoto dan Wartonah. 2015. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan.
Jakarta: Salemba Medika.