Anda di halaman 1dari 14

PUISI SEBAGAI GENRE SASTRA ARAB PADA MASA ABBASIYAH MAKALAH

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Akhir Mata Kuliah TARIKH ADAB II

Oleh: Moh. Masduki A01209024

Dosen Pengampu: Drs. Afif Busthomi

FAKULTAS ADAB JURUSAN BAHASA DAN SASTRA ARAB INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA 2012

PUISI SEBAGAI GENRE SASTRA ARAB PADA MASA ABBASIYAH


A. Pendahuluan Sastra Arab merupakan sastra kawasan Asia Barat yang telah berumur ribuan tahun, berdampingan secara komplementer dengan sastra kawasan lain, dan secara meyakinkan menjadi anggota sastra dunia. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan penghargaan Nobel bidang sastra yang diterima Najib Mahfuz pada tahun 1988. Ia hadir sebagai ekspresi masyarakat Arab tentang kehidupan yang diungkapkan dengan nilai estetika yang dominan. Sejauh ini, sastra Arab telah menjadi bagian dari kajian banyak mahasiswa dan pengamat di seluruh bagian dunia. Tulisan ini berpretensi untuk menjawab pertanyaan tentang bagaimana sejarah pertumbuhan puisi, prosa, dan drama dalam sastra Arab. Pertanyaan tersebut sebenarnya merupakan hal yang biasa. Akan tetapi, ia akan menjadi lain bila penuturannya dituntut pula untuk ditampilkan secara komprehensif dalam media yang sangat singkat dengan berasaskan pembagian sastra imajinatif menurut Culler. Oleh karena itu, penulis akan mencoba membongkar sejarah pertumbuhan sastra Arab dengan tuntutan yang sungguh menantang, sebagaimana diharapkan oleh mahasiswa dan pengamat sastra Arab sebagai pengantar mengetahui perkembangan kesusastraan Arab. B. Perumusan Masalah 1. Pengertian dari Puisi 2. Pengertian dari Genre 3. Perkembangan Genre Puisi Sastra Arab

C. Pembahasan 1. Pengertian dari Puisi Secara bahasa puisi merupakan padanan dari kata poetry dalam bahasa Inggris, sedangkan padanan dari poem. Secara istilah puisi adalah karya tulis hasil perenungan seorang penyair atas suatu keadaan atau peristiwa yang diamati,dihayati,atau dialaminya. Cetusan ide yang berasal dari peristiwa atau keadaan itu dikemas oleh seorang penyair kedalam bahasa yang padat dan indah.Pembaca atau penikmatnya lalu merasakannya sebagai sebuah karya tulis yang mengandung keindahan dan pesan".Puisi dapat dinikmati melalui membaca atau mendengarkannya. Puisi juga dipandang sebagai ungkapan interaksi dunia dalam seseorang dengan dunia luar. Semua hal di dunia ini bagi seorang penyair adalah puisi. Puisi dituntut untuk memberi manfaat langsung dalam kehidupan, sehingga muncullah sajak-sajak yang berkomunikasi secara langsung. Isinya bisa mengajak, memprovokasi dan mengajari. Puisi-puisi tradisional relatif lebih langsung dari segi bahasa karena ditujukan untuk bercerita atau menasehati. Tetapi tidak jarang puisi disepelekan sebagai sesuatu yang abstrak, mengawang di langit, tidak membumi, tidak ada manfaatnya bagi kehidupan.Sastrawan dalam mengungkapkan gagasannya dalam bentuk puisi didorong oleh rasa seni tinggi dan selalu dipengaruhi oleh kemampuan dan pengetahuan mereka. Proses kreativitas dalam kebenaran, keindahan dan penciptaan karya sastra, khususnya puisi, kekuatan, mewujudkan dan menyatakan sering disebut proses imajinatif. Pengutaraan dari keinginan mendapatkan pengertiannya melalui imajinasi dan khayalan. Bahan yang diproses dan diolah oleh seorang sastrawan bukanlah lamunan fantasi atau khayalan, namun justru realita kehidupan yang telah mengkristal dalam diri sastrawan. Kristalisasi realita kehidupan tampak pada pengalaman diri, pengalaman batin, bahasa maupun pengalaman estetis pengarang. Jelas sekali bahwa imajinasi harus berangkat dari pengalaman itu, lahirlah puisi yang gelap atau karya puisi sering disebut sajak atau sanjak sebagai

remang-remang, padat, bahasa yang digunakan adalah bahasa renung yang bersifat pribadi sehingga diperlukan kejernihan hati dan kepekaan perasaan untuk berinteraksi dengan sajak-sajak tersebut. Memahami puisi dirasakan oleh kebanyakan orang lebih sulit jika dibandingkan jenis karya sastra lain. 2. Pengertian dari Genre Istilah genre sering digunakan bergantian dengan istilah jenis, macam, dan bentuk (type, kind, form). Istilah ini berasal dari Perancis yang merupakan pengembangan dari istilah Latin genus, yang berarti jenis, macam, atau ragam. Istilah ini mengacu pada bentuk atau jenis sastra yang mengklasifikasikan karya-karya sastra berdasarkan ciri-ciri umumnya, berupa struktur formal ataupun cara-caranya memperlakukan persoalan, atau keduanya. Menurut A. Teeuw, Aristoteles adalah orang pertama yang meletakkan dasar studi genre sastra. Genre sastra dibagi menjadi tiga macam menurut pembicaranya. Pertama genre puitik atau lirik. Dalam genre ini narator berbicara dengan sudut pandang orang pertama. Kedua, genre epik atau naratif, yang naratornya berbicara dengan suaranya sendiri tetapi memungkinkan tokoh-tokoh lain berbicara dalam suara mereka sendiri. Ketiga, genre drama. Dalam genre ini para tokohnya melakonkan katakatanya. Dari pendapat Culler di atas, dapat diketahui bahwa yang dimaksud dengan genre puitik atau lirik adalah puisi, genre naratif adalah prosa, dan genre drama yang sudah kita kenal. Di dalam film, genre dapat didefinisikan sebagai jenis atau klasifikasi dari sekelompok film yang memiliki karakter atau pola yang sama (khas) seperti setting, isi, dan subyek cerita, tema, struktur cerita, aksi, atau peristiwa, periode, gaya, situasi, ikon, mood, serta karakter. Dari klasifikasi tersebut, dapat dihasilkan genre-genre film popular seperti aksi, petualangan, drama, komedi, horor, western, film noir, roman, dan sebagainya (Pratista, 2008). Genre juga merupakan sebuah kategori semiotik karena di dalamnya terdapat kode-kode dan konvensi-konvensi yang dimiliki oleh film-film dalam

sebuah genre yang sama. Misalnya, unsur-unsur seperti lokasi, gaya , dan mise en scene (artikulasi ruang semantik, atau rangkaian penataan performer. Tujuannya untuk menimbulkan efek dramatis tertentu) yang seluruhnya merupakan bagian dari sistem terkode yang dapat diidentifikasi melalui analisis semiotik. (Stokes, 2007). Fungsi utama dari genre adalah untuk memudahkan klasifikasi sebuah film. Genre juga dapat membantu kita dalam memilih film-film tersebut sesuai dengan spesifikasinya. Industri film sendiri sering menggunakan genre sebagai strategi marketing. Genre apa yang saat ini menjadi tren, menjadi tolok ukur film yang akan diproduksi. Selain untuk klasifikasi, genre juga dapat berfungsi sebagai antisipasi penonton terhadap film yang akan ditonton. Jika seorang penonton telah memutuskan untuk melihat sebuah film bergenre tertentu, maka sebelumnya ia telah mendapatkan gambaran umum di kepalanya tentang film yang akan ia tonton. Misalnya jika kita ingin mendapatkan hiburan, umumnya kita memilih film bergenre komedi atau aksi (Pratista, 2008). Dengan kata lain, film-film mampu mengeksploitasi pengharapan-pengharapan yang membawa kita pada suasana hati yang kita harapkan dengan cepat. Klasifikasi-klasifikasi genre membantu kita mengetahui apa yang dapat kita harapkan dari film; film-film itu juga menggunakan lelucon-lelucon atau rujukan-rujukan internal yang hanya akan dipahami oleh khalayak yang telah akrab dengan genre tersebut (Stokes, 2007). 3. Perkembangan Genre Puisi Sastra Arab Puisi Arab atau Syair memiliki arti susunan kata berdasarkan timbangan kata berupa struktur satuan bunyi dan memiliki rima yang sama (al-kalam almauzun al-muqaffa). Apapun definisinya, pada dasarnya puisi selalu terbentuk dari unsur-unsur formal bunyi, diksi, majaz, repetisi, rima, nada, dan topografi. Taufiq A. Dardiri menyebutkan bahwa tradisi kesusasteraan Arab yang tertua dan terkokoh adalah tradisi puisi. Tradisi genre ini mampu membentuk sistem konvensi yang begitu kuat. Hingga sampai abad 19 pun sistem puisi Arab sulit

untuk melepaskan diri dari konvensi itu. Bahkan sampai sekarang pun belum sepenuhnya mampu melepaskan diri dari salah satu aspek konvensi itu. Konvensi puisi Arab lama yang dimaksud adalah meliputi: 'adad al-bait (jumlah bait), Aqsam al-bait (bagian-bagian bait), al-Arut}: al-wahdah als}autiyah (kesatuan bunyi), al-Taf'ilah (struktur pengulangan kesatuan bunyi dalam penggalan bait, al-bah}r (metrum), dan al-qafiyah (struktur bunyi akhir suatu bait atau rima). Kondisi semacam ini dapat dipahami karena secara internal sistem bahasanya sendiri mendukung. Bentuk tatabahasa Arab dalam pola konjugasinya mempunyai keteraturan yang tinggi dan struktur bahasa Arab juga mempunyai tingkat kebakuan yang tinggi pula. Dengan demikian, secara alami bahasa Arab sudah memberikan kemungkinan yang tinggi pula dalam kreatifitas pencapaian harmonitas rima dan ritma dalam berpuisi yang kokoh terkonvensi. Di samping itu, faktor psikologis adanya bahasa Arab sebagai bahasa al-Qur'an menjadikan masyarakat Arab memandang dan memperlakukan bahasa Arab dengan sikap berbeda dengan bahasa-bahasa lain sehingga bahasa Arab dapat terjaga kebakuannya. Seiring dengan waktu, kekuatan tradisi dan konvensi puisi Arab yang mapan juga turut mengalami dinamisasi. Dalam kurun waktu yang panjang (tahun 500-2007), tradisi, konvensi dan sistem puisi Arab telah mengalami pergeseran-pergeseran. Dari tradisi sastra lisan ke tradisi sastra tulisan. Dari yang serba ingin teratur dan terbakukan ke suatu pola kebebasan berekspresi. Dari yang berciri kebangsaan atau kewilayahan sampai ke ciri kedirian atau individual. Di samping pergeseran tersebut, sastra Arab juga pernah mengalami masa pasang surut. Kemunduran sastra Arab selama 5 abad disebabkan banyak faktor, antara lain karena unsur stilistika yang lemah, makna yang dangkal, dan rigiditas dalam penerapan al-muhassinat al-badiah. Era kebangkitan ditandai dengan pengiriman duta budaya ke Eropa, yang diikuti dengan pendirian percetakan, pembangunan sekolah-sekolah, penerbitan koran dan majalah. Zainal Abidin membagi perkembangan ini

dalam dua fase, yaitu fase tradisional dan fase pembaharuan. Fase pertama, perkembangan puisi masih meneruskan tradisi masa Usmani. Akan tetapi, fenomena-fenomena kebangkitan sudah tampak sedikit dalam perluasan tema, cara deskripsi, dan penggunaan bahasa. Sebagai contoh puisi pada fase ini adalah puisi Ismail al-Khasyab (w.1834 M). Sementara itu, fase kedua dimulai pada pertengahan abad ke-19. Pelopornya adalah Mahmud Samy al-Barudy dan Ahmad Syauqy dengan alirannya yang terkenal; neoklasik. Fenomena kemunculan pemikiran neoklasik sebagai gerakan Arab memiliki peranan penting dalam sejarah Arab modern. Bila neoklasik Barat berorientasi menghidupkan sstra Yunani dan Latin kuno, maka neoklasik Arab berkeinginan untuk menghidupkan keindahan puisi Abasiyah, seperti puisi Abu Nawas, Abu Tamam, Ibnu Rumi, al-Mutanabby, al-Maarry, dan al-Buhtury. Keindahan puisi Abbasiyah secara stilistik dikombinasikan dengan semangat dan tema baru. Tak dapat dipungkiri bahwa kemunculan neoklasik adalah reaksi atas kedatangan Perancis tahun 1798. Gerakan ini disambut oleh para sastrawan lain seperti, Hafiz Ibrahim, Ismail Sobry, Aly al-Jarim dari Mesir, Maruf al-Rasasy dan Jamil Sidqy dari Irak, Basyarah al-Khaury dari Lebanon. Di samping gerakan pembaharuan Arab ini, terdapat pula gerakan pembaharuan ala Barat. Mereka terkesan dengan karya-karya hasil terjemahan dan berusaha untuk mempelajari bahasa asing untuk kepentingan sastra. Pelopor gerakan ini adalah tiga serangkai: Abbas Mahmud Aqqad, Abdul Qadir al-Maziny, dan Abdurrahman Syukri. Mereka ini adalah pembesar madrasah Diwan yang melakukan counter balik terhadap gerakan neoklasik yang masih mempertahankan corak puisi lama atau too traditional. Sebaliknya, mereka mengajak pada perubahan yang total. Adapun para sastrawan yang terpengaruh oleh kebudayaan Perancis adalah Khalil Mutran, sementara dari kalangan kritikus adalah Muhamad Husein Haikal dan Toha Husen.Aliran ini mengkritik metode Taqlid kepada karya klasik yang dilakukan oleh kelompok neoklasik. Menurut kelompok ini, hal itu seharusnya tidak boleh dilakukan. Adapun sikap yang baik adalah

mengambil aspek yang baik saja sebagai bahan pertimbangan untuk menciptakan karya sendiri, sehingga tetap orisinil. Syukri menekankan bahwa bila penyair Arab membaca sastra bangsa lain, mereka seharusnya hanya ingin memperbaharui makna dan menemukan kreatifivitas baru, bukan menjiplak. Di samping kedua aliran di atas, terdapat pula Madrasah al-Muhajir atau aliran sastrawan migran yang juga memiliki peran penting dalam gerakan pembaharuan. Mereka adalah Jibran Khalil Jibran, Ilya Abu Mady, Michael Nuaimah dan lain lain. Selain itu, Madrasah Apollo juga memerankan posisi penting dalam pembaharuan kesusasteraan Arab. Dipilihnya nama Apollo karena ia adalah dewa puisi bangsa Yunani. Diharapkan agar madrasah ini menjadi sumber inspirasi bagi para sastrawan. Sebenarnya, Apollo adalah nama untuk majalah dan jamaah sastrawan sekaligus. Ketua pertamanya adalah Ahmad Syauqi, Khalil Mutran dan Ahmad Muharram (wakil ketua), Ahmad Zaky Abu Syadi (sekretaris) dan anggotanya terdiri dari Ibrahim Naji, Kamil Kaylani, Sayyid Ibrahim, dan lain lain. Begitu Ahmad Syauqi wafat 14 Oktober 1932, Apollo dipimpin oleh Mutran. Apollo, dalam banyak literatur, disebutkan sebagai jamaah yang gerakannya tidak berkonsentrasi dalam bidang sastra. Apollo hanyalah gerakan yang memiliki obsesi untuk menyatukan dan memberikan wadah bagi para penyair untuk mengembangkan bakat seninya. Sehingga, bila modernisasi aliran Diwan banyak menghasilkan karya baik puisi maupun prosa, maka modernisasi kelompok Apollo lebih banyak menghasilkan konsep tentang karya sastra. Menurut Abu Syadi, Apollo mempunyai 5 tujuan: 1) Mengangkat puisi Arab dan mengarahkan kegiatan para penyair kepada arah yang baik, 2) membantu kebangkitan seni di dunia puisi, 3) mengangkat derajat puisi baik di mata sastra, sosial, dan ekonomi, serta mencegah eksklusivitasnya, 4) menumbuhkan tolong menolong dan persaudaran di kalangan sastrawan, dan 5) memerangi monopoli dan menciptakan kebebasan puisi. Oleh karenanya, menurut al-Shabi, Apollo tidak menjadi aliran yang jelas, akan tetapi hanya merupakan revolusi yang dahsyat untuk mewujudkan

kebebasan dan kesempurnaan puisi. Artinya, kelompok ini berhasil menjadikan prinsip-prinsip kelompok menjadi akar gerakan dalam mewujudkan tujuan. Berikutnya, akan diungkapkan pula secara singkat tentang faktor-faktor yang menjadi latar belakang perkembangan puisi Arab modern sebagaimana telah diuraikan di atas. Hal pertama adalah adanya kontak peradaban Arab dengan peradaban asing melalui gerakan penterjemahan yang kembali digiatkan pada masa Muhammad Ali setelah juga pernah dilakukan pada masa Abbasiyah dengan penggeraknya Ishak bin Hunain. Gerakan penerjemahan juga berkaitan dengan penugasan putra-putra terbaik Mesir untuk ditugaskan belajar ke negara Eropa.s Persinggungan antarkedua peradaban tersebut meningkatkan kritik sastra yang mendapat pengaruh dari kebudayaan Eropa seperti pengaruh kebudayaan Perancis dan aliran-aliran kritik dan sastra yang dilancarkan Khalil Mutran dan Toha Husein. Demikian pula dengan tiga serangkai madrasah diwan; Syukri, Aqqad, dan Mazini yang menyerukan pembaharuan dalam sastra serta tidak berpaling pada puisi klasik. Mereka menggiatkan metode kritik untuk puisi modern. Kesungguhan para sarjana tersebut dalam memacu pertumbuhan sastra yang mendapatkan pengaruh Barat memicu kontribusi kelompok Neoklasik atau al-Muhafizun dalam menjaga tradisi sastra lama. Bagi mereka, kemajuan kesusastraan Arab adalah hal penting, tetapi tidak perlu meninggalkan kekayaan khazanah sastra Arab yang telah teruji kekuataannya. Kelompok ini memberikan perhatian untuk menghidupkan kembali sastra Arab klasik, baik prosa atau puisi. Hal ini dibuktikan dengan perhatian para sastrawan neoklasik terhadap teks-teks sastra masa Abbasiyah. Di samping kedua faktor di atas, peristiwa-peristiwa politik yang terjadi di dunia Arab, seperti Revolusi 1919, revolusi 1923, dan 52, Revolusi di alJazair, problem Palestina digunakan oleh para sastrawan sebagai materi sastra untuk menyerukan pembebasan dari kekuatan yang mengungkung. Walaupun dalam reaksi yang berbeda, semua usaha di atas tidak lain merupakan wujud kebangkitan kesadaran nasionalis dan kebutuhan terhadap peradaban yang

lebih maju.

a. Genre Sastra Arab Pada Masa Abbasiyah


Secara garis besar sastra arab dibagi atas dua bagian yaitu prosa dan syair. Prosa terdiri atas atas beberapa bagian, yaitu: 1. Kisah (Qisshah), Kisah adalah cerita tentang berbagai hal, baik yang bersifat realistis maupun fiktif, yang disusun menurut urutan penyajian yang logis dan menarik. Kisah meliputi Hikayat, Qissah Qasirah dan Uqushah. Kisah yang berkembang pada masa abbasiyah tidak hanya terbatas pada cerita keagamaan, tetapi sudah berkaitan dengan hal lain yang lebih luas, seperti kisah filsafat. 2. Amsal (peribahasa) dan Kata mutiara (al-hikam) adalah ungkapan singkat yang bertujuan memberikan pengarahan dan bimbingan untuk pembinaan kepribadian dan akhlak. Amsal dan kata mutiara pada masa abbasiyah dan sesudahnya lebih menggambarkan pada hal yang berhubungan dengan filsafat, sosial, dan politik. Tokoh terkenal pada masa ini adalah Ibnu al Muqoffal. 3. Sejarah (tarikh),atau riwayat (sirah) Sejarah atau riwayat mencakup sejarah beberapa negeri dan kisah perjalanan yang dilakukan para tokoh terkenal karya sastra yang terkenal dalam bidang ini antara lain: adalah mujam al Buldan (ensiklopedi kota dan negara) oleh Yaqut al Rumi (1179-1229). Tarikh al hindi (sejarah india) oleh al Biruni (w.448 H/ 1048 M). Karya Ilmiah (Abhas Ilmiyyah) Karya ilmiah mencakup berbagai bidang ilmu. Karya terkenal yang berkenaan dengan hal ini adalah kitab al Hawayan (buku tentang hewan). Selain prosa dan puisi, seni korespondensi juga mengalami peningkatan, hal ini karena luasnya wilayah kekuasaan Abbasiyah dari timur ke barat yang tentunya membutuhkan konsolodasi antar wilayah dengan surat-menyurat. Tokoh-tokoh yang terkenal antara lain Abu Al Fida Muhammad bin Al Amid (w 360 H/ 970 M), Abu Ishaq Al Shabi (w 384 H/ 994 M), Al Qadli Al Fadhil (596 H/ 1200 M).

b. Kondisi Kesusasteran
Kekhalifahan Abbasiyah dianggap sebagai masa keemasan islam (the golden age) baik dalam bidang politik, agama, ekonomi, sosial, budaya, dan segala bidang lainnya mengalami kemajuan pesat daripada masa-masa sebelumnya. Salah satunya adalah di bidang sastra. Berbeda dengan pada masa Bani Umayyah yang hanya mengenal dunia syair sebagai titik puncak dari berkesenian ini dikarenakan pula Bani Umayyah adalah bani yang sangat resisten terhadap pengaruh selain Arab, maka pada zaman Abbasiyah inilah prosa berkembang subur. Mulai dari novel, buku-buku sastra, riwayat, hikayat, dan drama.Bermunculanlah para sastrawan yang ahli di bidang seni bahasa ini baik puisi maupun prosa. Wilayah kajian sastra tidak hanya puisi dan prosa tetapi sudah meluas dalam bidang karya tulis lainnya. Sastrawan pada masa ini dianggap sebagai gudangnya ilmu pengetahuan. Meskipun pada masa ini mengalami perkembangan, namun dari sisi bahasa, mengalami kemunduran yang di tandai dengan kekeliruan berbahasa di tengah masyarakat akibat pergumulan yang kuat bangsa Arab dengan bangsa ajam (non Arab).

c. Ciri Umum Sastra Abbasi


Terdapat beberapa perbedaan yang mendasar antara masa abbasiyah dengan masa-masa sebelumnya khususnya masa umawi, diantaranya adalah : 1. Tujuan pengungkapan sastra dan orientasi syair mengalami perluasan. 2. Bahasa, pada masa ini mengalami kemunduran karena asimilasi bangsa arab dengan ajam yang berpengaruh terhadap kualitas kebahasaan serta sering terjadi kesalahan bahasa. 3. perluasan wilayah kajian sastra yang tidak hanya pada wilayah syair tetapi juga prosa sehingga memunculkan karya-karya novel, buku-buku sastra, riwayat dan hikayat, serta munculnya genre baru .

11

D. Kesimpulan Puisi adalah karya tulis hasil perenungan seorang penyair atas suatu keadaan atau peristiwa yang diamati,dihayati,atau dialaminya. Cetusan ide yang berasal dari peristiwa atau keadaan itu dikemas oleh seorang penyair kedalam bahasa yang padat dan indah.Pembaca atau penikmatnya lalu merasakannya sebagai sebuah karya tulis yang mengandung keindahan dan pesan".Puisi dapat dinikmati melalui membaca atau mendengarkannya. Istilah genre sering digunakan bergantian dengan istilah jenis, macam, dan bentuk (type, kind, form). Istilah ini berasal dari Perancis yang merupakan pengembangan dari istilah Latin genus, yang berarti jenis, macam, atau ragam. Istilah ini mengacu pada bentuk atau jenis sastra yang mengklasifikasikan karya-karya sastra berdasarkan ciri-ciri umumnya, berupa struktur formal ataupun cara-caranya memperlakukan persoalan, atau keduanya Secara garis besar sastra arab dibagi atas dua bagian yaitu prosa dan syair. Prosa terdiri atas atas beberapa bagian, yaitu: 1. Kisah (Qisshah), Kisah adalah cerita tentang berbagai hal, baik yang bersifat realistis maupun fiktif, yang disusun menurut urutan penyajian yang logis dan menarik. 2. Amsal (peribahasa) dan Kata mutiara (al-hikam) adalah ungkapan singkat yang bertujuan memberikan pengarahan dan bimbingan untuk pembinaan kepribadian dan akhlak. 3. Sejarah (tarikh),atau riwayat (sirah) Sejarah atau riwayat mencakup sejarah beberapa negeri dan kisah perjalanan yang dilakukan para tokoh terkenal. E. Penutup Demikianlah makalah yang seadanya ini kami buat dengan kemampuan yang sangat minim sekali untuk memenuhi tugas mata kuliah, yang sudah barang tentu banyak kesalahan dan kekurangan yang terdapat di dalamnya. Namun walaupun demikian, mudah-mudahan ini dapat memberikan

pemahaman

sumbangsih terhadap kita semua dan membuka cakrawala

pengetahuan yang selama ini menjadi kebudayaan dialektika sebuah kehidupan serta bisa menumbuhkan sikap yang terhadap sejarah sastra itu sendiri. Kritik dan saran merupakan bahan evaluasi yang kami harapkan, dengan adanya proses transformasi pengetahuan yang lebih progresif.

13

DAFTAR PUSTAKA

Abi Zakaria Yahya Al-Qibrizi, Imam. Tanpa Tahun. Syarhu al-Muallaqat asSaba. Dar al-Maarif Tunisia. Al-Qardawiy, Yususf. 1996. Al-Thaqafat Al-Arabiyyat al-Islamiyyat bayna alAsalat wa al-Muasirat Bairut: Muassasat al-Risalat. Chejne, Anwar G. 1969.The Arabic LanguageIts Role in History Minneapolis: University of Minnesota Press. Comrie, Bernard. 1988. Ensiklopedia Bahasa Utama Dunia (terjemahan DBP). Kuala Lumpur Dewan Bahasa dan Pustaka. Said,H.A.Fuad. 1984. Pengantar Sastra Arab Medan: Pustaka Babussalam. Sulaiman, Kasim. 1985. Pramasastra Arab Cetakan II Jakarta: Prakarsa Belias.