0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
355 tayangan128 halaman

Karakteristik Reservoir Formasi Talangakar

Penelitian ini menganalisis karakteristik reservoar dan perhitungan cadangan Formasi Talangakar Bawah di Lapangan Triumph dengan menggunakan data log sumur, mudlog, dan laporan sumur akhir. Tujuannya adalah mengetahui litologi, lingkungan pengendapan, dan properti petrofisika serta estimasi cadangan gas lapisan "TRMPH". Analisis dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif dengan persamaan-persamaan petrofisika. Hasilny

Diunggah oleh

Anggoro Adhika
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
355 tayangan128 halaman

Karakteristik Reservoir Formasi Talangakar

Penelitian ini menganalisis karakteristik reservoar dan perhitungan cadangan Formasi Talangakar Bawah di Lapangan Triumph dengan menggunakan data log sumur, mudlog, dan laporan sumur akhir. Tujuannya adalah mengetahui litologi, lingkungan pengendapan, dan properti petrofisika serta estimasi cadangan gas lapisan "TRMPH". Analisis dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif dengan persamaan-persamaan petrofisika. Hasilny

Diunggah oleh

Anggoro Adhika
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENENTUAN KARAKTERISTIK RESERVOAR DENGAN

METODE PETROFISIKA DAN PERHITUNGAN CADANGAN


LAPISAN “TRMPH” FORMASI TALANGAKAR BAWAH,
LAPANGAN TRIUMPH, BLOK JABUNG, CEKUNGAN
SUMATERA SELATAN

SKRIPSI

Oleh :
ANGGORO ADHIKA S.
NIM. 111.140.011

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
YOGYAKARTA
2018
iii
HALAMAN PERSEMBAHAN

Laporan Tugas Akhir ini saya persembahkan khusus untuk:

Keluarga tersayang, Teman-teman dan Dambaan hati

“Dibalik kesuksesan orang, ada orang-orang hebat dibelakangnya”

iv
HALAMAN UCAPAN TERIMA KASIH

Assalamualaikum Wr. Wb.


Alhamdulillah, puji serta syukur penulis panjatkan kepada kehadirat Allah SWT,
karena atas rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan skripsi ini yang
merupakan salah satu rangkaian untuk melaksanaan Tugas Akhir dengan lancar dan sesuai
tujuan dari kurikulum Teknik Geologi.
Dalam skripsi ini, penulis mengambil judul “Penentuan Karakteristik
Reservoar dengan Metode Petrofisika dan Perhitungan Cadangan Lapisan
“TRMPH” Talangakar Bawah, Lapangan TRIUMPH, Blok Jabung, Cekungan
Sumatera Selatan”.
Ucapan terima kasih tercurahkan dari penulis kepada :

1. Allah S.W.T atas berkat dan rahmat-Nya penulis diberi kesehatan, kekuatan dan
ketabahan dalam menyelesaikan tugas akhir ini.
2. PT. Petrocina Internasional Jabung Ltd untuk kesempatan dan fasilitas yang
diberikan selama pengerjaan tugas akhir.
3. Ir. H. Dwi Fitri Yudiantoro, M.T., selaku Ketua Jurusan Teknik Geologi,
Fakultas Teknologi Mineral, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”
Yogyakarta yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian tugas akhir di
PT. Petrocina Internasional Jabung Ltd.
4. Ir. Sugeng Widada, M.Sc selaku dosen pembimbing 1 dan Ir. Firdaus Maskuri, M.T,
selaku dosen pembimbing 2 skripsi yang selalu meluangkan waktunya untuk
membimbing penulis menyelesaikan tugas akhir ini.
5. Ir. Fauzy Ahmad Mayanullah yang telah memberikan kesempatan penulis
melakukan penelitian di PT. Petrocina Internasional Jabung Ltd.
6. Ir. Henri Heru Prasetijo M.T. dan I Gusti Agung Aditya Surya Wibawa S.T. selaku
pembimbing 1 dan pembimbing 2 di PT. Petrocina Internasional Jabung Ltd, yang
selalu meluangkan waktu dikesibukannya untuk membimbing, meberikan
pengetahuan, dukungan, dan motivasinya kepada penulis dengan sabar saat
melakukan penelitian di PT.Petrocina Internasional Jabung Ltd, semoga mereka
dan keluarga diberikan imblan oleh Allah SWT.

v
7. Teh Lia, Mba Fifi, Mba Bella, Mas Iqbal, Kang Berry, Mas Rifky, Pak Yusa, Mba
Gege yang membantu ban memberikan saran serta masukan penulis dalam
melakukan penelitian selaku pegawai PT.Petrocina Internasional Jabung Ltd.
8. Selaku mama yang sangat hebat, Suyanti, dan Karina Sarasati dan Hendra
Wirasetyo selaku kakak tersayang, dan Kiandra Nailazahra Arakdewi selaku
keponakan tersayang, mereka yang selalu tiada hentinya memberikan dukungan
moril maupun materil serta doa yang tiada hentinya. Dan tak lupa Bambang
Suwarto selaku papa yang selalu memberikan doa-doanya.
9. Dimitri Ismanda, Dwirizky (Jong), Marsya Alifiana, Nisrina, Rizal Nurmaulana,
Hadis, Rifian, Winona Rinanda, Hafidz, Fauzan, Dimas, Ina, selaku partner
penelitian di PT.Petrocina Internasional Jabung Ltd.
10. Venna Monica Rusli yang selalu berjuang bersama hingga Tugas Akhir, dengan
memberikan motivasi, tepat bertukar cerita (sharing) dan orang yang selalu
mendukung disetiap langkah yang penulis ambil.
11. Pangea 2014 yang sudah berjuang bersama sampai titik akhir dengan berbagai
macam lika-liku dunia perkuliahan.
12. Sahabat-sahabat KBM dan AMAAG yang selalu memberikan dukungan dan
masukan, selain memberikan kehangatan canda dan tawa.
13. Keluarga Green Garden Residence yang memberikan kehangatan layaknya
keluarga dan motivasi dan dukungannya yang diberikan.
14. Saudara CYBER yang memberikan banyak wawasan serta dorongan moril dalam
melaksanakan tugas akhir.

Laporan ini disusun berdasarkan pada beberapa referensi yang sudah ada dan
digunakan sebagai syarat presentasi Tugas Akhir. Penulis menyadari bahwa laporan ini
jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis dengan senang hati menerima kritik dan saran
unuk perbaikan maupun penyempurnaan laporan ini, semoga laporan ini dapat bermanfaat
bagi semua pihak khusus nya bagi saya agar dapat mendapatkan ilmu yang baik dan benar.

Yogyakarta, 20 Desember 2018


Penulis,

Anggoro Adhika S

vi
SARI

Lokasi penelitian terletak di salah satu lapangan eksplorasi PT. Petrocina


Internasional Jabung Ltd yang berlokasi di Kabupaten Tanjung Jabung Barat,
Provinsi Jambi Sumatera Selatan. Lapangan TRIUMPH merupakan salah satu
lapangan penghasil gas pada Sub Cekungan Jambi, Cekungan Sumatera Selatan.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan data yang dimiliki oleh
PT.Petrocina Internasional Jabung Ltd, meliputi data log sumur, mudlog, dan final
well report. Data log yang digunakan berasal dari 5 sumur pemboran yang berada di
Lapangan TRIUMPH. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui litologi
penyusun, lingkungan pengendapan, dan gambaran bawah permukaan Formasi
Talangakar Bawah dengan analisis kualitatif, serta mengetahui karakteristik
reservoar, dan estimasi nilai cadangan hidrokarbon lapisan “TRMPH” dengan
analisis kuantitatif yang kedua analisis tersebut diintergrasikan dengan data
pendukung seperti mudlog, final report dan hasil analisis peta bawah permukaan
pada Lapangan TRIUMPH.
Berdasarkan analisis kualitatif Formasi Talangakar Bawah pada daerah
telitian tersusun dari litologi batupasir konglomeratan, batupasir halus-sedang, dan
batupasir perselingan batulempung. Formasi Talangakar pada derah telitian
terendapkan pada lingkungan transisi, sub-lingkungan fluvial-delta plain, dan terdiri
dari asosiasi fasies distributary channel, fluvial pointbar, crevasse splay (istilah
mengacu pada Allen dan Chambers,1998). Dimana terendapkan pada kala Oligosen
Akhir-Miosen Awal.
Berdasarkan hasil analisis kuantitatif, dimana perhitungan petrofisika
menggunakan persamaan linier untuk volume serpih, persamaan densitas-neutron untuk
porositas, persamaan willy and rose untuk permeabilitas, dan persamaan simandoux untuk
saturasi air didapatkan nilai properti petrofisika lapisan “TRMPH” memiliki cut-off Vsh
= 0.5, Sw = 0.65, ∅eff = 0.10.
Perhitungan volumetrik cadangan gas dengan persamaan Gas Initial In Place
(GIIP) diperoleh nilai estimasi cadangan gas pada lapisan “TRMPH” sebesar 4545.7
SCF atau 4.5457 MSCF

Kata Kunci :Petrofisika, Cadangan, Formasi Talangakar, Cekungan Sumatera


Selatan
.

vii
DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN ......................................................................... Error! Bookmark not defined.


HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................................................................. iii
HALAMAN UCAPAN TERIMA KASIH ................................................................................................. v
SARI............................................................................................................................................................. vii
DAFTAR ISI .............................................................................................................................................. viii
DAFTAR GAMBAR ................................................................................................................................... xi
DAFTAR TABEL ....................................................................................................................................... xii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang .......................................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................................................... 2
1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian ................................................................................................... 3
1.4 Lokasi dan Waktu Penelitian ..................................................................................................... 3
1.5 Pengumpulan Data dan Hasil Penelitian .................................................................................... 6
1.6 Manfaat Penelitian..................................................................................................................... 7
BAB II METODELOGI DAN DASAR TEORI ...................................................................................... 8
2.1 Tahap Pendahuluan ................................................................................................................... 8
2.1.1 Studi Pustaka dan Studi Regional........................................................................................ 8
2.1.2 Pengumpulan Data............................................................................................................... 8
2.2 Tahap Analisa Penelitian ............................................................................................................ 9
2.3 Tahap Penyelesaian ................................................................................................................. 10
2.4 Bagan Alir Penelitian .............................................................................................................. 10
2.5 Dasar Teori.............................................................................................................................. 11
2.5.1 Wireline Log ..................................................................................................................... 11
2.5.1.1 Jenis-jenis Well Logging ............................................................................................ 12
2.5.2 Mudlog ............................................................................................................................. 21
2.5.3 Konsep Korelasi Horizon berdasarkan Well Log ............................................................... 22
2.5.3.1 Korelasi Litostratigrafi ............................................................................................... 22
2.5.3.2 Korelasi Biostratigrafi ................................................................................................ 22
2.5.3.3 Korelasi Kronostratigrafi............................................................................................ 23
2.5.4 Konsep Dasar Stratigrafi Sikuen ....................................................................................... 23
2.5.4.1 Stacking Pattern......................................................................................................... 23
2.5.4.2 System Tract .............................................................................................................. 24
2.5.4.3 Batas Sikuen Stratigrafi.............................................................................................. 26
2.5.5 Penentuan Lingkungan Pengendapan berdasarkan Well Log.............................................. 26
2.5.6 Analisa Lingkungan Pengendapan .................................................................................... 29
2.5.7 Persiapan Data & Quality Control Data ............................................................................ 29
2.5.8 Properti Petrofisika ........................................................................................................... 32

viii
2.5.9 Proses Lumping ................................................................................................................ 39
2.5.10 Peta Bawah Permukaan ................................................................................................... 40
2.5.11 Perhitungan Cadangan .................................................................................................... 40
BAB III PENYAJIAN DATA................................................................................................................... 42
3.1 Lokasi Sumur .......................................................................................................................... 42
3.2 Data Wireline Log ................................................................................................................... 43
3.3 Data Mudlog ........................................................................................................................... 43
3.4 Data Pendukung Lainnya ......................................................................................................... 44
BAB IV TINJAUAN PUSTAKA .............................................................................................................. 45
4.1 Geologi Regional Daerah Penelitian ........................................................................................ 45
4.1.1 Kerangka Tektonik Regional ............................................................................................ 46
4.1.2 Stratigrafi Cekungan Sumatera Selatan ............................................................................. 49
4.2 Geologi Daerah Penelitian ....................................................................................................... 52
4.2.1 Struktur Geologi Daerah Penelitian ................................................................................... 52
4.2.2 Statigrafi Daerah Penelitian .............................................................................................. 53
4.2.3 Zona Target ...................................................................................................................... 54
4.3 Sistem Perminyakan Daerah Telitian ....................................................................................... 56
BAB V HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN ................................................................................ 58
5.1 Analisis Kualitatif ................................................................................................................... 58
5.1.1 Sumur TU-2 ..................................................................................................................... 58
5.1.1.1 Interpretasi Litologi dan Litofasies ............................................................................. 58
5.1.1.2 Interpretasi Fasies dan Lingkungan Pengendapan ....................................................... 60
5.1.1.3 Interpretasi Zona Reservoar dan Kandungan Fluida ................................................... 61
5.1.2 Sumur TU-1 ..................................................................................................................... 62
5.1.1.1 Interpretasi Litologi dan Litofasies ............................................................................. 62
5.1.1.2 Interpretasi Fasies dan Lingkungan Pengendapan ....................................................... 64
5.1.2.3 Zona Reservoar dan Kandungan Fluida ...................................................................... 65
5.1.3 Sumur T-3 ........................................................................................................................ 66
5.1.3.1 Interpretasi Litologi dan Litofasies ............................................................................. 66
5.1.3.2 Interpretasi Fasies dan Lingkungan Pengendapan ....................................................... 68
5.1.3.3 Zona Reservoar dan Kandungan Fluida ...................................................................... 69
5.1.4 Sumur T-1 ........................................................................................................................ 70
5.1.4.1 Interpretasi Litologi dan Litofasies ............................................................................. 70
5.1.4.2 Interpretasi Fasies dan Lingkungan Pengendapan ....................................................... 71
5.1.4.3 Zona Reservoar dan Kandungan Fluida ...................................................................... 72
5.1.5 Sumur T-2 ........................................................................................................................ 73
5.1.5.1 Interpretasi Litologi dan Litofasies ............................................................................. 73
5.1.5.2 Interpretasi Fasies dan Lingkungan Pengendapan ....................................................... 74
5.1.5.3 Zona Reservoar dan Kandungan Fluida ...................................................................... 75

ix
5.2 Analisis Kuantitatif.................................................................................................................. 76
5.2.1 Analisis Petrofisika ........................................................................................................... 76
5.2.1.1 Pra-Kalkulasi ............................................................................................................. 77
5.2.1.2 Identifikasi Bad Hole ................................................................................................. 78
5.2.1.3 Koreksi Lingkungan................................................................................................... 79
5.2.1.4 Volume Serpih ........................................................................................................... 81
5.2.1.5 Porositas .................................................................................................................... 82
5.2.1.6 Permeabilitas ............................................................................................................. 85
5.2.1.7 Saturasi Air ................................................................................................................ 86
5.2.1.8 Lumping Reservoar .................................................................................................... 91
5.3 Korelasi ................................................................................................................................... 95
5.3.1 Korelasi Struktur .............................................................................................................. 95
5.3.2 Korelasi Stratigrafi ........................................................................................................... 97
5.4 Peta Bawah Permukaan ........................................................................................................... 99
5.4.1 Peta Struktur Kedalaman .................................................................................................. 99
5.4.2 Peta Isopach Gross-Sand ................................................................................................ 101
5.4.3 Peta Isopach Net-Pay ...................................................................................................... 102
5.4.4 Peta Distribusi Volume Serpih ........................................................................................ 104
5.4.5 Peta Distribusi Porositas Efektif...................................................................................... 106
5.4.6 Peta Distribusi Permeabilitas .......................................................................................... 107
5.4.7 Peta Distribusi Saturasi Air ............................................................................................. 110
5.5 Perhitungan Cadangan ........................................................................................................... 112
BAB VI KESIMPULAN ......................................................................................................................... 113
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

x
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. 1 Peta indeks Cekungan Sumatera Selatan (Bishop, 2001). .............................................. 4


Gambar 2. 1 Diagram alir penelitian ................................................................................................ 10
Gambar 2. 2 Skema operasi wireline logging .................................................................................. 12
Gambar 2. 3 Defleksi log gamma ray pada beberapa litologi ........................................................... 14
Gambar 2. 4 Respon log densitas dalam penentuan jenis litologi...................................................... 15
Gambar 2. 5 Log neutron dalam penentuan jenis litologi .................................................................. 16
Gambar 2. 6 Defleksi log spontaneous potential pada beberapa ....................................................... 17
Gambar 2. 7 Defleksi deep resistivity log (LLD) pada beberapa litologi ......................................... 19
Gambar 2. 8 Respon log kaliper (Rider, 2002) ................................................................................. 20
Gambar 2. 9 Log sonic dalam penentuan jenis litologi ..................................................................... 21
Gambar 2. 10 Penampang pola pengendapan dan ekspresi log GR ................................................... 24
Gambar 2. 11 Bentuk kurva log GR/SP yang mengindikasikan beberapa fasies ............................... 28
Gambar 2. 12 Kurva kesamaan porositas untuk log neutron ............................................................. 34
Gambar 2. 13 Diagram logaritma antara resistivitas dalam dengan fraksi porositas, garis linear biru
menandakan posisi ketika resistivitas jenuh air (Bateman, 2008) ................................. 37
Gambar 3. 1 Peta lokasi sumur lapangan TRIUMPH ....................................................................... 42
Gambar 3. 2 Data mudlogg sumur TU-2, lapangan TRIUMPH ........................................................ 44
Gambar 4. 1 Cekungan Sumatera Selatan ( Heidrick and Aulia, 1993) ............................................. 45
Gambar 4. 2 Bagian Sub-Cekungan dari Cekungan Sumatera Selatan (Bishop, 2001) ...................... 46
Gambar 4. 3 Pola struktur cekungan Sumatra Selatan (Ginger and Fielding, 2005) .......................... 47
Gambar 4. 4 Skema kronostratigrafi cekungan Sumatera Selatan (Ginger and Fielding, 2005) ......... 49
Gambar 4. 5 Kolom stratigrafi daerah penelitian pada sumur kunci TU-2 ........................................ 55
Gambar 5. 1 Analisis fasies dan lingkungan pengendapan sumur TU-2............................................ 61
Gambar 5. 2 Interpretasi zona reservoar dan kandungan fluida sumur TU-2..................................... 62
Gambar 5. 3 Analisis fasies dan lingkungan pengendapan sumur TU-1............................................ 65
Gambar 5. 4 Interpretasi zona reservoar dan kandungan fluida Sumur TU-1 .................................... 65
Gambar 5. 5 Analisis fasies dan lingkungan pengendapan sumur T-3 .............................................. 69
Gambar 5. 6 Interpretasi zona reservoar dan kandungan fluida sumur T-3 ....................................... 70
Gambar 5. 7 Analisis fasies dan Lingkungan pengendapan sumur T-1 ............................................. 72
Gambar 5. 8 Interpretasi zona reservoar dan kandungan fluida sumur T-1 ....................................... 72
Gambar 5. 9 Analisis fasies dan lingkungan pengendapan sumur T-2 .............................................. 75
Gambar 5. 10 Interpretasi zona reservoar dan kandungan fluida sumur T-2 ..................................... 76
Gambar 5. 11 Diagram alir petrofisik ............................................................................................... 77
Gambar 5. 12 Grafik perubahan tekanan (a) dan perubahan suhu (b) terhadap kedalaman ................ 78
Gambar 5. 13 Cotoh identifikasi bad hole sumur TU-2 yang tidak terdapat zona bad hole .............. 79
Gambar 5. 14 Koreksi lingkungan pada sumur TU-2 untuk log GR (a), RHOB (b) dan NPHI (c) ... 81
Gambar 5. 15 Crossplot densitas-neutron dalam penentuan parameter (MA), (SH), (FL) ................. 83
Gambar 5. 16 Pickett plot sumur TU-2 ........................................................................................... 88
Gambar 5. 17 Penentuan nilai cut-off volume serpih dan porositas .................................................. 91
Gambar 5. 18 Penentuan nilai cut-off saturasi air dan porositas ....................................................... 92
Gambar 5. 19 Contoh layout hasil perhitungan petrofisik beserta cut-off pada sumur TU-2 .............. 93
Gambar 5. 20 Korelasi struktur lapangan TRIUMPH (Barat Laut-Tenggara) ................................... 96
Gambar 5. 21 Korelasi stratigrafi lapangan TRIUMPH .................................................................... 98
Gambar 5. 22 Peta struktur kedalaman ........................................................................................... 100
Gambar 5. 23 Peta isopach gross-sand ........................................................................................... 102
Gambar 5. 24 Peta isopach net-sand .............................................................................................. 103
Gambar 5. 25 Peta distribusi volume serpih ................................................................................... 105
Gambar 5. 26 Peta distribusi porositas efektif ................................................................................ 107
Gambar 5. 27 Peta distribusi permeabilitas ................................................................................... 109
Gambar 5. 28 Peta distribusi saturasi air ........................................................................................ 111

xi
DAFTAR TABEL
Tabel 1. 1 Waktu penelitian ................................................................................................................ 5
Tabel 1. 2 Ketersediaan data ............................................................................................................... 6
Tabel 2. 1 Konstanta densitas matriks ............................................................................................... 33
Tabel 3. 1 Ketersediaan data log sumur lapangan TRIUMPH ........................................................... 43
Tabel 5. 1 Tabulasi deskripsi cutting pada mudlog TU-2................................................................... 59
Tabel 5. 2 Tabulasi deskripsi cutting pada mudlog TU-1................................................................... 63
Tabel 5. 3 Tabulasi deskripsi cutting pada mudlog T-3 ..................................................................... 67
Tabel 5. 4 Tabulasi deskripsi cutting pada mudlog T-3 ..................................................................... 70
Tabel 5. 5 Tabulasi deskripsi litologi pada tabulasi deskripsi sidewall pada formasi talangakar
sumur T-2 ......................................................................................................................... 73
Tabel 5. 6 Contoh perhitungan software (a) dan perhitungan manual (b) volume serpih ................... 82
Tabel 5. 7 Nilai parameter perhitungan porositas .............................................................................. 85
Tabel 5. 8 Contoh hasil perhitungan porositas sumur TU-2............................................................... 85
Tabel 5. 9 Contoh perhitungan permeabilitas menggunakan software Geolog ................................... 86
Tabel 5. 10 Contoh perhitungan permeabilitas manual ...................................................................... 86
Tabel 5. 11 Parameter perhitungan saturasi air .................................................................................. 89
Tabel 5. 12 Perhitungan saturasi air menggunakkan software ........................................................... 90
Tabel 5. 13 Perhitungan saturasi air manual ...................................................................................... 90
Tabel 5. 14 Resume cutt-off .............................................................................................................. 92
Tabel 5. 15 Interval reservoar pada lapangan TRIUMPH .................................................................. 94
Tabel 5. 16 Lumping net resrvoir zone .............................................................................................. 94
Tabel 5. 17 Lumping net pay zone..................................................................................................... 94
Tabel 5. 18 Tabulasi perhitungan cadangan reservoar TRMPH ....................................................... 112

xii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Dengan perkembangan zaman yang semakin pesat terutama di Indonesia,


kebutuhan-kebutuhun akan sumber daya berbanding lurus meningkat, salah satunya
sumber daya migas. Dimana sumber daya tersebut apabila kita sadari merupakan salah
satu sumber daya yang saat ini dapat dikategorikan sebagai kebutuhan primer. Karena
perannya yang tidak dapat lepas dari kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu banyaknya
perusahaan migas negeri maupun perusahaan migas swasta yang melakukan kegiatan
eksplorasi di Indonesia, guna menemukan lapangan-lapangan baru sehingga dapat
meningkatkan nilai produksi perusahaan dan memenuhi kebutuhan cadangan migas.
Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan sumber daya alam, baik
berupa sumber daya yang dapat diperbaharui maupun yang tidak dapat diperbaharui.
Salah satunya contoh sumber daya yang sangat dibutuhkan dan banyak terdapat di
Indonesia yaitu sumber daya migas. Dibuktikan dengan Indonesia memiliki 128
cekungan penghasil migas yang belum dioptimalkan menurut Ego Syahrial Direktur
Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
(ESDM)
Cekungan Sumatera Selatan yang merupakan salah satu cekungan penghasil
minyak, yang mempunyai potensi hidrokarbon menurut Ginger dan Fielding (2005).
Penelitian-penelitian sudah banyak dilakukan guna mencari keberadaan hidrokarbon.
Hingga kini kegiatan eksplorasi dan penemuan-penemuan potensi migas di cekungan
Sumatera Selatan terus dilakukan untuk menemukan sumber-sumber lapangan baru.
Tak luput dari melimpahnya hidrokarbon terdapat formasi-formasi yang mengisi
cekungan dan berperan sebagai sistem petroleum salah satunya formasi Talangakar
Bawah, merupakan salah satu formasi yang berperan dalam pembentukan sistem
petroleum sebagai reservoar hidrokarbon dan formasi penghasil hidrokarbon menurut
Ginger dan Fielding (2005).
Dalam kegiatan ekplorasi maupun evaluasi formasi kita sebagai geologist harus
melakukan pendekatan-pedekatan yang berguna mempermudah dan memperkuat

1
interpretasi mengenai keterdapatan hidrokarbon yang dapat di eksplorasi maupun
dieksploitasi. Pendekatan secara kualitatif dan pendekatan secara kuantitatif dapat
menjadi solusi dimana kedua pendekatan ini saling berkesinambungan. Dengan
pendekatan kualitatif berupaya mengetahui litologi penyusun daerah telitian,
persebaran secara lateral maupun vertikal dan kita dapat bercerita mengenai sejarah
geologi yang terjadi pada daerah telitian. Sedangkan pendekatan kuantitatif berupaya
mengetahui karakter dari batuan reservoar dengan melihat beberapa parameter properti
reservoar berupa volume serpih , porositas, saturasi air, permeablitas dari situ kita dapat
mengetahui kualitas batuan reservoar. Tidak hanyak itu dengan pendekatan kuantitatif
kita dapat memperkirakan seberapa banyak sumber daya migas yang terdapat sehingga
dapat dipertimbangkan apakah layak atau tidak untuk ditinjau lebih lanjut ketahap
selanjutnya.
Dalam tugas akhir ini akan dibahas mengenai karakter dari batuan reservoar dan
perhitungan sumberdaya pada formasi Talangakar Bawah di cekungan Sumatera
Selatan. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan pendekatan kuantitatif
berupaya memperkuat hasil interpretasi. Data yang digunakan adalah data bawah
permukaan lapangan TRIUMPH, yang berada di Cekungan Sumatera selatan. Oleh
karena itu penulis memberi judul “Penentuan Karakteristik Reservoar dengan
Metode Petrofisika dan Perhitungan Cadangan Lapisan “TRMPH” Formasi
Talangakar Bawah, Lapangan TRIUMPH, Blok Jabung, Cekungan Sumatera
Selatan”.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini antara lain ;
1. Apa variasi litologi bawah permukaan penyusun Formasi Talangakar
Bawah, lapangan “TRIUMPH”?
2. Apa variasi fasies dan lingkungan pengendapan Formasi Talangakar Bawah,
lapangan “TRIUMPH”?
3. Berapa nilai properti reservoar “TRMPH”, Formasi Talangakar Bawah,
lapangan “TRIUMPH”?
4. Berapa jumlah cadangan gas pada reservoir “TRMPH”, Formasi Talangakar
Bawah, lapangan “TRIUMPH”?

2
1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian
Maksud dari penelitian ini ialah untuk menambah wawasan baru pada bidang
yang ditekuni dengan mengaplikasikan dasar dasar yang sudah didapat di bangku
perkuliahan pada lingkungan kerja, dan selain itu juga sebagai proses utama untuk
menyelesaikan studi di Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Teknologi Mineral,
UPN “Veteran” Yogyakarta.
Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui karaktersitik reservoar
berdasarkan analisa secara kualitatif dan kuantitatif pada lapisan “TRMPH” Formasi
Talangakar, Lapangan TRIUMPH, Cekungan Sumatera Selatan dengan
menggunakan data sumur berupa data well log , mud log , dan final well report, dan
grid hasil picking seismic untuk mendapatkan hasil berupa litologi penyusun daerah
telitian, lingkungan pengendapan, nilai properti reservoar beserta nilai cutoff,
lumping reservoar, dan jumlah cadangan yang terdapat pada lapisan “TRMPH”.

1.4 Lokasi dan Waktu Penelitian


Lokasi penelitian terletak di lapangan eksplorasi PT. Petrocina Internasional
Jabung Ltd yaitu Lapangan “TRIUMPH” yang merupakan bagian dari sub-cekungan
Jambi yang terletak di Provinsi Sumatera Selatan. Sub-cekungan Jambi merupakan
salah satu sub-cekungan dari Cekungan Sumatera Selatan. Lapangan ”TRIUMPH”
merupakan salah satu bagian dari Komplek Blok Jabung Production Sharing
Contract. Lokasi penelitian ditandai dengan kotak merah pada Gambar 1.1
Waktu penelitian hingga penyusunan laporan yakni dimulai dari 1 Februari 2018
sampai dengan September 2018 dengan periode selama 8 bulan. Jenis kegiatan dan
rencana tata waktu pelaksanaan penelitian seperti disajikan pada Tabel 1.1

3
Gambar 1. 1 Peta indeks Cekungan Sumatera Selatan (Bishop, 2001).

4
Tabel 1. 1 Waktu penelitian

5
1.5 Pengumpulan Data dan Hasil Penelitian
Dalam penelitian ini data-data yang digunakan diperoleh dari salah satu
lapangan eksplorasi dari PT. Petrocina Internasional Jabung Ltd, dengan
ketersediaan data sebagai berikut:
➢ Literatur mengenai lapangan “TRIUMPH”
➢ Wireline Log
➢ Mudlog
➢ Final Well Report
➢ Grid Picking Seismic (sebagai data sekunder)
Dan dapat dilihat ketersediaan data lebih lengkapnya pada Tabel 1.2
Tabel 1. 2 Ketersediaan data

Dari ketersediaan data-data diatas menghasilkan data berupa:


➢ Litologi, lithofasies, fasies, dan lingkungan pengendapan
➢ Hasil analisa petrofisika beserta cutoff, dan lumping
➢ Korelasi stratigrafi
➢ Korelasi struktur
➢ Peta bawah permukaan
➢ Perhitungan cadangan hidrkarbon

6
1.6 Manfaat Penelitian
Manfaat yang didapatkan dari hasil penelitian ini antara lain ;
A. Manfaat untuk Keilmuan (Penulis)
➢ Merasakan kesempatan bekerja dalam perusahaan migas dan mendapatkan
pengalaman banyak baik pengalaman akademik maupun non-akademik.
➢ Memberikan informasi, pengetahuan, serta keterampilan dalam perolehan,
pengolahan, dan analisis data berupa data bawah permukaan.
➢ Melatih mengaplikasikan teori-teori dasar yang telah dipelajari kedalam contoh
kasus pada perusahaan migas.

B. Manfaat untuk Perusahaan PT. Petrocina Internasional Jabung Ltd.


➢ Membantu permasalahan geologi yang berhubungan dengan analisis dan
intepretasi secara kualitatif maupun kuantitatif data bawah permukaan
khususnya Formasi Talangakar Bawah.
➢ Membantu dalam melakukan pengembangan lapangan dengan memberikan
hasil data analisa kualitatif dan kuantitatif Formasi Talangakar pada
lapangan “TRIUMPH”.
➢ Mampu mengetahui karakter batuan reservoar dari nilai properti reservoar
dan mengetahui jumlah cadangan hidrokarbon yang terkandung.

C. Manfaat untuk Intitusi Pendidikan UPN “VETERAN” Yogyakarta


➢ Menjaga hubungan antara pihak perguruan tinggi UPN “VETERAN”
Yogyakarta dengan PT. Petrocina Internasional Jabung Ltd.
➢ Memberikan kesempatan kepada mahasiswa UPN “VETERAN”
Yogyakarta menggali ilmu dan mengaplikasikannya melalui riset sehingga
nantinya akan menambah pengalaman sebelum memasukin dunia kerja.

7
BAB II
METODELOGI DAN DASAR TEORI

2.1 Tahap Pendahuluan


Merupakan tahap yang dilakukan untuk memperoleh data-data awal yang
berkaitan dengan pelaksaan penelitian. Tahap ini dimulai dari penentuan dosen
pembimbing, diskusi pemilihan judul sehingga penelitian yang dilakukan berjalan
sesuai rencana dan tujuan penelitian dapat tercapai dengan hasil yang sesuai dengan
kriteria yang baik. Tahap ini dilakukan di Jurusan Tekik Geologi, Fakultas Tekologi
Mineral, Universitas Pembagunan Nasional “Veteran” Yogyakarta.

2.1.1 Studi Pustaka dan Studi Regional

Tahapan ini adalah tahapan awal dalam penelitian. Penulis mendapatkan data-
data dari peneliti terdahulu sebagai referensi-referensi dalam melakukan penelitian.
Dalam hal ini data peneliti terdahulu seperti geologi regional daerah telitian adalah
salah satu referensi yang dapat digunakan sebagai acuan dalam memulai penelitian.
Selain itu informasi mengenai metode-metode yang digunakan oleh peneliti terdahulu
juga penting untuk dipelajari serta mempelajari prinsip – prinsip dasar dalam evaluasi
formasi.

2.1.2 Pengumpulan Data


Tahap pengumpulan data dilakukan dengan memperoleh data dari perusahaan
yang digunakan sebagai objek analisis. Tahap pengumpulan data sangat penting
untuk menjadi objek penelitian dan memperkuat pembuktikan hipotesa yang sudah
ada oleh peneliti sebelumnya. Data-data yang di peroleh dari perusahaan sebagai
berikut:
➢ Literatur mengenai lapangan “TRIUMPH”
➢ Wireline Log
➢ Mudlog
➢ Final Well Report
➢ Grid Picking Seismic (sebagai data sekunder)

8
2.2 Tahap Analisa Penelitian
Merupakan tahap mengolah dan menganalisa data yang sudah dikumpulkan
dengan menggunakan software Geolog , Petrel 2015, Surfer, Corel Draw x7,
Microsoft office 2018, dan Nitro Pro. Adapun dalam tahap pengolahan data dan
analisis dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:
1. Penentuan Litologi
Merupakan tahap penentuan litologi berdasarkan kurva log gamma ray dan
diintegrasikan dengan data serbuk bor yang dimuat didalam data Mudlog dengan
tahapan tersebut dapat diketahui persebaran litologi bawah permukaan di Formasi
Talangakar Bawah secara vertikal.
2. Penentuan Fasies
Penentuan fasies dilakukan berdasarkan kurva log gammay ray sehingga dapat
mengetahui fasies berdasarkan pola elektrofasies dan dipadukan dengan data
mudlog, sehingga dengan mengetahui variasi litologi dan tekstur serta struktur
sedimen yang mencirikan lingkungan tertentu nantinya dapat diasumsikan fasies,
sub asosiasi fasies.
3. Analisis Sikuen Statigrafi
Menganalisa suatu unit batuan yang sama berdasarkan kesamaan waktu dan ruang
pengendapan dan dibatasi oleh bidang erosi. Hal ini dilakukan dengan
menggunakan log gamma ray dan juga data mudlog.
4. Analisis Petrofisika
Menganalisa secara kuantitatif berdasarkan parameter-parameter nilai properti
batuan reservoar seperti volume serpih, porositas, permeabilitas dan saturasi air
dengan menggunakan perpaduan data antara wirelinelog dengan final well report .
Dengan tujuan mengetahui nilai karakteristi batuan reservoar yang baik.
5. Perhitungan Cadangan
Merupakan tahapan terahkir dimana tahap ini menghitung sumber daya yang
terdapat pada Formasi Talangakar dengan pendekatan probabilitas, dengan
menggunakan hasil perhitungan petrofisika diintergrasikan dengan peta bawah
permukaan dan informasi keadaan sumur dari final well report lapangan
TRIUMPH.

9
2.3 Tahap Penyelesaian
Merupakan kegiatan evaluasi dan penyusunan laporan akhir berdasarkan hasil
pengolahan data. Laporan ini memuat tahapan penyajian data, interpretasi litologi,
analisis fasies dan lingkungan pengendapan, analisis petrofisika, korelasi struktur dan
stratigrafi, persebaran properti reservoar, dan perhitungan sumberdaya. Penulis juga
melakukan konsultasi dalam penyusunan laporan agar tidak menyesatkan pembaca
laporan sehingga menjadi laporan akhir yang baik dan benar.

2.4 Bagan Alir Penelitian


Dalam melakukan penelitian tugas akhir ini penulis menggunakan metode-
metode yang ditunjukkan dalam diagram alir berikut ini:

Gambar 2. 1 Diagram alir penelitian

10
2.5 Dasar Teori
Dasar teori merupakan informasi yang telah ditulis peneliti terdahulu yang
memiliki kesamaan dalam pembahasan yang dapat digunkanan peneliti sebagai acuan
setiap tahapan penelitian yang dilakukan selama penelitian. Pada penelitian ini dasar
teori yang digunakan menjelaskan tentang data wireline log, korelasi, anaisis fasies,
analisis petrofisika, dan perhitungan sumber daya.

2.5.1 Wireline Log


Adi Harsono (1997) mendefinisikan log adalah suatu grafik kedalaman atau
waktu dari suatu kesatuan data yang menunjukkan parameter yang diukur secara
berkesinambungan sepanjang lubang sumur. Perekaman parameter-parameter fisis
secara kontinyu sepanjang lubang bor tersebut menghasilkan sebuah data well
logging. Hasil perekaman tersebut kemudian disajikan ke dalam bentuk nilai atau
angka dalam fungsi kedalaman (Rider, 2002).
Berdasarkan waktu pengukurannya, well logging dapat dibedakan menjadi 2
jenis, yaitu well logging yang dilakukan setelah proses pengeboran atau yang biasa
disebut wireline logging dan well logging yang dilakukan bersamaan dengan proses
pengeboran atau yang biasa disebut LWD (Logging While Drilling). Penelitian ini
menggunakan data dari jenis logging yang pertama, LWD tidak akan dijelaskan dalam
skripsi penelitian ini. Wireline logging melakukan perekaman data setelah proses
pengeboran dilakukan, artinya logging jenis ini dapat dilakukan pada sumur open hole
maupun cased hole. Open hole mengindikasikan bahwa formasilah yang kemudian
secara langsung membentuk dinding pada sumur tersebut, berbeda dengan cased hole
yang merupakan sumur yang sudah di-casing dengan tabung besi dengan tambahan
semen di antara besi dengan formasi batuan.
Operasi wireline logging dilakukan dengan cara memasukkan alat logging
turun ke dalam lubang bor dengan menggunakan kabel. Perekaman data lubang sumur
(logging) dilakukan dengan cara menarik kabel tersebut sembari alat merekam
parameter fisis formasi yang dilewatinya di dalam lubang bor. Informasi perekaman
tersebut berupa data digital maupun kurva yang kemudian dikirimkan melalui kabel
ke sistem komputer yang berada di permukaan (lihat gambar 2.2 ). Gambar 2.2
menjelaskan proses wireline logging di darat. Alat yang mereka parameter formasi

11
sepanjang lubang bor terhubung dengan sistem komputer yang terinstal dengan
peralatan lain pada kendaraan di permukaan untuk me-monitoring dan menyimpan
hasil rekaman alat logging. Peralatan logging pada wireline log biasanya merekam
setiap 15 cm (6 inci), bahkan peralatan modern saat ini mampu merekam setiap 2,5
mm (0,1 inci), hal ini dikenal dengan sampling rate. Sampling rate yang digunakan
pada data penelitian ini diperoleh dari peralatan logging yang merekam data setiap 15
cm (6 inci). Artinya,setiap data parameter fisis yang terekam secara kontinyu yang
berupa angka maupun kurva adalah parameter fisis yang terekam setiap interval
kedalaman 15 cm.

Gambar 2. 2 Skema operasi wireline logging


(Serra, 1984)

2.5.1.1 Jenis-jenis Well Logging


Berdasarkan konsep pengukurannya, well logging dibagi menjadi beberapa
jenis, yaitu :
1. Log Radioaktif
a. Gamma Ray (GR)
b. Densitas
c. Neutron
2. Log Elektrik
a. Spontaneous Potential (SP)
b. Resistivitas

12
3. Log Mekanik
a. Kaliper

4. Log Akustik
a. Sonik

1.Log Gamma Ray (GR)

Log gamma ray adalah sebuah rekaman keradioaktivitasan sebuah formasi. Radiasi
radioaktif yang terekam tersebut berasal dari pancaran unsur-unsur Uranium,
Thorium dan Potasium yang terkandung di dalam formasi tersebut. Log gamma ray
sederhana umumnya memberikan keterangan atas kombinasi ketiga unsur tersebut,
sedangkan log yang mampu mendefinisikan kandungan unsur-unsur tersebut secara
terpisah dikenal sebagai log spectral gamma ray (Rider, 2002).

Ketiga jenis batuan seperti batu beku, batu metamorf dan batu sedimen memiliki
kandungan unsur radioaktif tersebut di atas dalam persentase yang berbeda. Bahkan,
pada jenis batu sedimen sendiri batuserpih memiliki kandungan unsur radioaktif
tertinggi dibandingkan batu sedimen lainnya. Beberapa respon log gamma ray
terhadap litologi tertentu dapat dilihat pada (Gambar 2.3)
Dalam buku Pengantar Evaluasi Log (Harsono, 1993), log gamma ray
berguna untuk :

1. Evaluasi kandungan serpih (Volume Shale)


2. Menentukan lapisan permeabel
3. Evaluasi biji mineral yang radioaktif
4. Evaluasi lapisan batuan yang bukan radioaktif
5. Korelasi log pada sumur berselubung (cased hole)
6. Korelasi antar sumur

13
Gambar 2. 3 Defleksi log gamma ray pada beberapa litologi
(Rider, 2002)
2.Log Densitas
Rider (2002) menyatakan bahwa log densitas merupakan semua data sumur
yang merekam besaran massa jenis padatan batuan atau yang disebut bulk density.
Kepadatan tersebut dipengaruhi oleh adanya material matriks dan juga fluida yang
terjebak dalam rongga pori. Masing-masing litologi memiliki jenis nilai parameter
bulk density yang berbeda-beda.
Prinsip dasar dari log densitas secara kuantitatif adalah untuk menghitung
besaran kerapatan dari porositas dan hidrokarbon, sedangkan secara kualitatif
digunakan untuk indikasi penentuan litologi dengan mineral penyertanya dan dapat
memperkirakan keterdapatan material organik, selain itu juga membantu dalam
mengidentifikasi overpressure dan fracture porosity (Rider, 2002).
Log densitas menggunakan unsur sinar gamma. Pada saat sinar gamma
ditembakan kedalam formasi, maka akan bertabrakan dengan elektron dalam batuan,
sinar tersebut akan mengalami pengurangan energi akibat diserap oleh batuan. Energi
yang kembali sesudah mengalami benturan akan diterima oleh alat detektor yang
berjarak tertentu dengan sumbernya, makin lemah energi yang kembali menunjukkan

14
makin banyaknya elektron-elektron dalam batuan, yang berarti makin padat butiran
mineral penyusun batuan persatuan volume. Dalam log densitas, besamya nilai kurva
dinyatakan dalam satuan gram/cm3. Gambar 2.4 merupakan gambar yang menunjukan
besaran defleksi kurva log densitas yang mengambarkan litologi beserta dengan
beberapa mineral pernyertanya.

Gambar 2. 4 Respon log densitas dalam penentuan jenis litologi


(Rider, 2002)
3.Log Neutron
Log neutron didapatkan dengan cara menembakan secara terus menerus atom
neutron kedalam formasi, sehingga akan merekam suatu reaksi ketika formasi tersebut
melakukan aksi terhadap penambahan neutron. Hal itu berkaitan dengan kondisi unsur
neutron di dalam porositas yang berhubungan dengan jumlah hidrogen dalam formasi
(Rider, 2002).

15
Semakin banyak fluida dalam formasi akan memberikan pembacaan porositas
yang tinggi sebab fluida menunjukkan pori-pori batuannya besar sehingga harga
porositas neutronnya tinggi. Massa neutron netral dan hampir sama dengan massa
atom hidrogen. Partikel neutron memancar menembus formasi dan bertumbukan
dengan material-material dari formasi tersebut. Akibatnya neutron mengalami sedikit
hilang energi. Sehingga dari hasil pembacaan neutron yang kembali tersebutlah dapat
kita ketahui jenis litologi dan keterdapatan atom hidrogen didalamnya. Satuan
pengukuran dinyatakan dalam satuan PU (Porosity Unit). Defleksi log neutron dapat
dilihat pada (Gambar 2.5)

Gambar 2. 5 Log neutron dalam penentuan jenis litologi


(Rider, 2002)
4.Log Spontaneous Potential (SP)
Log SP digunakan untuk merekam perbedaan electric potential antara satu
elektroda dengan elektroda lain pada formasi. Prinsip dasar dari log SP adalah
menghitung resistivitas fluida formasi dan mengindikasikan sifat resistivitasnya.
Dapat juga digunakan untuk penentuan volume serpih, identifikasi fasies, serta
dalam beberapa kondisi dapat juga digunakan untuk korelasi (Rider, 2002). Hasil

16
pengukuran log ini memiliki satuan milivolt unit. Log SP digunakan untuk
membedakan antara lapisan permeable dengan impermeable. Hasil pembacaan dari
log SP dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti resisitivitas formasi, air lumpur
pemboran, ketebalan formasi dan parameter lain. Sehingga jika salinitas formasi
lebih besar dari salinitas lumpur maka kurva SP akan berkembang negatif, dan jika
berlaku sebaliknya maka kurva SP akan berkembang positif. Bila pada lapisan
permeabel salinitas fluidanya sama dengan salinitas lumpur maka defleksi kurva SP
akan berupa garis lurus seperti pada shale. (Gambar 2.6)

Gambar 2. 6 Defleksi log spontaneous potential pada beberapa


litologi ( Rider, 2002)
5. Log Resistivitas
Resistivitas merupakan suatu parameter yang mengukur tingkat kemampuan
batuan untuk menghambat arus listrik. Kemampuan tersebut akibat dari adanya sifat-
sifat fisik batuan seperti porositas, salinitas, dan karakteristik batuan itu sendiri.

17
Menurut Rider (2002), log resitivitas log merupakan sebuah log yang digunakan
untuk menghitung besaran nilai resistivitas formasi, yang diukur berdasarkan nilai
hambatan arus listrik dengan menggunakan resistivity tools.
Secara singkat, prinsip log resistivitas adalah mengukur tahanan jenis batuan.
Sehingga dapat diketahui jika menghasilkan resistivitas rendah maka berarti batuan
tersebut mudah untuk mengalirkan arus listrik dan jika resistivitas tinggi maka batuan
tersebut sulit untuk mengalirkan arus listrik (Gambar 2.7) yang secara khusus melihat
pada hasil defleksi pada hasil log resistivitas dalam. Resistivitas merupakan kebalikan
dari konduktivitas, satuan dari resisitivitas adalah ohmmeter (Ω meter).
Jadi apabila pori-pori suatu batuan terisi fluida hidrokarbon, maka resistivitas
yang terukur akan memiliki nilai yang tinggi, sedangkan bila fluida saline mengisi
batuan porous tersebut, maka resistivitas yang terukur akan memiliki nilai yang
rendah. Begitu juga apabila batuan tersebut merupakan batuan yang sangat kompak,
maka resistivitasnya akan tinggi. Skala yang digunakan dalam log ini adalah skala
logaritma. Skala ini digunakan karena nilai resistivitas bisa menjadi sangat besar dan
sangat kecil dalam situasi pengukuran yang sama. Satuan yang digunakan adalah
ohm.meter (Ω.m).

18
Gambar 2. 7 Defleksi deep resistivity log (LLD) pada beberapa litologi
(Rider, 2002)
5. Log Kaliper
Log ini adalah jenis log mekanik yang berguna untuk mengukur variasi ukuran
diameter lubang sumur terhadap kedalaman. Variasi diameter ini terbentuk karena
adanya beberapa perubahan bentuk lubang sumur akibat terkikisnya dinding lubang
bor oleh mata bor maupun oleh aktivitas masuknya lumpur kedalam lubang bor yang
mengakibatkan cave dan atau mud cake (lihat gambar 2.8). Cave terjadi saat mata bor
mengikis dinding formasi batuan yang rapuh sehingga terbentuklah rongga-rongga
atau gerowong pada lubang sumur tersebut. Fenomena ini biasa terjadi pada
pengeboran di zona batu serpih. Berbeda dengan cave, fenomena mud cake terjadi

19
ketika dinding-dinding lubang bor mengalami penebalan akibat aktivitas pengeboran
yang menggunakan lumpur berbasis air (water base mud). Hal ini terjadi karena
adanya tekanan pengeboran yang lebih besar daripada tekanan formasi sehingga air
dalam campuran lumpur (water base mud) akan dipaksa masuk kedalam formasi
melalui lapisan batuan porous, sedangkan campuran kimia lainnya yang ukurannya
lebih besar dari pori batuan akan tertahan di dinding sumur dan lama kelamaan akan
menebal.

Gambar 2. 8 Respon log kaliper (Rider, 2002)

7. Log Sonik (Log DT)


Log Sonic merupakan sebuah data sumur yang menggambarkan porositas dengan
cara mengukur interval waktu lewat dari gelombang suara kompresional suatu formasi
(Rider, 2002). Kecepatan gelombang tersebut sangat dipengaruhi oleh jenis litologi,
tekstur, dan terutama porositasnya.
Secara kuantitatif digunakan untuk mengevaluasi porositas yang terisi pada lubang
pori. Selain itu log ini juga digunakan dalam tahapan interpretasi seismik yang
digunakan dalam kalibrasi dengan penampang seismik yang dipadukan dengan
densitas sehingga dapat digunakan untuk menghasilkan acoustic impedance log

20
penggunaan well sesismic-tie. Untuk kualitatif dapat juga digunakan untuk identifikasi
litologi, mungkin juga dalam penentuan batuan induk, tingkat kompaksi, overpressure,
dan dalam beberapa kasus dapat digunakan untuk identifikasi rekahan (Rider, 2002)
Prinsip kerja dari log ini adalah dengan memanfaatkan kecepatan gelombang suara.
Semakin cepat gelombang suara tersebut dipantulkan, maka menandakan litologi yang
kompak, sedangkan sebaliknya, jika membutuhkan waktu yang lambat, maka batuan
tersebut tidak kompak (Gambar 2.9). Satuan yang digunakan adalah interval transit
time berupa microsecond/feet.

Gambar 2. 9 Log sonic dalam penentuan jenis litologi


(Rider, 2002)

2.5.2 Mudlog
Mudlog merupakan proses mensirkulasikan dan memantau perpindahan mud dan
cutting pada sumur selama pemboran (Bateman, 1985). Menurut Darling (2005),
mudlog tersebut meliputi:
• Pembacaan gas yang diperoleh dari detektor gas atau kromatograf
• Pengecekan terhadap ketidakhadiran gas beracun (H2S, SO2)
• Laporan analisis cutting yang telah dideskripsi secara lengkap
• Rate of Penetration (ROP)
• Indikasi keberadaan hidrokarbon yang terdapat di dalam sampel

21
Mudlog merupakan alat yang berharga untuk petrofisis dan geolog di dalam
mengambil keputusan dan melakukan evaluasi. Darling (2005) menyatakan bahwa
mudlog digunakan untuk hal – hal berikut ini:
• Identifikasi tipe formasi dan litologi yang dibor
• Identifikasi zona yang porous dan permeabel
• Picking of coring, casing, atau batas kedalaman pengeboran akhir
• Memastikan keberadaan hidrokarbon sampai pada tahap membedakan jenis
hidrokarbon tersebut apakah minyak atau gas.
Akomodasi merupakan elemen penting dalam sikuen stratigrafi yang dapat
mengontrol dari tektonik basin dan eustasi sehingga akan mempengaruhi pola
pengendapan.

2.5.3 Konsep Korelasi Horizon berdasarkan Well Log


Dalam bukunya, Tearpock dan Bischke (1990) menyebutkan bahwa korelasi
merupakan sebuah metode untuk menggambarkan kondisi dari geologi struktur
maupun stratigrafi yang menghubungkan antara waktu geologi, umur, maupun posisi
stratigrafinya. Korelasi stratigrafi pada hakekatnya adalah menghubungkan titik-titik
kesamaan waktu atau penghubungan satuan-satuan stratigrafi dengan
mempertimbangkan kesamaan waktu. Berikut ini adalah beberapa contoh korelasi
stratigrafi yang umum dilakukan antara lain:

2.5.3.1 Korelasi Litostratigrafi


Korelasi yang dengan cara menghubungkan antar lapisan batuan yang mengacu
pada kesamaan jenis litologinya. Dasar dari penentuan satu lapisan batuan adalah satu
satuan waktu pengendapan.

2.5.3.2 Korelasi Biostratigrafi


Korelasi biostratigrafi adalah korelasi yang menghubungkan antar lapisan
batuan yang di dasarkan atas kesamaan kelimpahan dan penyebaran fosil yang terdapat
di dalam batuan. Dalam korelasi biostratigrafi dapat terjadi batuan yang berbeda
memiliki kelimpahan dan penyebaran fosil yang sama.

22
2.5.3.3 Korelasi Kronostratigrafi
Korelasi kronostratigrafi adalah menghubungkan lapisan lapisan batuan yang
mengacu pada kesamaan umur geologinya.

2.5.4 Konsep Dasar Stratigrafi Sikuen


Menurut Possamentier dan Wagoner (1995; dalam Cateneanu, 2009)
menyatakan bahwa sikuen stratigrafi merupakan sebuah studi yang mempelajari
mengenai hubungan antara lapisan batuan berdasarkan perulangan kerangka waktu
stratigrafi yang secara umum menghubungkan litologi berdasarkan permukaan erosi
maupun kemenerusannya. Secara teknis, konsep ini bertujuan mengelompokkan
urutan susunan batuan sedimen kedalam suatu sikuen yang didasarkan pada kronologi
sebagai pembatas selang genesanya. Sikuen tersebut diakibatkan oleh perubahan
permukaan air laut secara global dan tektonik lokal ataupun regional.
Prinsip yang dikemukakan oleh Posamentier dan Wagoner (1995; dalam
Cateneanu, 2009), menyatakan bahwa dalam satu sikuen dibatasi oleh dua sequence
boundary (SB) dan diantara kedua SB terdapat beberapa marker stratigrafi. Sikuen
mempunyai pola tumpukan sedimen (stacking pattern) dan merupakan bukti dari
adanya siklus perubahan muka air laut secara global yang tinggi. Sikuen tersebut
tersusun atas komponen system tract. Interpretasi stratigrafi sikuen dan komponen
sikuennya serta horison atau marker stratigrafi memerlukan pemahaman akan
hubungan stratigrafi, umur, batimetri, dan fasies.

2.5.4.1 Stacking Pattern


Stacking pattern adalah ragam gambaran pada pola penumpukan sedimen yang
semakin muda berlapis satu diatas lainnya. Van Wagoner dkk. (1990; dalam
Catuneanu, 2009) membagi lagi vertikal stacking pattern menjadi tiga parasequence,
yaitu
A. Progradasi
Merupakan suatu pola pengendapan dimana volume suplai sedimen lebih besar
dari pada penurunan cekungan (terbentuknya akomodasi/cekungan), biasanya pola
pengendapan menunjukan pengkasaran keatas (coarsening upward) pada log gamma
ray.

23
B. Agradasi
Merupakan suatu pola pengendapan dimana volume suplai sedimen sebanding
dengan penurunan cekungan (terbentuknya akomodasi/cekungan), biasanya pola
pengendapan menunjukan penumpukan vertikal tanpa adanya variasi tertentu.
Umumnya pola pengendapan akan menunjukan pola blocky (blocky shaped) pada log
gamma ray.
C. Retrogradasi
Merupakan suatu pola pengendapan dimana volume suplai sedimen lebih kecil
dari pada penurunan cekungan (terbentuknya akomodas/cekungan),umunya pola
pengendapan menunjukan penghalusan diatas (fining upward) pada log gamma ray.
Gambar 2. 10 Penampang pola pengendapan dan ekspresi log GR
(Van Wagoner,et.al,1990)

2.5.4.2 System Tract


Konsep systems tract pertama kali didefinisikan oleh (Brown & Fisher 1977)
sebagai suatu paket sistem pengendapan. Sistem pengendapan sendiri didefinisikan
oleh (Fisher &McGowen, 1967) sebagai kumpulan tiga dimensional dari berbagai
litofasies yang secara genetik dihubungkan satu sama lain oleh proses-proses atau

24
lingkungan pengendapannya (Emery, et al., 1996). Dalam satu siklus perubahan
muka air laut relatif, dikenal adanya tiga systems tract utama, masing-masing
mencirikan tahap perubahan muka air laut relatif yang berbeda-beda. Berturut-turut
urutan dari yang terbawah meliputi:
A. Lowstand System Track (LST)
Merupakan suatu pengendapan dengan kenaikan muka air laut secara perlahan
namun tingkat suplai sedimen yang masih tinggi. Sistem track ini mengendapkan
sedimen berbutir kasar pada bagian atas seksesi marine dan bagian bawah berbutir
halus suksesi non marine dengan Suplai sedimen terus bergerak menuju cekungan
dan membentuk basin floor fan sebagai endapan turbidit. Sistem track ini
menggambarkan pola pengendapan aggradasi blocked shaped Sistem ini dibatasi
pada bagian bawah oleh sequence boundary dan bagian atas maximum flooding
surface.
B. Transgressive System Tract (TST)
Suatu pengendapan pada bagian dari fasa penaikan muka air laut relatif, pada
saat laju pertambahan volume akomodasi lebih tinggi dibanding laju pemasokan
sedimen (Retrogradasi). Sistem ini diendapkan pada suatu bagian dari fasa penaikan
muka air laut relatif, pada saat mana laju pertambahan volume akomodasi topset lebih
tinggi dibanding laju pemasokan sedimen. Jenis sedimen yang sering ditemukan
antara lain batubara serta endapan limpah banjir, laguna, dan lakustrin. Sistem-sistem
itu mengindikasikan rendahnya pasokan sedimen. Laju penaikan muka air laut
tertinggi terjadi pada fasa pembentukan transgressive systems tract. Systems tract ini
berakhir ketika laju pertumbuhan volume akomodasi topset menurun hingga satu
kondisi dimana laju pertumbuhan tersebut sebanding dengan laju pemasokan
sedimen. Produk kondisi itu disebut marine flooding surface. Pada saat laju
pertumbuhan dengan laju pemasokan sedimen mencapai kesetimbangan, pola
endapan akan berubah dari pola retrogradasi menjadi progradasi.
C. Highstand System Tract (HST)
Suatu pengendapan ketika muka air laut maksimum yang mana endapan
endapan menunjukan pola agradasi dan progradasi yang menyebabkan garis panyai

25
bergerak ke arah laut. Hst pada bagian bawah dibayasi oleh maximum flooding
surface dan pada bagian top dibatasi oleh sequance boundary.
D. Falling stage system track (FSST)
Sistem ini merupakan suatu pengendapan dari semua lapisan yang
terakumulasi dan terjadi turunnya muka air laut secara tiba-tiba dan besar dengan
waktu yang cepat dan terjadi erosi di bagian atas. Dengan lingkungan laut dangkal
dan terjadi prograding dan offlaping secara cepat dengan pola yang menumpuk.

2.5.4.3 Batas Sikuen Stratigrafi


A. Sequence Boundary (SB)
Merupakan suatu ketidakselarasan yang terjadi selama pada penurunan muka air laut
relative. Channel menggerosi endapan-endapan sedimen shelf sebelumnya yang
menghasilkan erosi pada permukaan lalu erosi ini membentuk ketidakselarasan.
Sequence Boundary merupakan batas atas dari highstand system track.
B. Transgressive Surface (TS)
Merupakan suatu keadaan awal dimana pembentukan akomodasi lebih besar dari pada
suplai sedimen yang mengakibatkan terjadinya kenaikan muka air laut. Transgressive
Surface Juga menandai awal dari retrogradasi.
C. Maximum Flooding Surface (MFS)
Merupakan permukaan yang terdapat pada titik dimana kecepatan kenaikan muka air
laut mulai menurun secara perlahan dan sistem pengendapan mencapai keadaan
dimana besar akomodasi seimbang dengan tingkat suplai sedimen, ketika hal ini
terjadi, transgresi berhenti dan garis pantai pada mulanya akan akan tetap statis lalu
kemudian bergerak ke arah laut.

2.5.5 Penentuan Lingkungan Pengendapan berdasarkan Well Log


Dalam penentuan lingkungan pengendapan, dapat digunakan geometri kurva
spontaneous potensial dan gamma ray maupun gambaran efek mirror pada log
resistivitas (Rider, 2002). Analisis menggunakan pola log tersebut biasa disebut
dengan analisis elektrofasies.

26
Menurut Kendall (2003), terdapat 5 jenis pola dasar bentukan dalam analisis
litofasies menggunakan log GR maupun SP yaitu pola tabung, pola gerigi, pola
lonceng, pola corong, dan pola simetri.
A. Pola Tabung (Cylindrical)
Dicirikan dengan pola kurva GR atau SP yang berbentuk seperti tabung atau
cylindrical. Pada pola ini mencirikan adanya endapan sedimen tebal dan homogen
disertai adanya pengisian channel dengan kontak batas atas dan bawah yang tajam.
Cylindrical merupakan bentuk dasar yang mewakili homogenitas dan ideal sifatnya
akibat aggradasi system tract. Bentuk cylindrical pada sedimen klastik diasosiasikan
dengan endapan sedimen eolian, braided fluvial, distributary channel-fill, submarine
canyon fill, shelf margin dan evaporate fill of basin. Sedangkan pada batuan karbonat
diasosiasikan dengan jenis batugamping dengan fasies heterogeneous yang
diendapkan pada laut dangkal.
B. Pola Corong (Funnel shaped)
Dicirikan dengan pola kurva GR atau SP yang berbentuk corong atau funnel. Pola
ini menunjukkan adanya endapan sedimen yang mengkasar ke atas, yang merupakan
kebalikan dari bentuk lonceng (bell). Pola log seperti ini dihasilkan oleh sistem
progradasi. Pada endapan sedimen klastik dicirikan dengan mengkasar keatas dengan
kontak atas yang tajam dan berasosiasi dengan lingkungan crevasse splay, river mouth
bar, delta front, shorface, submarine fan lobe, dan lingkungan peralihan dari klastik
menuju karbonat. Sedangkan untuk batuan karbonat dicirikan dengan menipis keatas
dengan kontak atas yang tajam dan berasosiasi dengan lingkungan shoreline dan
karbonat buildup.
C. Pola Lonceng (Bell Shaped)
Dicirikan dengan pola kurva log GR atau SP yang berbentuk yang berbentuk seperti
lonceng (bell). Pada pola ini menunjukkan penghalusan ke arah atas, yang diakibatan
oleh sistem pengendapan retrogradasi. Pada batuan sedimen klastik karakteristik
pengendapannya dicirikan dengan menghalus keatas dengan memiliki kontak bawah
yang tajam dan berasosiasi dengan lingkungan fluvial point bar, tidal point bar, deep
tidal channel fill, tidal flat, dan transgresive shelf. Sedangkan pada batuan karbonat

27
menebal keatas dengan kontak bawah yang jelas yang berasosiasi dengan lingkungan
tidal channel fill, tidal flat, dan transgressive shelf.
D. Pola Simetri (Symmetrical)
Dicirikan dengan pola kurva log GR atau SP berbentuk simetri yang merupakan
kombinasi antara bentuk lonceng dan corong. Merupakan pola yang dihasilkan oleh
gabungan antara proses progradasi dan retrogradasi dengan ciri endapan mengkasar
keatas untuk endapan klastik dan menipis keatas untuk endapan karbonat. Kemudian
dilanjutkan kembali menghalus keatas untuk endapan klastik dan menebal keatas
untuk endapan karbonat. Baik endapan sedimen klastik maupun karbonat, pola ini
dapar bersosiasi dengan lingkungan reworked offshore bar dan regressive to
transgresive shore face delta.
E. Pola Gerigi (Serrated/Irregular)
Dicirikan dengan pola kurva log GR atau SP yang berbentuk gerigi. Merupakan
pola yang dihasilkan oleh proses agradasi yang pada umumnya menghasilkan lapisan
tipis silang siur (thin interbedded). Pada endapan sedimen klastik bentuk ini
diasosiasikan dengan lingkungan fluvial floodplain, storm dominated shelf, dan distal
deep marine slope. Sedangkan pada endapan batuan karbonat berasosiasi dengan
lingkungan storm dominated shelf dan distal deep marine slope interbedded.

Gambar 2. 11 Bentuk kurva log GR/SP yang mengindikasikan beberapa fasies


pengendapan pada batuan klastik (modifikasi dari Emry, 1996; dalam Kendall, 2003)

28
2.5.6 Analisa Lingkungan Pengendapan
Analisa lingkungan pengendapan dapat dilakukan setelah adanya hasil
interpretasi fasies, istilah fasies diperkenalkan oleh Walker (1991) yang artinya suatu
tubuh batuan memiliki sifat yang khas. Fasies sedimen merupakan suatu masa batuan
yang dapat ditentukan dan dibedakan dari batuan lain oleh perbedaan geometri,
litologi, struktur sedimen, dan fosilnya (Selley, 1970). Asosiasi fasies
yaitu kumpulan fasies yang terbentuk bersama-sama dan memiliki hubungan baik
dari genesa pembentukan maupun lingkungan pengendapannya.Delta dibagi menjadi
3 tipe berdasarkan faktor yang dominan mempengaruhi pembentukannya, yaitu:
a) Fluvial-Dominated Delta
Pada delta tipe ini, prodelta dicirikan dengan litologi mudstone dan Siltstone dengan
struktur masif hingga perlapisan dan terkadang memiliki struktur graded bedding ,
jumlah bioturbasi juga bervariasi tergantung dari besar suplai sedimen dan ukuran
butir sedimen yang di endapkan. Delta Front bersifat pasiran begitu dominan
terbentuk pada fasies Distributary mouth bar.
b) Wave-Dominated Delta
Delta dengan tipe ini biasanya hadir pada kelompok prograding beach dan beach
ridge . Delta front dengan tipe delta ini memiliki karakteristik relatif coarsening
upward, struktur sedimen yang terbentuk berupa ripple, cross bedding. Prodelta
biasanya dicirikan dengan hadirnya litologi mudstone dengan bioturbasi yang dominan
dan lebih tipis dibandingkan dengan prodelta tipe fluvial dominated delta .
c) Tide-Dominated Delta
Delta tipe ini merupakan contoh dari delta mahakam yang dicirikan dengan
coarsening upward (Dalrymple, 1992 ). Indikator pasang surut pada pasir delta front
adalah struktur herringbone cross bedding dan tidal bundles.

2.5.7 Persiapan Data & Quality Control Data


Persiapan data adalah kegiatan yang harus dilakukan terlebih dahulu terhadap
data-data log yang ada sebelum data-data tersebut dianalisis lebih lanjut dengan tujuan
mengoptimalkan hasil analisis log. Hal ini dilakukan karena dalam kegiatan logging,
respon bacaan yang didapat dari pengukuran memiliki arti yang relatif labil terhadap
pengukuran dan hal itu dapat mempengaruhi kegiatan analisis data, baik secara

29
kualitatif maupun kuantitatif. Respon dari tiap-tiap log dirancang agar memiliki
sensitivitas tertentu sehingga nilai bacaan pengukuran log dapat mewakili kondisi
bawah permukaan sebenarnya. Tetapi sensitivitas log juga bisa berarti adanya
ketidakpastian, terutama pada log yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap pengaruh
kondisi lubang bor seperti pada log radioaktif.
Adanya pengaruh lain dari perusahaan jasa logging seperti perbedaan teknik
pengambilan data, sensitivitas tiap alat, ukuran alat yang dipakai, dan densitas lumpur
pengeboran pun dapat mempengaruhi respon bacaan log, sehingga perlu dilakukan
quality control terhadap data log agar nilai bacaan yang ada merupakan bacaan yang
sebenarnya dan mampu mewakili kondisi bawah permukaan. Beberapa hal yang
dilakukan pada proses ini antara lain adalah pra-Kalkulasi, identifikasi bad hole,
identifikasi coal dan koreksi lingkungan.

1. Pra-Kalkulasi
Pra-Kalkulasi merupakan tahapan awal dalam analisis data log untuk petrofisika
yang bertujuan untuk mendapatkan nilai temperatur dan tekanan di sepanjang lubang
bor pada setiap sumur yang digunakan dalam penelitian. Besarnya nilai temperatur
pada kedalaman tertentu pada lubang bor diperoleh dari
persamaan :
𝑇𝐵𝐻 − 𝑇𝑇𝐻
𝑇𝐹 = ( ) . 𝑇𝑉𝐷 + 𝑇𝑇𝐻
𝑇𝐷

𝑇𝐵𝐻 − 𝑇𝑇𝐻
𝑇𝐹 = ( ) . 𝑇𝑉𝐷 + 𝑇𝑇𝐻
dimana: 𝑇𝐷
TF : Temperatur formasi pada kedalaman tertentu (°F)

TBH : Bottom Hole Temperature (°F)

TTH : Top Hole Temperature (°F)

TD : Total Depth atau kedalaman total lubang bor (feet)

TVD : Kedalaman vertikal formasi (feet)

30
Sedangkan untuk menghitung besar tekanan pada formasi tersebut,
digunakan persamaan berikut :

𝑃𝐹 = 0.052 × 𝜌𝐹𝐷 × 𝑇𝑉𝐷

dimana: 𝑃𝐹 = 0.052 × 𝜌𝐹𝐷 × 𝑇𝑉𝐷

PF : Tekanan formasi (psi)


𝜌𝐹𝐷 : Densitas lumpur pengeboran (ppg/pound per US gallon)
TVD : Kedalaman vertikal formasi (feet)
2. Identifikasi Bad Hole

Bad Hole merupakan istilah ketika kondisi pada lubang bor mengalami
pelebaran ukuran akibat adanya gerowong (cave) dan atau hadirnya mud cake.
Keberadaan bad hole ini penting untuk diidentifikasi pada awal penelitian karena
dapat mengganggu respon yang terbaca pada alat logging. Hal ini terjadi akibat
lumpur pengeboran yang mengisi lubang pada dinding sumur bukanlah respon
formasi yang sebenarnya. Keberadaan bad hole dapat diidentifikasi dengan
beberapa cara, antara lain yakni:

1. Log kaliper derivative


2. Log kaliper dan densitas derivative (DRHO)
3. Kombinasi keduanya

Dalam penelitian ini cara yang digunakan untuk mengidentifikasi bad hole adalah
dengan metode kaliper dan densitas derivative (DRHO).
3. Identifikasi Coal
Coal atau batubara merupakan ciri litologi penyusun formasi yang terendapkan
di lingkungan transisi. Dimana sebelum melakukan analisa petrofisika penting untuk
diidentifikasi karena memiliki respon log gamma ray yang sama seperti litologi
batupasir dimana menganggu dalam proses perhitungan porositas dalam analisa
petrofisika dan harus dibedakan dalam perhitungannya. Keterdapatan coal dapat
diidentifikasi dengan beberapa pengamatan pada log, yakni:
1. Log resistivity
2. Log density
3. Log neutron porosity

31
4. Koreksi Lingkungan
Koreksi lingkungan dilakukan karena faktor-faktor seperti jenis lumpur yang
digunakan, ukuran lubang bor, salinitas lumpur, dan enis alat logging yang digunakan
dapat mempengaruhi beberapa respon log seperti gamma ray, densitas, dan neutron.

2.5.8 Properti Petrofisika


Dalam perhitungan potensi cadangan hidrokarbon dapat dilakukan dengan
cara menganalisis data petrofisik. Evaluasi formasi batuan adalah suatu proses analisis
ciri dan sifat batuan di bawah tanah dengan menggunakan hasil pengukuran lubang
sumur (Harsono, 1997)
Dalam perhitungan petrofisik, beberapa perhitungan yang diperlukan untuk
mengetahui jenis litologi hingga perhitungan hidrokarbon adalah dengan menghitung
nilai Volume Shale (Vsh), porositas (Φ), dan water saturation (Sw). Harsono (1997),
menyebutkan bahwa tujuan utama dari evaluasi formasi adalah untuk idetifikasi
keterdapata hidrokarbon, perkiraan cadangan hidrokarbon di tempat, da perkiraan
perolehan hidrokarbon.
Dalam perhitungan potensi cadangan hidrokarbon, juga perlu dilakukan
perhitungan volumetrik dari tubuh batuan yang dianalisis sebagai batuan reservoar.
Perhitungan volumetrik tersebut berfungsi untuk mengetahui net to gross dari batuan
reservoar.

1. Volume Serpih (Vshale)


Komposisi serpih penting untuk dihitung, karena akan mempengaruhi parameter
yang lain. (Harsono, 1997). Tujuan dilakukannya perhitungan petrofisik ini adalah
menentukan jenis dan volume shale (VSH) di dalam batupasir. Jumlah serpih perlu
ditentukan karena serpih dapat menyebabkan penyimpangan pembacaan log, dan
dapat mengurangi nilai porositas sebenarnya dari batuan tersebut. Pembacaan pada log
porositas akan terpengaruh oleh adanya serpih yang mengisi porositas batuan.
Untuk penelitian ini penulis menggunakan metode perhitungan
menggunakan log gamma ray. Secara sederhana menggunakan metode
linierdengan persamaan (Asquith dan Gibson, 1982) :

32
𝐺𝑅𝑙𝑜𝑔 − 𝐺𝑅𝑚𝑖𝑛
𝑉𝑠ℎ =
𝐺𝑅𝑚𝑎𝑥 − 𝐺𝑅𝑚𝑖𝑛
𝐺𝑅𝑙𝑜𝑔 − 𝐺𝑅𝑚𝑖𝑛
Keterangan: 𝑉𝑠ℎ =
𝐺𝑅𝑚𝑎𝑥 − 𝐺𝑅𝑚𝑖𝑛
Vsh = Kandungan Serpih (fraksi)
GR log = Nilai pembacaan log Gamma Ray (GAPI)
GR max = Nilai pembacaan log Gamma Ray tertinggi
GR min = Nilai pembacaan log Gamma Ray terendah

2. Porositas (Φ)
Porositas dapat ditentukan dari beberapa macam log, diantaranya dari log
densitas, neutron, sonik, dan kombinasi dua macam log (Harsono, 1997).

A. Log Densitas
Harga densitas yang kita peroleh dari pembacaan dapat diubah menjadi harga porositas
dengan menggunakan rumus :

ρma - ρlog
ФD=
ρma - ρfluida

Keterangan :
ρma : densitas matriks batuan (gr/cc)
ρlog : densitas matriks batuan pembacaaan log (gr/cc)
ρfluida : densitas fluida batuan (gr/cc)

Tabel 2. 1 Konstanta densitas matriks


pada litologi yang umum dijumpai

Litologi  ma (gr/cc)
Batupasir 2.648
Batugamping 2.710
Dolomite 2.876
Anhydrite 2.977

33
Salt 2.032
B. Log Neutron
Hasil pembacaan dari log neutron adalah standar pengukuran batugamping,
untuk mengkonversikan kepada batupasir atau dolomite kita ubah dengan
menggunakan chart Por-13b (Gambar 2.12).

Gambar 2. 12 Kurva kesamaan porositas untuk log neutron


(Harsono, 1997)

C. Kombinasi Log Densitas dan Neutron


Harga yang diperoleh dari pembacaan log densitas dan neutron dengan
menggunakan persamaan :

∅𝐷+∅𝑁
∅T =
2
Keterangan :
Фtotal : Porositas total (v/v)
ФN : Nilai porositas neutron (v/v)
ФD : Nilai porositas densitas (v/v)

34
Koreksi keterdapatan serpih perlu dilakukan untuk menghasilkan perhitungan
porositas efektif. Hasil perhitungan Volume shale dipakai untuk mengkoreksi Ф N dan
Ф D dengan rumus:

𝜌𝑚𝑎−𝜌𝑠ℎ
∅Dsh =
𝜌𝑚𝑎−𝜌𝑓

∅Dcorr = ∅D − ( Vsh × ∅Dsh) ∅Ncorr = ∅N − ( Vsh × ∅Nsh)

Keterangan:
∅Dcor= Porositas densitas koreksi (fraksi)
∅Ncor= Pororsitas neutron koreksi (fraksi)
∅Dsh = Porositas densitas shale (fraksi)
∅Nsh = Porositas neutron shale (fraksi)
𝜌𝑚𝑎 = Densitas matriks (gr/cc)
𝜌b = Densitas bacaan log (gr/cc)
𝜌𝑓𝑙 = Densitas fluida formasi (gr/cc)
Vsh = Volume Shale (fraksi)
Setelah dikoreksi kedua harga porositas tersebut digabung dengan menggunakan
persamaan :

∅Dcor2 + ∅Dcor2
∅e =√ 2

Keterangan :
Фeff : Porositas efektif (v/v)
Фtotal : Porositas total (v/v)

ФN-shale : Porositas neutron pada litologi serpih (v/v)


ФD-shale : Porositas densitas pada litologi serpih (v/v)
Vsh : Volume serpih (v/v)

35
C. Resistifitas Air (Rw)
Penentuan harga tahanan listrik air formasi (formation water resistivity) perlu
dilakukan dengan seksama mengingat perannya sebagai parameter penentu pada
perhitungan saturasi air, yang pada gilirannya akan menunjukkan ada tidaknya prospek
hidrokarbon. Segala cara harus dilakukan untuk menjamin keakuratan penentuan ini,
termasuk diantaranya meneliti contoh air yang didapat langsung dari uji kandung
lapisan maupun uji produksi (Pertamina, 2003). Ada beberapa metode yang dapat
digunakan diantaranya metode SP, metode Rt, metode crossplot resistivitas – porositas,

dan metode Crossplot Rxo – Rt.

Metode Crossplot resistivitas – porositas merupakan metode yang diakukan dengan


mengkalibrasi antara resistivitas dengan log porositas (biasanya berupa FDC dan
CNL) yang sesuai untuk dikerjakan. Gambar nilai log yang dibaca langsung dari log
resistivitas dalam dan log porositas di dalam lapisan yang dikehendaki.
Garis Rw didapatkan dengan menarik garis dari titik matriks melalui titik-titik
paling kiri (Utara-Barat), didapat garis air, dimana Sw = 100%. Setiap titik pada garis
itu memberikan nilai porositasnya dan resistivitas Ro yang sesuai. Untuk memperoleh
nilai Rw, nyatakan skala porositas dalam absis (pakai grafik log yang sesuai) ,
kemudian umpamakan F = 1/ Φ2 .Tarik garis vertikal dari titik  = 20 (F=25), atau
dari titik  = 10 (F=100) ke garis-air kemudian tarik garis horisontal ke ordinat baca

Ro (Gambar 3.25).
Nilai Rw didapatkan dengan rumus :

Keterangan :
Rw : Resistivitas air formasi (ohm-m)
Ro : Resistivitas formasi dengan kejenuhan air formasi 100% (ohm-m)
F : Nilai faktor formasi

36
Gambar 2. 13 Diagram logaritma antara resistivitas dalam
dengan fraksi porositas, garis linear biru menandakan posisi
ketika resistivitas jenuh air (Bateman, 2008)

D. Saturasi Air
Saturasi air (Sw) merupakan persentase volume pori batuan yang terisi air
formasi. Untuk formasi pasir dan clay, Simandoux menyarankan untuk menggunakan
pesamaan konduktivitas dengan beberapa modifikasi matematis dan disubtitusikan ke
dalam persamaan Tixier sebagai berikut:

0.4 ×𝑅𝑤 5∅𝑒2 𝑉𝑠ℎ 2


Sw = × [(√𝑅𝑤×𝑅𝑡 + (𝑉𝑠ℎ) ) − ]
∅𝑒 2 𝑅𝑠ℎ 𝑅𝑠ℎ

Keterangan:
Rt = true resistivity dari formasi
Rw = resistivity formasi air pada temperatur formasi
Rc = resistivity clay
Sw = saturasi air
Vsh = Volume shale
Ф = porositas

37
E. Permeabilitas
Menurut Harsono (1997), permeabilitas adalah suatu pengukuran yang
menyatakan tingkat kemudahan dari fluida mengalir didalam formasi batuan.
Satuannya adalah darcy. Satu darcy di definisikan sebagai permeabilitas dari fluida
sebesar satu senti meter kubik per detik dengan kekentalan sebesar satu centipoise
mengalir dalam lubang berpenampang sebesar satu senti persegi dibawah gradien
tekanan satu atmosfer per sentimeter. Dalam kenyataannya satu darcy adalah teralu
besar, sehingga digunakan satuan yang lebih kecil yaitu milidarcy (mD).
Salah satu cara untuk mengestimasi besaran permeabilitas adalah dengan
menggunakan porositas dan saturasi air tersisa (irreducible water saturation). Tidak
ada suatu hubungan yang pasti antara permeabilitas dan porositas. Rumus hubungan
kedua parameter itu umumnya adalah empiris, dijabarkan pada kondisi dan situasi
tertentu. Suatu hubungan empiris yang lebih umum diusulkan oleh Wyllie dan Rose
yang melibatkan parameter saturasi air sisa (1950; dalam Harsono, 1997). Penentuan
permeabilitas secara empiris dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa
persamaan:
2
∅𝑒 𝑥
𝐾 = (𝑐. )
Swirr 𝑦

Konstanta dari persamaan Wyllie dan Rose tersebut didefinisikan oleh Timur (1968)
dengan membuat persamaan empiris seperti berikut ini :

2
100 × ∅𝑒 2.25
𝐾=( )
𝑆𝑤𝑖𝑟𝑟
Keterangan:
x, y dan c = konstanta
∅𝑒 = porositas efektif batuan (fraksi)
Swirr = saturasi air sisa (fraksi)
K = permeabilitas Wyllie dan Rose (milidarcy (mD)).

38
2.5.9 Proses Lumping

1. Estimasi nilai cut-off


Proses lumping ini diawali dengan menentukan nilai cut-off dari volume shale,
porositas, dan saturasi air
• Cut-off Porositas dan Cut-off Volume Serpih
Cut-off porositas efektif ditentukan dari crossplot antara porositas efektif sebagai
garis y dan volumen serpih sebagai garis x. Dimana melihat himpunan data yang
berkumpul pada satu titik kemudian batasi dengan garis tegas garis x dan y, kemudian
baca nilai garis x dan y sebagai nilai cut-off , garis x sebagai nilai cut-off volume shale
dan y sebagai nilai cut-off porositas.
• Cut-off Saturasi Air
Lakukan hal yang sama mseperti penentuan cut-off porositas dan volumen serpih
melainkan garis x diganti menjadi saturasi air dan garis y merupakan nilai cut-off
porositas yang sudah di dapatkan.

2. Perhitungan ketebalan gross, net sand dan net pay serta net to gross
Setelah semua nilai cut-off diperoleh, maka selanjutnya dapat dilakukan proses
lumping untuk mendeskripsikan zona-zona menurut parameternya. Ketebalan
gross, net sand (reservoar), net pay, dan net to gross dengan ketentuan sebagai berikut:
• Total pay (gross) : ketebalan yang diperoleh dari ketebalan total zona (top-bottom)
yang dianalisis tanpa mengunakan cut-off.
• Net sand (reservoar) : ketebalan reservoar yang diperoleh dengan menggunakan cut-
off berupa volume shale (Vsh) dan porositas (∅).
• Net pay : ketebalan yang terisi hidrokarbon yang diperoleh dengan menggunakan
cut-off berupa volume shale (Vsh), porositas (∅), , dan saturasi air (Sw)..
• Net to gross : perbandingan atau rasio antara ketebalan reservoar (net sand) terhadap
ketebalan gross. Semakin besar nilai net to gross suatu zona, artinya zona tersebut
memiliki efektifitas yang semakin baik dan akan memiliki nilai ekonomis yang tinggi
untuk dapat diproduksi.

39
2.5.10 Peta Bawah Permukaan
Macam-macam peta bawah permukaan untuk keperluan eksplorasi
dan eksploitasi hidrokarbon adalah :
1. Peta Kontur Struktur
Peta ini menggambarkan konfigurasi bidang perlapisan tertentu atau bentuk-
bentuk geometri dan elevasi dari suatu bidang permukaan satuan stratigrafi
terhadap suatu datum. Datum yang digunakan dalam peta kontur struktur bawah
permukaan adalah muka air laut. Contoh dari peta kontur struktur antara lain peta top
dan bottom. Peta top structure menunjukkan penyebaran puncak suatu lapisan di
bawah permukaan. Sementara peta bottom structure menunjukkan penyebaran
lapisan bawah pada suatu lapisan di bawah permukaan.
2. Peta Isopach
Peta Isopach memperlihatkan ketebalan dari suatu lapisan atau suatu seri
lapisan yang dinyatakan dengan garis-garis kontur yang menyatakan ketebalan
sebuah lapisan.
3. Peta Persebaran Properti Petrofisika
Peta Persebaran Petrofisik merupakan suatu peta parameter petrofisik yang
disebarkan pada tiap-tiap sumur yang telah di analisis petrofisika. Peta tersebut
berupa peta volume serpih, peta permeabilitas, peta porositas, peta kejenuhan air

2.5.11 Perhitungan Cadangan

Dalam perhitungan potensi cadangan hidrokarbon terdapat beberapa


metode, salah satunya adalah dengan metode perhitungan volumetrik. Menurut
Rukmana (2012), metode volumetrik umumnya digunakan pada tahapan awal dari
suatu lapangan minyak maupun gas. Pada prinsipnya metode ini meliputi perhitungan:
Jumlah minyak dan gas ditempat dengan gabungan peta volumetrik (geologi), analisis
petrofisika, dan teknik reservoar. Fraksi dari minyak, gas, dan produk gabungan
ditempat yang diharapkan dapat diproduksikan secara komersial
Dalam perhitungan cadangan secara volumetrik perlu diketahui besarnya
initially hidrokarbon in place (OIIP maupun GIIP), ultimate recovery, dan recovery
factor. Data yang diperlukan untuk perhitungan OIIP dan GIIP secara volumetrik

40
adalah bulk volume reservoar (Vb), porositas batuan (Ф), saturasi fluida (Sw), dan
faktor volume formasi fluida (Bo/Bg).
GIIP (Gas Initially In Place) berarti volume gas di suatu tempat sebelum
dimulainya proses produksi. Perhitungan potensi cadangan gas bumi ini diperlukan
dua metode, yakni perhitungan parameter petrofisik dan perhitungan volumetrik tubuh
batuan. Keduanya diproses melalui software PETREL dengan rumus :

GIIP = Volume bulk reservoar x Φ x (1-Sw) / BGI

GIIP = Volume bulk


Keterangan: reservoar
- GIIP x NTG in
(Gas Initially xΦ x (1-Sw)
Place)
/ BGI
- Volume bulk reservoar, satuan acre feet
- Φ (porositas), dalam %
- SW (saturation water), dalam %
- BGI (gas formation volume factor), konstanta angka

41
BAB III
PENYAJIAN DATA

Penelitian pada Lapangan Triumph difokuskan pada Formasi Talangakar


Bawah. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data yang dimiliki
PT.Petrocina Internasional Jabung Ltd, yang memiliki lapangan eksplorasi di Provinsi
Sumatera Selatan. Penelitian dilakukan dengan menggunakan data wireline log yang
didukung oleh data mud log, final well report, dan grid picking seismic.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik pada daerah
telitian berdasarkan hasil analisis petrofisika, dan mengetahui estimasi nilai sumber
daya yang terkandung pada lapangan ini dari perhitungan sumber daya.

3.1 Lokasi Sumur


Peta Dasar dapat menggambarkan titik lokasi sumur pada Lapangan Triumph.
Lapangan ini memiliki 5 sumur eksplorasi, TU1, TU2, T-3, T-1,T-2 (Gambar 3.1).

Gambar 3. 1 Peta lokasi sumur lapangan TRIUMPH

Pada lapangan Triumph sumur-sumur tersebar dengan arah barat laut-tenggara.


Dari 5 sumur tersebut, 3 sumur merupakan sumur vertikal yaitu T-3, T-1, T-2 dan 2
sumur merupakan sumur deviasi yaitu TU-2, dan TU-1

42
3.2 Data Wireline Log
Data ini merupakan data utama yang menyokong penelitian ini, data yang
diberikan sesuai dengan keterdapatan sumur pada Lapangan Triumph yang berjumlah
5 sumur. Data ini diberikan dengan format “.las” yang dapat dibuka dan di proses
menggunakan software geolog dan petrel, data ini berisi mengenai informasi lubang
bor saat pemboran dan perekaman alat-alat logging sepeti log gamma ray, log
resistivitas, log densitas, log neutron dan masih banyak lainnya yang sesuai dengan
interval pembacaan alat logging yang diukur secara vertikal dari muka air laut dengan
satuan SSTVD. Ketersediaan data log sumur pada Lapangan Triumph dapat dilihat
pada (Tabel 3.1)
Tabel 3. 1 Ketersediaan data log sumur lapangan TRIUMPH

Sumur TU-2 merupakan sumur yang menjadi sumur kunci dikarenakan sumur
eksplorasi ini memiliki data log sumur yang lengkap dan memiliki interval terpanjang
pada Formasi Talangakar sehingga dapat mencangkup sumur-sumur lainnya. Interval
kedalaman sumur yang di dapat mulai dari Formasi Gumai hingga Basement.

3.3 Data Mudlog


Data mudlog digunakan untuk mengetahui nilai total kandungan gas terutama
pada suatu target zona dengan begitu dapat mengetahui keterdapatan hidrokarbon dan
jenis fluida yang terkandung berdasarkan kurva gas kromatografi. Pada mudlog juga
terdapat deskripsi cutting yang berguna untuk mengetahui litologi pada kedalaman
tertentu dan juga kurva log rate of penetration (ROP) yang membantu untuk
mengetahui penetrasi pada saat menembus lapisan batuan. Selain itu, terdapat juga
kurva log resitivitas dan kurva log porositas.

43
Gambar 3. 2 Data mudlogg sumur TU-2, lapangan TRIUMPH

3.4 Data Pendukung Lainnya


Data pendukung merupakan data yang dapat membantu dalam melakukan
analisa data utama dan memperkuat interpretasi yang sudah dilakukan. Data
pendukung yang diberikan dari pihak perusahaan berupa: Final well report, Grid
picking seismic, dan literatur yang terkait.

44
BAB IV
TINJAUAN PUSTAKA

4.1 Geologi Regional Daerah Penelitian


Area studi terletak di Cekungan Sumatera Selatan yang merupakan salah satu
penghasil utama hidrokarbon di area Sumatera. Cekungan Sumatera Selatan adalah
satu dari tiga cekungan utama di Sumatera yang terdiri dari Cekungan Sumatera Utara,
Cekungan Sumatera Tengah dan Cekungan Sumatera Selatan. (Gambar 4.1).

Gambar 4. 1 Cekungan Sumatera Selatan ( Heidrick and Aulia, 1993)

Area Cekungan Sumatera Selatan adalah bagian dari back-arc basin Jawa
Sumatera sistem subduksi yang mencakup area 117,000 km2. Ke bagian Utara,
Cekungan Sumatera Selatan dibatasi oleh Pegunungan Tigapuluh yang memisahkan
dengan Cekungan Sumatera Tengah. Ke arah Barat, cekungan ini dibatasi oleh
Pegunungan Bukit Barisan yang merupakan busur magmatik berumur Tersier. Ke arah
timur dan tenggara Cekungan Sumatera Selatan dibatasi oleh Tinggian Lampung dan
Palembang yang memisahkan dengan Cekungan Sunda (Gambar 4.1). Cekungan

45
Sumatera Selatan terbagi menjadi 4 sub-cekungan yang disebut : Sub-Cekungan
Jambi, Sub-Cekungan Palembang Utara, Sub-Cekungan Palembang Tengah, dan Sub-
Cekungan Palembang Selatan (Bishop, 2001) (Gambar 4.2).

Gambar 4. 2 Bagian Sub-Cekungan dari Cekungan Sumatera


Selatan (Bishop, 2001)

4.1.1 Kerangka Tektonik Regional


Cekungan Sumatera Selatan terbentuk selama Awal Tersier (Eosen – Oligosen)
ketika rangkaian seri graben berkembang sebagai reaksi sistem penunjaman menyudut
antara lempeng Samudra India di bawah lempeng Benua Asia. Berdasarkan sejarah
terbentuknya orogenesa pulau Sumatera, maka dalam pembentukan Cekungan
Sumatera Selatan dapat dibagi menjadi tiga tahapan megasikuen tektonik
pembentukan Cekungan Sumatera Selatan (Ginger and Fielding, 2005).

46
Gambar 4. 3 Pola struktur cekungan Sumatra Selatan
(Ginger and Fielding, 2005)
Megasikuen Syn-Rift
Menurut Ginger dan Fielding (2005), megasikuen ini terbentuk pada 40 hingga
29 juta tahun lalu sebagai hasil dari proses subduksi antara lempeng Indo-Australia
dan Lempeng Asia Tenggara. Area lempeng benua pada sekitar Sumatera Selatan
merupakan hasil utama proses dari ekstensional yang berlangsung pada Eosen hingga
Oligosen Awal. Proses ekstensional tersebut menghasilkan beberapa graben yang
geometri dan orientasinya juga dipengaruhi oleh pola struktur basement. Pada
awalnya, proses ekstensional ini berorientasi timur – barat yang menghasilkan
beberapa sikuen horst dan graben yang berarah utara – selatan. Terhitung sejak awal
Miosen, Sumatera Selatan terputar kira-kira sebesar 15o searah jarum jam yang hingga
saat ini memiliki graben dengan arah timurlaut – baratdaya (Hall, 1995; dalam Ginger
dan Fielding, 2005)

47
Megasikuen Post-Rift
Proses rifting mulai berhenti kira-kira 29 juta tahun lalu, tetapi lapisan tipis
lempeng benua dibawah cekungan Sumatera Selatan berlanjut turun menuju
pembentukan kesetimbangan lithosperic thermal. Pada beberapa bagian dari
cekungan, seperti pada sub cekungan Palembang Tengah, megasikuen ini mencapai
ketebalan lebih dari 4000 meter. Proses penurunan muka tanah dan perubahan muka
laut menghasilkan proses transgresi yang cukup lama yang mencapai maksimum pada
16 Juta tahun lalu dengan cekungan yang tertutup oleh banjir (Ginger dan Fielding.,
2005).
Perlambatan rata-rata penurunan muka tanah menjadikan bertambahnya
akumulasi material sedimen pada cekungan yang berlangsung pada 16 hingga 5 juta
tahun lalu sebagai hasil dari fase regresi. Dalam hal ini tidak terdapat bukti bahwa
aktivitas tektonik lokal secara berarti mempengaruhi fase regresi tersebut.

Megasikuen Syn-orogenic atau Inversion


Terjadi perkembangan proses orogenesa. Pembentukan Pegunungan Barisan
muncul sepanjang Sumatera Selatan sejak 5 juta tahun yang lalu hingga saat ini.
Walaupun terdapat beberapa adanya bukti bahwa proses pengangkatan lokal terjadi
sejak 10 juta tahun lalu (Chalik dkk., 2004; dalam Ginger dan Fielding, 2005). Lipatan
transspresional elongate dengan orientasi baratlaut – tenggara pada cekungan,
merupakan pola dasar dari syn-rift. Keterdapatan hidrokarbon dengan perangkat
struktural pada pusat cekungan terbentuk pada fase ini. Walaupun pada beberapa area
akumulasi hidrokarbon menerobos dan tersingkap sebagai rembesan.
Diluar hal tersebut, penurunan muka tanah pada cekungan sedimen terus
berlanjut dan material sedimen semakin meningkat dengan adanya material dari hasil
erosi Pegunungan Barisan menuju ke arah selatan dan barat.

48
4.1.2 Stratigrafi Cekungan Sumatera Selatan
Ginger dan Fielding (2005) melakukan penyederhanaan terhadap susunan
stratigrafi pada cekungan Sumatera Selatan. Bertujuan untuk mengatasi batasan-
batasan dari berbagai macam tatanan litostratigrafi yang digunakan oleh masing-
masing perusahaan migas yang terletak pada daerah Sekungan Sumatera Selatan
(Gambar 4.4).

Gambar 4. 4 Skema kronostratigrafi cekungan Sumatera Selatan (Ginger and Fielding, 2005)

Urut – urutan penjelasan stratigrafi Cekungan Sumatera Selatan dari tua ke


muda adalah sebagai berikut:
Basement (Pra-Tersier dan Tersier Awal )
Batuan Pra-Tersier pada cekungan Sumatera Selatan merupakan basement dari
batuan sedimen Tersier. Litologi batuan ini berupa batuan beku, batuan metamorf, dan
batuan sedimen. Basement ini diperkirakan telah mengalami perlipatan dan patahan
yang intensif pada zaman Kapur Tengah sampai zaman Kapur Akhir. Morfologi
basement ini diperkirakan memiliki pengaruh terhadap morfologi pembentukan rift
selama Eosen hingga Oligosen, strike/slip inversion selama Pliosen – Pleisosen, serta
keterbentukan hidrokarbon yang berada pada rekahan basement (Ginger dan Fielding,
2005).

49
Formasi Lahat dan Formasi Lemat (Eosen Akhir hingga Oligosen Tengah)
Pengendapan awal pada Cekungan Sumatera Selatan terjadi pada selama Eosen
hingga Oligosen (De Coster, 1974; dalam Ginger dan Fielding, 2005). Dari hasil
pengeboran yang pernah dilakukan, didapatkan litologi pada formasi ini berupa tuff,
breksi dengan material granit, serpih, batulanau, batupasir, dan batubara yang
diendapkan pada danau air tawar. Dari hasil pengukuran sayatan yang dilakukan pada
struktur graben didapatkan ketebalan lapisan hingga lebih dari 1000m pada daerah sub
cekungan Sumatera Selatan dan Tengah.
Formasi Talangakar (Oligosen Akhir hingga Miosen)
Menurut Ginger dan Fielding (2005), selama fase akhir syn-rift hingga post-
rift berlangsung, terjadi penurunan dari evolusi tektonik cekungan Sumatera Selatan.
Pengendapan fluvial dan delta semakin luas penyebarannya. Kecenderungan dari
lingkungan proksimal pada batupasir sungai teranyam menuju ke distal batupasir
sungai berkelok, serta sedimen overbank secara bersamaan dengan semakin
dipengaruhinya oleh pengendapan tepi laut dan laut pada proses sedimentasi berlanjut
sebagai penurunan muka tanah. Pada kejadian ini sering dijumpai adanya lapisan tebal
pada pusat cekungan dan menipis menuju tepian. Pada Miosen Awal, kondisi fluvial
digantikan dengan delta, tepi laut, serta laut dangkal hingga laut dalam dengan
disertainya fase transgresi.
Formasi Baturaja (Miosen Awal )
Menurut Ginger dan Fielding (2005), fase transgresi masih berlanjut hingga Miosen
Awal dengan endapan berupa serpih laut dalam diatas stukrur graben, dan kondisi
endapan laut dangkal berada diatas tinggian cekungan yang banyak terbentuk pada sisi
timur cekungan. Formasi ini diendapkan secara selaras diatas Formasi Talangakar.
Produksi material karbonat berkembang dengan pesat, dan pada saat ini pula
menghasilkan endapan berupa batugamping yang terdiri dari batugamping terumbu
dan batupasir gampingan. Ketebalan formasi ini berkisar antara 20 – 150 meter dengan
lingkungan pengendapan berupa laut dangkal. Reservoar karbonat dengan kualitas
baik muncul pada selatan cekungan, namun akan semakin menghilang pada sub
Cekungan Jambi di utara. Hal ini menjadikan bertambahnya pasokan sedimen kearah
utara dan banyak bioherm tersingkap sehingga meningkatkan porositas sekunder pada
selatan dan timur cekungan.

50
Formasi Gumai (Miosen Awal hingga Miosen Tengah)
Formasi Gumai diendapkan selama Miosesn Awal hingga Miosen Tengah diatas
Formasi Baturaja (Ginger dan Fielding, 2005). Merupakan hasil pengendapan yang
terjadi pada saat fase transgresi mencapai titik puncak. Hubungannya dengan Formasi
Baturaja pada tepi cekungan atau daerah dalam cekungan yang dangkal adalah selaras.
Fase transgresi yang terus berlanjut sejak Miosen Awal hingga Miosen Tengah
menghasilkan endapan berupa serpih, batulanau, dan batupasir dengan jarang
ditemukannya endapan karbonat diatas tinggian basement. Selama fase puncak
transgresi terjadi, endapan laut berupa serpih glaukonit mendominasi seluruh
Cekungan yang menciptakan pelamparan batuan penudung terluas. Selanjutnya,
endapan progadasi dari sedimen delta dan transisi muncul. Kemudian dilanjutkan
dengan endapan laut dangkal secara bertahap menggantikan endapan serpih laut
terbuka. Daerah platform menuju ke arah timur dan timurlaut didominasi oleh pasokan
sedimen, meskipun pada saat itu juga terdapat beberapa material volkasniklastik yang
bersumber dari proses volkanik.
Formasi Airbenakat (Miosen Tengah)
Sesuai dengan geologi regional Sumatera Selatan, maka Formasi Airbenakat
merupakan saat dimana fase regresi dimulai. Formasi ini terbentuk pada Miosen
Tengah (Ginger dan Fielding, 2005). Kondisi laut dalam yang secara merata terbentuk
pada akhir Miosen Awal, secara bertahap berganti dengan kondisi laut dangkal, yang
kemudian terendapkan pada lapisan atas Cekungan Sumatera Selatan. Litologinya
terdiri dari batupasir tufaan, dan batulempung tufaan yang berselang-seling dengan
batugamping napalan.
Beberapa reservoar batupasir laut dangkal dengan kualitas baik tersebar secara
luas di atas cekungan Sumatera Selatan. Pada tepi cekungan, berlaku kondisi endapan
marginal marine hingga coastal plain sebagai hasil dari aktivitas batuan beku produk
dari pegunungan Barisan, banyak satuan litologi batupasir tersebut memiliki
komposisi volkaniklastik. Kondisi lainnya terjadi di Barat, dimana kualitas
reservoarnya menurun.

51
Formasi Muaraenim (Miosen Akhir)
Formasi ini terendapkan secara selaras diatas Formasi Muaraenim, terbentuk
pada Miosen Akhir. Berdasarkan data yang ada, pada periode ini proses vulkanisme
semakin meningkat dan disertai kemunculan pegunungan Barisan ke arah barat
sebagai sumber utama material sedimen yang terendapkan pada cekungan. Litologinya
berupa batulempung, batupasir, batulempung pasiran, dan batulempung tufaan. Pada
beberapa sumur besar, mencirikan bahwa formasi ini terendapkan pada daerah fluvial
hingga delta serta danau dekat pantai.
Formasi Kasai (Pliosen hingga Pleistosen)
Selama kurun waktu Pliosen hingga Pleistosen, pegunungan Barisan merupakan
sumber utama material volkaniklastik (Ginger dkk., 2005). Pada fase regresi lanjutan,
material volkaniklastik tersebut terendapkan hampir di seluruh bagian wilayah
Sumatera Selatan. Proses sedimentasi terganggu oleh akibat adanya proses
pengangkatan secara cepat dan adanya proses erosi selama kurun Pleistosen. Formasi
ini memiliki litologi berupa tuf, batulanau, dan batupasir volkaniklastik. Lingkungan
pengendapan berupa daerah transisi sampai darat.

4.2 Geologi Daerah Penelitian


Daerah Penelitian merupakan Sub Cekungan Jambi adalah bagian dari
Cekungan Sumatera Selatan yang merupakan cekungan belakang busur berumur
Tersier yang terbentuk akibat tumbukan antara Sundaland dan Lempeng Hindia.
Secara geografis sub Cekungan Jambi dibatasi oleh Pegunungan Tigapuluh di sebelah
utara, Pegunungan Duabelas dan Tinggian Tamiang di bagian selatan, Paparan Sunda
di sebelah timur, dan Bukit Barisan di sebelah barat.

4.2.1 Struktur Geologi Daerah Penelitian


Lapangan TRIUMPH terletak di cekungan Sumatera Selatan, sub Cekungan
Jambi yang merupakan hasil dari tektonik konvergen berupa subduksi lempeng Indo-
Australia dengan lempeng Eurasia. Gaya regangan sepanjang zona subduksi
menghasilkan beberapa struktur graben yang memanjang dari pulau Sumatera hingga
ke Jawa.

52
Pergerakan tektonik akibat kompresi ini telah berlangsung sejak Miosen Akhir
hingga Pliosen. Akibatnya terjadi reaktivasi dari beberapa struktur tua pada beberapa
cekungan yang ada pada Tersier Awal sehingga membentuk beberapa konfigurasi
stuktur geologi seperti sesar gunting dan sesar naik. Daerah stuktur ini disebut sebagai
Sunda fold yang dicirikan dengan stuktur geologi sesar naik dengan sudut yang tajam
akibat dari reaktivasi pada stuktur tua. Umumnya stuktur tersebut menjadi structural
trap hidrokarbon pada cekungan Sumatera Selatan.
Tahapan pengendapan di Cekungan Sumatera Selatan terdiri dari siklus
transgresi-regresi yang dimulai pada Eosen Akhir sampai dengan Oligosen Awal.
Sikuen transgresi yang terus berlanjut mengakibatkan perubahan lingkungan
pengendapan dari darat menjadi lingkungan laut. Pengangkatan Paparan Sunda selama
Miosen Tengah menandai akhir dari sikuen transgresi pada jaman Tersier Awal dan
dimulainya sikuen regresi yang terus berlajut sampai sekarang. Pengangkatan selama
Miosen Tengah menyebabkan inversi dari cekungan-cekungan tua dan penambahan
pengangkatan dari tinggian-tinggian tua. Tektonik kompresi ini terus berlanjut hingga
saat ini dan banyak membentuk perangkap hidrokarbon di Blok Jabung dan sekitar
Sumatera Selatan.

4.2.2 Statigrafi Daerah Penelitian


Berikut adalah stratigrafi daerah penelitian dari endapan berumur tua hingga
berumur muda (Fitrianto, 2011), yang di padukan dengan data wireline log lapangan
Triumph sumur TU2 :
Basement (Pra-Tersier dan Tersier Awal)
Batuan Pra-Tersier pada cekungan Sumatera Selatan merupakan basement dari
batuan sedimen Tersier. Litologi batuan ini berupa batuan beku, batuan metamorf, dan
batuan sedimen. Basement ini diperkirakan telah mengalami perlipatan dan patahan
yang intensif pada zaman Kapur Tengah sampai zaman Kapur Akhir.
Formasi Talangakar (Eosen-Miosen Awal)
Formasi Talangakar pada daerah telitian dibagi menjadi 2 bagian yaitu Formasi
Talangakar Bawah atau dikenal juga sebagai Gritsand Member, dan Formasi
Talangakar Atas atau dikenal juga sebagai Transition Member.

53
Gritsand Member dicirikan dengan stacking batupasir fasies channel di
lingkungan pengendapan fluvial-deltaik yang memiliki perselingan dengan batuserpih.
Top dari Formasi Lower Talangakar dibeberapa lapangan di Blok Jabung ditandai oleh
lapisan dan juga fragmen batubara yang pertama dijumpai saat pemboran. Batupasir
di formasi ini merupakan reservoar produktif.
Transition Member dicirikan oleh perselingan batuserpih, kalsilutit, dan
batulempung dengan sisipan batupasir lempungan tipis dan material micrite
(microcrystalline calcite). Batupasir pada formasi ini umumnya lempungan dengan
kualitas reservoar sedang.
Formasi Baturaja (Miosen Awal )
Formasi ini diendapkan secara selaras diatas Formasi Talangakar. Reservoar
karbonat dengan kualitas baik muncul pada bagian selatan cekungan, namun akan
semakin menghilang pada sub cekungan Jambi di utara. Beberapa distribusi facies
batugamping yang terdapat dalam Formasi Baturaja diantaranya adalah mudstone,
wackstone, dan packstone. Bagian bawah terdiri dari batugamping kristalin yang
didominasi oleh semen kalsit dan terdiri dari wackstone bioklastik dan sedikit plentic
foram.
Formasi Gumai (Miosen Awal-Tengah)
Formasi Gumai dicirikan oleh endapan klastik fasies laut, litologi didominasi
oleh perselingan batulempung karbonatan dan batuserpih dengan batupasir
karbonatan/glaukonit berbutir halus-sedang. Ketebalan batupasir dan kualitasnya
meningkat pada Formasi Gumai, seiring dengan kenaikan muka air laut secara regional
di seluruh Cekungan Sumtra Selatan. Base dari Formasi Gumai dapat disetarakan
dengan Formasi Batu Raja yang merupakan zona produktif batuan karbonat terumbu
di daerah Selatan Cekungan Sumatera Selatan.

4.2.3 Zona Target


Zona target telitian berada pada Formasi Talangakar lebih tepatnya pada Formasi
Talangakar bagian bawah dimana pada Formasi Talangakar Bawah menurut Ginger
dan Fielding (2005) dominan tersusun dengan oleh litologi batupasir, dan Formasi
Talangakar Bawah terendapkan pada lingkungan fluvial sehingga memiliki ciri
batupasir yang tebal (blocky). Dimana batupasir pada Formasi Talangakar Bawah

54
berprospek sebagai reservoar yang baik dalam system petroleum daerah telitian.
Penentuan reservoar pada penelitian ini yang berada pada Formasi Talangakar bagian
Bawah, berdasarkan analisis kualitatif data log dimana defleksi kurva log gamma ray
yang kecil menunjukan lapisan yang permeabel, nilai resitivitas yang tinggi
menunjukan keterdapatan fluida, dan crossover antara log densitas dengan log neutron
yang juga menunjukan keterdapatan fluida dalam rongga batuan reservoar. Pada
stratigrafi penelitian zona reservoar ditunjukan dengan kotak merah dapat dilihat pada
gambar 4.5. Kolom stratigrafi daerah telitian dibuat berdasarkan sumur acuan yaitu
sumur TU-2

Gambar 4. 5 Kolom stratigrafi daerah penelitian pada sumur kunci TU-2

55
4.3 Sistem Perminyakan Daerah Telitian
Cekungan Sumatera Selatan merupakan cekungan yang produktif sebagai
penghasil minyak dan gas. Hal itu tidak lepas dari parameter sistem perminyakan yang
berada pada cekungan tersebut. Berikut merupakan beberapa sistem perminyakan
seperti batuan induk, reservoar, batuan penudung, perangkap, dan migrasi pada
cekungan Sumatera Selatan.
Batuan Induk (Source Rock)
Hidrokarbon pada cekungan Sumatera Selatan diperoleh dari Formasi Lahat
berupa endapan lacustrine dan Formasi Talangakar yang berupa endapan pada
terrestrial coal dan coaly shale. Selain itu pada batugamping Formasi Baturaja dan
shale dari Formasi Gumai memungkinkan juga untuk dapat menghasilkan
hirdrokarbon pada area lokalnya (Bishop, 2001). Gradien temperatur di cekungan
Sumatera Selatan berkisar 49° C/Km. Gradien temperatur ini tergolong kecil,
sehingga minyak akan cenderung berada pada tempat yang dalam. Formasi Baturaja
dan Formasi Gumai berada dalam keadaan matang hingga awal matang pada generasi
gas termal di beberapa bagian yang dalam dari cekungan, oleh karena itu
dimungkinkan untuk menghasilkan gas pada petroleum system (Bishop, 2001).
Reservoar
Beberapa Formasi pada cekungan Sumatera Selatan yang berfungsi sebagai
reservoar antara lain adalah pada basement, Formasi Lahat, Formasi Talangakar,
Formasi Baturaja, dan Formasi Gumai. Basement yang berpotensi sebagai reservoar
terletak pada daerah uplifted dan paleohigh yang didalamnya mengalami rekahan dan
pelapukan. Batuan pada basement ini terdiri dari granit dan kuarsit yang memiliki
porositas efektif sebesar 7 %. Untuk Formasi Talangakar secara umum terdiri dari
quartzstone sandstone, siltstone, dan pengendapan shale. Sehingga pada sandstone
sangat baik untuk menjadi reservoar. Porositas yang dimiliki pada Formasi Talangakar
berkisar antara 15-30 % dan permeabilitasnya sebesar 5 Darcy. Pada reservoar
karbonat Formasi Baturaja, pada bagian atas merupakan zona yang porous
dibandingkan dengan bagian dasarnya yang relatif ketat (tight) akibat proses
terangkatnya kepermukaan pada Miosen Awal. Porositas yang terdapat pada Formasi
Batu Raja berkisar antara 10-30 % dan permeabilitasnya sekitar 1 Darcy (Bishop,
2001).

56
Batuan Penudung (Seal Rock)
Batuan penudung cekungan Sumatera Selatan tidak lepas dari peroses selama
sikuen transgresi maksimum berlangsung sehingga terendapkan lapisan shale laut
dalam yang cukup tebal yang berguna sebagai batuan penudung. Batuan penudung ini
berada diatas Formasi Talangakar dan Gumai. Seal pada reservoar batugamping
Formasi Baturaja memiliki lapisan penudung yang berasal dari Formasi Gumai. Pada
reservoar batupasir Formasi Airbenakat dan Muaraenim, shale yang bersifat
intraformational juga menjadi seal rock yang baik untuk menjebak hidrokarbon
(Bishop, 2001).

Perangkap (Trap)
Perangkap utama hidrokarbon diakibatkan oleh adanya antiklin dari arah
baratlaut ke tenggara dan menjadi jebakan yang pertama dieksplorasi. Antiklin ini
dibentuk akibat adanya kompresi yang dimulai saat awal Miosen dan berkisar pada 2-
3 juta tahun yang lalu (Bishop, 2001). Selain itu perangkap hidrokarbon pada cekungan
Sumatera Selatan juga diakibatkan karena stratigrafi seperti pada Formasi Baturaja.
Migrasi
Mekanisme migrasi hidrokarbon pada Blok Jabung berasal dari beberapa kitchen
pada blok ini. Kabul Deep mungkin dapat menjadi dapur hidrokarbon yang
membentuk minyak dan gas yang akan bermigrasi ke struktur tinggian. Kitchen yang
terbukti untuk menghasilkan hidrokarbon adalah Betara Deep, yang kaya akan
endapan-endapan organik dan batubara sebagai batuan induk. Rekonstruksi
palinspatik mengindikasikan struktur pada daerah ini merupakan daerah tinggian
selama masa Tersier dan memiliki keuntungan untuk memerangkap hidrokarbon
(Fitrianto, 2011).

57
BAB V
HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN

5.1 Analisis Kualitatif


Analisis kualitatif merupakan tahapan awal dalam penelitian untuk mengetahui
variasi litologi yang menyusun formasi penelitian dan mengetahui fasies serta
lingkungan pengendapan. Tahapan interpretasi kualitatif dilakukan dengan melihat
bentukan pola log dari masing-masing sumur yang kemudian dari sifat tersebut
diinterpretasi terhadap suatu litologi. Interpretasi difokuskan terhadap Formasi
Talangakar Bawah yang menjadi objek studi dalam penelitian ini.

5.1.1 Sumur TU-2

5.1.1.1 Interpretasi Litologi dan Litofasies

Interpretasi Litologi
Sumur TU-2 merupakan salah satu sumur yang berada disebelah barat daya sumur
TU-1, sumur ini merupakan sumur deviasi dimana memiliki kedalaman total 6884 ft
(SSTVD). Penelitian dilakukan pada Formasi Talangakar Bawah pada interval
kedalaman 6364,6 – 6698,2 ft (SSTVD). Interpretasi litologi menggunakan data sumur
dengan melihat pola-pola dari kurva log gamma ray yang didukung dengan pola log
lainnya seperti log resistivitas, log pororsitas dan juga data mudlog. Begitupun
interpretasi yang dilakukan terhadap keempat sumur lainnya.
Berdasarkan hasil interpretasi data sumur menggunakan data pendukung berupa
data mudlog litologi pada Formasi Talangakar Bawah dari yang berumur paling tua
adalah batupasir konglomeratan yang memiliki anomali pembacaan nilai gamma ray
tinggi. Hal ini disebabkan karena batuan tersebut dipengaruhi oleh pelapukan
basement yang menjadi matriks maupun fragment dari batupasir konglomeratan yang
membuat kandungan radioaktif menjadi tinggi.
Setelah litologi batupasir konglomeratan tersusun dengan litologi batupasir
berukuran pasir sangat halus sampai pasir sedang yang memiliki struktur masif , dan

58
batupasir perselingan dengan batulempung. Tabel 5.1 berikut merupakan deskripsi
cutting sumur TU-2.
Tabel 5. 1 Tabulasi deskripsi cutting pada mudlog TU-2

Litofasies
Analisis litofasies dapat dilakukan setelah mengethaui litologi penyusun dari
Formasi Talangakar Bawah berdasarkan data sumur dan data mudlog yang tersedia.
Berdasarkan hasil analisis litologi yang sudah dilakukan peneliti membagi 3 litofasies
didalam formasi telitian, yaitu batupasir konglomeratan, batupasir sangat halus sampai
sedang, batupasir perseligan batulempung. Deskripsi sebagai berikut:
• Fasies batupasir konglomeratan, dengan deskripsi berwarna putih kusam, ukuran butir
pasir sedang - pasir sangat kasar, bentuk butir agak menyudut - menyudut, pemilahan

59
buruk, terdapat intergrowth kuarsa dengan mineral hijau, fragmen pirit dan mika
,semen silika.
• Fasies batupasir sangat halus sampai sedang, dengan deskripsi berwarna putih - putih
kusam, ukuran butir pasir halus - pasir sedang, bentuk butir agak menyudut -
menyudut, pemilahan buruk terdapat intergrowth kuarsa dengan mineral hijau,
fragment pirit dan mika, semen silika
• Fasies batupasir perselingan batulempung, dengan deskripsi berwarna putih - putih
kusam, ukuran butir pasir sangat halus - pasir halus, bentuk butir agak membundar -
agak menyudut , pemilahan buruk terdapat intergrowth kuarsa dengan mineral hijau,
fragment pirit dan mika, semen silika dan batulempung dengan deskripsi berwarna
abu-abu gelap, ukuran butir lempung, mengandung material karbon, slightly
calcareous.

5.1.1.2 Interpretasi Fasies dan Lingkungan Pengendapan


Berdasarkan interpretasi pola elektrofasies pada log GR yang di padukan
dengan hasil interpretasi litologi, litofasies dan data geologi regional Formasi
Talangakar Bawah diendapkan pada lingkungan transisi lebih tepatnya lingkungan
deltaplain yang merupakan sub bagian dari lingkungan pengendapan delta. Dimana
semakin mengarah ke formasi termuda semakin mengarah ke laut. Fasies Pengendapan
Formasi Talangakar pada sumur TU-2 yaitu:
• Fasies distributary channel dicirikan dengan pola elektrofasies pada log GR
berupa boxcar atau cylindrical dengan pola penumpukan agradasi. Menunjukan
pola blocky batupasir pada interval tertentu sumur TU-2. Fasies ini tersusun atas
litologi batupasir konglomerat dan fasies batupasir sangat halus sampai sedang.
• Fasies fluvial point bar dicirikan dengan pola elektrofasies pada log GR berupa
bell dengan pola penumpukan retrogradasi. Fasies ini tersusun dengan litologi
dominan batupasir dengan perselingan batulempung, dan terdapat material-
material karbon
• Fasies crevasse splay dicirikan dengan pola elektrofasies pada log GR berupa
funnel dengan pola penumpukan progradasi. Tersusun dengan litologi batupasir
sisipan batulempung.

60
Gambar 5. 1 Analisis fasies dan lingkungan pengendapan sumur TU-2

5.1.1.3 Interpretasi Zona Reservoar dan Kandungan Fluida


Pada sumur TU-2 penentuan zona reservoar TRMPH berdasarkan parameter-
parameter tertentu seperti pola log gamma ray yang menunjukan litologi berupa
batupasir, log resistivitas dengan nilai yang tinggi, dan cross-over anatara log densitas
dan log neutron. Parameter tersebut dapat didukung dengan menggunakan data testing
pada beberapa sumur yang dilakukan testing. Zona reservoar TRMPH pada sumur TU-
2 berada pada kedalaman 6366.943-6377.064 ft (SSTVD) dapat dilihat pada gambar

61
5.2 yang ditandai dengan warna kuning. Berdasarkan interpretasi dan data pendukung
berupa data testing kandungan hidrokarbon pada reservoar TRMPH berupa gas.

Gambar 5. 2 Interpretasi zona reservoar dan kandungan fluida sumur TU-2

5.1.2 Sumur TU-1


5.1.1.1 Interpretasi Litologi dan Litofasies

Interpretasi Litologi
Sumur TU-1 merupakan sumur deviasi dimana memiliki kedalaman total 7279 ft
(SSTVD). Penelitian dilakukan pada Formasi Talangakar Bawah pada interval
kedalaman 6200,238 –6284,48 ft (SSTVD). Interpretasi litologi menggunakan data
sumur dengan melihat pola-pola dari kurva log gamma ray yang didukung dengan
pola log lainnya seperti log resistivitas, log pororsitas dan juga data mudlog.
Begitupun interpretasi yang dilakukan terhadap keempat sumur lainnya.
Berdasarkan hasil interpretasi data sumur dengan menggunakan data pendukung
berupa data mudlog litologi pada Formasi Talangakar Bawah didominasi dengan
litologi batu pasir. Berbeda dengan sumur TU-2, sumur TU-1 tidak terdapat lapisan
batupasir konglomerat. Karena diinterpretasikan sumur TU-1 berapa pada tinggian
basement dan perekaman yang tidak sepanjang sumur TU-2. Tetapi yang menarik, dari
interval lapisan batupasir yang paling dekat dengan basement memiliki anomali
pembacaan nilai log gamma ray tinggi sama seperti anomaly pada sumur TU-2. Hal
tersebut diinterpretasikan karena pengaruh dari hasil pelapukan basement yang
terendapkan bersamaan dengan batupasir, menjadi fragmen maupun matriks yang
mengadung unsur-unsur radioaktif yang tinggi sehingga pembacaan pada log gamma
ray menjadi tinggi dengan range 114-600 GAPI.
Selain batupasir dengan anomali seperti diatas terdapat litologi batulempung
yang menyisip pada lapisan batupasir. Tabel 5.2 berikut ini merupakan deskripsi
cutting dari data mudlog sumur TU-1

62
Tabel 5. 2 Tabulasi deskripsi cutting pada mudlog TU-1

Litofasies
Analisis litofasies dapat dilakukan setelah mengethaui litologi penyusun dari
Formasi Talangakar Bawah berdasarkan data sumur dan data mudlog sumur TU-1
yang tersedia. Berdasarkan hasil analisis litologi yang sudah dilakukan peneliti
membagi 2 litofasies didalam formasi telitian, yaitu batupasir sangat halus sampai
sedang, batupasir perseligan batulempung. Deskripsi sebagai berikut:
• Fasies batupasir halus sampai sedang, dengan deskripsi berwarna putih - putih
kusam, ukuran butir pasir halus - pasir sedang, bentuk butir agak menyudut -
menyudut, pemilahan buruk terdapat mineral kuarsa dengan mineral hijau, fragment
pirit dan mika, semen silika.
• Fasies batupasir perselingan batulempung, dengan deskripsi berwarna putih - putih
kusam, ukuran butir pasir sangat halus - pasir sedang, bentuk butir agak
membundar - agak menyudut, pemilahan buruk, semen silika dan batulempung
dengan deskripsi berwarna abu-abu gelap, ukuran butir lempung, mengandung
material karbon.

63
5.1.1.2 Interpretasi Fasies dan Lingkungan Pengendapan

Berdasarkan interpretasi pola elektrofasies pada log GR yang di padukan dengan


hasil interpretasi litologi, litofasies dan data geologi regional Formasi Talangakar
Bawah diendapkan pada lingkungan transisi lebih tepatnya lingkungan delta plain
yang merupakan sub bagian dari lingkungan pengendapan delta. Dimana semakin
mengarah ke formasi termuda semakin mengarah ke laut. Fasies Pengendapan Formasi
Talangakar pada sumur TU-1 yaitu:
• Fasies distributary channel dicirikan dengan pola elektrofasies pada log GR
berupa boxcar atau cylindrical dengan pola penumpukan agradasi. Menunjukan
pola blocky batupasir pada interval tertentu sumur TU-1. Fasies ini tersusun atas
litologi batupasir konglomerat dan fasies batupasir sangat halus sampai sedang.
• Fasies fluvial point bar dicirikan dengan pola elektrofasies pada log GR berupa
bell dengan pola penumpukan retrogradasi. Fasies ini tersusun dengan litologi
dominan batupasir dengan perselingan batulempung, dan terdapat material-
material karbon
• Fasies crevasse splay dicirikan dengan pola elektrofasies pada log GR berupa
funnel dengan pola penumpukan progradasi. Tersusun dengan litologi batupasir
sisipan batulempunG.

64
Gambar 5. 3 Analisis fasies dan lingkungan pengendapan sumur TU-1

5.1.2.3 Zona Reservoar dan Kandungan Fluida


Pada sumur TU-1 penentuan zona reservoar TRMPH berdasarkan parameter-
parameter tertentu seperti pola log gamma ray yang menunjukan litologi berupa
batupasir, log resistivitas dengan nilai yang tinggi, dan cross-over anatara log densitas
dan log neutron. Dengan melakukan korelasi lapisan reservoar diinterpretasikan pada
sumur TU-1 memiliki kandungan fluida pada kedalaman 6204.221-6214.191 ft
(SSTVD). dapat dilihat pada gambar 5.4 yang ditandai dengan warna kuning
Berdasarkan korelasi reservoar, interpretasi data log dan didukung dengan data testing
kandungan hidrokarbon pada reservoar TRMPH sumur TU-1 berupa gas.

Gambar 5. 4 Interpretasi zona reservoar dan kandungan fluida Sumur TU-1

65
5.1.3 Sumur T-3
5.1.3.1 Interpretasi Litologi dan Litofasies

Interpretasi Litologi
Sumur T-3 merupakan salah satu sumur yang berada disebelah tenggara sumur
TU-1, sumur ini merupakan sumur vertikal dimana memiliki kedalaman total 6639 ft
(SSTVD). Penelitian dilakukan pada Formasi Talangakar Bawah pada interval
kedalaman 6138.12 – 6476.5 ft (SSTVD). Interpretasi litologi menggunakan data
sumur dengan melihat pola-pola dari kurva log gamma ray yang didukung dengan
pola log lainnya seperti log resistivitas, log pororsitas dan juga data mudlog.
Begitupun interpretasi yang dilakukan terhadap keempat sumur lainnya.
Berdasarkan hasil interpretasi data sumur menggunakan data pendukung berupa
data mudlog litologi pada Formasi Talangakar Bawah dari yang berumur paling tua
adalah batupasir konglomeratan yang memiliki anomali pembacaan nilai gamma ray
tinggi dengan range nilai log GR 59-700 GAPI. Hal ini disebabkan karena batuan
tersebut dipengaruhi oleh pelapukan basement yang menjadi matriks maupun fragment
dari batupasir konglomeratan yang membuat kandungan radioaktif menjadi tinggi.
Setelah litologi batupasir konglomeratan tersusun dengan litologi batupasir berukuran
pasir sangat halus sampai pasir sedang yang memiliki struktur masif , dan batupasir
perselingan dengan batulempung. Tabel 5.1 berikut Berikut merupakan deskripsi
cutting sumur T-3.

66
Tabel 5. 3 Tabulasi deskripsi cutting pada mudlog T-3

Litofasies
Analisis litofasies dapat dilakukan setelah mengethaui litologi penyusun dari
Formasi Talangakar Bawah berdasarkan data sumur dan data mudlog yang tersedia.
Berdasarkan hasil analisis litologi yang sudah dilakukan peneliti membagi 3 litofasies
didalam formasi telitian, yaitu batupasir konglomeratan, batupasir sangat halus sampai
sedang, batupasir perseligan batulempung. Deskripsi sebagai berikut:
• Fasies batupasir konglomeratan, dengan deskripsi berwarna putih kusam, ukuran
butir pasir sedang - pasir sangat kasar, bentuk butir agak menyudut - menyudut,
pemilahan buruk, terdapat intergrowth kuarsa dengan mineral hijau, fragmen pirit
dan mika ,semen silika.
• Fasies batupasir sangat halus sampai sedang, dengan deskripsi berwarna putih -
putih kusam, ukuran butir pasir halus - pasir sedang, bentuk butir agak menyudut -
menyudut, pemilahan buruk terdapat intergrowth kuarsa dengan mineral hijau,
fragment pirit dan mika, semen silika

67
• Fasies batupasir perselingan batulempung, dengan deskripsi berwarna putih - putih
kusam, ukuran butir pasir sangat halus - pasir halus, bentuk butir agak membundar
- agak menyudut , pemilahan buruk terdapat intergrowth kuarsa dengan mineral
hijau, fragment pirit dan mika, semen silika dan batulempung dengan deskripsi
berwarna abu-abu gelap, ukuran butir lempung, mengandung material karbon,
slightly calcareous.

5.1.3.2 Interpretasi Fasies dan Lingkungan Pengendapan


Berdasarkan interpretasi pola elektrofasies pada log GR yang di padukan dengan
hasil interpretasi litologi, litofasies dan data geologi regional Formasi Talangakar
Bawah diendapkan pada lingkungan transisi lebih tepatnya lingkungan deltaplain yang
merupakan sub bagian dari lingkungan pengendapan delta. Dimana semakin mengarah
ke formasi termuda semakin mengarah ke laut. Fasies Pengendapan Formasi
Talangakar pada sumur T-3 yaitu:
• Fasies distributary channel dicirikan dengan pola elektrofasies pada log GR berupa
boxcar atau cylindrical dengan pola penumpukan agradasi. Menunjukan pola
blocky batupasir pada interval tertentu sumur TU-2. Fasies ini tersusun atas litologi
batupasir konglomerat dan fasies batupasir sangat halus sampai sedang.
• Fasies fluvial point bar dicirikan dengan pola elektrofasies pada log GR berupa bell
dengan pola penumpukan retrogradasi. Fasies ini tersusun dengan litologi dominan
batupasir dengan perselingan batulempung, dan terdapat material-material karbon
• Fasies crevasse splay dicirikan dengan pola elektrofasies pada log GR berupa funnel
dengan pola penumpukan progradasi. Tersusun dengan litologi batupasir sisipan
batulempung

68
Gambar 5. 5 Analisis fasies dan lingkungan pengendapan sumur T-3

5.1.3.3 Zona Reservoar dan Kandungan Fluida


Pada sumur T-3 penentuan zona reservoar TRMPH berdasarkan parameter-
parameter tertentu seperti pola log gamma ray yang menunjukan litologi berupa
batupasir, log resistivitas dengan nilai yang tinggi, dan cross-over anatara log densitas
dan log neutron. Dengan melakukan korelasi lapisan reservoar diinterpretasikan pada
sumur TU-1 memiliki kandungan fluida pada kedalaman 6155 - 6164.750 ft (SSTVD).
dapat dilihat pada gambar 5.7 yang ditandai dengan warna kuning. Berdasarkan
interpretasi dan data pendukung berupa data testing kandungan hidrokarbon pada
reservoar TRMPH sumur TU-1 berupa gas.

69
Gambar 5. 6 Interpretasi zona reservoar dan kandungan fluida sumur T-3

5.1.4 Sumur T-1


5.1.4.1 Interpretasi Litologi dan Litofasies

Interpretasi Litologi
Sumur TU-1 merupakan sumur vertikal dimana memiliki kedalaman total 6134
ft (SSTVD). Penelitian dilakukan pada Formasi Talangakar Bawah pada interval
kedalaman 6000,681 – 6053 ft (SSTVD).
Berdasarkan hasil interpretasi data sumur dengan menggunakan data pendukung
berupa data mudlog litologi pada Formasi Talangakar Bawah didominasi dengan
litologi batu pasir. Berbeda dengan sumur TU-2 dan T-3, sumur T-1 tidak terdapat
anomali nilai log GR yang tinggi karena tidak terdapat lapisan batupasir konglomerat
. berbeda dengan sumur sebelumnya diinterpretasikan sumur TU-1 berapa pada
tinggian basement. Selain batupasir terdapat litologi batulempung yang menyisip pada
lapisan batupasir. Berikut ini merupakan deskripsi sidewall dari data mudlog sumur T-
1
Tabel 5. 4 Tabulasi deskripsi cutting pada mudlog T-3

70
Litofasies
Analisis litofasies dapat dilakukan setelah mengethaui litologi penyusun dari
Formasi Talangakar Bawah berdasarkan data sumur dan data mudlog sumur TU-1
yang tersedia. Berdasarkan hasil analisis litologi yang sudah dilakukan peneliti
membagi 2 litofasies didalam formasi telitian, yaitu batupasir sangat halus sampai
sedang, batupasir perseligan batulempung. Deskripsi sebagai berikut:
• Fasies batupasir halus sampai sedang, dengan deskripsi berwarna putih - putih
kusam, ukuran butir pasir halus - pasir sedang, bentuk butir agak menyudut -
menyudut, pemilahan buruk terdapat mineral kuarsa dengan mineral hijau, fragment
pirit dan mika, semen silika.
• Fasies batupasir perselingan batulempung, dengan deskripsi berwarna putih - putih
kusam, ukuran butir pasir sangat halus - pasir sedang, bentuk butir agak
membundar - agak menyudut, pemilahan buruk, semen silika dan batulempung
dengan deskripsi berwarna abu-abu gelap, ukuran butir lempung, mengandung
material karbon.

5.1.4.2 Interpretasi Fasies dan Lingkungan Pengendapan

Berdasarkan interpretasi pola elektrofasies pada log GR yang di padukan dengan


hasil interpretasi litologi, litofasies dan data geologi regional Formasi Talangakar
Bawah diendapkan pada lingkungan transisi lebih tepatnya lingkungan delta plain
yang merupakan sub bagian dari lingkungan pengendapan delta. Dimana semakin
mengarah ke formasi termuda semakin mengarah ke laut. Fasies Pengendapan Formasi
Talangakar pada sumur T-1 yaitu:
• Fasies distributary channel dicirikan dengan pola elektrofasies pada log GR
berupa boxcar atau cylindrical dengan pola penumpukan agradasi. Menunjukan
pola blocky batupasir pada interval tertentu sumur TU-1. Fasies ini tersusun atas
litologi batupasir konglomerat dan fasies batupasir sangat halus sampai sedang.
• Fasies fluvial point bar dicirikan dengan pola elektrofasies pada log GR berupa
bell dengan pola penumpukan retrogradasi. Fasies ini tersusun dengan litologi
dominan batupasir dengan perselingan batulempung, dan terdapat material-
material karbon

71
• Fasies crevasse splay dicirikan dengan pola elektrofasies pada log GR berupa
funnel dengan pola penumpukan progradasi. Tersusun dengan litologi batupasir
sisipan batulempung

Gambar 5. 7 Analisis fasies dan fingkungan pengendapan sumur T-1

5.1.4.3 Zona Reservoar dan Kandungan Fluida


Pada sumur TU-1 penentuan zona reservoar TRMPH berdasarkan parameter-
parameter tertentu seperti pola log gamma ray yang menunjukan litologi berupa
batupasir, log resistivitas dengan nilai yang tinggi, dan cross-over anatara log densitas
dan log neutron. Dengan melakukan korelasi lapisan reservoar diinterpretasikan pada
sumur TU-1 memiliki kandungan fluida kedalaman 6004.500 – 6023 ft (SSTVD),
dapat dilihat pada gambar 5.9 yang ditandai dengan warna kuning. Pada sumur T-1
tidak terdapat data test penentuan jenis kandungan hidrokarbon berdasarkan korelasi
dan interpretasi data log sumur T-1

Gambar 5. 8 Interpretasi zona reservoar dan kandungan fluida sumur T-1

72
5.1.5 Sumur T-2

5.1.5.1 Interpretasi Litologi dan Litofasies

Interpretasi Litologi
Sumur T-2 merupakan salah satu sumur yang berada disebelah tenggara sumur
T-1, sumur ini merupakan sumur vertikal dimana memiliki kedalaman total 6611 ft
(SSTVD). Penelitian dilakukan pada Formasi Talangakar Bawah pada interval
kedalaman 6320.22 – 6480 ft (SSTVD). Interpretasi litologi menggunakan data sumur
dengan melihat pola-pola dari kurva log gamma ray yang didukung dengan pola log
lainnya seperti log resistivitas, log pororsitas dan juga data mudlog. Seperti
interpretasi yang dilakukan terhadap keempat sumur lainnya.
Berdasarkan hasil interpretasi data sumur dengan menggunakan data pendukung
berupa data mudlog litologi pada Formasi Talangakar Bawah didominasi dengan
litologi batu pasir. Berbeda dengan sumur TU-2dan sumur T-3, sumur T-2 tidak
terdapat anomaly nilai log GR yang tinggi karena tidak terdapat lapisan batupasir
konglomeratan pada sumur T-2
Setelah litologi batupasir konglomeratan tersusun dengan litologi batupasir
berukuran pasir sangat halus sampai pasir sedang yang memiliki struktur masif , dan
batupasir perselingan dengan batulempung. Berikut merupakan deskripsi sidewall
secara umum sumur T-2 interval penelitian dan Formasi Talangakar Bawah.

Tabel 5. 5 Tabulasi deskripsi litologi pada tabulasi deskripsi sidewall pada


formasi talangakar sumur T-2

73
Litofasies
Analisis litofasies dapat dilakukan setelah mengethaui litologi penyusun dari
Formasi Talangakar Bawah berdasarkan data sumur dan data mudlog yang tersedia.
Berdasarkan hasil analisis litologi yang sudah dilakukan peneliti membagi 3 litofasies
didalam formasi telitian, yaitu batupasir konglomeratan, batupasir sangat halus sampai
sedang, batupasir perseligan batulempung. Deskripsi sebagai berikut:
• Fasies batupasir konglomeratan, dengan deskripsi berwarna putih kusam, ukuran
butir pasir sedang - pasir sangat kasar, bentuk butir agak menyudut - menyudut,
pemilahan buruk, terdapat intergrowth kuarsa dengan mineral hijau, fragmen pirit
dan mika ,semen silika.
• Fasies batupasir sangat halus sampai sedang, dengan deskripsi berwarna putih -
putih kusam, ukuran butir pasir halus - pasir sedang, bentuk butir agak menyudut -
menyudut, pemilahan buruk terdapat intergrowth kuarsa dengan mineral hijau,
fragment pirit dan mika, semen silika
• Fasies batupasir perselingan batulempung, dengan deskripsi berwarna putih - putih
kusam, ukuran butir pasir sangat halus - pasir halus, bentuk butir agak membundar
- agak menyudut , pemilahan buruk terdapat intergrowth kuarsa dengan mineral
hijau, fragment pirit dan mika, semen silika dan batulempung dengan deskripsi
berwarna abu-abu gelap, ukuran butir lempung, mengandung material karbon,
slightly calcareous.

5.1.5.2 Interpretasi Fasies dan Lingkungan Pengendapan


Berdasarkan interpretasi pola elektrofasies pada log GR yang di padukan dengan
hasil interpretasi litologi, litofasies dan data geologi regional Formasi Talangakar
Bawah diendapkan pada lingkungan transisi lebih tepatnya lingkungan deltaplain yang
merupakan sub bagian dari lingkungan pengendapan delta. Dimana semakin mengarah
ke formasi termuda semakin mengarah ke laut. Fasies Pengendapan Formasi
Talangakar pada sumur T-2 yaitu:
• Fasies distributary channel dicirikan dengan pola elektrofasies pada log GR
berupa boxcar atau cylindrical dengan pola penumpukan agradasi. Menunjukan
pola blocky batupasir pada interval tertentu sumur TU-2. Fasies ini tersusun atas
litologi batupasir konglomerat dan fasies batupasir sangat halus sampai sedang.

74
• Fasies fluvial point bar dicirikan dengan pola elektrofasies pada log GR berupa
bell dengan pola penumpukan retrogradasi. Fasies ini tersusun dengan litologi
dominan batupasir dengan perselingan batulempung, dan terdapat material-
material karbon
• Fasies crevasse splay dicirikan dengan pola elektrofasies pada log GR berupa
funnel dengan pola penumpukan progradasi. Tersusun dengan litologi batupasir
sisipan batulempung

Gambar 5. 9 Analisis fasies dan lingkungan pengendapan sumur T-2

5.1.5.3 Zona Reservoar dan Kandungan Fluida


Pada sumur T-2 penentuan zona reservoar TRMPH berdasarkan parameter-
parameter tertentu seperti pola log gamma ray yang menunjukan litologi berupa
batupasir, log resistivitas dengan nilai yang tinggi, dan cross-over anatara log densitas
dan log neutron. Dengan melakukan korelasi lapisan reservoar diinterpretasikan pada
sumur TU-1 memiliki kandungan fluida pada kedalaman 6004.500 – 6023 ft
(SSTVD), dapat dilihat pada gambar 5.11 yang ditandai dengan warna kuning. Pada
sumur T-1 tidak terdapat data test penentuan jenis kandungan hidrokarbon berdasarkan
korelasi dan interpretasi data log sumur T-1

75
Gambar 5. 10 Interpretasi zona reservoar dan kandungan fluida sumur T-2

5.2 Analisis Kuantitatif


Analisis kuantitatif merupakan analisis data sumur menggunakan perhitungan
dengan beberapa kombinasi rumus yang mengacu pada peneiliti sebelumnya.
Perhitungan yang digunakan berupa perhitungan yang digunakan dalam penelitian
ini berupa perhitungan petrofisika dan perhitungan cadangan. Analisis kuantitatif
dilakukan pada interval Formasi Talangakar Bawah yang kemudian dikerucutkan
menjadi interval reservoar target pada Formasi Talangakar Bawah.

5.2.1 Analisis Petrofisika


Analisis petrofisika dilakukan untuk memperoleh nilai properti petrofisika
pada reservoar penelitian. Properti petrofisika yang didapatkan dalam analisis ini
antara lain volume serpih (Vsh), porositas (∅), permeabilitas (K) dan saturasi air (Sw).
Dalam pembahasan perhitungan petrofisika peneliti menggunakan sumur kunci TU-2
sebagai contoh.
Hal pertama kali dilakukan adalah pemeriksaan kelengkapan data log, header
log dan menyamakan atau koreksi datum kedalaman sumur yang digunakan. Hal ini
dilakukan karena pada Lapangan TRIUMPH terdapat sumur vertikal dan sumur
deviation, dimana untuk menghilangkan kesalahan yang akan timbul jika kedalaman
data berbeda antara satu sumur dengan sumur yang lainnya.. Setelah dilakukan
persiapan data, langkah-langkah selanjutnya yang dilakukan untuk memperoleh nilai
properti petrofisika dapat dilihat pada diagram alir sebagai berikut :

76
Gambar 5. 11 Diagram alir petrofisik

5.2.1.1 Pra-Kalkulasi

Pra-Kalkulasi merupakan tahap awal dalam kegiatan evaluasi formasi dalam


analisis petrofisika. Tujuan dilakukan hal ini adalah untuk menghitung suhu dan
tekanan formasi untuk setiap kedalaman tertentu pada lubang bor. Perubahan suhu
dan tekanan akan berbanding lurus dengan kedalaman sumur sebagaimana terlihat
pada Gambar 5.11 Terlihat dari kedua grafik, semakin dalam kedalaman, maka suhu
dan tekanan yang ada juga menjadi semakin tinggi. Adapun secara umum gradien suhu
dan tekanan pada resevoir juga menunjukkan karakter gradien yang hampir sama.
Gambar 5.11 menunjukkan adanya perbedaan kemiringan garis pada setiap sumur
penelitian, hal ini terjadi karena nilai suhu yang digunakan dalam perhitungan
diperoleh dari sensor suhu yang terdapat pada mata bor. Selain itu dari penentuan
tersebut kita dapat mengetahui suhu setiap interval kedalaman yang berguna dalam
perhitungan nilai propreti petrofisik kedepannya.

77
a b
\

Gambar 5. 12 Grafik perubahan tekanan (a) dan perubahan suhu (b) terhadap kedalaman

5.2.1.2 Identifikasi Bad Hole


Bad hole adalah kondisi ukuran lubang bor telah berubah dari kondisi aslinya,
baik berupa penyempitan akibat terjadinya mud cake atau terjadi perluasan akibat
terjadinya cave atau gerowong. Untuk mengidentifikasi bad hole, peneliti
menggunakan metode kaliper dan densitas derivative (DRHO). Setiap adanya beda
pembacaan dari log densitas (DRHO) melebihi nilai 0.2 g/cc dan diikuti besar
perubahan ukuran lubang lebih dari 2 inci, maka nilai yang didapat dari log densitas
dapat dianggap tidak valid (Asquith dan Gibson, 1982). Hal inilah yang menjadi dasar
dalam identifikasi bad hole pada penelitian ini

78
Zona bad hole ditunjukan dengan adanya garis merah vertikal yang berada pada
interval tertentu. Dalam 5 sumur yang digunakan dalam penelitian tidak terdapat
zona bad hole, contoh dapat dilihat pada Gambar 5.12. Sehingga penelitian dapat
bisa dilanjut. Tetapi tetap perlu dilakukan koreksi lingkungan terhadap beberapa
data log yang akan digunakan kedepannya.

Gambar 5. 13 Cotoh identifikasi bad hole sumur TU-2 yang tidak terdapat zona bad hole

5.2.1.3 Koreksi Lingkungan

Koreksi lingkungan dilakukan karena jenis lumpur yang digunakan, ukuran


lubang bor, salinitas lumpur dan jenis alat logging yang digunakan dapat
mempengaruhi beberapa respon log seperti gamma ray, densitas dan neutron.
a. Koreksi log Gamma Ray
Berubahnya respon log gamma ray dipengaruhi oleh adanya perbedaan
kekuatan batuan penyusun formasi. Keberadaan lumpur, dengan jenis dan
densitasnya, yang digunakan juga ternyata mampu menyerap pancaran sinar Gamma
yang berasal dari mineral radioaktif di dalam batuan, hal ini mengakibatkan

79
berkurangnya respon log gamma ray yang terbaca. Selain itu ukuran alat logging dan
posisi alat terhadap dinding lubang bor yang digunakan juga akan memengaruhi respon
log gamma ray. Koreksi log gamma ray pada sumur TU-2 menunjukkan nilai respon
log gamma ray yang terkoreksi lingkungan (garis kuning putus-putus) adalah relatif
sama dan bertampalan dengan respon log gamma ray awal (garis hijau) jadi log GR
sebelum koreksi dapat digunakan dalam penelitian karena memiliki nilai yang sama
seperti log GR terkoreksi (Gambar5.13 a).
b. Koreksi log densitas
Pertimbangan yang sama dengan koreksi log gamma ray adalah alasan
dilakukannya koreksi terhadap log densitas. Selain itu, ukuran lubang bor juga
memengaruhi respon alat karena log densitas ini memiliki depth investigation yang
kecil. Oleh karena itu, posisi alat yang menempel dengan formasi dapat menghasilkan
respon log densitas yang baik. Koreksi log densitas pada sumur TU-2 menunjukkan
nilai respon log densitas yang terkoreksi lingkungan (garis kuning putus-putus)
adalah relatif sama besar bahkan bertampalan dengan respon log densitas awal , jadi
log densitas sebelum koreksi dapat digunakan dalam penelitian karena memiliki nilai
yang sama seperti log densitas terkoreksi (Gambar 5.13 b).
c. Koreksi log Neutron
Koreksi log neutron mempertimbangkan beberapa parameter yang lebih
kompleks dibandingkan dengan log densitas dan gamma ray, seperti salinitas
formasi, densitas lumpur pengeboran, mud cake, tekanan formasi, suhu formasi dan
ukuran lubang. Log neutron juga merupakan log yang memiliki skala acuan sesuai
dengan service company yang melakukan pengeboran. Koreksi log neutron pada
sumur TU-2 menunjukkan nilai respon log neutron yang terkoreksi lingkungan (garis
hijau putus-putus) adalah walaupun terdapat nilai yang berbeda dan tidak terlalu
signifikan melainkan relatif sama besar jika disbanding respon log neutron dengan
respon awal, jadi log neutron sebelum koreksi dapat digunakan dalam penelitian
(Gambar 5.13 c).

80
a b c

Gambar 5. 14 Koreksi lingkungan pada sumur TU-2 untuk log GR


(a), RHOB (b) dan NPHI (c)

5.2.1.4 Volume Serpih

Perhitungan volume serpih bertujuan untuk mengetahui persentase seberapa


banyak kandungan serpih dalam batuan. Perhitungan volume kandungan serpih
menggunakan log gamma ray, Hasil dari persiapan data dan koreksi yang telah
dilakukan menunjukkan bahwa nilai gamma ray minimum sebagai nilai matriks untuk
pasir bersih dan gamma ray maksimum sebagai nilai matriks untuk serpih (shale).
Dalam penelitian ini peneliti melakukan perhitungan menggunakan software dan
manual berguna untuk mengkoreksi setiap perhitungan. Persamaan yang digunakan
dalam menghitung kandungan serpih ini adalah persamaan umum yaitu persamaan
linear, dimana rumus persamaannya sebagai berikut:

𝐺𝑅 𝐿𝑜𝑔 (𝑉𝑎𝑙𝑢𝑒 𝐿𝑜𝑔)−𝐺𝑅 𝑀𝑖𝑛 ( 𝐺𝑅 𝑆𝑎𝑛𝑑)


Vsh=
𝐺𝑅 𝑀𝑎𝑥 ( 𝐺𝑅𝑆𝑎𝑛𝑑 )−𝐺𝑅 𝑀𝑖𝑛 ( 𝐺𝑅 𝑆𝑎𝑛𝑑 )

81
Tabel 5. 6 Contoh perhitungan software (a) dan perhitungan manual (b) volume serpih

Pada perhitungan menggunakan software Geolog, nilai-nilai yang diinput


kedalam rumus berupa nilai gamma ray minimum sebagai nilai matriks untuk pasir
bersih, sedangkan gamma ray maximum sebagai nilai shale, sama seperti pada
perhitungan software perhitungan manual menggunakan nilai gamma ray maksimum
dan minimum.

5.2.1.5 Porositas
Porositas adalah perbandingan antara volume pori atau rongga dalam suatu
batuan. Jenis porositas pada batuan dapat dibagi menjadi dua yaitu porositas total dan
porositas efektif. Porositas total adalah fraksi atau persen volume pori-pori total
terhadap volume batuan total. Porositas efektif adalah fraksi atau persen volume pori-
pori yang saling berhubungan terhadap volume total batuan.
Perhitungan porositas dalam penelitian ini menggunakan persamaan densitas-
neutron pada persamaan dibawah. Dalam perhitungan porositas, pembuatan crossplot
neutron dan densitas dapat membantu perhitungan porositas, dengan terlebih dahulu
menentukan nilai-nilai parameter pada ρ matriks (MA), ρ serpih (SH), dan ρ fluida
(FL). Penentuan parameter menggunakan crossplot densitas-neutron dapat dilihat pada
Gambar 5.14

82
Gambar 5. 15 Crossplot densitas-neutron dalam
penentuan parameter (MA), (SH), (FL)

Dalam penentuan porositas dalam penelitian ini dibagi menjadi beberapa tahap
yang setiap tahapannya memiliki persamaan, diamana hasilnya dapat dimasukan
kedalam persamaan terakhir. Tahapan-tahapan dijelaskan seperti berikut:

1. Penentuan nilai densitas, porositas neutron, dan porositas densitas serpih

𝜌𝑚𝑎−𝜌𝑏 ∅N = Neutron 𝜌𝑚𝑎−𝜌𝑠ℎ


∅D = ∅Dsh =
𝜌𝑚𝑎−𝜌𝑓 Log Index 𝜌𝑚𝑎−𝜌𝑓

𝜌𝑚𝑎−𝜌𝑏 𝜌𝑚𝑎−𝜌𝑠ℎ
∅D = ∅Dsh =
𝜌𝑚𝑎−𝜌𝑓
Diamana:
𝜌𝑚𝑎−𝜌𝑓
∅D = Porositas densitas (fraksi) 𝜌𝑚𝑎 = Densitas matriks (gr/cc)
𝜌b = Densitas bacaan log (gr/cc) ∅N = Neutron Lg Index (fraksi)
𝜌𝑓𝑙 = Densitas fluida formasi (gr/cc) ∅Dsh = Porositas densitas shale (fraksi)

83
2. Perhitungan porositas total
∅𝐷+∅𝑁
∅T = 2
Dimana:
∅T = Porositas total (fraksi)
∅D = Porositas densitas (fraksi)
∅N = Neutron Lg Index (fraksi)
3. Koreksi porositas densitas dan neutron

∅Dcorr = ∅D − ( Vsh × ∅Dsh) ∅Ncorr = ∅N − ( Vsh × ∅Nsh)

Dimana:
∅Dcorr = Porositas densitas terkoreksi (fraksi)
∅Ncorr = Neutron Lg Index terkoreksi (fraksi)
Vsh = Volume Shale (fraksi)
∅Dsh = Porositas densitas shale (fraksi)
∅Nsh = Porositas neutron shale (fraksi)

4. Perhitungan porositas efektif

2
∅Dcor + ∅Dcor2
∅e =√ 2
Dimana:
∅e = Porositas efektif
∅Dcorr = Porositas densitas terkoreksi (fraksi)
∅Ncorr = Neutron Lg Index terkoreksi (fraksi)

84
Tabel 5. 7 Nilai parameter perhitungan porositas

ρma 2.65 ρsh 2.5639


ρf 1 Nsh 0.3044

Tabel 5. 8 Contoh hasil perhitungan porositas sumur TU-2

DEPTH RHOB NPHI Vsh ØD ØDsh ØDcorr ØNcorr ØEfektif


8228.50 2.4721 0.3211 0.248901 0.107818 0.052182 0.094830 0.245335 0.185986
8229.00 2.4466 0.314 0.227788 0.123273 0.052182 0.111386 0.244661 0.190087
8229.50 2.4152 0.3122 0.205868 0.142303 0.052182 0.131560 0.249534 0.199468
8230.00 2.3935 0.3035 0.187021 0.155455 0.052182 0.145695 0.246571 0.202515

5.2.1.6 Permeabilitas
Permeabilitas adalah kemampuan suatu batuan untuk menyimpan dan
mengalirkan fluida. Permeabilitas dapat mengindikasi kualitas sebuah , semakin tinggi
nilai permeabilitasnya maka akan semakin bagus nya. Satuan yang digunakan adalah
mili Darcy(mD).
Dalam penelitian ini penulis menggunakan rumus permeabilitas menurut
Wyllie and Rose I dengan persamaan sebagi berikut:
2
100 × ∅𝑒 2.25
( )
𝑆𝑤𝑖𝑟𝑟
Dimana:
∅e = Porositas efektif
Swirr = Irreducible Water

85
Tabel 5. 9 Contoh perhitungan permeabilitas menggunakan software Geolog

Tabel 5. 10 Contoh perhitungan permeabilitas manual

K L M
DEPTH ØEfektif K
8228.50 0.185986 117.0107
8229.00 0.190087 129.076
8229.50 0.199468 160.3224
8230.00 0.202515 171.6387

5.2.1.7 Saturasi Air


Perhitungan saturasi air (Sw) diawali dengan penentuan besar nilai resistivitas
air formasi (Rw). Dari rumus perhitungan saturasi pada persamaan, Rw merupakan
parameter yang penting dalam perhitungan Sw. Maka nilai Rw yang akurat akan
menghasilkan perhitungan yang relatif akurat pula. Nilai Rw yang paling akurat adalah
nilai Rw yang diperoleh dari hasil water analysis atau Drill Steam Test (DST). Namun
penelitian ini tidak memiliki data tersebut.
Ada beberapa metode pendekatan yang dapat digunakan untuk mencari nilai
Rw berdasarkan data log. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
Pickett Plot. Pickett Plot merupakan suatu set grafik yang terdiri atas porositas
(sumbu-y) dan resistivitas (sumbu-x) dari data log. Pickett Plot merupakan
representasi dari persamaan saturasi Archie sehingga metode ini adalah metode yang
paling ampuh digunakan untuk mengestimasi nilai Rw pada suatu reservoar.

86
Pada awalnya, penentuan nilai Rw dapat dicari dengan terlebih dahulu
menentukan zona yang tersaturasi air atau mengandung 100% air. Karena penelitian ini
tidak memiliki data analisis core, maka dilakukan pendekatan nilai Rw dari data
resistivitas RT sumur tertua yang digunakan. Sumur tertua dalam penelitian ini adalah
sumur TU-2 Sw yang memiliki jarak antar garis (n) yang merupakan eksponen
saturasi dan kemiringan garis (m) yang merupakan representasi dari nilai faktor
sementasi. Perpotongan garis Sw 100% pada saat porositas bernilai 1 diasumsikan
sebagai nilai resistivitas air formasi (Rw). Berdasarkan Pickett Plot yang digunakan,
seperti pada Gambar 5.15,

Faktor turtuocity (a) = 1

Faktor sementasi (m) = 2

Eksponen saturasi (n) = 2

87
Gambar 5. 16 Pickett plot sumur TU-2

Nilai Rw yang diperoleh dari Pickett Plot tersebut kemudian digunakan untuk
masukan ke dalam persamaan perhitungan saturasi air. Penulis memilih persamaan
saturasi Simandoux karena persamaan ini yang umum digunakan dalam perhitungan
reservoar bersifat pasir serpihan (shaly sand) dan tidak tersedianya data berupa
analisis core yang berguna dalam penentuan nilai a, m, dan n yang digunakan dalam
persamaan Indonesia. Oleh karena itu penulis menggunakan persamaan simandoux
yang nilai a, m, dan n standard menurut Asquith dan Gibson (1982). Dapat dilihat
pada tabel 5.13 tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara perhitungan
menggunakan persamaan Simandoux dan Indonesia.
Dalam persamaan perhitungan nilai saturasi, nilai resistivitas shale (RTSH)
juga merupakan satu masukan yang mempengaruhi. Dengan memanfaatkan
persebaran data resistivitas terhadap volume shale, nilai resistivitas shale dapat

88
ditentukan. Berikut ini adalah tabel nilai parameter-parameter dalam perhitungan
saturasi air pada sumur TU-2.

0.4 ×𝑅𝑤 5∅𝑒2 𝑉𝑠ℎ 2


Sw = × [(√𝑅𝑤×𝑅𝑡 + (𝑉𝑠ℎ) )] −
∅𝑒 2 𝑅𝑠ℎ 𝑅𝑠ℎ

Dimana
Rw = Resistivitas air formasi (ohmm/m)
Rsh = Resistivitas shale (ohmm/m)
Rt = Resistivitas formasi terisi HC
(ohmm/m)
∅e = Porositas efektif (fraksi)
Vsh = Volume Shale (fraksi)
a = Esponen tortousity (v/v)
m = Eksponen sementasi (v/v)
n = Eksponen saturasi (v/v)

Tabel 5. 11 Parameter perhitungan saturasi air


INTERVAL
RW RWT RTSH WELL A M N
ZONE

0.118 309.48 11.6149 TU-2 LTAF 1 2 2

89
Tabel 5. 12 Perhitungan saturasi air menggunakkan software

Tabel 5. 13 Perhitungan saturasi air manual

90
5.2.1.8 Lumping Reservoar
1. Estimasi nilai cut-off
Proses lumping pada penelitian diawali dengan menentukan nilai cut-off dari
volume serpih, porositas dan saturasi air. Proses penentuan cut-off pertama - tama
menentukan interval yang diyakini terdapat kandungan hidrokarbon dari segala segi
yang mendukung. Titik yang tersebar pada grafik berisikan nilai porositas berbanding
dengan nilai volume serpih dari interval yang sudah ditentukan. Kemudian kita lihat
titik titik pada interval tersebut berkumpul di daerah mana. Batasi perkumpulan data
dengan membuat garis liner atau garis ⊥ sumbu x sebagai cut-off volume serpih dan
garis ⊥ sumbu y sebagai cut-off porositas.Maka akan didapatkan cut-off porositas dan
volume serpih. Untuk mencari cut-off saturasi air menggunakan cara yang sama
melainkan titik pada grafik berupa niali saturasi air berbanding dengan nilai porositas,
dan garis ⊥ sumbu x sebagai cut-off saturasi air dan garis ⊥ sumbu y tetap sebagai cut-
off porositas. Didapatkan hasil sebagai berikut:

Gambar 5. 17 Penentuan nilai cut-off volume serpih dan porositas

91
Gambar 5. 18 Penentuan nilai cut-off saturasi air dan porositas

Tabel 5. 14 Resume cutt-off


CUTOFF TAF
VSH 0.5
POR 0.10
SW 0.65

92
Gambar 5. 19 Contoh layout hasil perhitungan petrofisik beserta cut-off pada sumur TU-2

2. Perhitungan gross sand, net sand, net pay dan net to gross
Setelah sudah menentukan nilai cut-off selanjutkan menentukan reservoar yang
menjadi target dalam perhitungan cadangan. Identifikasi reservoar target dilihat dari
aspek kualitatif dan kuantitatif, aspek kualitatif dilihat dari pola pembacaan log
gamma ray yang menunjukan litologi penyusnnya merupakan batupasir yang
berperan sebagai reservoar, didukung log resistivitas dengan nilai resistivitas tinggi
yang menunjukan batuan tersebut mengandung hidrokarbon, kemudian adanya cros-
over antara log densitas dan log neutron yang menunjukan bahwa batuan tersebut
berpori dan mengandung fluida. Diperkuat dengan data testing yang mengetahui
kandungan hidrokarbon. Dari data kuantitatif dilihat dari hasil analisa property
petrofisika yang lolos cut-off yang kemudian dapat diketehaui ketebalan net pay.

93
Setelah menentukan reservoar target kemudian menghitung dari nilai gross sand,
net sand, net pay dan net to gross yang digunakan dalam perhitungan cadangan.
• Total pay (gross) ; ketebalan yang diperoleh dari ketebalan total zona (top-
bottom) yang dianalisis tanpa mengunakan cut-off.
• Net sand (reservoar) ; ketebalan reservoar yang diperoleh dengan
menggunakan cut-off berupa volumeserpih (Vsh) ≤ 0,5 dan porositas (∅) ≥ 0,10.
• Net pay ; ketebalan yang terisi hidrokarbon yang diperoleh dengan
menggunakan cut-off berupa volume shale (Vsh) ≤ 0,5, porositas (∅) ≥ 0,10 , dan
saturasi air (Sw) ≤ 0,65.
• Net to gross ; perbandingan atau rasio antara ketebalan reservoar (net sand)
terhadap ketebalan gross.
Berikut merupakan hasil lumping reservoar pada kelima sumur pada lapangan
TRIUMPH,
Tabel 5. 15 Interval reservoar pada lapangan TRIUMPH

Tabel 5. 16 Lumping net resrvoir zone

Tabel 5. 17 Lumping net pay zone

94
5.3 Korelasi

5.3.1 Korelasi Struktur


Korelasi struktur dilakukan untuk mengetahui konfigurasi bentuk cekungan di
Lapangan TRIUMPH. Selain itu korelasi struktur dilakukan untuk mengetahui
kemenerusan lapisan yang terpengaruhi oleh struktur yang berkembang hingga saat
ini. Datum yang digunakan untuk korelasi struktur yaitu pada kedalaman 6000 ft
SSTVD. Korelasi ini dilakukan dengan lintasan Barat Laut – Tenggara yang
berlawanan arah dengan pengendapan yang relative Utara- Selatan.
Berdasarkan korelasi struktur di kedalaman 6000 ft SSTVD diketahui sumur
TU-2, T-3, dan T-2 berada pada bagian rendahan cekungan dan sumur TU-1 dan T-1
berada pada bagian tinggian cekungan, dari kondisi tersebut menunjukan adanya peran
struktur geologi berupa antiklin yang berumur Pliosen-rencent . Dengan kondisi
tersebut kita juga dapat berbicara lebih lanjut mengenai topografi bawah permukaan
dalam peta bawah permukaan lapangan TRIUMPH.
Korelasi stuktur memiliki hubungan dengan korelasi stratigrafi dimana terjadi
penebalan dan penipisan lapisan pada sumur-sumur tertentu. Dimana penebalan terjadi
pada sumur yang berada pada bagian rendahan yang memiliki ruang akomodasi yang
lebih besar dibandingan sumur yang berada pada bagian tinggian. Dan pada korelasi
dapat kita lihat tempat terakumulasinya hidrokarbon berada pada daerah tinggian lebih
dominan dibandingkan pada daerah rendahan, dimana perangkap yang berperan pada
daerah telit,ian berupa antiklin seperti yang sudah dijelaskan dan menurut Ginger dan
Gieldings (2005). Dapat dilihat pada Gambar 5.19, atau lebih jelasnya pada Lampiran
1-1.

95
Gambar 5. 20 Korelasi struktur lapangan TRIUMPH (Barat Laut-Tenggara)

96
5.3.2 Korelasi Stratigrafi
Korelasi stratigrafi dilakukan guna mengetahui pola pengendapan dan
kemenerusan lapisan berdasarkan kronostratigrafi. Korelasi stratigrafi dilakukan
dengan menghubungkan sumur TU-2, TU-1, T-3, T-1, T-2 menggunakan datum
sikuen yaitu Maximum Flooding Surface (MFS). Sumur kunci dalam korelasi
stratigrafi menggunakan sumur TU-2, karena memiliki perekaman data yang lengkap
dan data pendukung yang informatif. Sehingga dari sumur kunci tersebut peneliti dapat
melakukan korelasi untuk sumur-sumur lainnya.
Berdasarkan kenampakan hasil korelasi stratigrafi, terlihat bahwa sedimentasi
Formasi Talangakar Bawah pada lapangan TRIUMPH mengalami penebalan pada
bagian rendahan cekungan dapat dilihat pada sumur TU-2, T-3, dan T-2 serta
mengalami penipisan pada bagian tinggian cekungan dapat diilihat pada sumur TU-1
dan T-1. Hal tersebut dikarenakan konfigurasi cekungan yang terdapat tinggian dan
rendahan yang dikontrol oleh struktur geologi, dan juga dikontrol oleh supplai
sedimentasi pada daerah telitian .
Dapat kita lihat geometri reservoar “TRMPH” yang menerus di kelima sumur
telitian, tidak terdapat anomali yang menyebabkan reservoar “TRMPH” terputus.
Dimana reservoar “TRMPH” berdasarkan sikuen stratigrafi berada pada sequence
boundary (SB) dengan system track, lowstand system track (LST) yang menunjukan
fase regresi dengan ketebalan batupasir yang tebal (blocky), hal ini yang menyebabkan
lapisan “TRMPH” memiliki potensi menjadi reservoar berdasarkan aspek kualitatif.
Korelasi Stratigrafi dapat dilihat pada Gambar 5.18, atau lebih jelasnya pada
Lampiran 1-2

97
Gambar 5. 21 Korelasi stratigrafi lapangan TRIUMPH

98
5.4 Peta Bawah Permukaan
Properti petrofisika telah diperoleh. Properti yang dipetakan adalah porositas
efektif, permeabilitas dan saturasi air. Pemetaan properti petrofisika pada penelitian ini
adalah menggunakan cara estimasi karena penelitian ini tidak sampai pada proses
memodelkan kondisi reservoar.

5.4.1 Peta Struktur Kedalaman

Pada peta struktur kedalaman menggambaran topografi lapangan TRIUMPH


lebih spesifikasinya pada reservoar TRMPH. Dapat dilihat pada Gambar 5.20 kondisi
topografi pada daerah telitian ditunjukan dengan indeks warna seperti contohnya
tinggian pada daerah telitian ditunjukan dengan warna kuning-kemerahan semankin
menuju ke rendahan ditunjukan dengan warna biru. Kita dapat mencocokan peta
kedalaman struktur dengan korelasi struktur, dimana sumur-sumur yang relative
berada pada tinggian yakni sumur, TU-1, T-3 dan T-1 berada pada lokasi berwarna
kuning kemerahan yang menunjukan daerah tinggian dan sumur TU-2 dan T-2 berada
pada lokasi berwarna hijau yang menunjukan daerah relatif rendahan, sama halnya
pada korelasi struktur yang menunjukan sumur TU-1, T-3 dan T-1 berada pada
tinggian, dan sumur sumur TU-2, , dan T-2 berada pada rendahan.
Selain itu peta struktur kedaalaman digunakan sebagai dasar dalam penyebaran
properti reservoar seperti volume serpih, porositas efektif, permeabilitas, saturasi
airdan peta isopach gross-sand, dan net-sand yang akan dijelaskan selanjutnya. Peta
kedalaman struktur ini juga digunakan dalam perhitungan cadangan dengan
menggunakan kontak antara gas dan air (gas water contact) yang di plot ke dalam
sumur dan peta kedalaman struktur pada kedalaman 6375.6 ft (SSTVD), dapat dilihat
pada gambar 5.21 yang ditandai dengan warna merah. Luasan dari kontak antara
minyka dan gas ini yang digunakan dalam perhitunan volume bulk, yang parameter
tersebut digunakan dalam mencari jumlah cadangan dalam satu lapisan reservoar.

99
Gambar 5. 22 Peta struktur kedalaman

100
5.4.2 Peta Isopach Gross-Sand
Peta isopach gross sand menggambarkan ketebalan gross-sand dari reservoar
TRMPH dimana dapat dilihat pada gambar 5.25 ketebalan gross-sand pada setiap
sumur tidak memiliki perbedaan ketebalan yang signifikan. Peta isopach gross -sand
kita dapat berbicara mengenai arah pengendapan dan kemenerusan lapisan secara
lateral, sehingga peta isopach sross sand berfungsi sebagai kunci dasar dalam
pembuatan peta persebaran properti.
Dapat kita lihat dari peta isopach gross -sand yang telah dibuat, lapisan TRMPH
menunjukan arah timur laut – barat daya dimana berdasarkan penelitan sebelumnya
yang menyebutkan lapangan TRMPH memiliki arah pengendapan yang sama yaitu
timur laut – barat daya.
Persebaran secara lateral dari sumur TU-2, TU-1, T-3,T-1 memiliki ketebalan
reservoar yang relatif sama dibandingkan sumur T-2 yang menipis, dengan
menghubungkan hasil interpretasi fasies yang menyunjukan fasies distributary
channel serta peta isopach gross-sand diinterpretasikan sumur T-2 mengalami
penipisan karena sumur T-2 berada pada bagian tepi channel sedangkan TU-2,TU-
1,T-3,dan T-1 berada pada bagian tengah channel

101
Gambar 5. 23 Peta isopach gross-sand

5.4.3 Peta Isopach Net-Pay


Peta isopach net-sand menggambarkan ketebalan net-sand reservoar TRMPH,
dimana peta isopach net pay juga menggambarkan arah pengendapan, ketebalan
lapisan dan dapat berfungsi sebagai kunci dasar dalam pembuatan peta persebaran
properti. Peta isopach net pay dibuat menggunakan data Tebal gross-sand yang telah
dikurangi dengan nilai parameter petrofisika seperti nilai volume serpih, porositas

102
efektif, dan saturasi air. Dengan melihat peta isopach net pada gambar 5.26 sumur TU-
2 memiliki ketebalan net-sand lebih tebal dibandingkan sumur lainnya, hal ini
dikarenakan sumur TU-2 memiliki nilai properti petrofisika yang baik sehingga tebal
net-sand sehingga tidak berbeda jauh dengan nilai gross-sand. Sedangkan sumur T-2
memiliki nilai net-sand lebih tipis dibandingkan sumur lainnya, hal ini dikarenakan
sumur T-2 memiliki nilai property petrofisika yang kurang baik dibandingkan keempat
sumur lainnya sertamemiliki tebal gross-sand yang tipis sehingga memiliki nilai net-
sand yang tipis.

Gambar 5. 24 Peta isopach net-sand

103
5.4.4 Peta Distribusi Volume Serpih
Peta distribusi volume serpih dibuat berdasarkan nilai rata-rata volume serpih
dari netpay reservoar TRMPH setiap sumur yang didapatkan dari proses lumping,
dapat dilihat pada tabel 5.18 . Berdasarkan nilai rata-rata volume serpih diantara
kelima sumur, kelima sumur memiliki selisih nilai volume serpih yang tidak terlalu
jauh dan masih menunjukan nilai volume serpih yang baik sebagai reservoar, karena
litologi dominan pasir. Dapat dilihat pada indeks warna volume serpih nilai volume
serpih yang baik (memiliki persentase volume shale rendah) ditunjukan dengan indeks
warna kuning-kemerahan, sedangkan nilai volume serpih yang buruk (memiliki
persentase volume shale tinggi) ditunjukan dengan indeks warna biru-ungu atau secara
singkatnya semakin sedikit nilai volume serpih semakin baik kondisi suatu reservoar,
berlaku sebaliknya.
Pada sumur TU-1 , TU-2, T-3 dan T-1 memiliki nilai volume serpih yang relatif
baik seperti yang sudah dijelaskan ditunjukan dengana indeks warna kuning-orange
pada peta, sedangkan pada sumur T-2 yang memiliki nilai volume serpih yang buruk
ditunjukan dengan warna biru. Dari kelima sumur tersusun oleh litologi yang sama
yaitu batupasir dan fasies yang sama distributary-channel oleh karena itu tidak
terdapat perbedaan nilai volume serpih yang signifikan dan juga memiliki kategori
reservoar yang baik dari setiap sumur .
Berdasarkan peta distribusi volume serpih pada gambar 5.21 terlihat ada
perbedaan indeks warna pada sumur T-2. Hal ini diinterpretasikan sumur TU-2, TU-
1, T-3 dan T-1 terendapkan pada bagian tengah chanel yang memiliki nilai volume
serpih yang beragam dan nilai volume serpih yang baik yang diindikasikan dengan
warna kuning-orange sedangkan semakin kea arah tenggara dan pada sumur T-2, tidak
terendapkan pada bagian tengah channel melainkan menuju bagian tepi channel
sehingga memiliki nilai volume lempung yang lebih tinggi (kurang baik)
dibandingkan dengan keempat sumur lainnya.

104
Gambar 5. 25 Peta distribusi volume serpih

105
5.4.5 Peta Distribusi Porositas Efektif
Peta distribusi porositas efektif dibuat berdasarkan nilai rata-rata volume serpih
dari netpay reservoar TRMPH setiap sumur yang didapatkan dari proses lumping,
dapat dilihat pada tabel 5.18 . Dapat dilihat pada indeks warna pada peta distribusi
porositas efektif, porositas efektif yang baik memiliki nilai tinggi sedangkan porositas
efektif yang buruk memiliki nilai rendah dengan interval nilai 0.1-0.3 (Asquith, 1982).
Pada gambar 5.22 porositas efektif yang baik ditunjukan dengan indeks warna kuning-
kemerahan sedangkan porositas efektif yang buruk ditunjukan dengan indeks warna
biru-ungu.
Nilai porositas berhubungan dengan nilai volume serpih, seperti pada sumur
TU-2 memiliki nilai porositas efektif yang relatif tinggi dibandingkan keempat sumur
lainnya memiliki nilai volume serpih yang baik, sedangkan sumur T-2 memiliki nilai
yang kurang baik dari keempat sumur lainnya, dimana memiliki nilai volume shale
lebih buruk. Dimana antara kelima sumur memiliki litologi penyusun yang sama dan
jenis mineral lempung yang relatigf seragam.
Dengan perbadingan tersebut dapat dikatakan nilai dari volume serpih memiliki
pengaruh terhadap nilai porositas, dan dibuktikan pada rumus dalam perncarian nilai
porositas yang terdapat parameter nilai volume serpih dalam perhitungannya. Dimana
kehadiran serpih cukup signifikan mempengaruhi nilai porositas.

106
Gambar 5. 26 Peta distribusi porositas efektif

5.4.6 Peta Distribusi Permeabilitas


Sama halnya seperti persebaran volume serpih dan distribusi porositas efektif,
distribusi permeabilitas dibuat berdasarkan nilai rata-rata permeabilitas dari netpay

107
reservoar TRMPH setiap sumur yang didapatkan dari proses lumping, dapat dilihat
pada tabel 5.18. Dapat dilihat pada indeks warna peta distribusi permeabilitas,
permebilitas yang tinggi ditunjukan dengan warna kuning-kemerahan sedangkan
permeabilitas yang rendah ditunjukan dengan indeks warna biru-ungu pata peta.
Nilai permeabilitas berkesinambungan dengan nilai volume serpih dan
porositas efektif, diluar faktor-faktor geologi lain yang mengontrol. Suatu tubuh
batuan apabila memiliki nilai permeabilitas yang tinggi karena memiliki nilai volume
serpih yang rendah (baik) dan porositas efektif yang tinggi, dimana suatu batuan
dapat mengalirkan fluida dengan mudah dengan tidak tertahan oleh mineral mineral
lempung yang sifatnya impermeabel dan memiliki rongga antar butir yang itnggi
Dibuktikan pada peta distribusi permeabilitas pada gambar 5.23 menunjukan
nilai permebilitas yang tinggi terdapat pada sumur TU-2 ditunjukan dengan indeks
warna kuning pada peta sedangkan nilai permeabilitas yang rendah berada pada
sumur T-2 yang diindikasikan dengan warna ungu pada peta. Hal ini karena pada
sumur TU-2 memiliki nilai kandungan serpih yang rendah dan memiliki nilai
porositas efektif yang tinggi, sebaliknya pada sumur T-2 memiliki kandungan serpih
yang tinggi dan nilai porositas efektif yang rendah.

108
Gambar 5. 27 Peta distribusi permeabilitas

109
5.4.7 Peta Distribusi Saturasi Air
Sama halnya seperti peta persebaran properti petrofisika lainnya distribusi
saturasi air dibuat berdasarkan nilai rata-rata saturasi air dari netpay reservoar
TRMPH setiap sumur yang didapatkan dari proses lumping, dapat dilihat pada tabel
5.18. Dapat dilihat pada indeks warna peta distribusi saturasi air, saturasi air yang
baik ditunjukan dengan warna kuning-merah sedangkan saturasi yang ndah
ditunjukan dengan indeks warna biru pata peta. Pada peta distribusi saturasi air disini
saturasi buruk bukan menunjukan zona hidrokarbon, melainkan berdasarkan besaran
nilai saturasi air. Karena nilai yang digunakan dalam pembuatan peta distribusi
merupakan data melainkan sudah lolos cut-off volume serpih, porositas efektif dan
saturasi air. Sehingga dapat dipastikan fluida yang terakumulasi bukan air melainkan
hidrokarbon.
Peta distribusi saturasi air apabila kita sandingkan dengan peta kedalaman
struktur reservoar TRMPH pada gambar 5.20 memiliki kesinambungan . Dapat kita
lihat pada peta struktur kedalaman sumur, pada sumur TU-1,T-3, dan T-1 berada
pada tinggian-tinggian dengan indikasi warna orange-kuning dimana pada peta
saturasi air menunjukan nilai saturasi air yang baik dengan indikasi warna orange-
kuning. Sedangkan pada sumur T-2 pada peta kedalaman struktur lebih berada pada
rendahan ditunjukan dengan warna hijau dimana pada peta distribusi saturasi air
menunjukan nilai saturasi air yang kurang baik dengan indikasi warna biru pada peta.
Disini dapat kita lihat hidrokarbon terjebak pada topografi tinggian-tinggian dimana
hidrokarbon bermigrasi dari rendahan menuju tinggian karena dalam harfiahnya
hidrokarbon akan mencari kesetimbangan dari tekanan yang besar menuju tekanan
yang rendah melalui zona lemah sperti struktur geologi maupun rongga batuan .
Selain itu, kita dapat berbicara dari sisi parameter petrofsika seperti seperti
volume serpih, porositas efektif, dan permeabilitas. Dimana pada sumur TU-2 yang
memiliki nilai saturasi air lebih baik dari keempat sumur lainnya karena pada sumur
TU-2 memiliki nilai parameter-parameter volume serpih, porositas, dan permebilitas
yang baik, sehingga reservoar TRMPH pada sumur TU-2 menjadi reservoar yang baik
dalam menyimpan hidrokarbon.

110
Gambar 5. 28 Peta distribusi saturasi air

111
5.5 Perhitungan Cadangan
Perhitungan estimasi cadangan yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan
metode volumetrik. Kedalaman Last Knowing Gas (LKG) diperoleh dari analisis
kualitatif terhadap data log dan didukung oleh data DST, dimana berada pada
kedalaman 6375.6 ft(SSTVD). Tabel 5.18 merupakan tabulasi perhitungan volumetrik
cadangan hidrokarbon di tempat pada reservoar TRMPH:

Tabel 5. 18 Tabulasi perhitungan cadangan reservoar TRMPH

A(acr ft) h(ft) Bg(scf) VB SCF MMSCF


1709240 6.533116083 190 11166663 4545.699604 4.545699604

GIIP = (Volume bulk reservoar x Φ x (1-Sw) / BGI)

Berdasarkan perhitungan volume cadangan reservoar TRMPH menggunakan


tabulasi dan rumus diatas didapatkan Total gas initial in place (GIIP) sebesar 4545.7
SCF atau 4.5457 MSCF

112
BAB VI
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengolahan dan analisis data pada lapisan reservoar


TRMPH, Lapangan TRIUMPH, Formasi Talangakar Bawah Cekungan Sumatera
Selatan, didapatkan kesimpulan sebagai berikut:
1. Berdasarkan hasil analisis kualitatif yang diintergrasikan dengan data mudlog
litologi penyusun Formasi Talangakar Bawah, lapangan TRIUMPH terdiri dari
batupasir konglomeratan, batupasir halus-sendang, batupasir perselingan
batulempung, dan reservoar “TRMPH” tersusun atas litologi batupasir sedang-
halus
2. Berdasarkan hasil analisis elektrofasies dan asosiasi fasies pengendapan, Formasi
Talangakar Bawah, lapangan TRIUMPH terendapkan pada lingkungan transisi,
sub-lingkungan fluvial- delta plain, dan terdiri dari fasies distributary channel,
fluvial pointbar, crevasse splay (istilah mengacu pada Allen dan
Chambers,1998), dan reservoar “TRMPH” terendapkan pada fasies distributary
channel
3. Reservoar “TRMPH” memiliki geometri yang menerus pada kelima sumur
dengan letak reservoar “TRMPH” pada sumur TU-2 berada pada kedalaman
6366.943-6377.064 ft dimana merupakan posisi terendah dibandingkan pada
sumur T-1 pada kedalaman 6004.500 – 6023 ft, sumur TU-1 pada kedalaman
6204.221 - 6214.191 ft, sumur T-3 pada kedalaman 6155 - 6164.750 ft, dan sumur
T-2 pada kedalaman 6004.500 – 6023 ft. Dimana reservoar “TRMPH”
terkumulasi dengan jebakan kombinasi antara struktur sesar dan Formasi
Talangakar Atas yang tersusun dari litologi dominan batulempung yang dapat
berperan sebagai jebakan hidrokarbon.
4. Dengan nilai cut-off volume serpih= 0.5, porositas=0.10, Sw=0.65 diketahui nilai
netpay reservoar TRMPH seperti berikut:
 TU-2 rata-rata volume serpih : 0.025, porositas efektif : 0.215, saturasi air :
0.366, permeabilitas : 228.40 dengan tebal netpay 9.435 ft

113
 TU-1 rata-rata volume serpih : 0.032, porositas efektif : 0.171, saturasi air :
0.452, permeabilitas : 89.859 dengan tebal netpay 6.481ft
 T-3 rata-rata volume serpih : 0.043, porositas efektif : 0.151, saturasi air : 0.539,
permeabilitas : 51.957 dengan tebal netpay 8.75 ft
 T-1 rata-rata volume serpih : 0.052, porositas efektif : 0.116, saturasi air : 0.466,
permeabilitas : 14.435 dengan tebal netpay 6.00 ft
 TU-2 rata-rata volume serpih : 0.143, porositas efektif : 0.105, saturasi air :
0.626, permeabilitas : 8.696 dengan tebal netpay 2.00 ft
5. Dari hasil perhitungan volumetrik cadangan gas dengan persamaan Gas Initial In
Place (GIIP) diperoleh estimasi cadangan gas pada lapisan “TRMPH” sebesar
4545.7 SCF atau 4.5457 MSCF

114
DAFTAR PUSTAKA

Allen, George.P. dan J. L.C Chambers.1998. Sedimentation in the Modern and


Miocene Mahakam Delta. IPA Special Publication Indonesia
Asquith, George dan Charles Gibson. 1982. Basic Well Log Analysis for Geologists.
Tulsa: American Association of Petroleum Geologists.
Bateman, R.M. dan C.E. Konen 1977. The Log Analyst and the Programmable Pocket
Calculator. Part II - Crossplot Porosity and Water Saturation, Society of
Petrophysicists and Well Log Analysts (SPWLA). Houston.
Bishop, M.G. 2001. South Sumatera Basin Province, Indonesia: The Lahat/
Talang Akar-Cenozoic Total Petroleum System. Colorado: USGS.
Catuneanu, O., V. Abreu, J.P. Battacharya, M.D. Blum, R.W. Dalrympe. 2009.
Towards the Standardization of Sequence Stratigraphy. Canada: Elsevier,
Journal Earth Science.Crain, E.R. 2001. Crain’s Petrophysical Handbooks -
3rd Millennium Edition, Spectrum 2000.
Catuneanu, O., W.E.Galloway, C.G.St. Kendall, A.D. Miall, H.W. Posamentier, A.
Strasser, M.E. Tucker. 2011. Sequence Stratigraphy: Methodology and
Nomenclature. Stuttgart, Germany: Gebrüder Borntraeger.
Darling, T. 2005. Well Logging and Formation Evaluation. USA: Elsevier.
Ginger, David dan Kevin Fielding. 2005. The Petroleum System and Future Potential
of The South Sumatera Basin. Indonesia: Proocedings, Indonesian Petroleum
Association.
Harsono, Adi. 1997. Pengantar Evaluasi dan Aplikasi Log. Jakarta: Schlumberger
Oilfield Service.
Kendall, Christopher G.St. 2005. Stratigraphy and Sedimentary Basin. California:
University of South California.
Koesoemadinata, R.P. 1980. Geologi Minyak dan Gas Bumi. Edisi Kedua. Jilid 1 dan
2. Bandung: Institut Teknologi Bandung .
Malaysetia, Budi A. 2013. “Pemodelan 3D Reservoar Karbonat Pada Formasi
Baturaja Berdasarkan Data Sumur Dan Seismik Pada Lapangan “CHICO”
Cekungan Sumatera Selatan”. Tugas Akhir. Semarang: Universitas
Diponegoro. (Tidak dipublikasikan)
Nichols, G. 2009. Sedimentology And Statigraphy Second Edition. United Kingdom
Rider, Malcolm. 2002. Second Edition: The Geological Interpretation of Well Logs.
Prancis: Interprint Ltd. ISBN: 0-9541906-0-2.
Tyson, Erik S. 2016. “Karakterisasi Reservoar Dan Perhitungan Volume Cadangan
Hidrokarbon Berdasarkan Analisis Petrofisika Pada Batupasir 1 st Wall
Creek Frontier, Lapangan Teapot Dome, Cekungan Powder River, Natrona
Country, Wyoming, Amerika Serikat”. Tugas Akhir. Yogyakarta: Universitas
Gajah Mada. (Tidak dipublikasikan).
Wagoner J.C. Van., R.M. Mitchum, K.M. Campion, V.D. Rahmanian., 1991,
Siliciclastic sequence Stratigraphy in Well Logs, Core and Hanna Basin,
USA, Journal of The International Association of Sedimentologists.
LAMPIRAN

LAMPIRAN 1-1 KORELASI STRUKTUR


LAMPIRAN 1-2 KORELASI STRATIGRAFI
LAMPIRAN 2-1 : PETA STRUKTUR KEDALAMAN
LAMPIRAN 2-2 : PETA ISOPACH GROSS-SAND
LAMPIRAN 2-3 : PETA ISOPACH NET-SAND
LAMPIRAN 2-4 : PETA DISTRIBUSI VOLUME SERPIH
LAMPIRAN 2-5 : PETA DISTRIBUSI POROSITAS
LAMPIRAN 2-6 : PETA DISTRIBUSI PERMEABILITAS
LAMPIRAN 2-7 : PETA DISTRIBUSI SATURASI AIR

Anda mungkin juga menyukai