Anda di halaman 1dari 11

Obligasi Syariah ( Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Lembaga Keuangan Syariah Non Bank

) Dosen : Dr. Hendra Kholid. M.A. Disusun oleh : Brilyan Rahmat S. (207046100058) Muhammad Riyadoh. (207046100243) Jepriansyah ( 207046100073 ) PS / IV A Non Reguler PROGRAM STUDI MUAMALAT JURUSAN PERBANKAN SYARIAH FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2009 Kata Pengantar Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas izin dan rahmatNya, maka makalah yang berjudul Obligasi Syariah dapat terselesaikan. Makalah ini dibuat dengan tujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Lembaga Keuangan Syariah non Bank semester genap. Pemakalah mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu tersusunnya makalah ini baik secara langsung maupun tidak langsung. Terima kasih kepada Bapak Hendra Kholid yang telah memberikan arahan dan nasehatnya. Terima kasih kepada teman-teman yang secara tidak langsung memotivasi agar terselesaikannya makalah ini. Kami sadar bahwa masih banyak kekurangan yang terdapat dalam makalah ini. Oleh karena itu, kami mohon maaf apabila terdapat banyak kesalahan. Karena itulah kami menerima kritik serta saran yang bersifat membangun dari pembaca. Besar harapan kami, semoga makalah ini dapat membantu dan bermanfaat bagi pembaca. Jakarta, Mei 2009

Pemakalah Daftar Isi Kata Pengantar ..2 Daftar Isi ...3 Pendahuluan..4 Bab Pembahasan ..5-12 Bab Lampiran13-14 Penutup .15 Daftar Pustaka16 Bab Pendahuluan I. 1. Latar Belakang Wacana penerbitan sukuk atau obligasi negara syariah sudah banyak dibicarakan dalam 2 tahun terakhir, walaupun pembicaraan tentang hal ini telah dimulai dari tahun 2003.Sukuk atau obligasi syariah merupakan instrument keuangan di pasar modal yang saat ini mengalami perkembangannya sangat pesat di dunia. Pesatnya perkembangan sukuk saat ini karena tingginya likuiditas di Timur Tengah yang disebabkan booming minyak bumi dan meningkatnya kesadaran akan investasi yang tidak sekedar mendapatkan return tetapi tetapi juga nilai sosial. Namun Indonesia yang mempunyai potensi pasar sangat besar terhadap perkembangan sukuk di dunia hanya mendapatkan pangsa pasar sangat kecil. Lambatnya perkembangan sukuk di Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu pendeknya jangka waktu sukuk dan inovasi produk yang rendah, kedua model valuasi sukuk terhadap return yang belum sempurna sehingga masih kalah bersaing dengan obligasi konvensional, ketiga adalah buruknya iklim investasi di Indonesia. Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan kerjasama antara pemerintah, Dewan Syariah Nasional dan akademisi. Untuk lebih memahami sukuk, akan dijelaskan dalam makalah ini. I. 2. Tujuan Makalah ini dibuat dengan tujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Lembaga Keuangan Syariah non Bank semester genap. Tujuan lainnya yaitu untuk memperoleh informasi, dan menambah ilmu pengetahuan khususnya dibidang Ekonomi Islam. .

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian dan Dasar Hukum Obligasi Syariah / Sukuk Menurut fatwa yang dikeluarkan oleh Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI). Yaitu, fatwa No.32/DSN-MUI/IX/2002 tentang Obligasi syariah. Dalam fatwa tersebut dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan obligasi syariah adalah suatu surat berharga jangka panjang berdasarkan prinsip syariah yang dikeluarkan Emiten kepada pemegang obligasi syariah yang mewajibkan emiten untuk membayar pendapatan pada pemegang obligasi syariah berupa bagi hasil serta membayar kembali dana obligasi pada saat jatuh tempo.1 Sementara pendapatan investasi yang dibagikan emiten kepada pemegang obligasi syariah harus bersih dari unsur nonhalal. Mengenai bagi hasil (nisbah) antara emiten dan pemegang obligasi syariah, diatur bahwa nisbah keuntungan dalam obligasi syariah mudharabah ditentukan sesuai kesepakatan dengan ketentuan pada saat jatuh tempo, akan diperhitungkan secara keseluruhan. B. Sejarah Sukuk Sesungguhnya, sukuk / obligasi syariah ini bukan merupakan istilah yang baru dalam sejarah Islam. Istilah tersebut sudah dikenal sejak abad pertengahan, dimana umat Islam menggunakannya dalam konteks perdagangan internasional. Sukuk merupakan bentuk jamak dari kata sakk. Ia dipergunakan oleh para pedagang pada masa itu sebagai dokumen yang menunjukkan kewajiban finansial yang timbul dari usaha perdagangan dan aktivitas komersial lainnya. Namun demikian, sejumlah penulis Barat yang memiliki concern terhadap sejarah Islam dan bangsa Arab, menyatakan bahwa sakk inilah yang menjadi akar kata cheque dalam bahasa latin, yang saat ini telah menjadi sesuatu yang lazim dipergunakan dalam transaksi dunia perbankan kontemporer. Dalam perkembangannya, the Islamic Jurispudence Council (IJC) kemudian mengeluarkan fatwa yang mendukung berkembangnya sukuk. Bahwa kombinasi asset tertentu dapat diwakili dalam bentuk instrument pembiayaan tertulis yang dapat dijual pada harga pasar dengan ketentuan bahwa komposisi kelompok asset yang diwakili oleh sukuk mayoritas terdiri dari asetyang tangiable. Hal tersebut mendorong Otoritas Moneter Bahrain (BMA Bahrain Monetary Agency) untuk meluncurkan sukuk salam berjangka waktu 91 hari dengan nilai 25 juta dolar AS pada tahun 2001. Kemudian Malaysia pada tahun yang sama meluncurkan global corporate Sukuk di pasar keuangan Islam internasional. Inilah sukuk global yang pertama kali muncul di pasar internasional. Di Indonesia Penerbitan obligasi syariah pertama di Indonesia dilakukan oleh PT Indosat Tbk berbarengan dengan penerbitan obligasi konvensional II Indosat pada tahun 2002. Nilai kedua obligasi yang akan diterbitkan adalah Rp1 triliun. Perinciannya, obligasi konvensional senilai Rp900 miliar dan obligasi syariah senilai Rp100 miliar dan berjangka waktu lima tahun. Dasar pertimbangan yang digunakan oleh Indosat dalam menerbitkan obligasi syariah senilai Rp100 miliar karena obligasi syariah ini baru pertama kali diterbitkan dan belum pernah ada sebelumnya.

Secara umum, jenis obligasi di Indonesia adalah : Obligasi Rekap yaitu obligasi yang diterbitkan untuk rekapitulasi perbankan. Surat utang Negara ( SUN ) yaitu obligasi yang diterbitkan untuk membiayai defisit APBN. Obligasi Ritel yaitu sama dengan SUN, hanya saja nilai nominalnya diperkecil agar investor menengah kebawah dapat membelinya. Obligasi Sukuk yaitu surat berharga dengan prinsip syariah. Fatwa DSN No.32/DSN-MUI/IX/2002. Keberadaan sukuk sangat dibutuhkan oleh pemerintah maupun institusi bisnis. Bagi institusi bisnis sukuk dapat digunakan sebagai penyeimbang dari neraca keuangan, sedangkan bagi pemerintah adalah: Memperluas basis sumber pembiayaan anggaran negara; memperkaya instrumen pembiayaan fiskal. memperluas dan mendiversifikasi basis investor SBN. Mendorong pertumbuhan dan pengembangan pasar keuangan syariah di dalam negeri; mengembangkan alternatif instrumen investasi. menciptakan benchmark di pasar keuangan syariah. Mengoptimalkan pemanfaatan Barang Milik Negara dan mendorong tertib administrasi pengelolaan Barang Milik Negara. C. Prinsip Transaksi, Aplikasi dan Penerbitan Obligasi Syariah Prinsip utama dalam transaksi obligasi syariah pada prinsipnya sama dengan penerbitan obligasi konvensional pada umumnya. Hanya saja dalam obligasi syariah, tentunya harus mengacu kepada AlQuran dan Hadist serta ilmu fiqh. Hal serupa juga terjadi dalam penerbitan saham yang berbasis pada Jakarta Islamic Index (JII) dan reksadana syariah serta perbankan syariah. Selain itu juga, untuk menerbitkan obligasi syariah harus memenuhu syarat sebagai berikut: Jenis usaha yang dilakukan oleh emiten tidak bertentangan dengan syariah, sesuai dengan fatwa No. 20/DSN-MUI/IV/2001, tentang jenis usaha sesuai syariah. Memiliki fundamental dan citra yang baik. Jika keuntungan perusahaan sudah ada di komponen Jakarta Islamic Index( JII). Dalam penerbitan obligasi syariah, sebelum ditawarkan kepada investor harus melalui tahap-tahap sebagai berikut:2 Emiten melalui Underwriter menyerahkan proposal penerbitan obligasi syariah kepada DSN/MUI.

Pihak penerbit melakukan presentasi proposal di Badan pelaksana Harian DSN. DSN mengadakan rapat dengan tim ahli DPS, dan hasil rapat menyatakan opini syarian terkait proposal yang diajukan. 1 2 3 Setelah disetujui oleh DSN, maka proses penawarannya sebagai berikut :3 Emiten menyerahkan dokumen yang diperlukan untuk penerbitan obligasi syariah kepada underwriter (wakil dari emiten). Underwriter melakukan penawaran kepada investor. Bila investor tertarik, maka akan menyerahkan dananya kepada emiten melalui Underwriter. Emiten akan membayarkan bagi hasil dan pembayaran pokok kepada investor. Dokumen Penawaran Dalam hal pengawasan penerbitan obligasi syariah. Pengawasannya dilakukan oleh Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam), untuk produk pasar modal syariah, terdapat satu pengawas lain yang mengawasi aspek syariahnya, yaitu DSN. Pengawasan aspek syariah berfokus pada penggunaan dana yang didapat dari penerbitan obligasi syariah. Apakah dana tersebut benar-benar digunakan untuk usaha-usaha yang telah dijanjikan dalam perjanjian antara emiten dengan pemegang obligasi atau tidak, serta halal atau tidaknya. Jika ternyata dana hasil penerbitan obligasi tersebut digunakan untuk hal-hal di luar usaha yang telah diperjanjiakan, maka itu termasuk pengingkaran perjanjian dan menyalahi tujuan. D. Jenis-Jenis Obligasi Syariah Obligasi syariah dapat diterbitkan dengan menggunakan prinsip mudharabah, musyarakah, ijarah, istisna, salam, dan murabahah. Tetapi diantara prinsip-prinsip instrumen obligasi ini yang paling banyak dipergunakan adalah obligasi dengan insturmen prinsip mudharabah dan ijarah.

1. Obligasi Mudharabah

Obligasi syariah mudharabah adalah obligasi syariah yang mengunakan akad mudahrabah. Akad mudharabah adalah akad kerjasama antara pemilik modal (shahibul maal/ investor) dengan pengelola

(mudharib / emiten). Ikatan atau akad mudahrabah pada hakikatnya adalah ikatan penggabungan atau percampuran berupa hubungan kerjasama antara pemilik usaha dengan pemilik harta, dimana pemilik harta (shahibul maal) hanya menyediakan dana secara penuh (100%) dalam suatu kegiatan usaha dan tidak boleh secara aktif dalam pengelolaan usaha. Sedangkan pemilik usaha (mudharib / emiten) memberikan jasa, yaitu mengelola harta secara penuh dan mandiri (directionery) dalam bentuk aset pada kegiatan usaha tersebut.

Dalam Fatwa No. 33 / DSN-MUI / X / 2002 tentang obligasi syariah mudharabah, dinyatakan antara lain bahwa:

Obligasi syariah adalah suatu surat berharga jangka panjang berdasarkan prinsip syariah yang dikeluarkan emiten kepada pemegang obligasi syariah yang mewajibkan emiten untuk membayar pendapatan kepada pemegang obligasi syariah merupakan bagi ahsil, margin atau fee serta membayar dana obligasi pada saat obligasi jatuh tempo. Obligasi syariah mudharabah adalah obligasi syariah yang berdasarkan akad mudarabah dengan memperhatikan substansi fatwa DSN-MUI No. 7 / DSN-MUI / IV / 2000 tentang Pembiayaan Mudharabah. Obligasi mudharabah emiten bertindak sebagai mudharib (pengelola modal), sedangkan pemegang obligasi mudharabah bertindak sebagai shahibul maal (pemodal). Jenis usaha emiten tidak boleh bertentangan dengan prinsip syariah. Nisbah keuntungan dinyatakan dalam akad. Apabila emiten lalai atau melanggar perjanjian, emiten wajib menjamin pengambilan dana dan pemodal dapat meminta emiten membuat surat pengakuan utang. Kepemilikan obligasi syariah dapat dipindahtangankan selama disepakati dalam akad.

2. Obligasi Ijarah

Obligasi Ijarah adalah obligasi syariah berdasarkan akad ijarah. Akad ijarah adalah suatu jenis akad untuk mengambil manfaat dengan jalan penggantian. Artinya, pemilik harta memberikan hak untuk memanfaatkan objek yang ditransaksikan melalui penguasaan sementara atau peminjaman objek dengan manfaat tertentu dengan membayar imbalan kepada pemilik objek. Ijarah mirip dengan leasing, tetapi tidak sepenuhnya sama. Dalam akad ijarah disertai dengan adanya perpindahan manfaat tetapi tidak terjadi perpindahan kepemilikan. Ketentuan akad ijarah sebagai berikut :

Objeknya dapat berupa barang (harta fisik yang bergerak, tak bergerak, harta perdagangan) maupun berupa jasa. Manfaat dari objek dan nilai manfaat tersebut diketahui dan disepakati oleh kedua belah pihak. Ruang lingkup dan jangka waktu pemakaiannya harus dinyatakan secara spesifik. Penyewa harus membagi hasil manfaat yang diperolehnya dalam bentuk imbalan atau sewa / upah. Pemakai manfaat (penyewa) harus menjaga objek agar manfaat yang diberikan oleh objek tetap terjaga. Pembeli sewa haruslah pemilik mutlak.

Secara teknis, obligasi ijarah dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:

Investor dapat bertindak sebagai penyewa (mustajir). Sedangkan emiten dapat bertindak sebagai wakil investor. Dan investor, dapat bertindak sebagai orang yang menyewakan (mujir). Dengan demikian, ada dua kali transaksi dalam hal ini; transaksi pertama terjadi antara investor dengan emiten, dimana investor mewakilkan dirinya kepada emiten dengan akad wakalah, untuk melakukan transaksi sewa menyewa dengan property owner dengan akad ijarah. Selanjutnya, transaksi terjadi antara emiten (sebagai wakil investor) dengan property owner (sebagai orang yang menyewakan) untuk melakukan transaksi sewa menyewa (ijarah). Setelah investor memperoleh hak sewa, maka investor menyewakan kembali objek sewa tersebut kepada emiten. Atas dasar transaksi sewa menyewa tersebut, maka diterbitkanlah surat berharga jangka panjang (obligasi syariah ijarah), dimana atas penerbitan obligasi tersebut, emiten waib membayar pendapatn kepada investor berupa fee serta membayar kembali dana obligasi pada saat jatuh tempo.

Sebagai contoh transaksi obligasi ijarah adalah pemegang obligasi memberi dana kepada suatu perusahaan untuk menyewa sebuah ruangan guna keperluan ekspansi. Yang mempunyai hak manfaat atas sewa ruangan adalah pemegang obligasi, tetapi ia menyewakan / mengijarahkan kembali kepada perusahaan itu. Jadi perusahaan harus membayar kepada pemegang obligasi sejumlah dana obligasi yang dikeluarkan ditambah return sewa yang telah disepakati. Obligasi ijarah lebih diminati oleh investor, karena pendapatannya bersifat tetap. Terutama investor yang paradigmanya masih konvensional konservatif dan lebih menyukai fixed income. E. Prospek, Kendala dan Strategi Pengembangannya.

Menyinggung soal prospek produk ekonomi berlabel syariah ini, khususnya obligasi syariah. Para pakar meramal akan ada permintaan yang kuat dari masyarakat akan produk-produk berlabel syariah yang lebih variatif di kemudian hari. Namun, tetap harus mengatasi kendala-kendala yang ada terlebih dahulu. Kendala dalam pengembangan obligasi syariah diantaranya sebagai berikut : Belum banyak masyarakat yang paham tentang keberadaan obligasi syariah, apalagi sistem yang digunakannya. Masyarakat dalam menyimpan dananya cenderung didasarkan atas pertimbangan pragmatis. Hal ini yang menjadikan tren tingkat bunga yang cenderung bisa dipastikan di masa yang akan datang menjadikan investor lebih memilih obligasi konvensional daripada obligasi syariah. obligasi syariah sangat baru keberadaannya. Sedangkan usaha yang perlu dilakukan untuk menjawab kendala-kendala obligasi syariah adalah sebagai berikut : Langkah-langkah sosialisasi dilakukan untuk membangun pemahaman masyarakat akan keberadaan obligasi syariah di tengah-tentah masyarakat. Obligasi syariah tidak bisa hanya sekedar menunggu sampai adanya perubahan paradigma setidaknya obligasi syariah mampu menangkap kondisi yang ada sebagai peluang yang bisa digunakan untuk meningkatkan produktivitasnya. Untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat, usaha untuk meningkatkan profesionalitas, kualitas, kapabilitas, dan efisiensi untuk selalu dilakukan oleh obligasi syariah. BAB Lampiran Wawancara dengan Humas Bank Syariah Mandiri 1. Bagaimana jika saat jatuh tempo, ternyata emiten tidak bisa membayar pokok obligasi atau perusahaannya Colapse ? DSN telah mengantisipasi dengan membentuk tim (Basyarnas) yang akan menganalisa apabila default (gagal bayar) terjadi dalam proses penerbitan obligasi syariah. Karena dalam penerbitan obligasi, selain ada emiten dan pemegang obligasi, ada pula penjamin emisi atau underwriter-nya. Jika terjadi default, si penjamin belum tentu menjadi berutang. Karena semuanya masih harus dianalisa terlebih dulu, apakah default tersebut disengaja atau tidak. Jika default tersebut disengaja, tentunya harus dibuktikan terlebih dulu. Dan jika sudah terbukti, barulah si penjamin bisa dianggap berutang. Dan wajib membayarnya. Selain itu, tentunya akan ada sanksi yang dijatuhkan oleh Bapepam.

Namun, default yang tidak disengaja pun tetap harus dibuktikan terlebih dulu. Baru kemudian, diputuskan oleh tim yang menganalisa, apa langkah selanjutnya yang akan diambil. 2. Lalu apa saja wewenang DSN dalam hal Obligasi syariah ini ? Wewenang DSN yaitu dalam pengawasan aspek syariah terhadap produk-produk syariah adalah memberikan rekomendasi, konsultasi, termasuk di dalamnya pembinaan. Nah, dalam rangka melakukan fungsi pembinaan inilah DSN berwenang meluruskan hal-hal yang terjadi diluar yang telah ditetapkan dalam perjanjian. Misalnya saja jika dalam keuntungan bagi hasil tercampur antara keuntungan obligasi konvensional dengan obligasi syariah, DSN dapat memberikan teguran sampai sebanyak tiga kali. Apabila setelah teguran ketiga tidak juga diperhatikan, DSN akan melaporkannya kepada Bapepam untuk memberikan sanksi. DSN tidak memiliki kewenangan untuk memberikan sanksi. Yang bisa memberikan sanksi dalam hal ini tetap Bapepam sebagai otoritas pengawas kegiatan pasar modal di Indonesia. Karena DSN tidak punya executie power. 3. Obligasi Syariah di Bank syariah Mandiri itu sendiri seperti apa? Obligasi Bank Syariah Mandiri Surat berharga jangka panjang berdasar prinsip syariah yang mewajibkan Emiten (Bank Syariah Mandiri) untuk membayar Pendapatan Bagi Hasil/Kupon dan membayar kembali Dana Obligasi Syariah pada saat jatuh tempo. Manfaat : Memperoleh nisbah yang lebih tinggi dibandingkan dengan simpanan dana pihak ketiga lainnya Dapat diperjualbelikan.

Fasilitas: Jangka waktu 5 tahun dengan pemberian nisbah setiap 3 bulan Pendapatan yang dibagihasilkan hanya berdasarkan pendapatan dari pembiayaan murabahah yang dihitung secara proposional dengan nisbah 77,5% untuk pemegang obligasi Jumlah minimal yang dapat diperjualbelikan sebesar Rp10 juta Bukti kepemilikan Obligasi Syariah.

Peruntukkan:

Perorangan Perusahaan/Yayasan/DAPEN.

Syarat: Tanda pengenal Diharapkan memiliki rekening di Bank Syariah Mandiri Mengisi formulir pemesanan pembelian obligesi (untuk pembelian perdana).

Bab Penutup Kesimpulan : Kerjasama antara akademisi untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang paham akan produk dan hukum Islam dan kerjasama dengan Dewan Syariah Nasional dalam memperkaya produk berbasis syariah dengan pemerintah sangat penting bagi perkembangan pasar modal syariah di Indonesia umumnya dan perkembangan sukuk pada khususnya. Pada akhirnya pengembangan pasar modal syariah di Indonesia memang perlu proses. Perkembangan sukuk akan sangat ditentukan oleh keberadaan Undang-Undang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Karena instrumen ini sangat diperlukan untuk mempercepat pertumbuhan perbankan sayriah di Indonesia. Sesuai dengan salah satu program kerja akselerasi perkembangan bank syariah, maka keberadaan sukuk ini akan sangat significant impactnya terhadap pertumbuhan investasi dan pada akhirnya akan berdampak pada pertumbuhan Bank Syariah. Daftar Pustaka Huda, Nurul dkk.2008. Investasi pada Pasar Modal Syariah.Jakarta : Kencana Achsien, Iggi. 2000. Investasi Syariah di Pasar Modal. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. Http:// Google search. Sukuk. 1 Nurul Huda & Mustafa Edwin Nasution, Investasi Pada Pasar Modal Syariah,Jakarta:Kencana.hlmn.8788.

2 Nurul Huda & Mustafa Edwin Nasution, Investasi Pada Pasar Modal Syariah,Jakarta:Kencana.hlmn.91

3 Ibid, halmn 90.