0% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
538 tayangan12 halaman

Filsafat Socrates

Socrates adalah filosof Yunani abad ke-5 SM yang menentang aliran sofisme. Ia dilahirkan di Athena dan bekerja sebagai pemahat sebelum berfokus pada filsafat. Socrates dikenal karena gaya berfilsafatnya dengan bertanya jawab dan menentang relativisme. Pada akhir hayatnya, ia diadili dan dihukum mati dengan racun karena tuduhan merusak pemuda dan menolak dewa-dewa Athena.

Diunggah oleh

elazamy2000
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
538 tayangan12 halaman

Filsafat Socrates

Socrates adalah filosof Yunani abad ke-5 SM yang menentang aliran sofisme. Ia dilahirkan di Athena dan bekerja sebagai pemahat sebelum berfokus pada filsafat. Socrates dikenal karena gaya berfilsafatnya dengan bertanya jawab dan menentang relativisme. Pada akhir hayatnya, ia diadili dan dihukum mati dengan racun karena tuduhan merusak pemuda dan menolak dewa-dewa Athena.

Diunggah oleh

elazamy2000
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Mata Kuliah Dosen Penganpu

Filsafat Umum Nurul Qomariah, M.Fil.I

TOKOH FILSAFAT
SOCRATES

Disusun Oleh:
Ahmad Rofi’i : 19.01.21.1508

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM AL FALAH


PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDA’IYAH
BANJARBARU
2020
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kehadirat Allah Swt senantiasa saya ucapkan, atas
limpahan rahmat dan karunia serta nikmat-Nya, sehingga saya dapat
menyelesaikan penulisan makalah ini yang berjudul “Pemikiran Pendidikan
Menurut Socrates”.
Penulisan makalah ini merupakan tugas mata kuliah Filsafat Umum
Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtida’iyah, Fakultas Tarbiyah, Sekolah
Tinggi Agama Islam Al Falah Banjarbaru.
Dalam penyelesaian makalah ini, saya banyak mendapat bimbingan dan
pengarahan dari dosen pengampu yaitu ibu Nurul Qomariah, M.Fil.I. Oleh karena
itu, dengan hati yang tulus ikhlas saya menyampaikan ucapan terima kasih kepada
dosen pengampu. Semoga Allah membalas semua kebaikan yang telah diberikan
kepada saya dengan sebaik-baik balasan. Amin ya Robbal Alamin.
Akhirnya saya menyadari akan keterbatasan kemampuan yang dimiliki.
Untuk itu, kritik dan saran yang membangun senantiasa saya harapkan dari
berbagai pihak demi peningkatan kualitas penulisan makalah ini.

Banjarbaru, 25 September 2020

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..............................................................................................i

DAFTAR ISI............................................................................................................ii

BAB I.......................................................................................................................3

PENDAHULUAN...................................................................................................3

A. Latar Belakang..........................................................................................3

B. Rumusan Masalah.....................................................................................4

C. Tujuan........................................................................................................4

BAB II......................................................................................................................5

PEMBAHASAN......................................................................................................5

A. Biografi Socrates.......................................................................................5

B. Pemikiran Socrates....................................................................................6

BAB III..................................................................................................................10

PENUTUP..............................................................................................................10

Simpulan............................................................................................................10

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................11

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Socrates adalah seorang tokoh filosuf Yunani Klasik yang mendobrak
keterbelakangan corak berpikir bangsa Yunani yang cenderung bersikap nihilisme
karena pengaruh filsafat sofistik yang dikembangkan oleh Pyhthagoras dan
Gorgias, sehingga dunia pengetahuan di Yunani mulai mengalami
kemundurankemunduran, kalau pada masa kemajuan Mesir Kuno dan
Mesopotamia bangsa Yunani mengalami kemunduran dalam alam pikiran serta
ilmu pengetahuan karena adanya Mitologimitologi, maka pada zaman Socrates
kemunduran terjadi karena sikap apatis dan zumud dikarenakan akibat adanya
gerakan filsafat sofistik yang cenderung bersikap nihilisme yang merelativitaskan
segala sesuatu.1
Kira-kira selama dua ribu tahun, para filosof membangun fondasi
falsafahnya sehingga mengguncang filsafat dunia barat, para filosof klasik muncul
untuk membangkitkan kembali kepercayaan masyarakat terhadap ilmu
pengetahuan yang waktu itu mengalami pendangkalan dan melemahnya
tanggungjawab manusia karena pengaruh negatif dari para filosof aliran sofisme.2
Socrates hadir dengan memberikan semangat baru dalam pemikiran ilmu
pengetahuan Yunani tentang arti pentingnya kehidupan filsafat yang
mengedepankan kemampuan mengolah akal pikiran dalam dunia ilmu
pengetahuan, yang mana kehadiran socrates dengan semangat barunya itulah
menjadi motivasi kehadiran filosof seperti Plato dan Aristoteles sehingga bangsa
Yunani memasuki fase baru dalam filsafat yakni kemunculan filsafat Klasik.
Socrates adalah seorang yang menjadi batas pengantara atau masa perubahan
antara para filsuf “pra Socrates” dan Filsuf Yunani selanjutnya yang lebih dikenal
orang dengan periode Filsafat Klasik sebagai bentuk periode kebangkitan kedua

1
Fahriansyah, ANTISOFISME SOCRATES, Al ‘Ulum Vol. 61 No.3 Juli 2014,
(Banjarbaru: September 2020), h. 24.
2
Ibid., h. 24.

3
4

bangsa Yunani dalam bidang ilmu pengetahuan yang dimotori oleh para filosuf-
filosuf.3

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana biografi Socrates?
2. Bagaimana pemikiran Socrates?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui biografi Socrates.
2. Untuk mengetahui pemikiran Socrates.

3
Ibid., h. 24.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Biografi Socrates
Socrates hidup dari tahun 470 SM hingga 399 SM. Ia dilahirkan di
Athena. Ayahnya adalah seorang pemahat bernama Sophroniscus dan
ibunya seorang bidan bernama Phaenarete. Setelah ayahnya meninggal
dunia, Socrates menggantikan ayahnya sebagai pemahat. Hingga akhirnya
ia berhenti dari pekerjaan itu dan bekerja dalam lapangan filsafat dengan
dibelanjai oleh seorang penduduk Athena yang kaya.4
Masa Socrates bertepatan dengan masa kaum sofis. Walaupun
begitu, dengan sekuat tenaga Socrates menentang ajaran para sofis. Ia
membela yang benar dan yang baik sebagai nilai objektif yang harus
diterima dan dijunjung tinggi oleh semua orang. Socrates merupakan
contoh istimewa dan selaku filosof yang jujur juga berani, berkepribadian
yang sabar, rendah hati, baik dan adil yang selalu menyatakan dirinya
bodoh. Badannya tidak gagah sebagai biasanya sebagai penduduk Athena.
Meskipun dia orang yang berilmu, tapi dia dalam memilih orang yang jadi
istri bukan dari golongan orang baik-baik dan pandai. Istrinya bernama
Xantipe yang terkenal akan kejudesannya (galak dan keras). Cara
penyampaian ilmu atau filsafatnya dilakukan secara tanya jawab, sehingga
memperoleh banyak simpati.5
Masa-masa buruknya hubungan Athena dan Sparta terjadi antara
tahun 421 dan 416 SM. Salah seorang murid Socrates menyebabkan
Athena kalah di Syracuse 413 SM. Kubu Socrates semakin kuat, orang
sofis sudah semakin kehabisan pengikut. Ajaran bahwa kebenaran itu
relatif semakin ditinggalkan, semakin tidak laku, orang sofis kalap, lalu
menuduh Socrates merusak mental pemuda dan menolak Tuhan-Tuhan,
hal ini terjadi pada tahun 399 SM. Walaupun demikian, Kierkegaard yang

4
Ibid., h. 24.
5
Ibid., h. 24-25.

5
6

merupakan Bapak Eksistensialisme Moderen mengagumi Socrates bahkan


filsafat Socrates dijadikan model filsafatnya. Karena socrates secara
konstan menentang orang-orang sofis pada zaman itu.6
Untuk pembuktian hal itu Socrates diadili oleh pengadilan Athena.
Plato menulis sebuah pidato berjudul Apologia untuk membela Socrates.
Dan mengisahkan adanya tuduhan bahwa socrates tidak hanya menentang
agama yang diakui oleh Negara, dan mengajarkan agama baru buatannya
sendiri. Melethus seorang pendakwa juga mengatakan bahwa Socrates
tidak bertuhan menambahkan bahwa Socrates mengatakan matahari adalah
batu dan bulan adalah tanah. Sehingga, Socrates dinyatakan bersalah dan
dituntut hukuman mati dengan mayoritas 60 suara, 280 melawan 220
(281 melawan 220 menurut Hassan, dan 200 melawan 220 menurut
Ahmad Syadali. Selama socrates di dalam penjara ia masih dapat berbicara
dengan sahabatnya. Kriton ialah sahabat socrates yang mengusulkan
Socrates melarikan diri, tetapi Socrates menolak. Dan pada waktu
senja dengan tenang Socrates meminum racun, dikelilingi oleh para
sahabatnya. Sekalipun Socrates mati, ajarannya tersebar justru dengan
cepat karena kematiannya itu. Orang mulai mempercayai adanya
kebenaran umum. Plato membuat pidato berjudul phaidon, ia
menceritakan percakapan Socrates dengan dengan para muridnya pada
hari terakhir hidupnya, dan melukiskan Socrates pada suatu senja dengan
tenang meminum racun, dikelilingi oleh para sahabatnya.7

B. Pemikiran Socrates
Kemunculan Sokrates terlebih dulu di dahului oleh kemunculan
kaum sofis. Sokrates hadir dalam rangka menjawab apa yang telah mapan
dalam konstruksi pemikiran kaum Sofis. Kaum Sofis sejak zaman Yunani
Kuno sudah tidak baik. Dengan kehebatan mereka dalam berargumentasi,
kaum Sofis dianggap sering menghalalkan segala cara untuk
memenangkan perkara agar mendapatkan simpati masa-tujuannya
6
Ibid., h. 25.
7
Ibid., h. 25.
7

akhirnya uang. Keberadaan kaum sofis dalam sejarah filsafat memiliki arti
penting. kaum Sofis menjadikan manusia sebagai pusat pemikiran
filsafatnya. Pandangan relativisme kaum Sofis mengatakan bahwa tidak
ada pengenalan pun yang bersifat absolut atau objektif. Akibat dari paham
yang demikian, maka ukuran kebenaran menjadi relatif dan subjektif.
Maka dari itu sangat tidak mungkin kemunculan Socrates dipisahkan dari
kehadiran kaum Sofis.8
Socrates adalah orang yang juga menguasai seni berargumentasi
seperti kaum Sofis, ia mempertanyakan pandangan-pandangan tradisional
mengenai moralitas. Sokrates tampil sebagai upaya untuk memberikan
sebuah jawaban atas pandangan kaum Sofis. Dalam kaitannya dengan
kaum Sofis, sebenarnya kalau kita melihatnya secara sepintas antara
Socrates dengan kaum Sofis tidak memiliki banyak perbedaan. Sama
dengan kaum Sofis, Sokrates memulai filsafatnya dengan bertolak dari
pengalaman sehari-hari. Menurut Sokrates di dunia ini ada kebenaran yang
bersifat objektif, di mana kebenaran itu tidak bergantung pada saya atau
kita. Dan untuk membuktikan adanya kebenaran yang objektif, Sokrates
menggunakan metode tertentu. Metode tersebut kita kenal dengan metode
dialektika dari kata kerja Yunani yang berarti bercakap-cakap atau
berdialog. Metode Sokrates ini dikatakan sebagai metode dialektika karena
memiliki peranan penting di dalamnya. Di dalam metode itu terdapat dua
penemuan, kedua-duanya menyangkut berkenaan dengan dasar
pengetahuan. Yang pertama ia menemukan induksi dan yang kedua ia
menemukan definisi.9
Dengan definisi Socrates dapat membuktikan kepada kaum Sofis
bahwa pengetahuan yang umum ada, yaitu definisi itu. Dalam hal ini kaum
Sofis tidak seluruhnya benar: yang benar ialah sebagian pengetahuan

8
Mahfud, Patsun, Mengenal Filsafat Antara Metode Praktik dan Pemikiran Socrates,
Plato dan Aristoteles, CENDEKIA : Jurnal Studi Keislaman, Volume 5, Nomor 1, Juni 2019,
(Banjarbaru: September 2020), h. 130-131.
9
Ibid., h. 131.
8

bersifat umum dan sebagian bersifat khusus; yang khusus itulah


pengetahuan yang kebenarannya relatif.10
Sebagai contoh: Apakah kursi itu? Kita menemukan kursi hakim,
ada tempat duduk dan sandaran, kakinya empat, dari bahan jati; kita lihat
kursi malas, ada tempat duduk dan sandaran, kakinya dua, dari rotan; kita
lihat kursi makan, ada tempat duduk dan sandaran, kakinya tiga, dari besi;
begitulah seterusnya. Jadi ada dua hal yang selalu ada pada tiap kursi
tempat duduk dan sandaran. Maka semua orang sepakat bahwa kursi
adalah suatu benda yang memiliki tempat duduk dan sandaran. Ciri-ciri
yang lain tidak dimiliki oleh semua kursi tadi, berarti ini merupakan
kebenaran yang objektif-umum, tidak subjektif-relatif. Mengenai kaki,
bahan merupakan kebenaran yang relatif. Jadi, memang ada pengetahuan
yang umum, itulah defenisi. Dengan mengajukan defenisi Socratres
tersebut mengakibatkan berhentinya laju dominasi relatifisme kaum sofis.
Sehingga pengikut Socrates menjadi lebih dominan dibandingkan pengikut
kaum sofis. Plato memperkokoh tesis socrates itu dengan mengatakan
bahwa kebenaran umum itu telah ada di alam idea tanpa harus melakukan
induksi.11
Gerakan pendidikan yang dilakukan oleh Socrates yang dikenal
dengan Metode Socratic: gnoti seauton, maieutica-technic, dan dialektika.
Socrates menyumbangkan teknik kebidanan (maieutika tekhnic) dalam
berfilsafat. Bertolak dari pengalaman konkrit, melalui dialog seseorang
diajak Socrates (sebagai sang bidan) untuk "melahirkan" pengetahuan
akan kebenaran yang dikandung dalam batin orang itu. Dengan demikian
Socrates meletakkan dasar bagi pendekatan deduktif. Pemikiran Socrates
dibukukan oleh Plato, muridnya. Hidup pada masa yang sama dengan
mereka yang menamakan diri sebagai "sophis" ("yang bijaksana dan
berapengetahuan"), Socrates lebih berminat pada masalah manusia dan
tempatnya dalam masyarakat, dan bukan pada kekuatan-kekuatan yang ada
10
Ibid., h. 131.
11
Op.Cid., h. 24.
9

dibalik alam raya ini (para dewa-dewi mitologi Yunani). Seperti


diungkapkan oleh Cicero kemudian, Socrates "menurunkan filsafat dari
langit, mengantarkannya ke kota-kota, memperkenalkannya ke rumah-
rumah". Karena itu dia didakwa "memperkenalkan dewa-dewi baru, dan
merusak kaum muda" dan dibawa ke pengadilan kota Athena. Dengan
mayoritas tipis, juri 500 orang menyatakan ia bersalah. Ia sesungguhnya
dapat menyelamatkan nyawanya dengan meninggalkan kota Athena,
namun setia pada hati nuraninya ia memilih meminum racun cemara di
hadapan banyak orang untuk mengakhiri hidupnya.12
Socrates mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sengaja
dimaksud untuk membingungkan orang-orang itu. Karena jawaban-
jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu menjadi saling bertentangan,
sehingga para penjawab ditertawakan orang banyak.13
Metode ini oleh Socrates disebut metode ironi (eironeia). Segi
positif dari metode ini terletak dalam usahanya untuk mengupas kebenaran
dari kulit “pengetahuan semu” orang-orang itu. Cara pengajaran Socrates
pada umumnya disebut dialektika, karena di dalam pengajaran itu dialog
memegang peranan penting. Sebutan yang lain ialah maieutika, dan dari
metode pengajaran inilah melahirkan filosuf-filosuf terkenal Yunani
dikemudian hari yang salah satunya adalah Plato.14

12
Ibid., h. 24.
13
Ibid., h. 24.
14
Ibid., h. 24.
BAB III
PENUTUP
Simpulan
Socrates dilahirkan pada tahun 470 SM, berada di tengah-tengah
keruntuhan imperium Athena. Ia adalah anak seorang pemahat Sophroniscos dan
ibunya bernama Phairnarete yang pekerjaannya seorang bidan. Socrates
meninggal pada tahun 399 SM karena meminum racun. Usia beliau sewaktu
meninggal dunia lebih kurang 70 tahun.
Pemikiran filsafat Socrates sebagai suatu reaksi dan kritik terhadap
pemikiran kaum Sofis. Socrates mengarahkan perhatiannya kepada manusia
sebagai obyek pemikiran filsafatnya. Dalam mengajarkan ilmu kepada muridnya
dan untuk menghadapi kaum Sofis, Socrates menggunakan metode dialektik-
kritis. Sedangkan sikap kritis berarti Socrates tidak mau menerima begitu saja
sesuatu pengertian sebelum dilakukan pengujian untuk membuktikan benar atau
salahnya. Oleh karena itu, Socrates selalu meminta penjelasan tentang sesuatu
pengertian dari orang yang dianggapnya ahli dalam bidang tersebut.

10
DAFTAR PUSTAKA
Fahriansyah, ANTISOFISME SOCRATES, Al ‘Ulum Vol.61 No.3 Juli 2014,
(Banjarbaru: September 2020)
Patsun, Mahfud, Mengenal Filsafat Antara Metode Praktik dan Pemikiran
Socrates, Plato dan Aristoteles, CENDEKIA : Jurnal Studi Keislaman,
Volume 5, Nomor 1, Juni 2019, (Banjarbaru: September 2020)

11

Common questions

Didukung oleh AI

Socrates significantly influenced classical Greek thought by introducing a method of inquiry based on dialogue and reason, known as the Socratic Method. His focus on ethics and the pursuit of virtue opened new avenues in philosophical inquiry, particularly the examination of moral concepts. Plato, Socrates' student, took his mentor's legacy and further developed these ideas, establishing the theory of forms and laying the foundation for Western philosophy. Aristotle, Plato's student, expanded on these philosophical traditions by systematizing logic and emphasizing empirical observation. Thus, Socrates' emphasis on dialectical reasoning and ethical inquiry provided a philosophical legacy that both Plato and Aristotle built upon, shaping Western intellectual history .

Socrates emerged in opposition to the Sophists during a time when Greek thought was influenced by their relativistic and often nihilistic views, which denied objective truth and moral absolutes. The Sophists, like Protagoras and Gorgias, championed the idea that truth was subjective and could be manipulated. This led to a decline in ethical standards and responsibility. Socrates, unlike the Sophists, believed in objective truths and universal moral values, which he sought to reveal through his dialectical method. His opposition was grounded in a desire to move away from subjective relativism to a more definitive understanding of virtue and knowledge .

Socrates' trial exemplifies the tension between individual conscience and state authority, as his teachings challenged the societal norms and authority figures of Athens. Accused of corrupting the youth and introducing new deities, Socrates defended his pursuit of truth and moral questioning as a virtuous endeavor. His trial highlighted the conflict between Socrates' philosophical commitments and the state's demand for conformity. By ultimately choosing to face execution rather than abandon his principles, Socrates underscored the struggle between personal integrity and governmental power, demonstrating the complexities inherent in navigating ethical autonomy within a structured society .

Socrates' use of irony was a significant aspect of his teaching methodology, primarily through what has been termed the Socratic irony. This involved pretending ignorance or feigned naivety to get others to explicate their ideas more fully. By doing so, Socrates led his interlocutors to examine their beliefs critically, often revealing contradictions and ignorance in their thoughts. The irony served to deflate pretensions and prompt deeper reflection, effectively peeling away false knowledge and leading to genuine insight. This strategy distinguished Socratic dialogue from mere argumentative discourse, encouraging a sincere pursuit of truth and understanding .

Socrates' educational approach, characterized by dialogue and critical questioning, fundamentally influenced the study and practice of philosophy in ancient Greece. Through the Socratic method, he emphasized seeking truth and knowledge through active engagement and rigorous inquiry, challenging students to think deeply and critically about fundamental issues. This approach laid the groundwork for the academies of Plato and later Aristotle, where structured philosophical dialogue played a central role in teaching. Socrates’ methods fostered an environment of intellectual debate and continual questioning, integral to the evolution of philosophical thought in Greece .

Socrates played a pivotal role in the philosophical transition from the pre-Socratic focus on cosmology to ethics. His approach shifted attention from the natural world and its processes to human behavior, ethics, and moral philosophy. By questioning what constituted a good life and the nature of justice, Socrates redirected philosophical inquiry to address the challenges and responsibilities of human existence. This transition marked a shift toward exploring the subjective experience and societal values, laying the foundation for subsequent philosophers like Plato and Aristotle to further develop ethical and political theory, thereby redefining the course of Western philosophy .

Socrates' primary methodological approach was the dialectical method, involving structured dialogue and questioning to examine moral concepts and truths. This method was intended to stimulate critical thinking and uncover assumptions, leading to the discovery of objective truths. In contrast, the Sophists used rhetoric and sophisticated argumentation to persuade and win debates, often without regard for the objective truth, focusing instead on the relativity of truth and moral values. Socrates' approach was inherently philosophical, aiming for genuine understanding, while the Sophists were more pragmatic, emphasizing success in discourse and the fluid nature of truth .

Socrates chose to accept his death sentence instead of escaping from prison because he believed in the supremacy of law and justice, emphasizing the importance of upholding one's principles. He argued that escaping would contradict his lifelong dedication to living virtuously and demonstrating integrity. Socrates viewed adherence to the social contract and respecting the laws of Athens as fundamental, even if they resulted in an unjust verdict. His acceptance of death was a testament to his commitment to these ideals and provided a powerful lesson in ethical consistency, showing that principles should not be compromised even in the face of personal harm .

The trial and subsequent death of Socrates had a profound impact on the perception of his philosophy in Athens. Although he was condemned for corrupting the youth and introducing new deities, his calm acceptance of the death sentence and adherence to his principles left a lasting impression. His execution aroused sympathy and admiration among his followers and some in the Athenian society. Socrates' death underscored the very virtues he preached, such as the pursuit of truth and integrity, leading to an increased interest in his methods and teachings. This, in turn, helped to cement his legacy and influence Plato, his student, to preserve and expand on his teachings .

Socrates prioritized the discussion of ethics because he believed understanding and practicing virtue was paramount to individual and societal well-being. His focus on human behavior and morality stemmed from a conviction that philosophical inquiry should directly impact daily life and contribute to the betterment of society. Unlike his predecessors and some contemporaries who examined the natural world and metaphysical questions, Socrates was more interested in how people should live and what constituted a good life. His method of constant questioning sought to define ethical concepts like justice, courage, and wisdom, aspects that he believed were vital for a harmonious life .

Anda mungkin juga menyukai