0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
72 tayangan3 halaman

Impian Dalam Angan

Dokumen ini menceritakan kisah seorang gadis bernama Cira yang berjuang hidup setelah ayahnya tidak lagi mendukung ekonomi keluarga. Cira berusaha kuliah meskipun tidak mampu secara finansial dan harus berjualan untuk membantu ibu.

Diunggah oleh

Nur Harisah
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
72 tayangan3 halaman

Impian Dalam Angan

Dokumen ini menceritakan kisah seorang gadis bernama Cira yang berjuang hidup setelah ayahnya tidak lagi mendukung ekonomi keluarga. Cira berusaha kuliah meskipun tidak mampu secara finansial dan harus berjualan untuk membantu ibu.

Diunggah oleh

Nur Harisah
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

“Impian dalam angan”

(by : nur harisah part 2)

Jalan hidup manusia tak selamanya lurus, Lika-liku yang berbeda pasti mewarnai
kehidupan setiap hari, Badai itu pasti akan ada, Untuk itu manusia hanya bisa berencana,
Namun tuhan yang menentukan.

Masih ingatkah kalian dengan Cira?, Ya..., Ini aku, Cira, Ini adalah kelanjutan
kisahku, Kisah dimana sebuah penentuan di antara dua pilihan, Dimana keduanya sangat sulit
untuk dilepaskan karena suatu keadaan.

Matahari pagi menyambutku dengan cahayanya yang menyirat dan menembus ke


jendela kamarku, pagi ini kusambut dengan senyuman pertama ke ibuku saat akan berangkat
kekamar mandi, setelah selesai mandi dan berberes kamar tidur, aku segera menuruni anak
tangga dan menikmati sarapan yang sudah disiapkan ibuku pagi tadi, “Bu, Hari ini disekolah
cira akan ada pengarahan dari kepala sekolah, Soalnya mau bahas siapa aja yang pengen
lanjut kuliah”. Ujarku. “Mmm, Bu....” Kataku dengan gantung, rasanya ingin sekali ku
katakan, tetapi aku sadar dengan keadaanku sekarang, jika aku mengatakan ingin kuliah,
sudah pasti ibu akan bersedih mendengarnya, karena keterbatasan biaya.

Aku sangat takut dengan perkataanku, akan melukai perasaan ibu, dan pada akhirnya
aku hanya diam, dan menarik kembali ucapanku. “Kenapa Cira?, Cira mau ngomong apa
sama ibu kok engga jadi?” Tanya ibuku dengan nada penasaran. “Hehe engga kok bu”
Jawabku dengan gugup. “Kamu pasti pengen kuliah kan Cira?, Ibu sudah tau, Tapi, mau
gimana lagi nak, Kita yang sekarang bukanlah kita yang dulu, dulu kamu minta ini itu sudah
pasti ayah dan ibu kasih, tapi sekarang, apa-apa harus nabung dulu, iya kan, Sabar ya nak, Ibu
berjuang untuk kamu, Kita berjuang sama-sama ya, maaf ya nak, Ibu engga bisa nguliahin
kamu”. Ujar ibu. “Ibu jangan ngomong kaya gitu, Cira sekarang masih bisa lihat ibu senyum,
Itu sudah lebih cukup untuk Cira, Kita masih bisa makan setiap hari, itu juga sudah lebih dari
cukup bu, terima kasih ya bu” Ucapku dengan senyum.

Setelah menghabiskan sarapanku, Aku bergegas menuju kesekolah, Aku menuju


kesekolahku tepat pada jam 6, Menyusuri setiap jalan, Dengan berjalan kaki, Namun aku
senang, Karena aku masih bisa sekolah, Meskipun aku tau bahwa keterbatasan biaya, Namun,
Itu sama sekali tidak menghalangiku untuk menggapai masa depan, Karena aku tau, Orang
yang bisa mendapatkan apa yang ia mau, adalah orang yang mau berjuang dan terus
berusaha.

Jam pelajaran pagi ini, Akan diganti dengan Pengarahan dari kepala sekolah, Seluruh
siswa kelas dua belas sudah menempati aula sekolah.

“Cira, Kira-kira kamu besok kuliah ga?”. Tanya Widya. “Mmm, Aku sebenernya
pengen kuliah Wid, Tapi, Ibuku nggak ada biaya, Ayahku pun udah nggak ngebiayaain aku,
jadi kayanya aku engga kuliah deh Wid”. Ujarku. “Mm Cira, kamu yang sabar ya, Aku yakin
kamu pasti bisa sukses besok, Semangat yaa”. Ucap Widya. “Makasi ya Wid”. Jawabku.
“Sama-sama Ra”. Sahut Widya.

“Anak-anak, Untuk seluruhnya saja, Yang ingin mendaftar di perguruan tinggi negeri,
Bisa tetap di ruangan, Dan untuk yang lain, Dipersilakan meninggalkan Aula.

Aku berpikir sejenak, Bagaimana jika aku mendaftarkan diri, namun aku selalu
mengingat perkataan ibuku dirumah, Ibu tidak akan mampu membiayaiku kuliah, Sedangkan
kuliah membutuhkan biaya dengan nominal yang tidak sedikit.

“Widya, aku keluar dulu yaa, Semoga dapet hasil yang memuaskan, semangat Wid”.
Ujarku. Akhirnya Sekolah hari ini telah selesai, Seperti biasa aku mulai berkeliling Alun-
Alun dan Balai kota untuk menjajakan Roti jualanku.

“Buk, rotinya?” Tawarku. “Ada roti apa aja dek?” Tanya seorang ibu-ibu. “Silahkan
bu dilihat dulu, kebetulan hari ini Jualan saya sepi , Jadi ini masih banyak dan masih lengkap
varian rasanya”. Ujarku. “Mmm dek, Dagangan kamu saya beli semua ya, Semua yang ada
dikeranjang ini, kamu masukin ke mobil saya sekarang, Kamu total semua ya harganya dan
hitung berapa roti yang ada dikeranjang ini”. Ujar Ibu-ibu. “Bu, Ibu serius mau beli semua
dagangan saya?” Tanyaku dengan Terkejut. “Iya nak, Ibu sudah sering lihat kamu berjualan
disini, Tiap ibu kesini, Pasti kamu berjualan keliling panas-panasan dibalai kota” Jawab ibu-
ibu tadi. “Bu, Terima kasih banyak ya, berkat ibu dagangan saya habis”. Aku berkata dengan
sedikit terharu. “Sama-sama nak, Ngomong-ngomong kamu sekarang kelas berapa?” Tanya
Ibu tersebut. “Saya sekarang kelas 3 SMA bu” Jawabku. “Wah sebentar lagi mau lulus ya,
Rencana kamu pengen kuliah dimana?” Tanya ibu tersebut dengan penasaran, namun, aku
terdiam sejenak, menjawab pertanyaan itu rasanya ingin menangis, namun, aku harus tetap
terlihat baik-baik saja didepan orang-orang.

“Mmm, saya engga kuliah bu, Saya ingin bekerja saja buat bantu ibu” Jawabku
sedikit terbata-bata karena rasanya ingin menangis namun sedikit kutahan. “Kamu yang sabar
ya nak, Kamu anak yang hebat, Banggain ibu kamu ya, jangan sampai buat kecewa ibu kamu,
Mau jadi apapun kamu nantinya, semua tak lepas dari usaha kamu dan yang terpenting itu
do'a ibumu, ingat selalu ya nak”. Ujar Ibu tersebut.

“Bu, terima kasih ya atas nasehatnya, semoga ibu sehat selalu, ibu orang baik, Saya
engga bisa bales apa-apa selain do'ain ibu” Kataku dengan tersenyum. “ Sama-sama nak,
sekarang dagangan kamu sudah habis, Pulang ya, Panas sekali disini, kasian kamu kalau
disini lama-lama” Sahut ibu tersebut dengan rasa iba. “Iya bu, saya pulang setelah ini, terima
kasih ya bu, semoga kebaikan ibu dibalas Allah” Ujarku. “Aamiin, sama-sama nak” Sahut
Ibu tersebut.

Hari ini adalah hari yang begitu mengesankan, Banyak sekali pelajaran yang dapat
kuambil, mulai dari bangun tidur, berangkat sekolah, sampai sehabis pulang jualan. Aku
sangat bersyukur karena masih diberi rezeki oleh Allah yang cukup, meskipun tidak seperti
aku yang dulu, setidaknya ini sudah lebih dari apa yang aku mau, aku masih bisa makan
dengan layak dan masih diberi kekuatan untuk berjuang sampai dititik ini.

Pyaaaaaarrrrrrr........

Suara itu kembali terdengar, Sepertinya telingaku sudah dipenuhi dengan suara
pecahan gelas kaca, piring kaca, dan semuanya, Kepalaku begitu berisik, namun mulutku
selalu terkunci, Jam dinding menunjukkan pukul 9 malam, Entahlah, Aku terkadang begitu
lelah mendengar semua ini, Aku berjalan menuju teras, duduk dibawah pohon yang rindang
dimalam hari, Memandangi langit dan bintang-bintang yang gemerlap, Namun, ingatanku
selalu teringat, Bagaimana nasibku saat ini, Memori ingatanku selalu teringat kejadian 6
tahun yang lalu, saat dimana aku masih belum begitu paham apa itu pertikaian, dan sampai
sekarang, memori itu tidak akan pernah lupa, ingatanku akan terus mengingat kejadian itu,
kejadian yang membuatku trauma, kejadian yang membuatku menutup diri sampai sekarang,
aku memendam semuanya sendirian, terkadang aku benci dengan orang yang membuatku
menambah pikiran dengan kata katanya, aku juga sangat membenci harus menangis
sepanjang malam dan besoknya aku harus kembali sekolah dengan berperan menjadi orang
yang bahagia.

Tak sedikit orang terkadang menyinggung perasaanku, entah sengaja ataupun tidak,
aku selalu meyakinkan diriku, bahwa mungkin orang lain tidak tahu, apa yang kita alami
selama ini, aku mencoba menyemangati diriku sendiri, ketika orang lain berbicara yang tidak
semestinya aku seperti itu. Aku ingin merasakan bahagia seperti orang lain, namun, hidup itu
memang tak selamanya bahagia, adakalanya kita sedih lalu kita kembali bangkit, kuyakinkan
diriku, bahwa semua akan baik-baik saja, kalau kita selalu percaya bahwa kita bisa melewati
semuanya.

Anda mungkin juga menyukai