MAKALAH
Al Muhassinat Maknawiyah: Mura’ah An-Nadzir Dan Istikhdam
Disusun untuk Memenuhi Tugas Kuliah Balaghah III
Dosen Pengampu: Ustadzah. Alfiatus Syarofah, M.Pd.I
Disusun Oleh :
Nashirul Khoir (200104110118)
Luthfiya Salsabila (200104110103)
Lailatul Munawaroh Annazilah (200104110102)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA ARAB
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2022
KATA PENGANTAR
Puja dan puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Yang Maha Esa yang telah
memberikan nikmat dan rahmat-Nya sehingga kami dapat menyusun makalah ini dengan
baik. Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW
beserta seluruh keluarga dan sahabatnya. Nabi agung yang telah membawa kita dari alam
gelap gulita menuju alam yang penuh cahaya.
Makalah ini merupakan tugas mata kuliah Balaghah III yang dikerjakan secara
berkelompok dan akan menjadi materi presentasi dan diskusi perkuliahan. Dalam penulisan
makalah ini tentunya banyak pihak yang telah memberikan bantuan, baik moral maupun
materil. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih yang tidak ada batasnya
kepada:
1. Ustadzah Alfiatus Syarofah, M.Pd.I
2. Teman-teman mahasiswa PBA C angkatan 2020 yang telah memberikan bantuan,
dorongan serta motivasi kepada penulis.
Penulis sadar bahwa makalah ini belum sempurna, maka dari itu kritik dan saran sangat
kami harapkan demi penyempurnaan selanjutnya
Malang, 30 September 2022
Penulis
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .................................................................................................................. i
DAFTAR ISI .............................................................................................................................. ii
BAB I.......................................................................................................................................... 1
PENDAHULUAN ....................................................................................................................... 1
A. Latar Belakang ................................................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................................................... 1
C. Tujuan ............................................................................................................................. 1
BAB II ........................................................................................................................................ 2
PEMBAHASAN ......................................................................................................................... 2
A. Mura’ah an-Nadzir ((مراعاة النظير......................................................................................... 2
1. Pengertian Mura’ah an-Nadzir .................................................................................... 2
2. Pembagian Mura’ah an-Nadzir ................................................................................. 3
B. Istikhdam ) (استخدام............................................................................................................ 4
1. Pengertian Istikhdam.................................................................................................... 4
2. Contoh Istikhdam ........................................................................................................ 5
BAB III ....................................................................................................................................... 6
PENUTUP .................................................................................................................................. 6
A. Kesimpulan...................................................................................................................... 6
B. Kritik dan Saran.............................................................................................................. 6
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................................. 7
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sebagaimana seharusnya guru wajib menguasai bidang ilmu yang dia diajarkan
pada anak didiknya. Hal demikian berlaku juga berlaku untuk mahasiswa pendidikan
bahasa Arab sebagai calon guru bahasa Arab di masa yang akan datang . Bahasa Arab
memiliki beberapa cabang keilmuan, dari sekian banyak cabangnya ilmu Balaghah
merupakan ilmu yang penting untuk dipelajari agar seseorang bukan hanya dapat
berbahasa Arab saja tapi ada aspek keindahan dalam penyampaian informasi lewat
bahasa tersebut. Perlu diketahui lebih lanjut, Balaghah memiliki beberapa cabang kajian
salah satunya ilmu Badi’.
Ilmu Badi’ merupakan salah satu dari bagian pembahasan dalam ilmu Balaghah,
adapun tujuan dari mempelajari ilmu ini ialah untuk memperindah bahasa baik dari segi
makna (Muhassinat ma’nawiyah) maupun lafadz (Muhassinat lafdziyah).
Ilmu badi’ merupakan tingkat ke-tiga dari ilmu balaghah. Ilmu yang merupakan
puncak dari ilmu balaghah dan banyak digunakan oleh sastrawan dalam beretorika ketika
menyampaikan maksud dan tujuan.
Muhassinat ma’nawiyah memiliki beberapa macam yaitu meliputi tauriyah,
istikhdam, istithrod, thibaq, muqobalah, mura’ah, an-nadzir, irshad, idmaaj, madzhab al
kalami, husn at’ta’liil, tajriid, musyakalah, muzawajah, at thayyu wa annasyru, jamak,
tafriiq. Adapun dalam makalah ini secara khusus akan membahas tentang mura’ah an-
nadzir dan pembahasan tentang istikhdam.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud Mura’ah an-Nadzir dalam Ilmu Balaghah?
2. Apa yang dimaksud Istikhdam dalam Ilmu Balaghah?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui Mura’ah an-Nadzir dalam Ilmu Balaghah
3. Untuk mengetahui Istikhdam dalam Ilmu Balaghah?
1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Mura’ah an-Nadzir ((مراعاة النظير
1. Pengertian Mura’ah an-Nadzir
Secara bahasa مراعاة النظيرyaitu memperhatikan pasangan, maksudnya : الجمع
بين أمرين أو أمور متناسبةyaitu memperhatikan keserasian antara dua hal atau lebih
yang berpasangan di dalam satu kalimat (kalam).
Badi’ Mura’ah an-Nadzir ialah
وهو أن يجمع بين اثنين في كالم جمع تناسب ال جمع تضاد
“Mengumpulkan dua kata yang serasi dalam kalimat, yang keserasiannya bukan
bersifat anonim (perlawanan)”
Dalam kitab Qowaid Al-Lughah disebutkan Mura’ah an-Nadzir ialah menjaga
perbandingan yaitu mengumpulkan suatu perkara, dan lafadz yang sesuai dengannya
bukan kata yang berlawanan.
Mura’ah an-Nadzir disebut juga dengan proporsionalitas, konsiliasi,
keserasian, dan koalisi yaitu kombinasi satu frasa yang memiliki kecocokan makna,
tidak bertentangan atau kontras, atau distorsi, dan proporsi antar kata berhubungan
antara yang satu dengan yang lainnya, jika proporsi terjadi antara kata pertama dan
terakhir maka disebut sebagai sesuatu yang mirip. Sehingga Mura’ah an-Nadzir
akan membawa pembicara kepada dua hal yang berhubungan atau proporsional.
Misalnya keserasian antara matahari dan bulan, naungan dan pohon, bunga
dan buah, unta dan sapi, busur dan senar, malam dan percakapan malam, domba liar
dan gunung, kambing betina dan anak kambing, ilmu dan buku, makanan dan
minuman, pukulan dan siksaan dan lain sebagainya. Contoh :
ِ َس ِم ْي ُع ْالب
صي ُْر َّ َو ُه َو ال
“… dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat” (QS. Asyuura: 11)
Penjelasan lafadz س ِم ْي ُع ِ َ ْالبmemiliki kesesuaian dari maknanya
َّ الdan صي ُْر
karena kedua lafadz itu adalah sifat keagungan Allah SWT.
2
Ini dianggap setara antara dua hal, dengan mengatakan: ((Dialah yang Maha
Mendengar dan Melihat)) yaitu adanya kesamaan antara pendengaran dan
penglihatan. Di sini sifat mendengar disandingkan dengan pasangannya yaitu sifat
melihat, hingga terasa keserasian dalam ayat ini.
ِ ى فَم ا ربِح ِ َّ ِأُولََٰ ئ
ارتُ هُ ْم
َ ج ْ َ َ َ َٰ ََّل لَةَ بِا لْ ُه َد
َ ت ت َ ين ا ْش تَ َر ُوا ال ض
َ ك ال ذَ
“mereka Itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, Maka tidaklah
beruntung perniagaan mereka...”(QS. Al Baqarah: 16)
ِ َّ
Penjelasan lafadz pertama ى َٰ ََّل لَةَ بِا لْ ُه َد
َ ين ا ْش تَ َر ُوا ال ض
َ ك ال ذَ ِ أُولََٰ ئdan lafadz
ِ
terakhir ارتُ ُه ْم
َ جَ ت ت َ ِ فَ َم ا َربmemiliki kesesuaian karena lafadz terakhir
ْ ح
dimunculkan sebagai penutup yang sesuai dengan ungkapan sebelumnya.
Di sini perbuatan jual beli petunjuk disandingkan dengan pasangannya yang
sesuai yaitu tidak beruntungnya perdagangan. Dengan demikian tampak adanya
keserasian antara bagian-bagian yang membentuk ayat tesebut.
Arti (dibeli) di sini (pilih), tetapi munculnya arti pembeli mewarnai seluruh
struktur frase, dan kemudian muncul pembicaraan tentang laba dan perdagangan,
dengan mempertimbangkan mitra ((pengadaan)). Jika kita memperhitungkan bahwa
penggunaan kata-kata pembelian dan laba di sini adalah penggunaan benda nyata
metafora dalam arti yang tepat.
2. Pembagian Mura’ah an-Nadzir
a) Badi’ tasyabuh al-Athraf
Yaitu mengakhiri kalimat dengan kata yang maknanya serasi dan selaras
dengan awalnya.1 Contohnya terdapat dalam QS. Al-An’am ayat 103:
ِ َ ْيف ا ل ِ ِ ِ
ير
ُ خب ُ ار ۖ َو ُه َو ال لَّط
َ َار َو ُه َو يُ ْد ر ُك ْاْلَبْص
ُ َََل تُ ْد ر ُك هُ ْاْلَبْص
“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat
segala yang kelihatan; dan Dialah yang Maha Halus lagi Maha
mengetahui.” (QS. Al An’am: 103)
Kata ‘ ’اللطيفyang berarti zat yang Maha Halus maknanya serasi/selaras
dengan kata ‘ ’ال تدركه األبصارyang berarti Dia tidak dapat dicapai oleh
1 Imam Akhdlori, Ilmu Balaghah Tarjamah Jauhar Maknun, (Bandung:PT.ALMA’ARIF), hal.199
3
penglihatan mata. Begitu pula kata ‘ ’الخبيرyang artinya Maha Mengetahui sangat
serasi dan selaras dengan kata ‘ ’يدرك األبصارyang artinya Dia dapat melihat
dengan segala kelihatan.
b) Badi’ iham at-Tanasub
Yakni mengumpulkan dua kata yang seolah-olah maknanya serasi padahal
sesungguhnya tidak. Contohnya dalam QS. Ar-Rahman ayat 5-6
ان َّ س َوالقَ َم ُر بِ ُح ْسبَان َوالنَّجْ ُم َول
ِ َش َج ُر يَ ْس ُجد َّ ال
ُ ش ْم
“Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan dan tumbuh-tumbuhan dan
pohon-pohonan. Kedua-duanya tunduk kepada-Nya”.
Kata والنجمsekilas berarti bintang, padahal bukan, melainkan tumbuh-
tumbuhan yang tidak memiliki batang, sehingga tidak serasi dengan kata الشمس
والقمر.
B. Istikhdam )(استخدام
1. Pengertian Istikhdam
Menurut istilah Istikhdam adalah: (ذكر اللفظ بمعنى وإعادة ضمير أو اسم إشارة
) بمعنى آخر أو إعادة ضميرين تريد بثانيهما غير ما أردته بأ ّولهماmenyebutkan suatu lafadz
yang mempunyai dua makna, sedangkan yang dikehendaki adalah salah satunya.
Setelah itu diulangi oleh kata ganti (dhamir) yang kembali kepadanya atau dengan
isim isyarah dengan makna yang lain, atau diulangi dengan dua isim dhamir,
sedangkan yang dikehendaki oleh dhamir pertama.
Istilah Istikhdam dalam kitab jauhar maknun yakni badi’ yang bermaksud
kepada salah satu arti dari lafadz yang mempunyai dua arti, kemudian lafadz lain
dengan dhamirnya, atau bermaksud dengan salah satu kedua dhamir itu salah satunya,
lalu yang lain dengan dhamir lainnya lagi. Kedua arti itu ada alanya makna hakekat
semua atau majaz semua atau berbeda (hakekat dan majaz).
Dari definisi di atas makna yang dimaksud dengan istikhdam ialah
menyebutkan suatu lafadz itu sendiri, sedangkan makna yang lainnya dapat kita
tangkap dari adanya dhamir yang mesti dikembalikan kepada makna lainnya.
Demikian pula dinamakan istikhdam jika suatu lafadz mempunyai dua makna, yang
satu dipahamkan dengan sebab adanya suatu dhamir, sedang yang satu lagi dengan
dhamir yang lain.
4
2. Contoh Istikhdam
ُ َش ْه َر فَ ْلي
ُص ْمه َ ش ِهدَ ِم ْن ُك ُم ال
َ فَ َم ْن
“Barang siapa diantara kalian menemui bulan (hilal Romadhon) maka
haruslah berpuasa (pada bulan itu).”
Lafadz الشهرmemiliki dua arti hakiki (bulan) dan arti Majaz (hilal). Pada ayat
tersebut lafadz الشهرdiartikan dengan makna majazi (hilal), lalu dhamir pada فليصمهitu
dikembalikan pada lafadz الشهرyang diartikan dengan makna hakiki (bulan).
Dalam sebuah syi’ir juga dikatakan:
ضابَا َ ع ْينَاهُ َوإِ ْن َكانُو
َ غ ِ َ س َما ُء بِأ
َ َر# رض قَ ْوم َّ إِذَا نَزَ َل ال
“Bila langit telah turun, dipermukaan bumi suatu kaum. Maka kita
menggembalakan padanya, walaupun mereka bersikap marah.”
Pada syi’ir diatas, penyair memaksudkan makna ucapannya, السماءdengan
tujuan dan dengan dhamir yang kembali pada lafadz itu dimaksudkan sebagai
“rumput yang tumbuh karena hujan.” Kedua-duanya adalah majaz bagi lafadz النبات
َ َ اء ُخدَّ ْي ِه ُم ْكت
ٌسب ُ ُ َؤن# َُو ِل ْلغَزَ الَ ِة شَي ٌء َم ْن ت َ ِل ْفتُه
ِ ورهَا ِم ْن
ِ َضي
Pada syi’ir diatas penyair berkehendak dengan mengemukakan lafadz الغزالة
artinya yang telah sama-sama diketahui, yaitu “kijang betina”. Sedangkan dengan
dhamir yang kembali kepada lafadz نوروها, penyair berkehendak pada arti “matahari
yang sedang naik”.
5
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Mura’ah an-Nadzir disebut juga dengan proporsionalitas, konsiliasi,
keserasian, dan koalisi yaitu kombinasi satu frasa yang memiliki kecocokan makna,
tidak bertentangan atau kontras, atau distorsi, dan proporsi antar kata berhubungan
antara yang satu dengan yang lainnya, jika proporsi terjadi antara kata pertama dan
terakhir maka disebut sebagai sesuatu yang mirip.
Mura’ah an-Nadzir dapat dikategorikan menjadi 2 yakni Badi’ tasyabuh al-
Athraf dan badi’ iham at-Tanasub.Istikhdam adalah menyebutkan suatu lafazh itu
sendiri, sedangkan makna yang lainnya dapat kita tangkap dari adanya dhamir yang
mesti dikembalikan kepada makna lainya.
B. Kritik dan Saran
Penulis menyadari bahwa makalah ini bukanlah karya yang sempurna oleh
karena itu penulis selalu akan menerima segala kritik dengan tangan terbuka agar
penulis dapat menghasilkan karya tulis yang lebih baik.
Penulis berharap dengan adanya makalah ini dapat membantu segala pihak
yang punya keinginan untuk mengetahui Mura’at Al Nadzir dan Istikhdam terlebih
mahasiswa dan guru sehingga dapat menambah wawasan dan ilmu kebahasaannya
(Bahasa Arab).
6
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Al-Qallasy. 1995. Taysirul Balaghah. Jeddah: Maktabah al-Malik Fahd al-
Wathaniyah.
Fuad Nu’mah. 1986. Qawaid al-Lughah al-arabiyyah, litalamidzi al-mamadaris al-
tsanawiyah. Darus Tsaqafah Islamiyyah
Imam Akhdlori. 1987. Kitab terjemah jauhar maknun. Bandung: PT ALMA’ARIF
Prof. Dr. Nurcholish Madjid. Kitab Al-Balaghah lil Jami’ wa asy-syawahid min kalam al-
badi’. Jakarta: Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
As-Sayyid Ahmad Al-Hasyimi. Jawahirul Balaghah Fil Maani Wal Bayan Wal Badi’ .
Dar At-Taqwa