Anda di halaman 1dari 12

Jurnal ETNOHISTORI, Vol. II, No.

1, April 2015

Tergerusnya Kesultanan Ternate: dari Pusat (Centre) ke


Pinggiran (Periphery) Kekuasaan

Safrudin Amin
Antropologi Sosial, Universitas Khairun

Abstract
This article traces the change of political position of Ternate sultanate through
history from an independent traditional state in pre-European colonialism
period, during its encounter with Europan colonialism from 16 centry to mid
th

19 century, and in the period of being part of Indonesian nation-state todays.


th

The author clearly argues that Ternate sultanate has undergone


marginalization process during the above-mentioned period from a centre
and powerful independent state, which had many peripheral regions
gradually, becomes a powerless peripheral element of the present nation-
state of Indonesia. The author also underlies some factors contributing to the
marginalization process.

Keywords: Ternate Sultanate, Traditional state, Marginalization,


Peripheral, Nation-state.

Safrudin Amin – Tergerusnya Kesultanan Ternate: … 45


Jurnal ETNOHISTORI, Vol. II, No. 1, April 2015

salah satu kekuatan kerajaan Islam


Pengantar
di timur Indonesia.
Ternate adalah nama suatu Namun, pada saat ini, kita
pulau, nama suatu suku bangsa, menyaksikan Ternate khususnya dan
nama suatu bahasa, sekaligus nama Maluku Utara umumnya, hanyalah
suatu kesultanan. Sebagai suatu sebuah provinsi kecil. Jika di masa
kesultanan, Ternate awal merupakan lalu menjadi pusat kekuasaan dan
suatu kerajaan kecil yang hanya transaksi ekonomi dunia (wilayah
terpusat di pulau-pulau sekitar Pulau produsen rempah-rempah), maka
Ternate. Namun, pada abad ke-15, sekarang menempati pinggiran
penguasa Ternate mulai melakukan kekuasaan politik dan ekonomi baik
ekspansi wilayah kekuasaannya. dalam pengertian substantif maupun
Pada abad ke-16, terutama di bawah geografis. Demikian juga, kesultanan
pemerintahan Sultan Babullah (1570- yang pernah begitu besar kini
1584), wilayah Kesultanan Ternate hanyalah menjadi bagian dari pernik
meliputi sebagian wilayah perairan negara, menjadi sub dari sub-negara
Indonesia Timur dan juga ke Selatan sebagai pernik departemen
sampai Bima, sebelah Barat sampai pariwisata saja. Artikel ini menelusuri
Makassar, ke Timur sampai Banda, proses keterpinggiran Ternate
dan sebelah utara sampai Kepulauan dengan mendiskusikan berbagai
Raja Ampat. Seorang misionaris aspek yang dipandang ikut atau
Italia, Pigafeta, dalam cacatan terkait dengan proses-proses
perjalanannya menulis bahwa dimaksud.
Babullah menguasai 72 pulau (Suryo,
Kolonialisme Eropa
dkk., 2001: 127).
Selain wilayah kekuasaannya Persentuhan dengan kekuatan
yang luas, Kerajaan Ternate juga kolonial adalah awal dari
memiliki kekuatan militer yang cukup kemunduran kekuasaan Ternate.
tangguh untuk menaklukkan dan Walaupun diakui bahwa persentuhan
menjaga dominasinya, sekaligus itu juga pada tataran tertentu ikut
mengontrol perdagangan bebas memperbesar hegemoni dan
antara berbagai bangsa – Arab, dominasi Ternate, namun kekuatan
India, Cina, Jawa, dan penguasa kolonial ibarat pisau bermata dua. Di
lokal. Dengan demikian, Ternate satu sisi, ia bermanfaat memperkuat
menjadi pusat kekuasaan politik, posisi kekuatan kesultanan Ternate
ekonomi perdagangan khususnya menghadapi dengan rival-rival
rempah-rempah, dan memiliki tradisionalnya, terutama Kesultanan
kekuatan militer. Di samping itu, Tidore dan Jailolo. Di sisi lain,
pertemuan berbagai kebudayaan penguasa kolonial juga
dari berbagai bangsa memperkaya menggerogoti dan melemahkan
khazanah kebudayaan Ternate yang Kesultanan Ternate (Surjo dkk, 2001:
bermuara pada Ternate menjadi 135).

Safrudin Amin – Tergerusnya Kesultanan Ternate: … 46


Jurnal ETNOHISTORI, Vol. II, No. 1, April 2015

Kolonialis yang bersentuhan politik ini menyebabkan “landasan


dengan Ternate adalah bangsa legitimasi kekuasaan yang lama,
Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris, dengan sendirinya mengalami erosi.”
dan Jepang. Inggris dan Jepang Selain intervensi politik,
termasuk rezim yang tidak terlalu pemaksaan monopoli perdagangan
banyak berdampak pada rempah-rempah juga dilakukan oleh
kemerosotan kekuasaan Ternate. Portugis, Belanda, dan Spanyol.
Berbeda dengan kekuatan kolonial Ketika mereka datang ke perairan
Portugis, Spanyol, dan Belanda yang Nusantara, umumnya di bandar-
memberi dampak besar bagi bandar telah berlangsung
kemunduran kekuasaan Kesultanan perdagangan bebas yang melibatkan
Ternate. Bahkan, dampaknya masih banyak negara yang datang dan
dirasakan hingga saat ini. pergi. Di pelabuhan Ternate,
berbagai bangsa seperti India, Cina,
Intervensi Politik dan Monopoli
Arab, Bugis, dan Jawa serta
Perdagangan
pedagang lokal telah terlibat dalam
Bentuk tindakan kolonial yang perdagangan bebas. Para
pelan-pelan menggerogoti pendatang baru dari Eropa
kekuasaan dan kewibawaan umumnya ingin memonopoli
Kesultanan Ternate adalah berupa perdagangan dengan cara persuasif
campur tangan terhadap urusan dan kekuatan militer untuk
politik dalam kesultanan. Portugis, menghancurkan perdagangan bebas
Spanyol, dan Belanda misalnya yang ada, kemudian melakukan
mengabaikan mekanisme politik tindakan monopoli. Dalam kasus
yang telah ada dalam kesultanan, serangan Portugis atas Malaka, Reid
dan langsung menaik-turunkan (1967: 126) menulis bahwa Portugis
sultan sesuai keinginannya (Suryo menyerang “the Muslims trading
dkk, 2001: 119, 145; Amal dan system directly and ruthlessly.”
Andili, 2003: 103) melalui penaklukan Dalam kasus VOC di Maluku, Ch.F.
militer dan penghianatan kemudian Van Fraaseen (1994: 423)
diikuti dengan perjanjian. Dengan menyatakan bahwa upaya monopoli
perjanjian-perjanjian,”Ternate VOC dalam perdagangan cengkeh
merosot kemandiriannya dan telah mengganggu jalannya
berstatus tidak lebih dari sebuah perdagangan bebas yang ada dan
kerajaan vazal Kompeni Belanda” juga VOC berusaha mengontrol
dan “sejak saat itu, Sultan Ternate kehidupan politik di Maluku.
menjalankan pemerintahan atas Pada 27 November 1606,
nama dan kuasa kompeni” (Amal setelah menaklukkan Ternate secara
dan Andili 2003: 103-104). Senada militer, Spanyol memaksa petinggi
dengan itu, Surjo dkk (2001: 139) Kesultanan Ternate menandatangani
menegaskan bahwa intervensi perjanjian yang isinya mengakui raja
kolonial terhadap rekruitmen jabatan Spanyol sebagai junjungan mereka

Safrudin Amin – Tergerusnya Kesultanan Ternate: … 47


Jurnal ETNOHISTORI, Vol. II, No. 1, April 2015

dan tunduk pada perintah Spanyol, beberapa wilayah kekuasaan


dan hanya boleh berdagang dengan Kesultanan Ternate. Ambon dan
Spanyol (Amal dan Andili, 2003: 89- sekitarnya, secara de facto, pelan-
90). Belanda, dalam rangka pelan terpisah dari kekuasaan
menegakkan monopoli perdagangan Ternate sejak Portugis secara diam-
rempah, selain membuat perjanjian diam memperkuat basisnya di
yang merugikan dengan pihak Ambon dan sekitarnya, dan lebih-
kesultanan, dia juga seringkali lebih lagi setelah terusir dari Maluku
membuat perjanjian dengan Utara oleh Babullah dan menjadikan
penguasa-penguasa lokal di bawah Ambon sebagai wilayahnya.
kekuasaan Kesultanan Ternate. Spanyol, setelah menaklukan
Akibatnya, sering terjadi bentrok Ternate, getol mendorong
kepentingan dan konflik terbuka pemisahan diri beberapa wilayah
antara pihak kesultanan dengan kekuasaan Ternate. Amal dan Andili
pihak penguasa lokal, yang juga (2003: 89) menulis: “Komandan
merupakan aparat kesultanan yang ekpedisi Spanyol, Juan de Esquivel,
ditempatkan di wilayah-wilayah mengirim utusan ke petinggi
kesultanan (Suryo dkk, 2001: 144- wilayah-wilayah taklukan Ternate di
145). Sulawesi Utara … dan
Tindakan monopoli di atas mengumumkan kemerdekaan
tentu menggerogoti kedaulatan mereka dari tirani Ternate” serta
kesultanan sekaligus mengurangi menawarkan perlindungan pada
pendapatan kesultanan yang berasal mereka.
dari wilayah-wilayah sentra Belanda juga lewat staatsblad
penghasil rempah-rempah. Monopoli 1907 No. 367 Kepulauan Banggai,
yang dipaksakan oleh Portugis, yang merupakan wilayah Kesultanan
Spanyol dan Belanda selain Ternate sejak awal abad ke-14,
menjauhkan Ternate dari partner dipisahkan dari Ternate dan
dagangnya yang telah berlangsung digabungan dalam Gubernemen
lama seperti India, Arab, Cina, Jawa, Sulawesi yang berpusat di Makassar
Makassar, juga melemahkan peran (Amal, 2003: 78). Selain itu,
dan kekuasaan Kesultanan Ternate keputusan Belanda mengambil-alih
dalam mengontrol perdagangan. dan menjadikan Ambon sebagai
pusat ekonomi dan politik, melalui
Pemisahan Wilayah
berbagai RR dan besluit, semakin
Proses pelemahan Kesultanan memperkuat pemisahan Ambon
Ternate juga dilakukan melalui secara de facto dan de jure dari
tindakan politik yang bersifat kekuasaan Ternate (Amal, 2003, 74-
memisahkan wilayah-wilayah 78).
tertentu dari kekuasaan Ternate.
Penyebaran dan Pemaksaan Agama
Para kolonialis memiliki cara
berbeda dalam memisahkan

Safrudin Amin – Tergerusnya Kesultanan Ternate: … 48


Jurnal ETNOHISTORI, Vol. II, No. 1, April 2015

Selain tujuan ekonomi, tujuan Di daerah-daerah kekuasaan


bangsa Eropa datang ke Asia Ternate yang agak jauh dari Pulau
Tenggara adalah untuk penyebaran Ternate, Portugis secara diam-diam
agama. Sejarawan Clive Christie dan hati-hati memperkuat posisi
(1996: 130) menyatakan bahwa salah dengan misi agamanya, misalnya di
satu tujuan ekspansi awal bangsa- Pulau Buru dan Ambon, Portugis
bangsa Eropa ke Asia Tenggara membangun pusat-pusat misionaris.
adalah “the crusading desire to Selain itu, di wilayah ini juga
outflank and check Islam at a global dibangun perkebunan rempah-
level.” Dan, ekpansi agama ini telah rempah yang sebenarnya secara
menjadi bagian dari instrumen tradisional merupakan hak
penjajahan untuk melemahkan Kesultanan Ternate (Suryo dkk,
kekuatan dan kekuasaan para 2001: 121).
kesultanan Islam, termasuk di Spanyol juga melakukan hal
Maluku umumnya dan Ternate yang sama. Atas nama Sri Paduka
khususnya. Raja Spanyol, Ternate dipaksa
Portugis menjadikan Ternate tunduk dan diambil alih pada tanggal
bukan saja sebagai pusat 10 April 1607. Mereka merestorasi
perdagangan rempah-rempah dan gereja Portugis, Gereja Sao Paolo,
gudang penyimpanan komoditi dan mengembalikannya kepada misi
sebelum dikirim ke Eropa, tapi juga Jesuit. Tindakan lain yang sangat
Ternate yang menjadi pusat Islam di merendahkan Ternate adalah
Maluku justru dijadikan sebagai mengkonversi Mesjid Gamlamo,
pusat misi penyebaran agama Mesjid Kesultanan, menjadi gereja
Katolik di Maluku (Suryo dkk, 2001: oleh misi Jesuit dan diberi nama
120). Dalam kasus Sultan Tabariji baru, Gereja San Francisco. Rumah
yang diturunkan dari tahta oleh pribadi adik perempuan sultan
Portugis, kemudian diasingkan ke dikonversi dan diberi nama San
Goa, dan kemudian berganti agama Agustin, dan rumah pribadi seorang
menjadi seorang Katolik. Dari sultan pangeran lain dikonversi dan diberi
yang telah menjadi katolik ini, nama Santo Dominggo. Selain itu,
Portugis mendapat surat wasiat dari Sultan Saidi dan para bobato-nya
sang Sultan yang telah berganti dipaksa melakukan sumpah setia
nama menjadi Dom Manuel yang serta tidak akan menghalangi orang-
isinya adalah bahwa Portugis orang Islam mengganti agamanya
mendapatkan konsesi perdagangan menjadi Katolik (Amal dan Andili,
atas Ambon dan menyatakan bahwa 2003: 88).
Ternate adalah kerajaan Kristen Belanda juga melakukan
(Katolik) (Suryo dkk, 2001: 119), penghinaan yang provokatif yang
sesuatu yang ditolak oleh Sultan langsung menyerang jantung
Khairun, pengganti Tabariji. identitas dan basis kebudayaan
kesultanan. Suryo dkk (2001: 133-

Safrudin Amin – Tergerusnya Kesultanan Ternate: … 49


Jurnal ETNOHISTORI, Vol. II, No. 1, April 2015

134) menulis, “Belanda kemudian (Amal, 2003: 79-80). Dengan kata


tidak lagi segan-segan membakar lain, Belanda menempatkan sultan
mesjid-mesjid dan memaksa orang- dan aparatnya di bawah kendalinya
orang Islam memeluk agama Kristen. dalam menjalankan pemerintahan
Sebagai penghinaan istimewa Belanda di wilayah kesultanan.
mereka dipaksa makan daging babi. Pemerintahan dengan corak
Selanjutnya, orang-orang Kristen gabungan ini bertahan sampai
yang menjadi penganut agama Islam datangnya Jepang tahun 1942.
[mualaf] ditangkapi untuk kemudian
Keterpinggiran Geografis
dibuang ke daerah lain”. Wilayah-
wilayah yang masyarakatnya Selain berbagai tindak-tanduk
dikonversi ke Katolik atau Kristen kolonialisme Eropa yang
Protestan perlahan mengalami mengkerdilkan kekuasaan
kerenggangan dengan Kesultanan Kesultanan Ternate di atas, Ternate
Ternate yang muslim, dan umumnya sebagai suatu negara tradisional
di kemudian hari wilayah ini menjadi (traditional state) saat itu juga terus
basis pertahanan utama para mengalami marjinalisasi secara
penjajah karena dibantu oleh geografis dalam konteks ekonomi
komunitas tersebut dalam melawan dan politik. Bahasan berikut akan
Kesultanan Ternate, terutama di mengurai beberapa perkembangan
Maluku bagian selatan. yang memarjinalkan Ternate secara
Tindakan mensubordinasikan geografis dari posisi awal sebagai
Kesultanan Ternate juga dalam pusat (centre) kekuasaan politik dan
bentuk dominasi kekuasaan secara ekonomi, kemudian bergeser ke
langsung ataupun tidak. Ternate posisi pinggiran (periphery).
harus menerima kenyataan bahwa
Munculnya Ambon Sebagai Pusat
dalam wilayah kekuasaannya
Ekonomi dan Politik Baru
terdapat pemerintahan dan
kekuasaan lain yang tidak di bawah Selain mengalami kemunduran
kendalinya. Lebih dari itu, karena kekuasaan politik dan
Kesultanan Ternate hanya dijadikan ekonomi, serta kultural (agama) pada
sebagai aparat pemerintahan tidak tataran tertentu juga dikendalikan
langsung oleh Belanda. Pelaksanaan penguasa asing, Ternate juga harus
pemerintahan Belanda di Maluku menghadapi keterpinggiran secara
Utara dijalankan dengan corak geografis. Terusirnya Portugis dari
gabungan yaitu ada daerah tertentu Maluku bagian utara, pada tahun
yang langsung berada di bawah 1581, dan hanya bisa bertahan di
pemerintahan kolonial Belanda dan beberapa wilayah Maluku Selatan
ada daerah tertentu yang membuat mereka berusaha
berpemerintahan tidak langsung mengembangkan wilayah selatan,
yaitu pemerintahan Belanda di terutama Ambon, sebagai pusat
bawah para sultan dan bobato-nya perdagangan dan penyiaran agama,

Safrudin Amin – Tergerusnya Kesultanan Ternate: … 50


Jurnal ETNOHISTORI, Vol. II, No. 1, April 2015

serta wilayah pertahanan dari keresidenan menjadi afdeling di


menghadapi gempuran Ternate atau bawah keresidenan Ambon. Di tahun
menyerang wilayah kekuasaan 1926 ditetapkan UU Pembaruan
Ternate di selatan, misalnya Pemerintahan Maluku dimana
serangan ke Hitu tahun 1602. Pada pemerintahan Maluku
tahun 1605 Belanda mengusir disederhanakan mencakup
Portugis dari Ambon dan mengambil Keresidenan Ambon dan afdeling
alih Ambon sebagai pusat Ternate (Amal, 2003: 72-80).
perdagangan di selatan Maluku. Tahun 1930 pemerintah
Suryo dkk (2001: 131) menulis: Belanda mengeluarkan Self Bestuur
“Sejak itu situas umum di Maluku Regeling yang menetapkan
telah berubah sama sekali. Ambon pembagian Maluku Utara kedalam
yang semula hanya pelabuhan tiga swapraja yaitu kesultanan
persinggahan para pedagang Eropa Ternate, Kesultanan Tidore, dan
untuk mencapai Ternate, mulai Kesultanan Bacan. Tidap kesultanan
tumbuh sebagai pusat perdagangan dibagi kedalam distrik-distrik yang
penting, sementara Ternate hanya dikepalai kepala distrik yang
menjadi pusat aktivitas politik di membawahi oder-distrik. Kepala
kawasan itu”. distrik diangkat dan diberhentikan
Namun, pada periode-periode oleh masing-masing sultan di
selanjutnya, Ambon bukan saja daerahnya. Peraturan ini terkesan
tumbuh sebagai pusat aktivitas mengembalikan kekuasaan
ekonomi, tapi juga menjadi pusat pemerintahan pada kesultanan
aktivitas politik (Suryo dkk, 2001: kecuali wilayah Maluku Selatan
135). Dengan mengganti termasuk Ambon. Sayangnya, tidak
Regeringsreglement (RR) 1610 yang demikian. Pemerintahan yang
menempatkan pusat pemerintahan dijalankan oleh para sultan hanyalah
Gubernemen Maluku ada di Ternate bagian dari pemerintahan Belanda.
dengan RR 1815 dimana pusat Ada wilayah yang mutlak dikuasai
pemerintahan pindah ke Ambon dan langsung oleh Belanda dan sisanya
gubernur berkedudukan di Ambon, pemerintahan Belanda yang
semakin menjauhkan Ternate dari dijalankan oleh kesultanan. Sistem
pusat kekuasaan. Selanjutnya, ini berlangsung sampai datangnya
kolonial Belanda mengeluarkan tentara Jepang tahun 1942.
berbagai peraturan dalam bentuk
NKRI: Keterpinggiran Geografis
besluit dan UU yang menempatkan
dan Politik
Ternate hanya bagian dari Ambon,
berada di bawah kendali Negara Sentralistik
pemerintahan kolonial di Ambon.
Anderson benar ketika
Misalnya, besluit kerajaan Belanda
menegaskan bahwa pada umumnya
S.1921, no. 430 tanggal 16 April
di negara-negara Asia Tenggara,
1921 Ternate diturunkan statusnya
kesadaran para pejuang nasional

Safrudin Amin – Tergerusnya Kesultanan Ternate: … 51


Jurnal ETNOHISTORI, Vol. II, No. 1, April 2015

(nationalists) awal tentang batas dibuat sesuai dengan batas-batas


wilayah nasional dibentuk oleh propinsi yang telah ditentukan
negara kolonial (1991: 170-178). setahun sebelumnya (10 provinsi).
Cakupan wilayah NKRI diputuskan Namun, desentralisasi pemerintahan
sesuai peta batas wilayah kolonial ini tidak berjalan karena perhatian
Belanda, di mana Maluku yang masih terfokus pada masalah-
secara historis di masa pra kolonial masalah yang dihadapi pemerintah
merupakan nation yang independen pusat, pusat belum mampu
juga ikut dimasukan dalam peta memberikan orang yang tepat untuk
nasional. Namun hal ini bukan tanpa menjalankan administrasi di provinsi,
alasan, kesadaran tentang dan provinsi belum diberikan
tumbuhnya suatu nation dan kewenangan untuk memungut pajak
perjuangan untuk mewujudkan di wilayahnya (Kahin, 1969: 466).
nation yang disebut Indonesia juga Ironisnya, di era Orde Baru ketika
melibatkan putra-putri Maluku Utara, administrasi provinsi telah berjalan,
termasuk perjuangan bersenjata di penarikan pajak dilakukan provinsi,
samping perjuangan politik (Amal sumber daya manusia pengelola
dan Andili, 2003: 126-127). pemerintahan cukup banyak, tapi
Keinginan Sultan Ternate, desentralisasi dan otonomi tidak
Jabir Syah yang kala ikut aktif di NIT, diberikan. Dorojatun Kuntjara Jakti
agar negara Indonesia berbentuk mengemukakan bahwa pada masa
federal ternyata tidak mendapatkan awal pemerintahannya penguasa
sambutan baik di pusat (Djafaar, ORBA melihat desentralisasi dan
2005). Padahal, menurut Kahin otonomi adalah sesuatu yang
bahwa untuk negara sebesar dan dibutuhkan, namun “…berpotensi
begitu bervariasinya seperti untuk melahirkan instabilitas
Indonesia bentuk administrasi pemerintahan, atau bahkan dapat
pemerintahan yang federal justru memicu munculnya kembali gerakan
yang lebih baik (1997: 17). Tidak ada kedaerahan” (Hidayat, 2005: 123-
pilihan lain, Ternate dan Maluku 124).
Utara harus masuk ke NKRI dan Sikap pemerintah pusat
melupakan ide federasi. tersebut semakin membiarkan
Setelah Ternate dan Ternate terpinggirkan karena selain
kesultanannya masuk ke NKRI, terpinggir dari Ambon karena jarak
kebijakan Sukarno dan kemudian dan rentang kendali pemerintahan
Suharto yang sentralistik telah yang jauh, juga terpinggirkan dari
menutup peluang bagi Ternate dan pemerintah pusat karena tidak
kesultanannya untuk mengelola adanya praktik otonomi di daerah.
pemerintahan sendiri yang otonom Selain itu, juga ada beban historis
dalam naungan NKRI. Padahal, bagi orang-orang Ternate karena
sebenarnya di pertengahan 1951 harus menerima kenyataan bahwa
desentralisasi administrasi telah

Safrudin Amin – Tergerusnya Kesultanan Ternate: … 52


Jurnal ETNOHISTORI, Vol. II, No. 1, April 2015

bekas “bawahan” sekarang menjadi juga orang Ambon terpelajar yang


“pimpinan” dan mengontrol mereka. pro Belanda atau paling tidak pro-
Ambon Sebagai Provinsi Maluku federal).
Sementara tokoh-tokoh
Pada akhir Agustus 1950
Maluku Utara, walaupun tidak
negara kesatuan RI dibagi atas 10
ketinggalan dalam gerakan
propinsi (belum termasuk Irian Jaya),
nasionalisme dengan berbagai
di antaranya terdapat provinsi
aktivitas politik mereka namun lebih
Maluku, dan ibukota provinsi
banyak berkutat di daerah. Sultan
ditempatkan di Ambon, dan sebagai
Jabir Syah sendiri hanya masuk
Gubernur Maluku pertama ditunjuk
dalam jajaran utama pemerintahan
Mr. Latuharhary, seorang putra
Negara Indonesia Timur (NIT),
Ambon yang pernah studi di
sebelum kemudian menjadi staf di
Belanda. Mengapa provinsi harus di
kementerian dalam negeri dalam
Ambon dan mengapa gubernur
masa pemerintahan NKRI (Djafaar,
harus orang Ambon adalah
2005: 156). Satu-satunya tokoh
pertanyaan yang muncul di benak
Maluku Utara yang sempat masuk
para tokoh nasionalis di Ternate.
dalam pentas gerakan politik
Akibat pendidikan yang
berskala nasional saat itu adalah
dijalankan Portugis kemudian
Arnold Mononutu. Sebelum
dilanjutkan secara sangat agresif
terbentuk Negara Kesatuan RI, pada
oleh Belanda terutama kepada
Desember 1949, kabinet pertama
kalangan Kristen Ambon (Chauvel,
dibentuk Hatta yang di dalamnya
1990: 25-38) maka jauh sebelum,
terdapat Johannes Leimena, seorang
selama gerakan kemerdekaan, dan
Ambon yang pro RI, dan Arnold
periode setelah kemerdekaan orang-
Mononutu dari Ternate yang juga pro
orang Ambon umumnya merupakan
RI, namun berasal dari NIT yang
suatu komunitas dengan jumlah
federalis (Kahin, 1969: 448-49).
kaum terpelajar yang cukup banyak.
Dengan keunggulan
Banyak di antara mereka belajar di
pendidikan, maka wakil Maluku di
negeri Belanda, berinteraksi intensif
Voksraad biasanya dipilih dari
dengan Perhimpunan Indonesia (PI)
Ambon Raad. Dalam pandangan
di Belanda sekaligus menyerap ide-
Leirissa, ini adalah suatu ketentuan
ide nasionalisme Indonesia. Hal ini
yang pincang karena Ambon tidak
sekaligus membentuk jaringan
identik dengan Maluku, Ambon
gerakan nasional mereka ketika
hanya sebagian kecil dari Maluku.
kembali ke tanah air. Inilah yang
Menurutnya, “keunggulan ini
memungkinkan banyak kaum
disebabkan pada waktu itu golongan
terpelajar Ambon bergaul secara
intelektual Maluku kebanyakan
intensif dengan tokoh pergerakan
berasal dari kepulauan Ambon dan
ketika kembali ke tanah air dan
Lease (1975: 80). Pada Konferensi
bahu-membahu dalam gerakan
Meja Bundar (KMB) di the Hague,
nasional (walaupun terdapat banyak

Safrudin Amin – Tergerusnya Kesultanan Ternate: … 53


Jurnal ETNOHISTORI, Vol. II, No. 1, April 2015

terdapat dua orang Ambon yaitu mengakui kebijakan kolonial dengan


Pupella dan Pellaupessy (Chauvel, menjadikan Ambon sebagai pusat,
1990: 297). Kemudian, setelah bukannya mengembalikan kepada
terbentuknya negara kesatuan RI, Ternate sebagai pemilik sah
terbentuk kabinet pertama masa kepulauan Ambon.
NKRI di bawah Muhammad Natsir
Provinsi Sendiri: Adakah Ruang bagi
dari Masyumi. Kabinet Natsir
Kesultanan?
terbentuk 6 September 1950 dimana
terdapat dua orang Ambon yaitu Dr. Ketidakpuasan muncul
Johannes Leimena (menteri dimana-mana. Sangat mungkin
Kesehatan) dan M.A.Pellaupessy karena pertimbangan di atas maka
(Menteri Informasi) (Kahin, 1969: sejak Ambon menjadi ibukota
468). Provinsi Maluku, aspirasi untuk
Tingkat pendidikan tinggi, menjadikan Maluku Utara sebagai
pergaulan dan intensitas keterlibatan provinsi tersendiri terpisah dari
pada gerakan nasional, tidak Ambon terus muncul. Ketika Bung
mustahil menjadi pertimbangan Hatta berkunjung ke Maluku Utara
pemerintah untuk mempercayakan tahun 1950, aspirasi itu disampaikan
wilayah Maluku dipimpin oleh orang ke Hatta, dan beliau menyetujuinya
Ambon dan berkedudukan di dengan mengatakan “justru Maluku
Ambon. Pengukuhan Ambon harus dijadikan dua provinsi” (Amal
sebagai ibukota provinsi Maluku, dan Djafaar, 2003: 324). Sayangnya,
dan bukan Ternate, tampak bagi hampir setengah abad kemudian,
masyarakat Maluku Utara adalah janji itu tidak pernah terpenuhi.
suatu kelanjutan dari praktik kolonial Ketidakpuasan terus
yang terus mereduksi kedaulatan berkembang menjadi perjuangan
dan meminggirkan Ternate. Sejak yang lebih keras sehingga beberapa
Portugis terusir dari Maluku Utara aktivisnya harus ditangkap dan
dan bertahan membangun pusat dikirim ke penjara di
ekonomi dan politik di Ambon dan Nusakambangan. Puluhan
kemudian dilanjutkan Belanda diantaranya ditahan di Ambon dan
sampai menjelang memasuki Ternate tanpa proses hukum. Pada
periode kemerdekaan. Dan, kini masa pemberontakan Permesta
pemerintah NKRI melanjutkan 1959, beberapa orang membonceng
peminggiran tersebut. Ini adalah pada gerakan tersebut dan
suatu ironi dimana Ambon pernah memobilisasi rakyat untuk menuntut
berada di bawah kekuasaan Daerah Tingkat I Maluku Utara.
Kesultanan Ternate, namun Mereka kemudian dipenjara, namun
kemudian direbut oleh penguasa akhirnya mendapat abolisi dari
kolonial dan menjadi pusat kekuatan Presiden Sukarno. Setelah itu,
kolonial. Setelah kemerdekaan delegasi-demi delegasi dikirim ke
dicapai pemerintah pusat justru Jakarta untuk tujuan yang sama.

Safrudin Amin – Tergerusnya Kesultanan Ternate: … 54


Jurnal ETNOHISTORI, Vol. II, No. 1, April 2015

Pada masa pemerintahan politik belum pupus dan berbagai


Suharto, sistem politik yang ketat aktivitas dan strategi politik terus
saat itu tidak membuka peluang dibangun oleh pihak kesultanan,
untuk perjuangan tersebut. Ketika namun dengan wafatnya Sultan
angin reformasi bertiup dan Mudaffar Syah tahun ini, harapan
melahirkan tuntutan otonomi daerah akan kebangkitan kesultanan untuk
dan bahkan ada juga wacana meraih kekuasaan politik formal di
federasi, seluruh komponen masa kini dan masa depan
masyarakat Maluku Utara, termasuk tampaknya akan semakin suram.
kalangan kesultanan, menyambutnya
dengan penuh harapan bahwa
Maluku Utara akan menjadi suatu Daftar Pustaka
provinsi sendiri. Pada masa
pemerintahan Presiden B.J. Habibie, Amal, M. Adnan dan Irza Arnyta
“seorang putra Guruntalo yang Djafaar. 2003. Maluku Utara:
memahami nurani rakyat Maluku Perjalanan Sejarah 1800-1950
Utara”, menyetujui UU no.46 tahun (Jilid 2). Ternate: Universitas
1999, dan sejak 14 Oktober 1999 Khairun.
Maluku Utara resmi menjadi salah Amal, M. Adnan dan Syamsir Andili.
satu provinsi di Indonesia (Amal dan 2003. “Ternate dalam
Andili, 2003: 132-135). Perspektif Sejarah” dalam
Jika Maluku Utara, lewat Fachri Ammari dan J.W.
perjuangan yang panjang semua Siokona (ed), Ternate. Ternate:
pihak termasuk pihak kesultanan Pemerintah Kota Ternate.
akhirnya mendapatkan status
provinsi dengan nama Provinsi Anderson, Benedict, 1991, “Census,
Maluku Utara, tidak demikian Maps, Museum” dalam
dengan Kesultanan Ternate. Pihak Imagined Communities:
kesultanan yang mencoba Reflections on the Origin and
memanfaatkan perkembangan Spread of Nationalism.
demokratisasi dan otonomi daerah London: Verso.
pasca reformasi untuk kembali ke Chauvel, Richard, 1990, Nationalists,
panggung politik ternyata harus Soldiers and Separatists.
menelan pil pahit. Beberapa kali Leiden: KITLV.
upaya untuk merebut posisi sebagai
Gubernur Maluku Utara ternyata Christie, Clive J, 1996, A Modern
gagal (Klinken, 2007). Demikian pula History of Souteast Asia:
dengan permaisuri kesultanan yang Decolonization, Nationalism
mencoba merebut kursi Walikota and Separatism. London: I.B.
Ternate juga gagal (Smith, 2009: Taurus Publishers.
303-326). Walaupun keinginan untuk Djafaar, Irza Arnyta, 2005, Dari
kembali ke panggung kekuasaan Moloku Kie Raha Hingga

Safrudin Amin – Tergerusnya Kesultanan Ternate: … 55


Jurnal ETNOHISTORI, Vol. II, No. 1, April 2015

Negara Federal. Yogyakarta: Priyambudi Sulistiyanto (ed),


Bio Pustaka. Deepening Democracy in
Indonesia?: Direct Elections
Hidayat, Syarif, 2005, “Desentralisasi
for Local Leaders (Pilkada).
dan Otonomi Daerah Masa
Singapore: Institute of South
Orde Baru (1966-1998)”,
East Asian Studies.
dalam Anhar Gonggong (ed),
Pasang Surut Otonomi Surjo, Djoko, dkk, 2001, “Bulan Sabit
Daerah: Sketsa Perjalanan 100 di Bawah Rerimbunan
Tahun. Jakarta: Institute for Cengkeh” dalam Agama dan
Local Development dan Perubahan Sosial. Yogyakarta:
Yayasan Tifa. LKPSM.
Kahin, George McT, 1969, Van Fraassen, CH.F, 1994, “Leonard
Nationalism and Revolution in Andaya, The World of Maluku:
Indonesia. Itacha and London: Eastern Indonesia in the Early
Cornell University Press. Modern Period” (Book
Review), Bijdragen, Deel 150,
Kahin, George McT, 1997, “Some
2e Aflevering, hal: 423-426.
Recollections From And
Reflections on the Indonesian
Revolution”, dalam Taufik
Abdullah (ed), The Heartbeat
of Indonesian Revolution.
Jakarta: Gramedia dan LIPI.
Klinken, Gerry van, 2007, Perang
Kota Kecil. Jakarta: Obor-
KITLV.
Leirissa, R.Z, 1975, Maluku dalam
Perjuangan Nasional
Indonesia. Jakarta: Fak. Sastra
UI.
Reid, Anthony, 1967, “Nineteenth
Century Pan-Islam in
Indonesia and Malaysia”,
Journal of Asian Studies 26
(2): 267-283.
Smith, Claire Q, 2009, “The Return of
the Sultan? Patronage, Power,
and Political Machines in
“Post”-Conflict North Maluku”,
dalam Maribeth Erb dan

Safrudin Amin – Tergerusnya Kesultanan Ternate: … 56

Anda mungkin juga menyukai