Anda di halaman 1dari 29

MANAJEMEN PAJAK PERTAMBAHAN

NILAI DAN PAJAK PENJUALAN ATAS


BARANG MEWAH
(PPN dan PPnBM)
OLEH
YOGI ALIF UTAMA
PUTRI DWI ANUGERAH
WISNU AULIA
Pendahuluan
System pajak pertambahan nilai pada dasarnya
merupakan pajak penjualan yang dipungut atas dasar nilai
tambah yang timbul pada semua jalur produksi dan distribusi.
PPN dapat dipungut beberapa kali pada berbagai mata
rantai jalur produksi dan distribusi, namun pajak dikenakan
hanya pada pertambahan nilai yang timbul pada setiap jalur
yang dilalui barang dan jasa, sehingga dapat dikatakan
bahwa sasaran yang dikenakan PPN adalah hanya
pertambahan nilai yang merupakan biaya yang dikeluarkan
untuk factor produksi mulai bahan baku, proses produksi,
sampai hasil siap dijual, serta besarnya laba yang dinginkan
oleh penjual.
Pembahasan
Pemahaman system PPN di Indonesia
Faktur pajak sebagai instrument penting pengkreditan PPN
Beberapa tips manajemen pajak pada PPN
Serba serbi PPnBM dan pengelolaannya
Pemahaman system PPN di Indonesia

Karakter legal PPN Indonesia
Untung Sukardji menyebutkan setidaknya ada 8 karakter legal PPN di
Indonesia, yaitu :
Pertama, PPN adalah pajak tidak langsung dimana beban pajaknya
dapat dilimpahkan dari pihak penjual kepada pihak pembeli.
Kedua, PPN merupakan pajak obyektif dimana timbulnya kewajiban pajak
sangat ditentukan oleh kondisi objektif (ada tidaknya objek pajak),
sehingga kodisi subjektif subjek pajak menjadi tidak/kurang relevan.
Ketiga, PPN bersifat multi-stage tax karena PPN dikenakan disetiap mata
rantai jalur produksi dan distribusi barang dan/atau jasa kena pajak.
Keempat, PPN Indonesia menganut metode pengurangan tidak langsung
(indirect subtraction method) dengan faktur sebagai sarana kalkulasinya.
Kelima. PPN bersifat non kumulatif sehingga tidak menimbulkan
pengenaan pajak berganda dan anti cascading effect yang biasanya tak
terelakkan pada system pajak penjualan.
Keenam, PPN Indonesia menganut tarif tunggal sebesar 10% meskipun
dengan kuasa Peraturan Pemerintah tarif ini dapat dinaikkan atau
diturunkan menjadi paling tinggi 15% atau paling rendah 5% dan atas
transaksi ekspor barang dan/atau jasa kena pajak tertentu dikenakan tariff
0%.
Ketujuh, PPN Indonesia adalah pajak atas konsumsi barang dan/atau jasa
kena pajak di dalam negeri sesuai dengan prisip tempat tujuan sehingga
netral dalam konteks perdagangan Internasional.
Kedelapan, PPN yang diterapkan di Indonesia merupakan PPN tipe
konsumsi.
Objek dan subjek pengenaan PPN
Berdasarkan Pasal 1A ayat (1) UU PPN yang berlaku, yang termasuk dalam
pengertian penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) adalah :
penyerahan hak atas BKP karena suatu perjanjian
pengalihan BKP karena suatu perjanjian sewa beli dan/atau perjanjian sewa
guna usaha (leasing)
penyerahan BKP kepada pedagang perantara atau melalui juru lelang
pemakaian sendiri dan/atau pemberian cuma-cuma atas BKP
BKP berupa persediaan dan/atau aktiva yang menurut tujuan semula tidak
untuk diperjualbelikan, yang masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan
penyerahan BKP dari pusat ke cabang atau sebaliknya dan/atau penyerahan
BKP antar cabang
penyerhan BKP secara konsinyasi
penyerahan BKP oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP) dalam rangka perjanjian
pembiayaan yang dilakukan berdasarkan prinsip syariah, yang penyerahannya
dianggap langsung dari PKP kepada pihak yang membutuhkan BKP.
Pasal 4 ayat (1) UU PPN yang berlaku menyebutkan bahwa PPN
dikenakan atas : (i) penyerahan BKP di dalam daerah pabean yang
dilakukan oleh pengusaha; (ii) impor BKP; (iii) penyerahan JKP di
dalam daerah pabean yang dilakukan oleh pengusaha; (iv)
pemanfaatan BKP tidak berwujud dari luar daerah pabean di dalam
daerah pabean; (v) pemanfaatan JKP dari luar daerah pabean di
dalam daerah pabean; (vi) ekspor BKP berwujud oleh PKP; (vii) ekspor
BKP tidak berwujud oleh PKP; dan (viii) ekspor JKP oleh PKP.
Untuk subjek PPN, pengusaha yang melakukan kegiatan
penyerahan BKP dapat meliputi baik pengusaha yang telah
dikukuhkan menjadi PKP maupun pengusaha yang seharusnya
dikukuhkan menjadi PKP namun belum dikukuhkan. Pengecualian
diberikan kepada pengusaha kecil yang dapat memilih untuk
dikukuhkan atau tidak sebagai PKP.
Penyerahan barang yang dikenakan pajak harus memenuhi syarat-syarat
sebagai berikut :
(i) barang berwujud yang diserahkan merupakan BKP;
(ii) barang tidak berwujud yang diserahkan merupakan BKP tidak berwujud;
(iii) penyerahan dilakukan di dalam daerah pabean; dan
(iv) penyerahan dilakukan dalam rangka kegiatan usaha atau pekerjaannya.
Menurut pasal 4A UU PPN yang berlaku, jenis barang yang tidak dikenai PPN
adalah barang tertentu dalam kelompok barang sebagai berikut.
Kelompok pertama adalah barang hasil pertambangan atau hasil
pengeboran yang diambil langsung dari sumbernya.
Kelompok kedua adalah barang kebutuhan pokok yang sangat
dibutuhkan oleh rakyat banyak.
Kelompok ketiga adalah makanan dan minuman yang disajikan di hotel,
restoran, rumah makan, warung, dan sejenisnya.
Kelompok keempat adalah uang, emas batangan, dan surat berharga.
Penyerahan jasa yang terutang pajak harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
(i) jasa yang diserahkan merupakan JKP;
(ii) penyerahan dilakukan di dalam daerah pabean; dan
(iii) penyerahan dilakukan dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya.
Adapun jenis jasa yang tidak dikenai PPN adalah jasa tertentu dalam kelompok jasa sebagai
berikut :
jasa pelayanan kesehatan medis;
jasa pelayanan social;
jasa pengiriman surat dengan perangko dan menggunakan cara lain pengganti
perangko;
jasa keuangan;
jasa asuransi berupa jasa pertanggungan;
jasa keagamaan;
jasa pendidikan;
jasa kesenian dan hiburan;
jasa penyiaran yang tidak bersifat iklan;
jasa angkutan umum;
jasa tenaga kerja;
jasa perhotelan;
jasa yang disediakan oleh pemerintah dalam rangka menjalankan
pemerintahan secara umum;
jasa penyediaan tempat parkir;
jasa telepon umum;
jasa pengiriman uang dengan wesel pos;
jasa boga atau catering.

Tarif dan penghitungan PPN

Secara umum, system PPN di Indonesia mengenakan tarif PPN tunggal
sebesar 10% dari dasar pengenaan pajak, namun demikian untu beberapa
hal tertentu, PPN dikenakan dengan tarif selain 10%. Adapun pengecualian
pengenaan PPN diluar tarif 10% meliputi :
ekspor BKP dan JKP dengan penerapan PPN 0%;
penyerahan JKP di bidang pertambangan yang bersifat lex specialis
dengan pengenaan PPN 5%; dan
tarif efektif PPN sebesar 8.4 % atas penyerahan hasil tembakau yang dibuat
di dalam negeri oleh pengusaha pabrik hasil tembakau atau hasil
tembakau yang dibuat di luar negeri oleh importer hasil tembakau.
Dalamhal PPN menjadibagiandarihartaataupembayaranataspenyerahan BKP
dan/ataupenyerahan JKP, PPN yang terutangadalah 10/110
darihargaataupembayaranataspenyerahan BKP dan/atau JKP.
Apabilapenyerhan BKP
dimaksudjugaterutangPPnBMdantelahmenjadibagiandarihargaataupembay
aranataspenyerahan BKP, penghitungannyasebagaiberikut

PPN =
10
110+
x hargaataupembayaranataspenyerahan BKP

PPnBM=

110+
x hargaataupembayaranataspenyerahan BKP mewah

Dimanatbm = besarnyatarifPPnBM
Saat dan tempat PPN terutang

Berdasarkan ketentuan pasal 11 UU PPN juncto pasal 17 peraturan pemerintah
nomor 1 tahun 2012, terutangnya PPN dan/atau PPnBM terjadi pada saat : (i)
penyerahan BKP; (ii) impor BKP; (iii) penyerahan JKP; (iv) pemanfaatan BKP tidak
berwujud dari luar daerah pabean; (v) pemanfaatan JKP dari luar daerah
pabean; (vi) ekspor BKP berwujud; (vii) ekspor BKP tidak berwujud; (viii) ekspor JKP.

Mekanisme pengkreditan PPN
Pengenaan PPN hakikatnya adalah penerapan tariff 10% PPN terhadap dasar
pengenaan pajak (DPP), yaitu jumlah harga jual, penggantian, nilai impor, nilai
ekspor, atau nilai lain yang dipakai sebagai dasar untuk menghitung pajak yang
terutang. Ini diaplikasikan apabilaperusahaan melakukan transaksi penjualan atau
pembelian sehingga terdapat jumlah PPN yang harus dipungut kepada
pelanggan (PPN keluaran) dan PPN yak dipungut oleh supplier (PPN masukan).
Pajak masukan dalam suatu masa pajak dikreditkan dengan pajak keluaran
dalam masa pajak yang sama. PPN Indonesia menerapkan basis bulanan untuk
keperluan pelaporannya dan tidak mengenal penyampaian SPT tahunan PPN
untuk para PKP.
Faktur Pajak Sebagai Instrument Penting
Pengkreditan PPN

Faktur pajak tidak saja merupakan bukti bahwa PPN telah dipungut oleh
Pengusaha Kena Pajak (PKP) Penjual, juga menjadi dokumen yurudis
pembayaran PPN bagi pihak PKP Pembeli sekaligus sebagai instrument untuk
mengkreditkan PPN masukan.
1. Jenis-jenis faktur pajak
Berdasarkan Pasal 13 UU PPN yang berlaku, jenis faktur pajak meliputi :
Faktur pajak (standar)
Faktur pajak gabungan
Dokumen-dokumen tertentu yang ditetapkan atau dipersamakan dengan
faktur pajak.
2. Persyaratan Faktur Pajak
Berdasarkan ketentuan pasal 13 ayat (5) UU PPN terbaru, faktur pajak memenuhi persyaratan
haruslah setidaknya memuat informasi :
Nama, alamat, dan NPWP yang menyerahkan BKP atau JKP
Nama, alamat, dan NPWP pembeli BKP atau penerima JKP
Jenis barang atau jasa, jumlah harga jual atau penggantian, dan potongan harga
PPN yang dipungut
PPnBM yang dipungut, dan
Nama, dan tanda tangan yang berhak menandatangani faktur pajak
3. Saat dan tata cara pembuatan faktur pajak
Pembuatan faktur pajak mengacu pada kapan saat terutangnya PPN. Pasal 11 UU PPN
yang berlaku menyebutkan bahwa terutangnya PPN terjadi pada saat :
Penyerahan atau impor BKP
Penyerahan atau ekspor JKP
Pemanfaatan BKP Tidak Berwujud atau JKP dari luar daerah pabean
Ekspor BKP Berwujud atau tidak berwujud
Penerimaan pembayaran sebelum penyerahan BKP atau sebelum penyerahan JKP atau
dalam hal pembayaran dilakukan sebelum dimulainya pemanfaatan BKP Tidak Berwujud
atau JKP dari luar daerah pabean, dan
Penerimaan pembayaran termin dalam hal penyerahan sebagian tahap pekerjaan.
4. Retur BKP, pembatalan JKP, penggantian dan pembatalan faktur pajak
Sesuai dengan ketentuan UU PPN yang berlaku, PPN dan PPnBM atas
penyerahan BKP yang dikembalikan (retur), dapat dikurangkan dari PPN dan
PPnBM yang terutang dalam Masa Pajak terjadinya pengembalian BKP
tersebut. Sementara PPN atas penyerahan JKP yang dibatalkan, baik
seluruhnya maupun sebagian, dapat dikurangkan dari PPN yang terutang
dalam Masa Pajak terjadinya pembatalan tersebut. Mekanisme penggantian
dan pembatalan faktur pajak juga telah diatur dalam Peraturan Direktur
Jendral Pajak Nomor PER-24/PJ/2012 sebagaiaman telah diubah dengan
Peraturan Direktur Jendral Pajak Nomor PER-08/PJ/2013 yang berlaku sejak
tanggal 1 April 2013.

5. Sanksi administrasi terkait dengan penerbitan faktur pajak
Pasal 14 UU KUP yang berlaku menyebutkan bahwa sanksi administrasi berlaku
terhadap :
Pengusaha atau PKP yang tidak membuat faktur pajak atau membuat
faktur pajak tetapi tidak tepat waktu
Pengusaha yang telah dikukuhkan sebagai PKP yang tidak mengisi faktur
pajak secara lengkap selain : a). identitas pembeli sebagaimana dimaksud
dalam pasal 13 ayat 5 huruf b UU PPN atau b). identitas pembeli serta
nama dan tanda tangan sebagaiman dimaksud dalam pasal 13 ayat 5
huruf b dan huruf g UU PPN, dalam hal penyerahan dilakukan oleh PKP
pedagang eceran
PKP melaporkan faktur pajak tiak sesuai dengan masa penerbitan faktur
pajak, selain wajib menyetor PPN terutang 10% juga dikenai sanksi
administrasi berupa denda sebesar 2% dari Dasar Pengenaan Pajak.
Beberapa tips manajemen pajak pada
PPN

Penghindaran pre-financing PPN bagi PKP penjual
Dalam praktek bisnis yang normal, PKP penjual sebagai pemungut PPN akan membayarkan
PPn yang dipungutnya (PPN keluaran) setelah dikurangi dengan PPN yang dipungutnya oleh
para vendor (PPN masukan). Selisih PPN keluaran dan PPN masukan tersebut akan harus
dibayar diakhir masa pajak berikutnya oleh PKP penjual sebelum dilaporkan ke KPP
tempatnya terdaftar. Kondisi normal ini tidak mengakibatkan PKP penjuan membayar PPN
dari dananya sendiri karena PPN sebelumnya telah dibayarkan kepadanya oleh PKP pembeli
bersamaan dengan pelunasan tagihan.
Optimalisasi PPN masukan untuk dikreditkan oleh PKP pembeli
PPN masukan yang dimasukan oleh PKP pembeli sedapat mungkin dikreditkan dalam
mekanisme pengkreditan PPN umum oleh PKP pembeli karena dengan dikreditkan, PPN yang
telah dibayarkan akan dipulihkan 100% (recovery) oleh PKP pembeli. Bandingkan apabila PKP
pembeli hanya membiayakan PPN yang telah dibiyarkannya tersebut sebagai pengurang
(deductible expense) untuk kepentingan perhitungan PPh badannya, yang berarti recovery
sebatas tarif yang dikenakan pada PPh badan (25%). Kelalaian yang menyebabkan
banyaknya PPN masukan yang lolos tidak dapat dikreditkan, selain menciptakan distorsi
harga yang kelak ditetapkan oleh PKP pembeli kepada konsumen pada mata rantai
perdagangan berikutnya, juga akan berpengaruh terhadap meningkatnya jumlah pajak
yang akan dibayarkan oleh perusahaan. Berikut adalah table berisikan ilustrasi perbandingan
beban pajak yang lebih besar yang akan ditanggung oleh PKP pembeli apabila PPN
masukan tidak dapat dkreditkan.
Pemusatan (Sentralisasi) PPN terutang,
Untuk menghindari kerumitan laporan, pengelola arus kas (cashflow) yang
efektif, dan efesien sumber daya manusia yang menangani urusan
perpajakan perusahan, entitas bisnis yang memiliki cabang dapat melakukan
pemusatan (sentralisasi) PPN terutang dikantor pusat atau disalah satu
cabang bearnya.
Klaim pengambilan (restitusi) PPN,
Ketentuan terbaru dari UU PPN mengatur secara umum bahwa apabila
dalam suatu masa pajak, PPN masukan yang dapat dikreditkan lebih besar
dari pada PPN keluaran, selisihnya merupakan kelebihan pajak yang
dikompensasikan kemasa pajak berikutnya. Atas kelebihan PPN masukan
tersebut dapat diajukan permohonan pengambilan (restitusi) PPN perbasis
masa (bulanan) dapat dilakukan oleh PKP yang masuk kedalam criteria PKP
beresiko rendah

Rekonsiliasi (Equalisasi) PPN,
Dalam praktik pemeriksaan pajak standar, pihak pemeriksa umumnya
menggunakan metode rekonsiliasi (Equalisasi) guna membandingkan jumlah
peredaran usaha menurut SPT PPh badan berikut audit financial report-nya
dan jumlah penyerahan yang dilaporkan perusahaan pada SPT masa PPN.
Fasilitas (insentif) dibidang PPN,
UU PPN yang berlaku memberikan beberapa fasilitas terkait dengan
pengenaan PPN yang dapat berupa: (i) PPN tidak dipungut baik untuk
sebagian ataupun seluruhnya; (ii) PPN dibebaskan baik untuk sementara
waktu atau selamanya

PPN tidak dipungut,
Beberapa ketentuan mengenai fasilitas PPN yang tidak dipungut yang pernah
dikeluarkan oleh otoritas perpajakn meliputi:
PPN tidak dipungut atas penyerahan avtur untuk keperluan penerbangan
internasional
PPN tidak dipungut atas proyek pemerintah yang dibiayai dengan dana
hibah atau pinjaman lunak luar negri(project aid)
PPN tidak dipungut atas impor BKP tertentu yang dibebaskan dari bea
masuk
PPN tidak dipungut atas impor barang yang mendapatkan fasilitas
kemudahan impor tujuan ekspor (EPTE)
PPN tidak dipungut atas penyerahan BKP untuk tempat timbunan
berikat,yang dapat berbentuk gudang berikat, kawasan berikat, tempat
penyelenggaraan pameran berikat, toko bebas bea (duty free shop),
tempat lelang berikat atau kawasan daur ulang berikat

Pembebasan PPN,
Fasilitas pembebasan PPN diberikan antara lain untuk aktifitas berikut

:
Impor dan penyerahan BKP tertentu yang dibebaskan PPN
Penyerahan JKP tertentu yang dibebaskan dari pengenaan PPN
PPN idbebaskan atas jasa kebandarudaraan tertentu
PPN dibebaskan atas BKP tertentu bersifat strategis
Pembebasn PPN/PPnBM atas pembelian BKP atau perolehan JKP yang
dilakukan oleh perwakilan Negara atas asas timbale balik (resiprositas) dan
badan-badan internasional yang memperoleh kekebalan diplomatic ,
serta pejabat-pejabat dan tenaga ahlinya

PPN ditanggung (dibayar) oleh pemerintah.
PPN ditanggung pemerintah dan PPN dibayar pemerintah yang
berpayung hukum tidak pada UU PPN, melainkan merujuk pada UU keuangan
Negara dan anggaran pendapatan dan belanja Negara (APBN).

Ilustrasi
ILUSTRASI PPN masukan dapat
dikreditkan (dalam Rp)
PPN masukan tidak
dapat dikreditkan
(dalam Rp)
Perhitungan PPN:
1.Penjualan BKP 500.000.000 500.000.000
2.PPN keluaran (10%) 50.000.000 50.000.000
3.Biaya pembelian BKP 100.000.000 100.000.000
4.PPN masukan (10%) 10.000.000 0
5.PPN kurang bayar
(=2-4)
40.000.000 50.000.000
Perhitungan PPh badan:
6.Penjualan 500.000.000 500.000.000
7.Biaya Pembelian 100.000.000 100.000.000
8.PPN masukan yang
tidak dikreditkan
0 10.000.000
9.Laba Usaha (=6-7-8) 400.000.000 390.000.000
10.PPh badan (=25%x9) 100.000.000 97.500.000
Total Beban Pajak
(=5+10)
140.000.000 147.500.000
Serba-serbi PPnBM dan pengelolanya

Obyek PPnBM
Berdasarkan ketentuan,PPnBM dikenakan terhadap: (i) penyerahan BKP
tergolong mewah yang dihasilkan daerah pabean (ii) impor BKP tergolong
mewah,hanya dikenakan satu kali pada waktu penyerahan BKP. Pengenaan
PPnBM dilakukan dengan pertimbangan bahwa : (i) perlu keseimbangan
pembebanan pajak antara konsumen yang berpenghasilan rendah dengan
konsumen yang berpenghasilan tinggi; (ii) perlu adanya pengendalian pola
konsumsi atas BKP yang tergolong mewah; (iii) perlu adanya perlindungan
terhadap produsen kecil; (iv) perlu untuk mengamankan penerimaan Negara.
Kriteria barang mewah dan kegiatan menghasilkan
Barang yang bukan kebutuhan pokok
Barang yang dikonsumsi oleh masyarakat
Barang yang dikonsumsi masyarakat berpenghasilan tinggi
Barang yang dikonsumsi untuk menunjukan status

Tarif PPnBM
Tariff PPnBM paling rendah 10% dan paling tinggi 200%. Ekspor BKP tergolong
mewah dikenakan tariff pajak 0%. Mengenai kelompok BKP tergolong mewah
yang dikenai tariff PPnBM 10%-200% diatur diperaturan pemerintah.
Secara garis besar tariff PPnBM dibagi menjadi dua:
Kelompok barang mewah berupa kendaraan bermotor dengan tarif 10%- 60%,
dan 75% dan tergantung pada isi silinder (besaran cc)
Kelompok barang mewah selain kendaraan bermotor dengan tarif 10%-50%
dan 75% dengan uraian jenis barang mewah yang diatur pada peraturan
mentri keuangan nomor PMK-620/PMK.03/2004 yang diubah terakhir dengan
PMK-62/PMK.011/2010.
Mekanisme penghitungan PPnBM
PPnBM yang telah dibayar tidak dapat dikreditkan dengan PPnBM yang
terutang. Prinsip pemungutannya hanya satu kali saja, yaitu pada waktu
penyerahan oleh pabrikan atau produsen BKP yang tergolong mewah dan
impor BKP yang tergolong mewah. Penyerahan pada tingkat berikutnya tidak
dikenakan PPnBM

Ilustrasikasus :
PKP ABWH membeli BKP mewah (dengan tariff PPnBM 20%) daripabrikan PKP YES denganrincianhargasebagaiberikut :
Hargabeli (sebagaidasarpengenaanpajak) Rp 100.000.000,00
PPN (10%) Rp 10.000.000,00
PPnBMRp. 20.000.000,00
Jumlah yang dibayar PKP ABWH Rp 130.000.000,00

DalamhalnilaikontrakmenurutperjanjiansebesarRp. 130.000.000,00 di atassudahtermasuk PPN 10% danPPnBM 20%, makaperhitungan
PPN danPPnBMadalah :
PPN yang terutang =
10
110+20
x Rp. 130.000.000,00 = Rp. 10.000.000,00
PPnBMterutang =
20
110+20
x Rp. 130.000.000,00 = Rp. 20.000.000,00

Apabilakemudian PKP ABWH menjual BKP mewahtersebutkepada PKP GTR denganharapanlaba 30 % darihargabeli, makajumlah yang
dibayaroleh PKP GTR adalah


Hargabeli PKP ABWH Rp. 100.000.000,00
PPnBM yang telahdibayarRp. 20.000.000,00
Laba yang diharapkan (30%) Rp. 30.000.000,00
Hargajual (sebagaidasarpengenaanpajak) Rp. 150.000.000,00
PPN yang dipungut (10%) Rp. 15.000.000,00
Jumlah yang di bayaroleh PKP GTR Rp. 165.000.000,00

Tata cara pembebasan PPnBM atas impor dan/atau penyerahan barang mewah

Fasilitas pembebasan PPnBM atas impor atau penyerahan BKP mehah
kendaraan bermotor diberikan terhadap : (i) kendaraan bermotor yang
digunakan untuk kendaraan ambulan, kendaraan pemadam kebakaran,
kendaraan tahanan, dan kendaraan umum; (ii) semua jenis kendaraan
bermotor untuk tujuan protokoler kenegaraan; (iii) semua jenis kendaraan
bermotor angkutan lebih dari 10 orang termasuk pengemudi, yang digunakan
untuk kegiatan dinas TNI/POLRI; dan (iv) semua jenis kendaraan yang
digunakan untuk kepentingan patrol TNI/POLRI.
Fasilitas pembebasan pengenaan PPnBM atas impor atau perolehan
kendaraan tersebut dilakukan dengan mekanisme perolehan Surat
Keterangan Bebas (SKB) PPnBM yang diterbitkan oleh Dirjen Pajak.
Tata cara restitusi PPnBM kendaraan bermotor yang terlanjur
dipungut/dibayar

Untuk PPnBM yang seharusnya tidak dipungut tetapi PPnBM tersebut terlanjur
dipungut dan dibayarkan, PKP dapat mengajukan permohonan
pengembalian PPnBM yang telah dipungut. Permohonan dapat diajukan
kepada Dirjen pajak c.q. kepala KPP tempat permohonan terdaftar.
Pengajuan permohonan pengembalian PPnBM dilakukan paling lambat 12
bulan setelah terjadinya impor atau penyerahan kendaraan bermotor
dengan dilengkapi dokumen-dokumen pendukung yang relevan.