MAKALAH
JENIS-JENIS MAKNA
Disusun Oleh Kelompok 9 :
Ika Nurul Huda (202235017)
Niswata Hilya. (202235032)
Yuanda Puspita (202235037)
PRODI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
STKIP MUHAMMADIYAH LUMAJANG
Oktober 2024
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan
karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah “Jenis-Jenis Makna”.
Makalah ini disusun guna melengkapi tugas mata kuliah Semantik.
Dalam makalah ini membahas tentang “Jenis-Jenis Makna” sebagai bahan
pelajaran khusus juga untuk menambah pengetahuan bagi penyusun maupun bagi
pembaca pada umumnya.
Tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing mata
kuliah Semantik Dr.Sujarno,M.Pd. yang telah memberikan banyak arahan dalam
terciptanya makalah ini. Rasa terima kasih juga kami sampaikan kepada teman-
teman yang telah memberikan semangat dan bantuan yang berguna.
Dengan adanya makalah ini, penulis berharap dapat membantu mahasiswa
lain dalam belajar. Oleh karena itu, kritik dan saran kami terima dengan senang
hati guna menyempurnakan makalah yang telah kami susun ini. Akhir kata,
semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Lumjang, 15 Oktober 2024
Penulis
ii
DAFTAR ISI
Halaman Sampul ............................................................................................ i
Kata Pengantar .............................................................................................. ii
Daftar Isi ......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1
A.Latar Belakang Masalah ............................................................................... 1
B.Rumusan masalah ......................................................................................... 2
C.Tujuan Pembahsan........................................................................................ 3
D.Manfaat Penulisan ........................................................................................ 3
BAB II PEMBAHASAN
A. Jenis Makna ................................................................................................. 5
B.Makna Leksikal dan Gramatikal .................................................................. 5
C. Makna Referensial dan Nonreferensial ....................................................... 6
D. Makna Denotatif dan Konotatif................................................................... 6
E.Makna Konseptual dan Makna Asosiatif ...................................................... 7
F.Makna Indiomatikal dan Peribahasa ............................................................. 8
G.Makna Kias .................................................................................................. 9
H.Makna Lokusi, Ilokusi, dan Perlokusi .......................................................... 9
I. Makna Kata dan Makna Istilah ..................................................................... 9
BAB III PENUTUP ....................................................................................... 11
A.Kesimpulan .................................................................................................. 11
B.Saran ............................................................................................................. 12
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 13
iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kajian makna atau semantik merupakan salah satu aspek penting dalam
linguistik, karena bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi tetapi
juga mengandung berbagai makna yang dapat berubah-ubah tergantung
konteks dan penggunaannya. Pateda (1986) dan Leech (1976) menawarkan
berbagai klasifikasi makna yang menggambarkan kompleksitas bagaimana
makna dalam bahasa dipahami dan ditafsirkan.
Pemahaman mengenai jenis-jenis makna, seperti makna leksikal,
gramatikal, referensial, nonreferensial, denotatif, konotatif, serta idiomatik dan
kias, menjadi landasan penting dalam analisis bahasa. Hal ini menunjukkan
bahwa satu kata dapat memiliki banyak interpretasi tergantung pada konteks
penggunaannya, nilai-nilai sosial, budaya, serta hubungan antar kata. Misalnya,
makna konotatif kata tertentu dapat berubah mengikuti perubahan norma
sosial, sementara makna referensial bergantung pada objek di luar bahasa itu
sendiri.
Dengan demikian, penelitian tentang makna bahasa memberikan
wawasan mendalam tentang bagaimana manusia memahami,
menginterpretasikan, dan memodifikasi bahasa seiring waktu. Pengetahuan ini
membantu pengguna bahasa untuk lebih memahami nuansa penggunaan kata,
frasa, dan kalimat dalam berbagai konteks, baik dalam komunikasi sehari-hari
maupun dalam ranah teknis atau ilmiah.
1
2
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana klasifikasi jenis-jenis makna dalam kajian semantik menurut
Pateda (1986) dan Leech (1976), serta bagaimana perbedaan antar tipe
makna tersebut?
2. Apa saja perbedaan mendasar antara makna leksikal dan makna
gramatikal, serta bagaimana kedua makna tersebut berfungsi dalam suatu
kalimat?
3. Bagaimana perbedaan antara makna referensial dan nonreferensial, serta
peran konteks dalam menentukan referen kata-kata tertentu?
4. Bagaimana makna denotatif dan konotatif mempengaruhi penggunaan kata
dalam konteks sosial dan budaya yang berbeda?
5. Bagaimana makna konseptual dan makna asosiatif berinteraksi dalam
pembentukan makna dalam bahasa?
6. Bagaimana idiom, peribahasa, dan makna kias berkontribusi pada variasi
makna dalam bahasa, dan apa perbedaan antara idiomatikal dan
peribahasa?
7. Bagaimana makna lokusi, ilokusi, dan perlokusi berperan dalam tindak
tutur dan komunikasi antarpenutur?
8. Bagaimana perbedaan antara makna referensial dan nonreferensial, serta
peran konteks dalam menentukan referen kata-kata tertentu?
9. Bagaimana makna denotatif dan konotatif mempengaruhi penggunaan kata
dalam konteks sosial dan budaya yang berbeda?
10. Bagaimana makna konseptual dan makna asosiatif berinteraksi dalam
pembentukan makna dalam bahasa?
11. Bagaimana idiom, peribahasa, dan makna kias berkontribusi pada variasi
makna dalam bahasa, dan apa perbedaan antara idiomatikal dan
peribahasa?
12. Bagaimana makna lokusi, ilokusi, dan perlokusi berperan dalam tindak
tutur dan komunikasi antarpenutur?
3
C. Tujuan Pembahasan
1. Mendeskripsikan berbagai tipe makna yang dibahas dalam kajian semantik
menurut Pateda (1986) dan Leech (1976), serta mengidentifikasi
perbedaan antara masing-masing tipe makna.
2. Menjelaskan perbedaan antara makna leksikal dan makna gramatikal, serta
bagaimana keduanya berfungsi dalam penggunaan bahasa.
3. Menganalisis perbedaan antara makna referensial dan nonreferensial, serta
peran konteks dalam pembentukan makna kata-kata tertentu.
4. Menelaah makna denotatif dan konotatif, serta bagaimana makna-makna
ini dipengaruhi oleh norma sosial dan budaya.
5. Mengkaji perbedaan antara makna konseptual dan makna asosiatif serta
dampaknya dalam proses komunikasi.
6. Menguraikan makna idiomatikal, peribahasa, dan makna kias, serta
membedakan antara idiom dan peribahasa dalam bahasa sehari-hari.
7. Menggambarkan bagaimana makna lokusi, ilokusi, dan perlokusi berperan
dalam tindak tutur dan mempengaruhi makna komunikasi dalam berbagai
konteks.
D. Manfaat Penulisan
1. Pemahaman Semantik: Membantu pembaca memahami berbagai istilah
dan tipe makna dalam kajian semantik, sehingga meningkatkan wawasan
tentang bahasa dan maknanya.
2. Aplikasi dalam Komunikasi: Menyediakan pemahaman yang lebih baik
tentang bagaimana makna leksikal dan gramatikal berfungsi dalam
komunikasi sehari-hari, yang dapat memperbaiki keterampilan
berkomunikasi.
3. Analisis Konteks :Mengajarkan pembaca untuk lebih memperhatikan
konteks dalam penggunaan kata-kata, sehingga mampu menafsirkan
makna dengan lebih tepat dalam situasi yang berbeda.
4
4. Kesadaran Budaya: Meningkatkan kesadaran tentang bagaimana norma
sosial dan budaya mempengaruhi konotasi dan penggunaan kata, yang
penting dalam interaksi lintas budaya.
5. Perbedaan Makna dalam Bidang Khusus: Membantu dalam memahami
perbedaan antara makna kata umum dan istilah teknis, yang penting dalam
pendidikan, ilmu pengetahuan, dan bidang profesional lainnya.
6. Kreativitas Bahasa: Mendorong pembaca untuk mengeksplorasi
penggunaan makna kias, idiomatikal, dan peribahasa dalam berbahasa,
sehingga menambah kekayaan ekspresi dalam komunikasi.
7. Peningkatan Pemahaman Tindak Tutur: Menjelaskan konsep lokusi,
ilokusi, dan perlokusi dapat meningkatkan kemampuan pembaca dalam
memahami maksud dan tujuan di balik komunikasi verbal.
8. Dasar untuk Penelitian: Menyediakan landasan teoritis bagi penelitian
lebih lanjut di bidang linguistik dan semantik, serta aplikasinya dalam
bidang lain seperti psikologi, sosiologi, dan komunikasi.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Jenis Makna
Berbagai istilah dan tipe makna muncul dalam kajian semantik. Pateda
(1986) menyebutkan 25 jenis makna, termasuk makna afektif, denotatif,
deskriptif, gramatikal, konotatif, dan lain-lain. Sementara itu, Leech (1976)
membagi makna menjadi tujuh tipe, yaitu makna konseptual, konotatif,
stilistika, afektif, reflektif, kolokatif, dan tematik. Beberapa dari tipe tersebut
digolongkan ke dalam makna asosiatif.
Jenis makna dapat dibedakan berdasarkan beberapa kriteria, seperti
makna leksikal vs. gramatikal, makna referensial vs. nonreferensial, dan
makna denotatif vs. konotatif. Ada juga kategori lain seperti makna asosiatif,
kolokatif, reflektif, dan idiomatik.
B. Makna Leksikal dan Makna Gramatikal:
1. Makna Leksikal merujuk pada makna kata yang sesuai dengan referennya
di dunia nyata, tanpa memerlukan konteks tambahan. Ini adalah makna
dasar kata yang dapat ditemukan dalam kamus kecil atau kamus dasar.
Misalnya, kata tikus dalam kalimat "Tikus itu mati" jelas merujuk pada
binatang. Namun, makna leksikal berbeda dari penggunaan kiasan atau
idiom.
2. Makna Gramatikal muncul akibat proses gramatika seperti afiksasi,
reduplikasi, atau komposisi. Makna ini baru jelas ketika kata digunakan
dalam konteks kalimat. Misalnya, kata terangkat dapat bermakna 'dapat
diangkat' atau 'tidak sengaja diangkat' tergantung pada kalimatnya.
Makna gramatikal sering disebut juga makna kontekstual atau situasional
karena bergantung pada struktur dan konteks kalimat.
Makna leksikal berkaitan dengan kata itu sendiri, sementara makna
gramatikal terkait dengan bagaimana kata berubah melalui proses bahasa
untuk memberikan nuansa makna yang berbeda.
5
6
C. Makna Referensial dan Nonreferensial
1. Makna Referensial adalah makna kata yang merujuk pada sesuatu di luar
bahasa, atau memiliki referen. Contohnya, kata meja dan kursi memiliki
referen berupa benda fisik, sehingga termasuk makna referensial.
2. Makna Nonreferensial adalah makna kata yang tidak memiliki referen di
luar bahasa. Kata seperti karena dan tetapi tidak merujuk pada objek fisik
atau konsep tertentu, sehingga termasuk makna nonreferensial.
Kata-kata tugas seperti preposisi dan konjungsi sering dianggap tidak
bermakna, tetapi sebenarnya memiliki fungsi atau tugas, meskipun tidak
memiliki referen. Beberapa kata, seperti kata ganti (aku, kamu) dan kata
deiktis (di sini), memiliki referen yang berpindah-pindah tergantung pada
konteks penggunaannya
D. Makna Denotatif dan Konotatif:
1. Makna Denotatif adalah makna dasar atau literal yang sesuai dengan fakta
atau hasil observasi, tanpa tambahan nilai rasa. Contohnya, kata
perempuan dan wanita memiliki makna denotatif yang sama, yaitu
manusia dewasa bukan laki-laki.
2. Makna Konotatif adalah makna yang melibatkan "nilai rasa," yang bisa
positif, negatif, atau netral. Kata wanita memiliki konotasi positif (modern,
berpendidikan), sedangkan perempuan cenderung memiliki konotasi
negatif (kurang berpendidikan, tradisional).
Makna konotatif sering kali dipengaruhi oleh norma sosial dan
budaya, sehingga bisa berbeda antar kelompok masyarakat atau berubah
seiring waktu. Misalnya, kata babi memiliki konotasi negatif di masyarakat
Islam, tetapi netral di masyarakat non-Islam. Selain itu, penggunaan simbol
juga mempengaruhi konotasi, seperti burung garuda yang memiliki konotasi
positif sebagai lambang negara.
7
Secara umum, konotasi berkembang seiring perubahan budaya dan
sosial, serta kecenderungan manusia untuk memperhalus bahasa, seperti
penggunaan istilah tuna netra menggantikan buta.
E. Makna Konseptual dan Makna Asosiatif:
1. Makna Konseptual adalah makna yang sesuai dengan konsep atau referensi
dari suatu kata, bebas dari hubungan atau asosiasi lain. Ini juga disebut
makna denotatif, leksikal, atau referensial. Contohnya, makna konseptual
dari kata "merah" adalah warna tertentu.
2. Makna Asosiatif adalah makna yang timbul dari hubungan atau asosiasi
suatu kata dengan hal di luar bahasa, seperti budaya atau nilai-nilai
masyarakat. Contoh, "melati" diasosiasikan dengan kesucian, dan "merah"
dengan keberanian atau komunisme. Makna Asosiatif mencakup:
1) Makna Konotatif: berhubungan dengan perasaan atau nilai tertentu
dalam masyarakat.
2) Makna Stilistika: terkait dengan gaya penggunaan kata yang berbeda
dalam situasi sosial atau bidang tertentu, seperti perbedaan antara
"rumah", "istana", dan "pondok".
3) Makna Afektif: menggambarkan perasaan pembicara terhadap lawan
bicara atau objek, misalnya cara berbicara yang kasar atau sopan.
4) Makna Kolokatif: berkaitan dengan kata-kata yang sering digunakan
bersama dalam frasa tertentu, seperti "gadis cantik" dan "pemuda
tampan", di mana setiap kata memiliki pasangan yang tepat dalam
penggunaannya.
5) Makna Stilistika: terkait dengan gaya penggunaan kata yang berbeda
dalam situasi sosial atau bidang tertentu, seperti perbedaan antara
"rumah", "istana", dan "pondok".
6) Makna Afektif: menggambarkan perasaan pembicara terhadap lawan
bicara atau objek, misalnya cara berbicara yang kasar atau sopan.
7) Makna Kolokatif: berkaitan dengan kata-kata yang sering digunakan
bersama dalam frasa tertentu, seperti "gadis cantik" dan "pemuda
8
tampan", di mana setiap kata memiliki pasangan yang tepat dalam
penggunaannya.
F. Makna Idiomatikal dan Peribahasa:
1. Makna Idiomatikal merujuk pada satuan bahasa (kata, frasa, atau kalimat)
yang maknanya tidak dapat diprediksi dari makna unsur-unsurnya.
Contohnya, frasa "menjual gigi" tidak berarti menjual gigi secara harfiah,
melainkan berarti 'tertawa keras'. Ada dua jenis idiom:
1) Idiom Penuh: Semua unsurnya tidak memiliki makna leksikal (contoh:
"membanting tulang").
2) Idiom Sebagian: Hanya sebagian unsur yang memiliki makna leksikal
(contoh: "daftar hitam").
3) Peribahasa adalah ungkapan yang maknanya masih bisa diramalkan
melalui asosiasi dengan unsur-unsurnya, sering kali menggunakan
perbandingan. Contohnya, "Bagai anjing dengan kucing"
menggambarkan dua pihak yang selalu bertengkar. Peribahasa biasanya
juga disebut perumpamaan jika menggunakan kata-kata seperti "bagai"
atau "umpama".
Perbedaan antara idiom dan peribahasa adalah idiom sepenuhnya
menyimpang dari makna harfiahnya, sementara peribahasa bisa dipahami
melalui asosiasi makna leksikal dan gramatikal.
9
G. Makna Kias.
Makna kias adalah penggunaan bentuk bahasa (kata, frasa, atau
kalimat) yang tidak merujuk pada makna sebenarnya, melainkan
menggunakan perbandingan atau persamaan. Contohnya, "putri malam"
untuk’bulan,"raja siang" untuk 'matahari', dan "membanting tulang" untuk
'bekerja keras'. Dalam makna kias, ada hubungan perbandingan antara bentuk
ujaran dengan makna yang diacu.
Istilah ini sering digunakan sebagai kebalikan dari makna sebenarnya
atau makna leksikal. Namun, tidak semua frasa yang tampak figuratif
dianggap sebagai kiasan, seperti "sipantat kuning" yang artinya 'kikir', karena
tidak ada perbandingan yang jelas.
H. Makna Lokusi, Ilokusi, dan Perlokusi:
Dalam tindak tutur, terdapat tiga jenis makna:
1) Makna Lokusi adalah makna harfiah atau makna yang dinyatakan secara
langsung oleh ujaran.
2) Makna Ilokusi adalah makna seperti yang dipahami oleh pendengar.
3) Makna Perlokusi adalah makna yang diinginkan oleh penutur.
Contohnya, saat seseorang bertanya "Bang, tiga kali empat, berapa?"
kepada tukang foto, makna lokusinya adalah pertanyaan matematika. Namun,
makna perlokusinya adalah ingin tahu biaya cetak foto ukuran 3x4 cm. Jika
tukang foto memahami ilokusinya dengan benar, dia akan menjawab tentang
biaya, bukan hasil dari tiga kali empat.
Jadi, dalam sebuah ujaran, lokusi, ilokusi, dan perlokusi bisa berbeda, dan
pemahaman yang benar bergantung pada konteks.
I. Makna Kata dan Makna Istilah:
1. Makna Kata bersifat umum dan tidak tetap. Makna kata bisa menjadi jelas jika
digunakan dalam konteks kalimat, tetapi jika lepas dari konteks, maknanya
menjadi kabur. Contohnya, kata tahanan bisa berarti 'orang yang ditahan' atau
'hasil menahan', tergantung penggunaannya dalam kalimat.
10
2. Makna Istilah lebih spesifik dan tetap. Istilah digunakan dalam bidang tertentu,
seperti hukum atau ilmu pengetahuan, sehingga maknanya tidak berubah tanpa
konteks. Misalnya, istilah tahanan dalam hukum berarti 'orang yang ditahan',
sedangkan dalam kelistrikan berarti 'daya yang menahan arus listrik'.
Beberapa istilah, seperti akomodasi atau deposito, telah menjadi bagian
dari bahasa sehari-hari karena frekuensi penggunaannya yang tinggi, dan disebut
istilah umum. Namun, istilah yang jarang digunakan, seperti vektor atau hepatitis,
tetap terbatas dalam penggunaannya.
Selain itu, ada perbedaan makna kata dalam bahasa umum dan sebagai
istilah teknis, misalnya dalam bidang kedokteran, kata tangan dan lengan
memiliki makna berbeda. Kata umum juga dapat dibedakan menjadi kata
bermakna umum (misalnya besar) dan kata bermakna khusus (misalnya agung
atau akbar).
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kajian semantik mencakup berbagai jenis dan kategori makna dalam
bahasa. Pateda menyebutkan 25 jenis makna, sementara Leech membaginya
menjadi tujuh tipe yang beberapa di antaranya masuk dalam kategori makna
asosiatif. Makna dapat dibedakan menjadi beberapa kategori, seperti makna
leksikal dan gramatikal, referensial dan nonreferensial, serta denotatif dan
konotatif.
Makna leksikal berkaitan dengan makna dasar kata, sedangkan makna
gramatikal muncul melalui konteks kalimat. Makna referensial merujuk pada
sesuatu di luar bahasa, sementara nonreferensial tidak. Denotatif mengacu pada
makna literal, dan konotatif melibatkan perasaan atau nilai sosial. Makna kias,
idiomatikal, dan peribahasa juga menambah dimensi figuratif dalam bahasa.
Dalam tindak tutur, makna ujaran dapat dibedakan menjadi lokusi
(makna harfiah), ilokusi (makna yang dipahami pendengar), dan perlokusi
(makna yang diinginkan penutur), yang dapat berbeda tergantung konteks
percakapan.
B. Saran
1. Peningkatan Pemahaman Makna dalam Konteks Semantik Dalam kajian
semantik, penting untuk mendalami perbedaan berbagai jenis makna seperti
makna leksikal, gramatikal, referensial, dan nonreferensial. Hal ini dapat
meningkatkan kemampuan pemahaman makna kata sesuai konteks.
Disarankan untuk memperkaya referensi dan contoh penggunaan setiap
jenis makna untuk lebih memahami perbedaan dan relevansinya dalam
komunikasi sehari-hari maupun bidang spesifik.
11
12
2. Penggunaan Istilah yang Tepat dalam Berbagai Bidang Istilah teknis sering kali
memiliki makna yang lebih spesifik dibandingkan kata umum. Oleh karena itu,
disarankan bagi penutur bahasa untuk lebih memperhatikan penggunaan istilah
dalam bidang yang berbeda, misalnya hukum, kedokteran, dan ilmu
pengetahuan. Pelatihan dan praktik dalam penggunaan istilah teknis dapat
membantu dalam memperjelas maksud dan menghindari kesalahpahaman.
3. Pembelajaran Tentang Makna Asosiatif dan Pengaruh Sosial Budaya Makna
konotatif dan asosiatif sering dipengaruhi oleh norma sosial dan budaya.
Penting untuk memahami bahwa sebuah kata dapat memiliki makna yang
berbeda di kalangan masyarakat yang berbeda. Disarankan untuk mempelajari
hubungan antara bahasa dan budaya guna menghindari kesalahan interpretasi
dan meningkatkan kemampuan komunikasi lintas budaya.
4. Pengembangan Kemampuan Memahami Makna Idiomatikal dan Kiasan
Mengingat bahwa idiom dan makna kias tidak selalu dapat dipahami dari
unsur-unsur kata secara langsung, disarankan untuk mempelajari lebih lanjut
berbagai bentuk idiom dan peribahasa dalam bahasa sehari-hari. Pemahaman
ini akan membantu dalam menginterpretasikan makna tersembunyi dan
menguasai penggunaan bahasa figuratif dalam komunikasi.
5. Pendalaman Tindak Tutur dan Makna Ilokusi/PerlokusiTindak tutur yang
mencakup makna lokusi, ilokusi, dan perlokusi memainkan peran penting
dalam komunikasi. Disarankan untuk mempelajari bagaimana makna yang
ingin disampaikan dapat berbeda dengan makna yang dipahami oleh
pendengar, terutama dalam situasi percakapan. Pemahaman ini akan
meningkatkan kemampuan berkomunikasi secara efektif.
Dengan penerapan saran-saran ini, diharapkan pengguna bahasa dapat
lebih menguasai aspek-aspek semantik, sehingga dapat berkomunikasi dengan
lebih jelas, tepat, dan kontekstual.
DAFTAR PUSTAKA
Chaer,A.(2012).Pengantar Semantik Bahasa Indonesia.Jakarta:Pt Rineka Cipta
Leech,Geoffrey.( 1981)Semantics: The Study of Meaning. London: Penguin Books
Pateda,Mansoer.(2010).Semantik Leksikal.Jakarta:Pt Rineka Cipta
13