Bab I-Iii Fix
Bab I-Iii Fix
USULAN PENELITIAN
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Dalam Menempuh Ujian Sarjana
Program Studi Manajemen pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Disusun Oleh :
LEMBAR PERSETUJUAN
PROPOSAL TUGAS AKHIR
disusun oleh:
Nama : Diyantri Yulianita
NIM : 200313055
telah dipersiksa dan disetuji untuk mengikuti Seminar Usulan Penelitian Tugas
Akhir/Skripsi
Pembimbing Akademik
…………………………….
NIDN.
Mengetahui,
Fakultas ……………………………..
Ketua Program Studi………………...
…………………………….
NIDN.
KATA PENGANTAR
ii
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah
melimpahkan karunia-Nya, serta atas pencerahan dan hidayah-Nya, penulis dapat
menyelesaikan proposal usulan penelitian yang berjudul: “Pengaruh Pelatihan
Kerja dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pada Bank BJB
Pusat Divisi BJB University Bandung.”
3. Kepada kedua orang tua yang telah mendukung dan do’a yang tak pernah
putus kepada anaknya.
Diyantri Yulianita
iii
DAFTAR ISI
Lembar Persetujuan..........................................................................................ii
Kata Pengantar..................................................................................................iii
Daftar Isi...........................................................................................................iv
Daftar Tabel......................................................................................................vi
Daftar Gambar..................................................................................................vi
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang...............................................................................1
1.2 Rumusan Masalah..........................................................................8
1.3 Tujuan Penelitian...........................................................................9
1.4 Manfaat Penelitian.........................................................................9
iv
3.1.9 Operasional Variabel............................................................49
3.1.10 Skala Pengukuran...............................................................51
3.1.11 Transformasi Data...............................................................52
3.1.12 Uji Analisis Data.................................................................53
3.1.12.1 Uji Instrumen..................................................................53
3.1.12.2 Uji Asumsi Klasik...........................................................53
3.1.12.3 Persamaan Regresi Linear Berganda..............................55
3.1.12.4 Koefisien Korelasi..........................................................55
3.1.12.5 Koefisien Determinasi....................................................56
3.1.12.6 Uji Statistik (Uji T dan Uji F).........................................56
3.1.12.7 Uji Hipotesis...................................................................59
3.2 Objek Penelitian.............................................................................60
v
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR PUSTAKA
vi
BAB I
PENDAHULUAN
1
Pelatihan kerja merupakan salah satu bentuk kepedulian perusahaan
terhadap karyawan yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan
keterampilan karyawan untuk dapat meningkatkan kinerja para karyawan menjadi
lebih baik. Pada umumnya, pelatihan kerja diberikan setiap satu tahun sekali
karena perusahaan dapat memperbaiki kekurangan – kekurangan kemampuan
karyawan dengan cara memberikan pelatihan kepada karyawan – karyawan
tertentu karena tidak semua karyawan akan mendapatkan kesempatan yang sama
untuk mendapatkan pelatihan kerja yang diberikan oleh perusahaan. Menurut
Widodo (2015:82), pelatihan merupakan serangkaian aktivitas individu dalam
meningkatkan keahlian dan pengetahuan secara sistematis sehingga mampu
memiliki kinerja yang profesional di bidangnya. Pelatihan adalah proses
pembelajaran yang memungkinkan pegawai melaksanakan pekerjaan yang
sekarang sesuai dengan standar.
Berikut merupakan pelatihan yang dilaksanakan oleh Bank BJB Pusat divisi
BJB University :
A. Jenis Pelatihan
- In House Training
Program pelatihan yang diselenggarakan oleh bjb University dan diikuti
oleh pegawai internal bank.
Contoh : Banking Academy Program, Talent Development Learning
Program (PDMP, SDP, ITDP, dll.)
- Public Training
Program pelatihan yang diselenggarakan Eksternal Bank yang ditunjuk
oleh bjb Univetsity dan bertempat baik di dalam negeri ataupun di luar
negeri bersama-sama peserta lain .
Contoh : APU-PPT, legal, audit, Rencana Aksi Keuangan Berkelanjutan,
Pengadaan, dll.
- Program Sertifikasi
Program untuk standarisasi profesi bagi mereka yang kompeten di bidang
pekerjaan masing-masing meliputi setifikasi yang diwajibkan oleh
peraturan otoritas dan sertifikasi lainnya sesuai kebutuhan bank.
2
Contoh : Sertifikasi Manajemen Resiko, Certified Wealth Manager, dll.
B. Tipe Pelatihan
- Tatap Muka / Luring
Pelaksanaan pembelajaran yang diselenggarakan oleh bjb University
dimana pengajar dan peserta berada pada satu tempat yang sama.
- Online / Daring
Pelaksanaan pembelajaran yang diselenggarakan melalui jaringan internet
menggunakan aplikasi pembelajaran Elbu (E-Learning bjb University)
untuk bjb E-Class dan bjb Flash atau melalui Public Online Class.
- Hybrid Learning
Pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang menggabungkan metode Online
Learning dan Tatap Muka (Offline)
Sumber: bjb University, 2023
Peneliti melakukan pra survey terhadap karyawan Bank BJB Pusat divisi BJB
University mengenai pelatihan kerja yang bertujuan untuk meningkatkan
kemampuan dan pengetahuan karyawan dalam menyelesaikan pekerjaan yang
pimpinan berikan kepada setiap karyawan. Berikut ini merupakan hasil pra survey
mengenai pelatihan kerja yang dimiliki oleh Bank BJB Pusat divisi BJB
University:
Tabel 1.1
Hasil Pra Survey Mengenai Pelatihan Kerja pada Bank BJB Pusat Divisi
BJB University Bandung
3
No Pernyataan Opsi Jawaban Persentase
.
4
pekerjaan saat ini. Lalu mayoritas karyawan sebanyak 18 orang karyawan (60%)
menyatakan bahwa pelatihan yang diberikan tidak berhasil meningkatkan
keterampilan kerja karyawan secara signifikan dan 12 orang karyawan (40%)
menyatakan bahwa pelatihan yang diberikan berhasil meningkatkan keterampilan
kerja karyawan secara signifikan. Hasil pra survey karyawan Bank BJB Pusat
divisi BJB University, menunjukkan bahwa mayoritas karyawan memberikan
jawaban “Tidak”, artinya pelatihan kerja yang diselenggarakan oleh Bank BJB
Pusat divisi BJB University dapat dikatakan kurang baik.
Motivasi kerja yang dimiliki oleh para karyawan akan berdampak pada
kinerja atau kontribusi yang karyawan berikan terhadap perusahaan. Karyawan
yang memiliki motivasi yang tinggi pada umumnya akan memiliki keinginan
untuk selalu dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik sesuai dengan standar
perusahaan dan sesuai dengan target perusahaan. Menurut Hasibuan dalam
Sutrisno (2016), motivasi kerja adalah perangsang keinginan dan daya penggerak
kemauan bekerja seseorang karena setiap motif mempunyai tujuan tertentu yang
ingin dicapai. Peneliti melakukan pra survey mengenai motivasi kerja yang
dimiliki oleh karyawan Bank BJB Pusat divisi BJB University. Berikut ini
merupakan hasil pra survey mengenai motivasi kerja yang dimiliki oleh Bank BJB
Pusat divisi BJB university:
Tabel 1.2
Hasil Pra Survey Terhadap Karyawan Mengenai Motivasi Kerja pada Bank
BJB Pusat Divisi BJB University Bandung
5
pekerjaan?
6
karyawan tidak mendapatkan cukup kesempatan untuk mengembangkan
kemampuan dan keterampilan karyawan di tempat kerja dan 13 orang kaeyawan
(43,33%) menyatakan bahwa karyawan mendapatkan cukup kesempatan untuk
mengembangkan kemampuan dan keterampilan karyawan di tempat kerja. Hasil
pra survey karyawan Bank BJB Pusat divisi BJB University, dapat dinyatakan
bahwa mayoritas karyawan memberikan jawaban “Tidak”, artinya motivasi kerja
yang dimiliki oleh karyawan Bank BJB Pusat divisi BJB University dapat
dinyatakan kurang baik.
Tabel 1. 3
Rekapitulasi Kinerja Karyawan Pada Bank BJB Pusat divisi BJB University
Periode (2020-2022)
No Tahun Realisasi Target
Berdasarkan hasil tabel 1.3 mengenai hasil kinerja karyawan pada Bank
BJB Pusat divisi BJB University Periode 2020-2022 dari segi ketercapaian dapat
dilihat bahwa kinerja karyawan mengalami kenaikan terus menerus tetapi belum
mencapai target maka perlu diperhatihan atau ditinjau kembali oleh pihak
perusahaan karena ketidaktercapaian target dapat mempengaruhi kinerja
7
perusahaan dan tidak menutup kemungkinan bahwa perusahaan dapat mengalami
kerugian secara terus menerus apabila kinerja karyawan terus mengalami
penurunan.
Bank BJB Pusat divisi BJB University selalu memberikan pelatihan kerja
kepada para karyawannya setiap tiga bulan sekali yang bertujuan untuk
meningkatkan kemampuan para karyawan serta untuk memperbaiki kekurangan
atau kelemahan yang diberikan oleh karyawan agar dapat diperbaiki dan
ditemukan solusinya, serta motivasi kerja yang dimiliki oleh para karyawan dapat
dikatakan kurang baik. Tetapi kinerja atau kontribusi yang karyawan berikan
selalu tidak tercapai dan tidak sesuai dengan target perusahaan yang dianggap
dapat merugikan pihak perusahaan. Oleh karena itu, peneliti merasa tertarik untuk
melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Pelatihan Kerja dan Motivasi
Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pada Bank BJB Pusat divisi BJB
University“.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka rumusan masalah
yang sesuai dengan penelitian adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pelatihan kerja karyawan pada Bank BJB Pusat divisi BJB
University
2. Bagaimana motivasi kerja karyawan pada Bank BJB Pusat divisi BJB
University
3. Bagaimana kinerja karyawan pada Bank BJB Pusat divisi BJB University
4. Seberapa besar pengaruh pelatihan kerja terhadap kinerja karyawan pada
Bank BJB Pusat divisi BJB University
5. Seberapa besar pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja karyawan pada
Bank BJB Pusat divisi BJB University
6. Seberapa besar pengaruh pelatihan kerja dan motivasi kerja terhadap
kinerja karyawan pada Bank BJB Pusat divisi BJB University
8
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dijelaskan diatas, maka
penelitian ini dilakukan dengan tujuan sebagai berikut :
1 Untuk mengetahui pelatihan kerja pada Bank BJB Pusat divisi BJB
University
2 Untuk mengetahui motivasi kerja pada Bank BJB Pusat divisi BJB
University
3 Untuk mengetahui kinerja karyawan pada Bank BJB Pusat divisi BJB
University
4 Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pelatihan kerja terhadap
kinerja karyawan pada Bank BJB Pusat divisi BJB University
5 Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh motivasi kerja terhadap
kinerja karyawan pada Bank BJB Pusat divisi BJB University
6 Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pelatihan kerja dan motivasi
kerja terhadap kinerja karyawan pada Bank BJB Pusat divisi BJB
University
1.4. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Dari hasil penelitian ini dapat digunakan untuk pengembangan
pengetahuan di bidang sumber daya manusia (SDM) terkait dengan
masalah pelatihan dan motivasi kerja.
2. Manfaat Praktis
Bagi Perusahaan
Hasil penelitian ini diharapkan menjadi sumber informasi atau bahan
masukan tambahan bagi perusahaan. Sebagai bahan pertimbangan
untuk dapat meningkatkan sumber daya manusia perusahaan. Dengan
9
demikian dapat kinerja karyawan dalam mewujudkan visi dan misi
perusahaan.
Bagi Karyawan
Penelitian ini dapat memberikan efek positif karena karyawan akan
memajukan perusahaan.
Bagi Peneliti
Kegunaan peneliti ini untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan
dan melatih kemampuan mengaanalisa dan berfikir secara sistematis.
Bagi Akademis
Penelitian ini diharapkan sebagai bahan referensi untuk penelitian di
masa yang akan datang.
10
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1.1 Manajemen
1. Pengertian Manajemen
Manajemen adalah kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan untuk me-
manage atau mengatur sesuatu yang dikerjakan oleh sekelompok orang atau
organisasi untuk mencapai tujuan perusahaan dengan cara bekerja sama
memanfaatkan sumber daya yang dimiliki. Oleh karena itu perusahaan harus
berusaha memanfaatkan sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan yaitu sumber
daya manusia yang sesuai dengan bidang keahliannya masing-masing agar tujuan
perusahaan bisa diwujudkan. Berikut ini merupakan pengertian manajemen
menurut beberapa ahli:
11
berjalan secara efektif dan efisien serta dapat membantu tercapainya tujuan
perusahaan.
2. Fungsi Manajemen
Menurut Sastrohadiwiryo (2015), menyebutkan bahwa manajeman pada
dasarnya mempunyai fungsi-fungsi yang terdiri dari:
1. Perencanaa (planning)
Perencanaan adalah proses dari rangkaian kegiatan untuk menetapkan
terlebih dahulu tujuan yang diharapkan pada suatu jangka waktu
tertentu atau periode waktu yang telah ditetpkan, serta tahapan yang
harus dilalui untuk mencapai tujuan tersebut.
2. Pengorganisasian (organizing)
Pengorganisasian adalah proses dan rangkaian kegiatan dalam
pembagian pekerjaan yang direncanakan untuk diselesaikan oleh
anggota kelompok pekerjaan, penentuan hubungan pekerjaan yang baik
antara mereka, serta pemeliharaan lingkungan dan fasilitas pekerjaan
yang pantas.
3. Pengarahan (directing)
Pengarahan adalah suatu rangkaian kegiatan untuk memberi petunjuk
atau instruksi kepada bawahan atau beberapa bawahan atau kepada
orang yang diorganisasikan dalam kelompok formal dan dalam rangka
pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.
4. Pemotivasian (motivating)
Pemberian motivasi adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan yang
dilakukan seorang manager dalam memberikan inspirasi, semangat dan
kegairahan kerja serta dorongan kepada karyawan untuk dapat
melakukan suatu kegiatan sebagaimana yang diharapkan.
5. Pengendalian (controling)
Pengendalian adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan untuk
mengusahakan agar suatu pekerjaan dapat dilaksanakan sesuai yang
telah ditetapkan dan tahapan yang harus dilalui. Dengan demikian,
12
apabila ada kegiatan yang tidak sesuai dengan rencana dan tahapan,
perlu diadakan suatu tindakan perbaikan
13
Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia sangat luas, hal ini disebabkan
karena tugas dan tanggung jawab Manajemen Sumber Daya Manusia untuk
mengelola unsur-unsur manusia seefektif mungkin agar memiliki suatu tenaga
kerja yang memuaskan. Menurut Sutrisno (2016), menyebutkan bahwa fungsi-
fungsi manajemen Sumber Daya Manusia Sebagai Berikut:
1. Perencanaan
Perencanaa kegiatan memperkirakan tentang keadaan tenaga kerja,
agar sesuai dengan kebutuhan organisasi secara efektif dan efisien,
dalam membantu terwujudnya tujuan.
2. Pengorganisasian
Kegiatan untuk mengatur pegawai dengan menetapkan pembagian
kerja, hubungan kerja, delegasi wewenang, integrasi, dan koordinasi
dalam bentuk bagan organisasi.
3. Pengarahan dan pengadaan
Pengarahan adalah kegiatan memberi petunjuk kepada pegawai, agar
mau kerja sama dan bekerja secara efektif serta efisien dalam
membantu tercapainya tujuan organisasi. Sedangkan, pengadaan
merupakan proses penarikan, seleksi, penempatan, orientasi, dan
induksi untuk mendapatkan pegawai yang sesuai dengan kebutuhan
organisasi.
4. Pengendalian
Merupakan kegiatan mengendalikan pegawai agar menaati peraturan
organisasi dan bekerja sesuai dengan rencana.
5. Pengembangan
Merupakan proses peningkatan keterampilan teknis,teoritis,konseptual,
dan moral pegawai melalui pendidikan dan pelatihan.
6. Pelatihan kerja
14
Merupakan pemberian balas jasa langsung berupa uang atau barang
kepada pegawai sebagai imbalan jasa yang diberikan kepada
organisasi.
7. Pengintegrasian
Merupakan kegiata \n untuk mempersatukan kepentingan organisasi
dan kebutuhan pegawai, agar tercipta kerja sama yang serasi dan saling
menguntungkan.
8. Pemeliharaan
Merupakan kegiatan pemeliharaan atau meningkatkan kondisi fisik,
mental, dan loyalitas agar merekan tetap mau bekerja sampai pensiun.
9. Kedisiplinan
Merupakan salah satu fungsi manajemen Sumber Daya Manusia yang
penting dan merupakan kunci terwujudnya tujuan organisasi, karena
tanpa adanya kedisiplina, maka sulit mewujudkan tujuan maksimal,
10. Pemberhentian
Merupakan putusnya hubungan kerja seseorang pegawai dari suatu
organisasi. Pemberhentian ini disebabkan oleh keinginan karyawan
dan perusahaan, kontrak kerja berakhir, pensiun, dan sebab-sebab
lainnya.
15
Menurut Rae dalam Sofyandi (2013), pelatihan kerja adalah:
“Suatu usaha untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan karyawan
dalam melaksanakan pekerjaannya agar lebih efektif dan efisien.”
Menurut Sutrisno (2016), pelatihan kerja merupakan:
“Usaha untuk meningkatkan prestasi kerja (kinerja) karyawan dalam
pekerjaannya sekarang atau dalam pekerjaan lain yang akan dijabatnya
segera.”
Berdasarkan pengertian menurut beberapa ahli, pelatihan kerja adalah
pelaksanaan kegiatan yang diselenggarakan oleh perusahaan yang memiliki tujuan
untuk membentuk dan meningkatkan kemampuan serta pengetahuan karyawan
sehingga kinerja karyawan diharapkan dapat meningkatkan prestasi kerja
karyawan.
16
b. Melalui pelatihan dan pengembangan, variabel pengenalan,
pencapaian prestasi, pertumbuhan, tanggung jawab dan kemajuan
dapat diinternalisasi dan dilaksanakan.
c. Membantu mendorong dan mencapai pengembangan diri dan rasa
percaya diri.
d. Memberi informasi tentang meningkatnya pengetahuan
kepemimpinan, keterampilan komunikasi dan sikap.
e. Meningkatkan kepuasan kerja dan pengakuan.
2. Manfaat untuk perusahaan
a. Mengarahkan untuk meningkatkan profitabilitas atau sikap yang
lebih positif terhadap orientasi profit.
b. Memperbaiki pengetahuan kerja dan keahlian pada semua level
perusahaan.
c. Memperbaiki moral SDM.
d. Membantu karyawan untuk mengetahui tujuan perusahaan.
e. Menciptakan image perusahaan yang lebih baik.
3. Manfaat dalam hubungan SDM, intra dan antar grup dan pelaksanaan
kebijakan.
a. Meningkatkan komunikasi antar grup dan individual.
b. Membantu dalam orientasi bagi karyawan baru dan karyawan
transfer atau promosi.
c. Memberi informasi tentang kesamaan kesempatan dan aksi
afirmatif.
d. Meningkatkan keterampilan interpersonal.
e. Memberikan iklim yang baik untuk belajar, pertumbuhan dan
koordinasi.
3. Metode Pelatihan Kerja
Menurut Sedarmayanti (2016), terdapat beberapa metode pelatihan, yaitu
sebagai berikut:
1. On The Job Training yaitu Metode pelatihan yang dilaksanakan ditempat
kerja sebenarnya dan dilakukan sambil bekerja. Metode On The Job
17
Training terdiri dari 2 jenis yaitu Informal On The Job (Dalam metode ini
tidak tersedia pelatih secara khusus. Peserta pelatihan harus
memperhatikan dan mencontoh pekerja lain yang sedang bekerja untuk
kemudian melakukan pekerjaan tersebut sendiri) dan Formal On Teh Job
(Peserta mempunyai pembimbing khusus, biasanya ditunjuk seorang
pekerja senior ahli. Pembimbing khusus tersebut, sambil terus
melaksanakan tugasnya sendiri, diberi tugas tambahan untuk membimbing
peserta pelatihan yang bekerja di tempat kerjannya). On The Job Training
meliputi:
a. Rotation Of Assignment/Job Rotation/Planned Progression
(pertukaran atau rotasi pekerjaan), Tujuan rotasi pekerjaan adalah
memperluas latar belakang peserta dalam bisnis. Karyawan berpindah
melalui serangkaian pekerjaan sepanjang periode enam bulan sampai
dua tahun.
b. Coaching and Counselling (bimbingan dan penyuluhan), pelatihan
Dilaksanakan dengan cara peserta harus melaksanakan tugas dengan
dibimbing oleh pejabat senior atau ahli.
c. Apprenticeship Training (magang), Magang dilakukan dengan cara
peserta mengikuti pekerjaan/kegiatan yang dilakukan oleh pemangku
jabatan tertentu, untuk mengetahui bagaimana cara melakukan suatu
kegiatan.
d. Demonstration and Example (demonstarasi dan pemberian contoh),
Pelatih harus memberi contoh/memperagakan cara melakukan
pekerjaan/cara bekerja suatu alat/mesin. 2.
2. Off The Job Training adalah pelatihan yang dilaksanakan ditempat kerja
terpisah/diluar tempat kerja, dan diluar waktu kerja reguler. Off The Job
Training terdiri dari :
a. Simulation (simulasi), Dilakukan dengan cara menggunakan
alat/mesin dalam kondisi lingkungan yang dibuat sama dengan yang
sebenarnya. Alat/mesin maupun kondisi lingkungan merupakan tiruan
dari kondisi kerja sebenarnya. simulasi ini mengacu pada materi yang
18
berupaya menciptakan lingkungan pengambilan keputusan yang
realistik bagi pelatih. Metode simulasi meliputi :
1) Case Study (studi kasus), Studi kasus adalah penyajian tertulis
dan naratif serangkaian fakta dari permasalahan yang dianalisis
dan dipecahkan oleh peserta pelatihan. Kasus ini digunakan untuk
merangsang topik diskusi, dan dari semua jenis topik,
sebagaimana halnya simulasi kasus dapat sederhana atau rumit.
2) Role Playing (bermain peran), Peserta diminta memainkan peran
tertentu, pada situasi tertentu dalam organisasi tiruan. Diharapkan
peserta memiliki pemahaman sikap dan perilaku tertentu yang
harus diambil dalam kaitannya dengan situasi atau kondisi yang
tertentu pula, melalui pengalihan pengetahuan/pengalaman.
3) Business Game (permainan peran dalam bisnis), Bentuk latihan
simulasi yang dilakukan dalam kelas. Pengorganisasian para
pesertanya dilakukan dengan membagi peserta kedalam beberapa
tim yang bertugas untuk secara kompetitif memecahkan masalah
tertentu dari suatu organisasi tiruan.
4) Vestibule (pelatihan beranda), Metode pelatihan yang digunakan
untuk menggambarkan pelatihan dalam sebuah ruang kelas bagi
pekerjaan semi ahli. Penekanan metode pelatihan ini cenderung
pada belajar dibandingkan produksi, pelatihan ini biasanya
dipakai untuk melatih teller bank, operator mesin, juru ketik dan
pekerjaan sejenis.
5) Laboratory Training (pelatihan dengan laboratorium), Metode
pelatihan dengan peralatan laboratorium dilaksanakan dengan
cara peserta dibawa kedalam situasi yang dapat menyaksikan,
merasakan, dan mencoba sendiri tentang suatu kejadian/peran
sehingga pelatihan dapat lebih mantap dan lebih terkesan.
6) Sensitivity Training (pelatihan sensitivitas), Metode pelatihan
sensitivitas adalah Metode pelatihan untuk meningkatkan
19
sensitivitas antar pribadi dengan menuntut diskusi yang terbuka
dan jujur tentang perasaan, sikap dan perilaku peserta pelatihan.
7) Outbond/Widerness (pelatihan alam terbuka), Metode pelatihan
alam terbuka adalah metode yang digunakan untuk
menggambarkan program pengembangan manajemen dan
eksekutif yang berlangsung di alam terbuka yang meliputi
pendakian gunung, pelayaran, arung jeram, sepeda gunung dll. b.
b. Presentation Information (presentasi informasi), meliputi 1)
1) Lecture (kuliah), Kuliah adalah penyajian informasi secara lisan.
Kuliah yaitu ceramah/pidato dari pelatih yang diucapkan secara
ilmiah untuk tujuan pengajaran dan kuliah merupakan pelatihan
paling umum.
2) Conference (konferensi/seminar), Koferensi dilakukan secara
berkelompok, berisi diskusi yang diawasi oleh evaluator. Setelah
diskusi selesai, evaluator menilai dan mengukur keseluruhan
diskusi yang telah dilakukan peserta.
3) Programmmed Instruction (instruksi terprogram), instruksi
terprogram adalah presentasi informasi yang sudah menggunakan
pola terprogram/tertentu.
20
2. Peserta Pelatihan
Peserta pelatihan tentunya harus diseleksi berdasarkan persyaratan tertentu
dan kualifikasi yang sesuai.
a. Semangat mengikuti pelatihan
b. Keinginan untuk memperhatikan.
3. Metode
Metode pelatihan akan menjamin berlangsungnya kegiatan pelatihan
sumber daya manusia yang efektif, apabila sesuai dengan jenis materi dan
kemampuan peserta pelatihan.
a. Kesesuaian metode dengan jenis pelatihan.
b. Kesesuaian metode dengan materi pelatihan.
4. Materi
Materi pelatihan sumber daya manusia merupakan materi atau kurikulum
yang sesuai dengan tujuan pelatihan sumber daya manusia yang hendak
dicapai oleh perusahaan.
a. Menambah kemampuan
b. Kesesuaian materi dengan tujuan pelatihan
5. Tujuan Pelatihan
Pelatihan memerlukan tujuan yang telah ditetapkan, khususnya terkait
dengan penyususnan rencana aksi (action plan) dan penetapan sasaran,
serta hasil yang diharapkan dari pelatihan yang diselenggarakan.
a. Keterampilan peserta pelatihan
b. Pemahaman etika kerja peserta pelatihan
21
seorang karyawan agar karyawan tersebut dapat menjadi orang yang lebih baik
lagi dari sebelumnya. Berikut ini merupakan pengertian motivasi kerja menurut
beberapa ahli:
22
Merupakan kebutuhan tingkat terendah atau disebut pula sebagai
kebutuhan yang paling dasar. Misalnya kebutuhan untuk makan,
minum, bernafas.
b. Kebutuhan Rasa Aman (Safety Needs)
Kebutuhan akan perlindungan dari ancaman,bahaya, pertentangan
dan lingkungan hidup, tidak dalam arti fisik semata, akan tetapi
juga mental, psikologikal dan intelektual.
c. Kebutuhan Sosial (Social Needs)
Kebutuhan untuk mereka memiliki yaitu kebutuhan untuk diterima
dalam kelompok, berafiliasi, berinteraksi dan kebutuhan untuk
mencintai serta dicintai.
d. Kebutuhan akan Harga Diri atau Pengakuan (Esteem Needs)
Kebutuhan ini berkaitan dengan kebutuhan untuk dihormati dan
dihargai oleh orang lain dalam lingkungannya.
e. Kebutuhan Aktualisasi Diri (Self-Actualization Needs)
Kebutuhan untuk kegunaan kemampuan, skill, potensi, kebutuhan
untuk berpendapat dengan mengemukakan ide-ide, memberikan
penilaian dan kritik terhadap sesuatu.
23
Sumber : Priansa (2014:207), Perencanaan & Pengembangan SDM
Gambar 2.1
Hirarki Kebutuhan Maslow
24
menjadikan pegawai memiliki motivasi untuk berpengaruh dalam
lingkungannya, memiliki karakter kuat untuk memimpin dan
memiliki ide-ide untuk menang.
c. Kebutuhan Berafiliasi (N-Affil)
Need for Affiliation yaitu kebutuhan untuk berafiliasi yang
merupakan dorongan untuk berinteraksi dengan oranglain, berada
bersama orang lain, tidak mau melakukan sesuatu yang merugikan
orang lain. Kebutuhan akan afiliasi adalah hasrat untuk
berhubungan antar pribadi yang ramah dan akrab.
25
kebijakan organisasi, sistem administrasi dalam organisasi, kondisi
kerja dan sistem imbalan yang berlaku.
3. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Kerja
1. Promosi
Promosi adalah kemajuan seorang karyawan pada suatu tugas yang
lebih baik, baik dipandang dari sudut tanggung jawab yang lebih berat,
martabat atau status yang lebih tinggi, kecakapan yang lebih baik, dan
terutama tambahan pembayaran upah atau gaji.
2. Prestasi Kerja
Pangkal tolak pengembangan karier seseorang adalah prestasi kerjanya
melakukan tugas-tugas yang dipercayakan kepadanya sekarang. Tanpa
prestasi kerja yang memuaskan, sulit bagi seorang karyawan untuk
diusulkan oleh atasannya agar dipertimbangkan untuk dipromosikan ke
jabatan atau pekerjaan yang lebih tinggi di masa depan.
3. Pekerjaan itu sendiri
Tanggung jawab dalam mengembangkan karier terletak pada masing-
masing pekerja. Semua pihak seperti pimpinan, atasan langsung,
kenalan dan para spesialis di bagian kepegawaian, hanya berperan
memberikan bantuan, semua terserah pada karyawan yang
bersangkutan, apakah akan memanfaatkan berbagai kesempatan
mengembankan diri atau tidak.
4. Penghargaan
Pemberian motivasi dengan melalui kebutuhan penghargaan, seperti
penghargaan atas prestasinya, pengakuan atas keahlian dan sebagainya.
Hal yang sangat diperlukan untuk memacu gairah kerja bagi pada
karyawan. Penghargaan di sini dapat merupakan tuntutan faktor
manusiawi atas kebutuhan dan keinginan untuk menyelesaikan suatu
tantangan yang harus dihadapi.
5. Tanggung Jawab
26
Pertanggungjawaban atas tugas yang diberikan perusahaan kepada para
karyawan merupakan timbal balik atas pelatihan kerja yang
diterimanya. Pihak perusahaan memberikan apa yang diharapkan oleh
para karyawan, namun di sisi lain para karyawan pun harus
memberikan kontribusi penyelesaian pekerjaan dengan baik pula dan
penuh dengan tanggung jawab sesuai dengan bidangnya masing-
masing.
6. Pengakuan
Pengakuan atas kemampuan dan keahlian bagi karyawan dalam suatu
pekerjaan merupakan suatu kewajiban oleh perusahaan. Karena
pengakuan tersebut merupakan salah satu pelatihan kerja yang harus
diberikan oleh perusahaan kepada karyawan yang memang mempunyai
suatu keahlian tertentu dan dapat melaksanakan pekerjaan dengan baik
pula. Hal ini akan dapat mendorong para karyawan yang mempunyai
kelebihan di bidangnya untuk berprestasi lebih baik lagi.
7. Keberhasilan dalam Bekerja
Keberhasilan dalam bekerja dapat memotivasi para karyawan untuk
lebih bersemangat dalam melaksanakan tugas-tugas yang diberikan oleh
perusahaan. Dengan keberhasilan tersebut setidaknya dapat
memberikan rasa bangga dalam perasaan karyawan bahwa mereka telah
mampu mempertanggungjawabkan apa yang menjadi tugas mereka.
4. Jenis – Jenis Motivasi Kerja
Terdapat dua jenis motivasi menurut Hasibuan (2013), adalah sebagai
berikut:
1. Motivasi Positif
Motivasi positif maksudnya manajer memotivasi (merangsang)
bawahan dengan memberikan hadiah kepada mereka yang berprestasi
di atas prestasi standar. Dengan motivasi positif, semangat kerja
bawahan akan meningkat karena umumnya manusia senang menerima
yang baik-baik saja.
2. Motivasi Negatif
27
Motivasi negatif maksudnya manajer memotivasi bawahan dengan
standar mereka akan mendapat hukuman. Dengan motivasi negatif ini
semangat bekerja bawahan dalam jangka waktu pendek akan
meningkat karena mereka takut dihukum, tetapi untuk jangka waktu
panjang dapat berakibat kurang baik.
5. Dimensi dan Indikator Motivasi Kerja
Teori motivasi Maslow ini dinamakan “ A theory of human motivation ”.
Teori ini berarti seorang berperilaku/bekerja, karena adanya dorongan untuk
memenuhi bermacam-macam kebutuhannya. Maslow berpendapat
kebutuhan yang diinginkan seseorang berjenjang, artinya bila kebutuhan
yang pertama telah terpenuhi, maka kebutuhan tingkat kedua akan menjadi
yang utama dan seterusnya sampai tingkat kebutuhan kelima, maka dalam
penelitian ini dimensi dan indikator motivasi kerja mengacu pada teori yang
dikemukan oleh Maslow dalam Andjarwati (2015), yaitu:.
28
Dapat dilihat dari indikatornya pemberian kesempatan untuk
mengembangkan kemampuan, kepuasan dan kebutuhan untuk
menyelesaikan pekerjaan dengan baik.
29
memadai untuk jabatannya dan terampil dalam mengerjakan pekerjaan
sehari-hari, maka akan lebih mudah mencapai kerja maksimal.
2. Faktor motivasi
Motivasi diartikan suatu sikap (attitude) pimpinan dan karyawan terhadap
situasi kerja di lingkungan organisasinya. Mereka yang bersikappositif
(pro)terhadap situasi kerjanya akan menunjukan motivasi kerja tinggi
sebaliknya jika mereka bersikap negatif (kontra) terhadap situasi kerjanya
akan menunjukan motivasi kerja yang rendah. Situasi kerja yang dimaksud
mencakup antara lain hubungan kerja, fasilitas kerja, iklim kerja,
kebijakan pimpinan, pola kepemimpinan kerja dan kondisi kerja.
30
a. Sebagai dasar dalam pengambilan keputusan yang digunakan untuk
prestasi, pemberhentian dan besarnya balas jasa.
b. Untuk mengukur sejauh mana seorang karyawan dapat menyelesaikan
pekerjaannya.
c. Sebagai dasar untuk mengevaluasi efektivitas seluruh kegiatan dalam
perusahaan.
d. Sebagai dasar untuk mengevaluasi program latihan dan keefektifan jadwal
kerja, metode kerja, struktur organisasi, gaya pengawasan, kondisi kerja
dan pengawasan.
e. Sebagai indikator untuk menentukan kebutuhan akan latihan bagi
karyawan yang berada di dalam organisasi.
f. Sebagai alat untuk meningkatkan motivasi kerja karyawan sehingga
dicapai performance yang baik.
g. Sebagai alat untuk melihat kekurangan atau kelemahan dan meningkatkan
kemampuan karyawan selanjutnya.
h. Sebagai kriteria menentukan, seleksi dan penempatan karyawan.
i. Sebagai alat untuk memperbaiki atau mengembangkan kecakapan
karyawan.
j. Sebagai dasar untuk memperbaiki atau mengembangkan uraian tugas (job
description).
4. Unsur – Unsur Yang Dinilai
Menurut Hasibuan (2016), adapun unsur-unsur yang dinilai dalam proses
penilaian kinerja yaitu :
a. Kesetian
Penilaian mengukur kesetian karyawan tehadap pekerjaanya, jabatanya,
dan organisasi. Kesetian ini dicerminkan oleh kesediaan karyawan
menjaga dan membela organisasi di dalam maupun di luar pekerjaan dari
rongrongan orang yang tidak bertanggung jawab.
b. Prestasi kerja
Penilai menilai hasil kerja baik kualitas maupun kuantitas yang dapat
dihasilkan karyawan tersebut dari uraian pekerjaanya.
31
c. Kejujuran
Penilai menilai kejujuran dalam melaksanakan tugas-tugasnya memenuhi
perjanjian baik bagi dirinya sendiri maupun terhadap orang lain seperti
kepada para bawahanya.
d. Kedisiplinan
Penilai menilai disiplin karyawan dalam mematuhi peraturan- peraturan
yang ada dan melaksanakan pekerjaanya sesuai dengan instruksi yang
diberikan kepadanya.
e. Kreativitas
Penilai menilai kemampuan karyawan dalam mengembangkan
kreativitasnya untuk menyelesaikan pekerjaanya, sehingga bekerja lebih
berdaya guna dan berhasil guna.
f. Kerja sama
Penilai menilai kesediaan karyawan berpartisipasi dan bekerja sama
dengan karyawan lainnya secara vertikal atau horizontal di dalam maupun
diluar pekerjaan sehingga hasil pekerjaan akan semakin baik.
g. Kepemimpinan
Penilai menilai kemampuan untuk memimpin, berpengaruh, mempunyai
pribadi yang kuat, dihormati, beriwibawa, dan dapat memotivasi orang
lain atau bawahannya untuk bekerja secara efektif.
h. Kepribadian
Penilai menilai karyawan dari sikap perilaku, kesopanan, periang, disukai,
memberi kesan menyenangkan, memperlihatakan sikap yang baik, serta
berpenampilan simpatik dan wajar.
i. Prakarsa
Penilai menilai kemampuan berpikir yang orisinal dan berdasarkan
inisiatif sendiri untuk menganilisis, menilai, menciptakan, memberikan
alasan, mendapatkan kesimpulan, dan membuat keputusan penyelesaian
masalah yang dihadapinya.
32
j. Kecakapan
Penilai menilai kecakapan karyawan dalam menyatukan dan
menyelaraskan bermacam-macam elemen yang semuanya terlibat di dalam
penyusunan kebijaksanaan dan di dalam situasi menajemen.
k. Tanggung jawab
Penilai menilai kesediaan karyawan dalam mempertanggung jawab kan
kebijaksanaanya, pekerjaan, dan hasil kerjanya, sarana dan prasarana yang
dipergunakannya, serta prilaku kerjanya.
5. Metode Penilaian Kinerja Karyawan
Terdapat beberapa metode dalam melalui kinerja, sebagaimana diungkapkan
oleh Monday dan Noe dalam Widodo (2015), yaitu:
1. Rating scale
Menilai kinerja pegawai dengan menggunakan skala untuk mengukur
faktor-faktor kinerja (performance factor). Misalnya dalam mengukur
tingkat inisiatif dan tanggung jawab pegawai.
2. Critical Incidents.
Metode ini penilaian harus menyimpan catatan tertulis tentang
tindakan-tindakan atau perilaku kerja yang sangat positif (high
favorable) dan perilaku kerja yang sangat negatif (high unfavorable)
selama periode penilaian.
3. Eassy
Metode ini cenderung lebih memusatkan perhatian pada perilaku
ekstern dalam tugas-tugas karyawan dari pada pekerjaan atau kinerja
rutin yang yang mereka lakukan dari hari ke hari. Penilaian ini sangat
tergantung kepada kemampuan menulis seseorang penilai.
4. Work Standart
Metode ini membandingkan kinerja setiap karyawan dengan standar
yang telah ditetapkan sebelumnya atau dengan tingkat keluaran yang
diharapkan.
5. Ranking
33
Penilaian menempatkan seluruh pekerja dalam satu kelompok sesuai
dengan peningkat yang disusun berdasarkan kinerja secara
keseluruhan. Contohnya, pekerja terbaik dalam satu bagian diberi
peringkat paling tinggi dan pekerja yang paling buruk prestasinya
diletakan diperingkat paling bawah.
6. Forced Distribution
Penilaian harus memasukan individu dari kelompok kerja ke dalam
sejumlah kategori yang serupa dengan sebuah distribusi frekuensi
normal.
7. Behaviourally Anchored Rating Scale (BARS)
Evaluator menilai pegawai berdasarkan beberapa jenis perilaku kerja
yang mencerminkan dimensi kinerja dan membuat skalanya. Misalnya
penilaian pelayanan pelanggan.
34
Tabel 2.1
Penelitian Terdahulu
No. Penelitian Judul Variabel Sama Hasil Penelitian
35
Musadieq dan Terhadap Karyawan ada pengaruh signifikan
Mochamad Djudi Kinerja secara simultan dari variabel
(2015) Karyawan Materi pelatihan, Metode
Jurnal Administrasi (Studi pada pelatihan dan Instruktur
Bisnis (JAB), Karyawan PT. pelatihan terhadap variabel
Vol.28 No.1 TASPEN kinerja karyawan. Dan
November 2015 (Persero) diketahui Sig.t ≤ α (0,000 ≤
Cabang 0,05) untuk Materi pelatihan
Malang) terhadap kinerja karyawan.
Sig.t ≤ α (0,043 ≤ 0,05)
untuk Metode pelatihan
terhadap kinerja karyawan,
dan Sig.t ≤ α (0,007 ≤ 0,05)
untuk Instruktur pelatihan
terhadap kinerja karyawan.
Hasil tersebut menunjukkan
pengaruh signifikan secara
parsial dari variabel Materi
pelatihan, Metode pelatihan
dan Instruktur pelatihan
tehadap kinerja karyawan.
3. Gilang Meidizar Pengaruh Motivasi dan Temuan pada penelitian ini
dan Anthon Motivasi Kinerja menunjukan bahwa variabel
Rustono, SE, MM Terhadap Karyawan motivation (x) berpengaruh
(2016) Kinerja pada kinerja karyawan PT.
e-Proceeding of Karyawan Primarindo Asia
Management : (Studi Kasus Infrastructure,Tbk.
Vol.3, No.2 Pada PT. Koefisien determinasi dari
Agustus 2016 | Primarindo hasil perhitungan didapat
Page 1032 Asia sebesar 42,3%. Hal ini
Infrastructure, menunjukkan bahwa
36
Tbk) Motivasi memberikan
pengaruh sebesar 42,3%
terhadap Kinerja, sedangkan
sisanya sebesar 57,7%
Kinerja dapat dijelaskan
oleh variabel lainnya yang
tidak diteliti.
4. Achmad hara dan Pengaruh Motivasi dan Hasil penelitian
Yuniadi Mayowan Motivasi Kerja Kinerja menunjukkan bahwa
(2018) dan Kepuasan Karyawan motivasi berpengaruh
Jurnal Administrasi Kerja psotitif dan signifikan
Bisnis (JAB), Vol. Terhadap secara parsial terhadap
54 No. 1 Januari Kinerja kinerja karyawan. Hal ini
2018 Karyawan Ajb dikatakan bahwa semakin
Bumiputera tinggi nilai motivasi maka
nilai kinerja karyawan akan
semakin tinggi. kepuasan
kerja berpengaruh positif
dan signifikan secara parsial
terhadap kinerja karyawan.
Hal ini dikatakan bahwa
semakin tinggi nilai
kepuasan kerja maka
semakin tinggi kinerja
karyawan. Sedangkan
motivasi kerja dan
kepuasaan kerja
berpengaruh signifikan
terhadap kinerja karyawan
secara simultan pada AJB
Bumi Putera Kota Malang.
37
5. Rr. Watie Pengaruh Pelatihan, Berdasarkan hasil
Rachmawati Pelatihan dan Motivasi Kerja pengolahan SPSS pada tabel
(2016) Motivasi Kerja dan Kinerja di atas dapat dilihat bahwa
Jurnal Manajemen Terhadap Karyawan nilai koefisien korelasi (r)
dan Pemasaran Jasa Kinerja sebesar 0,794, artinya
Vol . 9 No. 1 2016 Karyawan PT. terdapat hubungan yang
Bank BJB kuat antara pengaruh
Kantor Cabang Pelatihan dan Motivasi
Suci Bandung Kerja terhadap Kinerja
Karyawan, karena nilai
koefisien berada pada
interval 0,60-0,799 dan
Berdasarkan hasil
penelitian, dapat dilihat
hasil R Square sebesar
0,631 yang berarti
persentase sumbangan
pengaruh variabel Pelatihan
(X1) dan Motivasi (X2)
terhadap Kinerja Karyawan
(Y) sebesar 63,1%
sedangkan sisanya 0,369
atau 36,9% dipengaruhi oleh
variabel lain yang tidak
diteliti.
6. Fernanda M.B Pengaruh Pelatihan, Berdasarkan hasil uji
Tuhumena, Pelatihan dan Motivasi Kerja hipotesis ditemukan bahwa
Christoffel Kojo Motivasi Kerja dan Kinerja pelatihan dan motivasi
dan Frederik G. Terhadap Karyawan secara simultan
Worang Kinerja berpengaruhpositif dan
(2017) Karyawan signifikan terhadap kinerja
38
Jurnal EMBA Pada PT. karyawan pada PT.
Vol.5 No.2 Juni Pegadaian Pegadaian (persero) Kantor
2017, Hal. 2124 - (Persero) Wilayah V Manado.
213 Kantor
Wilayah V
Manado
7. Muhammad Ikhlas The Impact of Training, Berdasarkan hasil
Khan Training and Motivation and penelitian, dapat
(2012) Motivation on Performance of disimpulkan bahwa
Business Review - Performance Employees pelatihan dan motivasi
Volume 7 Number of Employees berpengaruh terhadap
2 July - December kinerja karyawan. Besarnya
2012 pengaruh yang diberikan
oleh variabel pelatihan dan
motivasi yaitu sebesar
10,4% sedangkan sisanya
sebesar . Besarnya pengaruh
yang diberikan oleh variabel
pelatihan dan motivasi yaitu
sebesar 10,4% sedangkan
sisanya sebesar 89,6%
dipengaruhi oleh variabel
lain yang tidak diteliti.
39
8. Juliana, dkk (2021) Pengaruh Pelatihan, Berdasarkan hasil
Khasanah ilmu : Pelatihan dan motivasi dan penelitian, dapat
Junral pariwisata Motivasi kinerja disimpulkan bahwa
dan Budaya. terhadap lingkungan pelatihan dan motivasi
Volume 11 Nomor Kinerja berpnegaruh positif dan
2, September 2020. Karyawan signifikan terhadap kinerja
ISSN : 2087 – 0086 karyawan
40
Karyawan berpengaruh positif dan
Pada Pt Trias signifikan terhadap kinerja
Sentosa, Krian karyawan (3) pelatihan kerja
Sidoarjo dan motivasi kerja
berpengaruh positif dan
signifikan terhadap kinerja
karyawan.
41
dalam menyelesaikan pekerjaannya. Kinerja yang karyawan akan diukur
keberhasilannya dalam jangka waktu tertentu sehingga perusahaan akan
melakukan evaluasi apabila karyawan tidak dapat menyelesaikan pekerjaan sesuai
dengan target perusahaan.
Pelatihan Kerja
(X1)
1. Instruktur
2. Peserta Pelatihan
3. Metode
4. Materi
Kinerja Karyawan
5. Tujuan Pelatihan
H1 (Y)
Dessler (2015)
1. Kualitas
H2 4. Kerjasama
1. Kebutuhan Fisiologis
Miner dalam Sudarmanto
2. Kebutuhan Rasa Aman
(2015)
3. Kebutuhan Sosial
4. Kebutuhan Pengakuan
5. Kebutuhan Aktualisasi Diri
Gambar 2.2
Kerangka Pemikiran
42
2.2.1 Pengaruh Pelatihan kerja terhadap Kinerja Karyawan
43
masalah (level of persistence)”. Leonardo dan Eddy (2017), mengungkapkan
bahwa motivasi kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja
karyawan. Musfirotun (2018), menunjukkan bahwa pengaruh motivasi terhadap
kinerja karyawan adalah signifikasi yang positif. Dengan demikian dapat
disimpulkan hipotesis 2 sebagai berikut.
H3: Pelatihan kerja dan Motivasi kerja secara simultan berpengaruh positif
dan signifikan terhadap kinerja karyawan
2.3 Hipotesis
44
Berdasarkan uraian kerangka pemikiran diatas maka penulis
mengemukakan suatu hipotesis. Hipotesis yang dikemukakan penulis
adalah sebagai berikut :
1. H1 ≠ Pelatihan kerja (X1) berpengaruh terhadap kinerja karyawan (Y)
pada Bank BJB Pusat.
2. H2 ≠ Motivasi kerja (X2) berpengaruh terhadap terhadap kinerja
karyawan (Y) pada Bank BJB Pusat.
3. H3 ≠ Pelatihan kerja (X1) dan Motivasi Kerja (X2) secara simultan
berpengaruh terhadap kinerja karyawan (Y) pada Bank BJB Pusat
BAB III
45
Dalam penelitian ini , penulis menggunakan jenis penelitian deskriptif
dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian kuantitatif dengan format deskriptif
bertujuan untuk menjelaskan, meringkaskan berbagai kondisi, berbagai situasi,
atau berbagai variabel yang timbul di masyarakat yang menjadi objek penelitian
berdasarkan apa yang terjadi, pada umumnya penelitian ini menggunakan statistik
induktif untuk menganalisis data penelitian. Jenis penelitian ini merupakan
penelitian deskriptif kuantitatif. Jenis penelitian ini digunakan agar semua gejala
yang diobservasi dapat diukur dan diubah dalam bentuk angka-angka sehingga
memungkinkan digunakan analisis statistik, yang kemudian dideskripsikan.
Penelitian deskriptif menurut Zulganef (2018:38) adalah “penelitian yang
bertujuan menggambarkan suatu kondisi atau fenomena tertentu, tidak memilah-
milah atau mencari faktor-faktor atau variabel tertentu.
46
Penelitian ini melibatkan konsumen secara langsung agar peneliti
mendapatkan data primer yang dibutuhkan. Terdapat 3 cara yang
dilakukan yaitu sebagai berikut:
a. Wawancara
Menurut Misbahuddin dan Iqbal (2013:21), wawancara
merupakan teknik pengumpulan data dimana pewawancara
(peneliti atau yang diberi tugas melakukan pengumpulan data)
dalam mengumpulkan data mengajukan suatu pertanyaan
kepada yang diwawancarai.
b. Kuesioner
Menurut Misbahuddin dan Iqbal (2013:22), kuesioner
merupakan teknik pengumpulan data yang efisien bila peneliti
tahu dengan pasti variabel yang akan diukur dan tahu apa yang
bisa diharapkan dari responden, selain itu kuesioner juga cocok
untuk digunakan bila jumlah responden cukup besar dan
tersebar di wilayah yang luas. Kuesioner dapat berupa
pertanyaan-pertanyaan tertutup atau terbuka, dapat diberikan
kepada responden secara langsung atau dikirim melalui pos,
atau internet.
c. Observasi
Menurut Misbahuddin dan Iqbal (2013:22), observasi
merupakan proses untuk memperoleh data dari tangan pertama
dengan mengamati orang dan tempat pada saat dilakukan
penelitian. Data dalam penelitian ini bersumber langsung dari
responden yang berhubungan dengan objek penelitian ini
sendiri yaitu karyawan yang bekerja pada Bank BJB Pusat
yang dikumpulkan melalui kuesioner.
2. Penelitian Kepustakaan (Library Research)
Penelitian kepustakaan ini ialah pengumpulan data dengan cara
memperlajari berbagai literatur, buku, hasil penelitian yang sejenis
dan media lain yang mempunyai kaitan dengan masalah yang akan di
47
teliti. Dalam hal ini penulis menggunakan buku yang berkaitan dengan
Manajemen, Manajemen Sumber Daya Manusia, Metodologi
Penelitian dan sebagainya. Selain itu, penulis juga menggunakan
media internet sebagai penelusuran informasi mengenai teori maupun
data-data penelitian yang dilakukan, sehingga dapat membantu
kelancaran penulis dalam melaksanakan penelitian ini.
3.1.5 Populasi
Menurut Sugiyono (2017:80), populasi adalah wilayah generalisasi yang
terdiri atas : obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu
yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik
kesimpulannya. Populasi dari penelitian ini adalah karyawan yang bekerja pada
Bank BJB Pusat.
3.1.6 Sampel
Sampel menurut Sugiyono (2017:81), sampel adalah bagian dari jumlah dan
karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut.
Menurut Sugiyono (2017:39), variabel adalah suatu atribut atau sifat atau
nilai dari orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
Sesuai dengan variabel penelitian yang penulis ajukan yaitu pelatihan kerja,
48
motivasi kerja dan kinerja karyawan. Maka terdapat dua jenis variabel dalam
penelitian ini yaitu variabel independen dan satu variabel dependen.
Tabel 3.1
Operasional Variabel Pelatihan Kerja
Variabel Konsep Dimensi Indikator Skala
Variabel
Pelatihan Pelatihan 1. Instruktur Kualifikasi/
Kerja merupakan kompetensi
(X1) proses instruktur Ordinal
mengajarkan Kemampuan
pegawai baru memotivasi
atau yang ada peserta
sekarang, 2. Peserta Semangat
keterampilan Pelatihan mengikuti
dasar yang pelatihan Ordinal
mereka butuhkan Keinginan untuk
untuk memperhatikan
49
menjalankan 3. Metode Kesesuaian
pekerjaan metode dengan
mereka. jenis pelatihan
Ordinal
Pelatihan Kesesuaian
merupakan salah metode dengan
satu usaha dalam materi pelatihan
meningkatkan 4. Materi Materi dapat
mutu sumber menambah
daya manusia kemampuan
dalam dunia Ordinal
Kesesuaian
kerja. materi dengan
Dessler tujuan pelatihan
(2015:284)
5. Tujuan Keterampilan
Pelatihan peserta pelatihan Ordinal
Pemahaman
etika kerja
Tabel 3.2
Operasional Variabel Motivasi Kerja
Variabel Konsep Variabel Dimensi Indikator Skala
Motivasi Motivasi kerja 1. Kebutuhan Sarana dan
Kerja adalah Fisiologis prasarana Ordinal
(X2) serangkaian sikap Kesempatan
dan nilai-nilai beristirahat
yang
2. Kebutuhan Perlakuan atasan
mempengaruhi
Rasa Jaminan
individu untuk
Aman keselamatan Ordinal
mencapai hal
50
yang spesifik kerja
sesuai dengan
3. Kebutuhan Lingkungan
tujuan individu.
Sosial kerja
Maslow dalam
Bekerja secara Ordinal
Andjarwati
kelompok
(2015)
4. Kebutuhan Pemberian
Pengakuan penghargaan Ordinal
Penyampaian ide
5. Kebutuhan Kesempatan
Aktualisasi untuk
Diri mengembangkan Ordinal
kemampuan
Kepuasan kerja
Tabel 3.3
Operasional Variabel Kinerja Karyawan
Variabel Konsep Dimensi Indikator Skala
Variabel
Kinerja Kinerja adalah 1. Kualitas Hasil pekerjaan
Karyawan kualitas hasil Kecermatan Ordinal
(Y) kuantitas karyawan
keluaran, dan dua 2. Kuantitas Jumlah
hal terkait aspek pekerjaan yang
perilaku individu dihasilkan Ordinal
yaitu penggunaan Target pekerjaan
waktu dalam 3. Waktu Kehadiran
kerja (tingkat Kerja Waktu
kepatuhan jam Ordinal
penyelesaian
kerja), dan kerja
pekerjaan
sama. 4. Kerjasama Kemampuan
51
Miner dalam bekerjasama
Sudarmanto dengan
(2015:11) karyawan lain Ordinal
Kemampuan
bekerjasama
dengan atasan
Tabel 3.4
Skala Pengukuran
Pernyataan Jawaban Bobot Nilai
Sangat Setuju SS 5
Setuju S 4
Cukup Setuju CS 3
Tidak Setuju TS 2
Sangat Tidak Setuju STS 1
52
3.1.11 Transformasi Data
Tabel 3.5
Tabel transformasi Data
Bentuk Grafik Histogram Bentuk Transformasi
Moderate positive skewness SQRT(x) atau akar kuadrat
Substansial positive skewness LG10(x) atau logaritma 10 atau
LN
Severe positive skewness dengan bentuk L 1/x atau inverse
Moderate negative skewness SQRT (k-x)
Substansial negative skewness LG10(k-x)
Severe negative skewness dengan bentuk J 1/(k-x)
k = nilai tertinggi (maksimum) dari data mentah x
Sumber : Ghozali (2013)
53
2. Uji Reliabilitas
Menurut Sugiyono (2017:130), menyatakan bahwa uji reliabilitas adalah
sejauh mana hasil pengukuran dengan menggunakan objek yang sama,
akan menghasilkan data yang sama. Sedangkan menurut Arikunto
(2013:240), uji reliabilitas bertujuan untuk mengukur konsisten tidaknya
jawaban seseorang terhadap butir-butir pernyataan di dalam kuesioner.
Variabel dikatakan reliabel jika memberikan nilai koefisien reliabilitas
Cronbach’s Alpha > 0,60.
a. Uji Normalitas
Menurut Ghozali (2016:154), uji normalitas bertujuan untuk menguji
apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki
distribusi normal. Seperti diketahui bahwa uji t dan uji F mengasumsikan
bahwa nilai residual mengikuti distribusi normal. Kalau asumsi ini
dilanggar maka uji statistik menjadi tidak valid untuk jumlah sampel
kecil. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji
Kolmogorov-Smirnov. Pengambilan keputusan mengenai normalitas
adalah sebagai berikut:
a. Jika p < 0,05 maka distribusi data tidak normal
b. Jika p > 0,05 maka distribusi data normal
b. Uji Multikolinearitas
Menurut Ghozali (2016:103), uji multikolinearitas bertujuan untuk
menguji apakah model regresi yang ditemukan adanya korelasi antar
54
variabel bebas. Cara mendeteksi adanya multikolinearitas adalah dengan
mengamati nilai Variance Inflation Factor (VIF) dan Tolerance. Batas
VIF adalah 10 dari Tolerance adalah 0,1. Jika nilai VIF lebih besar dari
10 dan nilai Tolerance kurang dari 0,1 maka terjadi multikolinearitas. Bila
ada variabel independen yang terkenal multikolinearitas maka variabel
tersebut harus dikeluarkan dari model penelitian.
c. Uji Heteroskesdastisitas
Pengujian heteroskedatisitas dalam penelitian ini dilakukan dengan
melihat grafik plot antara prediksi nilai variabel terikat dengan
residualnya. Kriteria pengambilan keputusan dalam pengujian ini menurut
Ghozali (2016:134), adalah jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang
ada membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar
kemudian menyempit) maka telah terjadi heteroskesdatisitas. Sebaliknya,
jika tidak ada pola yang jelas serta titik-titik menyebar di atas dan di
bawah angka 0 pada sumbu Y maka tidak terjadi heteroskesdatisitas.
Y = a + b1X1 + b2X2 +e
Keterangan :
a : Konstanta
55
diharapkan dalam respon Y, perubahan dalam masing – masing variabel X
disebut dengan slope .
e : Standar error
rY X j=n¿ ¿
Keterangan:
Tabel 3.6
Interpretasi Koefisien Korelasi
Interval Koefisien Tingkat Hubungan
0,00 – 0,199 Sangat Rendah
0,20 – 0,399 Rendah
0,40 – 0,599 Sedang
0,60 – 0,799 Kuat
0,80 – 1,000 Sangat Kuat
Sumber: (Siregar, 2013:47)
56
dengan melihat besarnnya presentase pengaruh semua variabel independen
terhadap variabel dependen.
2
kd =r x 100 %
Keterangan:
Kd = Koefisien determinasi
r = Koefisien korelasi
57
H0 : ρyx1 = 0 ; Tidak terdapat pengaruh pelatihan kerja (X1)
terhadap kinerja karyawan (Y) pada Bank BJB Pusat.
2) Hipotesis kedua
H0 : ρyx2 = 0 ; Tidak terdapat pengaruh motivasi kerja (X2)
terhadap kinerja karyawan pada Bank BJB Pusat.
H1 : ρyx2 ≠ 0 ; Terdapat pengaruh motivasi kerja (X2)
terhadap kinerja karyawan pada Bank BJB Pusat.
2. Menentukan tingkat signifikasi sebesar α = 5%
Tingkat signifikasi 0.05 atau 5% artinya kemungkinan
besar hasil penarikan kesimpulan memiliki probabilitas
95% atau toleransi kesalahan 5%. DF = n-(k+1)
3. Menghitung Uji t (t-test)
bi
t=
Sb i
Keterangan:
bi : Koefisien regresi
Sbi : Standar deviasi koefisien regresi
58
H0 ditolak atau pengaruh signifikansi apabila:
-t tabel 0 t tabel
Gambar 3.1
Daerah Peneriman dan Penolakan Hipotesis
2. Uji F
Uji Goodness of Fit atau uji kelayakan model digunakan untuk
mengukur ketepatan fungsi regresi sampel dalam menaksir nilai
aktual. Secara statistik uji Goodness of Fit dapat dilakukan melalui
pengukuran nilai koefisien determinasi, nilai statistik F dan nilai
statistik t. Menurut Ghozali (2016), perhitungan statistik disebut
signifikan secara statistik apabila nilai uji statistiknya berada dalam
daerah kritis (daerah dimana Ho ditolak). Sebaliknya perhitungan
statistik disebut tidak signifikan apabila nilai uji statistiknya berada
dalam daerah dimana Ho diterima.
Uji F digunakan untuk menilai kelayakan model regresi yang telah
terbentuk. Pengujian dilakukan dengan cara membandingkan nilai F
tabel dengan F hitung. Dalam menentukan nilai F tabel, tingkat
signifikansi yang digunakan sebesar 5% dengan derajat kebebasan
59
(df) pembilang = k-1, dan df penyebut = n-k, dimana n adalah
jumlah responden dan k adalah jumlah variabel. Kriteria pengujian
yang digunakan, yaitu:
a. Jika Fhitung > Ftabel, maka H0 ditolak dan Ha diterima.
b. Jika Fhitung < Ftabel, maka H0 diterima dan Ha ditolak.
60
Bank BJB merupakan salah satu Bank Umum milik Pemerintah Daerah
Jawa Barat Dan Banten di Indonesia yang memiliki nasabah utama berupa
perorangan, karyawan, koperasi, BUMD, BUMN, beserta institusi lainnya baik
Pemerintah maupun Swasta.Sampai 31 Desember 2010,bank bjb dan Anak
Perusahaan bank bjb memiliki 44 Kantor Cabang Konvensional, 6 Kantor Cabang
Syariah, 135 Kantor Cabang Pembantu Konvensional, 15 Kantor Cabang
Pembantu Syariah, 48 Kantor Kas, 42 Payment Point, 1 mobil edukasi, 385
ATM.Sedangkan pada bulan Januari 2011 jaringan kantor bank bjb bertambah 1
Kantor Cabang, 36 Kantor Cabang Pembantu, 4 Payment Point, 6 Mobil Edukasi
dan 11 ATM.Bank bjb telah memiliki nasabah simpanan sebanyak 1.293.157
pihak yang terdiri dari 85,69% nasabah perorangan, 13,07% nasabah korporasi,
dan 1,24% nasabah pemerintah. Selain itu bank bjb juga telah menyalurkan
pinjamannya kepada 438.625 debitur di seluruh daerah operasional bank bjb.
61
a. Visi
Menjadi 10 bank terbesar dan berkinerja baik di Indonesia.
b. Misi
Penggerak dan Pendorong Laju Perekonomian Daerah
Melaksanakan Penyimpanan uang Daerah
Salah Satu Sumber Pendapatan Asli Daerah
Alamat Perusahaan:
Menara Bank BJB, Jalan Naripan No.12 - 14, Braga, Kec. Sumur
Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat 40111
Sruktur Organisasi
62
Gambar 3.3
Struktur Organisasi
DAFTAR PUSTAKA
Andjarwati, Tri. 2015. Motivasi dari Sudut Pandang Teori Hirarki Kebutuhan
Maslow, Teori Dua Faktor Herzberg, Teori X Y Mc Gregor, dan Teori
Motivasi Prestasi Mc Clelland. Jurnal Ilmu Ekonomi & Manajemen, Vol.
1 No.1.
Dessler, Gary. 2015. Manajemen Sumber Daya Manusia. Edisi 14. Jakarta:
Salemba Empat.
Fadhil, Achmad dan Yuniadi. 2018. Pengaruh Motivasi Kerja dan Kepuasan
Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Ajb Bumiputera. Jurnal Administrasi
Bisnis (JAB), Vol. 54 No. 1.
Hasibuan, Malayu S.P. 2016. Manajemen Sumber Daya Manusia. Edisi Revisi.
Jakarta: Penerbit PT Bumi Aksara.
63
Julianry et al. 2017. Pengaruh Pelatihan dan Motivasi Terhadap Kinerja
Karyawan Serta Kinerja Organisasi Kementerian Komunikasi dan
Informatika. Jurnal Aplikasi Bisnis dan Manajemen, Vol. 3 No. 2.
Misbahuddin dan Iqbal Hasan. 2013. Analisis Data Penelitian dengan Statistik.
Edisi Ke-2. Cetakan Ke-2. Jakarta: PT Bumi Aksara.
64
Sedarmayanti. 2015. Sumber Daya Manusia dan Produktivitas Kerja. Jakarta:
Mandar Maju.
Sedarmayanti. 2016. Sumber Daya Manusia dan Produktivitas Kerja. Jakarta:
Mandar Maju.
Sinambela, Lijan Poltak. 2016. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT
Bumi Aksara.
65
Widodo, Eka Suparno. 2015. Manajemen Pengembangan Sumber Daya
Manusia.Yogyakarta: Pustaka Belajar.
66