0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan17 halaman

Instalasi Lift

1. Lift terdiri dari komponen mekanik seperti sangkar, kabel baja, dan piringan serta dilengkapi alat pengaman untuk keselamatan penumpang. 2. Sistem kerja lift mempengaruhi kapasitas, kecepatan, dan jumlah lift yang dibutuhkan untuk suatu gedung. 3. Peralatan utama lift adalah motor, rem, katrol, kabel penggantung, rel penuntun, dan bandul pengimbang.

Diunggah oleh

Muhammad Amir
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan17 halaman

Instalasi Lift

1. Lift terdiri dari komponen mekanik seperti sangkar, kabel baja, dan piringan serta dilengkapi alat pengaman untuk keselamatan penumpang. 2. Sistem kerja lift mempengaruhi kapasitas, kecepatan, dan jumlah lift yang dibutuhkan untuk suatu gedung. 3. Peralatan utama lift adalah motor, rem, katrol, kabel penggantung, rel penuntun, dan bandul pengimbang.

Diunggah oleh

Muhammad Amir
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Pengenalan Lift

Instalasi Lift

Pemberian energi listrik pada lift harus berasal dari cabang tersendiri, mulai dari pemutus
hubung bagi utama atau dari panel utama dengan diberi tanda yang jelas dan terang. Motor
listrik yang digunakan adalah motor listrik 3 phasa 50 Hz untuk type Ruang mesin/Roomless
dan 1 phase 50 Hz untuk type Home lift.

Contoh konstruksi lift ditunjukkan pada Gambar Gbr. Contoh Kontruksi Lift .

Bagian-bagian Lift

Bagian-bagian mekanik yang ada pada lift adalah :

 Batang peluncur terbuat dari kerangka baja


profil yang tegak berdiri setinggi struktur
gedung

 Sangkar ift berfungsi sebagai tempat


penumpang sejumlah 6-10 orang yang
bergerak naik-turun melalui kerangka atau
batang-batang peluncur tersebut. Dalam
sangkar lift dilengkapi dengan tombol-
tombol tekan untuk memberhentikan lift
pada lantai tertentu. Selain itu juga
dilengkapi dengan pintu gingsir yang
digunakan untuk masuk dan keluarnya
penumpang dan pada pintu juga dilengkapi
dengan alat pengaman.

 Kabel baja telanjang lemas berinti banyak.


Salah satu ujungnya diikat pada sangkar
sedang ujung lainnya melalui roda piringan
bagian atas, turun ke bawah selanjutnya di
ikat pada bandul pemberat yang memiliki
berat sedikit lebih berat dari beratnya
sangkar, yaitu sebesar 45% lebih. Karena
adanya bandul pemberat maka untuk
menaikkan dan menurunkan sangkar lift
tidak memerlukan tenaga yang besar.

1
 Pada lift juga ada satu lagi kabel baja yang melingkari roda piringan (disk), satu roda di
atas dikamar mesin dan yang satu lagi berada di bawah dipasang pada dasar lorong lift.
Kabel ini digerakkan oleh piringan di atas yang digerakkan oleh motor listrik
berjalan/berputar ke kanan dan ke kiri yang membuat sangkar lift naik turun karena pada
satu titik dari kabel yang naik turun ini diikatkan pada sangkarnya.

Untuk menjaga keselamatan para penumpang, pada setiap lift memiliki beraneka ragam alat
pengaman, baik pengaman mekanis maupun elektris dengan tingkat kepekaan dan faktor
keamanan yang tinggi. Pada sistem pengendali atau kontrol semua peralatan pengaman
dan tanda-tanda untuk mendeteksi setiap tujuan yang serba otomatis digunakan electronic
box (plc) yang dipasang pada ruang mesin lift dan umumnya berada diatas shaft atau
hoistway.

Macam peralatan dan pengamanan pada lift:

 Penentuan berat sangkar dipengaruhi oleh berat sangkar ditambah dengan 45% lebih
muatan.

 Pada saat sangkar berkedudukan di tempat yang paling atas, masih ada ruang bebas
setinggi ±175 cm, sedang pada kedudukan paling bawah, masih ada ruang bebas
dengan jarak ±75 cm.

 Jika terjadi lift berhanti melebihi titik teratas atau terbawah, lift akan menyentuh saklar
akhir dan lift segera berhenti. Setiap saklar akhir terdapat dua saklar di atas dan di
bawah sehingga merupakan pengaman ganda.

 Pada dasar lorong lift terdapat tonggak penahan sebagai pengaman, masing-masing
untuk lift dan bandul pemberat piringan PP memiliki alat centrifugal yang segera
berkembang dan membuka saklar dan membuat lift berhenti. Jika lift turun lebih
cepat 6% dari kecepatan normal. Jika lift meluncur ke bawah cepat sekali (jika
kabelnya putus yang berarti roda PP ikut berputar cepat juga.

 Alat pengaman yang dapat menahan kabelnya dan pada saat kabel ditahan maka
kabel akan cukup kuat untuk menarik cakar pengaman yang akan menjepit dengan
keras batang peluncur dan lift segera berhenti (seperti rem pada sangkar api).

 Pada saat lift berhenti, pintu lorong dan pintu sangkar akan membuka dan menutup
sendiri secara otomatis dalam waktu 8 detik dan cukup waktu untuk keluar masuknya
penumpang.

2
Diantara daun pintu lorong dan daun pintu sangkar terdapat daun pintu pengaman yang
menonjol lebih dari tutup pintu yang menonjol tersebut karena letaknya jika terdapat badan
atau anggota badan yang terjepit akan tertekan lebih dulu masuk ke dalam dan mematikan
aliran motor listrik penggerak ke dua daun pintu yang ada dan gerakan pintu berhenti
seketika.

 Pada sangkar terdapat lampu tanda bahaya untuk terjadinya gangguan-gangguan dan
kemacetan-kemacetan dan apapun jenis gangguan dapat diatasi dengan segera. Jenis
gangguan yang terjadi diantaranya adalah: tidak ada tegangan listrik, sumber tegangan
mati, pintu macet, dan lain-lainnya. Pada sangkar terdapat telepon yang sewaktu-waktu
dapat digunakan menghubungi petugas lift atau operator yang selalu berada di kamar
mesin. Lampu-lampu bahaya dan juga alat telepon dapat aliran dari baterai.

3
 PT: Piringan traksi untuk 3 kabel
baja
 PP: Piringan pengatur jalannya
sangkar sangkar (tempat
beban)
 TP: Kabel baja pengatur juga
menggerakkan mekanik
pengaman
 PPN: Piringan penegang
 KM: Kamar mesin tepat di atas
lorong lift
 DC: Cakar pengaman yang
dapat mengait keras tonggak
peluncur sebagai rem
 BP: Batang peluncur
 TP: Tonggak pengaman
 A: Kawat baja dimasukan
tabung besi cor B
 B: Tabung besi cor
 C: Kerangka sangkar bagian
atas (frame atas)
 D: Pegas (pir) penyerap getaran
 KB : Kabel baja

Keterangan Gambar Gbr. Contoh Kontruksi Lift

Pada sistem lift yang perlu diperhatikan antara lain sebagai berikut:

 Kapasitas angkut, dinyatakan dalam Kg atau total jumlah orang.


 Kecepatan gerak, dinyatakan dalam meter/menit.
 Jumlah lantai yang dilayani, mencakup jumlah stop/opening dari pintu lift
 Jarak gerak, sangkar lift pada posisi terendah s/d teratas dinyatakan dalam meter.
 Over head, jarak aman yang ditentukan dari lantai teratas s/d lantai ruang mesin.
 Kedalaman pit, sangat ditentukan berdasarkan kecepatan lift.
 Ukuran bersih shaft.
 Jenis pintu (center opening atau side opening)

4
 Sistem Kerja,
 Simplex, lift bekerja secara individual & tidak terpengaruh oleh lift yang lain.
 Duplex, 2 lift yang bekerja dalam 1 kontrol
 Group control, beberapa lift yang bekerja dalam 1 kontrol.

Kriteria tersebut sangat mempengaruhi dalam penetapan kapasitas, kecepatan dan jumlah
lift yang akan dipakai dalam suatu gedung.

Peralatan Utama & Fungsi

 Mesin pengangkat (hoisting machines), Berupa motor listrik dengan transmisi


menggunakan gear atau gearless.
 Rem
 Rem menggunakan sisyem arus listrik.
 Sistim kontrol rem saling mengunci (interlock) secara elektris dengan sirkuit kontrol
motor listrik, direncanakan dan diatur rem hanya bekerja untuk memegang kabin lift
pada saat lift sudah berhenti dan rem tidak digunakan untuk memberhentikan lift.
 Sangkar lift berhenti darurat, untuk melepas rem dilakukan secara manual.

 Katrol (sheaves)
 Terbuat dari cor.
 Kawat penggantung (ropes) Ropes untuk kabin lift & counter weight terbuat dari baja
berpilin
 Rel penuntun (guide rails). Untuk kabin lift & counter weight dipasang menggunakan
bracket dan terikat kuat pada struktur bangunan.
 Bandul pengimbang (counterweight)
 Terbuat dari balok besi tuang yang dipasang tersusun pada rangka baja.
 Mampu memberi keseimbangan sebesar berat kabin lift kosong ditambah 40% – 45%
berat beban maksimum
 Sepatu Penuntun (guide metal shoe), Terpasang kuat pada bagian atas & bawah kabin
lift & counterweight.
 Buffer, Terpasang dibawah sangkar lift & counter weight.
 Sangkar Lift Penumpang.
 Rangka Sangkar Elevator
 Dibuat dari profil baja yang dicat anti karat
 Pada rangka ini terdapat paling sedikit empat buah sliding type guide shoes,
dimana dua buah terletak pada bagian atas sangkar dan yang lain pada bagian
bawah sangkar tepat guide rail.
 Lantai Sangkar
 Terbuat dari plat baja yang dicat anti karat.
 Bagian bawah dilapisi peredam suara.
 Ukuran dan kekuatan sesuai kapasitas angkut

5
 Dinding Sangkar
 Terbuat dari plat baja dicat, stainless Steel Hairline Finish atau bahan lain yang dipakai
& dibuat sesuai disain Arsitektur.
 Bagian luar dilapisi peredam suara.
 Langit-langit Sangkar
 Terbuat dari plat baja yang dicat anti karat.
 Ketinggian tidak kurang dari 2300 mm dimana terdapat pintu darurat yang hanya bisa
dibuka dari atas sangkar dan dilengkapi safety switch sehingga lift tidak beroperasi
selama pintu tersebut dibuka.
 Terdapat penerangan normal & darurat dengan sumber daya dari batere yang akan
menyala pada saat listrik utama padam.
 Terdapat Exhaust Grille dengan Exhaust Fan untuk ventilasi.
 Bagian atas dilapisi peredam suara.

 Pintu Sangkar
 Terbuat dari plat baja dicat, stainless Steel Hairline Finish atau bahan lain yang dipakai
& dibuat sesuai disain Arsitektur.
 Terdiri atas dua panel side opening.
 Penggerak pintu sangkar adalah motor listrik yang dilengkapi dengan alat pengatur
kecepatan.
 Indikator Sangkar, Integrated dengan Sangkar Operating Panel dilengkapi dengan
penunjuk arah pergerakan sangkar. Indikator posisi sangkar dan bel.
 Sangkar Operating Panel
 Terbuat dari SS plate dengan hairline finish atau sesuai pesanan.
 Terdiri atas peralatan sebagai berikut :

 Pushbutton untuk setiap lantai


 Pushbutton untuk membuka pintu
 Pushbutton untuk emergency stop
 On-Off switch untuk lampu penerangan
 On-Off switch untuk exhaust fan
 Key-switch untuk indipendent operation
 Lampu dan atau buzzer tanda kelebihan penumpang
 Pushbutton untuk intercom
 Plat nama pabrik pembuat

 Tombol Lantai (Hall Button)


Terdiri atas peralatan sebagai berikut:
 Penujuk Lantai (Hall Indicator) dan Tombol Panggilan (Hall Button)
Biasanya terletak di transom atau hall button pada masing-masing lantai. Berfungsi
untuk mengetahui posisi masing-masing kereta.

6
 Saklar Parkir
Biasanya terletak di lobby utama didekat tombol lantai (hall button) berfungsi untuk
mematikan dan menjalankan lift.
 Saklar kebakaran / Fireman Switch
Sama halnya saklar parkir yang terletak di lobby utama disisi atas hall button,
berfungsi untuk mengaktifkan fungsi fireman control / fireman operation.

 Magnetic Landing Device, Untuk memberhentikan sangkar lift pada setiap lantai yang
dituju dengan toleransi +/- 5 mm dari lantai yang bersangkutan.
 Landing Door
 Mempunyai type dan dimensi yang sama dengan pintu sangkarnya.
 Dilengkapi dengan wide jamb atau narrow jamb.
 Terbuat dari plat baja dicat, stainless Steel Hairline Finish atau bahan lain yang dipakai
& dibuat sesuai disain Arsitektur.
 Dilengkapi dengan kunci pembuka secara manual dan interlock secara elektris dan
mekanis dan dilengkapi dengan alat penutup otomatis dengan weight closer.
 Door Sills dan Toe Guards o Terletak dibawah pintu, terbuat dari Extruded Alumunium
yang didudukkan pada beton yang telah disediakan.

Istilah Pada Konstruksi Lift

7
 Top Clearance (F) : Jarak ruang bebas yg aman antara bagian paling atas sangkar
dengan „plafond‟ ruang luncur jika ada orang diatas sangkar.
 Pit Depth (E): Kedalaman dari pit / bagian bawah ruang luncur/sumuran.
 Jamb : Kusen pintu lift. Ada narrow jamb dan wide jamb.
 Main Rail : Rel pemandu untuk agar sangkar bisa berjalan vertikal tidak berayun dan
sebagai sa-rana untuk pengereman darurat.
 Counterweight Rail : Rel untuk memandu jalannya bobot imbang.
 Rail Bracket : braket untuk memasang rel.
 RG, Rail Gauge : jarak ujung rel ke ujung rel yang lain.
 Counterweght : bobot imbang untuk mengim-bangi berat sangkar.
 Sangkar : Sangkar tempat berdiri penumpang naik turun.
 Overhead (C): Jarak dari lantai teratas dengan „plafond‟ ruang luncur .
 Sill : Profil alumunium dibawah pintu lift (Sangkar door dan Hall Door).
 Sangkar Door : Pintu sangkar lift.
 Hall Door atau Landing Door : Pintu luar atau Pintu lantai.
 Hall Lantern : Lampu kedip yang menunjukkan kedata-ngan lift atau arahnya.
 Traveling distance (D): Jarak gerak dari lantai paling bawah sampai lantai paling atas
dalam kondisi operasi normal.
 Door height (G) : Tinggi pintu lift.
 Main sheave : Roda utama yang ada pada mesin/motor lift.

Pada bagian berikut, kita akan melihat bagaimana unsur-unsur keselamatan ini bekerja
untuk menjaga agar tidak meluncur jatuh ke tanah jika terjadi kesalahan.

Berikut ini sebagian dari rincian fitur keselamatan yang ada pada sebuah lift:

Pengunci Kabel: Dalam sistem kabel lift, kabel


baja disambung ke simpul sangkar atas cakra
katrol (sheave). Sebuah sheave adalah sebuah
katrol dengan sisi permukaan bulat berlekuk, di
bagian atas poros lift. Alur sheave
menggenggam kabel baja. Jadi, ketika sebuah
motor listrik memutar sheave, kabel-kabel ikut
bergerak. Kabel yang mengangkat sangkar juga
terhubung ke bandul penyeimbang, yang
menggantung di sisi lain sheave

8
Sangkar dan bandul penyeimbang keduanya berjalan bersamaan tapi berlawanan arah
sepanjang rel baja.

Mesin lift tua dan berkarat dapat membuat operasi lift berhenti, tapi kemungkinan tidak
akan memutuskan semua kabel di dalam shaft lift. Setiap kabel lift terbuat dari beberapa
bahan baja panjang yang dipilin bersama satu dengan lainnya. Kabel ini sangat jarang
terputus dan pengawasan secara teratur untuk memastikan tidak ada kerusakan akibat
pemakaian. Tetapi tetap sebuah kabel baja juga bisa terputus. Lalu apa yang terjadi
kemudian?
Hampir semua katrol lift memiliki
beberapa kabel – totalnya antara
empat sampai delapan. Bahkan jika
satu kabel terputus, kabel yang
tersisa akan mampu
mempertahankan lift tetap
beroperasi dan pada kenyataannya,
hanya satu kabel saja sudah cukup.

Pengaman dan Pengaturan Governur: Mari kita berandai-andai jika semua kabel itu terputus,
safety lift akan menendang masuk pengaman sistem pengereman pada sangkar lift yang
menjepit jalur rel naik dan turun yang ada di hoistway (shaft) lift. Beberapa pengaman
menjepit rel, sementara yang lain menggerakkan ganjal apit ke dalam rel. Biasanya,
pengaman diaktifkan oleh kecepatan mekanis governur.

Governur adalah katrol yang berputar ketika lift bergerak, ketika governur berputar terlalu
cepat, gaya sentrifugal akan mengaktifkan sistem pengereman.

Pada bagian bawah lift: Jika pengaman


lift gagal, sangkar akan jatuh dengan
cepat, tetapi Anda tidak akan benar-
benar berada dalam keadaan jatuh
bebas. Gesekan dari rel di sepanjang
shaft dan tekanan dari udara di bawah
sangkar akan memperlambat sangkar
anjlok, dampaknya sangkar akan
berhenti dan anda akan terjerembab
terbanting ke lantai lift, sebab menurut
teori anda akan merasa lebih ringan dari
biasanya.
9
Akan tetapi terdapat dua hal yang akan meredam benturan:

Pertama, Sangkar lift akan menekan


udara di bagian bawah shaft ketika
jatuh, seperti piston memampatkan
udara kedalam pompa sepeda. Tekanan
udara akan memperlambat sangkar lift
ke bawah.

Kedua, Kebanyakan kawat lift memiliki


penahan terhadap guncangan (build-in
shock absorber) pada bagian bawah
shaft, biasanya seperti piston atau shock
breacker atau spiral baja di dalam
silinder berisi cairan minyak dan ini akan
meminimalisir dan melindungi dampak
juga.

Dengan semua fitur ini di tempat, Anda akan memiliki peluang bagus untuk bertahan hidup
pada setiap kecelakaan lift.

Piranti Sistim Pengaman Lift Yang Perlu Ketahui.

Ada banyak alat pengaman yang dipasang pada konstruksi lift, diantaranya:

 Circuit Breaker, berfungsi: Memutuskan sumber tenaga listrik dari panel induk (sub panel)
ke panel control lift. Menjaga peralatan elektronik dari lift jika terjadi arus lebih (over
current).
 Governoor, berfungsi: Memutuskan aliran listrik ke panel control lift jika governor
mendeteksi over speed pada traffic lift atau roda pulley governoor. Menjepit kawat sling
governor (catching).Secara mekanik bandul governor akan menjepit kawat sling
governor (rope governor) dan dengan terjepitnya sling ini,maka sling ini akan menarik
safety wedge pada unit safety gear/safety wedge yang terletak di bawah car lift dan akan
mencengkaram rail untuk melakukan pengereman secara paksa terhadap lift.
 Upper Final Limit Switch,berfungsi: Merupakan double proteksi untuk menghentikan
operasi lift jika switch batas atas gagal beroperasi.
 Lower Final Limit Switch, berfungsi : Merupakan double proteksi untuk menghentikan
opersi lift jika switch batas bawah gagal beroperasi.

10
 Upper Limit Switch, berfungsi: Berfungsi menjaga lift beroperasi melewati batas travel
lantai tertingginya.
 Lower Limit Switch, berfungsi: Menjaga lift beroperasi melewati batas travel lantai
terendahnya.
 Emergency Exit (manhole),berfungsi: Penumpang dapat di tolong/evakuasasi dari dalam
sangkar melalui manhole ini pada saat emergency.Manhole ini hanya dapat di buka dari
sisi luar bagian atas.jika pintu ini terbuka lift otomatis akan berhenti.
 Emergency Light, berfungsi: Lampu emergency akan menyala secara otomatis jika terjadi
pemdaman sumber listrik.Lampu ini dapat bertahan rata-rata sampai dengan 15 menit.
 Safety Gear/Safety Wedge, berfungsi: Melakukan pengereman (menjepit) terhadap rail
jika governor mendeteksi terjadinya over speed.
 Lock Out, berfungsi: Terletak di sisi sebelah atas dari pintu luar lift yang memungkinkan
untuk di buka jika ingin melakukan pertolongan darurat pada penumpang jika terjadi
emergency.
 Door Lock Switch,berfungsi: Mencegah pintu terbuka pada saat lift sedang beroperasi
(running).Pintu hanya dapat di buka setelah sangkar berhenti.
 Interphone,berfungsi: Penumpang dapat berkomunikasi dengan petugas teknisi
(building maintenance) di ruang mesin,ruang control atau ruang security jika terjadi
pemdaman listrik atau hal emergency.
 Safety Shoe,berfungsi: Mendeteksi gangguan pada saat pintu akan menutup dan
membuka kembali jika mendeteksi sesuatu.Photocell dapat di gunakan secara
bersamaan safety shoe ini.
 Weighing Device (pendeteksi beban),berfungsi: Memberikan / mengaktifkan buzzer
alarm pada saat weighing device ini mendeteksi beban sangkar yang berlebih.jika
weighing device ini aktif pintu lift akan tetap terbuka sampai dengan sangkar di kurang
bebannya.
 Apron, berfungsi: Mencegah penumpang terjatuh ke dalam hoistway (ruang luncur lift)
pada saat penumpang mencoba keluar ketika lift berhenti tidak level.
 Buffer, berfungsi: Jika sangkar atau counterweight (beban penyeimbang) bergerak kea
rah paling bawah,buffer akan mengurangi terjadinya shock (guncangan).

Tak seperti pada rem mobil, rem mesin lift hanya berfungsi untuk menahan lift pada saat
lift berhenti. Terjadi perlambatan lift/deselerasi tidak disebabkan oleh rem lift tetapi oleh
sistim kontrol lift. sehingga kanvas rem lift umurnya sangat lama

11
Governor berfungsi untuk memberhentikan lift jika terjadi kecepatan lebih. Cara
mematikan lift ada 2 cara:

 Mematikan lift dengan melakukan pengereman mesin melalui pemutusan saklar


governor pada kecepatan lebih tingkat pertama.
 Jika saklar governor aktif sedangkan lift masih belum berhenti, maka penjepit rope
governor (grip) akan jatuh dan rope berhenti dan mengaktifkan rem darurat
(safety device) yang ada di samping sangkar.

Setelah tali governor tertahan, rem darurat yang berada disamping kiri dan kanan
sangkar akan lansung aktif menjepit rel pemandu. Karena bentuknya yang tirus, semakin
turun sangkar, maka jepitan terhadap rel semakin kuat dan tetap memaksa sangkar
berhenti.

Pintu luar selain dilengkapi kunci kait agar selalu mengunci, juga dilengkapi dengan
saklar pengaman. Saklar ini berfungsi agar waktu pintu lift terbuka, sangkar dijamin akan
tetap berhenti. Bahaya mengancam jika pintu terbuka lift bisa jalan.

Sama seperti pada pintu luar, pintu sangkar dilengkapi dengan saklar pintu sehingga jika
pintu sangkar terbuka, lift tidak bisa jalan.

Evakuasi dalam keadaan darurat


1. Cara Meng-engkol Sangkar Lift (Manual Wheel)
1.1 Machine Roomless
 Pastikan Power Lift dalam keadaan mati.
 Tarik tuas rem (rem) yang berada didalam control panel angkat secara
perlahan.
 Perhatikan lampu merah (DZL) yang berada di control panel, jika lampu
tersebut sudah menyala lift sudah berada dalam posisi leveling.
1.2 Home Lift
 Pastikan Power Suply Lift dalam keadaan mati, dan MCB "OCB" harus dalam
keadaan OFF.
 Buka pintu lift lantai paling atas atau pintu lift yg berada satu lantai dengan
Control Panel Lift.
 Putar saklar kunci (KEY) ke posisi ON

12
 Tekan tombol CTRL 1 (warna merah) dan tombol CTRL 21 (warna kuning)
secara bersamaan hingga posisi sangkar lift dalam keadaan leveling.
* turun-naiknya sangkar lift tergantung kepada beban beratnya yang berada
dalam sangkar lift. Setelah sangkar lift dalam posisi leveling, pastikan saklar
kunci (KEY) kembali ke posist OFF.

2. Cara membuka (mencongkel) pintu lift


Masukan kunci lift (triangle key) secara perlahan lalu tekan dan putar.

Untuk type pintu center opening (bukaan pintu tengah), putar kunci lift (triangle key)
secara berlawanan arah jarum jam lalu dorong pintu lift ke arah buka
Untuk type pintu side opening (bukaan pintu), putar kunci lift (triangle key) ke arah
jarum jam pinggir lalu dorong pintu lift kea rah buka.

Fungsi-fungs Tombol/saklar
1. Control Panel Tombol Lift
 Tombol Run / Stop
Untuk me-RESTART Lift (jika terjadi error pada lift) dan meng-non aktifkan lift (safety
switch).
 Kunci Auto/Manual Lift
 Tombol hijau untuk arah naik secara manual
 Tombol merah untuk arah turun secara manual
 Saklar kunci (KEY/CONTROL)
Untuk mengoperasikan rem yang berada di mesin lift secara elektrik.
 Tombol merah/com (CTRL 1) untuk membuka rem lift secara elektrik.
 Tombol kuning (CTRL 2) untuk membuka rem lift secara elektrik.

13
 Tombol pengendali lift dalam keadaan darurat.
(khusus lift type roomless)
 MES : Saklar stop/berhenti darurat,
 TIS : Saklar switch governor
 CIS : Saklar auto/manual lift
 RTB : Tombol pengoperasian governoor jarak jauh,
 RRB : Tombol pengoperasian release jarak jauh
 DDB : Tombol darurat bawah,
 DZL : Indicator lampu leveling (manual)
 LZHS1 : Saklar lampu hoistway

2. COP (Control erating Panel)


 Saklar RUN/STOP berfungsi untuk menyalakan/mematikan Lift
 Saklar ATK berfungsi untuk auto-manua pintu.
 jika ingin menjalankan lift, tekan tombol "tutup pintu" hingga pintu lift tertutup
rapat

 Saklar NS berfungsi untuk meng-non-aktifkan tombol panggil (hall button).


Indicator hall button masih menyala (menunjukan arah naik-turun dan posisi lift,
tetapi tombol panggil tidak berfungsi.

 Saklar IND (independent) berfungsi untuk meng-non-aktifkan tombol panggil


(hall button) seperti halnya Saklar NS, akan tetapi indicator hall button dalam
keadaan mati.
 Saklar Fire adalah saklar Switch Fire.
pastikan saklar Switch Fire dalam posisi ON, apabila terjadi Rebakaran tekan ke
posisi OF pada saklar Fireman Switch yang berada di Hall Button atau Ruang
Control.
 Saklar LIGHT adalah saklar lampu didalam sangkar lift.
 Saklar FAN adalah saklar fan (kipas) didalam sangkar lift.

14
JANGAN PANIK!

 Jika lift berhenti karena listrik padam.

 Jika listrik tiba-tiba mati, lampu darurat didalam sangkar (sangkar) secara otomatis
akan segera menyala. Lampu darurat ini merupakan perlengkapan standard dari
sebuah lift yang ditenagai oleh batere NI-Cad.
 Segera cari tombol interphone atau simbol . Mintalah pertolongan pada teknisi
gedung untuk mengeluarkan anda dan tunggu sampai bantuan datang.
 Selama menunggu, jangan mencoba membuka pintu dan mencari jalan keluar
sendiri, karena linkungan sekitar ruang luncur lift berbahaya.
 Jika lift berada di pertengahan antara 2 lantai, lift akan dijalankan secara manual
dengan tangan. Tunggu sampai berhenti dan di bukakan pintu oleh teknisi.
 Setelah pintu terbuka, keluarlah dari sangkar dan melangkah hati-hati. (Pintu akan
ditutup kembali oleh teknisi setelah semua penumpang keluar)

 Jika lift di gedung anda dilengkapi dengan Alat Penyelamat Otomatis (ARD, Automatic
Rescue Device).

 Setelah listrik mati, lampu darurat akan menyala.


 Tunggu beberapa detik, maka anda akan merasakan lift bergerak menuju lantai
terdekat.
 Setelah lift berhenti, pintu akan terbuka beberapa saat. Segeralah keluar dan
melangkah hati-hati. Pintu akan otomatis tertutup lagi setelah beberapa detik.

 Jika gedung memiliki pembangkit listrik sendiri (Genset) dan tenaganya cukup untuk
semua lift.
 Setelah istrik mati, lampu darurat akan menyala.
 Tunggu anatra 10 sampai 30 detik, Listrik akan hidup kembali dan lampu sangkar
akan menyala. Kemudian tunggu beberapa detik lagi dan tombol kembali lantai
tujuan anda.

 Jika gedung memiliki pembangkit listrik sendiri (Genset) dan tenaganya hanya cukup
untuk sebagian lift.
 Setelah listrik mati, lampu darurat akan menyala.
 Tunggu anatra 10 sampai 30 detik, Listrik akan hidup kembali dan lampu sangkar
akan menyala.
 Tunggu sampai sangkar diturunkan secara bergantian ke lantai lobi utama.

15
 Setelah sampai lobi utama, keluarlah dan cari lift yang dioperasikan dalam kondisi
keterbatasan daya.

 Jika terjebak dalam sangkar karena lift mengalami kerusakkan.

 Ketika lift sedang melaju dan tiba-tiba mengalami kerusakkan, lift bisa berhenti
ditengah jalan. Jika lift dilengkapi dengan trouble rescue device, maka setelah lift
berhenti beberapa detik, lift akan segera mendarat di lantai terdekat pada kecepatan
lambat. Setelah pintu lift terbuka segeralah keluar. Pintu akan menutup kembali dan
lift tidak bisa digunakan sampai selesai diperbaiki. (Sistim rescue akan berjalan jika
tidak ada gangguan pada sistim pengaman atau rangkaian elektronik penggerak
sangkar).
 Segera cari tombol interphone, atau tekan tombol dengan simbol . Mintalah
pertolongan pada teknis gedung untuk mengeluarkan anda dan tunggu sampai
bantuan datang. Yakinkan anda bisa berkomunikasi dengan teknisi gedung yang
terlatih melakukan rescue lift yang macet.
 Selama menunggu, jangan mencoba membuka pintu dan mencari jalan keluar sendiri
karena lingkungan sekitar ruang luncur lift berbahaya bagi orang awam dan
kemungkinan lift bisa tiba-tiba bergerak. Sehingga penumpang yang berusaha keluar
sendiri bisa mengalami kecelakaan.
 Jika lift berada di pertengahan antara 2 lantai, lift akan dijalankan secara manual
dengan tangan. Tunggu sampai berhenti dan dibukakan pintu oleh teknisi.
 Setelah pintu terbuka keluarlah dari sangkar dan melangkah hati hati. (Pintu akan
ditutup kembali oleh teknisi setelah semua penumpang keluar).

 Jika Terjadi Kebakaran.

 Jika anda sedang berada diluar lift dan tahu ada kebakaran. Jangan Menggunakan
Lift. Cepat lari menuju ke tangga darurat untuk segera turun ke luar gedung.

 Jika anda sedang berada dalam lift dan ada kebakaran. Jika lift menggunakan
interkoneksi otomatis dengan fire alarm sehingga memperoleh peringatan dini. Maka
lift akan otomatis turun ke bawah ke lantai utama. Atau secepatnya keluar lift,segera
sesudah mendapat informasi ada kebakaran di suatu lantai. Ini jika liftnya tidak
memiliki sistim otomatis.

16
 Sesuai aturan international, pada saat kebakaran lift sama sekali tidak boleh
digunakan. Segera menuju tangga darurat untuk turun.. Kecuali regu pemadam
kebakaran yang menggunakan Fireman Lift (Lift Khusus Untuk Pemadam Kebakaran).
Mereka sudah dilengkapi baju untuk pemadam kebakaran yang tahan api dan tahan
panas.

 Jika ada Gempa Bumi.


 Jika lift diengkapi dengan sensor seismik, lift akan mendarat di lantai terdekat. Segera
keluar dari lift dan mencari perlindungan seperti dibawah meja yang kuat. Jika akan
turun menggunakan tangga darurat, mungkin sulit. Saat ada gempa, berdiri saja akan
sulit, apalagi mau jalan ke tangga. lebih baik cari perlindungan.
 Jika lift tidak dilengkapi sensor seismik, maka lift akan tetap jalan dan anda akan
terasa dibanting-banting. Segera keluar lift dan secepatnya berlindung.
 Setelah gempa bumi lift harus diperiksa dahulu sampai dinyatakan aman dan tidak
berbabaya untuk digunakan.

Sistem operasi lift adalah sistem otomatis yang mengontrol semua gerak satu atau
lebih lift agar efisien dan nyaman bagi pemakainya, misalnya bila ada sinyal panggilan
dari suatu lantai maka otak kontrol merespon mendeteksi dan mencari elevator yang
terdekat untuk berhenti di lantai yang memanggil. Contoh lain ialah bila suatu
elevator bebas dari panggilan dari semua lantai yang dilayaninya, maka ia otomatis
akan ‘stand by’ di lobby dengan pintu tertutup. Dengan demikian kontrol elevator ini
berfungsi mengolah sinyal panggilan, mendeteksi posisi semua elevator, merespon,
menggerakkan sangkar naik atau turun, memberi perintah berhenti, mengubah
modus operasi gerak motor dan lain-lain.

Hukum dan Perundang-undangan Nasional Indonesia tentang Lift & Eskalator :

Staddared Nasional Indonesia (SNI) Mengenai Lift dan Eskalator.

Peraturan Pembuatan, Pemasangan, Penggunaan dan Perawatan Lift: Peraturan


Menteri Tenaga Kerja RI Per 03/MEN/1999 Tentang syarat-syarat Keselamatan dan
kesehatan Kerja Lift Untuk Penumpang dan Barang.

Keputusan Tentang Syarat, Hak dan Kewajiban. Serta Sertifikasi Teknisi Lift Agen
Pemegang Merek dan Teknisi Gedung Yang Menangani Lift: Keputusan No. Kep-
407/BW/1999 Tentang Persyaratan, Penunjukkan, Hak dan kewajiban Teknisi Lift.

Undang-Undang Mengenai Persyaratan Keselamatan Kerja, kecelakaan, Hak dan


Kewajiban Tenaga Kerja dan Pengurus Perusahaan dll : Undang-Undang no. 1 Tahun
1970 Tentang Keselamatan Kerja.

17

Anda mungkin juga menyukai