KLASIFIKASI PARASIT
Berdasarkan Jenis
Entomologi
Protozoologi Helmintologi
BERDASARKAN TEMPAT HIDUPNYA Berdasarkan Jumlah Hospesnya
Ektoparasit Endoparsit Pasasit Monoksen Parasit Poliksen
Berdasarkan
Kebutuhan
Berdasarkan Lamanya dalam Hospes Hospes
Parasit Obligat Parasit Fakultatif
Parasit Parasit Temporer/Periodik
Permanent/Stasioner
Parasit Eratika Parasit Insidentil
REFERENSI
JAWETZ,MELNICK&ADELBERG.(2015),MEDICAL MICROBIOLOGY,ED 25 : MEDICAL PARASITOLOGY:MCGRAW-HILL
EDUCATION,P:708-712
ELLIOT,TOM,TONY WORTHINGTON,HUSAM OSMAN,MARTIN GILL.(2013),MIKROBIOLOGI KEDOKTERAN & INFEKSI,ED
4:STRUKTUR DAN KLASIFIKASI PARASIT.JAKARTA:EGC
KLASIFIKASI PROTOZOA
Protozoa dapat diklasifikasikan berdasarkan atas tingkat
pergerakannya, alat gerak yang dipergunakannya atau
kemampuannya untuk menimbulkan penyakit pada manusia.
Digolongkan menjadi 4 kelas, yaitu:
1. Rhizopoda (Sarcodina)
2. Flagellata (Mastigophora)
3. Ciliata (Ciliophora)
4. Sporozoa
1. Rhizopoda (Sarcodina)
Ciri-ciri:
Bergerak dengan pseudopodia (kaki semu) yang merupakan
penjuluran protoplasma sel
Dinding tubuh plasmalemma dan bentuk berubah-ubah
Hidup di air tawar, air laut, tempat-tempat basah, dan sebagian
ada yang hidup didalam tubuh hewan atau manusia
Reproduksi vegertatif dengan pembelahan biner secara ortodox
Genus yang paling mudah diamati adalah amoeba
2. Flagellata (Mastigophora)
Ciri-ciri:
Bergerak dengan flagel (bulu cambuk) yang digunakan juga
sebagai alat indera dan alat bantu untuk menangkap makanan
Dinding tubuh pellicle (pelikel) dan berbentuk relatif tetap
Reproduksi secara vegetatif dengan pembelahan biner secara
longitudinal dan generatif pada flagellata berkoloni misalnya
Volvox sp.
Memiliki inti dan kloroplas dengan klorofilnya untuk fotosintesis
3.Ciliata (Ciliophora)
Ciri-ciri:
Alat gerak berupa silia (rambut getar)
Dinding tubuh berupa pelikel, bentuk relatif tetap
Memiliki inti dan beberapa spesies intinya lebih dari satu
Reproduksi secara vegetatif dengan pembelahan biner secara
tranversal, Reproduksi generatif dengan konjungsi pada
Paramecium caudatum dan autogami pada Paramecium aurelia.
Ciliata, ada yang hidup bebas dan ada juga yang parasit
4. Sporozoa
Ciri-ciri:
Tidak memiliki alat gerak, cara bergerak hewan ini dengan cara mengubah
kedudukan tubuhnya
Dinding tubuh berupa pellicle (pelikel), bentuk relatif tetap
Tidak memiliki vakuola kontraktil karena hidupnya parasit, bersifat saprofik
Reproduksi vegetatif dengan cara pembelahan dengan banyak individu baru,
Reproduksi generatif pada Plasmodium dengan pengiliran keturunan
Dr.Soedarto,DTMH, Ph.D. PROTOZOLOGI
KEDOTERAN;Surabaya:Widya Medika
Struktur & Karakteristik Parasit
Mulut, antara lain pada protozoa (usus) dapat berlangsungnya
kehidupan parasit. Contoh Ascaris lumbricoides
Menembus kulit, contohnya Necatar amerocorus
Plasenta, contohnya Toxoplasma gondii
Inhalasi telur Caterobius vermiculoris
Referensi :
Jawetz,dkk.Amoeba Usus.dr.Dripa Sjabana.Mikrobiologi
Kedokteran.Jakarta
Struktur & Karakteristik Protozoa
A. Sitoplasma
1. Ektoplasma
2. Endoplasma
B. Inti : merupakan struktur yang paling penting untuk mengatur
fungsi hidup parasit dan reproduksi sel ;
1. Selaput inti
2. Butir kromatin
3. Serabut linin
4. Kariosom plastin
Karakteristik :
Bersel satu, Berkloni, Simetris tubuh tidak ada, Bilateral, Radial
atau spherical.
Bentuk sel umumnya tetap kecuali rhizopoda.
Inti jelas, satu atau lebih, tidak memiliki organ atau jaringan
Pergerakan dengan flagella, cilia, atau pseudopodia atau dengan
sel itu sendiri
Beberapa Species memiliki pelindung/cangkok, banyak di
antaranya yang membentuk kista
Hidup bebas, komensalisme, mutualisme atau parasitisme
Referensi
Prasetyo Heru, 2005, Pengantar Praktikum Protozoologi
Kedokteran, edisi 2, Airlangga University Press.
MEKANISME OBAT
ANTIPROTOZOA
MEKANISME KERJA
berdifusi ke dalam
berinteraksi dengan hilangnya struktur helix
organisma
DNA DNA
hambatan pada sintesa Pemecahan ikatan &
kematian amuba fungsi DNA.
protein
MALARIA
ARTEMISININ
Merupakan kelompok obat yang memiliki tindakan yang paling cepat
terhadap malaria (Plasmodium falciparum).
Tidak ada kesepakatan umum mengenai mekanisme kerja artemisinin
turunan dalam membunuh parasit.
Penelitian masih dilakukan.
Bukti baru sedang diusulkan tentang cara kerjanya.
Mekanisme Kerja
Artemisinin berkerja dengan menggangu homeostasis
redoks dalam parasit malaria.
Step-by-step
Parasit memasuki sel darah merah dan mengkonsumsi hemoglobin.
Proses ini akan menghasilkan oxidative stress
Asupan artemisinin.
Ini menghasilkan sebuah seri reaksi yang menghasilkan radikal oksigen
reaktif yang merusak parasite.
Parasit mati.
Pyrimethamine
Pirimetamin merupakan skizontosid darah kerja lambat yang mempunyai efek
antimalaria.
Mekanisme kerja antagonis folat yaitu menghambat sintesis folat.
Pirimetamin menghambat enzim dihydrofolat reductase (DHFR) dari plasmodium
sehingga menghalangi sintesa dari timin dan purin yang merupakan bahan penting
untuk sintesa DNA dan multiplikasi sel.
Proguanine
Juga dikenal sebagai atovakuon
Antimalaria obat yang digunakan dalam pengobatan dan pencegahan
malaria
Sebuah tablet standar Malarone mengandung 100mg hidroklorida
proguanil dan 250mg atovaquone.
Mekanisme Proguanine
Proguanil menghambat reduktase dihydrofolate dari plasmodia dan
dengan demikian menghambat biosintesis purin dan pirimidin
Pirimidin sangat penting untuk sintesis dna dan multiplikasi sel
MELARSOPROL
Melarsoprol digunakan sebagai agen utama dalam pengobatan trypanosomiasis Afrika
yang disebabkan oleh Trypanosoma gambiense brucei atau T. b. rhodesiense pada
pasien dengan penyakit kronis terlambat atau dengan sistem saraf pusat (SSP)
keterlibatan.
Melarsoprol diyakini bekerja dengan gangguan pembentukan energi di dalam parasit
trypanosome karena afinitas tinggi dari melarsoprol untuk kelompok sulfhidril.
Kelompok-kelompok ini membentuk situs aktif enzim banyak (terutama kinase), dan
terlibat dalam pemeliharaan struktur sekunder dan tersier protein.
Setelah masuk trypanosome tersebut:
melarsoprol inactivates enzim, kinase piruvat, yang hadir dalam sitoplasma.
Hal ini menyebabkan penghambatan sintesis adenosin trifosfat (ATP), yang merupakan
energi yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup parasit.
Trypanosome akhirnya mati sebagai akibat dari produksi energi berkurang.
Referensi :
Neva FA, 1994. Brown HW. Basic Clinical Parasitology. Prentice Hall
International
Sriasi Gandahusada. 1991. Prevalensi Protozoa usus. Jakarta: Medika.
Syarif, Amir., dkk. 2009. Farmakologi Dan Terapi. Edisi 5. Jakarta;
Balai Penerbit FKUI
Cara Pencegahan Infeksi Parasit
Mencuci tangan hingga bersih, terutama setelah menyentuh
makanan mentah atau buang air besar
Cara Pencegahan Infeksi Parasit
Cara Pencegahan Infeksi Parasit
Cara Pencegahan Infeksi Parasit
Memasak makanan sampai matang sempurna.
Mengonsumsi air dalam kemasan.
Berhati-hati jangan sampai tertelan air dari sungai, kolam, atau danau.
Melakukan hubungan seksual yang aman.
REFERENSI :
Depkes RI.1999. Info Puskesmas dengan Paradigma Sehat baru kita
wujudkan Visi Sehat 2010. Jakarta: Depkes RI
Patogenesis Entamoeba
Histolytica
Patogenesis
Bentuk histolitika (trofozoit) --> invasi ke sel epitel mukosa usus
--> produksi enzim histolisin >nekrosis jaringan mukosa usus -->
invasi ke jaringan submukosa --> ulkus amoeba --> ulkus
melebar dan saling berhubungan membentuk sinus-sinus
submukosa --> kerusakan permukaan absorpsi ( malabsorpsi )-->
↑ massa intraluminal --> tekanan osmotik intraluminal --> diare
osmotik.
Patogenesis
Amubiasis – kolonisasi trofozoit komensal di seluruh kolon (sekum
dan kolon asendens) beberapa hari ( 30 th ): trofozoit 50 um
(trofozoit pathogen).
Trofozoit ini mengandung beberapa eritrosit di dalamnya. Hal ini
dikarenakan trofozoit patogen sering menelan eritrosit
(haematophagous trophozoite).
Amoeba enzim fosfoglukomutase dan lisozim dapat membuat
kerusakan dan nekrosis jaringan dinding usus. Lesi /ulkus kecil
diameter 1 mm sampai mukosa muskularis dan ulkus lebih dalam 1
cm – submukosa.
Penyulit: ekstensi usus kulit / organ sekitarnya , menyebar ke hati:
abses (juga ke alat lain :diarfagama, rongga torak, paru, jan-tung,
limpa, otak, lambung, dll.)
REFERENSI :
Mandasari N.2013.DISENTRI.DIARE
AKIBAT INFEKSI PARASIT
Reproduksi Protozoa
A.Fase vegetatif / aseksual.
1.Siklus Eksoeritrositer (EE)
Nyamuk Anopheles betina mengisap darah manusia, sporozoit (bibit penyakit) dalam
air liur nyamuk masuk ke dalam tubuh manusia. Sporozoit menyerang butir-butir sel
darah merah kemudian masuk ke hati menjadi skizont kriptozoik. Skizont kriptozoik
berkembang biak secara vegetatif dengan membelah diri membentuk merozoit
cryptozoik.
2. Siklus Eritrositer (E)
Merozoit cryptozoik masuk ke dalam sel darah merah dan berkembang menjadi
bentuk tropozoit. Selanjutnya inti tropozoit tersebut mengalami pembelahan secara
berganda membentuk merozoit . Kemudian sel darah merah pecah. Sebagian
merozoit ada yang berkembang membentuk gametofit, sedang sebagian yang lain
ada yang menyerang sel darah merah yang lain. Proses merozoit menyerang sel
darah merah disebut sporulasi.
B.Fase generatif / seksual.
Saat nyamuk menghisap darah manusia, gametosit ikut terbawa masuk ke
dalam tubuh nyamuk. Gametofit tersebut akan berkembang menjadi
mikrogamet (gamet jantan) dan makrogamet (gamet betina). Jika terjadi
pembuahan (gamet jantan membuahi gamet betina) maka akan terbentuk
zigot yang menempel di dinding lambung nyamuk. Zigot akan berkembang
menjadi Ookinet.
Ookinet menembus dinding lambung dan menempel di sebelah luar. Ookinet
selanjutnya tumbuh menjadi Ookista. Ookista membelah menjadi banyak.
Tiap Ookista akan membungkus diri dengan sedikit sitoplasma membentuk
Oosit . Oosit akan berkembang membentuk sporozoit baru yang tersebar ke
dalam jaringan tubuh nyamukAnopheles termasuk ke dalam kelenjar liur.
Dwiastuti,Sri.2003.Keanekaragaman dan klasifiKasi hewan.Surakarta:UNS
Press.
Dwidjoseputro.2005.Dasar dasar Mikrobiologi.Jakarta:Djambatan.
Pemeriksaan Laboratorium
1. Saat pasien diduga terkena infeksi parasit, maka dokter akan melakukan pemeriksaan diagnostik di
laboratorium melalui sampel darah, urine, atau lendir pasien. Pemeriksaan darah dilakukan untuk
mengidentifikasi antibodi atau protein dalam sistem kekebalan tubuh untuk melindungi diri dari
serangan parasit.
2. Jika hasil pengujian belum dapat memberi kepastian, maka dokter dapat melakukan endoskopi
atau kolonoskopi. Pemeriksaan ini dilakukan dengan alat berupa selang tipis dan elastis yang
dimasukkan dari mulut atau anus untuk memeriksa kondisi saluran pencernaan. Selain itu, juga dapat
dilakukan pengambilan jaringan yang dicurigai terinfeksi parasit (biopsi jaringan). Sampel jaringan
tersebut akan diuji berulang-ulang hingga menemukan jaringan parasit.
3. Sementara untuk mengetahui seberapa besar luka pada organ akibat
parasit, dapat dilakukan foto Rontgen, CT scan atau MRI.
Referensi :
• Buku Farmakologi FK UI
• Buku Ajar Patologi II (Basic pathlogy) Stanley L. Robbins, Vinay
Kumar : alih bahasa, Staf Pengajar Laboratorium Patologi Anatomi
FK Universitas Airlangga – Jakarta,EGC,1995
Port d’entree
Referensi :
Marjiyo mardiyah fakih.2004.Bahan Ajar Parasitologi.
Yogyakarta : Fakultas Biologi Universitas Gajah Mada
PENYAKIT YANG DISEBABKAN
PROTOZOA
Balantidium coli. Protozoa ini hidup dan menginfeksi saluran pencernaan yang
menyebabkan penyakit balantidiasis.
Entamoeba histolytica. Jenis protozoa ini menyebabkan terjadinya penyakit amoebiasis
pada usus.
Giardia intestinalis. Protozoa ini bereproduksi pada usus halus, menyebabkan penyakit
yang disebut giardiasis atau diare. Memiliki nama lain giardia duodenalis atau giardia
lamblia, giardia intestinalis ditemukan di permukaan tanah, makanan, atau air yang telah
terkontaminasi dengan kotoran dari manusia maupun hewan.
Leishmania, merupakan parasit mikroskopis yang berada dalam aliran darah,
menyebabkan penyakit leishmaniasis. Penularan pada manusia melalui gigitan spesies
tertentu dari hewan yang sudah terinfeksi. Ada tiga bentuk infeksi akibat parasit ini, yaitu
leishmaniasis kulit, mukosa, dan visceral.
Plasmodium falciparum. Protozoa ini menyebabkan penyakit malaria pada manusia.
Toxoplasma gondii, merupakan parasit intraseluler yang menyebabkan terjadinya
toksoplasmosis.
Trypanosoma brucei, menyebabkan penyakit trypanosomiasis Afrika atau penyakit tidur.
• MALARIA. Disebabkan oleh Protozoa dari genus Plasmodium. Ada empat
spesies yang sering ditemukan pada manusia, yaitu Plasmodium vivax,
Plasmodium falciparum, Plasmodium malariae dan Plasmodium ovale.
• Cryptosporidiosis. Disebabkan oleh Protozoa dari genus Cryptosporidium,
tersebar secara luas di seluruh dunia dan sering menyebabkan epidemi.
Karena parasit terutama berada di dalam usus, seperti diare.
Giardiasis. Giardia lamblia merupakan Protozoa Usus yang paling banyak
ditemukan dalam tinja manusia.
Trichomoniasis. Penyakit ini disebabkan oleh Trichomonas vaginalis.
Referensi :
Parasitological and clinical aspect of malaria in three villages,
Sumbawa Island, Indonesia. (Kusmartisnawati, et al.). Maj Kedokt
Tropis Iridon 1999; 10(2): 18-23.
Distribution of two species of malaria parasite, Plasmodium
falciparum and Plasmodium vivax, on Lombok Island, Indonesia.
(Yoshiro Nagao, et al.). SEA J Tropl Med Pub Hlth 34(3): 495-500.
Sept. 2003.