PRAKTIKUM IDENTIFIKASI BATUAN SEDIMEN
1.1 TUJUAN PRAKTIKUM
Setelah mengikuti praktikum modul ini, diharapkan praktikan dapat
1. Mengetahui karakteristik daripada suatu batuan secara megaskopis.
2. Mengetahui kegunaan lup dalam praktikum identifikasi batuan sedimen minyak dan gas.
1.2 CAPAIAN PEMBELAJARAN
Dengan adanya praktikum identifikasi batuan sedimen ini diharapkan mahasiswa
mampu mendeskripsikan suatu batuan beku secara megaskopis.
1.3 KESELAMATAN KERJA
Untuk menjaga faktor keselamatan dan kesehatan saat melakukan praktikum dalam
modul ini, maka perlu diperhatikan beberapa hal dibawah ini, diantaranya:
1. Gunakan Alat Pelindung Diri (APD) standar laboratorium seperti jas laboratorium,
masker, sarung tangan, dan googles
2. Berhati-hati menggunakan peralatan-peralatan yang mudah pecah
3. Bila menggunakan peralatan bertenaga listrik, lihat terlebih dahulu tegangan jaringan
listrik yang ada
4. Menggunakan lemari asam untuk mengambil dan mereaksikan larutan kimia
yang berbahaya
5. Apabila terkena zat berbahaya segera cuci menggunakan air mengalir
6. Membuang bahan sisa habis pakai ke dalam tempat yang telah disediakan
7. Bersihkan peralatan setiap kali sehabis digunakan percobaan dengan mencucinya
hingga bersih.
1.4 PENDAHULUAN
Pengertian umum mengenai batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk akibat
litifikasi bahan rombakan batuan asal atau hasil reaksi kimia maupun hasil kegiatan
organisme. Demikian juga ukuran butirnya, dari sangat halus hingga sangat kasar. Dimuka
bumi ini dibandingkan dengan batuan beku, batuan endapan/sedimen sangatlah sedikit,
±5% volume, walaupun demikian penyebarannya dimuka bumi menempati lebih dari
65% luasan. Oleh karena itu batuan sedimen merupakan lapisan tipis di kulit bumi.
Penggolongan batuan sedimen dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Kelompok Batuan Sedimen Klastik
Batuan sedimen klastik ialah dimana partikel/butiran penyusun batuan sedimen,
merupakan butiran yang telah mengalami proses pelapukan – transportasi –
terendapkan (sedimentasi) – dan terlitifikasi.
2. Kelompok Batuan Sedimen Non-Klastik
Batuan sedimen non-klastik ialah dimana partikel/butiran penyusun batuan sedimen
terbentuk dan terlitifikasi secara insitu (tidak tertransportasi). Batuan sedimen yang
terbentuk dari hasil reaksi kimia atau bisa juga dari hasil kegiatan organisme. Reaksi
kimia yang dimaksud adalah kristalisasi langsung atau reaksi organik (penggaraman
unsur – unsur laut, pertumbuhan kristal dari agregat kristal yang terpresipitasi dan
replacement).
1
1.5 PEMERIAN BATUAN SEDIMEN KLASTIK
Pemerian batuan sedimen klastik terutama didasarkan pada tekstur, komposisi mineral
dan struktur.
1. TEKSTUR BATUAN
A. Ukuran Butir (Grain Size)
Pemerian ukuran butir didasarkan pada pembagian besar butir yang di sampaikan
oleh Wentworth, 1992, seperti table dibawah ini:
Gambar 1. Skala Wentworth
B. Derajat Pemilahan (Sortasi)
Pemilahan adalah keseragaman ukuran besar butir penyusun batuan
endapan/sedimen. Hal ini bermakna semakin seragam ukuran butirnya semakin
baik pula pemilahannya. Dalam pemilahan dipergunakan pengelompokan sebagai
dari yang terpilah sangat baik sampai dengan sangat buruk. Kenampakan sortasi
yang baik ini diperlihatkan oleh ukuran besar butir yang seragam pada semua
komponen batuan sedimen, sedangkan penampakan buruk memiliki besar butir
yang bergam dimulai dari lempung hingga kerikil atau bahkan bongkah (lihat
gambar di bawah).
2
Gambar 2. Sortasi Batuan (After Folk, 1965)
C. Derajat Pembundaran (Roundness)
Kebundaran adalah nilai membulat atau meruncingnya bagian tepi butiran,
dimana kenampakan ini hanya bisa di amati pada batuan sedimen klastik sedang
sampai kasar. Ada lima variasi tingkat kebundaran atau keruncingan, yaitu:
i. Membundar Sempurna (Well Rounded), hampir semua permukaan
cembung dan ekuidimensional.
ii. Membundar (Rounded), pada umumnya permukaan – permukaan butiran
bundar, ujung – ujung dan tepi butiran lengkung.
iii. Agak Membundar (Subrounded), permukaan umumnya datar dengan ujung–
ujung yang membundar.
iv. Agak Menyudut (Sub Angular), mempunyai permukaan secara umum datar
dengan ujung – ujung tajam.
v. Menyudut (Angular), mempunyai permukaan kasar dengan ujung – ujung
butiran tajam dan meruncing.
Gambar 3. Derajad Kebundaran (Powers, 1953)
D. Kemas (Fabric)
Kemas mempunyai makna seberapa banyak rongga diantara butiran masih di
3
dapatkan. Sedimen yang terkemas secara baik, tertutup (closed) berarti semakin
sedikit rongga yang tersisa diantara butiran. Atau sebaliknya kemas terbuka
(open) mempunyai kecenderungan masih mensisakan rongga diantara butiran.
Batuan yang telah mengalami kompaksi lanjut akan mempunyai kemas tertutup
sekalipun pada awalnya berkemas terbuka dengan sortasi baik dan buruk.
Gambar 4. Kemas Batuan
E. Packing Orientasi
Packing orientasi batuan terdapat 2 jenis yaitu matrix yang didominasi oleh
matrix/ massa dasar dan fragment/ clast supported yang didominasi fragment.
Gambar 5. Packing Orientasi
2. STRUKTUR BATUAN
Berdasarkan asalnya struktur sedimen yang terbentuk dapat dikelompokan menjadi
beberapa macam yaitu :
i. Masif: bila tidak menunjukan struktur dalam batuan (pettijohn & Potter, 1964)
ii. Perlapisan Sejajar: bila bidang perlapisannya saling sejajar.
iii. Laminasi: perlapisan sejajar yang ukurannya atau ketebalannya kurang dari 1 cm.
Terbentuk dari suspensi tanpa energi mekanis.
iv. Gradasi Normal/normal grading: bila perlapisan disusun atas butiran yang berubah
teratur dari kasar ke halus pada arah vertical, terbentuk karena arus pekat/turbidit
v. Gradasi terbalik/reverse grading: bila perlapisan disusun atas butiran yang berubah
4
teratur dari halus kekasar pada arah vertical, terbentuk dari arus pekat.
vi. Perlapisan Silang Siur: perlapisan yang membentuk sudut terhadap bidang lapisan
yang berada diatas atau dibawahnya dan dipisahkan oleh bidang erosi, terbentuk
akibat intensitas arus yang berubah – ubah.
3. KOMPOSISI MINERAL
Komposisi dari batuan sedimen klastik dapat dibedakan yaitu:
i. Fragmen/clast, butiran penyusun batuan yg berukuran besar berupa pecahan batuan,
mineral atau cangkang binatang.
ii. Matrik (Massa Dasar), butiran yg lbh halus dari fragmen, terbentuk bersama
fragmen pada saat sedimentasi.
iii. Semen, bahan pengikat butiran dalam batuan berupa silika, karbonat, oksida besi
atau mineral lempung
4. NAMA BATUAN
Penamaan batuan sedimen klastik didasarkan pada ukuran butir skala Wenworth
seperti pada table di bawah ini:
Gambar 6. Penamaan Batuan
1.6 PEMERIAN BATUAN SEDIMEN NON-KLASTIK
Pemerian batuan sedimen non-klastik terutama didasarkan pada tekstur, komposisi
mineral dan struktur.
1. TEKSTUR BATUAN
Tekstur pada batuan sedimen non-klastik dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
A. Kristalin
Tekstur kristalin merupakan tekstur yang terdiri dari kristal–kristal
interlocking yaitu kristal – kristalnya saling mengunci satu sama lain.
5
Gambar 7. Batuan dengan Tekstur Kristalin
B. Amorf
Tekstur amorf merupakan tekstur yang terdiri dari mineral yang tidak
membentuk kristal – kristal atau amorf (non-kristalin).
Gambar 8. Batuan dengan Tekstur Amorf
2. STRUKTUR BATUAN
Struktur batuan sedimen non-klastik terbentuk dari proses kimia ataupun kegiatan
organic. Macamnya antara lain yang penting.
A. Fosilleferus
Struktur yang ditunjukan oleh adanya fosil atau komposisi terdiri dari fosil
(sedimen organik).
6
Gambar 9. Struktur Batuan Fosilleferus
B. Oolitik
Struktur dimana suatu fragmen klastik diselubungi oleh mineral non-klastik
bersifat konsentris dengan diameter berukuran lebih kecil 2 mm.
Gambar 10. Struktur Batuan Oolitik
C. Pleolitik
Sama dengan ooilitik tetapi ukuran diameternya lebih besar dari 2 mm.
D. Konkresi
Kenampakan struktur ini sama dengan struktur ooilitik tetapi tidak
menunjukan adanya sifat konsentris.
7
Gambar 11. Struktur Batuan Konkresi
E. Cone in Cone
Struktur pada batu gamping kristalin yang menunjukan pertumbuhan kerucut
perkerucut.
Gambar 12. Struktur Batuan Cone in Cone
8
F. Bioherm
Tersusun oleh organisme murni dan bersifat insitu.
Gambar 13. Struktur Batuan Bioherm
G. Biostrom
Seperti bioherm tetapi bersifat klastik. Bioherm dan biostrom merupakan
struktur luar yang hanya tampak dilapangan.
H. Septaria
Sejenis konkresi tetapi mempunyai komposisi lempungan. Ciri khasnya
adanya rekahan – rekahan yang tidak teratur akibat penyusutan bahan –
bahan lempungan tersebut karena proses dehidrasi yang kemudian celah –
celah terbentuk terisi oleh kristal – kristal karbonat yang kasar.
9
Gambar 14. Struktur Batuan Septaria
3. KOMPOSISI MINERAL
Komposisi mineral batuan sedimen non klastik cukup penting dalam menentukan
penamaan batuan. Pada batuan sedimen jenis non klastik biasanya komposisi
mineralnya sederhana yaitu bisa terdiri satu atau dua macam mineral. Contohnya:
Batugamping : Kalsit, dolomite
Chert : Kalsedon
Gypsum : Mineral gypsum
Anhidrit : Mineral anhidrit
4. NAMA BATUAN
Penamaan batuan sedimen non klastik berdasarkan komposisi mineralnya.
10