Perencanaan Drainase SMK 3 Tanjung Selor
Perencanaan Drainase SMK 3 Tanjung Selor
DOSEN
Harvy Irvani, ST., MT
Disusun Oleh
Ahmad Fian Hertotok
NPM : 2016 12 011
UNIVERSITAS KALTARA
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK SIPIL
2018
DAFTAR ISI
ii
BAB III DESAIN SALURAN
3.1 Umum ......................................................................................... 27
3.2 Perhitungan Kapasitas Saluran Eksisting .................................... 30
3.2.1 Kapasitas Saluran ...................................................... 30
3.2.2 Bahan Pembuat Saluran ............................................ 31
3.2.3 Kecepatan yang diijinkan ........................................... 32
3.2.4 Kemiringan dinding saluran ........................................ 34
3.2.5 Kemiringan dasar saluran .......................................... 35
3.2.6 Tinggi Jagaan ........................................................... 35
3.2.7 Penampang hidrolis terbalik ....................................... 36
3.2.8 Perencanaan Saluran Drainase ................................... 38
3.2.9 Kecepatan Aliran ....................................................... 38
3.3 Evaluasi Kapasitas Saluran terhadap Debit Banjir Rancangan ...... 38
BAB IV DESAIN SALURAN SWMM
4.1 Umum ................................................................................... 39
4.1.1 Simulasi system drainase sederhana ........................... 39
4.2 Langkah-langkah Penggerjaan SWMM ...................................... 40
4.2.2 Pengaturan proyek (Projek Setup) .............................. 40
4.2.3 Penggambaran Objek ................................................ 42
4.2.4 Menjalankan Simulasi ................................................ 46
4.3 Hasil Tabel dan Penampang Saluran ....................................... 48
4.3.1 Summary result ........................................................ 48
4.3.2 Time Series Plot ........................................................ 49
4.3.3 Table by variable ....................................................... 50
4.3.4 Menggunakan system Query ...................................... 51
4.4 Kesimpulan Simulasi ................................................................ 51
DAFTAR PUSTAKA
iii
ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Umum
Drainase (drainage) berasal dari kata kerja ‘to drain’ yang berarti mengeringkan atau mengalirkan air, adalah
suatu sistem yang berkaitan dengan penanganan masalah kelebihan air, baik di atas maupun di bawah
permukaan tanah. Banjir dapat terjadi di daerah perkotaan, lahan pertanian, jalan raya, lapangan terbang, dan
dimana saja. Sesuai dengan terjadinya, drainase dapat dikelompokkan menjadi :
a. Drainase perkotaan
b. Drainase pertanian
c. Drainase jalan raya, dan
d. Drainase bangunan-bangunan khusus
Menurut sejarah terbentuknya, drainase dibedakan menjadi :
a. Drainase alam yaitu berupa saliran-saluran drainase yang akibat gerusan air dan kemudian
membentuk jalan air permanen, seperti sungai, lembah dan saluran. Jaringan drainase primer
umumnya menggunakan saluran-saluran drainase alam ini.
b. Drainase buatan yang terdiri dari saluran dan bangunan yang dibuat oleh manusia. Kontruksinya
dapat berupa drainase permukaan,ataupun drainase bawah permukaan, terbuat dari pasangan batu
kali, beton atau bahan bangunan yang lain. Jaringan tersier dan sekunder.
Drainase perkotaan adalah sistem drainase yang berada dalam wilayah administrasi kota/kabupaten yang
berfungsi untuk mengendalikan atau mengeringkan kelebihan air permukaan di daerah pemukiman yang
berasal dari hujan lokal, sehingga tidak mengganggu masyarakat dan dapat memberikan manfaat bagi
kehidupan hidup manusia.
Berdasarkan fungsi pelayanan, sistem drainase kota dibagi menjadi dua bagian pokok & sistem
pengendalian banjir yaitu :
a. Sistem drainase lokal (permukiman,areal pasar, perkantoran, kampus,dll)
b. Sistem drainase utama (Saluran primer, sekunder, tersier dan merupakan tanggungjawab
pemerintah)
c. Pengendalian banjir / flood control (Mengendalikan air sungai yang melintasi wilayah kota)
Fungsi drainase perkotaan tersebut dilakukan melalui tindakan :
1. Mengeringkan bagian wilayah kota yang permukaan lahannya rendah dari genangan sehingga tidak
menimbulkan dampak negatif berupa kerusakan infrastruktur kota dan harta benda milik
masyarakat.
2. Mengalirkan kelebihan air permukaan ke badan air terdekat secepatnya.
3. Mengendalikan sebagian air permukaan akibat hujan yang dapat dimanfaatkan untuk persediaan air
dan kehidupan akuatik.
4. Meresapkan air permukaan untuk menjaga kelestarian air tanah.
Banjir di perkotaan, diakibatkan oleh banyak sebab, antara lain :
1. Tingginya curah hujan,
2. Besarnya debit air limbah domestik maupun air limbah industri,
3. Ketidakmampuan kapasitas sungai dalam menampung debit yang ada,
4. Buruknya sistem drainase, atau
Bab I Pendahuluan 1
5. Terhambatnya pengaliran dalam saluran akibat naiknya muka air di daerah muara drainase atau
akibat pengaruh pasang laut.
Guna keperluan kajian drainase perkotaan dikenal istilah sistem drainase utama dan lokal. Sistem jaringan
utama bilamana pengelolaan pada sistem ini, berada di bawah tanggung jawab pemerintah
kota/kabupatennya. Sedangkan sistem drainase lokal, bila sistem drainasenya dikelola oleh pengembang, atau
pengelolaan khusus dari daerah tersebut.
Berdasarkan fisiknya, sistem drainase terdiri atas saluran tersier, sekunder, dan primer.
1. Sistem saluran tersier adalah saluran drainase yang menerima air dari saluran drainase lokal.
Yaitu sistem jaringan saluran drainase yang berada dal melayani kawasan kota tertentu. Kawasan
yang dilayani drainasenya antara lain adalah kompleks permukiman, kampus, daerah komersial,
perkantoran, dan kawasan industri. Sistem ini melayani area sekitar 10-30 ha.
2. Sistem saluran sekunder adalah saluran terbuka atau tertutup yang berfungsi menerima aliran air
dari saluran tersier dan limpasan air dari permukaan sekitarnya, dan meneruskan air ke saluran
primer.
Sistem saluran primer adalah saluran utama yang menerima masukan aliran dari saluran-saluran sekunder.
Air dari saluran-saluran sekunder bermuara pada saluran-saluran primer selanjutnya dialirkan ke sungai yang
lebih besar atau kelaut. Saluran primer, seringkali menggunakan anak-anak sungai atau sungai yang mengalir
di daerah tersebut, disamping juga memakai saluran buatan.
Kawasan daerah perkotaan terdiri dari kawasan :
a. Permukiman
b. Industri
c. Perdagangan
d. Kampus dan sekolah
e. Rumah sakit
f. Lapangan olahraga
g. Lapangan parkir
h. Instalasi militer
i. Instalasi listrik-telekomunikasi
j. Bandar udara, dll
Masing-masing kawasan tersebut, mempunyai kekhususan terkait dengan :
a. Bagaimana mengalirkan (mendrain) air hujan dan air limbah dan
b. Beberapa besar resiko yang ditimbulkan akibat banjir.
Bangunan yang umum dipakai pada sistem drainase perkotaan yang berwawasan lingkungan adalah :
c. Saluran drainase tanpa perkerasan
d. Saluran drainase dengan pelakuan dasar saluran
e. Parit infiltrasi
f. Saluran drainase pracetak berlubang
g. Lubang resapan biopori
h. Sumur resapan, dan
i. Kolam tampungan resapan
Bab I Pendahuluan 2
1.2 Deskripsi Lokasi SMK N 3 Tanjung Selor
Terletak di JL. Poros Tanah Kuning KM. 9, RT/RW 0/0, Dsn. Bumi
Rahayu, Ds./Kel Bumi Rahayu, Kec. Tanjung Selor, Kab. Bulungan, Prov.
Kalimantan Utara SMK N 3 Tanjung Selor Sekolah yang berdiri pada Tahun 2007
ini memiliki luas daerah + 50,000 M² yang memungkinkan pihak sekolah
untuk dapat mendirikan fasilitas pembelajaran dengan sangat maksimal. Apalagi
kondisi tanah di wilayah sekolah ini sebagian besar bukan merupakan tanah
rawa. Sehingga akan memudahkan dalam proses pembangunannya.
Tetapi dengan adanya rencana pembangunan pada tahun-tahun selanjutnya
tersebut, maka pembuatan Masterplan pembangunan yang matang pun
menjadi suatu keharusan untuk dilakukan mulai dari sekarang. Terutama
untuk mengantisipasi masalah-masalah yang akan muncul di kemudian hari.
Selain karena di sekolah ini terdapat lebih dari satu jurusan, yang setiap jurusan
dipastikan memiliki kebutuhan ruang pembelajaran yang berbeda dengan jurusan
lainnya. Tetapi karena di masterplan tersebut juga akan dirancang untuk
mengantisipasi adanya air hujan yang berlebihan sehingga tidak terjadi bencana
banjir, mengatasi erosi tanah, kerusakan jalan dan bangunan, dan juga
mengeringkan daerah becek dan genangan air sehingga tidak ada akumulasi air
tanah.
Oleh karena hal tersebut di atas, maka kami sebagai kelompok 5 dalam
Mata Kuliah Drainase, berniat untuk membuat Peta Wilayah SMK N 3 Tanjung
Selor. Sehingga akan didapatkan dari peta tersebut, luas wilayah yang telah
tertutupi oleh bangunan, jalan dan juga luas wilayah yang masih berupa semak
belukar ataupun masih berupa tanah terbuka. Berikut merupakan data-data yang
telah kami peroleh untuk selanjutnya diolah dan ditampilkan menjadi peta SMK N
3 Tanjung Selor.
1. Batas – batas wilayah
a. Sebelah Barat Laut SMK N 3 Tanjung Selor terdapat Desa Kilo 9
b. Sebelah Selatan SMK N 3 Tanjung Selor terdapat Desa Kilo 12
c. Sebelah Timur SMK N 3 Tanjung Selor terdapat Desa Apung
2. Batas – batas koordinat yang kami jadikan Peta SMK N 3 Tanjung
Selor adalah
a. Batas atas kanan dengan koordinat N 3752.20 ; E 6030.43
b. Batas atas kiri dengan koordinat N 3752,20 ; E 5739.87
c. Batas bawah kiri dengan koordinat N 3549.76 ; E 5739.87
Bab I Pendahuluan 3
d. Batas bawah kanan dengan koordinat N 3549.76 ; E 6030.43
1.3 Tata Guna Lahan
Berdasarkan batas-batas yang telah ditentukan pada data di atas, maka
diperoleh data sebagai berikut :
1 201.35 16 398.01
2 416.67 17 291.89
3 923.38 18 391.64
4 274.18 19 355.52
5 532.10 20 390.78
6 83.57 21 34.70
7 247.25 22 386.99
8 400.60 23 170.17
9 83.26 24 271.25
10 135.83 25 225.25
11 211.46 26 30.69
12 399.82 27 82.79
13 284.30 28 82.79
14 66.13 29 2454.03
15 288.80 30 5657.542
Jumlah no. 1 s.d 30 15772.712
Bab I Pendahuluan 4
c. Luas lahan hijau, baik yang terdapat pohon tinggi maupun semak
Notasi 2
Luas (m )
lahan
A 7473.00
B 705.66
C 23.99
D 39.22
E 69.31
F 126.90
G 13302.27
Jumlah A s.d G 21740.348
= 21309.27m2
luas asli lahan milik SMK N 3 Tanjung Selor yaitu + 50.000m2, sedangkan data
yang kami dapatkan yang tercantum pada data nomor 3a adalah 58822.33 m2, hal
tersebut dikarenakan adanya keterbatasan data, yaitu data batas-batas tanah yang
spesifik untuk lahan SMK N 3 Tanjung Selor itu sendiri. Sehingga kami kami
membuat acuan batas sendiri dengan menggunakan koordinat-koordinat yang
tersebut pada data nomor 2a sampai 2d. Tetapi meskipun didapatkan luas total
yang berbeda, tetapi kami berhasil dapatkan total luas bangunan yang sudah
berdiri di SMK N 3 Tanjung Selor, yang merupakan lahan yang sudah tidak dapat
menyerap air secara langsung. Sehingga kami harapkan untuk data yang kami
dapatkan ini bisa menjadi acuan dalam merencanakan dan mengembangkan
pembangunan yang akan dilaksanakan pada lahan SMK N 3 Tanjung Selor
tersebut ataupun juga sebagai acuan dalam kegiatan lainnya.
Bab I Pendahuluan 5
1.4 Kondisi Sosial, Budaya dan Ekonomi
Membahas masalah sosial budaya dan ekonomi pada bab ini, dikarenakan lokasi
yang diambil adalah lokasi Sekolah atau lebih tepatnya tempat pendidikan yang
tentunya hanya akan ramai jika pada waktu pagi sampai sore hari. Sedangkan jika
waktu memasuki malam hari, maka tempat ini akan sepi tidak berpenghuni, karena
ditinggal pulang oleh siswa-siswanya. Selain dari itu, pada waktu ramai itu pun,
kegiatan yang dilakukan oleh siswa-siswa sebagian besar hanyalah pembelajaran di
kelas, atau bisa dikatakan jauh dari kegiatan MCK, yang tentu hal tersebut tidak
memenuhi syarat kalau dijadikan acuan tempat perencaan saluran drainase perkotaan
seperti yang sudah ditugaskan. Maka dari itu semua maka disini lokasi pendidikan ini
diasumsikan sebagai lokasi perkotaan. Sehingga dapat diperoleh data-data seperti
kebutuhan air untuk mandi, cuci baju, cuci piring dan lain sebagainya, sehingga bisa di
peroleh nilai dari kebutuhan air pada setiap penduduknya, dan akan didapatkan debit air
kotor yang dihasilkan dari aktivitas penduduk yang ada di wilayah ini
Bab I Pendahuluan 6
BAB II HIDROLOGI
2.1 Umum
Data utama pada analisis hidrologi adalah data hujan yang jatuh pada kawasan
yang ditinjau. Data tersebut berupa data hujan harian maksimum, yang terjadi dalam
masa satu tahun. Untuk menetapkan hujan harian maksimum pada kala ulang tertentu,
diperlukan data hujan yang paling tidak berasal dari hasil pengukuran selama sepuluh
tahun. Untuk membuat lengkung intesitas hujan, diperlukan data intensitas hujan
maksimum dalam durasi waktu tertentu. Umumnya dalam durasi 5,10,15 sampai dengan
720 menit. Data hujan semacam itu, hanya tersedia pada stasiun-stasiun penakar hujan
yang mempunyai pencatatan hujan secara otomatis. Data pentin yang dipakai untuk
menghitung besaran intensitas hujan, adalah data hujan harian maksimum dalam beberapa
tahun.
Pengujian data bertujuan untuk menguji benar tidaknya data, dan apakah data
tersebut dapat menggambarkan fenomena hidrologi seperti keadaan yang sebenarnya
dilapangan. Menguji kualitas data, merupakan keharusan. Dan dilakukan sebelum data
tersebut dipakai untuk keperluan berikutnya. Analisis untuk menguji kualitas data curah
hujan,umumnya meliputi :
1. Analisis data yang hilang dan analisis konsitensi data. Cara pengujian
konsistensi data yang umum dipakai adalah metode Rescaled Adjusted Partial
Sum (RAPS), Metode lengkung masa ganda dan pengujian abnormalitas data (Uji
Inlier-Outlier Data)
2. Analisis ketidakadaan trend. Beberapa metode statistik dapat digunakan untuk
menguji ketidak-adaan trend dalam deret berkala, diantaraya uji seperti korelasi
peringkat metode spearman dan uji Mann dan Whitney
3. Analisis kestabilan data. Uji kestabilan data dimaksudkan untuk menguji
kestabilan nilai varian dan rata-rata berkala dari deret berkala, pengujian dapat di
lakukan dengan metode uji F.
4. Analisis persistensi data. Persistensi adalah ketidaktergantungan dari setiap nilai
dalam deret berkala. Untuk melaksanakan pengujian persistensi harus dihitung
besarnya koefisien korelasi serial. Salah satu metode untuk menentukan koefisien
korelasi serial adalah dengan metode Spearman.
Bab II Hidrologi 7
Salah satu parameter penyebab banjir adalah intensitas hujan (I mm/jam). Besarnya
intensitas hujan, dihitung berdasar pada data curah hujan harian maksimum. Ada berbagai
cara menghitung tinggi curah hujan rata-rata, seperti cara :
• Metode Rerata aljabar
• Metode Poligon Thiessen dan
• Metode Isohyet
Pada perancangan drainase perkotaan, diperlukan besaran curah hujan harian maksimum
pada kala ulang tertentu, adapun sebagai berikut :
• Pertamanan (Kala Ulang 5 Tahun)
• Pendidikan (Kala Ulang 5 Tahun)
• Pemukiman (Kala Ulang 5 Tahun)
Untuk kawasan Khusus
• Kawasan bandara (Kala Ulang 10/20 Tahun)
• Instalasi enersi (Kala Ulang 10/20 Tahun)
• Dll.
Karena debit rancangan adalah fungsi dari I, sehingga untuk I dengan kala ulang
tertentu sama dengan kala ulang Q. Contoh pengertian Q25 = I25, yaitu bahwa tiap 25
tahun terdapat kemungkinan dalam seribu tahun misalnya akan terjadi empat puluh
kejadian dengan Q sama atau lebih besar dari Q dengan kala ulang 25 tahunan. Berbagai
metode yang dapat dipakai untuk menghitung besarnya curah hujan harian maksimum
pada kala ulang tertentu yaitu :
• Distribusi Normal
• Distribusi Log Normal
• Distribusi Gumbel
• Distribusi Log Normal
• Distribusi Log Pearson III, dll
Bab II Hidrologi 8
2.2 Analisa Hidrologi
2.2.1. Curah Hujan Rerata Daerah
data Curah hujan Hasil pengamatan curah hujan stasiun meteorologi tanjung
harapan bulungan
No Tahun
Urut
2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
Jan 179 439 285 183 395 287 299 308 216 464 219
Feb 484 192 224 289 171 188 196 425 172 305 485
Mar 184 178 269 246 144 611 370 248 218 84 125
Mei 210 206 303 176 336 279 259 123 181 167 262
Jun 164 190 289 335 68 456 198 162 211 96 302
Jul 242 223 165 136 302 225 146 208 263 100 209
Agust 219 290 180 199 314 411 173 342 132 266 349
Sept 405 187 377 185 221 117 315 239 230 160 510
Okt 244 223 221 218 256 180 213 174 149 215 453
Nov 188 374 151 350 240 250 175 365 315 238 278
Des 182 453 364 239 213 243 277 309 410 197 308
RATA-
232.92 261.25 261.67 226.33 227.42 294.75 228.33 262.92 221.33 204.42 299.92
RATA
Bab II Hidrologi 9
stasiun meteorologi tanjung harapan bulungan dan juga karena keterbatsan waktu
Sehingga mohon maaf dalam tugas ini uji konsistensi tidak dilakukan.
2.2.3.2. Hujan Rancangan dengan Menggunakan Metode Log Pearson Tipe III
Log pearson type III mempunyai keunggulan dimana menggunakan 3
variabel dalam analisisnya, yakni : rerata, kemencengan dan deviasi standar.
Tahapan untuk menghitung hujan rancangan maksimum dengan metode Log
Pearson III adalah sebagai berikut :
1. Ubah hujan harian maksimum dalam bentuk logaritma
2. Hitung rerata besaran logaritma
Peluang (Log X - (Log X - (log X -
No x Log x
(%) Log Xrt) Log Xrt)2 Log Xrt)3
1 204.42 2.31 8.33 -0.08 0.00638 -0.00051
2 221.33 2.35 16.67 -0.05 0.00205 -0.00009
3 226.33 2.35 25.00 -0.04 0.00127 -0.00005
4 227.42 2.36 33.33 -0.03 0.00112 -0.00004
5 228.33 2.36 41.67 -0.03 0.00101 -0.00003
6 232.92 2.37 50.00 -0.02 0.00054 -0.00001
7 261.25 2.42 58.33 0.03 0.00071 0.00002
8 261.67 2.42 66.67 0.03 0.00075 0.00002
9 262.92 2.42 75.00 0.03 0.00087 0.00003
10 294.75 2.47 83.33 0.08 0.00626 0.00049
11 299.92 2.48 91.67 0.09 0.00751 0.00065
Jumlah 26.294
Log X Rerata 0.02846 0.00048
2.3904
(Xrt)
Bab II Hidrologi 10
3. Hitung simpangan baku
Harga Simpangan Baku ( dalam Log) : S
n
( LogXi LogX rerata ) 2
S=
i 1 11 1
= 0.053
4. Hitung koefisien kepencengannya
Koefisien Kepencengan ( dalam Log) : Cs
Cs = 0.387n
11x ( LogX i LogX rerata ) 3
i 1
(11 1)(11 2) S i3
5. Hitung logaritma hujan rancangan dengan kala ulang tertentu
Perhitungan Hujan Rancangan Kala Ulang 1.1, 5, 10, 20, 25 Tahun dengan Metode Log
Person Tipe III Setelah data yang dibutuhkan diketahui
Kala Pr Log X
Cs G Log Xrt S X(mm)
Ulang
(%) (Log Xrt+(GxS)
1.11 90 0.387 -1.23 2.390 0.053 2.325 211.150
2 50 0.387 -0.06 2.390 0.053 2.387 243.754
3 33.33 0.387 0.23 2.390 0.053 2.403 252.708
4 25 0.387 0.52 2.390 0.053 2.418 261.990
5 20 0.387 0.817 2.390 0.053 2.434 271.613
10 10 0.387 1.316 2.390 0.053 2.461 288.780
20 5 0.387 1.689 2.390 0.053 2.480 302.332
25 4 0.387 1.876 2.390 0.053 2.490 309.344
*Hasil Curah Hujan Rencana T Tahun dengan Metode Log Person Tipe III
Periode
Ulang Curah Hujan Rencana (mm)
(Tahun)
1.1 211.15
2 243.75
5 271.61
10 288.78
20 302.33
25 309.34
Bab II Hidrologi 11
2.2.4. Uji Kesesuaian Distribusi
2.2.4.1. Uji Chi – Square
Uji Chi Square dilakukan untuk uji kesesuaian distribusi.
Rumus Chi Square (X2) sbb:
• X2
dengan
Fe = frekuensi pengamatan kelas j
Ft = frekuensi teoritis kelas j
k = jumlah kelas
Derajad bebas dirumuskan sbb:
• = k-1 frekuensi dihitung tanpa mengestimasi parameter dari sampel
• = k-1-m frekuensi dihitung dengan mengestimasi m parameter dari sampel.
• Harga X2 dengan derajad bebas () seperti tsb di atas dibandingkan dengan X2
dari tabel dengan tingkat keyakinan () tertentu Jika X2 < X2 tabel berarti data
sesuai dengan distribusi ybs.
Langkah-langkah perhitungan adalah sbb:
100%
K
K
( Fe Ft ) 2
X hitung =
2
i 1 Ft
Bab II Hidrologi 12
Penerapan Perhitungan :
1. Pengelompokan data menjadi K kelas
N = 11
K = 1 + 3.22 log n
= 1 + 3.22 log 11
=1+3.22*LOG(11) ~ 4
Bab II Hidrologi 13
Keterangan :
Dari Tabel Chi-Square didapatkan X2cr = 3,841 untuk dk = 1 dan a = 5% X2hitung = 1
Karena 1 < 3,842 maka X2 Hitung = 1 berada di dalam daerah penerimaan dan Rencana
atau hipotesis diterima pada derajat kemaknaan 5%. Sehingga Kesimpulan dari hasil
pengamatan curah hujan stasiun meteorologi tanjung harapan bulungan dapat diterima.
Langkah awal
1. Data hujan harian maksimum tahunan disusun dari besar ke kecil
2. Hitung probabilitasnya dengan rumus Weilbull (Sri Harto,
1993:179) :
m
P= x100%
n 1
dengan:
P = probabilitas (%)
Bab II Hidrologi 14
m = nomor urut data
n = jumlah data
3. Ploting data debit (Xi) dengan probabilitas (P)
4. Tarik garis durasi dengan mengambil titik-titik
Langkah-langkah perhitungan adalah sbb:
1. Menghitung peluang empiris dengan memasukkan nomor urut
data dari mulai dari data terkecil sampai data terbesar dengan persamaan:
m
P= x100%
n 1
2. Mencari nilai Log dari hujan rerata
3. Mencari nilai G dengan persamaan
4. Mencari harga Pr melalui Tabel Distribusi Pearson Type III
5. Menghitung nilai P(x) dengan persamaan
P (x) =(100 –95,8259)/100
6. Menghitung selisih Pe dan Pt dengan persamaan
maks =[Pe –Pt]
7. Mencari nilai cr lalu dibandingkan dengan maks , didapat cr adalah 0,409 dan
maks adalah 0,3926. Karena maks cr maka data dapat diterima.
Log G Pt (X) Pe(X) -
No Pe(X) X Pr (%)
X (LOG X - LOG X Rt)/S (100 - Pr)/100 Pt (X)
1 0.083 204.42 2.31 -1.50 2.253 0.9775 -0.894
2 0.167 221.33 2.35 -0.85 2.226 0.9777 -0.811
3 0.250 226.33 2.35 -0.67 2.219 0.9778 -0.728
4 0.333 227.42 2.36 -0.63 2.217 0.9778 -0.644
5 0.417 228.33 2.36 -0.60 2.216 0.9778 -0.561
6 0.500 232.92 2.37 -0.43 2.210 0.9779 -0.478
7 0.583 261.25 2.42 0.50 2.172 0.9783 -0.395
8 0.667 261.67 2.42 0.51 2.171 0.9783 -0.312
9 0.750 262.92 2.42 0.55 2.170 0.9783 -0.228
10 0.833 294.75 2.47 1.48 2.132 0.9787 -0.145
11 0.917 299.92 2.48 1.62 2.126 0.9787 -0.062
Jumlah 26.29 ∆maks -5.259
Bab II Hidrologi 15
Log X rerata (Xrt) 2.39
Keterangan :
Jumlah Data (n) = 11
Jumlah Log x = 26.29
Log X rerata = 2.39
Dengan α = 5% Maka ∆ cr = 0,391 (dari tabel nilai kritis Smirnov Kolmogorof) Jadi
∆maks < ∆cr, Kesimpulan, Hasil pengamatan curah hujan di stasiun meteorologi tanjung
harapan bulungan dapat diterima atau berhasil.
Besarnya koefisien pengaliran ini dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain yaitu ;
Bab II Hidrologi 16
b. Jenis tanah yang berbeda menjadikan daya resap tanah yang berbeda, misalnya
tanah biasa atau pasir, jalan aspal atau tanah.
c. Kebasahan tanah, pada permulaan musim hujan angka pengaliran lebih kecil,
karena lebih banyak air hujan yang tertahan, daripada di akhir musim hujan,
karena pada saat itu tanah telah jenuh air.
I=
Dengan :
I = intensitas hujan (mm/jam)
d = durasi/tinggi hujan (mm)
t = lama hujan (jam)
Rumus umum tesebut kemudian dikembangkan menjadi beberap metode lain seperti :
• Metode Talbot
• Metode Sherman dan Ishiguro
• Metode Mononobe
Menghitung Intensitas Hujan Rencana dengan Rumus Mononobe
Bab II Hidrologi 17
2.3.3. Koefisien Pengaliran
Besaran koefisien limpasan (C) yang umum dipakai untuk rancangan drainase perkotaan
adalah sebagai berikut :
Bisnis 0,70-0,95
Kawasan Kota 0,50-0,70
Kawasan Pinggiran
Kawasan Perumahan 0,30-0,50
Kawasan Keluarga Tunggal 0,40-0,60
Multi satuan, terpisah 0,60-0,75
Multi satuan, berdempetan (rapat)
Kawasan Pemukiman Pinggiran Kota 0,25-0,40
Perindustrian 0,50-0,90
Kawasan ringan-berat
Bab II Hidrologi 18
Koefisien Pengaliran (C)
Tata Guna Lahan
Jalan 0,70-0,95
Beraspal 0,80-0,95
Beton 0,70-0,85
Batu bata/paving/cob block
Jalan raya dan trotoar 0,70-0,85
Atap 0,70-0,95
tc = to – td
Bab II Hidrologi 19
Keterangan :
tc = waktu konsentrasi
Waktu limpas di permukaan (to) adalah waktu yang dibutuhkan untuk melimpaskan
air hujan dari titik terjauh menuju saluran terdekat, sering juga disebut sebagai inlet time,
overflow time (to) dalam satuan menit.
a. Jarak limpasan, yakni jarak dari titik terjauh menuju ke inlet saluran terdekat
to = ( )
√
Keterangan :
= koefisien hambatan
Bab II Hidrologi 20
Tanah berumput tebal 0,40 – 0,40
Waktu aliran dalam saluran adalah waktu yang dibutuhkan untuk mengalirkan air di
dalam saluran, dari titik masuknya air limpasan ke titik tinjau, sering juga disebut sebagai
time of flow, atau conduit time.
td =
Keterangan :
Kecepatan air (Vsal) di saluran tergantung pada bahan pembuat saluran, sebagaimana
tabel berikut ini.
Bab II Hidrologi 21
Tabel hubungan s dan V
Keterangan:
Pt : Penduduk tahun ke-n (jiwa)
Po : Penduduk tahun dasar (jiwa)
t : Jangka waktu
r : Laju pertumbuhan penduduk
Pertumbuhan penduduk dilokasi SMK N 3 Tanjung Selor yang diasumsikan sebagai
wilayah perkotaan ialah tergantung pada Penduduk yang menetap di Lokasi tersebut.
Bab II Hidrologi 22
2.5 Debit Air Kotor
Penyebab utama banjir adalah limpasan air hujan. Sehingga fungsi utama saluran
drainase adalah mengalirkan limpasan air hujan tersebut. Namun demikian, ada air yang
juga harus dibuang melalui saluran drainase. Yakni air limbah bersih yang berasal dari air
rumah tangga.
Dimaksudkan dengan air limbah bersih adalah sisa air yang telah dipakai
penduduk untuk (terutama) mandi, mencuci dan lain-lain. Banyaknya keperluan air
rumah tangga tergantung pada beberapa faktor, seperti :
• Daerah yang bersuhu panas pemakaian air akan lebih banyak dibandingkan
dengan daerah yang bersuhu dingin.
• Keadaan sosial rumah tangga, semakin tinggi tingkat sosial rumah tangga
semakin banyak kebutuhan airnya.
• Pola hidup/kebiasaan sehari-hari
Kebutuhan air
Kota Jumlah Penduduk (ltr/det/penduduk)
Pedesaan <3.000 60
Bab II Hidrologi 23
Perhitungan debit air buangan dapat dihitung dengan rumus :
Keterangan :
Qak
Pn = jumlah penduduk (orang)
A
q = jumlah air buangan (l/orang/hari)
Besarnya jumlah air buangan (q) adalah sekitar 50 – 85% dari jumlah kebutuhan air tiap
penduduk.
a. kebutuhan air per orang
<3000 orang = 60 ltr/det/pend (estimasi)
Q = 51 60 l/org/hari (estimasi)
b. jumlah penduduk
Rumah = 59 buah
Penduduk = 3 /rumah
Total = 177 orang
c. luasan wilayah dalam Km2
A= 0.0588 km2
d. debit air kotor (liter/detik.Km2)
Qak = 153462.1 l/detik.km2
Q = 0,278 . C . I . A
Bab II Hidrologi 24
e. Bila A dalam , dan I dalam satuan mm/jam dan Q dalam satuan
m3/det
Q = 0,00278 . C . I . A
f. Bila A dalam Satuan Ha, dan I dalam satuan mm/jam dan Q dalam satuan
m3/det
Q=C.I.A
g. Bila A dalam Satuan Ha, dan I dalam satuan l/det/ha dan Q dalam satuan l/det
C = Koefisien pengaliran
I = Intensitas hujan pada durasi yang sama dengan waktu konsentrasi dan pada
periode ulang hujan tertentu (mm/jam atau l/det/ha)
Bab II Hidrologi 25
Meskipun demikian, beberapa peneliti menyatakan bahwa penggunaan rumus Rasional
cukup akurat, asalkan dipakai pada luasan yang kurang dari 500 ha.
R24
Debit Banjir Rancangan dengan diperoleh nilai Intensitas Hujan Rencana, I = 29.050
mm/jam adalah :
Q=C.I.A
= 0.00278 x 29.050 x 2.41
= 0.19 m3/s
Bab II Hidrologi 26
BAB III DESAIN SALURAN
3.1 Umum
Guna keperluan kajian drainase perkotaan dikenal istilah sistem drainase utama
dan lokal. Sistem jaringan utama bilamana pengelolaan pada sistem ini, berada di
bawah tanggung jawab pemerintah kota/kabupatennya. Sedangkan sistem drainase
lokal, bila sistem drainasenya dikelola oleh pengembang, atau pengelolaan khusus
dari daerah tersebut.
Berdasarkan fisiknya, sistem drainase terdiri atas saluran tersier, sekunder, dan
primer.
1. Sistem saluran tersier adalah saluran drainase yang menerima air dari
saluran drainase lokal. Yaitu sistem jaringan saluran drainase yang berada
dal melayani kawasan kota tertentu. Kawasan yang dilayani drainasenya
antara lain adalah kompleks permukiman, kampus, daerah komersial,
perkantoran, dan kawasan industri. Sistem ini melayani area sekitar 10-30
ha.
2. Sistem saluran sekunder adalah saluran terbuka atau tertutup yang
berfungsi menerima aliran air dari saluran tersier dan limpasan air dari
permukaan sekitarnya, dan meneruskan air ke saluran primer.
3. Sistem saluran primer adalah saluran utama yang menerima masukan
aliran dari saluran-saluran sekunder. Air dari saluran-saluran sekunder
bermuara pada saluran-saluran primer selanjutnya dialirkan ke sungai yang
lebih besar atau kelaut. Saluran primer, seringkali menggunakan anak-
anak sungai atau sungai yang mengalir di daerah tersebut, disamping juga
memakai saluran buatan.
Bangunan yang umum dipakai pada sistem drainase perkotaan yang berwawasan
lingkungan adalah :
a. Saluran drainase tanpa perkerasan
b. Saluran drainase dengan pelakuan dasar saluran
c. Parit infiltrasi
d. Saluran drainase pracetak berlubang
e. Lubang resapan biopori
f. Sumur resapan, dan
g. Kolam tampungan resapan
a. Saluran drainase tanpa perkerasan
Tujuan saluran drainase tanpa perkerasan adalah mempertinggi terjadinya
infiltrasi air ke dalam tanah. Saluran ini dibuat dengan menggali tanah untuk
menjadikan saluran berpenampang trapesium. Agar dinding saluran tidak
longsor, kemiringan dinding dibuat landai. Rasio kemiringan (vertikal :
c. Parit Infiltrasi
Kontruksi parit infiltrasi berupa saluran (parit) galian berpenampang persegi, yang
di dalamnya diisikan agregat batu, sehingga memungkinkan terjadinya
penyerapan air melalui dinding dan dasar parit. Kedalaman parit infiltrasi antara
1-2,5 meter, dengan lebar menyesuaikan dengan ketersedianya lahan.
Q=V.F
V= √
B Saluran terbuka
Bila bahan yang dipakai untuk dinding saluran berbeda dengan bahan untuk dasar
saluran, maka besaran koefisiennya hendaknya memakai koefisien gabungan dari
kedua jenis bahan tersebut.
5 Lempung 1,10
9 Beton 1,50
1 0–1 0,45
2 1–2 0,60
3 2–4 0,90
4 4–6 1,20
5 6 – 10 2,50
6 10 - 15 2,40
Besar kecepatan yang sebenarnya terjadi, tergantung pada keadaan bahan pembuat
saluran (angka kekasaran Manning n), dan kemiringan dasar saluran (s).
Keduanya ada pada rumus Manning sebagai berikut :
⁄
V= √
Dimana :
V = kecepatan alirannya (m/det)
N = Koefisien kekasaran Manning ( ⁄ /det)
R = jari-jari hidrolis (m) = A/P
P = panjang keliling basah saluran (m)
S = kemiringan dasar saluran
3.2.4. Kemiringan dinding saluran
Kemiringan dinding saluran (talud) tergantung pada macamnya material yang
membentuk tubuh saluran. Faktor lain yang perlu dipertimbangkan dalam
menentukan kemiringan tersebut adalah cara pelaksanaan kontruksi dan geometri
saluran.
• Kecepatan pengaliran
h
• Arah dan lengkung belokan saluran
• Debit banjir b
• Gelombang aliran
s=( ⁄
)
Keterangan :
Q
F
V = Kecepatan alirannya (m/det)
n = Koefisien kekasaran Manning
R = Jari – jari hidrolis (m) = A/P
P = Panjang keliling basah saluran (m)
s = Kemiringan dasar saluran
z n s b h A P R V Q Fb h'
1 0.033 0.008 0.5 0.2911 0.2303 1.3235 0.174 0.8449 0.1946 0.3 0.5911
4.1 UMUM
Storm Water Management Model (SWMM) merupakan model simulasi hujan-
aliran (rainfall-runoff) yang digunakan untuk simulasi kuantitas maupun kualitas
limpasan permukaan dari daerah perkotaan. Limpasan permukaan dihasilkan dari
daerah tangkapan hujan yang menerima hujan. Beban limpasan permukaan
tersebut kemudian dialirkan melalui sistem saluran pipa, saluran terbuka,
tampungan, pompa, dan sebagainya. SWMM menghitung kuantitas dan kualitas
limpasan permukaan dari setiap daerah tangkapan hujan, dan debit aliran,
kedalaman aliran, dan kualitas air di setiap pipa dan saluran selama periode
simulasi.
1. Klik tombol pada Object Toolbar. (Jika toolbar tidak tampil, maka
pilih View >> Toolbars >> Object). Perhatikan kursor mouse
berubahbentuknya menjadi pensil.
2. Posisikan kursor pada jendela map, dimana pada salah satu sudut dari
subcatchment S1 dan kemudian klik kiri.
3. Lakukan hal yang sama untuk sudut-sudut lainnya dari subcatchment
Rumah1 dan terakhir klik kanan pada mouse (atau dengan menekan
tombol Enter pada keyboard) untuk menutup luasan wilayah
subcatchment Rumah1. Untuk membatalkan dapat dilakukan dengan
menekan tombol Esc pada
keyboard. Tidak perlu khawatir jika gambar yang dibuat belum sesuai
dengan gambar contoh, karena hal ini dapat diperbaiki pada
pembahasan selanjutnya.
Sampai dengan ini, map yang telah dibuat seharusnya terlihat seperti pada
Gambar.
1. Klik tombol , kemudian klik kiri pada objek yang akan dipindahkan
sehingga objek berada dalam kondisi Object Selection (objek akan terlihat
kelap-kelip).
2. Klik kiri kembali objek tersebut dan tahan (jangan dilepas dahulu), kemudian,
geser mouse untuk memindahkan objek ke posisi yang seharusnya. Lepas
mouse untuk menerima pemindahan objek ke posisi baru.
1. Dari halaman Data pada jendela Browser, pilih Options dan klik
dan jendela Simulation Options akan ditampilkan.
2. Pada halaman General, atur Horton untuk Infiltration Model, dan
Steady Flow untuk Routing Model. Sedangkan yang lain biarkan pada
pengaturan default-nya.
3. Pindah ke halaman Dates, dan atur waktu End Analysis
4. Pada halaman Time Steps, atur Routing Time Step menjadi 60 detik.
5. Klik OK untuk menerima pengaturan dan menutup jendela Simulation
Options.
4. Sampai dengan saat ini, simulasi telah siap untuk
dilakukan.
Untukmelakukannya pilih Project >> Run Simulation (atau dengan klik
Hasil simulasi terutama pada saluran juga dapat ditampilkan sebagai profil
aliran (profile plot) yang menunjukkan perubahan kedalaman aliran dalam
potongan memanjang saluran. Sebagai contoh, akan ditampilkan profil aliran
dari saluran yang dihubungkan oleh Node SLR1 sampai dengan Sungai1.
Untuk melakukannya, lakukan langkah-langkah berikut:
1. Pilih Report >> Graph >> Profile atau dengan klik tombol pada
Toolbars sehingga jendela Profile Plot ditampilkan seperti pada
Gambar.
2. Pada Start Node pilih SLR1 dan pada End Node pilih Sungai1.
Klik tombol Find Path. Secara otomatis pada daftar Links in Profile akan
ditampilkan saluran mana saja yang menghubungkan kedua Node tersebut seperti
yang ditunjukkan dalam Gambar.
Gambar Time Series Plot Selection Saluran C44, C45, C47 dan C48
4.5 Saran
Berdasarkan gambar evaluasi yang terakhir dapat diketahui bahwa ada 3 link
yang masih bisa dioptimalkan lagi.