0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
114 tayangan54 halaman

Perencanaan Drainase SMK 3 Tanjung Selor

Dokumen tersebut membahas perencanaan saluran drainase di SMK 3 Tanjung Selor. Menguraikan tentang pendahuluan proyek drainase, hidrologi daerah proyek, desain saluran drainase, dan simulasi menggunakan perangkat lunak SWMM untuk mengevaluasi kapasitas saluran.

Diunggah oleh

ahmad hertotok
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
114 tayangan54 halaman

Perencanaan Drainase SMK 3 Tanjung Selor

Dokumen tersebut membahas perencanaan saluran drainase di SMK 3 Tanjung Selor. Menguraikan tentang pendahuluan proyek drainase, hidrologi daerah proyek, desain saluran drainase, dan simulasi menggunakan perangkat lunak SWMM untuk mengevaluasi kapasitas saluran.

Diunggah oleh

ahmad hertotok
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS BESAR DRAINASE

PERENCANAAN SALURAN DARINASE


DI SMK 3 TANJUNG SELOR

DOSEN
Harvy Irvani, ST., MT

Disusun Oleh
Ahmad Fian Hertotok
NPM : 2016 12 011

UNIVERSITAS KALTARA
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK SIPIL
2018
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................... i


DAFTAR ISI ............................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Umum .................................................................................... 1
1.2 Deskripsi Lokasi ...................................................................... 3
1.3 Tata Guna Lahan ................................................................... 4
1.4 Kondisi Sosial, Budaya dan Ekonomi ........................................ 6
BAB II HIDROLOGI
2.1 Umum ................................................................................... 7
2.2 Analisa Hidrologi ...................................................................... 9
2.2.1 Curah Hujan Rerata Daerah ...................................... 9
2.2.2 Uji Konsistensi Data Hujan ....................................... 9
Analisa Frekuensi ............................................................. 10
2.2.3.1. Hujan Rancangan Maksimum ................................ 10
2.2.3.2. Hujan Rancangan dengan Menggunakan
Metode Log Pearson Tipe III .................................................. 10
Uji Kesesuaian Distribusi ..................................................... 12
2.2.4.1. Uji Chi – Square ................................................... 12
2.2.4.2. Uji Smirnov – Kolmogorov ..................................... 14
2.3. Analisa Limpasan Permukaan ................................................ 16
2.3.1 Rasional Modifikasi .................................................... 16
2.3.2 Intensitas Hujan Rancangan ...................................... 17
2.3.3 Koefisien Pengaliran .................................................. 18
2.3.4 Waktu Konsentrasi .................................................... 19
2.4.Analisa Pertumbuhan Penduduk ..................................................... 22
2.5.Debit Air Kotor .............................................................................. 23
2.6.Debit Banjir Rancangan ................................................................. 24

ii
BAB III DESAIN SALURAN
3.1 Umum ......................................................................................... 27
3.2 Perhitungan Kapasitas Saluran Eksisting .................................... 30
3.2.1 Kapasitas Saluran ...................................................... 30
3.2.2 Bahan Pembuat Saluran ............................................ 31
3.2.3 Kecepatan yang diijinkan ........................................... 32
3.2.4 Kemiringan dinding saluran ........................................ 34
3.2.5 Kemiringan dasar saluran .......................................... 35
3.2.6 Tinggi Jagaan ........................................................... 35
3.2.7 Penampang hidrolis terbalik ....................................... 36
3.2.8 Perencanaan Saluran Drainase ................................... 38
3.2.9 Kecepatan Aliran ....................................................... 38
3.3 Evaluasi Kapasitas Saluran terhadap Debit Banjir Rancangan ...... 38
BAB IV DESAIN SALURAN SWMM
4.1 Umum ................................................................................... 39
4.1.1 Simulasi system drainase sederhana ........................... 39
4.2 Langkah-langkah Penggerjaan SWMM ...................................... 40
4.2.2 Pengaturan proyek (Projek Setup) .............................. 40
4.2.3 Penggambaran Objek ................................................ 42
4.2.4 Menjalankan Simulasi ................................................ 46
4.3 Hasil Tabel dan Penampang Saluran ....................................... 48
4.3.1 Summary result ........................................................ 48
4.3.2 Time Series Plot ........................................................ 49
4.3.3 Table by variable ....................................................... 50
4.3.4 Menggunakan system Query ...................................... 51
4.4 Kesimpulan Simulasi ................................................................ 51
DAFTAR PUSTAKA

iii
ii
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Umum
Drainase (drainage) berasal dari kata kerja ‘to drain’ yang berarti mengeringkan atau mengalirkan air, adalah
suatu sistem yang berkaitan dengan penanganan masalah kelebihan air, baik di atas maupun di bawah
permukaan tanah. Banjir dapat terjadi di daerah perkotaan, lahan pertanian, jalan raya, lapangan terbang, dan
dimana saja. Sesuai dengan terjadinya, drainase dapat dikelompokkan menjadi :
a. Drainase perkotaan
b. Drainase pertanian
c. Drainase jalan raya, dan
d. Drainase bangunan-bangunan khusus
Menurut sejarah terbentuknya, drainase dibedakan menjadi :
a. Drainase alam yaitu berupa saliran-saluran drainase yang akibat gerusan air dan kemudian
membentuk jalan air permanen, seperti sungai, lembah dan saluran. Jaringan drainase primer
umumnya menggunakan saluran-saluran drainase alam ini.
b. Drainase buatan yang terdiri dari saluran dan bangunan yang dibuat oleh manusia. Kontruksinya
dapat berupa drainase permukaan,ataupun drainase bawah permukaan, terbuat dari pasangan batu
kali, beton atau bahan bangunan yang lain. Jaringan tersier dan sekunder.
Drainase perkotaan adalah sistem drainase yang berada dalam wilayah administrasi kota/kabupaten yang
berfungsi untuk mengendalikan atau mengeringkan kelebihan air permukaan di daerah pemukiman yang
berasal dari hujan lokal, sehingga tidak mengganggu masyarakat dan dapat memberikan manfaat bagi
kehidupan hidup manusia.
Berdasarkan fungsi pelayanan, sistem drainase kota dibagi menjadi dua bagian pokok & sistem
pengendalian banjir yaitu :
a. Sistem drainase lokal (permukiman,areal pasar, perkantoran, kampus,dll)
b. Sistem drainase utama (Saluran primer, sekunder, tersier dan merupakan tanggungjawab
pemerintah)
c. Pengendalian banjir / flood control (Mengendalikan air sungai yang melintasi wilayah kota)
Fungsi drainase perkotaan tersebut dilakukan melalui tindakan :
1. Mengeringkan bagian wilayah kota yang permukaan lahannya rendah dari genangan sehingga tidak
menimbulkan dampak negatif berupa kerusakan infrastruktur kota dan harta benda milik
masyarakat.
2. Mengalirkan kelebihan air permukaan ke badan air terdekat secepatnya.
3. Mengendalikan sebagian air permukaan akibat hujan yang dapat dimanfaatkan untuk persediaan air
dan kehidupan akuatik.
4. Meresapkan air permukaan untuk menjaga kelestarian air tanah.
Banjir di perkotaan, diakibatkan oleh banyak sebab, antara lain :
1. Tingginya curah hujan,
2. Besarnya debit air limbah domestik maupun air limbah industri,
3. Ketidakmampuan kapasitas sungai dalam menampung debit yang ada,
4. Buruknya sistem drainase, atau

Bab I Pendahuluan 1
5. Terhambatnya pengaliran dalam saluran akibat naiknya muka air di daerah muara drainase atau
akibat pengaruh pasang laut.
Guna keperluan kajian drainase perkotaan dikenal istilah sistem drainase utama dan lokal. Sistem jaringan
utama bilamana pengelolaan pada sistem ini, berada di bawah tanggung jawab pemerintah
kota/kabupatennya. Sedangkan sistem drainase lokal, bila sistem drainasenya dikelola oleh pengembang, atau
pengelolaan khusus dari daerah tersebut.
Berdasarkan fisiknya, sistem drainase terdiri atas saluran tersier, sekunder, dan primer.
1. Sistem saluran tersier adalah saluran drainase yang menerima air dari saluran drainase lokal.
Yaitu sistem jaringan saluran drainase yang berada dal melayani kawasan kota tertentu. Kawasan
yang dilayani drainasenya antara lain adalah kompleks permukiman, kampus, daerah komersial,
perkantoran, dan kawasan industri. Sistem ini melayani area sekitar 10-30 ha.
2. Sistem saluran sekunder adalah saluran terbuka atau tertutup yang berfungsi menerima aliran air
dari saluran tersier dan limpasan air dari permukaan sekitarnya, dan meneruskan air ke saluran
primer.
Sistem saluran primer adalah saluran utama yang menerima masukan aliran dari saluran-saluran sekunder.
Air dari saluran-saluran sekunder bermuara pada saluran-saluran primer selanjutnya dialirkan ke sungai yang
lebih besar atau kelaut. Saluran primer, seringkali menggunakan anak-anak sungai atau sungai yang mengalir
di daerah tersebut, disamping juga memakai saluran buatan.
Kawasan daerah perkotaan terdiri dari kawasan :
a. Permukiman
b. Industri
c. Perdagangan
d. Kampus dan sekolah
e. Rumah sakit
f. Lapangan olahraga
g. Lapangan parkir
h. Instalasi militer
i. Instalasi listrik-telekomunikasi
j. Bandar udara, dll
Masing-masing kawasan tersebut, mempunyai kekhususan terkait dengan :
a. Bagaimana mengalirkan (mendrain) air hujan dan air limbah dan
b. Beberapa besar resiko yang ditimbulkan akibat banjir.
Bangunan yang umum dipakai pada sistem drainase perkotaan yang berwawasan lingkungan adalah :
c. Saluran drainase tanpa perkerasan
d. Saluran drainase dengan pelakuan dasar saluran
e. Parit infiltrasi
f. Saluran drainase pracetak berlubang
g. Lubang resapan biopori
h. Sumur resapan, dan
i. Kolam tampungan resapan

Bab I Pendahuluan 2
1.2 Deskripsi Lokasi SMK N 3 Tanjung Selor
Terletak di JL. Poros Tanah Kuning KM. 9, RT/RW 0/0, Dsn. Bumi
Rahayu, Ds./Kel Bumi Rahayu, Kec. Tanjung Selor, Kab. Bulungan, Prov.
Kalimantan Utara SMK N 3 Tanjung Selor Sekolah yang berdiri pada Tahun 2007
ini memiliki luas daerah + 50,000 M² yang memungkinkan pihak sekolah
untuk dapat mendirikan fasilitas pembelajaran dengan sangat maksimal. Apalagi
kondisi tanah di wilayah sekolah ini sebagian besar bukan merupakan tanah
rawa. Sehingga akan memudahkan dalam proses pembangunannya.
Tetapi dengan adanya rencana pembangunan pada tahun-tahun selanjutnya
tersebut, maka pembuatan Masterplan pembangunan yang matang pun
menjadi suatu keharusan untuk dilakukan mulai dari sekarang. Terutama
untuk mengantisipasi masalah-masalah yang akan muncul di kemudian hari.
Selain karena di sekolah ini terdapat lebih dari satu jurusan, yang setiap jurusan
dipastikan memiliki kebutuhan ruang pembelajaran yang berbeda dengan jurusan
lainnya. Tetapi karena di masterplan tersebut juga akan dirancang untuk
mengantisipasi adanya air hujan yang berlebihan sehingga tidak terjadi bencana
banjir, mengatasi erosi tanah, kerusakan jalan dan bangunan, dan juga
mengeringkan daerah becek dan genangan air sehingga tidak ada akumulasi air
tanah.
Oleh karena hal tersebut di atas, maka kami sebagai kelompok 5 dalam
Mata Kuliah Drainase, berniat untuk membuat Peta Wilayah SMK N 3 Tanjung
Selor. Sehingga akan didapatkan dari peta tersebut, luas wilayah yang telah
tertutupi oleh bangunan, jalan dan juga luas wilayah yang masih berupa semak
belukar ataupun masih berupa tanah terbuka. Berikut merupakan data-data yang
telah kami peroleh untuk selanjutnya diolah dan ditampilkan menjadi peta SMK N
3 Tanjung Selor.
1. Batas – batas wilayah
a. Sebelah Barat Laut SMK N 3 Tanjung Selor terdapat Desa Kilo 9
b. Sebelah Selatan SMK N 3 Tanjung Selor terdapat Desa Kilo 12
c. Sebelah Timur SMK N 3 Tanjung Selor terdapat Desa Apung
2. Batas – batas koordinat yang kami jadikan Peta SMK N 3 Tanjung
Selor adalah
a. Batas atas kanan dengan koordinat N 3752.20 ; E 6030.43
b. Batas atas kiri dengan koordinat N 3752,20 ; E 5739.87
c. Batas bawah kiri dengan koordinat N 3549.76 ; E 5739.87

Bab I Pendahuluan 3
d. Batas bawah kanan dengan koordinat N 3549.76 ; E 6030.43
1.3 Tata Guna Lahan
Berdasarkan batas-batas yang telah ditentukan pada data di atas, maka
diperoleh data sebagai berikut :

a. Total luas wilayah Peta adalah 58822.33 m2


b. Luas lahan yang telah tertutup gedung, atau bangunan lain, sehingga

air tidak dapat meresap langsung ke tanah adalah 10115.17 m2,


dengan rincian luas bangunan sebagai berikut :
Nomor 2 Nomor 2
Luas (m ) Luas (m )
bangunan bangunan

1 201.35 16 398.01
2 416.67 17 291.89
3 923.38 18 391.64
4 274.18 19 355.52
5 532.10 20 390.78
6 83.57 21 34.70
7 247.25 22 386.99
8 400.60 23 170.17
9 83.26 24 271.25
10 135.83 25 225.25
11 211.46 26 30.69
12 399.82 27 82.79
13 284.30 28 82.79
14 66.13 29 2454.03
15 288.80 30 5657.542
Jumlah no. 1 s.d 30 15772.712

Bab I Pendahuluan 4
c. Luas lahan hijau, baik yang terdapat pohon tinggi maupun semak

belukar adalah 26529.785 m2, dengan rincian luas sebagai berikut :

Notasi 2
Luas (m )
lahan

A 7473.00
B 705.66
C 23.99
D 39.22
E 69.31
F 126.90
G 13302.27
Jumlah A s.d G 21740.348

d. Dari perhitungan luas di atas, maka dapat diperoleh luas lahan


yang masih berupa tanah terbuka, yaitu luas total dikurangi luas lahan
yang tertutup gedung, dengan luas lahan hijau yaitu :
= 58822.33 – (15772.712+21740.348)

= 21309.27m2

Berdasarkan data di atas, diperoleh luas wilayah yang berbeda dengan

luas asli lahan milik SMK N 3 Tanjung Selor yaitu + 50.000m2, sedangkan data

yang kami dapatkan yang tercantum pada data nomor 3a adalah 58822.33 m2, hal
tersebut dikarenakan adanya keterbatasan data, yaitu data batas-batas tanah yang
spesifik untuk lahan SMK N 3 Tanjung Selor itu sendiri. Sehingga kami kami
membuat acuan batas sendiri dengan menggunakan koordinat-koordinat yang
tersebut pada data nomor 2a sampai 2d. Tetapi meskipun didapatkan luas total
yang berbeda, tetapi kami berhasil dapatkan total luas bangunan yang sudah
berdiri di SMK N 3 Tanjung Selor, yang merupakan lahan yang sudah tidak dapat
menyerap air secara langsung. Sehingga kami harapkan untuk data yang kami
dapatkan ini bisa menjadi acuan dalam merencanakan dan mengembangkan
pembangunan yang akan dilaksanakan pada lahan SMK N 3 Tanjung Selor
tersebut ataupun juga sebagai acuan dalam kegiatan lainnya.

Bab I Pendahuluan 5
1.4 Kondisi Sosial, Budaya dan Ekonomi
Membahas masalah sosial budaya dan ekonomi pada bab ini, dikarenakan lokasi
yang diambil adalah lokasi Sekolah atau lebih tepatnya tempat pendidikan yang
tentunya hanya akan ramai jika pada waktu pagi sampai sore hari. Sedangkan jika
waktu memasuki malam hari, maka tempat ini akan sepi tidak berpenghuni, karena
ditinggal pulang oleh siswa-siswanya. Selain dari itu, pada waktu ramai itu pun,
kegiatan yang dilakukan oleh siswa-siswa sebagian besar hanyalah pembelajaran di
kelas, atau bisa dikatakan jauh dari kegiatan MCK, yang tentu hal tersebut tidak
memenuhi syarat kalau dijadikan acuan tempat perencaan saluran drainase perkotaan
seperti yang sudah ditugaskan. Maka dari itu semua maka disini lokasi pendidikan ini
diasumsikan sebagai lokasi perkotaan. Sehingga dapat diperoleh data-data seperti
kebutuhan air untuk mandi, cuci baju, cuci piring dan lain sebagainya, sehingga bisa di
peroleh nilai dari kebutuhan air pada setiap penduduknya, dan akan didapatkan debit air
kotor yang dihasilkan dari aktivitas penduduk yang ada di wilayah ini

Bab I Pendahuluan 6
BAB II HIDROLOGI

2.1 Umum
Data utama pada analisis hidrologi adalah data hujan yang jatuh pada kawasan
yang ditinjau. Data tersebut berupa data hujan harian maksimum, yang terjadi dalam
masa satu tahun. Untuk menetapkan hujan harian maksimum pada kala ulang tertentu,
diperlukan data hujan yang paling tidak berasal dari hasil pengukuran selama sepuluh
tahun. Untuk membuat lengkung intesitas hujan, diperlukan data intensitas hujan
maksimum dalam durasi waktu tertentu. Umumnya dalam durasi 5,10,15 sampai dengan
720 menit. Data hujan semacam itu, hanya tersedia pada stasiun-stasiun penakar hujan
yang mempunyai pencatatan hujan secara otomatis. Data pentin yang dipakai untuk
menghitung besaran intensitas hujan, adalah data hujan harian maksimum dalam beberapa
tahun.
Pengujian data bertujuan untuk menguji benar tidaknya data, dan apakah data
tersebut dapat menggambarkan fenomena hidrologi seperti keadaan yang sebenarnya
dilapangan. Menguji kualitas data, merupakan keharusan. Dan dilakukan sebelum data
tersebut dipakai untuk keperluan berikutnya. Analisis untuk menguji kualitas data curah
hujan,umumnya meliputi :
1. Analisis data yang hilang dan analisis konsitensi data. Cara pengujian
konsistensi data yang umum dipakai adalah metode Rescaled Adjusted Partial
Sum (RAPS), Metode lengkung masa ganda dan pengujian abnormalitas data (Uji
Inlier-Outlier Data)
2. Analisis ketidakadaan trend. Beberapa metode statistik dapat digunakan untuk
menguji ketidak-adaan trend dalam deret berkala, diantaraya uji seperti korelasi
peringkat metode spearman dan uji Mann dan Whitney
3. Analisis kestabilan data. Uji kestabilan data dimaksudkan untuk menguji
kestabilan nilai varian dan rata-rata berkala dari deret berkala, pengujian dapat di
lakukan dengan metode uji F.
4. Analisis persistensi data. Persistensi adalah ketidaktergantungan dari setiap nilai
dalam deret berkala. Untuk melaksanakan pengujian persistensi harus dihitung
besarnya koefisien korelasi serial. Salah satu metode untuk menentukan koefisien
korelasi serial adalah dengan metode Spearman.

Bab II Hidrologi 7
Salah satu parameter penyebab banjir adalah intensitas hujan (I mm/jam). Besarnya
intensitas hujan, dihitung berdasar pada data curah hujan harian maksimum. Ada berbagai
cara menghitung tinggi curah hujan rata-rata, seperti cara :
• Metode Rerata aljabar
• Metode Poligon Thiessen dan
• Metode Isohyet
Pada perancangan drainase perkotaan, diperlukan besaran curah hujan harian maksimum
pada kala ulang tertentu, adapun sebagai berikut :
• Pertamanan (Kala Ulang 5 Tahun)
• Pendidikan (Kala Ulang 5 Tahun)
• Pemukiman (Kala Ulang 5 Tahun)
Untuk kawasan Khusus
• Kawasan bandara (Kala Ulang 10/20 Tahun)
• Instalasi enersi (Kala Ulang 10/20 Tahun)
• Dll.
Karena debit rancangan adalah fungsi dari I, sehingga untuk I dengan kala ulang
tertentu sama dengan kala ulang Q. Contoh pengertian Q25 = I25, yaitu bahwa tiap 25
tahun terdapat kemungkinan dalam seribu tahun misalnya akan terjadi empat puluh
kejadian dengan Q sama atau lebih besar dari Q dengan kala ulang 25 tahunan. Berbagai
metode yang dapat dipakai untuk menghitung besarnya curah hujan harian maksimum
pada kala ulang tertentu yaitu :
• Distribusi Normal
• Distribusi Log Normal
• Distribusi Gumbel
• Distribusi Log Normal
• Distribusi Log Pearson III, dll

Bab II Hidrologi 8
2.2 Analisa Hidrologi
2.2.1. Curah Hujan Rerata Daerah
data Curah hujan Hasil pengamatan curah hujan stasiun meteorologi tanjung
harapan bulungan
No Tahun
Urut
2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016

Jan 179 439 285 183 395 287 299 308 216 464 219

Feb 484 192 224 289 171 188 196 425 172 305 485

Mar 184 178 269 246 144 611 370 248 218 84 125

Apr 94 180 312 160 69 290 119 252 159 161 99

Mei 210 206 303 176 336 279 259 123 181 167 262

Jun 164 190 289 335 68 456 198 162 211 96 302

Jul 242 223 165 136 302 225 146 208 263 100 209

Agust 219 290 180 199 314 411 173 342 132 266 349

Sept 405 187 377 185 221 117 315 239 230 160 510

Okt 244 223 221 218 256 180 213 174 149 215 453

Nov 188 374 151 350 240 250 175 365 315 238 278

Des 182 453 364 239 213 243 277 309 410 197 308

RATA-
232.92 261.25 261.67 226.33 227.42 294.75 228.33 262.92 221.33 204.42 299.92
RATA

2.2.2. Uji Konsistensi Data Hujan


Cara pengujian konsistensi data yang umum dipakai adalah metode Rescaled
Adjusted Partial Sum (RAPS), Metode lengkung masa ganda dan pengujian
abnormalitas data (Uji Inlier-Outlier Data). Sedangkan Uji Konsistensi yang sudah
dikuasai mahasiswa saat ini barulah uji konsistensi dengan menggunakan Metode
lengkung masa ganda, yang hanya bisa dilakukan jika data yang ada lebih dari 1
stasiun. Padahal disini data yang ada hanya data dari satu sumber saja yaitu dari

Bab II Hidrologi 9
stasiun meteorologi tanjung harapan bulungan dan juga karena keterbatsan waktu
Sehingga mohon maaf dalam tugas ini uji konsistensi tidak dilakukan.

2.2.3. Analisa Frekuensi


2.2.3.1. Hujan Rancangan Maksimum
Perhitungan yang digunakan untuk mencari Hujan rancangan maksimum
adalah dengan menggunakan metode Log Pearson Type III dengan menggunakan
data curah hujan yang diperoleh dari Stasiun Meteorologi Tanjung Harapan
Bulungan seperti pada bab 2.2.1. yaitu terdapat data curah hujan mulai dari tahun
2006 s.d 2016. dan pada perhitungan ini akan dihitung hujan rencana periode ulang
1.1 tahun, 2, 5, 10, 20, dan 25 tahun.

2.2.3.2. Hujan Rancangan dengan Menggunakan Metode Log Pearson Tipe III
Log pearson type III mempunyai keunggulan dimana menggunakan 3
variabel dalam analisisnya, yakni : rerata, kemencengan dan deviasi standar.
Tahapan untuk menghitung hujan rancangan maksimum dengan metode Log
Pearson III adalah sebagai berikut :
1. Ubah hujan harian maksimum dalam bentuk logaritma
2. Hitung rerata besaran logaritma
Peluang (Log X - (Log X - (log X -
No x Log x
(%) Log Xrt) Log Xrt)2 Log Xrt)3
1 204.42 2.31 8.33 -0.08 0.00638 -0.00051
2 221.33 2.35 16.67 -0.05 0.00205 -0.00009
3 226.33 2.35 25.00 -0.04 0.00127 -0.00005
4 227.42 2.36 33.33 -0.03 0.00112 -0.00004
5 228.33 2.36 41.67 -0.03 0.00101 -0.00003
6 232.92 2.37 50.00 -0.02 0.00054 -0.00001
7 261.25 2.42 58.33 0.03 0.00071 0.00002
8 261.67 2.42 66.67 0.03 0.00075 0.00002
9 262.92 2.42 75.00 0.03 0.00087 0.00003
10 294.75 2.47 83.33 0.08 0.00626 0.00049
11 299.92 2.48 91.67 0.09 0.00751 0.00065
Jumlah 26.294
Log X Rerata 0.02846 0.00048
2.3904
(Xrt)

Bab II Hidrologi 10
3. Hitung simpangan baku
Harga Simpangan Baku ( dalam Log) : S
n
( LogXi  LogX rerata ) 2

S=
i 1 11  1

= 0.053
4. Hitung koefisien kepencengannya
Koefisien Kepencengan ( dalam Log) : Cs
Cs = 0.387n
11x  ( LogX i  LogX rerata ) 3
i 1
(11  1)(11  2) S i3
5. Hitung logaritma hujan rancangan dengan kala ulang tertentu
Perhitungan Hujan Rancangan Kala Ulang 1.1, 5, 10, 20, 25 Tahun dengan Metode Log
Person Tipe III Setelah data yang dibutuhkan diketahui

Kala Pr Log X
Cs G Log Xrt S X(mm)
Ulang
(%) (Log Xrt+(GxS)
1.11 90 0.387 -1.23 2.390 0.053 2.325 211.150
2 50 0.387 -0.06 2.390 0.053 2.387 243.754
3 33.33 0.387 0.23 2.390 0.053 2.403 252.708
4 25 0.387 0.52 2.390 0.053 2.418 261.990
5 20 0.387 0.817 2.390 0.053 2.434 271.613
10 10 0.387 1.316 2.390 0.053 2.461 288.780
20 5 0.387 1.689 2.390 0.053 2.480 302.332
25 4 0.387 1.876 2.390 0.053 2.490 309.344

*Hasil Curah Hujan Rencana T Tahun dengan Metode Log Person Tipe III

Periode
Ulang Curah Hujan Rencana (mm)
(Tahun)
1.1 211.15
2 243.75
5 271.61
10 288.78
20 302.33
25 309.34

Bab II Hidrologi 11
2.2.4. Uji Kesesuaian Distribusi
2.2.4.1. Uji Chi – Square
Uji Chi Square  dilakukan untuk uji kesesuaian distribusi.
Rumus Chi Square (X2) sbb:
• X2

dengan
Fe = frekuensi pengamatan kelas j
Ft = frekuensi teoritis kelas j
k = jumlah kelas
Derajad bebas  dirumuskan sbb:
•  = k-1  frekuensi dihitung tanpa mengestimasi parameter dari sampel
•  = k-1-m  frekuensi dihitung dengan mengestimasi m parameter dari sampel.
• Harga X2 dengan derajad bebas () seperti tsb di atas dibandingkan dengan X2
dari tabel dengan tingkat keyakinan () tertentu  Jika X2 < X2 tabel berarti data
sesuai dengan distribusi ybs.
Langkah-langkah perhitungan adalah sbb:

a. Urutkan data pengamatan (dari besar ke kecil atau sebaliknya)


b. Kelompokkan data menjadi k kelas, tiap kelas minimal 4 data pengamatan
k = 1 + 3,22 log n
c. Menghitung batas kelas dengan sebaran peluang:

100%
K

d. Menghitung nilai Xt:


Log Xt = Log X + ( G x S)
e. Menghitung X2 dari persamaan

K
( Fe  Ft ) 2
X hitung = 
2

i 1 Ft

Bab II Hidrologi 12
Penerapan Perhitungan :
1. Pengelompokan data menjadi K kelas
N = 11
K = 1 + 3.22 log n
= 1 + 3.22 log 11
=1+3.22*LOG(11) ~ 4

2. Menghitung batas kelas dengan sebaran peluang :


= 100%
K
= 100%
4
= 25%

Tabel Uji Simpangan Vertikal


No Pr Log Xrt Cs G Si Log Xt Xt (mm)
(%) Log Xrt + (G x S)

1 75 2.3904 0.387 -0.723 0.053 2.352 224.799


2 50 2.3904 0.387 -0.064 0.053 2.387 243.754
3 25 2.3904 0.387 0.670 0.053 2.426 266.758

3. Menghitung nilai frekuensi teoritis yang dihitung Ft :


Ft = 25% x n
Ft = 25% x 11
Ft = 2.75

4. Menghitung X2 dari persamaan :


Jumlah Data Fe - Ft
No Batas Kelas (Fe - Ft)2/Ft
Fe Ft
1 0 - 224.799 2 2.75 -0.75 0.20
2 224.799 - 243.754 4 2.75 1.25 0.57
3 243.754 - 266.758 3 2.75 0.25 0.02
4 266.758 - ~ 2 2.75 -0.75 0.20
Jumlah 11 11 1.00

Bab II Hidrologi 13
Keterangan :
Dari Tabel Chi-Square didapatkan X2cr = 3,841 untuk dk = 1 dan a = 5% X2hitung = 1
Karena 1 < 3,842 maka X2 Hitung = 1 berada di dalam daerah penerimaan dan Rencana
atau hipotesis diterima pada derajat kemaknaan 5%. Sehingga Kesimpulan dari hasil
pengamatan curah hujan stasiun meteorologi tanjung harapan bulungan dapat diterima.

2.2.4.2. Uji Smirnov – Kolmogorov


Uji Smirnov-Kolmogorov  uji distribusi thd penyimpangan data ke arah horisontal
untuk mengetahui suatu data sesuai dengan jenis sebaran teoritis yang dipilih atau tidak.

Uji Smirnov Kolmogorov  uji kecocokan non-parametic  pengujiannya tidak


menggunakan fungsi distribusi tertentu.
Pengujian dilakukan dgn membandingkan prob tiap data, antara sebaran empiris &
sebaran teoritis, yang dinyatakan dalam .  Harga  terbesar ( maks) dibandingkan
dengan  kritis (dari Tabel Smirnov Kolmogorof) dengan tingkat keyakinan ( ) tertentu.
 Distribusi dianggap sesuai jika:  maks <  kritis.
Persamaan yang digunakan adalah (Shahin,1976:188) sbb:
maks =[Pe –Pt]
dengan :
maks = selisih maksimum antara peluang empiris dan teoritis
Pe = peluang empiris
Pt = peluang teoritis
cr = simpangan kritis (dari tabel)
kemudian dibandingkan antara maks dan cr , distribusi frekuensi yang dipilih dapat
diterima apabila maks  cr dan jika maks > cr berarti gagal.

Langkah awal
1. Data hujan harian maksimum tahunan disusun dari besar ke kecil
2. Hitung probabilitasnya dengan rumus Weilbull (Sri Harto,
1993:179) :
m
P= x100%
n 1
dengan:
P = probabilitas (%)

Bab II Hidrologi 14
m = nomor urut data
n = jumlah data
3. Ploting data debit (Xi) dengan probabilitas (P)
4. Tarik garis durasi dengan mengambil titik-titik
Langkah-langkah perhitungan adalah sbb:
1. Menghitung peluang empiris dengan memasukkan nomor urut
data dari mulai dari data terkecil sampai data terbesar dengan persamaan:
m
P= x100%
n 1
2. Mencari nilai Log dari hujan rerata
3. Mencari nilai G dengan persamaan
4. Mencari harga Pr melalui Tabel Distribusi Pearson Type III
5. Menghitung nilai P(x) dengan persamaan
P (x) =(100 –95,8259)/100
6. Menghitung selisih Pe dan Pt dengan persamaan
maks =[Pe –Pt]
7. Mencari nilai cr lalu dibandingkan dengan maks , didapat cr adalah 0,409 dan
maks adalah 0,3926. Karena maks  cr maka data dapat diterima.
Log G Pt (X) Pe(X) -
No Pe(X) X Pr (%)
X (LOG X - LOG X Rt)/S (100 - Pr)/100 Pt (X)
1 0.083 204.42 2.31 -1.50 2.253 0.9775 -0.894
2 0.167 221.33 2.35 -0.85 2.226 0.9777 -0.811
3 0.250 226.33 2.35 -0.67 2.219 0.9778 -0.728
4 0.333 227.42 2.36 -0.63 2.217 0.9778 -0.644
5 0.417 228.33 2.36 -0.60 2.216 0.9778 -0.561
6 0.500 232.92 2.37 -0.43 2.210 0.9779 -0.478
7 0.583 261.25 2.42 0.50 2.172 0.9783 -0.395
8 0.667 261.67 2.42 0.51 2.171 0.9783 -0.312
9 0.750 262.92 2.42 0.55 2.170 0.9783 -0.228
10 0.833 294.75 2.47 1.48 2.132 0.9787 -0.145
11 0.917 299.92 2.48 1.62 2.126 0.9787 -0.062
Jumlah 26.29 ∆maks -5.259

Bab II Hidrologi 15
Log X rerata (Xrt) 2.39

Simpangan Baku (Si) 0.05

Koefisien Kepencengan 0.39


(Cs)

Keterangan :
Jumlah Data (n) = 11
Jumlah Log x = 26.29
Log X rerata = 2.39

Dengan α = 5% Maka ∆ cr = 0,391 (dari tabel nilai kritis Smirnov Kolmogorof) Jadi
∆maks < ∆cr, Kesimpulan, Hasil pengamatan curah hujan di stasiun meteorologi tanjung
harapan bulungan dapat diterima atau berhasil.

2.3. Analisa Limpasan Permukaan


2.3.1. Rasional Modifikasi
Sebagaimana dijelaskan, debit banjir rencana untuk drainase perkotaan, umumnya
dihitung degan rumus Rasional. Dalam perkembangannya, rumus Rasional dimodifikasi
oleh beberapa peneliti, antara lain :
a.
b.
c. Met
Koefisien pengaliran (C) adalah perbandingan antara jumlah air yang mengalir
(melimpas) di permukaan dari suatu kawasan akibat turunnya hujan dengan jumlah air
hujan yang turun dikawasan tersebut. Koefisien pengaliran juga dapat didefinisikan
sebagai nilai banding antara bagian hujan yang membentuk limpasan langsung dengan
bagian hujan yang membentuk limpasan langsung dengan bagian hujan total yang terjadi.

Besarnya koefisien pengaliran ini dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain yaitu ;

a. Kemiringan daerah aliran dan kemiringan dasar sungai, semakin besar


kemiringan tanah, semakin cepat aliran limpasan, akibatnya semakin sedikit air
yang meresap.

Bab II Hidrologi 16
b. Jenis tanah yang berbeda menjadikan daya resap tanah yang berbeda, misalnya
tanah biasa atau pasir, jalan aspal atau tanah.

c. Kebasahan tanah, pada permulaan musim hujan angka pengaliran lebih kecil,
karena lebih banyak air hujan yang tertahan, daripada di akhir musim hujan,
karena pada saat itu tanah telah jenuh air.

d. Tata guna lahan, berbedanya macam pemakaian lahan membawa perbedaan


kemampuan kawasan dalam menahan air, misalnya kawasan perumahan lebih
banyak melimpaskan air daripada daerah petamanan.

2.3.2. Intensitas Hujan Rancangan


Intensitas curah hujan adalah jumlah curah hujan yang dinyatakan dalam tinggi (mm/jam)
atau volume hujan (liter/det/ha) tiap suatu waktu, yang terjadi pada satu durasi waktu, di
saat air hujan tersebut terkonsentrasi.
Besarnya intensitas curah hujan berbeda-beda tergantung dari lamanya curah hujan dan
frekuensi kejadiannya. Sifat umum hujan adalah makin singkat hujan berlangsung, maka
intensitasnya makin tinggi. Sehingga, intensitas curah hujan yang tinggi pada umumnya
berlangsung dengan durasi pendek dan meliputi daerah yang tidak luas.
Rumus umum menghitung intensitas adalah :

I=

Dengan :
I = intensitas hujan (mm/jam)
d = durasi/tinggi hujan (mm)
t = lama hujan (jam)
Rumus umum tesebut kemudian dikembangkan menjadi beberap metode lain seperti :
• Metode Talbot
• Metode Sherman dan Ishiguro
• Metode Mononobe
Menghitung Intensitas Hujan Rencana dengan Rumus Mononobe

Bab II Hidrologi 17
2.3.3. Koefisien Pengaliran
Besaran koefisien limpasan (C) yang umum dipakai untuk rancangan drainase perkotaan
adalah sebagai berikut :

Koefisien Pengaliran (C)


Tata Guna Lahan

Bisnis 0,70-0,95
Kawasan Kota 0,50-0,70
Kawasan Pinggiran
Kawasan Perumahan 0,30-0,50
Kawasan Keluarga Tunggal 0,40-0,60
Multi satuan, terpisah 0,60-0,75
Multi satuan, berdempetan (rapat)
Kawasan Pemukiman Pinggiran Kota 0,25-0,40

Kawasan Rumah Tinggal Berupa Rumah Susun (Apartment) 0,50-0,70

Perindustrian 0,50-0,90
Kawasan ringan-berat

Taman-taman dan kuburan 0,10-0,25

Lapangan Bermain 0,20-0,35

Kawasan halaman kereta api 0,20-0,40

Bab II Hidrologi 18
Koefisien Pengaliran (C)
Tata Guna Lahan

Kawasan yang belum dimanfaatkan 0,10-0,30

Jalan 0,70-0,95
Beraspal 0,80-0,95
Beton 0,70-0,85
Batu bata/paving/cob block
Jalan raya dan trotoar 0,70-0,85

Atap 0,70-0,95

Halaman rumput, tanah berpasir 0,05-0,10


Tanah berpasir, datar (2%) 0,05-0,10
Tanah berpasir, rata-rata (2-7%) 0,05-0,10
Tanah berpasir curam (>7%)

Halaman rumput, tanah padat 0,13-0,17


Tanah padat, datar (2%) 0,18-0,22
Tanah padat, rata-rata (2-7%) 0,25-0,35
Tanah padat curam (>7%)

besaran C gabungannya adalah sebagai berikut :


koefisien pengaliran

Peruntukan Luas(m2) Luas(ha) C Luas(ha) x c

bangunan 10115.17 1.011517 0.9 0.91


halaman 21309.27 2.130927 0.3 0.64
jalan aspal 5657.54 0.565754 0.95 0.54
belukar 21740.35 2.174035 0.15 0.33
total 58822.330 5.882233 2.41

2.3.4. Waktu Konsentrasi


Waktu tiba Banjir atau waktu konsentrasi (tc) adalah waktu yang diperlukan oleh air
hujan untuk mengalir dari suatu titik yang paling jauh ke suatu titik tinjau (mislanya di
titik di muara drainase) pada suatu daerah pengaliran

tc = to – td

Bab II Hidrologi 19
Keterangan :

tc = waktu konsentrasi

to = waktu limpasan permukaan

td = waktu air mengalir di saluran

Waktu limpas di permukaan (to) adalah waktu yang dibutuhkan untuk melimpaskan
air hujan dari titik terjauh menuju saluran terdekat, sering juga disebut sebagai inlet time,
overflow time (to) dalam satuan menit.

Waktu limpasan permukaan (to) di pengaruhi oleh beberapa faktor yakni :

a. Jarak limpasan, yakni jarak dari titik terjauh menuju ke inlet saluran terdekat

b. Kemiringan lahan di daerah yang ditinjau, dan

c. Koefisien pengaliran pada daerah yang ditinjau

Rumus untuk menghitung to adalah :

to = ( )

Keterangan :

To = aku limpas permukaan (menit)

= koefisien hambatan

S = kemiringan daerah pengaliran

Tabel besaran koefisien hambatan (

Kondisi lapis permukaan Koefisien hambatan (

Aspal jalan atau lapisan beton 0,013 – 0,020

Lapisan jalan paving blok/bahu jalan 0,20 – 0,030

Lapisan diperkeras di daerah perumahan 0,03 – 0,10

Tanah berumput tipis 0,10 – 0,20

Bab II Hidrologi 20
Tanah berumput tebal 0,40 – 0,40

Hutan gundul 0,40 – 0,60

Hutan rimbun 0,60 – 0, 60

Waktu aliran dalam saluran adalah waktu yang dibutuhkan untuk mengalirkan air di
dalam saluran, dari titik masuknya air limpasan ke titik tinjau, sering juga disebut sebagai
time of flow, atau conduit time.

td =

Keterangan :

td = waktu limpas aliran (menit)

Ls = panjang saluran (meter)

Vsal = rerata kecepatan aliran dalam saluran (m/det)

Kecepatan air (Vsal) di saluran tergantung pada bahan pembuat saluran, sebagaimana
tabel berikut ini.

Tabel kecepatan aliran air yang diijinkan

Kecepatan aliran Kecepatan aliran


Jenis bahan yang diijinkan (m/dt) Jenis bahan yang diijinkan (m/dt)

Pasir halus 0,45 Kerikil kasar 1,20

Lempung kepasiran 0,50 Batu-batu besar 1,50

Lanau alluvial 0,60 Pasangan batu 1,50

Kerikil halus 0,75 Beton 1,50

Lempung kokoh 0,75 Beton bertulang 1,50

Lempung padat 1,10

Bab II Hidrologi 21
Tabel hubungan s dan V

Kemiringan rata-rata Kecepatan aliaran rata-


dasar saluran (%) rata (m/detik)
1 0,40
1-2 0,60
2-4 0,90
4-6 1,20
6-10 1,50
10-15 2,40
2.4 Analisa Pertumbuhan Penduduk
Pertumbuhan penduduk merupakan produk dari pola keseimbangan yang bersifat
dinamis antara kekuatan-kekuatan yang menambah dan mengurangi jumlah penduduk.
Pertumbuhan penduduk dipengaruhi oleh empat komponen, yaitu kelahiran (fertilisasi),
kematian (mortalitas), migrasi masuk (in-migration) dan migrasi keluar (out-migration).
Selisih antara kelahiran dan kematian disebut perubahan reproduktif (reproductive
change) atau pertumbuhan alamiah, sedangkan selisih antara migrasi masuk dan migrasi
keluar disebut net-migration (migrasi netto). Laju pertumbuhan penduduk adalah
kecapatan pertumbuhan penduduk yang dinilai dalam persen (%). Laju pertumbuhan
penduduk dapat dihitung dengan membandingkan selisih jumlah penduduk dengan
jumlah penduduk tahun dasar. Laju pertumbuhan penduduk dapat diformulasikan
sebagai:

Keterangan:
Pt : Penduduk tahun ke-n (jiwa)
Po : Penduduk tahun dasar (jiwa)
t : Jangka waktu
r : Laju pertumbuhan penduduk
Pertumbuhan penduduk dilokasi SMK N 3 Tanjung Selor yang diasumsikan sebagai
wilayah perkotaan ialah tergantung pada Penduduk yang menetap di Lokasi tersebut.

Bab II Hidrologi 22
2.5 Debit Air Kotor
Penyebab utama banjir adalah limpasan air hujan. Sehingga fungsi utama saluran
drainase adalah mengalirkan limpasan air hujan tersebut. Namun demikian, ada air yang
juga harus dibuang melalui saluran drainase. Yakni air limbah bersih yang berasal dari air
rumah tangga.
Dimaksudkan dengan air limbah bersih adalah sisa air yang telah dipakai
penduduk untuk (terutama) mandi, mencuci dan lain-lain. Banyaknya keperluan air
rumah tangga tergantung pada beberapa faktor, seperti :
• Daerah yang bersuhu panas pemakaian air akan lebih banyak dibandingkan
dengan daerah yang bersuhu dingin.
• Keadaan sosial rumah tangga, semakin tinggi tingkat sosial rumah tangga
semakin banyak kebutuhan airnya.
• Pola hidup/kebiasaan sehari-hari

Dalam analisis menghitung kebutuhan air per penduduk sebagai berikut :


1. Kebutuhan mandi 2 kali sehari : 60 – 90 liter
2. Keperluan masak : 10 – 30 liter
3. Minum : 5 – 10 liter
4. Cuci (Pakaian, piring, dll) : 35 – 50 liter
5. Penggelontoran buang air besar : 10 – 25 liter
Jumlah : 120 – 205 liter
Menurut DPU Dirjen Cipta Karya, kebutuhan air bersih per penduduk adalah
Tabel kebutuhan air bersih per penduduk

Kebutuhan air
Kota Jumlah Penduduk (ltr/det/penduduk)

Kota metropolitan >1.000.000 190

Kota besar 500.000 – 100.000 170

Kota sedang 100.000 – 500.000 150

Kota kecil 20.000 – 100.000 130

IKK 3.000 – 20.000 100

Pedesaan <3.000 60

Bab II Hidrologi 23
Perhitungan debit air buangan dapat dihitung dengan rumus :

Keterangan :
Qak
Pn = jumlah penduduk (orang)
A
q = jumlah air buangan (l/orang/hari)
Besarnya jumlah air buangan (q) adalah sekitar 50 – 85% dari jumlah kebutuhan air tiap
penduduk.
a. kebutuhan air per orang
<3000 orang = 60 ltr/det/pend (estimasi)
Q = 51 60 l/org/hari (estimasi)
b. jumlah penduduk
Rumah = 59 buah
Penduduk = 3 /rumah
Total = 177 orang
c. luasan wilayah dalam Km2
A= 0.0588 km2
d. debit air kotor (liter/detik.Km2)
Qak = 153462.1 l/detik.km2

2.6. Debit Banjir Rancangan


Metode Rasional dipakai untuk menghitung debit banjir, yang berupa debit puncak
banjir (Qp), jadi termasuk perhitungan banjir rancangan non hidrograf. Debit puncak
banjir dipengaruhi oleh
a. Besarnya intensitas curah hujan
b. Besaran koefisien pengaliran (atau koefisien limpasan) yang merupakan fungsi
dari keadaan topografi, tataguna lahan jenis tanah
c. Luas lahan yang akan di drainase
d. Rumus umum metode rasional adalah sebagai berikut

Q = 0,278 . C . I . A

Bab II Hidrologi 24
e. Bila A dalam , dan I dalam satuan mm/jam dan Q dalam satuan
m3/det

Q = 0,00278 . C . I . A

f. Bila A dalam Satuan Ha, dan I dalam satuan mm/jam dan Q dalam satuan
m3/det

Q=C.I.A

g. Bila A dalam Satuan Ha, dan I dalam satuan l/det/ha dan Q dalam satuan l/det

Dalam hal ini,

C = Koefisien pengaliran

I = Intensitas hujan pada durasi yang sama dengan waktu konsentrasi dan pada
periode ulang hujan tertentu (mm/jam atau l/det/ha)

A = luas daerah pengalir

Angka 0,278 = faktor konversi

Metode rasional memakai asumsi, bahwa :


a. Curah hujan mempunyai intensitas yang merata di seluruh daerah aliran sungai
untuk durasi tertentu.
b. Debit yang terjadi (debit puncak) bukan hasil dari intensitas hujan yang lebih
tinggi dengan durasi yang pendek dimana hal ini berlangsung hanya pada
sebagaian DAS yang mengkontribusikan debit puncak tersebut.
c. Lamanya curah hujan = waktu konsentrasi dari daerah aliran. Dengan kata lain
waktu konsentrasi merupakan waktu terjadinya run-off dan mengalir dari jarak
antara titik terjauh dari DAS ke titik inflow yang ditinjau.
d. Puncak banjir dan intensitas curah hujan mempunyai tahun berulang yang sama.
Persyaratan penggunaan metode Rasional adalah apabila luas DAS antara 40-80 ha. luas
tersebut, sesuai karena metode Rasional memang sejak semula dikembangkan untuk
menghitung debit banjir maksimum di daerah perkotaan, dengan luasan terbatas.

Bab II Hidrologi 25
Meskipun demikian, beberapa peneliti menyatakan bahwa penggunaan rumus Rasional
cukup akurat, asalkan dipakai pada luasan yang kurang dari 500 ha.

R24

1.1111 I (mm/ jam)


^2/3 t (JAM) 24
211.15 1.11

0.67 1 24 211.15 73.20

0.67 2 24 211.15 46.11

0.67 3 24 211.15 35.19

0.67 4 24 211.15 29.05

0.67 5 24 211.15 25.03

0.67 6 24 211.15 22.17

Debit Banjir Rancangan dengan diperoleh nilai Intensitas Hujan Rencana, I = 29.050
mm/jam adalah :
Q=C.I.A
= 0.00278 x 29.050 x 2.41
= 0.19 m3/s

Bab II Hidrologi 26
BAB III DESAIN SALURAN

3.1 Umum
Guna keperluan kajian drainase perkotaan dikenal istilah sistem drainase utama
dan lokal. Sistem jaringan utama bilamana pengelolaan pada sistem ini, berada di
bawah tanggung jawab pemerintah kota/kabupatennya. Sedangkan sistem drainase
lokal, bila sistem drainasenya dikelola oleh pengembang, atau pengelolaan khusus
dari daerah tersebut.
Berdasarkan fisiknya, sistem drainase terdiri atas saluran tersier, sekunder, dan
primer.
1. Sistem saluran tersier adalah saluran drainase yang menerima air dari
saluran drainase lokal. Yaitu sistem jaringan saluran drainase yang berada
dal melayani kawasan kota tertentu. Kawasan yang dilayani drainasenya
antara lain adalah kompleks permukiman, kampus, daerah komersial,
perkantoran, dan kawasan industri. Sistem ini melayani area sekitar 10-30
ha.
2. Sistem saluran sekunder adalah saluran terbuka atau tertutup yang
berfungsi menerima aliran air dari saluran tersier dan limpasan air dari
permukaan sekitarnya, dan meneruskan air ke saluran primer.
3. Sistem saluran primer adalah saluran utama yang menerima masukan
aliran dari saluran-saluran sekunder. Air dari saluran-saluran sekunder
bermuara pada saluran-saluran primer selanjutnya dialirkan ke sungai yang
lebih besar atau kelaut. Saluran primer, seringkali menggunakan anak-
anak sungai atau sungai yang mengalir di daerah tersebut, disamping juga
memakai saluran buatan.
Bangunan yang umum dipakai pada sistem drainase perkotaan yang berwawasan
lingkungan adalah :
a. Saluran drainase tanpa perkerasan
b. Saluran drainase dengan pelakuan dasar saluran
c. Parit infiltrasi
d. Saluran drainase pracetak berlubang
e. Lubang resapan biopori
f. Sumur resapan, dan
g. Kolam tampungan resapan
a. Saluran drainase tanpa perkerasan
Tujuan saluran drainase tanpa perkerasan adalah mempertinggi terjadinya
infiltrasi air ke dalam tanah. Saluran ini dibuat dengan menggali tanah untuk
menjadikan saluran berpenampang trapesium. Agar dinding saluran tidak
longsor, kemiringan dinding dibuat landai. Rasio kemiringan (vertikal :

Bab III Desain Saluran 27


horisontal) adalaj 1 : 1,5 sampai 1 : 3 dengan lebar dasar saluran sekitar 0,4 – 0,5
meter.

b. Saluran drainase tanpa perkerasan, dengan ada perlakukan di dasar


salurannya
Beda kontruksi saluran ini dengan saluran tanpa perkerasan adalah adanya
perlakukan pada dasar salurannya. Perlakukan ini dapat berupa perbaikan tanah
guna memperbesar infiltrasiya. Misalnya dengan menambahkan lapisan tanah
permeable, dengan campuran pasir dan kerikil setebal 0,5 – 075 meter. Atau di
dasar saluran ditanami berbagai jenis rumput atau tanaman tertentu, yang mampu
meningkatkan hambatan dan menyaring alirannya.

c. Parit Infiltrasi
Kontruksi parit infiltrasi berupa saluran (parit) galian berpenampang persegi, yang
di dalamnya diisikan agregat batu, sehingga memungkinkan terjadinya
penyerapan air melalui dinding dan dasar parit. Kedalaman parit infiltrasi antara
1-2,5 meter, dengan lebar menyesuaikan dengan ketersedianya lahan.

d. Saluran Drainase Pra Cetak Berlobang


Maksudnya saluran air hujan yang dibuat dari bahan beton bertulang dengan
diberi perlubang. Saluran itu dibuat dengan sistem pracetak, berfungsi untuk
mengalirkan dan meresapkan air hujan dari suatu tempat ketempat yang lain atau
ke badan air. Ada dua bentuk saluran yaitu persegi dan trapesium dengan panjang
0,5 dan 1,2 meter serta di dasar saluran diberikan lubang-lubang untuk
meresapkan air dengan ukuran setiap lubang 2-2,5 cm dan panjang 11-14 cm.
Pada satu pias saluran dipasang 6-12 buah lubang dengan jarak dan aturan
penempatan tertentu.

Terdapat dua tujuan dalam penetapan dimensi saluran yaitu :


1. Pada jaringan drainase yang sudah ada, adalah untuk mengevaluasi
kesesuaian antara dimensi saluran terhitung terhadap dimensi saluran yang
ada.
2. Pada perencanaan sistem jaringan drainase baru, bertujuan menetapkan
dimensi saluran untuk keperluan pelaksanaan pembangunannya
Pada materi ini akan menjelaskan bagaimana menentukan dimensi saluran.
Perhitungan luas penampang saluran (F) ditentukan oleh besarnya debit rancangan
(Q) dan kecepatan aliran (V). Sedangkan kecepatan aliran dipengaruhi oleh n =
koefisien kekasaran Manning, R = jari-jari hidrolis dan s = kemiringan dasar
saluran.

Bab III Desain Saluran 28


Kemiringan dasar saluran (s) tergantung pada keadaan topografi kawasan. Makin
curam kondisi daerahnya, makin besar kemiringan dasar saluran, makin cepat pula
alirannya. Sehingga kemiringan dasar saluran s terkait pula dengan bagaimana
pola jaringan drainasenya.
Pola jaringan drainase disuatu kawasan tergantung dari topografi dan tata guna
lahan kawasan tersebut. Di perkotaan, pola jaringan drainase umunya mengikuti
pola jalur jalan dan bangunan yang ada.
Pola jaringan drainase secara teoritis dapat dikelompokkan dalam beberapa jenis
berikut ini :
1. Pola Siku (Pola Tegak Lurus)
2. Pola Paralel
3. Pola Jarig-jaring
4. Pola Siku (Pola Tegak Lurus), yaitu ditandai dengan banyaknya saluran
tersier yang saling berpotongan tegak lurus dengan saluran sekunder.
Umumnya dipakai didaerah yang mempunyai topografi sedikit lebih tinggi
dari sungai. Sungai yang akan dipakai sebagai saluran pembuang akhir,
berada di sekitar atau melintasi kota. Tujuannya agar air hujan dapat
dibuang secepatnya melalui jarak terpendek menuju ke sungai.
5. Pola Paralel, dicirikan dengan saluran utama yang terletak sejajar dengan
saluran cabang. Dengan saluran cabang (sekunder) yang cukup banyak dan
pendek-pendek, apabila terjadi perkembangan kota, saluran-saluran akan
dapat menyesuaikan diri.
6. Pola Jaringan-jaringan adalah pola jaringan drainase yang umum ada di
kawasan perkotaan yang telah terbangun. Pola jaringannya mengikuti
jaringan jalan dan bangunan yang telah ada.
Di samping tiga pola sistem jaringan drainse di atas, terdapat pola-pola yang lain.
Seperti pola kipas dimana sistem saluran mengarah dan memusat ke satu titik,
pola radial yang umumnya terjadi di kawasan berbukit, sehingga pola saluran
memencar ke segala arah.
Tinggi muka air di sungai harus lebih rendah dari tinggi muka air di muara saluran
sekunder. Karenanya menetapkan muara drainase merupakan hal yang sangat
penting.

Dengan pengalamanya yang luas dalam perancangan drainase perkotaan


memberikan saran tentang lokasi muara drainase sebagai berikut :
1. Pilih muara drainase pada sungai dengan peil banjir yang serendah
mungkin. Semakin jauh ke hilir sungai, semakin rendah elevasi muka air
banjir.

Bab III Desain Saluran 29


2. Pilih muara drainase di sebelah hilir bendungan, karena peil banjir di hilir
bendungan jauh lebih rendah dari sebelah hulunya karena adanya efek
pembendungan.
3. Bila ada tandon banjir, pilihlah bermuara ke tandon banjir tersebut. Di
dalam tendon tentu memunyai peil banjir yang rendah, dan dapat
dikendalikan.
4. Bila ada dua buah sungai, sebagai pilihan muara drainase, pilihlah yang
paling rendah peil banjirnya.

3.2 Perhitungan Kapasitas Saluran Eksisting


3.2.1. Kapasitas Saluran
Bentuk dan ukuran penampang ditetapkan dengan terlebih dahulu menghitung
luas penampang saluran (F). Sementara itu, luas penampang saluran tergantung
pada besarnya debit yang akan dialirkan (Q) dan kecepatan aliran dalam saluran
tersebut (V).

Q=V.F

Menurut Manning kecepatan rata-rata di dalam saluran adalah



V= √
Besar kecepatan alirannya (V) tergantung pada n = koefisien kekasaran Manning

( R = jari-jari hidrolis (m) dan s = kemiringan dasar saluran.

Serupa dengan rumus di atas, Chezy memberikan perhitungan kecepatan aliran


dengan rumus berikut

V= √

Terdapat berbagai faktor pengaruh dalam perencanaan saluran yakni :


• Bahan pembuat saluran, baik yang dipakai sebagai dinding maupun dasar
saluran. Bahan saluran menentukan angka koefisien kekasarannya.
• Kecepatan aliran minimum yang diijinkan, agar tidak terjadi pengendapan
apabila air mengandung lumpur dan sisa-sisa kotoran.
• Kemiringan dinding saluran
• Kemiringan dasar saluran
• Tinggi jagaan
• Penampang yang paing efeisien baik hidrolis maupun empiris
Pada umumnya luas penampang saluran dihitung berdasarkan rumus-rumus pada
kondisi aliran seragam (uniform flow) dengan mempertimbangkan :

Bab III Desain Saluran 30


a. Efisiensi hidrolis
b. Kepraktisan, dan
c. Pertimbangan ekonomis

3.2.2. Bahan pembuat saluran


Saluran drainase umumnya terbuat dari pasangan batu kali, beton tumbuk, beton
bertulang, baja armco, ataupun dari tanah dengan perkuatan atau lapisan batu kali.
Masing-masing material tersebut, mempunyai kekasaran yang berbeda. Kekasaran
dinyatakan dalam angka yang disebut sebagai koefisien kekasaran menurut Bazin
(m) maupun Manning (n)

Tabel 3.1 besaran angka kekasaran Manning (n)


No Bahan pembuat daftar dan dinding saluran n

A Saluran tertutup dengan aliran sebagian penuh

1 Gorong-gorong dari beton pra cetak 0,011 – 0,015

2 Gorong-gorong dari baja 0,013 – 0,017

3 Gorong-gorong baja bergelombang 0,021 – 0,030

4 Gorong-gorong tanah liat bakar 0,011 – 0,013

B Saluran terbuka

1 Plesteran semen 0,011 – 0,015

2 Beton 0,014 – 0,019

3 Pasangan bata 0,012 – 0,018

4 Pasangan batu kali 0,017 – 0,030

5 Tanah asli bersih 0,016 – 0,020

6 Tanah berumput 0,025 – 0,033

7 Batu padas 0,025 – 0,040

8 Tanah tidak terawat/saluran alam 0,050 – 0,150

Bab III Desain Saluran 31


Tabel 3.2 besaran angka kekasaran Bazim (m)
No. Bahan Pembuat Dasar dan m
Dinding Saluran
1 Plesteran semen yang halus 0,061

2 Kayu, beton, atau bata tidak diplester 0,115

3 Pasangan batu kali diberi siar 0,457

4 Lapisan tanah asli (kondisi baik) 0,847

5 Lapisan tanah asli (kondisi sedang) 1,298

6 Lapisan tanah asli (kondisi jelek) 1,744

Bila bahan yang dipakai untuk dinding saluran berbeda dengan bahan untuk dasar
saluran, maka besaran koefisiennya hendaknya memakai koefisien gabungan dari
kedua jenis bahan tersebut.

3.2.3. Kecepatan yang diijinkan


Besarnya kecepatan aliran yang diijinkan, tergantung pada bahan saluran yang
digunakan, kondisi fisik dan sifat-sifat hidrolisnya. Berdasarkan hal tersebut,
kecepatan aliran yang diperbolehkan dibagi atas dua bagian, yaitu :
1. Untuk saluran yang tahan erosi, kecepatan aliran di dasarkan pada
kecepatan minimum yang diperbolehkan. Kecepatan minimum yang
diperbolehkan adalah kecepatan terendah dimana tidak menjadikan
pengendapan partikel dan masih dapat mencegah tumbuhnya tanaman air
dalam saluran, biasanya berkisar 0,60 – 0,90 m/detik.
2. Untuk saluran yang tidak tahan erosi, kecepatan alirannya didasarkan pada
kecepatan maksimum yang diperbolehkan. Kecepatan maksimum yang
diperbolehkan adalah kecepatan rata-rata terbesar yang tidak boleh
mengakibatkan penggerusan terhadap badan saluran.

Bab III Desain Saluran 32


Tabel 3.3 kecepatan aliran berdasar bahan pembuat saluran
Kecepatan Aliran Yang
No. Jenis Bahan Saluran
Diijinkan (m/dt)

1 Pasir Halus 0,45

2 Lempung Berpasir 0,50

3 Lanau Aluvial 0,60

4 Kerikil Halus 0,75

5 Lempung 1,10

6 Kerikil Kasar 1,20

7 Batu-Batu Besar 1,50

8 Pasangan Batu 1,50

9 Beton 1,50

10 Beton Bertulang 1,50

Besaran dalam tabel dapat berubah apabila :


a) Kedalaman air lebih dari 1 m/dt, kecepatan ditambah 0,15 m/dt dan
dikurangkan jika air mengandung suspensi yang sangat kasar.
b) Untuk debit pengaliran yang tinggi dan tidak berfrekuensi dengan durasi
yang pendek, kecepatan perlu ditambahkan sampai sebesar 30%.
Kecepatan dalam saluran juga dapat diperkirakan berdasar kemiringan rata-rata
dasar saluran, sebagai berikut :
Besaran dalam tabel dapat berubah apabila :
a) Kedalaman air lebih dari 1 m/dt, kecepatan ditambah 0,15 m/dt dan
dikurangkan jika air mengandung suspensi yang sangat kasar.
b) Untuk debit pengaliran yang tinggi dan tidak berfrekuensi dengan durasi
yang pendek, kecepatan perlu ditambahkan sampai sebesar 30%.
Kecepatan dalam saluran juga dapat diperkirakan berdasar kemiringan rata-rata
dasar saluran, sebagai berikut :

Bab III Desain Saluran 33


Tabel 3.4 Kecepatan dalam saluran berdasar kemiringan rata-rata dasar
saluran
No. Kemiringan Dasar Saluran (%) Kecepatan Aliran Yang Diijinkan
(m/dt)

1 0–1 0,45

2 1–2 0,60

3 2–4 0,90

4 4–6 1,20

5 6 – 10 2,50

6 10 - 15 2,40

Besar kecepatan yang sebenarnya terjadi, tergantung pada keadaan bahan pembuat
saluran (angka kekasaran Manning n), dan kemiringan dasar saluran (s).
Keduanya ada pada rumus Manning sebagai berikut :


V= √

Dimana :
V = kecepatan alirannya (m/det)
N = Koefisien kekasaran Manning ( ⁄ /det)
R = jari-jari hidrolis (m) = A/P
P = panjang keliling basah saluran (m)
S = kemiringan dasar saluran
3.2.4. Kemiringan dinding saluran
Kemiringan dinding saluran (talud) tergantung pada macamnya material yang
membentuk tubuh saluran. Faktor lain yang perlu dipertimbangkan dalam
menentukan kemiringan tersebut adalah cara pelaksanaan kontruksi dan geometri
saluran.

Bab III Desain Saluran 34


Tabel 3.5 kemiringan dinding saluran (talud)
No. Bahan Saluran Kemiringan
Dinding

1 Batuan/Cadas Mendekati vertikal

2 Lempung keras atau tanah dengan lapisan beton (0,5 – 1) : 1

3 Tanah dengan pasangan batu atau tanah untuk saluran 1:1


besar

4 Lempung atau tanah untuk saluran-saluran kecil 1,5 : 1

5 Tanah berpasir 2:1

6 Lumpur berpasir atau lempung porous 3:1

3.2.5. Kemiringan dasar saluran


Kemiringan dasar saluran adalah kemiringan arah memanjang dari dasar saluran,
yang dipengaruhi oleh kondisi topografi serta tinggi tekanan, yang diperlukan
untuk dapat mengalirkan air sesuai dengan kecepatan yang diinginkan.
Kemringan minimum agar terjadi pengaliran air tersebut, biasanya sesuai dengan
kecepatan minimum yang diperbolehkan atau kira-kira 0,005 sampai 0,008
tergantung ada bahan saluran yang digunakan.
Profil muka air umumnya dapat dihitung dengan bantuan software program
HECRAS (Hidrological Engineering Centre River Analysis Sistem)

3.2.6. Tinggi Jagaan


Yang dimaksud dengan tinggi jagaan (freeboard, Fb) adalah jarak vertikal dari
puncak tanggul sampai permukaan air pada kondisi perencanaan.
Jarak tersebut harus sedemikian rupa sehingga dapat mencegah peluapan air
akibat ngelombang serta fluktuasi permukaan air.
Gelombang permukaan air terjadi pada saluran dengan kecepatan air yang tinggi
serta kemringan dasar yang curam, yag berakibat terjadinya kenaikan muka air.
Tinggi jagaan ditentukan oleh :
• Ukuran saluran Fb

• Kecepatan pengaliran
h
• Arah dan lengkung belokan saluran
• Debit banjir b

• Gelombang aliran

Bab III Desain Saluran 35


Tinggi jagaan umumnya 0,15 – 0,60 m, dengan tinggi timbunan di atas puncak
perkerasan 0,30 – 0,60 m. Tinggi jagaan minimum adalah 10 cm diatas
permukaan air untuk debit rancangan maksimum.

Tabel 3.6 tinggi jagaan


No. Debit (m det) Tinggi air h (m) Tinggi Jagaan fb (m)

1 Kurang dari 2,00 < 1,00 0,30

2 2,00 – 10,00 1,00 – 2,00 0,60

3 Lebih dari 10,00 > 2,00 0,80

Untuk gorong-gorong tinggi jagaannya adalah Fb = 0,20 m dengan tinggi air


maksimum (h) = 0,82 D

3.2.7. Penampang hidrolis terbaik


Penampang hidrolis terbaik adalah penampang saluran dengan luas yang sama
mampu membawa debit besar. Hal tersebut terjadi bila kecepatan aliran (V)
maksimum. Diketahui kecepatan aliran merupakan fungsi dari panjang keliling
baah saluran (P), makin kecil P makin besar V.
Dengan demikian, penampang hidrolis terbaik ada pada penampang yang
mempunyai luasan sama, namun mempunyai panjang keliling baah terkecil.
Kapasitas saluran dihitung dengan menggunakan rumus umum sebagai berikut :
Q=V.F

V= √
Sehingga, untuk menghitung besar kemiringan dasar saluran

s=( ⁄
)
Keterangan :
Q
F
V = Kecepatan alirannya (m/det)
n = Koefisien kekasaran Manning
R = Jari – jari hidrolis (m) = A/P
P = Panjang keliling basah saluran (m)
s = Kemiringan dasar saluran

Bab III Desain Saluran 36


Terdapat berbagai macam bentuk penampang saluran. Panduan dan petunjuk
praktis pengelolaan drainase perkotaan menyatakan ada dua tipe saluran drainase,
yakni :
a. Saluran terbuka
Saluran terbuka yang umumnya digunakan pada daerah yang :
• Lahannya masih memungkinkan cukup luas
• Lalu lintas pejalan kaki tidak terlalu padat
• Beban dikiri dan kanan saluran relatif ringan
b. Saluran tertutup
Saluran terttutup yang umumnya digunakan pada daerah yang :
• Lahannya terbatas misalnya daerah pertokoan, pasar, ruko, dan
sejenisnya
• Dipergunakan untuk lalu lintas pejalan kaki yang padat
• Lahan diatasnya dipergunakan untuk keperluan lain, seperti trotoar,
lapangan parkir dan sejenisnya.

• Tabel unsur-unsur geometris penampang saluran

Bab III Desain Saluran 37


3.2.8. Perencanaan saluran drainase

z n s b h A P R V Q Fb h'
1 0.033 0.008 0.5 0.2911 0.2303 1.3235 0.174 0.8449 0.1946 0.3 0.5911

n= besaran angka kekasaran Manning


S= kemiringan dasar saluran
b = lebar bawah
h = tinggi air maksimum
A= Luas Penampang
P = panjang keliling basah saluran (m)
R = jari-jari hidrolis (m) = A/P
V= kecepatan alirannya (m/det)
Q = Debit
Fb = Tinggi jagaan
h’ = tinggi air maksimum + Tinggi jagaan

3.2.9. Kecepatan Aliran


Besarnya kecepatan aliran yang diijinkan, tergantung pada bahan
saluran yang digunakan, kondisi fisik dan sifat-sifat hidrolisnya. Berdasarkan
table 3.3 kecepatan aliran yang dipergunakan, yaitu : 0,60, karena jenis
bahan saluran aalah Lanau Aluvial.

3.3 Evaluasi Kapasitas Saluran terhadap Debit Banjir Rancangan


Jika Debit banjir (Qp) dihitung menggunakan metode rasional seperti yang
telah dilakukan pada Sub bab di atas, Kapasitas saluran (Qc) bisa ditentukan
dengan metode slope-area. Jika diperoleh Nilai Qc > Qp berarti saluran mampu
mengalirkan debit banjir rancangan. Tetapi jika Qc < Qp maka saluran tidak akan
mampu mengalirkan banjir yang terjadi. Sehingga perlu diadakan perencanaan
ulang pada dimensi saluran.

Bab III Desain Saluran 38


BAB IV DESAIN SALURAN SWMM

4.1 UMUM
Storm Water Management Model (SWMM) merupakan model simulasi hujan-
aliran (rainfall-runoff) yang digunakan untuk simulasi kuantitas maupun kualitas
limpasan permukaan dari daerah perkotaan. Limpasan permukaan dihasilkan dari
daerah tangkapan hujan yang menerima hujan. Beban limpasan permukaan
tersebut kemudian dialirkan melalui sistem saluran pipa, saluran terbuka,
tampungan, pompa, dan sebagainya. SWMM menghitung kuantitas dan kualitas
limpasan permukaan dari setiap daerah tangkapan hujan, dan debit aliran,
kedalaman aliran, dan kualitas air di setiap pipa dan saluran selama periode
simulasi.

4.1.1 Simulasi Sistem Drainas Sederhana


Pada simulasi ini, akan dilakukan analisis dengan luas lokasi yang telah
didapat dari perumahan dinas kopri ialah 56725,178 M²
luasan wilayah drainase seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.1.1. Sistem
drainase tersebut terdiri dari beberapa subcatchment yaitu Rumah 1 sampai
Rumah 60, saluran drainase eksisting C1 sampai dengan C41, dengan Junction
sebagai SLR(Saluran) yaitu SLR 1 sampai dengan SLR 40.
Saluran drainase eksisting yang C1 sampai dengan C41 merupakan saluran
terbuka berbentuk persegi dengan lebar dasar saluran B = 50 cm dan kedalaman H
= 60 cm seperti yang ditunjukkan dalam Gambar dibawah ini.

Bab IV Desain Saluran SWMM 39


4.2 LANGKAH-LANGKAH PENGGERJAAN SWMM
4.2.1 Pengaturan Proyek (Project Setup)
Langkah pertama adalah membuat sebuah proyek SWMM baru dan mengatur
beberapa parameter standar (default) sehingga memudahkan dalam
pemasukan data untuk setiap objek dalam sistem.
1. Jalankan program SWMM jika belum dijalankan sebelumnya dan pilih
File >> New dari papan menu utama untuk membuat sebuah proyek
baru.
2. Pilih Select >> Defaults untuk membuka jendela Project Defaults.
3. Pada halaman ID Labels, atur ID Prefixes dari objek seperti yang
ditunjukkan dalam Gambar. Hal ini akan membuat SWMM secara
otomatis memberikan label dan nomor pada setiap objek yang dibuat
sesuai dengan pengaturan di atas.

Bab IV Desain Saluran SWMM 40


Selanjutnya dilakukan pengaturan beberapa pilihan tampilan map sehingga ID
label dan simbol akan secara otomatis ditampilkan setiap kali objek ditambahkan
dalam jendela Study Area Map, begitu pun dengan arah aliran dalam suatu
saluran.
1. Pilih View >> Map Options untuk menampilkan jendela Map Options
(lihat Gambar 8.6).
2. Pilih halaman Subcatchment dan atur Fill Style menjadi Diagonal dan
Symbol Size menjadi 5.
3. Kemudian pilih halaman Nodes dan atur Node Size menjadi 5.
4. Pilih halaman Annotation dan centang kotak yang akan menampilkan
ID label untuk Subcatchment, Node, dan Link. Sedangkan yang kotak
yang lain untuk sementara dibiarkan tidak tercentang.
5. Terakhir, pilih halaman Flow Arrows dan atur Arrow Style menjadi
Filled, serta atur juga Arrow Size menjadi 7.
6. Klik tombol OK untuk menerima pengaturan dan menutup jendela
Map Options.

Bab IV Desain Saluran SWMM 41


4.2.2Penggambaran Objek

Sekarang penggambaran objek sudah dapat dilakukan pada jendela Study


Area Map. Pertama kali dilakukan penggambaran untuk objek Subcatchment.

1. Klik tombol pada Object Toolbar. (Jika toolbar tidak tampil, maka
pilih View >> Toolbars >> Object). Perhatikan kursor mouse
berubahbentuknya menjadi pensil.
2. Posisikan kursor pada jendela map, dimana pada salah satu sudut dari
subcatchment S1 dan kemudian klik kiri.
3. Lakukan hal yang sama untuk sudut-sudut lainnya dari subcatchment
Rumah1 dan terakhir klik kanan pada mouse (atau dengan menekan
tombol Enter pada keyboard) untuk menutup luasan wilayah
subcatchment Rumah1. Untuk membatalkan dapat dilakukan dengan
menekan tombol Esc pada
keyboard. Tidak perlu khawatir jika gambar yang dibuat belum sesuai
dengan gambar contoh, karena hal ini dapat diperbaiki pada
pembahasan selanjutnya.

4. Ulangi langkah-langkah di atas untuk menggambarkan subcatchment


Rumah2 sampai dengan Rumah60.
Perhatikan bahwa ID label untuk setiap subcatchment secara otomatis
ditampilkan setiap kali objek ditambahkan dalam jendela map.

Selanjutnya, akan ditambahkan objek node baik junction maupun outfall


sebagai bagian dari jaringan drainase. Junction merupakan node pertemuan
dua saluran atau lebih. Sedangkan outfall merepresentasikan ujung/akhir
saluran dimana aliran masuk ke dalam badan sungai, dan sebagainya.

1. Untuk mulai menambahkan objek junction, klik tombol pada Object


Toolbar.

Bab IV Desain Saluran SWMM 42


2. Posisikan kursor pada pada posisi junction SLR1 dan klik kiri untuk
menambahkannya ke dalam jendela map. Lakukan hal yang sama untuk
junction SLR2 sampai dengan J40.

3. Untuk menambahkan objek outfall, klik tombol pada Object Toolbar,


posisikan kursor pada posisi outfall SUNGAI1 dan klik kiri untuk
menambahkannya pada jendela map.

Sampai dengan ini, map yang telah dibuat seharusnya terlihat seperti pada
Gambar.

Penggambaran selanjutnya dilakukan untuk objek conduit (saluran) yang


menghubungkan antara satu node dengan node yang lainnya dalam sistem
yang dibangun. Penggambaran conduit dilakukan mulai dari hulu ke hilir.
Pertama kali digambarkan conduit C1 yang mengubungkan SLR1 (hulu) dan
SLR2 (hilir).

1. Klik tombol pada Object Toolbar. Perhatikan bahwa kursor berubah


bentuk menjadi bentuk silang (crosshair).
2. Klik kiri pada junction SLR1. Perhatikan kembali kursor yang berubah bentuk
menjadi pensil.
3. Posisikan kursor pada junction SLR2 dan klik kiri untuk membuat membuat
conduit.
4. Ulangi langkah di atas untuk membuat conduit C2 sampai dengan C11.
5. Untuk membuat belokan pada conduit, lakukan dengan klik kiri terlebih
dahulu pada tiap sudut belokan sebelum klik kiri pada node akhir.
Untuk melengkapi penggambaran map, terakhir ditambahkan sebuah objek
rain gage.

1. Klik tombol pada Object Toolbar.


2. Posisikan kursor pada posisi Rain1 (Gambar ) dan klik kiri untuk membuat
objek rain gage Rain1.

Bab IV Desain Saluran SWMM 43


Penggambaran map telah lengkap yang terdiri dari objek subcatchment, node,
conduit, dan rain gage. Map yang telah dibuat tersebut seharusnya nampak
seperti pada Gambar . Jika rain gage, subcatchment atau node berada pada
posisi yang tidak seharusnya, maka objek tersebut dapat dipindahkan dengan
cara sebagai berikut.

1. Klik tombol , kemudian klik kiri pada objek yang akan dipindahkan
sehingga objek berada dalam kondisi Object Selection (objek akan terlihat
kelap-kelip).
2. Klik kiri kembali objek tersebut dan tahan (jangan dilepas dahulu), kemudian,
geser mouse untuk memindahkan objek ke posisi yang seharusnya. Lepas
mouse untuk menerima pemindahan objek ke posisi baru.

Bab IV Desain Saluran SWMM 44


Data hujan rancangan perlu diterapkan pada objek Rain1, sehingga simulasi
dapat dilakukan untuk melihat respon subcatchment dalam
mengalihragamkannya menjadi limpasan. Pengaturan objek Rain1 dapat
dilakukan melalui jendela Property Editor. Namun, sebelum itu perlu dibuat
seri daha hujan (time series) melalui jendela Browser.

1. Pada halaman Data dalam jendela Browser, pilih Time Series.


2. Kemudian klik tombol Add Object untuk membuat sebuah time
series baru dan membuka jendela Time Series Editor (lihat Gambar 8.10).
3. Ketikkan TS1 sebagai Time Series Name.
4. Tambahkan keterangan (bila perlu) pada kolom Description. Ketikkan
“Hujan rancangan untuk sistem drainase contoh”.
5. Masukkan nilai sebagaimana yang ditunjukkan dalam Gambar 8.10
pada kolom Time (H:M) dan Value. Sedangkan kolom Date (M/D/Y) biarkan
kosong.
6. Klik tombol View untuk melihat seri data hujan dalam format grafik
seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 8.11.
Klik OK untuk menerima pengaturan dan menutup jendela Time Series Editor.

Bab IV Desain Saluran SWMM 45


4.2.3. Menjalankan Simulasi

Sebelum menjalankan simulasi, terlebih dahulu harus dilakukan pengaturan


pilihan simulasi.

1. Dari halaman Data pada jendela Browser, pilih Options dan klik
dan jendela Simulation Options akan ditampilkan.
2. Pada halaman General, atur Horton untuk Infiltration Model, dan
Steady Flow untuk Routing Model. Sedangkan yang lain biarkan pada
pengaturan default-nya.
3. Pindah ke halaman Dates, dan atur waktu End Analysis
4. Pada halaman Time Steps, atur Routing Time Step menjadi 60 detik.
5. Klik OK untuk menerima pengaturan dan menutup jendela Simulation
Options.
4. Sampai dengan saat ini, simulasi telah siap untuk
dilakukan.
Untukmelakukannya pilih Project >> Run Simulation (atau dengan klik

tombol ). Seharusnya simulasi berhasil dijalankan dengan ditampilkannya


jendela Run Status seperti pada Gambar.

Bab IV Desain Saluran SWMM 46


Melihat Hasil Menggunakan Profil Aliran

Hasil simulasi terutama pada saluran juga dapat ditampilkan sebagai profil
aliran (profile plot) yang menunjukkan perubahan kedalaman aliran dalam
potongan memanjang saluran. Sebagai contoh, akan ditampilkan profil aliran
dari saluran yang dihubungkan oleh Node SLR1 sampai dengan Sungai1.
Untuk melakukannya, lakukan langkah-langkah berikut:

1. Pilih Report >> Graph >> Profile atau dengan klik tombol pada
Toolbars sehingga jendela Profile Plot ditampilkan seperti pada
Gambar.
2. Pada Start Node pilih SLR1 dan pada End Node pilih Sungai1.
Klik tombol Find Path. Secara otomatis pada daftar Links in Profile akan
ditampilkan saluran mana saja yang menghubungkan kedua Node tersebut seperti
yang ditunjukkan dalam Gambar.

Bab IV Desain Saluran SWMM 47


4.3 Hasil Tabel dan Penampang Saluran
4.3.1 Dengan menggunakan Summary Result

Gambar Jendela Summary Result (Subcathment Runoff)

Gambar Jendela Summary Result (Node Depth)

Gambar Jendela Summary Result (Link Flow)

Bab IV Desain Saluran SWMM 48


4.3.2 Dengan menggunakan Time Series Plot

Gambar Time Series Plot Selection

Gambar Time Series Plot Selection Saluran C44, C45, C47 dan C48

Bab IV Desain Saluran SWMM 49


4.3.3 Dengan menggunakan Table by Variable

Gambar Table by Variable Selection

Gambar Jendela Link Flow dalam Format table

Bab IV Desain Saluran SWMM 50


4.3.4 Evaluasi system dengan menggunakan Query

Gambar. Evaluasi system dengan menggunakan Query

4.4 Kesimpulan Simulasi

Gambar Evaluasi dengan summary report

Berdasarkan perencanaan, perhitungan dan evaluasi yang telah dilakukan


deengan berbagai macam metode, dapat diperoleh kesimpulan bahwa dimensi saluran
yang direncanakan mampu mengatasi debit banjir rancangan yang telah dihitung.

4.5 Saran
Berdasarkan gambar evaluasi yang terakhir dapat diketahui bahwa ada 3 link
yang masih bisa dioptimalkan lagi.

Bab IV Desain Saluran SWMM 51

Anda mungkin juga menyukai