Anda di halaman 1dari 21

1

PEMIKIRAN POLITIK BARAT

Sebagai akademisi saya melihat kecenderungan lemahnya penguasaan filsafat di kalangan mahasiswa. Masalahnya, Pemikiran Politik Barat ini sangat erat kaitannya dengan sejarah pemikiran filsafat. Orang bijak mengatakan: filsafat bertanya, ilmu memberikan fakta dan agama menjawab. Hidup yang semata-mata berdasarkan pada idealisme tanpa melihat realitas ibarat mimpi. Sebaliknya, hidup yang semata-mata bersandarkan pada realitas tanpa mempertimbangkan idealisme tidak bermartabat. Ini adalah salah satu renungan filsafat. Filsafat membentuk kita menjadi manusia rasional. Rasional mengandung unsur konsekuen dan konsisten. Konsekuen artinya ada keterkaitan antara tujuan dengan cara. Sementara konsisten berarti antara satu cara dengan cara lainnya tidak saling bertentangan dalam rangka mencapai tujuan. Misalnya, mahasiswa yang ingin menjadi sarjana harus mengikuti mata kuliah dan ujian. Apabila kesarjanaan dianggap sebagai tujuan maka kuliah dan ujian dianggap sebagai cara mencapai tujuan. Mahasiswa yang tidak mengikuti kuliah dan ujian atau mengikuti kuliah dengan memalsu tanda tangan dan mencontek dalam ujian adalah mahasiswa yang tidak konsekuen dan konsisten. Bila dengan cara seperti itu ia berhasil menjadi sarjana maka jadilah ia sarjana yang tidak rasional. Artinya, dunia pendidikan telah gagal karena pada hakekatnya tujuan pendidikan di perguruan tinggi bukanlah sekedar jadi sarjana yang belum tentu tercapai pintarnya atau selesai bodohnya. Tapi menjadi manusia rasional. Dengan demikian, tidaklah terlalu mengherankan bila kita sering menemukan pemikiran seorang sarjana bahkan

yang sudah pasca sarjana pun ternyata tidaklah lebih bermutu daripada pemikiran seorang yang hanya lulusan sekolah menengah. Singkatnya, lebih bermakna mencermati apa yang dikatakan atau yang ditulis daripada siapa yang mengatakan atau yang menulis meskipun memakai simbol-simbol gelar kesarjanaan yang bahkan ironisnya lebih panjang daripada namanya sendiri.

I. PENDAHULUAN Mengutip pendapat Vernon van Dyke dalam Political Science: A Phillosophical Analisys yang mengatakan bahwa filsafat politik dimaknai sebagai pemikiran politik yang meliputi pengertian dari teori politik yang merupakan bagian dari ilmu politik. Perkembangan pemikiran politik, terutama pemikiran poitik Barat yang sangat berpengaruh seperti liberalisme, sosialisme dan marxisme sangat berhubungan erat dengan sejarah pemikiran filsafat. Tulisan ini lebih dititkberatkan pada bagian yang terakhir ini (Azhar, 1966). Filsafat Barat berasal dari Bahasa Yunani philos sophos yang berarti pecinta kebijaksanaan. Ini merupakan The Greek Miracle (keajaiban Yunani) dengan dua alasan. Pertama, munculnya pemikiran tentang kosmologis (kejadian alam) dan kosmogonis (asal-usul alam) dalam konteks mitologis. Kedua, perkembangan dunia sastra. Ketiga, munculnya ilmu pengetahuan ilmiah yang bersifat nonkomersial. Dengan kata lain, sejarah filsafat Yunani merupakan dialektika mitos dan logos (Magnis-Suseno, 1993).

II. FILSAFAT YUNANI DAN ROMAWI KLASIK

A. PRA SOKRATES 1. Filsafat Monisme a. Miletos (pesisir selatan Asia Kecil) Terdapat beberapa nama filsuf kosmologis yang memikirkan substansi terdalam kosmos. Thales mengatakan air, Anaximandros mengatakan to a perion (yang tidak terbatas dan tidak dapat diketahui oleh panca indra) dan Anaximenes mengatakan udara. b. Mahzab Phythogorean Memandang filsafat sebagai reinkarnasi jiwa dengan ajarannya akusmatikoi (dogma) dan anaxhematikoi (ilmu pengetahuan). Mereka menemukan tangga nada musik yang diekspresikan melalui perbandingan bilangan. Xenophanes mengatakan Tuhan itu esa dan menentang antropomorfisme (Tuhan yang berwujud manusia). Sementara Herakleitos mengatakan panta rhei kai uden menei (semua mengalir dan tidak sesuatu pun yang tinggal menetap). Ia juga mengatakan substansi terdalam kosmos adalah api. c. Mahzab Elea (Italia Selatan) Muncul beberapa nama seperti Parmenides yang pemikirannya berbeda dengan Herakleitos. Menurutnya what is, is (yang ada itu, ada) bersifat tunggal, kekal, sempurna, tidak bergerak (tidak ada ruang kosong) dan tidak berhingga menurut waktu. Tapi berhingga menurut ruang. Kemudian Melissos mengatakan yang ada itu juga berhingga menurut ruang. Terakhir Zeno yang menemukan dialektika. 2. Filsafat Pluralis

Berbeda secara ontologis dengan filsuf monisme yang memandang kenyataan itu tunggal, filsuf pluralis memandang sebaliknya kenyataan itu jamak. Empedokles mengatakan ada empat anasir sebagai substansi terdalam yaitu: api (panas), udara (dingin), tanah (kering) dan air (basah). Sedangkan Anaxigoras mengatakan masingmasing anasir memuat anasir lain. Kecuali nus (roh) atau rasio. 3. Filsafat Atomik Diantaranya Leukippos dan Demokritos yang berasal dari Yunani Utara yang mengatakan realitas tidak tunggal. Tapi plural yang terdiri dari atom-atom. Menurut mereka jiwa adalah atom-atom bundar (Hatta, 1980). B. SOFISME DAN ERA SOKRATES Sofisme berasal dari sophistos yang berarti seorang bijaksana yang menjadi ironi dalam sejarah filsafat Yunani karena bersifat komersil. Ini ditandai dengan munculnya beberapa filsuf yang mengajarkan retorika (the art of using language effectively) dengan bayaran pada para politisi untuk meraih kekuasaan. Sehingga kebenaran jadi bersifat relatif dan subyektif. Penyebab timbulnya sofisme antara lain: Pertama, pasca perang Parsi (449 SM) Athena dipimpin oleh Perikles menjadi polis (negara kota) bagi seluruh Yunani. Kedua, kebutuhan pendidikan bagi tradisi hellenisme. Ketiga, akulturasi budaya. Di bawah ini beberapa filsuf Yunani yang pemikirannya sangat mempengaruhi perkembangan filsafat: 1. Protagoras mengatakan manusia adalah ukuran segalanya, negara didirikan untuk manusia. Konsepsinya tentang Tuhan sangat skeptis.

5 2. Georgias dari Sisilia menganut skeptisisme (kebenaran tidak dapat diketahui) dan

nihilisme (tidak sesuatu pun yang bernilai).


3. Hippias ahli ilmu ukur mengatakan negara dibentuk oleh kodrat (physis) bukan adat

(nomos). 4. Prodikos menganut paham pesimisme beranggapan kematian adalah jalan keluar dari problema hidup. Kritias mengatakan agama ditentukan oleh penguasa negara yang licik.
5. Sokrates membumikan pemikiran filsafat Yunani dari makro kosmos ke mikro

kosmos yang dalam rangka menjelajah kebenaran obyektif. Metodenya tidak sistematis yang disebut dialegestai (dialektika) yang artinya bercakap-cakap. Tujuan hidup adalah endaimonia (kebahagiaan). Orang baik adalah yang berilmu pengetahuan. Tugas negara membuat warga negara bahagia dan jiwanya baik. Sokrates tidak setuju dengan demokrasi karena penguasa negara ditentukan oleh semacam undian. Artinya, tidak tertutup kemungkinan yang terpilih berkuasa hanya karena popularitas dan tidak punya keahlian khusus. The minor Socrates (pengikut Sokrates) terpecah jadi empat mahzab setelah kematiannya: Pertama, Mahzab Megara yang mendamaikan yang ada Mahzab Elea dengan yang baik pemikiran Sokrates. Kedua, Mahzab Elea dan Eretria tetap menggunakan dialektika dalam filsafatnya. Ketiga, Mahzab Sinis yang mengabaikan adikodrati. Keempat, Mahzab Hedonis yang mengatakan yang baik adalah kesenangan.
6. Plato (429 347 SM) lahir di Athena. Murid Sokrates ini mendirikan Akademia

tempat mendidik politisi muda yang didedikasikan pada

pahlawan Yunani

Akademos. Menurutnya ada ide obyektif yang terlepas dari subyek yang berpikir.

Pemikiran Plato mendamaikan Heraklitos (dunia indrawi) dengan Parmenides (dunia ideal). Beberapa karya Plato antara lain: Pertama, Politeia (republik) tentang konstitusi dan keadilan yang membahas metafisika, etika, pendidikan dan pemerintahan ideal. Menurutnya kejujuran dan moral baik seseorang lebih utama daripada bakat dan kemampuannya. Plato sepakat dengan Sokrates yang mengatakan manusia yang baik adalah yang berilmu pengetahuan. Jiwa dianalogikan dengan negara yang terdiri dari desire (nafsu) diwakili oleh kelas pekerja sebagai penggerak ekonomi, spirit (semangat) diwakili oleh militer sebagai tentara profesional yang bertugas menjaga dan mempertahankan negara dan logos (akal budi) diwakili ole filsuf sebagai pemimpin negara. Berbeda dengan kelas pekerja, militer dan filsuf tidak boleh mempunyai harta dan keluarga. Tujuannya untuk mencegah korupsi, kolusi dan nepotisme. Kehidupan mereka dijamin oleh negara. Tugas negara adalah mewujudkan masyarakat terpelajar. Kedua, Politikos (negarawan). Plato menjelaskan sistem pemerintahan yang baik secara kronologis yaitu: monarki (yang terbaik), aristokrasi (baik) dan demokrasi (terburuk) dengan syarat adanya konstitusi. Tetapi urutannya terbalik demokrasi (terbaik), aristokrasi (baik) dan monarki (terburuk) dengan syarat tidak adanya konstitusi. Ketiga, Nomoi (konstitusi) membahas sistem pemerintahan yang bersifat gabungan demokrasi dengan monarki. Di sini terlihat bila Politeia memuat kewajiban-kewajiban warga negara, maka Nomoi memuat hak-hak warga negara.
7. Aristoteles (384 322 SM) yang berasal dari Yunani Utara adalah murid Plato. Ia

mendirikan Lykeion (Lyceum) sekolah yang dedikasikan pada dewa Apollo Lykeios. Berbeda dengan Plato yang memakai metode dedukti (rasional), ia memakai

metode induktif (empiris) dalam filsafat. Aristoteles memakai istilah analitika untuk istilah logika yang kita kenal sekarang yang merupakan penyelidikan dengan argumentasi yang bertitik tolak dari keputusan yang benar. Dialektika dari keputusan yang pasti kebenarannya dan konklusi diambil berdasarkan premis mayor dan minor (silogisme) disebut analytica priora posteriara. Pengetahuan terdiri dari pengetahuan praktis (etika/politik), pengetahuan produktif (teknik/kesenian) dan pengetahuan teoritis (fisika/metafisika/matematika/filsafat pengetahuan alam).

Aristoteles mengatakan gerak adalah perubahan dari potensi menjadi aktivitas, dari hyle (materi) menjadi morphe (bentuk). Karya Aristoteles: Politica (penelitian konstitusi Athena) tentang negara kodrat yang menyetujui pendapat Sokrates dan Plato yang menentang sofisme dan negara adat. Manusia adalah zoon politikon dan tujuan negara adalah memungkinkan warga negara hidup lebih baik. Tetapi Aristoteles tidak sepakat dengan karya Plato Politeia yang melarang militer berkeluarga. Ironisnya, ia masih melihat perbudakan sesuai dengan kodrat manusia. Petani, pedagang dan tukang bukanlah warga negara sejati. Hak milik

diperbolehkan dengan dua alasan: kebutuhan terhadap leisure (waktu luang) dan meraih kebahagiaan. Adil adalah tunduk dan patuh pada hukum. Monarki dan aristokrasi adalah bentuk negara yang baik. Sebaliknya, tirani, oligarki dan demokrasi adalah bentuk negara yang buruk. Setelah kematiannya pemikiran Aristoteles diteruskan oleh Mahzab Peripatelis (Noer, 1997). C. FILSAFAT ROMAWI Peradaban Romawi yang merupakan pewaris pemikiran Yunani terbagi dua: Pertama, era republik (500 SM 1 M). Kedua, era kekaisaran (27 SM 180 M). Tetapi

ada perbedaan yang sigifikan antara pemikiran Yunani dengan pemikiran Romawi. Apabila Yunani memperhatikan polis (negara kota), politik, bentuk negara, kewajiban negara, penguasa negara, hak dan kewajiban warga negara maka Romawi lebih memperhatikan imperium, hukum dan administrasi untuk memperkuat sistem pemerintahan negara yang luas dengan Roma sebagai pusatnya. Dengan kata lain, Romawi lebih mengutamakan otoritas dan stabilitas negara dari pada kebebasan dan demokrasi. Eksistensi negara bersifat patriarchal family (kebapakan). Dengan kata lain, filsafat politik Romawi sangat institusional dari pada Yunani. Di bawah ini dua orang filsuf Romawi yang sangat berpengaruh: 1. Cicero (106 SM 43) mengatakan negara adalah bentuk masyarakat yang diciptakan oleh hukum, bukan oleh kenyataan sosiologis. Secara teoritis hukum berarti duduk sama rendah berdiri sama tinggi meskipun dalam tataran praksis hasilnya berbeda.
2. Gelasius (5) mengemukakan doktrin dua pedang, Bayarlah kepada kaisar apa yang

kaisar punya dan kepada Tuhan yang Tuhan punya. Singkatnya, ada dua penguasa: kepala negara dan pastur (Bertens, 1993).

III. FILSAFAT ABAD PERTENGAHAN Abad pertengahan mulai tahun 476 seiring jatuhnya Roma (Romawi Barat) ke Gothia Barat dan jatuhnya Konstantinopel ibu kota Bizantium (Romawi Timur) ke Turki tahun 1453. Abad ini disebut juga the darknes (masa kegelapan). Apabila dalam filsafat klasik aspek reason (akal) lebih menonjol maka dalam filsafat abad pertengahan aspek teosentris (ketuhanan) yang lebih dominan. Serta menjadi acuan utama dalam segala

hal seiring dengan munculnya agama Kristen (Katolik) yang menjadi agama resmi Romawi pada tahun 393 melalui dekrit kaisar Theodosius. Sebelumnya tahun 303 kaisar Diocletion menghancurkan karya tulis Kristen di Roma. Selanjutnya tahun 321 kaisar Konstantin mengubah Natal dari 6 Januari menjadi 25 Desember sesuai dengan mitologi Romawi Natalis Solis Invictus (kelahiran dewa matahari) dan mengubah hari libur dari Syabhat (Sabtu) ke Do mingo (minggu) dengan menghilangkan elemen keyahudiannya. Ia juga membuat proyek penulisan Bible versi baru yang disebut Perjanjian Baru. Tahun 325 diadakan Konsili Nicea memutuskan dengan voting bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan. Ini diperkuat oleh Konsili Konstantinopel tahun 381 yang mengatakan Yesus Kristus + Roh Kudus = Tuhan Bapak. Inilah yang kelak disebut Konsep Trinitas. Intinya, rasul dan nabi telah kehilangan kemampuan untuk memberi hidayah dan pencerahan. Serta tidak berdaya melaksanakan misi Allah untuk menyelamatkan manusia. Oleh sebab itu maka Allah sendirilah yang turun langsung ke bumi dalam penjelmaaan manusia berwujud Yesus Nazarethnus Rex Jodeum (Raja Israel). Kristen pun terpecah menjadi tiga kelompok: Pertama, Yesus adalah bagian integral ketiga komponen Trinitas: Tuhan Allah, Tuhan anak dan Roh Kudus. Kedua, Tuhan Allah (Bapak) ada di langit dan Tuhan anak (Yesus) ada di bumi. Ketiga, Tuhan Allah adalah Yesus putra Maria. A. PATRISTIK (BAPA GEREJA) Seiring berkembangnya agama Kristen muncul reaksi terhadap filsafat Yunani yang dianggap hanya buah pikiran manusia. Sementara manusia itu ciptaan Tuhan.

10

Dengan demikian, pemikirannya dapat dianggap benar. Turtulianus (160 222) dan St Agustinus (354 430) menyatakan menurut logika realitas sama dengan Tuhan. St Agustinus yang beraliran platonisme lahir di Tagaste Numidia (Tunisia) Afrika Utara. Karyanya De Civitate Dei (The City of God) mengatakan ada dua kota: Pertama, Civitate Dei (City of God/Heavently City) yang diwakili oleh tahta suci kepausan.

Kedua, Civitate Terrena/Civitate Diaboli (City of Man/Earthly City) yang diwakili oleh tahta para raja Eropa. Paus Nicolas I menyatakan bahwa anak Tuhan telah mendirikan gereja dan mengangkat St Peter sebagai kepala gereja pertama yang kemudian diwarisi secara berantai oleh para uskup Roma. Paus bergelar Supreme Pontiff (Pontifex Maximus). Pengaruh Paus sebagai wakil kerajaan Allah di bumi sangat kuat sebagai pemberi legitimasi kekuasaan para raja Eropa. Misalnya, pertengkaran Raja Hendry VIII (Jerman) dengan Paus Gregory VII tentang penunjukan Uskup berakibat dicopotnya tahta raja. B. SCHOLASTIK (SEKOLAH) Filsafat diajarkan melalui sekolah-sekolah yang didirikan oleh pastor dan raja yang mempelajari artes liberales (seni merdeka) yang terdiri dari: gramatica, dialektica, aritmatica, astronomia dan musica. Semuanya berkembang dengan baik ketika Karel Yang Agung berkuasa di Eropa. Aleuinus di Inggris mengakui kedaulatan filsafat di samping teologia (ilmu wahyu). Johanes Scotes (818 870) menyatakan filsafat mengabdi pada teologia untuk membuktikan wahyu. Kedaulatan filsafat sangat kuat bagi Albertus Magnus (1203 1280). Muridnya, St Thomas Aquinas (1226 1274) mewakili pemikiran abad XIII yang menekankan

11

kebenaran teologi alamiah Allah sebagai penyebab awal dan aspek moral sebagai landasan ideal suatu pemerintahan. Karyanya Summa Theologia merupakan

reinterpretasi karya Aristoteles terjemahan Ibnu Rusyd di Universitas Islam Andalusia (Spanyol) (Poedjawijatna, 1990). Abad XIII seiring berdirinya Universitas Oxford di Inggris muncul ordo-ordo (kehidupan membiara) dan menelaah kembali filsafat Yunani (warisan Aristoteles) yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab karya para filsuf muslim seperti Ibn Sina (Avicenna 1037), Ibn Rusyd (Averroes 1128 1198) dan filsuf Yahudi Mozes Maumonides (1135 1204). Dari kalangan muslim muncul Ibn Khaldun (1332 1406) yang berasal dari Tunisia. Karyanya Muqaddimah mengatakan negara (bentuk) tidak sama dengan masyarakat (isi) yang dibentuk berdasarkan ashabiyah (solidaritas berdasarkan ras, daerah dan dinasti). Menurutnya kepala negara identik dengan imam agama yang harus memenuhi syarat-syarat antara lain: memahami syariah (hukum), bermoral baik, memiliki keahlian dan fisik yang sehat.

IV. FILSAFAT MODERN Abad modern (XV XIX) yang ditandai dengan timbulnya renaissance (pencerahan) dan sekulerisme: render to Caesar that of the Caesars and to God that of Gods yang merupakan antitesis abad pertengahan. Dalam konteks budaya, ada upaya untuk melepaskan diri dari kekuasaan gereja. Serta membersihkan agama dan gereja dari tahayul yang telah menyelinap ke dalam ajaran agama. Ajaran agama yang semula hak privilse para pemuka agama dan gereja mengalami desakralisasi. Kemudian

12

diterjemahkan ke dalam bahasa yang dimengerti semua orang. Hubungan manusia dengan Tuhan harus bersifat langsung tanpa perantara pastur lagi. Tampak dari ajaran Kristen Protestan yang dipelopori oleh Martin Luther (1438 1547) dan Calvin (15091564) yang mengatakan konsep Trinitas sebagai ajaran setan. Reformasi dalam agama Kristen ini tidak lepas dari pengaruh peradaban Islam. Terutama para filsuf Islam dari Andalusia (Spanyol) pasca perang salib yang secara tidak langsung telah memerangi kegelapan Eropa abad pertengahan. Ironisnya, di masa peralihan ini aspek moral tidak dipedulikan. Renaissance yang menjadi cikalbakal filsafat modern ini menumbuhkan rasa saling curiga baik kawan maupun lawan. Sebagai ilustrasi, para Kardinal yang hadir pada penobatan Paus membawa makanan dan minuman masing-masing karena kuatir diracun. Di bawah ini beberapa filsuf yang mewakili pemikiran filsafat modern:
1. Niccolo Machiavelli (1469 1527) pemikir Italia lahir di Florence dalam situasi

seperti di atas. Karyanya Discorsi (uraian) dan Il Principe (sang pangeran) bila dilihat sepintas terasa kontradiktif. Menurutnya negara boleh berbentuk republik dengan syarat rakyatnya tidak korup sehingga mampu untuk memerintah diri sendiri. Sebaliknya bila negara berbentuk monarki dan rakyatnya korup maka harus dipimpin oleh seorang pangeran otoriter. Kalau perlu dengan cara yang tidak bermoral.
2. Thomas Hobbes (1588 1679) lahir di Inggris. Karyanya Leviathan pada intinya

menganggap manusia secara intelektual tidak berbeda jauh dengan hewan. Dalam kehidupan bernegara diadakan social contract (perjanjian masyarakat) karena adanya kecenderungan alami setiap manusia untuk berkuasa. Masyarakat

13

menyerahkan hak dan kekuasaannya kepada penguasa secara mutlak. Sementara penguasa tidak terikat dengan perjanjian ini. Akibatnya, kekuasaannya menjadi absolut termasuk di bidang rohani. Artinya, agama yang dianut warga negara merupakan agama yang ditetapkan oleh penguasa. Sebab agama tidak lain tahayul yang diberikan oleh negara.
3. John Locke (1632 1704) lahir di Bristol Inggris. Belajar di Universitas Oxford

kemudian menjadi sekretaris perutusan istana Brendenburg Jerman. Karyanya Treatise on Government (uraian tentang pemerintahan) menolak kekuasaan turuntemurun. Locke sepakat dengan Hobbes tentang social contract dalam kehidupan bernegara. Tapi berbeda dengan Hobbes, Locke berpendapat penguasa tidak boleh bersifat absolut. Masyarakat politik dicapai melalui UU yang dibuat oleh badan legislatif. Di samping itu dibentuk badan eksekutif yang terpisah dari badan legislatif sebagai pelaksana pemerintahan. Badan ini memiliki hak perogratif yang tidak berdasarkan UU. Tetapi tidak boleh berlawanan dengan kepentingan umum. Sebagai ilustrasi, kekuasaan raja Inggris memanggil parlemen bersidang sesuai dengan kepentingan umum.
4. Charles Louis de Secondant Baron de Montesquieu (1689 1755) lahir di Bordeaux

Perancis. Karyanya antara lain De IEsprit des lois (semangat hukum) dan Trias Politika (tiga pembagian kekuasaan). Karyanya yang terakhir inilah yang lebih dikenal di Indonesia. Menurut filsuf Perancis ini pemisahan kekuasaan diperlukan demi kemerdekaan warga negara atas hegemoni kekuasaan negara.
5. Jean-Jacques Rosseau (1712 1778) adalah filsuf Perancis yang berpengaruh di

bidang filsafat, kesustraan dan politik. Karyanya Du Contract Social (perjanjian

14

sosial) memuat perjanjian bersama untuk membentuk negara. Menurutnya republik merupakan bentuk negara yang diperintah hukum. Hubungan rakyat dengan negara dalam badan legislatif bersifat langsung, tidak boleh diwakilkan melalui partai. Dengan demikian, negara yang terbentuk jangan terlalu besar atau terlalu kecil demi terjaminnya pernyataan rakyat dalam pemerintahan. Tidak aneh kalau negara ideal bagi Rosseau mirip polis Yunani kuno.
6. John Stuart Mill (1806 1873) lahir di London Inggris adalah pelopor aliran

utilitarianisme yang berpandangan bahwa sikap dan tindakan menurut kodratnya ditentukan oleh sakit dan senang. Kesenangan merupakan kebaikan, sebaliknya kesakitan merupakan kejahatan. Tujuan negara adalah the greatest happiness of the greatest number (kebahagaian terbesar untuk jumlah terbesar) yang diupayakan melalui parlemen. Meskipun demikian, Mill menilai negara melalui nilai individuindividu yang menjadi warga negara. Karyanya Principle of Political Economy cenderung pada sosialisme. Menurutnya, campur tangan negara diperlukan dalam pendidikan, mencegah monopoli dunia usaha dan lain-lain.
7. Benedict de Spinoza dalam karyanya Tractus Theologico Politicus (1670) menganut

pantheisme (monisme). Filsuf Yahudi kelahiran Belanda ini memandang Tuhan dan alam semesta adalah satu kesatuan. Substansi alam hanya satu dan kembali ke zat yang satu. Dengan kata lain, adanya Tuhan dan alam tidak mungkin berbeda. Singkat kata, Tuhan dan alam itu tunggal (Laeyendecker, 1991)
8. Adam Heinrich Muller (1779 1829) adalah filsuf Jerman yang antirasionailsme,

liberalisme dan individualisme (aufklarung). Muller menginginkan bentuk masyarakat

15

universal menurut agama Kristen dan otoriter seperti masyarakat feodal abad pertengahan.
9. Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770 1831) juga berasal dari Jerman. Ia

mengatakan the march of God in the world, that is what the state is. What is rational is actual and what is actual is rational. Hegel menelaah eksistensi negara secara dialektis: thesis (in itself: keluarga), antithesis (for itself: masyarakat sipil) dan sinthesis (in and for itself: negara) yang merupakan roh absolut (Simanjuntak, 1997).
10. Ludwig Feuerbach (1804 1872) dalam karyanya Das Wassen des Christentum

mengatakan bahwa agama adalah usaha manusia menggambarkan dirinya yang berusaha memproyeksikan diri terhadap zat yang tak terbatas di luar alam.
11. Karl Marx (1818 - 1883) adalah filsuf Yahudi kelahiran Trier (Jerman) dan meninggal

di Inggris. Pemikiran Marx dipengaruhi oleh pemikiran Hegel dan Feuerbach. Ia memakai dialektika Hegel (material world) tetapi dengan menjungkirbalikkannya. Hegel menyatakan realitas merupakan manifestasi ide (the idea). Sebaliknya menurut Marx ide adalah manifestasi realitas. Singkat kata, kesadaran merupakan refleksi dari kenyataan yang tidak ditentukan oleh pikiran. Tetapi oleh dinamika proses produksi. Inilah yang disebut pandangan materialisme terhadap sejarah. Kritik Marx terhadap para filsuf sebelumnya, termasuk Hegel, para filsuf sebelumnya hanyalah menafsirkan dunia. Padahal yang diperlukan sesungguhnya adalah mengubahnya. Sementara mengutip Feuerbach, Marx sependapat bahwa ide

tentang Tuhan adalah refleksi ketidakberdayaan manusia dan agama adalah candu masyarakat yang melemahkan dan mengalianasinya dari kondisi sosial yang timpang

16 12. Max Webber (1864 1920) dalam karyanya The Protestant Ethic and The Spirit of

Capitalism yang mengatakan kerja adalah refleksi panggilan Illahi (calling of God) (Suhelmi, 2001).

V. PARADIGMA PEMIKIRAN POLITIK BARAT A. PARADIGMA LIBERAL (MODERNITAS VERSUS TRADISI)


1. Analitik: melakukan analisis atau telaah kehidupan individu dalam masyarakat. 2. Empirik: menerangkan berbagai institusi dan struktur sosial berdasarkan prilaku

individu yang menentukan prilaku kelompok masyarakat.


3. Probabilistik: analisis hubungan antara kebebasan dan pilihan dalam kehidupan

masyarakat. Varian teori liberal antara lain sebagai berikut:


1. Sistem fungsional dengan tokohnya Talcott Parsons terdiri dari in put (sosialisasi,

rekrutmen politik, artikulasi dan agregasi kepentingan,komunikasi politik), out put (rule making, rule application, rule adjudication dan feed back).
2. Proses sosial dengan tokohnya Daniel Lerner dan Samuel Huntington. Lerner

dalam karyanya The Passing of Traditional Society memandang evolusi sekuler setiap bangsa dalam pembangunan menuju masyarakat modern dalam tiga tahap: urbanisasi, liberalisasi dan pertumbuhan media massa. Sementara Huntington dalam karyanya Poltical Order in Changing Societies mengatakan tertib politik adalah tujuan perubahan politik. Dapat dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi yang dalam konteks politik dapat dikuantifikasi. Tertib politik tergantung pada hubungan pertumbuhan institusi politik di satu pihak dan

17

mobilisasi kekuatan sosial dan partisipasi politik di pihak lain. Menurutnya, dunia ketiga (praetorian) partisipasi politik lebih besar dari pada institusionalisasi politik.
3. Perbandingan sejarah dengan tokohnya Lucian Pye. Sistem sosial maupun

sistem politik direkayasa melalui budaya. Sebagai ilustrasi, tranfer nilai-nilai budaya AS pada negara lain yang kondusif bagi mobilitas sosial dan diinstitusionalisasikan. B. PARADIGMA MARXIS
1. Sintetik: menelaah masyarakat secara keseluruhan atau totalitas. 2. Historis: interpretasi masyarakat modern berdasarkan perkembangannya. 3. Determinasi: membuat prediksi tentang datangnya suatu mode ekonomi dan

sosial yang tidak mungkin terelakkan. Varian teori Marxis antara lain sebagai berikut: Teori Dependensia dengan tokohnya Andre Gunder Frank yang menyatakan bahwa modernisasi negara berkembang hanya superfisial tanpa pertumbuhan ekonomi yang efektif. Intinya, the development of underdevelopment dengan karakter sebagai berikut: (a), Negara metropolis berkembang pesat. Sebaliknya, negara satelit/periferi (negara

miskin/berkembang) sebagai subordinat statusnya makin rendah. (b), Pertumbuhan ekonomi negara satelit akan tinggi bila hubungannya dengan negara metropolis semakin minimal. (c), Struktur hubungan metropolis satelit sangat dekat pada masa lalu dengan karakteristik feodal dengan bekas penjajahnya.

VI. PENUTUP

18

Seperti yang telah disebutkan pada awal tulisan ini, pemikiran politik terutama pemikiran politik Barat, sangat erat hubungannya dengan sejarah pemikiran filsafat antara lain di bawah ini:
A. KOMUNISME

Ini dipengaruhi oleh filsafat Marxisme. Pandangan materialis terhadap sejarah menyebutkan bahwa realitas (material world) tidak ditentukan oleh ide (idea world). Tetapi oleh dinamika proses produksi yang merupakan dialektika kekuatan produksi dengan hubungan produksi dalam institusi sosial. Antara lain kaum proletariat (buruh) dengan kaum borjuis (pemilik modal). Dalam manifesto komunis yang ditulis Karl Marx (1818 1883) dan Friedrich Engels (1820 1895), Marx menyerukan: Kaum buruh sedunia bersatulah! dan menempuh jalan revolusi dengan merebut kepemilikan alat-alat produksi dari tangan kaum borjuis untuk mengakhiri penghisapan atas kaum proletariat. Pemikiran Marx diadobsi oleh Vladimir Oeljanov Lenin (1870 1924) dalam PKUS dengan menyerukan kepada kaum Bolshevik (buruh) untuk merebut dan menumbangkan kekuasaan absolut dan otoriter Tsar Rusia dalam revolusi berdarah 17 Oktober 1917. Ajaran Lenin yang lebih populer disebut Marxisme-Leninisme ini menekankan kepemimpinan kolektif partai komunis di bawah pimpinan Polit Biro (elite partai). Stalin, pengganti Lenin, menghapuskan kepemilikan pribadi menjadi

kepemilikan negara dan mendirikan pertanian kolektif. Ketua PKC Mao Tse Tung di masa pendudukan Jepang menyingkirkan lawan politiknya kaum nasionalis ke Taiwan. Serta menerapkan strategi desa mengepung kota, memperkuat tentara merah dari pada aksi massa, mempertebal semangat

19

revolusi dari pada sekedar kekuatan militer dan lebih percaya pada kekuatan subyektif dari pada kenyataan obyektif di lapangan. Berbeda dengan komunisme Rusia (negara industri), komunis Cina (negara agraris) lebih memandang petani sebagai penggerak revolusi dari pada buruh. Untuk mengejar ketertinggalan dan mengubah Cina dari negara agraris menjadi negara industri, Mao menerapkan startegi lompatan jauh ke depan (1958 1960) dan revolusi kebudayaan (1966 1969). Dalam hal ini Mao berkata: biarkan seribu bunga mekar dan seribu pikiran bertanding. Ini hanya taktik dan strateginya untuk memetakan pihak-pihak yang berseberangan dengannya. Tujuan akhirnya tidak lain untuk menyingkirkan lawan-lawan politiknya dalam tubuh partai komunis. Diantaranya Sekjen PKC Deng Xioping yang lebih pragmatis. Tercermin dari perkataannya yang sangat populer: tidak masalah kucing itu berwarna hitam atau putih, yang penting bisa menangkap tikus. Kelak pemikiran Deng inilah yang diadobsi oleh para pemimpin Cina modern dan punya kontribusi nyata atas kemajuan negara tirai bambu itu.
B. SOSIALISME

Dipelopori oleh industrialis Inggris Robert Owen (1771 1858) yang prihatin dengan nasib buruh dan menjadi cikal-bakal terbentuknya welfare state (negara kesejahteraan) sebagai antithesis sistem kapitalis tua yang dikritik Marx. Gabungan antara ekonomi pasar bebas dengan kesejahteraan individual dipengaruhi oleh kapitalisme dan sosialisme. Sebaliknya, gabungan ekonomi terpimpin dengan kesejahteraan kolektif dipengaruhi oleh fasisme dan komunisme.
C. KAPITALISME

20

Ideologi ini tebagi dua: Pertama, kapitalisme klasik dengan ciri-ciri: kepemilikan individu, ekonomi pasar, adanya kompetisi dan orientasi profit. Kedua, kapitalisme modern dengan ciri-ciri: bisnis berbentuk korporasi, ekonomi campuran dan lebih banyak berbentuk jasa dari pada produksi. D. FASISME Biasanya muncul pada masyarakat demokrasi dan industri dengan dukungan massa yang kuat. Serta teknologi pendukung mobilsasi perang. Tokoh-tokohnya antara lain: Fascismo, Mussolini di Italia (1922), Sosialisme Nasional atau NAZI, Adolf Hitler di Jerman (1933), Peronisme, Peron di Argentina (1943-1955), Fransisco Franco di Spanyol (1936) dan Kaisar Hirohito di Jepang (1930). Ciri-ciri doktri fasisme antara lain: irasional, diskriminasi, rasis, kekerasan, prilaku menyimpang, pemerintahan elite, totaliter, imperialis dan menentang hukum

internasional. Secara ekonomi berbentuk kapitalisme negara. Kalau di negara komunis masalahnya bagaimana membentuk masyarakat industrialis maka di negara fasis masalahnya bagaimana memecahkan persoalan yang timbul dalam masyarakat industri itu.
E. NEW LEFT

Dipelopori oleh para filsuf Mahzab Frankfurt Jerman dengan teori kritik masyarakat. Pada intinya bertujuan membebaskan manusia dari segala penghisapan. Diilhami oleh pemikiran Marx muda dengan menolak interpretasi Engel terhadap ajaran Marx yang diadobsi Lenin (Ebenstein, 1985).

DAFTAR PUSTAKA

21

Azhar, Muhammad. Filsafat Politik: Perbandingan Antara Islam dan Barat. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1966. Berten, K. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakarta: Kanisius, 1993. ________. Sejarah Filsafat Barat Abad XX. Jakarta: PT. Gramedia, 1933. Ebenstein, William. Isme-Isme Dewasa ini (terj.). Jakarta: PT. Erlangga, 1985. Hatta, Mohammad. Alam Pikiran Yunani. Jakarta: Tintamas, 1980. Kattsoff, O Louis. Pengantar Filsafat (terj.). Yogyakarta: Tiara Wacana, 1992. Laeyendecker, L. Tata Perubahan, dan Ketimpangan: Suatu Pengantar Sejarah Sosiologi (terj.). Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama, 1991. Magnis-Suseno, Franz. Filsafat Sebagai Ilmu Kritis. Yogyakarta: Kanisius, 1993. Noer, Deliar. Pemikiran Politik di Negeri Barat. Bandung: Mizan, 1997. Poedjawijatna. Pembimbing ke Arah Alam Filsafat. Jakarta: Bineka Cipta, 1990. Simanjuntak, Marsilam. Pandangan Negara Integralistik. Jakarta: PT. Pustaka Utama Grafiti, 1997. Suhelmi, Ahmad. Pemikiran Politik Barat: Kajian Sejarah Perkembangan Pemikiran Negara, Masyarakat dan Kekuasaan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2001.