Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Kerja Praktek


Berkembangnya ilmu mulai dari teknologi, informasi dan metode pada
bidang pekerjaan yang berhubungan dengan kontruksi dibutuhkan suatu
pengalaman dalam pekerjaan dilapangan sehingga mahasiswa mampu memiliki
ilmu dalam bidang teori dan pengalaman sebagai daya saing dalam hal karir
nantinya. Program studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Abdurrab
mewajibkan peserta didik untuk mengikuti mata kuliah Kerja Praktek apabila
telah lulus mata kuliah semester I dan II, telah mencapai minimal 90 SKS, dan
telah mengambil mata kuliah manajemen kontroksi.
Kerja praktek merupakan salah satu kurikulum wajib yang harus ditempuh
oleh mahasiswa S1 Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil, Universitas Abdurrab.
Dengan kegiatan ini diharapkan mahasiswa dapat memahami tahapan kegiatan
proyek, memahami manajemen pelaksanaan proyek di lapangan, memahami
aspek-aspek teknis pekerjaan Teknik Sipil dan penerapannya di lapangan, mampu
menganalisis keterkaitan ilmu yang dipelajari di bangku kuliah dengan praktek di
lapangan, menyusun laporan kerja praktek sesuai dengan kaidah penulisan ilmiah,
menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, serta mengikuti ejaan yang
disempurnakan (EYD), serta mempresentasikan laporan KP dengan baik di depan
Dosen penguji yang sudah ditetapkan pada jadwal yang sudah ditetapkan.
Sehubung dengan itu perguruan tinggi sebagai tempat untuk menghasilkan
sumber daya manusia yang berkualitas, berkepribadian mandiri, dan memiliki
kemampuan intelektual yang baik merasa terpanggil untuk semakin meningkatkan
mutu yang dihasilkan. Kegiatan kerja praktek dapat dilaksanakan di proyek
kontruksi, dapat juga dilaksanakan di konsultan perencana kontruksi pemerintah
(PU), industri kontruksi dan supplier (civil related).

1
1.2 Tujuan Kerja Praktek
Pelaksanaan kegiatan Kerja Praktek dilaksanakan untuk memenuhi tugas
studi sebagai mahasiswa Program Studi S1 Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Abdurrab. Adapun tujuan dari kerja praktek ini adalah:
1. Mengetahui dan memahami pelaksanaan pekerjaan Rehabilitasi Jalan serta
membandingkan ilmu yang didapatkan selama masa perkuliahan dengan
kondisi di lapangan.
2. Mengembangkan kemampuan komunikasi dan menambah pengalaman
serta wawasan yang didapatkan selama melaksanakan kegiatan kerja
praktek.
3. Memenuhi mata kuliah wajib yang tertera pada program studi S1 Teknik
Sipil Universitas Abdurrab.

1.3 Ruang Lingkup kerja Praktek


Ruang lingkup kerja praktek yang ditinjau oleh penulis pada Proyek
Rehabilitasi Jalan SP. KH. NASUTION (PASIR PUTIH) – SP. KAYU ARA
(PEKANBARU) Pada proyek ini item pekerjaan diantaranya yaitu :
1. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

1.4 Metode Pelaksanaan Kerja Praktek


Kerja praktek dilaksanakan di proyek pengerjaan Rehabilitasi Jalan SP.
KH. NASUTION (PASIR PUTIH) – SP. KAYU ARA (PEKANBARU)
dimulai pada tanggal 24 Oktober 2022 hinga tanggal 31 Desember 2022.
Adapun metodologi yang digunakan selama pelaksanaan kerja praktek
adalah sebagai berikut:
1. Metode Observasi
Mengamati pekerjaan yang sedang dilaksanakan di lapangan seperti
metode pelaksanaan, produktivitas, manajemen, kegiatan logistic, masalah
yang sedang terjadi serta dialog dengan pelaksana proyek. Hal ini
dilakukan agar penulis dapat menyatu dengan lingkungan kerja di
lapangan sehingga bisa langsung meninjau pelaksanaan pembangunan
kontruksi di lapangan.

2
2. Metode Studi Literatur
Metode pengumpulan data dilakukan dengan studi literatur yaitu studi
kepustakaan dengan memaparkan dan menelaah buku-buku teori dasar dan
rumus-rumus serta table yang berkaitan dari berbagai sumber untuk
menunjang pembuatan laporan kegiatan kerja praktek.
3. Asistensi
Asistensi dilakukan kepada dosen pembimbing mulai dari minggu pertama
dimulai kerka praktek sampai selesai. Tujuan asistensi yaitu untuk
melaporkan progress pekerjaan proyek dilapangan serta laporan yang
sudah dibuat dari observasi di lapangan dan studi literatur.
4. Penulisan Laporan
Penulisan laporan dilakukan berdasarkan hasil pengamatan pekerjaan yang
sedang berlangsung selama kerja praktek yang nantinya akan disetujui ileh
dosen pembimbing.

1.5 Sistematika Penulisan Laporan Kerja Praktek


Agar laporan kerja praktek ini mudah dimengerti, maka laporan ini
disusun menjadi beberapa bab dan sub bab dengan rincian sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini menjelaskan mengenai latar belakang kerja praktek,
tujuan kerja praktek, ruang lingkup kerja praktek, metode pelaksanaan
kerja praktek, serta sistematika penulisan laporan kerja praktek.
BAB II TINJAUAN UMUM PROYEK
Bab ini menjelaskan mengenai data proyek, pelaksanaan proyek,
manajemen proyek, tahapan pekerjaan, peralatan yang digunakan
selama pengerjaan, dan hambatan masalah.
BAB III TINJAUAN KHUSUS PROYEK
Bab ini menjelaskan mengenai Keselamatan dan Kesehatan Kerja
(K3).
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini menjelaskan mengenai kesimpulan dan saran dari penulis
tentang laporan kerja praktek (KP).

3
BAB II
TINJAUAN UMUM PROYEK

2.1 Lokasi Proyek


Secara geografis letak proyek Rehabilitasi Jalan ini berada pada jalan
Lintas Timur Pekanbaru, yaitu dari SP. KH. NASUTION (PASIR PUTIH) – SP.
KAYU ARA (PEKANBARU).

4
Gambar Lokasi Segemen I

5
Gambar Lokasi Segmen II

2.1.1 Data Umum Proyek


Data kontrak dalam bentuk dokumen yang berisikan segala hal yang
berkaitan dengan kontrak yang berkaitan dengan pengadaan barang/jasa serta
mengatur hak dan kewajibab masing-masing pihak yang mengadakan kontrak.
Berikut adalah rincian data proyek Rehabilitasi Jalan SP. KH.
NASUTION (PASIR PUTIH) – SP. KAYU ARA (PEKANBARU):
PPK : PPK 1.4 Pelaksanaan Jalan Nasional Wil. I Prov
Riau
Pekerjaan : Rehabilitasi Jalan SP. KH. NASUTION (PASIR
PUTIH) – SP. KAYU ARA (PEKANBARU)
Tanggal Kontrak : 24 Oktober 2022
Nomor Kontrak : HK. 0203/Bb23-WilI.R4/102

6
Nilai Kontrak : Rp. 9.463.030.273,00
Penyedia Jasa : PT. VIRAJAYA RIAU PUTRA
Konsultan Supervisi : PT. SEECONS KSO PT. DAKSINAPATI
KARSA KONSULTINDO

2.1.2 Data Teknis Proyek


Data teknis dalam konstruksi pengerjaan Rehabilitasi Jalan SP. KH.
NASUTION (PASIR PUTIH) – SP. KAYU ARA (PEKANBARU) yang ditinjau
dalam laporan kerja praktek ini adalah tinjauan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
(K3).

2.2 Pelaksanaan Proyek


2.2.1 Penunjukan Langsung
Penunjukan Langsung dari sudut pandang UU Antimonopoli dan
Persaingan usaha yang tidak sehat. Bagaimana sebaiknya penunjukan langsung
dilakukan agar tidak terindikasi melakukan persaingan usaha yang tidak sehat
sebagaimana diatur dalam Peraturan KPPU No. 2 Tahun 2010. Sifat penunjukan
langsung adalah pengadaan yang “tidak diumumkan secara luas”, namun dalam
peraturan tersebut disebutkan sebagai indikator adanya persekongkolan dalam
tender. Di samping itu, supplier yang ditunjuk juga dipilih sesuai keinginan/saran
dari end-user yang mana merupakan bentuk “pengaruh” dari pihak lain yang juga
disebutkan sebagai indikator persekongkolan dalam peraturan tersebut.
Penunjukan langsung menurut Pasal 1 angka 39 Peraturan Presiden Nomor
12 Tahun 2021 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2018
tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (“Perpres 12/2021”) didefinisikan
sebagai berikut:
“Penunjukan Langsung adalah metode pemeilihan untuk mendapatkan
Penyedia Barang/Pekerjaan Kontruksi/Jasa Lainnya dalam keadaan tertentu.”
Patut diperhatikan, yang dimaksud dengan “dalam keadaan tertentu” mencakup
kriteria:

7
1. Pemilihan Penyedia Barang/Jasa Lainnya:
 Penyelenggaraan penyiapan kegiatan yang mendadak untuk
menindaklanjuti komitmen internasional yang dihadiri oleh
Presiden/Wakil Presiden;
 Barang/Jasa yang bersifat rahasia untuk kepentingan Negara atau
barang/jasa lain bersifat rahasia sesuai dengan ketentuan perundang-
undangan;
 Pekerjaan kontruksi bangunan yang merupakan satu kesatuan system
kontruksi dan satu kesatuan tanggung jawab atas risiko kegagalan
bangunan yang secara keseluruhan tidak dapat
direncanakan/diperhitungkan sebelumnya;
 Barang/pekerjaan kontruksi/jasa lainnya yang hanya dapat disediakan
oleh 1 pelaku usaha yang mampu;
 Pengadaan dan penyaluran benih unggul meliputi benih padi, jagung,
dan keledai, serta pupuk yang meliputi urea, NPK, dan ZA kepada
petani;
 Pekerjaan prasarana, sarana, dan utilitas umum di lingkungan
perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang dilaksanakan
oleh pengembang;
 Barang/pekerjaan kontruksi/jasa lainnya yang spesifik dan hanya dapat
dilaksanakan oleh pemegang hak paten, atau pihak yang menjadi
pemenang tender untuk mendapatkan izin dari pemerintah;
 Barang/pekerjaan kontruksi/jasa lainnya yang setelah dilakukan tender
ulang mengalami kegagalan; atau
 Pemeilihan penyedia untuk melanjutkan pengadaan barang/pekerjaan
kontruksi/jasa lainnya dalam hal terjadi pemutusan kontrak.
2. Pemilihan Penyedia Jasa Konsultasi
 Jasa konsultasi yang hanya dapat dilakukan oleh 1 pelaku usaha yang
mampu;

8
 Jasa konsultasi yang hanya dapat dilakukan oleh 1 pemegang hak cipta
yang telah terdaftar atau pihak yang telah mendapat izin pemegang hak
cipta;
 Jasa konsultasi dibidang hukum meliputi konsultan hukum/advokasi
atau pengadaan arbiter yang tidak direncanakan sebelumnya, untuk
menghadapi gugatan dan/atau tuntutan hukum dari pihak tertentu, yang
sifat pelaksana pekerjaan dan/atau pembelaannya harus segera dan
tidak dapat ditunda;
 Permintaan berulang (repeat order) untuk penyedia jasa konsultasi
yang sama;
 Jasa konsultasi yang setelah dilakukan seleksi ulang mengalami
kegagalan;
 Pemilihan penyedia untuk melanjutkan jasa konsultasi dalam hal
terjadi pemutusan kontrak;
 Jasa konsultasi yang bersifat rahasia sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan; atau
 Jasa ahli Dewan Sengketa Kontruksi

Adapun pelaksanaan penunjukan langsung dilakukan dengan mengundang


1 pelaku usaha yang dipilih, dengan disertai negoisiasi teknis maupun harga.
Akan tetapi, perlu digaris bawahi, ketentuan-ketentuan di atas hanya berlaku di
lingkungan kementrian/lembaga/perangkat daerah yang menggunakan anggran
belanja APBN/APBD.
Sementara itu, penunjukan langsung dalam Peraturan Menteri Badan
Usaha Milik Negara Nomor PER-08/MBU/12/2019 tentang Pedoman Umum
Pelaksanaan PPengadaan Barang dan Jasa Badan Usaha Milik Negara (“Permen
BUMN 08/2019”) diartikan sebagai pengadaan barang dan jasa yang dilakukan
secara langsung dengan menunjuk satu penyedia barang dan jasa.
Namun terdapat persyaratan penunjukan langsung agar dapat dilakukan,
dengan minimal memenuhi salah satu dari berikut ini:
1. Barang dan jasa yang dibutuhkan bagi kinerja utama perusahaan dan tidak
dapat ditunda keberadaanya (business critical asset);

9
2. Hanya terdapat satu penyedia barang dan jasa yang dapat melaksanakan
pekerjaan sesuai kebutuhan pengguna (user requirement) atau sesuai
dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku;
3. Barang dan jasa yang bersifat knowledge intensive dimana untuk
menggunakan dan memelihara produk tersebut membutuhkan
kelangsungan pengetahuan dari penyedia barang dan jasa;
4. Bila pelaksanaan pengadaan barang dan jasa dengan menggunakan cara
tender/seleksi umum atau tender terbatas/seleksi terbatas telah 2 kali
dilakukan dan tidak mendapatkan penyedia barang dan jasa yang
dibutuhkan atau tidak ada pihak yang memenuhi kriteria atau tidak ada
pihak yang mengikuti tender/seleksi;
5. Barang dan jasa yang dimiliki oleh pemegang ha katas kekayaan
intelektual (HAKI) atau yang memiliki jaminan (warranty) dari Original
Equipment Manufacture;
6. Penanganan darurat untuk keamanan, keselamatan masyarakat, dan asset
strategis perusahaan;
7. Barang dan jasa yang merupakan pembelian berulang (repeat order)
sepanjang harga yang ditawarkan menguntungkan dengan tidak
mengorbankan kualitas barang dan jasa;
8. Penanganan darurat akibat bencana alam, baik yang bersifat local maupun
nasional (force majeure);
9. Barang dan jasa lanjutan yang secara teknis merupakan satu kesatuan yang
sifatnya tidak dapat dipecah-pecah dari pekerjaan yang sudah dilaksanakan
sebelumnya;
10. Penyedia barang dan jasa adalah BUMN, Anak Perusahaan atau Perusahan
Terafiliasi BUMN sepanjang kualitas, harga, dan tujuannya dapat
dipertanggungjawabkan dan barang dan jasa yang dibutuhkan merupakan
produk atau layanan sesuai dengan bidang usaha dari penyedia barang dan
jasa bersangkutan;
11. Pengadaan barang dan jasa dalam jumlah dan nilai tertentu yang
ditetapkan direksi dengan terlebih dahulu mendapatkan persetujuan
Dewan Komisaris; dan/atau

10
12. Konsultan yang tidak direncanakan sebelumnya untuk menghadapi
permasalahan tertentu yang sifat pelaksanaan pekerjaannya harus segera
dan tidak dapat ditunda.
Pekerjaan Rehabilitasi Jalan yang dilakukan oleh PT. VIRAJAYA RIAU
PUTRA ini merupakan proyek yang ditunjuk langsung oleh Dinas Pekerjaan
Umum Provinsi Riau, untuk melaksanakan pekerjaan Rehabilitasi Jalan dari ruas
SP. KH. NASUTION (PASIR PUTIH) – SP. KAYU ARA (PEKANBARU).

2.3 Manajemen Proyek


2.3.1 Struktur Organisasi Proyek
Struktur organisasi proyek dapat didefinisikan sebagai organisasi kerja
sama yang baik dan bertanggung jawab di antara semua elemen yang relevan
dalam lingkup pekerjaan proyek kontruksi, sehingga tercapai kelancaran
pembangkitan, pengaturan dan kelancaran kemajuan berbagai tugas.
Struktur organisasi proyek terbentuk, pelaksanaan proyek berjalan dengan
lancer, serta hak dan tanggung jawab tidak tumpang tindih. Dalam pelaksanaan
suatu proyek, diperlukan suatu organisasi untuk mengolah dan mengendalikan
proses pelaksanaan proyek. Organisasi proyek harus memiliki badan hukum,
fasilitas dan personil yang dapat bekerja secara kolektif dan berkualitas tinggi
untuk mencapai hasil yang baik. Struktur organisasi pada proyek Rehabilitasi
Jalan SP. KH. NASUTION (PASIR PUTIH) – SP. KAYU ARA (PEKANBARU),
ini terdiri dari:
1. Pemilik Proyek (Owner) yaitu Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Riau
2. Konsultan Supervisi yaitu PT. SECONNS KSO, PT. DAKSINAPTI
KARSA KONSULTINDO
3. Penyedia Jasa yaitu PT. VIRAJAYA RIAU PUTRA

2.4 Tahapan Pekerjaan


Dalam suatu pelaksanaan kontruksi terdapat tahapan sebelum kontruksi
(pre-construction), konstruksi (construction), dan setelah kontruksi (post-
construction). Daur hidup konstruksi (life cycle project) diliputi tahapan studi
konsep (conseptual study), studi kelayakan (feasibility study), desain prelimari

11
awal (prelimary design), desain detail (detail engineering design), pengadaan
(procurement), konstruksi (construction), operasional dan perawatan (operation
and maintenance), dan yang terakhir demolish.
Dalam laporan kerja praktek ini akan dibahas 2 tahapan sebelum
konstruksi (pre-construction) yaitu tahapan persiapan yang berisi pelelangan dan
tahap konstruksi (construction) yaitu tahap pelaksanaan yang berisi pekerjaan
Rehabilitasi Jalan yang ada di lapangan.

2.4.1 Tahap Persiapan


Untuk menjelaskan segala hal yang menyangkut pekerjaan, maka sebelum
pelaksanaan pekerjaan, antara pemilik (owner) dengan kontraktor perlu dibuat
suatu perjanjian kerja yang biasa disebut dengan kontrak. Kontrak adalah
perjanjian pemborongan pekerjaan antara pihak pemberi tugas dengan pelaksana
(kontraktor). Kontrak dibuat setelah pemberi tugas menetapkan/menunjuk
pemenang.
Kedua belah pihak harus tunduk dan melaksanakan
ketentuan-ketentuan/persyaratan yang tercantum dalam kontrak yang meliputi
tugas, kewajiban, tanggung jawab dan wewenang masing-masing. Kontrak yang
telah disepakati biasanya diberi materai sesuai peraturan yang berlaku dan
ditandatangani oleh kedua belah pihak. Secara lengkap dokumen kontrak berisi:
1. Gambar-gambar kontrak (contract drawing), yang menunjukkan detail
pekerjaan yang akan dilaksanakan beserta dimensi dan susunannya.
2. Spesifikasi (specification), yaitu uraian yang menjelaskan tentang
pekerjaan yang harus dibangun, kualitas material, mutu/cara pengerjaan
yang harus diterapkan, metode pengujian dan lain-lain.
3. Daftar kuantitas pekerjaan (Bill of Quantities), yang memberikan ukuran
kuantitas atau jumlah dari setiap jenis pekerjaan atau operasi pelaksanaan.
Kuantitas tersebut dibuat berdasarkan hitungan-hitungan, gambar-gambar,
atau taksiran-taksiran.
4. Syarat-syarat Umum Kontrak (General Condition of Contract), yang
menetapkan fungsi, tanggung jawab, dan wewenang dari pemilik (Owner),
kontraktor serta tenaga ahli (engineer) yang meliputi beberapa hal, seperti

12
metode pembayaran, asuransi, tanggung jawab tiap pihak yang terlibat
pada kontrak, dan lain-lain.
5. Berita Acara Penjelasan (Letter of Explanation, Classification, and
Aanwijzing), yang disetujui oleh pihak-pihak yang terlibat dalam kontrak
sebagai penegasan dari maksud yang telah disampaikan.
6. Penawaran atau tender (Tender-Bidding Proposal), yang diajukan dan
ditandatangani oleh kontraktor, merupakan penawaran finansial dari
kontraktor untuk melaksanakan pekerjaan sesuai dengan uraian-uraian
diatas.
7. Perjanjian atau Persetujuan Kontrak (Legal/Formal Agreement), yang
ditandatangani oleh kedua belah pihak untuk mengesahkan dan
menguatkan keinginan mereka secara timbal balik dalam membuat kontrak
diantara mereka sebagaimana ditetapkan oleh semua dokumen diatas.
Fungsi dokumen kontrak dalam pelaksanaan proyek adalah:
1. Sebagai keterangan terhadap pekerjaan yang akan diborongkan.
2. Dokumen tersebut menjadi pegangan/pedoman (undang-undang) selama
masa pelaksanaan.
3. Dokumen yang dapat digunakan sebagai bukti kebenaran dalam kasus
proses perselisihan (arbitrase) atau bahkan dalam proses penyelesaian
perselisihan di pengadilan.
Dokumen pelaksanaan merupakan dokumen pengadaan yang dibuat oleh
ULP untuk melakukan proses pengadaan. Menurut Peraturan Presiden Nomor 16
Tahun 2018 pasal 46, yaitu mengenai Dokumen Pemilihan, terdiri atas:
1. Dokumen kualifikasi, yang terdiri dari:
a. Lembar data kualifikasi.
b. Pakta integritas.
c. Petunjuk pengisian formulir isian kualifikasi.
d. Formulir isian kualifikasi.
e. Tata cara kualifikasi.
2. Dokumen Tender/Seleksi/Penunjukan Langsung/Pengadaan Langsung,
terdiri dari:
a. Umum.

13
b. Pengumuman.
c. Intruksi kepada peserta.
d. Lembar data pemilihan.
e. Lembar kriteria evaluasi.
f. Rancangan kontrak.
g. Daftar kuantitas, Spesifikasi teknis, dan/atau Gambar.
h. Bentuk dokumen penawaran.
i. Bentuk dokumen lain.

2.4.2 Tahap Pelaksanaan


Menurut Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2018 Pasal 27, terdapat
beberapa jenis kontrak, yaitu:
1. Jenis Kontrak Pengadaan Barang/ Pekerjaan Kontruksi/ Jasa lainnya terdiri
atas:
1) Lump Sum
2) Harga Satuan
3) Gabungan Lumpsum dan Harga Satuan
4) Terima Jadi (Turnkey)
5) Kontrak Payung
2. Jenis Kontrak Pengadaan Jasa Konsultasi terdiri atas:
1) Kontrak Lumsum merupakan kontrak dengan ruang lingkup pekerjaan
dan jumlah harga yang pasti dan tetap dalam batas waktu tertentu,
dengan ketentuan:
a. Semua risiko sepenuhnya ditanggung oleh Penyedia.
b. Berorientasi pada keluaran
c. Pembayaran didasarkan pada tahapan produk/ keluaran yang
dihasilkan sesuai dengan kontrak.
2) Kontrak Harga Satuan merupakan kontrak dengan harga satuan yang
tetap untuk setiap satuan atau unsur pekerjaan dengan spesifikasi
teknis tertentu atas penyelesaian seluruh pekerjaan dalam batas waktu
yang telah ditetapkan dengan ketentuan sebagai berikut:

14
a. Volume atau kuantitas pekerjaannya masih bersifat perkiraan pada
saat kontrak ditandatangani.
b. Pembayaran berdasarkan hasil pengukuran atas realisasi volume
pekerjaan.
c. Nilai akhir kontrak ditetapkan setelah pekerjaan diselesaikan.
3) Kontrak gabungan Lumsum dan Harga Satuan merupakan kontrak
gabungan lumsum dan harga satuan dalam satu pekerjaan yang telah
diperjanjikan.
4) Kontrak Terima Jadi (Turnkey) merupakan kontrak pengadaan
pekerjaan kontruksi atas penyelesaian seluruh pekerjaan dalam batas
waktu tertentu dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Jumlah harga pasti dan tetap sampai seluruh pekerjaan selesai
dilaksanakan.
b. Pembayaran data dilakukan berdasrkan termin sesuai kesepakatan
dalam kontrak.
3. Kontrak Payung dapat berupa kontrak harga satuan dalam periode waktu
tertentu yang belum dapat ditentukan volume dan/ atau waktu
pengirimannya pada saat kontrak ditandatangani.
4. Kontrak berdasarkan Waktu Penugasan merupakan Kontrak Jasa
Konsultasi untuk pekerjaan yang ruang lingkupnya belum bisa
didefinisikan dengan rinci dan/ atau waktu yang dibutuhkan untuk
menyelesaikannya belum bisa dipastikan.
5. Kontrak Tahun Jamak merupakan Kontrak Pengadaan Barang/Jasa yang
membebani lebih dari satu Tahun Anggaran dilakukan setelah
mendapatkan persetujuan pejabat yang berwenang sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan, dapat berupa:
1) Pekerjaan yang penyelesainnya lebih dari 12 bulan atau lebih dari satu
Tahun Aggaran; atau
2) Pekerjaan yang memberikan manfaat lebih apabila dikontrakkan untuk
jangka waktu lebih dari 1 Tahun Anggaran dan paling lama 3 Tahun
Anggaran.

15
2.5 Mobilisasi
2.5.1 Peralatan
Dalam pelaksanaan suatu pekerjaan kontruksi, diperlukan alat-alat
penunjang yang turut menetukan keberhasilan suatu proyek kontruksi. Setiap
pekerjaan dalam pelaksanaannya memerlukan dukungan peralatan berat.
Pengadaan peralatan kontruksi dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Pengadaan yang dilakukan sendiri oleh pihak kontraktor, yaitu dengan
menggunakan peralatan yang dimilikinya sendiri berupa inventaris
perusahaan atau sewa.
2. Pengadaan yang dilakukan dengan melibatkan pihak luar, yaitu jika pihak
kontraktor tidak memiliki sendiri peralatan-peralatan kontruksi tertentu
yang perlu digunakan dalam pembangunan proyek, sehingga harus
menyewa dari pihak luar.

Rehabilitas Jalan adalah kegiatan penanganan pencegahan terjadinya


kerusakan yang luas dan setiap kerusakan struktur jalan yang tidak diperhitungkan
dalam desain, yang berakibat menurunnya kondisi kemantapan pada
bagian/tempat tertentu dari suatu ruas jalan dengan kondisi rusak ringan, agar
penurunan kondisi.
Peralatan kerja yang digunakan pada saat pengerjaan Rehabilitasi Jalan
SP. KH. NASUTION (PASIR PUTIH) – SP. KAYU ARA (PEKANBARU)
adalah sebagai berikut:
1. Air Kompresor
Alat ini berfungsi untuk membersihkan area yang akan di aspal.
Pembersihan ini meliputi beberapa material kecil yang dapat mempengaruhi
kekuatan dan ketahanan aspal. Seperti contohnya kotoran berupa debu atau
kerikil, daun dan juga air. Selain menggunakan air kompresor, kita dapat juga
membersihkan are dengan sapu. Namun apabila area yang akan di aspal cukup
luas, maka lebih efisien dan efektif jika menggunakan alat ini.

16
2. Asphalt Sprayer
Kedua adalah asphalt sprayer, alat ini berfungsi untuk menyemprotkan
cairan emulsi atau biasa kita sebut juga dengan perekat. Perekat ini berfungsi
sebagai lem atau pengikat antara lapisan pondasi dengan aspal yang akan kita
gelar. Tanpa perekat ini, maka aspal akan mudah mengelupas sehingga akan
menimbulkan lubang dan kerusakan jalan. Asphalt sprayer yang digunakan
dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Gambar 1. Asphalt Sprayer


Sumber: dokumentasi di lapangan

3. Ashphalt Finisher
Ketiga adalah asphalt finisher. Alat ini berfungsi untuk proses gelaran
aspal dari dump truck ke atas aspal pondasi itu sendiri. Meskipun kita bisa
melakukannya dengan tenaga manual juga. Namun dengan menggunakan alat
asphalt finisher ini, proses gelaran asphalt dapat kita lakukan dengan lebih
cepat. Sehingga lebih efektif, efisien dan juga hemat waktu. Pada proyek ini
asphalt finisher yang digunakan dapat dilihat pada gambar berikut ini:

17
Gambar 2. Asphalt Finisher
Sumber: dokumentasi di lapangan

4. Tandem Roller
Selanjutnya adalah tandem roller. Alat ini mudah kita kenali dari rodanya.
Karena alat ini memiliki roda depan dan belakang berupa besi bulat dan
berukuran besar. Fungsi dari alat ini sendiri yaitu untuk memadatkan aspal
yang telah terhampar sebelumnya dengan bantuan asphalt finisher. Dengan
tandem roller ini, maka aspal yang telah terhampar akan terpadatkan secara
otomatis dengan alat ini. Baik melalui berat alat ini maupun getaran yang
memang ditimbulkan oleh alat ini. Tandem Roller yang digunakan dapat
dilihat pada gambar berikut ini:

18
Gambar 3. Tandem Roller
Sumber: dokumentasi di lapangan

5. Pneumatic Tyred Roller


Alat selanjutnya yaitu pneumatic tyred roller. Sesuai dengan namanya, alat
ini mirip dengan tandem roller namun terdapat perbedaan pada bagian
rodanya. Jika pada tandem roller menggunakan roda besi, pada alat ini
menggunakan roda karet pada bagian depan dan belakang. Biasanya
terdapat 4 roda di bagian belakang dan di depan. Roda karet ini bertujuan
untuk menghaluskan permukaan aspal. Sehingga akan tercipta jalan aspal
yang halus dan mulus. Oleh karena itu, alat ini merupakan alat finishing
pada setiap pekerjaan aspal. Pneumatic Tyred Roller yang digunakan dapat
dilihat pada gambar berikut ini:

19
Gambar 4. Pnuematic Tyred Roller
Sumber: dokumentasi di lapangan

6. Dump Truck
Dump truck juga yang kita gunakan dalam proses pengaspalan jalan.
Truck ini berfungsi untuk mengangkut aspal dari pabrik atau asphalt
mixing plant ke lokasi pengaspalan. Pada proyek ini dump truck yang
digunakan dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Gambar 5. Dump Truck


Sumber: dokumentasi di lapangan

20
2.6 Hambatan Pekerjaan
Dalam sebuah proyek konstruksi pasti mengharapkan seluruh
pelaksanaanya berjalan dengan lancer. Akan tetapi ada hal-hal yang menjadi
penghambat atau menjadi permasalahan dalam sebuah proyek konstruksi.
Permasalahan yang timbul dalam sebuah proyek konstruksi sangatlah beragam.
Permasalahan tersebut biasanya terjadi karena kondisi alam, pelaksanaan teknis,
jumlah tenaga, keterlambatan pekerjaan dan lain sebagainya. Permasalahan yang
timbul harus segera mungkin diatasi agar pelaksanaan proyek dapat berjalan
sesuai rencana. Berikut ini adalah beberapa permasalahan dan pemecahnya yang
terjadi dalam proyek pengerjaan Rehabilitasi Jalan SP. KH. NASUTION (PASIR
PUTIH) – SP. KAYU ARA (PEKANBARU) :
1. Permasalahan Cuaca
Cuaca adalah kondisi alam yang tidak dapat diprediksi. Cuaca yang baik
atau buruk dapat terjadi sewaktu-waktu. Akan tetapi dengan terjadinya cuaca
yang buruk saat proses pelaksanaan kontruksi berlangsung, maka akan
menghambat jalannya pekerjaan. Permasalahan yang muncul ketika cuaca
buruk terjadi adalah:
 Pengaspalan terpaksa terhenti sementara menunggu hujan reda.
 Waktu pengaspalan dapat mundur dari jadwal rencana apabila hujan terus-
menerus diluar perkiraan sehingga menghambat berjalannya proyek.
 Pengaspalan terpaksa dihentikan jika hijan menguyur deras.
 Memungkinkan terjadinya banjir pada lokasi proyek jika hujan dalam
intensitas tinggi, sehingga menghambat berjalannya proyek.
Solusi penyelesain masalahnya adalah:
Bila sebuah proyek pembangunan mengalami permasalahan tentang cuaca
buruk maka hal yang perlu dilakukan adalah pihak kontraktor meminta
toleransi kepada pihak tertentu untuk mengajukan perubahan rencana
pekerjaan. Dimana nanti ketika cuaca sudah membaik akan dilakukan
penambahan pekerja dan pekerja atau lembur. Agar rencana pekerjaan dapat
kembali berjalan dengan baik dan ketertinggalan pekerjaan dapat kembali
dikejar sesuai rencana.

21
2. Permasalahan Teknis dalam Pelaksanaan
Pelaksanaan teknis adalah pekerjaan yang dilaksanakan atau dilakukan
sesuai teknis yang sudah ada. Pelaksanaan dari setiap pekerjaan menggunakan
metode kerja yang berbeda-beda. Dalam setiap proyek pembangunan tidak
semua pekerjaan dilaksanakan sesuai teknis atau metode yang ada (kesalahan).
Terkadang ada hal-hal dilapangan yang membuat itu terjadi. Biasanya
kesalahan tersebut bisa terjadi secara disengaja ataupun tidak sengaja. Apabila
terjadi kesalahan dalam pekerjaan, maka hasil yang dikerjakan tidak akan
memuaskan.
Solusi penyelesaian masalahnya adalah:
Bila sebuah proyek pembangunan mengalami permasalahan tentang
kesalahan teknis dalam pekerjaan maka hal yang perlu dilakukan adalah pihak
kontraktor meminta toleransi kepada pihak terkait untuk mengajukan
perbaikan. Supaya pihak kontraktor dapat langsung memperbaiki, agar nanti
hasil yang sudah diperbaiki sesuai dengan perencanaan.

3. Permasalahan Jumlah Tenaga Kerja


Pekerja adalah seseorang yang ikut andil dalam pembangunan sebuah
proyek. Tanpa adanya pekerja maka sebuah proyek pembangunan tidak dapat
berjalan. Akan tetapi dalam setiap proyek pembangunan tidak selalu sesuai
rencana, terkadang ada hal-hal yang dapat menghambat dalam proses
pelaksanaan pekerjaan. Seperti halnya jumlah tenaga kerja, terkadang
permasalahan dalam hal jumlah tenaga kerja juga dapat menjadi hambatan
dalam pekerjaan. Apabila tidak ada pekerja yang bekerja maka proyek
pembangunan akan terhenti. Biasanya permasalahan yang dihadapi adalah
berkurangnya jumlah pekerja atau para pekerja sedang pulang ke tempat asal
untuk urusan lain. Hal itu juga akan berdampak terhadap waktu pekerjaan
pada proyek.
Solusi penyelesaian masalahnya adalah:
Bila sebuah proyek pembangunan mengalami permasalahan tentang
jumlah tenaga kerja maka hal yang perlu dilakukan adalah pihak kontraktor
segera mencari tambahan pekerja apabila kekurangan pekerja dan mencari

22
pengganti sementara apabila banyak pekerja yang pulang sementara waktu.
Dapat juga mencari pekerja tambahan yang berada tidak jauh dari lokasi
proyek.

23

Anda mungkin juga menyukai