Audit Tesco
Audit Tesco
TESCO
ANISSA SOLIHAH (1212015020)
HUSNUL HATIMAH (1212015050)
LUSIA ELVIRA MEDINA (1212015062)
RAHMA NUR FADILA (1212015084)
RAKA PRATAMA (1212015123)
TOHIROH FITRI (1212015103)
YUNIAR FACHRIAWATI F (1212015127)
Gambaran Umum Perusahaan Tesco
1991 Tesco didirikan oleh Jack Cohen sebagai kelompok pasar kios.
1931 Toko Tesco pertama di buka di Burnt Oak, Barnet. Bisnisnya berkembang dengan pesat.
1939 Pada tahun ini memiliki lebih dari 100 toko Tesco di seluruh negeri.
1947 Tesco memasuki pasar bursa London dengan nama Tesco Store (Holdings)
1951 toko self-service pertama di buka di St Albans, (beroperasi hingga tahun 2008).
1990 Tesco telah melakukan diversifikasi secara geografis sejak awal 1990 dan memasuki
bidang ritel, buku, pakaian,elektronik, perabotan, mainan, bensin dan perangkat lunak;
2002 Tesco membeli hypermarket di Polandia. Mereka juga merambah toko-toko kecil dengan membeli toko-toko
T & S, yang merupakan pemilik dari 870 rantai toko-toko Dillons dan Day & Nite di Inggris.
2003-2004 tahun 2003, Tesco meluncurkan divisi telekomunikasi di UK yang menyediakan jasa telepon rumah dan
seluler – untuk melengkapi bisnis penyedia jasa Internetnya. Tesco mengakuisisi Adminstore, pemilik 45
Cullens di Eropa dan toko-toko Harts di sekitar London pada tahun 2004. Di tahun yang sama, mereka juga
meluncurkan jasa broadbrand.
2014 Tesco menyatakan bahwa mereka telah melakukan kesalahan pencatatan income sebesar £263juta, lebih
tinggi dari jumlah yang mereka umumkan sebelumnya, yaitu £250 juta. Investigasi lebih lanjut menemukan
bahwa masalah yang terjadi di Tesco ternyata terjadi jauh dibelakang.
2015 Tesco terdaftar di London Stock Exchange dan merupakan penyusun dariIndeks FTSE 100. Ini memiliki
kapitalisasi pasar sekitar £ 18,1 miliar per 22 April 2015, perusahaan terbesar ke 28 yang memiliki daftar
utama di London Stock Exchange.
Pembahasan Kasus
Pada pertengahan tahun 2014, Diketahui ada seorang anggota staf, yang identitasnya belum
diungkapkan, menemui penasihat umum Tesco pada hari Jumat untuk memperingatkan
bahwa ada sesuatu yang disusun dalam rekening Tesco. Informasi inikemudian diteruskan
ke Dave Lewis, CEO baru Tesco. Hingga pada akhirnya, ternyata Tesco telah mengatur
untuk melebih sajikan laba setengah-tahunannya sekitar £250 juta. Hal iniditemukan setelah
Tesco mengeluarkan pernyataan bahwa perkiraan yang sebenarnya dari laba Tesco tahun ini
adalah £1.1 miliar, dimana jumlah tersebut menurun dari tahun lalu yakni sebesar £1.6
miliar. Terlepas dari jumlah £250 juta, hal ini mengindikasikan bahwa laba setengah-
tahunan Tesco hanya akan sebesar £850 juta, meskipun perusahaan ritel ini masih akan
menunjukkan hasil akhirnya pada akhir Oktober 2014 mendatang.
Dave Lewis kemudian mengatakan salah saji tersebut dikarenakan percepatan pengakuan
pendapatan dan penundaan biaya akrual. Dengan kata lain, Tesco telah membayar pemasok di
kemudian haridan mengambil uang dari mereka lebih awal dari yang seharusnya. Analis di
Cantor Fitzgerald telah meluncurkan peringatan pada November lalu bahwa Tesco telah
meningkatkan keuntungan sebesar £200 juta dengan mengurangi pengeluaran kasdari
rekening perdagangan dengan pemasok atau memperpanjang tanggal pembayaran tanpa
pemberitahuan. Ini adalah pelanggaran dari Groceries Supply Code of Practice, dan jika
Tesco telah melanggar perjanjian kontrak dan menyalah sajikan rekening keuangan. Analis
lain percaya itu terkait dengan berapa banyak
Tesco memberi ‘ongkos’ kepada pemasok dengan menempatkan barang-barang mereka di
rak tertentu di supermarket. Deloitte dan firma hukum Fresh fields telah dipanggil dan
diminta untuk menyelidiki skandal ini, sedangkan regulator Kota terkemuka, Financial
Conduct Authority, juga telah dihubungi. Hal ini menunjukkan bahwa mungkin diduga telah
terjadi permainan kotor di Tesco.
Keempat staff senior telah diberhentikan ketika kejadian ini terjadi. Salah satunya adalah Chris Bush,
Kepala Eksekutif dan Carl Roberg, Direktur Keuangan. Robin Terrell, yang menjalankan ‘kerajaan’
online perusahaan, juga telah dimasukkan ke dalam tuntutan bisnis Inggris.Sebelum skandal ini mencuat
ke publik, Philip Clarke diberhentikan sebagai CEO Tesco pada bulan Juli dan meninggalkan kantor
perusahaan pada bulan Agustus. Dia mengawasi tiga tahun penurunan penjualan. Dia, bersama dengan
Direktur Keuangan yang keluar Laurie Mcilwee, kemungkinan akan dipertanyakan dalam penyelidikan.
Akan tetapi, kesalahan ini tidak terefleksikan pada masa Clarke di Tesco - baik ia kehilangan kendali atas
operasi perusahaan, atau dia mengotorisasi praktek-praktek yang telah diidentifikasi oleh Dave Lewis
sebagaimana ia mencoba untuk melindungi margin perusahaan dalam menghadapi penjualan yang
menurun. PwC, auditor perusahaan selama 30 tahun terakhir juga menghadapi pertanyaan besar. Tesco
telah diaudit oleh PwC sejak 1983. Hubungan yang sangat lama antara Tesco dan auditornya ini juga
kemungkinan akan dipantau lebih lanjut dan langsung oleh Financial Reporting Council (FCR). PwC,
sebagai auditor Tesco, dan akuntan internal yang bekerjauntuk supermarket berpotensi menghadapi
denda yang tak terbatas, biaya hukum dan pengucilan dari profesi jika pengawas menemukan bukti
kesalahan yang dapat membuktikan kesalahan mereka di pengadilan.
Akibat dari skandal akuntansi ini, PwC telah dipecat dari penugasan audit Tesco
setelah 32 tahun. Sebuah proses tender untuk auditor independen baru
selanjutnya diajukan oleh Dave Lewis, dan ketua baru, John Allan, mencoba
untuk melanjutkan rezim dari Phil Clarke. Namun, PwC telah sepakat untuk tidak
lagi mengikuti tender tersebut agar ikut dipertimbangkan, setelah The
Independent mengungkapkan tahun lalu bahwa direktur disupermarket
mengatakan bahwa ia sangat marah dengan para auditor setelah orang-orang di
PwC berusaha untuk menjauhkan diri dari skandal itu. Orang-orang PwC
mengklaim bahwa direktur Tesco “menyembunyikan” kesalahan pelaporan dari
auditor, kemudian menjelaskan mengapa praktek yang dipertanyakan telah
ditandatangani untuk setidaknya tiga tahun. Auditor baru akan diilih oleh
Komite Audit Tesco, yang diketuai oleh non-eksekutif baru Byon Grote.
Perusahaan didorong untuk mengubah auditor secara berkala dan teratur dan
bahkan seharusnya sebelum skandal akuntansi terjadi, sudah ada panggilan bagi
PwC untuk diganti karena lamanya waktu bekerja dengan Tesco.
Sebagai gantinya, satu tahun setelah skandal terjadi, KAP Big Four, Deloitte, telah
merebut kendali sebagai auditor Tesco, sebagai kelompok supermarket terbesar di Inggris
yang harus terus berlanjut hal ini memerlukan perjalanan yang panjang untuk pemulihan,
menyusul skandal yang mencuat setelah overstatement sebesar £263 juta yang ditemukan.
PwC akan resmi mundur setelah pertemuan tahunan Tesco, ketika penunjukan Deloitte
akan disetujui oleh pemegang saham. James Chalmers, Kepala Penjaminan di PwC,
mengatakan: "Sekarang bahwa ada kejelasan lebih besar pada implikasi dan jadwal
peraturanaudit yang masuk Uni Eropa dan Inggris, perusahaan yang membuat keputusan
pada saattender pada waktu yang paling masuk akal untuk keadaan khusus mereka.
Dalam era pemerintahan baru, tingkat dari keadaan yang belum pernah terjadi
sebelumnya dari tender berarti lebih banyak perusahaan yang mengubah auditor. John
Allan, ketua Tesco, mengatakan: “Atas nama dewan, saya ingin mengucapkan terima
kasih kepada Pricewater house Coopers LLP untuk kontribusi yang signifikan mereka 32
tahun terakhir, dan kami berharap untuk dapat bekerja sama dengan Deloitte LPP ke
depannya. “ Tesco masih menghadapi penyelidikan dari Serious Fraud Office atas
skandal akuntansi, juga sebagai tuntutan hukum dari saham.
1. Gambaran Fraud
Skandal manipulasi laporan keuangan yang diduga dilakukan Tesco adalah
dengan melakukan overstatement terhadap laba yang dilaporkan pada laporan
tengah tahunan perusahaan. Sehingga menghasilkan laba yang lebih tinggi dari
yang seharusnya dilaporkan. Manipulasi laporan keuangan yang dilakukan oleh
Tesco tersebut biasa disebut Aggressive Accounting. Aggressive Accounting
sebenarnya merupakan tindakan yang dapat diterima selama masih di dalam
batas kewajaran. Tesco menyadari bahwa target penjualan tidak dapat dicapai
sehingga membuat kesepakatan dengan supplier untuk melakukan pembayaran
dengan menawarkan manfaat pada periode keuangan berikutnya. Skandal
keuangan Tesco merupakan akibat dari terlalu terfokusnya perusahaan pada
profit dalam jangka pendek dibandingkan memfokuskan diri pada pelanggan
serta profit jangka panjang.
2. Peran Auditor
Selama lebih dari 30 tahun PwC menjadi auditor Tesco. Namun, orang-orang
PwC balik mengatakan bahwa Tesco ‘menyembunyikan’ kesalahan pelaporan
dari auditor. PwC dinilai tidak mampu dalam mendeteksi kecurangan yang
terjadi, hingga akhirnya ditemukan oleh seorang whistle blower. Tidak disebut
kan secara eksplisit siapa yang saat itu menjadi partner in charge dalam
penugasan audit Tesco. Akan tetapi, mengingat ada dua mantan karyawan
PwC yang bekerja di Tesco, maka tidak menutup kemungkinan,
ketidakmampuan PwC dalam mendeteksi kecurangan adalah karena mereka
berdua.
Jika dikaitkan dengan kode etik akuntan publik terkait skandal Tesco dan
KAP PwC, auditor KAP PwC telah melanggar kode etik profesi sebagai berikut
ini:
2. Kepentingan Umum
Dimana akuntan harus bekerja demi kepentingan publik atau mereka yang
berhubungan dengan perusahaan seperti kreditur, investor, dan lain-lain.
Dalam kasus iniauditor KAP PwC diduga tidak bekerja demi kepentingan publik
karena tetap memberikan opini wajar tanpa pengecualian padahal sebenarnya ia
mengetahui adanya kejanggalan-kejanggalan terkait laporan keuangan yang
disajikan. Hal ini sangat merugikan publik misalkan saja investor.
3. Integritas
Akuntan harus bekerja dengan profesionalisme yang tinggi. Dalam kasus ini
direktur utama dan pihak yang terlibat dalam kasus Tesco tidak menjaga
integritasnya, karena memberikan opini wajar tanpa pengecualian padahal tahu
mengenai adanya kejanggalan.
4. Objektivitas
Dimana akuntan harus bertindak obyektif dan bersikap independen atau tidak
memihak siapapun. Dalam kasus ini auditor KAP PwC terkesan memihak
perusahaan Tesco terbukti dengan memberikan opini wajar tanpa pengecualian
padahal sebenarnya merasa ada kejanggalan terkait laporan keuangan Tesco.
5. Kompetensi Profesional dan Kecermatan
Akuntan dituntut harus melaksanakan jasa profesionalnya dengan penuh kehati-hatian,
kompetensi, dan ketekunan, serta mempunyai kewajiban untuk mempertahankan
pengetahuan dan keterampilan profesionalnya pada tingkat yang diperlukan. Dalam
kasus ini, auditor KAP PwC tidak mempertahankan pengetahuan dan keterampilan
profesionalnya pada tingkat yang diperlukan.
6. Perilaku Profesional
Akuntan sebagai seorang profesional dituntut untuk berperilaku konsistenselaras dengan
reputasi profesi yang baik dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesinya.
Dalam kasus ini auditor KAP PwC tidak profesional karena ada pengaruh suatu
kepentingan tertentu, yakni familiarity terkait pemberian opini wajar tanpa pengecualian
nya, dan hal ini dapat mendiskreditkan (mencoreng nama baik) profesinya.
7. Standar Teknis
Akuntan dalam menjalankan tugas profesionalnya harus mengacu dan
mematuhi standar teknis dan standar profesional yang relevan. Sesuai dengan
keahliannya dan dengan berhati-hati, akuntan mempunyai kewajiban untuk
melaksanakan penugasan dari penerima jasa selama penugasan tersebut.
Pemberian opini wajar tanpa pengecualian yang tidak tepat oleh auditor KAP
PwC terhadap laporan keuangan Tesco merupakan suatu bentuk penipuan yang
dapat merugikan stakeholder.
3. Apakah manipulasi laporan keuangan tahun-tahun sebelumnya yang
tidak terdeteksi, berpengaruh terhadap opini PWC tahun terakhir
Berpengaruh, karena skandal akuntansi yang terjadi pada Tesco adalah
overstated laba yang dilakukan oleh pihak manajemen. Pada bulan September
2014 terbukti bahwa pihak manajemen perusahaan Tesco menggelembungkan
laba nya sehingga meningkat hingga £250 Miliar selama hanya setengah tahun.
Tesco mencatat laba pada laporan keuangan nya menjadi £263 Miliar. Manipulasi
tersebut melibatkan pengakuan biaya. Sehingga menghasilkan laba yang lebih
tinggi dari yang seharusnya dilaporkan. Tesco memiliki beberapa suplier yang
tidak dapat memenuhi target penjualan. Beberapa karyawan Tesco menyadari
bahwa target penjualan tidak dapat dicapai sehingga membuat kesepakatan
dengan menawarkan manfaat pada periode keuangan berikutnya. Skandal
keuangan Tesco merupakan akibat dari terlalu terfokusnya perusahaan pada profit
dalam jangka pendek dibandingkan memfokuskan diri pada pelanggan serta profit
jangka panjang. Tuntutan investor supaya perusahaan mempertahankan kinerja
keuangan yang baik juga mempengaruhi keputusan perusahaan untuk melakukan
manipulasi laporan keuangan tersebut.
Laporan keuangan yang berakhir 28 februari 2015
Laporan Laba Rugi
53 minggu berakhir pada 28 februari 2015 Keterangan 53 minggu 52 minggu
2015 2014
£m £m
Operasi lanjutan
Pendapatan 2 62,284 63,557
Biaya penjualan (64,396) (59,547)
Laba kotor (2,112) 4,010
Biaya administrasi (2,695) (1,657)
(Kerugian)/Keuntungan yang timbul pada barang yang berhubungan de (985) 278
ngan properti
1
Cash and cash equivalents at the end of the year 2,165 2,506
8
Kesimpulan
Skandal akuntansi yang terjadi di perusahaan Retail besar dari Inggris
yaitu Tesco adalah penggelembungan laba sebesar £250 Miliar. Hal ini dikarenakan
Tesco mengakui pendapatan nya terlalu dini sehingga laba tinggi padahal belum
semuanya dapat diakui sebagai pendapatan. Dalam kasus tersebut, auditor
ekternal dari Tesco juga ikut diselidiki apakah kesalahan tersebut memiliki
indikasi keterlibatan dengan PwC. Akan tetapi setelah diselidiki lebih lanjut,
PwC tidak terlibat. Akan tetapi PwC gagal mendeteksi adanya penggelembungan
laba tersebut. terbukti jika PwC lalai dalam mengerjakan tugasnya. Oleh karena hal
tersebut, PwC dipecat oleh Tesco. Dan tanggung jawab hukum yang dialamatkan
pada Tesco adalah dari pemegang sahamnya sendiri. Ancaman Independensi
dalam kasus ini adalah Familitary karena hubungan Tesco sudah terjalin selama 32
tahun sehingga memungkinkan adanya rasa simpatik sehingga tidak ada lagi
profesional Sceptisme PwC terhadap Tesco.
Kasus skandal akuntansi Tesco telah melanggar beberapa etika
profesi akuntan, yaitu :