Anda di halaman 1dari 13

TUGAS TEORI AKUNTANSI

PERTEMUAN KE 2
AKUNTANSI DAN PERKEMBANGANNYA

Kelompok 5 :
Zainal Rusdi (20181220041)
Melly Dia Nur Afida (20181220103)
Lailatus Sadiyah (20181220132)

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
2021
A. Akuntansi dan Double Entry
Untuk mempelajari sejarah akuntansi kita harus dapat membedakan antara tiga
hal , yaitu:
1. Sejarah lahirnya praktik akuntansi itu dalam kehidupan manusia;
2. Sistem pencatatan akuntansi itu sendiri sebagai pencatatan transaksi dengan
sistem pembukuan yang sekarang dikenal dengan double entry accounting
system.
3. Sejarah perkembangan ilmu akuntansi itu sendiri, sejak ia merupakan satu
bidang ilmu akuntansi umum kemudian berkembang menjadi berbagai
subbidang yang sudah dikenal saat ini seperti Akuntansi Manajemen, Akuntansi
Internasional, Akuntansi Sumber Daya Manusia, Auditing, Akuntansi
Perpajakan.
➢ Sejarah Metode Pencatatan Double Entry
Konsep double entry merupakan konsep dasar didalam dunia akuntansi. “Double
entry system” biasa juga dikatakan dalam terminologi yang berbeda – beda tetapi
sebenarnya sama saja. “Double entry system” berarti memasukan transaksi dua kali.
Maksud dari pernyataan saya ini bukan berarti anda memasukan transaksi didalam
dua set buku (Masuk ke buku satu lalu yang lainnya masuk kedalam buku kedua).
Maksud dari memasukannya dua kali adalah untuk menunjukan dari mana uang
tersebut berasal dan kemana uang tersebut pergi. Konsep dasar ini juga bermaksud
untuk menjelaskan bahwa Debet dan Kredit bukan berarti menambah atau
mengurangi melainkan memasukan transaksi ke sisi debet dan ke sisi kredit. “
double entry system” semakin berkembang ketika biksu yang berasal dari negara
Italia bernama Luca Pacioli memperkenalkan sistem ini pada tahun 1494.
Tidak jelas apakah sistem pencatatan yang dikenal pada masa lalu itu
menggunakan sistem single entry atau double entry yang terakhir ini lebih praktis
dan menjadi sitem dominan lima abad terakhir ini. namun menurut pendapat
Mattesich di atas, sistem double entry sudah ada 5000 tahun yang lalu. Sementara itu
kita kenal bahwa penemu sistem double entry ini adalah Lucas Pacioli, bagaimana
kita memahami persoalan ini? Oleh karena itu, keragu-raguan atas pendapat yang
meganggap bahwa lucas pacioli sebagai penemu pertama akuntansi modern (double
entry accounting system) semakin jelas.
Buku yang beliau terbitkan selisih dua tahun dengan pendaratan sir Colombus
dari Inggris di benua Amerika, sebenarnya bukanlah buku yang membahas tentang
akuntansi, tetapi lebih tepat merupakan buku matematika, dimana pembahasan
pembukuan berpasangan hanya sedikit disinggung pada bab yang berjudul
Particularis de Computis et Scripturis (Adnan, 1997).
a. Littleton’s Antecedent
Menurut Littleton, agar double entry muncul ke permukaan maka persyaratan
tertentu harus dipenuhi. Persyaratan itu adalah “materi” dan “bahasa”. Untuk
kelompok materi, dimasukkan kekayaan pribadi, modal, perdagangan dan kredit.
Untuk kelompok bahasa, dimasukannya tulisan, uang dan perhitungan. Menurut
pndapat Littleton, persyaratan ini belum dapat dikenali sebelum Pacioli dan kalaupun
ada belum memiliki intensitas sempurna pada masa peradaban kuno, namun setelah
hal ini dikenal, inilah yang menyebabkan munculnya double entry accounting di itali
pada abad ke-13 disebabkan kondisi tersebut benar-benar ada (Vernon Kam, 1990)
dan Khir (Harahap, 1991).
Kendatipun demikian, wajar jika kita berterimakasih kepada Pacioli atas
kontribusi yang diberikan karena telah membahas sistem pencatatan double entry
book keeping ini ke dalam sebuah buku yang dapat dengan mudah dipelajari oleh
masyarakat dan sebagai salah satu refrensi pengembangan awal akuntansi modern.
Versi yang lain pun, seperti Peragallo, menyebutkan bahwa orang yang pertama
menulis tata buku berpasangan adalah Benedetto Cotrugli, dengan bukunya yang
berjudul Della Mercatua del Merchante perfetto yang selesai ditulis pada tahun 1458
dan diterbitkan pada tahun 1573. Sebanarnya bahan-bahan mengenai sistem
pembukuan ini telah ditemukan di Florence pada tahun 1211, 283 tahun sebelum
terbitnya buku pacioli. Sejak tahun itu berkembang sistem pembukuan di itali.
Menurut Kiyoshi Inoue dari saitaa University (The Accounting Historian Journal<
spring 1978) menyebutkan sebagai berikut:
Orang yang pertama-tama “menulis” (bukan menerbitkan seperti pacioli) tentang
double entry adalah Benedetto Cotrugli pada tahun 1458, 36 tahun sebelum terbitnya
buku pacioli. Namun buku Benedetto Cotrugli ini baru terbit pada tahun 1573 atau
89 tahun setelah buku pacioli terbit. Dengan penjelasan ini, pertentangan sebenarnya
tidak ada.
Dalam bukunya ia menyebutkan bahwa terdapat dua faktor yang mempengaruhi
pencatatan pada era perkembangan perdagangan pada abad ke-9, yaitu sebagai
berikut:
1. Bahan atau Material (sesuai yang dibutuhkan untuk bekerja) yang terdiri dari:
• Kekayaan pribadi;
• Modal;
• Berdagang;
• Kredit.
2. Bahasa atau Language (media yang menjelaskan tentang bahan) yang terdiri
dari:
• Tulisan, yang berarti pencatatan;
• Uang, sebagai media ertukaran yang dominan;
• Arithmetic, yaitu perhitungan atau akuntansi.
Oleh karena itu menurut penulis, apa yang telah dijabarkan baik dalam summa de
Arithmatica Geometrica Proportioni et Proportionalita maupun dalam Mercatua e del
Mercatua e del Mercante Perfetto nya Cotrugli adalah sama-sama suatu bagian dari
proses pengembangan cara pencatatan yang sistematik dari yang sudah ada dan
didasarkan pada kondisi masyarakat waktu itu.
b. Beberapa Temuan Double Entry Pre-Pacioli
Temuan mengenai pencatatan dengan sistem buku berpasangan yang merupakan
bangunan dasar akuntansi modern tidak terlepas dari berkembangnya ilmu arimatika,
yaitu yang dikembangkan dari persamaan aljabar (sebuah ilmu hasil ijtihad pemikir
Muslim ternama, yaitu Al-Jabr), arimatika dan temuan angka nol oleh Al-
Khawarizmi (logaritma) pada abad ke-9 M. ia menulis tentang Al-Jabr wa’l
mughabala atau yang lebih dikenal dengan aljabar atau algebra, yang telah menjadi
dasar kesamaan akuntansi. Dari sisi budaya, bangsa arab waktu itu pun sudah
memiliki administrasi yang cukup maju praktik pembukuan telah menggunakan buku
besar umum, jurnal umum, buku kas, laporam periodic, dan penutupan buku.
Al-Khawarizmilah yang memberikan kontribusi besar bagi pengembangan
matematika modern di eropa, akuntansi modern, yang dikembangkan dari persamaan
aljabar dengan konsep-konsep dasarnya untuk digunakan memecahkan persoalan-
persoalan pembagian harta warisan secara adil sesuai dengan syariah yang ada di
alquran, perkara hokum (law suit), dan praktik-praktik bisnis perdagangan. Majunya
peradaban social budaya masyarakat Arab waktu itu tidak hanya pada aspek ekonomi
atau perdagagan saja, tetapi juga pada proses transformasi ilmu pengetahuan yang
berjalan dengan baik.
Transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi ini menarik bagi sejumlah
kalangan ilmuan di Eropa. Di antaranya, Leonardo Fibonacci da Pisa melakukan
perjalanan ilmiahnya ke timur tengah. Dialah yang mengenalkan angka arab dan
aljabar atau metode perhitungan ke benua Eropa pada tahun 1202 melalui bukunya
yang berjudul Liber Abacci serta memasyarakatkan penggunaan angka arab tersebut
pada kehidupan sehari-hari termasuk dalam kegiatan ekonomi dan transaksi
perdagangan.
Maka, jelas sekali selain dari bangsa Eropa yang belajar ke timur tengah,
pedagang-pedagang muslim pun tak kalah andilnya di dalam menyiarkan
(transformasi) ilmu pengetahuan. Hal ini tidak terlepas dari ajaran Alquran yang
menyeruhkan untuk berdakwah.
Sejarah membuktikan beberapa sistem pencatatan perdagangan sebenarnya telah
berkembang di madinah al munawarah pada tahun 622 M atau bertepatan dengan
tahun 1 Hijriah (Adnan, 1997), petugas yang melakukan pencatatan dan pemeriksaan
serta menjaga pencatatan disebut Diwan (yang mengalami morfologi bahasa menjadi
Dewan). Diwan ini telah ada pada zaman Khalifah Umar Ibnu Khattab pada tahun
634 M dengan baitul maalnya. Istilah awal dalam pembukuan saat ini dikenal dengan
Jarridah atau berkembang mengjadi istilah di dalam bahasa inggris Journal yang
secara harfiah berarti berita. Di Venice, istilah ini dikenal dengan sebutan Zornal
(Martinelli, 1977 dalam Adnan, 1997).
Kalau kita kaji sejarah khususnya sejarah Islam, sebenarnya pada awal
pertumbuhannya mestinya sudah ada sistem akuntansi. Menurut sejarahnya, kegiatan
perdagangan ini pun sudah ada pemisahan antara pemilik dengan pedagang (manajer)
seperti kisah Muhammad (sebagai pedagang, agen) dengan Khadijah (sebagai
pemilik). Kemudian keberadaan ini dapat juga dilihat dari adanya perintah dalam
alquran yang terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 282 yang mewajibkan dibuatnya
pencatatan transaksi-transaksi yang belum tuntas seperti adanya utang-piutang.
Sayangnya literature belum banyak menganalisis bagaimana bentuk eksistensi
akuntansi pada zaman itu (lebih kurang 570 Masehi). Dalam literature akuntansi,
ternyata yang jadi asal mula akuntansi selalu disebut di Eropa.
Pada awalnya penerapan akuntansi oleh muslim waktu itu tidak terlepas sistem
perdagangan yang dikenal dengan konsep mudharabah, perintah syariah yang
termaktub dalam surat Al-Baqarah ayat 282 yang mewajibkan pencatatan dan
pemeriksaan (praktik akuntansi dan audit) dengan baik dan benar, surat Hut ayat 85
yang mewajibkan uslim untuk melakukan proses penakaran atau timbangan dengan
benar, yang pada perinsipnya sesuai dengan prinsip-prinsip sesuai dengan prinsip-
prinsip akuntansi, yaitu reliability dan Verifiability, dan untuk tujuan perhitungan
zakat.
Pada peritungan zakat, utang diklasifikasi menjadi tiga berdasarkan kemampuan
bayar, yaitu (siswanto, 2000):
1. Arra’e Menal Mal Collectable debts);
2. Al Munkase Menal Mal (uncollectable debts);
3. Al Muta’adher Wal Mutahayyer (complicated atau doubtful debts).
Itulah sejarah perkembangan praktik akuntansi dengan teknik tata buku
berpasangan yang banyak diduga oleh ahli akuntansi dewasa ini, sebagai hasil
refleksi pelurusan sejarah, lahir dari perdaban bangsa arab yang telah memiliki
akidah diennul islamiah.
Meskipun pacioli bukanlah penemu tata buku berpasangan, Pacioli sangat
membantu di dalam menyebarkan gagasan mengenai tata buku berpasangan ke
seluruh eropa.
c. Sistem Pembukuan
Glautier (1973) membagi perkembangan sejarah akuntansi dalam lima tahap
yaitu sebagai berikut:
1. Periode prakapitalis
2. Kapitalis Nascet, sejalan dengan penemuan double entry book keeping
system yang berlangsung sekitar abad ke-11 Masehi.
3. Kapitalis Merkantilis yang ditandai dengan perkembangan ekonomi di
eropa dan wilayah timur.
4. Revolusi Industri
5. Perkembangan yang demikian cepat di bidang akuntansi secara terus-
menerus.
Perkembangan akuntansi seperti yang dianalisis oleh Belkaoui dipengaruhi
periembangan sistem, kultur, dan konstruksi social masyarakat. Merujuk pada
perubahan sistem global dunia dari Alvin Toffler, Belkaoui, mengklasifikasi
perkembangan sistem pembukuan menjadi tiga.

Menurut Yuji Ijri (1996) dalam sistem single-entry transaksi hanya mencatat
dalam satu pos atau satu kali yang tidak menimbulkan pengaruh pada pos lain.
Metode ini sama seperti pencatatan informasi biasa sehingga tampak seperti laporan.
Model ini menggambarkan informasi perusahaan saja (wealth statement). Beberapa
keuntungan dari single entry book keeping adalah sebagai berikut:
1. Pencatatan transaksi dan penyimpanan cukup sederhana dan tidak
memerlukan keahlian khusus.
2. Biaya untuk menggunakan sistem ini cukup minimal.
3. Untuk menyususn laporan keuangan yang hanya untuk keperluan
perpajakan atau kredit yang sederhana.
Sementara itu, kelemahan single entry book keeping adalah:
1. Terdapat kesulitan di dalam melakukan pengecekan validitas dan akurasi
dalam pencatatan dan pembukuan dalam neraca percobaan;
2. Adanya kemungkinan data dan informasi yang hilang sewaktu menyusun
laporan keuangan;
3. Dibutuhkan upaya yang rumit dalam melakukan analisis transaksi dalam
menyusun laporan keuangan;
4. Tidak dapat memberikan sistem yang baik untuk peningkatan pengawasan
intern perusahaan.
B. Perkembangan Ilmu Akuntansi
Akuntansi dimulai sejak manusia mengenal uang sebagai alat pembayaran dan
membuat catatan. Awalnya, akuntansi dimulai dengan sistem pembukuan
berpasangan (double entry book keeping) di Italia pada abad ke 14 dan 15. Dan pada
abad XV di terbitkan buku oleh Lucas Paciolo yang berjudul “Summa De
Arithmatica, Geometrica et Proportionalita” di tahun 1494. Di dalam salah satu
babnya, buku tersebut membahas tentang “Tractatus de Computist el Scriptorio”,
yaitu cara-cara pembukuan dengan berpasangan (double book keeping), yang sampai
sekarang masih banyak digunakan.
Akuntansi berbeda dengan pembukuan. Pembukuan atau tata buku adalah suatu
seni pencatatan, pengelompokan, dan pengikhtisaran. Adapun akuntansi lebih luas
cakupannya daripada pembukuan. Mengapa demikian? Karena pembukuan sebagian
dari kegiatan akuntansi. Adapun hal yang berkaitan dengan akuntansi, yaitu:

1. Pembukuan;
2. Penganalisisan laporan-laporan keuangan yang telah disusun;
3. Penelitian untuk mengetahui luas serta macam-macam transaksi keuangan;
4. Perencanaan sistem akuntansi yang akan digunakan pada sebuah perusahaan
berdasarkan hasil survei;
5. Pemeriksaan akuntansi; dan lain sebagainya.

Perkembangan Akuntansi

➢ Tahun 1775 : pada tahun ini mulai diperkenalkan pembukuan baik yang single
entry maupun double entry.
➢ Tahun 1800 : masyarakat menjadikan neraca sebagai laporan yang utama
digunakan dalam perusahaan.
➢ Tahun1825 : mulai dikenalkan pemeriksaaan keuangan (financial auditing).
➢ Tahun 1850 : laporan laba/rugi menggantikan posisi neraca sebagai laporan yang
dianggap lebih penting.
➢ Tahun 1900 : Di USA mulai diperkenalkan sertifikasi profesi yg dilakukan
melalui ujian yg dilaksanakan scara nasional.
➢ Tahun 1925 : Mulai diperkenalkan teknik-teknik analisis biaya, akuntansi untuk
perpajakan, akuntansi pemerintahan, serta pengawasan dana pemerintah. Sistem
akuntansi yang manual beralih ke sistem EDP dengan mulai
dikenalkannya“punch card record”.
➢ Tahun 1950 s/d 1975 : Pada periode ini akunansi sudah menggunakan computer
untuk pengolahan data. Lalu, sudah dilakukan Perumusan Prinsip Akuntansi
(GAAP). Hingga Perencanaan manajemen serta management auditing mulai
diperkenalkan.
➢ Tahun 1975 : Total system review yang merupakan metode pemeriksaan efektif
mulai dikenal. Dan Social accounting manjadi isu yang membahas pencatatan
setiap transaksi perusahaan yang mempengaruhi lingkungan masyarakat.

C. Sejarah Perkembangan Akuntansi Di Indonesia


Sejarah perkembangan akuntansi di Indonesia tidak lepas dari sejarah Indonesia
baik secara politik maupun perkembangan perdagangan yang terjadi di Indonesia.
Indonesia yang memiliki sejarah panjang dalam perniagaan yang dilakukan sejak
zaman Kerajaan Hindu sampai dengan dekade Kerajaan Islam. Arus lalu lintas
perniagaan yang terjadi saat itu melahirkan ketertarikan negara-negara lain yang
memasuki wilayah Indonesia. Uraian perkembangan akuntansi di Indonesia dibagi
menjadi beberapa dekade berdasarkan sejarah yang dapat memberikan warna
akuntansi di Indonesia.
1. Dekade Zaman Penjajahan sampai dengan Tahun 1955
Praktik akuntan asing di Indonesia sudah dimulai sejak zaman VOC (1642).
Cuma bedanya waktu itu mereka berpraktik pada saat Indonesia berada di bawah
pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Akuntan-akuntan Belanda mendominasi
praktik akuntan di Indonesia cukup lama, sejak abad ke-17 hingga ke-19. Mereka
bekerja pada pabrik-pabrik pengolahan dan perdagangan hasil pertanian dan
perkebunan. Lapangan usaha pada masa itu dikuasai secara monopoli oleh
pemerintah kolonial Belanda. Karena 80% investasi modalnya murni berasal
dari negeri Kincir Angin itu. Berikut ini daftar kantor Akuntan Belanda di
Indonesia pada tahun 1946 sampai dengan 1958 yang bersumber dari “List der
Kantoren” yang dimuat dalam De Accountant terbitan Nederlands Institut van
accountants.

2. Dekade Tahun 1955 sampai dengan 1980


Pendidikan untuk memperoleh gelar Akuntan di Indonesia dimulai Tahun 1955
pada Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, berdasarkan UU No. 34 Tahun
1954. Sebelumnya, untuk menjadi akuntan harus belajar di luar negeri, terutama
di Negeri Belanda. Prof. Dr. Abutari merupakan akuntan pertama Indonesia
yang menyelesaikan pendidikannya di Negeri Belanda sebelum Tahun 1955.
Semula pendidikan akuntansi berpola Belanda karena sewaktu Jurusan
Akuntansi UI dibuka para pengajarnya adalah guru besar Belanda. Lulusan
akuntansi pertamanya lahir dalam Tahun 1957. Pada tanggal 23 Desember 1957
di Jakarta didirikan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) adalah organisasi profesi
akuntan di Indonesia yang didirikan oleh para pengurus pertama terdiri dari:
Ketua : Prof. Dr. Soemardjo Tjitrosidojo
Panitera : Drs. Go Tie Siem
Bendahara : Drs. Sie Bing Tat (Basuki Siddharta)
Komisaris : Dr. Tan Tong Djoe Drs. Oey Kwie Tek (Hendra Darmawan)

Keenam akuntan lainnya sebagai pendiri IAI adalah:


a. Prof. Dr. Abutari
b. Tio Po Tjiang
c. Tan Eng Oen
d. Tang Siu Tjhan
e. Liem Kwie Liang
f. The Tik Him

3. Dekade 1981 sampai dengan 2000


Pada dekade ini ada beberapa kejadian penting berkaitan dengan perkembangan
akuntansi di Indonesia terutama bagi Perguruan Tinggi Swasta. Pada Tahun
1980 ada kejadian yang sangat penting bagi Perguruan Tinggi Swasta, yaitu
dengan dikeluarkannya aturan bagi lulusan PTS untuk dapat memperoleh
sebutan akuntan melalui Ujian Negara Akuntansi (UNA). Aturan tersebut sudah
memotong tirai yang memisahkan hak bagi lulusan PTS dan PTN yang belum
memenuhi syarat dengan PTN yang sudah dianggap berhak secara langsung
untuk memperoleh sebutan akuntan.
Berdasarkan UU No. 21 Tahun 1989 ini maka untuk memperoleh sebutan
akuntan seseorang harus memperoleh dulu gelar Sarjana Ekonomi. Belum jelas,
Sarjana Ekonomi yang mana dan bagaimana pendidikan untuk akuntan
selanjutnya diatur. Mengenai jangka waktu dan kurikulumnya sampai saat itu
belum diketahui bagaimana secara nyata pola pendidikan akuntansi yang baru.
Pada Tahun 1997 merupakan babak baru dalam sejarah pemberian izin akuntan
publik, semula bagi mereka yang memiliki gelar atau sebutan akuntan dengan
mudah dapat mengajukan izin praktik akuntan publik. Namun, mulai Tahun
1997 sudah tidak zamannya lagi seperti itu, tetapi harus melalui Ujian Sertifikasi
Akuntan Publik (USAP). USAP tampaknya sudah menjadi kebutuhan bagi para
akuntan di Indonesia. Hal ini terbukti dari peserta angkatan pertama pengikut
USAP yang ditargetkan 200 orang, ternyata yang mengikuti ujian pada tanggal
24-25 September 1997 mencapai sekitar 350 orang. Berdasarkan pengalaman
hasil USAP yang berlangsung dari Tahun 1997 sampai Tahun 2000
menunjukkan hasil bahwa 23% berasal dari Perguruan Tinggi Swasta, bahkan
ada salah satu perguruan tinggi swasta yang menduduki posisi urutan ketiga dari
sepuluh besar perguruan tinggi penghasil BAP (Bersertifikasi Akuntan Publik).
Hal ini mendorong untuk segera dihapuskannya UNA bagi akuntan yang berasal
dari Perguruan Tinggi Swasta, paling tidak dari sekian kali penyelenggaraan
USAP, ternyata lulusan dari PTS tidak bisa dipandang sebelah mata

4. Dekade 2004 s/d 2010


Sejak dikeluarkannya Surat Keputusan Dirjen Dikti melalui SK Menteri
Pendidikan Nasional Nomor 179/U/2001 tentang “Penyelenggaraan Pendidikan
Profesi Akuntansi”. Berdasarkan Surat Keputusan tersebut untuk meraih gelar
akuntan, sistem pendidikannya kini diubah. Mahasiswa program S1 jurusan
akuntansi di PTN tertentu yang biasanya secara otomatis meraih gelar akuntan,
dengan berlakunya model baru ini tidak bisa lagi. Setelah lulus S1 akuntansi,
mereka harus melanjutkan pendidikan lagi di PPA selama paling lama dua tahun.
Barulah si sarjana akuntansi tersebut dapat menyandang gelar dan register
akuntan. Sejak dikeluarkannya SK Menteri Pendidikan Nasional
No.179/U/2001, bagi Perguruan Tinggi yang menghasilkan akuntan dibatasi
sampai dengan tanggal 31 Agustus 2004. Setelah tanggal tersebut para
Perguruan Tinggi tersebut tidak lagi menghasilkan akuntan.

5. Dekade 2011 s/d Sekarang


Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia dalam sidang paripurna tanggal 5 April
2011 telah mengesahkan RUU Akuntan Publik untuk menjadi Undangundang
(UU AP), UU AP ini juga akan melengkapi sekitar 20 undangundang lainnya
yang menyebutkan peran akuntan publik (AP) terkait dengan informasi
keuangan, seperti UU Perseroan Terbatas, UU Pasar Modal, UU Perbankan, UU
Pemilu, UU BPK, UU Pemeriksaan Tanggungjawab Pengelolaan Keuangan
Negara, dan UU lainnya. Di usia yang mencapai lebih dari setengah abad, Ikatan
Akuntan Indonesia (IAI) merupakan salah satu organisasi profesi paling solid di
Indonesia. IAI sudah memberikan kontribusi positif bagi perkembangan dunia
akuntansi khususnya dalam pengembangan mutu pendidikan akuntansi,
penyediaan standar-standar akuntansi bagi dunia bisnis, pemerintahan dan
bahkan aktivitas sosial kemasyarakatan, serta mendukung pelaksanaan Good
Governance dalam dunia bisnis dan pemerintahan.
Pada dekade zaman penjajahan sampai 1955 cara untuk memperoleh gelar
akuntan melalui pendidikan formal dan nonformal (kursus-kursus). Pada dekade
1955 sampai dengan 1979 gelar akuntan mulai diberikan. Berdasarkan UU No.
34 Tahun 1954, diawali dengan pembukaan jurusan akuntansi di UI Tahun 1955
lulusan akuntansi pertama pada Tahun 1957. Akan tetapi, UU tersebut ternyata
mengandung kontroversi-kontroversi. Baru pada akhirnya dekade 2001 sampai
dengan sekarang lahirlah mekanisme baru seiring dengan terbitnya SK
Mendikbud No. 056/U/1999.
DAFTAR PUSTAKA

Suwardjono. 2008. Teori Akuntansi Perekayasaan Pelaporan Keuangan. Yogyakarta :


BPFE
Blogger. 2017. “Sejarah Singkat Akuntansi”, http://ilmu-akuntansi-
pelajar.blogspot.com/2017/05/sejarah-singkat-akuntansi.html, diakses pada 04
Oktober 2021
Dr.H.Memed, Sueb,S.E.,M.Si.,Ak dan Amalia Kusuma Wardini, S.E., M.Com. Modul 1
Pengantar Teori Akuntansi. Universitas Terbuka.