Anda di halaman 1dari 30

SPINAL ANESTESI PADA KASUS

UNION FRAKTUR DISTAL FEMUR

Pembimbing : dr. Noor Achmadi, SpAn


Disusun Oleh : Sabrina
1420221127

Kepaniteraan Klinik Departemen Anestesiologi dan Reanimasi


RUMAH SAKIT PUSAT ANGKATAN DARAT GATOT SOEBROTO
FAKULTAS KEDOKTERAN UPN VETERAN JAKARTA
PERIODE 8 AGUSTUS-9 SEPTEMBER 2016

Pendahuluan
Anesthesia regional

mencakup
blok
epidural
dan
blok
subdural atau biasa
disebut dengan spinal
anestesi.

Pada kesempatan kali ini, saya akan membahas


penggunaan anestesi regional dengan teknik blok subdural
atau biasa disebut spinal anestesi pada pasien, laki-laki,
usia 34 tahun, dengan diagnosis penyakit union
fraktuldistal femur pembedahan yang dilakukan adalah
remove implant, dengan diagnosis anestesi ASA I tanpa
penyulit airway.

Spinal anestesi pertama kali


digunakan untuk prosedur
operasi pada pergantian
abad ke dua puluh.
Saat ini, spinal anestesi
digunakan secara luas untuk
anesthesia
saat
section
caesaria, prosedur ortopedik,
dan
managemen
nyeri
1
kronik.

Dengan peralatan modern dan teknik yang dikembangkan,


metode anestesi ini tetap menjadi bagian penting dan
pembiayaan yang efisien.

Status Pasien
Identitas Pasien
Nama : Tn. AS
No.RM
: 803639
Jenis Kelamin : Laki-laki
Usia : 34 tahun
TTL : 17-06-1986
Pekerjaan
: Wiraswasta
Status Perkawinan : Belum menikah
Agama
: Islam
Alamat
: Eka Mulya RT 008/001 Mesuji
Kelompok pasien
: BPJS
Pasien bangsal : Lantai 5 bedah

Timur Lampung

Keluhan utama :
Tidak ada keluhan

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien, laki-laki, 34 tahun datang dengan
riwayat fraktur femur pada tahun 2015 lalu. Saat
ini pasien tidak mengeluhkan apapun. Demam
disangkal, lemas disangkal, mual muntah tidak
ada, sesak disangkal. Pasien tidak ada gigi yang
goyang dan tidak menggunakan gigi palsu. BAB
normal. BAK normal.

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat Hipertensi

: Disangkal
Riwayat Diabetes Melitus : Disangkal
Riwayat Jantung
: Disangkal
Riwayat Ginjal
: Disangkal
Riwayat Alergi
: Disangkal

Riwayat Penyakit pada Anggota


Keluarga
Penyakit Keganasan

: Disangkal
Penyakit Jantung
: Disangkal
Diabetes Mellitus
: Disangkal
Hipertensi
: Disangkal
Alergi
: Disangkal

Riwayat Operasi

Juni 2015 pasien operasi pemasangan


ORIF. Anestesi spinal. Pasien mengaku
mual setelah operasi. Muntah (-)

Riwayat fraktur femur distal dextra

Riwayat Trauma

Riwayat
Penggunaan Obat
Riwayat
Kebiasaan

Saat ini tidak mengkonsumsi obat


untuk pengobatan penyakit tertentu.

Merokok (+) ; minum alkohol disangkal.

Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum :
Sakit sedang, compos mentis, GCS
15
Status gizi
:
BB
77 kg
TB
165 cm

Tanda Vital
:
Tensi : 120/80 mmHg
Nadi : 80 x/menit, isi dan tegangan
cukup
Frekuensi Respirasi : 18 x/menit,
dangkal
Suhu : 36 0C

Kepala
:
Bentuk normocephal, rambut warna
hitam, terdistribusi merata.
Mata
:
Konjungtiva pucat (-/-), sklera ikterik
(-/-), pupil isokor dengan diameter
3mm/3mm, refleks cahaya (+/+)
Mulut
:
Sianosis (-), gusi berdarah (-), kering (-)
pucat (-), coated tongue (-), papil lidah
atrofi (-) stomatitis (-), luka pada sudut
bibir (-)
Leher
:
JVP 5-2 cm, trakea di tengah, simetris,
pembesaran tiroid (-), pembesaran KGB
cervical (-)
Mallampati I

Pemeriksaan Fisik
Thorax
:
Bentuk
normochest,
simetris,
retraksi
intercostal
(-),
pernafasan
thorakoabdominal, sela
iga melebar (-), spider
naevi (-), pembesaran
KGB axilla (-/-), nyeri
tekan (-)

Jantung-Paru :
Dalam batas normal
Punggung :
Luka (-), Tatoo (-),
kelainan bentuk tulang
punggung (-), Kifosis
(-),
Lordosis
(-),
Skoliosis (-)

Pemeriksaan Fisik
Abdomen
Inspeksi

:
:

Dinding perut simetris, venektasi

(-), caput medusae (-)


Auskultasi

Bising usus (+)

Perkusi
Timpani

:
pada seluruh lapang

abdomen
Palpasi

Nyeri tekan (-)

Genitourinaria :
Sekret (-), radang (-)

Ekstremitas
:
Inferior dextra :
Gerakan terbatas,
jaringan parut (+)
pugmentasi normal,
telapak kaki pucat (-)
edema pitting tungkai
dan pergelangan kaki
(-) parestesia (-) CRT <
2 detik

Pemeriksaan Penunjang (21/10/2015)


Radiologi :
Foto Rontgen
Thorax : dalam
batas normal
Spirometri

dalam batas
normal
EKG

: dalam
batas normal

Diagnosis
Union fraktur femur distal dextra
Penggolongan Status Fisik Pasien Menurut ASA
ASA I tanpa penyulit airway dan pasien disarankan untuk
puasa pre op selama 6 jam.
Rencana Pembedahan
Remove implant
Rencana Anestesi
Anestesi Regional dengan teknik spinal anestesi pada
daerah L4-L5.

PERSIAPAN ANESTESI

Persiapan Pasien
Sebelum Operasi
Di Ruang Persiapan
Selama Operasi

Persiapan Alat
Alat Anestesi Spinal
Alat Anestesi Umum
Alat Kanulasi Vena
Vena

Persiapan Obat
Anestesi Umum

Obat Emergensi

Anestesi Spinal
Bupivacain
Bupivacain 0.5%
0.5% Heavy 12.5 mg
Fentanyl 25 mcg
Antiemetik
: Ondancetron 8
mg
Antibiotik
: Ceftriaxone 1 gr
Analgetik post op : Ketorolac
Ketorolac 30 mg

Pelaksanaan Anestesi
Proses Anestesi

Menusukkan

Pukul 09.45 WIB


Memasang infus ringer laktat
Memasang monitor EKG dan Pulse Oxymetri
Mengukur tekanan darah
TD 141/82 mmHg; Nadi 110 x/mnt; saturasi O2
98%; pernafasan : 23x/menit.

Setelah itu, memasang spuit berisi obat anestesi

Pukul 10.00 WIB


Pasien dalam posisi duduk sambil memeluk bantal.

pasien diberitahu bahwa akan dilakukan tindakan


pembiusan. Lalu, identifikasi daerah yang akan
dipungsi, kemudian, melakukan tindakan aseptik
dan antiseptik pada daerah yang akan dipungsi
yaitu di daerah punggung bagian lumbal sakral dan
sekitarnya dengan menggunakn bethadine 10% dan
alcohol 70%.
Identifikasi celah intervertebral pada L4-L5

jarum spinal Quincke no. 26G


hingga menembus kulit sampai menembus
membrane dura-arachnoid yang dikonfirmasi
dengan keluarnya CSF bila stilet dicabut.
yang telah disiapkan (Bupivacain 0.5% Heavy
12.5 mg dan Fentanyl 25 mcg)

Setelah obat spinal anestesi masuk, tindakan

selanjutnya adalah menarik keluar jarum dan


menutup bagian punggung menggunakan
tape/plester.
Kemudian, memposisikan pasien dengan posisi

supinasi
Untuk

memastikan efek dari obat dengan


meminta pasien untuk mengangkat kaki, nilai
bromage score.

TD : 135/85 mmHg, Nadi : 112 x/menit, Saturasi

O2 100%

Pukul 10.15 WIB


Memasang

nasal

Pukul 11.00 WIB


kanul

O2

liter/menit
TD : 130/85 mmHg, Nadi : 78
x/menit, Saturasi O2 100%
Diberikan Ceftriaxone 2 gr intravena

Pukul 10.30 WIB


Pembedahan dimulai
TD : 118/76 mmHg, Nadi : 80

x/menit, Saturasi O2 100%


Diberikan
Ondancetron
intravena

mg

Pukul 10.45 WIB


TD : 110/73 mmHg, Nadi : 78

x/menit, Saturasi O2 100%

TD : 15/76 mmHg, Nadi : 78

x/menit, Saturasi O2 100%

Pukul 11.15 WIB


TD : 120/82 mmHg, Nadi : 70

x/menit, Saturasi 02 100%

Pukul 11.30 WIB


Pembedahan selesai
TD : 120/82 mmHg, Nadi : 70

x/menit, Saturasi O2 100%


Monitor
EKG, manset, pulse
oxymetri dilepaskan
Pasien dibawa ke ruang pemulihan

Post operatif
Pasien masuk ke ruang pemulihan pada pukul 11.50 WIB,
di ruang pemulihan dilakukan penilaian terhadap tingkat

kesadaran, pada pasien kesadarannya composmentis.


Dilakukan penilaian tanda-tanda vital, ditemukan tekanan
darah 120/80 mmHg, Nadi 70 x/menit, pernafasan 20
x/menit, dan saturasi oksigen 100%.

Post operatif
Pada pasien diberikan instruksi pasca anestesi selama di

ruang pemulihan yaitu bila kesakitan dapat diberikan


injeksi ketorolac 30 mg intravena, bila mual/muntah dapat
diberikan injeksi ondancetron 8 mg intravena, obat-obatan
sesuai instrument DPJP, infuse dengan RL 10 tetes/menit,
pemantauan (tensi, nadi, napas) setiap 15 menit selama 1
jam, pasien bebas makan dan minum, miring kanan-kiri
sampai 6 jam post-op setelah itu mobilisasi aktif.

Post operatif
Sebelum dipindahkan ke ruangan, dilakukan penilaian

Aldrete Score di ruang pemulihan dan ditemukan tingkat


kesadaran dengan nilai 2, pernafaasan dengan nilai 2,
tekanan darah dengan nilai 2, aktivitas dengan nilai 1,
warna kulit dengan nilai 2, dan total nilai kesadaran
adalah 9 yang menandakan pasien diperbolehkan pindah
ke ruang perawatan.

Pembahasan
Pada kasus ini, pasien dengan

jenis kelamin laki-laki, 34 tahun


dengan diagnosis Union fraktur
femur distal dextra dengan
pembedahan remove implant
Berdasarkan
anamnesis,
pemeriksaan
fisik
dan
pemeriksaan penunjang yang
didapatkan, tidak ada kelainan,
maka pasien dapat digolongkan
dalam ASA I tanpa penyulit
airway, hal ini mengacu pada
tabel ASA (American Society
Anesthesiologist)

Teknik Anestesi Spinal


Rencana

anestesi
menggunakan jarum
pada pasien ini adalah
jenis Quincke no. 26G
anestesi
regional
menembus kulit lalu
dengan teknik blok
subkutis
kemudian
subarachnoid (spinal
ligamentum
flavum
anestesi) pada daerah
sampai
membran
L4-L5.
dura-arachnoid,
dikonfirmasi
dengan
keluarnya CSF saat
stilet dikeluarkan.

Lokasi spinal anestesi

Indikasi
Tindakan operasi di :
Lower abdomen
Pelvic & daerah rektal
Kontraindikasi
Penyakit di korda spinalis
Infeksi pada tempat injeksi
Alergi anestesi lokal
Hipovolemia

terkoreksi

yang

tidak

Obat anestesi yang digunakan


Dosis yang digunakan adalah bupivacaine 0,5% sebesar

12,5 mg, dosis ini digunakan untuk prosedur di region


abdomen bawah.

Bupivacaine Hydrochloride (Generic name)

Obat anestesi yang digunakan


Fentanyl

digunakan karena onset untuk mencapai


analgesia lebih singkat dibanding morfin dan meperidin (5
menit)
dan
relative
kurang
mempengaruhi
kardiovaskular4.

Skala Bromage

Dampak Fisiologis Anestesi Spinal


Kardiovaskuler
Respirasi
Pencernaan

Komplikasi
Retensi urin
Sakit pinggang
Hearing loss
post-dural puncture headache (PDPH)
Cedera neurologic
Transient Radicular Irritation (TRI)

Kesimpulan
Berdasarkan

status fisik menurut ASA, pasien ini


termasuk ASA I.
Pemilihan teknik spinal anestesi pada pasien dengan
rencana remove implant ini sudah sesuai indikasi.
Pasien sudah ditatalaksana dengan baik.

TERIMA KASIH