Anda di halaman 1dari 72

Desentralisasi di Indonesia

Kontribusi Bahan dari:


daly.erni@ui.ac.id (Repository
UI)
DESENTRALISASI
PEMERINTAHAN
DI INDONESIA

Ede Surya Darmawan

Kontribusi Bahan dari: daly.erni@ui.edu, Prof Pije, dll.


Masa depan kita
Globalisasi

Desentralisasi

Perubahan
struktur
Sosial
Decentralization: changing the game
Future Realities

Goals/Problems
Regional Program
Sectoral Program

Sectoral Program

Sectoral Program

Regional Program

Regional Program

?
Current Realities
Sectoral Program

Sectoral Program

Sectoral Program
Goals/Problems

Goals/Problems
Sinyalemen Terakhir
Beberapa indikator Indonesia Sehat 2010
dapat dicapai beberapa hari lagi....namun
IPM Indonesia tetap tidak akan beranjak dari
ranking 110/190 negara di dunia
IPM Indonesia tetap menjadi terendah di
antara negara pendiri ASEAN
Situasinya mirip SEAGAMES Vientiene 2009:
Indonesia rangking 3 namun ketinggalan jauh
dari no. 1 dan 2 dan hampir disusul no 4 & 5
Rapor merah utk Desentralisasi Kesehatan
APA ARTINYA BAGI KITA?
P
E
R P
D E
J E
A M
S E
L E
A R I
N I
N T N
A N D
R T
N A O
A N
L H
I E
A S
A N
S I
I A
Pengantar
Pembagian Kekuasaan
Dalam rangka menyelenggarakan kepentingan
rakyat
Mencegah kesewenang-wenangan
(Fungsi Kekuasaan Lembaga-lembaga Negara)
Hubungan Kekuasaan
Horisontal
Hubungan antara kekuasaan eksekutif, legislatif, dan yudikatif.
Vertikal
Hubungan yang bersifat atasan dan bawahan, dalam arti antara
pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Di dalamnya terdapat
semacam pembagian kerja antara pusat dan daerah
Pembagian Kerja
Pembagian Kekuasaan secara Vertikal:
Pembagian Kekuasaan menurut tingkatnya.
Dalam hal ini yang dimaksud adalah Pembagian Kekuasaan
antara beberapa tingkat pemerintahan.
Carl J. Friedrich memakai istilah Pembagian Kekuasaan secara
Teritorial (Territorial Division of Power).
Pembagian Kekuasaan ini dengan jelas dapat kita saksikan kalau
kita melakukan perbandingan antara negara KESATUAN, negara
FEDERAL serta KONFEDERASI.
Dalam negara Kesatuan jelas sekali terlihat bhw:
Pembagian kekuasaan secara vertikal melahirkan
garis hubungan antara pusat dan daerah dalam
sistem :
1. Desentralisasi
2. Dekonsentrasi
3. Medebewind
1. Desentralisasi :
Pasal 1 Butir 7 UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah:

Penyerahan wewenang
pemerintahan oleh Pemerintah
kepada daerah otonomi untuk
mengatur dan mengurus urusan
pemerintahan dalam sistem Negara
Kesatuan Republik Indonesia
Desentralisasi dan Sentralisasi
Konsensus nasional mengenai keberadaan desentralisasi dalam
Negara Kesatuan Indonesia tersebut mengandung arti bahwa
penyelenggaraan organisasi dan administrasi negara Indonesia tidak
hanya semata-mata atas dasar asas sentralisasi, tetapi juga dengan
desentralisasi dan otonomi daerah sebagai perwujudannya. Dengan
demikian, setidak-tidaknya di kalangan Pembentuk UUD 1945 dan
penyelenggara organisasi negara Indonesia telah diterima pemikiran
yang mendasar bahwa sentralisasi dan desentralisasi masing-
masing sebagai asas organisasi tidak ditempatkan pada kutub yang
berlawanan (dichotomy), tetapi kedua asas tersebut merupakan
suatu rangkaian kesatuan (continuum). Kedua asas ini memiliki
fungsi yang berlainan, tetapi saling melengkapi bagi keutuhan
organisasi negara. Sentralisasi berfungsi menciptakan
keseragaman, sedangkan desentralisasi menciptakan keberagaman
dalam penyelenggaraan pemerintahan.
Pendulum TheoryLaksono

SENTRALISASI DESENTRALISASI

Pemerintah Pemerintah
Gerakan
Pusat Pendulum Daerah
Pemerintahan
2. Dekonsentrasi :
Pasal 1 Butir 8 UU No. 32 / 2004 tentang Pemerintahan
Daerah:

Pelimpahan wewenang
pemerintahan oleh Pemerintah
kepada Gubernur sebagai wakil
Pemerintah dan/atau kepada
instansi vertikal di wilayah
tertentu.
Dekonsentrasi
Pelimpahan wewenang
Pembuatan keputusan, keuangan dan
fungsi manajemen
Level pemerintahan yang berbeda
Dalam Yurisdiksi pemerintah pusat
Melahirkan local state government atau
field administration atau wilayah
administrasi.
Penerapan dari asas
desentralisasi & dekonsentrasi
Pada Negara Kesatuan
- adalah merupakan perwujudan dari
DISTRIBUTION OF POWERS antara
PEMERINTAH PUSAT & PEMDA

- Sebagai konsekwensinya :
- Terjadi penyerahan urusan Pemerintah
Pusat kepada Pemerintah Daerah
DISTRIBUTION OF POWERS
pada Negara Federal
(Kebalikan dari Negara Kesatuan):
Distribution of Powers (Pembagian Kekuasaan) antara
Pemerintah Federal dan Pemerintah Negara Bagian adalah
lanjutan dan konsekwensi dari penyerahan kekuasaan dan
kedaulatan oleh negara-negara bagian kepada Pemerintah
Federalnya dalam rangka menegakkan suatu Negara
Serikat.
Terdapat penyerahan urusan dari Negara2 Bagian ke Pusat,
karena negara2 bagian yang sebelumnya merupakan
negara2 berdaulat penuh dan berdiri sendiri, menyerahkan
urusan2 & hal2 tertentu untuk diselenggarakan oleh
Pemerintah Federal.
3. Medebewind (Tugas Pembantuan):
Pasal 1 Butir 9 UU No. 32 / 2004 tentang Pemerintahan Daerah:

Penugasan dari Pemerintah kepada


daerah* dan/atau desa, dari
pemerintah provinsi kepada
kabupaten/kota dan/atau desa, serta
dari pemerintah kabupaten/kota
kepada desa untuk melaksanakan
tugas-tugas tertentu
(* daerah = Provinsi, Kabupaten, Kota)
PEMERINTAHAN DAERAH
Dasar Pemikiran:
Penyelenggaraan pemerintahan daerah disesuaikan dengan
amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945, yaitu pemerintahan daerah, yang mengatur dan mengurus
sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas
pembantuan, diarahkan untuk mempercepat terwujudnya
kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan, pelayanan,
pemberdayaan, dan peran serta masyarakat, serta peningkatan
daya saing daerah dengan memperhatikan prinsip demokrasi,
pemerataan, keadilan, keistimewaan dan kekhususan suatu
daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia;

Pemerintahan daerah dalam rangka meningkatkan efisiensi dan


efektivitas penyelenggaraan otonomi daerah, perlu
memperhatikan hubungan antarsusunan pemerintahan dan
antarpemerintahan daerah, potensi dan keanekaragaman daerah.
Aspek hubungan wewenang memperhatikan kekhususan dan
keragaman daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
PRINSIP-PRINSIP
prinsip otonomi seluas-luasnya
prinsip otonomi yang nyata dan
bertanggungjawab.
prinsip penyelenggaraan otonomi daerah
harus selalu berorientasi pada
peningkatan kesejahteraan masyarakat
dengan selalu memperhatikan
kepentingan dan aspirasi yang tumbuh
dalam masyarakat.
Prinsip menjamin keserasian hubungan
antara Daerah dengan Daerah lainnya
UU yang mengatur Pemerintahan Daerah

UU 22/1948: Pokok-pokok Pemerintahan Daerah bagi


Jawa, Madura, Sumatera dan Kalimantan.
UU 44/1950: Pokok-pokok Pemerintahan Daerah bagi
Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara.
UU 1/1957: Pokok-pokok Pemerintahan Daerah
UU 18/1965: Pokok-pokok Pemerintahan Daerah
UU 19/1965: Desa Praja
UU 5/1974: Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah
UU 5/1979: Pemerintahan Desa
UU 22/1999: Pemerintahan Daerah
UU 32/2004: Pemerintahan Daerah
PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DI
DAERAH
Konsep Dasar
Structural Efficiency Model
Local Democracy Model
Hubungan antara Kabupaten/Kota dan Provinsi semula
'dependent' dan 'subordinate' kini menjadi 'independent'
dan 'coordinate'.
'integrated prefectoral system' yang utuh ke 'integrated
prefectural system' yang parsial hanya pada tataran
provinsi.
(Dianutnya 'integrated prefectoral system' pada propinsi
dengan peran ganda Gubemur sebagai KDH dan Wakil
Pemerintah dimaksudkan untuk mengintegrasikan
kembali daerah otonom yang secara desentralalisasi
memiliki karakteristik keterpisahan)
Istilah-Istilah dalam Peraturan PEMERINTAHAN DAERAH
(UU No. 32 Tahun 2004)

Otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban


daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri
urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat
setempat sesuai dengan peraturan perundang-
undangan.
Daerah otonom, selanjutnya disebut daerah, adalah
kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-
batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus
urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat
setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi
masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
Istilah
Desentralisasi adalah penyerahan wewenang
pemerintahan oleh Pemerintah kepada daerah otonom
untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan
dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang
pemerintahan oleh Pemerintah kepada Gubernur
sebagai wakil pemerintah dan/atau kepada instansi
vertikal di wilayah tertentu.
Tugas pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah
kepada daerah dan/atau desa dari pemerintah provinsi
kepada kabupaten/kota dan/atau desa serta dari
pemerintah kabupaten/kota kepada desa untuk
melaksanakan tugas tertentu.
Pemerintahan Daerah
1. Pemerintahan daerah provinsi yang terdiri atas
pemerintah daerah provinsi dan DPRD
provinsi;
2. Pemerintahan daerah kabupaten/kota yang
terdiri atas pemerintah daerah kabupaten/kota
dan DPRD kabupaten/kota.

Pemerintah daerah terdiri atas kepala daerah


dan perangkat daerah.
Urusan Pemerintahan
Konsep urusan pemerintahan menunjukan dua
indikator penting, yaitu fungsi atau aktivitas dan
asal urusan pemerintahan tersebut. Urusan
pemerintahan yang didistribusikan hanya
berasal dari Presiden dan tidak berasal dari
Lembaga Negara lainnya. Oleh karena itu,
dalam konteks ini muncul berbagai urusan
pemerintahan seperti pendidikan, kesehatan,
pekerjaan umum dan lain-lain. Dalam hal ini
tidak lazim untuk menyebut urusan konstitusi.
legislasi dan yudikasi dalam tataran otonomi
daerah.
PEMBAGIAN URUSAN
PEMERINTAHAN
Pemerintahan daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan
yang menjadi kewenangannya, kecuali urusan pemerintahan
yang oleh Undang-Undang ini ditentukan menjadi urusan
Pemerintah.
Pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya untuk
mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan
berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan.
Urusan pemerintahan yang menjadi urusan Pemerintah
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. politik luar negeri;
b. pertahanan;
c. keamanan;
d. yustisi;
e. moneter dan fiskal nasional; dan
f. Agama.
urusan pemerintahan..
Dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan
yang menjadi urusannya, Pemerintah
menyelenggarakan sendiri atau dapat melimpahkan
sebagian urusan pemerintahan kepada perangkat
Pemerintah atau wakil Pemerintah di daerah atau
dapat menugaskan kepada pemerintahan daerah
dan/atau pemerintahan desa.
Dalam urusan pemerintahan yang menjadi
kewenangan Pemerintah di luar urusan
pemerintahan, Pemerintah dapat:
a. menyelenggarakan sendiri sebagian urusan pemerintahan;
b. melimpahkan sebagian urusan pemerintahan kepada
Gubernur selaku wakil Pemerintah; atau
c. menugaskan sebagian urusan kepada pemerintahan daerah
dan/atau pemerintahan desa berdasarkan asas tugas
pembantuan.
urusan pemerintahan
Penyelenggaraan urusan pemerintahan dibagi berdasarkan kriteria
eksternalitas, akuntabilitas, dan efisiensi dengan memperhatikan
keserasian hubungan antar susunan pemerintahan.

kriteria eksternalitas adalah penyelenggara suatu urusan


pemerintahan ditentukan berdasarkan luas, besaran, dan jangkauan
dampak yang timbul akibat penyelenggaraan suatu urusan
pemerintahan.

kriteria akuntabilitas adalah penanggungjawab penyelenggaraan


suatu urusan pemerintahan ditentukan berdasarkan kedekatannya
dengan luas, besaran, dan jangkauan dampak yang ditimbulkan
oleh penyelenggaraan suatu urusan pemerintahan.

kriteria efisiensi adalah penyelenggara suatu urusan pemerintahan


ditentukan berdasarkan perbandingan tingkat daya guna yang
paling tinggi yang dapat diperoleh.
urusan pemerintahan
Penyelenggaraan urusan pemerintahan
merupakan pelaksanaan hubungan kewenangan
antara Pemerintah dan pemerintahan daerah
provinsi, kabupaten dan kota atau
antarpemerintahan daerah yang saling terkait,
tergantung, dan sinergis sebagai satu sistem
pemerintahan.
Urusan pemerintahan yang menjadi
kewenangan pemerintahan daerah, yang
diselenggarakan berdasarkan kriteria tertentu
terdiri atas urusan wajib dan urusan pilihan.
urusan pemerintahan
urusan wajib adalah urusan yang sangat mendasar
yang berkaitan dengan hak dan pelayanan dasar
warga negara antara lain:
a. perlindungan hak konstitusional;
b. perlindungan kepentingan nasional, kesejahteraan masyarakat,
ketentraman dan ketertiban umum dalam kerangka menjaga
keutuhan NKRI; dan
c. pemenuhan komitmen nasional yang berhubungan dengan
perjanjian dan konvensi internasional.

urusan pilihan adalah urusan yang secara nyata ada


di Daerah dan berpotensi untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi,
kekhasan dan potensi unggulan daerah.
Dalam organisasi negara bangsa selalu terdapat
sejumlah urusan pemerintahan yang
sepenuhnya diselenggarakan secara
sentralisasi beserta penghalusannya
dekonsentrasi. Tetapi tidak pernah terdapat
suatu urusan pemerintahan apapun yang
diselenggarakan sepenuhnya secara
desentralisasi. Urusan pemerintahan yang
menyangkut kepentingan dan kelangsungan
hidup berbangsa dan bernegara lazimnya
diselenggarakan secara sentralisasi dan
dekonsentrasi. Urusan pemerintahan yang
mengandung dan menyangkut kepentingan
masyarakat setempat (lokalitas)
diselenggarakan secara desentralisasi.
Urusan pemerintahan yang diserahkan
kepada daerah disertai dengan sumber
pendanaan, pengalihan sarana dan
prasarana, serta kepegawaian sesuai
dengan urusan yang
didesentralisasikan.
Urusan pemerintahan yang dilimpahkan
kepada Gubernur disertai dengan
pendanaan sesuai dengan urusan yang
didekonsentrasikan.
BELAJAR
DESENTRALISASI
SECARA NYATA
REFLEKSI

Harapan, Pengalaman Negara


lain, Riset Terkait, dan beberapa
kisah sukses
Di Sektor Pemerintahan
khususnya Sektor
Kesehatan, ada atau tidak
contoh keberhasilanya?
Desentralisasi dalm Rencana
Strategis Departemen Kesehatan
tahun 2005-2009
Ditetapkan dengan SK Menkes
1274/SK/VIII/2005 kemudian direvisi
dengan SK Menkes 331/SK/V/2006
Dalam SK Menkes 1274/SK/VIII/2005
terdapat Strategi salah satunya
Desentralisasi kemudian hilang pada
revisi SK Menkes 331/SK/V/2006
Isu Strategis De
s en
t ra
lisa
si ?
SK 1274/205 SK 331/2006 ??
Pemerataan dan keterjangkauan 4 butir semual ditambah sbb:
pelayanan kesehatan yang bermutu
belum optimal. Derajat kesehatan Derajat kesmas telah
masyarakat masih rendah.
Sistem perencanaan dan penganggaran meningkat bermakna, namun
Depkes belum optimal (i.e. informasi).
Sistem pengendalian, pengawasan dan msh tertinggaldi ASEAN
pertanggungjawaban kinerja belum
lancar Beban ganda, re-emerging,
Standar pedoman pelaksanaan masih dan emerging diseases
kurang memadai. Litbang belum optimal.
Pemberdayaan masyarakat dan sumber
daya kesehatan belum merata
Pemberdayaan masyarakat
Dukungan Depkes masih terbatas msh kurang: to serve, to
terutama untuk penanganan penduduk advocat, to watch cndrg
miskin, promkes, gizi buruk, imunisasi,
yankes terpencil perbatasan, menurun
pendayagunaan tenaga kesehatan
Kondisi global yg kurang
mendukung kesehatan
STRATEGI UTAMA DAN SASARAN
Seluruh Desa Menjadi Desa Siaga
Menggerakkan
Menggerakkan Dan
Dan Seluruh Masyarakat Berperilaku Hidup Bersih Dan Sehat
Memberdayakan
Memberdayakan Seluruh Keluarga Sadar Gizi
Masyarakat
Masyarakat Untuk
Untuk
Hidup Sehat
Hidup Sehat 1. Setiap Orang Miskin Mendapat Pelayanan Kesehatan Yang Bermutu
2. Setiap Bayi,Anak, Ibu Hamil & Kelompk Masy Risiko Tinggi Terlindungi dari
Penyakit
Meningkatkan
Meningkatkan Akses
Akses 3. Di Setiap Desa Tersedia Sdm Kesehatan Yang Kompeten
Masyarakat
Masyarakat Terhadap
Terhadap 4. Di Setiap Desa Tersedia Cukup Obat Esensial Dan Alat Kesehatan Dasar
Pelayanan
Pelayanan Kesehatan
Kesehatan 5. Setiap Puskesmas dan Jaringannya dpt menjangkau dan dijangkau seluruh
Yang
Yang Berkualitas
Berkualitas masyarakat Di Wilayah Kerjanya
6. Pelayanan Kes di setiap RS, Puskesmas dan Jaringannya memenuhi Standar
Mutu

1. Setiap kejadian Penyakit terlaporkan secara cepat kepada Kepala Desa/Lurah


untuk kemudian diteruskan ke Instansi Kesehatan terdekat
Meningkatkan
Meningkatkan 2. Setiap Kejadian Luar Biasa/KLB dan Wabah Penyakit tertanggulangi secara
Sistem
Sistem cepat dan tepat sehingga tdk menimbulkan dampak Kes Mas
Surveillance,
Surveillance, 3. Semua sediaan Farmasi, Makanan dan Perbekalan Kes memenuhi syarat
Monitoring
Monitoring dan
dan 4. Terkendalinya Pencemaran Lingkungan sesuai dengan standar kesehatan
Informasi Kesehatn
Informasi Kesehatn 5. Berfungsinya Sistem Informasi Kesehatan yang Evidence Based di seluruh
Indonesia

Meningkatkan 1. Pembangunan Kes Memperoleh Prioritas Penganggaran Pemerintah Pusat dan


Daerah
Pembiayaan 2. Anggaran Kesehatan Pemerintah Diutamakan utk Upaya Pencegahan &
Kesehatan Promosi Kes
3. Terciptanya Sistem Jaminan Pembiayaan Kes Terutama bg Rakyat Miskin.
SETELAH DESENTRALISASI
Pemerintah Daerah umumnya kurang
perhatian terhadap sektor kesehatan
Sektor kesehatan di daerah merasakan
tidak ada bedanya, bahkan lebih buruk
karena tidak ada jaminan pendanaan
Kasus-kasus penyakit justru lebih banyak
setelah desentralisasi: gizi buruk, polio
liar, kaki gajah, dll
Sistem Informasi Kesehatan hancur
Padahal :
Harapan Desentralisasi
Sentralisasi terbukti tidak kurang
mencapai apa yang diharapkan:
kesesuaian, keberdayaan dan
kemandirian masyarakat
Desentralisasi diharapkan untuk
melakukan perbaikan dalam hal
kesesuaian, kecepatan, penghargaan
dan pengembangan inisiatif lokal, serta
biaya yang lebih efektif. 45
Pengalaman Negara Lain
Philippines (Orville Solon, 1999)
Peningkatan pembiayaan oleh Pemerintah Daerah;
Meningkatnya peran Social Insurance;
Tumbuhnya kerjasama antar daerah dalam pengadaan;
Akuntabilitas institusi kesehatan kepada masyarakat;
Health Politicking, kurangnya saran dan prasarana, dan perbedaan
gaji antara pegawai pusat dan daerah, telah menyebabkan
hambatan dan pemborosan biaya pada masa transisi;
Mengecilnya subsidi pusat terutama untuk biaya pemeliharaan
sarana kesehatan menyebabkan fasilitas pelayanan kesehatan
konidisinya makin memburuk;
Terjadi pemisahan antara Manajer Kesehatan dengan Profesional
Kesehatan, terutama pada pelayanan kesehatan dasar; dan
Departemen Kesehatan tidak lagi mempunyai kewenangan kepada
institusi kesehatan daerah 46
Pengalaman Negara Lain
Amerika Latin, Christi Hanson (1999)
Reformasi kesehatan jangan dipisahkan dari Program
Reformasi Pemerintahan secara menyeluruh;
Desentralisasi dapat menjadi kacau, memakan waktu dan
biaya yang tinggi, bahkan ada biaya tersembunyi;
Desentralisasi dapat berjalan lambat karena hambatan dari
kepentingan berbagai group (conflict of interest);
Desentralisasi yang berhasil membutuhkan kepemimpinan
yang kuat, visi yang brilian dan kerjasama lintas sektor lain;
Pilot Project dalam skala kecil sangat dibutuhkan. Building the
Ship while Sailing adalah sangat berbahaya dalam program
kesehatan. Pilot Project harus mulai melibatkan departemen
lain yang terlibat misalnya dari Depdagri, Depsos, Pendidikan,
Penerangan KB, dll.
47
Keunggulan Desentralisasi
Osborne & Gaebler 1993

- Lebih mudah beradaptasi dan sesuai dengan


kebutuhan masyarakat setempat;
- Lebih efektif dan lebih cepat dalam memberikan
response bila ada permasalahan;
- Program lebih innovatif karena disesuaikan
dengan kebutuhan konsumen dan konsumennya
secara fisik lebih dekat;
- Memberikan partisipasi yang lebih tinggi, dengan
komitmen petugas yang juga lebih tinggi
sehingga meningkatkan produktifitas beberapa
kali lipat 48
Kelemahan Desentralisasi
Mills (1989) & Gani (1999)
Terjadi ketidak merataan; ada daerah minus - surplus;
Mempersulit pelaksanaan kebijakan, prioritas dan standard nasional;
Variasi sistem pelayanan kesehatan yang berbeda antara satu
Kabupaten/Kota dengan kabupaten/kota yang lain;
Pengadaan obat, alkes, dan serum/vaccine menjadi lebih mahal
karena jumlahnya terbatas (inefficiency);
Kurangnya tenaga SDM kesehatan yang terlatih di Kabupaten/Kota;
Akan menonjolnya peran lembaga kesehatan sebagai sumber
pendapatan asli daerah (PAD) dan bukan sarana human investment;
Beberapa masalah lintas daerah sulit untuk ditangani di tingkat
kabupaten/kota seperti kebakaran hutan, wabah, bencana alam,
imunisasi dll.
Timbunya raja-raja kecil di daerah 49
Kesimpulan Penelitian
Analisis Proses Desentralisasi
Kesehatan di Kabupaten Bogor
Tahun 2004-2005

Kerjasama Pemda Kabupaten Bogor


Dengan FKMUI, 2004-2005

50
KESIMPULAN UMUM
Penerapan desentralisasi telah
mendorong terjadi peningkatan
dinamika pada pemerintahan
Kabupaten Bogor. yang sebagai wujud
dari desentralisasi; dengan beberapa
catatan:

51
KESIMPULAN-1
Kebijakan belum fokus pada upaya
mendekatkan dan memperbaiki layanan pada
tingkat puskesmas dan desa
Program belum tajam menuju penyelesaian
permasalahan yang dihadapi masyarakat dan
kebutuhan peningkatan kapasitas aparat
berhadapan dengan program titipan-desakan
dari pihak lain

52
KESIMPULAN-2
Kemampuan dan persebaran SDM belum
merata dihadapkan dengan belum merata-
cukupnya infrastruktur serta kemampuan
keuangan pemerintah daerah
Pembinaan dan pengendalian ke tingkat layanan
masyarakat (puskesmas-desa) sebagai bagian
dari percepatan layanan telah terjadwal dengan
baik namun belum optimal dilaksanakan karena
disibukkan urusan administrasi dan luasnya
wilayah

53
KESIMPULAN-3
Masih ada proyek dari pusat yang suka
mendesak dan memaksa untuk
dilaksanakan tanpa melihat kebutuhan
dan perencanaan yang telah dibuat
daerah
Secara umum P1 sangat baik, P2 baik-
sangat repot, P3 masih melempem

54
REKOMENDASI

55
Rekomendasi-1
Desentralisasi membutuhkan
kepemimpinan yang visioner dan kuat
untuk menterpadukan seluruh potensi
yang dimiliki menuju penyelesaian
masalah dan tujuan yang ditetapkan
Pelatihan kepemimpinan strategis
Continuing building commitment
Open and interactive dialogue

56
Rekomendasi-2
Perlunya membangun Sistem Kesehatan
Daerah Kabupaten Bogor yang komprehensif
yang mampu mengakomodir seluruh komponen
dan sumber daya yang dimiliki (mengurangi
program titipan dan paksaan)
Investasi kepada peningkatan kualitas SDM dan
pemerataan pada tingkat layanan langsung
kepada masyarakat
Pendidikan bergelar
Pelatihan manajemen kesehatan
Koordinasi internal yang terstruktur dan terjadwal

57
Kebutuhan Pembaharuan
Pekerjaan Cara Kerja Harapan-Hasil Istilah

Lama Lama Lama Status-Quo

Lama Lama Baru Frustasi

Lama Baru Baru Kreatif

Baru Baru Baru Inovatif

58
MEMANFAATKAN
DESENTRALISASI
Model-Gaya Baru
Pemerintahan
Model Jembrana
Model Musi Banyu Asin
(Sumsel?)
Model Balikpapan Apa yang bisa kita pelajari?
Mengapa Daerah lain bisa?
Model Purbalingga Bisakah di tempat kerja
saya dijalankan?
Model DKI Jakarta Apa yang menjadi kunci
Model Kota Solo keberhasilannya?

Model Kota Cirebon ?


Tahapan Strategis
Kerangka konsep
Kerangka kebijakan
Kerangka pengorganisasian
Penyediaan Sumber Daya:
Sumber Daya Manusia
Pembiayaan
Pelaksanaan
Evaluasi
KERANGKA KONSEP
Berawal dari pemahaman yang benar
tentang kesehatan
Tataran Praktis:
Kesehatan dipahami sebagai sektor atau
bidang yang bagaimana:
Menguntungkan??
Merugikan??
Menghabiskan anggaran?
Tenaga kesehatan menggunakan logika
berpikir sendiri
Kerangka Kebijakan
Kebijakan Internasional Global
Kebijakan Nasional
Kebijakan Operasional Kesehatan
Kebijakan Daerah
Kebijakan Internasional -
Global
Declaration of Human Right
WHO Charter
International Health Regulation
Health for All by The Year 2000
Millenium Development Goals = MDG
ASEAN Charter

Tugas: cari referensi MDG dan ASEAN Charter


Kebijakan Nasional
Amanat Konstitusi: UUD 1945
UU Kesehatan 23/1992 UU 36/2009
UU No. 40/2004 tentang SJSN
Apa lagi:
Kebijakan operasional sektor kesehatan
Permenkes
Kepmenkes
Hilangkan kebiasaan manajemen
resep dokter
Kebijakan Daerah
Hilangkan mentalitas Take for Granted
ala resep dokter
Bekerja bersama
Rangkul pihak lain
Yakinkan kesehatan mendahului sektor lain
dengan cara yang diterima mitra di daerah
Kerangka Pengorganisasian
Quality - Effectivity
Accessibility
Affordability
Equity
Sustainability
Community Empowerment
How Well the Health System Performs
Depends on How It Is Structured and
Functions
Financing: How money is raised
Payment: How providers are funded and paid
Organization:
Macro level: what providers do what activities
Micro level: how workers and managers inside health
care institutions relate to each other
Regulation: What enforceable government rules
apply to health system providers
Individual Behavior: How citizens and patients
interact with the system Marc J. Roberts
Professor of Political Economy and Health Policy
Harvard School of Public Health, Bali - 2007
Penyediaan Sumber Daya
Sumber Daya Manusia
Pembiayaan
Pelaksanaan
Evaluasi
Sumber Daya Manusia
No Jenis Tenaga Kondisi Tenaga Kesehatan Tahun 2003 Kebutuhan jumlah tenaga tahun 2010
Jumlah Ratio per 100.000 Jumlah Ratio per 100.000
penduduk penduduk
1 Dokter spesialis 11000 5,12 14156 6
2 Dokter umum 37531 17,47 94376 40
3 Dokter gigi 9177 4,27 25953 11
4 Perawat 233116 108,53 276049 117
5 Bidan 61000 28,40 235939 100
6 Perawat Gigi 5869 2,73 70782 30
7 Apoteker 7646 3,56 23594 10
8 Asisten Apoteker 26703 12,43 70782 30
9 SKM 3912 1,82 94376 40
10 Sanitarian 12461 5,80 93376 40

11 Nutrisionis/ahli gizi 10685 4,97 51907 22

12 Keterapian fisik 3072 1,43 9438 4

13 Keteknisian medis 28255 13,15 35391 15


Terimakasih