Makalah Macam Macam Shalat
Makalah Macam Macam Shalat
SHALAT SUNNAH
Disusun Oleh :
1238.21.1292 Syamsidar
1238.21.1238 Nursilawati
1238.21.1173 Inurdin
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan
Makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “ SHALAT
SUNNAH”. Dan juga kami berterima kasih pada Bapak Dr. Chonaidi, M.Pd.I
selaku dosen pengampu mata kuliah Fiqih yang telah memberikan tugas ini
kepada kami.
Makalah ini berisikan tentang Shalat Sunnah atau lebih khususnya
membahas macam-macam Shalat Sunnah. Diharapkan Makalah ini dapat
memberikan informasi kepada kita semua tentang Shalat Sunnah.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami
harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga
Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.
Tim Penyusun
DAFTAR ISI
COVER ....................................................................................................................................
i
KATA PENGANTAR...............................................................................................................
ii
DAFTAR ISI.............................................................................................................................
iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang...................................................................................................
1
B. Rumusan Masalah..............................................................................................
2
C. Tujuan Penulisan................................................................................................
2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Shalat Sunnah...................................................................................
3
B. Pembagian Shalat Sunnah...................................................................................
7
C. Macam-Macam Shalat Sunnah..........................................................................
8
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kita sebagai umat muslim diwajibkan mendirikan shalat, karena shalat itu
merupakan tiang agama. Shalat itu merupakan penopang yang akan menentukan
berdiri atau tidaknya agama dalam diri masing-masing umat muslim. Shalat
merupakan kewajiban yang tidak dapat ditinggalkan bagi umat muslim yang
sudah mukallaf. Dalam syariat islam shalat terbagi dalam dua macam yaitu yang
pertama shalat wajib yakni shalat yang diwajibkan bagi umat muslim baik laki-
laki ataupun perempuan untuk mendirikannya. Shalat sunnah pun dibagi menjadi
dua macam yakni shalat sunnah muakkad dan shalat sunnah ghairu muakkad.
Muakkad artinya dianjurkan, jadi shalat sunnah itu ada yang dianjurkan untuk
dilaksanakan setiap muslim, ada juga shalat sunnah yang tidak dianjurkan untuk
melaksanakannya, tapi sebagaimana hukumnya sunnah bila dikerjakan berpahala
dan apabila ditinggalkan tidak apa-apa. Walaupun demikian kita sebagai umat
muslim tentu ingin meningkatkan amalan ibadah dan ketakwaan. Hal tersebut
merupakan rahmat dari Allah Swt kepada para hambanya karena Allah
mensyariatkan bagi setiap kewajiban, sunnah yang sejenis agar orang mukmin
bertambah imannya dengan melakukan perkara yang sunnah, dan
menyempurnakan yang wajib pada hari kiamat, karena kewajiban-kewajiban
mungkin yang kurang.
Dalam sebuah hadist riwayat Abu Daud disebutkan bahwa shalat sunnah
sengaja disyariatkan untuk menambal kekurangan yang mungkin terdapat pada
shalat-shalat fardhu, maka perlu disempurnakan dengan shalat sunnah.1 Selain itu
juga karena shalat sunnah mengandung keutamaan untuk fisik maupun rohani
kita. Dengan demikian banyak kita mengerjakan shalat sunnah tanpa melihat itu
dianjurkan atau tidaknya akan menambah amalan kita dihadapan Allah Swt.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian shalat sunnah ?
2. Sebutkan Pembagian Shalat Sunnah!
3. Sebutkan macam-macam Shalat Sunnah!
C. Tujuan Penulisan
1. Agar mengetahui pengertian shalat sunnah
2. Agar mengetahui Pembagian Shalat Sunnah
3. Agar mengetahui macam-macam Shalat Sunnah
1
Isnatin Ulfah, Fiqh Ibadah, ( Ponorogo: STAIN po press, 2016), 96
BAB I I
PEMBAHASAN
2
A. Zainuddin Djazuli, Fiqih Ibadah, (Kediri: Lembaga Ta’lif Wannasyr Ponpes Al-Falah), 123.
3
Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, (Jakarta: PT. Al-Ma’arif, tt), 7.
shalat dan tidak dapat menjaga wudhunya, kecuali orang yang benar-benar
beriman”. 4
kepada Allah SWT agar diturunkan hujan. Biasanya sholat ini dilakukan ketika
terjadi kekeringan atau musim kemarau berkepanjangan sehingga tak ada sumber
air lagi.
Salat' karya Ustaz Abu Sakhi, sholat sunnah Istisqa adalah sholat yang dilakukan
untuk memohon hujan kepada Allah SWT. Hukum sholat istisqa sendiri adalah
4
Ibid, 8.
- Niat Sholat Istisqa
sholat istisqa.
Bahasa Arab: صلِّ ْي ُسنَّةَ ا ِال ْستِ ْسقَا ِء َر ْك َعتَي ِْن َمْأ ُموْ ًما هلِل ِ تَ َعالَى
َ ُأ
ta'ala
Artinya: Aku sengaja salat sunnah minta hujan dua rakaat (sebagai
selama tiga hari berturut-turut, bertobat, dan berbuat baik semampunya, seperti
bersedekah dan lain-lain. Selain itu, seluruh penduduk yang meminta hujan juga
diminta untuk keluar rumah dan berkumpul di tempat yang lapang. Berikut ini tata
Sholat sunnah Istisqa terdiri dari dua rakaat, tanpa azan dan iqamah.
iftitah. Rakaat kedua takbir sebanyak lima kali dan membaca ta'awudz.
Setelah sholat, khatib akan membaca khutbah. Pada khotbah shalat Istisqa
Menurut riwayat Imam As-Syafi'i, Abu Dawud, dan lainnya, doa meminta
Bahasa Arab:
اللَّهُ َّم ا ْسقِنَا َغ ْيثًا ُم ِغيثًا َم ِريًئا هَنِيًئا َم ِريعًا َغ َدقًا ُم َجلَّاًل عَا َّما طَبَقًا َس ًّحا دَاِئ ًما
َك َما اَل نَ ْش ُكو ِإاَّل ِإلَ ْيك َّ ق ِمنَ ْالبَاَل ِء َو ْال َج ْه ِد َوال
ِ ض ْن ِ اللَّهُ َّم ِإ َّن بِ ْال ِعبَا ِد َو ْالبِاَل ِد َو ْالبَهَاِئ ِم َو ْال َخ ْل
ِ ْت اَأْلر
ض ْ ِت ْال َس َما ِء َوَأ ْنب
ِ ت لَنَا ِم ْن بَ َر َكا ِ ت لَنَا ال َّزرْ َع َوَأ ِد َّر لَنَا الضَّرْ َع َوا ْسقِنَا ِم ْن بَ َر َكا
ْ ِاللَّهُ َّم َأ ْنب
َف َعنَّا ْالبَاَل َء َما اَل يَ ْك ِشفُهُ َغ ْيرُك َ ْاللَّهُ َّم ارْ فَ ْع َعنَّا ْال َج ْه َد َو ْالجُو َع َو ْالعُر
ْ ي َوا ْك ِش
Bahasa Latin:
Allāhumma inna bil 'ibādi wal bilādi wal bahā'imi wal khalqi minal balā'i wal
Allāhumma anbit lanaz zar'a, wa adirra lanad dhar'a, wasqinā min barakātis
Allāhummarfa' 'annal jahda wal jū'a wal 'urā, waksyif 'annal balā'a mā lā
yaksyifuhū ghairuka
Allāhumma innā nastaghfiruka, innaka kunta ghaffārā, fa arsilis samā'a 'alainā
midrārā
Artinya:
Ya Allah, turunkan kepada kami air hujan yang menolong, mudah, menyuburkan,
turunkan kepada kami air hujan. Jangan jadikan kami termasuk orang yang
berputus harapan.
Ya Allah, sungguh banyak hamba, negeri, dan jenis hewan, dan segenap makhluk
susu ternak kami, turunkan pada kami air hujan karena berkah langit-Mu, dan
Hilangkan dari kami bencana yang hanya dapat diatasi oleh-Mu. Ya Allah,
Itulah doa sholat istisqa, niat, dan tata caranya. Sebelum melaksanakan
sholat, ada baiknya untuk memakai pakaian sehari-hari, tidak berhias, dan tidak
B. Shalat Gerhana
Sholat gerhana dianjurkan untuk dilaksanakan saat terjadinya gerhana
bulan dan matahari. Hukumnya adalah sunnah muakkad untuk laki-laki dan
perempuan.
Menurut buku 33 Macam Jenis Shalat Sunnah karya Muhammad Ajib, Lc,
MA, para ulama telah sepakat saat terjadi gerhana, sebaiknya disegerakan untuk
sholat gerhana secara berjamaah. Perintah untuk melaksanakan sholat gerhana
saat terjadinya gerhana pun diriwayatkan dalam sebuah hadits dari 'Aisyah
radhiyallahu 'anha, Rasulullah SAW bersabda:
َ ك فَا ْدعُوا هَّللاَ ِ فَِإ َذا َرَأ ْيتُ ْم َذل، ت َأ َح ٍد َوالَ لِ َحيَاتِ ِه ِ س َو ْالقَ َم َر آيَتَا ِن ِم ْن آيَا
ِ َ الَ يَ ْن َخ ِسف، ِ ت هَّللا
ِ ْان لِ َمو َ ِإ َّن ال َّش ْم
ص َّدقُواَ َصلُّوا َوتَ َو، َو َكبِّرُوا
Artinya: "Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-
tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau
lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdoalah kepada Allah,
bertakbirlah, kerjakanlah sholat, dan bersedekahlah." (HR Bukhari).
Berikut ketentuan sholat gerhana yang dapat dikerjakan berjamaah atau munfarid
(sendiri),
A. Ketentuan sholat gerhana
1. Disunnahkan untuk mandi, berdoa, membaca takbir, dan sedekah sebelum
sholat
2. Dalam satu rakaat terdapat dua kali berdiri dan dua kali rukuk
3. Disunnahkan membaca surat Al Baqarah atau yang semacamnya pada
rakaat pertama. Kemudian membaca Ali Imran pada berdiri berikutnya
4. Disunnahkan membaca bacaan tasbih pada rukuk dan sujud dengan
dipanjangkan
5. Disunnahkan jahr (jelas) pada gerhana bulan dan Sirr (pelan) pada gerhana
matahari
6. Disunnahkan berkhutbah setelah sholat gerhana
7. Menurut mazhab Syafi'i, sholat gerhana matahari atau bulan dapat
dilaksanakan pada semua waktu. Sebab sholat gerhana termasuk sholat
yang mempunyai sebab. Sholat gerhana disebut berakhir apabila seluruh
yang menyelimuti matahari telah hilang atau mahari tersebut sudah
tengelam.
2. Takbiratul ihram
3. Membaca taawudz dan surat Al Fatihah
4. Membaca surat Al-Baqarah atau selama surat itu yang dibaca dengan lantang
5. Rukuk, lalu membaca tasbih selama 100 ayat surat Al-Baqarah
6. I'tidal
7. Membaca surat Al-Fatihah lalu surat Ali Imran
8. Rukuk kembali dan dilanjutkan dengan I'tidal
9. Sujud dan membaca tasbih selama rukuk pertama
10. Duduk di antara dua sujud.
11. Sujud kedua dengan membaca tasbih selama rukuk kedua
12. Duduk sejenak sebelum bangkit untuk mengerjakan rakaat kedua
13. Rakaat kedua dengan gerakan yang sama dengan rakaat pertama. Hanya saja,
pada rakaat kedua dianjurkan membaca surat An-Nisa, lalu dianjurkan juga
membaca surat Al-Maidah
14. Salam
15. Dianjurkan mendengarkan 2 khutbah tausiyah
Saat terjadi gerhana bulan, Rasulullah SAW menganjurkan amalan-amalan
yang bisa dilakukan, seperti memperbanyak dzikir, istighfar, takbir, sedekah dan
bentuk ketaatan lainnya.
Dengan mengetahui ketentuan dan tata cara sholat gerhana, semoga kita tidak
malas sholat lagi ya jika terjadi fenomena alam ini.
5
Isnatin Ulfah, Fiqih Ibadah, 101
yaitu: “Ibnu Umar berkata: Rasulullah saw. Abu Bakar, dan Umar selalu shalat
dua hari raya fitri dan adha sebelum khutbah”. (HR. Muttafaq alaih).6
Ketentuan pelaksanaan shalat ‘Idain adalah sebagai berikut:
1. Mengucapkan takbir sebelum membaca al fatihah setelah takbiratul ihram.
Menurut Imam Malik, jumlah takbir shalat id adalah tujuh kali sudah
termasuk takbiratul ihram untuk rakaat pertama dan enam kali pada rakaat
kedua termasuk takbir bangun dari sujud. Sementara menurut Imam
Syafi’i, pada rakaat pertama delapan kali takbir termasuk takbiratul ihram
dan enam kali takbir pada rakaat kedua termasuk takbiratul ikhram.
Menurut Abu Hanifah berpendapat bahwa di dalam rakaat yang pertama
hanya terdapat tiga takbir setelah takbiratul ihram, dan setelah bangkit dari
sujud mengucapkan takbir satu kali dan langsung membaca surat Al-
fatihah. Sedangkan menurut Fuqaha berpendapat bahwa di dalam masing-
masing rakaat jumlah takbir adalah sembilan kali.
2. Membaca tasbih, tahmid, tahlil diantara takbir-takbir tadi.
3. Mayoritas Ulama’ berpendapat sunnah membaca surat sabbihis ma Rabbik
pada rakaat pertama dan surat Al-ghasiyah pada rakaat kedua. Sedangkan
menurut Imam syafi’i mensunahkan membaca surat Qaf pada rakaat
pertama dan surat Iqtabarat pada rakaat kedua.
4. Takbir, A-fatihah dan surat dibaca Jahr
5. Disunnahkan menyampaikan dua khutbah, sebagaimana shalat jum’at
setelah selesai shalat.
Hal-hal yang disunnahkan dalam shalat ‘Idain:
1. Membaca Takbir.
2. Mandi, berhias, memakai wangi-wangian, dan memakai pakaian yang
paling disukai.
3. Makan sebelum shalat idul fitri dan untuk idul adha makanya setelah
melaksanakan shalat idul adha.
6
Ibnu Hajar Al-asqolani, Terjemahan Bulughul Marom, 122
4. Memilih jalan yang lebih panjang ketika berangkat, dan jalan yang lebih
dekat ketika pulang dari tempat shalat.
5. Ikut mengajak wanita-wanita haid untuk menyaksikan kebaikan dan
dakwah kaum muslim. Seperti hadist yang diriwayatkan oleh Muttafaq
alaih: “Ummu ‘Athiyah berkata: kami diperintahkan mengajak keluarga
gadis-gadis dan wanita haid pada kedua hari raya untuk menaksikan
kebaikan dan dan dkwah kaum muslimi , wanita-wanita yang haid itu
terpisah dari tempat shalat”. (HR. Muttafaq alaih).7
D. Shalat Hajat
Shalat hajat ialah shalat bagi seorang yang mempunyai keinginan, agar
keinginan tersebut diperkenankan oleh Allah swt. Ahmad meriwayatkan dengan
sanad shahih dari Abuddarda’ bahwa Nabi saw bersabda:
ًضَأ فَأ ْسبَ َغ الوضوء ث ّم صلّي ركعتي ِن يت ُّمهما َ أ ْعطَا هُ هللاُ ما َسَأ َل مع َّج ًل أوْ ُمَؤ َّخرا
ّ َم ْن تو
Artinya: “Barangsiapa berwudhu dan menyempurnakannya, kemudian
bersembahyang dua rakaat dengan sempurna, maka ia diberi Allah apa saja yang
diminta baik cepat ataupun lambat”.
Jumlah rakaat shalat hajat ialah yang termashur adalah dua rakaat
sedangkan dalam kitab Ihya’ Ulumuddin shalat hajat bisa dilakukan sampai 12
rakaat dengan 2 kali salam. Cara melaksanakan shalat hajat sama dengan cara
pelaksanaan shalat fardhu, baik bacaan dan gerakannya yang membedakan
hanyalah niatnya. Tata cara melaksanakan shalat hajat adalah sebagai berikut:8
1. Melaksanakan shalat dua rakaat sebagaimana shalat-shalat lain. Dengan
niat sebagai berikut: أصلي سنة الحا جة ركعتين هلل تعا ل
2. Di rakaat pertama, membaca surat Al-fatihah dan diteruskan dengan
membaca surat Al-kafirun sebanyak 10 kali.
7
Ibid
8
A. Zainuddin Djazuli, Fiqih Ibadah, 133
3. Di rakaat kedua membaca surat Al-fatihah dan dilanjutkan dengan
membaca surat Al-ikhlas 10 kali.
4. Setelah salam kemudian membaca do’a
َ الحمد هللِ ربّ العا لمينَ َأ ْسَأ ل.العضيم
ك موْ جبا ِ العرش
ِ ّال اله َ االّ هللا الح ِك ْي ُم الكريْم سبحا نا هللا رب
ُسم الَ تدع ِلي ذنبا ً االَّ غفَرْ تَهٍ ِمن ك ِّل بِ ٍر و ال ّسالَ مةَ ِمن ك ّل ا ْ َت رح َمتك وع َزا ِئ َم مغفِ َر تِكَ والغَني َمة
َ َك ِرضا ً اِالَّ ق
َض ْيتَها َ يا َ اَرْ ح َم ال َّر ِح ِمين َ ََّوالَ هما ً االَّ فرَّجتَهُ والَ حا َ جةً ً اال
َ َهي ل
5. Setelah membaca doa kemudian melakukan sujud kembali dengan maksud
tadzallul (merendahkan diripada Allah), dan pada saat sujud membaca:
tasbih, tahmid, tahlil dan membaca doa sapu jagad.
6. Setelah selesai kemudian duduklah dan bertawassul.
7. Setelah bertawasul kemudian membaca surat Al-ikhlas dan mu’awidzatain
dan ayat kursi masing-masing tiga kali.
Waktu pelaksanaan shalat hajat ialah boleh kapanpun baik siang hari atau
malam hari, asal bukan waktu-waktu terlarang shalat. Akan tetapi waktu yang
paling utama adalah sepertiga malam terakhir atau setiap selesai shalat fardhu.
E. Shalat Tasbih
Shalat tasbih merupakan shalat sunnah yang dilakukan oleh Nabi saw
sebagaimana yang diajarkan beliau kepada pamannya yakni sahabat Abbas bin
Abdul Muthallib.9 Shalat tasbih dianjurkan untuk dilaksanakan pada setiap malam
dan apabila tidak mampu maka hendaknya dilakukan seminggu sekali, apabila
masih belum bisa juga dapat dilakukan sebulan atau setahun sekali.
Tendensi hukum shalat tasbih ialah berdasarkan hadist berikut ini:
Dari Ibnu Abbas ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda kepada Abbas bin
Abdul Muthalib, “Wahai Abbas, pamanku, sudahkah paman aku beri, aku
karuniai, aku beri hadiah istimewa, aku ajari sepuluh macam perbuatan yang
dapat menghapus sepuluh macam dosa? Jika paman mengerjakan itu, maka Allah
akan mengampuni dosa-dosa paman, baik yang pertama dan yang akhir, yang
lama dan yang baru, yang tanpa disengaja dan yang disengaja, yang kecil dan
9
A. Zainuddin Djazuli, Fiqih Ibadah, 135
yang besar, yang tersembunyi dan yang terang terangan. Sepuluh macam
perbuatan itu ialah: sahalat empat rakaat, tiap rakaat membaca Alfatihah dan
surah, selesai membaca itu dalam rakaat pertama, lalu bacalah ketika masih
berdiri, subhanallah walhamdulillah walaa illa ha illaha illallahu allahu akbar
(Maha Suci Allah, segala puji hanya bagi Allah, tidak ada tuhan selain Allah,
Allah Maha Besar) sebanyak 15 kali. Kemudian ruku’ dan dalam ruku’ ini
membaca seperti bacaan diatas sebanyak 10 kali, I’tidal dari ruku’
membaca lagi 10 kali, setelah itu turun untuk sujud membaca lagi 10 kali,
mengankat kepala dari sujud membaca lagi 10 kali,terus sujud membaca 10 kali.
Kemudian mengangkat kepala dari sujud (sebelum berdiri) dan diwaktu duduk
membaca pula 10 kali. Jadi jumlahnya ada 75 kali dalam setiap rakaat. Kamu
dapat melakukannya dalam empat rakaat. Jika kamu sanggup mengerjakannya
sekali dalam sehari, kerjakanlah. Jika tidak dapat, boleh setiapo Jum’at, kalau
tidak dapat pula maka sebulan, kalau tidak dapat pula maka setahun sekali, dan
kalau masih tidakbias juga, maka sekali dalam seumur hidup (HR. Sunan Abu
Daud dan Ibnu Majah yang dishaihkan oleh Nasyriruddin Al AlBani dalam
Shoheh Sunan Abu Daud no 1298).
Teknis pelaksanaan shalat tasbih adalah apabila shalat tasbih dikerjakan
empat rakaat, boleh dikerjakan dengan satu salam atau dua salam (tiap rakaat 2
salam) namun yang utama apabila dikerjakan pada siang hari hendaknya
dilakukan empat rakaat dengan satu kali salam, sedangkan apabila dikerjakan saat
malam hari maka empat rakaat tadi dijadikan satu salam. Tata cara pelaksanaan
shalat tasbih adalah sebagai berikut:10
1. Berdiri dan menghadap kiblat, kemudian mengucapkan niat
أصلّي سنّة التّسبيح ركعتين هلل تعا لي
2. Setelah itu membaca doa iftitah kemudian dilanjutkan surat pendek dan
dilanjutkan membaca tasbih 15 kali
1. Kemudian ruku’ dan setelah membaca tasbih ruku’, membaca bacaan
tasbih 10 kali.
10
Ma’shum, Tuntunan shalat lengkap dan doa-doa, 178
2. Setelah selesai membaca tahmid i’tidal membaca lagi tasbih 10 kali.
3. Di waktu sujud setelah tasbih sujud. Kemudian membaca tasbih 10 kali
lantas kemudian duduk diantara dua sujud.
4. Setelah selesai membaca doa duduk antara dua sujud lantas membaca
tasbih lagi 10 kali, kemudian sujud kedua.
5. Pada sujud kedua setelah selesai membaca tasbih 10 kali lantas sebelum
berdiri rakaat kedua kita hendaknya duduk istirahat lalu sambil duduk
istirahat kita membaca lagi tasbih sepuluh kali.
Berikut adalah bacaan tasbih yang dibaca pada saat shalat tasbih:
سُبحا ن هللا والحمد هلل وال اله االّ هللاً وهللا أكبر وال حو ل وال ك ّو ة االّ باهلل العل ّي العضيم
Demikianlah kita laksanakan pada rakaat pertama ini, yang apabila kita
hitung seluruh bacaan tasbihnya berjumlah 75 kali tasbih dan 75 x 4 rakaat = 300
tasbih. Andaikata kita kelupaan membaca tasbih disalah satu tempatnya, maka
boleh digantikan di tempat berikutnya, agar tetap tasbihnya berjumlah 300 tasbih.
F. Shalat Istikharah
Sholat istikharah adalah shalat yang bisa diamalkan apabila seorang
muslim tengah untuk memohon petunjuk kepada Allah SWT ketika dilanda
keraguan dalam menentukan pilihan. Penganjurannya sudah diterangkan dalam
hadits Rasulullah SAW sebagai acuan dari tata cara, doa, dan waktu
pengerjaannya.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Jabir RA, beliau mengatakan:
2. Takbiratul ihram
3. Membaca surat-surat yang dibaca dalam surat istikharah
Para ulama menganjurkan saat melakukan sholat istikharah, hendaknya kita
membaca surat Al-Fatihah, Al-kafirun dan Al-Ikhlas dengan beberapa ketentuan.
Pada rakaat pertama membaca Al-Fatihah dan Al-Kafirun.
Lalu, di rakaat kedua membaca surat Al-Fatihah dan Al-Ikhlas. Bacaan setelah
surat Al-Fatihah sebetulnya tidak harus, yang wajib yaitu membaca surat Al-
Fatihahnya.
4. Rukuk
5. I'tidal
6. Sujud pertama
7. Duduk di antara dua sujud
8. Sujud kedua
9. Berdiri lagi untuk rakaat kedua yang dikerjakan sama seperti rakaat pertama
10. Tahiyat akhir
11. Salam
Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan yang tepat kepada-Mu
dengan ilmu pengetahuan-Mu dan aku mohon kekuasaan-Mu (untuk mengatasi
persoalanku) dengan kemahakuasaan-Mu. Aku mohon kepada-Mu sesuatu dari
anugerah-Mu Yang Maha Agung, sesungguhnya Engkau Mahakuasa, sedang aku
tidak kuasa, Engkau mengetahui, sedang aku tidak mengetahuinya dan Engkau
adalah Maha Mengetahui hal yang ghaib. Ya Allah, apabila Engkau mengetahui
bahwa urusan ini (orang yang mempunyai hajat hendaknya menyebut
persoalannya) lebih baik dalam agamaku, dan akibatnya terhadap diriku
sukseskanlah untuk ku, mudahkan jalannya, kemudian berilah berkah. Akan tetapi
apabila Engkau mengetahui bahwa persoalan ini lebih berbahaya bagiku dalam
agama, perekonomian dan akibatnya kepada diriku, maka singkirkan persoalan
tersebut, dan jauhkan aku daripadanya, takdirkan kebaikan untuk ku di mana saja
kebaikan itu berada, kemudian berilah kerelaan-Mu kepadaku."
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Diantara banyak macam-macam shalat sunnah yang pernah dilakukan oleh
Rasulullah saw. Ada shalat-shalat sunnah yang tergolong pada yang dianjurkan
dan yang tidak dianjurkan, ada pula yang dilakukan secara berjamaah ataupun
tidak berjamaah atau munfarid. Namun tetap dilaksanakan Rasulullah saw.
Sebagai tauladan bagi umat islam di seluruh dunia. Dari semua shalat sunnah pada
intinya adalah shalat sunnah itu dilakukan untuk menambah atau menutupi
kekurangan-kekurangan ibadah wajib.
B. Saran
Sholat sunnah akan mendapatkan pahala apabila di kerjakan, maka apabila
DAFTAR PUSTAKA