Anda di halaman 1dari 7

PENEGAKAN HUKUM

LINGKUNGAN

YANG DISUSUN OLEH KELOMPOK 9:

ALIFIA SALVASANI E0016034


FITRA RESTU SURYANINGRUM E0016175
HANIEFAH MUSLIMAH E0016193
MEIRIZKA ORCHIDIVA ADISTYPUTRI E0016272
• Penegakan Hukum Lingkungan merupakan
upaya untuk mencapai ketaatan terhadap
peraturan dan persyaratan dalam ketentuan
hukum lingkungan yang berlaku secara umum
dan individual, melalui pengawasan dan
penerapan sanksi administrasi, gugatan perdata,
dan pidana.
Instrumen Penegakan hukum lingkungan adalah undang-
undang 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup memuat:

1. Sanksi Administrasi.
Penegakan hukum administrasi lingkungan bersifat preventif
(pengawasan) dan represif(sanksi administrasi) untuk menegakkan
peraturan perundang-undangan lingkungan.
 Tujuan pengenaan sanksi administrasi (Pasal 2 Permen LH No.
2/2013):
1. Melindungi lingkungan hidup dari pencemaran dan/atau
perusakan akibat dari suatu usaha dan/ atau kegiatan;
2. Menanggulangi pencemaran dan/atau perusakan lingkungan
hidup;
3. Memulihkan kualitas lingkungan hidup akibat pencemaran
dan/atau perusakan lingkungan hidup;
2. Penyelesaian Sengketa Lingkungan di Luar
Pengadilan.
 Tujuan dari Penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar
pengadilan dilakukan untuk mencapai kesepakatan sebagaimana
diatur dalam pasal 85 UUPPLH, yaitu berupa:

• Bentuk dan besarnya ganti rugi


• Tindakan pemulihan akibat pencemaran atau perusakan
• Tindakan tertentu untuk menjamin tidak akan terulangnya
pencemaran atau perusakan
• Tindakan untuk mencegah timbulnya dampak negatif terhadap
lingkungan hidup.

 Upaya yang ditempuh melalui penyelesaian sengketa di luar


pengadilan ini dapat meminta bantuan pihak lain untuk membantu
menyelesaikan permasalahan, misalnya dapat menggunakan jasa
mediator atau arbiter (baik arbiter adhoc atau melalui lembaga
penyelesaian Badan Arbitrase Nasional Indonesai), yaitu melalui
bentuk arbitrase, mediasi, negosiasi, konsiliasi dan fact finding.
3. Penyelesaian Sengketa Lingkungan di Pengadilan.

Penyelesaian sengketa lingkungan hidup melalui pengadilan


dilakukan dengan mengajukan gugatan. Hak gugat dapat dilakukan
setiap oarang yang dirugikan, juga dapat digugat oleh pemerintah
dan pemerintah daerah (diatur dalam Pasal 90 UU), oleh
masyarakat dengan gugatan perwakilan kelompok baik itu untuk
kepentingan dirinya sendiri dan/atau untuk kepentingan masyarakat
(Pasal 91) dan hak gugat organisasi lingkungan hidup (Pasal 92).

• Sengketa lingkungan baru bisa diajukan gugatan ke pengadilan


apabila memenuhi unsur –unsur :
1. Adanya perbuatan melanggar hukum (onrechtmatige daad),
berupa pencemaran dan/atau perusakan lingkunganhidup.
2. Menimbulkan kerugian kepada orang lain atau lingkungan hidup.
4. Penegakan Hukum Pidana Lingkungan Hidup.

• Ketentuan hukum pidana dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun


2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup diatur
dari Pasal 97 sampai dengan Pasal 120. Undang-Undang Nomor 32
Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
secara tegas menetapkan bahwa tindak pidana lingkungan hidup
merupakan kejahatan.
• Tindak pidana yang diatur di dalam Undang-undang No. 32 Tahun
2009
bukan delik aduan melainkan sebagai delik biasa. Konsekuensinya
penyidikbersikap aktif dengan langsung melaksanakan tugasnya
untuk melakukanserangkaian tindakan seperti penangkapan dan
penahanan kepada pelakunya tanpamenunggu adanya pengaduan
terlebih dahulu dari pihak korban. Sehingga instrumen hukum
pidana dapat diterapkan apabila bukti dan unsur adanyatindak
pidana lingkungan sudah terpenuhi.