REFERAT
KEDOKTERAN NUKLIR
Disusun oleh:
SITI KHODIJAH S
1102014252
Pembimbing:
dr. Edwin M. Hilman, Sp.RAD
Kepaniteraan Radiologi
PERIODE 22 februari- 14 maret 2021
RSUD Kabupaten Bekasi
KEDOKTERAN
NUKLIR
Kedokteran Nuklir adalah cabang ilmu
kedokteran yang menggunakan sumber radiasi
terbuka dari disintegrasi inti radionuklida
buatan (radiofarmaka) untuk tujuan
diagnostik, terapi dan paliatif dengan
berdasarkan perubahan fisiologi, anatomi,
biokimia metabolism dan molekuler dari suatu
organ atau sistem dalam tubuh.
SEJARAH
Henri Alexandre George de Hevesy
Danlos Frederic Joliot dan
Irene Joliot-Curie
1901 1920
isotop radium Mempelajari
untuk pengobatan distribusi dan 1934
penyakit metabolism menemukan
tuberculosis pada radioisotope
radioaktivitas
kulit alamiah
buatan P-32
4
Kedokteran nuklir & Radiologi
Kedokteran Nuklir Radiologi
▫ Zat radioaktif sumber ▫ Zat radioaktif sumber tertutup/
Sumber radiasi
terbuka. pesawat pembangkit radiasi.
Pembentukan citra ▫ Di dalam tubuh pasien ▫ Di luar lubuh pasien Transmisi
Emisi radiasi. radiasi.
▫ Perbedaan akumulasi ▫ Perbedaan penetrasi radiasi
radiofarmaka karena karena perbedaan karakteristik
proses biokimiawi fisik-anatomic.
fisiologik.
Informasi
▫ Terutama fungsional. ▫ Terutama morfologik.
TUJUAN Pelayanan Kedokteran Nuklir
Radioisotop yang diberikan
Diagnostik dalam dosis yang sangat kecil
(perunut).
Terapi radioisotop sengaja
diberikan dalam dosis yang
Terapi besar untuk menghancurkan
penyusun sel kanker.
IN VIVO IN VITRO
Radio
Diagnostic
radioisotop dapat dimasukkan ke radioisotop hanya direaksikan
dalam tubuh pasien secara inhalasi dengan bahan biologik (darah,
melalui jalan pernafasan, atau urine, cairan serebrospinal, dsb.)
melalui mulut, ataupun melalui yang diambil dari tubuh pasien
injeksi
Instrumen
1.Stationary probe
2.Well counter
3.Scanner
4.Kamera
RADIOFARMAKA
senyawa yang mengandung radioaktif yang
dapat ditangkap oleh organ tubuh secara
selektif
• Citra organ atau bagian tubuh pasien
Radiofarmaka : informasi fungsional berdasarkan
pada perubahan biokimiawi-
fisiologik yang menimbulkan pola
emisi radiasi yang mencerminkan
fungsi organ atau bagian tubuh yang
diperiksa
Informasi yang diberikan : • Kurva hubungan aktivitas dan waktu
yang menunjukkan kinetika
radioisotop dalam organ atau bagian
tubuh tertentu
• Radioaktivitas yang terdapat dalam
sampel darah, urin, atau lainnya
SYARAT SUATU RADIOFARMAKA
Radionuklid dg mini energi foton (sinar gamma)
Waktu paruh singkat radiasi minimal
Tidak mengganggu fungsi fisiologis /
metabolisme
Tidak toksik terhadap tubuh manusia
Dapat cepat di ekskresi keluar tubuh
PROSES
RADIOFARMAKA
KE TUBUH
Transport Aktif
Sel-sel tubuh secara aktif akan
mengambil radiofarmaka dari darah yang
selanjutnya di metabolism oleh tubuh
Pertukaran Difus
Zat pembawa yang telah ditandai
radioaktif akan saling bertukar tempat
dengan senyawa yang sama dari organ
tubuh
Proses Fagosit
Semua zat pembawa dengan diameter 2-3
micron (microcoloid) jika dimasukkan dalam
tubuh akan difagosit oleh system
retikuloendotelial (RES) tubuh setelah disuntikkan
intravena
Penghalang Kapiler
Semua zat pembawa dengan diameter 20-30 micron
(macrocoloid) jika disuntikkan intravena akan
menjadi penghalang kapiler di alveoli paru yang
mempunyai diameter 7 micron.
Blood Pool
Zat pembawa yang dimasukkan akan
berada lama didalam sirkulasi darah
Pengasingan Sel
Sel darah merah yang ditandai oleh Ct51 dan
dipanaskan 50o selama satu menit bila
dimasukkan kembali ke tubuh penderita
secara intravena akan segera diasingkan ke
limpa
DIAGNOSIS
Teknik In Vivo
Teknik imaging dengan alat kamera gamma atau
01 kamera positron → mencerminkan fungsi organ
atau bagian tubuh yang diperiksa.
Teknik non-imaging in vivo (renogram,
02 tiroid uptake, heliprobe).
radiofarmaka yang banyak digunakan
03 adalah dalam bentuk senyawa bertanda
teknesium-99m
04 Menggunakan alat kamera gamma
Diagnostik
▫ Pemeriksaan thyroid
▫ Pemeriksaan bone scan
▫ Pemeriksaan wholebody
▫ Pemeriksaan Renogram
RADIO
FARMAKA
Teknik In Vitro
Teknik non-imaging in vitro. Spesimen yang diambil
01 akan dicacah dengan instrumen yang dirangkaikan
pada detektor radiasi
Untuk mengetahui kandungan hormon-
02 hormon tertentu dalam darah pasien seperti
insulin, tiroksin
Penanda tumor (CA 15-3, CA-125, PSA
03 dan lainnya).
radioimmunoassay (RIA) dan
04 immunoradiometric assay (IRMA)
ALAT
IMAGING
menggunakan obat radioaktif
PET yang memancarkan sinar gamma
ke 2 arah yang berlawanan
Positron Emission sekaligus
Tomography
menggunakan obat radioaktif
yang memancarkan sinar gamma
SPECT ke satu arah.
Single Photon
Emission
Computed
Tomography
PET-CT SCAN
Kombinasi kamera gamma (PET) dengan CT
Scan jadi akan mempermudah deteksi
lokasi anatomi serta memperbaiki nilai
spesifitas dan akurasi hasil pemeriksaan.
TERAPI
• cara penyinaran dari luar
(eksternal), antara lain
menggunakan cobalt-60 dan
cesium-137.
• cara dimasukkan ke dalam • Kanker tiroid dan hipotiroid dengan
tubuh (internal), antara lain NaI-131 (diminumkan)
• Kanker hati dengan Y-90 (disuntikan)
menggunakan iodium-131
• Anak sebar di tulang dengan P-32, Sr,
untuk pengobatan hipertiroid
dan kanker tiroid dan Sm (disuntikan)
• Osteoarthritis dengan rhenium
(disuntikan intra synovial)
KEDOKTERAN NUKLIR SEBAGAI
PENCITRAAN DIAGNOSTIK
Keselamatan Dalam Kedokteran Nuklir
pengobatan nuklir dan prosedur pencitraan dianggap tidak invasif dan relatif aman. Efektivitasnya dalam mendiagnosis
penyakit berarti bahwa manfaatnya biasanya lebih besar daripada risikonya. Pengobatan dengan pengobatan nuklir
melibatkan dosis bahan radioaktif yang lebih besar. Misalnya, pemindaian paru-paru obat nuklir akan membuat
seseorang terkena radioaktivitas 2 milisieverts (mSv), sementara pengobatan kanker akan mengekspos tumor hingga
50.000 mSv. Dosis tambahan ini dapat memengaruhi pasien, dan efek samping dimungkinkan. Namun, karena
perawatan sering menargetkan penyakit yang berpotensi fatal, manfaatnya cenderung lebih besar daripada risikonya.
Thank You