Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Kehamilan ektopik terganggu (KET) adalah kegawat daruratan obstetrik yang
mengancam nyawa ibu dan kelangsungan hidup janin, serta merupakan salah satu penyebab
utama mortalitas ibu, khususnya pada trimester pertama. Sering kali KET dijumpai terlebih
dahulu bukan oleh dokter-dokter ahli kebidanan, melainkan dokter-dokter yang bekerja di unit
gawat darurat, sehingga hal ini perlu diketahui oleh setiap dokter. 1,2
Di masa lampau KET hampir selalu fatal, namun berkat perkembangan alat diagnostik
yang canggih morbiditas maupun mortalitas akibat KET jauh berkurang. Meskipun demikian,
kehamilan ektopik masih merupakan salah satu masalah utama dalam bidang obstetri.
Perkembangan teknologi fertilitas dan kontrasepsi memang di satu sisi menyelesaikan masalah
infertilitas maupun KB, namun di sisi lain menciptakan masalah baru. Dengan diagnosis yang
tepat dan cepat kesejahteraan ibu, bahkan janin, dapat ditingkatkan.1,2

I.2 Epidemiologi
Insidens kehamilan ektopik yang sesungguhnya sulit ditetapkan. Meskipun secara
kuantitatif mortalitas akibat KET berhasil ditekan, persentase insidens dan prevalensi KET
cenderung meningkat dalam dua dekade ini. Dengan berkembangan alat diagnostik canggih,
semakin banyak kehamilan ektopik yang terdiagnosis sehingga semakin tinggi pula insidens dan
prevalensinya. Keberhasilan kontrasepsi seperti AKDR meningkatkan persentase kehamilan
ektopik, karena keberhasilan kontrasepsi hanya menurunkan angka terjadinya kehamilan uterin,
bukan kehamilan ektopik. Meningkatnya prevalensi infeksi tuba juga meningkatkan kejadian
kehamilan ektopik. Selain itu, perkembangan teknologi di bidang reproduksi, seperti fertilisasi in
vitro, ikut berkontribusi terhadap peningkatan frekuensi kehamilan ektopik.2,4
Di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo pada tahun 1987 terdapat 153 kehamilan
ektopik diantara 4.007 persalinan atau 1 diantara 26 persalinan. Di Amerika Serikat, kehamilan
ektopik terjadi pada 1 dari 64 hingga 1 dari 241 kehamilan, dan 85-90% kasus kehamilan ektopik

1
didapatkan pada multigravida.2 Sebagian besar wanita yang mengalami kehamilan ektopik
berumur antara 20-40 tahun dengan umur rata-rata 30 tahun. Frekuensi kehamilan ektopik yang
berulang dilaporkan berkisar antara 0%-14,6%.1,2

2
BAB II
PEMBAHASAN

II.1 Definisi
Kehamilan Ektopik adalah kehamilan yang terjadi bila telur yang dibuahi berimplantasi
dan tumbuh diluar endometrium kavum uteri, seperti di ovarium, tuba, serviks, bahkan rongga
abdomen. Istilah kehamilan ektopik terganggu (KET) merujuk pada keadaan di mana timbul
gangguan pada kehamilan tersebut sehingga terjadi abortus maupun ruptur yang menyebabkan
penurunan keadaan umum pasien.2
Sebagian besar kehamilan ektopik berlokasi di tuba. Sangat jarang terjadi implantasi pada
ovarium, rongga perut, kanalis servikalis uteri, tanduk uterus yang rudimenter, dan divertikel
pada uterus. Berdasarkan implantasi hasil konsepsi pada tuba, terdapat kehamilan pars
interstisialis tuba, pars ismika tuba, pars ampullaris tuba, dan kehamilan infundibulum tuba.
Kehamilan diluar tuba ialah kehamilan ovarial, kehamilan intraligamenter, kehamilan servikal,
dan kehamilan abdominal yang bisa primer atau sekunder.1,2,3

II.2 Etiologi
Kehamilan ektopik pada dasarnya disebabkan oleh segala hal yang menghambat
perjalanan zigot menuju kavum uteri. Faktor-faktor mekanis yang menyebabkan kehamilan
ektopik antara lain: riwayat operasi tuba, salpingitis, perlekatan tuba akibat operasi non-
ginekologis seperti apendektomi, pajanan terhadap diethylstilbestrol, salpingitis isthmica
nodosum (penonjolan-penonjolan kecil ke dalam lumen tuba yang menyerupai divertikula), dan
alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR). Hal-hal tersebut secara umum menyebabkan perlengketan
intra- maupun ekstraluminal pada tuba, sehingga menghambat perjalanan zigot menuju kavum
uteri. Selain itu ada pula faktor-faktor fungsional, yaitu perubahan motilitas tuba yang
berhubungan dengan faktor hormonal dan defek fase luteal2,5
Dalam hal ini gerakan peristalsis tuba menjadi lamban, sehingga implantasi zigot terjadi
sebelum zigot mencapai kavum uteri. Dikatakan juga bahwa meningkatnya usia ibu akan diiringi
dengan penurunan aktivitas mioelektrik tuba. Teknik-teknik reproduktif seperti gamete

3
intrafallopian transfer dan fertilisasi in vitro juga sering menyebabkan implantasi ekstrauterin.
Ligasi tuba yang tidak sempurna memungkinkan sperma untuk melewati bagian tuba yang
sempit, namun ovum yang telah dibuahi sering kali tidak dapat melewati bagian tersebut. Alat
kontrasepsi dalam rahim selama ini dianggap sebagai penyebab kehamilan ektopik2.
Namun ternyata hanya AKDR yang mengandung progesteron yang meningkatkan
frekuensi kehamilan ektopik. AKDR tanpa progesteron tidak meningkatkan risiko kehamilan
ektopik, tetapi bila terjadi kehamilan pada wanita yang menggunakan AKDR, besar
kemungkinan kehamilan tersebut adalah kehamilan ektopik.2

II.3 Faktor Resiko


Terdapat berbagai factor resiko yang berkaitan dengan kejadian kehamilan ektopik,
diantaranya:
• Riwayat kehamilan ektopik sebelumnya
Setelah satu kehamilan ektopik, resiko pasien untuk mengalami kehamilan ektopik
selanjutnya meningkat 7-13 kali lipat. Secara keseluruhan, pasien dengan riwayat
kehamilan ektopik memiliki kesempatan 50-80 % untuk mengalami tuba lagi.
• Riwayat pembedahan pada tuba
Riwayat pemebedahan pada tuba sepertisalpingostomi, fimbrioplasti, reanastomosis tuba
dan pembebasan perlekatan perituba atau periovarium meningkatkan angka kejadian
kehamilan ektopik. Resiko kehamilan ektopik juga meningkat pada wanita yang
menjalani ligasi tuba, tapi hanya 7,3 per 1000 dalam 10 tahun.
• Paparan diethylstilbestrol terhadap uterus, pengguna kontrasepsi oral (terutama
progesterone tunggal dan estrogen tinggi pasca ovulas )
• Riwayat infeksi genital, infeksi tuba
• Pelvic Inflammatory Disease (PID)
Beka sradang pada tuba menyebabkan perubahan-perubahan pada endosalping sehingga
walaupn fertilisasi masih dapat terjadi, gerakan ovum ke uterus terlambat. Riwayat
salpingitis meningkatkan resiko kehamilan ektopik 4 kali lipat. Angka kejadian tuba
meningkat setelah PID yang berturut-turut 913% setelah 1 episode, 35 % setelah 2
episode, 75 % setelah 3 episode).

4
• Faktor kerusakan dari saluran tuba. Telur yang sudah dibuahi mengalami
kesulitan melalui saluran tersebut sehingga menyebabkan telur melekat dan
tumbuh di dalam saluran tuba. Beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan
gangguan saluran tuba diantaranya adalah :
a. Merokok : kehamilan ektopik meningkat sebesar 1,6 – 3,5 kali dibandingkan wanita
yang tidak merokok. Hal ini disebabkan karena merokok menyebabkan penundaan
masa ovulasi (keluarnya telur dari indung telur), gangguan pergerakan sel rambut silia
di saluran tuba, dan penurunan kekebalan tubuh
b. Penyakit Radang Panggul : menyebabkan perlekatan di dalam saluran tuba, gangguan
pergerakan sel rambut silia yang dapat terjadi karena infeksi kuman TBC, klamidia,
gonorea
c. Endometriosis tuba : dapat menyebabkan jaringan parut di sekitar saluran tuba
d. Tindakan medis : seperti operasi saluran tuba atau operasi daerah panggul,
pengobatan infertilitas seperti bayi tabung, menyebabkan parut pada rahim dan
saluran tuba
e. Penyempitan lumen tuba oleh karena infeksi endosalfing
f. Tuba sempit, panjang dan berlekuk-lekuk .
g. Gangguan fungsi rambut getar ( silia ) tuba
h. Operasi dan sterilisasi tuba yang tidak sempurna
i. Striktur tuba
j. Divertikel tuba dan kelainan congenital lainnya
k. Perleketan peritubal dan lekukan tuba
l. Tumor lain menekan tuba
m. Lumen kembar dan sempit
• Faktor uterus
a. Tumor rahim yang menekan tuba
b. Uterus hipoplastis
• Faktor ovum
a. Migrasi eksterna dari ovum
b. Perlengketan membrane granulose
c. Rapid cell devision

5
d. Migrasi internal ovum

II.4 Patogenesis
Proses implantasi ovum yang dibuahi yang terjadi di tuba pada dasarnya sama halnya di
kavum uteri. Ovum yang telah dibuahi di tuba bermidasi secara kolumner atau interkolumner.
Pada yang pertama, hasil konsepsi berimplantasi pada ujung atau sisi jonjot endosalping.
Perkembangan hasil konsepsi selanjutnya dibatasi oleh kurangnya vaskularisasi dan biasanya
hasil konsepsi mati secara dini dan kemudian direabsorbsi. Pada nidasi secara interkolumner
hasil konsepsi bernidasi antar 2 jonjot endosalping. Setelah tempat nidasi tertutup maka hasil
konsepsi dipisahkan dari lumen tuba oleh lapisan jaringan yang menyerupai desidua dan
dinamakan pseudokapsularis. Karena pembentukan desidua di tuba tidak sempurna, dengan
mudah vili korialis menembus endosalping dan masuk ke dalam lapisan otot-otot tuba dengan
merusak jaringan dan pembuluh darah.1,2
Di bawah pengaruh hormon estrogen dan progesteron dari korpus luteum gravidatum dan
trofoblas, uterus menjadi besar dan lembek, endometrium dapat berubah pula menjadi desidua.
Dapat pula ditemukan perubahan pada endometrium yang disebut fenomena Arias-Stella, dimana
sel epitel membesar dengan intinya hipertrofik, hiperkromatik, lobuler dan berbentuk tak teratur.
Sitoplasma sel dapat berlubang-lubang dan kadang-kadang ditemukan mitosis. Setelah janin
mati, desidua dalam uterus mengalami degenarasi dan kemudian dikeluarkan berkeping-keping
tetapi kadang-kadang dikeluarkan secara utuh. Perdarahan yang dijumpai pada kehamilan
ektopik terganggu berasal dari uterus dan disebabkan oleh pelepasan desidua degeneratif 1,2,6.
Mengenai nasib kehamilan dalam tuba terdapat beberapa kemungkinan. Karena tuba
bukan tempat untuk pertumbuhan hasil konsepsi, tidak mungkin janin bertumbuh secara utuh
seperti dalam uterus. Sebagian besar kehamilan tuba terganggu pada umur kehamilan 6 sampai
10minggu.1
Berakhirnya kehamilan tuba ada 2 cara, yaitu abortus tuba dan ruptur tuba5,6.
1. Abortus Tuba
Terjadi karena hasil konsepsi bertambah besar menembus endosalping (selaput lendir
tuba ), masuk kelumen tuba dan dikeluarkan ke arah infundibulum. Hal ini terutama terjadi kalau
konsepsi berimplantasi di daerah ampula tuba. Di sini biasanya hasil konsepsi tertanam kolumner
karena lipatan-lipatan selaput lendir tinggi dan banyak. Lagipula disini, rongga tuba agak besar

6
sehingga hasil konsepsi mudah tumbuh kearah rongga tuba dan lebih mudah menembus desidua
kapsularis yang tipis dari lapisan otot tuba. Abortus terjadi kira-kira antara minggu ke 6-12.
Perdarahan yang timbul karena abortus keluar dari ujung tuba dan mengisi kavum douglasi,
terjadilah hematokel retrouterin. Ada kalanya ujung tuba tertutup karena perlekatan-perlekatan
hingga darah terkumpul di dalam tuba dan mengembungkan tuba yang disebut hematosalpning.
2. Ruptur Tuba
Hasil konsepsi menembus lapisan otot tuba ke arah kavum peritoneum. Hal ini terutama
terjadi kalau implantasi hasil konsepsi dalam istmus tuba. Pada peristiwa ini, lipatan-lipatan
selaput lendir tidak seberapa, jadi besar kemungkinan implantasi interkolumner. Trofoblas cepat
sampai ke lapisan otot tuba dan kemungkinan pertumbuhan ke arah rongga tuba kecil karena
rongga tuba sempit. Oleh karena itu, hasil konsepsi menembus dinding tuba ke arah rongga perut
atau perineum. Ruptur pada isthmus tuba terjadi sebelum kehamilan minggu ke-12 karena
dinding tuba disini tipis, tetapi ruptur pada pars interstisialis terjadi lambat kadang-kadang baru
pada bulan ke-4 karena disini otot tebal. Ruptur bisa terjadi spontan ataupun karena trauma,
misalnya karena periksa dalam, defekasi, koitus. Pada ruptur tuba, seluruh telur dapat melalui
robekan dan masuk ke dalam kavum peritoneum, hasil konsepsi yang keluar dari tuba itu sudah
mati. Bila hanya janin yang melalui robekan dan plasenta tetap melekat pada dasarnya,
kehamilan dapat berlangsung terus dan berkembang sebagai kehamilan abdominal

II.5 Gambaran Klinis


Gambaran klinis kehamilan ektopik tergantung dari dua bentuk, yaitu :
a. Apakah kehamilan ektopik masih utuh
b. Apakah kehamilan ektopik sudah ruptur sehingga terdapat timbunan darah
intraabdominal yang menimbulkan gejala klinis
1. Gejala Subjektif
Sebagian besar pasien merasakan nyeri abdomen, keterlambatan menstruasi dan
perdarahan per vaginam. Nyeri yang diakibatkan ruptur tuba berintensitas tinggi dan terjadi
secara tiba-tiba. Penderita dapat jatuh pingsan dan syok. Nyeri akibat abortus tuba tidak sehebat
nyeri akibat ruptur tuba, dan tidak terus-menerus. Pada awalnya nyeri terdapat pada satu sisi,
tetapi setelah darah masuk ke rongga abdomen dan merangsang peritoneum, nyeri menjadi
menyeluruh. Perdarahan per vaginam berasal dari pelepasan desidua dari kavum uteri dan dari

7
abortus tuba. Umumnya perdarahan tidak banyak dan berwarna coklat tua. Keterlambatan
menstruasi tergantung pada usia gestasi. Penderita mungkin tidak menyangka bahwa dirinya
hamil, atau menyangka dirinya hamil normal, atau mengalami keguguran (abortus tuba).
Sebagian penderita tidak mengeluhkan keterlambatan haid karena kematian janin terjadi sebelum
haid berikutnya. Kadang-kadang pasien merasakan nyeri yang menjalar ke bahu. Hal ini
disebabkan iritasi diafragma oleh hemoperitoneum.5,6,7

2. Temuan objektif
Pada kasus-kasus yang dramatis, sering kali pasien datang dalam keadaan umum yang
buruk karena syok. Tekanan darah turun dan frekuensi nadi meningkat. Darah yang masuk ke
dalam rongga abdomen akan merangsang peritoneum, sehingga pada pasien ditemukan tanda-
tanda rangsangan peritoneal (nyeri tekan, nyeri ketok, nyeri lepas, defense musculaire). Bila
perdarahan berlangsung lamban dan gradual, dapat dijumpai tanda anemia pada pasien.
Hematosalping akan teraba sebagai tumor di sebelah uterus. Dengan adanya hematokel
retrouterina, kavum Douglas teraba menonjol dan nyeri pada pergerakan (nyeri goyang porsio).
Di samping itu dapat ditemukan tanda-tanda kehamilan, seperti pembesaran uterus.3,5,7
Kehamilan ektopik intak Kehamilan ektopik dengan rupture
1. Amenore
2. Rasa tidak nyaman diabdomen
3. Perdarahan pervaginam
4. Pemeriksaan vaginal :
• Nyeri gerak serviks
• Adneksa tegang atau teraba massa
• Massa adneksa terasa nyeri saat palpasi
5. Tanda perdarahan intra abdominal negative
6. Kesimpulan diagnosis sulit
7. Terdapat trias rupture kehamilan ektopik :
• Amenore
• Nyeri abdomen mendadak
• Terdapat perdarahan

8
8. Perdarahan pervaginam akibat :
• Deskuamasi endometrium
• Aliran darah melalui tuba fallopi
9. Tanda perdarahan intraabdominal positif
• Palpasi abdomen nyeri akibat iritasi peritoneum
10. Pemeriksaan dalam :
• Terdapat nyeri goyang serviks
• Kavum douglasi menonjol dan nyeri
• Perdarahan pervaginam

II.6 Diagnosis
Diagnosis kehamilan ektopik terganggu ditegakkan dengan:
1. Anamnesis 4
Haid biasanya terlambat untuk beberapa waktu dan kadang-kadang terdapat gejala
subjektif kehamilan muda. Nyeri perut bagian bawah, nyeri bahu, tenesmus. Perdarahan
pervaginam terjadi setelah nyeri perut bagian bawah.
2. Pemeriksaan Umum4
penderita tampak kesakitan dan pucat, pada perdarahan dalam rongga perut tanda-tanda
syok dapat ditemukan.
3. Pemeriksaan Ginekologi 4
Tanda-tanda kehamilan muda mungkin ditemukan. Pergerakan serviks menyebabkan
nyeri. Bila uterus diraba, maka akan teraba sedikit membesar dan kadang-kadang teraba
tumor di samping uterus dengan batas yang sukar ditentukan. Kavum douglasi menonjol
dan nyeri raba menunjukkan adanya hematokel retrouterina. Suhu kadang naik sehingga
menyulitkan perbedaan dengan infeksi pelvik.
4. Pemeriksaan Penunjang
• Hemoglobin, hematokrit, dan hitung leukosit
Pemeriksaan hemoglobin (Hb) dan jumlah sel darah merah berguna menegakkan
diagnosa kehamilan ektopik terganggu, terutama bila ada tanda-tanda perdarahan
dalam rongga perut. Perlu diingat, bahwa turunnya Hb disebabkan darah
diencerkan oleh air dari jaringan untuk mempertahankan volume darah. Hal ini

9
memerlukan waktu 1-2 hari. Mungkin pada pemeriksaan Hb yang pertama-tama
kadar Hb belum seberapa turunnya maka kesimpulan adanya perdarahan
didasarkan atas penurunan kadar Hb pada pemeriksaan Hb berturut-turut. Derajat
leukositosis sangat bervariasi pada kehamilan ektopik yang mengalami ruptur,
nilainya bisa normal sampai 30.000/µl.3,6
• Gonadotropin korionik (hCG Urin)
Tes urin paling sering menggunakan tes slide inhibisi aglutinasi dengan
sensitivitas untuk gonadotropin korionik dalam kisaran 500 sampai 800 mlU/ml.
Kemungkinan bernilai positif pada kehamilan ektopik hanya sampai 50-60%.
Kalaupun digunakan tes jenis tabung, dengan gonadotropin korionik berkisar
antara 150-250 mlU/ml, dan tes ini positif pada 80-85% kehamilan ektopik. Tes
yang menggunakan ELISA (Enzyme-Linked Immunoabsorbent Assays) sensitif
untuk kadar 10-50 mlU/ml dan positif pada 95% kehamilan ektopik.3
• β-hCG serum
Pengukuran kadar β-hCG secara kuantitatif adalah standar diagnostik untuk
mendiagnosa kehamilan ektopik. Pada kehamilan normal intrauterin, kadar β-
hCG serum naik 2 kali lipat tiap 2 hari selama kehamilan. Peningkatan kadar β-
hCG serum kurang dari 66% menandakan suatu kehamilan intrauterin abnormal
atau kehamilan ektopik. Pemeriksaan β-hCG serum secara berkala perlu
dilakukan untuk membedakan suatu kehamilan normal atau tidak dan memantau
resolusi kehamilan ektopik setelah terapi.5
• Kuldosentesis
Kuldosentesis adalah suatu cara pemeriksaan untuk mengetahui ada tidaknya
darah dalam kavum douglasi atau mengidentifikasi hematoperitoneum. Serviks
ditarik kedepan kearah simfisis dengan tenakulum, dan jarum ukuran 16 atau 18
dimasukkan melalui forniks posterior kedalam kavum douglasi. Bila ditemukan
darah, maka isinya disemprotkan pada kain kasa dan perhatikan darah yang
dikeluarkan merupakan :3,5
a. darah segar berwarna merah yang dalam beberapa menit akan membeku, darah
ini berasal dari arteri atau vena yang tertusuk.

10
b. Darah berwarna coklat sampai hitam yang tidak membeku atau yang berupa
bekuan kecil, darah ini menunjukkan adanya hematokel retrouterina.
Untuk mengatakan bahwa punksi kavum douglasi positif, artinya adanya
perdarahan dalam rongga perut dan darah yang diisap mempunyai sifat warna
merah tua, tidak membeku setelah diisap, dan biasnya di dalam terdapat
gumpalan-gumpalan darah yang kecil.
• Ultrasonografi
Ultrasonografi abdominal berguna dalam diagnostik kehamilan ektopik.
Diagnosis pasti ialah apabila ditemukan kantung gestasi diluar uterus yang
didalamnya terdapat denyut jantung janin.1 Pada kehamilan ektopik terganggu
dapat ditemukan cairan bebas dalam rongga peritoneum terutama dalam kavum
douglasi.
Ultrasonografi transvaginal dapat digunakan untuk memperlihatkan kehamilan
intrauterine pada hari ke-24 pascaovulasi, atau 38 hari setelah periode menstruasi
terakhir, yaitu lebih awal 1 minggu dibandingkan USG transabdominal. Kantung
gestasi merupakan struktur pertama yang dikenaldengan USG transvaginal.
Uterus yang kosong dengan kontraksi BhCG >1500 U/mL mengindentifikasi
adanya kehamilan ektopik.
• Laparoskopi
Laparoskopi hanya digunakan sebagai alat bantu diagnostik terakhir untuk
kehamilan ektopik, apabila hasil penilaian prosedur diagnostik yang lain
meragukan. Melalui prosedur laparaskopik, alat kandungan bagian dalam dapat
dinilai. Secara sistematis dinilai keadaan uterus, ovarium, tuba, kavum douglasi,
dan ligamentum latum. Adanya darah dalam rongga pelvis mungkin mempersulit
visualisasi alat kandungan. Akan tetapi hal ini menjadi indikasi untuk dilakukan
laparatomi.1,2
• Laparatomi
Tindakan ini lebih disukai jika wanita tersebut secara hemodinamik tidak stabil
atau tidak mungkin dilakukan laparoskopi.3

11
II.7 Diagnosis Banding 7
1) Infeksi Pelvis
Gejala yang menyertai infeksi pelvik biasanya timbul waktu haid dan jarang setelah
mengalami amenore. Nyeri perut bagian bawah dan tahanan yang dapat diraba pada pemeriksaan
vaginal pada umumnya bilateral. Pada infeksi pelvik perbedaan suhu rektal dan axilla melebihi
0,5’C. Selain itu, leukositosis lebih tinggi daripada kehamilan ektopik dan tes kehamilan negatif.
Biasanya ada riwayat serangan nyeri perut sebelumnya.
2) Abortus imminens atau insipiens
Perdarahan lebih banyak dan lebih merah sesudah amenore, rasa nyeri yang berlokasi di
sekitar median dan bersifat mules lebih menunjukkan kearah abortus imminens atau permulaan
abortus insipiens. Pada abortus tidak dapat diraba tahanan di samping atau di belakang uterus
dan gerakan serviks uteri tidak menimbulkan rasa nyeri. Pada abortus, umumnya perdarahan
lebih banyak dan sering ada pembukaan portio serta uterus biasanya besar dan lunak.
3) Ruptur korpus luteum
Peristiwa ini biasanya terjadi di pertengahan siklus haid. Perdarahan pervaginam tidak
ada dan tes kehamilan negatif
4) Torsi kista ovarium
Gejala dan tanda kehamilan muda, amenore, dan perdarahan pervaginam biasanya tidak
ada. Tumor pada kista ovarium lebih besar dan lebih bulat daripada kehamilan ektopik.
5) Appendisitis
Tidak ditemukan tumor dan nyeri tekan pada gerakan serviks tidak seberapa nyata seperti
pada kehamilan ektopik. Nyeri perut bagian bawah pada appendisitis terletak pada titik
McBurney.

II.8 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan kehamilan ektopik tergantung pada beberapa hal, antara lain lokasi kehamilan
dan tampilan klinis.
• Penatalaksanaan Ekspektasi
Penatalaksanaan ekspektasi didasarkan pada fakta bahwa sekitar 75% pasien dengan
kehamilan ektopik akan mengalami penurunan kadarβ -hCG. Pada penatalaksanaan
ekspektasi, kehamilan ektopik dini dengan kadar β -hCG yang stabil atau cenderung turun

12
diobservasi ketat. Oleh sebab itu, tidak semua pasien dengan kehamilan ektopik dapat
menjalani penatalaksanaan seperti ini. Penatalaksanaan ekspektasi dibatasi pada β -hCG
yang keadaan-keadaan berikut:
1) kehamilan ektopik dengan kadar menurun,
2) kehamilan tuba,
3) tidak ada perdarahan intraabdominal atau ruptur, dan
4) diameter massa ektopik tidak melebihi 3.5 cm. Sumber lain menyebutkan bahwa kadarβ -
hCG awal harus kurang dari 1000 mIU/mL,β dan diameter massa ektopik tidak melebihi 3.0
cm. Dikatakan bahwa penatalaksanaan ekspektasi ini efektif pada 47-82% kehamilan
tuba.1,2,3,7
• Penatalaksanaan Medis
Pada penatalaksanaan medis digunakan zat-zat yang dapat merusak integritas jaringan dan
sel hasil konsepsi. Kandidat-kandidat penerima tatalaksana medis harus memiliki syarat-
syarat berikut ini: keadaan hemodinamik yang stabil, bebas nyeri perut bawah, tidak ada
aktivitas jantung janin, tidak ada cairan bebas dalam rongga abdomen dan kavum Douglas,
harus teratur menjalani terapi, harus menggunakan kontrasepsi yang efektif selama 3-4 bulan
pascaterapi, tidak memiliki penyakit-penyakit penyerta, sedang tidak menyusui, tidak ada
kehamilan intrauterin yang koeksis, memiliki fungsi ginjal, hepar dan profil darah yang
normal, serta tidak memiliki kontraindikasi terhadap pemberian methotrexate. Berikut ini
akan dibahas beberapa metode terminasi kehamilan ektopik secara medis.2,3,7
1. Methotrexate
Methotrexate adalah obat sitotoksik yang sering digunakan untuk terapi keganasan,
termasuk penyakit trofoblastik ganas. Pada penyakit trofoblastik, methotrexate akan
merusak sel-sel trofoblas, dan bila diberikan pada pasien dengan kehamilan ektopik,
methotrexate diharapkan dapat merusak sel-sel trofoblas sehingga menyebabkan
terminasi kehamilan tersebut. Seperti halnya dengan penatalaksanaan medis untuk
kehamilan ektopik pada umumnya, kandidat-kandidat untuk terapi methotrexate harus
stabil secara hemodinamis dengan fungsi ginjal, hepar dan profil darah yang normal.3
Harus diketahui pula bahwa terapi methotrexate maupun medis secara umum mempunyai
angka kegagalan sebesar 5-10%, dan angka kegagalan meningkat pada usia gestasi di atas
6 minggu atau bila massa hasil konsepsi berdiameter lebih dari 4 cm. Pasien harus

13
diinformasikan bahwa bila terjadi kegagalan terapi medis, pengulangan terapi diperlukan,
dan pasien harus dipersiapkan untuk kemungkinan menjalani pembedahan. Selain itu,
tanda-tanda kehamilan ektopik terganggu harus selalu diwaspadai. Bila hal tersebut
terjadi, pasien harus sesegera mungkin menjalani pembedahan. Senggama dan konsumsi
asam folat juga dilarang.3,7 Tentunya methotrexate menyebabkan beberapa efek samping
yang harus diantisipasi, antara lain gangguan fungsi hepar, stomatitis, gastroenteritis dan
depresi sumsum tulang. Beberapa prediktor keberhasilan terapi dengan methotrexate
yang -β hCG, disebutkan dalam literatur antara lain kadar aktivitas progesteron, jantung
janin, ukuran massa hasil konsepsi dan ada/tidaknya cairan bebas dalam rongga
peritoneum.
Methotrexate dapat diberikan dalam dosis tunggal maupun dosis multipel. Dosis tunggal
yang diberikan adalah 50 mg/m2 (intramuskular), sedangkan dosis multipel yang
diberikan adalah sebesar 1 mg/kg (intramuskular) pada hari pertama, ke-3, 5, dan hari ke-
7. Pada terapi dengan dosis multipel leukovorin ditambahkan ke dalam regimen
pengobatan dengan dosis 0.1 mg/kg (intramuskular), dan diberikan pada hari ke-2, 4, 6
dan 8. Terapi methotrexate dosis multipel tampaknya memberikan efek negatif pada
patensi tuba dibandingkan dengan terapi methotrexate dosis tunggal 9. Methotrexate
dapat pula diberikan melalui injeksi per laparoskopi tepat ke dalam massa hasil konsepsi.
Terapi methotrexate dosis tunggal adalah modalitas terapeutik paling ekonomis untuk
kehamilan ektopik yang belum terganggu.2,3,7
2. Actinomycin
Neary dan Rose melaporkan bahwa pemberian actinomycin intravena selama 5 hari
berhasil menterminasi kehamilan ektopik pada pasien-pasien dengan kegagalan terapi
methotrexate sebelumnya.2,3,7
3. Larutan Glukosa Hiperosmolar
Injeksi larutan glukosa hiperosmolar per laparoskopi juga merupakan alternatif terapi
medis kehamilan tuba yang belum terganggu. Yeko dan kawan-kawan melaporkan
keberhasilan injeksi larutan glukosa hiperosmolar dalam menterminasi kehamilan tuba.
Namun pada umumnya injeksi methotrexate tetap lebih unggul. Selain itu, angka
kegagalan dengan terapi injeksi larutan glukosa tersebut cukup tinggi, sehingga alternatif
ini jarang digunakan.3,7

14
• Penatalaksanaan bedah dapat dikerjakan pada pasien-pasien dengan kehamilan tuba yang
belum terganggu maupun yang sudah terganggu. Tentu saja pada kehamilan ektopik
terganggu, pembedahan harus dilakukan secepat mungkin. Pada dasarnya ada 2 macam
pembedahan untuk menterminasi kehamilan tuba, yaitu pembedahan konservatif, di mana
integritas tuba dipertahankan, dan pembedahan radikal, di mana salpingektomi dilakukan.
Pembedahan konservatif mencakup 2 teknik yang kita kenal sebagai salpingostomi dan
salpingotomi. Selain itu, macam-macam pembedahan tersebut di atas dapat dilakukan
melalui laparotomi maupun laparoskopi. Namun bila pasien jatuh ke dalam syok atau tidak
stabil, maka tidak ada tempat bagi pembedahan per laparoskopi.3,7,9
1. Salpingostomi2,3,6,7,9
Salpingostomi adalah suatu prosedur untuk mengangkat hasil konsepsi yang
berdiameter kurang dari 2 cm dan berlokasi di sepertiga distal tuba fallopii. Pada
prosedur ini dibuat insisi linear sepanjang 10-15 mm pada tuba tepat di atas hasil
konsepsi, di perbatasan antimesenterik. Setelah insisi hasil konsepsi segera terekspos
dan kemudian dikeluarkan dengan hati-hati. Perdarahan yang terjadi umumnya sedikit
dan dapat dikendalikan dengan elektrokauter. Insisi kemudian dibiarkan terbuka
(tidak dijahit kembali) untuk sembuh per sekundam. Prosedur ini dapat dilakukan
dengan laparotomi maupun laparoskopi. Metode per laparoskopi saat ini menjadi gold
standard untuk kehamilan tuba yang belum terganggu.
2. Salpingotomi
Pada dasarnya prosedur ini sama dengan salpingostomi, kecuali bahwa pada
salpingotomi insisi dijahit kembali. Beberapa literatur menyebutkan bahwa tidak ada
perbedaan bermakna dalam hal prognosis, patensi dan perlekatan tuba pascaoperatif
antara salpingostomi dan salpingotomi.7,8,9
3. Salpingektomi
Reseksi tuba dapat dikerjakan baik pada kehamilan tuba yang belum maupun yang
sudah terganggu, dan dapat dilakukan melalui laparotomi maupun laparoskopi.
Salpingektomi diindikasikan pada keadaan-keadaan berikut ini:7,8,9
1) kehamilan ektopik mengalami ruptur (terganggu),
2) pasien tidak menginginkan fertilitas pascaoperatif,
3) terjadi kegagalan sterilisasi,

15
4) telah dilakukan rekonstruksi atau manipulasi tuba sebelumnya,
5) pasien meminta dilakukan sterilisasi,
6) perdarahan berlanjut pascasalpingotomi,
7) kehamilan tuba berulang,
8) kehamilan heterotopik, dan
9) massa gestasi berdiameter lebih dari 5 cm.
4. Evakuasi Fimbrae dan Fimbraektomi
Bila terjadi kehamilan di fimbrae, massa hasil konsepsi dapat dievakuasi dari fimbrae
tanpa melakukan fimbraektomi. Dengan menyemburkan cairan di bawah tekanan
dengan alat aquadisektor atau spuit, massa hasil konsepsi dapat terdorong dan lepas
dari implantasinya. Fimbraektomi dikerjakan bila massa hasil konsepsi berdiameter
cukup besar sehingga tidak dapat diekspulsi dengan cairan bertekanan.7,8,9

II.8 Komplikasi
Komplikasi dapat muncul sebagai akibat kehamilan ektopik yang terganggu ataupun
akibat tatalaksana yang diberikan, antara lain :
• Syok hipovolemik
• Infeksi
• Kehilangan organ reproduksi setelah operasi
• Infertilitas
• Fistula urinarius atau intestinal akibat komplikasi operasi
• Disseminated intravascular coagulation

II.9 Prognosis
Prognosis umumnya baik pada kehamilan ektopik yang terdiagnosis secara dini dan
diberikan terapi yang tepat fertilitas dapat dipertahankan pada kondisi ini namun apabila
diagnosis kehamilan ektopik terganggu sudah pada tahap yang lanjut dimana telah terdapat
kerusakan tuba maka dapat menurunkan fertilitas. Pada umunya kelainan yang menyebabkan
kehamilan ektopik bersifat bilateral. Sebagian wanita menjadi steril, setelah mengalami
kehamilan ektopik, atau dapat mengalami ektopik lagi pada tuba yang lain.

16
Ibu yang pernah mengalami kehamilan ektopik terganggu, mempunyai resiko 10% untuk
terjadinya kehamilan ektopik terganggu berulang. Ibu yang sudah mengalami kehamilan ektopik
terganggu sebanyak dua kali terdapat kemungkinan 50% mengalami kehamilan ektopik
terganggu berulang .11

17