Anda di halaman 1dari 4

Ibu Kita Khadijah

Gambar Pemeran Istri Umar dalam Film “Omar”

Telah diuraikan kehidupan khadijah Radiyallahu’anha nan mulia dalam banyak kitab. Berikut analisa
kami tentang kehidupannya:

1. Suami pertama Khadijah yang menjadi imamnya adalah Abu Halah. Setelah meninggal ia
bersuami kepada Atiq bin Aidz.
2. Profesi Khadijah sebagai entrepreneur.
3. Khoirunnisa iha Maryam binti Imran, khoirunnisa iha Khadijah binti Khuwailid (lihat HR
Bukhari 3178)
4. Khadijah menjadi teladan bagi kaum nisa (wanita), sebaik-baik wanita di zaman ini adalah
Khadijah (lihat hadits di atas).
5. Khadijah menyeleksi karyawannya, Muhammad menjadi karyawan terbaik (yang jujur dan
berakhlak mulia).
6. Memiliki kecenderungan hati dan pikiran sehingga cenderung ingin dinikahkan dengan
Muhammad karena kemuliaan akhlaknya dan kabar akan diutusnya Nabi Besar
7. Khadijah adalah istri Nabi yang pertama dan satu-satunya selama Khadijah hidup (lihat HR
Muslim 4466)
8. Aisyah tidak pernah berjumpa dengan Khadijah, tapi cemburu kepada Khadijah karena
besarnya kecintaan Nabi kepada Khadijah meskipun Khadijah telah wafat. Nabi sering
menyebut-nyebut nama Almarhumah Khadijah dan mengenangnya dengan menghadiahkan
daging kambing kepada kerabat Khadijah.(lihat HR Bukhari 3534, Muslim 4464)
9. Khadijah adalah insan pertama yang mengimani risalah yang dibawa Nabi.
10. Nabi Muhammad hanya mempunyai putra-putri dari Khadijah. Ada Zainab, Ruqayah, Ummu
Kultsum, Qasim, Fatimah yang lahir sebelum masa kenabian. Sedangkan Abdullah lahir saat
masa kenabian. Ini adalah anak-anak biologis Khadijah. Sedangkan Ali bin Abi Thalib dan Zaid
bin Haritsah adalah anak-anak ideologisnya.
11. Ketika Nabi bingung dan ketakutan pasca menerima wahyu perdana, Khadijah lah orang
yang pas untuk mendukung Nabi. (lihat HR Bukhari 3 & 4572)
12. Setelah Nabi merasa tenang barulah Khadijah menanyakan apa yang sedang terjadi.
Kejiwaan kaum laki-laki biasanya menceritakan masalah setelah tenang. Sedangkan kaum
wanita, sebaliknya, cenderung menceritakan masalah terlebih dahulu.
13. Setelah diceritakan oleh Nabi, Khadijah meyakinkan Nabi dengan berkata, “Demi Allah, Allah
tidak akan menyia-nyiakanmu, engkau selalu menghubungkan silaturahim, berbicara benar,
memikul beban orang lain, menolong orang lemah, menghormati tamu, dan membantu
meringankan derita dan musibah orang lain.” (lihat HR Bukhari 3)
14. Karakter Khadijah sangat mendukung bagi perjuangan Nabi. Tidak mungkin keluarga ini tidak
memiliki visi yang kokoh. Khadijah dan Nabi adalah satu paket dan ada pembagian kerja
yang efektif dalam keluarga ini. Tidak mungkin keluarga ini mencapai target yang sempurna
jika tidak dengan pengorbanan yang besar walaupun harus menghabiskan harta dan
mengorbankan nyawa.
15. Khadijah rela kepada Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai
utusan Allah, sehingga gangguan-gangguan dari pihak Quraisy Musyrik/Kafir dalam bentuk
lisan maupun fisik dihadapi dengan kesabaran yang tinggi, strategi yang cerdas, sehingga ia
menjadi Qurrata’ayun (penyejuk hati) bagi Nabi. Kejujuran, kedisiplinan, relationship, dan
cinta Khadijah lah yang mendukung kekokohan keluarga ini.
16. Apabila dianggap sebagai bunga. Cinta Khadijah selalu tumbuh tanpa pandang musim.
Karakter yang mirip dengan Nabi.
17. Batas hidup Khadijah sudah tiba. Ia menderita sakit sejak pemboikotan (diisolasi, diasingkan)
oleh kaum Quraisy Musyrik/Kafir terhadap bani Hasyim dan bani al-Muththalib selama 3
tahun. Khadijah ikut menghadapi kelaparan dan kesempitan-kesempitan lainnya bersama
Nabi dan orang-orang beriman.
18. Pemboikotan ini malah meneguhkan kepribadian Khadijah karena iman kepada Allah, Sosok
Nabi (pemimpin yang menyatukan umat), rasa memiliki tanggungjawab yang besar, iman
kepada hari akhir, didikan Al-Qur’an, dan karena kabar gembira (janji Allah, akan datangnya
keberhasilan).
19. Khadijah wafat saat 3 tahun sebelum Nabi berhijrah.
20. Benteng bagi dakwah Nabi telah tiada (Abu Thalib), disusul dengan wafatnya Khadijah di
tahun yang sama (3 tahun sebelum Hijrah).
21. Kehidupan Almarhumah Khadijah sangat membekas di hati Nabi hingga tahun-tahun
berikutnya, meskipun Khadijah telah tutup usia pada usia 65 tahun, sedangkan Nabi baru
berusia 50 tahun.
22. Meskipun hidup bersama Khadijah selama kurang lebih 25 tahun, Nabi sangat terbayang
dengan kesyukuran, kesabaran, kelembutan Khadijah. Seolah ia terus hadir dalam sisa usia
Nabi hingga 13 tahun kemudian.
23. Pasangan inilah sebagai sebuah paket yang berpengaruh terhadap kehidupan manusia
seluruhnya. Pribadi mulia untuk keluarga mulia, keluarga mulia untuk masyarakat mulia,
masyarakat mulia untuk negeri yang mulia, negeri yang mulia untuk dunia yang mulia.
24. Wajar jika Nabi teringat Almarhumah Khadijah ketika mendengar suara saudara perempuan
Khadijah, hingga ekspresi wajah beliau sangat gembira. (lihat HR Muslim 4467)
25. Pengorbanan yang besar menghasilkan kemuliaan yang besar pula. Surga lah sebaik-baik
kemuliaan.
26. Sekali lagi Khadijahlah yang mebrikan ketenaganan di titik krisis Nabi (usia 40 tahun) yaitu
saat menerima wahyu pertama kali. Khadijah juga yang menenangkan saat Nabi di titik krisis
kedua yaitu saat terputusnya wahyu beberapa hari.
27. Surga lah yang memicu kecemburuan Aisyah binti Abu Bakar terhadap Khadijah binti
Khuwailid (lihat HR Muslim 4462)
28. Simaklah hadits riwayat dari Bukhari 3159 dan 4828, Muslim 4462, Ahmad 2805, Tirmidzi
3813!
29. Afdholu nisail jannati arba’u (wanita penghuni Surga yang paling mulia adalah 4 orang):
Maryam binti Imran, Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Asiyah binti
Muzahim (HR Ahmad 2805)
30. Hasbuka min nisail ‘alamin (Cukuplah bagi mu dari wanita-penghulu-dunia): Maryam binti
Imran, Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Asiyah istri Fir’aun (HR Tirmidzi
3813)
31. Wa qod uhiya ila rasulillahishollallahualaihiwasallam ayyubasysyiraha bi baytil laha fil
jannati (Sesungguhnya diwahyukan pada Rasululllah untuk memberi kabar gembira
kepadanya (Khadijah) dengan rumah di Surga yang dipersembahkan untuknya) (HR Bukhari
4828)
32. Basysyara rasulullahi shollallahu’alaihiwasallam, Khadijatu bintu Khuwailid baytin fil jannati
(Rasulullah memberi kabar gembira kepada Khadijah dengan sebuah rumah di Surga) (HR
Muslim 4462)
33. Kamala min rijali katsirun wa lam yakmul min nisai illa Asiyatu mraatu fir’auna, wa
Maryamu bintu imrana. Wa inna fadhla ‘Aisyah ‘alan nisai kafadhli tstsaridi ‘ala saairith
tho’am (Manusia sempurna dari kalangan laki-laki banyak dan tidak ada manusia yang
sempurna dari kalangan wanita kecuali Asiyah istri Fir’aun, Maryam binti ‘Imran. Dan
keutamaan ‘Aisyah dibandingkan wanita-wanita lain adalah bagaikan keutamaan makanan
‘tsarid’ terhadap makanan yang lain (HR Bukhari 3159)
34. Tsarid adalah sejenis makanan yang terbuat dari daging dan roti yang dibuat bubur dan
berkuah.
35. Ada beberapa perhatian di sini!
36. Maryam binti Imran (tidak pernah bersuami), membina anak biologis tanpa suami, sukses
barakah. Salah satu indikatornya Nabi Isa ‘alahissalam nan sholih.s
37. Khadijah binti Khuwailid (pernah bersuami, Abu Halah, Atiq, Muhammad), membina anak
biologis maupun ideologis bersama suami, sukses barakah. Salah satu Indikatornya Fatimah
(anak biologis) nan sholihah, terbinalah ‘Ali bin Abi Thalib dan Zaid bin Haritsah (anak
ideologis) nan sholih.
38. Fatimah binti Muhammad (pernah bersuami, ‘Ali bin Abi Thalib), membina anak biologis
bersama suami, sukses barakah. Salah satu Indikatornya Al Hasan dan Al Husain nan sholih.
39. Asiyah binti Muzahim (pernah bersuami, Fir’aun yang fasik), membina anak biologis, sukses
barakah. Salah satu Indikatornya, istri nan sholih meskipun suaminya tidak menjemput
hidayah Allah (Asiyah dan putrinya disiksa oleh suami).
40. ‘Aisyah binti Abu Bakar (pernah bersuami, Muhammad), membina anak ideologis sukses
barakah. Salah satu Indikatornya, Abdullah bin Zubair nan sholih. Indikator lainnya, istri nan
sholih meskipun suaminya telah wafat lebih dahulu. (tentang Abdullah ibnu Zubair lihat HR
Bukhari 5876, Tirmidzi 3762)
41. Apabila Nabi SAW mengingat Khadijah, beliau selalu memujinya dengan pujian yang bagus.
Maka pada suatu hari ‘Aisyah merasa cemburu sehingga berkata kepada beliau, “Alangkah
sering engkau mengingat wanita yang ujung bibirnya telah memerah padahal Allah telah
menggantikan untuk engkau yang lebih baik darinya!” Nabi menjawab segera, “Ma
abdalaniy Allahu ‘azza wa jalla khoirann min ha, qod amanat biy idz kafar biy nnas.
Washoddaqotniy idz kadzdzabaniy nnas. Wa wasatniy bima liha idz haramaniy nnas.
Warozaqoniy allahu ‘azza wa jalla waladaha idz haramaniy aulada nnisa” (HR Ahmad
23719).
42. Allah ’azza wajalla tidak pernah mengganti untukku yang lebih baik darinya (Khadijah), dia
adalah wanita yang beriman kepadaku di saat manusia kafir kepadaku, dan ia
membenarkanku di saat manusia mendustakanku, dan ia juga menopangku dengan hartanya
di saat manusia menutup diri mereka dariku, dan Allah ‘azza wajalla telah mengaruniakan
anak kepadaku dengannya ketika Allah tidak mengaruniakan anak kepadaku dengan istri-istri
yang lain (HR Ahmad 23719).
43. Wa ssabiquuna ssaabiquun. Ulaa ikal muqorrabuun. Fii jannatin na’im. (QS. Al-Waqi’ah [56]:
10-12). Dan orang-orang yang paling dahulu , merekalah yang paling dahulu. Mereka itulah
orang yang dekat (kepada Allah), berada dalam Surga kenikmatan.
44. Wa ssabiquuna ssaabiquun. (Dan orang-orang yang paling dahulu, merekalah yang paling
dahulu) Muhammad bin Ka’ab rahimahullahu dan Abu Harzah Ya’qub bin Mujahid
rahimahullahu: “Mereka itu adalah para Nabi.”
45. Wa ssabiquuna ssaabiquun. (Dan orang-orang yang paling dahulu, merekalah yang paling
dahulu) As Suddi rahimahullahu: “Mereka itu adalah Ahlu ‘Illiyyin (berada di tempat yang
tinggi lagi luas).”
46. Wa ssabiquuna ssaabiquun. (Dan orang-orang yang paling dahulu, merekalah yang paling
dahulu) Al Hasan dan Qatadah rahimahullahu: “Mereka adalah dari setiap ummat.”
47. Wa ssabiquuna ssaabiquun. (Dan orang-orang yang paling dahulu, merekalah yang paling
dahulu) Utsman bin Abi Saudah rahimahullahu: “Mereka adalah orang-orang yang pertama
kali pergi ke Masjid dan orang-orang yang pertama kali pergi (berjuang) di jalan Allah.”
48. Wa ssabiquuna ssaabiquun. (Dan orang-orang yang paling dahulu, merekalah yang paling
dahulu) Ibnu Katsir rahimahullahu: “Mereka adalah orang-orang yang bersegera untuk
berbuat kebaikan yaitu bersegera kepada ampunan Allah dan kepada Surga.”

Anda mungkin juga menyukai