0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
26 tayangan7 halaman

Peran Suami dalam Keberhasilan Pemberian ASI

Tugas ini membahas hubungan antara dukungan suami dengan keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Rendahnya pemberian ASI di Indonesia disebabkan kurangnya dukungan suami. Dukungan suami penting karena dapat meningkatkan produksi ASI dan memotivasi ibu. Penelitian ini akan menganalisis hubungan antara dukungan suami dengan keberhasilan pemberian ASI eksklusif.

Diunggah oleh

Dhiean Anggraini
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Topik yang dibahas

  • kesehatan reproduksi,
  • kesehatan ibu dan anak,
  • peran ayah,
  • kualitas hidup,
  • program edukasi,
  • penyebab penghentian menyusui,
  • peningkatan ASI,
  • keterlibatan suami,
  • kesehatan gizi,
  • dukungan sosial
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
26 tayangan7 halaman

Peran Suami dalam Keberhasilan Pemberian ASI

Tugas ini membahas hubungan antara dukungan suami dengan keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Rendahnya pemberian ASI di Indonesia disebabkan kurangnya dukungan suami. Dukungan suami penting karena dapat meningkatkan produksi ASI dan memotivasi ibu. Penelitian ini akan menganalisis hubungan antara dukungan suami dengan keberhasilan pemberian ASI eksklusif.

Diunggah oleh

Dhiean Anggraini
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Topik yang dibahas

  • kesehatan reproduksi,
  • kesehatan ibu dan anak,
  • peran ayah,
  • kualitas hidup,
  • program edukasi,
  • penyebab penghentian menyusui,
  • peningkatan ASI,
  • keterlibatan suami,
  • kesehatan gizi,
  • dukungan sosial

TUGAS OUTLINE

HUBUNGAN PERAN SUAMI DENGAN


KEBERHASILAN PEMBERIAN ASI DI RUANG NIFAS

Oleh:

DIAN ANGGRAINI
7323046

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PESANTREN TINGGI DARUL ULUM JOMBANG
2023/2024
Nama : DIAN ANGGRAINI
NIM : 7323046
Program Studi : S1 Keperawatan FIK Unipdu

I. Masalah Penelitian
Rendahnya pemberian ASI pada bayi diketahui dari banyaknya peran seorang suami dalam
membantu ibu untuk memberikan ASI pada bayinya. Salah satunya ada yg tidak didampingi
suami watu melahirkan karena sedang bekerja. Dan ada pula sebagian para suami masih
memiliki prinsip bahwa menyusui adalah tugas seorang istri. Peran suami untuk istri yang
memberi ASI sangat penting, karena support system pertama istri adalah suami. Mungkin
ada orang tua, tetapi tetap tak bisa mengalahkan peran suami sebagai pendukung utama istri.
Ketika ibu melahirkan tanpa ada peran dari suami untuk memberi ASI, ibu merasa tidak ada
support dari suami..
II. Bidang Keilmuan
Bidang keilmuan Keperawatan Maternitas
III. Judul Penelitian
Hubungan Peran Suami dengan Keberhasilan Pemberian ASI Di Ruang Nifas
IV. Latar Belakang
Air Susu Ibu (ASI) merupakan nutrisi alamiah terbaik buat bayi karena mengandung
banyak kebutuhan energi dan zat yang di butuhkan. Seorang Ibu sering kali mengalami
kesulitan atau masalah dalam memberikan ASI Eksklusif, salah satu kendala utama adalah
produksi ASI yg tidak lancar. Hal ini akan menjadi faktor penyebab rendahnya cakupan
pemberian ASI Eksklusif pada bayi yang baru lahir (Wulandari & Handayani, 2011).
Dari hasil data tahun 2020 di RSIA Muslimat Jombang, ibu yang memberikan ASI
ekslusif sebanyak 264 orang (69,4%), sedangkan ibu yang tidak memberikan ASI ekslusif
sebanyak 105 orang (30,6%) dari sasaran ibu menyusui sebanyak 369 orang pada tahun
2018. Pencapaian ini sulit dicapai karena adanya kebiasaan masyarakat yang masih
memberikan nasi ataupun bubur, pisang pada bayi, kendala ibu bekerja, tanpa ada dukungan
dari keluarga , dan ASI tidak keluar. (Profil RSIA Muslimat, 2018).
Pemberian ASI sangat penting untuk kelangsungan hidup dan kesehatan anak. ASI
adalah makanan yang aman, alami, bergizi, dan berkelanjutan untuk bayi. ASI mengandung
antibodi yang membantu melindungi dari banyak penyakit umum pada masa kanak-kanak
seperti diare dan penyakit pernapasan. Pemberian ASI yang tidak memadai menyebabkan
16% kematian anak setiap tahun. Anak yang disusui memiliki hasil tes kecerdasan yang lebih
baik dan lebih sedikit kelebihan berat badan atau obesitas di kemudian hari. (WHO, 2020)
Secara nasional, cakupan bayi mendapat ASI eksklusif tahun 2021 yaitu sebesar 56,9%.
Angka tersebut sudah melampaui target program tahun 2021 yaitu 40%. Persentase tertinggi
cakupan pemberian ASI eksklusif terdapat pada Provinsi Nusa Tenggara Barat (82,4%),
sedangkan persentase terendah terdapat di Provinsi Maluku (13,0%). (Profil Kesehatan
Indonesia 2021, 2022).
Cakupan pemberian ASI Eksklusif di Jawa Timur, bayi yang mendapat ASI Eksklusif
bayi < 6 bulan di Jawa Timur tahun 2021 sebesar 71,7 %, mengalami penurunan
dibandingkan dengan tahun 2020 (79,0%). Penurunan tersebut dikarenakan adanya pandemi
Covid-19 yang menyebabkan jumlah sasaran yang diperiksa menurun jumlahnya. Namun
cakupan ini sudah diatas target RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Nasional) tahun 2020 yaitu sebesar 45%. Berdasarkan profil Dinas Kesehatan Kabupaten
Jombang didapatkan data pemberian ASI Eksklusif pada tahun 2021 adalah 72,8%, sudah
meningkat dibandingkan pada tahun 2021 yang mengalami penurunan yakni sebesar 53,4%.
Pada tahun 2022 cakupan pemberian ASI Eksklusif menurut Puskesmas di Kabupaten
Jombang sebesar 84,7%. Hal ini sudah mencapai target Indonesia sehat sebesar 80%.
Air susu ibu atau yang biasa disebut dengan ASI, dapat didefinisikan pemberian
anugerah dari Allah SWT yang tidak dapat ditiru oleh siapa pun, termasuk oleh para ahli gizi
makanan. ASI adalah nutrisi makanan yang terbaik dan sempurna bagi bayi karena
memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi bayi selama enam bulan pertama kehidupan bayi
(Hargi, 2019). ASI mempunyai nilai gizi yang lebih tinggi daripada makanan bayi yang
dibuat oleh manusia atau susu hewan seperti susu sapi. Bayi akan mengalami perkembangan
dan perkembangan yang optimal selama beberapa bulan kehidupan bayi jika bayi diberi
nutrisi yang baik (Yudi Agustin Saputra, 2020).
Setelah bayi lahir, nutrisi memainkan peran terpenting bagi pertumbuhan dan
perkembangan yang sehat bagi bayi. Makanan atau nutrisi yang sehat pada bayi yang
memenuhi kualitas dan kuantitas yang memadai, yaitu air susu ibu (ASI). Kebutuhan nutrisi
bayi 0-6 bulan yang paling utama yaitu dengan memberikan ASI, karena komposisinya
sesuai dengan jumlah nutrisi yang dibutuhkan bayi. Nutrisi yang paling tepat diberikan pada
bayi baru lahir sampai umur 6 bulan karena pada masa tersebut organ pencernaan bayi belum
mampu mencerna makanan selain ASI. Pemberian ASI sejak bayi lahir hingga usia 6 bulan
atau disebut dengan ASI eksklusif dapat memenuhi seluruh kebutuhan gizi bayi (Hani,
2020).
Organisasi Kesehatan Dunia dan UNICEF menganjurkan bahwa pemberian ASI
eksklusif selama 6 bulan pertama didasarkan pada bukti ilmiah tentang manfaat ASI bagi
daya tahan tubuh bayi, terutama pertumbuhan dan perkembangan bayi. Walaupun UNICEF
sangat menyarankan pemberian ASI eksklusif dilakukan selama 6 bulan, sebagian ibu
memilih melakukan penghentian terhadap pemberian ASI eksklusif. Penyebab utamanya
untuk menghentikan menyusui merupakan minimnya konseling dan dukungan yang
terampil. Tidak hanya itu, minimnya motivasi dan permasalahan kehidupan yang realistis
serta pribadi menimbulkan ibu berhenti menyusui. Salah satu strategi utama yang dilaporkan
dalam liperatur merupakan pemakaian bermacam bentuk konseling interaktif oleh sahabat
sebaya maupun petugas kesehatan. Tahap konseling ini dilakukan paling utama dengan
memakai strategi satu – satu lewat kunjungan rumah maupun panggilan telepon (Kim et al.,
2018). Terdapat manfaat kesehatan, lingkungan, dan pengeluaran yang signifikan terkait
dengan menyusui. Buat bayi, pemberian ASI dapat mengurangi resiko kematian bayi secara
mendadak, infeksi (gastrointestinal, saluran respirasi, dan telinga tengah), kelebihan berat
badan atau obesitas, serta diabetes mellitus. Buat ibu, menyusui dapat mengurangi resiko
kanker payudara dan ovarium (Allen et al., 2023).
Faktor yang mempengaruhi tingkatan menyusui dan dalam itu ikut serta dalam
penghentian menyusui dini bermacam – macam namun bisa dikelompokan menjadi 3 jenis,
antara lain faktor psikologis klinis, faktor lingkungan, dan faktor sosial budaya dan ekonomi.
Keterlambatan dalam mengawali menyusui bisa menyebabkan penyusutan kapasitas hirup
bayi baru lahir, sehingga menyebabkan suplai ASI menurun atau ASI tidak memadai. Dari
semua faktor tersebut, tampak perlu adanya program edukasi untuk menambah wawasan dan
informasi tentang pentingnya ASI eksklusif bagi bayi (Ballesta-Castillejos et al., 2021).
Banyaknya bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif diIndonesia disebabkan oleh
bebagai faktor, diantaranya dukungan dari berbagai pihak yang masih kurang, salah satunya
dukungan suami. Keberhasilan ASI eksklusifakan lebih mudah bila dukungan dari suami
turut berperan. Menyusui memerlukan kondisi emosional yang stabil, mengingat faktor
psikologis ibu sangat mempengaruhi produksi ASI,suami dan istri harus saling memahami
betapa pentingnya dukungan terhadap ibu yang sedang menyusui (Tasya,2012).
Dukungan orang terdekat pula merupakan peran penting dalam meningkatkan kualitas
ASI eksklusif yang diberikan oleh ibu terhadap bayinya, itu dapat diartikan sebagai peran
dari seorang suami. Dukungan suami dalam pemberian ASI eksklusif kepada istri dapat
meningkatkan pikiran positif istrinya. Istri menjadi lebih hati – hati dalam membagikan
makanan tambahan, tidak hanya itu bisa juga meningkatkan hormon prolaktin dan refleks let
down. Namun, pada kenyataannya, suami masih kurang mendukung praktek pemberian ASI
karena kultural terdapat pembagian peran di mana suami bekerja sebagai pencari nafkah dan
istri menangani semua urusan rumah tangga. Tingkat keberhasilan pemberian ASI eksklusif
dapat sukses berhasil dengan terdapatnya dorongan suami kepada ibu untuk menyusui agar
membagikan ASI pada bayinya. Ada sebagian faktor yang mempengaruhi dukungan suami
antara lain pendidikan suami dan penghasilan suami. Suami yang paham dan memahami
manfaat ASI tentu akan selalu membantu ibu mengurus bayi, mengganti popok,
memandikan bayi, memberi pijatan pada bayi, memberi anggaran yang lebih dari cukup,
membantu menanggulangi permasalahan dalam pemberian ASI dan tetap menjaga hubungan
romantis dengan istri (Yudi Agustin Saputra, 2020).
Studi pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 25 Januari 2024 di RSIA Muslimat
Jombang, terdapat 8 ibu yang melahirkan. Terdapat 5 ibu dapat menyusui banyinya dengan
benar, sedangkan ada 3 ibu menyusui bayinya tampak kesusahan. Terlihat jelas dari 3 ibu
yang menyusui bayinya yang terlihat kesusahan ini terjadi karena berbagai faktor seperti ibu
yang merasa kelelahan setelah melahirkan, tidak adanya dampingan seorang suami,
tingginya rasa genggi untuk menyusui, dan selain itu juga kurangnya pengetahuan tentang
pentingnya pemberian ASI. Lima Ibu yang berhasil menyusui dengan benar mengatakan
bahwa suami senantiasa mendampingi dan membantu ibu dalam memberikan ASI, dan
memberi perhatian membantu merawat bayi.
Adanya dukungan dari suami dan orangtua menjadi faktor penguat bagi ibu dalam
memberikan ASI eksklusif pada bayi. Namun sayangnya masih banyak ibu yang
mengungkapkan bahwa mereka tidak mendapatkan dukungan dari keluarganya dalam
memberikan ASi eksklusif. Padahal kita semua tahu bahwa suksesnya seorang ibu dalam
memberikan ASI eksklusif merupakan tanggung jawab keluarga termasuk ayah, nenek,
kakek dan semua orang yang nantinya akan terlibat langsung dalam mengurus bayi (Roesli,
2008).
Pada kenyataannya, di masyarakat masih banyak anggapan bahwa menyusui hanya
sebatas urusan ibu dan bayinya saja. Masyarakat tidak menyadari bahwa dukungan suami
menjadi faktor pendukung utama dalam keberhasilan pemberian ASi eksklusif. Seorang
suami dianggap sebagai orang terdekat dan sangat berpengaruh kepada ibu untuk dapat
secara maksimal memberikan ASI eksklusif pada bayinya. Dukungan dari suami dalam
pemberian ASI eksklusif juga dapat menghilangkan kekhawatiran seorang istri akan
perubahan bentuk payudara yang dianggap tidak menarik lagi pasca menyusui (Proverawati,
2010).
V. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini
adalah “Apakah terdapat hubungan peran suami dengan keberhasilan pemberian ASI di
ruang nifas”
VI. Tujuan penelitian
1. Tujuan Umum
Mengetahui hubungan antara peran suami dengan keberhasilan pemberian ASI di
ruang nifas
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi peran suami dalam pemberian ASI eksklusif dengan keberhasilan
pemberian ASI di ruang nifas
b. Mengidentifikasi keberhasilan pemberian ASI di ruang nifas
c. Menganalisa hubungan peran suami dengan keberhasilan pemberian ASI di ruang
nifas

VII. Pustaka yang akan di telaah


A. Konsep Peran Suami
B. Konsep ASI
C. Konsep Menyusui
VIII. Variabel
Variabel Dependent : Keberhasilan Pemberian ASI
Variabel Independent : Peran suami
IX. Hipotesis
Ada hubungan antara peran suami dengan keberhasilan pemberian ASI di ruang nifas.
X. Desain penelitian
Penelitian ini menggunakan survei analitik dengan metode cross sectional
XI. Populasi
Semua ibu yang menyusui di ruang nifas
XII. Sampel
Sampel yang diambil adalah sebagian ibu yang sementara menyusui bayi di ruang nifas
XIII. Sampling
Metode pemilihan sampel menggunakan Teknik Purposive Sampling
XIV. Instrumen penelitian
Instrument penelitian menggunakan kuesioner
XV. Analisa Data
Analisa data menggunakan uji chi-square

Common questions

Didukung oleh AI

Several challenges inhibit exclusive breastfeeding in Indonesia, including cultural perceptions that breastfeeding is solely the mother's responsibility, lack of support from family, and practical difficulties such as the mother's employment constraints, societal habits of introducing solid foods too early, and insufficient lactation due to stress or psychological factors . Additionally, inadequate counseling and emotional support contribute to early cessation of breastfeeding, along with environmental, social, and cultural influences that undermine the significance of breastfeeding . The COVID-19 pandemic also impacted breastfeeding rates by reducing healthcare outreach and support for new mothers .

Breastfeeding has numerous positive impacts on long-term health outcomes for children. It provides essential nutrients tailored for infants, aids in optimal development and growth in the initial months, and contains antibodies that protect against common childhood diseases like diarrhea and respiratory infections . Breastfed children demonstrate higher intelligence test scores and reduced risks of overweight and obesity in later life . Furthermore, breastfeeding can decrease the risk of sudden infant death syndrome (SIDS), gastrointestinal infections, and chronic conditions such as diabetes mellitus .

Breastfeeding offers various psychological and emotional benefits for mothers. It promotes bonding between the mother and child, increases levels of oxytocin which can enhance mood, and decreases the risk of postpartum depression . Emotional stability provided by breastfeeding is supported by the presence of a supportive environment, especially from husbands, which can positively affect a mother's psychological state, further enhancing milk production and fostering a calming effect . Moreover, breastfeeding reduces stress and anxiety levels, contributing to overall mental health improvements in postpartum women .

Husband involvement in breastfeeding significantly enhances maternal mental well-being by providing emotional support, reducing stress, and alleviating feelings of isolation that new mothers may experience . By sharing household responsibilities and child care, husbands can reduce postpartum stress and anxiety for mothers. This supportive dynamic positively influences a mother's mood and overall mental health, facilitating better lactation and long-term dedication to breastfeeding . The reassurance and practical assistance from a husband help stabilize a mother's emotional condition, crucial for effective breastfeeding practices .

Socio-cultural factors impacting breastfeeding practices include traditional beliefs and norms about gender roles, where breastfeeding is regarded as a woman's sole responsibility . Additionally, community habits such as early introduction of supplementary foods and societal expectations on women's roles concerning employment and maternal duties influence breastfeeding decisions . The perception of breastfeeding affecting a woman's physical attractiveness and lack of public breastfeeding support further deteriorate breastfeeding rates. Socioeconomic conditions and societal pressure on women to quickly return to work postpartum also contribute to shortened breastfeeding periods .

The husband's role is crucial in the success of breastfeeding as he provides the primary support system for the wife. Support from the husband can enhance the mother's emotional state, which is essential for producing breast milk. A supportive husband can help manage household tasks, provide emotional encouragement, and actively support breastfeeding practices, all of which contribute to successful breastfeeding . Social and psychological support from the husband positively influences the mother’s ability to breastfeed exclusively, and his involvement can encourage a more positive breastfeeding experience by mitigating stress and ensuring that the mother's emotional and physical well-being are maintained .

Key factors influencing a husband's support in breastfeeding include his education and understanding of breastfeeding benefits, cultural beliefs, and perceived gender roles within the household that traditionally assign childcare responsibilities to women . Economic status and the ability to provide financial and emotional stability also play significant roles in a husband's supportive capacity. A husband aware of the importance of breastfeeding tends to involve himself more in infant care and provides emotional backing, facilitating exclusive breastfeeding .

Exclusive breastfeeding is recommended by health organizations such as WHO and UNICEF due to its proven benefits for infant health and development. It provides comprehensive nutrition needed for the first six months of life, boosting the immune system and reducing mortality rates associated with malnutrition and infections . Evidence suggests that exclusive breastfeeding enhances growth outcomes and cognitive development while reducing risks of chronic conditions like obesity and type 2 diabetes as children grow . WHO and UNICEF advocate for exclusive breastfeeding as it supports physical and neurocognitive development with long-term health benefits .

Educational programs significantly impact breastfeeding exclusivity rates by increasing awareness and understanding of breastfeeding benefits among mothers and their families. These programs provide crucial information about breastfeeding techniques, nutritional benefits, and debunk prevalent myths about breastfeeding, leading to improved breastfeeding rates . By targeting social and cultural misconceptions and providing support and counseling, educational interventions empower mothers and encourage supportive behaviors from family members, particularly husbands. As a result, communities observe higher rates of exclusive breastfeeding and reduced reliance on supplementary feeding practices . Continuous education and counseling ensure that new mothers persist in breastfeeding, ultimately improving child health outcomes significantly .

The research uses an analytical survey with a cross-sectional method to examine the relationship between husband's role and breastfeeding success . This approach allows the collection of data at a single point in time to analyze correlations between variables: the husband's role as the independent variable and breastfeeding success as the dependent variable. The research employs purposive sampling to select participants and uses questionnaires as the primary data collection instrument . Data analysis through chi-square tests helps determine the strength and significance of associations between the husband's involvement and breastfeeding outcomes .

Anda mungkin juga menyukai