Anda di halaman 1dari 53

INSPECTION AND STRUCTURE ANALYSIS ON

TELKOMSEL SMART OFFICE BUILDING


Prepared by
PT SUCOFINDO (PERSERO)
STRATEGIC BUSINESS UNIT (SBU) INDUSTRI
Graha Sucofindo Lantai 6, Jl. Raya Pasar Minggu Kav. 34 Jakarta 12780
Telepon : (021) 7983666 Ext. 1116, 1124, Fax : (021) 7986473, 7983888
Introduction
1. LATAR BELAKANG

PT Telkomsel, operator terbesar komunikasi seluler di Indonesia, berencana untuk


memindahkan kantor pusat gedung lama ke gedung baru. Bangunan baru ini disebut
sebagai Telkomsel Smart Office (TSO). Bangunan ini terletak di kompleks terpadu di
belakang Gedung Telkom - Graha Merah Putih.

Proses pemindahan dilakukan secara bertahap, saat ini ada beberapa lantai di gedung
baru telah dimasuki oleh PT Telkomsel.

PT Telkomsel merasa perlu untuk meyakinkan tentang kualitas struktur bangunan. Oleh
karena itu, penilaian bangunan perlu dilakukan dan PT Sucofindo diberikan kepercayaan
untuk melaksanakan pekerjaan tersebut.

2. TUJUAN PEKERJAAN

Pemeriksaan kondisi bangunan, kegiatan inspeksi dibangunan, terutama yang berkaitan


dengan kondisi struktur bangunan di:
Tahap I : Lantai 10 dan 18
Tahap II : Lantai B3, 6, 7, 10, 12, 13, 19, 20 dan Roof top

Tujuan dari pemeriksaan keandalan bangunan adalah sebagai berikut:


a. Menilai kelayakan kondisi dan operasi
b. Memastikan kondisi bangunan sesuai dengan spesifikasi,
c. Memastikan bahwa bangunan layak dioperasikan.
3. REFERENSI PELAKSANAAN KEGIATAN

a. PT. Sucofindo (Persero) sebagai jasa


konstruksi kegiatan usaha jasa
pengawasan konstruksi (Konsultan) No.
1-009492-3171-3-00920
b. Undang-Undang No. 28 Tahun 2002
tentang Bangunan Gedung.
c. Peraturan Daerah Provinsi DKI-Jakarta
No. 7 tahun 2010 tentang Bangunan
Gedung, Untuk Bangunan yang Berada
dalam Wilayah Provinsi DKI-Jakarta.
d. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.
16/PRT/M/2010 tentang Pedoman Teknis
Pemeriksaan Berkala Bangunan
Gedung.
e. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.
26/PRT/M/2008 tentang Persyaratan
Teknis Keandalan Bangunan Gedung.
Introduction
4. LINGKUP PEKERJAAN

4.1 Inspeksi dan Pengujian


Melakukan inspeksi visual dan pengujian untuk memastikan kondisi dari bangunan
sesuai dengan perencanaan, diantaranya:

- Schmidt Hammer Test untuk mengukur mutu beton


- Ultrasonic Pulse Velocity (UPV) untuk mengukur kedalaman retak.
- Hasil simulasi dan perhitungan struktur gedung

4.2 Laporan
Dari hasil inspeksi dan pengujian lapangan, PT. Sucofindo akan mengeluarkan hasil
laporan inspeksi dan pengujian, diantaranya:
a. Preliminary reports - Done
b. Field Examination Results Presentation - Done
c. Final report

5. JADWAL PELAKSANAAN

Pelaksanaan pekerjaan dimulai pada tanggal 28 September 2015 dan dijadwalkan akan
selesai pada akhir November 2015 dengan asumsi adanya kerjasama yang baik antara
PT. Telkomsel dan PT. Sucofindo ketika pelaksanaan lapangan untuk menghindari
keterlambatan, khususnya dalam mendapatkan dokumen-dokumen terkait, asbuild
drawing dan dokumen pendukung lainnya.
Review of Building Condition
6. INFORMASI UMUM GEDUNG

Saat ini gedung Telkom Landmark Tower – Tower 1 terdiri atas:


Basement = 3 Lantai
Tower = 20 Lantai
Luas Bangunan = 55,000 m2
Luas Supporting Facilities = 84.400 m2

Pemilik : PT Telkom Landmark Tower


(TLT)
Manajemen Konstruksi : PT. Trimatra Jaya Persada
Arsitek : Woods Bagot PC & PT.
Pandega Desain Weharima
Desain Struktur : PT. Haerte Widya Konsultan
MEP Konsultan : PT. Arnan Pratama
Consultant
QS Konsultan : PT. Jurukur Bahan Indonesia
(JBI)
Kontraktor Utama : PT. Adhi Karya (Persero)
Review of Building Condition
7. FUNGSI LANTAI GEDUNG

Fungsi perlantai dari gedung sudah diatur oleh PT Telkomsel antara lain:
Lantai Fungsi Lantai Keterangan
Basement Generator room, reservoir, chiller, pump room, parking
1-3 lot
P1-P3 Parking lot
1 Lobby
2 Creative room
3-4 Office space
5 Ballrooms, Amphitheatre, Training room Q=500 kg/m2
6 Control room, Server, room, battery room, office space Q=1800 kg/m2
7 Supporting facilities, office space
8 Mosque (Temporary) Kapasitas 1500
orang
9 Main lobby of Telkomsel, meeting room, auction room
10 Canteen, cafeteria Kapasitas 600
orang
11-17 Office space
18 Board of Directors and Senior Vice Pesident
19 Commissioner room, office space
20 Office space
Roof M/E outdoor devices, cooling tower, dll.
8. HASIL TEMUAN Review of Building Condition

Selama proses inspeksi dilapangan, terdapat beberapa temuan pada struktur dari bangunan.

a. Pelat lantai tidak rata


Kondisi eksisting pelat lantai asli tidak rata. Kondisi ini hampir ditemukan pada tiap lantai
sehingga screeding yang diaplikasikan untuk meratakan lantai tersebut lebih tebal.

b. Retak pada kolom dan balok


Beberapa retak ditemukan pada
balok, retak ini merupakan retak
struktural yang disebabkan gaya
geser pada struktur. Retak ini
mungkin terjadi pada balok
dikarenakan kapasitas balok
lebih kecil dari beban yang
bekerja. Lebar dari retak
mencapai 1-2 mm.
c. Honeycombs pada beton Review of Building Condition
Honeycombs merupakan kondisi
terdapatnya rongga udara dalam beton.
Rongga ini dapat terjadi karena proses
pemadatan dalam pengecoran tidak
baik dan rongga ini dapat menurunkan
mutu beton

Pada saat inspeksi dilakukan, kami


mendapatkan rongga pada beton sudah
ditutup dengan mortar.

d. Beton tidak homogen


Sambungan pada beton kemungkinan
tidak homogen dan menyebabkan beton
yang lama dengan baru segregasi.

e. Selimut beton tipis


Pada gambar disamping terlihat beberapa selimut beton pada
bagian bawah balok terlalu tipis dan kondisi ini menyebabkan
tulangan dalam beton terlihat.
a. Hammer Test Inspeksi atas Struktur Gedung
Hammer test dilakukan untuk menentukan
kekuatan beton pada beberapa poin dari
objek. Hasil dari rebound hammer test
kemudian dianalisis dan dihitung untuk
mendapatkan standar deviasi dan akhirnya
mendapatkan kekuatan karakteristik beton.
Hammer test dilakukan pada kolom, balok
dan pelat lantai pada gedung.

b. Ultrasonic Pulse Velocity (Pundit test)


UPV dilakukan untuk mengetahui kedalaman
retak pada struktur dan mengetahui mutu
beton. Pada gedung ini tes UPV dilakukan
pada lantai 18. Kedalaman retak yang
diperoleh dari tes UPV dapat digunakan
untuk menentukan seberapa parah
kerusakan yang terjadi.
Prinsip kerja dari alat Ultrasonic Pulse
Velocity adalah memancarkan gelombang
dari transducer (pemancar) melalui lapisan
beton dan gelombang berikutnya yang
diterima oleh transducer (penerima). Proses
perambatan gelombang dari pemancar ke
penerima akan lebih cepat jika beton memiliki
kerapatan yang cukup baik (mengandung
rongga kecil).
CORE DRILLING TEST
Inspeksi atas Struktur Gedung

Core drilling / pengeboran inti beton


telah diselenggarakan pada tanggal
2 Oktober 2015 oleh pihak PT.
Prosys. Sampel yang diambil
merupakan pelat lantai berjumlah 3
titik dengan diameter 5,5 inci.
Sampel ini akan diuji di
Laboratorium untuk menentukan
kuat tekan beton.

Karena benda uji tidak sesuai


dengan standar, benda uji tersebut
harus disesuaikan dengan standar
yang berlaku.

Diameter dan tinggi benda uji


dikurangi agar memenuhi standar
sebelum di uji menggunakan UTM
(Universal Testing Machine) / mesin
crushing.
Tambahan Core Drilling Test
Tambahan Core Drilling Test dilakukan pada Lantai 5, 6, 7, 8, 12, 13, 19 dan 20 untuk
memastikan mutu beton yang sebenarnya.
Tambahan Core Drilling Test
Tambahan Core Drilling Test
Suatu hal yang mengejutkan
adalah ditemukannya mutu
beton yang sangat buruk
pada Sampel Coring dari
Lantai 19, yang hanya
menghasilkan kuat tekan
3.11 Mpa atau hanya 15%
dari mutu beton yang
disyaratkan, 20 MPa.

Hasil Kuat Tekan Beton dirangkum pada tabel berikut Sehingga coring pada lantai
Compressive ini diulang kembali pada dua
Sample Diameter Height
No.
Location strength
Figure 4.6 Execution of Core titik lainnya, satu titik
Drilling by PT. Sucofindo
(mm) (mm) MPa
7 5th floor 75 105 10.73
dilakukan dekat titik coring
8 6th floor 75 100 10.11 yang lama dan satu titik
1 7th flor 75 100 12.32 lainnya di lokasi yang agak
5 8th floor 75 105 10.11
4 12nd floor - 1 75 110 14.79
berjauhan dan hasilnya
6 13rd floor 75 90 16.24 adalah 6.23 MPa (titik yang
3 19th floor - 0 75 100 3.11 dekat) dan 15.07 MPa (titik
9 19th floor – 1 75 100 15.07
10 19th floor – 2 75 100 6.23
yang jauh).
2 20th floor 75 105 13.65
Tambahan Core Drilling Test

Tampilan visual dari sampel coring menunjukkan


adanya retakan pada slab (pelat) beton.
Kemudian agregat terlihat tidak masif dan rapuh
bahkan batu pecahnya mudah lepas hanya
dengan digaruk. Dalam pelaksanaan coring
Operator mesin bor sudah merasa bahwa beton
yang dicoring demikian lunak dan mudah
dibanding beton lainnya.

Kondisi lubang coring juga menunjukkan adanya


retakan yang cukup lebar.

Perbandingan permukaan sampel coring dapat


dibedakan dengan jelas dimana sampel yang
buruk mutu betonnya terlihat poreous dan mudah
menyerap air. Sedangkan yang baik lebih kedap
air.
Rangkuman Hasil Kuat Tekan Beton Dari Hasil Uji Lapangan
Design Concrete Compression by Design Concrete Compression by
Element Element
Live Hammer Live Hammer
Floor Point of Design UPV Test Crushing Test Floor Point of Design UPV Test Crushing Tes
Load Test Load Test
Structure Structure
Kg/m 2 Mpa Kg/cm 2 Kg/cm2 Kg/cm2 Mpa Kg/cm2 Kg/m 2 Mpa Kg/cm 2 Kg/cm2 Kg/cm2 Mpa Kg/cm2
77 342.1 68 250.25 10.1 124.32
78 Column 40 491.41 319.13 8th Floor 65 Floor Slab 250 25 307.13 279.9
79 308.87 71 325.56
72 283.49 10-K1 327.55
Basement 3
73 316.15 10-K2 Column 30 361.45 296.43
74 Floor Slab 400 35 429.99 286.25 10-K3 320.37
75 296.95 10-B1 414.86
76 353.79 10-B2 242.83
93 272.89 10-B3 266.59
94 Beam 25 307.13 318.94 10-B4 Beam 25 307.13 309.9
5th Floor 95 325.65 10-B5 301.88
96 331.65 10.7 131.97 10th Floor 10-B6 287.73
Floor Slab 250 25 307.13
97 346.45 10-B7 307.5
86 365.62 10-S1 375.21
89 Column 35 429.99 200.63 10-S2 245.98
92 248.53 10-S3 311.35
6 th Floor 81 316.62 10-S4 Floor Slab 250 25 307.13 325.91
Beam 25 307.13
83 322.04 10-S5 358.13
80 274.05 10.1 124.26 10-S6 294.34
Floor Slab 1800 25 307.13
82 336.45 10-S7 267.42
63 273.4 54 230.05
66 Column 35 429.99 222.11 56 Beam 25 307.13 171.8
69 245.11 58 271.28
12nd Floor
85 299.56 55 241.15 14.8 181.81
7th Floor 88 Beam 25 307.13 247.31 57 Floor Slab 250 25 307.13 238.16
91 219.67 59 242.12
84 360.57 12.3 151.47 39 199.86
87 Floor Slab 250 25 307.13 282.73 40 213.97
90 270.88 41 276.97
Column 30 368.56
60 211.65 42 258.44
61 Column 35 429.99 230.59 43 261.66
13rd Floor
62 321.45 44 270.74
8th Floor
64 223.04 46 260.81
67 Beam 25 307.13 273.9 48 200.8
Beam 25 307.13
70 206.46 50 246.06
52 289.45
Rangkuman Hasil Kuat Tekan Beton Dari Hasil Uji Lapangan
Design Concrete Compression by Design Concrete Compression by
Element Element
Live Hammer Live Hammer
Floor Point of Design UPV Test Crushing Test Floor Point of Design UPV Test Crushing Tes
Load Test Load Test
Structure 2 2 Structure 2 2
Kg/m Mpa Kg/cm Kg/cm2 Kg/cm2 Mpa Kg/cm2 Kg/m Mpa Kg/cm Kg/cm2 Kg/cm2 Mpa Kg/cm2
45 280.75 16.2 199.64 16 212.89
47 376.06 19 216.32
13rd Floor 49 Floor Slab 250 25 307.13 382.93 24 Column 25 307.13 267.54
51 379.17 25 313.66
53 383.69 28 336.19
18-K1 145.6 31 250.48
18-K2 387.89 33 316.39
Beam 20 245.71
18-K3 146.06 35 191.43
Column 25 307.13
18-K4 93.26 37 147.21
18-K5 127.3 32 340.97 3.11 38.19
18-K6 161.15 34 223.63
Floor Slab 250 20 245.71
18-B1 313.25 201.3 36 209.64
18-B2 193.91 216.8 38 240.3
18-B3 223.96 212.9 1 288.93
19th Floor
18-B4 239.77 204.3 4 309.17
18-B5 Beam 20 245.71 67.74 237.2 7 Column 25 307.13 199.75
18-B6 223.86 10 314.58
18-B7 137.17 13 323.57
18th Floor 18-B8 151.96 17 256.98
18-B9 256.9 20 317.03
18-S1 345.6 22 Beam 20 245.71 225.72
18-S2 221.8 26 244.41
18-S3 321.73 29 350.46
18-S4 160.1 18 303.07 13.7 167.87
18-S5 142.5 21 297.41
18-S6 200.3 23 Floor Slab 250 20 245.71 170.24
Floor Slab 250 20 245.71
18-S7 199.68 27 341.13
18-S8 194.82 30 344.04
18-S9 285.54 2 309.96
18-SC1 192.92 13.3 160.24 5 328.56
18-SC2 178.36 14.2 171.08 8 Beam 20 245.71 154.91
18-SC3 159.65 14.5 174.7 11 228.89
14 194.75
Roof top
3 305.61
6 347.6
9 Floor Slab 400 20 245.71 293.73
12 331.21
15 235.05
Analisis Struktur
Struktur dan komponen struktur lainnya harus memiliki :

 Kekuatan (Strength),
 Kekakuan (Stiffness) dan
 Keteguhan (Toughness) yang cukup

agar dapat berfungsi selama masa layannya. Perhitungan analisis struktur eksiting
dilakukan dengan menggunakan program Etabs 2015. Sedangkan perhitungan kapasitas
penampang komponen struktur dihitung dengan menggunakan program Response 2000
dan dibantu dengan Microsoft Excel.

ACUAN DALAM ANALISIS STRUKTUR

Data dan standar yang digunakan dalam kegiatan analisis struktur ini adalah:

1. Data bangunan berdasarkan As Built Drawing Gedung Telkom Landmark Tower I


2. SNI 2847 – 2013 (Standar Struktur Beton Indonesia)
3. SNI 1726 – 2012 (Standar Gempa Indonesia)
4. SNI 1727 – 2013 (Standar Pembebanan Indonesia)
5. Hasil Uji Tarik Baja Tulangan Dan Uji Tekan Sampel Beton
6. Mutu Beton Hasil Hammer Test Gedung
Contoh Denah Lantai 6
Potongan Tipikal Bangunan
Loads
Klasifikasi Material
o Material Baja Tulangan
Adapun material baja tulangan yang digunakan untuk pembesian struktur adalah sebagai
berikut:
 D (Ulir) = BJTD 40 fy =400 MPa
 Ø (Polos) = BJTP 24 fy =240 MPa
o Material Beton
Adapun material beton yang digunakan dalam pekerjaan strukur baik struktur Corewall,
Kolom, Balok dan Pelat adalah hasil hammer test

Analisis Pembebanan
Beban Mati
Beban mati didefinisikan sebagai beban yang
ditimbulkan oleh elemen-elemen struktur bangunan
; balok, kolom, dan pelat lantai dihitung secara
otomatis melalui bantuan program Etabs. Beban ini
akan dihitung otomatis oleh program Etabs.

Beban Mati Tambahan / SIDL


- Beban Keramik = = 0,235 KN/m2
Beban mati tambahan didefinisikan sebagai beban - Beban Spesi Ubin = 3 x 0,206 KN/m2 = 0,618 KN/m2
mati yang diakibatkan oleh berat dari elemen- - Mekanikal Elektrikal = = 0,245 KN/ m2
elemen tambahan atau finishing yang bersifat Beban Plafon +
- = = 0,176 KN/m2 +
permanen. Berdasarkan SNI 1727:2013 elemen penggantung
struktur sebagai berikut:
1,274 KN/m2
Beban Hidup
o Beban Lantai o Beban Angin
Beban Hidup Rencana Kuat Tekan Beton
Lantai
Elemen
Struktur
Kolam Corewall Genset Loading
Umum Taman /STP/ Tangga Chiller Dock Parkir
Ruang Hall
Rencana Rata-rata
Beban angin merupakan beban yang
Baterai Selasar

Kg/m 2
WR Lobby Pompa Ramp
Mpa Kg/cm 2
diakibatkan oleh faktor lingkungan yaitu
Rooftop Balok
Pelat Lantai 400 800
20
20
245.71
245.71
243.414
302.64
faktor angin itu sendiri.
Lantai 20 Kolom 25 307.13 287.20
Balok 20 245.71 278.92
Pelat Lantai 250 400 20 245.71 291.18 a. Menentukan Kecepatan Angin Dasar,
Lantai 19 Kolom 25 307.13 269.32
Balok 20 245.71 226.38 Kecepatan angin dasar harus ditentukan
Pelat Lantai 250 20 245.71 253.64
Lantai 18 Kolom 25 307.13 243.03 oleh instansi yang berwenang, namun
Balok 20 245.71 253.77
Pelat Lantai 400 400 20 245.71 265.70 dalam perencanaan kecepatan angin
14-16 250 400
Lantai 13 Kolom 30 368.56 242.18 harus di rencanakan minimal sebesar
Balok 25 307.13 253.57
Pelat Lantai 250 25 307.13 360.52 110 mph (49,1744 m/s)
Lantai 12 Balok 25 307.13 224.38
Pelat Lantai 250 400 25 307.13 240.48
Lantai 10 Kolom 30 361.45 432.43
Balok 25 307.13 418.26 b. Menentukan Parameter Beban Angin
Pelat Lantai 250 25 307.13 427.49
Lantai 9 250 400 Kategori Eksopur
Lantai 8 Kolom 35 429.99 254.56
Balok 25 307.13 234.47
Pelat Lantai 250 25 307.13 285.24
Lantai 7 Kolom 35 429.99 246.87 Untuk bangunan yang direncanakan
Balok 25 307.13 294.76
Pelat Lantai 250 25 307.13 351.54 menggunakan Eksposur tipe C. karena
Lantai 6 Kolom 35 429.99 313.31
Balok 25 307.13 368.39
Eksposur C berlaku untuk semua kasus
Lantai 5
Pelat Lantai 400
250
1800 25 307.13 352.14
di mana Eksposur B atau D tidak
Lantai 4
Lantai 3
250
250
300 400
400
berlaku.
Lantai 2 250 1000
Lantai 1 300 300 1000
1500 1000
Basement 1 400 300 1000
4500 800
Basement 2 400 300
Basement 3 Kolom 40 491.41 373.04
2665
Pelat Lantai 400 800 3825 35 429.99 307.33
4635
Beban Gempa
o Beban Gempa
Berdasarkan peta gempa Indonesia SNI 1726-2012, lokasi ini memiliki respons spektra
percepatan pada 0.2 detik, SS = 0,744g dan respons spektra percepatan pada 1 detik,

S1 = 0.321g dan rasio redaman kritis


= 5%. Kelas situs adalah SE.

Adapuan Respon Spektrum dari Lokasi


Bangunan Gedung Telkomsel Smart
Office (DKI Jakarta) berdasarkan
Analisis Puskaptis Pekerjaan Umum
sebagai berikut:

Nilai Ss untuk kelas situs SE

Nilai S1 untuk kelas situs SE

Faktor keutamaan gempa gedung


Telkom adalah 1,0. Jenis tanah pada
lokasi gedung adalah medium soil.
Kombinasi Pembebanan
Kombinasi Pembebanan
Kombinasi pembebanan yang digunakan berdasarkan peraturan Beban Minimum
Untuk Perancangan Bangunan Gedung SNI 1727:2013 sebagai berikut:
 1.4 DL
 1.2 DL + 1.6 LL
 1.2 DL + 1 LL + 0.5 RL + 1 WL(X) + 0.3 WL (Y)
 1.2 DL + 1 LL + 0.5 RL + 0.3 WL(Y) + 1 WL (Y)
 1.2 DL + 1 LL + 1 QL (X) + 0.3 QL (Y)
 1.2 DL + 1 LL + 0.3 QL (Y) + 1 QL (Y)
 0.9 DL + 1 WL(X) + 0.3 WL (Y)
 0.9 DL + 0.3 WL(Y) + 1 WL (Y)
 0.9 DL + 1 QL (X) + 0.3 QL (Y)
 0.9 DL + 0.3 QL (Y) + 1 QL (Y)
Pemodelan Lantai Bangunan
Pemodelan Komponen Struktur

Pemodelan ini dilakukan dengan bantuan program Etabs. Masing-masing elemen struktur
dimodelkan berdasarkan data gambar As Built Drawing Gedung Telkomsel Smart Office
dengan material sesuai kondisi existing.

Pemodelan Lantai 10 dan Lantai 18 Bangunan TSO


Pemodelan 3 Dimensi Seluruh Bangunan

Setelah keseluruhan elemen struktur dimodelkan dan pendivisian jenis pengekang


didefinisikan (pondasi) maka selanjutnya pemodelan dapat dianalisis lebih lanjut. Adapun
gambar keseluruhan struktur bangunan gedung sebagai berikut:

3D Modelling Struktur Gedung TSO


Hasil Analisa
o Hasil Periode Alamiah Struktur Bangunan
Dari hasil pemodelan dengan program Etabs maka didapat priode struktur bangunan
sebagai berikut :

Tabel 3. Hasil Analisis Periode dengan Etabs


Dari hasil diatas maka dapat dibandingkan dengan priode fundamental empiris menurut peraturan SNI 1727:2012 sebagai berikut:

Tabel: Modal Periods And Frequencies


OutputCase StepType StepNum Period Frequency CircFreq Eigenvalue
Sec Cyc/sec rad/sec rad2/sec2
MODAL Mode 1.000000 2.454790 9.8877E-01 3.9560E+00 2.9562E+01
MODAL Mode 2.000000 2.021851 8.8437E-01 4.2425E+00 2.7484E+01
MODAL Mode 3.000000 1.633103 7.8253E-01 5.5451E+00 3.0748E+01
MODAL Mode 4.000000 1.113186 2.7202E+00 1.2207E+01 2.3124E+02
MODAL Mode 5.000000 0.899449 3.4034E+00 1.5730E+01 2.4742E+02
MODAL Mode 6.000000 0.476634 3.9651E+00 1.8682E+01 2.7831E+02
MODAL Mode 7.000000 0.332436 4.5023E+00 2.2032E+01 7.3072E+02
MODAL Mode 8.000000 0.230375 4.9408E+00 2.8274E+01 7.4386E+02
MODAL Mode 9.000000 0.215115 5.1487E+00 3.1208E+01 8.5313E+02
MODAL Mode 10.000000 0.172547 6.4955E+00 3.4414E+01 1.3260E+03
MODAL Mode 11.000000 0.167455 6.8718E+00 3.7522E+01 1.4079E+03
MODAL Mode 12.000000 0.104319 7.4801E+00 4.0715E+01 1.6578E+03
Hasil Analisa

Ct = Koefisien (Tabel 4)
X = Koefisien (Tabel 4)
hn = Ketinggian struktur

Nilai Parameter Periode Pendekatan Ct dan x


Tipe Struktur Ct X
Rangka baja pemikul momen 0,0724 0,8
Rangka beton pemikul momen 0,0466 0,9
Rangka baja dengan brecing eksentris 0,0731 0,75
Rangka baja dengan brecing terkekang 0,0731 0,75
terhadap tekuk
Semua system struktur lainnya 0,0488 0,75

Maka hasil priode fundamental yang diizinkan tidak melebih:

Dari kedua hasil diatas dapat dibandingkan priode fundamental hasil Etabs 2015 dan peraturan
sebagai berikut:
Perbandingan Hasil Periode Fundamental
Periode Fundamental
Periode Fundamental Ijin Keterangan
Struktur
2,454 detik 2,932 detik Memenuhi
Hasil Analisa
o Hasil Deformasi Bangunan Gedung o Hasil Gaya Dalam Elemen Struktur

Deformasi maximum rata-rata yang terjadi sebesar 1,0 mm, masih Diagram Gaya Axial
memenuhi syarat ijin 40 mm untuk lendutan atau 1/1000 L (12 mm)
Hasil Analisa

Diagram Gaya Geser (Shear) Diagram Momen


Hasil Analisa

Diagram Momen Pelat


Pengecekan Kapasitas Struktur

Lantai Basement 3
Kolom
Pu (KN) 16 dari 36 44.4% Perlu Perkuatan
Mu (KN-m) Ok
Vu (KN) Ok

Kolom Overstress

Lantai Basement 2
Kolom
Pu (KN) 16 dari 36 44.4% Perlu Perkuatan
Mu (KN-m) Ok
Vu (KN) Ok

Kolom Overstress
Pengecekan Kapasitas Struktur

Lantai Basement 1
Kolom
Pu (KN) 16 dari 36 44.4% Perlu Perkuatan
Mu (KN-m) Ok
Vu (KN) Ok

Kolom Overstress

Lantai 1
Kolom
Pu (KN) 16 dari 36 44.4% Perlu Perkuatan
Mu (KN-m) Ok
Vu (KN) Ok

Kolom Overstress
Pengecekan Kapasitas Struktur
Lantai 2
Balok Arah-X
Momen + 6 dari 11 54.5% Perlu Perkuatan
Momen - 8 dari 11 72.7% Perlu Perkuatan
Gaya Geser 5 dari 11 45.5% Perlu Perkuatan
Balok Arah-Y
Momen + 5 dari 10 50.0% Perlu Perkuatan
Momen - 4 dari 10 40.0% Perlu Perkuatan
Gaya Geser 4 dari 10 40.0% Perlu Perkuatan
Kolom
Pu (KN) 15 dari 36 41.7% Perlu Perkuatan
Mu (KN-m) OK
Vu (KN) OK Kolom/Balok Overstress

Lantai 3
Balok Arah-X
Momen + 4 dari 33 12.1% Perlu Perkuatan
Momen - 16 dari 33 48.5% Perlu Perkuatan
Gaya Geser 20 dari 33 60.6% Perlu Perkuatan
Balok Arah-Y
Momen + 2 dari 21 9.5% Perlu Perkuatan
Momen - 11 dari 21 52.4% Perlu Perkuatan
Gaya Geser 10 dari 21 47.6% Perlu Perkuatan
Kolom
Pu (KN) 14 dari 35 40.0% Perlu Perkuatan
Mu (KN-m) OK
Kolom/Balok Overstress Vu (KN) OK
Pengecekan Kapasitas Struktur
Lantai 3(P)
Balok Arah-X
Momen + OK
Momen - 8 dari 22 36.4% Perlu Perkuatan
Gaya Geser 7 dari 22 31.8% Perlu Perkuatan
Balok Arah-Y
Momen + OK
Momen - 10 dari 15 66.7% Perlu Perkuatan
Gaya Geser 9 dari 15 60.0% Perlu Perkuatan
Kolom
Pu (KN) 13 dari 36 36.1% Perlu Perkuatan
Mu (KN-m) Ok
Vu (KN) 5 dari 36 13.9% Perlu Perkuatan Kolom/Balok Overstress

Lantai 4
Balok Arah-X
Momen + 4 dari 27 14.8% Perlu Perkuatan
Momen - 16 dari 27 59.3% Perlu Perkuatan
Gaya Geser 18 dari 27 66.7% Perlu Perkuatan
Balok Arah-Y
Momen + 7 dari 27 25.9% Perlu Perkuatan
Momen - 20 dari 27 74.1% Perlu Perkuatan
Gaya Geser 20 dari 27 74.1% Perlu Perkuatan
Kolom
Pu (KN) 13 dari 36 36.1% Perlu Perkuatan
Mu (KN-m) Ok
Kolom/Balok Overstress Vu (KN) 5 dari 36 13.9% Perlu Perkuatan
Pengecekan Kapasitas Struktur
Lantai 5
Balok Arah-X
Momen + 5 dari 22 22.7% Perlu Perkuatan
Momen - 11 dari 22 50.0% Perlu Perkuatan
Gaya Geser 9 dari 22 40.9% Perlu Perkuatan
Balok Arah-Y
Momen + 6 dari 29 20.7% Perlu Perkuatan
Momen - 16 dari 29 55.2% Perlu Perkuatan
Gaya Geser 23 dari 29 79.3% Perlu Perkuatan
Kolom
Pu (KN) 12 dari 35 34.3% Perlu Perkuatan
Mu (KN-m) OK
Vu (KN) 6 dari 35 17.1% Perlu Perkuatan Kolom/Balok Overstress

Lantai 6
Balok Arah-X
Momen + 7 dari 22 31.8% Perlu Perkuatan
Momen - 11 dari 22 50.0% Perlu Perkuatan
Gaya Geser 10 dari 22 45.5% Perlu Perkuatan
Balok Arah-Y
Momen + 5 dari 23 21.7% Perlu Perkuatan
Momen - 13 dari 23 56.5% Perlu Perkuatan
Gaya Geser 18 dari 23 78.3% Perlu Perkuatan
Kolom
Pu (KN) 11 dari 31 35.5% Perlu Perkuatan
Mu (KN-m) OK
Kolom/Balok Overstress Vu (KN) OK
Pengecekan Kapasitas Struktur
Lantai 7
Balok Arah-X
Momen + 3 dari 22 13.6% Perlu Perkuatan
Momen - 8 dari 22 36.4% Perlu Perkuatan
Gaya Geser 3 dari 22 36.4% Perlu Perkuatan
Balok Arah-Y
Momen + 3 dari 21 14.3% Perlu Perkuatan
Momen - 8 dari 21 38.1% Perlu Perkuatan
Gaya Geser 13 dari 21 61.9% Perlu Perkuatan
Kolom
Pu (KN) 10 dari 31 32.3% Perlu Perkuatan
Mu (KN-m) OK
Vu (KN) OK Kolom/Balok Overstress

Lantai 8
Balok Arah-X
Momen + 6 dari 15 40.0% Perlu Perkuatan
Momen - 12 dari 15 80.0% Perlu Perkuatan
Gaya Geser 12 dari 15 80.0% Perlu Perkuatan
Balok Arah-Y
Momen + 5 dari 18 27.8% Perlu Perkuatan
Momen - 11 dari 18 61.1% Perlu Perkuatan
Gaya Geser 11 dari 18 61.1% Perlu Perkuatan
Kolom
Pu (KN) 9 dari 24 37.5% Perlu Perkuatan
Mu (KN-m) OK
Kolom/Balok Overstress Vu (KN) OK
Pengecekan Kapasitas Struktur
Lantai 9
Balok Arah-X
Momen + 6 dari 18 33.3% Perlu Perkuatan
Momen - 12 dari 18 66.7% Perlu Perkuatan
Gaya Geser 12 dari 18 66.7% Perlu Perkuatan
Balok Arah-Y
Momen + 5 dari 23 21.7% Perlu Perkuatan
Momen - 14 dari 23 60.9% Perlu Perkuatan
Gaya Geser 12 dari 23 52.2% Perlu Perkuatan
Kolom
Pu (KN) 7 dari 23 30.4% Perlu Perkuatan
Mu (KN-m) OK
Vu (KN) OK Kolom/Balok Overstress

Lantai 10
Balok Arah-X
Momen + 4 dari 16 25.0% Perlu Perkuatan
Momen - 10 dari 16 62.5% Perlu Perkuatan
Gaya Geser 8 dari 16 50.0% Perlu Perkuatan
Balok Arah-Y
Momen + 4 dari 16 25.0% Perlu Perkuatan
Momen - 9 dari 16 56.3% Perlu Perkuatan
Gaya Geser 7 dari 16 43.8% Perlu Perkuatan
Kolom
Pu (KN) 2 dari 23 8.7% Perlu Perkuatan
Mu (KN-m) OK
Kolom/Balok Overstress Vu (KN) OK
Pengecekan Kapasitas Struktur
Lantai 11
Balok Arah-X
Momen + 4 dari 16 25.0% Perlu Perkuatan
Momen - 11 dari 16 68.8% Perlu Perkuatan
Gaya Geser 11 dari 16 68.8% Perlu Perkuatan
Balok Arah-Y
Momen + 4 dari 16 25.0% Perlu Perkuatan
Momen - 9 dari 16 56.3% Perlu Perkuatan
Gaya Geser 8 dari 16 50.0% Perlu Perkuatan
Kolom
Pu (KN) OK
Mu (KN-m) OK
Vu (KN) OK Kolom/Balok Overstress

Lantai 12
Balok Arah-X
Momen + 5 dari 17 29.4% Perlu Perkuatan
Momen - 12 dari 17 70.6% Perlu Perkuatan
Gaya Geser 11 dari 17 64.7% Perlu Perkuatan
Balok Arah-Y
Momen + 5 dari 15 26.7% Perlu Perkuatan
Momen - 9 dari 15 60.0% Perlu Perkuatan
Gaya Geser 8 dari 15 53.3% Perlu Perkuatan
Kolom
Pu (KN) OK
Mu (KN-m) OK
Kolom/Balok Overstress Vu (KN) OK
Pengecekan Kapasitas Struktur
Lantai 13
Balok Arah-X
Momen + 4 dari 17 23.5% Perlu Perkuatan
Momen - 10 dari 17 58.8% Perlu Perkuatan
Gaya Geser 8 dari 17 47.1% Perlu Perkuatan
Balok Arah-Y
Momen + 4 dari 18 22.2% Perlu Perkuatan
Momen - 8 dari 18 44.4% Perlu Perkuatan
Gaya Geser 7 dari 18 38.9% Perlu Perkuatan
Kolom
Pu (KN) 16 dari 23 69.6% Perlu Perkuatan
Mu (KN-m) OK
Vu (KN) 7 dari 23 30.4% Perlu Perkuatan Kolom/Balok Overstress

Lantai 14
Balok Arah-X
Momen + 4 dari 18 22.2% Perlu Perkuatan
Momen - 13 dari 18 72.2% Perlu Perkuatan
Gaya Geser 10 dari 18 55.6% Perlu Perkuatan
Balok Arah-Y
Momen + 4 dari 18 22.2% Perlu Perkuatan
Momen - 8 dari 18 44.4% Perlu Perkuatan
Gaya Geser 6 dari 18 33.3% Perlu Perkuatan
Kolom
Pu (KN) 13 dari 23 56.5% Perlu Perkuatan
Mu (KN-m) OK
Kolom/Balok Overstress Vu (KN) 6 dari 23 26.1% Perlu Perkuatan
Pengecekan Kapasitas Struktur
Lantai 15
Balok Arah-X
Momen + 4 dari 17 23.5% Perlu Perkuatan
Momen - 10 dari 17 58.8% Perlu Perkuatan
Gaya Geser 9 dari 17 52.9% Perlu Perkuatan
Balok Arah-Y
Momen + 4 dari 18 22.2% Perlu Perkuatan
Momen - 7 dari 18 38.9% Perlu Perkuatan
Gaya Geser 7 dari 18 38.9% Perlu Perkuatan
Kolom
Pu (KN) 11 dari 23 47.8% Perlu Perkuatan
Mu (KN-m) OK
Vu (KN) 7 dari 23 30.4% Perlu Perkuatan Kolom/Balok Overstress

Lantai 16
Balok Arah-X
Momen + 5 dari 19 26.3% Perlu Perkuatan
Momen - 13 dari 19 68.4% Perlu Perkuatan
Gaya Geser 8 dari 19 42.1% Perlu Perkuatan
Balok Arah-Y
Momen + OK
Momen - 2 dari 20 10.0% Perlu Perkuatan
Gaya Geser OK
Kolom
Pu (KN) 7 dari 23 30.4% Perlu Perkuatan
Mu (KN-m) OK
Kolom/Balok Overstress Vu (KN) 7 dari 23 30.4% Perlu Perkuatan
Pengecekan Kapasitas Struktur
Lantai 17
Balok Arah-X
Momen + 4 dari 17 23.5% Perlu Perkuatan
Momen - 9 dari 17 52.9% Perlu Perkuatan
Gaya Geser 8 dari 17 47.1% Perlu Perkuatan
Balok Arah-Y
Momen + 4 dari 18 22.2% Perlu Perkuatan
Momen - 7 dari 18 38.9% Perlu Perkuatan
Gaya Geser 8 dari 18 44.4% Perlu Perkuatan
Kolom
Pu (KN) 1 dari 23 4.3% Perlu Perkuatan
Mu (KN-m) OK
Vu (KN) 6 dari 23 26.1% Perlu Perkuatan Kolom/Balok Overstress

Lantai 18
Balok Arah-X
Momen + 5 dari 18 27.8% Perlu Perkuatan
Momen - 13 dari 18 72.2% Perlu Perkuatan
Gaya Geser 13 dari 18 72.2% Perlu Perkuatan
Balok Arah-Y
Momen + 5 dari 18 27.8% Perlu Perkuatan
Momen - 10 dari 18 55.6% Perlu Perkuatan
Gaya Geser 10 dari 18 55.6% Perlu Perkuatan
Kolom
Pu (KN) OK
Mu (KN-m) OK
Kolom/Balok Overstress Vu (KN) 7 dari 23 30.4% Perlu Perkuatan
Pengecekan Kapasitas Struktur
Lantai 19
Balok Arah-X
Momen + 4 dari 17 23.5% Perlu Perkuatan
Momen - 13 dari 17 76.5% Perlu Perkuatan
Gaya Geser 12 dari 17 70.6% Perlu Perkuatan
Balok Arah-Y
Momen + 5 dari 18 27.8% Perlu Perkuatan
Momen - 10 dari 18 55.6% Perlu Perkuatan
Gaya Geser 9 dari 18 50.0% Perlu Perkuatan
Kolom
Pu (KN) OK
Mu (KN-m) OK
Vu (KN) 7 dari 23 30.4% Perlu Perkuatan Kolom/Balok Overstress

Lantai 20
Balok Arah-X
Momen + 4 dari 18 22.2% Perlu Perkuatan
Momen - 11 dari 18 61.1% Perlu Perkuatan
Gaya Geser 8 dari 18 44.4% Perlu Perkuatan
Balok Arah-Y
Momen + 4 dari 22 18.2% Perlu Perkuatan
Momen - 8 dari 22 36.4% Perlu Perkuatan
Gaya Geser 8 dari 22 36.4% Perlu Perkuatan
Kolom
Pu (KN) OK
Mu (KN-m) OK
Kolom/Balok Overstress Vu (KN) 3 dari 23 13.0% Perlu Perkuatan
Pengecekan Kapasitas Struktur
Lantai Mezzanine

Kolom
Pu (KN) OK
Mu (KN-m) 10 dari 23 43.5% Perlu Perkuatan
Vu (KN) 15 dari 23 65.2% Perlu Perkuatan

Kolom/Balok Overstress
Kesimpulan

• Kuat Tekan Beton yang diperoleh dari hammer test dan UPV test hanyalah pendekatan dengan
suatu formula empiris. Kuat tekan beton yang sebenarnya adalah hasil uji tekan dari sampel
coring. Dan angkanya berkisar antara 3.11 MPa di lantai 19 dan 16.24 MPa di lantai 13.
Dengan merujuk kepada SNI 2847-2013 tentang Persyaratan Beton untuk Struktur Bangunan
Gedung yang mempersyaratkan bahwa f’c (kuat tekan) beton untuk banguinan gedung tidak
boleh kurang dari 17 MPa, maka mutu beton pada bangunan gedung TSO tidak memenuhi
persyaratan SNI 2847-2013.

• Meskipun beban hidup rencana belum diterapkan beberapa gejala keretakan sudah tampak
pada balok dan kolom. Keretakan tersebut diduga keras sebagai retak structural akibat gaya
geser (Shear Force) dan beberapa retak lainnya akibat gaya tekan.

• Analisa struktur
Analisa telah dilakukan pada struktur gedung secara menyeluruh seluruh dengan menerapkan
kuat tekan beton hasil uji lapangan dan beban hidup rencana pasa setiap lantai sesuai dengan
peruntukannya dan hasilnya adalah sebagai berikut:

o Natural fundamental period dari struktur:


Natural Fundamental Period of Allowable Fundamental
Remarks
Structure Period of Structure
2.454 second 2.932 second OK!

o Deformasi Maksimum dari setiap lantai:


Maximum Deformation of Each Allowable Deformation of
Remarks
Floor Each Floor
2.06 mm 12 mm OK!
Perbandingan Alternatif Perkuatan Struktur

o Story Drift Maksimum daru bangunan


Maximum Story Drift Allowable Story Drift Remarks
0.004982 m 0.086 m OK!

o SNI 1726-2012 tentang Gempa

Kombinasi pembebanan menurut SNI Gempa yang terbaru juga telah diterapkan dalam
analisa struktur gedung TSO ini. Dan hasilnya adalah terdapat beberapa komponen
struktur seperti balok dan kolom yang kapasitasnya terlampaui sehingga terjadi
overstress yang ditunjukkan dengan warna merah pada pemodelan. Hal ini berarti
bahwa kapasitas dari kolom/balok tidak memadai untuk memikul beban kombinasi
seperti yang diatur dalam SNI Gempa. Hal ini dapat disebabkan oleh rendahnya mutu
beton (kuat tekan) yang menjadi input dalam analisa.

Pada akhirnya, meskipun tiga kriteria dari keseluruhan system struktur masih berada di
bawah ambang batas yang diijinkan tetapi ada warna merah pada elemen struktur yang
menunjukkan bahwa elemen struktur telah mengalami overstress. Hal ini berarti bahwa
elemen struktur tidak memenuhi persyaratan dalam Peraturan Gempa SNI 1726-2012.
Rekomendasi

a. Memperbaiki semua keretakan dengan injeksi material epoxy.


a. Melakukan monitoring struktur bangunan secara periodic untuk mengetahui
apakah timbul keretakan yang baru pada elemen struktur.
b. Memberikan perkuatan pada elemen struktur yang lemah yang ditunjukkan
dengan warna merah dalam analisa struktur juga pada bagian struktur yang
sudah mengalami keretakan.
c. Membongkar pelat beton yang kualitasnya sangat buruk (kurang dari 10 MPa) di
lantai 19 dan menggantinya dengan material beton yang memenuhi spesifikasi
teknis.
d. Memastikan keselamatan struktur bangunan gedung setelah melakukan
perkuatan pada elemen struktur.
Perbandingan Alternatif Perkuatan Struktur
No. Metoda Keunggulan Kekurangan
1. Epoxy Spray - Pekerjaan lebih praktis - Penetrasi terbatas hanya maksimum
Suatu cairan khusus yang - Meningkatkan mutu beton eksisting 10cm
disemprotkan pada permukaan - Tidak memerlukan ruang kerja yang luas - Hanya dapat digunakan pada struktur
beton dan dapat meresap sedalam - Waktu pengerjaan relatif singkat beton dengan lebar/tebal maksimum
10cm melalui pori-pori beton. - Tidak memerlukan pekerjaan persiapan 20cm.
Cairan ini dapat meningkatkan - Transportasi material mudah
mutu beton eksisting. - Tidak memerlukan alat berat
- Pekerjaan lebih bersih, tidak bising dan sedikit
mengganggu kegiatan operasional

2. Fiber Reinforced Plastic (FRP) - Meningkatkan kapasitas eksisting struktur - Memerlukan pekerjaan persiapan
Suatu lembaran FRP yang - Ringan dan memiliki kuat tarik yang tinggi karena semua plesteran pada beton
dilapiskan pada permukaan beton - Pekerjaan lebih praktis harus dikupas
dengan epoxy yang akan - Tidak memerlukan ruang kerja yang luas tetapi - Biaya per m2 relatif mahal
menjadikan beton komposit dan masih lebih luas dari pada Epoxy Spray
meningkatkan kekuatan/daya - Waktu pengerjaan relatif singkat tetapi masih lebih
dukung struktur lama dari pada Epoxy Spray
- Transportasi material mudah
- Tidak memerlukan alat berat
- Pekerjaan lebih bersih, tidak bising dan sedikit
mengganggu kegiatan operasional

3. Struktur Baja - Biaya dapat lebih rendah dari Epoxy Spray dan FRP - Pekerjaan lebih complicated.
Perkuatan struktur beton dengan - Pekerjaan fabrikasi harus dilakukan
dukungan struktur baja sehingga ditempat
struktur baja dan beton diharapkan - Memerlukan ruang kerja yang luas
akan bekerja bersama-sama dalam - Transportasi material lebih sulit harus
memikul beban. ada bukaan dinding luar
- Waktu pengerjaan lebih lama
- Dapat mengurangi estetika bangunan
dan interior
- Pekerjaan lebih kotor, bising dan
dapat mengganggu kegiatan
operasional.

Sistem FRP menjadi alternatif yang direkomendasikan


Rekomendasi Perkuatan Struktur Kolom dengan Sistem FRP

Overlapping 200mm
Fiber Reinforced
Polymer Composites
Sheet

Overlapping 100mm

Saturation on the pile


surface with under
water epoxy
Kolom Overstress
Rekomendasi Perkuatan Struktur Balok dengan Sistem FRP

Perkuatan Area Momen Negatif (-)

Perkuatan Area Gaya Geser

Perkuatan Area Momen Positif (+)


Rekomendasi Perkuatan Struktur Balok dengan Sistem FRP
Perkuatan Struktur
Balok dengan
Sistem FRP
Perkuatan Struktur
Kolom dengan
Sistem FRP
TERIMA
KASIH