Anda di halaman 1dari 22

PENATALAKSANAAN FARMAKOLOGI

PARKINSON
• Penyakit Parkinson (PD) adalah penyakit neurodegeneratif lambat dan progresif
dari sistem motorik ekstrapiramidal. Degenerasi neuron ini menyebabkan
terganggunya kemampuan menghasilkan gerakan tubuh (Dipiro 2008. Hal. 4754).

• Penyakit Parkinson (PD) adalah kelainan gerakan progresif kronis akibat


hilangnya dopamin dari jalur nigrostriatal di otak, dan ditandai dengan
kekakuan, bradikinesia, gangguan postural, dan tremor (Koda Kimble 2013.
Hal.1359).
Gejala Motorik (TRAP)

T = Tremor saat istirahat Gejala Non-motorik


1. Gangguan Tidur
R = Kekakuan
Misal : insomnia, gerakan mata cepat gangguan perilaku tidur,
A = Akinesia atau bradikinesia
sindrom kaki gelisah.
P = Ketidakseimbangan tubuh
2. Gejala lain
Misal : mual, lelah, nyeri, dysesthesias, penglihatan, seborrhea.
3. Gejala Otonom
Respon Fluktuasi Misal : meneteskan air liur, konstipasi, disfungsi seksual, masalah
1. Fluktuasi motorik kencing, berkeringat, hipotensi ortostatik, disfagia.

2. Akathisia 4. Gejala Psikologis

3. Dyskinesias Misal : kecemasan, psikosis, gangguan kognitif, depresi


JALUR SIRKUIT FUNGSIONAL ANTARA KORTEKS-
GANGLIA BASAL DAN THALAMUS
METABOLISME DAN SINTESIS DOPAMIN

MAO, monoamine oxidase; COMT, catechol- O- methyltransferase; DOPAC, dihydroxyphenylacetic acid; L-DOPA,
levodopa; 3-OMD, 3- O -methyldopa; 3-MT, 3-methoxytyramine, HVA, Homovanilic Acid
RESEPTOR DOPAMINE DI OTAK 3

Protein Kinase C
OBAT-OBAT PARKINSON BERDASARKAN
MEKANISME KERJA 2

Meningkatkan Stimulasi reseptor


Menekan aktivitas
kadar dopamin dopamin (agonis
kolinergik
endogen reseptor Dopamin)
• Amantadin • Apomorfin • Benztropin
• Levodopa • Bromokriptin • Biperidin
• Entecapon, Tolcapon • Pergolid • Triheksifenidil
• Karbidopa • Pramipeksol • Orfenadrin
• Seleginin, Rasagilin • Ropinirol • Prosiklidin
• Rotigotin
STRATEGI FARMAKOLOGIS TERAPI DOPAMINERGIK
PENYAKIT PARKINSON2
LEVODOPA
Levodopa merupakan precursor metabolic dopamin.
Levodopa diangkut ke dalam otak melalui transporter asam-L amino (LAT) dan diubah menjadi
dopamin oleh enzim DOPA Dekarboksilase
Farmakokinetik
⁻ Absorpsi: cepat di usus halus
⁻ Distribusi: puncak konsentrasi plasma 1-2 jam, waktu paruh 1-3 jam. 1-3% levodopa
masuk ke otak tanpa berubah, sisanya dimetabolisme di luar otak menjadi dopamine
sehingga tidak bisa masuk ke dalam otak  perlu dosis besar atau dikombinasi dengan
inhibitor dopa dekarboksilase.
⁻ Metabolisme: menghasilkan metabolit utama asam-metoksi-4 hidroksifenilasetat dan asam
dihidroksifenilasetat.
⁻ Eksresi: ginjal dalam bentuk metabolit dalam 8 jam setelah dosis oral
 Penggunaan Klinis: Penyakit Parkinson
 Toksisitas: gangguan sauran cerna, aritmia, dyskinesia, fenomena on-off dan wearing off,
gangguan perilaku
KARBIDOPA
 Mekanisme Kerja:
 Karbidopa menghambat metabolisme levodopa oleh DOPA Dekarboksilase
menjadi dopamine dijaringan perifer sehingga meningkatkan ketersediaan
levodopa di SSP
 Durasi kerja 6-12 jam dan tidak masuk ke SSP
 Penggunaan Klinis: terapi Parkinson dalam kombinasi dengan Levodopa
PENGARUH KOMBINASI LEVODOPA DAN
KARBIDOPA
INHIBITOR MONOAMINOKSIDASE (MAO)
Seleginin Rasagilin
 Menghambat penguraian dopamin  MAO B inhibitor yang lebih poten
Inhibitor Selektif irreversible MAO B dibandingkan seleginin
pada dosis normal (dosis tinggi obat
ini juga menghambat MAO A)  Kemungkinan memiliki efek neuroprotektif
sehingga kadar dopamin di neuron
meningkat  Penggunaan klinis: pengobatan simtomatik
 Penggunaan klinis: sebagai adjuvant dini Parkinson, terapi adjuvant dengan
pasien dengan respon menurun atau levodopa untuk memperlama efek
fluktuatif terhadap levodopa (efek levodopa-karbidopa pada pasien
terapi minor pada Parkinson jika
digunakan sendiri) stadium lanjut
INHIBITOR CATECHOL-O-METHYLTRANSFERASE
(COMT)
 Obat: Tolcapon dan Entacapon
 Mekanisme Kerja: menghambat COMT secara selektif di perifer sehingga dapat
mempepanjang aksi levodopa.
 Farmakokinetik
 Penyerapan cepat, terikat protein dan dimetabolisme sebelum eksresi
 Entecapon tidak masuk SSP, sedangkan Tolcapon dapat masuk ke SSP
 Durasi aksi Entacapon sekitar 2 jam, sedangkan Tolcapon lebih lama

 Penggunaan klinis: pasien Parkinson dengan respon menurun atau fluktuatif


terhadap levodopa
 Efek samping: dyskinesia, mual, pusing, diare, nyeri perut, hipotensi ortostatik,
gangguan tidur, hepatotoksik (Tolcapon)
AMANTADIN
 Antivirus yang dilaporkan memiliki efek antiparkinson.
 Mekanisme kerja: kemungkinan memperkuat fungsi dopaminergik dengan
mempengaruhi sintesis, pelepasan atau reuptake dopamine serta diduga
mengantagonis adenosine pada reseptor adenosine A2A dimana reseptor ini dapat
menghambat fungsi reseptor Dopamin2
 Farmakokinetik:
 Konsentrasi plasma puncak dicapai 1-4 jam
 Waktu paru 2-4 jam
 Eksresi dalam bentuk tidak berubah melalui urin
 Penggunaan Klinis : Pasien parkinson (kurang efektif dibandingkan levodova dan
manfaat singkat)
 Efek Samping kegelisahan, depresi, iritabilitas, insomnia, agitasi, kegairahan,
halusinasi, kekacauan pikiran
AGONIS RESEPTOR DOPAMIN
Bromokriptin dan Pergolid Rotigotin
 Derivat ergot  Nonergot
 Mekanisme Kerja:  Mekanisme kerja: Agonsi non
 Bromokitin: Agonis reseptor D2 selektifreseptor D1 D2 D3
 Pergolid: Agonis reseptor D1 dan  Bentuk sediaan Patch (ditarik tahun
reseptor D2 2008 karena pembentukan Kristal di
patch sehingga mempengaruhi
 Penggunaan klinis: Parkinson (karena
bioavailibilitas dan efikasi obat)
ES maka lebih dipilih agonis dopamine
yang baru)
AGONIS RESEPTOR DOPAMIN
Pramipexol Ropinirol
 Nonergot  Nonergot
 Agonis reseptor D3  Agonis reseptor D2
 Farmakokinetik  Metabolisme oleh CYP1A2
 Absorpsi cepat
 Konsentrasi plasma puncak 2 jam  Penggunaan klinis: efektif sebagai
monoterapi untuk terapi Parkinson
 Eksresi dalam bentuk tidak berubah melalui ringan dan Parkinson berat yang
urin sedang menjalani terapi levodopa
 Penggunaan klinis: efektif sebagai monoterapi
untuk terapi Parkinson ringan dan pasien
dengan Parkinson berat yang sedang
menjalani terapi levodopa
EFEK SAMPING AGONIS DOPAMIN
 Gastrointestinal: anoeksia, mual, muntah, konstipasi, dyspepsia, refluks
esophagitis
 Kardiovaskular: hipotensi postural, aritmia, udem perifer, penyakit katup
jantung
 Diskinesia
 Gangguan mental: Pusing, halusinasi, delusi dan reaksi psikiatri lain
APOMORFIN
 Apomorfin merupakan agonis dopamine yang poten
 Farmakokinetik:
 Masuk cepat kedalam darah dan ke otak
 Efe klinis mulai 10 menit setlah penyuntikan dan bertahan sampai 2 jam
 Efek Samping: mual, muntah, dyskinesia, nyeri dada, berkeringat, hipotensi,
perubahan warna pada tempat penyuntikan
 Penggunaan klinis: pasien Parkinson dengan fluktuasi respon terhadap levodopa
yang parah
ANTIKOLINERGIK
 Degenerasi dopamine menyebabkan pningkatan aktivitas kolinergik striatum (efek eksitatorik) 
gejala termor
 Mekanisme Kerja antikolinergik : Antagonis reseptor muskarinik di basal ganglia  menurunkan
kejadian tremor dan rigiditas, efek ringan terhadap bradikinesia
 Beberapa obat yang digunakan pada pasien Parkinson:

 Penggunaan klinis: Penyakit Parkinson, dimulai dengan dosis rendah dan ditingkatkan secara
bertahap sampai tercapai efek yang diharapkan atau sampai dibatasi oleh efek samping
 Efek Samping: dyskinesia, supuratif parotitis akut, mulut kering
ALGORITMA PENATALAKSANAAN PARKINSON
REFERENSI
1. Standaert, D., Saint-Hilaire, M., Thomas, C., Joan & Collard, R. 2016. Parkinson’s
Disease Handbook. New York: American Parkinson Disease Association
2. Aminoff, J., M. 2012. Pharmacologic Management of Parkinsons & other
Meovement Disorder, Dalam Katzung, et al. Basic & Clinical Pharmacology 12th
Edition. New York
3. Goodman & Gilman’s. 2006. the Pharmalogical basic of therapeutics 11th Ed.
Texas