0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
272 tayangan12 halaman

Filsafat Plato

Dokumen ini membahas tentang filsafat Plato, termasuk latar belakang, riwayat hidup, dan pemikirannya mengenai ontologi, manusia, serta ajaran etika. Plato, seorang murid Socrates, mengembangkan paham idealisme yang menekankan pentingnya ide dan jiwa dibandingkan dengan materi. Ia mengajarkan bahwa manusia terdiri dari jiwa dan badan, di mana jiwa memiliki kedudukan tertinggi dan tujuan hidup manusia adalah mencapai kebahagiaan melalui pemahaman ide-ide.

Diunggah oleh

ilmiatinhasanah29
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
272 tayangan12 halaman

Filsafat Plato

Dokumen ini membahas tentang filsafat Plato, termasuk latar belakang, riwayat hidup, dan pemikirannya mengenai ontologi, manusia, serta ajaran etika. Plato, seorang murid Socrates, mengembangkan paham idealisme yang menekankan pentingnya ide dan jiwa dibandingkan dengan materi. Ia mengajarkan bahwa manusia terdiri dari jiwa dan badan, di mana jiwa memiliki kedudukan tertinggi dan tujuan hidup manusia adalah mencapai kebahagiaan melalui pemahaman ide-ide.

Diunggah oleh

ilmiatinhasanah29
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Filsafat berkembang pesat pada periode Yunani Klasik dikarenakan minat
orang terhadap filsafat semakin besar. Perkembangan ini berlangsung
berangsur-angsur, meskipun secara relatif berjalan cepat. Meskipun dalam
filsafat terdapat perbedaan pendapat dari pemikir yang satu dengan yang lain,
namun filsafat ini merupakan upaya untuk memahami suatu fenomena.
Disisni kita akan membahas tentag sejarah singkat tokoh Filsuf dan
pemikiranya. Plato merupakan murid dari Socrates, seorang ahli filsuf yang
cukup terkenal dikalangan para filsuf yang mendasarkan pada keyakinan
metafisik bahwa ada eksistensi dari “yang ada” (idea) yang tidak berubah,
tetap dan bersifat umum-universal. Dari suatu “yang ada” tadi kemudian
lahirlah aliran filsafat yang disebut Plato sebagai paham idealisme. Idealisme
adalah sistem filsafat yang menekankan pentingnya keunggulan pikiran, roh,
atau jiwa dari pada hal-hal yang bersifat kebendaan atau material.

1.2 Rumusan Masalah


a. Bagaimana Riwayat Hidup Plato.
b. Bagaimana Ontologi/ Metafisika Plato tentang Realitas, Forma, dan
beberapa contoh yang ada.
c. Bagaimana Manusia Menurut Plato.
d. Apa ajaran nilai Plato dalam kebaikan Universal.

1.3 Tujuan
a. Mengetahui riwayat hidup Plato.
b. Mengetahui Ontologi/ Metafisika Plato tentang Realitas, Forma, dan
beberapa contoh yang ada.
c. Mengetahui pendapat Plato tentang Manusia.
d. Mengetahui ajaran nilai Plato dalam kebaikan Universal.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Riwayat hidup Plato


Plato adalah pengikut Scorates yang taat diantara para
pengikutnya. Ia yang memperkuat pendapat Scorates. Selain terkenal sebagai
ahli fikir ia juga terkenal sebagai sastrawan yang terkenal. Tulisannya sangat
banyak sehingga keterangan tentang dirinya dapat diperoleh secara cukup.1
Ia adalah murid Scorates yang menjadi filsuf terkenal pada masa
klasik, yakni Plato, ia lahir di Athena pada tahun 427 – 327 sebelum Masehi.
Ia meninggal pada usia 80 tahun. Ia menjadi seorang guru filsafat dalam
disuatu sekolah yang bernama Akademia.2
Nama Plato yang asli adalah Aristokles. Plato adalah nama pemberian
dari gurunya. Nama itu diperoleh karena bahunya yang lebar sepadan dengan
bentuk tubuhnya yang tinggi dan tegap raut mukanya, potongan tubuhnya
hingga parasan yang indah. Nama ini menjadi resmi yang diabadikan lewat
karya – karyanya.3
Ia berasal dari keluarga yang turun – temurun memegang politik
penting dinegaranya, ayahnya yang bernama Ariston adalah seorang
bangsawan keturunan Raja Kodrus, Raja Kodrus merupakan raja terakhir
yang hidup pada sekitar 1608 SM yang dikenal sebagai raja yang bijaksana
dalam memimpin Antenna. Ibunya bernama Perictione, adalah keturunan dari
Solon, yang merupakan tokoh legendaries di Athena.

1
Asmoro Achmadi, Filsafat Umum, Fajar Interpratama Mandiri, (Jakarta: Persada, 2014) hlm. 50.
Dalam Karyanya, Apologia. Plato memberikan pembelaan Socrates dipengadilan. Karya-karyanya
yang lain: Kriton, Protagoras, Gorgias, Menon, Kratylos, Symposian, Phaidan, Politea, Phaidros,
dan Politikus. Plato memberikan komentarnya bahwa Socrates adalah seorang yang paling baik,
paling bijaksana, paling jujur, dan merupakan manusia yang paling adil dari seluruh zamanya.
Lihat Endang Daruni, et. al., op. Cit., hlm. 189.
2
Thio Hujibers, Pustaka Filsafat (Bandung 2016) Hhlm. 22.

3
Achmadi Asmoro, Filsafat Umum, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008)
Sebelum ia dewasa ia sudah pandai membuat karangan yang
berasajak. Pada masa itu Plato mendapat didikan dari guru – guru folosofi,
yang bermula didapat dari Kratylos. Pada umur 20 tahun Plato mengikuti
pelajaran sokrates yang memberikan kepuasan bagi dirinya. Semakin hari
pelajaran dari Sokrates semakin mendalam pada dirinya. Ia adalah murid
yang setia pada akhir hidup Sokrates yang tetap menjadi pujaannya. Tidak
lama setelah Sokrates meninggal Plato pergi dari Atena. Itulah perulaannya
mengembara selama 12 tahun yang dimulai sejak tahun 399 SM. Mula – mula
ia pergi ke Megara, dimana ia memperdalam pengetahuannya tentang
matematik pada seorang guru bernama Theodoros. Disana ia juga mengarang
beberapa buku dan mengajarkan tentang filosofi. Kemudian ia pergi ke Italia
Selatan dan terus ke Sirakuasa dipulau Sisiria yang pada waktu itu dipimpin
oleh seorang tyran yang bernama Dionysios yang mengajak Plato untuk
tinggal di istananya. Disitu Plato kenal dengan ipar raja Dionysios yang
masih muda bernama Dion yang pada akhirnya menjadi sahabat karibnya.
Mereka berdua sepakat mempengaruhi Dionysios dengan ajaran filosofinya
agar kehidupan sosialnya jauh lebih baik. Tapi, ajaran plato membuat
Dionysios jemu. Setelah 20 tahun menetap di Akademia, Plato menerima
undangan datang ke Sirakusa dengan nama Dionysios II. Dion berharap plato
dapat mengajarinya tentang kewajiban pemerintah menutut pandangan Plato.
Akhirnya Plato berangkat ke Sirakusa yang disambut oleh raja dengan
gembira, tetapi bagi raja filosofis itu tidak menarik. Akhirnya, muncul fitnah
dan hasutan dalam istana. Akhirnya Dion dibenci oleh raja dan dibuang ke
Sisilia. Kemudian Plato kembali ke Athena, tapi 6 tahun kemudian Plato
ketiga kalinya datang ke Sirakusa, Raja Dionysios II dengan Dion bersusaha
agar Plato kembali ke Sirakusa. Setelah Dionysios meninggal maka digantilah
Dion. Tapi, maksudnya tidak berhasil. Akhirnya Plato kembali ke Athena dan
memusatkan pada Akademia sebagai guru dan pengarang. Plato tidak pernah
menikah dan mempunyai anak.
2.2 Ontologi/ Metafisika Plato tentang Realitas, Forma, dan beberapa contoh
yang ada.
Menurut Plato filsafat sebagai visi tentang kebenaran, dengan
pengatahuan yang nalar (pemikiran sendiri) sebab plato mencintai segala
sesuatu yang indah. Plato menganggap jika orang kebanyakan hanya
memiliki pemikiran sendiri, maka seorang filsufah yang benar-benar memiliki
pengetahuan dan seorang filsuf mempelajari, tentang hakikat bedasarkan
logika (tidak ada campur tangan tuhan).
Ide menurut Plato merupakan inti dasar dari seluruh filsafat. Ia
beranggapan bahwa ide suatu yang objektif dari subjek untuk berpikir. Ide
tidak diciptakan oleh pemikiran individu. Dalam menerangkan ide, Plato
menerangkan dengan dua teori yang mencakup benda jasmani yang disajikan
pancaindra, pandangan filsafat Plato bisa dikatakan lebih menekankan
dimensi spiritual ketimbang intelektual.4
Sebagai titik tolak pemikiran filsafatnya, ia mencoba menyesalkan
permasalahan lama. Mana yang benar antara pengetahuan yang lewat indra
dengan pengetahuan yang lewat akal. Contoh: terdapat banyak segitiga yang
bentuknya berlain-lain menurut pengetahuan indra atau pengetahuan
pengalaman tetapi dalam ide atau pikiran bentuk segitiga tersebut hanya satu
dan tetap. Ide Plato sebagai persoalan yang dihadapi menerangkan bahwa
manusia itu sesungguhnya berada dalam dunia.
Jadi Plato dengan ajaranya tentang ide, berhasil mengemukakan
bahwa ada ajaran dan pemikiran dibandingkan dengan gurunya, Socrates.
Plato telah maju dalam pemikiran- Pemikiran tentang tuhan, Plato
mengemukakan bahwa terdapat beberapa masalah bagi Manusia tidak pantas
apabila tidak mengetahuinya.
Objek Material Epistimologi adalah pengetahuan sedangkan objek
formalnya hakikat pengetahuan. Persoalan-persoalan penting yang dikaji
dalam masalah tersebut, semua pengetahuan hanya dikenal dan ada dalam

4
Zaprulkhan, filsafat umum sebuah pendekatan tematik, Fajar Interpratama Mandiri, (Jakarta:
Persada, 2013) hlm. 16-17
pikiran Manusia, tanpa pikiran pengetahuan tidak akan aktif. Pemikiranya
tentang tuhan, Plato mengemukakan bahwa manusia tidak pantas apabila
tidak mengetahuinya.5
Manusia sanggup memperoleh sedikit pengetahuan tentang ide-ide,
dalam diri manusia masih ingatan akan ide-ide yang tak pernah dipandang
dan ingatan itu dapat dihidupkan kembali sejauh manusia melepaskan diri
dari manusia. Dan kita dapat mengetahui pendapat plato mengenai Manusia.
Karena itu sering dikatakan bahwa plato menganut suatu idealisme mengenai
Manusia.
2.3 Manusia Menurut Plato
Dalam sejarah filsafat Plato ini, pembahasan tentang manusia disebut
Dualisme, yakni ajaran yang mengatakan bahwa dalam diri manusia terdapat
dua makhluk yang hakikatnya sama sekali berlainan yakni jiwa dan badan,
dimana jiwa adalah hakikat rohani (jiwa) yang memiliki kedudukan tertinggi
atas badan (hakikat jasmani).
Plato membagi jiwa menjadi tiga bagian (lebih tepatnya fungsi) yakni
bagian Rasional (dengan keutamaan kebijaksanaan), bagian keberanian
(dengan keutamaan keteguhan hati), dan bagian keinginan (dengan
keutamaan kesederhanaan). Plato melukiskan ketiga bagian tersebut dengan
suatu mite. Jiwa, kata Plato ibarat seorang Sais yang mengendarai dua kuda
bersayap, kuda yang satu mau meleset keatas (bagian keberanian), kuda yang
lain menarik kebawah (bagian nafsu atau keinginan), Sais tadi (bagian
Rasional). Sebenarnya hendak mencapai puncak langit tertinggi dan
menggapai kerajaan ide-ide. Akan tetapi, karena kebinalan kuda yang selalu
mau kebawah mereka kehilangan sayap sayapnya dan akhirnya jatuh ke bumi.

5
Asmoro Achmadi, filsafat umum, Fajar Interpratama Mandiri, (Jakarta: Persada, 2014) hlm. 51-
53
Selain itu, karena pengaruh ajaran Pythagoras,6 Plato juga menerima
pandangannya tentang kebakaan jiwa. Hanya saja Plato menghubungkan hal
ini dengan ajaranya mengenai ide-ide. Maka, kalau jiwa dapat mengenali ide-
ide, tentunya jiwa pun mempunyai sifat-sifat yang sama dengan ide-ide. Dan
kalau ide-ide itu tidak berubah ataupun abadi, jiwa pun juga tidak berubah
dan abadi. Argumen Plato ini mengikuti prinsip yang mempunyai peran besar
dalam dalam filsafat Yunani sejak Empedokles, yakni “yang sama mengenal
yang sama”. Dalam dialok Phaidros, plato memberi argumen lain bahwa jiwa
adalam prinsip prinsip yang menggerakan dirinya sendiri, dan oleh karenanya
juga menggerakkan badan. Menurut Plato fungsi jiwa yang demikian
menuntut kebakaanya.
Berhubungan erat dengan ajaran mengenai kebakaan jiwa adalah
pandangan plato mengenai keberadaan jiwa sebelum dan sesudah kehidupan.
Menurutnya, sebelum berada dalam badan, jiwa sebelum mengalami
kehidupan dimana ia menatap ide-ide.7 Kemudian ia mengalami Inkarnasi dan
masuk kedalam tubuh. Kata Plato “mirip dengan suatu penyakit.” Plato

6
Phytagoras (540-497SM), Phytagoras tidak mencari suatu asas pertama yang dapat ditentukan
oleh pencaindra. Menurutnya, segala sesuatu dapat diterangkan atas dasar bilangan-bilangan. Ia
berpendapat begitu karena menemukan bahwa not-not tangga nada sepadan dengan
perbandingan-perbandingan antara bilangan-bilangan. Jika ternyata sebagian realitas terdiri dari
bilangan-bilangan, mengapa tidak mungkin bahwa segala yang ada pun terdiri dari bilangan-
bilangan juga? Phytagoras dan para muridnya mempunyai jasa besar juga dalam
mengembangkan ilmu pasti. Contohnya adalah apa yang kita sekarang kita sebut dalil
Phytagoras. Dalam pandangannya tentang manusia, Phytagoras terkenal karena ajaranya tentang
pengenbaraan jiwa-jiwa yang di latarbelakangi pendirinya bahwa tubuh dan jiwa itu adalah dua
hal yang terpisahkan secara tajam. Jiwa adalah hakikat sejati manusia yang harus dimurnikan dari
kenajisan tubuh dengan berpantang jenis makanan tertentu, praktek ilmu pengetahuan dan
filsafat. Jiwa tidak dapat mati. Kalau manusia mati, tubuhnya akan membusuk dan hancur , tetapi
jiwanya akan mengembara dan berpindah ketubuh hewan, dan dari hewan nanti ke tumbuh-
tumbuhan, dan seterusnya. Ajaran mengenai Renkarnasi menunjukkan persaudaraan semua
makhluk hidup. Tatkala phytagoras melihat seseorang tengah menyakiti seekor anjing, ia
berteriak dengan rasa tidak tega “Jangan memukul lagi! Sebab, aku mengenali jiwa seorang
rekansewaktu aku mendengar suaranya” (dikutib dari Diels, op. cit., hlm. 18). Tentang
Phytagoras, lihat juga Bertens, op, cit., hlm. 33-39.
7
Itulah sebabnya, berdasarkan ajaran ini¸ Plato berpendapat juga bahwa pengenalan manusia
pada pokokknya tidak lain daripada pengingatan akan ide-ide yang sudah dilihatnya pada waktu
pra-eksistensi. Bila manusia lahir dibumi ini, pengetahuannya tentang ide-ide menjadi kabur.
Meskipun begitu, pengetahuan itu tetap tinggal dalam jiwa dan dapat diingatkan kembali lewat
pencerapan pencaindra. Dengan demikian , Plato menghargai juga pengenalan indriawi. Sebab
pengenalan ini betapa pun maya dan tidak sempurna- dapat mengingatkan kita kepada ide-ide.
mengungkapkan keadaan ini dengan dua kata Yunani, yaitu soma-sema.
Maksudnya badan (Soma) adalah kuburan (Sema) bagi jiwa. Dan tujuan
manusia sesudah kehidupanya di dunia adalah terbebas dari penjara tubuh
agar dapat kembali memasuki keadaan aslinya, yakni kerajaan ide-ide. Untuk
mencapai tujuan tersebut, rasio mempunyai peranan besar. Kalimat terakhir
ini mengantar kita pada ajaran Plato tentang etika, yakni tentang bagaimana
mencapai hidup yang baik.
Bagaimana mencapai hidup yang baik?, Plato memberikan dua
macam ajaran. Pertama ajaran yang ia warisi dari guru kesayangannya yaitu
Sokrates. Plato mengajarrkan hendaknya manusia mencapai hidup yang baik
atau kebahagiaan. Namun, menuruta Plato kebahagiaan tidak akan di capai
kalau manusia hanya sendiri kecuali dalam polis (makhluk sosial atau
makhluk yang hidup dalam Negara).
Kalau begitu, agar dapat mencapai hidup yang baik atau bahagia,
dituntut juga Negara yang baik. Dalam suatu Negara yang buruk warga
negara tidak mampu mencapai hidup yang baik. Namun, juga sebaliknya:
Kalau semua warga Negara hidup buruk, bagaimana mungkin suatu Negarara
bisa bisa menjadi Negara yang baik. Ada pengaruh tibal balik antara hidup
yang baik sebagai individu dan negara yang baik.
Kedua, ajaran yang ia kaitkan dengan hubungan antara jiwa Manusia
dan ide-ide. Seperti yang dikatakan sebelumnya, berkat eros, tujuan manusia
sesudah kehidupanya di dunia adalah terbebas dari penjara tubuh agar dapat
kembali memasuki keadaan aslinya, yakni kerajaan ide-ide. Bagaimana hal
itu dapat dicapai? Itu dapat dicapai kalau jiwa manusia semakin dikuasai akal
budi. Akal budi inilah yang mengatur dan mengarahkan jiwa manusia secara
terus-menerus pada ide. Maka, jika kita ingin mencapai suatu hidup yang
baik, hal pertama yang perlu kita lakukan dengan berfikir rasional serta
membebaskan diri dari berfikir irasional serta kesan-kesan dangkal dan semu
menganai realitas. Hanya dengan demikian, kita akan terarah kepada
kebaikan, dan akhirnya dapat bersatu dengn ide-ide yang baik pula.
Namun, Plato juga berargumen bahwa akal budi itu tidak hanya
mengarahkan manusia kepada “yang baik” (aspek teoretis), ia juga
mendorong jiwa untuk melakukan tindakan (aspek praktis) agar dapat
diangkat kedunia rohani. Jadi, kalau manusia terus-menerus mengerahkan diri
kepada “yang baik” dan bersikap adil untuk mengupayakan kebijaksanaan
sejati, serta bertekat teguh dan mampu menahan diri terhadap jebakan realitas
yang bersifat sementara niscaya ia akan mencapai kebahagiaan kelak.

2.4 Ajaran Nilai Plato Dalam Kebaikan Universal


Plato yang ajarannya lepas dari objek, yang berada di alam idea,
bukan hasil seperti Socrates. Idea itu umum (universal) , tetap dan tidak
berubah. Plato juga berpendapat bahwa selain kebenaran umum itu ada
kebenaran khusus. Contoh idea di alam ini. “Kucing” di alam idea itu
kebenaran umum, “Kucing hitam di rumah saya” kucing tersebut bersifat
khusus.
Dalarn bahasa logika. Konsep “Idea” disebut pengertian. Manusia
sebagai makhluk harus mempunyai pengertian. Agar tahu kita memerlukan
pengertian ialah untuk berilmu. kita lebih lagi rnemerlukan pengertian untuk
berdialog juga harus punya pengertian baik untuk apa yang kita ungkapkan
dengan kata-kata maupun untuk memahami pengertian (rnaksud) orang yang
kita ajak berdialog. Supaya tidak timbul salah pengertian tentang pengertian
( idea) ini. Plato menggunakan kata eidos yang rnemiliki arti gambar.Namun
dalam karyanya, Plato rnengartikan eidos sebagai maksud arti dan
pengertian.
Dalarn dunia filsafat ada juga istilah Iain: Universale jamak dari
Universalia, Artinya “umum” , karena pengertian itu berlaku untuk umum.
lstilah “pengertian” itu bersifat abstrak, sebab itu terus berlaku umum.
Walaupun tidak sama umumnya, tergantung pengabstrakan. (Poedjawijatna
1985: 48-49). Pengertian memang selalu abstrak, tetapi pengertian “manusia”
lebih abstrak daripada pengertian “guru”, artinya pengertian “manusia” lebih
umum daripada pengertian “guru”. sebab semua individu yang masuk jenis
manusia dapat dimasukkan kepada pengertian manusia itu. tetapi tidak
sernuanya dapat dimasukkan kepada pengertian guru (lbid:32).
Pengertian atau ide itu berlaku umum. sedangkan realitas itu berlaku
konkrit. Sebab yang konkrit itu merupakan individu, dan kalau sebagai
individu itu harus berbeda dengan yang lain. Timbul soal, dapatkah
pengertian itu dikatakan benar? Idea itu bersifat umum, sedangkan
kesungguhan atau realitas itu bersifat khusus atau konkrit. Soal yang kedua,
bagaimanakah kiranya manusia dapat mencapai yang umum itu dari yang
konkrit? Jarwabannya: idea itu sedikit banyaknya benar. artinya sesuai
dengan realitas yang ditunjuk. Pendapat yang mengatakan bahwa idea itu
sarna sekali tidak benar, tidak kita utarakan, sebab mereka dalam prinsipnya
sudah rnengingkari adanya idea. Namun manusia pun mempunyai idea. jadi
mempunyai pengetahuan yang umum (kulliyat). Manakah yang sesuai dengan
realitas. Apa yang khusus ataukah yang umum? Menurut Plato kedua-duanya
benar.
lde-ide (ideas. etdos), bentuk-bentuk (forms), atau hal-hal yang
universal selamanya merupakan objek-objek nyata. bukan objek-objek
perantara yang maya dan relatif. Yang dapat dipersepsi dengan panca indera.
Juga merupakan tujuan-tujuan sebagai pola-pola keberadaan dan sebagai
sasaran-sasaran kerinduan (Eros) manusia terhadap nilai-nilai yang lebih
tinggi (M. Sa'id Syaikh. l99l: 20. I48-149: Dick Hartoko. 1986: 8I -82).
Secara epistemologis. Plato rnengakui dua sumber pengetahuan, yakni
yang bersifat inderawi (sense-perception) dan supra inderawi atau nalar
(reflection). Pengetahuan indrrawi bersifat semu (tidak hakiki) dan tidak
pasti, karena alarn empiris hanya copy dari idea yang sempurna. Pengetahuan
yang benar (hakiki) rnenurut Plato adalah pengetahuau yang diperoleh akal
budi dari dunia idea. Namun demikian pengetahuan inderawitetap penting (K.
Bertens. 1978: 108-109).
Plato memakai juga istilah Absolute Beauty (Idea of Beauty) dan
Absolute Good (Idea of Good). Kata “Idea” muncul dari kata “Idealisme”.
Perbedaan antara idealisme subjektif dan objektif. Seorang idealis subjektif
berpendirian bahawa akal, jiwa dan persepsi atau ide-idenya itu segala yang
ada, sedangkan objektif pengalaman yang persepsi yang bukan benda
material.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Plato adalah pengikut Scorates yang taat diantara para
pengikutnya. Ia yang memperkuat pendapat Scorates. Ia adalah murid
Scorates yang menjadi filsuf terkenal pada masa klasik, ia lahir di Athena
pada tahun 427 – 327 sebelum Masehi. Ia meninggal pada usia 80 tahun.
Nama Plato yang asli adalah Aristokles. Ia berasal dari keluarga yang turun –
temurun memegang politik penting dinegaranya.
Menurut Plato filsafat sebagai visi tentang kebenaran, dengan
pengatahuan yang nalar (pemikiran sendiri) sebab plato mencintai segala
sesuatu yang indah. Objek Material Epistimologi adalah pengetahuan
sedangkan objek formalnya hakikat pengetahuan. Persoalan-persoalan
penting yang dikaji dalam masalah tersebut, semua pengetahuan hanya
dikenal dan ada dalam pikiran Manusia.
Dimana pembahasan tentang manusia disebut Dualisme, yakni ajaran
yang mengatakan bahwa dalam diri manusia terdapat dua makhluk yang
hakikatnya sama sekali berlainan yakni jiwa dan badan, dimana jiwa adalah
hakikat rohani (jiwa) yang memiliki kedudukan tertinggi atas badan (hakikat
jasmani). Plato memberi argumen lain bahwa jiwa adalam prinsip-prinsip
yang menggerakan dirinya sendiri, dan oleh karenanya juga menggerakkan
badan. Kalau jiwa dapat mengenali ide-ide, tentunya jiwa pun mempunyai
sifat-sifat yang sama dengan ide-ide. Dan kalau ide-ide itu tidak berubah
ataupun abadi, jiwa pun juga tidak berubah dan abadi.
Dalarn bahasa logika. Konsep “Idea” disebut pengertian. Manusia
sebagai makhluk harus mempunyai pengertian. Dalarn dunia filsafat ada juga
istilah Iain: Universale jamak dari Universalia, Artinya “umum” , karena
pengertian itu berlaku untuk umum. lstilah “pengertian” itu bersifat abstrak,
sebab itu terus berlaku umum. Walaupun tidak sama umumnya, tergantung
pengabstrakan. Plato yang ajarannya lepas dari objek, yang berada di alam
idea, bukan hasil seperti Socrates. Idea itu umum (universal) , tetap dan tidak
berubah. Plato juga berpendapat bahwa selain kebenaran umum itu ada
kebenaran khusus. Contoh idea di alam ini. “Kucing” di alam idea itu
kebenaran umum, “Kucing hitam di rumah saya” kucing tersebut bersifat
khusus.
DAFTAR PUSTAKA

Asmoro Achmadi, Filsafat Umum, Fajar Interpratama Mandiri, (Jakarta: Persada,


2014)
Thio Hujibers, Pustaka Filsafat (Bandung 2016)
Achmadi Asmoro, Filsafat Umum, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008)
Zaprulkhan, filsafat umum sebuah pendekatan tematik, Fajar Interpratama
Mandiri, (Jakarta: Persada, 2013)
dikutib dari Diels, op. cit., hlm. 18. Bertens, op, cit., hlm. 33-39. (Tentang
Phytagoras)
(lbid:32).
M. Sa'id Syaikh. l99l: 20. I48-149: Dick Hartoko. 1986: 8I -82
K. Bertens. 1978: 108-109

Anda mungkin juga menyukai