Anda di halaman 1dari 30

KONTEKS LEGAL ETIK DALAM

KEPERAWATANJIWA

Lindawati F. Tampubolon
ETIK KEPERAWATAN
Sudut pandang pd apa yg baik
dan benar untuk kesehatan dan
kehidupan manusia.

Mengarahkan bagaimana
seorang perawat harus bertindak
dan berinteraksi dengan orang
lain
BERSUMBER DARI PERNYATAAN
FLORENCE NIGHTINGALE
= IKRAR PROFESI

1.Membantu yg sakit 2.Membantu yg sehat


Untuk mencapai Mempertahankan
keadaan sehat kesehatannya

4. Membantu seseorang
Yg menghadapi 3. Membantu mereka yg
Kematian untuk hidup tdk dpt disembuhkan
seoptimal mungkin Untuk menyadari
Sampai menjelang potenasinya
ajal
PERTIMBANGAN LEGAL DAN
ETIK

1. Klien psikiatri memiliki hak legal,


sama seperti klien di tempat lain.
2. Isu legal dan etik berkaitan dengan
topik klien yang menunjukkan sikap
bermusuhan dan agresif
3. Berlaku untuk semua klien di
lingkungan kesehatan jiwa.
Hospitalisasi Involunter

1. Seharusnya klien masuk ke tempat


rawat inap atas dasar sukarela
2. Keinginan klien untuk tidak mau dirawat
di rumah sakit dan diobati harus
dihargai, kecuali mereka membahayakan
diri mereka sendiri atau orang lain.
3. Klien dengan kondisi seperti ini
dimasukkan ke RS untuk perawatan
psikiatri sampai mereka tidak lagi
berbahaya bagi diri mereka sendiri atau
orang lain.
4. Seseorang dapat ditahan di fasilitas psikiatri
selama 48 sampai 72 jam karena keadaan
darurat sampai dapat dilakukan pemeriksaan
untuk menentukan kondisi klien
5. Negara memiliki komitmen untuk menangani
klien dengan masalah penyalahgunaan zat
yang berbahaya bagi diri sendiri atau orang lain
6. Komitmen sipil atau hospitalisasi involunter
mengurangi hak klien untuk bebas atau
meninggalkan RS ketika ia menginginkannya.
Hak klien yang lain tetap utuh.
Alasan masuk RS Jiwa
Berbahaya untuk diri sendiri dan
orang lain
Membutuhkan perawatan
Tidak dapat memenuhi kebutuhan
dasar secara mandiri
Keluar dari Rumah Sakit
1. Klien yang masuk RS secara sukarela memiliki hak untuk
meninggalkan RS jika mereka tidak lagi berbahaya
dengan menandatangani suatu permintaan tertulis.
2. Apabila klien masih yang berbahaya bagi dirinya maupun
orang lain ingin pulang, psikiater dapat menahan klien
sampai kondisinya benar-benar aman.
3. Studi yang di lakukan Weinberger et al. (1998)
menunjukkan bahwa pengadilan menerima 50% petisi
profesional kesehatan jiwa untuk tindakan hospitalisasi
pada klien psikiatri yang berbahaya. Perhatian
pengadilan adalah klien psikiatri memiliki hak sipil dan
tanpa alasan yang kuat tidak boleh ditahan di RS jika
mereka tidak berbahaya dan tidak ingin dirawat di RS.
Masyarakat menentang dengan menuntut bahwa mereka
patut dilindungi dari individu yang berbahaya.
Hak pasien Jiwa secara umum
(Stuart & Laraia, 2001)
Hak untuk berkomunikasi dengan orang lain di
luar RS dengan berkorespondensi, telepon dan
mendapatkan kunjungan
Hak untuk berpakaian
Hak untuk beribadah
Hak untuk dipekerjakan apabila memungkinkan
Hak untuk menyimpan dan membuang barang
Hak untuk melaksanakan keinginannya
Hak untuk memiliki hubungan kontraktual
Hak untuk membeli barang
Hak untuk pendidikan
Hak untuk habeas corpus
Hak untuk pemeriksaan jiwa atas inisiatif
pasien
Hak pelayanan sipil
Hak mempertahankan lisensi hukum; supir,
lisensi profesi
Hak untuk memuntut dan dituntut
Hak untuk menikah dan bercerai
Hak untuk tidak mendapatkan restrain
mekanik yang tidak perlu
Hak untuk review status secara periodik
Hak untuk perwalian hukum
Hak untuk privasi
Hak untuk informend consent
Hak untuk menolak perawatan
Hak-hak Pasien Berdasarkan
American Hospital Association (1992)

Pasien memiliki hak untuk mendapatkan


perawatan yang penuh rasa hormat dan
perhatian.
Pasien memiliki hak dan dianjurkan untuk
memperoleh informasi yang dapat
dipahami, terkini, dan relevan tentang
diagnosa, terapi, dan prognosis dari
dokter dan pemberi perawatan langsung
lainnya.
Pasien memiliki hak untuk membuat keputusan tentang
rencana perawatan sebelum dan selama proses terapi
dan menolak terapi yang direkomendasikan atau
rencana perawatan sejauh yang diperbolehkan oleh
hukum dan kebijakan rumah sakit dan diinformasikan
tentang konsekuensi medis tindakan ini. Bila pasien
menolak terapi, pasien berhak memperoleh perawatan
dan pelayanan lain yang tepat, yang disediakan rumah
sakit, atau dipindahkan ke rumah sakit lain. Rumah
sakit harus memberi tahu pasien tentang setiap
kebijakan yang dapat memengaruhi pilihan pasien di
dalam institusi tersebut.
Pasien memiliki hak untuk meminta petunjuk lanjutan
tentang terapi ( misalnya living will, perwalian
perawatan kesehatan, atau menunjuk pengacara
untuk mengatur perawatan kesehatan selama waktu
tertentu), dengan harapan bahwa rumah sakit akan
menerima maksud petunjuk tersebut sejauh yang
diperbolehkan oleh hukum dan kebijakan rumah sakit.

Pasien memiliki hak terhadap setiap pertimbangan


privasi. Diskusi kasus, konsultasi, pemeriksaan, dan
terapi harus dilaksankan agar privasi setiap pasien
terlindungi.
Pasien memiliki hak untuk berharap bahwa semua

komunikasi dan catatan yang berhubungan dengan

perawatannya akan dijaga kerahasiannya oleh rumah

sakit, kecuali pada kasus seperti kecurigaan tentang

penganiayaan dan bahaya kesehatan masyarakat, ketika

pelaporan kasus tersebut diizinkan atau diwajibkan oleh

hukum. Pasien memiliki hak untuk berharap bahwa

rumah sakit akan menegaskan kerahasiaan informasi ini

ketika memberi tahu pihak lain yang berhak meninjau

informasi dalam catatan tersebut.


Pasien memiliki hak untuk meninjau catatan yang
berhubungan dengan perawatan medisnya dan
meminta penjelasan atau interpretasi informasi sesuai
kebutuhan, kecuali jika dilarang oleh hukum.

Pasien memiliki hak untuk berharap bahwa dalam


kapasitas dan kebijakannya, RS akan merespon
dengan baik permintaan pasien untuk memperoleh
perawatan dan pelayanan yang tepat dan
diindikasikan secara medis.

Pasien memiliki hak untuk bertanya dan


diinformasikan tentang adanya hubungan bisnis
antara RS, institusi pendidikan, pemberi perawatan
kesehatan lain, atau pihak pembayar yang dapat
memengaruhi terapi dan perawatan pasien.
Pasien memiliki hak untuk menyetujui atau menolak
partisipasi dalam studi penelitian yang diajukan atau
eksperimen pada manusia yang memengaruhi
perawatan dan terapi atau memerlukan keterlibatan
pasien secara langsung, dan meminta penjelasan
sepenuhnya tentang studi tersebut sebelum memberi
persetujuan. Pasien yang menolak untuk berpartisipasi
dalam penelitian atau eksperimen tetap berhak
mendapat perawatan yang paling efektif, yang dapat
diberikan rumah sakit.

Pasien memiliki hak untuk menharapkan kontinuitas


perawatan yang layak jika tepat dan mendapat
informasi dan dokter dan pemberi perawatan lain
tentang pilihan perawatan pasien yang realistis dan
tersedia ketika perawatan rumah sakit tidak lagi tepat.
Pasien memiliki hak untuk mendapat informasi
tentang kebijakan dan praktik di rumah sakit yang
berhubungan dengan perawatan pasien, terapi,
dan tanggung jawab. Pasien memiliki hak untuk
mendapat informasi tentang sumber yang
tersedia untuk mengatasi perselisihan, keluhan,
dan konflik, misalnya komite etik, perwakilan
pasien, dan mekanisme lain yang tersedia di
instusi. Pasien memiliki hak mendapat informasi
tentang biaya RS untuk pelayanan yang diberikan
dan metode pembayaran yang digunakan.
Setiap larangan ( misalnya : surat, pengunjung,
pakaian) harus ditetapkan oleh pengadilan atau
instruksi dokter untuk alasan yang dapat diverifikasi
dan didokumentasikan. Contohnya sebagai berikut :
Klien yang pernah berupaya bunuh diri tidak
diizinkan menyimpan ikat pinggang, tali sepatu,
atau gunting, karena benda tersebut dapat
digunakan untuk membahayakan dirinya.
Klien yang menjadi agresif setelah kunjungan
seseorang dilarang dikunjungi orang tersebut
selama suatu periode waktu.
Klien yang mengancam orang lain di luar rumah
sakit melalui telepon diizinkan menelepon hanya
jika diawasi sampai kondisinya membaik.
Istilah
Restrains adalah aplikasi langsung
kekuatan fisik pada seseorang, tanpa atau
dengan izin, untuk membatasi kebebasan
bergerak.
Seclusion (pengasingan) adalah
pengurungan seseorang bukan keinginan
sendiri dalam konstruksi khusus, ruangan
terkunci dengan sebuah jendela keamanan
atau kamera untuk monitoring visual
langsung (JCAHO,2000).
HIRARKI DALAM MEMBATASI PASIEN JIWA
(Stuart & Laraian, 2001, p. 174)
Pembatasan bisa dalam makna dibatasi
secara fisik atau dibatasi pilihannya. Hirarki
dari yang paling restriktif ke yang kurang
restriktif.

Ekstrimitas tubuh
Batasan ruang gerak ( kamar isolasi)
Batasan dalam aktivitas sehari-hari, misal
acara TV, waktu merokok, komunikasi
Aktivitas yang bermakna, misalnya: akses
untuk ikut rekreasi
Pilihan perawatan
Kontrol sumber keuangan
Ekspresi verbal dan emosional
METODE DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN ETIS

1. Menunjukan maksud baik.


2. Mengidentifikasi semua orang penting.
3. Mengumpulkan informasi yg relevan.
4. Mengidentifikasi prinsip etis yang
penting
5. Mengusulkan tindakan alternatif.
6. Melakukan tindakan.
PENGARUH HUKUM DALAM PRAKTEK
KEP. JIWA

Perawat sebagai
warga negara

Hak-hak pasien
Perawat
Perawat sebagai
sebagai pemberi
pegawai pelayanan
MASALAH LEGAL DALAM PRAKTEK
KEPERAWATAN

Dapat terjadi bila tidak tersedia


tenaga keperawatan yang memadai,
tidak tersedia standar praktik, dan
tidak ada kontrak kerja.
Perawat profesional perlu
memahami aspek legal untuk
melindungi diri dan melindungi hak-
hak pasien dan memahami batasan
legal yang mempengaruhi praktik
keperawatan.
Pedoman legal Undang-undang
praktik, Keputusan Menteri
Kewajiban untuk Memperingatkan
Pihak Ketiga
Klinisi harus mengajukan empat pertanyaan
untuk menentukan apakah terdapat
kewajiban untuk memperingatkan (Felthous,
1999) :
Apakah klien berbahaya bagi orang lain ?
Apakah bahaya tersebut akibat gangguan
jiwa serius ?
Apakah bahaya tersebut segera terjadi ?
Apakah bahaya tersebut ditargetkan pada
korban yang dapart diidentifikasi ?
LIABILITAS DALAM
KEPERAWATAN JIWA

1. Pasien bunuh diri


2. Gagal mendiagnosa
3. Masalah terkait dengan ECT
4. Penyalahgunaan obat-obat
Psikoaktif
5. Melanggar kerahasiaan
6. Gagal merujuk pasien
7. Gagal untuk melaporkan
penganiyaan
8. Tidak adanya informed consent
Pertanggungjawaban Pidana terkait
dengan kondisi jiwa seseorang

Tindakan kriminal yang dilakukan oleh seseorang


yang diduga memiliki kelainan jiwa perlu
mendapatkan penyelididkan dari seorang ahli
kesehatan jiwa ( Visum et repertum psikiatrikum;
VER)
Argumen yang menyebutkan bahwa seseorang
yang didakwa melakukan tindakan kriminal
dianggap tidak bersalah karena orang tersebut
tidak bisa mengontrol perbuatannya atau tidak
mengerti perbedaan antara benar dan salah yang
dikenal sebagai Peraturan MNaghten.
Saat orang tersebut memenuhi kriteria, dia dapat
dinyatakan tidak bersalah karena mengalami
gangguan jiwa.
MEMINIMALKAN
LIABILITAS
1. Ikuti Standar.
2. Berikan Pelayanan Keperawatan
yang kompeten
3. Hubungan empati, hormat dan
bela rasa
4. Dokumentasi lengkap dan
objektif dan tepat waktu dan
tepat waktu.
5. Perawat menolong di tempat
umum
STANDAR KEPERAWATAN

Pedoman praktik keperawatan yang


aman dan tepat.

Menekankan tanggung gugat: Dapat


memberikan alasan atas tindakan
keperawatan yang diberikan atas diri,
pasien, profesi, atasan dan masyarakat

Tanggung jawab : Mengacu pada


pelaksanaan tugas yang dikaitkan
dengan peran perawat.
Dont take it seriously .