0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3K tayangan120 halaman

Skripsi Fiks

Skripsi ini membahas hubungan tingkat pengetahuan dengan kepatuhan mengikuti vaksinasi Covid-19 pada mahasiswa keperawatan di Universitas Megarezky Makassar. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan sampel 190 mahasiswa. Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan antara tingkat pengetahuan dan kepatuhan vaksinasi.

Diunggah oleh

Sukma Sukma
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3K tayangan120 halaman

Skripsi Fiks

Skripsi ini membahas hubungan tingkat pengetahuan dengan kepatuhan mengikuti vaksinasi Covid-19 pada mahasiswa keperawatan di Universitas Megarezky Makassar. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan sampel 190 mahasiswa. Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan antara tingkat pengetahuan dan kepatuhan vaksinasi.

Diunggah oleh

Sukma Sukma
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

SKRIPSI

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN KEPATUHAN


MENGIKUTI VAKSINASI PADA MAHASISWA
S1 KEPERAWATAN DI UNIVERSITAS
MEGAREZKY MAKASSAR

SUKMA UMASANGADJI
183145105037

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
UNIVERSITAS MEGAREZKY
MAKASSAR
T.A 2022
SKRIPSI

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN KEPATUHAN


MENGIKUTI VAKSINASI PADA MAHASISWA
S1 KEPERAWATAN DI UNIVERSITAS
MEGAREZKY MAKASSAR

Disusun dan diajukan sebagai salah satu syarat untuk


memperoleh gelar Sarjana pada Program Studi Pendidikan Profesi NersFakultas
Keperawatan Dan Kebidanan Universitas
Megarezky Makassar

Oleh
SUKMA UMASANGADJI
183145105037

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
UNIVERSITAS MEGAREZKY
MAKASSAR
T.A 2022
HALAMAN PERSETUJUAN

Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Kepatuhan Mengikuti Vaksinasi Pada

Mahasiswa S1 Keperawatan Di Universitas Megarezky Makassar

Disusun dan diajukan oleh :

Sukma Umasangadji
18314105037

Telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas

Keperawatan Dan Kebidanan Universitas Megarezky Pada

Hari Tanggal Tahun

Menyetujui,

Pembimbing I Pembimbing II

Imran Pashar, S. Kep.,Ns.,M. Kep Sri Wahyuni, S. Kep.,Ns., M. Kes


NIDN. 0901019402 NIDN. 0912059201

Ketua Prodi S1 Keperawatan

Sudirman Efendi, S. Kep.,NS.,M. Kep


NIDN. 09130686 03

ii
HALAMAN PENGESAHAN

Pada hari ini Tanggal September Tahun 2022 bertempat di Ruang Program
Studi Pendidikan Profesi Ners Fakultas Keperawatan dan Kebidanan Universitas
Megarezky, telah dilaksanakan Ujian Skripsi sebagai salah satu syarat untuk
menyelesaikan pendidikan Program Sarjana Keperawatan terhadap mahasiswa atas
nama :

Nama : Sukma Umasangadji


NIM : 183145105037
Program Studi : Pendidikan Profesi Ners
Jenjang : Strata I
Judul Skripsi : Hubungan tingkat pengetahuan dengan
kepatuhan mengikuti vaksinasi pada
mahasiswa S1 keperawatan di Universias
Megarezky Makassar

Yang telah diuji oleh Tim Penguji Skripsi, sebagai berikut :

Tim Penguji Tanda Tangan

1. Rosnania, S.Kep., Ns., M.Kep ( )


NIDN.

2. Imran Pashar, S.Kep.,Ns.,M.Kep ( )


NIDN. 0911128602

3. Sri Wahyuni, S.Kep.,Ns.,M.Kes ( )


NIDN. 0912059201

Mengetahui,

Dekan, Ketua Program Studi,

Dr.Syamsuriyati,S.ST.,SKM.,M.Keb Sudirman Efendi,S.Kep.,Ns.,M.Kep


NIDN. 0927047301 NIDN. 0913068603

iii
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur Penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, hanya

kepada-Nya penulis meminta hidayah dan hanya kepada-Nya penulis menyembah

sebagai tanda rasa syukur penulis atas limpahan rahmat-Nya yang tak terhitung

nilainya, dan atas izin-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul

”Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Kepatuhan Mengikuti Vaksinasi Pada

Mahasiswa S1 Keperawatan Di Universitas Megarezky Makassar” yang merupakan

salah satu persyaratan untuk mencapai gelar Sarjana pada Program Studi

Pendidikan Profesi Ners Fakultas Keperawatan dan Kebidanan.

Dalam penyusunan skripsi ini, penulis mengalami banyak tantangan dan

hambatan, namun berkat usaha dan kemauan serta kerjasama yang baik dari semua

pihak sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu,

perkenankanlah penulis dengan segala hormat dan kerendahan hati mengucapkan

terima kasih yang setulus-tulusnya kepada Orang Tua Penulis yang tercinta,

Ayahanda Kisman Umasangadji dan Ibunda Sutria liambana yang senantiasa

mencurahkan kasih sayangnya, doa dan restu yang tulusnya, serta dukungan,

support,dan pengorbanannya yang begitu besar baik dari segi materi maupun waktu

yang diberikan kepada penulis demi suksesnya penelitian ini. Tak lupa pula penulis

ucapkan terimakasih kepada :

1. Dr. H. Alimuddin, SH., MH., MKn. Selaku pembina YPI Mega Rezky

Makassar.

2. Hj. Suryani, SH., MH., MKn. Selaku ketua YPI selaku Mega Rezky Makassar.

iv
3. prof. Dr. dr . H. Ali Aspar Mappahya, Sp. PD., Sp. JP (K) selaku Rektor
Universitas Megarezky

4. Dr. Syamsuriyati, S.ST., SKM., M.Kes., selaku Dekan Fakultas Keperawatan


dan Kebidanan

5. Sudirman Efendi, S.Kep., Ns., M.Kep., selaku Ketua Program Studi Pendidikan

Profesi Ners Fakultas Keperawatan dan Kebidanan Universitas Megarezky.

6. Imran Pashar, S.Kep.,Ns.,M.Kep., selaku Pembimbing I yang selalu

meluangkan waktu memberikan saran dan masukan yang membangun kepada

penulis demi kesempurnaan skripsi ini.

7. Sri Wahyuni, S.Kep.,Ns.,M.Kes., selaku Pembimbing II dengan penuh

kesabaran dan keikhlasan meluangkan waktu, tenaga dan pikirannya untuk

memberikan perhatian,motivasi, semangat serta bimbingan dan arahan kepada

penulis.

8. Rosnania, S.Kep., Ns., M.Kep., selaku Penguji Utama yang telah meluangkan

waktu dan tenaganya dalam memberikan masukan dan arahan guna perbaikan

skripsi ini.

9. Seluruh Bapak dan Ibu Dosen dan Staf Program Studi Pendidikan Profesi Ners

Universitas Megarezky yang telah memberikan kemudahan bagi penulis dalam

menyelesaikan pendidikan selama ini.

10. Kepada Murabbiyah dan kaka kaka pondok adibah yang slalu memberikan

semangat dan nasehat nasehat terbaik

v
11. Kepada sahabat sahabat penulis yaitu hilma hanifa, rastri anggriani,

husnaeni,hasnidar, nuranida, cindi rasmi, vinata khu yang selalu memberikan

Support kepada penulis.

12. Rekan rekan mahasiswa Program Studi Pendidikan Profesi Ners Fakultas

Keperawatan dan Kebidanan angkatan 2018 yang tak dapat penulis sebutkan

satu per satu yang secara langsung maupun tidak langsung telah memberikan

dukungan, dorongan moril dan berbagai bantuan selama perkuliahan sampai

menyelesaikan pendidikan.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan proposal ini masih

jauh dari kata sempurna, untuk itu dengan kelapangan penulis siap menerima

kritikan dan saran dari pihak manapun yang konstruktif dan sifatnya

membangun untuk kesempurnaan penulisan yang akan datang.

Makassar, september 2022


Penulis,

(SUKMA UMASANGADJI)

vi
ABSTRAK

SUKMA UMASANGADJI, 183145105037. Hubungan tingkat pengetahuan dengan kepatuhan


mengikuti vaksinasi pada mahasiswa S1 keperawatan di Universitas Megarezky Makassar
(di Bimbing Oleh Imran Pashar dan Sri Wahyuni)
xvi + 107+ 13 tabel+ 2 gambar + 13 lampiran

Latar Belakang : Pada akhir tahun 2019 dunia dihebokan dengan merebaknya infeksi Corona Virus
Disease 2019 (Covid-19). Virus ini pertama kali diindentifikasi di kota Wuhan, Provinsi Hubei,
China. Sampai saat ini terdapat 231 negara yang terjangkit virus covid-19 salah satunya indonesia.
Pada tanggal 11 Maret covid-19 telah ditetapkan oleh World Health Organization (WHO) dan
pemerintah sebagai kasus pandemik. Salah satu upaya yang di lakukan untuk mencegah penularan
virus Covid-19 adalah dengan penerapan protokol kesehatan (prokes) yang terdiri dari jaga jarak,
pakai masker,cuci tangan, menjauhi kerumunan, mengurangi mobilitas, dan pencegahan ini berlaku
secara global .Intervensi untuk menanggulangi pandemi Covid-19 upaya intervensi yang dilakukan
tidak hanya melalui penerapan protokol kesehatan tetapi juga diperlukan intervensi lainnya yaitu
dengan vaksinasi.
Tujuan : Mengetahui Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Kepatuhan Mengikuti Vaksinasi
Pada Mahasiswa S1 Keperawatan Di Universitas Megarezky Makassar
Metode : Kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian ini sebanyak 190 sampel
yang diperoleh dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data yang dilakukan menggunakan
kuesioner dan dianalisis menggunakan uji chi-square.
Hasil : Hasil penelitian menunjukan bahwa 91 responden tingkat pengetahuan baik terdiri 38
responden (41,85%) patuh mengikuti vaksinasi covid-19 dan 53 responden (58,2%) tidak patuh
mengikuti vaksinasi covid-19. Di antara 99 responden tingkat pengetahuan kurang baik terdapat 16
responden (16,25) patuh mengikuti vaksinasi covid-19 dan 83 responden (83,8%) tidak patuh
mengikuti vaksinasi covid-19. Hasil analisis uji statistic chi square didapatkan angka p-value =
0,000. Apabila nilai alpa (a) =0,05 maka nilai p-value =(0,000) < dari 0,05 maka menunjukan adanya
hubungan antara tingkat pengetahuan dengan kepatuhan mengikuti vaksinasi covid-19.
Kesimpulan : Terdapat Hubungan antara Tingkat Pengetahuan dengan Kepatuhan Mengikuti
Vaksinasi Covid-19.
Saran : Bagi peneliti selanjutnya yang meneliti tentang hubungan tingkat pengetahuan dengan
kepatuhan mengikuti vaksinasi covid-19 pada penelitian ini bisa dijadikan bahan dasar penelitian.
Diharapkan dapat dikembangkan oleh peneliti selanjutnya dengan menggunakan variabel

Kata Kunci : Kepatuhan, Pengetahuan,Vaksinasi Covid-19


Kepustakaan : 96 (2007-2022)

vii
ABSTRACT

viii
MOTTO

“ wahai orang orang yang beriman jika kamu menolong agamanya Allah, nicaya

Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”

(QS.Muhammad:7)

“Karena, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”.

(QS al-Insyirah: 5-6)

ix
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i

HALAMAN PERSETUJUAN ..................................................................... ii

HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................ iii

KATA PENGANTAR .................................................................................... iv

ABSTRAK ...................................................................................................... vii

ABSTRACT .................................................................................................... viii

MOTTO .......................................................................................................... ix

DAFTAR ISI ................................................................................................... x

DAFTAR TABEL .......................................................................................... xii

DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................. xiv

DAFTAR LAMBANG DAN SINGKATAN ................................................ xv

BAB I PEDAHULUAN .................................................................................. 1

A. Latar Belakang .................................................................................... 1

B. Rumusan Masalah ................................................................................ 6

C. Tujuan Penelitian ................................................................................ 6

D. Manfaat Penelitian .............................................................................. 7

E. Bidang Ilmu.......................................................................................... 7

F. Keaslian Penelitian .............................................................................. 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................... 11

A. Tinjauan Teori ...................................................................................... 11

1. Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) ........................................ 11

x
2. Vaksin Covid-19 ............................................................................ 20

3. Konsep Dasar Kepatuhan .............................................................. 32

4. Konsep Dasar Pengetahuan ............................................................ 34

B. Kerangka Teori..................................................................................... 42

C. Kerangka Konsep ................................................................................. 43

D. Variabel penelitian .............................................................................. 44

E. Hipotesis .............................................................................................. 45

BAB III METODE PENELITIAN .............................................................. 46

A. Desain penelitian ................................................................................. 46

B. Populasi dan sampel ............................................................................ 46

C. Defenisi operasional ............................................................................. 49

D. Tempat dan waktu penelitian ............................................................... 49

E. Alat pengumpulan data ........................................................................ 49

F. Prosedur pengumpulan data ................................................................. 50

G. Rencana analisa data ............................................................................ 52

H. Etika penelitian .................................................................................... 53

BAB IV HASIL PENELITIAN .................................................................... 59

A. Gambaran umum lokasi penelitian ...................................................... 59

B. Hasil penelitian..................................................................................... 59

C. Pembahasan ......................................................................................... 66

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................ 77

A. Kesimpulan ..........................................................................................

B. Saran ....................................................................................................

xi
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 55

LAMPIRAN

xii
DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Keaslian Penelitian.......................................................................... 8

Tabel 3.2 Defenisi Operasional ....................................................................... 49

Tabel 3.3 Nilai Validitas Kuesioner Pengetahuan Vaksinasi Dosis 3 ............ 50

Tabel 3.4 Nilai Rehabilitas Kuesioner Pengetahuan Vaksinasi Dosis 3 ......... 50

Tabel 4.1 Distribusi Responden Berdasarkan Usia .........................................

Tabel 4.2 Distribusi Responden Berdasarakan Jenis Kelamin.........................

Tabel 4.3 Distribusi Responden Berdasarkan Agama......................................

Tabel 4.4 Distribusi Responden Berdasarkan Angkatan .................................

Tabel 4.5 Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan ...............

Tabel 4.6 Distribusi Responden Berdasarkan Kepatuhan Mengikuti

Vaksinasi ...........................................................................................

Tabel 4.7 Distribusi Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Kepatuhan

Mengikuti Vaksinasi Covid-19 ..........................................................

Tabel 4.8 Hubungan tingkat pengetahuan dengan krateristik responden ........

Tabel 4.9 Hubungan kepatuhan mengikuti vaksinasi dengan krateristik

responden ..........................................................................................

xiii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 : Kerangka Teori .......................................................................... 42

Gambar 2.2 : kerangka konsep ........................................................................ 43

xiv
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Lembaran Permohonan Menjadi Responden ..............................

Lampiran 2 Lembaran Persetujuan Responden ..............................................

Lampiran 3 Lembaran Kuesioner ...................................................................

Lampiran 4 Lembaran Master Tabel ..............................................................

Lampiran 5 Lembar Hasil Pengelola Data Menggunakan Komputer ..............

Lampiran 6 Izin Pengambilan Data Awal LPPM ............................................

Lampiran 7 Izin Pengambilan Data Awal Di Prodi S1 Keperawatan .............

Lampiran 8 Izin Rekomendasi Penelitian LPPM .............................................

Lampiran 9 Izin Penelitian Kantor Wali Kota Makassar .................................

Lampiran 10 Izin Penelitian Dinas Penanaman Modal ...................................

Lampiran 11 Surat Selesai Penelitian .............................................................

Lampiran 12 Biodata Peneliti...........................................................................

Lampiran 13 Dokumentasi Penelitian .............................................................

xv
DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG

Singkatan Nama Halaman

COVID -19 Corona Virus Disease 2019 ................................................. 1

WHO World Health Organization ................................................. 1

Prokes Protokol Kesehatan ............................................................. 1

PSBB Pembatasan Sosial Berskala Besar ..................................... 1

ITAGI Indonesian Technical Advisory Group on Immunization .... 4

UNICEF United Nations International Children's Emergency Fund

.......................................................................................................................... 4

MERS Middle East Respiratory Syndrome...................................... 13

SARS Severe Acute Respiratorysyndrome...................................... 14

ACE2 Angiotensin Converting Enzyme-2 ....................................... 15

OTG Orang Tanpa Gejala ............................................................. 16

BAL Bronchoalveolar Lavage ..................................................... 25

BPOM Badan Pengawasan Obat dan Makanan .............................. 25

EUA Emergency Use Authorization .............................................. 32

MUI Majelis Ulama Indonesia ....................................................... 32

KIPI Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi........................................... 31

LAMBANG

≤ Kurang dari ........................................................................... 30

≥ Lebih dari .............................................................................. 30

% Persen ........................................................................... .........1

n Jumlah Sampel ...................................................................... 53

xvi
N Jumlah Populasi........................................................................... 53

e2 = Error level ............................................................................................ 53

P = Value ...................................................................................................

rtabel = Angka yang digunakan menguji berbagai kemungkinan hasil variabel


instrumen penelitian ........................................................................... 55

xvii
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Pada akhir tahun 2019 dunia dihebokan dengan merebaknya infeksi Corona

Virus Disease 2019 (Covid-19). Virus ini pertama kali diindentifikasi di kota

Wuhan, Provinsi Hubei, China. Sampai saat ini terdapat 231 negara yang terjangkit

virus covid-19 salah satunya indonesia. Pada tanggal 11 Maret covid-19 telah

ditetapkan oleh World Health Organization (WHO) dan pemerintah sebagai kasus

pandemik (Tetty et al., 2021) (WHO, 2021). Virus Covid-19 saat ini menjadi

masalah yang serius di seluruh dunia, dan menyerang semua orang tanpa

memandang usia atau jenis kelamin, sehingga Covid-19 sampai saat ini sangat

rentang menyerang siapapun (Sari et al., 2020).

Salah satu upaya yang di lakukan untuk mencegah penularan virus Covid-

19 adalah dengan penerapan protokol kesehatan (prokes) yang terdiri dari jaga

jarak, pakai masker,cuci tangan, menjauhi kerumunan, mengurangi mobilitas, dan

pencegahan ini berlaku secara global (Kemenkes RI, 2020c) . Pemerintah Indonesia

menerapkan peraturan tentang pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar

(PSBB) dari berbagai upaya pencegahan Covid-19 sebagian masyarakat masih

enggan untuk menerapakan hal tersebut, dalam rangka percepatan penanganan

Covid-19 pemerintah telah mempersiapkan pengadaan vaksinasi (Beni, 2021;

Prasetio, 2021). Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa pemerintah telah

melakukan upaya pencegahan covid-19 dengan beberapa penanganan hingga angka

1
2

kejadian covid-19 dapat menurun. Penyebaran Covid-19 ke Indonesia pertama kali

dikonfirmasi oleh pemerintah pada tanggal 2 maret 2020 di depok Jawa Barat,

hingga angka kejadian Covid-19 masih meningkat di Indonesia sampai saat ini

(Hamdani et al., 2020). Meskipun pemerintah telah menerapkan berbagai peraturan

untuk menekankan penyebaran virus covid-19 akan tetapi jumlah kasus penderita

masih tinggi.

Secara global, hingga Kamis 5 Mei 2022 terdapat 515.190.845 kasus,

meninggal 6.268.003, sembuh 469.803.779 (KOMINFO, 2022; Kompas.com 2022,

2022). Di Indonesia hingga Kamis 5 Mei 2022 terdapat 6.047.741 kasus, sembuh

5.884.770 kasus, meninggal 156.340 kasus (Widya, 2022). Sementara di provinsi

Sulawesi Selatan hingga kamis 5 Mei 2022 terdapat 142.858 kasus, sembuh

140.395, meninggal 2.463. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya ini

(sulselprov, 2022). Intervensi untuk menanggulangi pandemi Covid-19 upaya

intervensi yang dilakukan tidak hanya melalui penerapan protokol kesehatan tetapi

juga diperlukan intervensi lainnya yaitu dengan vaksinasi (Ariana et al., 2021).

Program vaksinasi Covid-19 dari Pemerintah Republik Indonesia secara

resmi dimulai pada hari Rabu 13 Januari 2020, salah satu vaksin pertama di

Indonesia yang digunakan diproduksi oleh Sinovac Biotech dan sudah mendapatkan

izin penggunaan darurat oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)

(Anwar, 2021). Vaksinasi covid-19 sebagai sebuah program kebijakan pemerintah

di seluruh dunia yang bertujuan untuk mengurangi penularan covid-19, dengan

program vaksinasi Covid-19 dapat menurunkan angka kesakitan, kematian,

sehingga terbentuknya kekebalan kelompok atau herd immunity (Yudistira, 2022).


3

Setelah dilakukan vaksinasi maka terbentuklah imunitas seseorang atau dikenal

dengan istilah kekebalan kelompok atau Herd Immunity, kekebalan kelompok

hanya dapat terbentuk apabila cakupan vaksinasi tinggi dan merata di seluruh

wilayah (Yudistira, 2022). Cakupan vaksinasi yang tinggi secara global sangat

diperlukan untuk menghentikan pandemi Covid-19, program vaksinasi Covid-19

yang sedang berlangsung di berbagai negara termasuk Indonesia.

Hingga tanggal 17 Mei 2022 dengan target nasional: 208,265,720, total

vaksin di Indonesia dosis 1: 199,644,471 dosis (95.86%), dosis 2:166,290,758 dosis

(79,85%), dosis 3: 42,734,668 dosis (20.52%), sementara di provinsi Sulawesi

Selatan selasa 17 mei 2022 total vaksinasi dosis 1: 6,244,192 dosis (88,47%), dosis

2: 4,569,368 dosis (64.74%), dosis 3: 552,966 dosis (7.83%), sedangkan di kota

Makassar pada tanggal 17 mei 2022 total vaksinasi dosis 1: 1,052,215(95.45%),

dosis 2: 837,992(76.02%), dosis 3: 174,756(15%) (Kemenkes RI, 2022b).

Berdasarkan survei daring tahun 2020 kerjasama antara Kemenkes RI,

WHO, Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI), United

Nations International Children's Emergency Fund (UNICEF) mengenai

penerimaan vaksinasi Covid-19 di Indonesia, didapatkan data bahwa masih banyak

masyarakat yang enggan untuk menerima vaksinasi Covid-19, alasan penolakan

vaksinasi Covid-19 adalah terkait dengan keamanan vaksin (30%), keraguan

terhadap efektivitas vaksin (22%), ketidakpercayaan terhadap vaksinasi (13%),

kekhawatiran adanya efek samping seperti demam dan nyeri (12%) serta

penerimaan informasi yang tidak sesuai tentang vaksinasi yang menambah

kekhawatiran masyarakat (Kemenkes RI, 2020d) (Nugroho et al., 2021). Di


4

Indonesia vaksin yang digunakan dalam program vaksinasi Covid-19 adalah

Sinovac, Biofarma, Moderna, Pfizer, Astra Zeneca dan Sinopharm, namun tiga

jenis vaksin yang paling populer digunakan di Indonesia adalah Sinovac, Moderna

dan Astra Zeneca, banyaknya jenis vaksin menyebabkan kekhawatiran masyarakat

dalam pemilihan vaksin apa yang paling baik digunakan dengan efek samping

(Octafia, 2021)

Menurut hasil survei Kementrian Republik Indonesia di katakan bahwa

masyarakat menengah ke bawah sekitar 54% memperoleh informasi terkait vaksin

hanya melalui media social, berita, radio, koran, dibandingkan dari tenaga

kesehatan secara langsung sehingga menyakibatkan adanya informasi yang kurang

tepat (Kemenkes RI, 2020d). Agar dapat patuh terhadap program vaksinasi covid-

19, melalui informasi dari berbagai media masyarakat harus memiliki pemahaman

dan pengetahuan terkait virus Covid-19 yang berbahaya dan rentan menular,

informasi terkait melakukan tindakan pencegahan dengan vaksinasi Covid-19.

Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya menyatakan bahwa perilaku

kepatuhan merupakan sejauh mana seseorang melakukan mencegah atau

pengobatan yang disarankan oleh tenaga professional (Sarafino, 2015). Faktor-

faktor yang mempengaruhi kepatuhan individu terhadap tindakan preventif

kesehatanya yaitu pengetahuan, tingkat pendidikan, persepsi, motivasi, lingkungan

sosial, faktor psikologis, keyakinan dan sumber informasi (Devi, 2020). Sehingga

mahasiswa yang memilliki faktor tingkat Pendidikan dan pengetahuan melalui

berbagai sumber informasi diharapkan lebih bisa mematuhi program vaksinasi.


5

Mahasiswa yang merupakan kalangan terpelajar, berpendidikan tinggi dan

sering disebut “Agent of changes” atau kaum intelektual. Mereka dapat melihat,

menafsirkan serta menyimpulkan gejala sosial, dan mampu berpikir kritis. Dengan

semakin tingginya tingkat pendidikan dan pengetahuan dapat menimbulkan

kecenderungan untuk mematuhi dan menerima vaksinasi guna mencegah

penyebaran covid-19. Akan tetapi sebagian mahasiswa dari kalangan tenaga

kesehatan yang merupakan media informasi masyarakat belum patuh terhadap

vaksinasi seperti vaksinasi dosis 3

Berdasarkan hasil penelitian tentang tingkat kepatuhan terhadap protokol

kesehatan dan cakupan vaksinasi Covid-19 menunjukkan hasil bahwa tingkat

kepatuhan responden terhadap protokol kesehatan mayoritas dalam kategori

disiplin terhadap protokol kesehatan sebanyak 38 (63,3%) dan tingkat cakupan

vaksinasi covid-19 di kalangan mahasiswa masih tergolong rendah yaitu sebanyak

40 (66,7%) belum melakukan vaksinasi (Mahmuda, 2022)

Prodi S1 keperawatan merupakan salah satu prodi di Universitas Megarezky

Makassar dengan jumlah mahasiswa aktif dari angkatan 2015-2021 sebanyak 362

orang, angkatan 2015 yang aktif 2 orang, angkatan 2016 yang aktif 1 orang,

angkatan 2017 yang aktif 3 orang, angkatan 2018 yang aktif 91 orang, angkatan

2019 yang aktif 86 orang, angkatan 2020 yang aktif 77 orang, angkatan 2021 yang

aktif 102. jumlah mahasiswa yang belum vaksinasi ke 3 sebanyak 100 orang dari

angkatan 2018-2021, dan peneliti juga melakukan wawancara pada 8 mahasiswa

S1 keperawatan di Universitas Megarezky Makassar didapatkan 7 dari 8 mahasiswa

yang belum melakukan vaksinasi dosis 3 dikarenakan khawatir dengan


6

efeksamping dari vaksinasi, ragu dengan keefektivitasan vaksin sehingga tidak mau

melakukan vaksinasi ke 3, selain itu alasan lain mau melakukan vaksinasi karena

ingin bepergian keluar daerah dan administrasi sedangkan 1 dari 7 mahasiwa yang

mau melakukan vaksinasi dikarenakan mengetahui maanfaat dari vaksinasi

tersebut.

Berdasarkan kumpulan fenomena diatas, peneliti tertarik untuk melakukan

penelitian terkait “Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Kepatuhan Mengikuti

Vaksinasi Pada Mahasiswa S1 Keperawatan Di Universitas Megarezky Makassar”

B. RUMUSAN MASALAH

Dengan melihat latar belakang diatas maka yang menjadi rumusan masalah

penelitian ini adalah apakah terdapat Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan

Kepatuhan Mengikuti Vaksinasi Pada Mahasiswa S1 Keperawatan Di Universitas

Megarezky Makassar?

C. TUJUAN PENELITIAN

1. Tujuan umum

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk diketahuinya Hubungan Tingkat

Pengetahuan Dengan Kepatuhan Mengikuti Vaksinasi Pada Mahasiswa S1

Keperawatan Di Universitas Megarezky Makassar

2. Tujuan khusus

a. Diidentifikasinya tingkat pengetahuan mahasiswa tentang vaksinasi Covid-

19.
7

b. Diidentifikasinya tingkat kepatuhan mahasiswa mengikuti vaksinasi Covid-

19

c. Dianalisisnya hubungan tingkat pengetahuan mahasiswa dengan kepatuhan

mengikuti vaksinasi Covid-19.

D. MANFAAT PENELITIAN

Adapun manfaat penelitian yaitu :

1. Bagi mahasiswa

Penelitian ini diharapakan agar mahasiswa dapat meningkatkan

informasi tentang pentingnya pengetahuan vaksinasi sehingga angka vaksinasi

Covid-19 dapat terpenuhi diseluruh dunia khususnya Indonesia.

2. Bagi institusi kesehatan

Bagi institusi kesehatan diharapkan dapat memberikan informasi

tentang pentingnya meningkatkan pengetahuan tentang kepatuhan mengikuti

vaksinasi Covid-19 kepada masyarakat secara menyeluruh.

3. Bagi peneliti selanjutnya

Penelitian ini diharapkan dapat dikembangkan oleh peneliti selanjutnya

dengan menggunakan variabel lain dan dapat menjadi referensi tambahan untuk

pengembangan penelitian khususnya dalam penyelenggaraan vaksinasi Covid-

19.

E. BIDANG ILMU

Bidang ilmu dalam penelitian ini adalah keperawatan komunitas


8

F. KEASLIAN PENELITIAN

Tabel 1.1 keaslian Penelitian

No Judul/Nama Peneliti Variabel Desain Hasil penelitian Perbedaan penelitian


/Tahun Peneliti penelitian penelitian dengan penelitian
sebelumnya
1. Hubungan Health Variabel bebas: teknik pada penelitian ini Penelitian sebelumnya
Belief Model Dengan Health Belief Model Product diketahui nilai menggunkan metode
Perilaku Kepatuhan Dengan Perilaku Moment signifikansi sebesar penelitian kuantitatif
Terhadap Program Kepatuhan 0.000 lebih besar dengan teknik pengambiln
Vaksinasi Covid-19 Variabel terikat : dari 0,05 sedanglan sampel yaitu Purposive
Pada Mahasiswa Program Vaksinasi nilai koefisien sampling. perbedaan
(Pratama, 2022) Covid-19 Pada korelasi dengan penelitian sekarang
Mahasiswa memperoleh nilai menggunkan metode
sebesar 0,718 kuantitatif dengan desain
sehingga terdapat penelitian pendekatan
hubungan cross- sectional
signifikan dengan
arah positif.
2. Analisis penerimaan Variabel bebas : kuantitatif Hasil analisis Penelitian sebelumnya
vaksinasi covid-19 di Analisis dengan bivariat menggunakan kuantitatif
kalangan masyarakat/ Penerimaan menggunaka menggunakan SPSS dengan (cross- sectional)
(Lasmita et al., 2021) Vaksinasi Covid-19 n pendekatan menunjukkan Perbedaan dengan
(cross- bahwa adanya penelitian sekarang
Variabel terikat : sectional). hubungan antara menggunkan metode
Kalangan pengetahuan (nilai p kuantitatif korelatif
masyarakat 0,041), ketersediaan
akses informasi
(nilai p 0,009) dan
dukungan keluarga
(nilai p 0,000)
dengan penerimaan
program vaksinasi
Covid-19, faktor
yang
mempengaruhi
penerimaan
vaksinasi Covid-19
di kalangan
masyarakat antara
lain pengetahuan,
ketersediaan akses
informasi dan
dukungan keluarga,
sehingga perlu
upaya yang
dilakukan kepada
masyarakat dalam
meningkatkan
pengetahuan, akses
informasi terkait
vaksinasi Covid-19
dan dukungan dari
9

keluarga untuk
meningkatkan
penerimaan
masyarakat
terhadap program
vaksinasi Covid-19
3. Faktor-faktor yang Variabel bebas : pendekatan Hasil penelitian Penelitian sebelumnya dari
mempengaruhi sikap Faktor-faktor yang cross- menunjukan bahwa segi variabel hanya melihat
masyarakat terhadap mempengaruhi sectional mayoritas faktor faktor yang
penerimaan vaksinasi sikap masyarakat responden dalam mempengeruhi penerimaan
covid-19 di RS penelitian ini adalah vaksinasi.
Bhayangkara Bengkulu Variabel terikat : remaja (90,90%), Perbedaan dengan
penerimaan mempunyai status penelitian sekarag dari segi
vaksinasi covid-19 bekerja (56,00%), variabel mau melihat
berjenis kelamin hubungan tinggkat
perempuan pengetahuan masyarakat
(69,30%), memiliki dengan penerimaan
sikap positif program vaksinasi.
terhadap
pencegahan covid-
19 (99,15%) dan
mempunyai
perilaku yang baik
terhadap
pencegahan covid-
19 (90,20%)
4. Tingkat Kepatuhan Variabel bebas : desain cross Karakteristik Penelitian sebelumnya
Protokol Kesehatan dan Tingkat kepatuhan sectional. responden, mengunakan jenis
CakupanVaksinasi protokol kesehatan mayoritas berusia penelitian deskritif dengan
pada Mahasiswa UMS Variabel terikat : 20-21 tahun 35 metode pengambilan
yang Terpapar Covid- Cakupan vaksinasi (58,3%), jenis sampel total sampling
19. (Mahmuda, 2022) pada mahasiswa kelamin perempuan Perbedaan dengan
yang Terpapar 46 (76,7%), tinggi penelitian sekarag
Covid-19 badan rata-rata menggunakan jenis
161,1, berat badan penelitian kuantitatif
rata-rata 59,15, dengan jenis pengambilan
responden yang sampe Purposive sampling
rutin olah raga 30
(50%) dan tidak
olah raga 30 (50%),
mayoritas
responden rutin
mengkonsumsi
vitamin 31 (51,7%)
dan mahasiwa yang
sudah pernah
terkonfirmasi 60
(100%). Tingkatan
kepatuhan
mahasiswa terhadap
protokol kesehatan
kesehatan termasuk
dalam kategoti
disiplin 38 (63,3%).
Mahasiswa yang
10

belum vaksinasi
sebanyak 40
(66,7%), dosis 1
sebanyak 13
(21,7%), dosis 2
sebanyak 7
(11,7%).
11

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori

1. Corona Virus Disease (Covid-19)

a. Definisi covid-19

Covid-19 adalah penyakit infeksi pada saluran pernapasan yang di

temukan Pada akhir tahun 2019, dunia dihebokan dengan merebaknya

infeksi covid-19 yang berasal dari Wuhan, Cina. Sampai saat ini terdapat

231 negara yang terjangkit virus Covid-19 salah satunya indonesia, WHO

telah menamai virus tersebut yaitu : Covid-19 (Syauqi, 2020; Yuliana,

2020). Pada tanggal 11 maret covid-19 telah di tetapkan oleh WHO dan

pemerintah sebagai pandemik (Tetty et al., 2021). Orang yang terinfeksi

virus covid-19 ditandai akan mengalami gejala flu yang disertai demam,

pilek, batuk kering, sakit tenggorokan dan sakit kepala (Yuliana, 2020).

Covid- 19 merupakan penyakit jenis baru yang belum perna diidentifikasi

sebelumnya oleh manusia dengan gejala umum infeksi seperti gejala

gangguan pernapasan akut, demam dan sesak napas (Dewi,

2020)(Kemenkes RI, 2020b) . Sebagian orang yang terinfeksi virus Covid-

19 akan mengalami penyakit pernapasan ringan hingga sedang dan sembuh

tanpa perawatan khusus (WHO, 2022) (Putra, Elsa, & Reza, 2020). Covid -

19 bersifat sensitif terhadap panas dan secara efektig dapat diaktifkan oleh

desinfektan yang mengandung klorin, pelarut lipit dengan suhu 56◦C selama

30 menit, alkohol, asam perioksiasetet, detergen, formalin (Yuliana, 2020).


12

b. Patofisiologi

Covid -19 kebanyakan menginfeksi hewan dan juga bersikulasi

dengan hewan. Virus ini di sebut dengan zoonotik yaitu virus yang

ditransmisikan dari hewan ke manusia. Ada banyak hewan liar yang dapat

membawa patogen dan bertindak sebagai vektor untuk penyakit menular

tertentu. Kelelawar tikus dan musang merupakan host yang biasa ditemukan

untuk Covid -19. Covid-19 pada kelelawar merupakan sumber utama untuk

kejadian Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute

Respiratorysyndrome (SARS). Covid -19 hanya dapat memperbanyak diri

melalui host-nya, oleh karenanya virus ini tidak bisa hidup tanpa sel host.

Sirkulasi dari covid-19 setelah menemukan sel host sesuai tropismenya

yaitu : penempelan virus masuk ke sel host yang diperantarai oleh protein S

yang ada di permukaan. Setelah virus berhasil masuk, selanjutnya terjadi

proses translasi replikasi gen dari RNA genom virus. Replikasi dan

transkripsi dimana sintesis virus RNA melalui translasi dan perakitan dari

kompleks replikasi virus (Yuliana, 2020).

c. Etiologi

Covid adalah virus RNA dengan ukuran partikel 120-160 nm.

Terdapat enam jenis corona virus yang dapat menginfeksi sebelum terjadi

wabah covid-19 yaitu : alpha corona virus 229E, alpha coronavirus NL63,

beta corona virus OC43, beta corona virus HKU1, SARS-CoV dan MERS-

CoV (Umakanthan et al., 2020).


13

Etiologi covid-19 adalah corona virus dengan genus beta corona

virus dimana virus memiliki subgenus yang sama dengan corona virus

SARS pada 2002-2004, dikenal SARS-CoV oleh International Committee

on Taxonomy of Virusess (Gorbalenya et al., 2020). SARS-Cov2 memiliki

tiga dimensi pada protein spike domain receptor binding yang hampir

identik dengan SARS-CoV. Protein pada SARS-CoV memiliki afinitas

yang kuat terhadap angiotensin converting enzyme-2 (ACE2) (Zhang et al.,

2020)

d. Manifestasi klinis

Infeksi Covid-19 dapat menimbulkan beberapa beberapa gejala

yaitu gejala ringan sedang dan berat. Gejala klinis utama yang muncul yaitu

demam dengan suhu > 38 ℃, batuk, kesulitan bernapas,malaise, sakit

kepala dan nyeri otot, jika ada orang yang dalam 14 hari sebelum muncul

gejala tersebut pernah melakukan perjalanan ke negara terjangkit, atau

pernah merawat/kontak erat dengan penderita covid-19, maka terhadap

orang tersebut akan dilakukan pemeriksaan laboratorium lebih lanjut untuk

memastikan diagnosisnya (Kemenkes RI, 2022a; Yuliana, 2020). Pada

beberapa pasien, ada yang hanya mengalami gejala ringan, bahkan tidak

disertai dengan demam (Burhan et al., 2020)

Berikut klasifikasi klinis yang dapat muncul jika terinfeksi :

1) Tidak berkomplikasi, kondisi ini merupakan kondisi yang paling ringan,

gejala yang muncul berupa gejala yang tidak spesifik. Gejala utama akan

tetap muncul seperti demam, batuk, dapat disertai dengan nyeri


14

tenggorokan, nyeri otot, sakit kepala, kongesti hidung dan malaise. Pada

pasien lanjut usia dan pasien immunocompromises presentasi gejala

menjadi tidak khas. Selain itu, pada beberapa kasus ditemui tidak disertai

dengan demam dan gejala relatif ringan atau sering disebut dengan orang

tanpa gejala (OTG). Pada kondisi ini pasien tidak memiliki gejala

komplikasi seperti dehidrasi, sepsis atau napas pendek (Burhan et al.,

2020).

2) Pneumonia ringan, gejala utama yang dapat muncul pada kondisi ini

yaitu demam, batuk, dan sesak, namun tidak ada tanda pneumonia berat.

Pada anak-anak dengan pneumonia ringan ditandai dengan batuk atau

susah bernapas (Burhan et al., 2020).

3) Pneumonia berat, pada pasien dewasa tanda dan gejala yang muncul

diantaranya demam atau kemungkinan infeksi saluran napas, takipnea

(frekuensi napas: >30x/menit), distress pernapasan berat atau saturasi

oksigen pasien 2 mmol/L (>18 mg/dL) meskipun telah dilakukan

resusitasi cairan yang adekuat (Priohutomo et al., 2015).

4) ARDS adalah suatu sindrom, kumpulan observasi klinis dan fisiologis

yang menggambarkan suatu keadaan patologis yang ditandai dengan

edema paru non kardiogenik, inflamasi pada paru, hipoksemia, dan

penurunan komplians paru. ARDS merupakan kelainan yang progresif

secara cepat dan awalnya bermanifestasi klinis sebagai sesak napas

(dyspneu dan tachypneu) yang kemudian dengan cepat berubah menjadi

gagal napas (Bakhtiar, 2019).


15

5) Sepsis adalah kondisi medis dengan respons disregulasi tubuh terhadap

suspek infeksi atau infeksi yang terbukti dengan disertai disfungsi organ.

Disfungsi organ ditandai dengan perubahan status mental, susah

bernapas atau frekuensi napas cepat, saturasi oksigen rendah, frekuensi

nadi meningkat, berkurangnya eksresi urin, akral dingin atau tekanan

darah rendah, kulit mottling atau terdapat bukti laboratorium

koagulopati, asidosis, trombositopenia, tinggi laktat atau

hiperbilirubinemia (Burhan et al., 2020).

6) Syok septik adalah disfungsi peredaran darah dan selular/metabolik yang

mendasari dan merupakan bagian dari sepsis. Bagi pasien dapat

didiagnosis menderita syok septik apabila diidentifikasi secara klinis

yaitu sepsis disertai hipotensi menetap yang membutuhkan vasopresor

untuk mempertahankan agar tekanan arteri rata-rata ≥65 mmHg dan

konsentrasi laktat darah >2 mmol/L (>18 mg/dL) meskipun telah

dilakukan resusitasi cairan yang adekuat (Purwanto & Astrawinata,

2018).

e. Penularan Covid-19

Proses awal transmisi coronavirus ini di perkirakan pertama kali

penyebarannya pada pasar makanan yang menjual hewan hidup yang ada di

Wuhan, namun saat wabah berlanjut virus ini beralih dari orang satu ke

orang lainnya segingga menjadi cara utama penularanya (Indrawati, 2021).

Menurut WHO, Covid-19 dapat menular ketika orang melakukan kontak

secara langsung dengan orang lain yang terinfeksi virus ini secara dekat
16

(jarak kurang dari 1 meter), selain itu droplet batuk, bersin, dan berbicara

juga sebagai salah satu transmisi penularan virus melalui mulut atau hidung

orang yang terinfeksi (WHO, 2022). Tidak hanya itu virus ini peyebarannya

juga dapat ditemukan di permukaan, atau benda, seperti meja, gagang pintu,

dan juga telapak tangan. Dengan begitu orang lain dapat terinfeksi dengan

menyentuh permukaan yang terkontaminasi tersebut, kemudian menyentuh

mata, hidung, ataupun mulut tanpa mencuci tangan terlebih (WHO, 2022).

Oleh karena itu perlu adanya menjaga gaya hidup sehat dengan

mengutamakan mencegah seperti mencuci tangan dengan baik dan benar,

tidak berkerumun, selalu mengenakan masker bila sakit ataupun berpergian,

serta mempertahankan kekebalan tubuh, maka dari itu menerapkan

pencegahan tersebut diharapkan dapat meminimalisir laju penularan wabah

Covid-19 (Wawan Masudi, 2021)

f. Transmisi

Masa inkubasi Covid-19 rata-rata 5-6 hari, dengan range antara 1

dan 14 hari namun dapat mencapai 14 hari. Hari-hari pertama merupakan

hari dengan risiko penularan tertinggi karena konsentrasi virus pada sekret

yang tinggi. Orang yang terinfeksi dapat langsung dapat menularkan sampai

dengan 48 jam sebelum onset gejala (presimptomatik) dan sampai dengan

14 hari setelah onset gejala. Penting untuk mengetahui periode

presimptomatik karena memungkinkan virus menyebar melalui droplet atau

kontak dengan benda yang terkontaminasi. Sebagai tambahan, bahwa

terdapat kasus konfirmasi yang tidak bergejala (asimptomatik), meskipun


17

risiko penularan sangat rendah akan tetapi masih ada kemungkinan kecil

untuk terjadi penularan (Lauer et al., 2020; Li et al., 2020). Partikel cair ini

memiliki ukuran berbeda, mulai dari 'tetesan pernapasan' yang lebih besar

hingga 'aerosol' yang lebih kecil. Orang lain dapat tertular Covid-19 ketika

virus masuk ke mulut, hidung atau mata mereka, yang lebih mungkin terjadi

ketika orang melakukan kontak langsung atau dekat (jarak kurang dari 1

meter) dengan orang yang terinfeksi (WHO, 2022).

g. Pencegahan Covid-19

Penyebaran virus covid-19 dapat dilakukan dengan preventif yaitu

dengan pencegahan dan penanggulangan transmisi covid-19 untuk

mencegah terjadinya penularan virus Covid-19 (Rahman et al., 2021) .

Menurut Kemenkes (2020) pencegahan yang efektif dalam memutus mata

rantai penyebaran covid-19 meliputi : pertama mencuci tangan secara rutin

dengan sabun dan air yang mengalir atapun menggunakan handsanitizer,

kedua memakai masker jika memiliki masalah kesehatan jika telah

digunakan buang masker ke tempat sampah dan, ketiga melakukan physical

distancing atau membatasi kegiatan di luar rumah serta menjaga jarak

(minimal 1 meter) dari orang yang dicuragai mengalamai gejala gangguan

pernafasan (Kemenkes RI, 2020a). Selain itu ada pula tindakan pencegahan

yang lebih lanjut seperti membersihkan tangan kurang lebih 30 detik

sebelum maupun sesudah menyentuh benda yang kemungkinan mudah

terkontaminasi Covid-19 seperti makanan atapun area pekerjaan,jangan

menyetuh area wajah seperti hidung, mata, mulut, ataupun bagian tubuh
18

dengan tangan yang belum dicuci, jangan berjabat tangan dan merangkul

orang lain di lingkungan terbuka, serta kontak langsung dengan hewan

peliharaan seperti merangkul, membelai, menjilat, mencium atau berbagi

makanan (Sajed & Amgain, 2020)

Beberapa langkah pencegahan yang direkomendasikan WHO yaitu

1) Secara teratur dan menyeluruh bersihkan tangan dengan usapan alkohol

(alcohol rub) atau cuci dengan sabun dan air. Mencuci tangan dengan

sabun dan air atau menggunakan alcohol rub akan membunuh virus yang

mungkin ada ditangan.

2) Menjaga jarak setidaknya 1 meter antar individu. Ketika seseorang batuk,

bersin, atau berbicara, droplet akan disemprotkan dari hidung atau mulut

yang mungkin mengandung virus. Jika terlalu dekat, droplet tersebut

dapat terhirup, termasuk virus Covid-19 didalamnya.

3) Hindari pergi ke tempat yang ramai di mana orang-orang berkumpul

bersama, kita lebih mungkin untuk melakukan kontak dengan seseorang

yang terjangkit Covid-19 dan lebih sulit untuk menjaga jarak fisik 1

meter.

4) Hindari menyentuh mata, hidung, dan mulut. Tangan menyentuh banyak

permukaan dan secara tidak sengaja virus dapat melekat kepadanya.

Setelah terkontaminasi, tangan dapat memindahkan virus ke mata,

hidung, atau mulut. Dari poin tersebut, virus dapat masuk ke tubuh dan

menginfeksi
19

5) Pastikan mengikuti kebersihan pernapasan yang baik, seperti menutupi

mulut dan hidung dengan siku saat batuk atau bersin, kemudian segera

buang tisu bekas (jika digunakan) dan cuci tangan. Dengan mengikuti

kebersihan pernapasan yang baik, kita akan melindungi orang-orang

sekitar dari virus.

6) Tetap di rumah dan isolasi diri. Jika harus meninggalkan rumah,

menggunakan masker untuk menghindari kontak dengan orang lain.

Menghindari kontak dengan orang lain akan melindungi kita dan orang

lain dari kemungkinan terjangkit Covid-19.

7) Jika mengalami demam, batuk, dan sulit bernapas, cari bantuan medis,

tetapi dianjurkan untuk menelepon terlebih dahulu jika memungkinkan

dan ikuti petunjuk dari otoritas kesehatan setempat. Menelepon terlebih

dahulu akan memungkinkan penyedia layanan kesehatan dengan cepat

mengarahkan ke fasilitas kesehatan yang tepat. Hal ini juga akan

melindungi dan membantu mencegah penyebaran virus.

8) Senantiasa mencari informasi terbaru dari sumber terpercaya, seperti dari

laman situs WHO atau otoritas kesehatan lokal dan nasional. Otoritas

lokal dan nasional paling baik ditempatkan untuk memberi nasihat

tentang apa yang harus dilakukan orang di setiap daerah (WHO, 2020)

2. Vaksinasi Covid-19

a. Definisi vaksinasi Covid-19

Vaksinasi merupakan zat atau senyawa yang berfungsi untuk

membentuk kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit. Vaksin terdiri dari


20

banyak jenis dan kandungan, masing-masing vaksin tersebut dapat

memberikan perlindungan terhadap berbagai penyakit yang berbahaya

(Simanjuntak et al., 2021). Vaksinasi adalah salah satu cara yang paling

efektif dan ekonomis dalam penyebaran penyakit menular. Sehingga

diperlukan untuk membuat pengembangan vaksin agar lebih efektif untuk

melemahkan infeksi virus corona (Makmun & Siti, 2020). Vaksinasi Covid-

19 sebagai sebuah program kebijakan pemerintah di seluruh dunia yang

bertujuan untuk mengurangi penularan Covid-19, menurunkan angka

kesakitan, kematian akibat Covid-19 dan tercapainya kekebalan kelompok

di masyarakat (herd immunity) serta melindungi masyarakat dari penyakit

Covid-19 agar tetap produktif secara sosial dan ekonomi. Kekebalan

kelompok hanya dapat terbentuk apabila cakupan vaksinasi tinggi dan

merata di seluruh wilayah (Yudistira, 2022).

b. Tujuan vaksinasi Covid-19

Tujuan dilaksanakannya vaksinasi Covid-19 ialah :

1) Merangsang sistem kekebalan tubuh.

Vaksin yang terdiri dari berbagai produk biologi dan bagian dari virus

yang sudah dilemahkan yang disuntikkan ke dalam manusia, akan

merangsang timbulnya imun atau daya tahan tubuh seseorang.

2) Mengurangi Risiko Penularan

Tubuh seseorang yang telah disuntikkan vaksin, akan merangsang

antibodi untuk belajar dan mengenali virus yang telah dilemahkan


21

tersebut. Dengan demikian, tubuh akan mengenai virus dan mengurang

risiko terpapar.

3) Mengurangi Dampak Berat dari Virus

Dengan kondisi kekebalan tubuh yang telah mengenali virus, maka jika

sistem imun seseorang kalah dan kemudian terpapar, maka dampak atau

gejala dari virus tersebut akan mengalami pelemahan.

4) Mencapai Herd Immunity

Semakin banyak individu yang melakukan vaksin di sebuah daerah atau

negara, maka Herd Immunity akan tercapai, sehingga meminimalisir

risiko paparan dan mutasi dari virus Covid-19

Dengan adanya informasi diatas, diharapkan masyarakat akan

mendapatkan kesadaran bersama tentang penting nya melakukan

vaksinasi di tengah pandemi yang melanda saat ini.

c. Respon imun terhadap vaksinasi

Material yang terkandung di dalam vaksin nantinya akan

berinteraksi dengan APCs (dendritik), yang akan dipresentasikan melalui

MHC I kepada CD8+ nantinya akan aktif menjadi sel efektor yaitu sel T

sitotoksik yang berperan pada Cellular Immune. Selain itu material dari

vaksin juga dipresentasikan ke MHC II sebagai CD4+ yang akan

mengaktifkan makrofag melalui sekresi IFN-γ. CD4+ nantinya akan

berinteraksi dengan B lymphocytes yang menghasilkan Humoral Immune

(Salvador et al., 2011).


22

d. Jenis-jenis vaksin Covid-19

1) AstraZeneca

Zeneca merupakan vaksin Covid-19 yang dapat menstimulasi

pertahanan alami tubuh (sistem imun), sehingga tubuh menghasilkan

antibodi terhadap virus tersebut dan akan membantu melindungi tubuh

dari Covid-19 di masa yang akan datang. Seperti halnya vaksin lainnya,

vaksin Covid-19 AstraZeneca mungkin tidak melindungi semua orang

yang divaksinasi, belum diketahui berapa lama orang yang telah

menerima vaksin akan terlindungi (Azzima et al., 2021). Vaksin Covid-

19 AstraZeneca masih sementara berada dalam tahap pelaksanaan uji

klinik tahap 3 di Inggris, Amerika Serikat, Afrika Selatan, Kolombia,

Peru dan Argentina. Sebanyak 40.000 sampel yang digunakan pada

pengujian vaksin ini. Dosis vaksin ini yaitu 0,22 ml atau 0,5 ml, yang

diberikan dengan 2 tahap. Pemberian vaksin tahap kedua dilakukan 28

hari setelah vaksinasi tahap pertama. Vaksinasi Covid-19 AstraZeneca

diinjeksikan melalui otot biasanya di lengan bagian atas (Matakena &

Peilouw, 2021)

2) Sinovac

CoronaVac yang diproduksi oleh Sinovac mengandung strain

SARS-CoV2 CN2 yang diekstraksi dari bronchoalveolar lavage (BAL)

dari pasien rawat inap di Wuhan, dikultur dalam sel Vero, dipanen,

dinonaktifkan menggunakan propiolactone, kemudian dimurnikan

sebelum akhirnya diserap ke dalam aluminium (Matakena & Peilouw,


23

2021). Sinovac saat ini menjalankan uji klinis fase 3 di Indonesia, Turki,

Brazil, dan Chili, Sebanyak >30.000 sampel (usia 18-59 tahun) yang

digunakan pada pengujian vaksin ini. Di Indonesia, Sinovac bekerja

sama dengan perusahaan farmasi milik negara Biofarma. Analisis

independen yang dilakukan oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan

Indonesia (BPOM) dan akan memberikan Otorisasi Penggunaan Darurat

jika disetujui. Sinovac akan menjadi vaksin utama yang akan digunakan

oleh Pemerintah Indonesia, dengan biaya ditanggung sepenuhnya.

Gelombang pertama 1,2 juta dosis vaksin Sinovac telah dikirim ke

Indonesia pada 6 Desember,dengan gelombang kedua 1,8 juta dosis

(Ophinni et al., 2020).

3) Sinopharm

Sinopharm merupakan perusahaan milik China juga

mengembangkan vaksin Covid-19, yang serupa dengan Sinovac, yaitu

merupakan vaksin yang tidak aktif dengan cara kerja yang serupa dengan

Sinovac. Pada 30 Desember Sinopharm telah mengumumkan bahwa uji

coba fase ke tiga vaksin menunjukkan nilai efektifitas sebesar 79%. Di

China sekitar satu juta orang sudah disuntik menggunakan Vaksin

Sinopharm, di bawah izin pengggunaan darurat. Akan tetapi Uni Emirat

Arab mengatakan menurut hasil uji coba pada penelitian fase ke tiga

menunjukkan angka efektifitas sebesar 86%. Turki, Brasil , Chili, Uni

Emirat dan Bahrain telah menyetujui penggunaan vaksin Sinopharm

(Nani Rahayu, 2021).


24

4) Vaksin moderna

Vaksin Moderna memiliki nama dagang adalah mRNA-1273,

yang dibuat oleh ModernaTX, Inc, dengan tipe vaksin adalah mRNA.

Vaksin Moderna Covid-19 merupakan vaksin yang telah diizinkan oleh

Food and Drug Administration (FDA) untuk penggunaan darurat dalam

mencegah Covid-19 (FDA, 2020: 1). Vaksin yang diproduksi oleh

Moderna telah melewati uji klinik tahap 3 di Amerika Serikat. Sebanyak

>30.000 sampel yang digunakan pada pengujian vaksin ini. Dosis vaksin

ini yaitu 100 µg, yang diberikan dengan 2 tahap. Pemberian vaksin tahap

kedua dilakukan 28 hari setelah vaksinasi tahap pertama (Ophinni et al.,

2020). Efek samping yang dapat terjadi setelah injeksi vaksin Moderna

Covid-19 yaitu: 1) Reaksi di tempat suntikan: nyeri, pembengkakan

kelenjar getah bening di lengan suntikan yang sama, bengkak (keras) dan

kemerahan. 2) Efek samping umum: kelelahan, sakit kepala, nyeri otot,

nyeri sendi, menggigil, mual dan muntah, serta demam (Ningrum et al.,

2020).

5) Novavax Inc

NVX-CoV2372 yang diproduksi oleh Novavax yang

mengandung protein S dari SARS-CoV-2 rekombinan dengan bahan

pembantu saponin matriks-M1 yang dikemas dalam nanopartikel. Vaksin

yang diproduksi oleh Novavax masih berada dalam tahap pelaksanaan uji

klinik tahap 3 di Inggris, India, Afrika Selatan dan Meksiko. Sebanyak

15.000 sampel di Inggris (usia 18-59 tahun) yang digunakan pada


25

pengujian vaksin ini. Dosis vaksin ini yaitu 5 µg atau 25 µg, yang

diberikan dengan 2 tahap. Pemberian vaksin tahap kedua dilakukan 21

hari setelah vaksinasi tahap pertama (Ophinni et al., 2020).

6) Vaksin Pfizer-BioNTech

Merupakan kolaborasi antara perusahaan bioteknologi Jerman,

BioNTech, dengan perusahaan farmasi asal Amerika, Pfizer. Terkait

pembuatannya, vaksin ini berbasis messenger RNA (mRNA) atau vaksin

asam nuklea. Vaksin ini menggunakan materi genetik, yaitu protein spike

dari Covid-19, yang dimanfaatkan untuk memberikan instruksi kepada

sel tubuh agar membentuk antibodi. Efikasi atau kemanjuran dalam

melawan Covid-19 sekitar 95 persen dan telah digunakan di berbagai

negara seperti Inggris, Australia, Amerika Serikat, Israel, Arab Saudi,

Korea Selatan, Filipina, Singapura, dan Malaysia (KompasTV.com,

2021;).

e. Uji Klinis Vaksinasi Covid-19

Pada tahapan pengembangan vaksin, terdapat uji praklinis dan tiga

fase uji klinis yang harus dilakukan sebelum dapat diedarkan, keseluruhan

tahapnya seringkali memakan waktu bertahun-tahun. Pengembangan vaksin

covid-19 dipercepat dengan dukungan beberapa faktor yaitu pengunaan

teknologi yang sudah ada, pengerjaan beberapa tahap secara simultan yang

mampu mempercepat 20 pengembangan vaksin tanpa mengurangi

pengawasan keamanannya serta adanya sumber daya dan atensi yang

melimpah akibat tekanan pandemi.


26

f. Perencanaan vaksinasi Covid-19

Dibutuhkan proses perencanaan yang komprehensif untuk

meningkatkan cakupan vaksinasi yang tinggi dan merata melalui

peningkatan akses terhadap layanan vaksinasi yang berkualitas dan sesuai

standar, termasuk dalam rangka pelaksanaan pelayanan vaksinasi Covid-19.

diharapkan kegiatan pelayanan vaksinasi dapat berjalan dengan baik

(Kemenkes RI Dirjen P2P, 2020)

Berikut ini penjelasan singkat mengenai komponen perencanaan vaksinasi

Covid-19:

1) Tahapan 1 dengan waktu pelaksanaan Januari-April 2021.

Sasaran vaksinasi Covid-19 tahap 1 adalah tenaga kesehatan,

asisten tenaga kesehatan, tenaga penunjang serta mahasiswa yang sedang

menjalani pendidikan profesi kedokteran yang bekerja pada Fasilitas

Pelayanan Kesehatan.

2) Tahap 2 dengan waktu pelaksanaan Januari-April 2021 Sasaran vaksinasi

covid-19 tahap 2 adalah:

a) Petugas pelayanan publik yaitu Tentara Nasional

Indonesia/Kepolisian Negara Republik Indonesia, aparat hukum, dan

petugas pelayanan publik lainnya yang meliputi petugas di

bandara/pelabuhan/stasiun/terminal, perbankan, perusahaan listrik

negara, dan perusahaan daerah air minum, serta petugas lain yang

terlibat secara langsung memberikan pelayanan kepada masyarakat.

b) Kelompok usia lanjut (≥ 60 tahun).


27

3) Tahap 3 dengan waktu pelaksanaan April 2021-Maret 2022

Sasaran vaksinasi Covid-19 tahap 3 adalah masyarakat rentan

dari aspek geospasial, sosial, dan ekonomi.

4) Tahap 4 dengan waktu pelaksanaan April 2021-Maret 2022

Sasaran vaksinasi tahap 4 adalah masyarakat dan pelaku

perekonomian lainnya dengan pendekatan kluster sesuai dengan

ketersediaan vaksin.

g. Layanan vaksinasi Covid-19

1) Vaksinasi dosis 1

Vaksin Covid-19 Sinovac merupakan vaksin yang paling pertama

tersedia di Indonesia dikembangkan dari inactivated virus dan diberikan

melalui intramuskular. Setiap orang mendapatkan dua dosis vaksin

Covid-19, masing-masing 0,5 ml dan tiap dosis diberikan dengan

interval 28 hari. Vaksin Covid-19 Sinovac ini juga dinyatakan aman

untuk anak-anak khususnya usia 12 sampai 18 tahun.

Program vaksinasi Covid-19 di Indonesia mulai dilakukan oleh

pemerintah, pada Rabu 13 januari 2021 di Istana Negara. Orang yang

pertama kali disuntik vaksinasi Sinovac adalah Presiden Joko Widodo.

Pada saat yang sama, sejumlah pejabat, tokoh agama, organisasi profesi

serta perwakilan masyarakat turut mengikuti vaksinasi. Ada empat

tahapan yang dilalui oleh Presiden saat menerima suntikan vaksin

Covid-19 yaitu tahap1 dilakukan pendaftaran dan verfikasi data, tahap

2 melakukan skrinning berupa anamnesa dan pemeriksaan fisik


28

sederhana dan melakukan pengecekan tekanan darah dan suhu tubuh,

tahap 3 menerima suntikan vaksin Covid-19, tahap 4 untuk dilakukan

pencatatan dan menunggu selama 30 menit untuk mengantisipasi

apabila ada Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) dan tahap terakhir

sebagai penerima vaksin diberikan kartu vaksinasi dan edukasi

pencegahan Covid-19. Setelah dilakukan penyuntikan vaksin Covid-19

Presiden turut mengingatkan agar seluruh masyarakat yang nantinya

akan divaksinasi agar tetap disiplin dalam menerapkan protokol

kesehatan 3M (memakai masker, menjaga jarak, dan menghindari

kerumunan, serta mencuci tangan. Sehari setelah penyuntikan kepada

Presiden Joko Widodo, vaksinasi akan dilakukan serentak dan bertahap

kepada tenaga Kesehatan dan tenaga penunjang Kesehatan di 34

provinsi di Indonesia (Kemenkes RI, 2021b).

Vaksinasi dapat dilakukan setelah terbitnya izin penggunaan

darurat Emergency Use Authorization (EUA) dari BPOM serta fatwa

halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Kementerian Kesehatan

terus melakukan pemantauan dan evaluasi untuk mengetahui sejauh

mana calon penerima vaksin Covid-19 melakukan registrasi dan

verifikasi data (Agustin, 2021). Covid-19 buatan Sinovac Biotech

dibuat dengan platform atau metode virus yang telah dilemahkan

(inactivated virus). Saat virus dimatikan lalu partikelnya dipakai untuk

membangkitkan imun tubuh sehingga tubuh bisa belajar mengenali

virus penyebab Covid-19, SARS-COV-2, tanpa harus menghadapi


29

risiko infeksi serius, vaksin ini diberikan dalam dua dosis atau perlu dua

kali suntikan (Firdaus, 2020).

Hanya berselang beberapa hari, BPOM kemudian kembali

mengeluarkan EUA untuk vaksin Covid-19 buatan perusahaan farmasi

Inggris, AstraZeneca, pada 22 Februari 2021 dengan nomor EUA

2158100143A1. BPOM memberikan izin penggunaan darurat untuk

AstraZeneca usai melakukan evaluasi bersama Komite Nasional Penilai

Obat dan pihak lainnya. Vaksin Covid-19 yang dikembangkan oleh

AstraZeneca dan University of Oxford ini memiliki efikasi sebesar 62,1

persen. Vaksin ini diberikan secara intramuskular dengan dua kali

penyuntikan. Setiap penyuntikan dosis yang diberikan sebesar 0,5

persen dengan interval minimal pemberian antar dosis yaitu 12

minggu.

2) Vaksinasi dosis 2

vaksin COVID-19 yang ada di Indonesia saat ini adalah vaksin yang

diberikan 2x dengan jarak waktu yang berbeda tergantung dari merek

vaksinnya. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor

HK.01.07/MENKES/4638/2021 tentang Juknis Pelaksanaan Vaksinasi

dalam Rangka Penanggulangan Pandemi Covid-19 untuk Sinovac

jaraknya 28 hari, Sinopharm - 21 hari, AstraZeneca - 12 minggu,

Moderna - 28 hari, dan Pfizer-BioNTech - 21 hari. Jika melewatkan

jadwal vaksin dosis kedua, maka datang sesegera mungkin ke tempat


30

pelayanan vaksinasi Covid-19 untuk dapatkan dosis kedua dari vaksin

yang bermerek sama (Kemenkes RI, 2021a).

3) Vaksinasi dosis 3

Pemerintah telah resmi menambahkan regimen vaksin booster, yakni

vaksin Sinopharm. Dengan demikian ada 6 jenis regimen vaksin

booster yang digunakan di Indonesia. Keenam regimen tersebut antara

lain vaksin Sinovac, AstraZeneca, Pfizer, Moderna, Janssen (J&J), dan

vaksin Sinopharm. Pelaksanaan vaksinasi booster dapat dilaksanakan

di seluruh kabupaten/kota bagi masyarakat umum. Pemberian dosis

booster dilakukan melalui dua mekanisme antara lain Homolog, yaitu

pemberian dosis booster dengan menggunakan jenis vaksin yang sama

dengan vaksin primer dosis lengkap yang telah didapat sebelumnya.

Sementara Heterolog, yaitu pemberian dosis booster dengan

menggunakan jenis vaksin yang berbeda dengan vaksin primer dosis

lengkap yang telah didapat sebelumnya. Regimen dosis booster yang

dapat diberikan yaitu jika vaksin primer Sinovac, maka vaksin booster

bisa menggunakan 3 jenis vaksin antara lain AstraZeneca separuh dosis

(0,25 ml), Pfizer separuh dosis (0,15 ml), dan Moderna dosis penuh (0,5

ml).

Vaksin primernya AstraZeneca maka boosternya bisa

menggunakan vaksin Moderna separuh dosis (0,25 ml), vaksin Pfizer

separuh dosis (0,15 ml), dan vaksin AstraZeneca dosis penuh (0,5 ml).

Vaksin primer Pfizer, untuk booster bisa menggunakan vaksin Pfizer


31

dosis penuh (0,3 ml), Moderna separuh dosis (0,25 ml), dan

AstraZeneca dosis penuh (0,5 ml). Vaksin primer Moderna, booster

dengan menggunakan vaksin yang sama separuh dosis (0,25 ml).

Kemudian vaksin primer Janssen (J&J), maka untuk booster dengan

menggunakan Moderna separuh dosis (0,25 ml). vaksin primer

Sinopharm booster nya menggunakan vaksin Sinopharm juga dengan

dosis penuh (0,5 ml) (Widyawati, 2022).

Vaksin booster adalah vaksinasi yang setelah seseorang

mendapatkan vaksin primer lengkap untuk meningkatkan sistem

pertahanan tubuh serta memperpanjang masa perlindungan tubuh.

Vaksinasi booster diselenggarakan oleh Pemerintah dengan sasaran

masyarakat usia 18 tahun ke atas dengan prioritas kelompok Lansia dan

penderita imunokompromais. Penerima vaksinasi booster berusia 18

tahun ke atas dan telah mendapatkan vaksinasi primer dosis lengkap

minimal 6 bulan sebelumnya.

3. Konsep Dasar Kepatuhan

a. Definisi kepatuhan

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) Kepatuhan berasal

dari kata patuh, patuh berarti suka menurut perintah, taat kepada perintah,

aturan, dan berdisiplin (KBBI, 2016). Kepatuhan adalah suatu bentuk

perilaku manusia yang taat pada aturan, perintah yang sudah ditetapkan,

prosedur dan disiplin yang harus dijalankan (Rosa, 2018). Selain itu
32

kepatuhan dapat diartikan sebagai prilaku seseorang terhadap ketentuan

yang diberikan oleh seseorang profesional kesehatan (Kurniawati, 2019).

b. Faktor faktor yang mempengaruhi kepatuhan

1) Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah

melakukan orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek

tertentu (Donsu, J, D, 2017)

2) Motivasi

Motivasi mempunyai arti dorongan, berasal dari bahasa latin

”movere” yang berarti mendorong atau menggerakan. Motivasi inilah

yang mendorong seseorang untuk berprilaku, beraktivitas dalam

pencapaian tujuan (Sugiyarti et al., 2012). Motivasi adalah sebuah

dorongan dari dalam diri seseorang yang menyebabkan seseorang

tersebut melakukan kegiatankegiatan tertentu guna mencapai suatu

tujuan, yang dapat diamati adalah kegiatan atau mungkin alasan-alasan

tindakan tersebut (Notoatmodjo, 2007).

3) Usia

Faktor usia merupakan faktor penentu ketidakpatuhan, karena

mereka yang berusia muda maupun usia lanjut memiliki motivasi untuk

hidup sehat selalu memperhatikan kesehatannya (L. A. Lestari, 2021) .

Dalam survei sosial demografi dampak Covid-19 yang dilakukan BPS

menyebutkan semakin tinggi usia respondent, semakin taat respondent


33

dalam berperilaku memenuhi himbauan protokol kesehatan

(Kompas.com, 2020)

4) Pendidikan

merupakan salah satu usaha pengorganisasian masyarakat untuk

meningkatkan kesehatan karena tingkat pendidikan dapat

mempengaruhi perilaku sehat keluarga dengan tingkat pendidikan yang

kurang mendukung akan menyebabkan rendahnya kesadaran

lingkungan, semakin baik tingkat pendidikan formal sehingga akan

mematangkan pemahaman tentang pengetahuan kesehatan lingkungan

dan kesadaran menjaga gaya hidup sehat sehingga dapat meningkatkan

tingkat kepatuhan seseorang (Adliyani et al., 2017)

5) Jenis kelamin

Jenis kelamin adalah kategori biologis perempuan laki-laki yang

berhubungan dengan kromosom, pola genetik dan struktur genital.

Berdasarkan hasil penelitian menyatakan bahwa respondent perempuan

memiliki tingkat kepatuhan yang lebih baik dan signifikan apabila

dibandingkan dengan respondent laki-laki (Tambuwun et al., 2021).

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Wiranti et al.,

2020) bahwa hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan antara

jenis kelamin dengan kepatuhan, Sehingga untuk meningkatkan

kepatuhan masyarakat dapat dilakukan upaya berupa menjadikan

perempuan sebagai motor penggerak kepatuhan, Melalui peran

perempuan sebagai ibu rumah tangga, kader, maupun tokoh masyarkat


34

dapat ikut turut mensosialisasikan gerakan mematuhi kebijak PSBB

untuk mengurangi penyebaran Covid-19

4. Konsep Dasar Pengetahuan

a. Definisi pengetahuan

Pengetahuan merupakan kumpulan informasi yang dimiliki

seseorang yang dapat dijadikan sebagai faktor penentu bagaimana manusia

berfikir dan bertindak (Izzaty et al., 2021). Kurangnya tingkat pengetahuan

serta pemahaman masyarakat terkait manfaat dan risiko dari vaksinasi,

menjadi salah satu penyebab ketidakpercayaan masyarakat terhadap vaksin

Covid-19 (Nugroho et al., 2021). Pengetahuan merupakan pemahaman

seseorang terhadap suatu objek sehingga seseorang mempunyai intensitas

atau tingkat yang berbeda-beda (Imas masturoh, 2018). Dari beberapa

peryataan di atas dapat disimpulkan bahwa pengetahuan ialah aspek kognitif

paling rendah akan tetapi sangat mendasar dengan pengetahuan seseorang

dapat mengenal dan meningat kembali suatu objek, peristiwa, ide dan

kesimpulan.

b. Tingkat pengetahuan

Ada pun beberapa tingkat pengetahuan (Notoatmodjo, 2007) yaitu:

1) Tahu (know) diartikan hanya sebagai recall (memanggil) memori yang

telah ada sebelumnya setelah mengamati sesuatu. Untuk mengetahui atau

mengukur bahwa orang tahu sesuatu dapat menggunakan pertanyaan-

pertanyaan.
35

2) Memahami (comprehension) suatu objek bukan sekadar tahu terhadap

objek tersebut, tidak sekadar dapat menyebutkan, tetapi orang tersebut

harus dapat menginterpretasikan secara benar tentang objek yang

diketahui tersebut.

3) Aplikasi (application) diartikan apabila orang yang telah memahami

objek yang dimaksud dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip

yang diketahui tersebut pada situasi yang lain.

4) Analisa (analysis) adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan

dan/atau memisahkan, kemudian mencari hubungan antara komponen-

komponen yang terdapat dalam suatu masalah atau objek yang diketahui.

5) Sintesis (synthesis) menunjukkan suatu kemampuan seseorang untuk

merangkum atau meletakkan dalam suatu hubungan yang logis dari

komponen-komponen pengetahuan yang dimiliki.

6) Evaluasi (evaluation) berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk

melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek tertentu.

c. Cara pengukuran pengetahuan

Menurut (Hendrawan, KA., 2020) cara untuk mengukur

pengetahuan dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu:

1) Cara memperoleh kebenaran nonilmiah

Cara tradisional ini dipakai orang untuk memperoleh kebenaran

pengetahuan, sebelum ditemukannya metode ilmiah atau metode

penemuan secara sistematik dan logis adalah cara nonilmiah, tanpa


36

melalui penelitian. Cara-cara penemuan pengetahuan pada periode ini

meliputi:

a) Kebenaran secara diperoleh manusia secara cepat sekali melalui

proses di luar kesadaran dan tanpa melalui proses penalaran atau

berpikir. Kebenaran ini diperoleh seseorang hanya berdasarkan intuisi

atau suara hati atau bisikan hati saja

b) Melalui jalan pikiran kebenaran diperoleh manusia menggunakan

jalan pikirannya, baik melalui induksi maupun deduksi

c) Induksi yaitu proses penarikan kesimpulan yang dimulai dari

pernyataan-pernyataan khusus ke pernyataan yang bersifat umum

d) Deduksi yaitu pembuatan kesumpulan dari pernyataan-pernyataan

umum ke khusus.

e) Cara coba salah (trial and error) cara ini dilakukan dengan cara coba-

coba dengan menggunakan beberapa kemungkinan dalam

memecahkan masalah, dan apabila kemungkinan tersebut tidak

berhasil, dicoba kemungkinan yang lain sampai masalah tersebut

dapat terpecahkan

f) Secara kebetulan penemuan kebenaran secara kebetulan terjadi karena

tidak disengaja oleh orang yang bersangkutan

g) Cara kekuasaan atau otoritas pada cara ini orang menerima pendapat

yang dikemukakan oleh orang yang mempunyai otoritas, tanpa

terlebih dahulu menguji atau membuktikan kebenarannya, baik

berdasarkan fakta empiris ataupun berdasarkan penalaran sendiri


37

h) Berdasarkan pengalaman pribadi pengalaman merupakan suatu cara

untuk memperoleh kebenaran pengetahuan

i) Cara akal sehat (common sense) akal sehat atau common sense dapat

menemukan teori atau kebenaran

2) Cara ilmiah dalam memperoleh pengetahuan

Cara baru atau modern dalam memperoleh pengetahuan pada

dewasa ini lebih sistematis, logis, dan ilmiah. Cara ini disebut metode

penelitian ilmiah, atau lebih populer disebut metodologi penelitian

(research methodology). Jadi mengukur pengetahuan dapat dilakukan

dengan pertanyaan langsung (wawancara) maupun pertanyaan tertulis

atau angket.

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara

atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang akan diukur dari

subjek penelitian atau responden ke dalam pengetahuan yang ingin

diukur dan disesuaikan dengan tingkatannya (Imas masturoh, 2018).

Adapun jenis pertanyaan yang dapat digunakan untuk pengukuran

pengetahuan secara umum dibagi menjadi 2 jenis yaitu:

1) Pertanyaan subjektif penggunaan pertanyaan subjektif dengan jenis

pertanyaan essay digunakan dengan penilaian yang melibatkan faktor

subjektif dari penilai, sehingga hasil nilai akan berbeda dari setiap penilai

dari waktu ke waktu.


38

2) Pertanyaan objektif Jenis pertanyaan objektif seperti pilihan ganda

(multiple choise), betul salah, dan pertanyaan menjodohkan dapat dinilai

secara pasti oleh penilai.

Berdasarkan pendapat di atas dapat, dapat disimpulkan bahwa

cara mengukur pengetahuan dapat dilakukan dengan penelitian maupun

tanpa melalui penelitian. Pengetahuan yang diukur tanpa melalui

penelitian merupakan cara tradisional dan sekarang jarang digunakan.

Untuk sekarang ini mengukur pengetahuan menggunakan metode

penelitian karena lebih sistematis, logis, dan ilmiah yaitu dengan

wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang akan

ingin diukur dari subjek penelitian atau responden

d. Faktor faktor yang mempengaruhi pengetahuan

Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan ialah

pendidikan, umur, paparan media massa, sosial ekonomi, hubungan sosial,

dan pengalaman. Menurut (YENI, 2015) ada beberapa faktor yang

mempengaruhi pengetahuan seseorang yaitu:

1) Tingkat pengetahuan seseorang, maka akan semakin mudah untuk

menerima informasi tentang objek atau yang berkaitan dengan

pengetahuan. Pengetahuan umumnya dapat diperoleh dari informasi

yang disampaikan oleh orang tua, guru, dan media masa. Pendidikan

sangat erat kaitannya dengan pengetahuan, pendidikan merupakan salah

satu kebutuhan dasar manusia yang sangat diperlukan untuk

pengembangan diri. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka


39

akan semakin mudah untuk menerima, serta mengembangkan

pengetahuan dan teknologi.

2) Pekerjaan dalam lingkungan

Pekerjaan seseorang dapat memperoleh pengalaman serta informasi

tentang pekerjaannya maupun diluar pekerjaan. Misalanya seorang yang

bekerja sebagai tenaga medis akan lebih mengerti mengenai penyakit dan

pencegahannya dari pada orang yang tidak bekerja.

3) Usia pada dasarnya usia mempengaruhi pola pikir dan daya tangkap

seseorang. Dengan bertambahnya usia daya tangkap seseorang akan

semakin berkembang diikuti dengan pola pikirnya sehingga dengan kata

lain, pengetahuan yang diperoleh akan semakin banyak.

4) Pengalaman seseorang sangat mempengaruhi pengetahuan, semakin

banyak pengelaman seseorang tentang suatu hal, maka akan semakin

bertambah pula pengetahuan seseorang akan hal tersebut. Pengukuran

pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang

menyatakan tentang isi materi yang akan diukur dari subjek penelitian

atau responden.

5) Sosial dan ekonomi Status ekonomi seseorang akan menentukan

ketersedian fasilitas yang diperlukan untuk memperoleh suatu informasi

tertentu sehingga akan mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang

juga.
40

6) Pendidikan

Pendidikan merupakan proses perubhan sikap dan prilaku individu atau

kelompk sebagai usaha untuk mendewasakan diri dengan pengajaran dan

penelitian, sehingga tinggi pendidikan seseorang berpengaruh terhadap

kecepatan menerima dan memahami sebuah informasi sehingga

pengetahuan yang di miliki juga semakin tinggi.

Sedangkan menurut (Alit Suwandewi, Hiryadi & F, 2020) faktor-

faktor yang mempengaruhi pengetahuan adalah sebagai berikut:

1) Faktor internal

a) Usia semakin tua usia seseorang maka proses-proses

perkembangan mentalnya bertambah baik

b) Pengalaman merupakan sumber pengetahuan, atau pengalaman

itu suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan

2) Faktor ekternal

a) Pendidikan adalah suatu kegiatan atau proses pembelajaran

untuk meningkatkan kemampuan tertentu.

b) Lingkungan memberikan pengaruh pertama bagi seseorang,

dimana seseorang dapat mempelajari hal-hal yang baik dan juga

hal-hal yang buruk, karna lingkungan seseorang bisa

terpengaruh tidak patuh dalam melakukan vaksinasi covid-19.

c) Informasi/media

Banyak informasi yang di peroleh mempengaruhi pengetahuan

seseorang dengan menambah pengetahuan dan wawasanya


41

dalam penelitian ini akan memberikan pengaruh pada

pengetahuan seseorang, melalui informasi dari berbagai media,

maka masyarakat harus memiliki pemahaman dan pengetahuan

terkait virus Covid-19 yang berbahaya dan rentan menular dan

informasi terkait melakukan tindakan pencegahan dengan

vaksinasi Covid-19 sehingga mampu melakukan pencegahan

lebih dini.

B. Kerangka Teori

Covid-19 Corona Virus Upaya Pencegahan Covid -19


Desiase (Covid-19) adalah
penyakit infeksi pada saluran - penerapan Protokol
pernapasan yang di temukan Kesehatan (prokes)
Pada akhir tahun 2019, dunia - Pembatasan Sosial
dihebokan dengan merebaknya Berskala Besar(PSBB)
infeksi covid-19 yang berasal - Vaksinasi Covid-19
dari Wuhan, Cina

Faktor faktor yang Faktor faktor yang mempengaruhi


mempengaruhi tingkat kepatuhan mengikuti program
pengetahuan vaksinasi Covid-19

- Pendidikan - Pengetahuan
- Usia - Motivasi
- Lingkungan - Usia
- Informasi - Jenis kelamin
- Sosial dan ekonomi - Pendidikan

Gambar 2.1 Kerangka Teori


42

C. Kerangka Konsep

Kerangka konsep merupakan suatu model yang konseptual yang berkaitan

dimana seorang peneliti menghubungkan penelitian yang dilakukan dengan teori

yang dianggapnya penting untuk masalah (Anggara, 2017). Konsep merupakan

absrak dari realita sehingga dapat membentuk teori yang bisa menjelaskan

bagaimana keterkaitan antar variabel. Dengan adanya kerangka konsep ini akan

membantu peneliti agar bisa menghubungkan penelitian yang dilakukan dengan

teori-teori yang ada (Nursalam, 2011).

Kerangka konsep merupakan suatu model yang konseptual yang berkaitan

dimana seorang peneliti menghubungkan penelitian yang dilakukan dengan teori

yang dianggapnya penting untuk masalah (Anggara, 2017). Untuk itu, yang

menjadi variable independen (bebas) yaitu tingkat pengetahuan dan yang menjadi

variable dependen (terikat) yaitu penerimaan program vaksinasi Covid-19

Variable Independen Variabel Dependen

Tingkat Kepatuhan
pengetahuan mengikuti vaksinasi
Covid-19
Keterangan :

: Variabel Independen

: Variabel Dependen

: Hubungan antar Variabel

Gambar 2.2 Kerangka Konsep


43

D. Variabel Penelitian

Variabel penelitian adalah karakteristik atau atribut dari individu atau

organisasi yang dapat diukur atau diobservasi yang bervariasi antara orang dan

organisasi yang diteliti. Variabel dapat diteliti sehingga menghasilkan data yang

bersifat kategori :data atau nominal, data kontinum : ordinal, interval dan ratio.

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel independen

( variabel yang mempengaruhi) dan variabel dependen (dipengaruhi) (Sukardi,

2021).

Adapun uraian dalam definisi operasional sebagai berikut :

1) Variabel bebas (Independen)

variabel independen (variabel bebas) merupakan variabel yang

mempengaruhi, yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel

dependen (terikat). Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah

Tingkat Pengetahuan

2) Variabel terikat (dependen)

Variabel dependen (variabel terikat) merupakan variabel yang

dipengaruhi atau menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Variabel

yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kepatuhan mengikuti Vaksinasi

Covid-19

E. Hipotesis

Hipotesis merupakan pernyataan yang masih lemah yang membutuhkan

pembuktian untuk menegaskan apakah hipotesis dapat diterima atau ditolak,


44

berdasarkan fakta atau data empiris yang telah dikumpulkan dalam penelitian

(Neliwati, 2018) Hipotesis dalam penelitian ini adalah :

Ha : Ada Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Kepatuhan Mengikuti

Vaksinasi Pada Mahasiswa S1 Keperawatan Di Universitas Megarezky

Makassar

Ho : Tidak ada Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Kepatuhan Mengikuti

Vaksinasi Pada Mahasiswa S1 Keperawatan Di Universitas Megarezky

Makassar
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain penelitian

Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang dilakukan dengan mengacuh

pada kaidah keilmuan yang bersifat konkrit/empiris, obyektif terukur, rasional dan

sistematis yang digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian dengan hasil

data yang didapat dalam bentuk angka serta menggunakan metode statistika dalam

analisisnya (Imas masturoh, 2018). Peneliti menggunakan jenis penelitian

kuantitatif korelasi dengan desain cross sectional. Cross Sectional merupakan

suatu desain penelitian yang mempelajari kesesuaian antara faktor resiko

(independen) dengan akibat (dependen) dengan pengumpulan data yang dilakukan

dalam satu waktu atau at one point in time secara serentak (Imas masturoh, 2018)

B. Populasi dan sampel

1. Populasi

Populasi penelitian adalah manusia yang memenuhi kriteria yang

telah ditetapkan (Nursalam, 2011). Populasi pada penelitian ini adalah

seluruh mahasiswa aktif S1 keperawatan Tahun 2022 yaitu sebanyak 362

responden.

2. Sampel

Sampel adalah bagian (subset) dari populasi yang dipilih dengan

cara tertentu hingga dianggap dapat mewakili populasinya (Sastroasmoro

dan Ismael, 2017). Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini

45
46

menggunakan teknik Purposive Sampling yaitu sampel dipilih berdasarkan

kriteria inklusi dan eksklusi secara berurutan hingga besar sampel

minimal terpenuhi (Nursalam, 2003).

Sementara dalam menentukan ukuran sampel peneliti menggunakan

Teknik Slovin dengan taraf kesalahan 5%. Rumus Slovin untuk menetukan

ukuran sampel adalah sebagai berikut:

Keterangan:

n = Jumlah Sampel

N = Jumlah Populasi

e2 = Error level (tingkat kesalahan) (Catatan: Umumnya digunakan 1% atau

0,01, 5% atau 0,05 dan 10% atau 0,1 (catatan dapat dipilih oleh peneliti).

Penyelesaian:
N
𝑛𝑛 =
1+(362) (0,05)2

362
𝑛𝑛 =
1+(362)(0,0025)

362
𝑛𝑛 =
1+0,905

362
𝑛𝑛 =
1,905

𝑛𝑛 = 190
47

3. Kriteria sampel

Penentuan kriteria sampel sangat membantu peneliti untuk

mempengaruhi hasil penelitian, khususnya jika pada variabel-variabel

korelasi ternyata mempunyai hubungan terhadap variabel yang di teliti

(Lilis, 2021). Dalam penentuan sampel terdapat 2 kriteria yaitu ktiteria

inklusi dan kriteria ekslusi

a. Kriteria inklusi

Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subjek penelitian

dari suatu populasi, target yang terjangakau dan akan di teliti.

Pertimbangan ilmiah harus menjadi pedoman saat menentukan kriteria

inklusi. Kriteria dalam penelitian ini adalah:

1) Responden yang bersedia jadi sampel dalam penelitian ini

2) Mahasiswa yang telah melakukan vaksinasi 1 dan 2

3) Mahasiswa aktif S1 keperawatan

4) Responden yang mampu menggunakan google form

b. Kriteria ekslusi

Kriteria eksklusi adalah menghilangkan atau mengeluarkan

subjek yang memenuhi kriteria inklusi. Kriteria eksklusi dalam

penelitian ini adalah:

1) Mahasiswa dengan gangguan kesehatan

2) Mahasiswa yang tidak bersedia menjadi sampel penelitian ini


48

C. Defenisi operasional

Tabel 3.2 Defenisi Operasional


No. Variabel Defenisi Cara ukur Kategori Skala
operasional Ukur
Independen

1. Tingkat Pengetahuan Kuesioner 7-14 tingkat Nominal


pengetahuan merupakan dengan 14 pengetahuan
vaksinasi kumpulan informasi pertanyaan, baik dan 0 -6
yang dimiliki jika jawaban pengetahuan
seseorang tentang benar = 1 dan kurang
vaksinasi untuk salah poin = 0
meningkatkan
kekebalan tubuh
seseorang
Dependen

2. Kepatuhan Kepatuhan dalam Patuh telah Telah vaksinasi Nominal


mengikuti menjalankan vaksinasi 3 = 1 3 = patuh
vaksinasi program vaksinasi dan tidak Belum vaksinasi
covid-19 dosis 3 patuh belum 3 = tidak patuh
vaksinasi 3 =2

D. Tempat dan waktu penelitian

1. Tempat penelitian

Penelitian ini telah dilakukan di Universitas Megarezky Makassar

Program studi S1 keperawatan

2. Waktu penelitian

Penelitian di Universitas Megarezky Makassar Program studi S1

keperawatan pada bulan agustus tahun 2022.

E. Alat pengumpulan data

Kuesioner merupakan alat pengumpulan data, dalam penelitian ini

menggunakan kuesioner yang baru di kembangkan oleh peneliti tentang

pengetahuan vaksinasi ke 3, kuesioner ini berupa 14 pertanyaan dan telah di

lakukan uji validitas dan reliabilitas oleh peneliti pada tahun 2022 dengan 30
49

responden, berdasarkan hasil uji pertanyaan pada kuesioner dianggap valid

dengan nilai Croncbach’s Alpa 0,629 (>0,6) yang berarti kuesioner ini reliabel

dan dapat digunakan kembali untuk penelitian.

Tabel 3.3 Nilai Validitas Kuesioner pengetahuan Vaksinasi 3

Nomor Soal r P-value Interpretasi


P-value
1 0,469 0,002 VALID
2 0,371 0,018 VALID
3 0,529 0,000 VALID
4 0,353 0,026 VALID
5 0,430 0,006 VALID
6 0,371 0,018 VALID
7 0,472 0,002 VALID
8 0,413 0,008 VALID
9 0,464 0,003 VALID
10 0,340 0,032 VALID
11 0,385 0,014 VALID
12 0,347 0,028 VALID
13 0,531 0,000 VALID
14 0,521 0,001 VALID

Tabel 3.4 Nilai Reliabilitas Kuesioner Kepatuhan pengetahuan Vaksinasi 3

Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha N of Items
0,629 20

F. Prosedur pengumpulan data

Instrument yang digunakan berupa kuesioner yang mengacu pada

kesesuaian dengan penelitian. Kuesioner yaitu salah satu metode pengumpulan

data dalam bentuk lembaran angket yang berisi sejumlah pertanyaan tertulis

dengan tujuan untuk memperoleh informasi.


50

Metode pengumpulan data yang digunakan ada 2 antara lain:

a. Data primer

Sumber data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data

kepada pengumpul data (Sugiyono, 2018). Dalam penelitian ini, sumber

data primer diperoleh dari kuesioner yang dibagikan.

1) Pengambilan data pertama menggunakan kuesioner yang dibagikan

dalam bentuk google form di grup WhatsApp. Kuesioner ini terdiri

dari 14 pertanyaan tingkat pengetahuan tentang vaksianasi, dalam

bentuk pertanyaan multiple choice setiap jawaban benar diberikan

skor 1 dan jawaban salah diberikan skor 0.

Kunci jawaban: 1 A, 2 C, 3 A, 4 D, 5 C, 6 B, 7 A, 8 E, 9 A, 10 C, 11

A, 12 D, 13 C, 14 A.

2) Pengambilan data kedua berdasarkan krateristik responden untuk

mengetahui kepatuhan responden apakah patuh atau tidak patuh dalam

mengikuti vaksinasi.

b. Sumber sekunder

Menurut Sugiyono sumber data sekunder adalah sumber data yang

tidak secara langsung memberikan data kepada pengumpul data tetapi

diperoleh dari orang lain atau lewat dokumen (Sugiyono, 2018). Dalam

penelitian ini sumber data sekunder yang diperoleh sebelum penelitian

berupa data dari Universitas Megarezky Makassar program studi S1

keperawatan.
51

G. RENCANA ANALISIS DATA

Pada penelitian ini, pengolahan data dilakukan dengan bantuan komputer

dan menggunakan program Statistical Program for Social Science (SPSS).

Variabel kategori dianalisis dalam bentuk frekuensi dan persentase yang disajikan

baik dalam bentuk tabel maupun grafik. Dalam penelitian ini dilakukan analisa

univariat yaitu tingkat pengetahuan dan kepatuhan mengikuti vaksinasi sedangkan

analisa bivariat untuk melihat hubungan antara tingkat pengetahuan kepatuhan

mengikuti vasinasi, yang akan di uji dengan analisis Chi Square. Jika data yang

didapat tidak terdistribusi dengan normal dapat dilakukan uji Fisher.

Langkah- langkah pengelolaan data:

1. Editing (memasukan)

Peneliti melakukan penyuntingan terhadap data yang sudah diperoleh,

memeriksa kembali data yang telah terkumpul kemudian dilakukan perbaikan

terhadap data yang keliru.

2. Coding (pengkodean)

Peneliti memberi kode terhadap data yang sudah terkumpul berupa angka

numerik sehingga memudahkan proses memasukkan data untuk dianalisis.

3. Data Entry atau processing

Setelah melakukan pemeriksaan dan pengkodean data hasil penelitian, peneliti

selanjutnya memasukan data ke perangkat lunak spss yang akan digunakan

untuk menganalisis data. Tabulasi Data Tabulasi adalah pengelompokan data

dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Proses tabulasi meliputi:


52

a. Mempersiapkan tabel dengan kolom dan baris yang disusun dengan

cermat dan sesuai kebutuhan.

b. Menghitung banyaknya frekuensi untuk tiap kategori / komponen pada

format pengumpul data

c. Menyusun distribusi atau tabel frekuensi baik berupa tabel frekuensi

dengan tujuan agar data yang ada dapat tersusun rapi, mudah untuk dibaca

dan dianalisis.

4. Cleaning (pembersihan)

Setelah data dimasukan, maka dilakukan pemeriksaan kembali agar tidak

terjadi kesalahan dalam data penelitian.

H. Etika penelitian

1. Informed consent

Responden harus diberikan informasi mengenai tujuan yang dilakukan

dalam penelitian yang dilaksanakan. Lembar inform consent yang diberikan

pada responden perlu menyertakan bahwa data yang diperoleh hanya

digunakan untuk pengembangan ilmu (Nursalam, 2020).

2. Anonymity (tanpa nama)

Dalam menjaga kerahasian responden, peneliti tidak mencamtumkan

nama pada lembar pengumpulan data dan hanya mencamtumkan inisial nama

dari responden pada lembar pengumpulan data (Nursalam, 2020).


53

3. Confidentiality (kerahasian)

Penelitian perlu memperhatikan hak menjaga kerahasiaan (rightto

privacy) yang memiliki maksud bahwa subjek memiliki hak untuk meminta

data dirahasiakan sehingga perlu untuk dibuat tanpa nama (anonymity) dan

rahasia (confidentiality) (Nursalam, 2020).


54

BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Hubungan tingkat pengetahuan dengan kepatuhan mengikuti vaksinasi pada

mahassiswa S1 Keperawatan di Universitas Megarezky Makassar. Universitas

megarezky makassar (UNIMERZ) adalah perguruan tinggi yang berada di kota

makassar, sulawesi selatan, di Jl. Antang Raya No.43. Kec. Manggala, Kota

Makassar, Sulawesi Selatan. Penelitan ini telah dilakukan sejak 13 Agustus – 29

Agustus 2022 dengan jumlah sampel 190 responden.

B. Hasil penelitian

Penelitan ini telah dilakukan sejak 13 Agustus – 29 Agustus 2022 dengan alat

ukur berupa kuesioner secara online ke media via whatsApp dengan bantuan google

formulir dengan sampel 190 kepada mahasiswa S1 keperawatan. Adapun

karakteristik responden yaitu :

Tabel 4.1
Karakteristik Responden Berdasarkan Usia
Usia Frekuensi Persentasi (%)
18 tahun 12 6,3
19 tahun 25 13,2
20 tahun 36 18,9
21 tahun 44 23,2
22 tahun 52 27,4
23 tahun 18 9,5
24 tahun 3 1,6
Total 190 100
Sumber : data primer agustus 2022
55

Berdasarkan tabel 4.1 menunjukan karateristik usia responden yang

tertinggi pada usia 22 tahun sebanyak 52 responden (27,4) yang terendah pada usia

24 tahun sebanyak 3 responden (1,6) responden.

Tabel 4.2
karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis kelamin Frekuensi Persentasi (%)
Perempuan 162 85,3
Laki-laki 28 14,7
Total 190 100,0
Sumber : data primer agustus 2022
Berdasarkan tabel 4.2 karateristik responden berjenis perempuan sebanyak
162 responden (85,3%) dan laki laki sebanyak 28 responden (14,7%).

Tabel 4.3
Karakteristik responden berdasarkan agama
Agama Frekuensi Persentasi (%)
Islam 143 75,3
Kristen 47 24,7
Total 190 100,0
Sumber : data agustus 2022
Berdasarkan tabel 4.3 karakteristik agama responden menunjukan agama
islam sebanyak 143 responden (75,3 %) dan agama kristen sebanyak 47 (24,7 %).

Tabel 4.4
Karakteristik responden berdasarkan angkatan
Angkatan Frekuensi Persentasi (%)
2018 64 33,7
2019 67 35,3
2020 28 14,7
2021 31 16,3
Total 190 100,0
Sumber : data primer agustus 2022
Berdasarkan tabel 4.4 menunjukan karateristik angkatan tertinggi pada
angkatan 2019 sebanyak 67 responden (35,3%) yang terendah pada angkatan 2018
sebanyak 64 responden (33,7%).
56

Analisis univariat digunakan untuk menjelaskan dan mendeskripsikankarakteristik

setiap variabel yang diteliti. Pada analisa univariat ini data kategori dapat

dijelaskan dengan angka atau nilai jumlah data persentase setiap kelompok.

1. Tingkat pengetahuan responden


Tabel 4.5
Distribusi responden berdasarkan tingkat pengetahuan
Pengetahuan Frekuensi Persentasi (%)
Baik 91 47,9
Kurang baik 99 52, 1
Total 190 100,0
Sumber : data agustus 2022

Berdasarkan tabel 4.5 menunjukan tingkat pengetahuan yang baik


sebanyak 91 responden (47,9%), sedangkan tingkat pengetahuan yang kurang
baik sebanyak 99 responden (52,1%).

2. Kepatuhan mengikuti vaksinasi covid-19


Tabel 4.6
Distribusi responden berdasarkan kepatuhan mengikuti vaksinasi
covid-19
Vaksinasi Presentase Persentase (%)
Patuh 54 28,4
Tidak patuh 136 71,6
Total 190 100,0
Sumber : data agustus 2022

Berdasarkan tabel 4.6 menunjukan yang patuh mengikuti vaksinasi

covid-19 sebanyak 54 responden (28,4%), sedangkan yang tidak patuh 136

responden (71,6%)
57

3. Hubungan tingkat pengetahuan dengan kepatuhan mengikuti vaksinasi pada

mahasiswa S1 keperawatan di Universitas Megarezky Makassar

Analisis bivariat digunakan untuk mengetahui apakah ada hubungan

tingkat pengetahuan dengan kepatuhan mengikuti vaksinasi covid-19 pada

mahasiswa S1 keperawatan di Universitas Megarezky Makassar dianalisis

menggunakan uji chi-square, dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4.7
Distribusi hubungan tingkat pengetahuan dengan kepatuhan mengikuti
vaksinasi covid -19 pada mahasiswa S1 keperawatan di Universitas
Megarezky Makassar
Kepatuhan mengikuti vaksinasi
Tingkat covid-19 Total P value
pengetahuan Patuh % Tidak % %
patuh
Baik 38 41,8 53 58,2 91 100
Kurang baik 16 16,2 83 83, 8 99 100 0,000

Total 54 28,4 136 71,6 190 100


Hasil uji chi-square alpha=0,05

Berdasarkan tabel 4.7 menunjukan bahwa 91 responden tingkat

pengetahuan baik terdapat 38 responden (41,85%) patuh mengikuti vaksinasi

covid-19 dan 53 responden (58,2%) tidak patuh mengikuti vaksinasi covid-19.

Di antara 99 responden tingkat pengetahuan kurang baik terdapat 16 responden

(16,25) patuh mengikuti vaksinasi covid-19 dan 83 responden (83,8%) tidak

patuh mengikuti vaksinasi covid-19.

Berdasarkan hasil perhitungan uji statistic chi square dengan

menggunakan SPSS di dapatkan angka p-value = 0,000. Apabila nilai alpa (a)
58

=0,05 maka nilai p-value =(0,000) < dari 0,05 maka menunjukan adanya

hubungan antara tingkat pengetahuan dengan kepatuhan mengikuti vaksinasi

covid-19 pada mahasiswa S1 keperawatan di Universitas Megarezky Makassar.

Hal ini dapat kita lihat dari perubahan pada setiap skor, oleh karenanya ada

hubungan maka hipotesis dalam penelitian ini adalah H0 di tolak dan Ha

diterima.

C. Pembahasan

1. Tingkat pengetahuan pada mahasiswa

Berdasarkan tabel 4.5 tingkat pengetahuan menunjukan yang

berpengetahuan baik sebanyak 91 responden (47,9%), sedangkan tingkat

pengetahuan yang kurang baik sebanyak 99 responden (52,1%). Dalam penelitian

ini didapatkan yang berpengetahuan kurang baik lebih banyak di bandingkan

dengan berpengetahuan baik. Adapun asumsi dari peneliti bahwa pengetahuan

merupakan bagaimna seseorang dapat mengeksplorasikan dirinya sesuai dengan

pengetahuan yang dimiliknya dari berbagai pengalaman atau peristiwa yang

terjadi maka pengetahuan seseorang akan bertambah sesuai dengan apa yang

diamatinya, dalam penelitian ini mahasiswa yang merupakan kalangan terpelajar

dan menjadi media informasi masyarakat masih banyak yang berpengetahuan

baik hal ini dapat dilihat dari bagaimna mahasiswa mampu menjawab setiap

pertanyaan pertanyaan yang ada, sebagian mahasiswa menganggap hal yang

sepeleh terhadap suatu penyakit, dari pernyatan di atas dapat di tekankan lagi
59

bahwa mahasiswa dituntut untuk lebih banyak mencari informasi tentang

kesehatan dalam hal memahami faktor faktor yang berkaitan dengan penyakit,

dan menggunkan pengetahuan tentang kesehatan yang dimiliknya untuk menjaga

kesehatan dirinya.

Menurut teori pengetahuan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang

melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi

melalui panca indra manusia yaitu indra penglihatan, pendengaran, penciuman,

rasa dan raba dan sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata

dan telinga. Pengetahuan dipengaruhi oleh pengalaman seseorang dan lingkungan

yang kemudian dapat diekspresikan dan diyakini sehingga menimbulkan motivasi

(Notoatmodjo, 2007). Pengetahuan merupakan kemampuan untuk membentuk

model mental yang menggambarkan obyek dengan tepat dan

mempresentasikannya dalam aksi yang dilakukan terhadap suatu objek (Moudy

& Syakurah, 2020). Pengetahuan merupakan kumpulan informasi yang dimiliki

seseorang yang dapat dijadikan sebagai faktor penentu bagaimana manusia

berfikir dan bertindak (Izzaty et al., 2021).

Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang mengatakan bahwa

kurangnya tingkat pengetahuan serta pemahaman masyarakat terkait manfaat dan

risiko dari vaksinasi menjadi salah satu penyebab ketidakpercayaan masyarakat

terhadap vaksinasi Covid-19 (Nugroho et al., 2021). Penelitian ini juga sejalan

dengan penelitian (Schweisfurth & Raasch, 2018) mengatakan bahwa terdapat


60

keterbatasan kemampuan daya serap individu untuk menguasai pengetahua yang

bersifat solutif sehingga di perlukan usaha yang keras untuk menciptakan inovasi.

Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian (Zhong et al., 2020)

menyatakan bahwa terdapat 82,4 % sampel penelitian berpendidikan lebih tinggi

pada penelitian ini didapatkan hubungan antara tingkat pendidikan dengan skor

pengetahuan, sehingga disebutkan bahwa situasi epidemik dan berita yang banyak

mengenai keadaan darurat kesehatan yaitu covid-19 membuat populasi secara

aktif mempelajari pengetahuan mengenai penyakit ini dari beberapa saluran

informasi dan situs yang resmi. Penelitian ini juga tidak sejalan dengan penelitian

(Sembiring & Meo, 2020) mengatakan bahwa penelitian yang di lakukan di

sulawesi terdapat hubungan antara pengetahuan dan sikap dengan pencegahan

penularan Covid-19 pada masyarakat bahwa semakin tinggi baik pengetahuan

seseorang terkait suatu hal maka semakin positif juga sikap yang dimiliki

masyarakat mengenai resiko penularalan Covid-19. Adapun faktor fator yang

mempengaruhi pengetahuan yakni pendidikan, informasi, ekonomi, usia,

pengalaman, soalial, budaya dan lingkungan (Nurislaminingsih, 2020). Tingkat

pengetahuan seseorang semakin tinggi maka akan semakin mudah untuk

menerima informasi tentang objek atau yang berkaitan dengan pengetahuan, Usia

pada dasarnya usia mempengaruhi pola pikir dan daya tangkap seseorang. Dengan

bertambahnya usia daya tangkap seseorang akan semakin berkembang diikuti

dengan pola pikirnya sehingga dengan kata lain, pengetahuan yang diperoleh akan

semakin banyak (YENI, 2015).


61

Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian (Sarwono, 2017) yang

mengatakan usia responden berada dalam pengelompokan usia remaja akhir,

dalam usia remaja akhir merupakan tahap massa konsolidasi menuji periode

dewasa yang di tandai dengan egonya mencari kesempatan untuk bersatu dengan

orang lain dalam pegalaman pengalaman baru, egosentrismen terlalu memusatkan

perhatian pada diri sendiri. Penelitian ini sejalan dengan penelitian (Nawangsari,

2021) yang menyatakan bahwa usia tidak memiliki pengaruh terhadap tingkat

pengetahuan tentang apapun khususnya pengetahuan tentang vaksinasi covid-19

karena kategori usia yang berbeda memungkinkan sesorang untuk memiliki

keaktifan serta memperole informasi yang sama. Penelitian ini sejalan dengan

penelitian (Anisa & Ramadhan, 2021) menyatakan bahwa usia tidak

mempengaruhi seseorang untuk berprilaku hidup sehat. sejalan dengan peneltian

(Komarudin, 2016) yang menyatakan bahwa kematangan berpikir seseorang tidak

menjamin seseorang untuk bertindak hidup sehat, pada usia berapapun apabila

memiliki motivasi yang kuat dalam diri untuk berprilaku hidup sehat dalam

prilaku pencegahan covid-19 dengan mengikuti vaksinasi maka perilaku

itulahkan muncul. Asumsi peneliti dari beberapa peryataan di atas maka dapat

disimpulkan bahwa pada tahap perkembangan remaja masih bingung dan

canggung dengan perubahan perubahan fisik dan juga psikis dalam diri mereka,

dalam kematangan berpikir remaja harus adanya dorongan positif dari orang tua

dan lingkungan sekitar.


62

2. Kepatuhan mengikuti vaksinasi covid-19 pada mahasiswa

Berdasarkan tabel 4.6 menunjukan yang patuh mengikuti vaksinasi covid-

19 sebanyak 54 responden (28,4%), sedangkan yang tidak patuh 136 responden

(71,6%). Berdasarkan asumsi penelitian ialah mahasiswa yang latar belakang

kesehatan tetapi sebagian mahasiwa tidak patuh terhadap salah satu program

pemerintah berdasarkan hasil wawancara pada mahasiswa sebagian mahasiswa

mengatakan ragu dengan efeksamping vaksinasi dikarenakan pernah mengalami

efeksamping pada vaksinasi sebelumnya, mahasiswa yang tidak mengetahui

manfaat dari vaksinasi dikarenakan kurang dalam mencari tahu informasi dari

vaksinasi sehingga pengetahuan yang di miliki mahasiswa yang tidak patuh

terbatas, agar mahasiswa patuh terhadap program vaksinasi covid-19 melalui

informasi dari berbagai media mahasiwa harus memilki pemahaman dan

pengetahuan terkait virus covid-19 sehingga mahasiswa dapat melakukan

tindakan pencegahan dengan vaksinasi covid-19. Dalam teori (Chusniah, 2019)

mengatakan kepatuhan merupakan suatu perubahan perilaku dari perilaku yang

tidak mentaati peraturan ke perilaku yang mentaati peraturan. Adapun teori

(Hilmawat, 2020) yang mengatakan kepatuhan adalah tingkat seseorang

melaksanakan suatu cara atau berprilaku sesuai dengan apa yang disarakan atau

dibebankan kepadanya. Adapun teori menrut (Loiseau et al., 2016) yang

mengatakan bahwa kepatuhan merupakan sejauh mana seseorang melakukan

perilaku, mencegah atau pengobatan yang disarakan oleh tenaga profesional.

Adapun menurut teori (Hartono, 2006) mengatakan bahwa kepatuhan merupakan


63

bentuk menerima perintah dari orang yang dapat menunjukkan perilaku taat

terhadap sesuatu ataupun seseorang.

Menurut (Rahayu et al., 2021) membagai kepatuhan menjadi tiga yaitu

keptuhan penuh, kepatuhan sebagian dan ketidakpatuhan yang di maksud dengan

kepatuhan penuh contohnya dimana perawat secara konsisten dan penuh

kesadaran melakukan apa yang disarankan, yang dimaksud dengan kepatuhan

sebagian adalah kondisi dimana perawat terkadang mengikuti saran dan terkadang

tidak, yang di maksud dengan ketidakpatuhan adalah kondisi dimana perawa

meninggalkan saran dan perintah. Adapun menurut (Sulistyaningsih, 2016)

mengatakan bahwa adanya beberapa faktor faktor yang bisa mendorong tingkat

kepatuhan seseorang, yang pertama adalah faktor komunikasi misalnya berbagai

askep komunias antara klien dan dokter mempengaruhi tingkat kepatuhan seperti

pemberian informasi mengenai vaksinasi, faktor yang kedua adalah pengetahun

dimana pengetahuan individu akan informasi terkait vaksin sangat diperlukan

dengan pengetahuan seseorang dapat melakukan perilaku preventif terhadao

kesehatan mereka, faktor yang ketiga adalah fasilitas kesehatan dimana dalam hal

mengacu pada sarana penting yang melakukan pelayanan vaksinasi kepada

masyarakat, fasilitas kesehatan memiliki peranan penting guna menunjang

kenyamanan sarana dan prasarana dalam pelayanan kesehatan, faktor yang

keempat adalah presepsi dimana presepsi individu dapat menentukan tingkat

kepatuhan dalam melakukan tindakan pencegahan suatu penyakit dengan adanya

persepsi seseorang dapat merasa memiliki kerentanan terhadap suatu penyakit.


64

Penelitian ini sejalan dengan penelitian (Mahmuda, 2022) tentang tingkat

kepatuhan terhadap protokol kesehatan dan cakupan vaksinasi Covid-19

menunjukkan hasil bahwa tingkat kepatuhan responden terhadap protokol

kesehatan mayoritas dalam kategori disiplin terhadap protokol kesehatan

sebanyak 38 (63,3%) dan tingkat cakupan vaksinasi covid-19 di kalangan

mahasiswa masih tergolong rendah yaitu sebanyak 40 (66,7%) belum melakukan

vaksinasi. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang di lakukan oleh

(Kawareng et al., 2021) yang menyatakan bahwa mahasiswa universitas

mulawaram samarinda mempunyai prilaku yang kurang dalam memutus

penyebaran penyakit Covid-19. hal ini sejalan dengan penelitian ini yang

dilakukan oleh (Pratywi, 2021) yakni mahasiswa universitas sumatra utara

mempunyai tingkat pengetahuan dalam kategori rendah tentang pencegahan dan

penularan Covid-19. Hal ini sejalan dengan survey yang mencatat bahwa sebagian

besar responden yang mematuhi program vaksinasi covid-19, (51%) bekerja di

sektor formal, (10%) wiraswasta atau pengusaha dan (30%) merupakan profesi

lain atau tidak bekerja seperti mahasiswa (Kemenkes RI, 2020d).

Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian (Aradista & Pratitis, 2020)

yang mengatakan bahwa kepercayaan kesehatan memiliki korelasi positif dengan

perilaku kepatuhan dimana hasil penelitian tersebut menemukan hubungan yang

positif antara kepercayaan kesehatan dengan perilaku kepatuhan pada

perkembangan remaja akhir menuju dewasa yang di mulai dari usia 18 hingga 25
65

tahun yang menunjukan bahwa tinggi kepercayaan kesehatan maka semakin

tinggi pula perilaku kepatuhan pada subjek penelitiannya atau sebaliknya.

Adapun faktor faktor yang mempengaruhi kepatuhan individu terhadap

tindakan preventif kesehatan yaitu pengetahuan, tingkat pendidikan, lingkungan

sosial, jenis kelamin, usia, dan sumber informasi (Devi, 2020). Sehingga

mahasiswa yang memiliki faktor tingkat pendidikan dan pengetahuan melalui

berbagai sumber informasi diharapkan bisa mematuhi program vaksinasi.

Berdasarkan usia/umur menunjukan berpengaruh positif terhadap tingkat

kepatuhan masyarakat dalam penerapan protokol kesehatan dengan kofisien

sebesar 0,02 yang artinya semakin tinggi usia responden maka semakin tinggi

pula tingkat kepatuhan protokol kesehatan, dengan pernyataan lain tingkat

kepatuhan masyarakt terhadap penerapan protokol kesehatan lebih banyak

ditemukan pada seseorang yang lebih tua/lanjut dibandingkat dari kalangan muda,

hal ini disebabkan pada kalanga tua mempunyao tingkat kerentanan yang tinggi

terpapar covid-19 sehingga seseorang yang masuk dalam kategori rentan akan

memilki kecenderungan akan selalu taat dan patuh pada penerapan protokol

kesehatan agar tidak terpapar Covid-19 (Riyadi & Larasaty, 2021).

Berdasarkan jenis kelamin menurut (Riyadi & Larasaty, 2021) yang

menyatakan perempuan memiliki kecenderungan lebih taat dan patuh pada

penerapan protokol kesehatan dibandingkan laki laki. Adapun pernyataan dari

(Raude et al., 2020) yang mengatakan bahwa terdapat perbedaan responden


66

perilaku terhadap penularan covid-19 dimana laki laki dan usia muda lebih

cenderung untuk tidak mematuhi anjuran dari pemerintah dengan skor tingkat

kepatuhan perempuan memiliki kecenderungan akan selalu taat dan patuh pada

penerapan protokol kesehatan dibandingkan laki laki. Berdasarkan tingkat

pendidikan, maka semakin tinggi kemungkinan individu melakukan tindakan

pencegahan terhadap bahaya dan kerentanan dari suatu penyakit (Park et al.,

2010)

3. Hubungan tingkat pengetahuan dengan kepatuhan mengikuti vaksinasi covid-19

pada mahasiswa

Berdasarkan tabel 4.7 menunjukan bahwa 91 responden tingkat

pengetahuan baik terdapat 38 responden (41,85%) patuh mengikuti vaksinasi

covid-19 dan 53 responden (58,2%) tidak patuh mengikuti vaksinasi covid-19. Di

antara 99 responden tingkat pengetahuan kurang baik terdapat 16 responden

(16,25) patuh mengikuti vaksinasi covid-19 dan 83 responden (83,8%) tidak patuh

mengikuti vaksinasi covid-19. Berdasarkan hasil perhitungan uji statistic chi

square di dapatkan angka p-value = 0,000. Apabila nilai alpa =0,05 maka nilai p-

value =(0,000) < dari 0,05 maka menunjukan adanya hubungan antara tingkat

pengetahuan dengan kepatuhan mengikuti vaksinasi covid-19.

Dalam penelitian ini responden yang berpengetahuan baik dan patuh

mengikuti vaksinasi covid-19, berdasarkan asumsi peneliti bahwa mahasiswa

yang berpengetahuan baik dan patuh melakukan vaksinasi di karenakan tingkat


67

pengetahuan merupakan faktor kesediaan individu untuk melakukan vaksinasi,

hal ini karena semakin tinggi ilmu pengetahuan yang dikuasai maka semakin luas

juga wawasan yang dimiliki mengenai tindakan-tindakan sehingga patuh untuk

melakukan program pemerintah yaitu vaksinasi untuk menekan angka

penyebaran Covid-19. Hal ini sejalan dengan penelitian (Yanti et al., 2020) yang

mengatakan bahwa pengetahuan masyarakat mengenai vaksinasi Covid-19

tergolong baik (70%) dengan nilai (p=0,044) . penelitian ini sejalan dengan

penelitian dari (Tamita et al., 2022) mengenai hubungan tingkat pengetahuan

dengan kepatuhan vaksinasi covid -19 dengan hasil p= 0,018. Hal ini sejalan

dengan penelitian yang di lakukan oleh (Lubis, 2021) di Universitas Sumatra

Utara kepada mahasiswa fakultas kedokteran sementer 6 ditemukan bahwa

mahasiswa kedokteran semester 6 memiliki kepatuhan dan prilaku yang baik

untuk mencegah penyebaran covid-19 karena di dukung oleh pengetahuan

mahasiswa yang baik berdasarkan hasil analisa uji statistik didapatkan nilai

p=0,032.

Penelitian sejalan dengan penelitian (Asefa, 2021) Pengetahuan di cina

terkait dengan covid 19 dengan hasil penelitian 82,3% baik. Sejalan dengan

penelitian (Salman et al., 2020) data pengetahuan mahasiswa pakistan terkait

dengan pengetahuan dalam pencegahan covid-19 mempunyai pengetahuan yang

baik. Peneitian ini tidak sejalan dengan penelitian (Wadood et al., 2020)

pengetahuan mahasiswa di salah satu universitas Banglasdesh menunjukan

pengetahuan sebagian besar buruk. Sejalan dengan penelitian (Agarwal et al.,


68

2020) data pengetahuan mahasiswa kedokteran di india yang memiliki

pengetahuan buruk terkait dengan covid-19. Sumber pengetahuan terkait dengan

covid-19 didapatkan mahasiswa dari media sosial, televisi, kementrian kesehatan,

WHO (Alzoubi et al., 2020). Berdasarkan asumsi peneliti dari beberapa penelitian

di atas dapat menjadi masukan sekaligus pertimbangan bagi pemerintah untuk

lebih menggalakkan sosialisasi dan edukasi kesehatan mengenai vaksinasi baik

secara orang per orang atau melalui media sosial.

Dalam penelitian ini didapatkan responden yang berpengetahuan baik

tetapi ada tidak patuh melakukan vaksinasi, berdasarkan asumsi peneliti

mahasiswa yang berpengetahuan baik tetapi tidak patuh dikarenakan aturan

aturan yang diterapkan pemerintah tidak seketat pada saat vaksinasi 2 sehingga

mahasiswa tahu tentang vaksinasi tetapi tidak mau melakukan vaksinasi

dikarenakan tidak ada keharusan atau kewajiban. Sejalan dengan penelitian

(Wahyuni et al., 2021) yang mengatakan hal ini disebebkan adanya sikap negatif

terhadap prilaku pencegahan Covid-19 terutama adanya sikap yang mengatakan

ketidak khawatiran tertular Covid-19 jika melalukan protokol kesehatan karena

suda divaksinasi (50%) dan ketidak percayaan bahwa penyakit Covid-19 itu

ada,nyata, dan semua itu benar (32,4%).

Dalam penelitian ini responden yang tingkat pengetahuan kurang baik

tetapi patuh mengikuti vaksinasi covid-19. Berdasarkan asumsi peneliti bahwa

mahasiswa yang pengetahuan kurang baik tetapi patuh dikarenakan keterpaksaan


69

melakukan vaksinasi sesuai dengan pengambilan data awal mahasiswa

mengatakan mau melakukan vaksinasi dikarenakan adanya persyaratan untuk

melakukan penerbangan atau keluar daerah dan urusan administrasi. Program

vaksinasi yang dilakukan oleh saat ini memunculkan pro dan kontrak dari

berbagai kalangan dan mempengaruhi perilaku masyarakat untuk patuh

melakukan vaksinasi, masyarakat yang mengikuti perintah /arahan dari

pemerintah tentu patuh terhadap program tersebut, agar patuh terhadap program

vaksinasi covid-19 melalui informasi dari berbagai media masyarakat harus

memiiliki pemahaman dan pengetahuan terkait virus Covid-19 dan informasi

terkait tindakan pencegahan dengan vaksinasi Covid-19 (Compas.TV, 2022)

Dalam penelitian ini responden dengan tingkat pengetahuan kurang baik

dan tidak patuh mengikuti vaksinasi. Berdasarkan hasil penelitian menurut asumsi

peneliti bahwa sebagian besar mahasiswa tidak patuh mengikuti vaksinasi hal ini

disebabkan tingkat pengetahuan yang kurang baik, dimana semakin tinggi ilmu

pengetahuan yang dikuasai maka semakin luas juga wawasan yang dimiliki

mengenai tindakan-tindakan yang perlu dilakukan untuk melakukan program

pemerintah tentang manfaat dari program vaksinasi. Ilmu psikologi sosial

kesehatan menjelaskan bahwa ketidakpatuhan masyarakat terhadap protokol

kesehatan sebagian besar terjadi karena kurangnya pemahaman mereka terhadap

bahaya penyakit dan manfaat penanganan dan besarnya hambatan dalam akses

kesehatan, Jika masyarakat memiliki persepsi yang baik terhadap kerentanan diri,
70

bahaya penyakit, keuntungan dari upaya pencegahan yang dilakukan dan

mendapat petunjuk bertindak serta minimalnya hambatan, maka self-

efficacy dapat dibangun (Eni, 2021). Adapun pernyataan dari (Nugroho et al.,

2021) yang mengatakan bahwa kurangnya tingkat pengetahuan serta pemahaman

masyarakat terkait manfaat dan risiko dari vaksinasi menjadi salah satu penyebab

ketidakpercayaan masyarakat terhadap vaksinasi Covid-19.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian (Wibrata et al., 2021) Hasil

penelitian ini menunjukkan Pengetahuan masyarakat dalam penerapan protokol

kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Bontonompo I kategori cukup sebanyak

49 orang (15,7%) dan 264 orang yang memiliki pengetahuan kurang (84,3%)

pengetahuan masyarakat masih kurang dalam Penerapan Protokol Kesehatan

disebabkan karena sebagian besar masyarakat masih menganggap covid-19 ini

hal yang banyak propaganda dan konspirasi sehingga memandang sebelah

mata terhadap penerapan protokol kesehatan.

D. Keterbatasan penelitian

1. Peneliti melakukan penelitian secara online sehingga peneliti terbatas dalam

memantau responden secara langsung

2. Peneliti kewalahan dalam menjawab satu satu pertanyaan dari responden di

karenakan banyak sampel

3. Pada awal meneliti sebagian responden kurang merespon


71

4. Peneliti merasa ketidakpuasan dalam menanggapi pertanyaan pertanyaan lewat

online karena keterlambatan respon dari peneliti sehingga responden salah

menjawab pertanyaanya
72

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Tingkat pengetahuan mahasiswa S1 kperawatan di Universitas Megarezky

Makassar dengan pengetahuan baik sebanyak 91 responden (47,9%)

2. Kepatuhan mengikuti vaksinasi covid-19 pada mahasiswa S1 keperawatan di

Universitas Megarezky Makassar yang patuh sebanyak 54 responden (28,4)

3. Adanya hubungan antara tingkat pengetahuan dengan kepatuhan mengikuti

vaksinasi pada mahasiswa S1 keperawatan di Universitas Megarezky Makassar

dengan hasil nilai p-value =(0,000) < dari 0,05

4. Saran

1. Saran bagi mahasiswa

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan acauan bahwa pentignya

pengetahuan penelitian ini didapatkan menjadi bahan acuan bahwa pentingnya

pengetahuan tentang kapatuhan mengikuti vaksinasi covid-19 agar menjadi

penguat untuk menerapkan dan menjalankan program program dari pemerintah.

Diharapakn dapat memutus rantai covid-19 terkhususnya di kalangan remaja yang

positif namun tidak memilki gejala


73

2. Saran bagi institusi kesehatan

Bagi institusi kesehatan diharapkan dapat memberikan informasi tentang

pentingnya meningkatkan pengetahuan tentang kepatuhan mengikuti vaksinasi

Covid-19 kepada masyarakat secara menyeluruh. Sehingga masyarakat dapat

menjalankan program progam dari pemerintah

3. Saran bagi peneliti selanjutnya

Bagi peneliti selanjutnya yang meneliti tentang hubungan tingkat pengetahuan

dengan kepatuhan mengikuti vaksinasi covid-19 pada penelitian ini bisa dijadikan

bahan dasar penelitian. Diharapkan dapat dikembangkan oleh peneliti selanjutnya

dengan menggunakan variabel


74

DAFTAR PUSTAKA

Adliyani, Z. O. N., Angraini, D. I., & Soleha, T. U. (2017). Pengaruh Pengetahuan,


Pendidikan dan Ekonomi terhadap Perilaku Hidup Bersih dan Sehat pada
Masyarakat Desa Pekonmon Kecamatan Ngambur Kabupaten Pesisir Barat.
Majority Journal, 7(1), 6–13.
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/majority/article/view/1733
Agarwal, V., Gupta, L., Davalbhakta, S., Misra, D., Agarwal, V., & Goel, A. (2020).
Undergraduate medical students in India are underprepared to be the young-
taskforce against Covid-19 amid prevalent fears. MedRxiv, 1–7.
https://doi.org/10.1101/2020.04.11.20061333
Agustin, S. (2021). Dosis Pertama Vaksin COVID-19.
https://www.alodokter.com/dosis-pertama-vaksin-covid-19-berbeda-jenis-
dengan-dosis-kedua-apakah-boleh
Alit Suwandewi, Hiryadi, M. R., & F. (2020). pengaruh pemberian pendidikan
kesehatan program isi pringku terhadap tingkat pengetahan ibu hamil. Journal of
Nursing Invention, 1(2), 41–47.
Alzoubi, H. M., Alnawaiseh, N., Al-Mnayyis, A. M., & Aqel, A. (2020). Expression
of glypican-3 in primary and metastatic tumor of neuroblastoma View project
Analyzing the spread of anthrax in farms in Pakistan and Jordan View project.
Article in Journal of Pure and Applied Microbiology, 14(March), 17–24.
https://www.researchgate.net/publication/340419519
Anggara, T. Y. (2017). Hubungan Dukungan Sosial Keluarga Dengan Kejadian
Depresi pada Lansia Usia 60-74 tahun (Di Dusun Bandung Desa Bandung
Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang). Doctoral Dissertation, STIKES Insan
Cendekia Medika Jombang, 19.
Anisa, N., & Ramadhan, Z. H. (2021). Peran Kepala Sekolah dan Guru dalam
Menumbuhkan Perilaku Hidup Sehat pada Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu,
5(4), 2263–2269.
Aradista, A. M., & Pratitis, N. (2020). Hubungan Antara Health Belief Model dengan
Perilaku Kepatuhan Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Selama
Pandemi COVID-19 pada Emerging Adult. Jurnal Penelitian Psikologi, 1(2),
117–130.
Ariana, E., Pujiyanto, & Hikmahwati. (2021). Strategi dan tantangan dalam
meningkatkan cakupan vaksinasi covid-19 unuk herd immunity. Jurnal Medika
Hutama, 03 (01)(01), 1273–1287.
Asefa, L. (2021). Assessment of Knowledge, Attitude and Practice Towards Covid 19
among Public. American Journal of Pharmacy And Health Research, 9(8).
https://doi.org/10.46624/ajphr.2021.v9.i8.003
Azzima, N., Putra, A. W., Ramadhani, S., Putra, A., & Achyar, A. (2021). Efektivitas
Beberapa Jenis Vaksin Terhadap Sistem Imun dalam Melawan Virus SARS-CoV-
2. Prosiding SEMNAS BIO 2021, 1(1), 241–252.
https://doi.org/10.24036/prosemnasbio/vol1/35
75

Bakhtiar, R. A. M. (2019). Acute respiratory distress syndrome. Anaesthesia and


Intensive Care Medicine, 20(11), 658–662.
https://doi.org/10.1016/j.mpaic.2019.09.006
Beni, K. M. (2021). Politik Hukum Pemerintah Dalam Penanganan Pandemi Covid-19
Ditinjau dari Perspektif Hak Asasi Atas Kesehatan. Jurnal Ham, 12(1), 37–55.
Burhan, E., Susanto, A. D., Nasution, S. A., Eka, G., Pitoyo, ceva W., Susilo, A.,
Firdaus, I., Santoso, A., Juzar, D. A., & Arif, S. K. (2020). Pedoman tatalaksana
COVID-19 Edisi 3 Desember 2020. In Pedoman Tatalaksana COVID-19.
https://www.papdi.or.id/download/983-pedoman-tatalaksana-covid-19-edisi-3-
desember-2020
Chusniah, W. (2019). Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku.
Compas.TV. (2022). Vaksinasi Booster di Jakarta Rendah, Dinkes DKI: Masyarakat
Pilih-pilih Vaksin. https://www.kompas.tv/article/268515/duh-animo-vaksinasi-
booster-di-jakarta-rendah-dinkes-dki-masyarakat-pilih-pilih-vaksin
Devi, N. (2020). Hubungan Antara Pengetahuan Masyarakat Dengan Kepatuhan
Penggunaan Masker Sebagai Upaya Pencegahan Penyakit Covid-19 Di
Ngronggah. Infokes: Jurnal Ilmiah Rekam Medis Dan Informatika Kesehatan,
10(1), 52–55. https://doi.org/10.47701/infokes.v10i1.850
Dewi, W. A. F. (2020). Dampak COVID-19 Terhadap Implementasi Pembelajaran
Daring di Sekolah Dasar. Edukatif : Jurnal Ilmu Pendidikan, 2(1), 55–61.
Donsu, J, D, T. (2017). Psikologi Keperawatan; Aspek-aspek Psikologi. Pustaka Baru
Press.
http://perpustakaan.bppsdmk.kemkes.go.id//index.php?p=show_detail&id=4663
Eni, A. (2021). Analisis: penyebab masyarakat tidak patuh pada protokol COVID-19.
https://theconversation.com/profiles/anastasia-heni-1056267
Firdaus, A. (2020). Mengenal Vaksin COVID-19 Sinovac Biotech, Vaksin Corona
Pertama di Indonesia. https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-
5284658/mengenal-vaksin-covid-19-sinovac-biotech-vaksin-corona-pertama-di-
indonesia
Gorbalenya, A. E., Baker, S. C., Baric, R. S., Groot, R. J. De, Gulyaeva, A. A.,
Haagmans, B. L., Lauber, C., & Leontovich, A. M. (2020). The species and its
viruses – a statement of the oronavirus study group. Biorxiv (Cold Spring Harbor
Laboratory), 1–15.
https://www.biorxiv.org/content/10.1101/2020.02.07.937862v1.full
Hamdani, A. R., Arfianti, U. I., & Asegaf, M. M. (2020). Implementasi Metode K-
Means Clustering Dalam Pengelompokan Penyebaran Covid-19 Di Surabaya.
Hartono. (2006). Pendahuluan. 4(1), 1–12.
Hendrawan, KA., H. A. (2020). Gambaran Tingkat Pengetahuan Nelayan tentang
Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Jurnal Saintara, 5(1), 26–32.
Hilmawat, S. (2020). Gambaran Praktik Five Moment Cuci Tangan Pada (Vol. 2, Issue
September).
Imas masturoh, N. anggita T. (2018). metodologi penelitian kesehatan.
Indrawati, S. M. (2021). merekam pandemik covid-19 dan memahami kerja keras
76

pengawal APBN.
Izzaty, R. E., Astuti, B., & Cholimah, N. (2021). Hubungan Pengetahuan dengan Sikap.
Angewandte Chemie International Edition, 6(11), 951–952., 6(3), 5–24.
Kawareng, A. T., Faisal, M., Mita, N., & Ahmad, I. (2021). Hubungan Tingkat
Pengetahuan dengan Perilaku Mahasiswa Universitas Mulawarman Samarinda
Terhadap Wabah Pandemi Covid-19. Jurnal Gizi Kerja Dan Produktivitas, 2(1),
1. https://doi.org/10.52742/jgkp.v2i1.11231
KBBI. (2016). kepatuhan. https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/kepatuhan
Kemenkes RI. (2020a). Panduan Cuci Tangan Pakai Sabun. Kesehatan Lingkungan,
20. https://kesmas.kemkes.go.id
Kemenkes RI. (2020b). Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Serta Definisi
Coronavirus Disease (COVID-19). Germas, 11–45.
https://infeksiemerging.kemkes.go.id/download/REV-
04_Pedoman_P2_COVID-19__27_Maret2020_TTD1.pdf [Diakses 11 Juni
2021].
Kemenkes RI. (2020c). Pencegahan Covid-19 di tempat kerja era New Normal.
Kemenkes RI. (2020d). Survei Penerimaan Vaksin COVID-19 di Indonesia. November.
Kemenkes RI. (2021a). Kapan Bisa Vaksin dosis dua.
https://covid19.go.id/masyarakat-umum/kapan-bisa-vaksin-dosis-kedua
Kemenkes RI. (2021b). Vaksin COVID-19 Merek Sinovac, AstraZeneca, Pfizer, dan
Novavax Tidak Dapat Dipergunakan untuk Vaksinasi Gotong Royong.
https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20210615/1837903/vaksin-
covid-19-merek-sinovac-astrazeneca-pfizer-dan-novavax-tidak-dapat-
dipergunakan-untuk-vaksinasi-gotong-royong/
Kemenkes RI. (2022a). Manifestasi klinis covid-19.
https://www.kemkes.go.id/folder/view/full-content/structure-faq.html
Kemenkes RI. (2022b). Vaksinasi COVID-19 Nasional Tanggal 17 Mei 2022.
https://vaksin.kemkes.go.id/#/vaccines
Kemenkes RI Dirjen P2P. (2020). Keputusan Direktur Jenderal Pencegahan dan
Pengendalian Penyakit Nomor Hk.02.02/4/1/2021 tentang Petunjuk Teknis
Pelaksanaan Vaksinasi dalam Rangka Penanggulangan Pandemi Corona Virus
Disease 2019 (COVID-19). Kementerian Kesehatan RI, 4247608(021), 114.
https://www.kemkes.go.id/article/view/19093000001/penyakit-jantung-
penyebab-kematian-terbanyak-ke-2-di-indonesia.html
Komarudin. (2016). Membentuk Kematangan Emosi dan Kekuatan Berpikir Positif
pada Remaja Melalui Pendidikan Jasmani. Jurnal Pendidikan Jasmani Indonesia,
12(2), 67–75.
KOMINFO. (2022). Situasi COVID-19 di Indonesia (Update per 5 Mei 2022).
Https://Covid19.Go.Id/. https://covid19.go.id/artikel/2022/05/05/situasi-covid-
19-di-indonesia-update-5-mei-2022
Kompas.com. (2020). Survei BPS: Kelompok Usia di Bawah 45 Tahun Paling Tidak
Taat Imbauan Pencegahan Covid-19.
https://www.kompas.com/tren/read/2020/06/04/083626065/survei-bps-
77

kelompok-usia-di-bawah-45-tahun-paling-tidak-taat-imbauan?page=all
Kompas.com 2022. (2022). Update Corona 5 Mei 2022. Www.Kompas.Com.
https://www.kompas.com/tren/read/2022/05/05/083000365/update-corona-5-
mei-2022--klaster-baru-di-gedung-putih-uji-coba-vaksin?page=all
KompasTV.com. (2021). 8 Jenis Vaksin Covid-19 yang Digunakan di Indonesia. 10
September 2021.
Kurniawati, W. widiatie. (2019). Pengaruh pendidikan kesehatan terhadap kepatuhan
diet pada penderita hipertensi. Of Health Science, 7(1), 1–7.
Lasmita, Y., Misnaniarti, & Haerawati Idris. (2021). Analisis penerimaan vaksinasi
covid-19 dikalangan masyarakat. Kesehatan Masyarakat Khatulistiwa, 9(4), 195–
204. https://doi.org/10.29406/jkmk.v9i4.3056
Lauer, S. A., Grantz, K. H., Bi, Q., Jones, F. K., Zheng, Q., Meredith, H. R., Azman,
A. S., Reich, N. G., & Lessler, J. (2020). The incubation period of coronavirus
disease 2019 (CoVID-19) from publicly reported confirmed cases: Estimation and
application. Annals of Internal Medicine, 172(9), 577–582.
https://doi.org/10.7326/M20-0504
Lestari, L. A. (2021). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan Pegawai Dalam
Penerapan Protokol Kesehatan Sebagai Upaya Pencegahan Penularan Covid-19
Di Kota Pasangkayu.
Li, Q., Guan, X., Wu, P., Wang, X., Zhou, L., Tong, Y., Ren, R., Leung, K. S. M., Lau,
E. H. Y., Wong, J. Y., Xing, X., Xiang, N., Wu, Y., Li, C., Chen, Q., Li, D., Liu,
T., Zhao, J., Liu, M., … Feng, Z. (2020). Early Transmission Dynamics in Wuhan,
China, of Novel Coronavirus–Infected Pneumonia. New England Journal of
Medicine, 382(13), 1199–1207. https://doi.org/10.1056/nejmoa2001316
Lilis, S. (2021). Pengaruh Pemberian Tepung Rumput Laut Terhadap Tekanan Darah
Pada Penderita Hipertensi di Kelurahan Tolandona Kabupaten Buton Tengah.
Universitas Megarezky.
Loiseau, M. N., Bonnaure, M., Le Berre, C., & Jezequel, C. (2016). Diagnostic D’Une
Aspartylglucosaminurie Chez Une Fillette De 9 Ans Admise En Pedopsychiatrie.
Pediatrie, 47(3), 191–194.
Lubis, D. A. S. (2021). Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Sikap dan Perilaku
terhadap Pencegahan Infeksi Covid-19 Pada Mahasiswa Semester 6 Fakultas
Kedokteran USU. https://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/31033
Mahmuda, I. T. J. dan I. N. N. (2022). Tingkat kepatuhan protokol kesehatan dan
cakupan vaksinasi pada mahasiswa UMS yang terpapar covid-19. Jurnal
Pendidikan Tambusai, 6(1), 1464–1470.
Makmun, A., & Siti, F. H. (2020). Tinjauan Terkait Pengembangan Vaksin Covid 19.
Molucca Medica, 13, 52–59. https://doi.org/10.30598/molmed.2020.v13.i2.52
Matakena, M. A., & Peilouw, J. S. F. (2021). Advance Purchase Agreement Sebagai
Instrumen Pembatasan Memperoleh Vaksin COVID-19 dari Perspektif Hukum
Internasional. TATOHI: Jurnal Ilmu Hukum, 1(10), 971–993.
https://fhukum.unpatti.ac.id/jurnal/tatohi/article/view/856
Moudy, J., & Syakurah, R. A. (2020). Pengetahuan terkait usaha pencegahan
78

Coronavirus Disease (COVID-19) di Indonesia. Higeia Journal of Public Health


Research and Development, 4(3), 333–346.
Nani Rahayu, R. (2021). Vaksin Covid 19 Di Indonesia : Analisis Berita HOAX. Jurnal
Ekonomi, Sosial & Humaniora, 2(7), 39–49.
Nawangsari, H. (2021). Hubungan Karakteristik Individu Dengan Pengetahuan
Tentang Pencegahan Coronavirus Disease 2019 Pada Masyarakat Di Kecamatan
Pungging Mojokerto. Sentani Nursing Journal, 4(1), 46–51.
https://doi.org/10.52646/snj.v4i1.97
Neliwati. (2018). metodologi penelitian kuantitatif (M. P. Oda Kinata Banurea (ed.)).
CV. Widya Puspita Jln. Keadilan/ Cemara, Lorong II Barat No. 57 Sampali
Medan CP: 081397477666 – 081361699291 - 081361060465.
Ningrum, H. ta, Ariyani, H., & Muthaharah, M. (2020). Studi Literatur Pola
Penggunaan Obat Off-Label Pada Pasien Obstetri Dan Ginekologi. JCPS (Journal
of Current Pharmaceutical Sciences), 4(1), 273–281.
https://journal.umbjm.ac.id/index.php/jcps/article/view/599
Notoatmodjo, S. (2007). Promosi Kesehatan & Perilaku. In Jakarta: Rineka Cipta
(Vol. 1, Issue 1).
Nugroho, S. A., Istiqomah, B., & Rohanisa, F. (2021). Hubungan Tingkat Pengetahuan
Dan Self Efficacy Vaksinasi Covid-19 Pada Mahasiswa Fakultas Kesehatan
Universitas Nurul Jadid. Jurnal Keperawatan Profesional, 9(2), 108–123.
https://doi.org/10.33650/jkp.v9i2.2768
Nurislaminingsih, R. (2020). Layanan Pengetahuan tentang COVID-19 di Lembaga
Informasi. Tik Ilmeu : Jurnal Ilmu Perpustakaan Dan Informasi, 4(1), 19.
https://doi.org/10.29240/tik.v4i1.1468
Nursalam. (2011). Konsep dan penerapan metodologi penelitian ilmu keperawatan:
pedoman skripsi. In Rhineka Chipta. https://library.ui.ac.id/detail?id=33776
Nursalam. (2020). Metodologi penelitian ilmu keperawatan. In : Peni Puji Lestari
(Ed.)� (Vol. 59). Salemba Medika Jln. Raya Lenteng Agung No. 101.
Octafia, L. A. (2021). Vaksin Covid-19: Perdebatan, Persepsi dan Pilihan. Emik, 4(2),
160–174. https://doi.org/10.46918/emik.v4i2.1134
Ophinni, Y., Hasibuan, A. S., Widhani, A., Maria, S., Koesnoe, S., Yunihastuti, E.,
Karjadi, T. H., Rengganis, I., & Djauzi, S. (2020). COVID-19 Vaccines: Current
Status and Implication for Use in Indonesia. Acta Medica Indonesiana, 52(4),
388–412.
Park, J., Cheong, H., Son, D., Kim, S., & Ha, C. (2010). Park et al. - 2010 - Perceptions
and behaviors related to hand hygiene for the prevention of H1N1 influenza
transmission among Korean un.pdf. 1–8.
Prasetio, R. B. (2021). Prespektif Hukum Tata Negara Darurat Dan Perlindungan HAM
Pandemic Covid-19. Jurnal Ilmiah Kebijakan Hukum, 15(2), 327–346.
Pratama, N. F. zudi. (2022). Hubungan Health Belief Model Dengan Perilaku
Kepatuhan Terhadap Program Covid-19 pada Mahasiswa. 45–54.
Pratywi, J. (2021). Gambaran Tingkat Pengetahuan Mahasiswa Universitas Sumatera
Utara Terhadap Pencegahan Penyebaran Covid-19.
79

http://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/30764
Priohutomo, S., Pompini, BS, D., Slamet, & Bratasena, A. (2015). Pedoman
Kesiapsiagaan Menghadapi MERS di Indonesia. 1–113.
Purwanto, D. S., & Astrawinata, D. A. W. (2018). Mekanisme Kompleks Sepsis dan
Syok Septik. Jurnal Biomedik (Jbm), 10(3), 143.
https://doi.org/10.35790/jbm.10.3.2018.21979
Rahayu, S., Susilaningsih, F. S., & Komariah, M. (2021). the Level of Compliance of
Healthcare Workers in Performing Hand Hygiene: a Literature Review. Journal
of Nursing Care, 4(1), 251. https://jurnal.unpad.ac.id/jnc/article/view/24478
Rahman, I., Amrullah, Z., Sutono, B., Kurniawan, A., Hasanah, B. H., & Elmazani, B.
(2021). upaya penanggulangan bencana covid-19 melalui pendekatan preventif
dan persuatif di kecamatan sakra barat, lombok timur. Jurnal Pepadu, 2(2), 149–
156.
Raude, J., Lecrique, J. M., Lasbeur, L., Leon, C., Guignard, R., du Roscoät, E., &
Arwidson, P. (2020). Determinants of Preventive Behaviors in Response to the
COVID-19 Pandemic in France: Comparing the Sociocultural, Psychosocial, and
Social Cognitive Explanations. Frontiers in Psychology, 11(November).
https://doi.org/10.3389/fpsyg.2020.584500
Riyadi, & Larasaty, P. (2021). Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Kepatuhan
Masyarakat Pada Protokol Kesehatan Dalam Mencegah Penyebaran Covid-19.
Seminar Nasional Official Statistics, 2020(1), 45–54.
https://doi.org/10.34123/semnasoffstat.v2020i1.431
Rosa, E. M. (2018). Kepatuhan. https://mars.umy.ac.id/kepatuhan-compliance/
Sajed, A. N., & Amgain, K. (2020). Corona Virus Disease (COVID-19) Outbreak and
the Strategy for Prevention. Europasian Journal of Medical Sciences, 2(1), 1–3.
https://doi.org/10.46405/ejms.v2i1.38
Salman, M., Mustafa, Z. U., Asif, N., Zaidi, H. A., Hussain, K., Shehzadi, N., Khan,
T. M., & Saleem, Z. (2020). Knowledge, attitude and preventive practices related
to COVID-19: a cross-sectional study in two Pakistani university populations.
Drugs and Therapy Perspectives, 36(7), 319–325.
https://doi.org/10.1007/s40267-020-00737-7
Salvador, A., Igartua, M., Hernández, R. M., & Pedraz, J. L. (2011). An Overview on
the Field of Micro- and Nanotechnologies for Synthetic Peptide-Based Vaccines.
Journal of Drug Delivery, 2011, 1–18. https://doi.org/10.1155/2011/181646
Sarafino, E. P. (2015). Health Psycology. In Syria Studies (Vol. 7, Issue 1).
https://www.researchgate.net/publication/269107473_What_is_governance/link/
548173090cf22525dcb61443/download%0Ahttp://www.econ.upf.edu/~reynal/C
ivil wars_12December2010.pdf%0Ahttps://think-
asia.org/handle/11540/8282%0Ahttps://www.jstor.org/stable/41857625
Sari, A. R., Rahman, F., Wulandari, A., Pujianti, N., Laily, N., Anhar, V. Y., Anggraini,
L., Azmiyannoor, M., Ridwan, A. M., & Muddin, F. I. (2020). Perilaku
Pencegahan Covid-19 Ditinjau dari Karakteristik Individu dan Sikap Masyarakat.
Jurnal Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan Masyarakat Indonesia, 1(1),
80

32–37. https://doi.org/10.15294/jppkmi.v1i1.41428
Sarwono, S. W. (2017). Book Review Sebuah Pengantar Dalam Psikologi. Book
Review, 2, 114–208.
Satuan Tugas Penanganan COVID-19. (2021). Tentang vaksin covid-19. 2021.
Schweisfurth, T. G., & Raasch, C. (2018). Absorptive capacity for need knowledge:
Antecedents and effects for employee innovativeness. Research Policy, 47(4),
687–699. https://doi.org/10.1016/j.respol.2018.01.017
Sembiring, & Meo, N. (2020). Pengetahuan dan Sikap Berhubungan dengan Resiko
Tertular Covid-19 pada Masyarakat Sulawesi Utara. NERS Jurnal Keperawatan,
16(2), 75. https://doi.org/10.25077/njk.16.2.75-82.2020
Simanjuntak, V. W., Angga, L. O., Charlota, L., & Tahamata, O. (2021). Perlindungan
Hukum Konsumen Bagi Penerima Vaksin Covid-19. SANISA: Jurnal Kreativitas
Mahasiswa Hukum, 1(2), 42–53.
Sugiyarti, I., Djarot, H. S., & Nurjanah, S. (2012). Hubungan Pendidikan Dan
Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Manfaat Asi Eksklusif Dengan Motivasi Untuk
Memberikan Asi Eksklusif (Studi Kasus Di Puskesmas Candilama Kota
Semarang). Jurnal Unimus, 1–7.
Sukardi. (2021). metodologi penelitian (R. Damayanti (ed.)). Bumi Aksara.
Sulistyaningsih. (2016). Hubungan Kepatuhan Minum Obat dengan Kualitas Hidup
Pasien Skizofrenia di Poli Jiwa RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri.
Jurnal Keperawatan.
sulselprov. (2022). Data update Sulawesi Selatan. https://covid19.sulselprov.go.id/
Syauqi, A. (2020). Jalanan panjang covid-19. 1(1), 1–9.
Tambuwun, A. A., Kandou, G. D., Nelwan, J. E., Kesehatan, F., Universitas, M., &
Ratulangi, S. (2021). Hubungan Karakteristik Individu Dengan Kepatuhan
Berobat Pada Penderita Hipertensi Di Puskesmas Wori Kabupaten Minahasa
Utara. Kesmas, 10(4), 112–121.
Tamita, K., Hasibuan, H., Aktalina, L., & Rifiza, C. (2022). Hubungan tingkat
pengetahuan dengan kepatuhan vaksinasi Covid-19 pada lansia di Kelurahan
Babura Kecamatan Medan Sunggal. Jurnal Kedokteran Ibnu Nafis, 11 No 1(1),
6–13. https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/ibnunafis/article/view/268%0AISSN
2613-9359
Tetty, Y., Aldy, R., Zulfendri, & Beni, S. (2021). Kebijakan karantina kesehatan dalam
upaya mencegah penularan corona virus 19 di kota Medan. Jurnal Pembangunan
Perkotaan, 9(1), 1–8. http://ejpp.balitbang.pemkomedan.go.id/index.php/JPP
Umakanthan, S., Sahu, P., Ranade, A. V., Bukelo, M. M., Rao, J. S., Abrahao-
Machado, L. F., Dahal, S., Kumar, H., & Kv, D. (2020). Origin, transmission,
diagnosis and management of coronavirus disease 2019 (COVID-19).
Postgraduate Medical Journal, 96(1142), 753–758.
https://doi.org/10.1136/postgradmedj-2020-138234
Wadood, A., Mamun, A., & Rafi, A. (2020). Authors : Methods : Results : Rajshahi
University, 1(1), 1–24. Pengetahuan Dan Sikap Mahasiswa Kesehatan Tentang
Pencegahan Covid-19 Di Indonesia
81

Wahyuni, Y., Purnamawati, D., Fauziah, M., & Putri, A. (2021). Gambaran sikap dan
perilaku pencegahan penularan covid-19 di Kabupaten Sukabumi. Prosiding
Seminar Nasional Penelitian LPPM UMJ, 1(1), 4–8.
https://jurnal.umj.ac.id/index.php/semnaslit/article/view/10612
Wawan Masudi, P. S. W. (2021). New normal. In Arq (Vol. 2021, Issue 107).
https://doi.org/10.4067/S0717-69962021000100010
WHO. (2020). Pencegahan dan pengendalian infeksi selama perawatan kesehatan
ketika dicurigai adanya infeksi novel coronavirus (nCoV).
https://www.who.int/publications/i/item/10665-331495
WHO. (2021). Asal usul virus SARS-CoV-2.
https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/origins-of-
the-virus
WHO. (2022). Pertanyaan dan jawaban terkait Virus Corona.
https://www.who.int/indonesia/news/novel-coronavirus/qa/qa-for-public
Wibrata, A. H., Yusriani, & Sudirman. (2021). Pengetahuan Masyarakat dalam
Penerapan Protokol Kesehatan di Wilayah kerja Puskesmas Bontonompo I Gowa.
2(4), 117–124.
Widya, W. G. (2022). Update Corona Indonesia 5 Mei 2022: Tambah 250 Kasus Baru,
445 Sembuh, 19 Meninggal. Https://Www.Tribunnews.Com/.
https://www.tribunnews.com/corona/2022/05/06/update-cc
Widyawati. (2022). Tambah Regimen Baru Vaksin Booster, Total Ada 6 Jenis Vaksin
COVID-19 yang Dipakai di Indonesia.
https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20220228/2439416/tambah-
regimen-baru-vaksin-booster-total-ada-6-jenis-vaksin-covid-19-yang-dipakai-di-
indonesia/
Wiranti, Sriatmi, A., & Kusumastuti, W. (2020). Determinan kepatuhan masyarakat
Kota Depok terhadap kebijakan pembatasan sosial berskala besar dalam
pencegahan COVID-19. Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia, 09(03), 117–
124. https://journal.ugm.ac.id/jkki/article/view/58484
Yanti, N. P. E. D., Nugraha, I. M. A. D. P., Wisnawa, G. A., Agustina, N. P. D., &
Diantari, N. P. A. (2020). Gambaran Pengetahuan Tentang Masyarakat Tentang
Covid-19 dan Prilaku Masyarakat di masa pandemik Covid-19. Jurnal
Keperawatan Jiwa, 8(4), 491.
YENI, P. S. I. (2015). Faktor-faktor yang berhubungan dengan pengetahuan
pengguaan obat genetik pada masyarakat di wilayah kerja puskesmas padang
payang kabupaten nagan raya tahun 2015.
Yudistira, N. W. (2022). The Role of Communication and Mass Media in the Diffusion
Process of the Covid-19 Vaccination Program Innovation Peranan Komunikasi
Dan Media Massa Dalam. 10(1). https://doi.org/10.21070/kanal.v10i1.1668
Yuliana, Y. (2020). Corona virus diseases (Covid-19): Sebuah tinjauan literatur.
Wellness And Healthy Magazine, 2(1), 187–192.
https://doi.org/10.30604/well.95212020
Zhang, H., Penninger, J. M., Li, Y., Zhong, N., & Slutsky, A. S. (2020). Angiotensin-
82

converting enzyme 2 (ACE2) as a SARS-CoV-2 receptor: molecular mechanisms


and potential therapeutic target. Intensive Care Medicine, 46(4), 586–590.
https://doi.org/10.1007/s00134-020-05985-9
Zhong, B. L., Luo, W., Li, H. M., Zhang, Q. Q., Liu, X. G., Li, W. T., & Li, Y. (2020).
Knowledge, attitudes, and practices towards COVID-19 among chinese residents
during the rapid rise period of the COVID-19 outbreak: A quick online cross-
sectional survey. International Journal of Biological Sciences, 16(10), 1745–
1752. https://doi.org/10.7150/ijbs.45221
83

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1

LEMBAR PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN

Kepada Yth:
Bapak/Ibu
Di tempat

Dengan hormat,

Saya yang bertanda tangan di bawah ini adalah mahasiswa Fakultas


Keperawatan dan Kebidanan Universitas Megarezky Makassar :
Nama : Sukma Umasangadi
Nim : 183145105037
Akan mengadakan penelitian dengan judul ”Hubungan Tingkat
Pengetahuan Dengan Kepatuhan Mengikuti Vaksinasi Pada Mahasiswa S1
Keperawatan Di Universitas Megarezky Makassar
Penelitian ini tidak menimbulkan kerugian bagi responden. Kerahasiaan
semua informasi yang diberikan akan dijaga dan hanya digunakan untuk
kepentingan penelitian. Apabila Bapak/Ibu menyetujui, maka dengan ini saya
mohon kesediaan menandatangani lembar persetujuan dan menjadi responden
yang akan diteliti.
Atas perhatian dan kesediaan Bapak/Ibu sebagai reponden saya ucapkan
terimakasih.

Peneliti

(Sukma umasangadji)
84

Lampiran 2
LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN

INFORMED CONSENT
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama :
Alamat :
Dengan ini bersedia menjadi responden dalam penelitian yang dilakukan oleh
mahasiswa program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Megarezky yang bernama
Sukma Umasangadji (183145105037) dengan judul ”Hubungan Tingkat
Pengetahuan Dengan Kepatuhan Mengikuti Vaksinasi Pada Mahasiswa S1
Keperawatan Di Universitas Megarezky Makassar” saya memahami penelitian ini
dimaksudkan untuk kepentingan ilmiah dalam rangka penelitian dan tidak merugikan
saya serta hal-hal yang bersifat rahasia dijaga kerahasiaannya.
Dengan demikian secara sukarela dan tidak ada unsur paksaan dari siapapun,
saya siap berpartisipasi dalam penelitian ini
Makassar, Juli 2022
Responden

( )
85

Lampiran 3 : lembaran koesioner


KOESIONER PENELITIAN
Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Kepatuhan Mengikuti Vaksinasi Pada
Mahasiswa S1 Keperawatan Di Universitas Megarezky Makassar

Karakteristik Responden
1. Inisial :
2. Jenis Kelamin :
a. Laki-laki
b. Perempuan
3. Usia
4. Agama
5. Kelas / angkatan

Apakah anda suda vaksinasi ?


Vasinasi 1 Vaksinasi 2 Vaksinasi 3

Ket : Jika suda di ceklis


Jika belum kosongkan

Koesioner tingkat pengetahuan Vaksinasi 3


Silahkan baca setiap pernyataan yang ada dan mengklik pada pilihan jawaban yang
tersedia
1. Apa yang dimaksud vaksin dosis 3 atau booster?
a. Vaksinasi dengan jenis vaksin yang sama (homolog) ataupun beda
(heterolog) dengan vaksinasi primer dosis 1 dan 2
b. Vaksinasi dengan jenis vaksin yang sama (homolog) dosis 1
c. Vaksinasi dengan jenis vaksin yang sama (homolog) dengan dosis 2
d. Vaksinasi dengan jenis vaksin yang beda (heterolog) dengan vaksinasi
primer dosis 1
e. Vaksinasi dengan jenis vaksin yang beda (heterolog) dengan vaksinasi
primer dosis 2
86

2. Siapa saja yang berhak mendapatkan vaksin booster?


a. Berusia 7 tahun ke atas
b. Berusia 10 tahun ke atas
c. Berusia 18 tahun ke atas
d. Berusia 25 tahun ke atas
e. Berusia 30 tahun ke atas
3. Kapan saya bisa mendapatkan vaksin booster?
a. Setelah 3 bulan mendapatkan vaksin dosis kedua
b. Setelah 3 bulan mendapatkan vaksin dosis pertama
c. Setelah 1 bulan mendapatkan vaksin dosis kedua
d. Setelah 6 bulan mendapatkan vaksin dosis kedua
e. Setelah 1 tahun mendapatkan vaksin dosis kedua
4. Apakah bisa memilih jenis vaksin booster yang diterima?
a. Bisa saja tergantung ketersediaan vaksin
b. Bisa saja jika ada orang dalam yang membantu
c. Bisa saja, jika ada keluhan minum obat
d. Tidak bisa, harus sesuai riwayat vaksin dosis 1
e. Tidak bisa, karna akan menyebabkan perdarahan
5. Apakah perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium tertentu sebelum dilakukan
vaksin booster?
a. Langsung saja melalukan vaksin booster jika sehat
b. Iya, harus melakukan pemeriksaan labolatorium
c. Tidak ada pemeriksaan labolatorium, kecuali atas indikasi dan saran dari
dokter
d. Ada pemeriksaan labolatorium untuk semua fungsi tubuh
e. Pemeriksaan laboratorium khusus fungsi paru saja
87

6. Apakah ada batas waktu untuk melakukan vaksinasi booster?


a. 6 bulan setelah vaksin 2
b. Segera mungkin setelah tiket vaksin munculdi aplikasi peduli lindungi
c. 3 bulan setelah vaksin dan tidak ada keluhan
d. Tidak ada batasan, tunggu peraturan baru yang mewajibkan
e. Tunggu ada keluhan terkait sistem pernapasan
7. Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang kemungkinan dialami oleh orang
yang sudah vaksin, kecuali :
a. Gejala mirip flu selama 5-6 hari
b. Menggigil
c. Sakit kepala
d. Nyeri sendi
e. Demam
8. Jika baru di vaksin selain vaksin Covid-19, maka kapan dapat diberikan vaksin
booster?
Jawaban :
a. Jarak 6 bulan
b. Jarak 5 bulan
c. Jarak 4 bulan
d. Jarak 2 bulan
e. Jarak 1 bulan
9. Pasien yang memiliki autoimun, kondisi seperti apa sehingga dapat diberikan
vaksin booster?
Jawaban
a. Konsultasikan dengan dokter terlebih dahulu
b. Hasil tes laboratorium semua baik
c. Dalam kondisi yang sehat
d. Teman dengan penyakit yang sama sudah vaksin dan tidak ada keluhan
e. Akan melakukan perjalan keluar kota dengan pesawat
88

10. Kapan vaksin booster dimulai diberikan kepada WNI?


a. 1 januari 2022
b. 6 januari 2022
c. 12 januari 2022
d. 18 januari 2022
e. 25 januari 2022
11. Apakah vaksin booster gratis?
a. Iya, jika di puskesmas
b. Tidak, jika jarak vaksin 2 ke booster lebih dari 6 bulan
c. Iya, jika memiliki keluarga di bagian vaksin
d. Gratis jika mengajak 2 keluarganya
e. Tidak tahu
12. Apakah boleh melakukan vaksin booster lebih cepat dari jadwal?
a. Iya, segera mungkin
b. Iya, selagi masih gratis
c. Iya, agar dapat keluar kota tanpa Rapid
d. Tidak, karena jadwalnya minimal 3 bulan dari vaksin 2
e. Tidak, karena jadwalnya minimal 2 bulan dari vaksin 2
13. Bagaimana cara mengetahui bahwa anda berhak mendapatkan vaksin booster?
a. Konsultasikan ke dokter
b. Tanyakan ke petugas vaksin
c. Lihat undangan yang muncul di peduli lindungi
d. Lihat kartu vaksin anda
e. Konsultasi ke perawat
14. Jika kasus Covid-19 meningkat, apakah yang sudah mendapatkan booster
minimal 6 bulan sebaiknya dilakukan booster kembali?
a. Perlunya booster ulang masih dalam tahap penelitian
b. Sudah harus vaksin kembali agar tidak terpapar
c. Jika tubuh sehat, tidak perlu vaksin lagi
89

d. Booster boleh sampai 3 kali dengan jarak 3 bulan


e. Jika sedang Flu, sebaiknya minum obat dul
90

KUNCI JAWABAN

1. A. Vaksinasi dengan jenis vaksin yang sama (homolog) ataupun beda (heterolog)
dengan vaksinasi primer dosis 1 dan 2
2. C. Berusia 18 tahun ke atas
3. A. setelah 3 bulan mendapatkan vaksin dosis kedua
4. D. Tidak bisa, harus sesuai riwayat vaksin dosis 1
5. C. Tidak ada pemeriksaan labolatorium, kecuali atas indikasi dan saran dari dokter
6. B. Segera mungkin setelah tiket vaksin munculdi aplikasi peduli lindungi
7. A. Gejala mirip flu selama 5-6 hari
8. E. Jarak 1 bulan
9. A. Konsultasikan dengan dokter terlebih dahulu
10. C. 12 januari 2022
11. A. Iya, jika di puskesmas
12. D. Tidak, karena jadwalnya minimal 3 bulan dari vaksin 2
13. C. Lihat undangan yang muncul di peduli lindungi
14. A. Perlunya booster ulang masih dalam tahap penelitian
91

lampiran 4 Tabulasi Data


NO jenis kelamin Usia od Agama Kelas Angkatan P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 P8 P9 P10 P11 P12 P13 P14 TOTAL kategori pengetahuan kategori vaksinasi
1 1 18 1 A 2018 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 1 0 4 kurang baik patuh
2 1 19 1 A 2020 1 1 1 1 1 0 0 0 0 1 1 1 0 0 8 baik patuh
3 1 21 1 A 2020 1 1 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 0 7 baik patuh
4 1 19 1 A 2020 0 1 1 0 0 0 0 0 0 1 0 1 1 0 5 kurang baik patuh
5 2 20 1 A 2020 1 1 1 1 1 0 0 0 0 1 1 1 0 0 8 baik patuh
6 2 20 1 A 2018 1 0 0 1 0 0 1 1 0 0 1 0 0 1 6 kurang baik tidak patuh
7 1 20 1 A 2020 0 0 1 0 1 1 1 0 0 1 1 1 0 0 7 baik patuh
8 2 20 1 C 2021 1 0 1 0 1 0 1 1 0 0 0 0 0 1 6 kurang baik tidak patuh
9 1 20 1 A 2020 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 1 1 1 11 baik tidak patuh
10 2 21 1 B 2018 0 1 1 0 0 0 1 0 1 0 1 1 0 1 7 baik tidak patuh
11 1 20 1 A 2020 1 0 1 0 1 1 0 0 0 0 1 1 1 0 7 baik tidak patuh
12 1 19 1 A 2020 1 0 0 1 0 0 0 1 0 1 1 1 0 1 7 baik tidak patuh
13 1 19 1 B 2021 1 0 1 0 1 0 0 0 1 1 1 1 1 0 8 baik tidak patuh
14 1 19 1 A 2020 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 0 0 10 baik tidak patuh
15 1 21 1 B 2020 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 1 1 11 baik tidak patuh
16 1 22 2 C 2018 1 0 0 0 0 0 1 0 1 0 1 0 0 0 4 kurang baik patuh
17 1 19 1 C 2021 1 1 1 0 1 0 0 0 0 1 1 1 0 1 8 baik patuh
18 1 22 1 C 2018 1 0 1 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 4 kurang baik tidak patuh
19 1 23 2 B 2018 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 2 kurang baik patuh
20 1 21 1 C 2018 1 1 1 0 0 0 1 0 0 0 1 1 0 0 6 kurang baik tidak patuh
21 1 18 2 B 2021 1 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 5 kurang baik tidak patuh
22 1 18 1 C 2021 1 0 0 0 0 0 1 1 1 0 1 0 1 0 6 kurang baik tidak patuh
23 1 24 2 B 2018 1 1 1 0 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 7 baik patuh
24 1 22 2 B 2018 1 1 1 0 0 0 1 1 0 0 1 1 1 0 8 baik patuh
25 1 21 1 A 2019 0 1 1 0 0 0 1 0 0 0 1 1 1 0 6 kurang baik tidak patuh
26 1 22 2 B 2018 1 1 1 0 1 0 1 0 1 0 0 0 0 0 6 kurang baik tidak patuh
27 1 19 1 A 2020 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 1 9 baik patuh
28 2 21 2 B 2020 0 0 1 0 1 0 1 0 0 0 0 1 0 0 4 kurang baik tidak patuh
29 1 23 2 A 2018 0 1 1 1 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 5 kurang baik patuh
30 1 23 1 A 2018 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 3 kurang baik tidak patuh
31 1 22 2 A 2018 0 1 0 1 1 0 1 0 1 1 0 1 1 0 8 baik patuh
32 1 22 2 A 2018 1 1 1 1 0 0 1 0 0 1 1 0 0 0 7 baik patuh
33 1 21 1 C 2018 0 0 1 1 1 0 1 0 1 0 1 1 0 1 8 baik patuh
34 1 21 2 C 2019 1 0 0 1 0 0 1 0 0 0 1 0 0 1 5 kurang baik tidak patuh
35 1 23 2 C 2018 0 1 1 0 1 0 1 0 0 0 0 1 0 0 5 kurang baik tidak patuh
36 1 22 1 B 2018 0 0 1 0 0 1 0 0 1 0 0 1 1 5 kurang baik tidak patuh
37 1 20 1 A 2020 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 12 baik patuh
38 1 22 2 C 2018 1 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 kurang baik tidak patuh
39 1 21 1 B 2019 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 1 0 1 4 kurang baik tidak patuh
40 1 24 2 C 2018 1 1 0 1 1 0 1 0 0 0 0 0 1 0 6 kurang baik tidak patuh
41 1 19 1 C 2019 0 1 0 1 0 0 0 0 1 0 1 1 1 0 6 kurang baik tidak patuh
42 1 22 2 A 2018 1 0 0 1 1 0 0 0 1 0 1 1 0 0 6 kurang baik patuh
43 1 22 1 A 2018 1 1 0 1 0 0 1 1 0 1 1 0 0 0 7 baik patuh
44 1 22 1 C 2018 1 1 1 1 0 0 1 0 1 0 1 0 0 0 7 baik patuh
45 2 23 1 B 2018 1 0 1 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 0 6 kurang baik tidak patuh
46 1 21 2 B 2018 1 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 1 5 kurang baik tidak patuh
47 1 23 1 A 2018 1 0 1 0 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 5 kurang baik tidak patuh
48 1 23 2 A 2019 1 0 0 1 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 7 baik patuh
49 2 23 2 B 2019 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 14 baik patuh
50 1 23 2 B 2019 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 13 baik patuh
51 1 22 1 C 2018 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 3 kurang baik patuh
52 1 22 1 B 2018 0 1 1 0 1 0 0 0 1 1 0 1 0 0 6 kurang baik tidak patuh
53 1 22 2 A 2018 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 12 baik patuh
54 1 21 2 B 2018 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 0 11 baik patuh
55 1 22 2 C 2021 1 1 0 0 0 1 0 1 0 1 1 0 0 0 6 kurang baik tidak patuh
56 1 22 1 B 2018 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 3 kurang baik tidak patuh
57 1 20 1 B 2020 1 1 0 1 0 0 0 0 1 0 1 1 0 0 6 kurang baik tidak patuh
58 1 21 2 B 2018 1 1 1 0 0 0 1 0 0 1 1 0 0 1 7 baik patuh
59 2 20 2 C 2019 1 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 0 1 1 10 baik patuh
60 2 22 2 B 2018 1 0 0 0 0 0 1 0 0 1 1 1 0 0 5 kurang baik tidak patuh
92

61 1 20 2 C 2018 1 1 0 0 0 0 1 0 1 0 1 1 1 1 8 baik patuh


62 1 21 1 B 2019 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 1 0 0 9 baik tidak patuh
63 2 22 2 C 2019 0 1 0 1 1 0 0 0 1 0 1 1 0 0 6 kurang baik tidak patuh
64 1 21 2 A 2018 1 1 1 1 1 0 0 0 1 0 1 0 0 0 7 baik patuh
65 1 22 1 C 2019 0 1 1 0 0 1 1 0 1 0 0 1 1 0 7 baik patuh
66 1 21 2 C 2018 0 1 0 0 1 0 1 0 0 0 1 1 0 0 5 kurang baik tidak patuh
67 1 20 1 C 2019 1 1 1 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 5 kurang baik tidak patuh
68 1 22 1 B 2018 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 4 kurang baik tidak patuh
69 1 20 2 C 2019 1 1 1 0 0 0 1 0 1 0 0 1 1 0 7 baik tidak patuh
70 1 23 1 B 2018 0 1 0 0 0 0 0 0 1 0 1 1 0 0 4 kurang baik tidak patuh
71 1 22 1 C 2018 1 1 1 1 0 0 0 0 0 1 0 1 1 0 7 baik tidak patuh
72 2 23 1 B 2021 1 1 1 0 0 0 0 0 1 0 1 1 0 0 6 kurang baik tidak patuh
73 2 20 2 C 2021 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 3 kurang baik tidak patuh
74 2 22 1 B 2020 1 0 1 1 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 5 kurang baik tidak patuh
75 1 22 1 B 2018 1 0 0 1 0 0 1 1 0 0 1 0 0 0 5 kurang baik tidak patuh
76 1 22 1 B 2018 1 1 0 1 0 0 1 1 0 1 1 1 0 0 8 baik patuh
77 1 22 2 B 2018 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 0 1 11 baik patuh
78 2 24 2 A 2018 1 1 0 0 0 0 0 0 1 0 1 1 0 0 5 kurang baik patuh
79 1 19 1 A 2021 1 1 0 0 0 0 1 0 1 0 1 0 0 0 5 kurang baik tidak patuh
80 1 18 1 C 2021 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 1 0 10 baik tidak patuh
81 1 21 1 C 2021 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 1 0 1 9 baik tidak patuh
82 1 20 1 A 2021 1 1 1 1 1 0 1 0 0 1 1 1 0 1 10 baik patuh
83 1 18 1 B 2021 1 0 1 0 1 0 0 0 1 1 1 1 0 0 7 baik tidak patuh
84 1 20 1 A 2021 1 1 1 0 1 0 0 0 0 1 1 1 0 1 8 baik tidak patuh
85 1 19 2 C 2021 0 1 1 1 1 0 0 0 0 1 0 1 1 0 7 baik tidak patuh
86 2 22 1 C 2018 1 1 1 1 0 0 0 1 0 1 0 1 1 0 8 baik tidak patuh
87 1 19 1 C 2021 1 1 1 0 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 11 baik tidak patuh
88 1 22 1 B 2018 1 0 0 1 1 1 1 1 0 0 0 1 0 1 8 baik tidak patuh
89 1 23 2 B 2018 1 1 0 1 1 0 0 1 1 0 1 1 0 1 9 baik patuh
90 1 23 2 B 2019 1 1 1 0 1 0 1 0 0 0 0 1 0 0 6 kurang baik tidak patuh
91 2 21 1 B 2019 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 0 1 0 1 9 baik patuh
92 1 21 1 B 2019 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 3 kurang baik tidak patuh
93 1 20 1 B 2019 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 11 baik tidak patuh
94 1 20 1 B 2019 0 1 0 1 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 6 kurang baik patuh
95 1 20 1 C 2019 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 1 0 0 0 3 kurang baik tidak patuh
96 1 22 1 B 2019 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 14 baik patuh
97 1 20 1 B 2019 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 14 baik tidak patuh
98 1 22 1 C 2019 1 0 0 0 1 0 1 0 0 1 0 0 0 0 4 kurang baik tidak patuh
99 1 21 1 B 2019 1 1 0 1 0 0 0 0 1 1 1 1 0 0 7 baik patuh
100 1 21 1 B 2019 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 7 baik tidak patuh
101 1 21 1 B 2019 0 0 1 0 1 1 0 1 1 1 0 0 1 0 7 baik tidak patuh
102 2 22 1 B 2019 0 1 1 1 1 0 1 0 0 0 1 1 0 0 7 baik tidak patuh
103 1 21 1 B 2019 1 1 0 0 0 0 1 0 1 1 0 0 0 0 5 kurang baik tidak patuh
104 1 20 1 B 2019 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 kurang baik tidak patuh
105 1 21 2 B 2019 1 1 1 0 1 0 1 0 1 0 1 1 0 1 9 baik tidak patuh
106 1 22 1 B 2019 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 0 0 9 baik patuh
107 1 21 1 B 2019 0 1 1 1 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 5 kurang baik tidak patuh
108 1 21 1 B 2019 1 1 1 0 1 0 1 1 1 0 0 0 1 1 9 baik tidak patuh
109 1 21 1 B 2019 1 1 1 1 0 0 0 0 1 0 1 1 0 0 7 baik tidak patuh
110 1 19 1 B 2019 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 1 0 5 kurang baik tidak patuh
111 1 22 2 B 2019 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 4 kurang baik tidak patuh
112 1 22 1 B 2019 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 6 kurang baik patuh
113 1 20 1 B 2019 1 1 1 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 1 6 kurang baik tidak patuh
114 1 21 1 A 2019 1 1 1 0 0 0 0 0 1 0 1 1 0 1 7 baik tidak patuh
115 1 21 1 A 2019 1 1 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 1 1 6 kurang baik tidak patuh
116 1 20 1 A 2019 1 1 1 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 5 kurang baik patuh
117 1 22 2 A 2019 1 1 0 0 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 9 baik tidak patuh
118 2 21 1 A 2019 0 1 0 0 0 0 1 0 1 1 1 1 0 0 6 kurang baik tidak patuh
119 1 20 1 B 2020 1 1 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 4 kurang baik tidak patuh
120 1 21 1 B 2020 1 1 0 0 1 0 1 0 0 0 1 1 0 0 6 kurang baik tidak patuh
93
121 1 19 2 B 2020 0 1 1 0 1 1 1 0 0 0 0 1 0 1 7 baik tidak patuh
122 1 22 1 A 2018 1 1 0 0 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 5 kurang baik patuh
123 1 22 1 C 2018 1 0 1 1 1 0 1 0 1 0 1 1 1 0 9 baik tidak patuh
124 1 22 1 C 2018 0 1 0 1 0 0 1 0 0 0 1 1 0 0 5 kurang baik tidak patuh
125 1 19 1 A 2018 1 1 1 0 0 0 1 1 1 0 1 0 0 1 8 baik tidak patuh
126 1 21 1 A 2018 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 5 kurang baik tidak patuh
127 1 22 1 A 2018 1 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 3 kurang baik tidak patuh
128 1 22 1 C 2018 0 1 1 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 1 5 kurang baik tidak patuh
129 1 19 1 C 2019 1 0 1 0 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 9 baik tidak patuh
130 1 22 1 C 2019 1 1 1 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 1 7 baik tidak patuh
131 1 21 1 C 2020 1 1 0 1 0 0 1 0 1 0 1 1 0 0 7 baik tidak patuh
132 1 21 1 C 2019 1 0 1 0 0 0 1 1 1 0 1 1 0 1 8 baik tidak patuh
133 1 21 1 A 2019 1 0 1 0 1 0 1 1 0 0 0 1 1 0 7 baik tidak patuh
134 1 20 1 A 2019 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 12 baik tidak patuh
135 1 20 1 C 2021 1 1 1 0 1 1 0 0 1 1 1 1 0 0 9 baik tidak patuh
136 1 20 1 B 2019 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 2 kurang baik tidak patuh
137 1 19 1 B 2019 0 1 0 0 0 1 0 0 0 1 0 1 1 0 5 kurang baik tidak patuh
138 1 20 2 C 2019 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 1 1 0 0 4 kurang baik patuh
139 1 19 1 B 2021 1 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 4 kurang baik tidak patuh
140 1 22 1 A 2019 0 1 1 0 0 0 0 1 1 0 0 1 0 1 6 kurang baik tidak patuh
141 1 22 1 A 2018 0 1 1 1 1 0 1 0 0 0 1 1 1 1 9 baik tidak patuh
142 1 23 2 A 2018 0 0 0 1 0 0 0 1 1 1 0 1 0 0 5 kurang baik patuh
143 1 21 1 B 2020 1 1 0 1 1 0 0 0 1 0 0 1 0 0 6 kurang baik patuh
144 1 22 1 A 2021 1 0 0 1 0 0 1 0 0 0 1 1 0 1 6 kurang baik tidak patuh
145 1 19 1 A 2020 1 1 1 1 1 0 0 0 1 0 1 0 1 0 8 baik tidak patuh
146 1 19 1 A 2019 1 1 0 0 0 0 0 1 0 0 1 1 0 0 5 kurang baik tidak patuh
147 1 19 1 A 2019 0 1 1 1 0 0 0 1 1 0 1 1 0 1 8 baik tidak patuh
148 1 19 1 A 2020 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 1 1 0 7 baik tidak patuh
149 1 18 1 A 2021 1 1 1 1 0 0 1 0 0 0 1 1 0 1 8 baik tidak patuh
150 1 23 1 C 2021 0 0 1 0 0 0 1 0 1 0 1 1 0 0 5 kurang baik tidak patuh
151 1 19 2 B 2021 1 1 1 0 0 0 0 0 1 0 1 1 1 0 7 baik tidak patuh
152 1 18 1 B 2021 1 0 1 1 1 0 0 0 0 1 1 1 1 0 8 baik tidak patuh
153 1 18 1 B 2021 1 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 9 baik tidak patuh
154 1 18 1 B 2021 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 11 baik tidak patuh
155 1 21 1 B 2021 0 0 0 1 1 0 1 0 0 0 1 1 1 0 6 kurang baik tidak patuh
156 2 20 1 C 2019 1 1 0 0 1 0 1 0 1 1 1 1 0 0 8 baik patuh
157 1 22 1 C 2019 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 12 baik patuh
158 1 21 1 C 2019 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 1 0 10 baik patuh
159 2 21 1 C 2019 1 1 0 0 0 0 0 0 1 0 1 1 0 1 6 kurang baik tidak patuh
160 2 23 2 C 2019 0 1 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 1 7 baik tidak patuh
161 1 20 2 C 2019 1 1 1 1 0 0 1 0 0 1 1 1 0 0 8 baik patuh
162 1 19 1 A 2019 1 1 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 7 baik tidak patuh
163 1 22 1 A 2019 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 0 1 1 0 7 baik patuh
164 1 19 1 A 2020 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 0 0 10 baik patuh
165 1 23 2 A 2018 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 4 kurang baik patuh
166 1 22 1 A 2018 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 1 0 0 0 6 kurang baik tidak patuh
167 1 22 1 A 2018 0 0 0 1 0 1 0 0 0 1 0 0 1 0 4 kurang baik tidak patuh
168 1 23 1 C 2018 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 4 kurang baik tidak patuh
169 2 22 1 B 2021 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 1 0 3 kurang baik tidak patuh
170 2 20 1 A 2020 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 3 kurang baik tidak patuh
171 1 21 1 A 2020 0 1 1 1 0 0 0 1 1 0 0 1 1 0 7 baik tidak patuh
172 1 18 1 B 2020 1 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 3 kurang baik tidak patuh
173 2 21 2 B 2020 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 3 kurang baik tidak patuh
174 1 18 1 C 2018 1 0 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 8 baik tidak patuh
175 1 20 1 A 2021 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 kurang baik tidak patuh
176 2 18 1 C 2018 1 1 1 0 0 0 1 0 0 1 1 0 0 0 6 kurang baik tidak patuh
177 1 21 1 A 2020 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 1 0 0 0 3 kurang baik tidak patuh
178 1 20 1 B 2021 0 0 0 1 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 3 kurang baik tidak patuh
179 2 20 1 C 2018 1 0 1 0 0 0 1 0 0 1 0 0 1 0 5 kurang baik tidak patuh
180 1 22 1 C 2018 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 1 0 0 0 3 kurang baik tidak patuh
181 1 20 1 A 2021 0 1 0 1 0 1 0 0 0 0 1 1 1 0 6 kurang baik tidak patuh
182 1 21 1 B 2019 1 0 0 0 0 1 1 0 1 1 0 0 0 0 5 kurang baik tidak patuh
183 2 22 1 A 2019 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 kurang baik tidak patuh
184 1 20 1 C 2019 0 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 kurang baik tidak patuh
185 1 20 1 B 2021 0 1 0 0 1 1 1 0 0 0 0 0 1 0 5 kurang baik tidak patuh
186 2 22 1 C 2018 1 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 1 0 0 5 kurang baik tidak patuh
187 1 21 1 B 2019 1 0 0 0 0 1 1 0 0 1 0 0 0 0 4 kurang baik tidak patuh
188 1 22 1 A 2019 0 0 1 1 1 1 0 0 1 0 1 1 0 0 7 baik tidak patuh
189 1 21 1 B 2018 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 2 kurang baik tidak patuh
190 1 20 1 A 2019 1 0 0 0 1 1 0 0 1 1 0 0 1 1 7 baik tidak patuh
94

Lampiran 6 Analisis Hasil Penelitian

Analisis hasil uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner tingkat pengetahuan tentang vaksinasi 3
Soal1 Soal2 Soal3 Soal4 Soal5 Soal6 Soal7 Soal8 Soal9 Soal10 Soal11 Soal12 Soal13 Soal14 Soal15 Soal16 Soal17 Soal18 Soal19 Soal20 Total
Soal1 Pearson 1 0,061 0,126 ,375
* 0,302 0,007 0,105 -0,088 -0,053 -0,051 0,290 0,062 -0,010 0,050 0,231 0,232 0,187 0,050 0,277 0,140 ,469
**

Correlation
Sig. (2- 0,711 0,440 0,017 0,058 0,963 0,520 0,588 0,744 0,756 0,070 0,706 0,953 0,758 0,151 0,149 0,248 0,758 0,083 0,390 0,002
tailed)
N 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40
Soal2 Pearson 0,061 1 -0,095 0,134 0,095 -0,159 0,082 0,057 0,227 0,063 -0,063 0,119 -0,158 0,040 -0,126 -0,095 0,189 0,198 0,044 0,101 0,223
Correlation
Sig. (2- 0,711 0,561 0,410 0,561 0,328 0,613 0,728 0,159 0,697 0,697 0,465 0,329 0,808 0,439 0,561 0,243 0,220 0,789 0,536 0,167
tailed)
N 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40
Soal3 Pearson 0,126 -0,095 1 0,210 0,203 -0,021 0,142 -0,103 -0,050 0,199 0,137 0,142 -0,153 0,173 0,184 0,198 0,100 -0,142 0,029 0,195 ,371
*

Correlation
Sig. (2- 0,440 0,561 0,193 0,209 0,898 0,382 0,528 0,759 0,218 0,398 0,383 0,346 0,285 0,257 0,221 0,539 0,383 0,859 0,228 0,018
tailed)
N 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40
Soal4 Pearson ,375* 0,134 0,210 1 0,296 -0,078 0,232 0,008 0,152 0,190 0,150 -0,217 -0,263 -0,101 0,118 0,109 0,202 ,429** 0,263 ,381* ,529**
Correlation
Sig. (2- 0,017 0,410 0,193 0,063 0,633 0,150 0,963 0,350 0,241 0,355 0,178 0,101 0,536 0,468 0,504 0,211 0,006 0,101 0,015 0,000
tailed)
N 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40
Soal5 Pearson 0,302 0,095 0,203 0,296 1 -0,119 0,295 -0,098 0,050 0,137 0,087 0,173 -0,087 -0,173 ,317* -0,098 -,350
* 0,037 ,318
* 0,019 ,353*
Correlation
Sig. (2- 0,058 0,561 0,209 0,063 0,464 0,065 0,548 0,759 0,398 0,594 0,285 0,594 0,285 0,046 0,548 0,027 0,822 0,046 0,909 0,026
tailed)
N 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40
Soal6 Pearson 0,007 -0,159 -0,021 -0,078 -0,119 1 0,275 -0,021 0,000 0,102 0,055 -0,279 0,226 ,426
** -0,093 -0,021 0,140 -0,015 0,081 0,142 0,208
Correlation
Sig. (2- 0,963 0,328 0,898 0,633 0,464 0,086 0,898 1,000 0,531 0,737 0,081 0,160 0,006 0,567 0,898 0,389 0,928 0,620 0,382 0,198
tailed)
N 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40
Soal7 Pearson 0,105 0,082 0,142 0,232 0,295 0,275 1 0,251 0,000 -0,037 0,281 -0,137 -0,222 0,023 ,327
* 0,142 -0,218 0,137 0,252 0,128 ,430
**

Correlation
Sig. (2- 0,520 0,613 0,382 0,150 0,065 0,086 0,118 1,000 0,822 0,079 0,398 0,168 0,889 0,039 0,382 0,176 0,398 0,117 0,431 0,006
tailed)
N 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40
Soal8 Pearson -0,088 0,057 -0,103 0,008 -0,098 -0,021 0,251 1 0,050 -0,249 0,249 0,247 -0,033 0,068 0,184 0,298 -0,025 0,173 0,260 0,302 ,371
*

Correlation
Sig. (2- 0,588 0,728 0,528 0,963 0,548 0,898 0,118 0,759 0,121 0,121 0,125 0,840 0,676 0,257 0,062 0,878 0,285 0,105 0,058 0,018
tailed)
N 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40
Soal9 Pearson -0,053 0,227 -0,050 0,152 0,050 0,000 0,000 0,050 1 0,056 -0,168 0,105 -0,060 -0,105 0,000 -0,150 0,125 -0,105 0,115 -0,053 0,165
Correlation
Sig. (2- 0,744 0,159 0,759 0,350 0,759 1,000 1,000 0,759 0,731 0,300 0,520 0,714 0,520 1,000 0,355 0,442 0,520 0,478 0,744 0,309
tailed)
N 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40
Soal10 Pearson -0,051 0,063 0,199 0,190 0,137 0,102 -0,037 -0,249 0,056 1 -0,122 0,135 -0,064 0,217 0,168 -0,249 0,308 -0,135 0,032 0,170 0,249
Correlation
Sig. (2- 0,756 0,697 0,218 0,241 0,398 0,531 0,822 0,121 0,731 0,452 0,406 0,696 0,178 0,300 0,121 0,053 0,406 0,843 0,293 0,121
tailed)
N 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40
95
Soal11 Pearson 0,290 -0,063 0,137 0,150 0,087 0,055 0,281 0,249 -0,168 -0,122 1 -0,135 -0,070 0,252 0,205 ,362
* 0,252 0,135 0,097 0,308 ,472
**

Correlation
Sig. (2- 0,070 0,697 0,398 0,355 0,594 0,737 0,079 0,121 0,300 0,452 0,406 0,666 0,116 0,204 0,022 0,117 0,406 0,552 0,053 0,002
tailed)
N 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40
Soal12 Pearson 0,062 0,119 0,142 -0,217 0,173 -0,279 -0,137 0,247 0,105 0,135 -0,135 1 0,107 -0,121 0,280 0,037 -0,157 -0,231 0,182 -0,173 0,164
Correlation
Sig. (2- 0,706 0,465 0,383 0,178 0,285 0,081 0,398 0,125 0,520 0,406 0,406 0,512 0,457 0,081 0,822 0,333 0,152 0,262 0,284 0,312
tailed)
N 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40
Soal13 Pearson -0,010 -0,158 -0,153 -0,263 -0,087 0,226 -0,222 -0,033 -0,060 -0,064 -0,070 0,107 1 0,270 0,020 -0,033 -0,030 0,019 0,242 -0,118 0,063
Correlation
Sig. (2- 0,953 0,329 0,346 0,101 0,594 0,160 0,168 0,840 0,714 0,696 0,666 0,512 0,092 0,903 0,840 0,855 0,908 0,133 0,467 0,701
tailed)
N 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40
Soal14 Pearson 0,050 0,040 0,173 -0,101 -0,173 ,426** 0,023 0,068 -0,105 0,217 0,252 -0,121 0,270 1 -0,105 0,068 ,550
** 0,011 0,061 ,397* ,413**
Correlation
Sig. (2- 0,758 0,808 0,285 0,536 0,285 0,006 0,889 0,676 0,520 0,178 0,116 0,457 0,092 0,520 0,676 0,000 0,946 0,711 0,011 0,008
tailed)
N 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40
Soal15 Pearson 0,231 -0,126 0,184 0,118 ,317* -0,093 ,327* 0,184 0,000 0,168 0,205 0,280 0,020 -0,105 1 0,184 -0,042 0,070 0,192 0,302 ,464**
Correlation
Sig. (2- 0,151 0,439 0,257 0,468 0,046 0,567 0,039 0,257 1,000 0,300 0,204 0,081 0,903 0,520 0,257 0,799 0,668 0,234 0,058 0,003
tailed)
N 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40
Soal16 Pearson 0,232 -0,095 0,198 0,109 -0,098 -0,021 0,142 0,298 -0,150 -0,249 ,362* 0,037 -0,033 0,068 0,184 1 0,100 0,173 0,029 -0,019 ,340
*

Correlation
Sig. (2- 0,149 0,561 0,221 0,504 0,548 0,898 0,382 0,062 0,355 0,121 0,022 0,822 0,840 0,676 0,257 0,539 0,285 0,859 0,909 0,032
tailed)
N 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40
Soal17 Pearson 0,187 0,189 0,100 0,202 -,350* 0,140 -0,218 -0,025 0,125 0,308 0,252 -0,157 -0,030 ,550** -0,042 0,100 1 0,157 0,000 ,347* ,385*
Correlation
Sig. (2- 0,248 0,243 0,539 0,211 0,027 0,389 0,176 0,878 0,442 0,053 0,117 0,333 0,855 0,000 0,799 0,539 0,333 1,000 0,028 0,014
tailed)
N 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40
Soal18 Pearson 0,050 0,198 -0,142 ,429** 0,037 -0,015 0,137 0,173 -0,105 -0,135 0,135 -0,231 0,019 0,011 0,070 0,173 0,157 1 0,303 0,173 ,347*
Correlation
Sig. (2- 0,758 0,220 0,383 0,006 0,822 0,928 0,398 0,285 0,520 0,406 0,406 0,152 0,908 0,946 0,668 0,285 0,333 0,058 0,284 0,028
tailed)
N 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40
Soal19 Pearson 0,277 0,044 0,029 0,263 ,318* 0,081 0,252 0,260 0,115 0,032 0,097 0,182 0,242 0,061 0,192 0,029 0,000 0,303 1 -0,031 ,531
**

Correlation
Sig. (2- 0,083 0,789 0,859 0,101 0,046 0,620 0,117 0,105 0,478 0,843 0,552 0,262 0,133 0,711 0,234 0,859 1,000 0,058 0,850 0,000
tailed)
N 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40
Soal20 Pearson 0,140 0,101 0,195 ,381* 0,019 0,142 0,128 0,302 -0,053 0,170 0,308 -0,173 -0,118 ,397
* 0,302 -0,019 ,347
* 0,173 -0,031 1 ,521
**

Correlation
Sig. (2- 0,390 0,536 0,228 0,015 0,909 0,382 0,431 0,058 0,744 0,293 0,053 0,284 0,467 0,011 0,058 0,909 0,028 0,284 0,850 0,001
tailed)
N 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40
Total Pearson ,469
** 0,223 ,371
*
,529
**
,353
* 0,208 ,430
**
,371* 0,165 0,249 ,472** 0,164 0,063 ,413** ,464** ,340* ,385* ,347* ,531** ,521** 1
Correlation
Sig. (2- 0,002 0,167 0,018 0,000 0,026 0,198 0,006 0,018 0,309 0,121 0,002 0,312 0,701 0,008 0,003 0,032 0,014 0,028 0,000 0,001
tailed)
N 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha N of Items
,629 20
96

1. Analisis univariat karakteristik responden

Usia
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 18 12 6,3 6,3 6,3
19 25 13,2 13,2 19,5
20 36 18,9 18,9 38,4
21 44 23,2 23,2 61,6
22 52 27,4 27,4 88,9
23 18 9,5 9,5 98,4
24 3 1,6 1,6 100,0
Total 190 100,0 100,0
Jenis kelamin
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid perempuan 162 85,3 85,3 85,3
laki-laki 28 14,7 14,7 100,0
Total 190 100,0 100,0

Agama
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid Islam 143 75,3 75,3 75,3
Kristen 47 24,7 24,7 100,0
Total 190 100,0 100,0

Angkatan
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 2018 64 33,7 33,7 33,7
2019 67 35,3 35,3 68,9
2020 28 14,7 14,7 83,7
2021 31 16,3 16,3 100,0
Total 190 100,0 100,0
97

2. Analisis univariat tingkat kepatuhan dengan kepatuhan mengikuti vaksinasi

Tingkat pengetahuan
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid baik 91 47,9 47,9 47,9
kurang baik 99 52,1 52,1 100,0
Total 190 100,0 100,0

kepatuhan mengikuti vaksinasi


Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid patuh 54 28,4 28,4 28,4
tidak patuh 136 71,6 71,6 100,0
Total 190 100,0 100,0

3.Analisis bivariat dengan uji chi square

Tingkat pengetahuan * kepatuhan mengikuti vaksinasi Crosstabulation


kepatuhan mengikuti vaksinasi
patuh tidak patuh Total
Tingkat pengetahuan baik Count 38 53 91
Expected Count 25,9 65,1 91,0
% within Tingkat 41,8% 58,2% 100,0%
pengetahuan
% within kepatuhan 70,4% 39,0% 47,9%
mengikuti vaksinasi
% of Total 20,0% 27,9% 47,9%
kurang baik Count 16 83 99
Expected Count 28,1 70,9 99,0
% within Tingkat 16,2% 83,8% 100,0%
pengetahuan
98

% within kepatuhan 29,6% 61,0% 52,1%


mengikuti vaksinasi
% of Total 8,4% 43,7% 52,1%
Total Count 54 136 190
Expected Count 54,0 136,0 190,0
% within Tingkat 28,4% 71,6% 100,0%
pengetahuan
% within kepatuhan 100,0% 100,0% 100,0%
mengikuti vaksinasi
% of Total 28,4% 71,6% 100,0%

Chi-Square Tests
Asymptotic
Significance (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-
Value df sided) sided) sided)
Pearson Chi-Square 15,271a 1 ,000
Continuity Correctionb 14,039 1 ,000
Likelihood Ratio 15,564 1 ,000
Fisher's Exact Test ,000 ,000
Linear-by-Linear Association 15,190 1 ,000
N of Valid Cases 190
a. 0 cells (0,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 25,86.
b. Computed only for a 2x2 table

Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statistic df Sig. Statistic df Sig.
Tingkat pengetahuan ,352 190 ,000 ,636 190 ,000
kepatuhan mengikuti ,451 190 ,000 ,565 190 ,000
vaksinasi
a. Lilliefors Significance Correction
99

Lampiran 5

Pengambilan data awal prodi S1 keperawatan


100

Lampiran 6

Rekomendasi izin penelitian LPPM


101

Lampiran 7

Izin Penelitian Data Dinas Penanaman Modal


102

Lampiran 8

Surat selsai penelitian

Anda mungkin juga menyukai